Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

com). diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. Aspek ini sangat politis. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional. 3 September 2009 . Kerapuhan ketiga. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. Kerapuhan kedua. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. Kenyataan memang sudah terjadi. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas.Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional .. 12. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. trisnantoro@yahoo. Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain. No. termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis.. Vol. Oleh karena itu.

termasuk di sektor kesehatan. 12. hal ini terjadi pula di Indonesia. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi. Rumah Sakit Haji. Vol. Khusus di sektor perumahsakitan.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. Universitas Indonesia. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. No.13. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service.119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising. 32/2004 tentang Otonomi Daerah. tak terkecualikan. Thus health sector is not an exception in this case. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. terjangkau dan berkualitas. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). Keywords: government political development. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP.14. yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada rentang waktu itu pula. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. 3 September 2009 115 . Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT.

Vol. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian..5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 .A.J.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya. 12. aturan hukum. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu. sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya.means of changing relationship between the government and private sector”. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru. Sebagai contoh. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju. masing-masing: teori modernisasi. seperti persamaan hak.”5 Pada praktiknya. dan teori alternatif. Kay dan D. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim. No. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang.. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J. teori ketergantungan. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan. pemerintahan konstitusi.. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. Di lain pihak. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi.4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. Teori kedua. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”.. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’. dan toleransi. teori liberal. Oleh karenanya. John D.

9 Dengan peningkatan kinerja. dan lainnya. Ross Mcleod. dan perumahan. tambang timah. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. jalan tol. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya. Vol. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan.”. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. Dalam banyak kasus. jika pemimpin melakukan kesalahan.. yang memfokuskan pada pelayanan publik. Ketiga.7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global. seperti penanganan sampah. angkutan udara. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta. Antara lain. Telkom. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system). privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. Jackson dan Catherine M. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Belum lagi daya saing. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”.. seperti rumah sakit. Selain itu. sebagaimana ungkapan Peter M. 3 September 2009 117 . No. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” .Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. dan lain-lain. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. profit sharing. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. terutama dalam hal investasi.5 Di Indonesia. Kedua. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini. adalah penjualan saham persero. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. 12. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. proses rekrutmen. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”. baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pada definisi ini. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. seperti di Inggris. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi.6 Sebagai sebuah kebijakan. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Berikutnya.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. angkutan umum. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. sekolah. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga.

Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. 3 September 2009 . Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola. Pada tahun 1993. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. di Korea 60%. Pada banyak negara. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. di Indonesia 65%. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit. di Filipina sekitar 50%. Filipina.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. keuangan dan penetapan standar pelayanan. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. No. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. Korea.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. Vol. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. meningkatkan profesionalisme.. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. Eid. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. 12. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. F. Meski seolah terkesan pragmatis. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global.. Atas dasar itu. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung. Di India dan Thailand. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi.

Vol. Theories of Political Economy. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. Ross Mcleod. Granit. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. http://www. Diakses pada tanggal 18 April 2008. 1997. Jakarta. akuntabilitas. Diakses pada 18 April 2007. state and society. 3 September 2009 119 . Tommy Legowo. The Health Care Policy Process.kompas. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. Levine. htm. 2000. KEPUSTAKAAN 1. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. kemandirian. Hasbullah T. 1992: 31. 4. 2004:8.eastasia forum. USA.A Kay & D. No. 10. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata. Jakarta. Samuel Huntington. Maret 2005.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/. Private Health Sector Growth in Asia.96:18-32. 2. the American University of Beirut). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). Florence Eid. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. 1986. et. 5.3. London. James A. Revrisond Baswir. Safri Nugraha. 12. Willam Newbrander. Republika Senin 8 Desember 2003 7. Caporaso and David P. Grafiti.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. 2002:10. 1996:163 12. Sage Publications Ltd. Issues and Implication. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. http://www. PENUTUP Pada banyak negara. Gelombang Demokratisasi Ketiga. Private interest and public good.Bab. Jakarta. London. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. terjangkau.all.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. politics a place to act”. 2006. 19. Analisis CSIS. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF.XXIII(1):6. Syamsul Hadi. 16-18. Carol Baker.10. Cambridge University Press. 1. pertanggungjawaban. 11. Bahaya Globalisasi Neoliberal. 8. UK. 9.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. 20 6.J Thompson.9. dan kewajaran. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. 3. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. John Willey & sons Press. 1994. the self regulating market. Carporaso dan David P. J. UU No. dan berkualitas.

516. PR = 8.516. 95%CI = 1. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5. 03 September 2009 Ernawati. FK UGM.256-84. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA. 95%CI = 1.256-84. improvement should be made. PR = 2.017. p = 0.026. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif.082-18. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87.032.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹.407. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives. and patients’ satisfaction (χ2 = 4.667-9.080-6.017. 95%CI = 1. 12.002. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. CI 95% = 1. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. FK UGM. p = 0. 95%CI = 1.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. OR = 2.. OR = 4. and interview guide. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. OR = 8.015. Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.935. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.002. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia. Study instruments were questionnaire.0806. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4.607. However. PR = 4. These show that maternal and child health care performance is not optimal. maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet.789). Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11.032.667-9. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage. namely finance. p = 0. Qualitative data were used in this study.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . and all pregnant mothers receiving forth visit care. p = 0.8%. there was no difference in finance performance in both CHCs. Kata kunci: balanced scorecard. 3 September 2009 . Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan.76%). PR = 4.789). bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi. p = 0. checklist.026. p = 0. Instrumen menggunakan kuesioner. Based on the qualitative data. while standardized care was not related to antenatal care coverage.008. Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. The subjects were the head of CHCs. Method: This was an observational study with cross sectional study design. therefore.8%). Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6.662. Djaswadi Dasuki². Halaman 120 . dkk. OR = 4.662.724). the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas. Vol.5%) dan cakupan K4 (77. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care.607. Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10.015. Yogyakarta 3 CHN-RL. No. costumers’ satisfaction.082-18. and learning and growth.. Analisis data menggunakan analisis univariat.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. p = 0. Keywords: balanced scorecard. CI 95% = 1. kepuasan pelanggan. p = 0. check list dan pedoman wawancara. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care.5% and fourth visit coverage was 77.407. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. kinerja.624).348).935. CI 95% = 1. internal business. Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District. CI 95% = 1. performance.624).008. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs.

3%). kondisi wilayah dan status Puskesmas. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. standar pelayanan. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. dan keuangan. balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. kepuasan pasien dan dana operasional. perspektif customer. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. 1. Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. K4. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. Vol.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. a. memuaskan. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). umpanbalik segera. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. lingkungan dan alat. bisnis internal. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. Bidan Penanggung Jawab KIA. memotivasi pegawai. dan Ibu Hamil. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik. Selain itu. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. check-list. pengetahuan dan keterampilan.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan). pelanggan. sesuai standar dan etika profesi.33%).1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS).9 Di samping itu. 3 September 2009  121 . dengan variabel terikat cakupan antenatal. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. Bila kinerja rendah.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan. dan kepuasan pasien. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. motivasi dan insentif. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. 12. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan.8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan. No.

Vol.090 11.804 (14.740. dkk. Tabel 2..740 100 Realisasi Skor % 15.03 33 98 62.280 33.11 49.810 100 334.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49.33 100 100 80.65 ± 18. Tabel 1.92 67 85 72. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3. Biaya Operasional Gambar 1. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%. (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.64 1.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66. Tabel 3.54 ± 2. d.000..33 33.50 38 98 2.13 ± 1.30 b. No.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334.Ernawati. 3 September 2009 .88 Skor : dalam satuan Rupiah (.804 14. c. 12.67 53.88%).000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.840 100 297.434 46.090 100 3. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.85 ± 16.

04) 1012 (100) 532 (52. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67. tekanan darah dan tinggi fundus uteri.56 (66. Pemeriksaan umum 3.09 (100) 15.74) 98 (26.72 (88.9 (85. Pemeriksaan kebidanan luar 4.09(11. 2.60) 1472 (100) 1102 (74. 3 September 2009  . Diploma III 3.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.80(14.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80.67) 16 (53. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 5. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.45) 332 (51.64) 17.14) 5389(73.28 (33.84 (100) 1.30) 31 (33. Imunisasi TT 5. SPK 2.43) 92 (100) 61 (66.11) 264.33) 14 (46.40) 370 (25.96) 36 (13. Pemb.22) 1971 (26.70) 92 (100) 86 (93. Fe 6.80) 284. Quality Assurance 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5.81 (100) 33.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan.65 (53.50) 2208 (100) 1603 (72.30) 40 (25) 40 (25) 12 (33. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1. 2.52) 644 (100) 312 (48. Vol.26) 368 (100) 270 (73. Anamnesa 2. KIP-K 3.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1.21) 1354 (36.86) 7360 (100) 241 (32.33) 2. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66. 4. Pemb. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.48) 6 (6.37) 2576 (100) 1919 (74.63) 657 (25.57) 480 (47.67) 297.67) 26 (19.01) 469 (29.4 (46. 12. No.56) 3.99) 276 (100) 240 (86. 3.78) 3 1.50) 605 (27.55) 3680 (100) 2326(63.89) 334. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33. Diploma I 2. 3.74 (100) 49.

.61 54.” “.664 per ibu hamil. saya rasa sangat kecil sekali. namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas . Vol.35 Tablet Fe 91.. . No. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu..674 ibu hamil..... pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7.000.13 78.Ernawati. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional.000... distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan.. pemeriksaan umum dan pemberian Fe. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .640. tekanan darah. Tabel 6.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “.. 3 September 2009 . 7.536. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas.” “.” “.657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit.. dkk. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan. cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54.26 82... Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi. 12. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil).. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4.. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal.00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko.30 95.Rp. tersaji pada Tabel 6. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang.- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89.” “.. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa.” “...1%. Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup...000.625.. 7. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas.807. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu... Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas. faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran.00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162..” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “. imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya. tinggi fundus uteri. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “. sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan. itupun sebagian besar untuk transport saja.

Tabel 7. (Tabel 8).516.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4. 95%CI = 1.407 kali. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas. PR = 1.607. sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas .0806. 4.015. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya.. 95%CI = 1.. baik (p = 0. p = 0.589).775.348)..662.451-2. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut . !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi. 95%CI = 1.002. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0. PR = 4. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas. PR = 4.. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas.777.789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.008.724) dan kepuasan pasien (  ² = 4.407... 95%CI = 0. p = 0. Vol. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi .935..667-9. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7.017.08218.118.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri.“ “..386-3. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6.. 95%CI = 0. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi.. p = 0.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah...” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10. b. 3 September 2009  125 .05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “. PR = 2.114. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0. 95%CI = 1. 12. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5. No. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan.026..903). Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan . pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien.032. p = 0. PR = 8.” “.256-84.. PR = 1.

hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya. No.52) 39 (42.67) (33.0) ² p PR (95%CI) 5.39) Total (%) 36 (100.407 (1.13) 17 (73.683 (0.0) 30 (100.00) 11 5 (68.394 0. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).0) ² p PR (95%CI) 8 (1..462-8. dkk.935 0. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun.67) 53 39 (57.0) 92 (100..925 (0.256-84. Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah.0) 92 (100.09) 14 (60. Vol.25) 16 14 (53.00) (80. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.13 Tabel 8.789 4. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1.75) (31.48) 53 (57.Ernawati. PEMBAHASAN 1.91) 10 (43.33) (46.0) 23 (100.61) Standar (%) 6 (26. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun.312 1. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73.09) 13 (56. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta.33) 2 8 (20.91) 9 (39. 12. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun.624 6.036 3. (Tabel 9). Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66.0) 23 (100.61) (42.008 1.0) 23 (100.0) 16 (100. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah.082-18.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .913-15.Rp2 juta per bulan yaitu 50%.87) 6 (26. sistem dan prosedur.0) 10 (100. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.39) Total (%) 23 (100.662 0.023 0.017 4. 3 September 2009 .589 Tabel 9. 2.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi.

Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan.20 5. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. No. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 . Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. dan berkualitas pelayanan.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani. 3 September 2009  127 . peningkatan teknologi dan informasi. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 . serta peningkatan prosedur kegiatan rutin. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu. merujuk secara medik. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan. 12. biaya.15 menit. serta jasa yang konstan.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas.15 3. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. Vol. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah. sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik.17 4. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk.18 bahwa sebanyak 1. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui.

22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. Mugford M. Mulyadi. sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. No. Wilopo SA. Ba’aqeel H.. Dalam menilai kinerja organisasi. 3 September 2009 .2001. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Almazrou. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran. 1999. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. 1998. Wijono Djoko. 5. Hutton G. Yogyakarta. Geneva. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup. 8. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. 1996.XIII:16-20. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. C. Airlangga University Press. ia harus didukung dengan faktor non-financial. dan Solichin. Berita Kedokteran Masyarakat. Bakketeig L. WHO. Avalaible on: http/ www. Hakimi M. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri.2000.go. KEPUSTAKAAN 1. Jakarta. UGM.id/. Departemen Kesehatan R. 4.I. Surabaya.2(8)June:1-11 9. 7. Farnot U. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. Belizan MJ.Ernawati.I. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. 12. dkk. 12. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. memperbaharui. Fort AL. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal. Mulyadi. Departemen Kesehatan R. The Lancet. Departemen Kesehatan R. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. FoxRushby J. Diakses pada 15 Maret 2006. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2002. 1997. 2004. Lumbiganon. Jakarta. NHA Producers Guide. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien. Jakarta. http:// depkes. Donner A. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. Bergsjo P. Langer A. Dasuki D. Yogyakarta. World Health Organization. Modul Ajar Safe Motherhood. Journal of Bio Med Central. Salemba Empat. Departemen Kesehatan R. 10. “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas. 2003: 58-62. Berendes H. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). Abdurrauf.I. 2000. 6.who. 2001:1551-64. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan. 11. Vol. Tesis. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. Piaggio G. Jakarta. Carroli G.int 2. Nigenda G. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. 3. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Pinol A. Kurniawati L.I.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .. Villar J. & Voltero L. P. serta meningkatkan pelayanan. 1997. Modul Ajar Safe Motherhood.

and Siemanski Beth Ann. Katz JM. Customer Service In Business to Business Market. Ghufron A. Workshop Akuntansi Manajemen. No.43(5): 427 – 40. 23. and Royalty. Measurement Financial. Gadjah Mada University. Azwar A. 22.1997. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. 19. 18. Sasongko N. Bina Putra. Kurniawati L. Wilopo SA. Dasuki D. Pengantar Administrasi Kesehatan. Journal of Busness dan Industrial Marketing. Wahab A. Hakimi M. Berita Kedokteran Masyarakat.13 (4/5): 309-21. Edisi Ketiga. CHNRL Faculty of Medicine. Kaplan RS. Journal of Health Care Marketing. Edisi Ketiga. Florida USA. Green E. 1997. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani.XIII:16-20. Bina Putra. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Parasuraman A . Nelson EC. J. Mastorovich. Rosi Robin L. 16. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill.L. A. Solichin M. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance. Yogyakarta. D. Azwar A. St Louis Missouri. Zahorik Antoni. 3 September 2009  129 . 21. 20.1996b. 12. 14.1996. Rust Roland T. Jakarta. 12 (4): 6-13. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. dan Norton David P. Vol.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13.1998. Second Edition. Mosby Year Book. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective). Jakarta. Non Finansial Perspektif. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo. 1997. Batalden Paul. Journal of Health Care Management. Lau C. Boston. 15. Harvard Business School Press. University of Miami. Hakimi M.2000.1996.. Pengantar Administrasi Kesehatan.2005. 17.1992. M. Mayer T. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care. Cates RJ.1998. An Agenda For Research.

Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria. Vol. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja.. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan. IV..36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan. Adi Heru Soetomo2. FKM Universitas Sumatera Utara. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 03 September 2009 Gerry Silaban. registered enterprises in the employment accident benefit program. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29. Halaman 130 . Suma’mur.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% . Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. P. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57.87% from 5th element maximum score). 05/1996. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles. 12. Method: The type of this research is survey research. dkk. Keywords: industrial accident. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. No. Hasil: Sebanyak 53 (96.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Kata kunci: kecelakaan kerja.40% from 3rd principle maximum score).14%) in 5th element. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. F-test result showed a significant difference (p < 0. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3.139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Soebijanto2. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. III.60% dan 2 (3. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. II. Lientje Setyawati Maurits2. Result: A number of 53 (96.01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. UGM.K. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate. The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. 3 September 2009 . kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi. The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise.85%) of 3rd principle. F-test result showed a significant difference (p < 0. Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% .

7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3. 331 kasus. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari . Vol. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. Selain itu. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. 3 September 2009 131 .10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3. III. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil.1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. dan 207 kasus.31 Desember 2005). Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. 5.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif). dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”. kebakaran. tahun 2004 sebanyak 2. 12. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I.6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja.759 kasus.K.759 kasus. IV. 564 kasus. jenis standar K3 berbeda. No.250 kasus. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. sehingga tercapai tujuan. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan. dan tahun 2005 sebanyak 1. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K. yaitu tahun 2003 sebanyak 3. 118 kasus. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3.958 kasus.06%) dari 1. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3.3 Selain itu. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus. penyakit akibat kerja. peledakan. II.

dan penyakit akibat kerja). kecelakaan kerja. unsur 6(40 kriteria). pelatihan. kecelakaan kerja. Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya. Dalam penerapan SMK3. pengendalian catatan. Improvement (PDCI). industri minyak kelapa sawit. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). tujuan dan sasaran K3. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. pembelian. rekrutmen. prosedur rapat tinjauan manajemen. dan 1. perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. penyakit akibat kerja. prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. produk setengah jadi. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. No. program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. perusahaan air. Check. pabrik kimia lainnya (lilin. investigasi. 3. Unsur 7 (15 kriteria). setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. SE (Sesuai). pemantauan kesehatan. dan pabrik plastik. Setelah itu.. desain. diskripsi pekerjaan). Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. unsur 5 (7 kriteria). hampir celaka.. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. observasi. struktur organisasi perusahaan. 3 September 2009 . seleksi dan evaluasi vendor. TS (Tidak Sesuai). ruang lingkup.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). 12. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. prosedur tanggap darurat. dengan rerata sebesar 304 atau 45. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. 2. perusahaan penggergajian kayu. struktur P2K3. pengendalian dokumen. pabrik minuman.Gerry Silaban. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. prosedur komunikasi dan konsultasi. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. perawatan. profil perusahaan. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). dan pemantauan lingkungan kerja). dan proses audit SMK3. industri-industri lain. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. penanganan bahan berbahaya dan beracun). dkk. penggilingan (remilling) karet. Unsur 4 (7 kriteria). tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. pabrik keperluan kaki. pabrik keperluan kaki. Do. penggergajian kayu. dan wawancara dengan tenaga kerja. prosedur insiden. 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. penggilingan (remiling) karet. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. prosedur audit internal. Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. Vol. pabrik barangbarang dari logam. pabrik minuman dari alkohol. rumah makan dan minuman. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. pabrik kimia lainnya. inspeksi.11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. dan hotel. prosedur identifikasi bahaya. obat nyamuk bakar dan cair). prosedur operasional (mencakup izin kerja. pabrik barang-barang dari logam.

alat.82%) untuk unsur 10. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .73%) untuk unsur 3. 31 perusahaan (56.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4. mengukur dan mengendalikan risiko. 11 perusahaan (20. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70. 9 perusahaan (16.74%) untuk unsur 12. Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 . 12. 7 perusahaan (12. 17 perusahaan (30. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan.36%) untuk unsur 5. pendidikan. terendah sebanyak 6 kriteria (3.64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% . Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh.16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92. penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 . Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan.84% dari 166 kriteria audit SMK3.91%) untuk unsur 6.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. dan 8 perusahaan (8. Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. dan 7 perusahaan (12.19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7. pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.46%) untuk unsur 2. Terdapat hanya 2 (3. 11 perusahaan (20. 1 perusahaan (1.04% dari 166 kriteria). dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% .100% dari 166 kriteria audit SMK3.00%) untuk unsur 9. 3 September 2009 133 . dan perilaku pekerja14. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 . Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang. kinerja penerapan SMK3 rendah. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli. 12 perusahaan (21.61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman. instalasi. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah. 3 perusahaan (5.24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13.60% dari 166 kriteria audit SMK3.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan.84% dari 166 kriteria audit SMK3.74% pada industri tekstil. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko. 1 perusahaan (1. No.82%) untuk unsur 11.00%) untuk unsur 7.560 atau memenuhi 100 .82%) untuk unsur 8. sedangkan 53 (96. tidak mampu berkompetisi. perlengkapan.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70.36%) untuk unsur 4.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% . Vol.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% .27%) untuk unsur 1.

unsur 2.26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja.18 28. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman.23 Di samping itu. dkk.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis. atau memakai alat pelindung diri.84% 44. peralatan. unsur 10.. unsur 3.61% 47.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja.29% 26. unsur 12. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14.84 4.96 (74. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan.51 20.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .60% 46. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1.82 11.85%) dari 67 kriteria prinsip 3.86 11. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38. unsur 8. unsur 4.65% 35.86% dari skor maksimum unsur 5).56 20.88% 42. membuat kebijakan dan program K3. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3.38% 42. Vol. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan.56%) dari 18 kriteria prinsip 2. No. dan unsur 11. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi.38 13. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif.81%) dari 27 kriteria prinsip 5. 3 September 2009 . prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7.27 22.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3.86% 57. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja. kompetensi. untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan. dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3.. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. unsur 9. 12.27% 34. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya. unsur 1.96 92.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya. melibatkan tenaga kerja secara aktif. tenaga profesional.22 27.68% 74.38%) dari 26 kriteria prinsip 4. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6.47 12. pekerja berperilaku aman.14%) dari 28 kriteria prinsip 1.Gerry Silaban. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20.unsur 7.07% 43.

dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. prinsip 2.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.18% 55. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3.40% 42. memantau. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%.82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.38 25. di samping pemasaran dan finansial.47 (55. skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51. 2. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate). 6. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. kontinu. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik. 12. kesehatan dan lingkungan kerja.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0. keselamatan.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan. Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja.27% 35. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur. 4. Selain itu. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja. 5.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.90% 43. Vol. 3 September 2009 135 .31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. dan berkelanjutan. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya.33 148. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif.8%.62 47. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.47 44. prinsip 4. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman.40% dari skor maksimum).62%.17% (tertinggi). dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%. dan prinsip 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. No. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55. kualitas produk.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas. 3.

Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. pelayanan kesehatan kerja). 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. teknisi (lift. kebijakan K3 perusahaan.33 Kebijakan Permenaker No. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. alat dan sistem tanda bahaya. P3K. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. 12. 5. Fasilitas K3: alat pelindung diri. kimia).. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. listrik). Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. konstruksi. instalasi dan bahan berbahaya. konstruksi. Organisasi K3 ini bertugas: a. 05/1996. dokter perusahaan. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. radiasi. tempat pelatihan K3. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. konsisten dan berkesinambungan. instruksi tanggap darurat). Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran.Gerry Silaban. alat. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). kebakaran. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. 05/1996. 3.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. instruksi kerja. kegiatan K3. 3 September 2009 . Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. operator (pesawat uap. Personel K3 yang mempunyai tugas. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1. rambu dan tanda keselamatan kerja. No. crane). serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali. confined space). 4. Vol. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. mekanik. sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. uap dan bejana tekan. ahli higiene industri. petugas P3K. Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. pintu dan tangga darurat. petugas K3 (kimia.. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. paramedis (perawat) perusahaan. dan laporan hasil audit internal SMK3.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . dan juru las. alat pemadam api. fungsi. 2. manajemen. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3. dkk.

6.2006. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention.2003.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan. 1988. Vol. Siswati M. Do. 3. Perusahaan Jasa K3. Di samping itu. 3 September 2009 137 . Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. 20(1): 67-85. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. Suokas. 12. XXXVI(2) April-Juni. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.2003. Ichsan S. No. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. PT Sucofindo. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI).Medan. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Balitbanginfo Depnakertrans RI. Oleh karena itu.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. XXXVI(2) AprilJuni. KEPUSTAKAAN 1. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. 2. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. Jakarta. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. Ichsan S. Rudiyanto. kebijakan Permenaker No. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3. J.2003. organisasi profesi K3. and Improvement (PDCI). Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek.2005. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. Dengan demikian. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Kanwil I PT Jamsostek. Accident Anal Prev. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . Suma’mur PK. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3.2002. 4. PT Jamsostek. Check. Jakarta. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Medan. Balai K3. 7. 2004. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya. 5. Jakarta.

Yogyakarta. Skiba R.L. Universitas Gadjah Mada. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Safety Culture and Management. Vol. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. International Labour Office. Safety Culture. Hegney. Geneva. Depnakertrans RI. Safety Science. International Labour Office. 2000. 20. Easter. Hamalainen PJ. Peters RH. 2004. 8. 23. 29. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tesis. and R. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. 2005. Manual SPS Paket Midi. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. No. 15. 10. 1998. II. 14. Hadi S.Gerry Silaban. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. US Department of Labor.2004. Ramli S. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. II. Canberra. and K. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. 18. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). 9. 12. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. 3 September 2009 . Sugiyono. Yogyakarta. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. Canberra. 24. 1993. 17. Working Paper 20. Global Estimates of Occupational Accidents. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 56 Accident Prevention.. Vol. Groeneweg J. 1991. Surabaya. Jakarta. Fourth Edition. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta. Hopkins A. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Pamardiningsih Y.2006. 2005. International Labor Office. Geneva.google. Simard M. 27. Tesis.XXXVI(3) JuliSeptember. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 11. The Accident Causation Model. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. ITS. Fourth Edition. Alli BO. Inspections and Investigations. Taylor G. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Hansen L.2002. OSHA. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. 57 Audits. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Surabaya.2003. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. International Labour Office.2008. Canberra. Hadi S. Saari J. Vol. dkk. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. Jakarta.M1) 21. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan.Beyond Commitment. 22: 53-70. 59 Safety Policy and Leadership. Tesis. In: Ch. Jakarta. 44: 137-56.Enhancing OccupationalSafetyand Health. Saarela.2002.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Occup Hazards. J Occup Acc 12: 107-117. Yogyakarta. 12. K.2001. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies. Widiastuti E. First Published. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. OSHA: Employee Workplace Rights. II. 22. Systematic Management of Occupational Health and Safety.2005. Frick K. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission.2003. Yuliani R. 28. J Saf Res.In: Ch. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century.. Novianto R. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. Geneva. Theoritical Principles of Job Safety. 25.1998. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. Bluff L. 55(9): 250. Geneva. In: Ch.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1. 2006. Yogyakarta. Program Magister Teknologi Manajemen. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour. 1998. 26. 13. Working Paper 14. Subekti A. 16. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Takala. Tesis. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. Fourth Edition. 2003. Vol. 2004 (http:// books. 19. Tesis.

Anatagulnathi. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Journal Occupational Safety Health. 2008. Boca Raton. Linehan A. Reese CD. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 57 Audits. International Labour Office. and P. Fourth Edition. Safety Performance Factor. 12. 3 September 2009 139 . Vol. 2004. Geneva. II. 5: 27-30. No. 42.Lewis Publishers. 1998.2003. 33. Vol. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30.135-40.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. In: Ch. Venkataraman N. Siriruttanapruk S. 31. Inspections and Investigations. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Industrial Health. Malaysia. 32.

12. Dokter. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system. aims to ensure the accountability. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional).4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. 03 September 2009 Herkutanto. and good relationships among colleagues. 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial. Oleh karena itu. Keywords: physicians credentialing system. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals.: Hambatan dan Harapan Sistem .147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1. Cipto Mangunkusumo.1. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety. Kata kunci : sistem kredensial dokter.. professionalism. standardization of policy and credential instruments. The expectations of participants are in line with the recommended credential system. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. sound relationship between credential team and hospital management. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws).3. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan. Vol. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial. consisted of physicians and hospital management. adanya tim kredensial yang obyektif. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. 3 September 2009 . a process to grant clinical privilege.. atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat.2. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions. dkk. No. profesionalisme. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No. dan hubungan baik antar sejawat. existence of objective credential team. perawat. The credentialing system. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. Halaman 140 . hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. Every FGD was attended by 10-20 participants.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. and frequently are inadequately performed.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan. which is based on the concept of professionalism. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda.

Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. Vol. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?. Dari 1. Oleh karena itu. suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia.10 Sama seperti negara lain. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). sedangkan di bidang terapeutik. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity.12. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. Dari 98. Dengan demikian. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%). Di USA. ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit.8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. bukan kedokteran. Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. Dalam proses ini.1.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis. No. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat. Di masa mendatang di Indonesia.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. 3 September 2009 141 .179 di antaranya merupakan kelalaian medis.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien. Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja. 12. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%). Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan.

Pada studi kualitatif. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. karakter. yaitu kebutuhan proses monitoring. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal.Herkutanto. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. dan profesionalisme kandidat. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci.: Hambatan dan Harapan Sistem . seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. sikap. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. transkrip akademis. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan. dan diminta persetujuan. keterampilan. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi. Prinsipnya.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain. Berdasarkan rekomendasi ini. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. dkk. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Selain itu. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. dan surat rekomendasi. Apakah telah cukup ideal? b. Vol. 3 September 2009 . panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi.. 12. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. Pertanyaan disusun oleh para penulis. Tabel 1. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini..12 Sebelum FGD dilaksanakan. No. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c. Nama partisipan dirahasiakan. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. karena sering kali ditemukan false positive. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal.

1. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan. dan netral. Tujuan a.. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c. 12. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka. 3 September 2009 143 . Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. Mengurangi subyektivitas b.. dan profesionalisme 1. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter. kayaknya kurang pas. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati. Penerimaan karyawan b. keterampilan. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. Tabel 2. sikap. Kebutuhan monitoring a. sungguh-sungguh bekerja.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. dan divalidasi oleh komite medis. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat.4 Kebutuhan tim ideal a. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid. Bijak. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b. Periode uji coba b. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. Selanjutnya. netral c. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial. berpengaruh. RS2] Terakhir. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. Pada FGD di RS1 dan RS2. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi. Selain itu. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. No. wawancara.” [dr Y.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. Keselamatan pasien 1.1. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial. Vol. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. Proses rekredensial 2.. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. Pada FGD di RS1. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial.” [dr X. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. karakter. hubungan kerja. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. atau sering menggantikan praktik. tes untuk memotret pengetahuan. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas.

kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter.11 Fungsi kredensial.: Hambatan dan Harapan Sistem .15. Secara periodik. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. dkk. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI).. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. Namun demikian. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). (2) sesuai dengan konsep profesionalisme. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. Dalam kontrak sosial tersebut. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. peningkatan mutu profesi. Sayangnya. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. sehingga menimbulkan kecederaan. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. No. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial. Ketiga. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari.. Namun demikian. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu. Dengan kurang berfungsinya komite medis.1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal. Vol. dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. senantiasa terjaga dengan baik. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. Selama ini.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. Pertama. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. Selain dokter tersebut. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang. Selain itu. dokter akan melalui proses rekredensial. Kedua. dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act). 12. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis. 3 September 2009 .Herkutanto.

Tiga proses inti kredensial Tabel 3. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 145 . Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. Vol. wawancara. 20 Namun saat ini. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. 12. 22. 21. Namun demikian. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. 21.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan.20. Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. Sebaliknya.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana.

Hebert LE. 2007. Lawthers AG. ME. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. 2008. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). McGraw Hills. White Papers Mitra Bestari 2. Berg BL. dkk. Localio AR. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence.. 2008. 1967. Valenza JA. Credentialing. 15. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Luff D. Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research. 1991. Edinburgh. World Alliance For Patient Safety. The Way to Patient Safety. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. The Patient Doctor Relationship. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pediatrics. 110:414-8. Tabel 4. 2006. dengan keluaran berupa clinical appointment. Sydney. Peterson LM. 12. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization. Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. Understanding Patient Safety. E&S Livingstone Ltd.Herkutanto.49(3):256. USA. Privileging. N Engl J Med. Geneva. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms. 3. Jakarta. 8. Herkutanto. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. Localio AR. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali.25(Juli):245-51. Trent RDSU. Forward Programme 2008-2009. et al. Competency. et al. Laird NM. Results of the Harvard Medical Practice Study II. Illinois. Brennan TA. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 13. 12.: Hambatan dan Harapan Sistem . Herkutanto. Qualitative Research Methods for the Social Sciences. WHO.7:324(6)Feb:377-84. N Engl J Med. 69:8. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 10. O’Neil PN. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Results of the Harvard Medical Practice Study III. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Qualitative Research Analysis. O’Connor. Tahka V. Lawthers AG. Pearson Education. 11. and Peer Review. 2004. 2005. Vol. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. 16. No. 14. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege. Boston. Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. 4. Commitee on Hospital Care. World Health Organization. Barnes BA. Jakarta. 7. 2008. Browne K. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. Sheffield. Credential and Clinical Privileges. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Joint Commission Resources. 2008. Sebagai suatu studi kualitatif. KEPUSTAKAAN 1. 9. 1984. Leape LL. 2003. Lacey A. 6. Jakarta. The Doctor-Patient Relationship. Freeling P. white paper. 2002. ADIS Health Science Press. Wong LP. dan peer group. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. Brennan TA. Wachter RM. George LA. 2005. 3 September 2009 . Laird N. 5.. 1991. Journal of Dental Education. Dengan demikian. Singapore Med J. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No. 2009. 2(1) Maret: 41-7..

Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. Jakarta.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. 2000. Konsil Kedokteran Indonesia. Master of Laws Thesis. 2006. New South Wales. Melbourne. 23 (2): 229-42. 23. Jakarta. Law in Context. Professionalism and Medicine’s Social Contract. I. USA. 20. Cruess RL. Journal of Bone and Joint Surgery.82A:1189. The Royal College of Physicians. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. Herkutanto. Johnston SE. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2006. Joint Commission International. 2004. 2007. Cruess SR. 22. No. Freckelton. 3 September 2009 147 .18. La Trobe University. The Royal College of Physicians. 12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 19. 2007. Special Edition: Regulating Health Practitioners. 2005. Herkutanto. Vol. 3rd Edition. 21. The Federation Press. 18. Indonesian Health Practitiones Regulation.

improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. Primary Health Center staff. perawatan medis. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. Halaman 148 . Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. as well as health staffs. such as social economic factors from the society. daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan. dkk. and Bangkingan (Lakarsantri). the society in severely iodinedeficiency. Coordinating and evaluating the programme. Perak Utara. perencanaan. perencanaan pengelolaan terpadu. done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005. 3 September 2009 . Perak Utara. Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. Koordinasi dan mengevaluasi program. integrated management planning. 03 September 2009 Oktarina. Nyamplungan (P. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. Tambak Wedi (Kenjeran). nutrition and food awareness area. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. Method: The purpose of this study was a descriptive type. Sidotopo Wetan. diet konseling. diet counseling. The middle term and short programme of iodine-deficiency. Vol. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. Tambak Oso Wliangun.93% dari kekurangan iodium-desa. The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri). Tambak Oso Wliangun. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan. Di Indonesia. Nyamplungan (P. pengorganisasian dan aktualisasi. serta staf kesehatan. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. Anemia. Kekurangan Vitamin A (KVA). Conclusion: The recommendation as follow promotive. higher than normative value (less than 5%). Romokalisari (Benowo). the Total Goiter Rate (TGR) 22. Kedung Cowek ( Bulak). organizing and actualization. preventif. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan.9%. organizing. 12. kesadaran gizi dan makanan daerah. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. Bubutan. staf Pusat Kesehatan Primer.9%. No. Cantikan). has 16. advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. management and control telah dianggap sebagai masalah besar.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). planning. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia.Cantikan). Result: The result show many faktor. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. Tambak Wedi (Kenjeran). dengan sosialisasi.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . dan GAKI.93% of severely iodine-deficiency villages. Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya. memiliki berat 16. Sidotopo Wetan. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. medical treatment. Manyar Sabrangan (Mulyorejo).155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. angka gondok total (TGR) sebesar 22. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. Romokalisari (Benowo). society and health staff factors. kuratif dan rehabilitatif strategi. curative and rehabilitative strategy.. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). pengorganisasian. low health staff motivation to run the program etc. staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor.. The recent study at Surabaya City. Kedung Cowek (Bulak). preventive. by socialization. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. This need to be examined and analysed the implementing programmed after all.

6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan.1) 11 (37. Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun.5.4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil.3-triodothyronine (T3). 3 September 2009 149 . jantung. L-thyroxine (T4) dan 3. imbalan.5. hati.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium. biaya.51%).1%).65%. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010. serta meningkatkan sistem pengawasannya.9%) mencapai 21%. pelatihan. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40. No. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6) 16 (36.0) 27 (37.4) 44 (100) 46 (63.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63.6%). Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII. Tabel 1. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah. otot. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3. diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. 12. paramedis) yang meliputi pendidikan. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63. ginjal dan organ reproduksi. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi. pengetahuan. Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62. memacu proses metabolisme otak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya.39%).6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari. keterampilan. motivasi. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19. sikap. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran.96%).0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun). kehamilan. Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. Vol. bidan/ palpator. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya.

III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. Pengambilan sampel secara multistage random sampling.11%. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya. Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. dkk. berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2).baru. pemberian uang jajan. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba. Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a. yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). pelaksana. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13. 12. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. Puskesmas sebagai perencana. Gundih (Bubutan). (> 6m). Terlihat dari jarak jauh Tertentu. kepala posisi biasa. Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang. dan Paramedis. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang. Pelaksana Gizi.. Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002. ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16. III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. Sidotopo Wetan dan Kenjeran.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya). Vol. Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. penilai. Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak.267 anak). Mulyorejo. rata-rata TGR sebesar 12. dengan rata-rata TGR sebesar 10.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya.Oktarina. Semeni (Benowo). Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. 3 September 2009 . II.. perilaku (kebiasaan sarapan pagi). serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya.II. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .93%. 1b. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat.37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak).

bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.95 14.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5.57 14.89 19.88 11.78 3 4.66%).1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39. sarana prasarana yang ada di Puskesmas. melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap. dengan rata-rata TGR sebesar 38.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik.68%).08 5. 3 Puskesmas cukup.59 X: 10.81 7.16 17.24 17. leaflet dan konseling garam beriodium.7 10.44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur). terutama ketiadaan food model (42. Vol.96 12.43%. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.88 19.21 12.64 8.91 19. dan 2 Puskesmas kurang baik. rata-rata TGR sebesar 24.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W.93 16. No.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3. 3 September 2009 151 .67 19. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium.2 6.95 15.Gunung Bringin Sambikerep Mr.52%).50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan.96 X: 12.8 Pengetahuan 1. ada 2 Puskesmas yang baik.44 13. Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46.77 6.5 13. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya.33 9. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan. 12. pojok gizi (28. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test).94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16.3 Dari hasil penelitian. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13.9 9.

02 22.89 31.89 32. Kurangnya koordinasi lintas program (42.12 23.10 Kerja sama.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21. ternyata sebagian besar (78.3 X: 38.34 40. padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik.1 42.57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42.68 26.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28.29%). melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.29 25 25.37 48. Tabel 4.94 27.02 33. jadi belum sampai terlihat (visible).72%). 12. 3 September 2009 .44 X: 24. kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%). dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan.95 26. Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.59 25. Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85. No.95 23.Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek.62%).76 24. Selain itu.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).3 25. serta sebagian besar (57.84 35.58%). Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas..14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi.01 31.27%). Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20. Vol. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable).14%).93 21. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas.73 24.33 28.35 21.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14.93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P.95 21.Oktarina.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . dkk. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64.62 25. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya.42%). Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat.42%).47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30..34 57.

14%) terutama pada umpan balik.14%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14.12 2. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25.14%) dengan nilai kurang. kegiatan penilaian.62%) dan yang nilai kurang (14. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin. Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24.00 (32.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium.0%). Pada penilaian.50%) yang mempunyai nilai baik (>15). dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46.52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14. bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan. rencana kerja tahunan (57.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%). Penilaian. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55. pembinaan terhadap pelaksana gizi. sasaran palpasi gondok anak sekolah. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan. serta ada 4 Puskesmas (57. Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program.5%).5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. nilai cukup ada 2 Puskesmas (28.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. b. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57.68%). palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. distribusi kapsul iodium.12%) dan microplanning (42.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. 3 September 2009 153 . 12. Vol.000. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah. penyediaan data prevalensi GAKI (42. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45. ada pembinaan. Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah). pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI. sebanyak (39. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36.66%). dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48.5%). motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan.0%).8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14.86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan.0%). Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing. pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25.5%). Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71.14%). Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. a. jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28.5%). ada kejelasan target.52%) 1 Puskesmas.57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup. No. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45.0%). Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14.0%). baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57. Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja.52%) baik perencanaan programnya.0%) untuk pendataan.

motivasi. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. penilaian. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. pelayanan kesehatan kepada individu. imbalan. pojok gizi. pelaksanaan. Save The Children. Soegianto B. 2. Anderson MB. perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. sosial ekonomi yang rendah. palpasi gondok anak sekolah. leaflet) di Puskesmas. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. Population Reverence Bureau. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan.. Allen and B. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. protap diet. De Benoist. meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. Selain itu. pendistribusian kapsul iodium. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan.72%. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. No. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider.Oktarina. Surabaya. Akademi Gizi. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. 2002 4. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. 3 September 2009 . perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. pelaksanaan kegiatan. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas).. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). pelaksana gizi. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini. penilaian. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. E Ransom. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. 2002. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. keluarga dan lingkungan. pelaksana gizi. 3. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. Tinker A. konseling garam beriodium. KEPUSTAKAAN 1. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. penyediaan peta prevalensi gondok. pelaksanaan. Jakarta. pengobatan medis. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. 1999. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. Egli HE. 12. Vol. memberika. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. dkk. Takkouche I. Pendidikan yang rendah dari masyarakat. paramedis yang sudah terlatih). pengawasan dan pengendalian).: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. minilokarya. palpasi gondok anak sekolah.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. BPPE. 1997. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Team Learning. 2006. Handoko TH. 22 (2). Elimination of Iodine Deficiency. Supriyanto. Bagian Penerbitan STIE YKPN. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 11. Jurnal GAKI Indonesia. Vol. Media Medika Indonesiana. 2000. 10. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat. 2002. Aspen Publiser Inc. Muhilal. Wisnu C. 12. Surabaya. Yogyakarta. Munfarida S.8. Dolinsky A. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. 6. 33-40. No. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Akademi Gizi. Yogyakarta. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 2006. Simamora H. 7. Sunarno RW.2001. Atmarita. 43(01): 22-. 2003. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.5:1-2: 28-34 12.2008. Kartono D. Manajemen. 8. 3 September 2009 155 . Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia. 2003.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. Manajemen Sumber Daya Manusia.1:10-12. Semarang. IDD Newsletter. 9. Surabaya. Health Care Manage Rev. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion.

.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . Darmawansyah1. Kata Kunci: pasar sasaran. market compartment. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar.74%). jenis pelayanan. Results: The result shows that based on customers’ characteristics.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. and relationship between segment with partner companies or insurance. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served.17%).JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. 3 September 2009 . Vol. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. segmentation. and labeled as health care maximize. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. the number of closest competitors. mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. manajemen organisasi.09%). Universitas Hasanuddin. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior.161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. sistem informasi. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics. and segment III consisting of 60 people (52. No. Sukri Palutturi1. 03 September 2009 Asiah Hamzah. dkk.09%). driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. substitution attendance. segment II consisting of 25 people (21. Fakultas Kesehatan Masyarakat.74%). 12. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. geographical accessibility. segmen pasar yang terbentuk. segmentasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). segmen II sebanyak 25 orang (21. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. the interest of market segment. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15. Keywords: target market. 2008. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. SDM. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008. alat dan teknologi kesehatan.. Halaman 156 . Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. Based on the interest of market segment.17%). Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. keuangan. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani.

2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif).6%). Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit.1%) berpendidikan SLTA. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia. sarjana (13. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. jumlah penduduk. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. jumlah kunjungan.55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar.9%).2%). Sebagian besar responden (59.8%.5%). SLTP (13. dan tidak tamat SD sebanyak 7. psikografis.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. Data yang terkumpul. maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien.173 kunjungan pada tahun 2004. 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya. dan kebutuhan. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. Vol.7% dan 9.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. sehingga perlu dilakukan penelitian ini. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. Dengan demikian. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit. perilaku.6%. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar. Oleh karena itu.9%). geografis. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis.9%. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. 3 September 2009 157 . terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008. membidik satu atau dua segmen itu. Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 12. Tingkat pendidikan responden. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . No. diikuti tingkat pendidikan SD (25. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1. sebagian besar (39. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

5. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris. segmen II sebanyak 25 orang (21. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. dan Nusyirwan MS. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. PT Indeks.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). Foley RL.00 . 12. 9. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. Jakarta.00 per tahun. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Anonimous. Gramedia Pustaka Utama. Zeithelm VA. 7. 2005. 2005. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan.Jakarta. Analisis Multivariat Pemasaran. 4.000.000. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). Kuntjoro T. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. Achmad. 2006. 08(01) Maret:11-8. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. 2006. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Second Edition.000. 10. Setiadi JN. No. 2008.000. Jakarta. Positioning.17%). Prenada Media. dan Joh S. Kartajaya H.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta.00 Rp750. Solo. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. Penerbit PT. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO.14 (1). Simamora B.000. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang. Sains Kesehatan. 3. Cetakan Keempat. Hasnah. Jakarta.2000. 2000. 11. Huan HD. Kepuasan Pelanggan. dan Liu S. and Bitner MJ. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . Membidik Pasar Indonesia. Rethinking Marketing. Integrating Costumer Focus across the Firm. Perilaku Konsumen. Irwin McGraw-Hill. Services Marketing. Targeting. Soenarto S. Makassar. 2003. Mangopo SD. 2001. 6. 3 September 2009 161 . Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. KEPUSTAKAAN 1. Segmentasi.000. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 2004. Makassar. Jakarta. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. 2. Kasali R. dan Emmy KM. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. Syam. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 8. Jakarta.Rp2. Vol. Soejitno S.74%). 2000. Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. Yogyakarta.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. 12. Soebroto T. Tigor HS. Gramedia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kotler P. 2005. Toto Suprapto.09%). Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran.

number of visits of the patients. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya. FK UGM. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi.. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. Kata Kunci : Puskesmas. anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%.. Keywords: health centers. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). 12. dengan rancangan cross sectional study. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. 2006.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . retribution exemption. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. No.05). July and August). 03 September 2009 Nurliyasman. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report. dkk. analytical survey method and cross sectional design. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Sampling secara cluster. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. dan 2007. Halaman 162 . Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. Secara kualitatif. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005.1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya. pembebasan retribusi pasien. Rustamaji2. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. Agustus). Artinya. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern. 3 September 2009 . Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. laporan kunjungan (LB4). Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. Vol. Data yang diperoleh ditabulasi. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Juli. Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO). 2006 dan 2007). jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006. tanpa kecuali. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. serta tahun 2005 sebanyak 681. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan.220. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18.586 jiwa. Vol. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. kerja di sektor informal. Kepala Puskesmas. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4. tahun 2006 sebesar 6. Dengan sendirinya. terutama dalam hal kesehatan. No. jumlah obat yang diresepkan. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam. dan Gudang Farmasi. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman. Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya.960. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat.394. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan.7%. 3 September 2009 163 . serta pengangguran.223. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. Juli. pedagang. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut.514.443. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005. Pengelola Obat Puskesmas.6%. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. Data yang diperoleh ditabulasi.550. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. pegawai swasta. dan Agustus. 12. Jumlah penduduk 724. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. tahun 2006 sebesar Rp1.500.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. dan lain-lainnya.044.7%.000.7%. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1.1% dan tahun 2005 sebesar 5.9% dan 4. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan.315 jiwa tahun 2007. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut. dan tahun 2006 sebanyak 713.2 Berdasarkan uraian di atas.

2. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006.485 Rp 35.514. pada tahun 2007 malah paling rendah.253.443 Rp 5.115. dkk.500 Rp 120.Nurliyasman. 20.223.297 Rp 746.472.550. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas. Perbandingan Anggaran Obat. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas.803.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.1 *) Angka dalam ribuan rupiah.857.916 4.6 4. Artinya.943 Rp 32.7 6. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Tabel 1. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.762.7 2005 1.039.566.2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005.279. 3 September 2009 .394. 12.925 353. No. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005. Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan.307 Rp 2.9 5. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas.000 Rp 216.084 Rp 175. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.787 6. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005. Gambar 1. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.897 Rp 529. Vol.035.276 Rp 6..395.7 18.410 Rp 12. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi.

267 34. 3. berkas tidak ada lagi.809 43.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2.080 22.412 5. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005.161 29.800 22.525 19.693 123. penyakit kulit. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%.362 22.845 29.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. diare.870 69.390 26. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi. hipertensi dan seterusnya. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh.371 24. penyakit kulit.100 13. hipertensi.705 31.572 55. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya.702 22.705 13.103 14.088 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Jumlahnya saja sedikit berbeda.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas. diare. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut.428 216.097 12. dan seterusnya.541 7. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut. sedikit Tabel 3.098 391.213 11. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya.913 14. Vol. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15. penyakit lain saluran napas atas. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi.066 6.344 21.916 33.566 31.521 17. penyakit lain saluran pernapasan atas. No. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005. 3 September 2009 165 . Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam.100 15.317 40. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada. 12.

2% 4. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95. 12. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan.0% Puskesmas VII 95.7% Puskesmas II 3. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% .0% Puskesmas V 95.2% Puskesmas V 4.3% 94.1% Puskesmas III 5.7% Puskesmas VIII 97.6% Puskesmas IV 4. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil.0% 5.9% 94.6% Puskesmas III 94.4% Puskesmas VI 3. No. 4.4% 94.87%. Berarti b.9% Puskesmas II 96.3% Puskesmas IV 96.3% Puskesmas VII 4.0% Rata-rata 96.0% 5. Tabel 5.7% 5.0% 5. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil.7*% Gambar 2.05 Setelah 95. ada sedikit perubahan urutan. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas.8% 94.5% Puskesmas VI 97. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas.3% 95.1% 5.05 c.4% 4.. 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan..0% Puskesmas VIII 3. Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.5% 5.8% Rata-rata 4. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep.3% 5. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut.Nurliyasman.1*% * uji t berpasangan p < 0. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh. Tabel 4.8% 94. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.0% * uji t berpasangan p < 0. dkk. Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. 3 September 2009 . Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4. Vol.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .7% 94.6% 93. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi. a. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi.

0% Puskesmas VII 49. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi.5% Rata-rata 49.7% Puskesmas VI 44. sedangkan program kesehatan lebih abstrak. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi. Tabel 6. No. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% . 12.4% dan maksimum 7%. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD. mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak.4%. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000.7% Puskesmas VIII 46. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi. tahun 2006 sebesar 6.7% Puskesmas III 51. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%.4% tahun 2002. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini.4% 31. Vol.7%. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8% Puskesmas IV 48. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi.3% Puskesmas V 39.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut.7%. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. pada waktu pembebasan retribusi. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun.1% dan tahun 2005 sebesar 5. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi.3% 46.3% 44. Jadi. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas.9% dan tahun 2006 sebesar 4.3% 26. 3 September 2009 167 .4% * uji t berpasangan p < 0. Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja.7% 52. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah.7%.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep.3% Puskesmas II 60. dana kesehatan berkisar antara 2. dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut. 2006 dan 2007. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi. Namun. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal.8% 49.0% 49. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%.3% 45. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0.6%. Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam.7%. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007.5% . Setelah berjalan satu tahun.01 Setelah 53. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% . Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret.

966. 2009 dan seterusnya. Masyarakat 70% . Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368.584. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3. seperti Central African Republic.600. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF). rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9. tapi kebanyakan kurang puas.600.000. Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat.896.000. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau.134.267. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam.628 pasien adalah 3.6 miliar rupiah.000 pasien. Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas. Dari persamaan tersebut. Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS). Vol. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. dkk.000. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2.600. dengan pelayanan gratis. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2. No. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006.872.00. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan.267.00 jika kunjungan naik 50%. Hasil perkiraan yang diperoleh. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus.7 X + 7E+07 (Gambar 2b). Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b.00 . Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak.8 miliar rupiah. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588.Nurliyasman.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan..267. Pengalaman beberapa negara. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan.00.168. yaitu insentif yang keliru.00. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391. 3 September 2009 .000. kualitas pelayanannya juga meningkat. Sebagai koreksi.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Inggris dengan National Health Service (NHS). Maka tahun 2007. Penelitian terdahulu oleh Elfian9. 12. (Gambar 2a).000 pasien. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar. timbul masalah.000. preventif perorangan seperti imunisasi. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif.. yakni 588. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .152.

No. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. Vol. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. Jamsostek atau lainnya. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. terutama Puskesmas. Akibatnya. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. karena sudah bekerja ekstra. seperti tidak semua gratis. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. dan penyakit kulit. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. secara umum tidak berubah. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. diare. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. bagi yang kaya. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. terutama yang memerlukan tindakan. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. maupun Dinas Kesehatan. asal-asalan. sebaiknya harus bayar. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Mungkin. 12. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. rongga mulut. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. Pola peresepan yang relatif tetap ini. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. jika bisa dibatasi. tidak akan terlalu membebani anggaran. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. 3 September 2009 169 . Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. dengan tarif tidak terlalu tinggi. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional.

Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya. 2007. Kebijakan. Vol. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. Gudang Farmasi Kota Batam. Suryawati S. Rachmat HH. Universitas Gadjah Mada.. Yogyakarta. 2. 8. dkk. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Yogyakarta. World Health Organisation. Tesis Program Pasca Sarjana. Jakarta. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. Dinas Kesehatan Kota Batam. Gadjah Mada University Press. 3. Trisnantoro L. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. 7. Republik Indonesia. Penerbit Kanisius.2000. 5.8. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar.. Universitas Gadjah Mada. 12. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. KEPUSTAKAAN 1. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. Murti B.1998. Yogyakarta. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. Yogyakarta. 2005. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. Health Economics and Drugs DAP Series No. 9. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. World Health Organization. 2004. 3 September 2009 . Puskesmas se-Kota Batam. Tesis Program Pasca Sarjana.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. No. Batam. Elfian. Geneva. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Gadjah Mada University Press. Dinas Kesehatan Kota Batam. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. 2006. 1992. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. 4. Hartati. Geneva.1999.Nurliyasman. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 6. Yogyakarta.

Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. ekonomi. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. Midwest Medical Group. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. 12. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Swayne. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. dan pengelolaan dimulai kembali. termasuk sektor pelayanan kesehatan. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. dan Riverview the HMA Facility. No. W. kemajuan bioengenering. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan.com atau januraga@sph.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Peter M. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis. 3 September 2009 . Pada akhirnya. mengembangkan pertanyaan. Dari sudut pandang penulis. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis.ac. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia.unud. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan. strategic planning. dan mengelola strategi momentum. menganalisis data. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis.januraga@gmail. Untuk itu. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum. Melalui manajemen perencanaan strategis. dimanapun mereka bertugas. masalah mutu layanan.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. segala sesuatu terus berubah. Selamat membaca. Jack Duncan. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan. dan mengembangkan ide-ide baru. masalah keterbatasan akses. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. perencanaan. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. Vol. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita.

KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. mengevaluasi. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). 12/ No. 12. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . SK Dirjen Perhubungan Udara. Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. melaksanakan. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization. dan seterusnya. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin. Peraturan Pemerintah. No. 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja. 3 September 2009 . menyeluruh.pasal 322). Permenhub. mungkin sama dengan yang penulis maksud. Sepengetahuan saya bahwa UU No. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. 15/1992 tentang Penerbangan. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. Oleh karena itu.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. 2/Juni/2009.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Civil Aviation Safety Regulation). Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. Vol. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten.

Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. Keselamatan Penerbangan. Rudiyanto. 3. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). 2. Diakses pada 14 Februari 2007. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. Vol. Cetakan Ke 2. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. 05/1996. Alli BO.2004.2001. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. peledakan. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. No. Geneva. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. com/index. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. 3 September 2009 173 . Jakarta. Permenaker RI No. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel. penyakit akibat kerja. pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3. KEPUSTAKAAN 1. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Mulijadi H. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. International Labor Office.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut.vokezone. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. Jakarta. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. First Published. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. 2002. 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. Tersedia dalam http://news. 12. kebakaran. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful