Anda di halaman 1dari 15

A rtikel

Penanganan Emisi Gas Rumah Kaca dan Manajemen


Energi
SELASA, 08 FEBRUARI 2011 00:57 WIB
Terlepas dari kontroversinya, isu perubahan iklim sudah menjadi arus utama pemikiran dunia
saat ini. Rangkaian konferensi, seminar hingga pembentukan badan-badan internasional
dilakukan untuk penanganan isu tersebut. Sebagai bagian dari komunitas internasional,
Indonesia ikut berkomitmen terhadap hal tersebut.

Melalui pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam G20 Leaders Summit 25
September 2009, di Pittsburgh, Amerika Serikat, Indonesia telah berkomitmen untuk
menurunkan emisi gas rumah kacanya setidaknya 26 % (business as usual) atau 41 %
(dengan bantuan internasional) dari skenario normal pada tahun 2020. Sebagailangkah tindak
lanjut, disusun roadmap penurunan emisi GRK per sektor termasuk sektor energi. Dalam
roadmap tersebut sektor energi dan transportasi diberikan tugas untuk menurunkan emisi
GRK sebesar 5% dari skenario 26%.

Dari sisi legislasi Indonesia sudah selangkah lebih maju. Hal ini bisa dilihat dari adopsi
substansi mengenai emisi GRK dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 63 undang-undang tersebut
menyatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki tugas untuk menyelenggarakan
inventarisasi emisi GRK sesuai kewenangannya. Selain inventarisasi, juga dilakukan mitigasi
perubahan iklim melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upaya menurunkan
tingkat emisi GRK tersebut (pasal 57).

Bagaimana hubungan emisi GRK dan manajemen energi?. Emisi GRK memiliki kaitan erat
dengan manajemen energi. Manajemen energi terkait dengan strategi optimalisasi energi,
penggunaaan sistem dan prosedur untuk menurunkan kebutuhan energi per unit output
produk namun dengan tetap mempertahankan atau memperkecil total biaya produksi. Tujuan
utamanya adalah menurunkan energi dengan mempertahankan atau mengurangi biaya
produksi. Sehingga pembahasan mengenai emisi GRK akan selalu berdampingan dengan
manajemen energi.

Dari segi perangkat hukum, Indonesia sudah memiliki legislasi terkait energi yaitu Undang-
Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi dan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009
tentang Konservasi Energi. Dengan adanya PP tentang Konservasi Energi ini, bagi pengguna
energi yang menggunakan energi sama atau lebih besar dari 6000 setara ton minyak (TOE)
per tahun wajib melakukan konservasi energi melalui manajemen energi yang meliputi
penunjukan manajer energi, penyusunan program konservasi energi, pelaksanaan audit energi
secara berkala, melaksanakan rekomendasi hasil audit energi, dan pelaporan pelaksanaan
konservasi energi setiap tahun kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Hal yang paling mendasar adalah membangun kesadaran (awareness raising) terhadap
pengendalian emisi GRK dan manajemen/konservasi energi. Kesadaran yang dimaksud
tentunya bertahap dalam tingkatan sektor, institusi hingga individu. Hal yang harus sama-
sama disadari adalah bahwa emisi GRK yang berasal dari kegiatan manusia berkontribusi
terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim akibat kegiatan manusia bersifat global sehingga
seluruh dunia harus menjadikannya sebagai tujuan internasional. Oleh karena itu dunia harus
memandang upaya penurunan emisi GRK adalah penting adanya guna mitigasi perubahan
iklim. Dengan menjadikan entry point melalui isu emisi GRK, kita dapat menangani
manajemen energi secara paralel.

Perusahaan-perusahaan yang leading di dunia sudah mulai mengadopsi isu emisi GRK ke
dalam corporate values mereka bahkan beberapa juga sudah menjadikan emisi GRK menjadi
key performance indicator (KPI) mereka. Kita tidak usah berbicara panjang lebar mengenai
memasukkan emisi GRK ke dalam KPI, karena hal itu merupakan langkah sudah jauh,
namun hal tersebut merupakan keniscayaan di masa depan. Untuk itu kita akan belajar dari
learning curve perusahaan-perusahaan tersebut dalam penanganan emisi GRK (dan
manajemen energi).

