Anda di halaman 1dari 10

Nama : M. Afif Shiddiq Nst.

M. Bairuni
Siti Rohaniah Hsb.
Sri Rahayu Adawiyah Hsb.
Kelas : X5

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah swt. karena dengan rahmat dan
karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
tugas yang ibu berikan. Kami selaku penulis, menyadari bahwa
dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
sebab itu penulis angat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun.

Didalam makalah terdapat pembahasan tentang


“Menemukan Kemenarikan Cerita Rakyat”. Di dalam nya juga
terdapat pengertian, ciri - ciri cerita rakyat, unsur intrinsik dan
ekstrinsik, serta pembagian Cerita Rakyat.

Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat


bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin….

Wassalam,

Penulis

Menemukan Kemenarikan Cerita Rakyat


Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat
dan berkembang dalam masyarakat.

• Ciri – ciri Cerita Rakyat :

1. Cerita rakyat disampaikan secara lisan.

2. Disampaikan turun-temurun.

3. Tidak diketahui siapa yang pertama kali membuatnya.

4. Kaya nilai-nilai luhur.

5. Bersifat tradisional.

6. Memiliki banyak versi dan variasi.

7. Mempunyai bentuk-bentuk klise dalam susunan atau


cara pengungkapkannya.

• Unsur Intrinsik cerita rakyat :

1. Tema ( ide pokok permasalahan ).

2. Alur ( jalan cerita ).

3. Latar (tempat / waktu terjadinya peristiwa ).

Latar terbagi 3, yaitu :

o Latar waktu, untuk menunjukkan siang malam, hari,


tanggal, tahun, zaman atau waktu lain.

o Latar tempat, untuk menunjukkan tempat terjadinya


peristiwa.

o Latar suasana, ada 3 kemungkinan latar suasana


dalam cerita, yaitu suasana alamiah, suasana sosio-
kultural, dan suasana latariah.

4. Penokohan ( lukisan watak pelaku ).

5. Sudut pandang ( kedudukan pengarang dalam cerita ).


6. Amanat ( pesan dari pengarang kepada pembaca ).

7. Gaya bahasa.

• Cerita rakyat dibedakan menjadi :

1. Legenda

Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang


dianggap oleh yang enpunya cerita sebagai sesuatu
yang benar-benar terjadi.

Contoh : Cerita Si Malin Kundang, Gunung Tangkuban


Perahu, Dongeng Banyuwangi, Dongeng Gunung Batok,
Dongeng Rawa pening, dan sebagainya.

2. Sage

Sage merupakan cerita rakyat yang didasarkan


peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi
rakyat.

Contoh : Hikayat Hang Tuah, Syariah Melayu, Ciung


wanana, dan sebagainya.

3. Mite

Mite merupakan cerita rakyat yang didasarkan


peristiwa atau kejadian dikalangan rakyat yang
berdasarkan pada kepercayaan lama, terutama yang
berhubungan dengan dewa-dewi, roh halus, atau
kekuatan gaib.

Contoh : Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, dan sebagainya.

4. Fabel

Fabel merupakan cerita rakyat yang


menggambarkan watak dan budi manusia yang
pelakunya diperankan oleh binatang.
Contoh : Cerita Kancil yang Cerdik, Hikayat Kalila dan
Durina, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya.

5. Paralel

Paralel merupakan cerita rakyat yang tokohnya


adalah manusia dan hewan.

Contoh : Anjing yang Loba, Semut dan belalang,


Hikayat mahabrata, Hikayat Ramayana, dan
sebagainya.

6. Cerita penggeli hati

Cerita penggeli hati merupakan cerita rakyat yang


berisikan kisah lucu atau jenaka.

Contoh : Cerita pak kodok, cerita pak belalang, cerita


pak pander, cerita lebai malang dan sebagainya.
Cerita Rakyat

Malin Kundang

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di


pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari
ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan,
sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri
seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah


berganti tahun, ayah Malin Kundang tidak juga kembali ke
kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan
posisi ayah Malin Kundang untuk mencari nafkah.

Malin Kundang termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit


nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu.
Suatu hari ketika Malin Kundang sedang mengejar ayam, ia
tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka
tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan


dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk
membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di
negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke
kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin Kundang tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal
dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang
yang kaya raya. Malin Kundang mengutarakan maksudnya
kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud
Malin Kundang . Tetapi karena Malin Kundang terus mendesak,
Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat
hati.

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan


secukupnya, Malin Kundang segera menuju ke dermaga
dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah
berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau
lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu
Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin


Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan
para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut .
Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di
kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang
sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut,
karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin Kundang segera
bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga


akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah
pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan
menuju ke desa yang terdekat dari pantai . Sesampainya di
desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa
tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang
menimpanya.

Desa tempat Malin Kundang terdampar adalah desa yang


sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin Kundang lama kelamaan berhasil menjadi
seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang
dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.
Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting
seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan


telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu
Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya
telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari
pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang
ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin Kundang dan


istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan
indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang
banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui
anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke
pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di
atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu
adalah anaknya Malin Kundangbeserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh


ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka
dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa
yang ia dekati adalah Malin Kundang.

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama


tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin
Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian?

Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan


mendorongnya hingga terjatuh. “Wanita tak tahu diri,
sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin
Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak
mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua
dan mengenakan baju compang-camping.

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia


hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai
ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin Kundang
kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena


oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak
menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena
kemarahannya yang memuncak, ibu Malin Kundang
menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau
benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak
berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai
dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang . Setelah
itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-
kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Unsur Intrinsik :

1. Tema : Anak Durhaka


2. Alur : Alur Maju
3. Latar
• Latar waktu : Siang Malam.
• Latar tempat : Pesisir
Pantai wilayah Sumatera Barat,
kapal , rumah, kampong halaman.
• Latar Suasana : Menyedihkan ketika melihat
Malin Kundang yang tidak mau
mengakui ibunya.

4. Penokohan

• Malin Kundang : awalnya bersifat Protagonis tetapi


setelah Ia kaya, Ia menjadi sombong dan
tidak mau mengakui ibunya (Antagonis).
• Ibu Malin Kundang : Seorang Ibu yang sangat baik
( Protagonis ).

5. Sudut Pandang : Orang Ketiga


6. Amanat : “Janganlah sekali-kali berbuat
Durhaka kepada orang tuamu”.

Unsur Ekstrinsik

1. Ekonomi : Keluarga yang miskin dan memprihatinkan.


2. Budaya : Adat Padang.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Malin_Kundang.

Buku Grafindo KTSP 2006 perpustakaan Man 2 Model Medan.

Buku Bumi Aksara KTSP 2006.