P. 1
Budaya organisasi part 2

Budaya organisasi part 2

|Views: 231|Likes:
Dipublikasikan oleh asrisonetha

More info:

Published by: asrisonetha on Apr 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2014

pdf

text

original

BUDAYA ORGANISASI

References : Budaya dan Iklim Organisasi, Dr. Wirawan,MSI.,SpA.,MM

.

Budaya Organisasi,Taliziduhu Ndraha Brown, A. 1998. Organizational Culture. Singapore: Prentice Hall..

ORGANISASI
‡ J.R. Schermerhorn Organization is a collection of people working together in a division of labor to achieve a common purpose.
± Organisasi adalah kumpulan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. ‡ Philiph Selznick Organisasi adalah pengaturan personil guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan melalui alokasi fungsi dan tanggung jawab.

ORGANISASI
‡ UNSUR-UNSUR ORGANISASI
± Kumpulan orang ± Kerjasama ± Tujuan bersama ± Sistem Koordinasi ± Pembagian tugas adntanggung jawab ± Sumber Daya Organisasi.

ORGANISASI
‡ Organisasi Formal
Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dan memiliki UU, peraturan,akta pendirian, dan anggaran dasar Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.

‡ Organisasi Informal
Organisasi informal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari. Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung, belajar bersama anak-anak sd, kemping ke gunung pangrango rame-rame dengan teman, dan lain-lain.

ORGANISASI
‡ Organisasi Profit (laba)
Orientasi pada laba

‡ Organisasi Non Profit (laba)
suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal didalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (moneter). Contoh : Gereja, gereja, sekolah negeri, derma publik, rumah sakit dan klinik
publik, organisasi politis, bantuan masyarakat dalam hal perundang-undangan, organisasi jasa sukarelawan, serikat buruh, asosiasi profesional, institut riset, museum

BUDAYA ORGANISASI, P.Robbins
‡ diungkapkan Stephen P. Robbins yang mendefinisikan organisasi sebagai ³«A consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary that function or relatively continous basis to achieve a common goal or set of goal´.

BUDAYA ORGANISASI, P.Robbins
‡ Robbins, (2003: 525) menjelaskan bahwa budaya organisasi itu merupakan suatu system nilai yang dipegang dan dilakukan oleh anggota organisasi, sehingga hal yang sedemikian tersebut bisa membedakan organisasi tersebut dengan organisasi lainnya.

BUDAYA ORGANISASI, P.Robbins
‡ Stephen P Robbins --- Organisasi merupakan social entity--Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi (relatively identifiable boundary), yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai misi dan visi serta suatu tujuan bersama (common goal or set of goal)

BUDAYA ORGANISASI, P.Robbins

Continuing Bond Anggota Organisasi memiliki ikatan terus menerus dimana selalu berpartisipasi dan mematuhi norma organisasi secara tetap

BUDAYA ORGANISASI
Setiap organisasi terdapat budaya organisasi ?
Anggota harus berperilaku dengan ketentuan kode etik Baik buruknya layanan manajerial ditentukan oleh perilaku manejerial karena perilaku dipengaruhi oleh budaya organisasi Budaya sistem sosial atau organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasi, hal in sangat menentukan kinerja anggota dan organiasi

BUDAYA ORGANISASI, Schwartz dan Davis,
‡ ‡ Schwartz dan Davis, mendefinisikan budaya organisasi sebagai : ³«a pattern of beliefs and expectation shared by the organization¶s members. These beliefs and expectations produce norms that powerfully shape the behavior of individuals and groups in the organization´.

‡

pola kepercayaan dan harapan yang dianut oleh anggota organisasi. Kepercayaan dan harapan tersebut menghasilkan nilai-nilai
yang dengan kuat membentuk perilaku para individu dan kelompok-kelompok anggota organisasi. (Schwartz dan Davis dalam Wiarawan, 2007:9)

Menurut kedua pengarang ini, budaya organisasi merupakan

BUDAYA ORGANISASI, Eldridge dan Crombie
‡ Eldridge dan Crombie, mendefinisikan budaya organisasi sebagai : ‡ ³«the unique configuration of norms, values, beliefs, ways of behaving and so on that characterize the manner in which groups and individuals combine to get things done´. Menurut kedua pengarang ini, budaya suatu organisasi menunjukan

‡

konfigurasi unik dari norma, nilai, kepercayaan, dan cara-cara berperilaku yang memberikan karakteristik cara kelompok dan individu bekerja sama untuk menyelesaikan
tugasnya. (Eldridge dan Crombie dalam Wiarawan, 2007:9)

BUDAYA ORGANISASI, Gareth R. Jones
‡ Gareth R. Jones (1995), mendefinisikan budaya organisasi sebagai : ‡ ³«the set of shared values that control organizational member¶s interaction with each other and with suppliers, customers, and other people outside the organization´.

‡ Menurut Jones, budaya organisasi merupakan seperangkat nilai bersama yang mengontrol interaksi setiap anggota organisasi, juga dengan para pemasok, pelanggan, dan pihak-pihak lain diluar organisasi. (Jones dalam Wirawan, 2007:9)

BUDAYA ORGANISASI, Robert G. Owen
‡ Robert G. Owen (1991), dalam bukunya Organizational Behaviour in Education mendefinisikan budaya organisasi sebagai :
‡ ³«the norm that inform people what is acceptable and what is not, the dominant values that the organization cherishes above others, the basic assumption and beliefs that are share by members of the organization, the µrules¶ of the game that must be observed if one is to get along and be accepted as a member, the philoshophy that guide the organization in the dealing with its employees and its clients´. Menurut Owen, budaya organisasi adalah norma yang menginformasikan anggota organisasi mengenai apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dapat diterima, nilai-nilai dominant yang dihargai organisasi diatas yang lainnya, asumsi dasar dan kepercayaan yang dianut bersama oleh anggota organisasi, peraturan main yang harus dipelajari jika orang ingin dapat sejalan dan diterima sebagai anggota organisasi, dan filsafat yang mengarahkan organisasi dalam berhubungan dengan karyawan dan kliennya. (Owen dalam Wirawan, 2007:10)

‡

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
‡ Berdasarkan pengertian kebudayaan di atas, budaya organisasi itu didasarkan pada suatu konsep bangunan pada tiga tingkatan, yaitu: (Schein, 1991: 14). ± Tingkatan Asumsi Dasar (Basic Assumption) = sifat aktivitas manusia ± Tingkatan Nilai (Value) = dapat dites melalui konsensus ± Tingkatan Artifact yaitu sesuatu yang ditinggalkan. = pola perilaku

BUDAYA ORGANISASI,H.Schein
‡ Tingkatan asumsi dasar : hubungan manusia dengan apa yang ada di lingkungannya, alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, hubungan itu sendiri, dan hal ini, asumsi dasar bisa diartikan suatu philosophy, keyakinan, yaitu suatu yang tidak bisa dilihat oleh mata tapi ditanggung bahwa itu ada.

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
‡ Values, adalah apa yang secara ideal menjadi alasan untuk berperilaku. Nilai-nilai merupakan sesuatu yang berharga untuk dipahami dan dikerjakan sebagai landasan komitmen organisasi. Nilai-nilai biasanya ditemukan oleh para pendiri organisasi seperti strategi-strategi, tujuan-tujuan, filosofi serta cara pencapaian tujuan. Bentuk nyata dari nilai-nilai dapat berupa filosofi, visi, disiplin kerja, sistem balas jasa dan cara interaksi.

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
‡ Artifacts adalah produk-produk nyata dari kelompok seperti arsitektur lingkungan fisik, bahasa, teknologi, kreasi artistic, tata ruang, cara berpakaian, cara berbicara, cara mengungkapkan perasaan, cerita tentang mitos dan sejarah organisasi, daftar nilai-nilai yang dipublikasikan, kegiatan ritual dan seremonial, serta perilaku. Untuk tujuan analisis tingkatan tersebut termasuk perilaku yang tampak dari kelompok dan proses keorganisasian yang dilakukan secara rutin.

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein

Secara berurutan, artifak lebih mudah diukur ketimbang keyakinan dan nilai, sementara keyakinan dan nilai lebih mudah ditangkap ketimbang asumsi-asumsi. Jika diskemakan maka lapisan menurut Shein adalah sebagai berikut

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
Artifak yaitu seluruh fenomena yang bisa dilihat, dengar, dan rasakan tatkala seseorang memasuki suatu organisasi baru dengan budayanya yang belum familiar. Artifak dapat dilihat dan nyata ³ ... anything that one can see, hear, or feel in the organizational experience, and often the first thing we notice about an organization when we enter it.´ Norma-norma, standar-standar, dan kebiasaan-kebiasaan merupakan artifak layaknya atribut-atribut yang lebih bersifat fisik seperti pakaian, arsitektur fisik, bahasa, ritual dan upacara. Keyton memasukkan norma ke dalam lapisan artifak ini.

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
Nilai adalah kecenderungan orang-orang di dalam organisasi untuk berhubungan satu sama lain dan menentukan pandangan para anggota atas realitas. Termasuk ke dalam nilai adalah strategi, tujuan, prinsip, atau kualitas yang bersifat ideal, menyeluruh, serta diinginkan. Hasil dari nilai adalah terciptanya pedoman perilaku organisasi. Nilai kerap diasosiasikan dengan masalah pekerjaan dan organisasi meliputi prestise, kesejahteraan, kontrol, otoritas, ambisi, kesenangan, independensi, kreativitas, kesetaraan, toleransi, respek, komitmen, ataupun kesopanan.

BUDAYA ORGANISASI, H.Schein
‡ Asumsi adalah kepercayaan yang diterima secara ³takenfor-granted´, merasuk secara dalam dan para anggota organisasi tidak lagi mempertanyakannya. Kendati dalam tertanam di suatu organisasi, asumsi bersifat abstrak, implisit, dan tidak kentara. Misalnya, para anggota organisasi memegang asumsi mengenai :
± diri mereka misalnya selaku kaum profesional atau pekerja. ± dalam hubungan dengan anggota organisasi lain, klien, pelanggan, vendor, atau stakeholder di luar organisasi; ± mengenai organisasi mereka sendiri ± pekerjaan yang mereka lakukan.

.

LAPISAN BUDAYA ORGANISASI
‡ Lapisan budaya organisasi seperti diperkenalkan Schein dielaborasi secara lebih mendetail oleh dua peneliti Michael I. Harrison and Arie Shirom. Harrison and Shirom merinci lapisan-lapisan seperti telah dikembangkan sebelumnya oleh Schein menjadi sebagai berikut :

LAPISAN BUDAYA ORGANISASI

LAPISAN BUDAYA ORGANISASI
Lapisan teratas adalah artifak dengan contoh pola berpakaian, tata lingkungan fisik, ataupun logo organisasi. Pola-pola perilaku termasuk jargon, pola-pola pidato, hikayat, rutinitas kerja, serta ritual dan upacara organisasi. Baik artifak ataupun pola-pola perilaku merupakan lapisan budaya organisasi yang paling mudah dilihat atau diamati. Artifak dan pola-pola perilaku merupakan ekspresi dari norma, nilai, kepercayaan, persepsi atau asumsi yang berkembang dalam budaya suatu organisasi. Norma adalah perilaku yang diharapkan dalam situasi tertentu dalam organisasi. Norma diekstraksi dari nilai, yaitu gagasan seputar bagaimana organisasi harus bertindak. Nilai termasuk pula cara seperti apa yang seharusnya digunakan dalam menggapai tujuan organisasi serta bagaimana kriteria pengalokasian kuasa dan status di dalam organisasi. Kepercayaan atau kognisi adalah representasi mental pemahaman para anggota organisasi. Ini diperoleh lewat proses kognisi aktif, misalnya melalui interaksi sosial antaranggota organisasi. Lewat kepercayaan atau kognisi, individu di dalam organisasi jadi memahami ³dunia´nya yang tidak lain organisasi tempat mereka bekerja. Kepercayaan dan kognisi ini mewujud melalui sikap, sementara kepercayaan dan kognisi sendiri merupakan ekstraksi dari asumsi. Asumsi merupakan aspek paling abstrak dari suatu budaya organisasi. Pemahaman atas asumsi membutuhkan tingkat analisis yang cukup mendalam dan menuntut pengetahuan peneliti mengenai bagaimana para anggota organisasi memandang hubungan manusia, kebenaran dan realitas, sifat manusia, dan sejenisnya. Bagi Schein, asumsi terkadang bersifat tidak disadari dan meliputi persepsi, pemikiran, dan perasaan yang bersifat ³taken-for-granted.´

LAPISAN BUDAYA ORGANISASI
FONS TROPENAARS
Lapisan Budaya Organisasi :

‡ Budaya Eksplisit = Realitas yang dapat di observasi ‡ Budaya lapisan Tengah = Budaya eksplisit merefleksikan norma ‡ Budaya Inti = Asumsi mengenai eksistensi manusia

BUDAYA ORGANISASI, A.Brown
‡ Budaya organisasi merupakan bentuk keyakinan, nilai, cara yang bisa dipelajari untuk mengatasi dan hidup dalam organisasi, budaya organisasi itu cenderung untuk diwujudkan oleh anggota organisasi (Brown, 1998: 34).

TUGAS
‡ Jenis-Jenis dan sistem Organisasi ‡ Lapisan Budaya Organisasi Menurut Fons Tropenaars ‡ Dimensi Sosial budaya

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->