Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN INTERNASIONAL TIMUR TENGAH

Efek Domino Demokratisasi Tunisia Terhadap


Negara-Negara Wilayah Timur Tengah

Andi Tenri Lamanda

2008330152

Kelas

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

BANDUNG, MARET 2011


EFEK DOMINO DEMOKRATISASI TUNISIA TERHADAP
NEGARA-NEGARA WILAYAH TIMUR TENGAH

Dalam hubungan internasional, efek domino (yang kemudian populer dengan


istilah Teori Domino) dikenali sebagai fenomena perubahan berantai
berdasarkan prinsip geo-politik dan geo-strategis. Karena teori ini lahir dari
konsideran geografis, maka obyeknya adalah negara-negara yang secara
geografis berdekatan, misalnya terletak dalam satu kawasan. Pola
perubahan dianalogikan seperti domino China (Mahyong) yang berdiri tegak,
dimana jika keping domino paling awal dijatuhkan, ia akan menimpa keping
domino terdekat, dan proses ini akan berlanjut hingga ke keping domino
terakhir. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Presiden AS, Dwight
Eisenhower, dalam Konferensi Pers-nya pada 7 April 1954 sebagai respon
terhadap perebutan hegemoni antara Blok Barat dan Blok Timur
(komunisme) di Indochina.

Selain pada isu keamanan strategis, efek domino juga diidentifikasi dalam
bidang ekonomi. Benjamin Hatinger (2010) mengatakan dalam fenomena
integrasi regional terdapat gejala efek domino. Jika beberapa negara
berhasil melakukan integrasi, negara-negara lain di kawasan akan bergerak
untuk mengikuti pola tersebut dan bergabung dengan proses integrasi.

Terdapat empat asumsi mengapa efek domino demokrasi ini kemungkinan


akan terus bergerak di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara:

Pertama, gelombang demokrasi sedang menjadi wacana global.


Sebagaimana diperkirakan Huntington dalam The Third Wave of
Democratization (1991) tantangan terbesar pada dekade mendatang adalah
kompatibilitas nilai demokrasi dengan beberapa nilai budaya dan agama di

Page| 2
banyak negara. Dialog peradaban, dalam pandangan Huntington, cenderung
mengarah pada dialog untuk mempertemuka perbedaan tersebut.

Kedua, kepentingan global AS. Washington akan menggunakan isu ini


sebagai instrumen soft power untuk memastikan hegemoni globalnya, dan
mendorong perubahan rejim-rejim otoriter menuju demokrasi. Sebagaimana
dikemukakan oleh Lancester (2009), bantuan demokratisasi menjadi
instrumen diplomasi publik AS untuk memastikan hegemoninya dalam dunia
internasional.

Ketiga, beberapa keberhasilan mengawinkan demokrasi dan Islam. Banyak


diskursus yang meragukan kedua ideologi ini berdampingan. Namun, pada
banyak transisi di negara-negara mayoritas muslim (misalnya Turki dan
Indonesia), keraguan tersebut dapat dijawab. Kondisi aktual negara-negara
Timur Tengah dan Afrika Utara

Keempat, mayoritas negara Timur Tengah dan Afrika Utara masih berada di
bawah bayang-bayang otoritarianisme atau semi otoritarianisme (baik dalam
bentuk monarkhi, atau republik dengan pemimpin dominan). Karakter
utama rejim-rejim otoritarian adalah mengekang kebebasan individu.
Sementara, kebebasan individu (liberty) merupakan isu utama yang dibawa
oleh gerakan demokrasi.

Teori domino yang meramalkan jatuhnya rezim-rezim nasionalis ke


tangan komunis di Asia Tenggara dan Eropa Timur, kini kembali
terjadi dalam konteks demokratisasi di Timur Tengah.

Menyusul demokratisasi di Tunisia, kini giliran Mesir, Aljazair, Libya, Yaman


dan Jordania terancam mengalami kisah serupa. Rezim-rezim otokrasi Dunia
Islam itu di ambang kejatuhan seperti daun zaitun rontok ke bumi.

Gelombang demokrasi di Tunisia menimbulkan efek domino pada lima


negara itu, yang dinilai sangat rentan terhadap protes rakyatnya dan bisa
Page| 3
berubah ke arah demokrasi. Mesir, Aljazair, Libya, Yaman dan Jordania
menurut laporan Majalah Foreign Policy diperkirakan akan menghadapi
gelombang protes massif pasca-tumbangya rezim diktator Tunisia pimpinan
Zine Al-Abidine Ben Ali.1

YAMAN

Di Yaman, ribuan warga turun ke jalan kota Sanaa Kamis (28/1) menuntut
perubahan pemerintah, mereka terinspirasi oleh kerusuhan yang telah
menggulingkan pemimpin Tunisia dan menyebar ke Mesir pekan ini. Saksi
mata mengatakan diperkirakan sekitar 16.000 warga Yaman turun ke jalan
dalam empat bagian. Ini merupakan demo terbesar sejak gelombang unjuk
rasa mengguncang Yaman pekan lalu. Demonstran bersumpah untuk
meningkatkan kerusuhan kecuali tuntutan mereka dipenuhi.

Presiden Ali Abdullah Saleh, sekutu utama Amerika Serikat dalam perang
melawan sayap al Qaidah yang berbasis di Yaman, telah memerintah negara
Jazirah Arab itu selama lebih dari 30 tahun. Jika partai (yang berkuasa) tidak
menanggapi tuntutan itu, mahasiswa dan rakyat mengancam, mau
meningkatkan aksi ini sampai presiden jatuh, seperti yang terjadi di Tunisia.
Sebelumnya, sekitar 200 wartawan, Minggu (23/1) berdemonstrasi di ibu
kota Yaman, Sanaa, menuntut pembebasan aktivis gerakan prorevolusi
Tunisia sekaligus aktivis kebebasan pers.

ALJAZAIR

Di Aljazair, Rezim Bouteflika, menurut Foreign Policy, telah menjabat sebagai


Presiden Aljazair sejak 1999. Pada 2009, ia mengubah konstitusi sehingga
dapat mempertahankan jabatannya untuk periode ketiga. Partai-partai
oposisi Aljazair memboikot pemilu tersebut, dan kini ia terancam digilias
demokrasi. Kini di Aljazair semua dapat menyaksikan aksi demonstrasi luas

1
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/02/23/BHS/ diakses pada 22 Maret 2011 pukul 21.00
Page| 4
sama dengan yang terjadi di Tunisia. Warga memprotes meningkatnya harga
komoditi dan juga krisis pengangguran. Demo warga makin meningkat
setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga susu, gula dan tepung.
Selain itu, sudah lama rakyat Aljazair mengeluhkan ketidakadilan distribusi
kekayaan negara.

Namun, meski harga bahan pangan juga menjadi masalah di Aljazair,


kerusuhan sering bersifat lokal dan sedikit demonstran mengusung tuntutan
berskala nasional. Pemerintah Aljazair memiliki dana yang cukup besar dari
ekspor minyak dan gas, sehingga bisa dikatakan sanggup membujuk
demonstran yang mengecam inflasi.

Pada tahun 1988, Aljazair juga mengalami ''revolusi kekuatan rakyat'', yang
kemudian menghasil pengenduran pembatasan media dan pemilihan
multipartai. Perkembangan ini kemudian memicu konflik berdarah antara
aparat keamanan dan pemberontak berhaluan Islam, dan setelah itu warga
Aljazair kehilangan semangat untuk mendukung revolusi.

MESIR

Di Mesir, gerakan massa makin mendekati kemenangan. Foreign Policy


menganalisa kondisi saat ini akan menggiring Mesir menuju jurang yang
sama seperti dihadapi rezim Ben Ali di Tunisia. Para aktivis politik Mesir
menyebarkan seruan demo di jejaring sosial Facebook dan mengajak rakyat
Mesir berpartisipasi dalam demo akbar "Jumat Kemarahan." Kantor berita
Fars mengutip situs al-Wafd melaporkan, para aktivis politik Mesir dalam
rilisnya itu, mengajak rakyat menghadiri protes besar-besaran atas kondisi
kehidupan dan ‘revolusi kemarahan’ yang sudah dimulai sejak Selasa lalu.
Demo akbar itu akan digelar seusai pelaksanaan shalat Jumat.

Page| 5
Sudah tiga dekade rezim Hosni Mubarak, berkuasa di Mesir. Seluruh undang-
undang terkait kondisi darurat negara ini memberikan keleluasaan kepada
Mubarak untuk mengotak-atik pelaksanaan pemilu secara arbiter.

Protes yang digelar secara nasional di Mesir itu menjadi momok bagi rezim
Mubarak. Betapa tidak, meski telah dilarang dan diancam hukuman,
masyarakat enggan menghentikan aksi protes dan menuntut lengsernya
rezim ala-Firaun Mubarak.

LIBYA

Di Libya, rezim renta Ghadafi, menghadapi problem serupa. Setelah


membahas Aljazair dan Mesir, Foreign Policy menyinggung kondisi di Libya.
Era pemerintahan Moammar Ghadafi dinilai telah melebihi usia kekuasaan
seluruh pemerintahan di dunia saat ini.

Ia berkuasa di Libya pada 1969, melalui sebuah kudeta militer. Setelah 41


tahun berkuasa, di Kolonel Gadaffi kini penguasa paling lama di Afrika dan
Timur Tengah. Dia juga salah seorang pemimpin paling otoriter di sana. Di
bawah kekuasaannya, Libya menjadi salah satu negara terbesar pelanggar
hak asasi manusia dan negara paling tidak demokratis.

Di negara ini tidak ada kebebasan media dan dari kelompok oposisi, yang
tertinggal hanyalah nama dan kenangan belaka. Demonstrasi warga di
ibukota cukup menjadi bukti tingginya tingkat ketidakpuasan rakyat Libya
atas rezim berkuasa. Padahal sebelumnya, protes merupakan kata yang
hampir tidak pernah didengar dari Libya. Dan perlu diketahui bahwa Libya
memiliki penduduk jauh lebih sedikit dari para tetangga di kawasan, dan
kekayaan dari minyak melimpah.

YORDANIA

Page| 6
Di Yordania menurut Foreign Policy, diperkirakan akan menghadapi
gelombang protes yang mengancam runtuhnya pemerintahan. Raja Jordania,
Abdullah II, merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di kawasan
dan menjadi ‘makelar perdamaian’ antara Otorita Ramallah di Palestina dan
rezim Zionis Israel. Abdullah yang merupakan jebolan Amerika Serikat itu
berkuasa di Jordania pasca Perang Dunia II.

Pada 16 Januari lalu, sekitar 3.000 warga berdemonstrasi di depan gedung


parlemen negara ini dalam rangka memprotes kebijakan ekonomi. Mereka
meneriakkan slogan "Jordania bukan hanya untuk orang-orang kaya saja",
"Roti adalah garis merah kami, kalian harus memperhatikan kemarahan dan
kelaparan kami."

Sebagian menuntut Perdana Menteri Samir Rifai mundur. Pemerinah pekan


lalu menurunkan harga sebagian bahan pangan dan BBM, tapi demonstrasn
menyatakan pemerintah harus berbuat lebih banyak untuk mengatasi
kemiskinan akibat inflasi. Namun, Yordania diperintah oleh keluarga
kerajaan, dan sebagian masyarakat setia kepada raja. Raja Abdullah
tampaknya lolos dari kemarahan demonstran. Sejauh ini unjuk rasa
berlangsung damai, dan tidak seorang pun ditahan.

Teori domino di Timur Tengah ini sedang menjemput sejarah. Manakala


gelombang perubahan di Tunisia bisa menyapu negara-negara Arab itu,
maka apa yang disebut Samuel Huntington dengan gelombang ‘revolusi
demokrasi global’ nampaknya kini menghantui Dunia Arab.

Demokratisasi Tunisia

Seperti kita ketahui bersama, Dunia Arab sebagai bagian penting dari Dunia
Islam, bukanlah negara-negara demokrasi. Kalangan sarjana Barat selalu
memandang bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi. Kalau tidak
diselamatkan oleh demokratisasi di Indonesia dan Turki, pandangan

Page| 7
stereotipikal itu pasti akan makin memperoleh justifikasi yang sangat
ampuh.
Jika proses demokrasi ketiga, terakhir berlangsung di negara-negara eks Uni
Sovyet dan Blok Timur, proses demokratisasi di Dunia Arab mungkin akan
berlangsung lamban dan panjang. Beberapa negara Arab, baik yang
berbentuk kerajaan maupun republik, memang mulai menyelenggarakan
pemilihan umum secara terbatas, kebebasan juga mulai dibuka secara
perlahan, akan tetapi, dari sudut pandang demokrasi yang masih sedemikian
terbatas, negara-negara Arab belum bisa dikatakan sebagai telah cukup
demokratis.

Revolusi rakyat Tunisia 2011 ini, pada mulanya adalah gerakan


penggulingan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Ben Ali mulai berkuasa tahun
1987 setelah menggulingkan Habib Bourguiba, Presiden Tunisia pertama,
yang terpilih lewat pemilu sejak merdeka dari Perancis. Awalnya
kepemimpinan Ben Ali, berdasarkan penilaian Dana Moneter Internasional
(IMF), Tunisia memiliki catatan bagus dalam pengelolaan keuangan, dan
dipuji karena memiliki fondasi ekonomi yang solid dan tetap berupaya
melakukan modernisasi. Walau demikian, Tunisia dianggap relatif sekuler
dan moderat di dunia Arab, karena menjadi sekutu bisnis dan diplomatik AS
dan Eropa.

Rata-rata penguasa yang diktator yang korup dan despotis hanyalah


mengandalkan kekuatan militer, polisi dan aparat intelijen untuk menjaga
dan melindunginya. Umumnya, para diktator yang berkuasa, selalu
menciptakan sistem oligarki, yang terdiri sejumlah elite sipil dan militer yang
berkuasa, dan menjadi pilar kekuaasaannya. Maka pemerintahan Ben Ali ini,
hanya dikendalikan sejumlah elite politik yang berada di sekeliling
kekuasaannya. Selanjutnya, Ben Ali membentuk kroni-kroni yang menguasai
ekonomi dan industri Tunisia, yang terdiri dari sanak familinya, yang
menguasai aset dan sumber alam Tunisia. Mereka terus membangun

Page| 8
Tunisia, dan menjadi orang-orang yang sangat kaya, di tengah-tengah
kemelaratan rakyatnya yang masif.

Namun, apapun yang sesungguhnya terjadi di Tunisia, telah menginspirasi


beberapa negara di timar Tengah untuk melakukan protes dan penggulingan
terhadap rezim yang telah lama berkuasa. Di Sudan, juga telah melakukan
referéndum untuk pemisahan Sudan Selatan. Mesir, mengikuti langkah
Tunisia, sudah berhasil menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Sementara
Yaman dan Lebanon, nampaknya juga terjadi demonstrasi sebagai bentuk
deman Tunisia.

Gelombang Demokrasi Berikutnya?

Gelombang demostrasi yang berlanjut sejak di Tunisia dipandang oleh


beberapa pengamat akan diikuti oleh beberapa negara Arab lainnya. Bahkan
demonstrasi menentang pemerintah juga akan segera muncul di negara-
negara Timur Tengah lainya.

Namun, gelombang demokrasi sebagaimana yang ditulis Huntington,


mungkin tidak akan berlangsung di negara-negara Timur Tengah. Revolusi
Iran 1979 misalnya, saya yakin, oleh Huntington tidak mungkin disebut
sebagai sebuah proses demokratisasi. Sebab Iran pasca-revolusi, justru
membentuk Republik Islam, bukan negara demokrasi seperti yang diinginkan
Barat. Sebab negara sekulerlah yang ditumbangkan oleh Ayatullah Khomeini
di tahun itu.
Standar ganda yang biasa dipakai oleh Barat dalam memandang proses
demokrasi di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim, diyakini juga
akan diterapkan oleh Barat terhadap Tunisia dan Mesir.

Sebelum ditumbangkan oleh kekuatan massa, Tunisia sudah cukup sekuler,


sebagaimana Mesir yang sangat didukung Amerika. Amerika sangat hati-hati
dan menganggap penting negara Mesir sebagai negara yang menjaga

Page| 9
stabilitas kawasan Timur Tengah. Posisi Mesir, sebagai negara yang pernah
menandatangani perjanjian damai dengan Israel, tentu akan dipandang
sebagai ancaman terhadap kepentingan kawasan (baca: kepentingan
Amerika), jika dikuasai oleh rezim yang dianggap tidak demokratis.

Kekhawatiran Amerika tersebut wajar saja, utamanya jika proses pergantian


rezim di Mesir akan mengulang proses revolusi Iran tahun 1979. Dimana,
negara yang pro-Barat, akan berkurang di Timur Tengah. Saya yakin,
Amerika juga tidak akan tinggal diam jika misalnya Ikwanul Muslimin, akan
berkuasa di Mesir kelak.

Dengan demikian, akhir tahun 2011 ini kita mungkin akan melihat bahwa
gelombang demokrasi yang diinginkan oleh Barat tidak akan terjadi sesuai
keingiannya. Justru sebaliknya, proses pergantian rezim yang pro-Barat di
Timur Tengah yang demokratis, oleh negara-negara tersebut akan diganti
oleh penguasa baru yang lebih bersifat anti-Barat. Sehingga, negara-negara
yang dianggap demokratis malah berkurang.

P a g e | 10