Anda di halaman 1dari 19

MEKANISME

OPERASIONAL
PROGRAM KB
ERA DESENTRALISASI

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


KELUARGA SEJAHTERA DAN PENINGKATAN KUALITAS
PEREMPUAN
BKKBN 2008

Latar belakang
• Desentralisasi Program KB
berpengaruh terhadap komitmen
kab/kota, umumnya sangat
bervariasi dan kurang memberikan
prioritas terhadap Program KB
• Keragaman kelembagaan
mempengaruhi pengelolaan
program di tingkat kab/kota ke
bawah
Tujuan
• Mengidentifikasi variasi pelaksanaan
Mekop Program KB di lini lapangan era
desentralisasi
• Mengidentifikasi masalah yang berkaitan
dengan variasi pelaksanaan Mekop
Program KB di lini lapangan era
desentralisasi

Pengertian Mekanisme Operasional


Program KB Nasional
• Suatu rangkaian kegiatan yg berupa
rencana operasional, pengorganisasian
operasional, pelaksanaan operasional,
dan pengendalian operasional yg satu
dg yg lain saling berkaitan dan
berkesinambungan dg melibatkan
seluruh potensi dan sumber daya yg
ada dalam rangka mencapai tujuan
yang ditetapkan
Unit analisis
• Unit analisis penelitian adalah Sub-sub
Sistem Mekanisme operasional
Program KB di lini lapangan, meliputi:
9 Perencanaan operasional
9 Pengorganisasian operasional
9 Pelaksanaan operasional
9 Pengendalian operasional

Mekanisme Kegiatan Operasional Program KB Nasional


Lini Lapangan Tahap Awal
RAKOR KECAMATAN KECAMATAN

RAKOR KB PELAYANAN
PROGRAM KB

Staf meeting
KIE
Rakor desa OLEH PELAYANAN DESA
TOMA PROGRAM KB
DAN
Pertemuan kader APARAT
RW/RT

PELAYANAN
Penyuluhan kader PROGRAM KB

Masyarakat desa
Mekanisme Kegiatan Operasional Program KB Nasional
Lini Lapangan Tahap Berkembang
RAKOR KECAMATAN KECAMATAN

MINI LOKAKARYA PELAYANAN


KB/KES PROGRAM KB

Staf meeting
KIE
Rakor desa OLEH PELAYANAN DESA
TOMA PROGRAM KB
DAN
Pertemuan kader APARAT
RW/RT

PELAYANAN
Penyuluhan kader PROGRAM KB

Masyarakat desa

Metode Penelitian (1)


• Disain: penelitian evaluatif dg pendekatan
kualitatif
• Lokasi: 14 propinsi, dipilih secara purposif
1. Banten 6. Jambi 11. Sulsel
2. DIY 7. Bengkulu 12. Sulteng
3. Jateng 8. Kalsel 13. Sulut
4. Jatim 9. Kalbar 14. Sultra
5. Babel 10. NTT
Metode Penelitian (2)
Skema Pemilihan Lokasi
Propinsi

Kab/Kota

Kecamatan

Desa/kelurahan

Metode Penelitian (3)


Informan Utama
- Tk. Kecamatan: Camat, Pengelola KB
(PPLKB), PKK, Puskesmas /Pustu /klinik KB
- Tk. Desa/Kelurahan: Kepala Desa/Lurah,
PLKB, Bidan Di Desa (BDD), PKK, IMP
(PPKBD/Sub PPKBD), kader
POKTAN,TOMA/TOGA
Informan Pendukung
- Tk. Kab: OPD-KB
Metode Penelitian (4)
• Perencanaan Operasional:
- dukungan legal aspek
- pemanfaatan data2 wilayah
- akomodasi kebut & tuntutan masyarakat
- integrasi program KB dg program
pembangunan lainnya;
- keterbukaan dlm perenc kegiatan
operasional

Metode Penelitian (6)


Pengendalian operasional
• Pengawasan melekat
• Pembinaan program, ketenagaan, dana,
sarana & prasarana dlm operasional program
• Pembinaan melalui supervisi
• Pencatatan dan pelaporan
• Evaluasi pelaksanaan & hasil kegiatan yg
telah dicapai dibandingkan dg rencana yg telah di
tetapkan
Metode Penelitian (5)
Pelaksanaan Operasional
Terselenggaranya pertemuan koordinasi :
• Rakor kecamatan
• Staff meeting
• Mini lokakarya
• Rakor desa
• Pertemuan IMP/Poktan
• Sarasehan
• Penyuluhan kader
• KIE Toma/Toga

Metode Penelitian (7)


Pengumpulan Data:

• Data Primer: wawancara mendalam


(indeph interview)
• Data Sekunder: dokumentasi

Analisis Data: secara deskriptif


Hasil dan Pembahasan
Perencanaan operasional (1)
•Dukungan legalitas pelaksanaan mekop
dalam bentuk APBD, namun dananya sangat
terbatas (misal: dana untuk rakorcam, rakordes,
pertemuan IMP dll)
•Pendatatan keluarga belum dimanfaatkan
sebagai data basis perencanaan operasional

Perencanaan operasional (2)


•Data tahapan KS dimanfaatkan untuk
pembagian raskin dan pembentukan
kelompok-kelompok pemberdayaan
ekonomi
•Ketersediaan dana belum mampu
mengakomodasi permintaan modal
usaha yang dibutuhkan masyarakat
Perencanaan operasional (3)
•Perencanaan belum mengakomodasi
kebutuhan alat kontrasepsi sesuai minat
masyarakat & ketepatan waktu
•Keterpaduan perencanaan operasional
dengan lintas sektor tidak berjalan (masing-
masing tidak terbuka dalam pendanaan)

Perencanaan operasional (4)


• Pelayanan Prog KB dipadukan dengan
rencana kegiatan-kegiatan momentum yang
bersifat nasional
• Prog KB dipadukan dengan program PKK,
kesehatan, pendidikan antara lain Posyandu,
BKB-PAUD
Pengorganisasian operasional (1)
•Pengorganisasian Prog KB melibatkan
unsur swasta dalam hal ini klinik swasta
& Toma
•PPKBD/subPPKBD & kader Poktan
belum dimanfaatkan optimal

Pengorganisasian Operasional (2)


• Daerah yang tidak memiliki PLKB
kesulitan untuk mencari tenaga yang
memiliki kemampuan setara PLKB
• Rapat koordinasi lintas sektor hanya
dilakukan apabila akan diselenggarakan
kegiatan momentum
Pelaksanaan Operasional (1)
Rakor Kecamatan
• Rakor KB kecamatan tidak berjalan, karena
dukungan dana sangat minim dan Camat
menghendaki pemanfaatan forum rapat dinas
kecamatan.
• Masalah KB dibahas dalam forum tersebut, namun
intensitasnya tergantung pada kreatifitas petugas
KB kecamatan dan juga tergantung kepedulian
Camat.

Pelaksanaan Operasional (2)


Rakor Kecamatan
• Rakor Kecamatan di wilayah studi disebut
Rakor Dinas Kecamatan.
• Kecamatan yang tidak memiliki PPLKB
atau padanannya, pembahasan program KB
di Rakor Dinas Kecamatan tidak optimal
(Kalbar, Bengkulu, Babel)
Pelaksanaan Operasional (3)
Staff meeting
•Kecamatan yang mempunyai PLKB/PKB
lebih dari 2 orang masih melakukan staff
meeting, tetapi tidak rutin.
Mini Lokakarya (Minilok)
•Minilok dilakukan tanpa dihadiri petugas KB,
kecuali di DIY dan Jateng

Pelaksanaan Operasional (4)


Rakor Desa
•Rakor KB desa tidak dilakukan, karena tidak
ada dukungan dana.
•PLKB/PKB memanfaatkan rakor desa yang
diselenggarakan Kades untuk membahas
masalah KB, tetapi pertemuan ini tidak rutin.
Pelaksanaan Operasional (5)
Pertemuan IMP/Poktan
•Pertemuan IMP (PPKBD/Sub) pada beberapa
desa/kelurahan berjalan secara rutin karena diikat
oleh kegiatan arisan (Kalsel, DIY, Sulut, Jateng,
Jatim, Sulsel). Sementara pada desa/ kelurahan yg
lain hanya bersifat insidental

Pelaksanaan Operasional (6)


Pertemuan IMP/Poktan
• Pertemuan poktan yang berjalan rutin
adalah BKB. Di beberapa daerah BKB
diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu
(Jatim, Kalsel, Sulut, Jateng, Bengkulu)
Pelaksanaan Operasional (7)
Sarasehan
•Sarasehan tidak berjalan, sehingga hasil
pendataan keluarga tidak dibahas (check and
recheck) di tingkat RT/RW. Penyebabnya
antara lain kurangnya tenaga pembina dan
dukungan dana.

Pelaksanaan Operasional (8)


Penyuluhan Kader
•KIE yg dilakukan oleh kader hanya terbatas
di Posyandu
•Materi KIE yang disampaikan berupa ajakan
ber-KB dan perawatan balita serta ibu hamil
Pelaksanaan Operasional (9)
KIE Toma/Toga
•Sebagianbesar Toma/Toga belum melakukan
KIE karena merasa kurang menguasai
Program/materi KB, kecuali di lokasi studi di
Jawa Tengah aktif melibatkan diri dalam
memotivasi unmet need untuk ikut KB.

Pengendalian Operasional (1)

•Pengawasan melekat berjalan jika staff


meeting dilakukan (propinsi Jateng, Sulut,
Jatim, Banten, DIY)
Waskat oleh petugas kab/kota menggunakan
forum-forum konsultasi ketika pengambilan
gaji.
Pengendalian Operasional (2)
•Intensitas pembinaan dari provinsi ke kab/ kota
kurang, sehingga persoalan di lini lapangan tidak
terselesaikan, yg sebetulnya merupakan kewenangan
provinsi atau kab/kota.
•Supervisi dari provinsi dan kab/kota jarang
menjangkau sampai kec & desa. Supervisi
dilakukan tidak lebih dari 2 kali dalam setahun

Pengendalian Operasional (3)


•Pencatatan oleh kader kurang mendapatkan
pembinaan oleh PLKB, dan kegiatan pemutahiran
data tidak dilakukan secara berkala
•Laporan Dallap mempunyai kualitas lebih baik,
pada wil yang PLKBnya memanfaatkan forum-
forum pertemuan dg kader binaannya
•Pendekatan OR yang menuntun pelaksanaan mekop
Prog KB sesuai standar telah menunjukkan
peningkatan hasil yang positif (Jatim, Sultra, Babel)
Pengendalian Operasional (4)
• Evaluasi PLKB terhadap kegiatan kader
tidak berjalan dengan baik karena tidak
adanya pertemuan kader secara rutin.
(Kalbar, Jambi, NTT, Babel)

Kesimpulan (1)
• Pelaksanaan Mekanisme Operasional
Program KB tidak sesuai dengan standar
baku (seperti buku pedoman Sub Sistem
Prog KB Nasional, 2004).
• Mekop dilaksanakan secara beragam sesuai
dengan kondisi wilayah, terutama sangat
tergantung pada faktor ketersediaan
PLKB/PKB dan komitmen Camat.
Kesimpulan (2)
• Ada atau tidak ada struktur OPDKB di kecamatan
ke bawah tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan
mekop Prog KB.
• Dukungan dana merupakan faktor pendukung
kelangsungan pelaksanaan mekop Prog KB secara
teratur.
• Hasil OR Mekop Prog KB menunjukkan bahwa
pelaksanaan mekop sesuai standar mempunyai
pengaruh positif terhadap pencapaian hasil

Rekomendasi
• Perlu intensifikasi sosialisasi dan advokasi
pedoman mekop program KB
• Perlu dilakukan fasilitasi oleh BKKBN Pusat dan
Provinsi untuk kelangsungan pelaksanaan mekop
Prog KB
• Perlu diupayakan penempatan PLKB/PKB atau
petugas pengganti untuk kelangsungan
pelaksanaan mekop Prog KB
• Perlu memprioritaskan dukungan dana mekop
Prog KB dari berbagai sumber
TERIMA KASIH