Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro... Oleh karena itu. Kenyataan memang sudah terjadi. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional. 12. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. trisnantoro@yahoo. Vol. Kerapuhan ketiga. No.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional . Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 . UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. Aspek ini sangat politis. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. Kerapuhan kedua. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia.com). Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang.

119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Thus health sector is not an exception in this case. Pada rentang waktu itu pula. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. 32/2004 tentang Otonomi Daerah.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan. Rumah Sakit Haji. terjangkau dan berkualitas. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP.13. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. hal ini terjadi pula di Indonesia. No. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. termasuk di sektor kesehatan. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). tak terkecualikan. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. Khusus di sektor perumahsakitan. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Keywords: government political development. 12. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan.14. Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. Universitas Indonesia. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). 3 September 2009 115 . Vol.

teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru. Sebagai contoh. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. pemerintahan konstitusi.means of changing relationship between the government and private sector”. dan toleransi. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’.”5 Pada praktiknya. masing-masing: teori modernisasi. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. No. teori ketergantungan.. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. Kay dan D. John D. 3 September 2009 . Vol. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu. aturan hukum.. Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan. seperti persamaan hak.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan .4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah.J. dan teori alternatif. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada.. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya. 12. Oleh karenanya. Di lain pihak. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan.. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. teori liberal.A. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme. Teori kedua. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut. sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. sekolah. dan lain-lain. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. jalan tol. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system).”. Telkom. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. dan perumahan. seperti di Inggris.. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Vol. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan. Jackson dan Catherine M. angkutan umum. Berikutnya. seperti rumah sakit. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. Belum lagi daya saing. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. tambang timah.. Dalam banyak kasus. adalah penjualan saham persero. angkutan udara. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. terutama dalam hal investasi. Kedua. proses rekrutmen. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. No. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. sebagaimana ungkapan Peter M. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. Selain itu. seperti penanganan sampah.5 Di Indonesia. Pada definisi ini. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. jika pemimpin melakukan kesalahan. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta.6 Sebagai sebuah kebijakan. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”.9 Dengan peningkatan kinerja. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. 12. 3 September 2009 117 . Ketiga.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global. dan lainnya. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”. profit sharing. Ross Mcleod. Antara lain. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini. yang memfokuskan pada pelayanan publik.

Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. Pada banyak negara. di Korea 60%. Eid. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. meningkatkan profesionalisme. Atas dasar itu.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi.. keuangan dan penetapan standar pelayanan. 12. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung.. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. Pada tahun 1993. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India. Di India dan Thailand. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Meski seolah terkesan pragmatis. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . di Filipina sekitar 50%. Filipina. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. Vol. No.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi. F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. 3 September 2009 . serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. di Indonesia 65%. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. Korea.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang.

Diakses pada tanggal 18 April 2008. Gelombang Demokratisasi Ketiga. UU No. state and society. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Bab. UK. J. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. 8.10. Analisis CSIS.9. 1992: 31. Republika Senin 8 Desember 2003 7. http://www. 5.J Thompson. Tommy Legowo.96:18-32. USA. the American University of Beirut). KEPUSTAKAAN 1. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. Issues and Implication. Jakarta. Theories of Political Economy. htm. pertanggungjawaban. the self regulating market. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. Levine. Safri Nugraha.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. dan berkualitas. Ross Mcleod. 2006. dan kewajaran. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. et. John Willey & sons Press. Willam Newbrander. 11. 20 6. akuntabilitas. 1986. Caporaso and David P. Jakarta. 1996:163 12. 12. 2000.eastasia forum.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. Maret 2005. 2002:10.A Kay & D. PENUTUP Pada banyak negara. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. 1994. 2. London. Cambridge University Press. Syamsul Hadi. 9. 10. 19. Vol. Carporaso dan David P.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF. terjangkau. Bahaya Globalisasi Neoliberal. Revrisond Baswir. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. Carol Baker. Granit. Grafiti.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. London. 3. 3 September 2009 119 . Sage Publications Ltd. 1997. Hasbullah T. The Health Care Policy Process.all. Private Health Sector Growth in Asia. kemandirian. Samuel Huntington. 16-18. http://www. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata.kompas. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. 2004:8. No. politics a place to act”. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). Jakarta. James A. 4. Private interest and public good. Florence Eid.3.XXIII(1):6. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. 1. Diakses pada 18 April 2007.

724). costumers’ satisfaction. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.407. and interview guide. OR = 8. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan. No. 3 September 2009 . Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6. 95%CI = 1. The subjects were the head of CHCs. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. therefore.5%) dan cakupan K4 (77.082-18. p = 0. p = 0. kinerja. Based on the qualitative data. namely finance.5% and fourth visit coverage was 77. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5. bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi. Instrumen menggunakan kuesioner.256-84. OR = 2. 95%CI = 1.017. 03 September 2009 Ernawati. Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang. Djaswadi Dasuki². kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6. Qualitative data were used in this study. 12. and patients’ satisfaction (χ2 = 4.662. checklist. there was no difference in finance performance in both CHCs.256-84.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . and all pregnant mothers receiving forth visit care. while standardized care was not related to antenatal care coverage.082-18.0806. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87.008. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. FK UGM. maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. PR = 2. Method: This was an observational study with cross sectional study design. These show that maternal and child health care performance is not optimal. Analisis data menggunakan analisis univariat. Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.667-9. dkk. FK UGM. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia.002. p = 0. internal business. CI 95% = 1. CI 95% = 1. p = 0.8%.607.662. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. PR = 4. OR = 4. Halaman 120 . the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room.935. and learning and growth. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives.789).015.624). performance.607.348). Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care. kepuasan pelanggan.032. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. p = 0. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District. CI 95% = 1..516.032. p = 0. improvement should be made.017. Keywords: balanced scorecard.76%). OR = 4. CI 95% = 1.026..080-6. PR = 8.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care. However. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹. 95%CI = 1.667-9.407.015. 95%CI = 1.789). check list dan pedoman wawancara. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4. Kata kunci: balanced scorecard.516.8%). PR = 4. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. Yogyakarta 3 CHN-RL. Vol. Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10.002. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif. p = 0.008. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage.026. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas.624).935. p = 0. Study instruments were questionnaire.

K4. memotivasi pegawai. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan.33%). lingkungan dan alat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan. dengan variabel terikat cakupan antenatal.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. perspektif customer.9 Di samping itu. kepuasan pasien dan dana operasional. kondisi wilayah dan status Puskesmas. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. a. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS). 3 September 2009  121 . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi. Vol. dan keuangan.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan).7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan.8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan.3%). mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. Bidan Penanggung Jawab KIA. umpanbalik segera. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). Bila kinerja rendah. No. balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. 12. sesuai standar dan etika profesi.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. 1. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan. dan kepuasan pasien. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. pelanggan. Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. pengetahuan dan keterampilan. motivasi dan insentif. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. memuaskan. bisnis internal. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. standar pelayanan. check-list.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. dan Ibu Hamil. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. Selain itu. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

Vol.03 33 98 62. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4.67 53.13 ± 1. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70.50 38 98 2. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.65 ± 18. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.54 ± 2.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.740 100 Realisasi Skor % 15.33 100 100 80. Tabel 1. 3 September 2009 .30 b. No.33 33.Ernawati.840 100 297. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2.. 12.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian.810 100 334.64 1. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3.740. d.000.92 67 85 72. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%.85 ± 16.804 (14. Biaya Operasional Gambar 1.280 33. dkk.11 49.88 Skor : dalam satuan Rupiah (.804 14.090 100 3. Tabel 3.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71.88%).090 11. Tabel 2.434 46.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49.. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334. c.

5.60) 1472 (100) 1102 (74.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80.30) 31 (33.64) 17.81 (100) 33.50) 2208 (100) 1603 (72. Vol.50) 605 (27. 3.09 (100) 15.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5.67) 26 (19.89) 334.9 (85.52) 644 (100) 312 (48.33) 14 (46.48) 6 (6.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1.4 (46. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.22) 1971 (26.21) 1354 (36. 12.70) 92 (100) 86 (93. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4.74 (100) 49.74) 98 (26.43) 92 (100) 61 (66. Diploma I 2. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67.84 (100) 1.63) 657 (25.72 (88.67) 297.55) 3680 (100) 2326(63. Pemeriksaan kebidanan luar 4. Imunisasi TT 5. Pemb.28 (33. Quality Assurance 4.99) 276 (100) 240 (86.96) 36 (13. No.56 (66. Pemeriksaan umum 3.65 (53.26) 368 (100) 270 (73. SPK 2.30) 40 (25) 40 (25) 12 (33. 3.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan.11) 264.40) 370 (25.78) 3 1.45) 332 (51. Fe 6.80) 284. Diploma III 3.01) 469 (29. 2.86) 7360 (100) 241 (32. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33.80(14.33) 2.14) 5389(73. KIP-K 3. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.37) 2576 (100) 1919 (74. 2. 3 September 2009  .56) 3. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66. tekanan darah dan tinggi fundus uteri. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.67) 16 (53.09(11.57) 480 (47. Anamnesa 2. Pemb.04) 1012 (100) 532 (52.

imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan. .13 78. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh. 7. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit.625. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas.. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional.. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran.. Vol.. Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu. tekanan darah.” “. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.” “.. saya rasa sangat kecil sekali.000.. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa.. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “..664 per ibu hamil. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas .. pemeriksaan umum dan pemberian Fe. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami.Ernawati. 12. tinggi fundus uteri.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “. dkk..536...- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89.30 95. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi.640.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .” “.Rp.000.” “.. Tabel 6. 7. No.1%.674 ibu hamil..00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4... pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7.. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil).35 Tablet Fe 91..26 82.. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang.. itupun sebagian besar untuk transport saja... 3 September 2009 . baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas.” “..61 54.807.” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “. tersaji pada Tabel 6. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas..000.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup.00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko. cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54.. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu.

Vol.” “. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas..667-9.. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. 95%CI = 1. 95%CI = 1.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4. pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien.. p = 0. No. PR = 4. 95%CI = 1. 95%CI = 0. baik (p = 0. 12.903). dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan.348).407 kali.775. 95%CI = 0. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan.118.“ “. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “. b.” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10.114. p = 0. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas....386-3. Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan .607.. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5. PR = 1.451-2. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi . PR = 8.. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi.724) dan kepuasan pasien (  ² = 4. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.256-84.. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi.589).407.017. p = 0..789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri. 4. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas.. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II.015. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7. (Tabel 8). Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6. PR = 4.516. 95%CI = 1.002. Tabel 7.. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut .026.0806. PR = 2..08218. sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas ..662. 3 September 2009  125 . p = 0.032.777. PR = 1.008.935.

683 (0.33) (46. (Tabel 9).008 1.48) 53 (57. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun. 12. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66.39) Total (%) 23 (100.925 (0.13) 17 (73. dkk.0) 92 (100.00) 11 5 (68.67) (33. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta.0) ² p PR (95%CI) 8 (1. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya.023 0. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.09) 13 (56. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA.61) (42. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda.0) ² p PR (95%CI) 5.256-84.61) Standar (%) 6 (26.0) 10 (100. PEMBAHASAN 1.036 3.913-15.0) 23 (100. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun. 3 September 2009 .91) 9 (39. No.33) 2 8 (20. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun.0) 92 (100.312 1.624 6.91) 10 (43.017 4.462-8. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73. sistem dan prosedur.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi.935 0.Rp2 juta per bulan yaitu 50%. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.0) 30 (100. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil.52) 39 (42... hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.0) 23 (100.67) 53 39 (57.25) 16 14 (53.0) 16 (100.00) (80.394 0.39) Total (%) 36 (100.0) 23 (100. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1.87) 6 (26.Ernawati.789 4.662 0.589 Tabel 9.13 Tabel 8.082-18. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.407 (1.09) 14 (60.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.75) (31.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang. Vol. 2.

dan berkualitas pelayanan. Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. serta prosedur pelaksanaan pelayanan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas.20 5. No. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan.15 menit. 3 September 2009  127 .14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.17 4. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 . serta jasa yang konstan. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. merujuk secara medik. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan. Vol. 12. biaya. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin.18 bahwa sebanyak 1. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi.15 3. sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. peningkatan teknologi dan informasi. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 . kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya.

“WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. 12. Carroli G.go. 1996. 12. Berendes H. Lumbiganon. Mugford M. Diakses pada 15 Maret 2006. Almazrou. Jakarta. memperbaharui. World Health Organization. UGM. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. Surabaya. P. 2001:1551-64.2000. ia harus didukung dengan faktor non-financial. 5. http:// depkes.I.22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. Jakarta. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. 2000.I. Universitas Gadjah Mada. C. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah. Langer A.I. Jakarta.2(8)June:1-11 9. Farnot U. Donner A. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. 1997.. Dasuki D. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. Departemen Kesehatan R. Piaggio G. Nigenda G.int 2. Airlangga University Press. 4. Modul Ajar Safe Motherhood. The Lancet. Hutton G. Yogyakarta. 3 September 2009 . No. 1997. WHO. Bergsjo P. 7. Modul Ajar Safe Motherhood. Mulyadi. dan Solichin. Departemen Kesehatan R. Tesis. dkk. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. Pinol A. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup.. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. NHA Producers Guide.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . 10. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. Dalam menilai kinerja organisasi. Hakimi M. & Voltero L. 2002. serta meningkatkan pelayanan. Kurniawati L. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan. Journal of Bio Med Central. Abdurrauf. Jakarta. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. 6. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. 3. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Departemen Kesehatan R. Ba’aqeel H. Fort AL.who. Wijono Djoko. FoxRushby J.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia. 8. 11. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar.2001. Belizan MJ. Yogyakarta. Salemba Empat. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Bakketeig L. Vol.XIII:16-20. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. Berita Kedokteran Masyarakat. Departemen Kesehatan R.id/. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. Geneva. KEPUSTAKAAN 1. 2003: 58-62. 1999. 1998. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran.Ernawati. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. Wilopo SA. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. Villar J. 2004. Avalaible on: http/ www.I. Mulyadi. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar.

Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Hakimi M.43(5): 427 – 40. and Siemanski Beth Ann. 1997. Second Edition. An Agenda For Research. Sasongko N. Journal of Busness dan Industrial Marketing. Dasuki D. No. 14. 12.13 (4/5): 309-21. Bina Putra.1996. Nelson EC. Katz JM. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Berita Kedokteran Masyarakat.1996. Rosi Robin L.L. A. Journal of Health Care Management. 18. Rust Roland T. Vol. Non Finansial Perspektif. Jakarta. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance. Edisi Ketiga. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill. 1997.1997.XIII:16-20. 19.1996b. Gadjah Mada University. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mayer T. Mastorovich. Boston. Bina Putra. Florida USA.1992. M. Green E.2005. Azwar A. 23.1998. Lau C. 22. Edisi Ketiga. 21. 16.. Measurement Financial. Kurniawati L. Parasuraman A . 15.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13. Batalden Paul. Cates RJ. 17. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo. St Louis Missouri. Pengantar Administrasi Kesehatan. University of Miami. Wahab A. Kaplan RS. 20. J. dan Norton David P.1998. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. Zahorik Antoni. Azwar A. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective).2000. 12 (4): 6-13. Workshop Akuntansi Manajemen. Jakarta. Pengantar Administrasi Kesehatan. D. Yogyakarta. Harvard Business School Press. Customer Service In Business to Business Market. Hakimi M. Journal of Health Care Marketing. 3 September 2009  129 . Wilopo SA. and Royalty. Solichin M. Mosby Year Book. CHNRL Faculty of Medicine. Ghufron A.

Soebijanto2. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55.. Adi Heru Soetomo2. III. No. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. II.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. Keywords: industrial accident. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi.40% from 3rd principle maximum score).139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1.85%) of 3rd principle.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Hasil: Sebanyak 53 (96. dkk. Result: A number of 53 (96. Halaman 130 . IV. The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles. F-test result showed a significant difference (p < 0..K. UGM. 12.60% dan 2 (3. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57.87% from 5th element maximum score). Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. 3 September 2009 . 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. Method: The type of this research is survey research.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% .01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. F-test result showed a significant difference (p < 0.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% . 03 September 2009 Gerry Silaban.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate. FKM Universitas Sumatera Utara. Suma’mur. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.14%) in 5th element. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). Kata kunci: kecelakaan kerja. 05/1996. kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise. Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja. P. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. Vol.36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. registered enterprises in the employment accident benefit program. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Lientje Setyawati Maurits2.

958 kasus. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari . jenis standar K3 berbeda. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. peledakan. 5. dan tahun 2005 sebanyak 1. penyakit akibat kerja.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun.759 kasus. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif). Vol. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. III. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko.3 Selain itu. 564 kasus. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tahun 2004 sebanyak 2. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3.31 Desember 2005).7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen.K. 331 kasus. Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3. 3 September 2009 131 . yaitu tahun 2003 sebanyak 3.759 kasus.6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3. audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. kebakaran. IV. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. dan 207 kasus. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K. II. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I. sehingga tercapai tujuan. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi.10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. No. 12.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. 118 kasus. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.06%) dari 1. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3.250 kasus. dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. Selain itu.

No. observasi.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3).: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. desain. prosedur rapat tinjauan manajemen. pabrik minuman dari alkohol. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. prosedur komunikasi dan konsultasi. 3 September 2009 . pabrik minuman. obat nyamuk bakar dan cair). pabrik barangbarang dari logam. pengendalian catatan. pemantauan kesehatan. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. pabrik barang-barang dari logam. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. kecelakaan kerja. dan proses audit SMK3. SE (Sesuai). rekrutmen. dan penyakit akibat kerja). kecelakaan kerja. Dalam penerapan SMK3. ruang lingkup. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. unsur 6(40 kriteria). perusahaan penggergajian kayu. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. investigasi. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. inspeksi. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pelatihan. penanganan bahan berbahaya dan beracun). penggilingan (remiling) karet. perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. Setelah itu. dan wawancara dengan tenaga kerja. Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. prosedur insiden. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. penyakit akibat kerja. tujuan dan sasaran K3. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. Improvement (PDCI). Do. industri-industri lain. pengendalian dokumen.. seleksi dan evaluasi vendor. TS (Tidak Sesuai). rumah makan dan minuman. program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). perawatan. Unsur 4 (7 kriteria). pabrik keperluan kaki. prosedur identifikasi bahaya. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). dan pemantauan lingkungan kerja). industri minyak kelapa sawit.Gerry Silaban. prosedur operasional (mencakup izin kerja. Unsur 7 (15 kriteria). perusahaan air. Check. pabrik kimia lainnya.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. hampir celaka. profil perusahaan. struktur P2K3. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). penggilingan (remilling) karet. prosedur tanggap darurat. penggergajian kayu. Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen.. 2. prosedur audit internal. 3. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. Vol. unsur 5 (7 kriteria). pabrik keperluan kaki. dan 1. struktur organisasi perusahaan. dkk. diskripsi pekerjaan). dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. pembelian. 12. dan pabrik plastik. pabrik kimia lainnya (lilin. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). dan hotel. dengan rerata sebesar 304 atau 45. produk setengah jadi.

00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% .00%) untuk unsur 7.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3. pendidikan.73%) untuk unsur 3. tidak mampu berkompetisi. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli. dan 7 perusahaan (12. 3 September 2009 133 .19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh. 12.00%) untuk unsur 9. instalasi. 3 perusahaan (5. sedangkan 53 (96. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19. terendah sebanyak 6 kriteria (3.46%) untuk unsur 2.82%) untuk unsur 10. 7 perusahaan (12. alat. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah. 1 perusahaan (1.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan.82%) untuk unsur 11. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 . No.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. 11 perusahaan (20.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan. 1 perusahaan (1. dan perilaku pekerja14. Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. 12 perusahaan (21. perlengkapan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% .36%) untuk unsur 4. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko.74%) untuk unsur 12. Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 . Terdapat hanya 2 (3.04% dari 166 kriteria).84% dari 166 kriteria audit SMK3.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76.36%) untuk unsur 5. Vol. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 .61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam. 31 perusahaan (56.82%) untuk unsur 8. pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya.91%) untuk unsur 6.560 atau memenuhi 100 .100% dari 166 kriteria audit SMK3.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92.27%) untuk unsur 1. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70. 11 perusahaan (20.84% dari 166 kriteria audit SMK3. penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi.24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13.74% pada industri tekstil.60% dari 166 kriteria audit SMK3.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang. mengukur dan mengendalikan risiko. 17 perusahaan (30.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% . 9 perusahaan (16. kinerja penerapan SMK3 rendah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 .64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% .5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin. dan 8 perusahaan (8.

dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3.unsur 7. unsur 1. unsur 9. Vol. 3 September 2009 .65% 35.96 (74.84% 44.51 20.07% 43.38 13. dkk. unsur 12. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1. atau memakai alat pelindung diri.86 11. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis. peralatan.61% 47. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan.86% 57. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15.27 22.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif.81%) dari 27 kriteria prinsip 5.84 4. unsur 8. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3.23 Di samping itu.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . dan unsur 11. tenaga profesional. unsur 2. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum. No.22 27. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan.68% 74.27% 34.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pekerja berperilaku aman. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja.38%) dari 26 kriteria prinsip 4. unsur 3. 12.38% 42. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38. kompetensi. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20. unsur 4.26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29.82 11.85%) dari 67 kriteria prinsip 3. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial.86% dari skor maksimum unsur 5).Gerry Silaban..21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. melibatkan tenaga kerja secara aktif.88% 42.60% 46.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi.96 92.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7.47 12. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14.56%) dari 18 kriteria prinsip 2. membuat kebijakan dan program K3. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. unsur 10..14%) dari 28 kriteria prinsip 1.56 20.29% 26. untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan.18 28. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan.

skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum.27% 35. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2. 6. dan prinsip 1. Vol.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. keselamatan. 3. prinsip 2. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. Selain itu.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. dan berkelanjutan. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur.90% 43. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.38 25. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51.62%. kualitas produk. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik. 5. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja. 3 September 2009 135 .18% 55. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan. memantau. 2. 12. kesehatan dan lingkungan kerja. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. kontinu.47 44. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif. 4.17% (tertinggi). di samping pemasaran dan finansial. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate).31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1.40% dari skor maksimum). Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. No.40% 42.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya.8%.33 148.82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.47 (55.62 47. prinsip 4.

Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. dan juru las. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. petugas K3 (kimia. konstruksi. manajemen. 3 September 2009 . teknisi (lift. alat. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. Personel K3 yang mempunyai tugas. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. alat dan sistem tanda bahaya. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. paramedis (perawat) perusahaan. dkk. mekanik. ahli higiene industri. Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya.33 Kebijakan Permenaker No. confined space). Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. 3. No. 12. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. instruksi kerja..Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. kebijakan K3 perusahaan. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. 05/1996. Organisasi K3 ini bertugas: a.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. 4. konsisten dan berkesinambungan. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja. fungsi. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. pintu dan tangga darurat. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja. uap dan bejana tekan. crane). 5. listrik). Fasilitas K3: alat pelindung diri. rambu dan tanda keselamatan kerja. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. dokter perusahaan. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. konstruksi. 2. instalasi dan bahan berbahaya. P3K. dan laporan hasil audit internal SMK3. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. kegiatan K3. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. instruksi tanggap darurat). Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d.. petugas P3K. 05/1996. tempat pelatihan K3. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. pelayanan kesehatan kerja). Vol. kebakaran. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. alat pemadam api. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali. kimia).Gerry Silaban. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. operator (pesawat uap. radiasi.

dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. Balitbanginfo Depnakertrans RI.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. Medan. Vol.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Di samping itu. Suma’mur PK. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes. KEPUSTAKAAN 1. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan.Medan. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. and Improvement (PDCI). Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. 3 September 2009 137 . Kanwil I PT Jamsostek. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. 6. Rudiyanto. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . 12. XXXVI(2) AprilJuni. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Jakarta. 3. Ichsan S. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja. Accident Anal Prev. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan.2003. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo. organisasi profesi K3. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3. Siswati M.2002. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya. 5. Oleh karena itu.2003. Suokas. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. No.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. Perusahaan Jasa K3. kebijakan Permenaker No. 2004. J. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. 20(1): 67-85.2005. 7. PT Sucofindo. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). XXXVI(2) April-Juni. Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. Do. Dengan demikian. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan.2006. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. Ichsan S. Jakarta. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention.2003. 4. Check. 1988. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. PT Jamsostek. 2. Balai K3.

Alli BO. K. Hegney.2003. 2006. Inspections and Investigations. Pamardiningsih Y. Hopkins A. In: Ch. 11. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional.2002.2005. Taylor G. Vol. 1993. Canberra. Novianto R. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. Saarela. 2000. Hadi S. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies. and R. 20. Geneva. No. 2005. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Systematic Management of Occupational Health and Safety. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja.In: Ch. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.Gerry Silaban. Vol.2008. Safety Culture. 16. 8. 13. Surabaya. Safety Culture and Management. Yogyakarta. 44: 137-56. Jakarta. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. 12. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. The Accident Causation Model. Yogyakarta. 22: 53-70. 1998. Geneva. Yogyakarta. Frick K. Easter. Takala. Sugiyono. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. 15. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Widiastuti E. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour. 2004. 59 Safety Policy and Leadership. 17. dkk. Groeneweg J. Yogyakarta. 1998. II. 28. Saari J. Hadi S. Manual SPS Paket Midi.2004. Fourth Edition. International Labour Office. Peters RH. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. and K. Tesis. Canberra. Skiba R. International Labour Office. Hansen L. 2003.google. Working Paper 20. Yuliani R. Simard M. Depnakertrans RI. ITS. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 9. Vol. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. II. Working Paper 14. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. 2004 (http:// books.M1) 21. 27. Occup Hazards. 19. Fourth Edition.2006. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century.1998. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Theoritical Principles of Job Safety. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Jakarta. Canberra. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. 55(9): 250. Tesis. OSHA: Employee Workplace Rights. 22. Universitas Gadjah Mada. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Subekti A. Fourth Edition.XXXVI(3) JuliSeptember. 29. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1.Enhancing OccupationalSafetyand Health. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission.L. II. Tesis. J Saf Res. 18. 12. First Published. 24. OSHA. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. Geneva. Program Magister Teknologi Manajemen. Tesis.Beyond Commitment. 2005. 26. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. 14. Geneva.. International Labour Office. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). 10. Safety Science. Ramli S. 25. In: Ch. Jakarta. Vol. 3 September 2009 . Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Bluff L. Hamalainen PJ. US Department of Labor. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. 23.2001. J Occup Acc 12: 107-117. 57 Audits. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century.2003. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. International Labor Office. Global Estimates of Occupational Accidents. Surabaya.. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 1991. 56 Accident Prevention.2002. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Tesis.

Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 2004. Boca Raton. Inspections and Investigations. 33. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). In: Ch. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 32. Safety Performance Factor. Malaysia. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30. 1998. Venkataraman N. 5: 27-30. 31. Fourth Edition. Anatagulnathi. Geneva. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. and P.2003.Lewis Publishers. Reese CD.135-40. Journal Occupational Safety Health. 12. Linehan A. Vol. 2008. International Labour Office. Vol. 57 Audits. Siriruttanapruk S. II. Industrial Health. 42. 3 September 2009 139 .Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach.

The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial.: Hambatan dan Harapan Sistem . yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. 3 September 2009 . 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. Every FGD was attended by 10-20 participants.3. dkk. Dokter. Kata kunci : sistem kredensial dokter. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. and good relationships among colleagues. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system.1.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. Keywords: physicians credentialing system. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. consisted of physicians and hospital management. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). The credentialing system. Oleh karena itu. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik. perawat. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. which is based on the concept of professionalism.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. dan hubungan baik antar sejawat. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. The expectations of participants are in line with the recommended credential system. standardization of policy and credential instruments. adanya tim kredensial yang obyektif. professionalism. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. No.. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. 03 September 2009 Herkutanto.2. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. Cipto Mangunkusumo.4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. sound relationship between credential team and hospital management. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. 12. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. and frequently are inadequately performed. a process to grant clinical privilege. profesionalisme. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. aims to ensure the accountability. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Halaman 140 . Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda. existence of objective credential team. Vol. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees.

Di USA.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu.179 di antaranya merupakan kelalaian medis. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. Di masa mendatang di Indonesia. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%). No.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. 3 September 2009 141 . Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. Oleh karena itu. Dari 98. Dengan demikian. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Dalam proses ini. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut.10 Sama seperti negara lain.8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit. Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama. komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%). sedangkan di bidang terapeutik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). 12. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari 1.12. Vol. jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu.1. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. bukan kedokteran.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27.

Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan.Herkutanto. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. karena sering kali ditemukan false positive.: Hambatan dan Harapan Sistem . standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. Selain itu. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal. 12. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis.. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. karakter. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. transkrip akademis. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.12 Sebelum FGD dilaksanakan. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter. dkk. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. No. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Vol. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). Nama partisipan dirahasiakan. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. yaitu kebutuhan proses monitoring. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. dan profesionalisme kandidat. dan diminta persetujuan. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Apakah telah cukup ideal? b. 3 September 2009 . Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c.. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. Pertanyaan disusun oleh para penulis. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Prinsipnya. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. dan surat rekomendasi. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing. Berdasarkan rekomendasi ini. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. keterampilan. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. Pada studi kualitatif. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. sikap. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. Tabel 1.

Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. sebagai bentuk kepercayaan Direksi.” [dr Y. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. Selanjutnya. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. Vol. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. No. Proses rekredensial 2. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi.. berpengaruh. Tabel 2. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi.4 Kebutuhan tim ideal a. RS2] Terakhir. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. atau sering menggantikan praktik. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya. Pada FGD di RS1. 12. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. wawancara.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial. kayaknya kurang pas.. dan divalidasi oleh komite medis. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. Keselamatan pasien 1.. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2.1. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. Pada FGD di RS1 dan RS2. Periode uji coba b. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2. sungguh-sungguh bekerja. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. keterampilan. dan netral. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. Bijak. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. tes untuk memotret pengetahuan. dan profesionalisme 1. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif. hubungan kerja. sikap. Selain itu. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. netral c. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial. karakter.1. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. Mengurangi subyektivitas b.” [dr X. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. Penerimaan karyawan b. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. 3 September 2009 143 . Tujuan a. Kebutuhan monitoring a. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit.

Sayangnya. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. Dengan kurang berfungsinya komite medis.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. Selama ini. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal.Herkutanto. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. senantiasa terjaga dengan baik.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. Pertama. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Namun demikian. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). 3 September 2009 .15. Secara periodik. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. Selain dokter tersebut. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit.11 Fungsi kredensial. Ketiga. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. Selain itu. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter.. dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). 12. Vol. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter.. sehingga menimbulkan kecederaan. peningkatan mutu profesi. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme. No. Namun demikian. dokter akan melalui proses rekredensial.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. Kedua. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. dkk. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari.: Hambatan dan Harapan Sistem . Dalam kontrak sosial tersebut.

Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. wawancara. 21. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. 22. Namun demikian. 21. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. Tiga proses inti kredensial Tabel 3.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana. 20 Namun saat ini.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional.20. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sebaliknya. No. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. 3 September 2009 145 . 12. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. Vol. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan. Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi.

3. dengan keluaran berupa clinical appointment. Localio AR. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. Qualitative Research Analysis. 2005. 14. Credentialing.: Hambatan dan Harapan Sistem .7:324(6)Feb:377-84. No. Laird N. Dengan demikian. 2008. Barnes BA.25(Juli):245-51. The Way to Patient Safety. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. Results of the Harvard Medical Practice Study II.. Tahka V. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Brennan TA. Joint Commission Resources. White Papers Mitra Bestari 2. 2008. McGraw Hills. E&S Livingstone Ltd. 8. 7. 2(1) Maret: 41-7. 2002. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Berg BL. Jakarta. 4. Illinois.Herkutanto. Browne K. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Qualitative Research Methods for the Social Sciences. dan peer group. white paper. Localio AR. Laird NM. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. N Engl J Med. 10. 15. Lawthers AG. Edinburgh. Sebagai suatu studi kualitatif. Luff D. Vol. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sydney. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. O’Connor. Lacey A.49(3):256. et al. Herkutanto. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms.. KEPUSTAKAAN 1. 2009. Trent RDSU. 12. Peterson LM. Competency. 110:414-8. Lawthers AG. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. 2008. 1967. Brennan TA. The Doctor-Patient Relationship. Results of the Harvard Medical Practice Study III. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. 5. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. Herkutanto. Pearson Education. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. WHO. 69:8. Forward Programme 2008-2009. Sheffield. Commitee on Hospital Care. Credential and Clinical Privileges. Boston. The Patient Doctor Relationship. USA. Geneva. 12.. 9. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. 13. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. Tabel 4. 2003. Jakarta. 1984. World Health Organization. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. 2007. Valenza JA. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. O’Neil PN. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. Wachter RM. 2008. 2006. 2004. Pediatrics. 1991. Jakarta. Wong LP. 16. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. N Engl J Med. World Alliance For Patient Safety. Hebert LE. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Privileging. Singapore Med J. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. 2005. Leape LL. 3 September 2009 . dkk. and Peer Review. ME. George LA. et al. 11. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. Journal of Dental Education. Freeling P. 1991. ADIS Health Science Press. Understanding Patient Safety. 6.

Joint Commission International. Melbourne. The Royal College of Physicians. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. Cruess SR. Vol. 2007. 22. Freckelton. Professionalism and Medicine’s Social Contract. 21.82A:1189. 2000. Master of Laws Thesis. Law in Context. Special Edition: Regulating Health Practitioners.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 12. Journal of Bone and Joint Surgery. I. The Federation Press. Indonesian Health Practitiones Regulation.18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 2007. Herkutanto. 23. Johnston SE. 2004. 2006. 20. Cruess RL. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. La Trobe University. 2005. Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. 19. Jakarta. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. 23 (2): 229-42. 2006. 18. Konsil Kedokteran Indonesia. No. New South Wales. 3rd Edition. Herkutanto. 3 September 2009 147 . USA. The Royal College of Physicians. Jakarta.

organizing and actualization. as well as health staffs. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. and Bangkingan (Lakarsantri).9%. Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. perencanaan pengelolaan terpadu. nutrition and food awareness area. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. the Total Goiter Rate (TGR) 22. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. kuratif dan rehabilitatif strategi. advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department. Nyamplungan (P. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. Primary Health Center staff. Kedung Cowek ( Bulak). Romokalisari (Benowo).Cantikan). This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. integrated management planning. such as social economic factors from the society.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Perak Utara. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. has 16. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. preventive. Kedung Cowek (Bulak). Halaman 148 . Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. the society in severely iodinedeficiency. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). The middle term and short programme of iodine-deficiency. planning. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. serta staf kesehatan. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. diet konseling. by socialization. low health staff motivation to run the program etc. Result: The result show many faktor. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. Vol. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. Tambak Oso Wliangun. staf Pusat Kesehatan Primer. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dengan sosialisasi. Romokalisari (Benowo). pengorganisasian. Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya.. Perak Utara. organizing. Kekurangan Vitamin A (KVA). Bubutan.. diet counseling. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. kesadaran gizi dan makanan daerah. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan. Conclusion: The recommendation as follow promotive. pengorganisasian dan aktualisasi. curative and rehabilitative strategy. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. preventif. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. Method: The purpose of this study was a descriptive type. Tambak Wedi (Kenjeran). Nyamplungan (P. dkk. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. Coordinating and evaluating the programme. Sidotopo Wetan. 12. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. angka gondok total (TGR) sebesar 22. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. No.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. Manyar Sabrangan (Mulyorejo).93% of severely iodine-deficiency villages. Sidotopo Wetan. Tambak Oso Wliangun. The recent study at Surabaya City. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. Anemia. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. Tambak Wedi (Kenjeran). improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. Koordinasi dan mengevaluasi program. Cantikan). done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. dan GAKI. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. perencanaan. memiliki berat 16. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera.93% dari kekurangan iodium-desa. perawatan medis. medical treatment. higher than normative value (less than 5%). society and health staff factors. Di Indonesia. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. 03 September 2009 Oktarina.9%. pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. 3 September 2009 .

6) 16 (36. Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. ginjal dan organ reproduksi. jantung.0) 27 (37.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. hati. L-thyroxine (T4) dan 3. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62.5.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil. memacu proses metabolisme otak. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi.0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan.5. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari.96%). imbalan. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. Vol.6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7.1%).5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia. keterampilan. No. kehamilan.65%. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. otot.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19.3-triodothyronine (T3). biaya.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun). Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3. diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4. 3 September 2009 149 .9%) mencapai 21%.39%). pelatihan. sikap. Tabel 1. motivasi. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. pengetahuan. serta meningkatkan sistem pengawasannya.1) 11 (37.6%). Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. 12.4) 44 (100) 46 (63. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40. paramedis) yang meliputi pendidikan. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium.51%). bidan/ palpator. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah.

Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat.93%. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). 1b.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2). Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2.37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). dengan rata-rata TGR sebesar 10. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. II. kepala posisi biasa. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya. 3 September 2009 . perilaku (kebiasaan sarapan pagi). Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya). Mulyorejo. Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. Gundih (Bubutan). Sidotopo Wetan dan Kenjeran. No. pelaksana. III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. penilai. pemberian uang jajan. berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya. Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba.. 12. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. (> 6m). yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Vol. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a.II. Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang.baru.Oktarina. dan Paramedis. Pengambilan sampel secara multistage random sampling. Terlihat dari jarak jauh Tertentu.. Pelaksana Gizi. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya. dkk.11%.267 anak). Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. Puskesmas sebagai perencana. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. Semeni (Benowo). rata-rata TGR sebesar 12. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang.

melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap. 12.68%).16 17. 3 September 2009 151 .1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39.5 13. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test).50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.64 8.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5.2 6.95 14.52%). 3 Puskesmas cukup. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8 Pengetahuan 1. sarana prasarana yang ada di Puskesmas.44 13.88 19.95 15.3 Dari hasil penelitian. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya. dan 2 Puskesmas kurang baik.33 9. No. pojok gizi (28.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.93 16.66%).96 X: 12. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas.24 17.78 3 4. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. leaflet dan konseling garam beriodium. rata-rata TGR sebesar 24.77 6.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14. terutama ketiadaan food model (42.81 7. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46.59 X: 10.89 19. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan.94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29. ada 2 Puskesmas yang baik.21 12.57 14.08 5.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur).43%.67 19.96 12. Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28.91 19. Vol.9 9.88 11. dengan rata-rata TGR sebesar 38.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.Gunung Bringin Sambikerep Mr.7 10.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W.

pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85.01 31.95 23.89 31. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat.12 23.59 25.95 21.62%).27%).44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba.37 48.14%).62 25. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas.02 22. dkk. Tabel 4. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21. Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable)..33 28.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.68 26.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik.29 25 25. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas. kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%).95 26.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30.76 24.89 32.3 X: 38.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P.44 X: 24.94 27. Vol.10 Kerja sama. Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.84 35.42%).35 21. ternyata sebagian besar (78. Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20. 12.72%). dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan.14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi. No. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik.34 57. serta sebagian besar (57. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat.3 25. 3 September 2009 . pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14.29%). jadi belum sampai terlihat (visible).93 21.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek.73 24. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).1 42. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya.58%).57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42.Oktarina..34 40. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64.42%).: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Kurangnya koordinasi lintas program (42. Selain itu.02 33.

57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. b.0%). Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan. 12. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14. Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium.68%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71.14%) terutama pada umpan balik. motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan. Penilaian. Pada penilaian. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.0%).0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44.12%) dan microplanning (42.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. ada kejelasan target.14%) dengan nilai kurang. nilai cukup ada 2 Puskesmas (28.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin.14%). Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48.0%).8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14.5%). Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas. dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14. ada pembinaan. Vol.14%).5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin. distribusi kapsul iodium. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%). Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67.52%) 1 Puskesmas.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah. 3 September 2009 153 .0%) untuk pendataan.00 (32. jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36.86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42.000.5%). No. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42.0%). Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25.5%).66%).52%) baik perencanaan programnya. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55. serta ada 4 Puskesmas (57. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja. a. rencana kerja tahunan (57. kegiatan penilaian. Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah). sasaran palpasi gondok anak sekolah. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing. penyediaan data prevalensi GAKI (42. pembinaan terhadap pelaksana gizi.50%) yang mempunyai nilai baik (>15).0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28.12 2. sebanyak (39.5%). Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.62%) dan yang nilai kurang (14.0%).

Soegianto B. pelaksanaan. pelaksanaan kegiatan. pengobatan medis. Surabaya. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. KEPUSTAKAAN 1. No. pelaksanaan. Population Reverence Bureau. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. sosial ekonomi yang rendah. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. imbalan. pelayanan kesehatan kepada individu.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . protap diet. keluarga dan lingkungan. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Selain itu. leaflet) di Puskesmas. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. 2002. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. pengawasan dan pengendalian). penyediaan peta prevalensi gondok. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Jakarta. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. Tinker A. Akademi Gizi. pelaksana gizi. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. 3. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. palpasi gondok anak sekolah. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. 2. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas). pendistribusian kapsul iodium. meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. paramedis yang sudah terlatih). palpasi gondok anak sekolah. 1999. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). Egli HE. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. dkk. Takkouche I. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. 2002 4. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test.. memberika. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan.Oktarina. Pendidikan yang rendah dari masyarakat. konseling garam beriodium. Vol. penilaian. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. minilokarya. pojok gizi. E Ransom.72%. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran.. Allen and B. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. pelaksana gizi. 12. penilaian. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. motivasi. 3 September 2009 . Anderson MB. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. Save The Children. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. De Benoist. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

5:1-2: 28-34 12. IDD Newsletter. Surabaya. Simamora H. 2003. Jurnal GAKI Indonesia. Handoko TH. Yogyakarta. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Media Medika Indonesiana. Health Care Manage Rev.8. 3 September 2009 155 . Surabaya. Atmarita. Dolinsky A. Semarang.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. 2002. Vol.1:10-12. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 9. Aspen Publiser Inc. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Yogyakarta. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 6.2001. Sunarno RW. Manajemen Sumber Daya Manusia. Team Learning. 2006. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. BPPE. 10. Elimination of Iodine Deficiency. 2006. Manajemen. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Supriyanto. 11. No. Munfarida S. 33-40.2008. Akademi Gizi. Muhilal. 7. Wisnu C. 2003. Bagian Penerbitan STIE YKPN. 2000. Kartono D. 22 (2). 1997. 8. 12. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. 43(01): 22-.

maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008.161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. segmentation.17%).: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. Halaman 156 . Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics.. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. Universitas Hasanuddin. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. geographical accessibility. Vol. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. Based on the interest of market segment. and labeled as health care maximize. Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar.17%). Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. sistem informasi. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. segmen II sebanyak 25 orang (21. 2008. No. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. 3 September 2009 . 03 September 2009 Asiah Hamzah. dkk. Kata Kunci: pasar sasaran. driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keywords: target market. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. the number of closest competitors. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. the interest of market segment. and segment III consisting of 60 people (52. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. segment II consisting of 25 people (21.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served.09%). 12. keuangan. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Darmawansyah1. and relationship between segment with partner companies or insurance.74%). dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. alat dan teknologi kesehatan. manajemen organisasi. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. substitution attendance. Sukri Palutturi1. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar.74%).. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). Results: The result shows that based on customers’ characteristics. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. segmentasi. segmen pasar yang terbentuk. SDM.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. jenis pelayanan. market compartment. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit.09%).

Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit.173 kunjungan pada tahun 2004. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien.1%) berpendidikan SLTA. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian. Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar.8%. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. No. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. jumlah penduduk. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. Oleh karena itu. 12. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. diikuti tingkat pendidikan SD (25. membidik satu atau dua segmen itu.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. psikografis.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. jumlah kunjungan. serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1. Dengan demikian. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. 2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). dan data lain yang terkait dengan penelitian ini. 3 September 2009 157 . geografis.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden.9%). 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. perilaku. Vol. dan tidak tamat SD sebanyak 7.6%. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. Tingkat pendidikan responden.6%).2%). Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik.9%).9%. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008.7% dan 9. Sebagian besar responden (59. dan kebutuhan. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. sarjana (13. sebagian besar (39.5%). Data yang terkumpul.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk. sehingga perlu dilakukan penelitian ini. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. SLTP (13. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.09%). 08(01) Maret:11-8. Yogyakarta. 5. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Irwin McGraw-Hill. PT Indeks. Analisis Multivariat Pemasaran. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Syam. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4. 6. Tigor HS.2000. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. Perilaku Konsumen.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). Services Marketing. No. 10.000. Simamora B. Cetakan Keempat. Achmad. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. Makassar. Segmentasi. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. dan Emmy KM. 12. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. Kepuasan Pelanggan.17%). Kartajaya H. 3 September 2009 161 . 2. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris.Jakarta. Foley RL. Kuntjoro T. Gramedia.000. Jakarta. 2005. Soebroto T. 2005. Soejitno S. dan Nusyirwan MS. Mangopo SD. and Bitner MJ.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500. Soenarto S. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. 2004. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. segmen II sebanyak 25 orang (21.00 per tahun. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia.000.Rp2. Makassar. dan Joh S. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. KEPUSTAKAAN 1.000.000.00 Rp750. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. 2003. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 2001. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Kotler P. dan Liu S. Integrating Costumer Focus across the Firm. Penerbit PT. 11. Kasali R. Solo. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 12. 2005. Positioning. Gramedia Pustaka Utama. 9. Hasnah. Targeting. 2008. Vol. Jakarta. 7. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. 2006. Sains Kesehatan. 2000.14 (1).00 . Jakarta.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. Toto Suprapto. 3. Setiadi JN. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. 2006. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Anonimous. Prenada Media. Huan HD.74%). 2000.000. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26. Zeithelm VA. Second Edition. 8. Jakarta. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Jakarta. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Rethinking Marketing. Membidik Pasar Indonesia. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan.

Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam. retribution exemption. Halaman 162 . Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. Rustamaji2. number of visits of the patients. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. Secara kualitatif.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern. Sampling secara cluster. Kata Kunci : Puskesmas. laporan kunjungan (LB4). analytical survey method and cross sectional design. Artinya. July and August). prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. dkk. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. 03 September 2009 Nurliyasman. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). 12. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Data yang diperoleh ditabulasi. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. 2006. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif.05). Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. No. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan 2007.1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. Vol. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. pembebasan retribusi pasien.. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. 3 September 2009 . The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Juli. Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. FK UGM. Keywords: health centers. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. dengan rancangan cross sectional study. Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget.. Agustus).

044.9% dan 4. dan Gudang Farmasi.315 jiwa tahun 2007. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri.7%. tanpa kecuali. 3 September 2009 163 . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas.960.220. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. dan tahun 2006 sebanyak 713.7%.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman. yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam.000. Dengan sendirinya. 2006 dan 2007). Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan. Kepala Puskesmas.223. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007.514. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. serta tahun 2005 sebanyak 681. pedagang. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. dan Agustus. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat.550.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh.500. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6. tahun 2006 sebesar 6.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. jumlah obat yang diresepkan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran. No. pegawai swasta. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan.2 Berdasarkan uraian di atas. Vol.394. Juli. tahun 2006 sebesar Rp1. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. dan lain-lainnya. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005. Jumlah penduduk 724. jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006.7%. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan. kerja di sektor informal. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional.443.6%. Pengelola Obat Puskesmas. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. terutama dalam hal kesehatan.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18. 12. Data yang diperoleh ditabulasi. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO).586 jiwa. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan.1% dan tahun 2005 sebesar 5. serta pengangguran.

terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas. Artinya. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD.7 2005 1. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas.279. pada tahun 2007 malah paling rendah. Vol.9 5.6 4.Nurliyasman.803.857. 2. Tabel 1. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.472. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005.000 Rp 216.7 6. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005.039.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .084 Rp 175.897 Rp 529. Gambar 1. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.253.276 Rp 6.410 Rp 12.7 18. Perbandingan Anggaran Obat.115. Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.307 Rp 2. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1.943 Rp 32.762. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat.514. No. 20.297 Rp 746.223.500 Rp 120.394.. 12. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan..916 4.035. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi.485 Rp 35. 3 September 2009 . Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006. dkk.550. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.925 353. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.395.443 Rp 5.1 *) Angka dalam ribuan rupiah.566. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005.787 6.

karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh.213 11.103 14. 12.267 34. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005.317 40.088 3. Jumlahnya saja sedikit berbeda. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2. penyakit kulit. hipertensi dan seterusnya. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya.705 31. penyakit lain saluran napas atas.566 31. penyakit kulit. No. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada.098 391. diare.800 22.344 21. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. berkas tidak ada lagi. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%. 3.362 22. penyakit lain saluran pernapasan atas.870 69. 3 September 2009 165 . ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas.100 15. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya.390 26.693 123.541 7.705 13. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut.097 12.371 24.161 29.572 55.521 17. hipertensi.913 14. dan seterusnya.080 22.066 6.428 216. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1.845 29.702 22. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005. sedikit Tabel 3. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya.809 43.100 13.525 19. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2. diare.916 33.412 5. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%.

0% Puskesmas VIII 3.2% Puskesmas V 4.2% 4. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya.4% Puskesmas VI 3. Tabel 5. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil.3% Puskesmas VII 4.1*% * uji t berpasangan p < 0. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.3% 94.5% Puskesmas VI 97.3% 5. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5.8% 94. Berarti b.0% 5. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas VII 95. ada sedikit perubahan urutan. 4. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8% 94.4% 4.87%. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.6% Puskesmas III 94.Nurliyasman. Tabel 4.9% 94..1% 5. dkk. No.6% Puskesmas IV 4. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik.05 Setelah 95. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut.5% 5.8% Rata-rata 4.05 c.7% Puskesmas II 3.6% 93. Vol.3% Puskesmas IV 96. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas.7% 94. 3 September 2009 .4% 94.7% Puskesmas VIII 97.0% 5.1% Puskesmas III 5.. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis.3% 95. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4.7% 5. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien.7*% Gambar 2. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep. a.0% Puskesmas V 95.0% * uji t berpasangan p < 0. 12.0% Rata-rata 96. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% .0% 5.9% Puskesmas II 96.

jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. Tabel 6. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis.7% 52. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54.4% 31. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% . Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat. 2006 dan 2007. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi.01 Setelah 53. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000.3% 44. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4.8% Puskesmas IV 48.0% 49.7%.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut. sedangkan program kesehatan lebih abstrak.3% Puskesmas V 39. pada waktu pembebasan retribusi. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD.3% 26. Namun.4% tahun 2002. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6. 12. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya.3% Puskesmas II 60.4% dan maksimum 7%. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep. 3 September 2009 167 .5% Rata-rata 49.4%.5% . Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% .7% Puskesmas VI 44. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama.7%. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0.4% * uji t berpasangan p < 0. Jadi. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun.3% 46.8% 49.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas VII 49. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi.1% dan tahun 2005 sebesar 5.7%. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat. dana kesehatan berkisar antara 2. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam.3% 45. No. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini. Vol.7% Puskesmas VIII 46. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam.6%. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak. tahun 2006 sebesar 6. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi.7% Puskesmas III 51. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja. Setelah berjalan satu tahun.7%.9% dan tahun 2006 sebesar 4.

pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan.267. Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam.. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau.00 jika kunjungan naik 50%. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006. No. preventif perorangan seperti imunisasi. kualitas pelayanannya juga meningkat.966. Sebagai koreksi.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b.896. Vol. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif.628 pasien adalah 3. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9. Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a.00. timbul masalah.152. Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak.267. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.000. Hasil perkiraan yang diperoleh. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus.7 X + 7E+07 (Gambar 2b). Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS). Pengalaman beberapa negara.6 miliar rupiah. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya.872.000 pasien. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . tapi kebanyakan kurang puas. 2009 dan seterusnya. dkk. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan. 12.600. Penelitian terdahulu oleh Elfian9.00. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368. Masyarakat 70% . Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat. seperti Central African Republic.000. yakni 588. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2.600. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. (Gambar 2a).. yaitu insentif yang keliru. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF). 3 September 2009 .Nurliyasman.000.8 miliar rupiah.000. Dari persamaan tersebut. Inggris dengan National Health Service (NHS).00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Maka tahun 2007. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9. Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612.00. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan.584. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588.000.267.600.134. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. dengan pelayanan gratis. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit.000 pasien.168.00 .

Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. maupun Dinas Kesehatan. sebaiknya harus bayar. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. terutama yang memerlukan tindakan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 169 . Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. seperti tidak semua gratis. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. Pola peresepan yang relatif tetap ini. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. secara umum tidak berubah. dengan tarif tidak terlalu tinggi. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. No. Akibatnya. Jamsostek atau lainnya. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. jika bisa dibatasi. rongga mulut. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. asal-asalan. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. 12. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. diare. terutama Puskesmas. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. bagi yang kaya. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. karena sudah bekerja ekstra. tidak akan terlalu membebani anggaran. yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. Mungkin. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. dan penyakit kulit. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja.

8.Nurliyasman. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. Republik Indonesia. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Yogyakarta. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. dkk. KEPUSTAKAAN 1. Kebijakan. Jakarta. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .2007. Gudang Farmasi Kota Batam. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. 5. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. 9. Vol. 2006. Elfian.2000. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Dinas Kesehatan Kota Batam.1998. Tesis Program Pasca Sarjana. Health Economics and Drugs DAP Series No. World Health Organization. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. Suryawati S. 6. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. 8. 2004. Batam. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. Yogyakarta. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. 12. 3 September 2009 . Trisnantoro L. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. Murti B. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar. Universitas Gadjah Mada.1999. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.. 2. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. 7.. Geneva. 1992. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tesis Program Pasca Sarjana. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Puskesmas se-Kota Batam. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. 2007. Dinas Kesehatan Kota Batam. Penerbit Kanisius. Geneva. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Gadjah Mada University Press. World Health Organisation. 3. Yogyakarta. 4. No. Rachmat HH. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. 2005. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. Hartati.

Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis. 3 September 2009 . ekonomi. dimanapun mereka bertugas. mengembangkan pertanyaan. menganalisis data. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. Swayne. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan.unud.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. kemajuan bioengenering. Vol.com atau januraga@sph. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis.januraga@gmail. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. 12.ac. Peter M. dan mengelola strategi momentum. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. No. Dari sudut pandang penulis. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. Midwest Medical Group. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan. segala sesuatu terus berubah. masalah keterbatasan akses. strategic planning. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. Untuk itu. W. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Selamat membaca. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. termasuk sektor pelayanan kesehatan. dan mengembangkan ide-ide baru. perencanaan. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). Melalui manajemen perencanaan strategis. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. dan pengelolaan dimulai kembali. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. dan Riverview the HMA Facility. Jack Duncan. Pada akhirnya. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. masalah mutu layanan.

melaksanakan. SK Dirjen Perhubungan Udara.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin.pasal 322). dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. mungkin sama dengan yang penulis maksud. Permenhub. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Vol. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009. No. Oleh karena itu. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3. 3 September 2009 . Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. 15/1992 tentang Penerbangan. 12/ No. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. 2/Juni/2009. dan seterusnya. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . 12. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sepengetahuan saya bahwa UU No. mengevaluasi.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. menyeluruh. Peraturan Pemerintah. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. Civil Aviation Safety Regulation).

Diakses pada 14 Februari 2007. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Alli BO. Jakarta. Cetakan Ke 2.2004. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. com/index. 4. 12. Tersedia dalam http://news. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. KEPUSTAKAAN 1. Geneva. penyakit akibat kerja. Jakarta. 3 September 2009 173 .vokezone. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3. 3. 2002. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. 2. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. Mulijadi H. Permenaker RI No. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. No. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. peledakan. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. kebakaran. International Labor Office. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel.2001. Vol. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. First Published. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. 05/1996. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. Rudiyanto. Keselamatan Penerbangan. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful