P. 1
jurnal kesmas

jurnal kesmas

|Views: 2,192|Likes:
Dipublikasikan oleh Ai_dunkz

More info:

Published by: Ai_dunkz on Apr 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/14/2013

pdf

text

original

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

Vol. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. Kerapuhan kedua. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh. Kerapuhan ketiga. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia.. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas. Kenyataan memang sudah terjadi. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. 12. termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Oleh karena itu. 3 September 2009 . Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP.. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional .com). Aspek ini sangat politis. diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. No. trisnantoro@yahoo. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

Thus health sector is not an exception in this case. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. Pada rentang waktu itu pula. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah. Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Khusus di sektor perumahsakitan. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. hal ini terjadi pula di Indonesia.14.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT. terjangkau dan berkualitas. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. 3 September 2009 115 . 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 .13. Rumah Sakit Haji. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. Universitas Indonesia. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. tak terkecualikan. 12. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising.119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. No. termasuk di sektor kesehatan. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. Vol. Keywords: government political development. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis.

Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J.means of changing relationship between the government and private sector”. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. pemerintahan konstitusi.. 3 September 2009 . John D. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. dan toleransi. Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan.J. teori ketergantungan. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian. Sebagai contoh. 12. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. Oleh karenanya.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme.. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif.. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru.4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. Teori kedua. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah. Kay dan D.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya.”5 Pada praktiknya. aturan hukum. teori liberal. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan. No. Di lain pihak. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”.. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. seperti persamaan hak. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi. dan teori alternatif. Vol. masing-masing: teori modernisasi.A.

Ketiga. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat.”. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”. angkutan umum. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. dan lainnya. Telkom. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. Antara lain. profit sharing. tambang timah. Selain itu. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system). Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. proses rekrutmen. Jackson dan Catherine M. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta. jalan tol. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi. jika pemimpin melakukan kesalahan. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. sebagaimana ungkapan Peter M. No.. dan lain-lain. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. 12. adalah penjualan saham persero. Ross Mcleod. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. 3 September 2009 117 . seperti di Inggris. terutama dalam hal investasi.9 Dengan peningkatan kinerja. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. seperti penanganan sampah. Pada definisi ini. Kedua. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta. Dalam banyak kasus. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. yang memfokuskan pada pelayanan publik.6 Sebagai sebuah kebijakan. Belum lagi daya saing. seperti rumah sakit. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris.5 Di Indonesia. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. sekolah. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. angkutan udara. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini.. Berikutnya. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan. dan perumahan.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait.

Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. Korea. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. di Korea 60%. Atas dasar itu.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi. No. 12.. di Filipina sekitar 50%. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. Di India dan Thailand. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. keuangan dan penetapan standar pelayanan. Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . F. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. meningkatkan profesionalisme. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. Pada banyak negara. Vol. Pada tahun 1993. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. di Indonesia 65%. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Filipina. Meski seolah terkesan pragmatis.. Eid. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. 3 September 2009 . Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi.

Sage Publications Ltd. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). 12. htm. 2. Private Health Sector Growth in Asia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. 1996:163 12. dan berkualitas. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. Ross Mcleod. kemandirian. Cambridge University Press. Diakses pada tanggal 18 April 2008. the self regulating market. Tommy Legowo. Diakses pada 18 April 2007. The Health Care Policy Process.Bab. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper.all.9. Carporaso dan David P.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. Jakarta. 9. Safri Nugraha.10. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. politics a place to act”. 2000. Bahaya Globalisasi Neoliberal. Theories of Political Economy. Caporaso and David P. Private interest and public good. 1997. J. London.eastasia forum. 1994. Jakarta. John Willey & sons Press. James A. London. Jakarta. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. 3. 2002:10. Gelombang Demokratisasi Ketiga. 5. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. 2006. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. et. 8. 3 September 2009 119 . USA.kompas. UK. Maret 2005. Syamsul Hadi. 20 6.J Thompson.3.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. 11. Samuel Huntington. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. No. http://www. Revrisond Baswir. pertanggungjawaban. 10. KEPUSTAKAAN 1. akuntabilitas. Vol. 1992: 31. UU No. terjangkau.A Kay & D. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata. 1. 19. Willam Newbrander. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. Republika Senin 8 Desember 2003 7. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. the American University of Beirut). Analisis CSIS. PENUTUP Pada banyak negara. 4. 2004:8. http://www. Issues and Implication. Grafiti.96:18-32. 1986. 16-18. Florence Eid. state and society. Hasbullah T. Carol Baker.XXIII(1):6.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. Granit. dan kewajaran. Levine.

95%CI = 1. checklist.008. kinerja.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal.789).: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Yogyakarta 3 CHN-RL. 95%CI = 1. OR = 4. PR = 4. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.. p = 0. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia. patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6. and interview guide.015. internal business. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11. p = 0. bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi..516. p = 0. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5.407. p = 0. Qualitative data were used in this study. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage. performance. Vol.002. namely finance. 3 September 2009 . costumers’ satisfaction.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. CI 95% = 1.516. PR = 4.935. OR = 2. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.8%.624).667-9.607. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA. therefore.008. Based on the qualitative data. dkk. and learning and growth. PR = 2. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.002.082-18. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah.662.935. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. Study instruments were questionnaire.256-84. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.407. p = 0. The subjects were the head of CHCs. p = 0.5%) dan cakupan K4 (77. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87.032.8%). p = 0. 95%CI = 1. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan.080-6. Kata kunci: balanced scorecard.789). p = 0. FK UGM. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District. Keywords: balanced scorecard.5% and fourth visit coverage was 77. check list dan pedoman wawancara.017. However. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. These show that maternal and child health care performance is not optimal. 03 September 2009 Ernawati. CI 95% = 1.624).026. Instrumen menggunakan kuesioner. and patients’ satisfaction (χ2 = 4. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4. CI 95% = 1. 12. Analisis data menggunakan analisis univariat. there was no difference in finance performance in both CHCs. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives.026. Djaswadi Dasuki². kepuasan pelanggan.724). maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet.256-84. CI 95% = 1. FK UGM. Method: This was an observational study with cross sectional study design. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. 95%CI = 1.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹.662. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care. Halaman 120 . Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang. OR = 8.015.348). Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5. PR = 8.0806. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6.032.082-18.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.76%).667-9. while standardized care was not related to antenatal care coverage.017. and all pregnant mothers receiving forth visit care. Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10. OR = 4. No. improvement should be made. the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care.607.

perspektif customer. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. 12. bisnis internal. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan. sesuai standar dan etika profesi.9 Di samping itu. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. Selain itu.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar.33%). Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1.3%). 3 September 2009  121 . Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. K4.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. 1. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. memuaskan.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. lingkungan dan alat. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. Vol. No. Bila kinerja rendah. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan. pelanggan. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. kepuasan pasien dan dana operasional. dan kepuasan pasien. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. dan keuangan. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah. memotivasi pegawai. a. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. motivasi dan insentif. dengan variabel terikat cakupan antenatal. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. dan Ibu Hamil.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS). Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. standar pelayanan. Bidan Penanggung Jawab KIA.8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. pengetahuan dan keterampilan. check-list.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan). kondisi wilayah dan status Puskesmas. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. umpanbalik segera. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar.

(Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.000.50 38 98 2.740 100 Realisasi Skor % 15.64 1.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . c.090 100 3.67 53. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3. 12. Tabel 2.88%). Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49..30 b.810 100 334.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2.840 100 297.280 33..03 33 98 62. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70. Tabel 3. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334.92 67 85 72. Tabel 1.090 11. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4.85 ± 16. Vol.33 100 100 80.33 33.740. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.434 46. dkk. 3 September 2009 .13 ± 1.54 ± 2. No. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%. d.11 49.65 ± 18.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian.Ernawati.804 (14. Biaya Operasional Gambar 1.804 14.88 Skor : dalam satuan Rupiah (.

28 (33. 3 September 2009  .30) 40 (25) 40 (25) 12 (33.57) 480 (47.30) 31 (33. Vol.48) 6 (6.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.33) 2. Diploma I 2.81 (100) 33.52) 644 (100) 312 (48. KIP-K 3. Imunisasi TT 5.55) 3680 (100) 2326(63. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.04) 1012 (100) 532 (52. Pemeriksaan kebidanan luar 4.96) 36 (13.80) 284. 2. 5. Pemb.56) 3.65 (53.72 (88.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5.33) 14 (46.09(11. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33. 3. 12. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66.14) 5389(73.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan.09 (100) 15.64) 17.74) 98 (26.60) 1472 (100) 1102 (74.43) 92 (100) 61 (66.45) 332 (51.4 (46.56 (66.86) 7360 (100) 241 (32. Pemeriksaan umum 3.01) 469 (29. Diploma III 3. SPK 2.74 (100) 49.40) 370 (25.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1.11) 264.67) 26 (19.21) 1354 (36. Anamnesa 2.9 (85. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.26) 368 (100) 270 (73. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67.80(14. Fe 6. tekanan darah dan tinggi fundus uteri. Quality Assurance 4.78) 3 1.70) 92 (100) 86 (93.67) 16 (53.89) 334. 2.63) 657 (25.50) 2208 (100) 1603 (72.37) 2576 (100) 1919 (74.84 (100) 1. Pemb. 4.50) 605 (27. 3.67) 297.99) 276 (100) 240 (86. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.22) 1971 (26. No.

dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri. Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “... 7.” “. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan. . kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup.. Tabel 6. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas . karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas.674 ibu hamil. 3 September 2009 . kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil).00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4..” “. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami.30 95. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T..1%.807.. cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54. itupun sebagian besar untuk transport saja. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu..35 Tablet Fe 91. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh. tekanan darah. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas..- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan.. dkk. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas.. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas... tersaji pada Tabel 6.13 78.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit.00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut.664 per ibu hamil. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. tinggi fundus uteri..65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4. saya rasa sangat kecil sekali.61 54. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . No. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “. 12. pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas. 7.26 82..000. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi. pemeriksaan umum dan pemberian Fe.” “.640..536.. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional..” “.625. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu... imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya... Vol.Rp.Ernawati..000.000..” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “...” “.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri. p = 0.” “.348).... p = 0. PR = 4. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. PR = 4.775. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0.. PR = 2.114. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas.. 95%CI = 0.. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5.777. b.724) dan kepuasan pasien (  ² = 4. 95%CI = 0.903). (Tabel 8). sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas . 3 September 2009  125 ...451-2.662. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut .. pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien. 12.“ “. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas.. 95%CI = 1.002. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan.667-9. 95%CI = 1.407.. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II..017.935.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 7. 95%CI = 1.026.386-3.015.256-84. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0.789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. p = 0. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7. PR = 8. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6. PR = 1.” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10.032. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a.. p = 0. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.607.08218. PR = 1.589). 95%CI = 1. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi .516. baik (p = 0. Vol. Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan . 4. No..0806.008.407 kali.118.

13 Tabel 8.09) 13 (56. Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. 12.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .256-84. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan.13) 17 (73.33) (46.87) 6 (26.023 0.00) 11 5 (68.75) (31. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1. sistem dan prosedur.. PEMBAHASAN 1.589 Tabel 9.Ernawati.0) ² p PR (95%CI) 5.036 3. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta.008 1.25) 16 14 (53.624 6.91) 10 (43. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. No. dkk. 2.935 0.39) Total (%) 23 (100. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah.925 (0.00) (80. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun. (Tabel 9).017 4.0) 23 (100. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73.312 1.61) (42. hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.09) 14 (60.683 (0.0) 16 (100.0) 92 (100.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda.462-8.394 0.61) Standar (%) 6 (26. Vol..0) ² p PR (95%CI) 8 (1.0) 92 (100.67) 53 39 (57.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun.407 (1.662 0.0) 30 (100.33) 2 8 (20. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66.Rp2 juta per bulan yaitu 50%.0) 10 (100.0) 23 (100.39) Total (%) 36 (100. 3 September 2009 .67) (33.789 4. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.91) 9 (39.913-15.0) 23 (100. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya.52) 39 (42.48) 53 (57.082-18.

sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil.15 menit. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk. merujuk secara medik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 .17 4. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. Vol.15 3. peningkatan teknologi dan informasi.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 . kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. dan berkualitas pelayanan. 12. 3 September 2009  127 . Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan. No. biaya.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.20 5. serta jasa yang konstan. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia.18 bahwa sebanyak 1. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan.

Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard.go. NHA Producers Guide.. The Lancet. 7.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). Mulyadi. Geneva. Dalam menilai kinerja organisasi. 3. 1996. Nigenda G.Ernawati. Donner A. 5. Airlangga University Press. 1997. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.I. Fort AL. FoxRushby J. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. Jakarta. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. No. Avalaible on: http/ www. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. Jakarta. 6.I. Yogyakarta. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Jakarta. Piaggio G. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.I. Belizan MJ. Universitas Gadjah Mada. 2003: 58-62. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. Berita Kedokteran Masyarakat.. serta meningkatkan pelayanan. Modul Ajar Safe Motherhood. Kurniawati L.2000. Ba’aqeel H. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. Hakimi M. http:// depkes. Bakketeig L. 1998. Journal of Bio Med Central. 2002. Villar J. Salemba Empat. Lumbiganon. 1999. Modul Ajar Safe Motherhood.I. Farnot U.XIII:16-20. 2000. dan Solichin. WHO. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran. KEPUSTAKAAN 1.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard.2(8)June:1-11 9. 12. Mulyadi. Surabaya. dkk. 10. 12. Mugford M. Jakarta. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup. Departemen Kesehatan R. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. 1997. & Voltero L. Hutton G. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Wijono Djoko. Almazrou. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .who. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. 2004. “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. Departemen Kesehatan R. Pinol A. UGM. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Departemen Kesehatan R. 3 September 2009 . ia harus didukung dengan faktor non-financial. C. Diakses pada 15 Maret 2006. P. Tesis. Berendes H. Yogyakarta. Langer A. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. Abdurrauf. World Health Organization. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah.id/. Vol. 8. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan.2001. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. memperbaharui. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. 11. Carroli G. Dasuki D. 2001:1551-64. 4. Wilopo SA. Departemen Kesehatan R. Bergsjo P. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien.int 2.22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja.

1997. 14.1997.XIII:16-20. Solichin M. J.43(5): 427 – 40. Rosi Robin L. St Louis Missouri. A. 16. M. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13. Sasongko N. Vol. Mayer T. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. 18.13 (4/5): 309-21. Rust Roland T. Zahorik Antoni. Hakimi M. dan Norton David P. Kaplan RS. Jakarta. Azwar A. and Royalty. 22. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill.1998.1996.1992. Batalden Paul. No. 20. 23.1998. Harvard Business School Press. Journal of Health Care Management. Jakarta. Wahab A. Edisi Ketiga. Ghufron A. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Dasuki D. Lau C. 17.1996. Kurniawati L. Customer Service In Business to Business Market. 3 September 2009  129 . Journal of Busness dan Industrial Marketing. 19. Second Edition. Parasuraman A . Yogyakarta. Bina Putra. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance.2000. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care. Florida USA. Mastorovich. Mosby Year Book. Berita Kedokteran Masyarakat. Journal of Health Care Marketing. Non Finansial Perspektif. Pengantar Administrasi Kesehatan. Workshop Akuntansi Manajemen. CHNRL Faculty of Medicine.L. Edisi Ketiga. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Bina Putra. 1997. 21. Boston. Wilopo SA. Green E.. Katz JM. University of Miami. Nelson EC. Azwar A. Gadjah Mada University. Measurement Financial. Hakimi M. 15. D. and Siemanski Beth Ann. 12.2005.1996b. Cates RJ. 12 (4): 6-13. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. An Agenda For Research.

UGM.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I. Soebijanto2. II. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. registered enterprises in the employment accident benefit program. Result: A number of 53 (96. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57.36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3.01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer).85%) of 3rd principle. 3 September 2009 .60% dan 2 (3.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% . Hasil: Sebanyak 53 (96.K. IV.139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1. Halaman 130 .. P. The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. dkk. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan. Vol. Keywords: industrial accident.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja. F-test result showed a significant difference (p < 0. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.87% from 5th element maximum score).64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% .14%) in 5th element. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi. 03 September 2009 Gerry Silaban. III. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. FKM Universitas Sumatera Utara. Suma’mur. Kata kunci: kecelakaan kerja. Adi Heru Soetomo2. Method: The type of this research is survey research. kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi. 05/1996. Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. Lientje Setyawati Maurits2. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. No. The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles. 12.40% from 3rd principle maximum score).. F-test result showed a significant difference (p < 0. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement.

audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3. II.250 kasus. dan 207 kasus. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3. 564 kasus. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana.31 Desember 2005). 5. 3 September 2009 131 . dan tahun 2005 sebanyak 1. kebakaran. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. peledakan. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha.K.10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi. 331 kasus. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari . Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. Vol.06%) dari 1. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus. jenis standar K3 berbeda. 118 kasus. penyakit akibat kerja. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3.7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. IV. No. yaitu tahun 2003 sebanyak 3.3 Selain itu. sehingga tercapai tujuan. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil. 12.759 kasus. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif). Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. III.759 kasus. Selain itu. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. tahun 2004 sebanyak 2.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I.958 kasus.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan.

rumah makan dan minuman. industri-industri lain. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. penanganan bahan berbahaya dan beracun). program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). SE (Sesuai). rekrutmen. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. dkk. 12. prosedur tanggap darurat. struktur P2K3. investigasi. Vol. penggergajian kayu. pengendalian catatan. Dalam penerapan SMK3. Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. ruang lingkup. 2. 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. industri minyak kelapa sawit. dan wawancara dengan tenaga kerja. perusahaan penggergajian kayu. pemantauan kesehatan.. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. Check. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. tujuan dan sasaran K3. dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. prosedur insiden.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. dan hotel. penggilingan (remilling) karet.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. penyakit akibat kerja. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. pabrik keperluan kaki. obat nyamuk bakar dan cair). pabrik kimia lainnya (lilin. pembelian.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . hampir celaka. profil perusahaan. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. Do. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). dengan rerata sebesar 304 atau 45. Unsur 7 (15 kriteria). melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. kecelakaan kerja. TS (Tidak Sesuai). Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. pabrik barang-barang dari logam. pabrik minuman. 3 September 2009 . unsur 6(40 kriteria). dan 1. Improvement (PDCI). dan pabrik plastik. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). perusahaan air. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. prosedur audit internal. kecelakaan kerja.Gerry Silaban. prosedur identifikasi bahaya. pelatihan. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. pabrik keperluan kaki. Unsur 4 (7 kriteria). dan penyakit akibat kerja). desain. pabrik minuman dari alkohol. Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. seleksi dan evaluasi vendor. 3. pengendalian dokumen. pabrik barangbarang dari logam. dan proses audit SMK3. produk setengah jadi. prosedur operasional (mencakup izin kerja. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. struktur organisasi perusahaan. Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. observasi. dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. diskripsi pekerjaan). setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. unsur 5 (7 kriteria).. inspeksi. pabrik kimia lainnya. No. penggilingan (remiling) karet. perawatan. dan pemantauan lingkungan kerja). prosedur komunikasi dan konsultasi. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). prosedur rapat tinjauan manajemen. Setelah itu.

2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan.82%) untuk unsur 8. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. dan 8 perusahaan (8. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92. 11 perusahaan (20.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang. perlengkapan. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan. 12 perusahaan (21. 1 perusahaan (1. 1 perusahaan (1.82%) untuk unsur 11. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% .73%) untuk unsur 3.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin.100% dari 166 kriteria audit SMK3.04% dari 166 kriteria). mengukur dan mengendalikan risiko. pendidikan.19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 . dan perilaku pekerja14.36%) untuk unsur 4.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% . Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya.64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% .91%) untuk unsur 6. kinerja penerapan SMK3 rendah. 17 perusahaan (30. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .74% pada industri tekstil. 3 perusahaan (5. No. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 . tidak mampu berkompetisi. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko.560 atau memenuhi 100 .82%) untuk unsur 10. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.74%) untuk unsur 12.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh. pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya.00%) untuk unsur 9.84% dari 166 kriteria audit SMK3.27%) untuk unsur 1. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.00%) untuk unsur 7. Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan. 11 perusahaan (20. Terdapat hanya 2 (3. instalasi. sedangkan 53 (96. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. 9 perusahaan (16. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19. 31 perusahaan (56. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah. 7 perusahaan (12. terendah sebanyak 6 kriteria (3.60% dari 166 kriteria audit SMK3.46%) untuk unsur 2. alat. Vol. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. 12.36%) untuk unsur 5.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 .24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13. dan 7 perusahaan (12. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan. 3 September 2009 133 .84% dari 166 kriteria audit SMK3.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% .140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4.61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam.

56%) dari 18 kriteria prinsip 2.. dan unsur 11.unsur 7. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja.96 92.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0.38%) dari 26 kriteria prinsip 4. unsur 1.22 27.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya.82 11.85%) dari 67 kriteria prinsip 3..38 13. prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7. untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. Vol.86% dari skor maksimum unsur 5).51 20. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. unsur 2.Gerry Silaban. unsur 9. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan. 3 September 2009 . keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial.65% 35. peralatan. unsur 4.23 Di samping itu.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan. unsur 3.96 (74.68% 74.29% 26.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3.07% 43. pekerja berperilaku aman. atau memakai alat pelindung diri. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan.56 20. 12.26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman. dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan.38% 42. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. dkk. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15.86 11. unsur 10.60% 46.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38.86% 57. kompetensi. tenaga profesional. unsur 12. No.61% 47.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .14%) dari 28 kriteria prinsip 1. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum. unsur 8.18 28.47 12.27 22.84 4. membuat kebijakan dan program K3. melibatkan tenaga kerja secara aktif. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif.88% 42.81%) dari 27 kriteria prinsip 5.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.84% 44.27% 34.

29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. prinsip 2.33 148. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%.31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. 5. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja. Vol. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2.62 47. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148. kesehatan dan lingkungan kerja. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3.38 25.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif.90% 43.8%. 12. prinsip 4. dan prinsip 1. di samping pemasaran dan finansial. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate). memantau.82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 135 . 4. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46.47 (55. Selain itu. keselamatan. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%.62%. 3.27% 35. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. dan berkelanjutan. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55. kualitas produk.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0.18% 55.40% 42.40% dari skor maksimum). Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. 6. kontinu. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik.47 44. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif.17% (tertinggi). 2.

. kebakaran. konstruksi. teknisi (lift. operator (pesawat uap. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . 05/1996. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. alat. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No. 5. radiasi. No. serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali. crane). Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. Organisasi K3 ini bertugas: a. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. 4. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. Fasilitas K3: alat pelindung diri. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. ahli higiene industri. 2. paramedis (perawat) perusahaan. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. instruksi kerja. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. kegiatan K3. alat dan sistem tanda bahaya. alat pemadam api. 05/1996. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. pintu dan tangga darurat. mekanik. Vol. manajemen. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. instruksi tanggap darurat). Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. 3 September 2009 . Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. confined space).33 Kebijakan Permenaker No. fungsi. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. konstruksi. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. pelayanan kesehatan kerja). rambu dan tanda keselamatan kerja. Personel K3 yang mempunyai tugas. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. konsisten dan berkesinambungan. kebijakan K3 perusahaan. dkk. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. kimia). dokter perusahaan. P3K. uap dan bejana tekan. instalasi dan bahan berbahaya.Gerry Silaban. petugas P3K. 3. dan juru las. tempat pelatihan K3. listrik). dan laporan hasil audit internal SMK3. 12. petugas K3 (kimia. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1.. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi.

Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). XXXVI(2) April-Juni. 12. Di samping itu. 20(1): 67-85. 5. 1988. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek. XXXVI(2) AprilJuni. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.2006. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. 3. Rudiyanto.Medan. Siswati M. Suma’mur PK. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja.2003. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0. 2.2003. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. Jakarta. KEPUSTAKAAN 1. Check. Balai K3. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). PT Jamsostek. Jakarta. Dengan demikian. Suokas. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. Medan. Kanwil I PT Jamsostek. kebijakan Permenaker No. J.2005. Ichsan S. Oleh karena itu. organisasi profesi K3. and Improvement (PDCI). Accident Anal Prev. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. Do.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. 2004. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi. 7.2003. Ichsan S. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. No. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya.2002. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. 3 September 2009 137 . Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. Balitbanginfo Depnakertrans RI. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. Jakarta. PT Sucofindo. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. 4.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. 6. Perusahaan Jasa K3.

Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. Program Magister Teknologi Manajemen. Depnakertrans RI. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Jakarta. Pamardiningsih Y.. No. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Hegney. 19. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. 27. 12. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. OSHA. Tesis. Saari J. 59 Safety Policy and Leadership. 3 September 2009 .2001. 18. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Vol. Geneva. 17.Beyond Commitment. Safety Culture. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Groeneweg J. Novianto R. Theoritical Principles of Job Safety. International Labor Office. 57 Audits. 23.Gerry Silaban.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Surabaya. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Fourth Edition. Working Paper 20. Yogyakarta. Frick K. Geneva. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 15. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. International Labour Office. 2003. Vol. US Department of Labor. OSHA: Employee Workplace Rights. Systematic Management of Occupational Health and Safety. 2005. 9. Alli BO. 2005. Hopkins A. Tesis. 10. dkk. Bluff L.1998. Global Estimates of Occupational Accidents. 56 Accident Prevention. Subekti A. Safety Science. In: Ch.Enhancing OccupationalSafetyand Health. Saarela. K. Simard M. Yogyakarta. 12. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. Taylor G.In: Ch.google. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour. 28. Peters RH. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). 14. 44: 137-56. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission.2008. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. 25. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Canberra. Occup Hazards. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. 29. Ramli S. Vol. II. Inspections and Investigations. International Labour Office. Tesis. II. In: Ch. 1991. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Takala. The Accident Causation Model. Geneva.2006. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Widiastuti E.2003.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1.XXXVI(3) JuliSeptember. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. Hadi S. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Fourth Edition. 1993. 55(9): 250. Tesis. Canberra. First Published. 16.2003. II. J Saf Res. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Fourth Edition. Surabaya. Hansen L. 1998. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. 2004 (http:// books. International Labour Office. 20. 2004. Yuliani R. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. 8. Hadi S. 22: 53-70. Hamalainen PJ. Universitas Gadjah Mada.M1) 21. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. 13. 22. Yogyakarta. Easter. and K. Canberra. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. 2006. ITS. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. Working Paper 14. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission.2005. Geneva. Safety Culture and Management.2004. Tesis. 2000. Jakarta. Vol.2002. 1998. 26. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies.2002. Manual SPS Paket Midi. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. Skiba R. Sugiyono. 11. Jakarta. 24.L. J Occup Acc 12: 107-117. and R. Yogyakarta.

5: 27-30. Malaysia. 31.2003. 33. Journal Occupational Safety Health. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. and P. 2004. Vol. Venkataraman N. Vol. Siriruttanapruk S. Linehan A. Fourth Edition. 3 September 2009 139 . 12. Boca Raton. International Labour Office. In: Ch.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 2008. Geneva. 57 Audits. 32. 1998. Inspections and Investigations. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach. Industrial Health. Anatagulnathi. 42. Reese CD. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. II. No.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Safety Performance Factor.Lewis Publishers.135-40.

Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1. Kata kunci : sistem kredensial dokter. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. and frequently are inadequately performed. perawat. and good relationships among colleagues. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial.2. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik. adanya tim kredensial yang obyektif. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. which is based on the concept of professionalism. Cipto Mangunkusumo. aims to ensure the accountability. a process to grant clinical privilege. 12. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. sound relationship between credential team and hospital management.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. No. Oleh karena itu. Keywords: physicians credentialing system. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees.. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. Dokter.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. Every FGD was attended by 10-20 participants. existence of objective credential team. 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety. 03 September 2009 Herkutanto.3. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. Vol. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. professionalism. consisted of physicians and hospital management.4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien.. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. standardization of policy and credential instruments. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat.1. dkk. The credentialing system. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). The expectations of participants are in line with the recommended credential system. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach. Halaman 140 . Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. dan hubungan baik antar sejawat. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system.: Hambatan dan Harapan Sistem . Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. 3 September 2009 . profesionalisme. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran.

Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut. 3 September 2009 141 . bukan kedokteran. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A.12. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama. jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu. Dalam proses ini. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%).179 di antaranya merupakan kelalaian medis. Di USA.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis. Vol. Dari 98. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. Dengan demikian.8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. Dari 1. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%).1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. 12. Oleh karena itu. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali. No. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity. sedangkan di bidang terapeutik. Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi. Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar.1. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat.10 Sama seperti negara lain. Di masa mendatang di Indonesia. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit.

Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal.: Hambatan dan Harapan Sistem . Pertanyaan disusun oleh para penulis. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. Tabel 1. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. sikap. Selain itu. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. Vol. karakter. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan.. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. No. dan diminta persetujuan. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). 3 September 2009 . Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. 12. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD.. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain. dan surat rekomendasi. dkk. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. yaitu kebutuhan proses monitoring. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi.12 Sebelum FGD dilaksanakan. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. Nama partisipan dirahasiakan. standardisasi aturan dan instrumen kredensial.Herkutanto. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. Berdasarkan rekomendasi ini.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. Prinsipnya. Pada studi kualitatif. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. Apakah telah cukup ideal? b. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. keterampilan. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. dan profesionalisme kandidat. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. karena sering kali ditemukan false positive. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. transkrip akademis. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi.

Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.” [dr Y. tes untuk memotret pengetahuan. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2. Proses rekredensial 2. Bijak. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi. karakter.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. Selanjutnya. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b.. Keselamatan pasien 1. Pada FGD di RS1 dan RS2. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi .4 Kebutuhan tim ideal a. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial. dan profesionalisme 1. sungguh-sungguh bekerja. RS2] Terakhir. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit. Pada FGD di RS1. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. hubungan kerja. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. Tujuan a. Mengurangi subyektivitas b. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. keterampilan. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat. Tabel 2.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. Periode uji coba b.1. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c. Vol.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya. Penerimaan karyawan b. 12. kayaknya kurang pas. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit. berpengaruh. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. Kebutuhan monitoring a. dan netral. 3 September 2009 143 . Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif. netral c.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. atau sering menggantikan praktik.. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. Selain itu. No.. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas. wawancara. sikap. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit.1. dan divalidasi oleh komite medis. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi.” [dr X.

dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. 12. Secara periodik. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal.. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu.. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme.15. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. dkk. kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter. Dalam kontrak sosial tersebut. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. Namun demikian. senantiasa terjaga dengan baik. Namun demikian. Kedua. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). Vol. 3 September 2009 . clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. Pertama. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. Ketiga. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien.: Hambatan dan Harapan Sistem . 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1.11 Fungsi kredensial. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium. sehingga menimbulkan kecederaan. No.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. Dengan kurang berfungsinya komite medis. Sayangnya. Selama ini. Selain dokter tersebut.Herkutanto. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. Selain itu. peningkatan mutu profesi. dokter akan melalui proses rekredensial. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti.

No. Vol. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia.20. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan. wawancara. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Tiga proses inti kredensial Tabel 3. Namun demikian. 20 Namun saat ini. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. 12. Sebaliknya.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana. 22.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. 21. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 145 . 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial. 21.

4. 2004. 110:414-8. Understanding Patient Safety. 15. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. Pearson Education. 10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Wong LP. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. 2008. Freeling P. Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. dan peer group. Lawthers AG. Qualitative Research Analysis. 9. Hebert LE. 12. WHO. World Alliance For Patient Safety. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. Dengan demikian. George LA. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. 13. Brennan TA. Competency. Valenza JA. Vol. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. 11.. Berg BL. et al. 1991. 2008. The Doctor-Patient Relationship. 2007.. dengan keluaran berupa clinical appointment. 1991. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 6. Edinburgh. No. Geneva. Trent RDSU. Illinois. 2008. Pediatrics. Journal of Dental Education. The Way to Patient Safety. Jakarta. 3 September 2009 . 8. et al. Herkutanto. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. Browne K. dkk. Tabel 4. E&S Livingstone Ltd. Results of the Harvard Medical Practice Study II. Qualitative Research Methods for the Social Sciences. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial.: Hambatan dan Harapan Sistem . 2005. ADIS Health Science Press. Credential and Clinical Privileges. Sebagai suatu studi kualitatif. Singapore Med J. Luff D. McGraw Hills. Joint Commission Resources. 2003. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. N Engl J Med. Results of the Harvard Medical Practice Study III. 69:8. Credentialing. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence. Localio AR. Barnes BA. Sydney. Sheffield. Leape LL.49(3):256. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. white paper. 7. 16. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. Lawthers AG. Jakarta. 2006. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Brennan TA. Wachter RM.. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. White Papers Mitra Bestari 2. Localio AR. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Tahka V. Boston. 2008. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 1984. 12. Peterson LM. Herkutanto. N Engl J Med. Privileging. 2005.7:324(6)Feb:377-84. Forward Programme 2008-2009. The Patient Doctor Relationship. O’Neil PN. 2002. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 3. 2(1) Maret: 41-7. World Health Organization. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. USA. ME. 2009. 1967. Laird NM. 5. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms. O’Connor. Laird N. and Peer Review.Herkutanto. KEPUSTAKAAN 1. 14. Commitee on Hospital Care. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Lacey A. Jakarta.25(Juli):245-51.

2006. Jakarta.18. No. Law in Context. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. Journal of Bone and Joint Surgery.82A:1189. 18. Herkutanto. Konsil Kedokteran Indonesia. Special Edition: Regulating Health Practitioners. 22. Herkutanto. Freckelton. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Johnston SE. 2005. Professionalism and Medicine’s Social Contract. I. 2000. 20. 3rd Edition.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. The Royal College of Physicians. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 23. 23 (2): 229-42. 2007. The Royal College of Physicians. Cruess RL. Vol. 2004. Jakarta. New South Wales. 12. Cruess SR. Joint Commission International. La Trobe University. 2006. Melbourne. Indonesian Health Practitiones Regulation. 3 September 2009 147 . The Federation Press. USA. 21. Master of Laws Thesis. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2007. Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. 19.

pengorganisasian. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. Cantikan). staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. Tambak Oso Wliangun. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. dengan sosialisasi. preventive. kesadaran gizi dan makanan daerah. higher than normative value (less than 5%). has 16.93% of severely iodine-deficiency villages. Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. Coordinating and evaluating the programme. diet counseling. as well as health staffs. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia.9%. and Bangkingan (Lakarsantri). Anemia. dkk. serta staf kesehatan. Bubutan.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. Tambak Wedi (Kenjeran). Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya.93% dari kekurangan iodium-desa. Tambak Wedi (Kenjeran). This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. Romokalisari (Benowo). Nyamplungan (P. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. angka gondok total (TGR) sebesar 22. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005. by socialization. staf Pusat Kesehatan Primer. Kedung Cowek ( Bulak). Koordinasi dan mengevaluasi program. medical treatment. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. Sidotopo Wetan. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. nutrition and food awareness area. planning. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan. Primary Health Center staff. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. the Total Goiter Rate (TGR) 22.9%.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. 3 September 2009 . Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. Kekurangan Vitamin A (KVA). The recent study at Surabaya City. The middle term and short programme of iodine-deficiency. perawatan medis. masyarakat dalam kekurangan iodium parah.. Halaman 148 . organizing. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. kuratif dan rehabilitatif strategi. dan GAKI. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). memiliki berat 16. Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. Perak Utara. Di Indonesia.. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. 12. perencanaan pengelolaan terpadu.Cantikan). integrated management planning. Nyamplungan (P. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). perencanaan. low health staff motivation to run the program etc. Vol. preventif. such as social economic factors from the society. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. Tambak Oso Wliangun. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. 03 September 2009 Oktarina. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). curative and rehabilitative strategy. pengorganisasian dan aktualisasi. the society in severely iodinedeficiency.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. Kedung Cowek (Bulak). Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). Result: The result show many faktor. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. organizing and actualization. Romokalisari (Benowo). advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department. No. Perak Utara. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. diet konseling. society and health staff factors. Sidotopo Wetan. Conclusion: The recommendation as follow promotive. Method: The purpose of this study was a descriptive type. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta.

motivasi.3-triodothyronine (T3). biaya.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63.9%) mencapai 21%.39%).65%. diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil.6) 16 (36. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. 12.1%). sikap. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62. imbalan.51%).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19. 3 September 2009 149 .0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan.0) 27 (37. Vol. keterampilan. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran. Tabel 1. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40.4) 44 (100) 46 (63.5.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun).6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah. hati.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1) 11 (37.96%). bidan/ palpator.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. memacu proses metabolisme otak. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3. L-thyroxine (T4) dan 3. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. jantung. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium. No. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia. pengetahuan. paramedis) yang meliputi pendidikan. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi. Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya.6%). laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. otot.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan. pelatihan. Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun. serta meningkatkan sistem pengawasannya. kehamilan. ginjal dan organ reproduksi.5.

II.11%. yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas. Pelaksana Gizi. Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya. Gundih (Bubutan). Vol. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang. dkk. dengan rata-rata TGR sebesar 10. pelaksana. II.93%. Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. Semeni (Benowo). III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.267 anak). bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. kepala posisi biasa. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). dan Paramedis.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat.baru. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. pemberian uang jajan. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a. Puskesmas sebagai perencana. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13.37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). perilaku (kebiasaan sarapan pagi).34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. 3 September 2009 . BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. 1b. rata-rata TGR sebesar 12. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. Pengambilan sampel secara multistage random sampling. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. 12. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. Terlihat dari jarak jauh Tertentu. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2). berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya. (> 6m). Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .Oktarina. Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya.. Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. No. Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2. Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya).. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Mulyorejo. penilai. Sidotopo Wetan dan Kenjeran.

77 6.57 14. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test).1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39.2 6.96 12.08 5.33 9.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14.3 Dari hasil penelitian.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.91 19.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan.81 7. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28.52%).93 16.59 X: 10. Vol.96 X: 12.43%.66%).64 8.95 15.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur).78 3 4. leaflet dan konseling garam beriodium. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium.50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.16 17. ada 2 Puskesmas yang baik. sarana prasarana yang ada di Puskesmas.67 19. 3 Puskesmas cukup.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2. pojok gizi (28.68%).7 10.8 Pengetahuan 1.94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29.9 9. melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap. terutama ketiadaan food model (42.5 13. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.24 17. dengan rata-rata TGR sebesar 38. No.21 12. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik.95 14.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5. rata-rata TGR sebesar 24.88 19. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan. 3 September 2009 151 . 12. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas.89 19. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya.88 11.Gunung Bringin Sambikerep Mr.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3. dan 2 Puskesmas kurang baik.44 13.

35 21. Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik.89 31.76 24.62 25. dkk.42%)..12 23.58%).95 26.02 33. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85.3 25.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya.95 21.72%). Kurangnya koordinasi lintas program (42. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat.68 26.. 12. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik. serta sebagian besar (57. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).89 32. Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T.29%). kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%).95 23.73 24. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64.29 25 25.57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42. pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14. dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek. jadi belum sampai terlihat (visible).59 25.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas.34 40. ternyata sebagian besar (78.62%).84 35.10 Kerja sama.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16.14%). Selain itu. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Oktarina. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable).14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi. No. Tabel 4.42%). Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba.94 27.02 22.37 48. Vol. Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30.93 21.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28.33 28.27%). 3 September 2009 . masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas.34 57.3 X: 38.1 42.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P.44 X: 24.01 31.

5%). No. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42.0%).5%). pembinaan terhadap pelaksana gizi. baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57.0%). Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program.000. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan. serta ada 4 Puskesmas (57. b.14%).57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak. penyediaan data prevalensi GAKI (42. Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. Vol.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14.68%). Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan.5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan.66%). Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah). jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28.0%).12%) dan microplanning (42.14%) terutama pada umpan balik. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. a. Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45.5%). Penilaian.5%). Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14.62%) dan yang nilai kurang (14.0%) untuk pendataan. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57. 12. kegiatan penilaian. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing.0%). Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71.86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42. distribusi kapsul iodium. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.52%) 1 Puskesmas. motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48.50%) yang mempunyai nilai baik (>15).12 2. Pada penilaian. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14.8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45. nilai cukup ada 2 Puskesmas (28. dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. sebanyak (39.0%). rencana kerja tahunan (57.14%).14%) dengan nilai kurang.00 (32. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. ada pembinaan. sasaran palpasi gondok anak sekolah. ada kejelasan target.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin. Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67.52%) baik perencanaan programnya. 3 September 2009 153 . pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

motivasi. 2002. sosial ekonomi yang rendah. Selain itu. 2002 4. pengobatan medis. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. pengawasan dan pengendalian). Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. Takkouche I. 12. pendistribusian kapsul iodium. minilokarya. Egli HE. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. 3 September 2009 . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test.72%. Anderson MB.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . pelaksanaan kegiatan. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI.Oktarina.. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas). leaflet) di Puskesmas. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan. Tinker A. De Benoist. pelaksanaan. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. pelaksanaan. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. No. E Ransom. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. pelaksana gizi. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. paramedis yang sudah terlatih). manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. memberika. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. palpasi gondok anak sekolah. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini. protap diet. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. penilaian. 3. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. Jakarta. dkk. palpasi gondok anak sekolah. konseling garam beriodium. Save The Children. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Akademi Gizi. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. pelaksana gizi. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. Pendidikan yang rendah dari masyarakat. Vol. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Surabaya. 1999. 2. Population Reverence Bureau. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. Allen and B. Soegianto B.. KEPUSTAKAAN 1. pelayanan kesehatan kepada individu. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. penilaian. keluarga dan lingkungan. imbalan. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. pojok gizi. penyediaan peta prevalensi gondok.

6. Handoko TH. Jurnal GAKI Indonesia. Semarang. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. IDD Newsletter. Muhilal. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Yogyakarta. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. Simamora H. 2000. 22 (2).2001. 2003. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2006. Munfarida S. BPPE. Wisnu C. Manajemen Sumber Daya Manusia. Atmarita. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 10. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. 12. Surabaya. 3 September 2009 155 . 9.8. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Bagian Penerbitan STIE YKPN. Surabaya. No. 33-40.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. Media Medika Indonesiana. 43(01): 22-. 11. Manajemen. Kartono D. Akademi Gizi.5:1-2: 28-34 12. 1997. 2002. Yogyakarta. 7. Elimination of Iodine Deficiency. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat. 2006. Supriyanto. 2003. Health Care Manage Rev. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Sunarno RW. 8. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Vol. Dolinsky A.2008. Team Learning. Aspen Publiser Inc.1:10-12.

there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. and relationship between segment with partner companies or insurance. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif).161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior. manajemen organisasi. market compartment. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. substitution attendance.. serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. Keywords: target market. segmentation. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. Vol. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served. SDM. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. keuangan. and segment III consisting of 60 people (52.. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. geographical accessibility. Universitas Hasanuddin. Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. 2008. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics. Sukri Palutturi1. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. the interest of market segment. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. Fakultas Kesehatan Masyarakat.17%). segmentasi. dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. segmen pasar yang terbentuk. segmen II sebanyak 25 orang (21. No. and labeled as health care maximize. the number of closest competitors. 3 September 2009 . Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.74%). maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer.09%).74%). 03 September 2009 Asiah Hamzah. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. Halaman 156 . Results: The result shows that based on customers’ characteristics. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . alat dan teknologi kesehatan. driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. sistem informasi. segment II consisting of 25 people (21. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. jenis pelayanan. 12. dkk. Darmawansyah1.09%). Kata Kunci: pasar sasaran. Based on the interest of market segment.17%). and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. dan segmen III sebanyak 60 orang (52.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif.

2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar.7% dan 9. sarjana (13. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini. perilaku.9%). dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen. dan kebutuhan.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40.2%). geografis. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya. sehingga perlu dilakukan penelitian ini.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. jumlah kunjungan.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. diikuti tingkat pendidikan SD (25. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden. Data yang terkumpul. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008. SLTP (13. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder.5%). Sebagian besar responden (59. membidik satu atau dua segmen itu. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum.9%). serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. dan tidak tamat SD sebanyak 7. Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8%.9%. psikografis. jumlah penduduk. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden.1%) berpendidikan SLTA. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya. No. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. Vol. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian. Oleh karena itu.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia. Tingkat pendidikan responden.173 kunjungan pada tahun 2004. 12. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik. Dengan demikian.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien. 3 September 2009 157 .6%. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama. sebagian besar (39. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis.6%).

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Rethinking Marketing. Zeithelm VA. Hasnah. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.00 per tahun. Kasali R. No. Cetakan Keempat. and Bitner MJ.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor).14 (1). dan Liu S. 2001. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. 12. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. PT Indeks. Jakarta. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. Jakarta. 11. 2008. 12. 2000.000. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. Prenada Media. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti.Jakarta. Syam. Mangopo SD. 2006. Simamora B. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Gramedia. Anonimous. 2005. KEPUSTAKAAN 1. 2000. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Gramedia Pustaka Utama. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. Kepuasan Pelanggan. Analisis Multivariat Pemasaran. Kotler P. Huan HD. Jakarta.Rp2. 2. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. 2005. 3 September 2009 161 . 2003. Second Edition. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). Soejitno S. Services Marketing. 7. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . 2005. dan Nusyirwan MS. 2004. Soebroto T. Irwin McGraw-Hill. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. Jakarta. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. dan Joh S. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. Penerbit PT. Membidik Pasar Indonesia.09%).00 Rp750.00 . 6. Jakarta. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. 4. Kuntjoro T. 2006. Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran.17%). Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). Solo. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. Makassar. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. Targeting. Foley RL.000.74%).000. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. 08(01) Maret:11-8. Sains Kesehatan. 5. Perilaku Konsumen.000. 8. 10. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. Positioning. Soenarto S. 3. Yogyakarta. Integrating Costumer Focus across the Firm. Makassar. segmen II sebanyak 25 orang (21. Kartajaya H.2000.000.000. Tigor HS. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26. dan Emmy KM. Setiadi JN. Toto Suprapto. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris. Achmad. 9. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Segmentasi. Vol.

No. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. dkk. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. number of visits of the patients. analytical survey method and cross sectional design. Vol. July and August). Rustamaji2. Artinya.05).. retribution exemption. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. Sampling secara cluster. Kata Kunci : Puskesmas. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. 12. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Agustus).. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. dengan rancangan cross sectional study. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. 3 September 2009 . Secara kualitatif. FK UGM. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. Keywords: health centers. Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni. Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan.1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. Halaman 162 . Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. dan 2007. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. Data yang diperoleh ditabulasi. 03 September 2009 Nurliyasman. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 2006. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. pembebasan retribusi pasien. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Juli. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. laporan kunjungan (LB4).

yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam.6%. Data yang diperoleh ditabulasi. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. serta pengangguran. pegawai swasta.550.9% dan 4. jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006.500. terutama dalam hal kesehatan. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4.394. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6.443. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.000. pedagang. Vol. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6. No. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut.586 jiwa.315 jiwa tahun 2007.7%. tahun 2006 sebesar Rp1.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional. tahun 2006 sebesar 6. 2006 dan 2007). pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri.220.044. 12. 3 September 2009 163 . dan tahun 2006 sebanyak 713.1% dan tahun 2005 sebesar 5. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.223. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman.514. Kepala Puskesmas.2 Berdasarkan uraian di atas.7%. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. dan lain-lainnya. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. jumlah obat yang diresepkan. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif. kerja di sektor informal. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat. Juli.960. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan.7%. Jumlah penduduk 724. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan. Dengan sendirinya. dan Gudang Farmasi. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. Pengelola Obat Puskesmas. tanpa kecuali.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. dan Agustus. serta tahun 2005 sebanyak 681. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO). baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007.

: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya ..500 Rp 120.084 Rp 175.566.443 Rp 5.395.857. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006. Perbandingan Anggaran Obat.550.9 5. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.253.394. 2. Vol. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat..039.307 Rp 2.7 6. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan.Nurliyasman.787 6.925 353.297 Rp 746. pada tahun 2007 malah paling rendah. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005. Artinya.410 Rp 12.035. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2. 12. Tabel 1. 20. Gambar 1. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat.1 *) Angka dalam ribuan rupiah.7 2005 1. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 4. No.223. dkk.897 Rp 529. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi. Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.472. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005.943 Rp 32. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas.485 Rp 35.7 18. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.916 4. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas.000 Rp 216.279. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1. 3 September 2009 .2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005.115.762.803.276 Rp 6.514.

566 31. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.100 13. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut.371 24. penyakit lain saluran pernapasan atas.317 40. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut. dan seterusnya.525 19.428 216.412 5.161 29. sedikit Tabel 3. penyakit kulit.344 21. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh.080 22.103 14.702 22. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi.693 123. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15.705 31. diare. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi.097 12. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut.098 391. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya.267 34.213 11.572 55. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. penyakit kulit. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas.088 3. berkas tidak ada lagi. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005.066 6.362 22. penyakit lain saluran napas atas.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2. 3 September 2009 165 . Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya. 12. hipertensi. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005. diare.913 14. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam.390 26. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%.541 7. 3.521 17.100 15.845 29.705 13.800 22.916 33.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005.870 69. Jumlahnya saja sedikit berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. hipertensi dan seterusnya. Vol.809 43. No. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%.

4% 4. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya.Nurliyasman.. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh.8% 94.8% Rata-rata 4. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas VII 95.7% 94.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . dkk.4% Puskesmas VI 3.5% Puskesmas VI 97. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95.1% Puskesmas III 5.05 c. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut. Vol.6% 93.0% Puskesmas V 95. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.0% 5.1% 5. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 5.1*% * uji t berpasangan p < 0.. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas.2% Puskesmas V 4. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain.7% Puskesmas II 3.0% Puskesmas VIII 3. 3 September 2009 .7% 5. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik.3% 95. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan.3% 5. 4. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% . Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis.3% Puskesmas IV 96.87%.05 Setelah 95.5% 5. ada sedikit perubahan urutan. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.0% Rata-rata 96. 12.3% 94. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien. No. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas.9% Puskesmas II 96. a. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.0% 5. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu.0% * uji t berpasangan p < 0.6% Puskesmas IV 4. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5.8% 94.7% Puskesmas VIII 97.6% Puskesmas III 94.9% 94.7*% Gambar 2. Berarti b. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep.4% 94.3% Puskesmas VII 4.0% 5. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. Tabel 4.2% 4. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4.

Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan. 3 September 2009 167 .5% . dana kesehatan berkisar antara 2.4%.4% 31.0% Puskesmas VII 49. mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18.7% Puskesmas VIII 46. Jadi.7%. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah.8% Puskesmas IV 48.7%. Setelah berjalan satu tahun. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% . berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007.4% * uji t berpasangan p < 0. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja. Namun.3% 45.5% Rata-rata 49. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya.4% dan maksimum 7%.7% 52. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya.6%. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54. 12. No. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi. Tabel 6. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas.3% 44.3% 26.3% 46. tahun 2006 sebesar 6.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005.01 Setelah 53.7% Puskesmas VI 44.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi.4% tahun 2002.9% dan tahun 2006 sebesar 4. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% . Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi. 2006 dan 2007. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru.0% 49. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja.3% Puskesmas V 39. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol.7%.1% dan tahun 2005 sebesar 5.7%. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun. pada waktu pembebasan retribusi. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam.8% 49.7% Puskesmas III 51. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4. sedangkan program kesehatan lebih abstrak. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.3% Puskesmas II 60. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak.

2009 dan seterusnya.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya.168. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. yaitu insentif yang keliru.000 pasien. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF). Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008..584. 3 September 2009 .000. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Masyarakat 70% .6 miliar rupiah.000 pasien. Inggris dengan National Health Service (NHS). Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS).134.000. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan.267.152.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas.. kualitas pelayanannya juga meningkat. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif. No. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9.8 miliar rupiah. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya.00 . jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588.267. (Gambar 2a). yakni 588.966. Penelitian terdahulu oleh Elfian9.600.00. seperti Central African Republic.000. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368. tapi kebanyakan kurang puas. dengan pelayanan gratis. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006. Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak.600. dkk.000.000. Pengalaman beberapa negara.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan. preventif perorangan seperti imunisasi.00. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam. Maka tahun 2007. Sebagai koreksi. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391. timbul masalah.00 jika kunjungan naik 50%. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.267. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5. Hasil perkiraan yang diperoleh. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan. Dari persamaan tersebut. Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan.896. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9.Nurliyasman. Vol.600.872.7 X + 7E+07 (Gambar 2b).00. 12.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .628 pasien adalah 3. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat. Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3.

sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. Pola peresepan yang relatif tetap ini. rongga mulut. seperti tidak semua gratis. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. dan penyakit kulit. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. diare. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. 12. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. tidak akan terlalu membebani anggaran. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. No. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. dengan tarif tidak terlalu tinggi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. secara umum tidak berubah. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. Akibatnya. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. jika bisa dibatasi. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. asal-asalan. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. Jamsostek atau lainnya. 3 September 2009 169 . Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. sebaiknya harus bayar. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. karena sudah bekerja ekstra. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. Mungkin. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. terutama yang memerlukan tindakan. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. Vol. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. terutama Puskesmas. maupun Dinas Kesehatan. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. bagi yang kaya.

Health Economics and Drugs DAP Series No. 9. Universitas Gadjah Mada. Trisnantoro L.. Elfian. World Health Organization. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Yogyakarta. World Health Organisation. Suryawati S. Dinas Kesehatan Kota Batam. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Gudang Farmasi Kota Batam. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. 4. Vol. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. No. 3 September 2009 .1999. Universitas Gadjah Mada. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. 12. Tesis Program Pasca Sarjana. Jakarta. Geneva. Gadjah Mada University Press. Geneva.2000. 8. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. Rachmat HH. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. 2005. Hartati. 2. 2007. Murti B. Puskesmas se-Kota Batam. Batam. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini.Nurliyasman. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. 2006. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. Yogyakarta.8. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya. Yogyakarta. 3. 1992. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. 6. 5. Gadjah Mada University Press.1998. Yogyakarta. Republik Indonesia. Penerbit Kanisius. Dinas Kesehatan Kota Batam. 2004.2007.. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. dkk. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Yogyakarta. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar. 7. KEPUSTAKAAN 1. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Tesis Program Pasca Sarjana. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. Kebijakan.

Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. Selamat membaca. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. dan Riverview the HMA Facility. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Vol. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. masalah keterbatasan akses. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis. Melalui manajemen perencanaan strategis. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan. perencanaan. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan.com atau januraga@sph. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. dimanapun mereka bertugas. W. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. Peter M. Jack Duncan. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. Swayne. segala sesuatu terus berubah. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. termasuk sektor pelayanan kesehatan.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini.januraga@gmail.unud. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. Midwest Medical Group. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. 3 September 2009 .ac. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. menganalisis data. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. 12. Untuk itu. dan mengembangkan ide-ide baru. kemajuan bioengenering. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. No. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. masalah mutu layanan. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. dan mengelola strategi momentum. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. mengembangkan pertanyaan. dan pengelolaan dimulai kembali. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. Dari sudut pandang penulis. ekonomi. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. strategic planning. Pada akhirnya.

12. Peraturan Pemerintah. mungkin sama dengan yang penulis maksud. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. 2/Juni/2009. 15/1992 tentang Penerbangan. Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009. dan seterusnya. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan. mengevaluasi. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. 3 September 2009 . 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. menyeluruh. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. melaksanakan. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. SK Dirjen Perhubungan Udara. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Vol. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. Permenhub. 12/ No. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. Civil Aviation Safety Regulation).pasal 322).2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. No. KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja. Oleh karena itu. Sepengetahuan saya bahwa UU No.

Mulijadi H. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Rudiyanto. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. penyakit akibat kerja. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. First Published. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). Cetakan Ke 2. Vol. Jakarta. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. peledakan.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3. KEPUSTAKAAN 1.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja.2001.2004. Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta. Keselamatan Penerbangan. com/index. 2002. 05/1996. 4. International Labor Office. 2. 3. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. Tersedia dalam http://news. 12. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. Diakses pada 14 Februari 2007. 3 September 2009 173 . oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. Permenaker RI No. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. Alli BO. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel.vokezone. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. kebakaran. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan. Geneva.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->