Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

Kerapuhan kedua. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional.. No. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. 3 September 2009 .. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. Vol. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. Oleh karena itu. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. 12. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. Aspek ini sangat politis. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional . diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro.com). termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia. trisnantoro@yahoo. Kerapuhan ketiga. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh. Kenyataan memang sudah terjadi.

No. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Keywords: government political development.13. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis.14. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. Khusus di sektor perumahsakitan. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. terjangkau dan berkualitas. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. Thus health sector is not an exception in this case. Vol. Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Rumah Sakit Haji. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. 3 September 2009 115 . Fakultas Kesehatan Masyarakat. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP. tak terkecualikan. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 12.119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Pada rentang waktu itu pula. termasuk di sektor kesehatan. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan. hal ini terjadi pula di Indonesia. Universitas Indonesia. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut.

Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang. Kay dan D. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur).Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. Vol. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. 12. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju.. No. Oleh karenanya. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. aturan hukum. Di lain pihak.. Teori kedua. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”.J. teori liberal. pemerintahan konstitusi.”5 Pada praktiknya.means of changing relationship between the government and private sector”. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. dan toleransi. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan. seperti persamaan hak. Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan.4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. John D. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. dan teori alternatif. teori ketergantungan.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. masing-masing: teori modernisasi.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. 3 September 2009 . model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut.. Sebagai contoh. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru.A. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu.

6 Sebagai sebuah kebijakan. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. 12. tambang timah. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta.9 Dengan peningkatan kinerja. Dalam banyak kasus. yang memfokuskan pada pelayanan publik. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta. terutama dalam hal investasi. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. Berikutnya. Kedua. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Jackson dan Catherine M. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. angkutan umum.”. Vol. dan lain-lain. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. seperti rumah sakit. angkutan udara. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. dan perumahan. profit sharing. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . Pada definisi ini. Antara lain. 3 September 2009 117 . privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system).. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. sebagaimana ungkapan Peter M. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”. adalah penjualan saham persero. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik.5 Di Indonesia. seperti di Inggris. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan. Ketiga. No. Telkom. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. Selain itu. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini. jika pemimpin melakukan kesalahan. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. proses rekrutmen. Belum lagi daya saing.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. jalan tol. dan lainnya. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. seperti penanganan sampah. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini..Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. sekolah. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Ross Mcleod.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan.

Meski seolah terkesan pragmatis. Pada banyak negara. No.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. di Filipina sekitar 50%. Vol. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. 3 September 2009 . maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. Eid. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India.. meningkatkan profesionalisme. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. 12. Korea. F. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. keuangan dan penetapan standar pelayanan. Di India dan Thailand. di Indonesia 65%. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. Filipina. Pada tahun 1993. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990.. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. Atas dasar itu. di Korea 60%. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri.

J Thompson. PENUTUP Pada banyak negara. 9. 1992: 31.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. Willam Newbrander.10. Jakarta. Levine. Diakses pada 18 April 2007. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. 1996:163 12. 1994. Grafiti. Tommy Legowo. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. KEPUSTAKAAN 1. Vol. akuntabilitas. dan kewajaran. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. kemandirian. Granit.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. http://www. 2002:10. Caporaso and David P. UU No. 2004:8. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. Revrisond Baswir. Carporaso dan David P. 10. 20 6. 4.A Kay & D. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. Issues and Implication. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. Jakarta. 1997. Safri Nugraha.96:18-32. 5.9. John Willey & sons Press. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. Cambridge University Press. Bahaya Globalisasi Neoliberal. Florence Eid. 2000. Theories of Political Economy. terjangkau. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. 3 September 2009 119 . UK. Private Health Sector Growth in Asia. 16-18. 2006. The Health Care Policy Process. Ross Mcleod. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. politics a place to act”. Carol Baker. pertanggungjawaban. London. Gelombang Demokratisasi Ketiga. 3.kompas. Maret 2005. London. James A. Private interest and public good.Bab. 2. state and society. Syamsul Hadi. No. 19. 11. Sage Publications Ltd. Samuel Huntington. Diakses pada tanggal 18 April 2008. the self regulating market. J.3. 1986. http://www. USA. 8.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. 1. dan berkualitas. 12. Analisis CSIS. et. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. the American University of Beirut). Republika Senin 8 Desember 2003 7.eastasia forum. htm. Jakarta.XXIII(1):6. Hasbullah T. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata.all.

Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10. However. OR = 2.667-9.407. Instrumen menggunakan kuesioner. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage. Halaman 120 .002. Yogyakarta 3 CHN-RL. kinerja.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.026. CI 95% = 1.032. PR = 2. Djaswadi Dasuki². p = 0. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. PR = 4.789).76%).008.017. Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5.. CI 95% = 1. CI 95% = 1. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia. and all pregnant mothers receiving forth visit care.516.002.607.667-9. FK UGM.516. 95%CI = 1. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4. internal business. p = 0. CI 95% = 1.. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District. Keywords: balanced scorecard.5% and fourth visit coverage was 77.082-18.032. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11.624). costumers’ satisfaction. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5.256-84.026. improvement should be made. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹. Study instruments were questionnaire. there was no difference in finance performance in both CHCs. 95%CI = 1. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. performance.624). 03 September 2009 Ernawati. Qualitative data were used in this study. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.789). p = 0. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. and patients’ satisfaction (χ2 = 4. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87.008.935. Vol. FK UGM. bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi. OR = 8.082-18. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6. namely finance.348). Method: This was an observational study with cross sectional study design.662.017. These show that maternal and child health care performance is not optimal. p = 0. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care. Analisis data menggunakan analisis univariat. 12. PR = 4.8%).8%. therefore.607. p = 0.256-84. OR = 4. patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6. dkk. p = 0. the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room.662.015. and learning and growth. while standardized care was not related to antenatal care coverage. No. 95%CI = 1. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA. Based on the qualitative data. and interview guide. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan. p = 0. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care. The subjects were the head of CHCs. kepuasan pelanggan. OR = 4.080-6.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Kata kunci: balanced scorecard. check list dan pedoman wawancara.935. 3 September 2009 .724). p = 0.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas.5%) dan cakupan K4 (77. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. PR = 8.0806.015. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas. checklist. 95%CI = 1.407. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.

8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan. pengetahuan dan keterampilan. dan keuangan. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. sesuai standar dan etika profesi. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. memotivasi pegawai. kepuasan pasien dan dana operasional. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan. memuaskan. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan.9 Di samping itu. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. standar pelayanan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. a. Selain itu. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. check-list. 12.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. motivasi dan insentif. perspektif customer. 1. Vol. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. dan kepuasan pasien. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan). sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. 3 September 2009  121 . bisnis internal.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar.33%).7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. umpanbalik segera. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). lingkungan dan alat. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. kondisi wilayah dan status Puskesmas.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS).5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah. Bila kinerja rendah. pelanggan. No. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. dan Ibu Hamil. dengan variabel terikat cakupan antenatal. Bidan Penanggung Jawab KIA. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. K4. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3%). semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86.

434 46.740 100 Realisasi Skor % 15. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dkk.804 14.11 49.88 Skor : dalam satuan Rupiah (. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%. No.33 33. 12. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71.03 33 98 62.54 ± 2. 3 September 2009 .: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .92 67 85 72.13 ± 1. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3. Tabel 3.840 100 297.280 33. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.85 ± 16.33 100 100 80.Ernawati. Vol. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334. c.090 11.090 100 3. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2. Biaya Operasional Gambar 1.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian. d.64 1..804 (14.88%).30 b.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49. Tabel 1.67 53.810 100 334.000. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4.50 38 98 2..740. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.65 ± 18. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Tabel 2.

33) 24 (100) 42 (100) 106 (80.60) 1472 (100) 1102 (74. Vol.28 (33.67) 297.33) 2.67) 16 (53.48) 6 (6.43) 92 (100) 61 (66.11) 264.37) 2576 (100) 1919 (74.84 (100) 1.74) 98 (26.56 (66.26) 368 (100) 270 (73. Diploma I 2.4 (46.45) 332 (51. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70. 12. 4.40) 370 (25.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1.57) 480 (47.01) 469 (29.50) 605 (27. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33.9 (85.67) 26 (19. Pemb. 3.50) 2208 (100) 1603 (72.04) 1012 (100) 532 (52.80(14.55) 3680 (100) 2326(63.09 (100) 15.56) 3. 2. SPK 2. Quality Assurance 4.52) 644 (100) 312 (48.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.65 (53. Anamnesa 2.86) 7360 (100) 241 (32.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan.78) 3 1. 2. Diploma III 3.96) 36 (13.09(11. Imunisasi TT 5.81 (100) 33.14) 5389(73. 5. No.22) 1971 (26. tekanan darah dan tinggi fundus uteri. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.21) 1354 (36. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.74 (100) 49.30) 40 (25) 40 (25) 12 (33.64) 17. Pemb.33) 14 (46.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5.72 (88.70) 92 (100) 86 (93. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67.99) 276 (100) 240 (86.80) 284. 3. Pemeriksaan kebidanan luar 4. KIP-K 3.89) 334.63) 657 (25. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66. Fe 6. 3 September 2009  .30) 31 (33. Pemeriksaan umum 3.

. dkk. tekanan darah.Rp. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi..30 95. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas . satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.13 78. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri.... ... 7.35 Tablet Fe 91. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan... 7..- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu. Tabel 6.” “. 3 September 2009 .00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko.” “. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup..625.807.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal.1%. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas.. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil). hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu.26 82. saya rasa sangat kecil sekali. tersaji pada Tabel 6.” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “.00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4.61 54.. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang. No. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4.664 per ibu hamil. cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54.” “... alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1... Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional.. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu..640. pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp.. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas.Ernawati. 12.000.536. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas.” “.” “... itupun sebagian besar untuk transport saja.. pemeriksaan umum dan pemberian Fe.. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan. Vol.. tinggi fundus uteri.000. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut.000..674 ibu hamil.

p = 0..dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4.407.662. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5. p = 0.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 7.” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10.08218..032...386-3. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7.114.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.026.“ “. baik (p = 0. 95%CI = 1. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan. b. pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien... Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0.008. PR = 1. 4. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6... 95%CI = 0. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0..348).. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi. PR = 2. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi.015. PR = 4. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi .017.903). Vol. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II.407 kali.607. 95%CI = 1...724) dan kepuasan pasien (  ² = 4.256-84. sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas . p = 0.516. 95%CI = 1.589). perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas.777. 3 September 2009  125 . 95%CI = 1. Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan . (Tabel 8).667-9.451-2. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri.789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.118. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut . Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. No. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a.935. 95%CI = 0.0806. PR = 8.” “.775. 12. PR = 4. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “. p = 0... PR = 1.002.

09) 14 (60. dkk. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya.662 0.407 (1.00) (80.683 (0.48) 53 (57. 12.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang.67) 53 39 (57.312 1.023 0. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah.39) Total (%) 36 (100.008 1.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.789 4.0) 92 (100. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun.75) (31.61) Standar (%) 6 (26.0) 23 (100.935 0. (Tabel 9).91) 10 (43.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .0) 23 (100. 3 September 2009 . ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.0) 10 (100. Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.0) 92 (100. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda.00) 11 5 (68.33) (46.13 Tabel 8.256-84.082-18.017 4.925 (0.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1.0) 23 (100. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.913-15.Ernawati. 2.09) 13 (56.87) 6 (26..0) ² p PR (95%CI) 8 (1.. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta. No. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66.589 Tabel 9.0) ² p PR (95%CI) 5.Rp2 juta per bulan yaitu 50%.394 0.13) 17 (73.39) Total (%) 23 (100.624 6.67) (33. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA.462-8.91) 9 (39. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73. sistem dan prosedur. Vol.33) 2 8 (20.036 3. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).0) 30 (100.52) 39 (42. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan. hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.0) 16 (100.61) (42.25) 16 14 (53. PEMBAHASAN 1.

serta jasa yang konstan. 3 September 2009  127 . Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah. 12. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.17 4. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. No. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. peningkatan teknologi dan informasi. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia. Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. dan berkualitas pelayanan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.18 bahwa sebanyak 1.20 5. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani.15 3. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 . khususnya pada kehamilan risiko tinggi. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. merujuk secara medik. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. biaya. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu.15 menit.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan. sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 . kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan.

2003: 58-62. C. 11.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. Vol. 8.go. 1997. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup. Fort AL. FoxRushby J. serta meningkatkan pelayanan. & Voltero L. Bergsjo P.XIII:16-20. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. 1999.2000. Lumbiganon. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. No. Universitas Gadjah Mada. Hutton G. Mugford M. 6. Bakketeig L. Donner A. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah.I.I. Langer A. Jakarta. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. Villar J. Journal of Bio Med Central.id/. “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. dkk. Carroli G. Avalaible on: http/ www. 10. 3 September 2009 . 4. Ba’aqeel H. Departemen Kesehatan R. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. Nigenda G. Diakses pada 15 Maret 2006. Departemen Kesehatan R. 2000.who. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Belizan MJ. 1998. 3. Abdurrauf. Departemen Kesehatan R. ia harus didukung dengan faktor non-financial. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien. Dalam menilai kinerja organisasi. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard.Ernawati. 2001:1551-64.22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. 2002. World Health Organization. 2004. memperbaharui. Kurniawati L. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. 1996.. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran. Dasuki D. KEPUSTAKAAN 1.I. Surabaya. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mulyadi. Yogyakarta. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. NHA Producers Guide. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja.I.2(8)June:1-11 9. 12. 7. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia.int 2. Farnot U.. P. Salemba Empat. Berita Kedokteran Masyarakat. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard. WHO. Wilopo SA.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal. Piaggio G. Tesis. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan. 1997. Hakimi M. Geneva. Wijono Djoko. Berendes H. Modul Ajar Safe Motherhood. Almazrou. Yogyakarta. Jakarta. 12. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. Modul Ajar Safe Motherhood. 5. Jakarta. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. dan Solichin. Airlangga University Press. Mulyadi. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. Pinol A. Jakarta.2001. The Lancet. UGM. Departemen Kesehatan R. http:// depkes.

Mastorovich. 12 (4): 6-13. Harvard Business School Press. Mosby Year Book. Non Finansial Perspektif. Jakarta. 1997. 3 September 2009  129 . Katz JM. and Royalty. Rosi Robin L. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Ghufron A. University of Miami. Solichin M. Kurniawati L. Batalden Paul. Bina Putra. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo.1996. Vol. and Siemanski Beth Ann. Pengantar Administrasi Kesehatan. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective). Zahorik Antoni. Hakimi M. Customer Service In Business to Business Market. Florida USA.1996b. St Louis Missouri. Kaplan RS. No. M. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Azwar A. Journal of Health Care Management. 21. An Agenda For Research. Berita Kedokteran Masyarakat. Measurement Financial. CHNRL Faculty of Medicine. Second Edition. Boston.. 15. Gadjah Mada University. 23.XIII:16-20. 14. Mayer T. Sasongko N. Azwar A.43(5): 427 – 40. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill. Cates RJ. Yogyakarta. 17. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. Wahab A. 1997. Parasuraman A . Hakimi M. Workshop Akuntansi Manajemen.13 (4/5): 309-21. Lau C. 19. Green E.1996. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance. 12. Bina Putra. Journal of Health Care Marketing. Rust Roland T. D.1998.2000. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard.1998. Edisi Ketiga. Journal of Busness dan Industrial Marketing.2005. 18. dan Norton David P. 16. J.1992. Edisi Ketiga.L. A. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care. Dasuki D. 20. Nelson EC.1997. Jakarta. 22. Pengantar Administrasi Kesehatan. Wilopo SA.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13.

Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Soebijanto2. UGM. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. II.36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3.60% dan 2 (3. No. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dkk. FKM Universitas Sumatera Utara. Vol. 05/1996. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. Method: The type of this research is survey research.. Halaman 130 . Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. P. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57. Adi Heru Soetomo2.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . registered enterprises in the employment accident benefit program. Suma’mur. IV. III. The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% .40% from 3rd principle maximum score). Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. Hasil: Sebanyak 53 (96. Lientje Setyawati Maurits2. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan. F-test result showed a significant difference (p < 0. 3 September 2009 . The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles.84% dari 166 kriteria audit SMK3. 12. 03 September 2009 Gerry Silaban. Kata kunci: kecelakaan kerja. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate.. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29. kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi.87% from 5th element maximum score).14%) in 5th element. F-test result showed a significant difference (p < 0.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement.K.139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1. Keywords: industrial accident.85%) of 3rd principle.01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Result: A number of 53 (96.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% . dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements.

kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. 5. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I.3 Selain itu.7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus.759 kasus. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3. No. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. 3 September 2009 131 . audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3.06%) dari 1. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).958 kasus. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari .6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. yaitu tahun 2003 sebanyak 3. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif). jenis standar K3 berbeda. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. dan tahun 2005 sebanyak 1. Vol. dan 207 kasus. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. peledakan.31 Desember 2005).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja. Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. IV. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. III. kebakaran. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha.10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. 331 kasus.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas.759 kasus. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K. 12. penyakit akibat kerja. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. 118 kasus. Selain itu. Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. 564 kasus. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. tahun 2004 sebanyak 2. sehingga tercapai tujuan.250 kasus. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3.K. II.

rumah makan dan minuman. dan pemantauan lingkungan kerja). prosedur audit internal. desain. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. SE (Sesuai). pabrik minuman. setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. prosedur operasional (mencakup izin kerja.. Unsur 7 (15 kriteria). prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. Setelah itu. struktur P2K3. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. pembelian. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. inspeksi. dan penyakit akibat kerja). investigasi. dkk. pemantauan kesehatan. observasi. perawatan. 3. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. Dalam penerapan SMK3. pabrik keperluan kaki. kecelakaan kerja. profil perusahaan. rekrutmen. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. diskripsi pekerjaan). Do. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. pabrik minuman dari alkohol. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. industri-industri lain. Unsur 4 (7 kriteria). 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. 2. prosedur komunikasi dan konsultasi. Vol. Check.. perusahaan air. pabrik keperluan kaki. Improvement (PDCI). No. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. dengan rerata sebesar 304 atau 45. pelatihan. pabrik kimia lainnya (lilin. pabrik barangbarang dari logam. prosedur identifikasi bahaya. dan proses audit SMK3. produk setengah jadi. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. kecelakaan kerja. perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. pengendalian dokumen. penggergajian kayu. dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. prosedur rapat tinjauan manajemen. penggilingan (remiling) karet. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. dan hotel.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko).: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . industri minyak kelapa sawit. dan pabrik plastik. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. 12. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). unsur 5 (7 kriteria). Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. dan wawancara dengan tenaga kerja. unsur 6(40 kriteria). penggilingan (remilling) karet. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). prosedur tanggap darurat. ruang lingkup. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. pengendalian catatan. prosedur insiden. pabrik barang-barang dari logam. obat nyamuk bakar dan cair). seleksi dan evaluasi vendor. penanganan bahan berbahaya dan beracun). Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. 3 September 2009 . Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. TS (Tidak Sesuai). hampir celaka. pabrik kimia lainnya.Gerry Silaban. tujuan dan sasaran K3. struktur organisasi perusahaan. perusahaan penggergajian kayu. dan 1. penyakit akibat kerja.

mengukur dan mengendalikan risiko. 11 perusahaan (20. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman. 9 perusahaan (16. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% .82%) untuk unsur 11.24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92.36%) untuk unsur 4.73%) untuk unsur 3.19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7. 3 perusahaan (5. pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya.60% dari 166 kriteria audit SMK3.27%) untuk unsur 1. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70.100% dari 166 kriteria audit SMK3. 3 September 2009 133 .04% dari 166 kriteria). 31 perusahaan (56. perlengkapan. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 . 7 perusahaan (12.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4. sedangkan 53 (96. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 . Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. terendah sebanyak 6 kriteria (3.36%) untuk unsur 5.00%) untuk unsur 9. dan 8 perusahaan (8.91%) untuk unsur 6.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% . instalasi. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70.00%) untuk unsur 7. tidak mampu berkompetisi. Terdapat hanya 2 (3. pendidikan.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin. 17 perusahaan (30.61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam.84% dari 166 kriteria audit SMK3.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% . No. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 . melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli.46%) untuk unsur 2.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja).82%) untuk unsur 8.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang. 12 perusahaan (21.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi. 1 perusahaan (1.74% pada industri tekstil. Vol.560 atau memenuhi 100 . 1 perusahaan (1. kinerja penerapan SMK3 rendah. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .82%) untuk unsur 10.74%) untuk unsur 12. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. 11 perusahaan (20.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko. alat. 12. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. dan 7 perusahaan (12.64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% . dan perilaku pekerja14. Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan.

No.82 11.68% 74. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja.85%) dari 67 kriteria prinsip 3. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan. dkk.38%) dari 26 kriteria prinsip 4. dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1. dan unsur 11.27 22.22 27. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan.47 12. unsur 1. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3.29% 26.86 11. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20. peralatan.14%) dari 28 kriteria prinsip 1.81%) dari 27 kriteria prinsip 5. unsur 4.38% 42.26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29.51 20. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38. prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7.86% dari skor maksimum unsur 5).Gerry Silaban. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14.unsur 7. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan. atau memakai alat pelindung diri. Vol.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja.56%) dari 18 kriteria prinsip 2. pekerja berperilaku aman.56 20.84 4.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34.18 28.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis. unsur 2.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari.84% 44. melibatkan tenaga kerja secara aktif. unsur 12. kompetensi.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3.27% 34.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya.07% 43. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan..23 Di samping itu. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.60% 46.96 92. 12.86% 57.38 13. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan. membuat kebijakan dan program K3. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3. tenaga profesional.65% 35.96 (74. 3 September 2009 . kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja.. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman.88% 42. unsur 8.61% 47. unsur 10. unsur 3. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. unsur 9.

30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya. 3.90% 43. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3.62%. dan prinsip 1. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. dan berkelanjutan.82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. memantau.38 25. No. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum.18% 55. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan.40% 42. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus.31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. kesehatan dan lingkungan kerja.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.8%.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%. kontinu. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Vol. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. keselamatan. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. 4. 3 September 2009 135 .62 47. Selain itu. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. di samping pemasaran dan finansial. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%.47 44. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55. kualitas produk. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148.17% (tertinggi).27% 35. 5. prinsip 2. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38.47 (55. 12. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate). prinsip 4. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2. 6. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51.40% dari skor maksimum). 2.33 148.

Vol. Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1.Gerry Silaban. crane). tempat pelatihan K3. kimia). dkk. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. 3. ahli higiene industri. konstruksi. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja. dokter perusahaan. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. 4. rambu dan tanda keselamatan kerja. 3 September 2009 . uap dan bejana tekan. mekanik. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3.. kebijakan K3 perusahaan. dan laporan hasil audit internal SMK3. konsisten dan berkesinambungan. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. P3K. instruksi tanggap darurat). Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. confined space). serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No.33 Kebijakan Permenaker No.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. No. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. alat dan sistem tanda bahaya. operator (pesawat uap. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Fasilitas K3: alat pelindung diri. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. fungsi. radiasi. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. pintu dan tangga darurat. kegiatan K3. 5. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). alat. 2. Personel K3 yang mempunyai tugas. konstruksi. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No. petugas K3 (kimia. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. kebakaran. pelayanan kesehatan kerja).: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .. instalasi dan bahan berbahaya. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. Organisasi K3 ini bertugas: a. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. 12. petugas P3K. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. alat pemadam api. teknisi (lift. 05/1996. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. instruksi kerja. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. paramedis (perawat) perusahaan. listrik). dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja. 05/1996. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. manajemen. dan juru las.

XXXVI(2) April-Juni. Jakarta.Medan. Do. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. 3. Di samping itu. 2004. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3. PT Sucofindo. Balai K3. Ichsan S.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). Balitbanginfo Depnakertrans RI.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif.2003. Accident Anal Prev. organisasi profesi K3. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.2002. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Siswati M. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . J. 7. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3.2003.2006. 6. Kanwil I PT Jamsostek. 4. 1988. No. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo. KEPUSTAKAAN 1. Suokas. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. PT Jamsostek. Jakarta. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention. 5. 3 September 2009 137 . Suma’mur PK. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Ichsan S.2005. Vol. 20(1): 67-85. XXXVI(2) AprilJuni. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Check. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. Dengan demikian. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja. Oleh karena itu. Jakarta. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. 2. Perusahaan Jasa K3. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. 12. Rudiyanto. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0.2003. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. and Improvement (PDCI). sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). Medan.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. kebijakan Permenaker No. Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek.

Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. 12. Easter. 1998.2002. 26. II. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. 12. Groeneweg J. 9. Yogyakarta. Geneva. Safety Culture and Management. Manual SPS Paket Midi. 23. 11. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Yuliani R. Working Paper 14. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. 1991. Tesis. 17. 22: 53-70. Tesis. J Occup Acc 12: 107-117. 27. Novianto R. dkk. Jakarta. Vol. Taylor G. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Alli BO.Beyond Commitment. 22. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. K. 2006. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. Vol. OSHA: Employee Workplace Rights. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Geneva.M1) 21. Global Estimates of Occupational Accidents. Fourth Edition. Tesis. 1993.Gerry Silaban.2003.. and K. 44: 137-56. 56 Accident Prevention. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 55(9): 250. 57 Audits. Depnakertrans RI. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety.1998.2003. Vol.2005. 2003. International Labour Office. ITS. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. 18. Safety Culture. Hegney. 24. 2004. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. Ramli S. Takala.2008. 59 Safety Policy and Leadership. Saarela. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Systematic Management of Occupational Health and Safety. 25.XXXVI(3) JuliSeptember. Hansen L. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies. US Department of Labor. Peters RH. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Yogyakarta. Jakarta. Jakarta. Widiastuti E. Pamardiningsih Y.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1. Yogyakarta. Canberra. Simard M. 3 September 2009 .. 2005. Theoritical Principles of Job Safety. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. Universitas Gadjah Mada. II. Skiba R. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2000.2001. 13. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour.Enhancing OccupationalSafetyand Health. Surabaya. Fourth Edition. J Saf Res. The Accident Causation Model. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 1998. Tesis. 8. Vol. Tesis. Yogyakarta. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. 14. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. Surabaya. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Bluff L. Occup Hazards. International Labour Office. 2004 (http:// books. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Inspections and Investigations. 19. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Hadi S. Subekti A. II. Canberra. Safety Science.google. Program Magister Teknologi Manajemen. 20. International Labour Office. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. Saari J. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 16. International Labor Office.In: Ch. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. No. In: Ch. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3.2002. Canberra. 2005.2004. Frick K. Hadi S. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). First Published. In: Ch.L. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. 29. Hopkins A. Geneva. 28. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Fourth Edition. Hamalainen PJ. Geneva. and R. OSHA. Working Paper 20. 10. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Sugiyono. 15.2006.

Venkataraman N.2003. Journal Occupational Safety Health. 3 September 2009 139 . Boca Raton. 5: 27-30.Lewis Publishers. and P. 31. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach. Inspections and Investigations. 33. 42. Vol. Geneva. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Malaysia. Safety Performance Factor. Fourth Edition. 1998. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. 32. International Labour Office.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30. Reese CD. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 57 Audits. Industrial Health.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 12. 2004. No. II. In: Ch. Linehan A.135-40. 2008. Anatagulnathi. Vol. Siriruttanapruk S.

existence of objective credential team. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. Every FGD was attended by 10-20 participants. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. Halaman 140 . standardization of policy and credential instruments. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach.: Hambatan dan Harapan Sistem .4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. Keywords: physicians credentialing system. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan. Vol. 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. a process to grant clinical privilege. 03 September 2009 Herkutanto. and good relationships among colleagues. dkk. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. The credentialing system. No.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions. 3 September 2009 . Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. aims to ensure the accountability. Oleh karena itu. consisted of physicians and hospital management.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety. Kata kunci : sistem kredensial dokter. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. adanya tim kredensial yang obyektif. sound relationship between credential team and hospital management. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial.. perawat.. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. which is based on the concept of professionalism. dan hubungan baik antar sejawat. The expectations of participants are in line with the recommended credential system.3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety.1. Cipto Mangunkusumo. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees. professionalism. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals. and frequently are inadequately performed. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Dokter. profesionalisme.2. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial. 12. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%).8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. 3 September 2009 141 .9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. Dengan demikian. komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%).6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu. Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27.1.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis. Dalam proses ini. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. sedangkan di bidang terapeutik. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari. No. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. bukan kedokteran. Dari 98.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut. Vol.179 di antaranya merupakan kelalaian medis. Dari 1. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi. Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). 12. Oleh karena itu. Di USA. Di masa mendatang di Indonesia. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter.10 Sama seperti negara lain. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat.12.

Prinsipnya. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. dan diminta persetujuan. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. Berdasarkan rekomendasi ini. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. dkk. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. Pada studi kualitatif. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. Selain itu. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. keterampilan. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. No. Apakah telah cukup ideal? b. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. Vol. Nama partisipan dirahasiakan. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain. Pertanyaan disusun oleh para penulis. dan surat rekomendasi. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. 12. yaitu kebutuhan proses monitoring. dan profesionalisme kandidat. karakter.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi. Tabel 1. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. sikap. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. karena sering kali ditemukan false positive. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. 3 September 2009 . maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien.12 Sebelum FGD dilaksanakan.. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi.Herkutanto. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. transkrip akademis. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing.: Hambatan dan Harapan Sistem . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan..

karakter. Vol. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2.1. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit. netral c. Penerimaan karyawan b. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial. Selanjutnya. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. kayaknya kurang pas. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu..” [dr Y. dan profesionalisme 1. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. sungguh-sungguh bekerja.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Mengurangi subyektivitas b. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . Tujuan a. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b. Tabel 2.1. dan divalidasi oleh komite medis. RS2] Terakhir. Pada FGD di RS1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu..” [dr X. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. Keselamatan pasien 1. wawancara. Kebutuhan monitoring a. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. atau sering menggantikan praktik. Pada FGD di RS1 dan RS2. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. keterampilan. No. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. sikap. dan netral. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. hubungan kerja.. 12. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. Periode uji coba b. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. Bijak.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. Proses rekredensial 2.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi. 3 September 2009 143 . hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. tes untuk memotret pengetahuan. Selain itu. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c.4 Kebutuhan tim ideal a. berpengaruh.

kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. Selain itu. Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. Selama ini. dokter akan melalui proses rekredensial. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis.: Hambatan dan Harapan Sistem . dkk.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. Namun demikian.Herkutanto. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme.15. sehingga menimbulkan kecederaan.11 Fungsi kredensial. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Ketiga.. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. peningkatan mutu profesi. Vol. 12.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. senantiasa terjaga dengan baik. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). 3 September 2009 . dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium.. Dengan kurang berfungsinya komite medis. Selain dokter tersebut. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit. Sayangnya. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). Pertama. Secara periodik. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. No. Namun demikian. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Kedua. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. Dalam kontrak sosial tersebut.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty).

22. Sebaliknya. Vol. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. 21. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. 3 September 2009 145 . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 12. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional. No. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. 20 Namun saat ini. 21. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan. wawancara.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.20. Tiga proses inti kredensial Tabel 3. Namun demikian.

Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. Luff D. Hebert LE. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. The Doctor-Patient Relationship. 4. Dengan demikian. 13. Credentialing. Tabel 4. Barnes BA. Lawthers AG. 14. Localio AR. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. N Engl J Med. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. Browne K. Understanding Patient Safety. Valenza JA. 69:8. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. dengan keluaran berupa clinical appointment. KEPUSTAKAAN 1. Privileging. Geneva. 7. white paper. 12.. 15. Wachter RM. McGraw Hills. 6. 2004. Sheffield. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. Brennan TA. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. O’Neil PN. 2008. Berg BL. 2008. Localio AR. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence. Qualitative Research Analysis. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. O’Connor. 1967. Herkutanto. Brennan TA. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. Results of the Harvard Medical Practice Study III. 5. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. 1991. Trent RDSU. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. 11.: Hambatan dan Harapan Sistem . E&S Livingstone Ltd. White Papers Mitra Bestari 2. Qualitative Research Methods for the Social Sciences. Sebagai suatu studi kualitatif. Forward Programme 2008-2009. N Engl J Med. 2006. Wong LP. 2003. dan peer group. 110:414-8. et al. 3. 3 September 2009 . The Patient Doctor Relationship. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. No.. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Freeling P. Laird NM. Lacey A. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. 2009. Boston. Competency. 10. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia.25(Juli):245-51. Peterson LM. Illinois. George LA. 9. Results of the Harvard Medical Practice Study II. 2005. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Jakarta. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. 2008.Herkutanto. ADIS Health Science Press. The Way to Patient Safety.7:324(6)Feb:377-84. Pediatrics. 1984. 1991. 8. Leape LL. Credential and Clinical Privileges. ME. Joint Commission Resources. dkk. WHO. Jakarta. Journal of Dental Education. Jakarta. Lawthers AG. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Sydney. USA. 2005. World Alliance For Patient Safety. and Peer Review. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms.49(3):256. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). 2(1) Maret: 41-7. Pearson Education. 12. World Health Organization. 2002. 16. Singapore Med J. Laird N. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Commitee on Hospital Care. Herkutanto. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. Vol. Tahka V. Edinburgh. et al..

Cruess RL.82A:1189. 12. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. 18. Melbourne. 2007. Joint Commission International. 3 September 2009 147 . La Trobe University. Jakarta. The Royal College of Physicians. Johnston SE. 19. Freckelton. No. Konsil Kedokteran Indonesia. 23 (2): 229-42. Vol. Master of Laws Thesis. Herkutanto. 2005. 2006. 2007. I. Law in Context. Indonesian Health Practitiones Regulation. The Royal College of Physicians. Special Edition: Regulating Health Practitioners. 21.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. Journal of Bone and Joint Surgery. 20. Jakarta. New South Wales. 2000. 2004. 2006. 23. Cruess SR. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia.18. USA. Professionalism and Medicine’s Social Contract. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3rd Edition. Herkutanto. The Federation Press. 22.

Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). Koordinasi dan mengevaluasi program. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. has 16. Tambak Oso Wliangun. society and health staff factors. higher than normative value (less than 5%). and Bangkingan (Lakarsantri). pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia. Nyamplungan (P. the Total Goiter Rate (TGR) 22. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. curative and rehabilitative strategy. pengorganisasian dan aktualisasi. preventive. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. perencanaan pengelolaan terpadu. Bubutan. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. 3 September 2009 . Kedung Cowek (Bulak). No. Conclusion: The recommendation as follow promotive. done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005.93% of severely iodine-deficiency villages. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. Romokalisari (Benowo). Tambak Oso Wliangun. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. serta staf kesehatan. Result: The result show many faktor. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. as well as health staffs.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. Di Indonesia. kesadaran gizi dan makanan daerah. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). Coordinating and evaluating the programme. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan. Tambak Wedi (Kenjeran). memiliki berat 16. Nyamplungan (P. Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya. 12. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. Halaman 148 . nutrition and food awareness area. Vol. the society in severely iodinedeficiency. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. staf Pusat Kesehatan Primer. planning.Cantikan). Keywords: iodine-deficiency disorder problem.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. preventif. integrated management planning. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. Perak Utara. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. angka gondok total (TGR) sebesar 22. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia.93% dari kekurangan iodium-desa. dan GAKI. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. Sidotopo Wetan. Sidotopo Wetan. Cantikan). 03 September 2009 Oktarina. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. diet counseling. improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. The middle term and short programme of iodine-deficiency. by socialization. perencanaan. organizing and actualization. perawatan medis. dengan sosialisasi. organizing. Romokalisari (Benowo). advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department..9%. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. Method: The purpose of this study was a descriptive type. such as social economic factors from the society. Tambak Wedi (Kenjeran). Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. pengorganisasian. medical treatment. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.9%.. This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. Perak Utara. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. Kedung Cowek ( Bulak). Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. The recent study at Surabaya City. diet konseling. low health staff motivation to run the program etc. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. kuratif dan rehabilitatif strategi. Kekurangan Vitamin A (KVA). Manyar Sabrangan (Mulyorejo). dkk. Primary Health Center staff.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Anemia. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait.

dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1) 11 (37. sikap. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah. motivasi. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran. No.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya. otot.5. kehamilan.39%). serta meningkatkan sistem pengawasannya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun).0) 27 (37. memacu proses metabolisme otak. bidan/ palpator.6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63. jantung.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan. diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4.3-triodothyronine (T3). Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun. paramedis) yang meliputi pendidikan.4) 44 (100) 46 (63.6%).1%). dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40. ginjal dan organ reproduksi. pelatihan. Tabel 1.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7. imbalan. 3 September 2009 149 . biaya. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. L-thyroxine (T4) dan 3. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium. keterampilan.9%) mencapai 21%.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. pengetahuan.0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari. hati.5. Vol.96%). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3.51%). Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia.65%. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium.6) 16 (36. 12.

Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas. Pengambilan sampel secara multistage random sampling. 1b. No. Mulyorejo. Puskesmas sebagai perencana. pelaksana. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat.. 3 September 2009 .Oktarina.267 anak). Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. dengan rata-rata TGR sebesar 10. kepala posisi biasa.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya).93%. Gundih (Bubutan). Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002.baru. Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. dkk. II. rata-rata TGR sebesar 12.11%. Sidotopo Wetan dan Kenjeran.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal.II. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a. Semeni (Benowo). yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba. perilaku (kebiasaan sarapan pagi). (> 6m). Pelaksana Gizi.. 12. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya.37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. pemberian uang jajan. penilai. Vol. Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Terlihat dari jarak jauh Tertentu. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13. dan Paramedis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang. III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

3 September 2009 151 . 12. pojok gizi (28.8 Pengetahuan 1.16 17.3 Dari hasil penelitian. Vol.88 19.44 13.Gunung Bringin Sambikerep Mr. dengan rata-rata TGR sebesar 38.9 9. ada 2 Puskesmas yang baik. No.96 X: 12.78 3 4.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test).Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16.89 19.24 17.93 16.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14.96 12.33 9. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3.5 13. Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28.2 6.59 X: 10.68%). Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.43%.52%). Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik. sarana prasarana yang ada di Puskesmas.1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39.21 12. rata-rata TGR sebesar 24.50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.08 5. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46.95 14. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29.64 8. leaflet dan konseling garam beriodium.77 6. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas.66%).91 19. terutama ketiadaan food model (42.67 19.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan.95 15.7 10.57 14.88 11.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. 3 Puskesmas cukup. dan 2 Puskesmas kurang baik.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur). melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap.81 7.

89 31.1 42.02 22.95 26. Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.62 25.94 27.95 23. dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan.14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik. kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%). serta sebagian besar (57. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.59 25. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok). Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30. Kurangnya koordinasi lintas program (42.3 X: 38. 12.12 23. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik. Tabel 4.14%).10 Kerja sama. Vol.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .68 26.72%). dkk.73 24. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya.35 21.76 24.27%). Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat. Selain itu.34 40. No.58%).29%).42%).84 35. pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14. Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20.93 21.57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42.3 25. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21. Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas.89 32.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P. ternyata sebagian besar (78. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85.62%).44 X: 24. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable).. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 .34 57.Oktarina.42%).01 31.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57.37 48.33 28. jadi belum sampai terlihat (visible).02 33.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28..29 25 25.95 21.

rencana kerja tahunan (57. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.12%) dan microplanning (42.86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42. a.68%). Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. Penilaian. nilai cukup ada 2 Puskesmas (28.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium.8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25. Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan. ada kejelasan target. kegiatan penilaian. ada pembinaan. sebanyak (39.5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium.5%).5%).5%).0%) untuk pendataan. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga. serta ada 4 Puskesmas (57. b. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14.0%).62%) dan yang nilai kurang (14.14%).57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup. Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%).52%) 1 Puskesmas. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat. pembinaan terhadap pelaksana gizi. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. 12.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak. motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan. Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67. jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28.14%) dengan nilai kurang. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas.00 (32.52%) baik perencanaan programnya.14%). distribusi kapsul iodium. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing.0%). penyediaan data prevalensi GAKI (42. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45. Pada penilaian. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42. 3 September 2009 153 .12 2.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan. No. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48.0%). Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah).0%). dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.66%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14. sasaran palpasi gondok anak sekolah. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah.5%). sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin. Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program. Vol.000. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas.14%) terutama pada umpan balik.50%) yang mempunyai nilai baik (>15).0%).12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program.

pelayanan kesehatan kepada individu. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. pengawasan dan pengendalian). konseling garam beriodium. 12. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. pendistribusian kapsul iodium. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan. palpasi gondok anak sekolah. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). memberika. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas). Jakarta. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. palpasi gondok anak sekolah. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. No. penyediaan peta prevalensi gondok. pelaksana gizi. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. KEPUSTAKAAN 1. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. pengobatan medis. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. 3 September 2009 .. pelaksanaan kegiatan. protap diet. De Benoist. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. sosial ekonomi yang rendah. Population Reverence Bureau. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. Vol. paramedis yang sudah terlatih).. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. Akademi Gizi. imbalan. minilokarya. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Save The Children. pojok gizi. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. penilaian. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. 2002 4. Surabaya. Tinker A. Anderson MB. pelaksanaan. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter.72%. 2002. motivasi. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). Selain itu. Egli HE. 2. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. leaflet) di Puskesmas. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. dkk. penilaian. meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. pelaksana gizi. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. E Ransom. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. Takkouche I. keluarga dan lingkungan. Soegianto B. 1999. Allen and B. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. pelaksanaan. Pendidikan yang rendah dari masyarakat.Oktarina. 3. Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun.

Handoko TH. Yogyakarta. Health Care Manage Rev. Manajemen Sumber Daya Manusia. No.2001. Semarang. Media Medika Indonesiana. Manajemen. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 7. 1997. 33-40. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. Simamora H. BPPE. Surabaya. 2002.1:10-12.2008. Elimination of Iodine Deficiency. Muhilal. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Kartono D. 9. IDD Newsletter.5:1-2: 28-34 12. Bagian Penerbitan STIE YKPN. Team Learning. Akademi Gizi. 6. 2006. 2003. Aspen Publiser Inc. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 43(01): 22-. 2000. Surabaya. Munfarida S. Vol. 10. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 12. Wisnu C. 8. 2003. Yogyakarta. Atmarita. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Dolinsky A. 11. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. Supriyanto. Sunarno RW. Jurnal GAKI Indonesia. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. 3 September 2009 155 . 2006. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat. 22 (2).8.

manajemen organisasi. alat dan teknologi kesehatan. 2008. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size.161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. dkk. Vol. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. and labeled as health care maximize. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Keywords: target market. Kata Kunci: pasar sasaran. keuangan. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served. Universitas Hasanuddin. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26.17%). Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Halaman 156 . maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. geographical accessibility.17%). segmen pasar yang terbentuk. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. segmentasi. Sukri Palutturi1. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. the number of closest competitors. 12.09%). 03 September 2009 Asiah Hamzah. Results: The result shows that based on customers’ characteristics. segmentation.74%). segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior. dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. 3 September 2009 . Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. segmen II sebanyak 25 orang (21. segment II consisting of 25 people (21.74%). serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. and segment III consisting of 60 people (52.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya.. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings.09%). SDM. No. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. jenis pelayanan.. and relationship between segment with partner companies or insurance. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. sistem informasi. market compartment. Darmawansyah1. substitution attendance. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. the interest of market segment. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. Based on the interest of market segment.

Sebagian besar responden (59. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.6%).173 kunjungan pada tahun 2004. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum. sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Tingkat pendidikan responden.8%. serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. perilaku. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Vol. Dengan demikian. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis. geografis. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian. diikuti tingkat pendidikan SD (25. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. psikografis. sebagian besar (39. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. dan kebutuhan. jumlah kunjungan. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk.1%) berpendidikan SLTA.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. membidik satu atau dua segmen itu. Oleh karena itu.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. No. sarjana (13.9%). 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data yang terkumpul.9%.6%. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini. jumlah penduduk. SLTP (13. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien.9%).4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. 3 September 2009 157 . Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 .5%).2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. 12. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden.2%). Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia. dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. dan tidak tamat SD sebanyak 7.7% dan 9. 2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. Hasnah. Perilaku Konsumen. Jakarta. Setiadi JN. 2. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 2000. and Bitner MJ.00 . No. Kartajaya H. Analisis Multivariat Pemasaran. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. 5. Prenada Media.74%). Kotler P. Makassar. Positioning. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran.000. Foley RL. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26.17%). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tigor HS. Integrating Costumer Focus across the Firm. Anonimous.14 (1). 12. Jakarta. Rethinking Marketing.000.000. Kuntjoro T. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). 9. Second Edition. PT Indeks. segmen II sebanyak 25 orang (21. Gramedia Pustaka Utama.Rp2. Gramedia. Membidik Pasar Indonesia. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. 08(01) Maret:11-8. 2005. Syam.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500.2000. Segmentasi. 6. Jakarta. 2005. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. Kepuasan Pelanggan. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. Simamora B. Cetakan Keempat. Soejitno S. 11. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris. Penerbit PT. 2006. dan Nusyirwan MS. Makassar. 2004. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. 10. Jakarta. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. 7.000. 3 September 2009 161 . dan Liu S. KEPUSTAKAAN 1.Jakarta. Achmad. Irwin McGraw-Hill. 12. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. Huan HD. Soenarto S. Targeting. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Zeithelm VA.00 per tahun. Services Marketing.09%). Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. 2001. dan Joh S. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris.000. 8. Mangopo SD. 2005. 3. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. Toto Suprapto.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). Kasali R.00 Rp750. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). 2008. Yogyakarta. 2000. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Sains Kesehatan. 2006. Vol. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang. dan Emmy KM. Solo. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 .000. Soebroto T. 4. 2003.

This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. 3 September 2009 . salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. Artinya. 2006. Secara kualitatif.. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). 03 September 2009 Nurliyasman. Keywords: health centers. Sampling secara cluster. Kata Kunci : Puskesmas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. analytical survey method and cross sectional design. Data yang diperoleh ditabulasi. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data.. dkk. Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. pembebasan retribusi pasien. July and August). Rustamaji2. laporan kunjungan (LB4). Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam. dan 2007. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. No. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. 12. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. dengan rancangan cross sectional study. Juli. number of visits of the patients. Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang.05). retribution exemption. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Agustus). Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Halaman 162 . FK UGM. Vol.

serta tahun 2005 sebanyak 681. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan.223. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007.7%. serta pengangguran. pedagang. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam.514. No. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. jumlah obat yang diresepkan. tanpa kecuali.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Jumlah penduduk 724. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat.044. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas.2 Berdasarkan uraian di atas. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. 3 September 2009 163 . Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6. yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam.220. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. tahun 2006 sebesar Rp1. Juli. Vol. dan Agustus. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri.550. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan.9% dan 4. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat. dan tahun 2006 sebanyak 713.7%. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran.315 jiwa tahun 2007. jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006.960. Kepala Puskesmas. 2006 dan 2007). Dengan sendirinya. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO).443. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Data yang diperoleh ditabulasi. Pengelola Obat Puskesmas.394. tahun 2006 sebesar 6. terutama dalam hal kesehatan.000. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005.6%. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. dan lain-lainnya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18. dan Gudang Farmasi.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. pegawai swasta. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman.586 jiwa. 12. kerja di sektor informal. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut.500.7%. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif.1% dan tahun 2005 sebesar 5.

2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005.253.803.223.472.279. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005. No.395. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.566. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas.9 5. 2.297 Rp 746.443 Rp 5. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006. Artinya. pada tahun 2007 malah paling rendah.035. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD.500 Rp 120.394.897 Rp 529.Nurliyasman.916 4.7 2005 1.039. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005.. 3 September 2009 .276 Rp 6.6 4.485 Rp 35. Vol. Gambar 1. Perbandingan Anggaran Obat. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat..787 6. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.115.307 Rp 2. 20. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas.925 353. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.1 *) Angka dalam ribuan rupiah. 12. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.943 Rp 32.762.514.7 18. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1. dkk.857. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005.7 6.410 Rp 12. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi.000 Rp 216. Tabel 1.550.084 Rp 175.

2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15. diare. penyakit lain saluran napas atas.100 15.572 55.525 19. berkas tidak ada lagi.362 22.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas. sedikit Tabel 3.390 26. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3.317 40. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya.870 69. Jumlahnya saja sedikit berbeda. No.800 22.845 29. diare.267 34. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya. 3.098 391.521 17. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005.412 5. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1. penyakit lain saluran pernapasan atas. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi.541 7. Vol. hipertensi dan seterusnya. dan seterusnya. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi.705 13. 3 September 2009 165 . penyakit kulit.344 21.916 33.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2.702 22.566 31. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%.088 3. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya.103 14.066 6.080 22. hipertensi. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut.213 11.371 24.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005. 12. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut.809 43.693 123.097 12.428 216. penyakit kulit.705 31. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.161 29.100 13.913 14. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi.

Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. Tabel 4. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.5% 5. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas. Berarti b.0% Puskesmas V 95.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .1% Puskesmas III 5.05 Setelah 95.0% 5.3% 95. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang.9% 94.3% 94. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.7% 5.0% Puskesmas VII 95.6% Puskesmas III 94.3% Puskesmas VII 4.0% 5. 4. Vol..Nurliyasman. 12. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5. a. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.4% 4.7% Puskesmas VIII 97.6% 93.0% Rata-rata 96.4% 94. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas.0% Puskesmas VIII 3.8% Rata-rata 4. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 . Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien.3% 5. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil. No.2% 4. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.7*% Gambar 2.. ada sedikit perubahan urutan.9% Puskesmas II 96. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya.05 c.1*% * uji t berpasangan p < 0.7% Puskesmas II 3.0% * uji t berpasangan p < 0. dkk. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% .1% 5.5% Puskesmas VI 97. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh.87%. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95.4% Puskesmas VI 3.0% 5.3% Puskesmas IV 96.2% Puskesmas V 4.6% Puskesmas IV 4.8% 94. Tabel 5. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi.7% 94.8% 94.

No.7%. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.7% 52.01 Setelah 53. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%. Tabel 6.8% Puskesmas IV 48. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4.3% Puskesmas V 39. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis.7%. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18.3% 46. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. Setelah berjalan satu tahun. sedangkan program kesehatan lebih abstrak. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% . mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat.6%. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas.7%. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007.7% Puskesmas III 51. 3 September 2009 167 .6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal. Jadi. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi.8% 49. 2006 dan 2007.3% 44.4% tahun 2002.3% 45.3% 26. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa.1% dan tahun 2005 sebesar 5.7% Puskesmas VI 44. dana kesehatan berkisar antara 2.4% dan maksimum 7%. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret.5% .7% Puskesmas VIII 46. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi.4%. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi.0% 49. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% .7%. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005.0% Puskesmas VII 49.3% Puskesmas II 60. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja.4% 31.4% * uji t berpasangan p < 0. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini. tahun 2006 sebesar 6. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. pada waktu pembebasan retribusi. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi.9% dan tahun 2006 sebesar 4. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat.5% Rata-rata 49. 12. Namun.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. Vol. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut.

mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya.896.Nurliyasman. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . tapi kebanyakan kurang puas. preventif perorangan seperti imunisasi. seperti Central African Republic.000. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan. 2009 dan seterusnya. timbul masalah. Maka tahun 2007.267. Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak. yaitu insentif yang keliru. (Gambar 2a). Inggris dengan National Health Service (NHS). Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006.00. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF).8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya.00. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif.. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a.152. Vol. Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612.628 pasien adalah 3. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya.267.00 jika kunjungan naik 50%.168. Hasil perkiraan yang diperoleh. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Penelitian terdahulu oleh Elfian9. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam.000. Dari persamaan tersebut. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat.000. Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. dkk.267.600.600. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9.966. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588. dengan pelayanan gratis. yakni 588.8 miliar rupiah. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS).600. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3. No. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.000. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5.000.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391. 12. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan.00 .584. 3 September 2009 . Sebagai koreksi.000 pasien. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b.872.000 pasien. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2.6 miliar rupiah. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan.00. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus.134. Masyarakat 70% . Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kualitas pelayanannya juga meningkat.7 X + 7E+07 (Gambar 2b). Pengalaman beberapa negara.. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368.

Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. 3 September 2009 169 . Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. tidak akan terlalu membebani anggaran. Mungkin. dan penyakit kulit. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. maupun Dinas Kesehatan. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. bagi yang kaya. secara umum tidak berubah. karena sudah bekerja ekstra. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. No. yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. 12. Jamsostek atau lainnya. rongga mulut. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. sebaiknya harus bayar. terutama yang memerlukan tindakan. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. asal-asalan. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. diare. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. terutama Puskesmas. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. seperti tidak semua gratis. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. Pola peresepan yang relatif tetap ini. Akibatnya. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. jika bisa dibatasi. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. Vol. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. dengan tarif tidak terlalu tinggi. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik.

170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. 4.2000. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. 2006. Tesis Program Pasca Sarjana. 1992.1998. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. Universitas Gadjah Mada.. Gudang Farmasi Kota Batam. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2007. 3. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. 9. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Penerbit Kanisius. 2005. Gadjah Mada University Press. 8. KEPUSTAKAAN 1. 3 September 2009 .1999. 2004. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. Yogyakarta. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. 5. Vol. Murti B. Batam. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau.8. Tesis Program Pasca Sarjana. Gadjah Mada University Press. World Health Organization. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar. Hartati. Trisnantoro L.Nurliyasman. Yogyakarta. World Health Organisation. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya. Yogyakarta. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. Republik Indonesia.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Jakarta.. Dinas Kesehatan Kota Batam. 2. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. 2007. Geneva. Elfian. Puskesmas se-Kota Batam. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. 6. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. 7. Suryawati S. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Yogyakarta. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. dkk. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. No. Geneva. Universitas Gadjah Mada. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. 12. Yogyakarta. Kebijakan. Dinas Kesehatan Kota Batam. Rachmat HH. Health Economics and Drugs DAP Series No.

dan mengembangkan ide-ide baru. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. Vol. dimanapun mereka bertugas.com atau januraga@sph. 3 September 2009 . antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan. perencanaan. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. masalah keterbatasan akses. kemajuan bioengenering. dan mengelola strategi momentum. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. ekonomi. 12. dan pengelolaan dimulai kembali. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. W. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. termasuk sektor pelayanan kesehatan. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis. strategic planning. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. Jack Duncan. menganalisis data. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. mengembangkan pertanyaan. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini.unud. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis.januraga@gmail. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. Dari sudut pandang penulis. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. Pada akhirnya. Melalui manajemen perencanaan strategis. Untuk itu. dan Riverview the HMA Facility.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Selamat membaca. Peter M. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Midwest Medical Group. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. masalah mutu layanan. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi.ac. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan. No. segala sesuatu terus berubah.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. Swayne. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas.

Oleh karena itu. Permenhub. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 12. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin. mengevaluasi. Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. Peraturan Pemerintah.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. Vol.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. 3 September 2009 . No. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. melaksanakan. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. mungkin sama dengan yang penulis maksud. dan seterusnya. 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . menyeluruh. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009. Sepengetahuan saya bahwa UU No. 15/1992 tentang Penerbangan. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . 2/Juni/2009. KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Civil Aviation Safety Regulation). 12/ No. SK Dirjen Perhubungan Udara.pasal 322).

Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. First Published. 2002. Tersedia dalam http://news. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel.vokezone. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. 3. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. peledakan. 05/1996. penyakit akibat kerja. Geneva. 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan. Vol. kebakaran. Jakarta. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. 12. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. Keselamatan Penerbangan. 3 September 2009 173 . Jakarta. International Labor Office. No. Permenaker RI No. com/index. Rudiyanto. 2.2001. Diakses pada 14 Februari 2007. Alli BO. pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3.2004. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). KEPUSTAKAAN 1. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. Mulijadi H. Cetakan Ke 2.