Secara garis besar tahapan-tahapan yang sebagian besar perusahan-perusahan tersebut


lakukan dalam rangka menangani masalah emisi GRK adalah sebagai berikut:
• Pemahaman profil emisi. Hal mendasar adalah mengetahui profil emisi GRK dalam
rangkaian proses produksi yang terjadi. Pada prinsipnya setiap kegiatan memproduksi
barang akan mengeluarkan emisi GRK terlebih perusahaan-perusahaan dalam sektor
energi karena selain dari sektor LULUCF (land use, land use change, forestry), sektor
energi merupakan kontributor utama emisi GRK. Profil emisi GRK dibuat dengan
melakukan perhitungan-perhitungan terhadap seluruh mata rantai produksi yang
berpotensi mengemisikan GRK. Memiliki profil emisi berarti memiliki basis data
yang akan digunakan sebagai benchmarking di masa depannya.
• Penyempurnaan manajemen energi dan GHG dalam lini operasi. Setelah kita
memiliki profil emisi GRK institusi kita, maka langkah selanjutnya adalah melakukan
perubahan dalam manajemen energi. Review dilakukan terhadap proses operasi untuk
mengidentifikasi peluang-peluang penghematan energi.
• Adanya komitmen untuk pengembangan teknologi emisi rendah (low emissions
technology), pelaksanaan project-based emissions reductions serta mendorong upaya-
upaya pengurangan emisi GRK yang dilakukan oleh karyawan serta komunitas lokal
sekitar.
• Kerjasama dengan pemerintah dan stakeholders lain dalam pengembangan kebijakan
pengurangan emisi GRK termasuk insentif bagi industri serta penyiapan perangkat
yang efektif. (JS)
Kontribusi Gas Rumah Kaca pada Pemanasan GlobalGas
rumah kaca disebut sebagai pemicu pemanasan global.
Apa itu sesungguhnya gas rumah kaca? Mengapa kaca
punya kontribusi dalam hal ini? Lantas apa hubungannya
dengan gas CO2? Tidak ada kata terlambat untuk
menyadari proses pemanasan global dan bahayanya.
Sesungguhnya kaca merupakan sebuah penemuan yang luar biasa. Sanggup memisahkan
suasana nyaman di dalam dari hawa yang kejam di luar, sekaligus membuat orang bisa
melihat pemandangan luar rumah. Bayangkan seandainya kaca belum ditemukan, dan
penutup jendela masih dari kayu atau lempengan logam. Namun demikian di samping
jasanya itu, ada lagi sifat kaca yang berhubungan dengan gelombang lain.
Keluarga Besar
Cahaya tampak, yang memungkinkan kita menikmati tamasya warna, hanyalah salah satu
anggota dari keluarga besar gelombang elektromagnetik. Saudara-saudara dalam keluarga
besar ini dibedakan atas panjang gelombangnya. Terhitung sulung adalah gelombang radio,
yang panjang gelombangnya beberapa meter hingga lebih dari ratusan meter. Cahaya tampak
menjadi salah satu adiknya, dengan panjang gelombang kurang dari 0,7 mikrometer (1
mikrometer = 0,001 mm). Saudara dekat cahaya tampak bernama infra merah, yang
bersebelahan dengan warna merah dari cahaya tampak.
Setiap anggota keluarga mempunyai sifat dan kemampuannya sendiri. Gelombang radio
menyampaikan siaran berita dan musik, pancaran infra merah menyampaikan panas.
Gelombang radio berasal dari antena pemancar, infra merah bersumber pada benda
panas.Lalu sedikitnya ada dua perbedaan antara pancaran infra merah dan cahaya tampak.
Pertama, infra merah bersifat tidak terlihat.Kedua, infra merah tidak mampu menembus kaca.
Dengan demikian hanya terang cahaya matahari yang dapat memasuki ruang depan rumah
dengan menerobos kaca jendela. Energi yang dibawa cahaya akan mengenai lantai, kursi,
meja, dan perabot lain. Lama kelamaan oleh energi tersebut, benda-benda menjadi panas, dan
pada gilirannya mengeluarkan infra merah. Tetapi pancaran infra merah akan dibendung oleh
kaca, gagal untuk keluar, menjadikan ruangan semakin panas.
Gejala ini dimanfaatkan di negara dingin ketika udara yang beku tidak membolehkan
tumbuhnya sayuran yang sangat dibutuhkan. Dibuatlah bangunan yang seluruh dinding dan
atapnya dari kaca. Maka gejala yang menghinggapi ruang depan rumah tadi terulang di sini.
Hawa di dalam menjadi cukup hangat bagi tanaman seperti tomat, ketimun, meskipun
mungkin salju bertebaran di luar. Bangunan ini dikenal sebagai “rumah kaca”.
Di pihak lain, di daerah panas seperti Jakarta, bangunan yang banyak menggunakan kaca
merupakan sarana yang ampuh untuk menyiksa manusia di dalamnya atau memboroskan
energi penyejuk udara.
Selimut
Pernahkah berada di sebelah nyala lampu pijar 100 watt? Hangat? Panas? Di siang hari
Indonesia, energi dari matahari yang jatuh pada tiap meter persegi tanah bisa mencapai enam
kali harga itu. Tentu sudah akrab kita dengan rasa teriknya. Lalu apakah dengan demikian
bumi menjadi semakin panas?
Jangan kuatir. Jika penghuni rumah merasa beruntung dengan penemuan kaca, penghuni
dunia patut berterima kasih karena gas nitrogen dan gas oksigen dalam atmosfir kita bersifat
transparan, baik untuk cahaya tampak maupun untuk pancaran infra merah.
Dengan demikian ketika bumi dan segala benda di permukaannya dipanaskan oleh matahari,
infra merah yang terbit dari benda-benda dapat bebas terbang ke angkasa. Pergi membawa
serta panas yang membuat gerah. Suhu permukaan bumi pun tidak bakal naik secara drastis,
keseimbangan tercapai, dan kehidupan berlangsung nyaman.
Tetapi sayang, ada jenis-jenis gas yang menghambat infra merah. Yang populer ialah karbon
dioksida (CO2), keluar antara lain sebagai sisa pembakaran dari mesin mobil dan cerobong
pabrik. Tatkala industri dan jumlah mobil meningkat, bertambah pula gas penghambat infra
merah dalam atmosfir. Terbentuklah semacam selimut, yang membuat naiknya suhu
permukaan bumi. Orang menyebutnya “efek rumah kaca”, mengacu pada gejala dalam
bangunan kaca seperti dijelaskan sebelumnya. Contoh gas rumah kaca yang lain ialah metan
(CH4) dan dinitro oksida (N2O).
Betapa nyaman sebenarnya bumi hasil rancangan yang asli, dapat diketahui dengan
menengok dua planet tetangga, Venus dan Mars. Di samping lebih dekat ke matahari, Venus
mempunyai atmosfir dengan CO2 yang jauh lebih banyak dari pada bumi. Akibatnya
permukaan planet bersuhu di sekitar 462°C, lebih panas dari pada oven di dapur. Mars lebih
jauh dari matahari dibandingkan bumi, dan jumlah (massa) CO2 disana sangat rendah. Ini
membuat suhu permukaan Mars rata-rata 53°C di bawah nol.
Bukan hanya gerahnya udara bumi yang dikuatirkan. Naiknya suhu berarti mencairnya
banyak es di daerah kutub. Dan karena dengan berat yang sama, volume air lebih besar dari
pada volume es, melelehnya banyak es berarti meningkatnya permukaan laut. Tidak masalah
jika kenaikan muka laut hanya belasan sentimeter. Tetapi jika sudah belasan meter atau lebih,
akan banyak kota pantai yang terhapus dari peta dunia.
Sementara itu yang namanya cuaca rumitnya bukan main, segudang faktor bermain di situ,
seperti jumlah pancaran matahari, kandungan uap air di udara, luas hutan maupun permukaan
air, dan lain sebagainya. Musim berlangsung mulus jika tercapai keserasian di antara berbagai
faktor tadi. Sebaliknya, kenaikan suhu karena CO2 pasti akan mengganggu keseimbangan,
dan dapat melahirkan cuaca yang berkarakter aneh. Hujan terus menerus di musim kering,
misalnya. Apabila cuaca yang abnormal berlangsung terus, akibatnya sungguh serius. Tidak
saja kemungkinan badai atau banjir, tetapi juga gagal panen, berjangkitnya hama akibat
gangguan pada siklus kehidupan binatang penyebabnya, kekeringan luar biasa yang
menyurutkan cadangan air tawar, dan sebagainya.
Dewasa ini pemerintah sejumlah negara, badan internasional, para ilmuwan, LSM,
mencurahkan pikiran dan perhatian untuk mencegah terjadinya bencana yang dikenal sebagai
pemanasan global. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mengurangi emisi CO2 ke udara,
antara lain lewat kesepakatan yang disebut Protokol Kyoto. Dikerahkan juga akal untuk
mencari proses industri, cara pembangkitan energi, produksi kendaraan dan mesin yang
kurang mengeluarkan karbon dioksida.
Tentu khalayak ramai diharapkan semakin menyadari persoalan yang ada, dan beramai-ramai
ikut berupaya menyelamatkan bumi.

