Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

trisnantoro@yahoo. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. Kerapuhan ketiga.com). 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh.. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Kenyataan memang sudah terjadi. No. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. 3 September 2009 . Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia.. Aspek ini sangat politis. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Vol. Kerapuhan kedua. Oleh karena itu. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas. Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. 12. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional . termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang.

hal ini terjadi pula di Indonesia.14.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis. Pada rentang waktu itu pula. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata.13. Thus health sector is not an exception in this case. No.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut. 12. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality. Fakultas Kesehatan Masyarakat. 3 September 2009 115 . tak terkecualikan. Khusus di sektor perumahsakitan. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service. terjangkau dan berkualitas. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah. Universitas Indonesia. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising. termasuk di sektor kesehatan. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. Keywords: government political development. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rumah Sakit Haji. Vol.

Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan.J. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju. Di lain pihak. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu. sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi.. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. dan teori alternatif. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. John D. 12. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut. teori liberal. dan toleransi. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. 3 September 2009 . Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru. aturan hukum.4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. Oleh karenanya. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya.A. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”.. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian.. masing-masing: teori modernisasi. pemerintahan konstitusi.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. Teori kedua. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang. Kay dan D. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. Vol. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah.”5 Pada praktiknya. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. seperti persamaan hak.means of changing relationship between the government and private sector”. Sebagai contoh. teori ketergantungan.. No.

3 September 2009 117 . penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda.. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. seperti rumah sakit. Vol. proses rekrutmen. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. Dalam banyak kasus. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”. profit sharing. tambang timah. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan. seperti di Inggris. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN.”. Telkom.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. angkutan umum.5 Di Indonesia. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat. dan lainnya. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. sekolah. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. Selain itu. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. No. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. seperti penanganan sampah. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. dan lain-lain. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”.. jika pemimpin melakukan kesalahan. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. Ross Mcleod. Pada definisi ini. Antara lain. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system). angkutan udara. Ketiga. Belum lagi daya saing.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global.6 Sebagai sebuah kebijakan. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. 12. terutama dalam hal investasi.9 Dengan peningkatan kinerja. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. Kedua. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. adalah penjualan saham persero. yang memfokuskan pada pelayanan publik. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. Jackson dan Catherine M. dan perumahan. sebagaimana ungkapan Peter M.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta. jalan tol. Berikutnya.

selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. No. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta.. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. Vol. Pada tahun 1993.. Filipina. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. F. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi. di Indonesia 65%. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. Eid. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. keuangan dan penetapan standar pelayanan. Meski seolah terkesan pragmatis. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung. 12. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. 3 September 2009 .Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. Atas dasar itu. Pada banyak negara. Korea. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. di Korea 60%. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. meningkatkan profesionalisme. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. Di India dan Thailand. di Filipina sekitar 50%.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat.

19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. Carol Baker. http://www.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. Ross Mcleod. Willam Newbrander. 8. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. Florence Eid. Gelombang Demokratisasi Ketiga. No. pertanggungjawaban. 1986. http://www. 9. Tommy Legowo. Private Health Sector Growth in Asia. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas.J Thompson. 3 September 2009 119 . London.eastasia forum. London. Samuel Huntington. Sage Publications Ltd. 1996:163 12. 2002:10. Jakarta. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. J. 2004:8. 1994. Syamsul Hadi. dan kewajaran. htm. UK.Bab. terjangkau.9.A Kay & D. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 16-18. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). 4. USA. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. 12. politics a place to act”. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. Maret 2005. et. KEPUSTAKAAN 1. 3. 2006. Granit. Revrisond Baswir. Analisis CSIS. 1992: 31. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832.XXIII(1):6. state and society. The Health Care Policy Process. 19. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF.3. the American University of Beirut). Republika Senin 8 Desember 2003 7. PENUTUP Pada banyak negara. Issues and Implication. Carporaso dan David P. kemandirian.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. Caporaso and David P. 10. James A. dan berkualitas. Theories of Political Economy.kompas. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. Hasbullah T.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. akuntabilitas.all. the self regulating market. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. Private interest and public good.96:18-32. Levine. 11. Vol. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata. Jakarta. Diakses pada tanggal 18 April 2008. Cambridge University Press.10. 2000. Bahaya Globalisasi Neoliberal. 5. Safri Nugraha. 1997. Jakarta. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. 20 6. UU No. 2. John Willey & sons Press. Grafiti. 1. Diakses pada 18 April 2007.

maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet. Kata kunci: balanced scorecard. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.082-18. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care.624). p = 0. p = 0.032. OR = 8. patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6.002. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care.935.5% and fourth visit coverage was 77. CI 95% = 1.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.935.516.8%. check list dan pedoman wawancara. and all pregnant mothers receiving forth visit care. 3 September 2009 . there was no difference in finance performance in both CHCs. These show that maternal and child health care performance is not optimal. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. CI 95% = 1. FK UGM. 03 September 2009 Ernawati. Halaman 120 . proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA. 95%CI = 1. Study instruments were questionnaire.5%) dan cakupan K4 (77. and patients’ satisfaction (χ2 = 4. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas. 12.662. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. 95%CI = 1.724). Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. PR = 2. FK UGM. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87. Vol. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. improvement should be made. p = 0.032. 95%CI = 1. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. while standardized care was not related to antenatal care coverage. internal business.76%).082-18. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. and interview guide. bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif.0806.607.667-9. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6.015. p = 0. checklist.008. Method: This was an observational study with cross sectional study design. CI 95% = 1.407. However. and learning and growth.624). Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10.017.002.348). Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4..256-84. the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.407. PR = 8. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . OR = 4. p = 0. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5. p = 0. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. Djaswadi Dasuki². Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang. Yogyakarta 3 CHN-RL. OR = 2.662. The subjects were the head of CHCs. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan.256-84. 95%CI = 1. costumers’ satisfaction. p = 0. Keywords: balanced scorecard. kepuasan pelanggan.026. PR = 4. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. OR = 4.516. Qualitative data were used in this study. dkk.026.080-6. Based on the qualitative data.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. Instrumen menggunakan kuesioner.789). Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. namely finance. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives..017.008. therefore. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. Analisis data menggunakan analisis univariat. kinerja.667-9.8%). Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5.789). p = 0. CI 95% = 1.015.607. performance. No.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹. PR = 4.

balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. 12.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan.33%).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. Vol. 1. Bidan Penanggung Jawab KIA. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. kepatuhan menerapkan standar pelayanan.3%).67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53.8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. pelanggan. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. kepuasan pasien dan dana operasional.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. standar pelayanan.9 Di samping itu. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan. pengetahuan dan keterampilan. dan Ibu Hamil. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. check-list. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. dengan variabel terikat cakupan antenatal. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. K4. umpanbalik segera. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. Bila kinerja rendah.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. motivasi dan insentif. No. memuaskan. sesuai standar dan etika profesi. 3 September 2009  121 . Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan). dan keuangan. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. memotivasi pegawai. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. Selain itu. bisnis internal. perspektif customer. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi. kondisi wilayah dan status Puskesmas. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS). Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). dan kepuasan pasien. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. lingkungan dan alat. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan. a.

92 67 85 72.65 ± 18.280 33. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2. Tabel 1..740 100 Realisasi Skor % 15. Tabel 3.88%). Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49.13 ± 1. Tabel 2.88 Skor : dalam satuan Rupiah (.Ernawati. 12.804 (14.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71.000.33 33. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4. d. Biaya Operasional Gambar 1.. (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.740. 3 September 2009 .50 38 98 2.67 53.810 100 334.090 100 3. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.090 11. dkk.85 ± 16.33 100 100 80.434 46. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.804 14. c. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70. No.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Vol.30 b. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3.03 33 98 62.64 1.54 ± 2.11 49.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian.840 100 297.

Pemeriksaan umum 3.50) 2208 (100) 1603 (72.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1.30) 31 (33.63) 657 (25. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66.65 (53.40) 370 (25.67) 26 (19. 2.99) 276 (100) 240 (86.78) 3 1. KIP-K 3. 2. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.43) 92 (100) 61 (66. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.60) 1472 (100) 1102 (74. 12. Quality Assurance 4.74) 98 (26.21) 1354 (36. 4. 3 September 2009  .30) 40 (25) 40 (25) 12 (33. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33.86) 7360 (100) 241 (32.80) 284.80(14. Pemb.14) 5389(73. Anamnesa 2.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.50) 605 (27. 3.72 (88. Fe 6. 5.96) 36 (13. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.04) 1012 (100) 532 (52.55) 3680 (100) 2326(63.09 (100) 15.64) 17.56 (66.9 (85.67) 16 (53.01) 469 (29.37) 2576 (100) 1919 (74. Vol. 3. Pemeriksaan kebidanan luar 4.11) 264.56) 3. Diploma I 2.74 (100) 49.09(11.67) 297.70) 92 (100) 86 (93. tekanan darah dan tinggi fundus uteri.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.52) 644 (100) 312 (48.57) 480 (47. No.33) 14 (46. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5. Pemb.26) 368 (100) 270 (73.28 (33. SPK 2.4 (46.81 (100) 33.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan.84 (100) 1. Diploma III 3.22) 1971 (26.48) 6 (6.33) 2. Imunisasi TT 5.45) 332 (51.89) 334.

..13 78.” “.000. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit.664 per ibu hamil. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi.. tekanan darah. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh.674 ibu hamil.35 Tablet Fe 91.. . jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162.000.. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.” “..” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “. dkk. 7....00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4. pemeriksaan umum dan pemberian Fe. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “.625.. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup..” “. itupun sebagian besar untuk transport saja. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas .. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa.. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal.. Vol. tersaji pada Tabel 6. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil)... 7. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu.26 82. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas...1%.61 54. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan.. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut.536.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Tabel 6.000. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu.Ernawati. 3 September 2009 . Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp.807. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu..30 95.640. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.” “. No.. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang.00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4. pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7. 12..” “. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional.- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89. imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya. saya rasa sangat kecil sekali... cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54. tinggi fundus uteri.. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T.Rp.. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas.

.. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut .775. 12. 95%CI = 0..451-2. sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas .” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10. PR = 1.017. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0. Tabel 7. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi.002.026.118. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan. 95%CI = 0. PR = 8. 95%CI = 1. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi ...032. baik (p = 0. PR = 1. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas. PR = 4.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas.589). 95%CI = 1.407. p = 0.903).386-3.662. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7.. No. 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri. 95%CI = 1.0806.789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.” “..777. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0. Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan .. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a. (Tabel 8). 3 September 2009  125 . pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien...516. 95%CI = 1.“ “. p = 0.008.724) dan kepuasan pasien (  ² = 4.348).08218.607. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan.407 kali. p = 0.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4.935.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5.. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “.015.114. PR = 2.256-84.. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6. b. Vol..667-9. PR = 4. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II.. p = 0. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas.

09) 13 (56.00) (80.13) 17 (73.52) 39 (42.39) Total (%) 36 (100.Rp2 juta per bulan yaitu 50%. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun.87) 6 (26.624 6.008 1.0) 92 (100. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun. hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.0) 16 (100..017 4.462-8.0) 92 (100. 3 September 2009 .0) 30 (100.91) 9 (39.25) 16 14 (53.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi.082-18. dkk.589 Tabel 9.312 1.0) 23 (100.61) Standar (%) 6 (26. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun.256-84.00) 11 5 (68.33) (46.913-15. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta.09) 14 (60. sistem dan prosedur. Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.13 Tabel 8.39) Total (%) 23 (100. No.0) 23 (100. PEMBAHASAN 1.036 3.Ernawati.67) (33. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.48) 53 (57. 12.61) (42.407 (1. (Tabel 9).394 0.0) 23 (100. Vol.0) 10 (100.789 4.0) ² p PR (95%CI) 5.67) 53 39 (57..023 0. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda.33) 2 8 (20. 2. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73.925 (0.662 0.935 0.683 (0. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .91) 10 (43.75) (31. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1.0) ² p PR (95%CI) 8 (1.

berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani. peningkatan teknologi dan informasi. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. Vol.20 5.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 .18 bahwa sebanyak 1.17 4. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu.15 menit.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah. biaya. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil. merujuk secara medik. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. 3 September 2009  127 . Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. dan berkualitas pelayanan. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan. No. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan.15 3. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. serta jasa yang konstan. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 . sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. 12. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan.

Lumbiganon.2000. The Lancet. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup. Jakarta. 6. Yogyakarta.int 2. Dasuki D. Farnot U. serta meningkatkan pelayanan. NHA Producers Guide. dan Solichin. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. ia harus didukung dengan faktor non-financial. 2003: 58-62. Departemen Kesehatan R. 12. Journal of Bio Med Central.id/. 2002. Surabaya. Jakarta. Tesis. Berita Kedokteran Masyarakat. World Health Organization. Bakketeig L. 3 September 2009 . Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Avalaible on: http/ www. http:// depkes. Carroli G. Hutton G.go. Villar J.I.I. C. UGM.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. & Voltero L. Nigenda G. P. “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. Departemen Kesehatan R. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. 1996. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. Berendes H.2001. 10. Jakarta. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia. Ba’aqeel H. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard. 5. Vol.I. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. 8. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.2(8)June:1-11 9. Bergsjo P. Wijono Djoko. 3.who. 7. Langer A. Departemen Kesehatan R.Ernawati. Modul Ajar Safe Motherhood. Almazrou. Airlangga University Press. 1997. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. Abdurrauf. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. Kurniawati L. Yogyakarta.. 1999.22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. No. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. FoxRushby J. 12. Piaggio G.I. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah).. Hakimi M. Mulyadi. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Modul Ajar Safe Motherhood. WHO. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Mulyadi. 2004. KEPUSTAKAAN 1. 1997. dkk. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Belizan MJ. Wilopo SA. 2001:1551-64. Jakarta. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. 2000. Salemba Empat. 1998. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. 4. Universitas Gadjah Mada. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. 11. Mugford M. Dalam menilai kinerja organisasi. Fort AL. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. Diakses pada 15 Maret 2006. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. Donner A. Geneva. Pinol A. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien.XIII:16-20. memperbaharui. Departemen Kesehatan R.

Boston. Workshop Akuntansi Manajemen. Zahorik Antoni.43(5): 427 – 40. Vol. Gadjah Mada University. Edisi Ketiga.1998. Azwar A. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Berita Kedokteran Masyarakat. Lau C. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill. Non Finansial Perspektif. 17. Azwar A.1992.2005. Yogyakarta. M. Pengantar Administrasi Kesehatan. 1997. Parasuraman A . Pengantar Administrasi Kesehatan.1996b. 12 (4): 6-13. Hakimi M. 12. University of Miami. Ghufron A.2000.1997. Jakarta. 19. Journal of Busness dan Industrial Marketing. and Siemanski Beth Ann. Dasuki D. Customer Service In Business to Business Market. Cates RJ. 18. Nelson EC. Second Edition. Mayer T. A. Mosby Year Book. No. 21.1996. 20.XIII:16-20. Green E.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13. Bina Putra. Hakimi M.1998. Journal of Health Care Management. Katz JM. 23.L. Rust Roland T.. CHNRL Faculty of Medicine.13 (4/5): 309-21. Sasongko N. St Louis Missouri. Mastorovich. and Royalty. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. 22. Journal of Health Care Marketing. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 15. Florida USA. Edisi Ketiga. An Agenda For Research. D. dan Norton David P. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective). Wilopo SA. Kaplan RS. Jakarta. 16. 14. 3 September 2009  129 . 1997. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Solichin M. Measurement Financial. Batalden Paul. Rosi Robin L. Bina Putra. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo. Wahab A. Harvard Business School Press. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care. J. Kurniawati L.1996.

UGM. dkk.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. F-test result showed a significant difference (p < 0.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% . The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. IV. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.87% from 5th element maximum score). Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement.36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. Suma’mur. 3 September 2009 . Keywords: industrial accident. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan.01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I.. Hasil: Sebanyak 53 (96. Result: A number of 53 (96. Vol.K. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. F-test result showed a significant difference (p < 0. registered enterprises in the employment accident benefit program. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No.139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1.40% from 3rd principle maximum score). Adi Heru Soetomo2.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. 03 September 2009 Gerry Silaban. Soebijanto2. FKM Universitas Sumatera Utara. Kata kunci: kecelakaan kerja.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% . One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles. II.. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan.14%) in 5th element. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate. Lientje Setyawati Maurits2. kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Method: The type of this research is survey research. No.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria.60% dan 2 (3.85%) of 3rd principle. P. Halaman 130 . 12. 05/1996.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). III.

118 kasus. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. peledakan. 3 September 2009 131 . Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. III. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3.06%) dari 1. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif).958 kasus. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3.7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. yaitu tahun 2003 sebanyak 3. penyakit akibat kerja. dan 207 kasus.759 kasus. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. No. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari . Selain itu. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. jenis standar K3 berbeda. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. dan tahun 2005 sebanyak 1. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. kebakaran. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”.6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. II. Vol. 331 kasus.250 kasus.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan. audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3. tahun 2004 sebanyak 2. 12.31 Desember 2005). alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No.759 kasus. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun. 564 kasus.3 Selain itu.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah.K.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. 5. IV. Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”.10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I. dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi. sehingga tercapai tujuan.

Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan proses audit SMK3. dan 1. dan pemantauan lingkungan kerja). pembelian.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. kecelakaan kerja. dengan rerata sebesar 304 atau 45. No. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). obat nyamuk bakar dan cair). Setelah itu. desain. dan wawancara dengan tenaga kerja. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). penyakit akibat kerja. pabrik barangbarang dari logam. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). perawatan. pengendalian dokumen. pabrik minuman. 2. Check. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. unsur 5 (7 kriteria). perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. Vol. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. unsur 6(40 kriteria). Unsur 4 (7 kriteria). 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3.. dan hotel. prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. 3. prosedur rapat tinjauan manajemen. industri minyak kelapa sawit. dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. pabrik keperluan kaki. 3 September 2009 . penggergajian kayu. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. dan penyakit akibat kerja). perusahaan penggergajian kayu. profil perusahaan. pabrik kimia lainnya. TS (Tidak Sesuai). struktur organisasi perusahaan. pabrik keperluan kaki. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. rekrutmen. prosedur audit internal. pabrik kimia lainnya (lilin.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . prosedur operasional (mencakup izin kerja. hampir celaka. rumah makan dan minuman. struktur P2K3. pabrik barang-barang dari logam. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1.. diskripsi pekerjaan). investigasi. observasi.Gerry Silaban. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. perusahaan air. prosedur identifikasi bahaya. kecelakaan kerja. Improvement (PDCI). inspeksi. dkk. pengendalian catatan. SE (Sesuai). pemantauan kesehatan. Unsur 7 (15 kriteria). dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. tujuan dan sasaran K3. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. prosedur tanggap darurat. prosedur insiden. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. produk setengah jadi. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. 12. Dalam penerapan SMK3. Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. industri-industri lain. penggilingan (remiling) karet. dan pabrik plastik. seleksi dan evaluasi vendor. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. Do. pabrik minuman dari alkohol. program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). prosedur komunikasi dan konsultasi. pelatihan. penanganan bahan berbahaya dan beracun). ruang lingkup.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). penggilingan (remilling) karet. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan.

Terdapat hanya 2 (3.73%) untuk unsur 3.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin.100% dari 166 kriteria audit SMK3. 11 perusahaan (20. 11 perusahaan (20. dan 8 perusahaan (8. pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah.74%) untuk unsur 12.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan. dan perilaku pekerja14. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 .04% dari 166 kriteria).82%) untuk unsur 10. 3 September 2009 133 .19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7.27%) untuk unsur 1. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan.46%) untuk unsur 2. 3 perusahaan (5. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70.560 atau memenuhi 100 . Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli. Vol.00%) untuk unsur 9. 12.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman.84% dari 166 kriteria audit SMK3.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76. 9 perusahaan (16. 1 perusahaan (1. instalasi. dan 7 perusahaan (12.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). 31 perusahaan (56.82%) untuk unsur 8. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan. 12 perusahaan (21.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. kinerja penerapan SMK3 rendah.36%) untuk unsur 4. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% .61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% .64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% . No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 . Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya. 17 perusahaan (30. alat. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.36%) untuk unsur 5. pendidikan.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 . 7 perusahaan (12. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. sedangkan 53 (96.00%) untuk unsur 7. penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi. perlengkapan.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4.24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13. 1 perusahaan (1.74% pada industri tekstil.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% .91%) untuk unsur 6. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.60% dari 166 kriteria audit SMK3. tidak mampu berkompetisi. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19.82%) untuk unsur 11. mengukur dan mengendalikan risiko. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70. terendah sebanyak 6 kriteria (3.

84 4. peralatan. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. tenaga profesional. dkk. Vol.61% 47. atau memakai alat pelindung diri. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja. 12.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34.82 11. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman. melibatkan tenaga kerja secara aktif..26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29. pekerja berperilaku aman. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38.29% 26.. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14. unsur 1. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20.38 13.38% 42. membuat kebijakan dan program K3. unsur 3. 3 September 2009 . untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari.85%) dari 67 kriteria prinsip 3. unsur 12.23 Di samping itu. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3.27 22.18 28.86 11. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum.65% 35.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1. unsur 4. dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3.84% 44.68% 74. unsur 2. prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif.81%) dari 27 kriteria prinsip 5. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja.Gerry Silaban.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis.56 20.86% 57. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan.96 (74. dan unsur 11. unsur 8.14%) dari 28 kriteria prinsip 1.51 20. kompetensi.56%) dari 18 kriteria prinsip 2.22 27. unsur 9.86% dari skor maksimum unsur 5).28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.07% 43.88% 42. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi.96 92.38%) dari 26 kriteria prinsip 4.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3. No.27% 34. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial.47 12.60% 46.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .unsur 7. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3. unsur 10.

prinsip 2. 5. Selain itu.17% (tertinggi).82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. kualitas produk. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. dan prinsip 1.8%. 2. 3 September 2009 135 .27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0. Vol.18% 55. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.47 (55.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2.62%.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya.33 148. di samping pemasaran dan finansial.47 44. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38. keselamatan.38 25. 12. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum. 6. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas. No. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46.62 47. 4.27% 35. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. kesehatan dan lingkungan kerja.31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3. 3. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate).33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur.40% 42. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja.90% 43. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51. kontinu. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. memantau.40% dari skor maksimum). prinsip 4. dan berkelanjutan.

dan laporan hasil audit internal SMK3. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. teknisi (lift. konstruksi. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. petugas K3 (kimia. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. konsisten dan berkesinambungan. petugas P3K. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. alat pemadam api. Fasilitas K3: alat pelindung diri. instruksi kerja. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. kebijakan K3 perusahaan. confined space). Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No. 3 September 2009 . Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. operator (pesawat uap. Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. crane). 05/1996. 05/1996. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. dan juru las. listrik). paramedis (perawat) perusahaan. 5. 4. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. kegiatan K3. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. konstruksi. ahli higiene industri. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. No. Organisasi K3 ini bertugas: a. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja.. kebakaran. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. uap dan bejana tekan. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. 3.33 Kebijakan Permenaker No. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.Gerry Silaban. rambu dan tanda keselamatan kerja. instruksi tanggap darurat). Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). alat dan sistem tanda bahaya. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. instalasi dan bahan berbahaya. Personel K3 yang mempunyai tugas. dokter perusahaan. radiasi. pelayanan kesehatan kerja). fungsi. manajemen. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. pintu dan tangga darurat. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. alat. 12. Vol. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . 2. P3K.. kimia). tempat pelatihan K3. dkk. mekanik. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali.

Check. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3.Medan. Di samping itu. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya. Siswati M. 6. Do. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi. 4. 7. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). Jakarta.2006.2002. Perusahaan Jasa K3. 20(1): 67-85. Kanwil I PT Jamsostek.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. organisasi profesi K3. Balitbanginfo Depnakertrans RI. Ichsan S. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. PT Sucofindo. XXXVI(2) AprilJuni. 1988. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Dengan demikian. Accident Anal Prev. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0. 3. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Suma’mur PK. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3. XXXVI(2) April-Juni. Ichsan S. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. 2004. Suokas. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3.2003. PT Jamsostek. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. and Improvement (PDCI). Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek. 3 September 2009 137 . Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. No. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan.2003. Medan. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Vol.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. 12. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . Rudiyanto.2005. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. 2. Oleh karena itu. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo. Jakarta. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 5. J. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). Balai K3. KEPUSTAKAAN 1.2003. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. kebijakan Permenaker No. Jakarta. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3.

Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). 2004. Fourth Edition. Canberra. Widiastuti E.google. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. Working Paper 14. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. 20. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Vol.. Yuliani R. Hopkins A. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. Fourth Edition. Safety Culture and Management. Working Paper 20. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies. 16. Surabaya. 2005.2002. 1998. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour. 22. Alli BO. Subekti A. Hegney. Global Estimates of Occupational Accidents. Bluff L. Yogyakarta. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). 13. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations.L. 1998. Tesis. 15. Fourth Edition. II. Pamardiningsih Y.2003. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 27. Theoritical Principles of Job Safety. OSHA. 59 Safety Policy and Leadership. International Labor Office. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Jakarta.Gerry Silaban.2008. 25. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan.2006. Frick K. 1991. 22: 53-70. II. 56 Accident Prevention. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 17. dkk. ITS. 2003. Geneva. 44: 137-56. 18. The Accident Causation Model. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Peters RH. Program Magister Teknologi Manajemen. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. 2006. Tesis. 3 September 2009 . Yogyakarta.2001. 12. Hadi S. Vol. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Occup Hazards. 12. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional.2003. and K. Saari J. Ramli S. First Published. Jakarta. Takala. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. Simard M. Systematic Management of Occupational Health and Safety. K. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. Hamalainen PJ. 19. 26. Yogyakarta. Vol. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. Manual SPS Paket Midi.1998. In: Ch. Tesis. Taylor G. International Labour Office. J Occup Acc 12: 107-117.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .In: Ch. Canberra. Sugiyono. International Labour Office. Jakarta. Geneva. Inspections and Investigations. Hansen L.2002. 10. US Department of Labor.Enhancing OccupationalSafetyand Health.2005. Groeneweg J. Easter. Saarela. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. OSHA: Employee Workplace Rights. 23. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. 2004 (http:// books. 8. Hadi S.Beyond Commitment. Geneva. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.M1) 21. Surabaya. Vol. 14. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tesis. 2000. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. J Saf Res. 2005.2004. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Tesis.XXXVI(3) JuliSeptember. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Depnakertrans RI. 1993. 55(9): 250. Universitas Gadjah Mada. Skiba R. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. and R. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. No. Novianto R. 28. Safety Science. 11. Yogyakarta.. 9. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. 57 Audits. Geneva. II. International Labour Office. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. 29. In: Ch.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1. Canberra. 24. Safety Culture.

In: Ch. Journal Occupational Safety Health. Vol. Geneva. Linehan A. Industrial Health. Malaysia. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. Venkataraman N. Inspections and Investigations. II.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. 33. 2004. Boca Raton. International Labour Office. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Reese CD. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 1998. 32. Siriruttanapruk S. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach. 31. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 42. Anatagulnathi. 5: 27-30.2003. 2008.Lewis Publishers. 12. Safety Performance Factor.135-40. No. and P. 57 Audits. 3 September 2009 139 . Fourth Edition. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30.

hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. The expectations of participants are in line with the recommended credential system. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. profesionalisme.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. perawat. 3 September 2009 . Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety. Oleh karena itu. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. standardization of policy and credential instruments. Keywords: physicians credentialing system. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. Kata kunci : sistem kredensial dokter.: Hambatan dan Harapan Sistem . No. The credentialing system. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. and frequently are inadequately performed.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. aims to ensure the accountability. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. Every FGD was attended by 10-20 participants. which is based on the concept of professionalism. and good relationships among colleagues. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial. 12. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda.4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. Halaman 140 . Vol. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals. dan hubungan baik antar sejawat.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1.2.. a process to grant clinical privilege. professionalism.. adanya tim kredensial yang obyektif. Dokter. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. The expectations of the participants are the needs of monitoring process.1. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 03 September 2009 Herkutanto. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions.3. consisted of physicians and hospital management. existence of objective credential team. dkk. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. Cipto Mangunkusumo. sound relationship between credential team and hospital management. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis.

sedangkan di bidang terapeutik. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat. Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Dari 98. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. Vol. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%).8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. No. Di USA. Dengan demikian.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien. Oleh karena itu. bukan kedokteran. Dalam proses ini. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter.12. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi. ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity. Di masa mendatang di Indonesia. jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu. 12.10 Sama seperti negara lain. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak.179 di antaranya merupakan kelalaian medis. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%). 3 September 2009 141 .8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. Dari 1. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama.

hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi.Herkutanto. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. Berdasarkan rekomendasi ini. 3 September 2009 . 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. Tabel 1. dan surat rekomendasi. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain. Apakah telah cukup ideal? b. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. transkrip akademis. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. dkk. sikap. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. dan profesionalisme kandidat. keterampilan. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan. Pada studi kualitatif. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. Prinsipnya. Nama partisipan dirahasiakan.12 Sebelum FGD dilaksanakan. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. Selain itu. karena sering kali ditemukan false positive. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. No. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c. Vol. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal. yaitu kebutuhan proses monitoring. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi...: Hambatan dan Harapan Sistem . para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. 12. karakter. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. dan diminta persetujuan. Pertanyaan disusun oleh para penulis. Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing.

Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial. wawancara.. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. Vol. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. 3 September 2009 143 . Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. atau sering menggantikan praktik.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya. Kebutuhan monitoring a. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. No. Pada FGD di RS1 dan RS2. Tujuan a. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. Mengurangi subyektivitas b. RS2] Terakhir.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Keselamatan pasien 1. Selanjutnya. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. tes untuk memotret pengetahuan. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi. Penerimaan karyawan b. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis.. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c.. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. 12. karakter. Periode uji coba b. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. netral c. kayaknya kurang pas. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. Selain itu. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu. dan divalidasi oleh komite medis. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pada FGD di RS1. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari. Proses rekredensial 2.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. berpengaruh.” [dr Y. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit. hubungan kerja.4 Kebutuhan tim ideal a.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. sikap. dan profesionalisme 1. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial.1.” [dr X.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. dan netral. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. Bijak. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. Tabel 2. keterampilan. sungguh-sungguh bekerja.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi.1.

jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. Vol.15. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. peningkatan mutu profesi. senantiasa terjaga dengan baik. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. Dengan kurang berfungsinya komite medis. Ketiga. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium. Sayangnya. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis. dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter. Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. No. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). dokter akan melalui proses rekredensial. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial.. Pertama.11 Fungsi kredensial. Namun demikian. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty).18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. Secara periodik. Namun demikian. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.: Hambatan dan Harapan Sistem . Selama ini. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. dkk. Kedua. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. 12. Selain dokter tersebut. Dalam kontrak sosial tersebut. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. 3 September 2009 . (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik.. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). sehingga menimbulkan kecederaan.Herkutanto. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. Selain itu.

Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. 21. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sebaliknya. 21. 20 Namun saat ini. 22. Tiga proses inti kredensial Tabel 3. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial.20. wawancara.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. Vol. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. 3 September 2009 145 . Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. Namun demikian. No. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana. 12.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan.

49(3):256. 2003. et al. Laird NM. 6. Freeling P. ADIS Health Science Press. 2(1) Maret: 41-7. 69:8. Hebert LE. Wong LP. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. White Papers Mitra Bestari 2. O’Connor. USA. Luff D. dengan keluaran berupa clinical appointment. 5. Wachter RM. 2004. Dengan demikian. Vol. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. Credential and Clinical Privileges. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Results of the Harvard Medical Practice Study III. E&S Livingstone Ltd. 14. Understanding Patient Safety. Laird N. white paper. Competency. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. Tabel 4. Edinburgh. 1991. Credentialing. N Engl J Med. Qualitative Research Methods for the Social Sciences. 2008. 12. ME. 16. 2002. World Alliance For Patient Safety. Peterson LM. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. 110:414-8. World Health Organization. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. Lacey A. 11. 2006. O’Neil PN. Lawthers AG. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence.. 1984. 2007. 3 September 2009 . 1967. 7. 2005. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. George LA. Boston. Geneva. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. Sheffield. 15. dkk. Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. 2008. Joint Commission Resources. Trent RDSU. Brennan TA. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. McGraw Hills. Results of the Harvard Medical Practice Study II.Herkutanto. No. Jakarta. The Patient Doctor Relationship. 2009. Browne K. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. Jakarta. Sebagai suatu studi kualitatif. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. et al. 10.. Barnes BA. Forward Programme 2008-2009. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms. Leape LL. Privileging.25(Juli):245-51. Localio AR. Sydney. Valenza JA. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Commitee on Hospital Care. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Jakarta. The Doctor-Patient Relationship. 12. Singapore Med J.: Hambatan dan Harapan Sistem . WHO. Qualitative Research Analysis. Journal of Dental Education. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Herkutanto. Herkutanto. Localio AR. Berg BL. 2005. The Way to Patient Safety. Pediatrics. and Peer Review. 8.7:324(6)Feb:377-84. 13. Pearson Education. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. 2008. 3. 1991. N Engl J Med. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Brennan TA. Tahka V. Illinois. dan peer group. Lawthers AG. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. 9. KEPUSTAKAAN 1.

Herkutanto. Johnston SE. 21. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. The Federation Press. 2004. Melbourne. Master of Laws Thesis. Joint Commission International. The Royal College of Physicians. 3rd Edition. 2000.18.82A:1189. 19. 23 (2): 229-42. Indonesian Health Practitiones Regulation. Professionalism and Medicine’s Social Contract. 3 September 2009 147 . Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. Cruess SR. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 2005. No. La Trobe University. Law in Context. I. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. Special Edition: Regulating Health Practitioners. 2006. Vol. 23. USA. Jakarta.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Jakarta. Journal of Bone and Joint Surgery. New South Wales. Freckelton. The Royal College of Physicians. 2007. Cruess RL. 22. 2006. 2007. 12. Herkutanto. Konsil Kedokteran Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 18. 20.

pengorganisasian dan aktualisasi. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. Romokalisari (Benowo). pengorganisasian. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. preventif. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. Halaman 148 . advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. organizing. Vol. improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. preventive. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. Koordinasi dan mengevaluasi program. Primary Health Center staff. kesadaran gizi dan makanan daerah. staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. Kedung Cowek ( Bulak). Sidotopo Wetan. Nyamplungan (P. dan GAKI. Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. Method: The purpose of this study was a descriptive type. 12. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. Perak Utara. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dengan sosialisasi. as well as health staffs.93% of severely iodine-deficiency villages.Cantikan). gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. The recent study at Surabaya City. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. Di Indonesia. and Bangkingan (Lakarsantri). Sidotopo Wetan. perawatan medis. Conclusion: The recommendation as follow promotive. angka gondok total (TGR) sebesar 22.9%. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. medical treatment. Cantikan). perencanaan. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. Kekurangan Vitamin A (KVA). Romokalisari (Benowo). organizing and actualization. Bubutan. Kedung Cowek (Bulak). has 16.9%.93% dari kekurangan iodium-desa. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). No.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. such as social economic factors from the society. memiliki berat 16. low health staff motivation to run the program etc. perencanaan pengelolaan terpadu.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . nutrition and food awareness area. higher than normative value (less than 5%). kuratif dan rehabilitatif strategi. staf Pusat Kesehatan Primer. diet counseling. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. 03 September 2009 Oktarina. curative and rehabilitative strategy.. Tambak Wedi (Kenjeran). Manyar Sabrangan (Mulyorejo). Perak Utara. Result: The result show many faktor. Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya. Tambak Wedi (Kenjeran).1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. Coordinating and evaluating the programme. integrated management planning. Tambak Oso Wliangun. dkk. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan. 3 September 2009 . Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. the Total Goiter Rate (TGR) 22. by socialization. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. serta staf kesehatan.. diet konseling. planning. Nyamplungan (P. Tambak Oso Wliangun. The middle term and short programme of iodine-deficiency. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. the society in severely iodinedeficiency. society and health staff factors. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. Anemia.

51%). Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia. otot. Vol. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. biaya. kehamilan. hati. 12. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik.1%).65%.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19. ginjal dan organ reproduksi. sikap. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran.4) 44 (100) 46 (63. bidan/ palpator. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil.6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. serta meningkatkan sistem pengawasannya. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16.1) 11 (37. jantung.6%). sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62.0) 27 (37. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium.3-triodothyronine (T3). Tabel 1.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3. memacu proses metabolisme otak. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. motivasi. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63.5. Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. keterampilan.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63.5. paramedis) yang meliputi pendidikan. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari.96%). No. pelatihan. imbalan.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan. L-thyroxine (T4) dan 3. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62.9%) mencapai 21%. pengetahuan.0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan.39%). 3 September 2009 149 . diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4.6) 16 (36.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun).

Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a.. Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya. II.93%. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya). Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. penilai. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. 1b. Vol. yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas.. Pengambilan sampel secara multistage random sampling. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang. Sidotopo Wetan dan Kenjeran. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2). dengan rata-rata TGR sebesar 10. Terlihat dari jarak jauh Tertentu. kepala posisi biasa. Pelaksana Gizi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. Semeni (Benowo).Oktarina. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. Gundih (Bubutan). dkk. Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat. pemberian uang jajan.11%. Puskesmas sebagai perencana.II.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .94% (jumlah anak yang diperiksa 10. Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang. (> 6m).37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2.baru. dan Paramedis. 12. perilaku (kebiasaan sarapan pagi). Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. Mulyorejo. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. rata-rata TGR sebesar 12.267 anak). pelaksana. No. Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. 3 September 2009 . Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya.

50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.16 17.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur).08 5.52%). leaflet dan konseling garam beriodium.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik. ada 2 Puskesmas yang baik.95 14.95 15.78 3 4.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2.96 12. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.Gunung Bringin Sambikerep Mr.66%). 12.33 9.94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29.57 14. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.43%.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5.8 Pengetahuan 1. terutama ketiadaan food model (42.1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39.91 19.67 19. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46. dan 2 Puskesmas kurang baik.24 17.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan. dengan rata-rata TGR sebesar 38.5 13.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium.64 8. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test). Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28.81 7.88 11. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.44 13.96 X: 12. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan. Vol. 3 Puskesmas cukup. No.21 12. pojok gizi (28.9 9.93 16. rata-rata TGR sebesar 24.89 19.2 6. melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16.7 10.68%).77 6.88 19.59 X: 10. sarana prasarana yang ada di Puskesmas. 3 September 2009 151 .3 Dari hasil penelitian. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W.

34 57.89 32. Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.14%).33 28. jadi belum sampai terlihat (visible).Oktarina.3 25.72%). No. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30.37 48.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).29%).35 21.29 25 25.68 26.62%).14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi.95 21.58%). Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya.73 24. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable). Kurangnya koordinasi lintas program (42.27%).59 25.42%). Vol.84 35.01 31.42%).95 23. 12..1 42. 3 September 2009 . kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%).57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42.95 26. serta sebagian besar (57. pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29. Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T. Tabel 4.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba. dkk.93 21.62 25.10 Kerja sama.44 X: 24.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85. ternyata sebagian besar (78.3 X: 38. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21.34 40.94 27.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek.02 33.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .12 23.02 22. Selain itu.76 24..89 31. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P. Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20.

baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. ada kejelasan target.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%). Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI.5%).12%) dan microplanning (42.000. Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program. Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah).12 2.5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. 12. nilai cukup ada 2 Puskesmas (28. sasaran palpasi gondok anak sekolah.50%) yang mempunyai nilai baik (>15).57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup. b. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium.0%) untuk pendataan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan.14%).0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak. pembinaan terhadap pelaksana gizi.62%) dan yang nilai kurang (14. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. ada pembinaan.8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14. No. dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46.52%) baik perencanaan programnya. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45. Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. rencana kerja tahunan (57.5%). pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45.66%).86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.68%) serta hanya 1 Puskesmas (14. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24.52%) 1 Puskesmas.0%). jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28. kegiatan penilaian. sebanyak (39. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan. Penilaian. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja. distribusi kapsul iodium.00 (32.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium.0%). Pada penilaian.0%).14%) terutama pada umpan balik. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing.68%). serta ada 4 Puskesmas (57. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin.5%). Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat. Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan.0%). penyediaan data prevalensi GAKI (42. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55.0%). Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. 3 September 2009 153 .14%) dengan nilai kurang. a.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program.5%). sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga.14%). motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44. Vol.

protap diet. pojok gizi. 3 September 2009 . penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). pelaksana gizi. Allen and B. Takkouche I. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak.Oktarina. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini. Soegianto B. De Benoist. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. KEPUSTAKAAN 1. pelaksanaan kegiatan. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. konseling garam beriodium. minilokarya. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pendidikan yang rendah dari masyarakat. 2002 4. penilaian. Akademi Gizi. pelayanan kesehatan kepada individu. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. pelaksana gizi. E Ransom. penilaian. pelaksanaan. palpasi gondok anak sekolah. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. 12. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Tinker A. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. memberika. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas). pelaksanaan. Selain itu. Surabaya. paramedis yang sudah terlatih). pengobatan medis. meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya.72%. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. palpasi gondok anak sekolah. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. 3. pengawasan dan pengendalian). Vol. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. 2. Egli HE. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. Jakarta. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. motivasi. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. 1999. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. Anderson MB. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. pendistribusian kapsul iodium. leaflet) di Puskesmas. No. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. penyediaan peta prevalensi gondok. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. 2002. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. Save The Children. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .. keluarga dan lingkungan. Population Reverence Bureau. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. imbalan. sosial ekonomi yang rendah. dkk.. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links.

10. No. Health Care Manage Rev. Kartono D. 2006. Bagian Penerbitan STIE YKPN. 8. Manajemen Sumber Daya Manusia. Munfarida S.2001. 2003. Simamora H. Elimination of Iodine Deficiency. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Dolinsky A. IDD Newsletter. BPPE. Yogyakarta. 6. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat. 43(01): 22-. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Atmarita. 22 (2). Vol. 11. Supriyanto. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Aspen Publiser Inc. Akademi Gizi. Sunarno RW. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Surabaya. Manajemen. 2002. Semarang. Jurnal GAKI Indonesia. Yogyakarta. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. 2003. 1997. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.5:1-2: 28-34 12. 3 September 2009 155 . 33-40.8.2008. Team Learning. 2006.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. Muhilal. Surabaya. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Wisnu C. 2000.1:10-12. 7. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Media Medika Indonesiana. 12. Handoko TH. 9.

Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. Sukri Palutturi1. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics. Vol.09%). Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. Keywords: target market. maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008. Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. segment II consisting of 25 people (21.17%).JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. Universitas Hasanuddin. jenis pelayanan. the number of closest competitors. segmen II sebanyak 25 orang (21. Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. No. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. segmentasi. market compartment. alat dan teknologi kesehatan. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya. 03 September 2009 Asiah Hamzah. 12. driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. Results: The result shows that based on customers’ characteristics. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. segmen pasar yang terbentuk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran .161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. 2008. SDM. and labeled as health care maximize. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Halaman 156 . segmentation. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. and relationship between segment with partner companies or insurance. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. dkk.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. sistem informasi.. Based on the interest of market segment. and segment III consisting of 60 people (52. substitution attendance. Kata Kunci: pasar sasaran. keuangan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna.09%). Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 3 September 2009 . manajemen organisasi. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. Fakultas Kesehatan Masyarakat. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar..74%). Darmawansyah1.17%). ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. dan segmen III sebanyak 60 orang (52.74%). dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. geographical accessibility. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served. the interest of market segment. mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan.

Oleh karena itu. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1.8%. 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum.173 kunjungan pada tahun 2004. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden. jumlah penduduk.1%) berpendidikan SLTA.9%). 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia. 12. Data yang terkumpul.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. membidik satu atau dua segmen itu. sebagian besar (39. serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit. dan tidak tamat SD sebanyak 7. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien. dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk. 3 September 2009 157 . serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.9%.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. SLTP (13. Sebagian besar responden (59. dan kebutuhan. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . geografis. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar.7% dan 9.2%).6%. 2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama. Dengan demikian.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. sarjana (13.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. Tingkat pendidikan responden. No. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. jumlah kunjungan.6%). seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. Vol. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya. sehingga perlu dilakukan penelitian ini.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis. perilaku. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan.9%). Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. psikografis. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik.5%). Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. diikuti tingkat pendidikan SD (25.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

2000. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Positioning. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. Penerbit PT. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. Syam.000.74%). 7. Perilaku Konsumen. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . 11. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. 2005. 3. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris. 2006. Zeithelm VA. Sains Kesehatan. Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. Soenarto S. 3 September 2009 161 . Irwin McGraw-Hill. PT Indeks. Analisis Multivariat Pemasaran. Setiadi JN. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.17%).09%). Gramedia.2000. 2. 8. 2005. dan Liu S. Jakarta. Kartajaya H. Simamora B. Segmentasi.000. Mangopo SD. Integrating Costumer Focus across the Firm. dan Emmy KM. 4. Makassar. Jakarta. dan Joh S. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Kepuasan Pelanggan. 2006. Membidik Pasar Indonesia. Yogyakarta. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. Vol. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Foley RL. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Cetakan Keempat. Gramedia Pustaka Utama. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. Toto Suprapto. 6. Services Marketing.Rp2. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. Jakarta. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26. Jakarta.000. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Hasnah. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Prenada Media. 08(01) Maret:11-8.000. KEPUSTAKAAN 1. 2008. Tigor HS. 9. 2003.00 Rp750. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. 10. Soebroto T. Targeting.00 . dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services).14 (1). Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS.00 per tahun. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Makassar. No. Solo. Anonimous. segmen II sebanyak 25 orang (21. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. dan Nusyirwan MS. Soejitno S. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. 2005. Rethinking Marketing.000.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). Huan HD. 2001. and Bitner MJ. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. 5.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). Achmad. 2000. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. 12.000. Kotler P. 12. 2004. Kuntjoro T. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. Second Edition.Jakarta. Kasali R.

Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni. Artinya. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). July and August). Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. pembebasan retribusi pasien. dengan rancangan cross sectional study. Halaman 162 . Secara kualitatif. Rustamaji2. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Kata Kunci : Puskesmas.05). Sampling secara cluster.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik.. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. retribution exemption. 2006. Agustus). Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. 03 September 2009 Nurliyasman. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. Keywords: health centers. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. analytical survey method and cross sectional design. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern. Juli. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. laporan kunjungan (LB4). drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. 12. Data yang diperoleh ditabulasi. number of visits of the patients. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. No. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. 3 September 2009 . dan 2007.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. FK UGM. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. Vol. Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. dkk. prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June.. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam.

tahun 2006 sebesar 6.6%. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. jumlah obat yang diresepkan.7%. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan.514. Juli.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005.7%. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. tanpa kecuali. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. Data yang diperoleh ditabulasi.044. Vol. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat. jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006. 12.550.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. 2006 dan 2007).220.2 Berdasarkan uraian di atas. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas.9% dan 4. dan Agustus. pegawai swasta. Jumlah penduduk 724. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran. terutama dalam hal kesehatan. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO).000. serta tahun 2005 sebanyak 681. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.315 jiwa tahun 2007. Dengan sendirinya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. dan tahun 2006 sebanyak 713. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan.1% dan tahun 2005 sebesar 5. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. kerja di sektor informal. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman.500. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18.443. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. pedagang. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.394. 3 September 2009 163 . yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. Kepala Puskesmas. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam.586 jiwa. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6.223. No.960. Pengelola Obat Puskesmas. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian. serta pengangguran. dan lain-lainnya. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4. dan Gudang Farmasi. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007. tahun 2006 sebesar Rp1.7%. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan.

menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas. pada tahun 2007 malah paling rendah.279.472. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005. 3 September 2009 .485 Rp 35.223.276 Rp 6..943 Rp 32. Perbandingan Anggaran Obat.500 Rp 120.1 *) Angka dalam ribuan rupiah. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.395.550.7 2005 1.035. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005. Gambar 1. 20.916 4. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan.7 6. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas.307 Rp 2.Nurliyasman.297 Rp 746. 2. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.9 5.000 Rp 216. Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.394.. Tabel 1.897 Rp 529. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005. dkk. Artinya.039. No. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.787 6.253. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005.084 Rp 175.857.925 353. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006.7 18. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi.6 4. 12.410 Rp 12.762.566.115. Vol. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .514. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas.803.443 Rp 5. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2. dan seterusnya.390 26. penyakit lain saluran pernapasan atas. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%.317 40.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. berkas tidak ada lagi.080 22.412 5.521 17.916 33.913 14.344 21. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi.103 14.541 7. 12.870 69. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005.525 19.705 13. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh.572 55. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya. hipertensi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2.702 22.362 22.371 24. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Jumlahnya saja sedikit berbeda. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut. 3 September 2009 165 . sedikit Tabel 3. hipertensi dan seterusnya.693 123. 3.098 391.066 6.161 29. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1.213 11.809 43. diare.100 13. penyakit kulit.428 216. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya.100 15. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005.088 3. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut. Vol. diare.845 29.800 22.705 31. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%. penyakit lain saluran napas atas. penyakit kulit. No.097 12. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam.267 34. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas.566 31.

karena angka dan selisihnya pun cukup kecil.2% Puskesmas V 4. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% .: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Vol. Tabel 4. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.5% Puskesmas VI 97. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil.3% Puskesmas VII 4.2% 4.7% Puskesmas II 3. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis.9% Puskesmas II 96.0% Rata-rata 96. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 4. ada sedikit perubahan urutan. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4.0% Puskesmas VII 95.7% 5. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. 3 September 2009 . Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya.3% 94. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep.6% Puskesmas III 94.1% 5.8% 94.0% Puskesmas V 95..3% Puskesmas IV 96.0% 5. Berarti b. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut.0% * uji t berpasangan p < 0. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu.8% 94.4% 4.05 c.4% Puskesmas VI 3.8% Rata-rata 4. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan. 12.7% Puskesmas VIII 97.. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. dkk.Nurliyasman. Tabel 5.87%.0% 5.0% Puskesmas VIII 3. No. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik.4% 94.6% 93.1% Puskesmas III 5. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.7% 94. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien.7*% Gambar 2.9% 94. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95.6% Puskesmas IV 4.0% 5.1*% * uji t berpasangan p < 0.05 Setelah 95. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas.3% 95. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.5% 5. a.3% 5.

7%. Tabel 6. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%.3% Puskesmas II 60.7% 52. Namun.3% 26.4% dan maksimum 7%.4% * uji t berpasangan p < 0. 3 September 2009 167 . dana kesehatan berkisar antara 2.9% dan tahun 2006 sebesar 4. Setelah berjalan satu tahun.5% Rata-rata 49. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. sedangkan program kesehatan lebih abstrak. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005.3% 45. 12.4% tahun 2002. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya.3% Puskesmas V 39. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas VII 49.7% Puskesmas III 51.7%.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah.3% 44.0% 49. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat.4% 31. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi. No. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007.7% Puskesmas VI 44. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam.8% Puskesmas IV 48.4%. 2006 dan 2007. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. tahun 2006 sebesar 6. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan.7% Puskesmas VIII 46. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut. pada waktu pembebasan retribusi.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. Vol.1% dan tahun 2005 sebesar 5. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% . karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru.7%. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.5% .01 Setelah 53.3% 46. Jadi. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja.8% 49.7%. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi.6%. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% . mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep.

yaitu insentif yang keliru. (Gambar 2a). Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612. Penelitian terdahulu oleh Elfian9. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak. Sebagai koreksi.168. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan.267. yakni 588. seperti Central African Republic. Hasil perkiraan yang diperoleh.600. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan. dkk. tapi kebanyakan kurang puas. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2.00. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya.267. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .584. Pengalaman beberapa negara. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau. preventif perorangan seperti imunisasi. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5. No.Nurliyasman. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9.000. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9.134.966. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1.. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.000.6 miliar rupiah. Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Masyarakat 70% . kualitas pelayanannya juga meningkat.000.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas.000. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588. Vol.000 pasien.000 pasien.872. 3 September 2009 . timbul masalah. 12. Inggris dengan National Health Service (NHS).152. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif. Dari persamaan tersebut.00 jika kunjungan naik 50%. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam. dengan pelayanan gratis. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3.628 pasien adalah 3. Maka tahun 2007. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006.267. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya.7 X + 7E+07 (Gambar 2b).00 .8 miliar rupiah.896. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF). Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan. 2009 dan seterusnya.00.00.600. Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS).000. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b.600..

jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. rongga mulut. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. Jamsostek atau lainnya. tidak akan terlalu membebani anggaran. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. 3 September 2009 169 . yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. seperti tidak semua gratis. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. terutama Puskesmas. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. Vol. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. Pola peresepan yang relatif tetap ini. terutama yang memerlukan tindakan. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. 12. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. jika bisa dibatasi. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. sebaiknya harus bayar. asal-asalan. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. karena sudah bekerja ekstra. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. No. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. dengan tarif tidak terlalu tinggi. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. secara umum tidak berubah. dan penyakit kulit. maupun Dinas Kesehatan. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. Akibatnya. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. Mungkin. bagi yang kaya. diare. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan.

4.8. World Health Organisation. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Tesis Program Pasca Sarjana. World Health Organization. Universitas Gadjah Mada. Hartati. Republik Indonesia. Geneva. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. Vol. 3. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Kebijakan. Suryawati S. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Yogyakarta. dkk. 2005.. Penerbit Kanisius. Trisnantoro L. 9. 1992. 2007. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. 3 September 2009 . Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. Puskesmas se-Kota Batam. 5. 12. KEPUSTAKAAN 1. Elfian. Yogyakarta. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Rachmat HH. 6.1999.2007. No. Dinas Kesehatan Kota Batam. 7. Tesis Program Pasca Sarjana. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi.1998. 2004. Murti B. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. 2. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 2006. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. Health Economics and Drugs DAP Series No.Nurliyasman. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar. Yogyakarta. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. Geneva. 8. Batam.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Gadjah Mada University Press. Dinas Kesehatan Kota Batam. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. Yogyakarta.. Gadjah Mada University Press. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. Jakarta. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. Gudang Farmasi Kota Batam. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003.2000. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya.

Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. mengembangkan pertanyaan. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. Vol.unud. segala sesuatu terus berubah. dan mengelola strategi momentum. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. Pada akhirnya.januraga@gmail. dan mengembangkan ide-ide baru. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. strategic planning. perencanaan. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. masalah keterbatasan akses. Jack Duncan. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. dan Riverview the HMA Facility. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr.ac. menganalisis data. Dari sudut pandang penulis.com atau januraga@sph. Peter M. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. termasuk sektor pelayanan kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. Swayne. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. No. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. Melalui manajemen perencanaan strategis. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. masalah mutu layanan. 12. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. Untuk itu. dan pengelolaan dimulai kembali. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. Selamat membaca. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. kemajuan bioengenering. Midwest Medical Group. ekonomi.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. dimanapun mereka bertugas. 3 September 2009 . Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). W. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis.

SK Dirjen Perhubungan Udara. Vol. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009. KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. 12. 3 September 2009 . namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin. menyeluruh. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis. No. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. melaksanakan. 2/Juni/2009. 12/ No. 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo. Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. Oleh karena itu. Peraturan Pemerintah.pasal 322).com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. mengevaluasi. Permenhub. Sepengetahuan saya bahwa UU No. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. mungkin sama dengan yang penulis maksud. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). Civil Aviation Safety Regulation). Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . 15/1992 tentang Penerbangan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan. dan seterusnya. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif.

Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. First Published. 05/1996. Permenaker RI No. Vol. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. penyakit akibat kerja. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. com/index. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel. Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). 2. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. Geneva. kebakaran.2001. International Labor Office. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. Keselamatan Penerbangan. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. Cetakan Ke 2. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Rudiyanto. 3. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. Jakarta.2004. Diakses pada 14 Februari 2007.vokezone.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. 2002. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. Alli BO. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut. 3 September 2009 173 . 4. Jakarta. Mulijadi H. Tersedia dalam http://news. peledakan. No. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. KEPUSTAKAAN 1. 12. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful