Anda di halaman 1dari 2

Santri, Abangan, dan Priyayi

Kepercayaan, Perilaku, dan Implikasinya

Seperti yang telah diketahui, santri, abangan, dan priyayi adalah trikotomi lapisan social
masyarakat jawa yang merupakan hasil penelitian Clifford Geertz di Mojokuto yang dituliskan
dalam sebuah bukunya berjudul ‘The Religion of Java’ (1960). Sampai saat tulisan ini dibuat
pun, trikotomi lapisan social ini masih nampak jelas di masyarakat jawa. Kaum priyayi yang
mewakili kalangan pejabat, abangan yang mewakili pekerja, petani, dan masyarakat pedesaan,
serta kaum santri yang mewakili masyarakat jawa yang hidup dengan memegang teguh nilai-
nilai islam secara ketat.

Dalam tulisan kali ini, akan dibahas tentang masing-masing varian tersebut dilihat dari
sisi kepercayaan, perilaku dalam keseharian, serta implikasinya dalam kehidupan masyarakat.
Abangan, adalah tingkatan social dimana anggotanya adalah masyarakat kelas bawah yang
umumnya bekerja sebagai petani dan buruh, golongan ini terdiri dari orang yang memang
Nampak dari luar beagama islam, namun prakteknya, mereka masih mencampuradukan
kepercayaan animisme dan dinamisme terhadap agama islam. Dalam masalah peribadahan pun,
mereka juga masih sering melalaikan sholat, serta meninggalkan puasa di bulan ramadhon
dengan berbagai alasan. Kalangan ini adalah yang biasanya memiliki tradisi melakukan berbagai
upacara yang terkait dengan momen kehidupan manusia, seperti menikah, mengandung,
melahirkan, sunat, menikah, dan upacara kematian serta peringatan kematian.

Santri, dikenal sebagai lapisan masyarakat yang umumnya bekerja sebagai pedagang,
Perbedaan yang mencolok antara abangan dan santri adalah jika abangan tidak acuh terhadap
doktrin dan terpesona kepada upacara, sementara santri lebih memiliki perhatian kepada doktrin
dan mengalahkan aspek ritual Islam yang menipis. Santri juga lebih peduli kepada
pengorganisasian sosial umat di sekeliling mereka. Misal, pendirian parpol islam, sistem sekolah
agama, birokrasi pemerintah/Depag, dan jamaah masjid/langgar.

Priyayi mewakili aristokrasi Jawa. Kebanyakan mereka berdiam di kota. Mereka adalah
birokrat, klerk/juru tulis, guru, serta bangsawan. Priyayi memandang dunia ini dengan konsep
alus dan kasar. Alus menunjuk pada murni, berbudi halus, tingkah laku yang halus, sopan, indah,
lembut, beradab dan ramah. Simbolnya adalah tradisi kromo-inggil, kain bagus yang alus, musik
alus. Dan konsep alus ini bisa menunjuk apa saja yang semakna dengan alus. Lawan dari alus
adalah kasar dan merupakan kebalikan dari alus, bahasa kasar, tingkah laku kasar. Konteks
priyayi bertemu dengan abangan dalam hal alus dan kasar. Sementara titik kehidupan keagamaan
priyayi berpusat etiket, seni dan mistik. Yang menggabungkan unsur ketiganya adalah rasa.
Priyayi menganggap bahwa wayang, gamelan, lakon, joged, tembang dan batik adalah
perwujudan kesenian yang alus. Berbeda halnya dengan ludrug, kledek, jaranan, dan dongeng
sebagai kesenian yang kasar. Dan kesenian itu mengekspresikan nilai-nilai priyayi. Tidak
mungkin bagi priyayi Mojokuto (camat misalnya) mengundang ludrug untuk pesta pernikahan
anaknya.
Pandangan dunia priyayi terhadap aspek religius disebut dengan mistik. Mistik yang
dimaksud adalah serangkaian aturan praktis untuk memperkaya kehidupan batin orang yang
didasarkan pada analisa intelektual atau pengalaman. Tujuan pencarian mistik adalah
pengetahuan tentang rasa dan itu harus dialami oleh priyayi. Ritual yang dilakukan adalah bentuk
tapa dan semedi dalam keadaan ngesti (menyatukan semua kekuatan individu dan
mengarahkannya langsung pada tujuan tunggal, memusatkan kemampuan psikologis dan
fisiknya ke arah satu tujuan yang sempit.