Tentang Penulis: Andrianto Handojo


Andrianto Handojo mengajar pada Program Studi Teknik Fisika ITB sejak

tahun 1980 dan mulai tahun 1999 menjadi guru besar dengan bidang keahlian
optika. Andrianto Handojo mengajar sebagai guru besar dengan bidang keahlian
optika pada Program Studi Teknik Fisika ITB, tetapi secara umum menyukai
fisika, gemar membaca dan ingin berbagi keingin-tahuannya lewat ...
Selengkapnya »

• Website Pribadi/Blog: http://www.itb.ac.id


• Tulisan di NetSains: 22 Tulisan
Beri komentar atau taut balik artikel ini.
Perhatian!
Artikel ini adalah artikel lama, diterbitkan lebih dari setahun yang lalu.
Mohon beritahu kami melalui komentar apabila artikel ini sudah tidak relevan
lagi
Disqus
• Log
Setuju Banget in
Dislike Communi
• Ab
ty
out
• Dis
qu
s

Glad you liked it. Would you like to share?

Facebook

Twitter
• Share
• No thanks
Sharing this page …
Thanks! Close
Tambahkan Komentar Baru
Post as …

Showing 8 comments
Terbaru dulu

Urutan tampil Subscribe by email Subscribe by RSS


sam sukarno pohlmann 11/05/2009

12:32 PM

• pengaruh nya adalah ketika energi matahari memasuki permukaan bumi


kita, cahaya matahari mejadi panas dan menghangat kan
bumi.permukaan bumi akan memantulkan kembali sebagai panas sebagai
radiasi infra merah gelombang panjang keluar ke angkasa,sebagaian
terperangkap di atmosfer bumi.Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap
air, karbon dioksida, dan metana akan menjadi perangkap radiasi ini. gas-
gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang
dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan Bumi. Akumulasi radiasi matahari di atmosfer Bumi ini
menyebabkan suhu Bumi menjadi semakin menghangat.
tu anak smp aja tahu
• Flag
• 1 person liked this. Setuju Banget Jawab Jawab

Dwi 01/04/2011 08:42 PM in reply to sam

sukarno pohlmann

• thank yo so much..
you are very help me to make some essay for my assignment in my
college.
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

iena aceh 11/04/2009

04:44 PM

• tolong donk ceritainnn efek gas rumah kaca terhadap fotosintesis,


bingung ni.......... hehehe...
apa pengaruhnya .............???????
thanks......
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

Andrianto Handojo 11/05/2009 02:05 PM in reply

to iena aceh

• Reaksi fotosintesis terjadi pada daun tumbuhan, yaitu mengambil CO2 dan
uap air dari udara, yang dengan bantuan cahaya matahari diubah menjadi
senyawa karbon untuk hidup tumbuhan, termasuk menimbunnya sebagai
kayu. Hasil lain reaksi ialah dilepasnya oksigen ke udara. Jadi secara
ringkas, tumbuhan melalui fotosintesis mengambil CO2 dari udara dan
menggantinya dengan O2.

Gas rumah kaca CO2 sejauh ini dituduhkan sebagai yang bikin gara-gara
pemanasan global. Di samping ditimbulkan oleh asap pembakaran,
kendaraan dan industri, penebangan hutan dipandang besar kontribusinya
karena menyebabkan berkurangnya daun yang menyerap CO2. Oleh
karena itu penanaman kembali hutan dan penghijauan dipandang sangat
penting untuk memelihara bumi dan manusianya.
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

Rina Yuliani 10/13/2009

06:48 PM
• tugas file dan gambar T.I.K IX F
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

westy 07/29/2008

06:29 PM

• makasih yah buat bahannya....

ngebantu banget buat tugas dan skripsi gw...

kabarin yahhh klo ada info semiotik lagi...

hehehe
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

Ddew 05/20/2008

12:10 PM

• Tolong jelaskan donggg tentang terjadinya global warming?? Aqu masih


gg ngerti..
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

sam sukarno pohlmann 11/05/2009 12:35 PM in

reply to Ddew

• - Ozon yang menipis.


Ozon adalah lapisan pelindung bumi, supaya suhu di permukaan bumi
tetap stabil. Gw pernah dengar kalau di bulan (tanpa ozon), bagian yang
terkena sinar matahari dapat mencapai suhu >50 derajat celsius dan di
bagian yang tidak terkena sinar matahari mencapai <-10 derajat celsius.
- Efek rumah kaca yang berlebih
Efek rumah kaca terjadi karena kumpulan gas karbon dioksida (CO2).
Sebetulnya ERK ini bermanfaat untuk menghangatkan planet, tapi kalau
berlebihan dapat menyebabkan global warming dan perubahan iklim.
• Flag
• Setuju Banget Jawab Jawab

Reactions

netsains 08/29/2009
07:32 AM

From twitter via

UberVU

• #netsains : Kontribusi Gas Rumah Kaca pada Pemanasan Global


http://bit.ly/2lH1Yk
http://netsa

URL Lacakbalik
blog comments powered by Disqus

Ayo Membuat CMS untuk Pendidikan »

« Fakta Seputar Kecoak

• Arsip
• Tentang Kami
• Privasi
• Banner

NetSains.Com adalah sebuah website yang memiliki tujuan untuk membuat sains dan
teknologi jadi menarik bagi tunas bangsa Indonesia. Siapa saja dapat bergabung dan menjadi
kontributor NetSains dengan cara mengirimkan tulisannya beserta biodata singkat mereka.
Bidang yang dicakup sangat luas dan tak hanya bidang eksakta. Siapapun dapat membaca,
membagi, ataupun mencatut konten dari NetSains asalkan memberikan penghargaan setinggi-
tingginya kepada penulis aslinya (berupa link balik dengan nama penulis). Setiap tulisan
disini berlisensi dan dilindungi Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)
Indonesia.
Copyright © Netsains.com 2007 - 2011
Close

Highlighting is Turned On - Give it a try by highlighting some text or hovering over an


image!

Highlighter
Thank you for your comment!
Your comment will be shown publicly once it is approved by site moderator.
Highlighter
What is on

Name (require

Email (required

Website (optio

On

Kontribusi Gas Ru txt

Post Comment ›

Subscribe for updates

• Comment
• Share via Facebook
• Share via Twitter
• Email This

• Comment ()
• Share via Facebook
• Share via Twitter
• Email This

• Comment ()
• Share via Facebook
• Share via Twitter
• Email This
what is Highlighter?
highlighter.com
Annotype allows you to highlight any text or image on this page, then leave an annotation
right there for everyone to see! It's just like leaving a comment.
Watch the video below to see it in action!

Highlighter

Send your highlighted text to a friend!


Top of Form

Your Name

Your Email

Friend's Name

Friend's Email

Hey, I w anted you to check out


from the blog post, '{post name}

'{my highlighted text}'

Send Now ›
233 ANNOtype_share

Bottom of Form

What is Highlighter?
Highlight. Comment. Share. It really is that simple!

Turn Off Highlights

0
Efek rumah kaca
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Untuk grup musik bernama sama, lihat Efek Rumah Kaca (grup musik).

Efek rumah kaca, yang pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan
proses pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang
disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.
Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan)
memiliki efek rumah kaca, tapi artikel ini hanya membahas pengaruh di Bumi. Efek rumah
kaca untuk masing-masing benda langit tadi akan dibahas di masing-masing artikel.
Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami
yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat
aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang
pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.

Daftar isi
• 1 Penyebab
• 2 Akibat
• 3 Lihat pula
• 4 Referensi

[sunting] Penyebab
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-
gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan
pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi:
• 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
• 25% diserap awan
• 45% diserap permukaan bumi
• 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan
permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh
awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan
normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara
siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida,
nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik
seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan
penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
[sunting] Akibat
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang
sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem
lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer.
Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat
menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan
meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan
laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-
5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan
menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan
meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas
yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu
permukaan bumi menjadi meningkat.
[sunting] Lihat pula
• Pendorong iklim
• Perdagangan emisi
• Protokol Kyoto
• Rumah kaca surya

[sunting] Referensi
• Earth Radiation Budget, [1]
• Fleagle, RG and Businger, JA: An introduction to atmospheric physics, 2nd
edition, 1980
• Fraser, Alistair B., Bad Greenhouse [2]
• Giacomelli, Gene A. and William J. Roberts1, Greenhouse Covering
Systems, Rutgers University, [3].
• Henderson-Sellers, A and McGuffie, K: A climate modelling primer (quote:
Greenhouse effect: the effect of the atmosphere in re-readiating longwave
radiation back to the surface of the Earth. It has nothing to do with
glasshouses, which trap warm air at the surface).
• Idso, S.B.: Carbon Dioxide: friend or foe, 1982 (quote: ...the phraseology is
somewhat in appropriate, since CO2 does not warm the planet in a
manner analogous to the way in which a greenhouse keeps its interior
warm).
• Kiehl, J.T., and Trenberth, K. (1997). Earth's annual mean global energy
budget, Bulletin of the American Meteorological Society 78 (2), 197–208.
• Piexoto, JP and Oort, AH: Physics of Climate, American Institute of Physics,
1992 (quote: ...the name water vapor-greenhouse effect is actually a
misnomer since heating in the usual greenhouse is due to the reduction of
convection)
• Wood, R.W. (1909). Note on the Theory of the Greenhouse, Philosophical
Magazine 17, p319–320. [4]
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_rumah_kaca"

Kategori: Atmosfer | Perubahan iklim | Pendorong iklim


Peralatan pribadi
• Masuk log / buat akun

Ruang nama
• Halaman
• Pembicaraan

Varian

Tampilan
• Baca
• Sunting
• Versi terdahulu

Tindakan

Cari
Top of Form
Istimew a:Pencari

Bottom of Form

Navigasi
• Halaman Utama
• Perubahan terbaru
• Peristiwa terkini
• Halaman sembarang

Komunitas
• Warung Kopi
• Portal komunitas
• Bantuan

Wikipedia
• Tentang Wikipedia
• Pancapilar
• Kebijakan
• Menyumbang

Cetak/ekspor
• Buat buku
• Unduh sebagai PDF
• Versi cetak
Kotak peralatan
• Pranala balik
• Perubahan terkait
• Halaman istimewa
• Pranala permanen
• Kutip halaman ini

Bahasa lain
• Afrikaans
• ‫العربية‬
• Български
• বাংলা
• Bosanski
• Català
• Česky
• Cymraeg
• Dansk
• Deutsch
• Zazaki
• Ελληνικά
• English
• Esperanto
• Español
• Eesti
• Euskara
• ‫فارسی‬
• Suomi
• Français
• Gàidhlig
• Galego
• ‫עברית‬
• िहनदी
• Hrvatski
• Magyar
• Interlingua
• Íslenska
• Italiano
• 日本語
• ქართული
• ಕನನಡ
• 한국어
• Lietuvių
(CH4)