Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

No. termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Kenyataan memang sudah terjadi.com). UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat.. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang. Oleh karena itu.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional . Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. Vol. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional.. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia. 3 September 2009 . diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro. Kerapuhan ketiga. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas. Kerapuhan kedua. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. trisnantoro@yahoo. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. 12. Aspek ini sangat politis. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh.

119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Thus health sector is not an exception in this case. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. Khusus di sektor perumahsakitan. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. terjangkau dan berkualitas. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. Pada rentang waktu itu pula. Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan. Keywords: government political development. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service. tak terkecualikan. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah.14. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP).15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT. 12. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Rumah Sakit Haji. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. termasuk di sektor kesehatan. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 3 September 2009 115 . No. hal ini terjadi pula di Indonesia.13. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . Vol. Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Universitas Indonesia. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality.

Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin.A. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang..4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian. Vol..3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. Di lain pihak. maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru. 3 September 2009 . sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. Sebagai contoh. teori ketergantungan. masing-masing: teori modernisasi. Teori kedua. dan toleransi. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut. pemerintahan konstitusi. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan. No. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”.means of changing relationship between the government and private sector”. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya.. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. seperti persamaan hak. Kay dan D. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. 12. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). Oleh karenanya. John D. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . dan teori alternatif. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah.. aturan hukum. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J.”5 Pada praktiknya. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme.J. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. teori liberal. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu.

sekolah. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. jika pemimpin melakukan kesalahan. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global. terutama dalam hal investasi. dan lain-lain. Telkom. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. Pada definisi ini. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. Jackson dan Catherine M. No. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta. adalah penjualan saham persero. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system). seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi. Vol. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . seperti rumah sakit. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta.. tambang timah. Ross Mcleod. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. profit sharing. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. Belum lagi daya saing. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan.”. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini. angkutan udara. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris.5 Di Indonesia. sebagaimana ungkapan Peter M.6 Sebagai sebuah kebijakan. Selain itu. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. seperti di Inggris. seperti penanganan sampah.9 Dengan peningkatan kinerja. Ketiga. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. Berikutnya. 3 September 2009 117 . dan lainnya. jalan tol. angkutan umum. dan perumahan. yang memfokuskan pada pelayanan publik. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. Dalam banyak kasus. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Antara lain. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. 12. proses rekrutmen.. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. Kedua. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini.

. Pada tahun 1993. di Filipina sekitar 50%. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan .. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. Pada banyak negara. No. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi. Korea. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. di Korea 60%. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Filipina. 12. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Eid. F. Meski seolah terkesan pragmatis. Atas dasar itu. Vol. 3 September 2009 . Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. meningkatkan profesionalisme. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi. di Indonesia 65%.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. keuangan dan penetapan standar pelayanan. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. Di India dan Thailand. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya.

Diakses pada 18 April 2007. No. London. USA. 1996:163 12. Carporaso dan David P. Carol Baker. Ross Mcleod. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. PENUTUP Pada banyak negara. Jakarta. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. 1997. Revrisond Baswir. Diakses pada tanggal 18 April 2008. 12. state and society. 2006. Hasbullah T. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. 19. 5. Vol.9.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. 3 September 2009 119 . UK. Tommy Legowo. Bahaya Globalisasi Neoliberal. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. http://www. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.all. Willam Newbrander. Private Health Sector Growth in Asia. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society).XXIII(1):6. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. Theories of Political Economy. the American University of Beirut). John Willey & sons Press. UU No. 2. 9. The Health Care Policy Process. 2000. Private interest and public good. Jakarta. http://www. Samuel Huntington. Maret 2005.3.Bab. Caporaso and David P.10.kompas. KEPUSTAKAAN 1. dan berkualitas. et. the self regulating market. 2002:10. Jakarta. 16-18. Florence Eid.96:18-32. htm. Analisis CSIS. Grafiti.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. akuntabilitas. Levine. Gelombang Demokratisasi Ketiga. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. Sage Publications Ltd. Syamsul Hadi. Safri Nugraha.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. 20 6. 8. J. Cambridge University Press. 1992: 31.A Kay & D. 1986. 3. 4. dan kewajaran. 1. James A.eastasia forum. Republika Senin 8 Desember 2003 7. kemandirian. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. pertanggungjawaban. Granit.J Thompson. 2004:8. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata. 10. politics a place to act”. Issues and Implication. 1994. terjangkau. London. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. 11.

008.256-84.015. and interview guide.607.407. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives. maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. CI 95% = 1.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room. 95%CI = 1. Study instruments were questionnaire. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.8%).348).129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹.5% and fourth visit coverage was 77. PR = 2. Analisis data menggunakan analisis univariat. kepuasan pelanggan. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. improvement should be made.032. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA.017. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care. there was no difference in finance performance in both CHCs. PR = 4. therefore.724). Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. p = 0. p = 0. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan.624). patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6.082-18.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. These show that maternal and child health care performance is not optimal. Djaswadi Dasuki². p = 0. PR = 8. 95%CI = 1. Instrumen menggunakan kuesioner. dkk. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. p = 0.516.256-84. Based on the qualitative data. PR = 4.8%. CI 95% = 1. OR = 4.516. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia. CI 95% = 1.026. 95%CI = 1. bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi.789). checklist.002. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. FK UGM.0806. OR = 4. check list dan pedoman wawancara.032. FK UGM.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Qualitative data were used in this study.008. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. and learning and growth.662. p = 0. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care. Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang.. costumers’ satisfaction. 12. and patients’ satisfaction (χ2 = 4.935.015.935. OR = 2. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11. However. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4.624).667-9. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6.026. The subjects were the head of CHCs. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. 03 September 2009 Ernawati. Vol.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Kata kunci: balanced scorecard. Yogyakarta 3 CHN-RL. Method: This was an observational study with cross sectional study design. performance. CI 95% = 1. while standardized care was not related to antenatal care coverage. No. Halaman 120 . 95%CI = 1. internal business.407.5%) dan cakupan K4 (77. 3 September 2009 . Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.082-18.662. OR = 8. Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10. kinerja.667-9.002. p = 0. Keywords: balanced scorecard. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.789).607.017.080-6. and all pregnant mothers receiving forth visit care.76%).. namely finance. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District. p = 0. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5. p = 0.

Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. memotivasi pegawai.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi.3%). Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. lingkungan dan alat.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS). 12. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. Vol.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. 3 September 2009  121 . umpanbalik segera. Bila kinerja rendah. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. K4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah.9 Di samping itu. Selain itu.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. sesuai standar dan etika profesi.33%).6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. a. motivasi dan insentif. kepuasan pasien dan dana operasional.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. dengan variabel terikat cakupan antenatal. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. bisnis internal. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. standar pelayanan. memuaskan. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan. 1. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. perspektif customer. pelanggan. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan.8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. dan Ibu Hamil. balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86. dan keuangan. No. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan). check-list. dan kepuasan pasien.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. Bidan Penanggung Jawab KIA. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). kondisi wilayah dan status Puskesmas. pengetahuan dan keterampilan. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan.

65 ± 18.090 100 3. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. No. Tabel 2. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.804 (14.740 100 Realisasi Skor % 15.13 ± 1.804 14. d. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.67 53. Tabel 3.740.090 11.434 46. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%.840 100 297.33 33. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.000.54 ± 2.Ernawati.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49. Tabel 1.88%). Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3.30 b.. 3 September 2009 .810 100 334. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70.33 100 100 80. c.64 1.88 Skor : dalam satuan Rupiah (. Biaya Operasional Gambar 1.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71.280 33.. dkk.11 49. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . 12.03 33 98 62.50 38 98 2. Vol.92 67 85 72.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian.85 ± 16. (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

3 September 2009  . Diploma I 2.28 (33.56 (66. tekanan darah dan tinggi fundus uteri.40) 370 (25.52) 644 (100) 312 (48. 3.22) 1971 (26.33) 14 (46. Anamnesa 2.96) 36 (13.09(11.72 (88.67) 16 (53.50) 2208 (100) 1603 (72.04) 1012 (100) 532 (52. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.65 (53. Quality Assurance 4.99) 276 (100) 240 (86.56) 3. 3. Pemb.45) 332 (51. Vol.67) 26 (19.74) 98 (26. 2.21) 1354 (36.11) 264.67) 297. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.26) 368 (100) 270 (73. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.37) 2576 (100) 1919 (74.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.89) 334. No. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5.60) 1472 (100) 1102 (74.74 (100) 49.4 (46.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan. Imunisasi TT 5. Pemeriksaan umum 3. Diploma III 3.86) 7360 (100) 241 (32.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80.50) 605 (27. 2.14) 5389(73.01) 469 (29. Pemb.78) 3 1.81 (100) 33.64) 17.30) 40 (25) 40 (25) 12 (33. SPK 2. KIP-K 3. 12.09 (100) 15.80(14. 5.55) 3680 (100) 2326(63. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66.70) 92 (100) 86 (93. Fe 6.48) 6 (6.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.30) 31 (33.84 (100) 1. Pemeriksaan kebidanan luar 4. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33.63) 657 (25.80) 284.57) 480 (47.9 (85.43) 92 (100) 61 (66.33) 2. 4.

Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh.30 95.. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3... sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.807.625. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas ..” “. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu.. Vol.” “.” “.000..” “. Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp..” “.- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89. No.. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas.. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162. . apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4.61 54.. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang.1%.26 82.00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4.. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan.536.. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup.664 per ibu hamil... pemeriksaan umum dan pemberian Fe.. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas.640. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas..Rp....” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “. 12... tersaji pada Tabel 6.. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil).. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa.Ernawati.13 78.674 ibu hamil. Tabel 6.000.” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “. pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri. 7. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi.35 Tablet Fe 91. tekanan darah. itupun sebagian besar untuk transport saja. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T.. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal.000.. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas. tinggi fundus uteri. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami. 7. saya rasa sangat kecil sekali. dkk. imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya..00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko. 3 September 2009 . cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54.

Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5..935. PR = 4. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0. No..0806.114.08218. (Tabel 8). sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas . 4. p = 0.” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10.407 kali. p = 0.. 3 September 2009  125 . PR = 1. b.451-2.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi . Tabel 7.348). anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II. 95%CI = 0. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0... Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan . PR = 1. pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien... kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi. p = 0.026. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut .589).662.789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas. 95%CI = 0.256-84. 95%CI = 1.017. PR = 8. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. 95%CI = 1.” “.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6.. 95%CI = 1.032. baik (p = 0. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi.667-9.777..“ “. Vol. PR = 4..903).002. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan.724) dan kepuasan pasien (  ² = 4. p = 0..775.607.008.. 95%CI = 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri. PR = 2. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas.516.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7..118. 12.407.015.386-3.

Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73.. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda.589 Tabel 9.Rp2 juta per bulan yaitu 50%. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66.0) 23 (100.52) 39 (42..61) (42. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun.017 4. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.462-8.0) 92 (100. 2.48) 53 (57. sistem dan prosedur. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun.0) 16 (100.0) ² p PR (95%CI) 8 (1. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah.13 Tabel 8. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA.00) (80.394 0.Ernawati.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.0) 23 (100.789 4.67) 53 39 (57.082-18.0) 10 (100.87) 6 (26.925 (0.913-15.61) Standar (%) 6 (26.256-84.09) 13 (56. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1.67) (33.624 6.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi.008 1.09) 14 (60.0) 92 (100.91) 9 (39. PEMBAHASAN 1.25) 16 14 (53.0) ² p PR (95%CI) 5.33) (46.75) (31.935 0.91) 10 (43.00) 11 5 (68. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).312 1. No.39) Total (%) 36 (100.036 3. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil. dkk.662 0.33) 2 8 (20. (Tabel 9). 12.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun. Vol.407 (1. hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.13) 17 (73.39) Total (%) 23 (100.683 (0. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta. 3 September 2009 . Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.0) 30 (100.0) 23 (100.023 0.

Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. serta jasa yang konstan. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. No. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani.20 5.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. 3 September 2009  127 . hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 .15 menit. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. 12. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. peningkatan teknologi dan informasi. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. Vol. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia. biaya. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas.15 3. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. merujuk secara medik. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil.17 4. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 . Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan berkualitas pelayanan.18 bahwa sebanyak 1. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah.

The Lancet. Surabaya. serta meningkatkan pelayanan.I.2(8)June:1-11 9. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. 7. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. Salemba Empat. Langer A. Geneva. & Voltero L. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. 2001:1551-64. 1999. Yogyakarta. “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. dan Solichin. Donner A. 12. Berendes H. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. Jakarta. Vol. 1998. Modul Ajar Safe Motherhood. Wilopo SA.I. Nigenda G. Bergsjo P. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. Hutton G. Avalaible on: http/ www. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. Jakarta. Berita Kedokteran Masyarakat.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. 2003: 58-62. Diakses pada 15 Maret 2006. 1997. Wijono Djoko. Jakarta. Belizan MJ. Mulyadi.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). Modul Ajar Safe Motherhood. Farnot U. Almazrou. 12. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Departemen Kesehatan R. FoxRushby J. Carroli G. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup. Ba’aqeel H. Abdurrauf.2001. KEPUSTAKAAN 1.int 2. Tesis. 6. Departemen Kesehatan R. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.2000. 1996. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. dkk. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan.I. Dasuki D. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran.22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. 3. WHO. NHA Producers Guide. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Dalam menilai kinerja organisasi.who. 2000. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal.go. ia harus didukung dengan faktor non-financial. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah.Ernawati. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. World Health Organization. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. memperbaharui. Departemen Kesehatan R. Piaggio G. Fort AL. Kurniawati L.. Yogyakarta.XIII:16-20. 5. Universitas Gadjah Mada. Bakketeig L.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . 8. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. 2002. Journal of Bio Med Central. Departemen Kesehatan R. Lumbiganon.I. C. Hakimi M. Airlangga University Press. UGM. Pinol A. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. 3 September 2009 . 4. 10. 11. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard.. 1997. Villar J. Mugford M. Mulyadi. No. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan.id/. P. Jakarta. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien. http:// depkes. 2004.

Edisi Ketiga. Wahab A. An Agenda For Research. St Louis Missouri. Rosi Robin L. Pengantar Administrasi Kesehatan.1996. dan Norton David P. Lau C. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Workshop Akuntansi Manajemen. A. Sasongko N. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance.1996b. Hakimi M. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. M. Pengantar Administrasi Kesehatan. CHNRL Faculty of Medicine. Mayer T. Vol. Bina Putra.XIII:16-20.L. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care.2000. 1997. Azwar A. Dasuki D. Florida USA. 1997. Journal of Busness dan Industrial Marketing. 21. Cates RJ. Measurement Financial. 15. 20. 3 September 2009  129 . Yogyakarta. Kaplan RS. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill. Jakarta. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective). 14.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13. D. Jakarta. Journal of Health Care Marketing..1998. Rust Roland T. Mosby Year Book. J. Parasuraman A . Journal of Health Care Management. and Siemanski Beth Ann. Harvard Business School Press. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. 17. Batalden Paul. Ghufron A. Berita Kedokteran Masyarakat. No. Zahorik Antoni. Mastorovich. 12. 18. 22.1998. Gadjah Mada University. Customer Service In Business to Business Market. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo.43(5): 427 – 40. Boston. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. University of Miami.13 (4/5): 309-21. Hakimi M. Azwar A.1997. Edisi Ketiga. Solichin M. 12 (4): 6-13. Nelson EC. Second Edition. Kurniawati L.2005. Bina Putra. Non Finansial Perspektif.1992. Green E. Wilopo SA. 23. 19. and Royalty.1996. Katz JM. 16.

Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). FKM Universitas Sumatera Utara. registered enterprises in the employment accident benefit program. UGM. Method: The type of this research is survey research.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. II. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan.14%) in 5th element. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja. 3 September 2009 . Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. Suma’mur. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74. Soebijanto2.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% . IV. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. dkk. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. F-test result showed a significant difference (p < 0. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Halaman 130 .01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. No.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria. The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57.87% from 5th element maximum score).36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3.85%) of 3rd principle. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan.K.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% . 03 September 2009 Gerry Silaban.60% dan 2 (3.84% dari 166 kriteria audit SMK3. 12. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement. III.139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1. Result: A number of 53 (96.. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No. Vol. F-test result showed a significant difference (p < 0. Hasil: Sebanyak 53 (96. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. Keywords: industrial accident. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate. Adi Heru Soetomo2. P. Kata kunci: kecelakaan kerja. Lientje Setyawati Maurits2.40% from 3rd principle maximum score). Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. 05/1996.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .

05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.250 kasus. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari . sehingga tercapai tujuan. 5. jenis standar K3 berbeda. penyakit akibat kerja. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”.K.958 kasus. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. dan tahun 2005 sebanyak 1. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif). 331 kasus.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. tahun 2004 sebanyak 2. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I. Vol. kebakaran. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3.3 Selain itu.06%) dari 1. 118 kasus. II. 3 September 2009 131 . tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. III.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan.759 kasus.10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. peledakan. Selain itu. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. 564 kasus. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. dan 207 kasus. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. 12. No.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil. Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3.759 kasus. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3.6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana. IV. audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3.31 Desember 2005).7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen. yaitu tahun 2003 sebanyak 3. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus.

. kecelakaan kerja. perawatan. prosedur identifikasi bahaya. penggilingan (remilling) karet. pabrik barang-barang dari logam. kecelakaan kerja. observasi. pengendalian catatan. dan pabrik plastik. Vol. pelatihan. dan 1. 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. TS (Tidak Sesuai). desain. unsur 6(40 kriteria). penanganan bahan berbahaya dan beracun). produk setengah jadi. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. investigasi. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. diskripsi pekerjaan). penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). Unsur 7 (15 kriteria). 2. Do. dengan rerata sebesar 304 atau 45. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). prosedur tanggap darurat. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). tujuan dan sasaran K3. seleksi dan evaluasi vendor. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. penyakit akibat kerja. dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. Dalam penerapan SMK3. struktur organisasi perusahaan. setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pabrik minuman dari alkohol. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). profil perusahaan. pabrik minuman. pabrik kimia lainnya (lilin. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. perusahaan penggergajian kayu. unsur 5 (7 kriteria). dan penyakit akibat kerja). pemantauan kesehatan. Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. pabrik keperluan kaki. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. penggilingan (remiling) karet. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. struktur P2K3. pembelian. penggergajian kayu. dan pemantauan lingkungan kerja). prosedur komunikasi dan konsultasi.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. prosedur rapat tinjauan manajemen. No. SE (Sesuai).Gerry Silaban. perusahaan air. Improvement (PDCI). Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. prosedur operasional (mencakup izin kerja. industri-industri lain. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. obat nyamuk bakar dan cair). Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. 3 September 2009 . industri minyak kelapa sawit. inspeksi. 12. rekrutmen. dan proses audit SMK3. hampir celaka. Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. Check. dkk. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. 3. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. dan hotel. pabrik kimia lainnya.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). pabrik barangbarang dari logam. dan wawancara dengan tenaga kerja. rumah makan dan minuman.. Unsur 4 (7 kriteria). perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. ruang lingkup. pabrik keperluan kaki. dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. Setelah itu. prosedur audit internal. prosedur insiden. pengendalian dokumen.

12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76. 7 perusahaan (12.84% dari 166 kriteria audit SMK3.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% . Vol. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 .74%) untuk unsur 12. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh. 1 perusahaan (1. 9 perusahaan (16. pendidikan. mengukur dan mengendalikan risiko. alat. 12. Terdapat hanya 2 (3.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92.91%) untuk unsur 6. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. dan 8 perusahaan (8. 11 perusahaan (20.00%) untuk unsur 9. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .82%) untuk unsur 11. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). 11 perusahaan (20. 12 perusahaan (21.36%) untuk unsur 4. 31 perusahaan (56.64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% .17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang.73%) untuk unsur 3.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3.46%) untuk unsur 2. penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan.82%) untuk unsur 8.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan. dan 7 perusahaan (12. 1 perusahaan (1.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% . komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4. dan perilaku pekerja14. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 . pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya.100% dari 166 kriteria audit SMK3.61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam.19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7. kinerja penerapan SMK3 rendah. Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan.560 atau memenuhi 100 .84% dari 166 kriteria audit SMK3.82%) untuk unsur 10. sedangkan 53 (96.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.27%) untuk unsur 1.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70. tidak mampu berkompetisi. 17 perusahaan (30.04% dari 166 kriteria). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. perlengkapan.36%) untuk unsur 5.60% dari 166 kriteria audit SMK3. 3 September 2009 133 . No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 . terendah sebanyak 6 kriteria (3. 3 perusahaan (5. Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% .24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli.00%) untuk unsur 7. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko. instalasi.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman.74% pada industri tekstil.

26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari.38%) dari 26 kriteria prinsip 4. unsur 4. unsur 9. unsur 2. melibatkan tenaga kerja secara aktif.14%) dari 28 kriteria prinsip 1. membuat kebijakan dan program K3. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis.65% 35.86% 57..38% 42. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial.unsur 7. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja.96 (74.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. unsur 10.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . No.22 27. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. unsur 3. dkk. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. peralatan. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20. tenaga profesional.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3.84 4.96 92. prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7..23 Di samping itu. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan.47 12.86 11. kompetensi. unsur 1. atau memakai alat pelindung diri. pekerja berperilaku aman. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum. unsur 8.38 13. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi.88% 42.56%) dari 18 kriteria prinsip 2.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya.07% 43.Gerry Silaban.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34.84% 44. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. 3 September 2009 . dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3.27 22.68% 74. unsur 12.29% 26.61% 47.51 20.18 28. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja.86% dari skor maksimum unsur 5).82 11.27% 34. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman.56 20.60% 46. 12.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.81%) dari 27 kriteria prinsip 5. dan unsur 11. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14.85%) dari 67 kriteria prinsip 3. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15. Vol.

No.17% (tertinggi). 3. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. 3 September 2009 135 . Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. Selain itu.62 47. 2. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. kontinu. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas.38 25. prinsip 2. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.27% 35. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja.62%.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.18% 55. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik.47 (55. 5.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5.47 44.8%. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman.40% dari skor maksimum). Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur.33 148.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46. memantau.40% 42. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3.31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3.90% 43. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51. kualitas produk. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja. dan prinsip 1. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate).82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%. 6. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif. prinsip 4. keselamatan. di samping pemasaran dan finansial. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. dan berkelanjutan. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2. Vol. 4.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34. 12. kesehatan dan lingkungan kerja.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif.

listrik). No. mekanik. Personel K3 yang mempunyai tugas. Fasilitas K3: alat pelindung diri. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. rambu dan tanda keselamatan kerja. kegiatan K3. P3K. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. confined space). alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. kimia). manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. alat pemadam api. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. instruksi tanggap darurat). uap dan bejana tekan. 2. crane). dkk. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. kebakaran. manajemen. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja. fungsi. 05/1996. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja. konstruksi. dan juru las.. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. kebijakan K3 perusahaan. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. ahli higiene industri. operator (pesawat uap.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. radiasi.33 Kebijakan Permenaker No. instalasi dan bahan berbahaya. instruksi kerja. paramedis (perawat) perusahaan. 05/1996. tempat pelatihan K3.Gerry Silaban. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. alat. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . alat dan sistem tanda bahaya. Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. 12. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No. Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. 3. 3 September 2009 . serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali.. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. 5. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. dokter perusahaan. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Organisasi K3 ini bertugas: a. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. Vol. dan laporan hasil audit internal SMK3. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. teknisi (lift. petugas P3K. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. 4.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. konsisten dan berkesinambungan. petugas K3 (kimia. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pelayanan kesehatan kerja). Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. pintu dan tangga darurat. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. konstruksi.

PT Jamsostek. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara.2003. 6. Oleh karena itu.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. Kanwil I PT Jamsostek. 3. XXXVI(2) April-Juni. J. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0.2006. Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek. Medan. KEPUSTAKAAN 1. 1988. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). Perusahaan Jasa K3. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja. 20(1): 67-85. Jakarta.2003. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Accident Anal Prev. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo.2002. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. No. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Jakarta. PT Sucofindo. Rudiyanto. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. Suokas. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Ichsan S.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. Balai K3. Vol.Medan. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. 3 September 2009 137 . 7. Ichsan S. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 .01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. 12. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3. Siswati M. 5. Dengan demikian. Suma’mur PK. and Improvement (PDCI). Do. Balitbanginfo Depnakertrans RI. Di samping itu. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi. organisasi profesi K3. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. Jakarta. XXXVI(2) AprilJuni. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya.2003. 2004.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.2005. 2. Check. 4. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). kebijakan Permenaker No. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.

XXXVI(3) JuliSeptember. Vol.2002.2001.. Tesis. Working Paper 14. and R. Vol. 44: 137-56. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. Geneva. Jakarta. 27. OSHA: Employee Workplace Rights.2003. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Theoritical Principles of Job Safety. Tesis. 8. 15. Peters RH. The Accident Causation Model. 26. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Inspections and Investigations. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Hopkins A. Saari J. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. International Labour Office. Tesis. 22: 53-70. 14. Novianto R. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).M1) 21. Yogyakarta. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Program Magister Teknologi Manajemen.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1. Takala. Subekti A. 13. Occup Hazards. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. Global Estimates of Occupational Accidents. II. Yogyakarta. Vol. and K. 28. Fourth Edition. In: Ch. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000).2004. Geneva. 10. 2006. 1991. Safety Culture and Management. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. Tesis. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. International Labour Office. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. No. 18. Canberra. Systematic Management of Occupational Health and Safety. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. Alli BO. 19. 3 September 2009 . Skiba R. Ramli S. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Fourth Edition. Simard M. International Labour Office. Hegney. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. J Occup Acc 12: 107-117. 23.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . 1998. Jakarta. Hansen L. Universitas Gadjah Mada. Frick K. Fourth Edition.Enhancing OccupationalSafetyand Health. 20. US Department of Labor. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. In: Ch. II.2008. 16. First Published. Widiastuti E. II.2002. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies. OSHA. 25. Taylor G. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. J Saf Res. K. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. 2004 (http:// books. 2005. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 24. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 22.google. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. Canberra.Gerry Silaban. 57 Audits.1998. dkk. Easter. Yogyakarta. Yuliani R.In: Ch. 1998. Vol. Jakarta. Safety Science. Working Paper 20. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit.2005. 1993. Tesis. 11. Hadi S. International Labor Office. Safety Culture. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. 59 Safety Policy and Leadership. Geneva. 2005. 2004. Surabaya. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Pamardiningsih Y. Hamalainen PJ. 29. Saarela. 55(9): 250.L. Depnakertrans RI. ITS.2006. 9.Beyond Commitment. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Manual SPS Paket Midi. Surabaya. Sugiyono. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Geneva. 12. Canberra. Groeneweg J. 2003. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. 12. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. 17.2003. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. Hadi S. 56 Accident Prevention. 2000. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Bluff L. Yogyakarta.

57 Audits. Malaysia. 12. and P. Geneva. 1998. 31. Linehan A. No. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. In: Ch. Anatagulnathi. International Labour Office.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. 33. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach.135-40. Inspections and Investigations. Journal Occupational Safety Health. Boca Raton. II. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 42. Vol. 3 September 2009 139 . Siriruttanapruk S. 5: 27-30. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30. Vol. 2004. Reese CD. 32. Fourth Edition.2003. Venkataraman N. Industrial Health. Safety Performance Factor. 2008.Lewis Publishers.

atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan.. dkk. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees. No. adanya tim kredensial yang obyektif. Keywords: physicians credentialing system.2. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. and good relationships among colleagues. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. which is based on the concept of professionalism. a process to grant clinical privilege. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals. 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. professionalism. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1. profesionalisme. 03 September 2009 Herkutanto. Oleh karena itu.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. perawat. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Every FGD was attended by 10-20 participants. existence of objective credential team. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. sound relationship between credential team and hospital management.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. The expectations of participants are in line with the recommended credential system. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda. Dokter. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. The credentialing system. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. 12. Halaman 140 . aims to ensure the accountability. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. standardization of policy and credential instruments. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial. 3 September 2009 . dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.1..3. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). consisted of physicians and hospital management. and frequently are inadequately performed. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. Cipto Mangunkusumo. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system. Kata kunci : sistem kredensial dokter. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik. Vol. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. dan hubungan baik antar sejawat. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions.: Hambatan dan Harapan Sistem .

Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). Vol.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda. sedangkan di bidang terapeutik. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak. Dari 1. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama. komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%). jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity.179 di antaranya merupakan kelalaian medis.12.1. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). 12. bukan kedokteran.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja.10 Sama seperti negara lain. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?. Di masa mendatang di Indonesia. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien. Dari 98. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit.8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali. No. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%). Dengan demikian. Dalam proses ini. Di USA. 3 September 2009 141 . Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. Oleh karena itu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari.

Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. 3 September 2009 . dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. Apakah telah cukup ideal? b. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah.12 Sebelum FGD dilaksanakan. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. keterampilan. dan diminta persetujuan. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. Nama partisipan dirahasiakan. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. karena sering kali ditemukan false positive.: Hambatan dan Harapan Sistem . Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. 12. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Prinsipnya.. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. dkk. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. Pertanyaan disusun oleh para penulis. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal. Berdasarkan rekomendasi ini. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. dan profesionalisme kandidat. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. dan surat rekomendasi. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). yaitu kebutuhan proses monitoring. karakter. No.. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. Vol. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. transkrip akademis. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. Pada studi kualitatif. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. Selain itu. Tabel 1. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. sikap. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter.Herkutanto. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain.

Mengurangi subyektivitas b. tes untuk memotret pengetahuan. sikap. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif. Selain itu. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2.. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. Pada FGD di RS1 dan RS2. Kebutuhan monitoring a. Tujuan a. Proses rekredensial 2. Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c..” [dr X. Keselamatan pasien 1. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas. Penerimaan karyawan b. 12. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. Pada FGD di RS1. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. sungguh-sungguh bekerja. atau sering menggantikan praktik. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. karakter. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. hubungan kerja. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu. Periode uji coba b. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. No.1. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit. 3 September 2009 143 . dan profesionalisme 1.1. berpengaruh. Bijak. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. keterampilan. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial.4 Kebutuhan tim ideal a. Tabel 2.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial. wawancara. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. Selanjutnya. dan divalidasi oleh komite medis. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b.” [dr Y.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . Vol. dan netral. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. netral c. RS2] Terakhir. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. kayaknya kurang pas..

dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. Selain itu.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik.: Hambatan dan Harapan Sistem . rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). Dengan kurang berfungsinya komite medis. No. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Namun demikian. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. sehingga menimbulkan kecederaan. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium. peningkatan mutu profesi. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu. Sayangnya. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme. kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter.. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). dokter akan melalui proses rekredensial.Herkutanto. Dalam kontrak sosial tersebut. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). 12. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. Kedua.11 Fungsi kredensial. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit. Selain dokter tersebut. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. Ketiga. Secara periodik.15.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. dkk. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit. 3 September 2009 . Vol. Pertama.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal.. senantiasa terjaga dengan baik. Selama ini. Namun demikian.

No.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Namun demikian. Tiga proses inti kredensial Tabel 3. 21. 12. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial. 22. Vol. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. 3 September 2009 145 . studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. 21. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. 20 Namun saat ini. wawancara.20. Sebaliknya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau.

dan peer group. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia.Herkutanto. 12. The Doctor-Patient Relationship. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. Peterson LM. 7. Edinburgh. Jakarta. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Commitee on Hospital Care. Credentialing. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. WHO. 69:8. ME. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. Sydney. Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. and Peer Review. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence. 2008. 8. ADIS Health Science Press. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Herkutanto. Illinois. 2008. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. Jakarta. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. Pediatrics. Understanding Patient Safety. 16. Freeling P. Sebagai suatu studi kualitatif. Pearson Education. No. 11. Localio AR. O’Connor. 9. Geneva. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. Trent RDSU. 2006. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. 3 September 2009 . KEPUSTAKAAN 1. 2007.25(Juli):245-51. Luff D. 2003. Dengan demikian. Qualitative Research Analysis. Vol. Laird NM. white paper. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms. White Papers Mitra Bestari 2.. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. N Engl J Med. Forward Programme 2008-2009. 2005.. Joint Commission Resources.7:324(6)Feb:377-84. Tahka V. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. 110:414-8. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. Browne K. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. 5. The Way to Patient Safety. Jakarta. Leape LL. O’Neil PN. World Alliance For Patient Safety. Credential and Clinical Privileges. Valenza JA. 6. 2005. 3. 10. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Privileging. 2(1) Maret: 41-7. George LA. Hebert LE. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Brennan TA. 1991. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. 2008. Berg BL. Results of the Harvard Medical Practice Study II. Journal of Dental Education. USA. et al. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. 15. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. 14. Boston. Herkutanto. 2009. Wachter RM. 1991. E&S Livingstone Ltd. 4. Competency. 1967. Lawthers AG. N Engl J Med. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. Lacey A. Qualitative Research Methods for the Social Sciences.: Hambatan dan Harapan Sistem . 2004.49(3):256. Laird N. Localio AR. Wong LP. Lawthers AG. Sheffield. 12. 13. 2008. dkk. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. dengan keluaran berupa clinical appointment. Tabel 4. Barnes BA. Results of the Harvard Medical Practice Study III. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1984. The Patient Doctor Relationship. McGraw Hills. World Health Organization. Brennan TA. Singapore Med J. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. 2002. et al.

Professionalism and Medicine’s Social Contract. 2006. 22. Melbourne. Joint Commission International. 12. 2006. 3rd Edition. Freckelton. 23 (2): 229-42. 2007.82A:1189. Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. Indonesian Health Practitiones Regulation. 2005. Cruess RL. Jakarta. USA. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. Law in Context. Master of Laws Thesis. Herkutanto. Herkutanto. I. The Royal College of Physicians. 23. 21. 20. The Federation Press. Vol. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 2007. Special Edition: Regulating Health Practitioners. New South Wales. Johnston SE. 3 September 2009 147 . No. La Trobe University. 18. 2000. The Royal College of Physicians. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 19.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. Jakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Konsil Kedokteran Indonesia. Journal of Bone and Joint Surgery. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. 2004. Cruess SR.18.

Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems.9%. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. angka gondok total (TGR) sebesar 22. Bubutan. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan.. advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan.. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). Tambak Wedi (Kenjeran). perawatan medis. Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. society and health staff factors. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1.9%. memiliki berat 16. kuratif dan rehabilitatif strategi. Conclusion: The recommendation as follow promotive. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. planning. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. 3 September 2009 . diet counseling. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. preventive. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. Romokalisari (Benowo). Primary Health Center staff. the Total Goiter Rate (TGR) 22. No. Kedung Cowek (Bulak). done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. Result: The result show many faktor.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. organizing and actualization. Tambak Oso Wliangun. higher than normative value (less than 5%). Coordinating and evaluating the programme. the society in severely iodinedeficiency. low health staff motivation to run the program etc. 03 September 2009 Oktarina. such as social economic factors from the society. Koordinasi dan mengevaluasi program. pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia. integrated management planning. nutrition and food awareness area. improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. by socialization.Cantikan). This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. serta staf kesehatan. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. Cantikan). pengorganisasian. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. Sidotopo Wetan. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. The recent study at Surabaya City. Anemia. Kekurangan Vitamin A (KVA). Sidotopo Wetan. has 16. staf Pusat Kesehatan Primer. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. dkk. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. Nyamplungan (P. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). perencanaan. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. Kedung Cowek ( Bulak). preventif. dan GAKI.93% dari kekurangan iodium-desa. Perak Utara. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. Vol. Perak Utara. medical treatment. Nyamplungan (P. Di Indonesia. curative and rehabilitative strategy. kesadaran gizi dan makanan daerah. pengorganisasian dan aktualisasi. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. and Bangkingan (Lakarsantri). Method: The purpose of this study was a descriptive type. Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Halaman 148 . Romokalisari (Benowo). 12. diet konseling. staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. dengan sosialisasi. Tambak Wedi (Kenjeran). perencanaan pengelolaan terpadu.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Tambak Oso Wliangun. as well as health staffs. organizing.93% of severely iodine-deficiency villages. The middle term and short programme of iodine-deficiency.

hati.6) 16 (36. imbalan. pelatihan. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi. Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya.5. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. serta meningkatkan sistem pengawasannya.96%).3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. No.65%. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. memacu proses metabolisme otak.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63. sikap.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16.6%).39%). L-thyroxine (T4) dan 3. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. pengetahuan.3-triodothyronine (T3).0) 27 (37. keterampilan. kehamilan. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah.1%). Vol.9%) mencapai 21%.0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan. diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4. bidan/ palpator. Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun. 3 September 2009 149 .6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium. biaya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. ginjal dan organ reproduksi. otot.1) 11 (37. paramedis) yang meliputi pendidikan.4) 44 (100) 46 (63.5. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 12. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63.51%). jantung. Tabel 1. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan. motivasi. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari.

Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang. kepala posisi biasa. Sidotopo Wetan dan Kenjeran. 1b. perilaku (kebiasaan sarapan pagi). (> 6m). Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. Vol. rata-rata TGR sebesar 12. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya).267 anak). III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.II.baru. 12. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. pemberian uang jajan. berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya... II. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. penilai. Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. dkk. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. dan Paramedis. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya. Puskesmas sebagai perencana. Pengambilan sampel secara multistage random sampling. No.11%. Terlihat dari jarak jauh Tertentu.93%.Oktarina.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2. Pelaksana Gizi. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya. Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2).37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). pelaksana. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a. Mulyorejo. 3 September 2009 . Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat. dengan rata-rata TGR sebesar 10. Gundih (Bubutan). Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba. Semeni (Benowo). Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13.

dan 2 Puskesmas kurang baik.93 16.64 8.88 11.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14.66%).95 15.2 6. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur). melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap.96 12.44 13. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan. pojok gizi (28.59 X: 10.50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.89 19.9 9. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik.16 17.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan.77 6.68%).94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29. ada 2 Puskesmas yang baik. terutama ketiadaan food model (42. Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28.81 7.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16. 3 September 2009 151 . 12. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya. dengan rata-rata TGR sebesar 38.33 9.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3.96 X: 12.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W.52%).8 Pengetahuan 1. Vol. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas. leaflet dan konseling garam beriodium.43%. sarana prasarana yang ada di Puskesmas.57 14.88 19.5 13.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2.24 17. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46.08 5.Gunung Bringin Sambikerep Mr.21 12.78 3 4. rata-rata TGR sebesar 24.3 Dari hasil penelitian. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test).7 10. 3 Puskesmas cukup.67 19. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.95 14. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.91 19. No.

01 31.58%). 3 September 2009 .42%). Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T. Selain itu.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57.34 57.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek. dkk. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik.3 X: 38. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .10 Kerja sama.94 27.14%).27%). No.59 25.12 23. Vol. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.89 31.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas.1 42. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable). Kurangnya koordinasi lintas program (42. pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14.73 24.35 21.89 32. kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%).95 23. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat. Tabel 4.93 21. dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan.57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42.44 X: 24. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.76 24.Oktarina.42%). Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya. ternyata sebagian besar (78. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P.29 25 25.62%).02 33.3 25.68 26.84 35.95 26.14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi.. 12.33 28. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64.34 40.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16. jadi belum sampai terlihat (visible). Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.29%).02 22. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29.62 25.95 21.. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba. serta sebagian besar (57.72%).37 48. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas.

sasaran palpasi gondok anak sekolah.5%). Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak.0%) untuk pendataan.5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat.0%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14.14%). serta ada 4 Puskesmas (57. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. a. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga. b. distribusi kapsul iodium.14%). 3 September 2009 153 . nilai cukup ada 2 Puskesmas (28. motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45.8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14. 12.12 2. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25.0%). No.5%). pembinaan terhadap pelaksana gizi.14%) dengan nilai kurang. sebanyak (39. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42. penyediaan data prevalensi GAKI (42. Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46. Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.000. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25.52%) 1 Puskesmas. baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. rencana kerja tahunan (57. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja.5%).50%) yang mempunyai nilai baik (>15).86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42. Pada penilaian.14%) terutama pada umpan balik.66%).42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium. kegiatan penilaian. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55. Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas.0%). Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program. Vol.57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup.00 (32.68%).52%) baik perencanaan programnya. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin. ada pembinaan.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan.12%) dan microplanning (42.0%). Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah).62%) dan yang nilai kurang (14. jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28.0%).5%). Penilaian. Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. ada kejelasan target.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44.

serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). Tinker A. pengobatan medis. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. pelaksana gizi. pelaksanaan.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini. pelaksanaan. Allen and B. sosial ekonomi yang rendah. pendistribusian kapsul iodium. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). protap diet. 1999. Population Reverence Bureau. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. KEPUSTAKAAN 1. Soegianto B. Akademi Gizi. dkk. 3. pengawasan dan pengendalian). Jakarta. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. imbalan. E Ransom. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. pelayanan kesehatan kepada individu. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. keluarga dan lingkungan. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. pelaksanaan kegiatan. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. pelaksana gizi.Oktarina. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. paramedis yang sudah terlatih). No. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. konseling garam beriodium. minilokarya. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. motivasi. memberika. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. palpasi gondok anak sekolah. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. penilaian. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. Selain itu. pojok gizi. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. 2002. Surabaya.. Vol. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. penilaian. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. palpasi gondok anak sekolah. Save The Children. Pendidikan yang rendah dari masyarakat. leaflet) di Puskesmas. Egli HE. 3 September 2009 . Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. penyediaan peta prevalensi gondok. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. De Benoist. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test.. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan. 2002 4. Anderson MB. Takkouche I. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. 2. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas).72%. 12.

Media Medika Indonesiana. Wisnu C. Surabaya. Health Care Manage Rev. 10. Jurnal GAKI Indonesia.2001. 3 September 2009 155 .8.2008. BPPE.1:10-12. Bagian Penerbitan STIE YKPN. 2000. 2003. Dolinsky A. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. 22 (2). Atmarita. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5:1-2: 28-34 12. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. Elimination of Iodine Deficiency. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Team Learning. 9. 6. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Surabaya. Yogyakarta. No. Semarang. Manajemen. Muhilal. 2003. Akademi Gizi. Handoko TH. Simamora H. IDD Newsletter. Kartono D. 33-40. Yogyakarta. Vol. 11. 12. Munfarida S. Supriyanto. 2002. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Sunarno RW. 2006. 43(01): 22-. Aspen Publiser Inc. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 2006. 1997. 8. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. 7. Manajemen Sumber Daya Manusia.

keuangan. segmentation. 12.. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. Halaman 156 . Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. substitution attendance.161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. and relationship between segment with partner companies or insurance. dkk. segmen II sebanyak 25 orang (21. dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. segment II consisting of 25 people (21. the interest of market segment. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics. Sukri Palutturi1. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. sistem informasi.74%). and segment III consisting of 60 people (52. jenis pelayanan. the number of closest competitors.17%).17%). 03 September 2009 Asiah Hamzah. Universitas Hasanuddin. SDM. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. No. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. alat dan teknologi kesehatan. market compartment.74%). Based on the interest of market segment. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. segmentasi.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. Keywords: target market. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. 2008. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar. segmen pasar yang terbentuk.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. Fakultas Kesehatan Masyarakat. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. geographical accessibility. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. manajemen organisasi. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Vol. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin.09%). 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served. 3 September 2009 . mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. Darmawansyah1. Kata Kunci: pasar sasaran. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan.09%). and labeled as health care maximize. Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Results: The result shows that based on customers’ characteristics.

12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. Oleh karena itu. Data yang terkumpul. Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. diikuti tingkat pendidikan SD (25. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. dan kebutuhan. geografis.5%). membidik satu atau dua segmen itu.6%. psikografis. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. Dengan demikian. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. Vol. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.173 kunjungan pada tahun 2004. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya. sarjana (13. serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit. 12. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian. SLTP (13. jumlah kunjungan. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008. Sebagian besar responden (59. sebagian besar (39. perilaku. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. sehingga perlu dilakukan penelitian ini.8%.9%).5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. jumlah penduduk. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS.9%). Tingkat pendidikan responden.1%) berpendidikan SLTA.9%. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1. dan tidak tamat SD sebanyak 7. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini. 2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik. 3 September 2009 157 .3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis.2%). Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . No. 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar.6%).1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2.7% dan 9. 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Rp2. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. dan Liu S. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. Services Marketing. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). Positioning. Sains Kesehatan.Jakarta. 2005. Gramedia. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. Second Edition. Achmad. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. 7.17%).000. Jakarta. Toto Suprapto. Tigor HS. Irwin McGraw-Hill. Foley RL. Jakarta. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. 9. Segmentasi. Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Kuntjoro T. 2003.09%). 2005. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. Targeting. 11. KEPUSTAKAAN 1. Soejitno S. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Analisis Multivariat Pemasaran. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . Rethinking Marketing. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Integrating Costumer Focus across the Firm.000. Zeithelm VA. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. dan Joh S. Yogyakarta. and Bitner MJ. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. 2. 2004.14 (1). segmen II sebanyak 25 orang (21. 2005. 3. Syam. No.00 . dan Nusyirwan MS. Kotler P. Makassar. 6.000. Vol. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. Kasali R. 5.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah.000. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer.2000. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Perilaku Konsumen. Huan HD. Kepuasan Pelanggan. 2008. Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta. Kartajaya H. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.00 per tahun. Anonimous. Mangopo SD. Simamora B. Gramedia Pustaka Utama. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. dan Emmy KM. 12. 2000. Soenarto S.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). 8. 2000. Prenada Media. Hasnah. PT Indeks. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Cetakan Keempat. 10.74%). Penerbit PT. Solo. Soebroto T.000.000. 3 September 2009 161 . Makassar. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. Setiadi JN. 12. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. 2006. 4. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. 2001. Jakarta. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500.00 Rp750. 08(01) Maret:11-8. 2006. Membidik Pasar Indonesia.

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget.05). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Vol. dengan rancangan cross sectional study. Data yang diperoleh ditabulasi. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Sampling secara cluster. Rustamaji2. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. analytical survey method and cross sectional design. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). No. 2006. 3 September 2009 . FK UGM. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni.. pembebasan retribusi pasien. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. Keywords: health centers. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. dkk. Halaman 162 . Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. 03 September 2009 Nurliyasman. Kata Kunci : Puskesmas. Agustus). prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. Artinya. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. dan 2007. Juli.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. retribution exemption. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. July and August). 12. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. Secara kualitatif. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. number of visits of the patients. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. laporan kunjungan (LB4). Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%..1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation.

jumlah obat yang diresepkan.550. dan Gudang Farmasi. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. tahun 2006 sebesar 6. pegawai swasta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tahun 2006 sebesar Rp1. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. dan lain-lainnya.223.220. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat.315 jiwa tahun 2007.000. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. pedagang. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas. Kepala Puskesmas. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. No. 3 September 2009 163 . Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007. 12.044. yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan.7%. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. serta pengangguran. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO). jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006.394. serta tahun 2005 sebanyak 681. Pengelola Obat Puskesmas. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005. terutama dalam hal kesehatan. Juli. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. Vol.1% dan tahun 2005 sebesar 5.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. Dengan sendirinya.7%.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. tanpa kecuali.514. kerja di sektor informal.500. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. dan Agustus.2 Berdasarkan uraian di atas. Data yang diperoleh ditabulasi.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1.960. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan.6%. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18.443. Jumlah penduduk 724. dan tahun 2006 sebanyak 713. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif.9% dan 4.586 jiwa.7%. 2006 dan 2007).

Perbandingan Anggaran Obat. 2.943 Rp 32.566.7 18. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005.787 6.. 12. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas.1 *) Angka dalam ribuan rupiah.857.2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005.514. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006.297 Rp 746.762.084 Rp 175.500 Rp 120. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.394. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005. 3 September 2009 . Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.550.035. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas. No.276 Rp 6.472. Vol.9 5.. pada tahun 2007 malah paling rendah.000 Rp 216.916 4.6 4. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya. Artinya.223.925 353.485 Rp 35.395. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.253.803.279.897 Rp 529. Gambar 1.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .307 Rp 2.115.443 Rp 5. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD.039.410 Rp 12. dkk. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi.Nurliyasman. 20. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.7 2005 1.7 6. Tabel 1. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat.

hipertensi. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh.800 22. penyakit kulit. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%.521 17. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi.161 29. 12. penyakit kulit. sedikit Tabel 3. No.097 12.100 13. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas.845 29.809 43. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005.705 31. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut.344 21. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam.916 33. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.317 40.100 15. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2. Jumlahnya saja sedikit berbeda.390 26. penyakit lain saluran napas atas. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1.088 3. 3.702 22. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005. dan seterusnya.412 5.870 69. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya.213 11.525 19.693 123.371 24.066 6. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi.080 22. penyakit lain saluran pernapasan atas. 3 September 2009 165 . 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15.098 391. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya.267 34.428 216. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2.566 31.572 55.913 14. hipertensi dan seterusnya.541 7.103 14. Vol. diare.362 22.705 13. berkas tidak ada lagi. diare.

9% 94.0% 5.0% Puskesmas V 95..0% 5.5% Puskesmas VI 97. ada sedikit perubahan urutan.3% Puskesmas IV 96..6% Puskesmas IV 4. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan.05 Setelah 95. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien.6% 93. 3 September 2009 .7% Puskesmas VIII 97.2% Puskesmas V 4. Tabel 5. Vol. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu.87%. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95.1% Puskesmas III 5.4% 94.0% Puskesmas VII 95.8% Rata-rata 4.0% 5. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .3% 95. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis.1% 5.9% Puskesmas II 96. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang.1*% * uji t berpasangan p < 0.2% 4.7*% Gambar 2. dkk.7% Puskesmas II 3. Tabel 4. 4. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4.8% 94. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep.0% Puskesmas VIII 3.8% 94.0% Rata-rata 96. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas. No. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Nurliyasman.4% 4.0% * uji t berpasangan p < 0. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.6% Puskesmas III 94. Berarti b. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil.3% 94.05 c. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. 12. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut. a.3% 5. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% .7% 5. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.3% Puskesmas VII 4.7% 94.5% 5. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain.4% Puskesmas VI 3. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.

dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18.7%. pada waktu pembebasan retribusi. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi.1% dan tahun 2005 sebesar 5.7% Puskesmas III 51.7% 52. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi. tahun 2006 sebesar 6. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam.4% * uji t berpasangan p < 0.3% 44. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. Jadi. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun.0% Puskesmas VII 49.7% Puskesmas VIII 46. No. Tabel 6.0% 49. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. 2006 dan 2007.7%. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000.7% Puskesmas VI 44. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut. mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak.9% dan tahun 2006 sebesar 4.5% Rata-rata 49.3% 46.3% Puskesmas II 60. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis. dana kesehatan berkisar antara 2.5% . Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas. 12. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% . Namun. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4.4% tahun 2002.3% Puskesmas V 39.7%. sedangkan program kesehatan lebih abstrak.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah.4% dan maksimum 7%.4% 31.8% Puskesmas IV 48. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya.8% 49. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru. Vol.3% 26.4%. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut.6%. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005. 3 September 2009 167 . Setelah berjalan satu tahun.01 Setelah 53. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi.3% 45.7%.

000. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif.267. kualitas pelayanannya juga meningkat. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3. Masyarakat 70% . Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612. dkk.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya. seperti Central African Republic. timbul masalah. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a.134. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus.8 miliar rupiah. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5.152. Dari persamaan tersebut. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan.628 pasien adalah 3. Vol. dengan pelayanan gratis.267. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b. Penelitian terdahulu oleh Elfian9. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit. No. Pengalaman beberapa negara. Maka tahun 2007. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..000. Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2.168.966. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya.267. Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS).000 pasien. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9. Inggris dengan National Health Service (NHS).Nurliyasman.584. (Gambar 2a).00.872. 3 September 2009 .: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . preventif perorangan seperti imunisasi.000. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF). Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006.00.00 jika kunjungan naik 50%. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391. 12.00 . Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan.6 miliar rupiah.00.000. yaitu insentif yang keliru. Sebagai koreksi. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588. yakni 588. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2. 2009 dan seterusnya. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam.7 X + 7E+07 (Gambar 2b).600. tapi kebanyakan kurang puas.. Hasil perkiraan yang diperoleh.000. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.600.896. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas.600.000 pasien.

serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. karena sudah bekerja ekstra. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. jika bisa dibatasi. dan penyakit kulit. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. seperti tidak semua gratis. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Akibatnya. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. Jamsostek atau lainnya. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. terutama Puskesmas. terutama yang memerlukan tindakan. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. secara umum tidak berubah. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. diare. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. asal-asalan. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. tidak akan terlalu membebani anggaran. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. rongga mulut. dengan tarif tidak terlalu tinggi. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. sebaiknya harus bayar. Pola peresepan yang relatif tetap ini.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. maupun Dinas Kesehatan. Mungkin. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. 3 September 2009 169 . yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. 12. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. No. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. bagi yang kaya. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. Vol. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien.

Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. Jakarta. Universitas Gadjah Mada. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. Murti B. Vol. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2006. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. Elfian. Dinas Kesehatan Kota Batam. Hartati. 4. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.2000. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. Rachmat HH. Puskesmas se-Kota Batam. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar.2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. World Health Organization. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. Tesis Program Pasca Sarjana. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya.8. Gudang Farmasi Kota Batam. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Yogyakarta. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. World Health Organisation. Suryawati S. 2007. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. Republik Indonesia. Yogyakarta. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Trisnantoro L. Geneva. dkk. 2. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. 12. 6. No. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. 8. Yogyakarta.1998. How to Investigate Drug Use in Health Facilities.. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.1999. 7. 2005. Gadjah Mada University Press. Batam. Kebijakan. 2004. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. Dinas Kesehatan Kota Batam. Geneva. Tesis Program Pasca Sarjana. Health Economics and Drugs DAP Series No. 3 September 2009 . Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. 5. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya. KEPUSTAKAAN 1. Gadjah Mada University Press. Universitas Gadjah Mada. 1992. 9.. 3.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Yogyakarta.Nurliyasman.

ekonomi. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. kemajuan bioengenering. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. Jack Duncan. Pada akhirnya. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). Midwest Medical Group. 3 September 2009 . Untuk itu. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. Selamat membaca. Melalui manajemen perencanaan strategis. dimanapun mereka bertugas. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. dan Riverview the HMA Facility. masalah mutu layanan. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. masalah keterbatasan akses. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. menganalisis data. 12. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. Dari sudut pandang penulis. Peter M.unud. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. dan mengembangkan ide-ide baru. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis.com atau januraga@sph. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan.januraga@gmail. mengembangkan pertanyaan. dan mengelola strategi momentum. strategic planning. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. perencanaan. dan pengelolaan dimulai kembali. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis.ac. Vol. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. W. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. Swayne. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. No. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. segala sesuatu terus berubah. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. termasuk sektor pelayanan kesehatan.

Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis. mungkin sama dengan yang penulis maksud. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 .pasal 322). Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. menyeluruh. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Sepengetahuan saya bahwa UU No. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. Peraturan Pemerintah. mengevaluasi. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. 12/ No. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin. Oleh karena itu. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2/Juni/2009. SK Dirjen Perhubungan Udara. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. No. 12. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. dan seterusnya. Vol. Civil Aviation Safety Regulation). melaksanakan. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident).173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. 3 September 2009 . 15/1992 tentang Penerbangan.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. Permenhub. 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3.

2. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. No. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. 05/1996. Jakarta. International Labor Office.2001. Diakses pada 14 Februari 2007. Jakarta. Tersedia dalam http://news. Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. KEPUSTAKAAN 1. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. penyakit akibat kerja. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel. First Published. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut. Keselamatan Penerbangan. Permenaker RI No.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. Cetakan Ke 2. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan. 4. com/index. kebakaran. Rudiyanto. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. 3 September 2009 173 . Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. 3. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3.vokezone. Geneva. Alli BO. Vol. Mulijadi H. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. peledakan. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 2002. 12.2004.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful