Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
The Indonesian Journal of Health Service Management Volume 12/Nomor 03/September/2009

Daftar Isi
Editorial
Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional Dapat Terus Dilaksanakan? Sebuah Analisis Sejarah dan Budaya 113

Makalah Kebijakan
Politik Pembangunan dan Kebijakan Privatisasi Pelayanan Kesehatan Dumilah Ayuningtyas 115

Artikel Penelitian
Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal antara Puskesmas Cakupan Tinggi dengan Puskesmas Cakupan Rendah Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Ernawati, Djaswadi Dasuki, Abdul Wahab Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan Peserta Program Jaminan Kecelakaan Kerja pada PT Jamsostek Cabang Medan Gerry Silaban, Soebijanto, Adi Heru Soetomo, Lientje Setyawati Maurits, Suma’mur, P.K. Hambatan dan Harapan Sistem Kredensial Dokter: Studi Kualitatif di Empat Rumah Sakit Indonesia Herkutanto, Astrid Pratidina Susilo Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKI pada Anak Sekolah di Daerah Gondok Endemik Berat di Kota Surabaya Oktarina, Dwi Astuti Soekisno Putri Analisis Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008 Asiah Hamzah, Darmawansyah, Sukri Palutturi, Petrus Romeo Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya Anggaran Obat Pemerintah Kota Batam setelah Pembebasan Biaya Retribusi Pasien Puskesmas Nurliyasman, Rustamaji, Sri Suryawati 120

130

140

148

156

162

Resensi Buku
Strategic Management of Health Care Organizations 171

Korespondensi
Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System In Indonesia 172

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12 No. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 113 - 114 Editorial

APAKAH UNDANG-UNDANG SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DAPAT TERUS DILAKSANAKAN? SEBUAH ANALISIS SEJARAH DAN BUDAYA

Di penghujung tahun 2009 ini, usia Undang – Undang (UU) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) telah lima tahun (UU No. 40/2004). Selama lima tahun, praktis UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tidak berjalan. Salah satu penyebabnya adalah bahwa UU SJSN ini membutuhkan UU lain yaitu UU Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) yang tidak kunjung selesai. Pernyataan menarik adalah bahwa UU SJSN ini terlihat tidak efektif untuk merubah masyarakat dan tentunya pertanyaannya mengapa gagal? Salah satu penjelasan adalah bahwa UU SJSN tidak memperhatikan sejarah masyarakat yang akan diatur oleh UU. Sebuah UU dapat gagal karena tidak berhasil merubah tata kehidupan masyarakat. Artinya tata kehidupan yang sudah berlangsung lama sejarahnya tidak bisa diubah. Masyarakat secara sengaja atau tidak sengaja menolak pelaksanaan UU. Diskusi mengenai kebijakan dan history merupakan hal menarik untuk diperdebatkan. Sebuah kebijakan (misal UU) dapat bersifat ahistorik jika tidak mempertimbangkan atau melihat sejarah. Namun perlu dicatat bahwa kebijakan memang dapat bertujuan membalikkan sejarah atau merubah sebuah tradisi. Lee Kuan Yew dengan kebijakan keras berpuluh tahun mampu merubah perilaku kebersihan penduduk Singapura. Jadilah sekarang situasi Singapura yang lebih bersih dibanding London (sebagai benchmark Lee Kuan Yew). Situasi ini berbeda dengan kebiasaan hidup tidak bersih dalam sejarah masyarakat perantauan Chinese. Kebijakan Singapura bersih tersebut berhasil membalikkan peninggalan sejarah. Kebijakan Singapura memang sangat keras karena melihat budaya kebersihan dalam sejarah Singapura yang tidak baik. Jadi kalau sebuah kebijakan tidak memperhatikan sejarah/tradisi budaya, maka kebijakan ini mempunyai risiko tidak berjalan. Hanya di atas kertas. Undang-Undang (UU) SJSN merupakan hal sangat berat karena harus mampu merubah berbagai hal termasuk perubahan budaya masyarakat, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pimpinan dan staf perusahaan asuransi kesehatan, pejabat dinas kesehatan, sampai ke pejabat. Undang-Undang (UU) SJSN bukan hanya merubah prosedur, tapi budaya

yang sudah menjadi tradisi, menjadi bagian dari sejarah panjang sektor kesehatan Indonesia. Tradisi dokter mendapat fee for service tidak hanya 10 tahunan. Sudah lama sekali. Sejarah sangat penting untuk menjadi pertimbangan kebijakan. Pada tahun 1948, pemerintah Inggris dari Partai Buruh secara keras menasionalisasi semua pelayanan kesehatan agar terjadi pemerataan. Hal ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Dengan menasionalisasi RS swasta, pemerintah Inggris dapat melakukan intervensi dengan kuat. Patut dicatat bahwa sekitar tahun 1948 medico industrial compleks belum sekuat sekarang. Dalam konteks perubahan di Inggris, kebijakan menasionalisasi menjadi NHS dilakukan oleh PM Partai Buruh saat itu, dalam suasana rekonstruksi Inggris pasca Perang Dunia II. Kebijakan ini menasionalisasi pelayanan kesehatan swasta, kemanusiaan (termasuk keagamaan), pemerintah lokal diinisiasi oleh kantor PM Inggris yang cenderung lebih ke kiri (sosialis) yaitu Partai Buruh. Kebijakan ini sangat memperhatikan tradisi dalam sejarah, termasuk tradisi pendapatan tinggi dokter yang sangat kuat. Para pengambil kebijakan paham bahwa para dokter pasti menentang. Oleh karena itu, Aneurin Bevan (Menteri Kesehatan Inggris saat itu) menyatakan: “I stuffed their mouths with gold”. Agar tidak ditentang dokter, kebijakan ini sangat memperhatikan pendapatan para dokter sehingga mau berubah. Dari gambaran ini, kita dapat melihat betapa rapuhnya UU SJSN. Terbukti selama lima tahun tidak berjalan. Kerapuhan timbul dari berbagai sudut. Pertama dari saat disahkannya. Undang-Undang (UU) SJSN disahkan oleh Ibu Megawati di hari-hari akhir periode kepresidenan. Undang-Undang (UU) semacam ini sering disebut sebagai “Midnight Laws”. Dapat dipahami bahwa periode kepresidenen berikutnya tidak merasa memiliki (ownership) UU SJSN. Sangat berbeda dengan NHS di Inggris yang disiapkan bertahun-tahun sebelumnya sebagai agenda Partai Buruh. Oleh karena itu, UU SJSN perlu diamandemen dengan salah satu tujuan adalah meningkatkan kepemilikan dan dukungan politis dari pemerintah yang berkuasa.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

113

Berbagai kepentingan dan ideologi yang saling bertentangan dapat terjadi. Mengingat beratnya masalah yang sampai mencakup tata kehidupan dan sejarah yang sudah panjang. 3 September 2009 . termasuk peran para dokter yang sangat powerfull. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi di sektor kesehatan. 12. Kerapuhan kedua. trisnantoro@yahoo. Akibatnya masalah teknis yang banyak terdapat disektor kesehatan menjadi terabaikan. Komponen kesehatan bisa menjadi tidak terurus secara baik dalam UU SJSN. 114 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.com).Laksono Trisnantoro: Apakah Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional . Kenyataan memang sudah terjadi. Kerapuhan ketiga. Masalah apakah para dokter akan kekurangan income apabila menjalankan UU SJSN tidak dibahas. No. Undang-Undang (UU) SJSN menjadi sangat rapuh pada perdebatan ideologis. Model UU SJSN memberikan insentif rendah dibanding OOP. Dari titik ini kemudian disusun UU Asuransi Kesehatan dan atau UU Jaminan Kesehatan Nasional.. diusulkan agar UU SJSN diamandemen dan kalau bisa dipisahkan sendiri. diharapkan jangan diletakkan bersamasama dengan jaminan sosial lainnya (Laksono Trisnantoro. Oleh karena itu. Aspek ini sangat politis. UU SJSN mencakup kesehatan dan berbagai aspek welfare dalam hubungan pengusaha dengan buruh.. Banyak sekali hal operasional tidak dibahas. UndangUndang (UU) SJSN tidak bicara banyak mengenai bagaimana meratakan pelayanan kesehatan ke berbagai tempat. Hal ini dapat dilihat dari kecurigaan para industrialis terhadap UU SJSN ini yang dianggap mengurangi daya kompetisi produk Indonesia. Vol. UU SJSN tidak bicara banyak mengenai tradisi masyarakat Indonesia yang tidak kenal risiko dan lain-lain.

Khusus di sektor perumahsakitan. 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Universitas Indonesia. Pasar Rebo dan Cengkareng bersamaan dengan disahkannya UU No.13. Sebuah gelombang biasanya mencakup liberalisasi atau upaya demokratisasi dari sistem-sistem politik yang tidak atau belum sepenuhnya demokratis. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Menarik untuk mencermati korelasi antara kondisi politik dengan perubahan arah pembangunan pemerintah pada contoh kasus perumahsakitan tersebut. Thus health sector is not an exception in this case. Alternatif jawaban atas pertanyaan adakah politik mempengaruhi arah pembangunan ABSTRAK Telah terjadi gelombang menuju demokratisasi dan liberalisasi yang mempengaruhi politik pembangunan pemerintah dan memberi ruang bagi kesertaan masyarakat atau pihak swasta lainnya dalam privatisasi pembangunan termasuk pelayanan publik tak terkecuali di bidang kesehatan. 32/2004 tentang Otonomi Daerah.15/2004 tentang Perubahan Bentuk Badan Hukum menjadi PT dan Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada PT. Berikutnya keluar Peraturan Pemerintah (PP) No. terjangkau dan berkualitas. Rumah Sakit Haji. No. This wave also provided space for public’s participation or any other private sector on development privatization including public service.1 Liberalisasi di bidang politik akan berkorelasi dengan arah kebijakan pembangunan di suatu pemerintahan utamanya di sektor ekonomi. Although the inclination for escalation of privatization policy on health service seems promising. tak terkecualikan. Pada rentang waktu itu pula. kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan PENGANTAR Telah terjadi arus perubahan sistem politik kepemerintahan sebagai sebuah transisi menuju demokrasi di negara-negara baru. 3 September 2009 115 .JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. yet it still need endeavor to ensure that the implementation of privatization in Indonesia does not contradict with government’s obligation and objective in giving broadened and attainable health service with good quality.2 Salah satu ciri dari Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. hal ini terjadi pula di Indonesia. termasuk di sektor kesehatan. Perusahaan Jawatan (Perjan) bagi 13 Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP). Substantive definition of privatization is action of diminishing the government’s participation (state control) and increasing private’s partaking. Meski terdapat kecenderungan meningkatnya kebijakan privatisasi bagi pelayanan kesehatan diperlukan upaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata. pemerintah telah beberapa kali mengganti status rumah sakit berturutturut mulai dari pengguna PNBP. privatization’s policy on health service proses liberalisasi dibidang ekonomi adalah keputusan pemerintah baik pusat dan daerah untuk melakukan privatisasi aset-aset pelayanan publik. Kata Kunci: politik pembangunan pemerintah. 8/2003 yang paralel dengan BUMN dan mempengaruhi status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menjadi bentuk Badan Layanan Umum (BLU) berdasarkan UU No.14. Depok ABSTRACT A wave into democratization and liberalization which influenced the development of government politic had arisen. antara lain terepresentasi dalam pergantian pengelolaan kekuasaan dengan tak kurang dari lima kepala negara dimiliki Indonesia di tahun 1997-2005. bahkan di ibukota tiga RSUD telah ditetapkan sebagai Perseroan Terbatas (PT) melalui tiga buah Peraturan Daerah (Perda) yaitu: Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta No. 12. berubah dalam pilihan menjadi Perum atau Persero dengan lahirnya Undang-Undang (UU) No.119 Makalah Kebijakan POLITIK PEMBANGUNAN DAN KEBIJAKAN PRIVATISASI PELAYANAN KESEHATAN THE POLITIC OF DEVELOPMENT AND HEALTH PRIVATIZATION IN HEALTH SERVICE Dumilah Ayuningtyas Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. 03 September 2009 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Halaman 115 . yang seringkali juga disebut sebagai gelombang ketiga demokrasi. Politik dan Arah Pembangunan Pemerintah Era reformasi membawa dinamika politik yang sangat deras. Keywords: government political development. Pengertian subtanstif privatisasi adalah kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta (”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector”). Vol. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. terjadi perubahan signifikan dalam bidang kesehatan termasuk kebijakan pembiayaan kesehatan.

sementara itu pada masa dan pasca reformasi pemerintah cenderung menggunakan teori atau model liberalisasi. Adanya arus besar privatisasi sebagai representasi politik liberalisasi setidaknya dapat dipahami dengan mengacu pada pandangan J. Teori ketergantungan terutama dilatarbelakangi pemikiran Marxis yang melihat perekonomian global sebagai eksploitatif terhadap negara-negara berkembang dan menyarankan agar negara-negara tersebut berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga mengurangi ketergantungan pada ekonomi global.5 116 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Berbeda dengan logika teori modernisasi yang bersifat progresif. Asumsi teori ini adalah dualitas antara Masyarakat Barat dan Masyarakat Timur yang terkategori sebagai masyarakat maju (bagi barat) dan terbelakang yang semestinya diadabkan (untuk timur). 12.A. Teori ini memang tidak bisa lepas dari pengaruh pemikiran Keynes yang menitikberatkan peran pemerintah dalam menggerakkan perekonomian. Vol. Pemerintah tidak boleh ikut campur karena akan merusak mekanisme pasar yang dikatakan dikendalikan oleh invisible hand. teori liberal. selain kebebasan atau liberte individu yaitu hal-hal yang akan menyelamatkan dan mempertinggi kebebasan itu. Pandangan tersebut dapat diterima setidaknya jika kita menelaah lebih dalam pengertian tentang kedua model tersebut.. 3 September 2009 . Teori terakhir merupakan perkembangan lebih lanjut dari pemikiran-pemikiran pembangunan yang lain dan berpandangan bahwa pembangunan seharusnya lebih melibatkan kelompok-kelompok yang termarjinalisasi yaitu kelompok minoritas dan termasuk juga kaum perempuan. Teori liberal tidak memiliki role model dalam tujuan pembangunan yang hendak dicapainya. pemerintah bisa diperoleh bila mengacu pada pandangan Bjorn Hettne tentang Development Theories in the Three Worlds yang menyebutkan setidaknya ada empat model pembangunan yang pernah diterapkan di seluruh dunia dan kesemuanya menyandarkan pada konteks dominasi politik yang berkembang. Model pembangunan pertama sering disebut pula sebagai “Teori Pembangunan yang Eropasentris”. karena memandang negara-negara di Eropa adalah gambaran ideal masyarakat yang ingin maju. John D.4 secara lebih subtanstif dalam perspektif filsafat-politik.3 Teori modernisasi melihat masyarakat Eropa sebagai role model bagi pembangunan negaranegara berkembang di Asia dan Afrika. Amerika Serikat (selanjutnya disebut AS) privatisasi diartikan sebagai minimalisasi peranan pemerintah dan maksimalisasi peran sektor swasta. Donahue memberikan konsep berikutnya tentang privatisasi yang lebih menekankan pada peningkatan kinerja sektor publik dengan pelibatan kekuatan sektor swasta dalam layanan publik dengan ungkapan: ”the term more often refers to the private delivery of goods and services that are still paid collectively’. dan toleransi. dan teori alternatif.. teori ini memberikan ruang bagi bantuan luar negeri terutama untuk negara-negara berkembang. Pada batasan konsep liberalisme seperti inilah ruang privatisasi pembangunan pemerintah berada. yaitu teori liberal menggunakan logika liberalisme yang dirintis Adam Smith sebagai acuan utama untuk melihat pembangunan. teori liberal cenderung melihat pentingnya logika keseimbangan yang melepaskannya pada keseimbangan neraca antara sektor permintaan dan penawaran. Pembangunan Indonesia berkisar di antara kedua teori pembangunan pertama dan keduanya pernah digunakan dalam perjalanan pembangunan pemerintah. pemerintahan konstitusi.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan .. model pembangunan liberal relatif ”tidak ramah” terhadap peran pemerintah. namun teori ini melihat bahwa kondisi perekonomian terbaik hanya dapat tercapai saat negara membiarkan masyarakat berikut individuindividu di dalamnya menggunakan sumber daya (faktor produksi) sebebas mungkin. aturan hukum. Sebagai contoh. baik dalam aktivitas-aktivitas layanan publik maupun kepemilikan aset-asetnya. Teori kedua. Kay dan D. masing-masing: teori modernisasi. Privatisasi Pembangunan di Mancanegara dan di Indonesia Cita-cita dunia barat sebagian besar adalah citacita liberal yang menyepakati tentang arti liberalisme.means of changing relationship between the government and private sector”. privatisasi berarti kegiatan mengurangi peranan pemerintah (state control) dan meningkatkan peran swasta. Thomson yang menganggap bahwa privatisasi tidak semata-mata soal pengalihan kepemilikan badan usaha saja melainkan merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta ”.. No. seperti persamaan hak.J.”5 Pada praktiknya. maka fenomena BUMN adalah sesuatu yang lazim. Di lain pihak. Logika liberal agar pemerintah tidak ikut campur dalam kehidupan perekonomian warganya harus dilanggar. Oleh karenanya.3 Teori ini mengizinkan pengeluaran besar-besaran dalam anggaran pemerintah negara berkembang untuk pembangunan negara. Teori modernisasi digunakan pada masa orde baru. Privatisasi adalah: ”the act of reducing the role of government and expanding that of the private sector. terdapat perbedaan dalam penetapan batasan dan pelaksanaan privatisasi. teori ketergantungan.

3 September 2009 117 . seperti di Inggris. 19/2003 tentang BUMN pasal 1 ayat 12 tetang privatisasi: ” . baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 8 Konsep ini memang lebih banyak menekankan kepada pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN yang pada akhirnya bertujuan membuat BUMN mandiri dalam operasionalnya sehari-hari. Dalam banyak kasus. adalah penjualan saham persero. profit sharing. Berikutnya. sudah banyak BUMN di Indonesia yang diprivatisasi oleh pemerintah semenjak tahun 1990-an seperti Indosat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Sementara di Inggris. Menurutnya ada beberapa alasan yang membuat privatisasi merupakan jalan yang tepat untuk sebuah perubahan yaitu pertama. seperti rumah sakit. privatisasi mengefektifkan manajemen lembaga terkait. Telkom. karena sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) ditransformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system). sekolah. Selain itu. Pada definisi ini. privatisasi lebih diartikan sebagai proses pengalihan bentuk hukum perusahaan negara berdasarkan perundang-undangan yang ada dan kemudian diikuti dengan penjualan saham-saham perusahaan tersebut kepada pihak swasta: “the formation of a company under the Companies Act 1985 and the sub sequent sale of at least 50% of the shares to private shareholder”. sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. angkutan umum. seperti penanganan sampah. sanksi yang diberikan hanya mutasi jabatan. Vol. proses rekrutmen. dan lainnya. sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Artinya pelaksanaan privatisasi di Indonesia menganut dua konsep privatisasi. sebagaimana ungkapan Peter M. Tidak seperti sistem yang dipakai saat ini..7 Sementara kelompok yang kontra mengemukakan bahwa privatisasi berhubungan langsung dengan fenomena global. konsep privatisasi mempunyai beberapa pengertian yang berbeda. dan memberikan lebih banyak kebebasan bagi BUMN untuk beroperasi sesuai dengan anggaran dasarnya.. Hal ini dianggap sebagai bentuk penjarahan kekayaan negara model baru dari kolonialisme dan liberalisme yang telah terbukti memiskinkan masyarakat di negara dunia ketiga. penyediaan air minum dan berbagai layanan publik lainnya.”. angkutan udara.6 Sebagai sebuah kebijakan. Ross Mcleod. yang berarti dapat meningkatkan profit dan menurunkan tarif atau harga”. privatisasi telah memunculkan pro dan kontra dengan dasar argumentasi masing-masing. Antara lain ungkapan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Spanyol Carlos Solchaga mewakili kelompok pro: privatisasi adalah bagian dari proses demokrasi.Price: ”privatization could be defined in narrow terms restricting the concept to the sale of public as sets. jalan tol. sehingga banyak prasarana dan pelayanan publik yang dibangun oleh pihak swasta. jika pemimpin melakukan kesalahan. Dalam arti sempit privatisasi didefinisikan sebagai konsep penjualan aset-aset publik. No. Antara lain. yang memfokuskan pada pelayanan publik. seperti di AS dan juga pada penjualan BUMN. perluasan partisipasi masyarakat dan tingkat manfaat yang dapat diambil menjadi beberapa dasar pelaksanaan privatisasi seperti tertuang dalam UU RI No. konsep privatisasi sebagai bentuk pengurangan intervensi pemerintah ke BUMN. Jackson dan Catherine M. sementara perusahaan membutuhkan pegawai dengan kualitas sesuai yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja peusahaan. privatisasi di Indonesia juga sering diartikan sebagai kegiatan mengalihkan sebagian tugas pemerintah ke sektor swasta. dan lain-lain. privatisasi merupakan solusi terbaik karena dengan privatisasi perusahaan dapat lebih cepat berkembang dan maju. terutama dalam hal investasi. terdapat beberapa konsep dan pemahaman yang menjadi dasar pelaksanaan privatisasi. perusahaan negara yang belum terprivatisasi akan sangat banyak mendapatkan intervensi politik dari pemerintah maupun legislatif. Ketiga.5 Dukungan serupa juga diberikan oleh seorang ekonom dari Australia National University Indonesia Project. dan perumahan. pemerintah mengalihkan sebagian tugasnya kepada pengusaha swasta.5 Di Indonesia. promosi dan remunerasi dalam sistem kepegawaian yang mengacu pada sistem yang berlaku pada lembaga pemerintah menghasilkan banyak pegawai dengan kualitas yang di bawah dari yang diharapkan. Berdasarkan definisi dan konsep privatisasi ini. Kedua. Belum lagi daya saing. 12. tambang timah. Penekanan pada penjualan aset publik berupa perusahaan negara kepada pihak lain dengan terlebih dahulu mengalihkan bentuk hukum perusahaan tersebut menjadi perusahaan swasta sesuai dengan UU Perusahaan yang ada dan kemudian menjualnya sebagian atau seluruhnya saham-sahamnya kepada pihak swasta dianggap sebuah ciri privatisasi di Inggris. sehingga jika pemimpin dianggap tidak mampu lagi memegang kendali perusahaan atau melakukan kesalahan yang berakibat fatal pada perusahaan maka ia dapat dipecat.9 Dengan peningkatan kinerja.

sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah dengan menjual sahamnya. keuangan dan penetapan standar pelayanan. di Filipina sekitar 50%.11 Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau perusahaan-perusahaan privat ‘for profit ataupun non profit ‘ mengacu pada berbagai peraturan pemerintah yang mengikat. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”.10 Bagaimana memaknai data kontribusi pihak swasta pada pelayanan kesehatan di sebuah Negara apakah sebagai suatu hal positif yang menunjukkan kemajuan di bidang kesehatan atau justru sebaliknya 118 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Kebijakan privatisasi bahkan dipandang sebagai salah satu jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan keuangan negara dan daerah. Atas dasar itu. meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. Banyak pemerintahan negara-negara sedang berkembang yang bahkan telah lama tergantung kepada sektor swasta atau organisasi pemberi bantuan dalam penyediaan pelayanan kesehatan. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. World Development Report memberikan data mengenai estimasi jumlah sektor swasta (private) dan publik di 79 negara pada tahun 1990. serta alasan ideologis dan politis yang melatarbelakangi. Privatisasi Pelayanan Kesehatan Pengurangan peran pemerintah karena ketidakmampuan menanggung sendiri beban dan biaya pengembangan pelayanan kesehatan bahkan pemeliharaan pelayanan kesehatan dengan alternatif penyertaan pihak swasta menjadi salah satu dasar penetapan kebijakan privatisasi. tak terkecuali di bidang kesehatan yang mengharuskan dilakukannya upaya-upaya terobosan termasuk pengubahan bentuk status kepemilikan atau privatisasi. Pemindahan sebagian tugas pengelolaan pelayanan kesehatan kepada organisasi sukarelawan. pelayanan kesehatan sudah beroperasi mendekati situasi pasar bebas sehingga privatisasi telah menjadi bagian penting dalam agenda politik di banyak negara. menyayangkan kenyataan bahwa keuntungan atau manfaat yang bisa didapat dari privatisasi rumah sakit pemerintah sering terhalang oleh kendala politis. selain juga kemampuan kewirausahaan dari pengelola.. proporsi rumah sakit swasta telah meningkat dari 35% ke 95% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. faktanya privatisasi pelayanan kesehatan telah berlangsung. Korporatisasi atau privatisasi pelayanan kesehatan diyakini akan mampu menjawab masalahmasalah inefisiensi pengelolaan keuangan. di Korea 60%. 57% dari rumah sakit dan 32% dari tempat tidur adalah swasta. Dasar pertimbangan lain adalah cepatnya pertumbuhan tuntutan pasar di era perdagangan bebas pada lembaga-lembaga pemerintah. pembelanjaan kesehatan bersumber swasta adalah sekitar 88%. Pada tahun 1993. Argumentasi dukungan terhadap kebijakan privatisasi antara lain: sebagai upaya mengurangi beban keuangan pemerintah. belum optimalnya mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan.Sebagaimana data tentang kontribusi sektor swasta (private) dalam pelayanan kesehatan di negara-negara berkembang Asia berikut: India.Dumilah Ayuningtyas: Politik Pembangunan dan Kebijakan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor swasta (private) pada 24 negara di antaranya telah berkembang lebih besar daripada sektor publik. 12. No. Thabrany berpendapat bahwa bentuk perseroan terbatas bukanlah bentuk yang tepat untuk sebuah fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit.. Mengambil pelajaran dari pengalaman berbagai negara lain. sebagai pembawa bendera (flag-carrier) dalam mengarungi pasar global. Vol. maka sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian tinggi pada transformasi bentuk dan status rumah sakit serta penyelesaian masalahmasalah yang timbul pada prosesnya. F. Thailand 30% dari rumah sakit adalah swasta. mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Ada banyak karakteristik dalam pelayanan di bidang kesehatan yang tidak bisa disamakan dengan pelayanan publik yang lainnya. namun hal ini dapat dipandang sebagai fenomena sementara karena pemerintah akan memulihkan dan memperkuat perannya kembali dengan mengambil bila telah tersedia sumber dana yang mencukupi. Eid. meningkatkan profesionalisme. 3 September 2009 . Korea. di Indonesia 65%. Meski seolah terkesan pragmatis.10 Pihak yang kontra terhadap kebijakan privatisasi di Indonesia beranggapan bahwa kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan atau rumah sakit merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 Pasal 28H 1 tentang Hak Pelayanan Kesehatan dan Pasal 34 Ayat 3 yang menyebutkan bahwa negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak. mengurangi campur tangan birokrasi dan pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. Di India dan Thailand. Pada banyak negara. 67% dari rumah sakit adalah swasta meliputi 50% dari tempat tidur. Mengingat area penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah di bidang kesehatan adalah regulasi. Filipina.

eastasia forum. 2000. 3. dan berkualitas. UK. 11. Risiko Konversi rumah Sakit Publik Menjadi Perusahaan. the self regulating market.3. 1994. Diakses pada tanggal 18 April 2008. Willam Newbrander. 1996:163 12.all. selazimnya dilakukan telaah cermat dan mendalam untuk memastikan bahwa pelaksanaan privatisasi di Indonesia tidak malah bertentangan dengan kewajiban dan tujuan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata. 1992: 31. Samuel Huntington. Caporaso and David P. Privatization: A policy in search of rationale in Economic Journal. Florence Eid. Jakarta. Issues and Implication. 3 September 2009 119 . 9.kompas. Revrisond Baswir. Privatisasi di Berbagai Negara: Pengantar Untuk Memahami Privatisasi Penerbit Lentera Hati. No. John Willey & sons Press. Demokratisasi: Refleksi Kekuasaan yang Transformatif. Gelombang Demokratisasi Ketiga. London.Bab. politics a place to act”. Carol Baker. akuntabilitas. Carporaso dan David P. Bahaya Globalisasi Neoliberal. kemandirian. 20 6. Levine. 5. UU No. Analisis CSIS. James A. Why Privatise In Indonesia? And How? East Asia Forum. com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817832. Granit.XXIII(1):6. Maret 2005. 19. Private Health Sector Growth in Asia. et. Jakarta. 1986.12 Ditambah dengan tuntutan perundangan Pasal 74 dan 75. terjangkau. Theories of Political Economy. Jakarta. 1997. Private interest and public good. USA.19/2003 mengingatkan bahwa setiap kebijakan privatisasi bertujuan meningkatkan kinerja dan harus memperhatikan prinsip transparansi. Vol. 16-18. Republika Senin 8 Desember 2003 7. 2006. 10. 8. htm.J Thompson. Strategi Pembangunan Indonesia Pasca IMF. Catatan yang penting dalam melengkapi bahasan tentang politik pembangunan pemerintah dan kebijakan privatisasi pelayanan kesehatan adalah perspektif James A. “Governance & Incentives in Corporatized Hospital” (Working Paper. KEPUSTAKAAN 1. 12. PENUTUP Pada banyak negara. pertanggungjawaban. London.org/2008/08/07/why-privatise-inindonesia-and-how/.10. Syamsul Hadi. dan kewajaran. 4. Sage Publications Ltd. http://www. state and society. Cambridge University Press.9. 2004:8. The Health Care Policy Process.96:18-32.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tentu terpulang pada paradigma sang penilai serta konsideran pelaksanaan privatisasi pelayanan kesehatan itu sendiri. Tommy Legowo.A Kay & D. Hasbullah T. J. Diakses pada 18 April 2007. 1. lengkap dengan empat pilar pendekatannya yaitu: masyarakat madani (civil society). the American University of Beirut). 2002:10. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. http://www. pelayanan kesehatan sudah beroperasi dalam jarak yang dekat dengan mekanisme dan situasi pasar bebas. 2. Grafiti. Levine yang memandang keterkaitan hubungan antara aktivitas politik dan aktivitas ekonomi sebagai: ”Economics is a way acting. Ross Mcleod. Safri Nugraha.

CI 95% = 1.017.0806. 95%CI = 1. p = 0. improvement should be made.516. Yogyakarta 3 CHN-RL. No. Based on the qualitative data. kepuasan pelanggan. OR = 4.008. Analisis data menggunakan analisis univariat. PR = 4.516. FK UGM. However.607.935.002.724) dan kepuasan pasien (χ² = 4. Dari 34 Puskesmas yang mencapai target cakupan KIA hanya 4 Puskesmas (11.8%).082-18. p = 0.407.. PR = 4.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . bivariat dengan uji chi-square (χ²) dan stratifikasi.624). Objective: To evaluate antenatal care performance between high coverage CHC and low coverage CHC using balanced scorecard approach in Bekasi District.662.8%. while standardized care was not related to antenatal care coverage. The study was performed in Mekarmukti and Cibarusah CHCs. Method: This was an observational study with cross sectional study design.5% and fourth visit coverage was 77.348). These show that maternal and child health care performance is not optimal. OR = 4.017. The subjects were the head of CHCs. CI 95% = 1. Keywords: balanced scorecard. Abdul Wahab³ 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat. p = 0. Instrumen menggunakan kuesioner.407. 03 September 2009 Ernawati. performance. costumers’ satisfaction. Analisis stratifikasi diketahui ada perbedaan pendidikan/pelatihan terhadap cakupan antenatal yaitu Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Cibarusah (χ² = 5. One of performance measurements is balanced scorecard which includes four perspectives. kinerja. CI 95% = 1. the midwives responsible for the implementation of antenatal care in maternal and child health room. 95%CI = 1. bidan penanggung jawab dan pelaksana pelayanan antenatal di ruang KIA.256-84.789). CI 95% = 1.129 Artikel Penelitian EVALUASI KINERJA PELAYANAN ANTENATAL ANTARA PUSKESMAS CAKUPAN TINGGI DENGAN PUSKESMAS CAKUPAN RENDAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD EVALUATION ON ANTENATAL CARE PERFORMANCE BETWEEN HIGH AND LOW COVERAGE COMMUNITY HEALTH CENTERS USING BALANCED SCORECARD Ernawati¹.015.76%).5%) dan cakupan K4 (77. Pengukuran kinerja yang dilakukan menggunakan balanced scorecard yang meliputi empat perspektif yaitu keuangan.032. p = 0.348) sedangkan pelayanan sesuai standar tidak berhubungan dengan cakupan antenatal. Stratification analysis showed that antenatal care coverage in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 5. Hal ini menggambarkan bahwa kinerja pelayanan KIA masih belum optimal dan perlu dilakukan evaluasi guna perbaikan kinerja pelayanan KIA di masa datang. Tujuan: Mengevaluasi kinerja pelayanan antenatal antara Puskesmas cakupan tinggi dengan Puskesmas cakupan rendah di Kabupaten Bekasi dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard. p = 0. Yogyakarta ABSTRACT Background: Community Health Center (CHC) is hoped to give quality antenatal care.026. p = 0. OR = 2. kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan Puskesmas Cibarusah (χ² = 6. 95%CI = 1.607. First visit of pregnant mothers in 2006 was 87. There is no difference in Mekarmukti and Cibarusah CHCs operational fund and standard antenatal care. Data kualitatif tentang kinerja keuangan menunjukkan di Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. Di Kabupaten Bekasi cakupan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada tahun 2006 adalah K1 (87. Study instruments were questionnaire. Conclusions: There is a difference between providers’ education/training and the level of patients’ satisfaction in Mekarmukti and Cibarusah CHCs..008.789). and learning and growth. FK UGM. There were 21 cases of maternal mortality in 2005 and only four out of 34 CHCs achieved the target of maternal and child coverage. Kesimpulan: Ada perbedaan pendidikan/pelatihan petugas dan tingkat kepuasan pasien antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. and interview guide.667-9. cakupan antenatal 120 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.662. antenatal coverage ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar diharapkan mampu memberikan pelayanan antenatal berkualitas.935.002. therefore. 12.015.667-9. 95%CI = 1. Lokasi penelitian di Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. maternal and child health coverage in Bekasi District has not achieved the targeted standard yet.080-6. Halaman 120 . check list dan pedoman wawancara. Results: There was an association between providers’ education/training and antenatal coverage (χ² = 10. Qualitative data were used in this study. Hasil: Analisis menunjukkan hubungan pendidikan/pelatihan dengan cakupan antenatal (χ² = 10. Vol. PR = 2. there was no difference in finance performance in both CHCs. namely finance. internal business. Kata kunci: balanced scorecard.032. dkk. proses pelayanan dan pengembangan sumber daya manusia.256-84. PR = 8. Tidak ada perbedaan standar pelayanan antenatal dan dana operasional antara Puskesmas Mekarmukti dan Cibarusah. OR = 8.624). patients’ satisfaction in Mekarmukti CHC was better than that in Cibarusah CHC (χ2 = 6. Subjek penelitian adalah kepala Puskesmas. Univariate analysis and bivariate analysis with chi-square test and stratification were used.082-18. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilengkapi dengan data kualitatif. and all pregnant mothers receiving forth visit care. checklist. and patients’ satisfaction (χ2 = 4.026.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 3 September 2009 . p = 0. Djaswadi Dasuki².724). p = 0. serta seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan K4. Jumlah kematian ibu tahun 2006 sebanyak 21 orang.

8 Balanced scorecard secara komprehensif dapat menelusuri kepuasan pelanggan. Variabel adalah pendidikan dan pelatihan petugas. semakin rendah angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik.9 Di samping itu.10 BAHAN DAN CARA PENELITIAN Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional.6 Puskesmas yang mencapai target cakupan K4 berdasarkan data 2006 hanya diperoleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Setu I. memuaskan. check-list. kepuasan pasien dan dana operasional. lingkungan dan alat. tetapi manfaat perawatan kehamilan terhadap hasil kehamilan tidak bermakna. No. Salah satu kebijakannya adalah pelayanan antenatal harus diberikan sesuai standar pada semua fasilitas kesehatan.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi baik-buruknya kinerja adalah harapan dalam pekerjaan. sesuai standar dan etika profesi.5 Ibu hamil sebagai pelanggan atau klien yang memanfaatkan Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan yang diharapkan.1 Upaya yang dilakukan pemerintah dengan menempatkan program KIA sebagai program prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS). Selain itu. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian dibagi dalam tiga kelompok yaitu Kepala Puskesmas. maka efektivitas dan efesiensi pelayanan rendah. Bidan Penanggung Jawab KIA. 3 September 2009  121 . pengetahuan dan keterampilan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. 12.67%) dan komunikasi interpersonal konseling (53. 1. Kepuasan pelanggan atau pasien sangat ditentukan oleh ketanggapan (responsiveness) petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kinerja Pelayanan Antenatal Care (ANC) Penilaian kinerja pelayanan antenatal care (ANC) menggunakan empat perspektif balanced scorecard yaitu perspektif finansial. Puskesmas Cibarusah dan Puskesmas Mekarmukti adalah dua dari 34 Puskesmas yang memiliki tipe yang sama dari segi sarana prasarana yang dimiliki. K4. sehingga terjadi peningkatan kecepatan respons petugas terhadap perubahan lingkungan pelayanan. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. Bila kinerja rendah. a. dilengkapi data kualitatif dari wawancara terhadap sumber. dan Ibu Hamil.2 Ibu hamil yang mendapatkan perawatan antenatal yang baik dengan menggunakan model baru atau model standar. Sebagai unit analisis adalah Petugas KIA (bidan).33%). balanced scorecard juga menjadikan seluruh komponen pelayanan kesehatan yang diberikan lebih koheren. Vol. Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan baru terealisasi sebesar (75%). sedangkan pelatihan terdapat dua pelatihan yang masih kurang yaitu standar pelayanan kebidanan (66. kondisi wilayah dan status Puskesmas. Menarik untuk dilakukan penelitian adalah apakah terdapat perbedaan kinerja antara petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah dari segi keterampilan. dan keuangan. meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan dalam implementasi rencana pelayanan dan menghasilkan kinerja keuangan Puskesmas dalam jangka panjang. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dengan variabel terikat cakupan antenatal.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan PENGANTAR Angka kematian ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan. serta kemampuan untuk melakukan pekerjaan.3%). Kinerja pelayanan KIA dinilai dari cakupan K1. standar pelayanan. memotivasi pegawai. sedangkan Puskesmas yang tidak mencapai target salah satunya adalah Puskesmas Cibarusah. pelanggan. pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. kepatuhan menerapkan standar pelayanan. motivasi dan insentif. dan kepuasan pasien. Waktu penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2007. dan daftar pertanyaan untuk melakukan indepth interview. sedangkan jumlah tenaga dan dana yang digunakan besar. umpanbalik segera. mengukur pencapaian kinerja keuangan dan membuat tujuan strategis untuk melakukan suatu perubahan yang diukur dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. maka risiko terjadinya penyakit selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini. Kepala Puskesmas dan Ibu Hamil yang berkunjung ke Puskesmas terpilih untuk mendapatkan pelayanan antenatal pada saat penelitian berlangsung. diharapkan memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. bisnis internal. perspektif customer.4 Cakupan perawatan kehamilan di Purworejo tinggi (86.3 Puskesmas sebagai salah satu fasilitas kesehatan di tingkat dasar. perspektif bisnis internal dan perspektif pendidikan dan pelatihan. bivariat menggunakan chi square dan analisis stratifikasi.

.434 46.804 14.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . 12.88 Skor : dalam satuan Rupiah (.54 ± 2. seluruh perspektif finansial memiliki skor terealisasi di bawah 80%.00 dengan realisasi anggaran sebesar Rp49. Kepuasan Pasien Distribusi data skor penilaian terhadap kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal menurut strata Puskesmas tersaji pada Tabel 3. Pelayanan Sesuai Standar Distribusi data skor penilaian terhadap pelayanan antenatal care sesuai standar menurut Puskesmas tersaji pada Tabel 2.090 100 3.50 38 98 2.33 33. Vol.810 100 334.11 49. c.30 b.85 ± 16. Penilaian standar pelayanan antenatal lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.000. Biaya Operasional Gambar 1. Tabel 3.64 1. Tabel 2. Spiderweb Kinerja Pelayanan Antenatal Penetapan skor sebesar Rp334. berdasarkan nilai kesenjangan balanced scorecard dapat disusun perencanaan kegiatan peningkatan kinerja pelayanan antenatal berdasarkan empat perspektif (Gambar 1) yaitu : Tingkat kepuasan pasien (ibu hamil) menurut Puskesmas diketahui bahwa ibu hamil lebih puas mendapat pelayanan antenatal di Puskesmas Cibarusah dibandingkan dengan Puskesmas Mekarmukti.03 33 98 62. No.740.Ernawati. Tabel 1.95 Analisis Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Dengan demikian. Target dan Realisasi Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan (SKS) Diploma I Diploma III Diploma IV Total Pelatihan (Jam) SPK KIP-K Quality Assurance (QA) Penggunaan buku KIA Total Target Skor 40 80 40 160 36 30 24 42 132 % 25 50 25 100 100 100 100 100 100 Skor 40 80 0 120 24 16 24 42 106 Realisasi % 25 50 0 75 66.92 67 85 72. Target dan Realisasi Perspektif Finansial Berdasarkan Balanced Scorecard Perspektif Finansial Pemeriksaan ibu hamil Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet Fe Total Target Skor % 33.280 33.000) Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian pelayanan sesuai standar Mean ± SD Min Max 71.840 100 297.090 11. Distribusi Skor Penilaian Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Ibu hamil (orang) 46 46 Skor penilaian kepuasan pasien Mean ± SD Min Max 65 75 70. 3 September 2009 . (Tabel 4) 1) Jangka Pendek a) Dukungan finansial tablet Fe 122  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.67 53.33 100 100 80. d.740 100 Realisasi Skor % 15. dkk. Distribusi Skor Penilaian Pelayanan Sesuai Standar Terhadap Pelayanan Antenatal M enurut Puskesmas Tabel 4.804 (14.13 ± 1.88%).65 ± 18..

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 5. Diploma IV Total Pelatihan (Jam) 1.45) 332 (51. tekanan darah dan tinggi fundus uteri.86) 7360 (100) 241 (32.9 (85.78) 3 1.56) 3. Imunisasi TT 5.33) 2.80) 284.64) 17.4 (46.50) 2208 (100) 1603 (72. Penggunaan buku KIA Total 40 (25) 80 (50) 40 (25) 160 (100) 36 (100) 30 (100) 24 (100) 42 (100) 132 (100) 40 (25) 80 (50) 120 (75) 24 (66.28 (33.11) 264. 3.96) 36 (13.65 (53. Reliability Responsiveness Assurance Empathy Tangiables Total Perspektif Finansial 736 (100) 495 (67. Pemeriksaan ibu hamil Imunisasi TT Tablet Fe Total 33.81 (100) 33.01) 469 (29.09(11.48) 6 (6.79) 2 Perspektif Kepuasan Pasien 1.43) 92 (100) 61 (66.74) 98 (26. 4. Analisis Kinerja Pelayanan Antenatal Berdasarkan Balanced Scorecard Kinerja Pelayanan Balanced Scorecard Target Skor (%) Realisasi Skor (%) Selisih Skor (%) Prioritas Pendidikan (SKS) 1.70) 92 (100) 86 (93.37) 2576 (100) 1919 (74.14) 5389(73.60) 1472 (100) 1102 (74. Konseling Total 1564 (100) 1095 (70.26) 368 (100) 270 (73. Diploma III 3.67) 26 (19. No.33) 14 (46.67) 297.56 (66.67) 16 (53. 2. 123 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Pemb.33) 24 (100) 42 (100) 106 (80.50) 605 (27.80(14.30) 40 (25) 40 (25) 12 (33.40) 370 (25. 5.21) 1354 (36. 3 September 2009  . Pemeriksaan umum 3. Quality Assurance 4. 3. Diploma I 2.09 (100) 15. Vol.63) 657 (25.12) 1 b) 2) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pemeriksaan kebidanan luar c) Pelatihan KIP-K d) Peningkatan kepuasan: reliability Jangka Menengah a) Dukungan finansial: imunisasi b) Peningkatan pelayanan sesuai standar: pelaksanaan imunisasi TT c) 3) Pelatihan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) d) Peningkatan kepuasan: empathy dan reponsiveness Jangka Panjang a) Dukungan finansial: pemeriksaan ibu hamil: pengukuran tinggi badan dan berat badan. KIP-K 3.74 (100) 49.22) 1971 (26. Anamnesa 2. 2.55) 3680 (100) 2326(63. Fe 6.04) 1012 (100) 532 (52.84 (100) 1.30) 31 (33.72 (88. 12. Pemb. Pemeriksaan kebidanan luar 4.70) 4 Perspektif Pelayanan Sesuai Standar 1. SPK 2.99) 276 (100) 240 (86.52) 644 (100) 312 (48.57) 480 (47.89) 334.

000..657 dengan kegiatan kunjungan rumah dan merujuk pasien ke rumah sakit.. Analisis Hubungan Kinerja Pelayanan Terhadap Cakupan Antenatal Khusus biaya operasional..” “. Soalnya kami petugas apalagi hanya sebesar ± Rp5. Anggaran Pembiayaan Kegiatan Antenatal berdasarkan Indikator 5T [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Mekarmukti Cibarusah Biaya program antenatal per tahun Rp.65 Besaran pembiayaan operasional pada masingmasing Puskesmas hampir mendekati sama karena alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi berdasarkan pada jumlah sasaran dikalikan dengan @Rp4. pemeriksaan umum dan pemberian Fe.30 95.00 sedangkan sisany a diupay akan pada pertemuan Posy andu dalam rangka pemberdayaan kader Posyandu dalam rangka deteksi dini ibu hamil dengan risiko. 7. dkk. dana untuk kegiatan khusus seperti pengukuran tinggi badan dan berat badan.” “. saya rasa sangat kecil sekali.. cakupan antenatal khusus K4 Puskesmas kami masih di bawah rerata yaitu 54.” (Kepala Puskesmas Cibarusah) “.1%. kegiatan antenatal yang ada sumber biayanya kami rasakan tidak cukup. alokasi biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kecil sekali untuk sasaran sebanyak 1. dana untuk kegiatan antenatal yang saya ketahui adalah kunjungan ibu hamil risti dan kunjungan Posyandu. tersaji pada Tabel 6.” “.640.26 82. apalagi berkaitan dengan kegiatan antenatal yang harus turun ke lapangan. .. sehingga kadang-kadang kami mengalami kendala untuk mengaktifkan kegiatan mengingat lokasi antar kelurahan sangat jauh. itupun sebagian besar untuk transport saja.. 7.000.. hanya rutin kami ketahui y aitu uang transport dan kunjungan Posyandu. baik ibu hamil ke Puskesmas atau kunjungan rumah ibu hamil oleh Petugas Puskesmas.. tinggi fundus uteri. kalaupun bisa kami gabungkan dengan kegiatan lain y ang kebetulan lokasinya berdekatan dengan sasaran (Ibu hamil). faktor-faktor penghambat yang kami rasakan adalah kesulitan penjangkauan sasaran. distribusi data operasional dan cakupan antenatal: indikator 5 T.13 78.. 3 September 2009 .......00 per ibu hamil/tahun padahal kunjungan untuk ibu hamil sampai K4.35 Tablet Fe 91. jadi kami memprioritaskan pada ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebanyak 48 ibu hamil untuk tahun 2006 sehingga dana yang didapatkan per ibu hamil/tahun sebesar Rp162.536.” (Kepala Puskesmas Mekarmukti) “.000..... namun kami berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan KIA dengan baik meskipun hanya mendapat lelah karena sudah risiko kami selaku Bidan Puskesmas . pada Puskesmas kami biaya y ang dianggarkan Dinas kami upayakan pada pemanfaatan pada kunjungan ibu hamil yang risti (risiko tinggi) sebesar Rp7.. sehingga kami banyak menyatukan kegiatan programprogram lain seperti imunisasi dan gizi baik di Posyandu atau Puskesmas... sehingga keterlambatan kunjungan yang seharusnya terjadwalkan..” “.674 ibu hamil. Peningkatan kepuasan: assurance dan tangibles KIA tidak mengetahui persis uang tersebut. Permasalahan yang ditemui di lapangan dapat dikemukakan seperti hasil wawancara peneliti terhadap dua Kepala Puskesmas.. Tabel 6.807. satuan biaya untuk kegiatan antenatal Puskesmas kami sangat kurang memadai 3.. Ketersediaan dana adalah tidak sampai ke dana transportasi. karena semuanya diserahkan ke bendahara Puskesmas. No. hasil wawancara terangkum sebagai berikut: “. Kalau memang ada dana tersebut kami dikasih tahu saja ya bu !” (Koordinator KIA Puskesmas Mekarmukti) “Anggaran pembiayaan yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi tahun 2006 sebenarnya dirasakan sangat kurang. 12. sedangkan untuk yang lain seperti makan kadang-kadang terpakai 124  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. tekanan darah. Pelatihan penggunaan Buku KIA (kohort ibu dan bayi) dan tugas belajar jenjang Diploma IV pada petugas KIA (bidan) Puskesmas. biar sekali jalan danany a cukup memadai daripada kegiatan berjalan sendiri-sendiri.625.61 54.664 per ibu hamil.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . Vol.Ernawati.Rp.” “. analisis dilakukan berdasarkan atas persentase cakupan antenatal.- TB/BB 100 100 TD 100 100 Indikator 5 T TFU Imunisasi TT 89.. imunisasi TT dan tablet Fe di sini ‘Puskesmas’ tidak begitu nampak nyata uangnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut direncanakan kunjungan pada hari tertentu. b) c) d) Peningkatan pelayanan sesuai standar: anamnesa. kalau di dibagi per sasaran ibu hamil di Puskesmas kami.

407.114. 95%CI = 1. kalau dana pelaksanaan imunisasi TT dan Fe merupakan kerja sama lintas program yaitu P2M dan Gizi. (Tabel 8). Vol. No..032.015. 95%CI = 0.624) dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. 95%CI = 1. Kalau memang ada dana lain kami tidak tahu detailnya. Adapun pelayanan sesuai standar tidak berhubungan terhadap cakupan antenatal pada kategori cukup (p = 0.dalam arti dengan adanya tingkat pendidikan dan pelatihan pada petugas KIA di Puskesmas Mekarmukti akan mengakibatkan peningkatan cakupan antenatal yang sesuai standar sebesar 4. PR = 4..775. baik (p = 0. Hubungan Variabel-Variabel Penelitian dengan Cakupan Antenatal [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] * Signifikansi p < 0..724) dan kepuasan pasien (  ² = 4.008.. 95%CI = 1.. sebab semuanya diketahui oleh Kepala Puskesmas dan Bendahara Puskesmas .662.256-84.002.08218.. p = 0. Hubungan antara Pendidikan/Pelatihan dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Berdasarkan stratifikasi diketahui bahwa ada perbedaan pendidikan dan pelatihan terhadap cakupan antenatal di Puskesmas Mekarmukti (² = 5. soalnya biaya diketahui oleh 2 pemegang program tersebut . 4..789) lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. PR = 1.. oleh karena kami menyerahkan sepenuhnya pemanfaatannya oleh Puskesmas.516. adapun kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “.. perencanaan kami lakukan berdasarkan atas penetapan sasaran oleh Puskesmas.451-2.935. PR = 1. PR = 8. p = 0..903).777. PR = 2..386-3. !” (Koordinator KIA Puskesmas Cibarusah) Hasil wawancara alokasi anggaran biaya operasional dilakukan juga pada pemegang Program KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi..0806.589). 3 September 2009  125 . Sedangkan kegiatan KIA lain sebagian besar dimasukkan ke dalam pembiay aan transportasi dan pemeliharaan . Tabel 7. yang direncanakan sesuai dengan RASK dan DASK dari usulan Puskesmas. anggaran biaya operasional untuk kegiatan antenatal dimasukkan dalam mata anggaran Pelayanan Kesehatan Maternal bersumber dari APBD II.” (Kasi KIA Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi) Cakupan antenatal dipengaruhi oleh pendidikan/ pelatihan petugas KIA (  ² = 10. PR = 4.” “.026. p = 0.“ “.348).Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan uang sendiri.667-9. 95%CI = 0. p = 0. sehingga saya hanya selaku pemantau kegiatan dan laporan hasil cakupan.. 12.05 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.607. dalam arti kepuasan pasien yang datang Analisis dilakukan pada variabel-variabel penelitian terhadap cakupan antenatal menurut tingkat pendidikan dan pelatihan. hanya saja pertanggungjawabannya harus mengikuti ketentuan pelaporan keuangan daerah Kabupaten Bekasi .017. hasil analisis dapat disampaikan pada Tabel 7. Analisis Stratifikasi Analisis variabel pendidikan/pelatihan dan kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal dapat disampaikan sebagai berikut : a. 95%CI = 1. Hubungan antara Kepuasan Pasien dan Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas Ada perbedaan kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti (² = 6.118. pelayanan sesuai standar dan kepuasan pasien. b.407 kali..

hal ini menggambarkan bahwa rata-rata ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Mekarmukti adalah kriteria ekonomi menengah.13 Tabel 8.Rp2 juta per bulan yaitu 50%.312 1.87) 6 (26. PEMBAHASAN 1. 3 September 2009 .Ernawati.0) 92 (100.0) ² p PR (95%CI) 5.256-84.91) 10 (43. Vol.913-15. dkk.036 3. No..462-8.61) Standar (%) 6 (26. Karakteristik Responden dan Petugas Ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas pada umumnya berusia rata-rata 20-35 tahun.017 4.67) 53 39 (57. 12.925 (0. Kepuasan pasien terhadap cakupan antenatal yang sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti akan memberikan perbedaan risiko sebesar 8 kali dibandingkan dengan kepuasan pasien di Puskesmas Cibarusah. sedangkan di Puskesmas Cibarusah 50% lama tugasnya lebih dari 20 tahun.0) 23 (100.00) (80. Analisis Stratifikasi Hubungan Pendidikan/Pelatihan Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Pendidikan dan pelatihan DI Mekarmukti D III DI Cibarusah D III Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar(%) 17 (73.0) 23 (100.00) 11 5 (68. Tingginya tingkat pendidikan maka makin tinggi tuntutan akan mutu pelayanan. Analisis Stratifikasi Hubungan Kepuasan Pasien Terhadap Cakupan Antenatal Berdasarkan Strata Puskesmas [ (n) Tidak Standar = 53 Ibu Hamil I (n) Standar = 39 Ibu Hamil ] Puskesmas Kepuasan pasien Kurang puas Mekarmukti Puas Kurang puas Cibarusah Puas Total (%) Cakupan Antenatal Tidak standar (%) Standar (%) 24 12 (66. (Tabel 9).33) 2 8 (20.407 (1. Perspektif Pendidikan dan Pelatihan Hasil penelitian ditemukan bahwa pendidikan/ pelatihan petugas (bidan) yang memberikan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik daripada Puskesmas Cibarusah. sedangkan di Puskesmas Cibarusah rata-rata berumur lebih dari 40 tahun.48) 53 (57.0) ² p PR (95%CI) 8 (1.75) (31.13) 17 (73.0) 30 (100.935 0.09) 14 (60.789 4.781 126  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.39) Total (%) 23 (100.52) 39 (42. Kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan ditentukan dengan efektivitas pendidikan yang diterimanya.0) 16 (100..082-18. Puskesmas Mekarmukti rata-rata bertugas 0-20 tahun.91) 9 (39.39) Total (%) 36 (100.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal .61) (42.683 (0. ke pelayanan KIA di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.394 0.0) 23 (100.662 0.589 Tabel 9.624 6.33) (46. hal ini menunjukkan pada umumnya yang berkunjung ke Puskesmas adalah ibu hamil dengan taraf pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).0) 92 (100. karena pada kelompok ini adalah usia masa subur sehingga aman untuk hamil. Petugas di Puskesmas Mekarmukti rata-rata berumur 31-40 tahun.67) (33.008 1.10 Balanced scorecard tidak hanya menekankan pada output organisasi saja tetapi juga infrastruktur organisasi itu sendiri yang terdiri dari orang.12 Tingginya pengetahuan yang dimiliki petugas ditentukan oleh efektivitas pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi.25) 16 14 (53. Pendidikan formal bagi petugas di kedua Puskesmas hampir sama yaitu rata-rata berpendidikan D1. 2.023 0.09) 13 (56. sistem dan prosedur. Lama tugas untuk kedua Puskesmas berbeda. Tingkat pendapatan bagi ibu hamil di kedua Puskesmas terdapat perbedaan yaitu Puskesmas Mekarmukti ibu hamil yang berkunjung rata-rata memiliki pendapatan Rp1 juta.0) 10 (100. Pendidikan ibu hamil di kedua Puskesmas rata-rata SLTA.

dan berkualitas pelayanan. Pelatihan akan meningkatkan kepuasan customer dan meningkatkan pelatihan petugas. merujuk secara medik. Kepuasan pasien tidak hanya berdasarkan pada penilaian terhadap keterampilan petugas. Hal ini didukung oleh penelitian Ghufron dkk. hal ini didukung dengan hasil penelitian 17 .24 Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti terhadap pasien ditemukan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan di Ruang KIA berkisar antara 2 . 12. kendati mengandung untung-rugi pelatihan lebih banyak memberikan keuntungan.14 Untuk menutupi kesenjangan ini harus dilakukan pelatihan petugas. Perspektif Finansial Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa faktor finansial atau keuangan tidak berpengaruh terhadap cakupan antenatal dan ditemukan tidak ada perbedaan besar dana yang digunakan dalam pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dan Puskesmas Cibarusah. kemampuan dan kompetensi teknis dan efektivitas pelayanan dan keamanan tindakan. serta prosedur pelaksanaan pelayanan. Hal ini mempengaruhi ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan. sistem dan prosedur untuk menghasilkan kinerja yang baik. serta jasa yang konstan.20 5. sehingga risiko atau komplikasi secara dini akan dapat diketahui.14 Ibu hamil umumnya menghargai tenggang waktu yang singkat dan tepat waktu.15 3.17 4. namun dalam hal Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Sikap petugas di Ruang KIA lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pelayanan antenatal standar 5T lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. kenyamanan pelayanan dan kebebasan melakukan pilihan. Perspektif Bisnis Intern Yaitu Pelayanan Sesuai Standar Hasil penilaian kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal di Ruang KIA pada umumnya lebih baik di Puskesmas Mekarmukti daripada di Puskesmas Cibarusah16 mengungkapkan bahwa kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan petugas dalam melakukan kinerja didukung oleh fasilitas dan peralatan. Kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa pada pelayanan antenatal secara statistik lebih baik di Puskesmas Mekarmukti dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. Perbandingan kepuasan pasien terhadap pelayanan antenatal sesuai standar di Puskesmas Mekarmukti 8 kali lebih puas dibandingkan dengan kepuasan pelayanan antenatal di Ruang KIA Puskesmas Cibarusah. Vol. Salah satu aspek untuk mengukur proses pelayanan adalah responsiveness yaitu kesediaaan untuk membantu ibu hamil dalam memberikan pelayanan yang cepat terhadap setiap pasien yang dilayani.15 menit.7 ibu hamil tidak mau memeriksakan kehamilannya pada bidan yang terdekat karena alasan bidan kurang memiliki kemampuan dalam adaptasi dengan budaya setempat dan kurang mampu dalam memberikan pelayanan dan mendeteksi. peningkatan teknologi dan informasi. Pelatihan merupakan suatu keharusan bila organisasi menghendaki kinerja yang baik dari para pegawainya. kepatuhan petugas dalam melakukan anamnesa akan dapat mengetahui atau tergali permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu hamil. Standar pelayanan 5T merupakan indikator kualitas pelayanan antenatal. namun juga konseling dan pemeriksaan dengan cara pendekatan risiko adalah penting untuk masyarakat.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tujuan finansial. berdasarkan asumsi tersebut maka apakah Puskesmas yang memiliki cakupan tinggi disebabkan oleh kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan.18 bahwa sebanyak 1. No. Dari hasil analisis terdapat perbedaan kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan di Ruang KIA Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah. kualitas perawatan kehamilan tidak saja mencakup banyaknya pemeriksaan kehamilan. khususnya pada kehamilan risiko tinggi. sehingga hal ini menimbulkan ketidakpuasan ibu untuk memanfaatkan bidan dalam perawatan kehamilan. bahwa wanita hamil yang tidak melakukan perawatan kehamilan mempunyai risiko terjadinya abnormal 1. tetapi harus mencakup hubungan petugas dengan pasien. Pelanggan akan merasa puas jika mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan sesuai dengan ketepatan waktu. 3 September 2009  127 . Perspektif Customer (Kepuasan Pasien) Peningkatan kepuasan pasien dipengaruhi oleh adanya salah satu mutu pelayanan antenatal yang sesuai standar. biaya. pelanggan dan proses internal di balanced scorecard biasanya memperlihatkan adanya kesenjangan antara kapabilitas sumber daya manusia. sikap yang baik dalam memberikan pelayanan kepada customer tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan pasien. serta peningkatan prosedur kegiatan rutin.6 kali jauh lebih tinggi dibanding wanita yang melakukan pemeriksaan kehamilan.

22 Pada penelitian ini kedua Puskesmas memperoleh dana operasional yang sama akan tetapi terdapat perbedaan kinerja. Lumbiganon. FoxRushby J. Geneva. 11. Airlangga University Press..id/. Vol. penyebaran dana sesuai kebutuhan dan pemanfaatan tepat pada sasaran. UGM. Departemen Kesehatan R.who. sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun organisasi kearah yang lebih baik.int 2. Berita Kedokteran Masyarakat. 7. Mulyadi. Journal of Bio Med Central. pencapaian cakupan pelayanan antenatal terdapat kesenjangan antara kedua Puskesmas tersebut. Donner A. Hutton G. Fort AL. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Lou. Carroli G. sehingga disarankan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dapat melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja Puskesmas menggunakan balanced scorecard dan menyusun standar pedoman penilaian kinerja. Almazrou. Anggaran atau dana operasional yang digunakan untuk pelayanan KIA tidak terdapat perbedaan di kedua Puskesmas.I. ia harus didukung dengan faktor non-financial. yaitu pendidikan dan pelatihan lebih baik pada Puskesmas Mekarmukti dari pada Puskesmas Cibarusah. Universitas Gadjah Mada. The Lancet. Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. Departemen Kesehatan R. No. C. Farnot U. Departemen Kesehatan R. 12. Mugford M. Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar. Berendes H. 6. Hakimi M. terdapat perbedaan kepuasan pasien antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah) yaitu tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Mekarmukti lebih baik dibandingkan dengan Puskesmas Cibarusah.I. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu pendekatan finansial bersifat historis. diketahui bahwa faktor financial tidak dapat berdiri sendiri. Balanced Scorecard: Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan. 2003: 58-62.. Ba’aqeel H. Diakses pada 15 Maret 2006. 4. 1998.Ernawati. Jakarta. Dalam menilai kinerja organisasi. Avalaible on: http/ www. 8. Modul Ajar Safe Motherhood. 1999. 2000. Puskesmas dapat melakukan evaluasi kinerjanya secara berkala menggunakan standar pedoman penilaian kinerja dan balanced scorecard. 1996. Belizan MJ. memperbaharui. Bakketeig L. pendidikan dan pelatihan petugas dan anggaran/dana operasional yang digunakan untuk pelayanan antenatal. 128  Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. serta meningkatkan pelayanan. Yogyakarta.: Evaluasi Kinerja Pelayanan Antenatal . sehingga dapat meningkatkan cakupan pelayanan khususnya antenatal yang berkualitas sesuai standar. Langer A. 2002. P.go. Jakarta. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. 3. Modul Ajar Safe Motherhood.I. Evaluasi Efektivitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. NHA Producers Guide. Jakarta. Cakupan antenatal secara umum dipengaruhi oleh tingkat kepuasan pasien. Jakarta. Suatu tempat pelayanan kesehatan yang ingin menghasilkan tingkat kepuasan tinggi perlu memiliki kekuatan financial dalam mengembangkan. Hal ini disebabkan karena jumlah realisasi dana tidak sesuai dengan usulan. 10. Kurniawati L. http:// depkes. 1997. Dasuki D.2(8)June:1-11 9. Piaggio G. 1997.I. 12. Salemba Empat.XIII:16-20. Wijono Djoko. Abdurrauf. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. 2001:1551-64. Wilopo SA. Pinol A. World Health Organization. Evaluasi Kinerja Instalasi Gawat Darurat RSU Banjar berdasarkan Balanced Scorecard. Villar J. KEPUSTAKAAN 1. M21 yang menggunakan balanced scorecard untuk menilai kepuasan kerja. serta tidak ada perbedaan kepatuhan petugas terhadap standar pelayanan antenatal antara Puskesmas Mekarmukti dengan Puskesmas Cibarusah. Mulyadi. 5. WHO. 3 September 2009 . Yogyakarta. Factors Affecting the Performance Health Care Provider in Armenia.12 KESIMPULAN DAN SARAN Terdapat perbedaan pendidikan dan pelatihan antara Puskesmas cakupan tinggi (Mekarmukti) dengan Puskesmas cakupan rendah (Cibarusah). “WHO Antenatal Care Randomised Trial for the Evaluation of A New Model of Routine Antenatal Care”. Hal ini didukung oleh pendapat Azwar23 yang menyatakan bahwa pembiayaan kesehatan harus memenuhi persyaratan antara lain tersedia dalam jumlah yang cukup.2001. Tesis. Departemen Kesehatan R. dan Solichin. 2004. ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. dkk. Nigenda G. Bergsjo P. Surabaya.Sistem Terpadu Pengelolaan Kinerja Personel Berbasis Balanced Scorecard. & Voltero L.2000.

13 (4/5): 309-21. Bina Putra. Mastorovich. 16. Sasongko N. Jakarta. No.1996b. Wahab A. Journal of Busness dan Industrial Marketing. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jakarta. 12. Non Finansial Perspektif. Hakimi M. Solichin M. A. Cates RJ. 23. 17. Berita Kedokteran Masyarakat. Bina Putra.1996. University of Miami. Pengantar Administrasi Kesehatan. 12 (4): 6-13.2005.2000. M.1997. Customer Service In Business to Business Market. Boston. Managing Quality a Quality a to System WIDE Performance Management in Health Care.XIII:16-20. Kurniawati L. J. Rust Roland T.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 13. Second Edition. 14. Pengantar Administrasi Kesehatan.1998. 15. Ghufron A. 1997.L. and Siemanski Beth Ann. Lau C. Journal of Health Care Marketing. Azwar A. Vol. Edisi Ketiga. Mosby Year Book. Translating Strategy Into Action The Balanced Scorecard. Azwar A. Gadjah Mada University. D.1998.1992. Measurement Financial. Emergency Departement Pasient Satisfaction Cutomer Service Training Improves Patient Statisfaction and Ratings of Physician and Nurce Skill. 22. Mayer T. Evaluasi Efektifitas Perawatan Kehamilan Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. dan Norton David P. Dasuki D. 1997. Do Patient Perceptions Of Quality Relate to Hospitel Financial Performance. Rosi Robin L. An Agenda For Research.. St Louis Missouri. 20. Nelson EC. Batalden Paul. Kaplan RS. 19. Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani. 3 September 2009  129 . Green E. Harvard Business School Press. Florida USA. Pemanfaatan Pelayanan Bidan Desa Dalam Pemeriksaan Kehamilan di Kabupaten Purworejo. Yogyakarta. Katz JM. Zahorik Antoni. Parasuraman A . and Royalty. Workshop Akuntansi Manajemen.43(5): 427 – 40.1996. Balanced Scorecard Perspektif pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth Perspective). 18. Journal of Health Care Management. Edisi Ketiga. 21. Wilopo SA. Hakimi M. CHNRL Faculty of Medicine.

40% from 3rd principle maximum score). The performance of OHSMS implementation is assessed by OHSMS audit to gather objective evidence from strength and weakness in the implementation of occupational health and safety in work places. 05/1996 merupakan kebijakan pemerintah wajib dilaksanakan oleh perusahaan dalam upaya menurunkan angka kecelakaan kerja. 12. 130 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. Jamsostek yang kepesertaannya terbagi atas kelompok jenis usaha I. Soebijanto2.60% dan 2 (3. Yogyakarta 3 Masyarakat Peduli Keselamatan.01) in 5 principles of OHSMS implementation performance and t-test resulted in variety between each principle performance in 5 principles of OHSMS implementation.84% dari 166 kriteria audit SMK3. Kata kunci: kecelakaan kerja. No..14%) in 5th element. Suma’mur. II. Ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. dkk. III. F-test result showed a significant difference (p < 0. Analisis variansi amatan ulangan 1-faktor digunakan untuk menguji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan lima prinsip penerapan SMK3. Principle 3 means score was reached with the highest percentage (55. kinerja prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) dicapai dengan persentase tertinggi. dan V sesuai dengan tingkat risiko pekerjaan.36%) enterprises fulfilled 0-60% criteria and 2 enterprises (3. Conclusion: Management should have a commitment and involve all workers in enhancing OHSMS implementation performance to reduce industrial accident rate which lead to productivity and work quality improvement. is a government policy that has to be implemented by the enterprises in the attempt to decrease industrial accident rate.87% from 5th element maximum score). Kesehatan dan Lingkungan Kerja Indonesia ABSTRACT Background: The high number of industrial accident is caused by management dysfunction in term of occupational health and safety. Research sample was established based on the manpower number criteria of at least 100 people in each enterprise. Sampel penelitian ditetapkan berdasarkan kriteria jumlah tenaga kerja = 100 orang tiap perusahaan. FKM Universitas Sumatera Utara. Kesimpulan: Manajemen harus mempunyai komitmen dan melibatkan seluruh tenaga kerja dalam memperbaiki kinerja penerapan SMK3 untuk menurunkan angka kecelakaan kerja yang bermuara pada peningkatan produktivitas kerja.85%) of 3rd principle. UGM.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Adi Heru Soetomo2. The implementation of occupational health and management system (OHSMS) established by the Regulation of The Minister of Manpower No. The performance of OHSMS implementation based on 12 OHSMS audit elements was known to be correlated with 5 OHSMS implementation principles. 3 September 2009 . registered enterprises in the employment accident benefit program. Method: The type of this research is survey research. Vol. perusahaan peserta program jaminan kecelakaan kerja. Lientje Setyawati Maurits2. Halaman 130 . Mean score of 5 th element was reached with the highest percentage (74.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan .139 Artikel Penelitian KINERJA PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERUSAHAAN PESERTA PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA PADA PT JAMSOSTEK CABANG MEDAN THE IMPLEMENTATION PERFORMANCE OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY MANAGEMENT SYSTEM IN REGISTERED ENTERPRISES ON THE EMPLOYMENT ACCIDENT BENEFIT PROGRAMIN PT JAMSOSTEK BRANCH MEDAN Gerry Silaban1. Result: A number of 53 (96.01) in 12 OHSMS audit elements performance and t-test showed variety between each performance in 12 OHSMS audit elements. Kinerja penerapan SMK3 diketahui berdasarkan 12 unsur audit SMK3 yang berhubungan dengan lima prinsip penerapan SMK3. Kinerja penerapan SMK3 dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh bukti objektif dari kekuatan atau kelemahan dalam pelaksanaan K3 di tempat kerja. 05/1996.36%) perusahaan yang memenuhi kriteria 0% .K. Kepesertaan perusahaan dalam Program JKK hanya sebatas pengalihan risiko (risk transfer). kinerja unsur 5 (pembelian) dicapai dengan persentase tertinggi. One factor repeated observation variance analysis was used to test the performance difference of 12 OHSMS audit items and 5 OHSMS implementation principles. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditetapkan melalui Permenaker (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) No. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Hasil: Sebanyak 53 (96.64%) perusahaan yang memenuhi kriteria 60% . F-test result showed a significant difference (p < 0. P.64%) fulfilled 60-84% criteria from 166 OHSMS audit criteria.3 1 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. The mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 5th element (purchasing) that is 4 out from 7 criteria (57. the implementation performance of occupational health and management system ABSTRAK Latar belakang: Tingginya angka kecelakaan kerja disebabkan disfungsi manajemen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.kinerja penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja PENGANTAR Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebagai satu dari empat Program dari PT. Keywords: industrial accident. Ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3. IV. 03 September 2009 Gerry Silaban. Mean criteria fulfillment number (percentage) was highest achieved (scored 4) in 3rd principle that is 20 out of 67 criteria (29. Sumatera 2 Fakultas Kedokteran.

10 Dilaksanakan tidaknya penerapan SMK3 diindikasikan dari kinerja penerapan SMK3 berdasarkan hasil audit terhadap 12 unsur audit SMK3 yang terkait dengan pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. 5. audit SMK3 menilai efektivitas penerapan SMK3. 118 kasus. masalah kecelakaan kerja masih dilihat dari aspek ekonomi dan belum dilihat dari aspek moral dan hak azasi manusia. tahun 2004 sebanyak 2. membuktikan kekuatan dan memperbaiki kelemahan sistem yang berjalan.1 Angka kecelakaan kerja perusahaan peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan masih tinggi walaupun terlihat cenderung menurun selama kurun waktu 3 tahun. jenis standar K3 berbeda. IV. Kemudian dari seluruh perusahaan tersebut ditetapkan sampel penelitian berdasarkan kriteria jumlah tenaga tenaga kerja = 100 orang (purposive sample) ada sebanyak 55 perusahaan. penerapan SMK3 membantu pimpinan perusahaan agar mampu melaksanakan standar K3 yang merupakan tuntutan masyarakat nasional dan internasional. dan V pada tahun 2005 masing masing sebanyak 536 kasus. 564 kasus. Pada Pasal 3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No.759 kasus.8 Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan kegagalan dalam penerapan SMK3. tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 dan perbedaan kinerja lima prinsip penerapan SMK3. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3”.4 Ruang lingkup penelitian difokuskan pada perusahaan kelompok jenis usaha III dengan jumlah kecelakaan kerja terbanyak yaitu 564 kasus (32. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) akan berfungsi lebih baik apabila perusahaan telah mengembangkan budaya K3 yang disertai dengan perilaku yang aman dari tenaga kerja agar tercapai pemenuhan terhadap peraturan dan prosedur K3.K. Angka kecelakaan kerja yang masih tinggi tidak terlepas dari masalah pengelolaan K3 melalui penerapan SMK3 antara lain tidak ada atau rendahnya komitmen manajemen dan tenaga kerja terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Vol. No. penyakit akibat kerja.958 kasus. serta berperan dalam upaya perlindungan investasi.759 kasus. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Data kecelakaan kerja dikumpulkan melalui Formulir Jamsostek 3 Bentuk K.9 Apabila pengusaha dan pekerja terus membudayakan K3 melalui penerapan SMK3 akan memberi pengaruh besar terhadap stabilitas usaha. Quinn2 salah seorang pakar dari ILO menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan fasilitas kerja dan angka kecelakaan kerja merupakan salah satu alasan pentingnya penerapan SMK3. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 331 kasus. tenaga kerja belum ditempatkan sebagai mitra usaha. kebakaran. sehingga tercapai tujuan. alokasi anggaran K3 perusahaan relatif kecil. dan 207 kasus.06%) dari 1.7 Pencegahan kecelakaan kerja merupakan tanggung jawab utama manajemen. 3 (Laporan Kecelakaan Tahap I) dari seluruh perusahaan kelompok jenis usaha III peserta Program JKK pada PT Jamsostek Cabang Medan yang tenaga kerjanya mengalami kecelakaan kerja selama kurun waktu 1 tahun (1 Januari .6 Angka kecelakaan kerja akan terus meningkat bila program K3 dalam SMK3 tidak berjalan sesuai dengan rencana. kemampuan pemerintah dalam pembinaan dan penegakan hukum yang lemah. 05/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dinyatakan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. peledakan. dan tahun 2005 sebanyak 1.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan bukan pengurangan risiko (risk reduction) kecelakaan kerja.3 Selain itu. 12. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa “Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. II. Selain itu. Penerapan SMK3 bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan potensi kecelakaan kerja sebagai acuan dalam melakukan tindakan mengurangi risiko. Kebijakan ini dipertegas kembali pada Pasal 87 Ayat 1 Undang-Undang (UU) No. latar belakang pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah yang berkorelasi dengan kesadaran dan pemahaman terhadap K3. 3 September 2009 131 .31 Desember 2005). III. Perlindungan tenaga kerja harus dibarengi dengan pengurangan risiko kecelakaan kerja di tempat kerja melalui penerapan SMK3.250 kasus.10 Berdasarkan masalah tersebut di atas. Angka kecelakaan kerja pada kelompok jenis usaha I. yaitu tahun 2003 sebanyak 3. supervisi K3 dan pelaksanaan K3 masih parsial (tidak komprehensif).1 Penerapan SMK3 pada tingkat perusahaan berdampak positif yaitu mengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan meningkatkan produktivitas kerja.

Gerry Silaban. Unsur 1 (28 kriteria) berhubungan dengan prinsip 1. rekrutmen. perawatan. ruang lingkup. Pelaksanaan audit SMK3 dilakukan di tiap perusahaan sampel penelitian yang diawali mengadakan pertemuan dengan manajemen untuk memberikan penjelasan tentang tujuan. prosedur identifikasi bahaya.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Dalam penerapan SMK3. pemantauan kesehatan. prosedur audit internal. obat nyamuk bakar dan cair). kecelakaan kerja. prosedur insiden. Unsur 7 (15 kriteria). Agar kewajiban penerapan SMK3 minimal dapat dipenuhi. produk setengah jadi. dan 1. dan unsur 9 (13 kriteria) berhubungan dengan prinsip 3. tiap kriteria audit SMK3 dinilai dengan membuat tanda “√” pada kolom pilihan tiap kriteria dalam daftar periksa audit SMK3. penilaian dan pengendalian risiko yang telah dilakukan). pembelian. dengan rerata sebesar 304 atau 45. perusahaan wajib melaksanakan 5 prinsip penerapan SMK3 yang berlandaskan pada prinsip manajemen yaitu Plan. penilaian dan pengendalian risiko (mencakup catatan hasil identifikasi bahaya.78% dari 664 (jumlah skor audit SMK3). Daftar periksa audit SMK3 terdiri dari 166 kriteria. industri-industri lain. prosedur rapat tinjauan manajemen. observasi. unsur 6(40 kriteria). Alat ukur kinerja penerapan SMK3 digunakan daftar periksa (check list) audit SMK3 yang ditetapkan pada Lampiran II Permenaker RI No. inspeksi. prosedur identifikasi dan pemenuhan peraturan perundangan (termasuk daftar pemenuhan peraturan perundangan bidang K3). 12. 3 September 2009 . prosedur operasional (mencakup izin kerja. Audit SMK3 meliputi 12 unsur yang ditujukan untuk menemukan fakta (fact finding) daripada pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. pabrik barang-barang dari logam. perusahaan penggergajian kayu. pabrik kimia lainnya. SE (Sesuai). penggilingan (remiling) karet. dan produk jadi dengan jenis dan sifat pekerjaan serta kondisi lingkungan kerja yang mempunyai risiko kecelakaan kerja yang tinggi seperti peleburan logam. profil perusahaan. struktur organisasi perusahaan. rumah makan dan minuman. Data dianalisis untuk membuktikan hipotesis menggunakan uji anova amatan ulangan 1-Faktor dengan bantuan Program SPS-2005. setiap perusahaan sekurang-kurangnya harus memperoleh 132 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. pabrik barangbarang dari logam. dan proses audit SMK3. pengendalian dokumen. Tiap kriteria ditetapkan empat pilihan yaitu SS (Sangat Sesuai). Improvement (PDCI). dan wawancara dengan tenaga kerja. dan ST (Sangat Tidak Sesuai) dengan skor masing-masing 4. Unsur 8 (11 kriteria) dan unsur 12 (16 kriteria) berhubungan dengan prinsip 5. pabrik minuman. unsur 10 (7 kriteria) dan unsur 11 (4 kriteria) berhubungan dengan prinsip 4. dan penyakit akibat kerja).11 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Sampel Penelitian Perusahaan Kelompok Jenis Usaha III Perusahaan kelompok jenis usaha III umumnya bergerak dalam industri pengolahan untuk bahan baku. seleksi dan evaluasi vendor. tujuan dan sasaran K3. Setelah itu. industri minyak kelapa sawit. Pencapaian rerata ini belum menunjukkan kategori jumlah skor yang memenuhi persyaratan dalam pemenuhan penerapan SMK3. melakukan verifikasi kondisi di lapangan melalui observasi dan pada saat yang bersamaan melakukan wawancara dengan tenaga kerja untuk mendapatkan masukan apakah program K3 benar-benar ada secara formal dan konsisten dilaksanakan. pabrik minuman dari alkohol. dan pabrik plastik. Jumlah kecelakaan kerja terbanyak (87 kasus) pada pabrik kimia lainnya (peleburan logam) dan tersedikit (1 kasus) pada berbagai jenis usaha seperti percetakan. pelatihan. penggilingan (remilling) karet. kecelakaan kerja. pengendalian catatan. hampir celaka. prosedur tanggap darurat. penanganan bahan berbahaya dan beracun). prosedur pemantauan dan pengukuran (mencakup inspeksi. unsur 5 (7 kriteria). Vol. penggergajian kayu.. terendah pada industri peleburan logam sebesar 193. pabrik keperluan kaki. 3. dan tindakan pencegahan (mencakup pelaporan sumber bahaya. Unsur 4 (7 kriteria). Skor kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dan skor kriteria tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dijumlahkan. TS (Tidak Sesuai). perusahaan air. No. penyakit akibat kerja. 05/1996 tentang Pedoman Teknis Audit SMK3. pabrik kimia lainnya (lilin. 2. Setelah melakukan verifikasi melalui pemeriksaan dokumen. dan hotel. Kemudian melakukan pemeriksaan dokumen yang diaudit untuk verifikasi semua informasi yang diperoleh dari manajemen dan memastikan apakah program K3 diterapkan atau tidak yang meliputi manual SMK3 (mencakup kebijakan K3 perusahaan. struktur P2K3. Do. diskripsi pekerjaan). dan pemantauan lingkungan kerja).. desain. program kerja (termasuk program kerja yang berkaitan pengendalian risiko hasil aktivitas penilaian risiko). pabrik keperluan kaki. Tingkat Pemenuhan Kriteria Audit SMK3 Berdasarkan hasil audit SMK3 diperoleh jumlah skor 12 unsur audit SMK3 tertinggi pada pabrik minuman sebesar 602. prosedur komunikasi dan konsultasi. Unsur 2 (10 kriteria) dan unsur 3 (8 kriteria) berhubungan dengan prinsip 2. dkk. investigasi. Check.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan jumlah skor sebesar 400 .74%) untuk unsur 12. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah terbukti sebagai faktor yang dapat mengurangi jumlah dan keparahan kecelakaan kerja yang pada akhirnya mengurangi jumlah jaminan kecelakaan kerja (biaya kompensasi kecelakaan kerja). Jumlah skor ini dapat ditingkatkan lagi apabila manajemen melakukan perbaikan (peningkatan) dalam penerapan SMK3 hingga mencapai jumlah skor sebesar 564 .36%) untuk unsur 4. Pemenuhan kriteria unsur 5 (pembelian) termasuk kegiatan pengendalian risiko.64%) perusahaan yang mencapai pemenuhan kriteria 60% .27%) untuk unsur 1. melakukan pemeriksaan terhadap barang atau jasa yang telah dibeli. Hasil penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama yaitu tingkat pencapaian penerapan SMK3 sebesar 70. Terlihat bahwa tidak ada satu unsur yang dipenuhi oleh seluruh perusahaan.61% dari 166 kriteria) pada pabrik peleburan logam.5 Manajemen perusahaan lebih memprioritaskan unsur 5 (pembelian) mengingat kaitannya dengan kegiatan usaha produksi yang meliputi ketelitian terhadap pembelian sarana produksi (mesin. perlengkapan.74% pada industri tekstil. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dan perilaku pekerja14. alat. 9 perusahaan (16. 11 perusahaan (20.17 Perusahaan dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 yang rendah tidak menguntungkan dalam waktu jangka panjang.18 Kualitas pelaksanaan K3 yang rendah disebabkan kurangnya pemenuhan terhadap peraturan perundangan K3 dari pimpinan perusahaan dan kurang menyebarnya personel yang berkompeten di bidang K3 untuk memberikan pengetahuan tentang peraturan perundangan K3. Kriteria unsur 5 (pembelian) terbanyak dipenuhi perusahaan. Vol.00%) untuk unsur 9. organisasi dan pelaksanaan K3 belum menyeluruh tiap unit kerja sehingga perlu penerapan SMK3 15 .04% dari 166 kriteria). No. 31 perusahaan (56.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 85% . pembelian peralatan dan rancangan teknik dari proses produksi yang tidak menimbulkan bahaya. 1 perusahaan (1.36%) perusahaan mencapai pemenuhan kriteria 0% . penerapan SMK3 pada industri garment tidak sepenuhnya berjalan dengan baik disebabkan oleh faktor ekonomi.560 atau memenuhi 100 . 11 perusahaan (20.100% dari 166 kriteria audit SMK3. 12. terendah sebanyak 6 kriteria (3. sedangkan 53 (96.664 dan pada akhirnya dapat dipertahankan serta berkelanjutan.84% dari 166 kriteria audit SMK3.2003 juga diperoleh rerata jumlah (persentase) perusahaan terbanyak memenuhi unsur 5 (pembelian) yaitu 56 (%) dari 74 perusahaan. Tingkat pencapaian tersebut di atas menunjukkan bahwa penerapan SMK3 belum menyeluruh.00%) untuk unsur 7. instalasi.140 kriteria dari 166 kriteria dengan asumsi tiap kriteria memperoleh skor 4. 1 perusahaan (1. 3 perusahaan (5.91%) untuk unsur 6. dan rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria sebanyak 32 kriteria (19.24% pada 20 perusahaan subsektor industri pengolahan13.73%) untuk unsur 3.60% dari 166 kriteria audit SMK3.12 Jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memperoleh skor 4) audit SMK3 tertinggi yaitu sebanyak 127 kriteria (76.00%) dengan tingkat pencapaian penerapan SMK3 60% .84% dari 166 kriteria audit SMK3. 17 perusahaan (30. 3 September 2009 133 .16 Tingkat pencapaian lebih tinggi pada perusahaan yang telah menerapkan SMK3 sebagaimana hasil audit SMK3 terhadap 100 perusahaan pada tahun 2004 yang dilaporkan oleh PT Sucofindo (badan audit SMK3 yang ditunjuk oleh pemerintah) menunjukkan bahwa sebanyak 92 perusahaan (92. sama halnya dengan hasil audit PT Sucofindo tahun 2001 .19 Perbedaan Kinerja 12 Unsur Audit SMK3 Rerata jumlah (persentase) perusahaan yang memenuhi kriteria (memperoleh skor 4) untuk tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yaitu sebanyak 4 perusahaan (7.36%) untuk unsur 5. Terdapat hanya 2 (3. dan bahan-bahan baku) sesuai dengan spesifikasinya. kinerja penerapan SMK3 rendah.51% dari 166 kriteria) pada pabrik minuman. dan penerapan SMK3 tidak dapat berkelanjutan. dan 7 perusahaan (12. mengukur dan mengendalikan risiko. tidak mampu berkompetisi.82%) untuk unsur 10. Pengendalian risiko merupakan pendekatan utama yang digunakan dalam manajemen risiko seperti substitusi bahan yang berbahaya dengan tidak berbahaya.20 Manajemen risiko yang efektif merupakan strategi inti dari SMK3 yang mencakup identifikasi bahaya. komitmen direktur rumah sakit terhadap K3 masih rendah.82%) untuk unsur 8. pendidikan. tingkat pelaksanaan penerapan SMK3 dicapai sebesar 70. dan kontrol barang atau jasa yang dipasok pelanggan melalui kegiatan identifikasi potensi bahaya dan menilai risikonya dalam rangka menjaga (mempertahankan) kualitas produk/jasa yang dihasilkan. 7 perusahaan (12.46%) untuk unsur 2. mengevaluasi dan melakukan tinjauan ulang tindakan pengendalian risiko untuk meyakinkan bahwa SMK3 dilaksanakan dan dipertahankan. dan 8 perusahaan (8. 12 perusahaan (21.82%) untuk unsur 11.

60% 46.14%) dari 28 kriteria prinsip 1.47 12. keterlibatan manajer puncak terhadap K3 sangat penting dalam menyusun finansial. prinsip 5 sebanyak 4 kriteria (14.28% 134 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3. Rerata Jumlah (Persentase) Skor Tiap Unsur dari 12 Unsur Audit SMK3 12 Unsur Audit SMK3 Unsur 1 (pembangunan dan pemeliharaan komitmen) Unsur 2 (strategi pendokumentasian) Unsur 3 (peninjauan ulang disain dan kontrak) Unsur 4 (pengendalian dokumen) Unsur 5 (pembelian) Unsur 6 (keamanan bekerja berdasarkan SMK3) Unsur 7 (standar pemantauan) Unsur 8 (pelaporan dan perbaikan kekurangan) Unsur 9 (pengelolaan material dan pemindahannya) Unsur 10 (pengumpulan dan penggunaan data) Unsur 11 (audit SMK3) Unsur 12 (pengembangan keterampilan dan kemampuan) Rerata Skor 38. dan keterlibatan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pelaksanaan K3.22 27. dan sumber daya untuk menentukan dan melaksanakan tindakan pencegahan yang disyaratkan. pekerja mampu melakukan pekerjaan dengan aman. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah (persentase) skor unsur 6. substitusi atau mengurangi bahan atau kondisi yang berbahaya.56%) dari 18 kriteria prinsip 2. peralatan. 3 September 2009 .82 11.96 (74. dan unsur 11.22 Hal yang dapat dilakukan di tempat kerja untuk meningkatkan kinerja K3 dan bebas dari gangguan produksi yaitu: pekerja dan supervisor harus mengetahui dan menyadari akan bahaya dan potensi bahaya. unsur 1. membuat kebijakan dan program K3.85%) dari 67 kriteria prinsip 3.65% 35. dkk.06 Skor Maksimum 112 40 32 28 28 160 60 44 52 28 16 64 % 34. 12. Hasil uji F diperoleh bahwa ada perbedaan sangat signifikan (p< 0. atau memakai alat pelindung diri.86% dari skor maksimum unsur 5). Vol.56 20.23 Di samping itu.27 22.38 13. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dicapai jumlah skor (persentase) tertinggi dari Tabel 1. unsur 9. Perbedaan kinerja 12 unsur audit SMK3 memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang status mutu pelaksanaan penerapan SMK3 yang menjadi masukan bagi manajemen agar dapat dilakukan perbaikan (pemenuhan) terhadap kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 sehingga insiden atau kecelakaan kerja yang menimbulkan kerugian dapat dikurangi dan tidak terjadi gangguan produksi. melibatkan tenaga kerja secara aktif. kemudian diikuti berurut hingga terendah masingmasing rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria prinsip 4 sebanyak 4 (15.86 11. 21 Komitmen manajemen terhadap K3 harus disertai dengan kepemimpinan yang mampu menciptakan iklim yang aman di tempat kerja. Kinerja penerapan SMK3 dikatakan baik apabila jumlah skor tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 dicapai dengan skor maksimum. unsur 4. lingkungan kerja harus dibuat aman dan sehat melalui pengendalian teknis atau administratif.86% 57.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . prinsip 1 sebanyak 2 kriteria (7.68% 74.51 20.unsur 7.27% 34. mesin dan bahan-bahan harus berfungsi dengan aman bila digunakan. Pada Tabel 1 tertera rerata jumlah (persentase) skor unsur 5 dicapai tertinggi yaitu sebesar 20..38%) dari 26 kriteria prinsip 4. ketentuan tentang tanggap darurat harus dibuat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja. kompetensi. unsur 2. Manajemen risiko yang efektif membutuhkan tanggung jawab yang telah ditetapkan. dan prinsip 2 sebanyak 1 kriteria (5. No.38% 42. Perbedaan antarkinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 menunjukkan keragaman dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. tenaga profesional. unsur 10.07% 43.84 4. prosedur pengendalian risiko didokumetasikan dan dapat digunakan. 24 Tenaga kerja yang berorientasi pada K3 melalui perilaku aman bekerja merupakan suatu faktor positif terhadap kinerja K3 dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja perusahaan.01) kinerja 12 unsur audit SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap unsur dari12 unsur audit SMK3.25 Pendidikan K3 dan kemampuan personal tenaga kerja tidak cukup untuk membuat aman bekerja.29% 26.18 28. unsur 8.26 Perbedaan Kinerja 5 Prinsip Penerapan SMK3 Rerata jumlah (persentase) pemenuhan kriteria (memenuhi skor 4) dicapai tertinggi pada prinsip 3 yaitu 20 kriteria (29.21 Pencapaian jumlah skor tiap unsur audit SMK3 menunjukkan kinerja tiap unsur audit SMK3.81%) dari 27 kriteria prinsip 5. unsur 3.88% 42.84% 44.96 92.. untuk itu manajemen hendaknya terusmenerus memotivasi perilaku tenaga kerja agar kecelakaan kerja dapat dihindari. pekerja berperilaku aman.Pemenuhan kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat meningkatkan kinerja K3 melalui manajemen K3 yang sistematis. unsur 12.Gerry Silaban.61% 47.

skor penerapan fungsi pengendalian (prinsip 4) sebesar 51. maka diperoleh jumlah (persentase) skor maksimum untuk tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. skor penerapan fungsi pengorganisasian (prinsip 2) sebesar 10%.47 (55. Perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 menunjukkan keragaman dalam pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3.27 Hasil uji F diperoleh ada perbedaan sangat signifikan (p < 0. dan berkelanjutan.33 148. Selain itu. kontinu. Manajemen harus mempunyai komitmen untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan yaitu tenaga kerja dan finansial dalam rangka mendukung mekanisme dan struktur organisasi dari penerapan SMK3.24 Kunci agar bekerja aman dan lingkungan kerja sehat adalah dengan penerapan SMK3 secara komprehensif. sehingga secara keseluruhan ada perbedaan kinerja 5 prinsip penerapan SMK3.31 Enam alasan utama pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja melalui pelaksanaan K3 dalam suatu sistem yaitu:32 1. Kekuatan dan keberhasilan setiap perusahaan terletak pada tata kelola yang efektif terhadap produktivitas. Teknik keselamatan kerja ditujukan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja (accident rate) dan angka keparahan kecelakaan kerja (severity rate).90% 43. Komitmen perusahaan terhadap K3 harus ditunjukkan dengan kinerja K3 yang baik. Adanya tuntutan dari pemerintah untuk menyediakan tempat kerja yang sehat dan aman. 5. Pengusaha atau manajemen puncak (top management) harus bertanggung jawab terhadap rendahnya kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip Tabel 2. dan skor penerapan fungsi evaluasi (prinsip 5) sebesar 0%.28 Bila pelaksanaan penerapan SMK3 secara bersiklus. dan prinsip 1. kesehatan dan lingkungan kerja. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat menghancurkan masa depan tenaga kerja yang secara moral tidak dibenarkan. Penerapan SMK3 masih bersifat slogan dan belum membudaya di tengah masyarakat dan masih dipandang dalam lingkup sempit (terbatas dalam lingkup kerja) belum menjadi bagian integral dari bisnis. prinsip 4.01) kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 dan uji-t diperoleh perbedaan antar kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Pencapaian jumlah skor tertinggi pada prinsip 3 juga diperoleh pada penelitian Widiastuti tentang fungsi manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada salah satu pabrik gula di Jawa Timur diperoleh bahwa skor penerapan fungsi perencanaan (prinsip 1) sebesar 46. sehingga tidak terdapat keragaman dalam pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. di samping pemasaran dan finansial. serta membuat mekanisme dan struktur organisasi dengan prinsip penerapan SMK3 yang efektif. Kinerja penerapan SMK3 merupakan indikator yang dapat diukur melalui audit SMK3 untuk meyakinkan keberhasilan penerapan SMK3 dan dapat dibandingkan dengan sebelumnya. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja menimbulkan kerawanan sosial. Kecelakaan kerja menurunkan efisiensi usaha dan produktivitas kerja. dan mengevaluasi kinerja K3) Prinsip 5 (meninjau ulang dan meningkatkan pelaksanaan SMK3) Rerata Skor 38.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan skor maksimum.29 Penerapan SMK3 diawali dengan adanya pernyataan kebijakan manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman.38 25. 12. harus ada perencanaan K3 yang terperinci dan berisi penjelasan dari tujuan K3 dan terukur.40% 42.8%. 2. 6.82% Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.40% dari skor maksimum).27% 35. prinsip 2. memantau.47 44.17% (tertinggi). Pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan tanggung jawab pengusaha bersama tenaga kerja. No.18% 55.62 47. Pengendalian risiko yang efektif hanya dapat dilakukan melalui penerapan SMK3. 4.62%. skor penerapan fungsi penggerakan (prinsip 3) sebesar 55.33 Skor Maksimum 112 72 268 104 108 % 34. kualitas produk. 3. Vol.30 Risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja K3 harus dikendalikan. kemudian diikuti berurut hingga terendah yaitu rerata jumlah skor (persentase) prinsip 5. Kinerja 5 prinsip penerapan SMK3 ditentukan oleh kemauan dan keterlibatan seluruh jajaran dalam manajemen dan tenaga kerja serta keikutsertaan Komite K3 (P2K3) dalam pelaksanaan K3 yang berdampak terhadap angka kecelakaan kerja dan klaim kecelakaan kerja. Rerata (Persentase) Skor Tiap Prinsip dari 5 Prinsip Penerapan SMK3 5 Prinsip Penerapan SMK3 Prinsip 1 (menetapkan kebijakan K3 dan komitmen menerapkan SMK3) Prinsip 2 (merencanakan penerapan K3) Prinsip 3 (menerapkan kebijakan K3) Prinsip 4 (mengukur. Pada Tabel 2 tertera rerata jumlah (persentase) skor prinsip 3 dicapai tertinggi yaitu 148. keselamatan. 3 September 2009 135 .

dan juru las.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan SMK3. crane). dan laporan hasil audit internal SMK3. Bila komponen tersebut telah memiliki pengetahuan dan pemahaman (persepsi) yang sama terhadap tahapan pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. Melakukan indentifikasi sumber-sumber bahaya. termasuk perusahaan yang belum menerapkan SMK3. serta tanggung jawabnya dalam pelaksanaan penerapan SMK3. alat pemantauan kondisi lingkungan kerja. instruksi kerja.. petugas K3 (kimia. dan pencegahan kecelakaan kerja di tempat kerja c. Hasil audit SMK3 akan segera diumumkan perusahaan yang memiliki kinerja SMK3 buruk agar dapat memperbaiki diri. mekanik. kimia). 3 September 2009 . alat pemadam api. 3. dan tenaga kerja) yang terlibat dalam aktivitas di tempat kerja. pelayanan kesehatan kerja). 2. Langkah ini diambil untuk menekan tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesiagaan perusahaan menghadapi potensi kecelakaan kerja mengingat pentingnya amanah dari Permenaker No.. operator (pesawat uap. alat. konsisten dan berkesinambungan. prosedur pengoperasian dan penanganan mesin. kegiatan K3. Vol. tim tanggap darurat (emergency response preparedness team). sehingga hasil audit SMK3 tidak dapat menggambarkan kondisi objektif 136 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Tahap akhir dari penerapan K3 adalah meyakinkan perbaikan (peningkatan) dilakukan secara menyeluruh. radiasi. 12. confined space). 4. Setelah manajemen memenuhi sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3. Menyebarluaskan informasi K3 ke seluruh unit kerja yang meliputi peraturan perundangan K3. 05/1996. petugas P3K. manual K3 (berisi peraturan perundangan K3. dan kewenangan sesuai dengan kompetensinya dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Kegiatan audit eksternal SMK3 dapat dilakukan apabila pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 telah berjalan dan berkesinambungan untuk memperoleh pengakuan dari pemerintah terhadap penerapan SMK3 di perusahaan. instalasi dan bahan berbahaya. ahli higiene industri. manajemen. 05/1996. dkk. serta dievaluasi melalui audit internal K3 paling tidak setahun sekali. pintu dan tangga darurat.Gerry Silaban. No. 5. langkah selanjutnya mengidentifikasi kegiatan apa yang belum berjalan agar dilakukan kajian kendala pelaksanaannya dan kegiatan apa yang telah berjalan agar dapat dilakukan perbaikan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 dengan berpedoman pada Lampiran I Permenaker No. Memberikan saran dan rekomendasi terhadap perbaikan pelaksanaan penerapan SMK3 kepada manajemen b. maka masing-masing akan mengetahui tugas dan fungsi. Di samping manajemen menyiapkan (menyediakan) sumber daya yang terkait dengan pelaksanaan penerapan SMK3 yaitu: 1. tempat pelatihan K3. konstruksi. listrik). P3K. fungsi. pengawasan terhadap penerapan syarat-syarat dan standar K3. instruksi tanggap darurat). rambu dan tanda keselamatan kerja.Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menekan angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja meskipun semua organisasi yang relevan terlibat dalam upaya penerapan SMK3. Namun sertifikasi SMK3 diperlakukan oleh sebagian pengusaha sebagai tujuan akhir. Sebagai wadah komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kinerja pelaksanaan penerapan SMK3 di tempat kerja d. Organisasi K3 ini bertugas: a. Personel K3 yang mempunyai tugas. ahli K3 spesialis (listrik dan kebakaran. alat dan sistem tanda bahaya. penerapan SMK3 dan menyikapinya dengan paradigma revitalisasi pelaksanaan penerapan SMK3.33 Kebijakan Permenaker No. Menakertrans RI pada acara penyerahan penghargaan SMK3 tahun 2008 menyatakan bahwa pemerintah akan mempercepat pelaksanaan audit SMK3 di perusahaan-perusahaan yang selama ini berjalan setahun sekali menjadi tiga bulan atau enam bulan sekali. kebakaran. paramedis (perawat) perusahaan. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) atau Safety Committee. Personel K3 meliputi ahli K3 umum. dokter perusahaan. Pembentukan organisasi K3 di tempat kerja seperti Bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Department) yang membawahi beberapa sub bagian (regu penanggulangan kebakaran. uap dan bejana tekan. kebijakan K3 perusahaan. 05/1996 sejatinya untuk mewajibkan perusahaan agar dapat memenuhi standar K3 yang kemudian dinilai melalui audit SMK3 untuk memperoleh sertifikat SMK3. Titik awal (starting point) pelaksanaan penerapan SMK3 sebaiknya dilakukan sosialisasi SMK3 di tingkat perusahaan bagi seluruh komponen (pengusaha. teknisi (lift. Fasilitas K3: alat pelindung diri. konstruksi. Sarana K3: pelayanan kesehatan kerja.

Jakarta. Siswati M. Perusahaan Jasa K3. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Perbaikan (peningkatan) kinerja pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3 harus disertai pembinaan dan pengawasan penerapan SMK3 yang intens dan penegakan hukum oleh instansi dinas tenaga kerja disamping peran serta dari PT Jamsostek.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan dari penerapan SMK3 di perusahaan dan sertifikasi SMK3 tidak menjadi jaminan kualitas dari kinerja penerapan SMK3 yang dimungkinkan bias karena faktor subjektif. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 05/1996 perlu ditopang dengan suatu peraturan pemerintah yang menetapkan dan mengatur tentang penerapan SMK3 agar lebih jelas dan rinci termasuk sanksi hukumnya. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. PT Sucofindo.01) kinerja tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3 yang mengakibatkan ada perbedaan yang signifikan (p < 0. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes. 6. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter Perusahaan. J. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kinerja penerapan SMK3 masih rendah dilihat dari jumlah perusahaan dan tingkat pencapaian dalam pemenuhan kriteria tiap unsur dari 12 unsur audit SMK3. Kinerja penerapan SMK3 (tingkat pemenuhan kriteria audit SMK3) perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah (Depnakertrans RI). 4. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja.Perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang baik berhak mendapat insentif dalam bentuk pembayaran iuran jaminan kecelakaan kerja lebih kecil dibanding perusahaan dengan kinerja penerapan SMK3 yang buruk. 1988. 7. Do. perlu ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengajuan audit SMK3 perusahaan dan auditor yang melakukan audit SMK3. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan Bekerja Sama dengan Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI) Wilayah Provinsi Sumatera Utara. Program Prioritas dan Pemberdayaan Potensi K3 Tahun 2003 dan 2004 Guna Mewujudkan Kemajuan Substansial K3.2003. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3. Diselenggarakan oleh PT (Persero) Sucofindo.2002. Suma’mur PK. Pelaksanaan tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3 harus berurutan dan mengacu pada prinsip Plan. XXXVI(2) April-Juni. 20(1): 67-85. organisasi profesi K3. KEPUSTAKAAN 1. Makalah Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja Bagi Dokter dan Paramedis Perusahaan.2005. Vol.2003. kebijakan Permenaker No.Medan. Accident Anal Prev. No. Kanwil I PT Jamsostek. Diselenggarakan oleh Balai Keselamatan Kerja dan Hiperkes Medan. Saran Temuan hasil audit SMK3 dapat dijadikan sebagai acuan bagi manajemen perusahaan. sehingga konsisten dan berkelanjutan yang pada akhirnya kriteria tiap unsur audit SMK3 dapat dipenuhi.05) kinerja tiap prinsip dari 5 prinsip penerapan SMK3. 5.2006. 3. Balitbanginfo Depnakertrans RI. Manajemen perusahaan harus bekerja sama dengan ahli K3 dan memberdayakan panitia pembina K3 perusahaan agar pelaksanaan penerapan SMK3 komprehensif dan melekat dalam aktivitas kerja sehingga tercipta budaya kerja (corporate culture) berbasis K3. Ahli Hygiene Perusahaan dan Dokter Perusahaan Di Masa Mendatang. dan Asosiasi Pengusaha Indonesia dalam menetapkan besarnya iuran jaminan kecelakaan dalam Program JKK yang sampai saat ini masih berdasarkan pada pengelompokan risiko dari jenis usaha. Ada perbedaan yang sangat signifikan (p < 0.2003. Oleh karena itu. Medan. Jakarta. The Role of Safety Analysis in Accident Prevention. Balai K3. Kondisi ini memberi peringatan (warning) bagi pengusaha atau manajemen perusahaan agar melakukan upaya perbaikan terhadap pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. Suokas. Data Kepesertaan Program Jamsostek dan Kecelakaan Kerja Tahun 2003 . and Improvement (PDCI). XXXVI(2) AprilJuni. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. Urgensi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Di Perusahaan. 3 September 2009 137 . PT Jamsostek. 2004. diharapkan dapat memacu peningkatan jumlah perusahaan dalam penerapan SMK3 seiring dengan meningkatnya kesadaran pengusaha akan pentingnya penerapan SMK3. Ichsan S. dinas tenaga kerja dan pihak-pihak lain yang terkait dalam penerapan SMK3 agar dapat melakukan perbaikan terhadap kelemahan (kekurangan) dari pelaksanaan 5 prinsip penerapan SMK3. dan akademisi yang peduli terhadap masalah K3. Klasifikasi Ahli Keselamatan Kerja. Jakarta.Summary of the Workshop on Asean Occupational Safety and Health Management System (OSH-MS). Dengan demikian. 2. Ichsan S. Check. 12. Di samping itu. Rudiyanto.

Occup Hazards. Saarela. Minat Utama Manajemen Rumah Sakit. 15. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 1998. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Jakarta. Subekti A. US Department of Labor.In: Ch. International Labour Office. Fourth Edition. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.XXXVI(3) JuliSeptember. 1998. 2000. Skiba R.: Kinerja Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan . Hansen L.2001. 44: 137-56.2008. 13. Geneva. Fungsi Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. Vol. 2006. Jakarta. Hopkins A. Sugiyono. 16. 26.M1) 21. Tesis. International Labor Office. Diselenggarakan oleh Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. In: Ch.L. 24. 14. Manual SPS Paket Midi. 10. Novianto R. Program Studi Magister Rekayasa Keselamatan Industri. Canberra. Geneva. II. Widiastuti E. Internal Audit Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta. 55(9): 250. Safety Culture. Simard M.1998. Pamardiningsih Y. Fourth Edition. Working Paper 14. Makalah Konvensi Nasional K3 KeVI. OSHA: Employee Workplace Rights. 28. 29. Ramli S. Inspections and Investigations. Groeneweg J. 1991.2003. Hegney. 57 Audits. No. Direktorat Pengawasan Kesehatan Kerja Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Takala. J Occup Acc 12: 107-117. Safety Science. Surabaya. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. Hadi S. Theoritical Principles of Job Safety. and K. dkk. Tesis. Canberra. 12. Hadi S. Bluff L. Geneva. Vol. Hamalainen PJ.2003. SPS-2000 (Seri Program Statistik Versi 2000). II. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Rumah Sakit Unisma Malang Jawa Timur. Yuliani R. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. International Labour Office. ITS. In: Ch.. Saari J. 1993. Alli BO. and R. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja. II. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. New Paradigm Untuk Meningkatkan Kinerja K3. 12. Yogyakarta. 3 September 2009 . Systematic Management of Occupational Health and Safety. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. Global Estimates of Occupational Accidents. Vol. 18. Frick K.2005. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Jakarta.com/books?id=qs_FgDdalv8C &pg=PA579&q=occupational+health+and+ safety+journal&hl=id#PPP1. 2005. J Saf Res. Surabaya. Yogyakarta. 2005. Kajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada PT Primisima (Industri Garment) Di Sleman Yogyakarta.Enhancing OccupationalSafetyand Health. Mindfulness and Safe Behaviour: Converging Ideas? Working Paper 7. 59 Safety Policy and Leadership.2006. 25. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. On Strategies and Methods in Company Safety Work: From Informational to Motivational Strategies.Gerry Silaban. International Labour Office. Strategies for Encouraging SelfProtective Employee Behaviour.google.2004. Geneva. 27. Universitas Gadjah Mada. First Published. 2003. Fourth Edition. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Pabrik Gula Djatiroto Lumajang. Organisational Development and OHS Management in Large Organisations. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Working Paper 20. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. Depnakertrans RI.Beyond Commitment. Safety Culture and Management. Tesis. Program Magister Teknologi Manajemen. 22: 53-70. Taylor G. 56 Accident Prevention. National Research Centre for Occupational Health and Safety Regulation and National Occupational Health and Safety Commission. 9. Vol. The Conference Australian OHS Regulation for the 21st Century. Easter. Kecelakaan Kerja Sektor Industri Pengolahan dan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di Kotamadya Yogyakarta Kajian Tahun 2001. Tesis. The Accident Causation Model. 11. 22. OSHA.2002. 23. 2004. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Canberra.. 19. 2004 (http:// books.2002. 17. Tesis. Yogyakarta. K. Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes Balitbanginfo Depnakertrans RI. 20. 138 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT Lotus Indah Textile Industry Dengan Menggunakan Sistem Informasi Audit. 8. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Peters RH.

2008. Geneva. and P. Siriruttanapruk S.135-40. 2004. Anatagulnathi. Inspections and Investigations. Venkataraman N. Boca Raton.Lewis Publishers. International Labour Office. II. 42. 33. Safety Performance Factor. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. Occupational Health and Safety Management: A Practical Approach. National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH). 3 September 2009 139 . 12. Vol. Fourth Edition. 5: 27-30. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. Journal Occupational Safety Health.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 30.2003. Occupational Health and Safety Situation and Research Priority in Thailand. Linehan A. 57 Audits. Reese CD. 1998. Vol. 31. 32. In: Ch.Workplace Inspection and Regulatory Enforcement. Malaysia. Industrial Health.

Halaman 140 . The expectations of participants are in line with the recommended credential system. 12. which is based on the concept of professionalism. Credentialing processes vary in different Indonesian Institutions. Conclusions: Indonesia needs a credentialing system that is able to establish the patient safety.” (Napoleon Bonaparte) Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan. Results: The obstacles of the establishment of ideal credential system rooted in the inappropriate perception that credential is the same as physicians recruitment as hospital employees. keselamatan pasien PENGANTAR “You medical people will have more lives to answer for in the other world than even we generals.2. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan proses monitoring. dkk. adanya tim kredensial yang obyektif. Vol. perawat. consisted of physicians and hospital management. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Kata kunci : sistem kredensial dokter. Proses kredensial di berbagai institusi di Indonesia masih bervariasi dan belum adekuat. No. aims to ensure the accountability. dimana ditetapkan bahwa subkomite kredensial komite medis di rumah sakit bertugas mengatur masalah kewenangan klinis (clinical privilege) setiap dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. Jakarta 2 Departemen Pendidikan Kedokteran. Dokter.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Every FGD was attended by 10-20 participants. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. 631/ MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). professionalism. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ SMF Forensik Klinik/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr.1. Astrid Pratidina Susilo2 Departemen Ilmu Kedokteran Forensik.. yaitu suatu proses untuk memberikan kewenangan klinis atas suatu tindakan medis. 3 September 2009 . 5 ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu tonggak keselamatan pasien adalah akuntabilitas dokter yang terlibat dalam layanan kesehatan. 140 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Oleh karena itu. The credentialing system. patient safety Hasil: Hambatan terwujudnya sistem kredensial ideal adalah mispersepsi bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. standardization of policy and credential instruments. sound relationship between credential team and hospital management. dibutuhkan suatu sistem yang dapat mengakomodasi kebutuhan jaminan kompetensi tersebut. Methods: A qualitative study using Focus Group Discussions (FGD) were conducted in four hospitals in Indonesia with different characteristics. yaitu yang berdasar pada konsep profesionalisme. The expectations of the participants are the needs of monitoring process. Jaminan kompetensi ini telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RS No.2 Berpijak pada prinsip dasar gerakan keselamatan pasien untuk ‘non blaming culture’ atau budaya tidak menyalahkan.147 Artikel Penelitian HAMBATAN DAN HARAPAN SISTEM KREDENSIAL DOKTER: STUDI KUALITATIF DI EMPAT RUMAH SAKIT INDONESIA OBSTACLES AND EXPECTATION OF PHISICIAN CREDENTIALING SYSTEM: A QUALITATIVE STUDY IN FOUR INDONESIAN HOSPITALS Herkutanto1. Akuntabilitas ini dijamin melalui proses kredensial.4 jaminan kompetensi yang adekuat inipun berbasis pada pendekatan sistem. Hasil FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. dibutuhkan informasi tentang hambatan dan harapan atas sistem kredensial.. Tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan manajemen rumah sakit. Samarinda 1 ABSTRACT Background : The accountability of the physicians serving in health care is a crucial factor to establish the patient safety. Metode: Studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia dengan karakteristik berbeda-beda. a process to grant clinical privilege. The results of the FGDs were analyzed with qualitative approach.: Hambatan dan Harapan Sistem . existence of objective credential team. Keywords: physicians credentialing system. Cipto Mangunkusumo.3. Harapan partisipan sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan. Information about obstacles and expectations on current credentialing process is needed to design a strategy to develop credentialing system. standardisasi aturan dan instrumen kredensial. 03 September 2009 Herkutanto. dan hubungan baik antar sejawat. profesionalisme. dalam tataran makro (sistem layanan kesehatan nasional). Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial. atau tenaga kesehatan lainnya dituntut untuk memiliki kompetensi yang adekuat. Kesimpulan: Indonesia membutuhkan sistem kredensial yang dapat menjamin keselamatan pasien. and good relationships among colleagues. and frequently are inadequately performed.

komplikasi medikamentosa adalah bentuk yang tersering dijumpai (19%) dibandingkan dengan komplikasi teknis (13%).12. namun gambaran implementasi proses dan pencapaian tujuan kredensial bervariasi di berbagai institusi.1 Beberapa literatur memaparkan bahwa proses kredensial merupakan sistem yang terintegrasi dalam layanan kesehatan di berbagai negara.609 kejadian yang tak diharapkan yang terjadi di rumah sakit di New York tahun 1984 ternyata 27. setiap rumah sakit harus mengembangkan strategi sistem kredensial yang adekuat. suatu proses penggalian kebutuhan dilaksanakan di empat rumah sakit Indonesia menjawab rumusan masalah berikut: 1) Bagaimana proses kredensial dokter yang ada di lapangan saat ini?. Proporsi kelalaian di bidang diagnostik cukup tinggi (75%). suatu studi kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion – FGD) dilaksanakan di empat rumah sakit di Indonesia.1.12 rumah sakit yang dipilih memiliki karakteristik yang berbedabeda. sesuai dengan perkembangan kompetensi si dokter atau tenaga kesehatan tersebut.11 Walaupun istilah kredensial sendiri bukan hal yang baru dalam sistem layanan kesehatan Indonesia. Dengan terjaminnya keselamatan pasien atas tindakan medis yang dilakukan dokter tentu akan menurunkan jumlah klaim pasien terhadap dokter dan rumah sakit. Rumah Sakit 3 (RS3) adalah rumah sakit khusus yang melayani satu jenis spesialisasi. Metode ini dipilih karena diharapkan dapat memberikan informasi naratif yang diperkaya dengan interaksi antar partisipan.7 Proses kredensial adalah proses untuk memberikan kewenangan klinis (clinical privilege) bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan klinis tertentu. kredensial yang mengarah kepada pemberian kewenangan klinis yang lebih rinci (“delineation of clinical privilege”). Dari 98. 12. Setiap FGD dilaksanakan dalam forum pertemuan Komite Medis di tiap-tiap rumah sakit Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. No. sedangkan di bidang terapeutik. Vol. Kelalaian akibat pembedahan tercatat lebih sedikit (17%) dibandingkan tindakan non-bedah (37%). Proses ini adalah bentuk tanggung jawab institusi kesehatan terhadap masyarakat atas kepercayaan yang diberikan untuk menjaga keselamatan pasien. 1 Sebuah publikasi mendeskripsikan proses kredensial untuk dokter spesialis anak. Untuk mencegah terjadinya potensi klaim akibat tindakan medis. ia akan mendapat penugasan klinis (clinical appointment) dari Badan Pengampu (Governing Board) rumah sakit yang dapat saja didelegasikan kepada Direktur Rumah Sakit. keselamatan pasien akan lebih terjamin atas setiap jenis tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Dengan demikian. Di USA. proporsi kelalaian prosedur non-invasif adalah 77%. Kewenangan ini diberikan oleh institusi kesehatan setelah mendapat rekomendasi dari mitra bestari.8 Setiap kewenangan klinis tertentu yang dimiliki seorang dokter harus ditinjau secara berkala. Dalam proses ini.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah klaim terhadap dokter dan rumah sakit yang terkait dengan kelalaian tindakan medik dokter. kompetensi dokter untuk setiap jenis tindakan medis disebuah rumah sakit lebih terkendali.10 Sama seperti negara lain. sedangkan Rumah Sakit 4 (RS4) adalah rumah sakit khusus yang membutuhkan layanan terpadu multispesialisasi. 2) Bagaimana harapan atas sistem kredensial dokter di rumah sakit di masa mendatang? BAHAN DAN CARA PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah di atas.179 di antaranya merupakan kelalaian medis. Indonesia membutuhkan proses kredensial untuk menjamin akuntabilitas tenaga kesehatan. Di masa mendatang di Indonesia.9 Sebuah Fakultas Kedokteran Gigi di USA bahkan mengimplementasikan sistem kredensial untuk menjamin kompetensi staf pengajar. Pada proses kredensial dengan sistem “delineation of clinical privilege” tersebut. Dari 1.133 pasien yang cedera akibat tindakan medis. bukan kedokteran. dibutuhkan informasi tentang kondisi yang ada saat ini. Keempat rumah sakit berlokasi di ibukota provinsi di Pulau Jawa dan berperan sebagai rumah sakit pendidikan. Untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial yang dapat memberikan jaminan akuntabilitas.13 Sesuai dengan prinsip studi kualitatif yang mementingkan maximum diversity. Rumah Sakit 1 (RS1) adalah rumah sakit pemerintah tipe A.8 Kondisi ini yang menyebabkan proses kredensial yang dilakukan oleh komite medik di Indonesia saat ini masih belum adekuat. Rumah Sakit 2 (RS2) hanya menjadi pusat pendidikan keperawatan saja. proses kredensial telah menjadi standar di setiap rumah sakit. jika seorang dokter atau tenaga kesehatan dianggap memiliki kompetensi tertentu. Oleh karena itu.6 Leape dkk7 melakukan penelitian lebih rinci terhadap tipe kesalahan medis. 3 September 2009 141 . Rumah Sakit 2 (RS2) adalah rumah sakit swasta tipe B berbasis agama.

. hasil analisis FGD dipresentasikan kepada partisipan. Harapan partisipan tercermin dari kebutuhan yang tercetus dalam FGD. maka yang bersangkutan mendapat surat ijin merawat di rumah sakit. serta kebutuhan tim kredensial yang ideal.12 Sebelum FGD dilaksanakan. Tabel 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Proses Kredensial Saat Ini Pada keempat FGD. Pada studi kualitatif. Dokter yang di awal nampak “baik-baik saja”. Pada kasus saat kandidat melamar sebagai dokter tamu. Partisipan memahami bahwa FGD ini dilakukan bukan sebagai studi ilmiah. dan tiap FGD dihadiri oleh 10-20 partisipan yang terdiri dari dokter dan pihak manajemen rumah sakit. prosedur ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas studi. para partisipan diberi informasi bahwa hasil FGD akan dipublikasikan untuk kepentingan advokasi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. dan profesionalisme kandidat. Rumah sakit kesulitan untuk memutuskan hubungan kerja dokter yang telah berstatus karyawan tetap karena dibatasi oleh UU Tenaga Kerja atau karena rasa segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) antar kolega. Namun ide dasarnya sama yaitu seleksi karyawan. transkrip akademis. dimodifikasi sesuai kondisi rumah sakit. Partisipan diberi kesempatan bertanya dan melakukan klarifikasi. Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan selama satu jam. Hal-hal yang bisa dikembangkan? 2 3 Tidak semua FGD direkam secara elektronik karena tidak semua partisipan berkenan. partisipan juga menggarisbawahi bahwa hubungan baik antar kolega sangat penting untuk dijaga. karakter. Pertanyaan disusun oleh para penulis. Beberapa partisipan memiliki pendapat lain. Seluruh FGD dituangkan dalam notulensi terperinci. Notulensi FGD dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip analisis data kualitatif. dkk. No. panitia kredensial atau kelompok sejenis yang ditunjuk Direksi. namun sebagai penggalian kebutuhan untuk pengembangan proses kredensial di rumah sakit masing-masing. Prosedur yang disebut member checking ini bertujuan meyakinkan bahwa interpretasi penulis sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh partisipan. Prinsipnya. dan diminta persetujuan. keterampilan. Direksi akan mengeluarkan Surat Keputusan pengangkatan kandidat sebagai dokter karyawan. tanpa mengubah topik-topik utama (Tabel 1). Partisipan melakukan diskusi atas beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator. Apakah telah cukup ideal? b. Selain itu. Pelaksana kredensial bisa Tim Kredensial Komite Medis. 142 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.. Pada akhir FGD atau pada pertemuan berikutnya. dan surat rekomendasi. seiring dengan berjalannya waktu mulai menunjukkan sikap-sikap yang bermasalah. Partisipan FGD berpendapat bahwa proses ini belum ideal.Herkutanto. dipimpin oleh seorang moderator dan didampingi oleh seorang sekretaris. Partisipan juga sepakat bahwa proses kredensial belum ideal. Berdasarkan rekomendasi ini. Persepsi bahwa proses kredensial adalah proses penerimaan karyawan melandasi bagaimana prosedur kredensial saat ini. Proses ini bervariasi di keempat rumah sakit dan terdapat perbedaan pelaksana dan tes yang diterapkan. Dokter kandidat yang dikredensial diminta menyerahkan lamaran dan dokumen penyerta seperti ijazah. Partisipan FGD melihat masalah ini timbul karena proses kredensial saat ini hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. persepsi dominan adalah bahwa kredensial identik dengan proses penerimaan dokter sebagai karyawan rumah sakit. yaitu kebutuhan proses monitoring. Nama partisipan dirahasiakan. proses kredensial yang ada saat ini mencoba memotret pengetahuan. bahwa tujuan proses kredensial dokter adalah untuk mencari dokter dengan kualifikasi tertentu serta untuk menjamin keselamatan pasien. sikap.14 Analisis dilakukan oleh tiap-tiap penulis. Hasil proses kredensial adalah rekomendasi kepada Direksi tentang kelayakan dokter.: Hambatan dan Harapan Sistem . standardisasi aturan dan instrumen kredensial. karena sering kali ditemukan false positive. 3 September 2009 . Selanjutnya kandidat akan menjalani wawancara serta beberapa tes tambahan seperti tes kesehatan dan tes psikologi. Harapan Sistem Kredensial di Masa Datang Partisipan keempat FGD sepakat bahwa suatu sistem kredensial yang baik akan menjamin kualitas layanan rumah sakit terhadap pasien. kemudian didiskusikan sampai kesepakatan tercapai. serta direvisi berdasarkan hasil FGD rumah sakit sebelumnya. Vol. 12. hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen. Daftar Pertanyaan Focus Group Discussion 1 Hal-hal apa yang menurut pengalaman sejawat telah Anda ketahui tentang proses kredensial selama menjalankan profesi? Bagaimanakah proses kredensial yang seharusnya menurut pendapat sejawat? Bagaimana pendapat sejawat tentang proses kredensial di Rumah Sakit Anda a. Hambatan-hambatan apa yang dijumpai? c.

12.” [dr Y. karakter. Kompetisi yang muncul diharapkan bersifat positif. Usul lain adalah pemanfaatan data rekam medis sebagai bahan evaluasi track record dokter di rumah sakit.1. Periode uji coba b. hubungan kerja. Anggota tim berasal dari komite medis maupun dokter tamu. Dengan dijaminnya profesionalisme tenaga medis maka keselamatan dan harkat martabat pasien di rumah sakit akan Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2 PEMBAHASAN Tujuan utama pembentukan komite medis adalah menjaga profesionalisme para tenaga medis di sebuah rumah sakit. misalnya karena perebutan lahan antar spesialisasi. Kebijakan atau petunjuk dibuat oleh mitra bestari 2. hubungan baik ini tercermin salah satunya dalam bentuk umpan-balik atas rekomendasi Tim Kredensial kepada Direksi. Mereka adalah orang-orang bijak dan berpengaruh dari setiap spesialisasi. Focus Group Discussion (FGD) RS3 melihat hubungan baik dapat dibangun melalui kesepakatan wewenang dan kedudukan tim kredensial dalam rumah sakit. keterampilan. yaitu untuk meningkatkan mutu dokter.3 Pelaksana Tim/panitia kredensial 1. FGD juga menunjukkan bahwa sistem kredensial seharusnya tidak menjadi sumber konflik antar dokter.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kebutuhan monitoring lahir dari keterbatasan proses kredensial yang hanya memotret kandidat pada satu titik waktu. kebutuhan tim ideal untuk proses kredensial digambarkan sebagai tim yang solid.2 Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen a. Anggota Komite Medis atau dokter tamu b. peserta FGD RS1 juga berharap agar kredensial tidak kontradiktif dengan proses yang dilakukan oleh kolegium. tes untuk memotret pengetahuan. berpengaruh. tetapi kita tidak mendapat evaluasinya.4 Kebutuhan tim ideal a. Bijak. Pada FGD di RS1.. dan profesionalisme 1. Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen kredensial merupakan usaha untuk mengurangi subjektivitas kolega pada proses kredensial. namun disesuaikan dengan kompetensi dan kondisi fisik dokter. kayaknya kurang pas.. Tiap tahap proses kredensial diberi batas waktu. Tim Kredensial ingin tahu apakah dokter yang direkomendasikan pada akhirnya diterima di rumah sakit atau tidak. Partisipan juga berharap supaya budaya segan (ewuh pakewuh – bahasa Jawa) tidak menghambat proses kredensial. Kewenangan klinis tidak diberikan seumur hidup. Penerimaan karyawan b. wawancara. 3 September 2009 143 .1. Salah seorang partisipan FGD RS3 mengusulkan proses rekredensial. Tabel 2. Salah satu usul adalah diterapkannya periode uji coba bagi kandidat. Sanksi dapat diterapkan jika batas waktu terlewati.” [dr X. dan netral. Aturan dan instrumen dikembangkan sesuai kebutuhan lokal rumah sakit. sebagai bentuk kepercayaan Direksi. Pada FGD di RS1 dan RS2. supaya proses ini tidak dipersepsi sebagai formalitas belaka.. dan divalidasi oleh komite medis.5 Kebutuhan hubungan baik antar sejawat Partisipan melihat umpan-balik sebagai salah satu motivasi bagi anggota tim kredensial. No. Tujuan a. Dalam periode ini kompetensi kandidat diobservasi dan disupervisi saat bekerja di lapangan. Kesepakatan atas kewenangan dan kedudukan tim kredensial di rumah sakit 2. seorang partisipan yang menyebutkan bahwa proses kredensial menghasilkan kewenangan klinis. Umpan balik manajemen atas rekomendasi dari tim kredensial b. Keselamatan pasien 1. Menghindari budaya ewuh pakewuh 2. sikap. RS2] “Kalau ada hubungan senioritas. Proses kredensial diharapkan dapat menjaga hubungan baik antar sejawat. Vol. diikuti SK penerimaan karyawan Proses kredensial saat ini dianggap tidak ideal karena banyak false positive Harapan sistem kredensial masa datang 2. Kebutuhan monitoring a. netral c. atau sering menggantikan praktik. Mengurangi subyektivitas b. Selain itu. Analisis track record dokter melalui data rekam medis c. RS2] Terakhir. Rangkuman Topik Hasil Analisis FGD Empat Rumah Sakit 1 Proses kredensial saat ini 1. Kebutuhan hubungan baik tim kredensial dengan pihak manajemen muncul sebagai salah satu harapan perbaikan sistem kredensial.3 Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen a. Proses kredensial dapat menjadi sarana untuk legitimasi kompetensi seorang dokter yang telah memiliki kewenangan klinis. Selanjutnya. sungguh-sungguh bekerja.4 Keluaran kredensial Rekomendasi kepada Direksi . Proses rekredensial 2. Partisipan juga mengharapkan kewenangan lebih untuk memutuskan diterima atau tidaknya seorang dokter.2 Prosedur Melalui dokumen aplikasi. Panitia kredensial membuat suatu kebijakan atau petunjuk berdasarkan rekomendasi mitra bestari. “Kita hanya melakukan pertemuan pertama dengan calon karyawan.

perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Mispersepsi Dokter tentang Konsep Kredensial dan Kebutuhan Masa Mendatang di Indonesia Dalam penelitian ini nampak bahwa akar mispersepsi proses kredensial adalah tumpangtindih proses kredensial dengan proses penerimaan karyawan. Secara periodik. kredensial bukan menjadi prosedur untuk menjamin profesionalisme dokter. 12. di mana tiga proses inti tersebut akan berulang.8 Mungkin saja ada pendapat yang mempertanyakan kewenangan rumah sakit dalam mengatur dokter dalam melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. rumah sakit juga bertanggung jawab terhadap dokter yang tidak kompeten (non-delegable duty). Namun demikian. Model kredensial di atas banyak diterapkan di berbagai negara karena merupakan bentuk klasik konsep professionalisme yang didasarkan pada kontrak sosial. 17 Model kredensial ini dapat dilihat pada Gambar 1. Sayangnya. Pertama. KKI dan Kolegium tidak dapat digugat atau dituntut oleh pihak pasien bila ternyata seorang dokter tidak kompeten melakukan tindakan medis tertentu. Untuk menjawab kebutuhan Indonesia. Komite medis masih dipersepsikan sebagai kelompok yang berfungsi untuk menjaga kepentingan (ekonomis) para dokter di rumah sakit. sementara Tabel 3 membandingkan mispersepsi dan rekomendasi model. Selama ini.Herkutanto. peningkatan mutu profesi. Dalam kontrak sosial tersebut. No. tentu ingin diketahui hal apa sajakah yang dapat menghambat proses kredensial yang baik di rumah sakit. praktisi medis melakukan aplikasi clinical pivilege dengan metode self assessment. kami merekomendasikan suatu model yang: (1) menjawab tujuan keselamatan pasien. 3 September 2009 . dan tetap bertahan hingga saat ini yang di banyak negara dituangkan dalam bentuk UndangUndang Praktik Kedokteran (medical practice act).1 Model kredensial ini bertumpu pada tiga proses inti. Selain dokter tersebut. jika seorang dokter dianggap akan membahayakan keselamatan pasien. Dua komponen utama profesionalisme kedokteran yang harus senantiasa dijaga rumah sakit adalah masalah perilaku (conduct) dan kompetensi tenaga medis. dan penjagaan disiplin profesi belum terlaksana dengan baik karena konsep profesionalisme belum diimplementasikan oleh komite medis. Namun demikian. Upaya utama untuk melindungi keselamatan pasien adalah rumah sakit menjamin kompetensi setiap dokter yang melakukan tindakan medis melalui mekanisme kredensial. Dengan kurang berfungsinya komite medis. bahkan memiliki tanggung jawab hukum atas akibat tidak diterapkannya profesionalisme (non-delegable duty). Ketiga.11 Fungsi kredensial. senantiasa terjaga dengan baik. (2) sesuai dengan konsep profesionalisme. Persepsi dominan ini melandasi seluruh proses kredensial yang ada saat ini. Vol. (3) telah dicoba di berbagai negara dengan hasil yang baik. mitra bestari mengkaji dan memberikan persetujuan aplikasi berdasarkan buku putih (white paper) yang memuat syarat seorang dokter melakukan tindakan medis tertentu.: Hambatan dan Harapan Sistem . Selain itu.18 Konsep kontrak sosial ini berawal dari daratan Eropa sekitar lebih dari 150 tahun yang lalu. komite medis pada kebanyakan rumah sakit di Indonesia belum melaksanakan tugas untuk menjaga kedua komponen utama profesionalisme tenaga medis dengan baik.15. sehingga menimbulkan kecederaan. dokter akan melalui proses rekredensial. dkk. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa proses kredensial belum seperti yang diharapkan karena adanya mispersepsi dari para dokter. clinical privilegenya dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) sebagian atau seluruhnya. kelompok profesi dokter terikat untuk memproteksi masyarakat dengan melakukan penapisan (kredensial) terhadap dokter yang akan menjalankan praktik dalam 144 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. rumah sakit menerbitkan clinical appointment berdasarkan rekomendasi dari mitra bestari. tetapi berperan sebagai bagian proses seleksi karyawan rumah sakit.16 Rumah sakit berkewajiban menjaga kedua komponen utama profesionalisme kedokteran tersebut melalui komite medis. sehingga dokter yang bersangkutan tidak diperkenankan melakukan tindakan medis di rumah sakit tersebut. Rumah sakit berkewajiban melindungi pasien dari dokter yang tidak kompeten dengan menerapkan mekanisme kredensial.. Konsep kredensial rumah sakit model ini (delineation of clinical privileges) diikuti di dunia internasional dalam akreditasi rumah sakit oleh Joint Commission International (JCI). Kedua. Dokter yang memiliki surat tanda registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memang berwenang untuk melakukan tindakan medis di wilayah Indonesia sesuai dengan ijazah spesialisnya yang diterbitkan oleh kolegium.. Studi ini juga menunjukkan bahwa dokter berpendapat bahwa proses kredensial yang ada sekarang belum ideal.

Mispersepsi Sistem Kredensial dan Rekomendasi Masa Depan Tujuan Prosedur Mispersepsi Seleksi karyawan Telaah dokumen aplikasi. kelompok profesi dokter memperoleh hak istimewa (privilege) untuk melakukan praktik kedokteran dengan mekanisme perizinan. Namun demikian. 3 September 2009 145 . dan tes atas dokter pelamar Rekomendasi Keselamatan Pasien Self assessment atas clinical privilege dan approval dari Mitra Bestari White Paper Mitra Bestari Clinical Appointment Standar Pelaksana Tim kredensial Keluaran SK penerimaan karyawan masyarakat. Sebaliknya. Pada awalnya profesi medis Indonesia memang belum mengenal konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial karena pemerintahan Kolonial Belanda tidak memperkenalkan hal tersebut di Hindia Belanda pada masa lampau. bila dokter itu melakukan pelanggaran standar profesi (professional misconduct) maka izin praktik tersebut dapat ditangguhkan (suspension of clinical privilege) agar masyarakat terhindar dari praktisi medis yang tidak profesional. 23 Adanya Pemikiran Dokter yang Sejalan dengan Elemen-Elemen Sistem Kredensial yang Ideal Walaupun ada mispersepsi atas proses kredensial. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol.20. Tiga proses inti kredensial Tabel 3.19 Mereka yang tidak mempunyai izin praktik dilarang melakukan praktik kedokteran dengan ancaman pidana.22 Penerapan konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial saat di Indonesia ini telah dilakukan oleh KKI dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. 21. studi ini juga menunjukkan bahwa harapan para dokter sebenarnya sejalan dengan elemen-elemen sistem kredensial yang direkomendasikan oleh penulis seperti terangkum dalam Tabel 4. Dokter yang telah memiliki izin praktik (clinical privilege) akan menikmati manfaat ekonomis dalam bentuk honorarium dari pasien. 21. 22. 12. wawancara.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Gambar 1. 20 Namun saat ini. Perizinan ini dilaksanakan oleh suatu lembaga yang dibentuk oleh UU (statutory body) yang biasanya disebut sebagai medical council atau medical board. 19 Model kredensial di atas sangat dimungkinkan untuk diterapkan pada berbagai rumah sakit di Indonesia. dasar utama untuk menerapkan model kredensial tersebut telah terdapat di Indonesia karena konsep profesionalisme dengan model kontrak sosial di atas telah mulai diterapkan di dunia kedokteran Indonesia sejak tahun 2004. No.

Focus Group Discussion: A Tool for Health and Medical Research.. 1991. 13. 2008. Jakarta. et al. perbaikan terhadap proses kredensial di rumah sakit sangat memungkinkan dilakukan karena para dokter masih memiliki kebutuhan untuk perbaikan dan telah memiliki pemikiran yang sejalan dengan elemen-elemen proses kredensial yang ideal. Berg BL. Journal of Dental Education. Sistem Kredensial: Harapan dan Bentuk Ideal Mekanisme Kredensial Harapan dokter Kebutuhan monitoring Kebutuhan hubungan baik dengan pihak manajemen Kebutuhan standardisasi aturan dan instrumen Kebutuhan tim ideal Bentuk Ideal Proses rekredensial dan audit medis Clinical Appointment dan Clinical Privilege Clinical Privilege Forms. Illinois. 16.. 3 September 2009 . Understanding Patient Safety. The Way to Patient Safety. Tabel 4. Wong LP. Herkutanto. 110:414-8. Wachter RM. 2005. Luff D. Herkutanto. 9. white paper. 2008. Localio AR. temuan ini menyumbang informasi untuk menyusun strategi pengembangan sistem kredensial di Indonesia. WHO. Lawthers AG. O’Neil PN. Sebagai suatu studi kualitatif. Pediatrics. Edinburgh. George LA. Credential and Clinical Privileges. 1984. 15.. Profil Komite Medis di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerjanya dalam Menjamin Keselamatan Pasien. 2008. 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws). Untuk menguji penerapan model dengan konteks layanan kesehatan di Indonesia. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. dibutuhkan suatu studi eksperimental atau evaluasi lebih lanjut. 2006. Dengan demikian. Qualitative Research Methods for the Social Sciences. USA. KESIMPULAN DAN SARAN Studi ini menunjukkan tiga hal utama yaitu : 1) Proses kredensial dokter di rumah sakit Indonesia sering dicampuradukkan dengan proses penerimaan karyawan. Privileging. No. 12. Keterbatasan Studi Keterbatasan dalam studi ini adalah: 1) Keempat rumah sakit ini berlokasi di ibu kota provinsi yang berada di Pulau Jawa. ME. 12. World Alliance For Patient Safety. Jakarta. Singapore Med J. KEPUSTAKAAN 1. 2004. 2009. 146 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. N Engl J Med. The Patient Doctor Relationship. Tahka V. 8. 1967. Joint Commission Resources. Localio AR. 7. Laird NM. 2003. Lacey A. Medical Staff Appointment and Delineation of Pediatric Privileges in Hospitals. Lawthers AG. 3. Results of the Harvard Medical Practice Study III. Sheffield. Boston. Valenza JA. and Peer Review. Brennan TA. Relation Between Malpractice Claims and Adverse Events Due to Negligence. A Model for Clinical Credentialing of Dental School Faculty. 14. O’Connor. 69:8. Commitee on Hospital Care. White Papers Mitra Bestari 2. Geneva. Barnes BA. Browne K. 4) Sistem kredensial dokter di rumah sakit dengan menggunakan model “delineation of clinical privilege” sangat memungkinkan untuk diterapkan karena berbagai elemen yang diperlukan telah terdapat dalam profesi medis di Indonesia saat ini. Keputusan Menteri Kesehatan Rumah Sakit No.7:324(6)Feb:377-84.49(3):256. et al. Freeling P. 6. Qualitative Research Analysis. Peterson LM. dkk. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.: Hambatan dan Harapan Sistem . Leape LL. 2002. McGraw Hills. dan peer group. dengan keluaran berupa clinical appointment. Trent RDSU. Presentasi pada Kongres Nasional PERSI. 2008. Credentialing. misalnya di rumah sakit kabupaten atau di rumah sakit di luar Pulau Jawa perlu digali. 3) Harapan Dokter selaras dengan model kredensial yang mengarah kepada “delineation of clinical privilege”. 2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Brennan TA. Gambaran proses kredensial di lokasi-lokasi lain. The Nature of Adverse Events in Hospitalized Patients. Forward Programme 2008-2009. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Sydney. Pearson Education. 2(1) Maret: 41-7. E&S Livingstone Ltd. 5. 2) Pada dasarnya dokter memiliki kebutuhan perbaikan sistem kredensial. World Health Organization. Jakarta. ADIS Health Science Press. Hebert LE. 1991. 10. Vol. Results of the Harvard Medical Practice Study II. Laird N. N Engl J Med. 2005. 4. Model ini bertonggak pada proses segitiga kredensial yang terdiri dari clinical privilege.25(Juli):245-51. Competency. 11. The Doctor-Patient Relationship.Herkutanto. The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization.

Joint Commission International. Konsil Kedokteran Indonesia. The Royal College of Physicians. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 3 September 2009 147 . La Trobe University. 2006. Joint Commission International Accreditation Standards for Hospitals. 21. Protecting Patient’s Rights and Safety: A Comparative Study of Recent Regulatory Reforms in Indonesia and Victoria. 23 (2): 229-42. Doctors in Society: Medical Professionalism in a Changing World. Jakarta. 2000. 19. Journal of Bone and Joint Surgery. The Federation Press. Vol. 2007. USA. Freckelton. The Royal College of Physicians.82A:1189. Cruess RL. Jakarta. 18. 2007. 12. 2005. New South Wales. 3rd Edition. Indonesian Health Practitiones Regulation. 22. No. 23. 2004. Master of Laws Thesis. Herkutanto. Special Edition: Regulating Health Practitioners. I. Cruess SR. 20. Johnston SE. 2006.18. Law in Context.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 17. Professionalism and Medicine’s Social Contract. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Melbourne. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di Indonesia. Herkutanto.

by socialization. Bubutan dan Bangkingan (Lakarsantri).9%. the iodine-deficiency disorder have been considered major problem. Initial surveys at Primary School children in East Java reveal the goiter prevalence is high. Kesimpulan: Rekomendasi sebagai berikut promotif. such as social economic factors from the society. the Total Goiter Rate (TGR) 22. daerah endemik sedang (prevalensi gondok 20%-29%) mencapai 5% dan daerah endemik ringan (prevalensi gondok 5%- 148 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Halaman 148 . Koordinasi dan mengevaluasi program. diet konseling. society and health staff factors. medical treatment.. Ada empat masalah gizi kurang di Indonesia yaitu Kurang Energi Protein (KEP). planning. seperti faktor-faktor ekonomi sosial dari masyarakat. angka gondok total (TGR) sebesar 22. kekurangan-kekurangan iodium disorder pengetahuan. Surabaya 2 Dinas Kesehatan Kota Surabaya 1 ABSTRACT Background: Iodine deficiency disorder is one of four malnutrition problems in Indonesia. kuratif dan rehabilitatif strategi. This need to be examined and analysed the implementing programmed after all. preventive. staf Pusat Kesehatan Primer. Perak Utara. low health staff motivation to run the program etc. Keywords: iodine-deficiency disorder problem. perawatan medis. Provide overall health services for iodine-deficiency disorder problems. Kedung Cowek ( Bulak).Cantikan). Kedung Cowek (Bulak). actuating dan koordinasi di Pusat Kesehatan Primer (Puskesmas) harus diambil segera. as well as health staffs. advokasi asin yodium dan pengetahuan tentang penyakit gondok untuk departemen lintas sektoral terkait. perencanaan. Ini perlu diteliti dan dianalisis oleh pelaksana setelah semua diprogram. Studi baru-baru ini di Kota Surabaya. 03 September 2009 Oktarina.9%. Result: The result show many faktor. 12. serta staf kesehatan. yang dilakukan sebuah sectionally silang dilakukan dari Mei sampai dengan Juli tahun 2005. higher than normative value (less than 5%). Tambak Oso Wliangun. Sidotopo Wetan. Tambak Wedi (Kenjeran). The study was conducted to examine the effect of iodine-deficiency disorder in 7 district area at 10 villages in Surabaya. preventif. Survei awal di Sekolah Dasar di Jawa Timur mengungkapkan prevalensi gondok yang tinggi. done cross sectionally a carried out from Mei to July 2005. dengan sosialisasi.1 Masalah gizi masyarakat ini masih merupakan prioritas untuk ditanggulangi. Primary Health Center staff. Cantikan). dkk. lebih tinggi dari nilai normatif (kurang dari 5%) karena Surabaya dianggap sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Tambak Oso Wliangun. rendah motivasi staf kesehatan untuk menjalankan program menengah dan jangka pendek dari program-kekurangan iodium. No. perencanaan pengelolaan terpadu. Method: The purpose of this study was a descriptive type. actuating and coordination at the Primary Health Center (Puskesmas) should be taken soon. The middle term and short programme of iodine-deficiency.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Sidotopo Wetan. and Bangkingan (Lakarsantri). daerah endemik berat (prevalensi gondok >30%) mencapai 7% di seluruh kecamatan. Dwi Astuti Soekisno Putri2 Pusat Penelitian Pengembangan Sistem Dan Kebijakan Kesehatan. Nyamplungan (P. Since Surabaya is regarded as the second largest city after Jakarta. Hasil: Hasil menunjukkan banyak faktor. Manyar Sabrangan (Mulyorejo). Kajian ini dilakukan untuk memeriksa efek dari gangguan kekurangan yodium di 7 daerah kabupaten di 10 desa di Surabaya.93% of severely iodine-deficiency villages.155 Artikel Penelitian UPAYA MENINGKATAN PENANGGULANGAN GAKI PADA ANAK SEKOLAH DI DAERAH GONDOK ENDEMIK BERAT DI KOTA SURABAYA EFFORT TO ASSET IODINE DEFICIENCY DISORDER AT PRIMARY SCHOOL CHILDREN AT SURABAYA CITY Oktarina1. gangguan kekurangan iodium PENGANTAR Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah utama kesehatan dan gizi di Indonesia. dan GAKI. Perak Utara. Tambak Wedi (Kenjeran). curative and rehabilitative strategy. Romokalisari (Benowo). Kekurangan Vitamin A (KVA). Anemia. improve the quality and professionalism in managing the iodine-deficiency disorder problem especially in Primary Health Center in Surabaya City. integrated management planning. Metode: Tujuan penelitian ini adalah jenis deskriptif. organizing and actualization. Conclusion: The recommendation as follow promotive. 3 September 2009 . pengelolaan dan pengendalian ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan iodium disorder adalah salah satu dari empat masalah gizi buruk di Indonesia. pengorganisasian dan aktualisasi. Coordinating and evaluating the programme. kesadaran gizi dan makanan daerah. the society in severely iodinedeficiency. pengorganisasian.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . diet counseling. management and control telah dianggap sebagai masalah besar. Vol. meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam mengelola kekurangan iodiummasalah gangguan terutama di Pusat Kesehatan Primer di Kota Surabaya. Romokalisari (Benowo). organizing. the lack of iodine-deficiencies discrder knowledge. Nyamplungan (P. nutrition and food awareness area. memiliki berat 16. has 16. Di Indonesia. advocation salty iodine and knowledge of goiter disease to related cross sectoral department.93% dari kekurangan iodium-desa.. masyarakat dalam kekurangan iodium parah. staf kesehatan masyarakat dan faktor-faktor. The recent study at Surabaya City. Kata kunci: defisiensi iodium-masalah gangguan. Memberikan pelayanan kesehatan secara keseluruhan kelainan kekurangan iodium-masalah. Bubutan. Manyar Sabrangan (Mulyorejo).

memacu proses metabolisme otak.0) 27 (37.4) 44 (100) 46 (63. Untuk mendapatkan jaminan bahwa mutu produk garam beriodium selalu memenuhi persyaratan perlu dilakukan pemantauan secara berkala baik terhadap kandungan iodium dalam garam maupun pelaksanaan pengolahan garam beriodium. pelatihan. Pada Tabel 1 prestasi belajar responden yang menderita gondok dengan prestasi belajar yang tidak baik sebanyak 28 orang (63. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) mengakibatkan gangguan sintesa hormone thyroid yang mempengaruhi metabolisme/sekresi hormone thyroid yaitu L-thyroxine (T4) dan 3. No. dengan jalan memberikan lebih banyak pengetahuan berupa penyuluhan yang lebih intensif dan terarah kepada sasaran.51%). jantung.1%). diserap kelenjar gondok dan diubah menjadi hormon T4. pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis program penanggulangan GAKI anak sekolah dalam peningkatkan upaya penanggulangan GAKI anak sekolah di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya. L-thyroxine (T4) dan 3.6 Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri Bubutan XII terdapat perbedaan yang cukup bermakna pada prestasi belajar anak yang menderita gondok dan tidak gondok7.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 19. Distribusi Prestasi Belajar Responden yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Sekolah Dasar Negeri Bubutan X dan Sekolah Dasar Negeri XII.3-triodothyronine (T3). serta meningkatkan sistem pengawasannya. 12. sedangkan yang tidak gondok dengan prestasi belajar tidak baik sebanyak 18 orang (62. Tabel 1. sehingga diharapkan prevalensi gondok menurun menjadi di bawah 5% di tahun 2010.39%). imbalan. Sebanyak 5 (4%) negara masuk kategori berlebihan iodium yang berisiko iodium induced hyperthyroidism (IIH) dan bahaya gangguan kesehatan lainnya. dan kelurahan dengan endemik ringan terdapat pada 25 kelurahan (40.9%) mencapai 21%. Iodium adalah zat gizi (micronutrient yang dibutuhkan tubuh manusia. Vol. paramedis) yang meliputi pendidikan. laktasi atau karena pengaruh zat goitrogenik. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) terjadi pada daerah atau lingkungan yang kekurangan iodium yaitu bila kondisi tanah dan sumber air minum di wilayah tersebut kekurangan iodium. biaya.5 Hasil survei gondok pada anak sekolah di Kota Surabaya yang dilaksanakan mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 semakin menunjukkan peningkatan prevalensi Total Goiter Rate (TGR) sampai 16. hati. kelurahan dengan endemik sedang terdapat pada 18 kelurahan (29.3 Data status iodium global yang dikumpulkan oleh WHO dari 126 negara menunjukkan bahwa 54 (43%) negara masuk kategori kekurangan iodium. motivasi.6) 16 (36. Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor provider (pelaksana gizi.9) 29 (100) Gondok n (%) Total n (%) 28 (63. upaya jangka menengah berupa pemakaian garam beriodium (fortifikasi) dan upaya jangka panjang dengan meningkatkan konsumsi makanan beriodium dan menghindari bahan goitrogenik. Dari 163 kelurahan di seluruh Kota Surabaya yang di survei didapat kelurahan dengan endemik berat sebanyak 10 kelurahan (16. 3 September 2009 149 .5. kehamilan.65%.3-triodothyronine (T3) berfungsi memacu proses pertumbuhan sampai dewasa (20 tahun). Iodium dalam garam Indonesia menurun sebesar 20% dalam wadah tertutup Low Density Poly Ethylene (LDPE) pada kelembaban relatif 60% dan suhu 400C setelah satu tahun. bidan/ palpator.6%). Tahun 2003 Perstasi Belajar Tidak baik (ratarata nilai < 7 ) Baik (rata-rata nilai >7 ) Total Tidak Gondok n (%) 18 (62. perilaku mereka terhadap garam beriodium yang merupakan faktor potensial penyebab timbulnya penyakit gondok pada anak sekolah. sikap. keterampilan. yang terdapat dalam makanan atau minuman dengan kadar minimal 100-150 mikrogram/hari. dan kepala Puskesmas atau dokter Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.6 Upaya menurunkan prevalensi gondok adalah dengan intensifikasi penanggulangan GAKI berupa jangka pendek dengan pemberian kapsul iodium. ginjal dan organ reproduksi.2 Gondok (simple goiter) dapat disebabkan karena kekurangan iodium atau karena sebab lain yaitu bertambahnya kebutuhan iodium pada masa pertumbuhan.1) 11 (37.5.96%).4 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iodium sebagai kalium iodat yang ditambahkan dalam garam kandungan tidak stabil. otot.0) 73 (100) Untuk menurunkan angka prevalensi gondok endemik anak sekolah di Kota Surabaya menjadi kurang dari 5% perlu analisis program penanggulangan GAKI yang telah dilaksanakan pemerintah terutama yang berkaitan dengan manajemen tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam peningkatan pengetahuan.

11%. Sidotopo Wetan dan Kenjeran. pelaksana. Populasi sampel pada tujuh Puskesmas di Kota Surabaya dengan kriteria daerah gondok endemik berat. serta implementasi Program GAKI di sekolah atau keterlibatan petugas kesehatan di sekolah (riwayat mendapat kapsul beriodium dari petugas kesehatan) yang menjadi penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah di Kota Surabaya. Semeni (Benowo). Dapat dilihat bila posisi kepala tengadah Mudah dilihat. III/ Jumlah diperiksa x 100% Prevalensi (TGR) = 0 – 4 % : Tidak endemik 5 – 19 % : Endemik ringan 20 – 29% : Endemik sedang > 30% : Endemik berat 150 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 3 September 2009 . Sampel penelitian terdiri dari petugas kesehatan 21 orang.. III/ Jumlah yang diperiksa x 100% Visible Goiter Rate = 1b. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Tahun 2002 dilakukan survei palpasi gondok di Sekolah Dasar dengan hasil pada Tabel 3 daerah nonendemik sebesar 13. dan orang tua (ibu) dengan penghasilannya.34% berasal dari 24 kelurahan dari 18 kecamatan di Kota Surabaya. Puskesmas sebagai perencana. Derajat Grade 0 Grade 1a Grade 1b Grade II Grade III Grade IV Tabel 2.94% (jumlah anak yang diperiksa 10. 1b. Vol. Gundih (Bubutan). dkk.267 anak). Terlihat dari jarak jauh Tertentu. dan Paramedis. Mulyorejo. Faktor masyarakat yaitu anak Sekolah Dasar atau Madrasyah Ibtidaiyah kelas V dan kelas VI dengan status gizi anak. kepala posisi biasa. Pengawas dan Pengendalian Program GAKI. bila teraba Tidak ada pembesaran besarnya normal Tidak terlihat Teraba struma/ tidak lebih besar dari kelenjar thyroid nomal. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Prevalensi Gondok di Daerah Gondok Endemik Berat Di Kota Surabaya sudah dilaksanakan Program Penanggulangan GAKI sejak mulai Program Pembangunan Jangka Panjang I sampai Program Pembangunan Jangka Panjang II dan sampai sekarang. Pelaksana Gizi.Oktarina. 12. Pembesaran: 2-4 kali lebih besar normal. yaitu Puskesmas Lidah Kulon (Lakarsantri). Teraba struma Tidak terlihat jelas (umumnya). Pengambilan sampel secara multistage random sampling.II. dengan rata-rata TGR sebesar 10. Tetapi pada survei gondok yang dilaksanakan tahun 2002. (> 6m). penilai. pemberian uang jajan. perilaku (kebiasaan sarapan pagi). ternyata prevalensi GAKI masih cukup tinggi yaitu mencapai 16.93%.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . Struma yang amat besar (monstrous) Keterangan Ukuran normal sebesar ruas pertama ibu jari Total Goiter Rate = 1a. berasal dari 8 kelurahan dari 5 kecamatan di Kota Surabaya.37% (jumlah anak yang diperiksa 3803 anak). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan pengamatan dokumen. Sampel ketiga orang tua (ibu) yang berasal dari anaknya yang menderita gondok derajat 1a atau 1b 100 orang dan 100 orang ibu dari anaknya yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat. Waktu pelaksanaan penelitian bulan Mei sampai dengan Juli 2005. rata-rata TGR sebesar 12. II.baru. Sampel kedua adalah anak Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dari kelas V dan kelas VI sebanyak 100 orang yang menderita gondok derajat 1a atau 1b dan 100 orang anak sekolah yang tidak gondok yang berada di 10 kelurahan yang merupakan daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya.. Pemeriksaan kelenjar gondok yang dilakukan di sekolah dengan cara inspeksi dan palpasi/perabaan dan didasarkan atas klasifikasi sebagai berikut (Tabel 2). yang masing-masing Puskesmas diambil tiga orang yaitu Kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas. No. Pada daerah endemik ringan sebesar 39. Klasifikasi Gondok Inspeksi Palpasi Tidak teraba.

dan 2 Puskesmas kurang baik. sarana prasarana yang ada di Puskesmas.68%).44% (lebih besar rata-rata daerah gondok endemik berat di Jawa Timur).93 16.1 Kecamatan Manunggal Tandes Jambangan Krembangan Tambak Sari Total Daerah Endemik Ringan 39. sehingga untuk meningkatkan kualitas penyuluhan.37 Jumlah Anak Diperiksa 164 288 223 629 381 937 701 480 3803 Jumlah Anak Sekolah 748 711 301 251 203 334 237 623 536 498 373 393 341 387 301 221 492 361 231 548 664 244 417 852 1027 5.43%. yang berarti bahwa hampir separuh dari populasi anak sekolah di Kota Surabaya telah mengalami kekurangan iodium.64 8.50% berasal dari 18 kelurahan dari 15 kecamatan.91 19. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa daerah endemik sedang dan berat di wilayah Kota Surabaya kumulatif telah mencapai 46.34% Tenggilis Mejoyo Wonocolo Tegal Sari Semampir Kutosari Siwalan Kerto Keputran Wonorejo Ampel Wonokromo Ujung Runggut Menanggal W.96 X: 12. terutama ketiadaan food model (42.93% berasal dari 10 kelurahan dari 7 kecamatan. Faktor Provider Faktor yang menentukan petugas/provider untuk melaksanakan suatu tindakan dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan.77 6.95 14.64%) dan protap diet dan leaflet tentang GAKI (14.Gunung Bringin Sambikerep Mr. No. melengkapi prosedur tetap (protap) diet yang lengkap. 12. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah Dasar di Kota Surabaya Daerah Non-endemik dan Endemik Ringan Tahun 2002 Daerah Non-endemik 13. 3 Puskesmas cukup. ada 2 Puskesmas yang baik. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.24 17.33 9. bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak negatif yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. pojok gizi (28.8 Pengetahuan 1.47% (jumlah anak yang diperiksa 7364 anak) dan daerah endemik berat sebesar 16. rata-rata TGR sebesar 24.88 11.5 13.16 17.67 19.96 12.2 6.08 5.88 19.52%).57 14.78 3 4. meningkatkan sarana prasarana (food model dan iodine test). 3 September 2009 151 .94 Gunung Anyar Karang Pilang Sambikerep Krembangan Jambangan Simokerto Pakal Wonokromo Wiyung Gubeng Sawahan Asem Rowo Tambak Sari Kenjeran Total Tabel 4 daerah endemik sedang di Kota Surabaya sebanyak 29.59 X: 10. leaflet dan konseling garam beriodium.7 10.95 15.3 Dari hasil penelitian. dianjurkan memaksimalkan pelayanan pojok gizi di Puskesmas.81 7. terutama generasi muda dan akhirnya dapat mengganggu proses pembangunan kesehatan di Kota Surabaya. Petugas/provider akan lebih mudah berkomunikasi bila memiliki pengetahuan yang cukup dan baik.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 3.Krembangan Jambangan Sidodadi Pakal Wonokromo Ngagel Rejo Jajar Tunggal Airlangga Kupang Krajan Pakis Greges Tambak Sari Tanah Kali Kedinding Kelurahan Kwijenan Manunggal Buntaran Balong Sari Tubanan Margorejo Kemayoran Pacar Kembang TGR (%) 0 0 0 0 0 2.66%). Sarana prasarana Program GAKI di Puskesmas kurang (28. Vol. dengan rata-rata TGR sebesar 38.21 12.9 9.44 13.89 19.

Oso Wilangon Romo Kalisari Sido Topo Wetan Tambak Wedi Manyar Sabrangan Kedung cowek Perak Utara Nyamplungan Bubutan Bangkingan Kelurahan Menaggal Rungkut Kidul Penjar Sari Embong Kaliasin Kapasari Medokan S Gebang Putih Sutorejo Gading Tegal Sari Barata Jaya Sawung Galing Jepara Komplek.50% Kecamatan Gayungan Rungkut Genteng Sukolilo Mulyorejo Tambak Sari Tegal Sari Gubeng Wonokromo Bubutan Bulak Dukuh Paris Simokerto Pakal Asem Rowo Total Daerah Endemik Berat 16. Vol.72%).27%).62 25.33 28.. Tahun 2002 Daerah Endemik Sedang: 29. pengetahuan yang benar tentang perlakuan terhadap garam atau makanan beriodium kurang (85. 3 September 2009 .93% Benowo Kenjeran Mulyorejo Bulak P. Untuk meningkatkan motivasi petugas kesehatan sangat diperlukan komitmen pimpinan dalam memecahkan masalah yang ada di Puskesmas.02 22. Kenjeran Gunung Sari Simokerto Sumber Rejo Asem Rowo TGR (%) 20. serta sebagian besar (57. ternyata sebagian besar (78. Pengalaman tidak mudah untuk menghindari inter-observer variation pada palpasi khususnya pada pembesaran kelenjar tiroid yang hanya teraba.14%) merasa pimpinan mereka belum pernah memberikan penghargaan bila mereka berprestasi.58%).95 23. kegiatan mini lokakarya membicarakan GAKI dengan lintas sektor tidak dilaksanakan (50%). Pada penelitian ini ditemukan masih ada kerja sama yang kurang baik yaitu (21.Oktarina.44 petugas kesehatan tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan masih kurang baik sebanyak (57. Kurangnya koordinasi lintas program (42.02 33. dkk.29 25 25.93 21.89 32.84 35. Pembesaran kelenjar tiroid pada anak usia sekolah menandakan masih adanya kasus baru kekurangan iodium di suatu masyarakat. melalui minilokakarya dan pembentukan tim yang baik.95 21. Selain itu. jadi belum sampai terlihat (visible).10 Kerja sama.9 Pada kegiatan minilokakarya membicarakan GAKI jarang dilaksanakan (28. Tabel 4.3 X: 38. Hasil Survei Palpasi Gondok Anak Sekolah di Kota Surabaya Daerah Endemik Sedang dan Endemik Berat.34 40.42%).29%).94 27. No.57%) petugas membutuhkan pelatihan palpasi gondok anak sekolah yang lebih intensif dan (42. Dalam survei pembesaran kelenjar tiroid (gondok).3 25. sedangkan pengetahuan tentang prevalensi GAKI di wilayahnya masih kurang (64.76 24. 12.68 26.59 25. dan 50% petugas belum mengikuti pelatihan..1 42.86%) petugas/ 152 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.44 X: 24.11 Berdasarkan wawancara dengan petugas. Kendala yang ditemukan dengan melakukan palpasi pada anak sekolah adalah hampir semua pembesaran kelenjar tiroid yang terdeteksi pada anak sekolah hanya berukuran teraba (palpable). pengetahuan distribusi kapsul iodium pada ibu hamil kurang (14.62%).35 21.95 26.34 57.42%). padahal dalam pencapaian tujuan organisasi sangat dibutuhkan kerja tim yang baik.47 Jumlah Anak Sekolah 164 288 251 223 301 629 480 381 937 701 3803 748 711 203 623 536 334 498 7364 Jumlah Anak Sekolah 234 160 698 698 253 263 245 177 151 225 3176 30.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY .89 31. World Health Organization (WHO) merekomendasi agar dilakukan palpasi pada anak sekolah.14%). Cantikan Bubutan Lakarsantri Total T.12 23.01 31.73 24.37 48. beban kerja dan pemenuhan kebutuhan yang optimal ini dapat mempengaruhi tingkat motivasi petugas/ provider dalam melaksanakan pekerjaannya. masih ada sebagian petugas/provider yang merasa pekerjaannya kurang sesuai (21.

57%) pelaksanaan Program GAKI dengan nilai cukup. pengawasan dan pengendalian Program GAKI di Puskesmas masih kurang (57. distribusi kapsul iodium. rencana kerja tahunan (57.5%). Penghasilan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 >Rp900. Pemberdayaan sumber daya manusia di tingkat Puskesmas sangat penting artinya untuk kualitas keberhasilan (efektivitas) suatu program Puskesmas. pelatihan dan supervisi program dan penilaian kinerja. Pada pemberdayaan karyawan ada 1 Puskesmas (14. ada kejelasan target. Anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b juga mendapat uang jajan yang diterima kurang dari seribu rupiah (67.66%).68%) serta hanya 1 Puskesmas (14. Cakupan distribusi kapsul iodium kepada anak sekolah juga lebih banyak (14. Penilaian.00 (32. 3 September 2009 153 . Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi yang akan datang dan kondisi saat perencanaan dibuat. pemberi penyuluhan dan siapa yang melakukan pendataan/palpasi gondok anak sekolah.42%) tidak mempunyai rencana kerja tahunan Program GAKI antara lain dalam penyediaan data khusus sasaran distribusi kapsul iodium. Tetapi kebanyakan ibu dari daerah gondok endemik berat masih berpendidikan rendah/ tamat SD/MI (45.0%).000.12 2.28%) dengan nilai baik (>75%) dan ada 2 Puskesmas (28. sehingga dapat menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan sosial ekonomi/ pendapatan keluarga. Untuk meningkatkan pelayanan Program GAKI.0%). Pelaksanaan Program GAKI yang baik di butuhkan pembagian tugas yang jelas siapa pemberi palayanan. Orangtua (Ibu) Pendidikan orang tua (ibu) dari anak sekolah dengan gondok derajat 1 berpendidikan SD dan tidak tamat SD/MI (36. No.8 Pada pelaksanaan Program GAKI ada 1 Puskesmas (14.5%) kepada anak sekolah nongondok dan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tidak mendapat kapsul iodium (9%).52%) cukup dan ada 1 Puskesmas (14.5%). nilai cukup ada 2 Puskesmas (28.0%). motivasi dan kepuasan kerja karyawan adalah melalui kompensasi atau imbalan. Puskesmas sebaiknya melaksanakan kegiatan pemberdayaan karyawan yang meliputi pendelegasian wewenang Program Penanggulangan GAKI. baik dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun dari Kepala Puskesmas (57.52%) 1 Puskesmas.86%) dengan nilai baik dan yang mendapat nilai cukup ada 3 Puskesmas (42.5%). bidan dan paramedis untuk memaksimalkan cakupan kegiatan Program GAKI yang dampaknya dapat menurunkan prevalensi GAKI di wilayah kerja Puskesmas. dan anak sekolah non gondok dengan bentuk tubuh normal (46.0%). Sehingga perlu dicermati beberapa alasan anak sekolah tidak mau kapsul iodium (muntah). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Perencanaan Program GAKI sebagian besar 5 Puskesmas (71. pembinaan terhadap pelaksana gizi. Orang tua (ibu) dari anak sekolah non gondok lebih banyak bekerja (25. Pengetahuan tentang GAKI yang diperoleh dari petugas kesehatan kurang (45. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dana yang diterima tidak sesuai dengan dana yang dibutuhkan. dan orang tua (ibu) dari anak dengan gondok derajat 1a dan 1b sebagian besar (48. Pada penilaian.0%) untuk pendataan. Biaya atau dana yang dialokasikan untuk Program GAKI tidak cukup atau kurang (55. sebanyak (39. Vol. sehingga perlu kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pertemuan dengan guru sekolah secara rutin.5%) tidak mengetahui perlakuan terhadap garam/ makanan yang dapat mengurangi kadar iodium. ada pembinaan.14%) terutama pada umpan balik.12%) dan microplanning (42.52%) baik perencanaan programnya.0%) ibu dari anak dengan gondok derajat 1a dan1b tidak mengetahui akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak.14%). pengawasan dan pengendalian Program GAKI ada 3 Puskesmas (42. Perencanaan dalam organisasi sangat penting karena dapat menunjang keberhasilan program.0%) dibandingkan dengan pengetahuan anak sekolah non gondok (44. Salah satu cara manajemen untuk meningkatkan perstasi kerja. kegiatan penilaian. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang GAKI adalah melalui guru sekolah masing-masing. a. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium.14%) dengan nilai kurang.36%) dan nilai kurang ada 4 Puskesmas (57. sasaran palpasi gondok anak sekolah. Faktor Masyarakat Anak Sekolah Untuk status gizi anak sekolah dengan gondok derajat 1a dan 1b yang bertubuh kurus (42. pengawasan dan pengendalian yang baik memerlukan pelaporan yang lengkap dan rutin. b.0%) dan tidak pernah sarapan pagi (25.0%). Pengetahuan anak sekolah dengan gondok derajat 1 tentang garam beriodium juga kurang (24. penyediaan data prevalensi GAKI (42. 12.5%).14%).50%) yang mempunyai nilai baik (>15).68%).62%) dan yang nilai kurang (14.12 Biaya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan program. jadwal penyuluhan dan peta endemis gondok (28.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan provider yang tidak menerima imbalan. serta ada 4 Puskesmas (57.

Makalah Rapat Kerja Bupati/Walikota dalam Rangka Desentralisasi Pelaksanaan Wajar Diknas 9 Tahun. pelaksanaan. perbaikan metoda dan media penyuluhan pada sasaran. 2. keluarga dan lingkungan. berupaya untuk meningkatkan gizi keluarga secara mandiri dan terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak. Jakarta. pengawasan dan pengendalian). pengobatan medis. pengawasan dan pengendalian Program Penanggulangan GAKI yang lebih efektif dan efisien dengan membentuk team learning (team base) di Puskesmas. dkk. 12. pelaksanaan. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas dan di luar Puskesmas secara aktif dengan meningkatkan keterpaduan lintas sektor dan lintas program serta memberikan pelayanan yang professional (dokter. De Benoist. memberika. pelaksana gizi. protap diet. palpasi gondok anak sekolah. kurang terlibatnya petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat. palpasi gondok anak sekolah. Population Reverence Bureau. palpasi gondok anak sekolah dan monitoring garam beriodium. mengupayakan adanya imbalan bagi petugas/ provider baik finansial maupun nonfinansial untuk meningkatkan hasil kerja (produktivitas). pelaksanaan kegiatan. Strategi kuratif dan rehabilitatif yaitu meningkatkan status gizi individu. sosial ekonomi yang rendah. 2002. pelaksana gizi. serta perlu diadakan kerja sama dengan Akademi Gizi Surabaya dalam rangka pelatihan. Dirjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. 3. kegiatan pendukung lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan koordinasi lintas program dalam manajemen penanggulangan GAKI yang mencakup perencanaan. pengetahuan yang kurang tentang akibat kekurangan iodium pada kecerdasan anak sekolah. minilokarya. konseling garam beriodium. Selain itu. Current global Iodine Status and Progress over the Last Decade towards the 154 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Anderson MB. imbalan. Pendidikan yang rendah dari masyarakat.Oktarina. pemberdayaan karyawan yang masih kurang. keluarga dan masyarakat agar sadar bahwa berkepanjangan dan menimbulkan efek misalnya menurunnya kecerdasan pada anak. keterampilan dan komitmen seluruh petugas kesehatan dalam penyusunan rencana kerja (POA). pendistribusian kapsul iodium. penilaian. manajemen program penaggulangan GAKI yang masih kurang baik (perencanaan. paramedis yang sudah terlatih). penilaian. Tinker A. penyediaan peta prevalensi gondok. Akademi Gizi. pelayanan kesehatan kepada individu. Perlunya peningkatan kualitas petugas/provider dengan memberi kesempatan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi atau mengikutsertakan dalam pelatihan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan. Memberikan pelayanan kesehatan untuk masalah KEP dan GAKI secara menyeluruh yang meliputi konseling diet. keluarga dan masyarakat dengan menurunkan prevalensi GAKI.. Masalah GAKI dan Upaya Penanggulangannya. Healthymothers and Healthy New Borns: The Vital Links. Takkouche I. Egli HE. Allen and B. E Ransom. 2002 4. Save The Children. Soegianto B. leaflet) di Puskesmas.. mengenal kelainan akibat gondok sejak dini.: Upaya Meningkatan Penanggulangan GAKY . pojok gizi. kurangnya dana yang dibutuhkan untuk distibusi kapsul iodium. petugas tidak mengikuti pelatihan tentang GAKI. serta menyesuaikan beban kerja petugas/provider sesuai kemampuannya agar dapat meningkatkan motivasi petugas/provider. Surabaya. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Secara umum penyebab tingginya prevalensi GAKI anak sekolah didaerah gondok endemik berat adalah kurangnya sarana prasarana (food model dan iodina test. perilaku masyarakat dalam pengertian bagaimana perlakuan yang benar terhadap garam beriodium 85. bidan dan paramedis mengenai program penanggulangan GAKI. Vol. 1999. pengetahuan petugas tentang Program GAKI yang sedang dilaksanakan. motivasi. gangguan pertumbuhan dan gangguan kesuburan. penanganan masalah GAKI secara terpadu dengan pembentukan tim leaning di Puskesmas dan meningkatkan cara kerja tim (Team Work). meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memberikan informasi lebih luas tentang GAKI kepada masyarakat dan sekolah serta upaya penanggulangannya. Upaya promotif dan preventif yaitu sosialisasi dan advokasi (penyuluhan) Program Penanggulangan GAKI yang lebih luas kepada masyarakat dengan diseminasi informasi kepada seluruh jajaran kesehatan dan tokoh masyarakat. Saran Bagi Dinas Kesehatan perlu disusun upaya peningkatan penanggulangan GAKI di daerah gondok endemik berat di Kota Surabaya berupa upaya jangka pendek dengan meningkatkan pengetahuan. No. 3 September 2009 . perlakuan terhadap makanan/ garam beriodium yang salah. KEPUSTAKAAN 1.72%.

2001.1:10-12. Indikator Total Goiter Rate (TGR) Anak Sekolah Sebagai Dasar Kebijakan Program GAKI di Indonesia.2008. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. 1997. 43(01): 22-. Simamora H. 2003. Muhilal. Jurnal GAKI Indonesia. Sunarno RW. Aspen Publiser Inc. IDD Newsletter. Wisnu C.5:1-2: 28-34 12. 3 September 2009 155 . 33-40. 2002. 12. Dolinsky A. Elimination of Iodine Deficiency. No. Manajemen. Penentuan Kadar Spesi Iodium dalam Garam Beriodium yang Beredar di Pasar dan Bahan Makanan Selama Pemasakan dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja TinggiPasangan Ion. 11. Handoko TH. 2006. Akademi Gizi. Team Learning. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2006. 9. Supriyanto. Surabaya. Atmarita. Bagian Penerbitan STIE YKPN.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan 5. 6. 10. Yogyakarta. Kartono D. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta. Vol.8. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Health Care Manage Rev. Semarang. 22 (2). Media Medika Indonesiana. Munfarida S. 7. BPPE. Surabaya. 8. Elderly Patients Satisfaction with the Our Come of Their Health Care Complaints. Standard Pelayanan Minimal Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 2000. Journal Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Perbedaan Prestasi Belajar Anak yang Menderita Gondok dan Tidak Gondok di Daerah Endemik Berat.

: Analisis Penetapan Pasar Sasaran . Sukri Palutturi1. segmen pasar yang terbentuk. 03 September 2009 Asiah Hamzah. Vol.74%). dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. 4) semakin sempit scope pasar yang dilayani. Kemampuan dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris Makassar (bangunan. sistem informasi. 12. segmen II sebanyak 25 orang (21.09%). Kesimpulan: Berdasarkan daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris Makassar. mendorong manajemen Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk merancang strategi bisnis yang dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pasar sasaran rumah sakit berdasarkan karakteristik masyarakat pengguna. Petrus Romeo² 1 Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Hasil: Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Results: The result shows that based on customers’ characteristics. there were three market segments namely segment I consisting of 30 people (26. hospital marketing satu alternatif yang tepat karena rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya yang lebih efisien 2) dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif). Strategi pemasaran bersasaran merupakan salah PENGANTAR Dewasa ini paradigma jasa pelayanan rumah sakit telah mengalami perubahan mendasar dari suatu sistem yang berpijak pada dasar kemanusiaan menjadi sebuah lembaga usaha yang mempunyai misi sosial. and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. Kata Kunci: pasar sasaran. ditetapkan sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar tahun 2008. and labeled as health care maximize.17%). dkk.1 Perubahan ini menempatkan rumah sakit pada posisi kontradiktif. jenis pelayanan. Conclusions: Viewed from the segment interest and the profile of Stella Maris Hospital in Makassar. and 5) progressively understand the hospital to its market behavior.161 Artikel Penelitian ANALISIS PENETAPAN PASAR SASARAN RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR TAHUN 2008 ANALYSIS OF DETERMINING TARGET MARKET OF STELLA MARIS HOSPITAL IN MAKASSAR 2008 Asiah Hamzah1. Objectives: The aim of this research is to find out the hospital market segment based on: the consumer characteristics.. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 115 pasien/keluarga pasien yang menggunakan jasa layanan kesehatan rawat inap di Rumah Sakit Stella Maris Makassar sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei tahun 2008. the number of closest competitors. Strategy of target marketing is one of the accurate alternatives because hospital will get some benefit namely: 1) more efficient resource allocation 2) can chosen the more interesting target. 2008. substitution attendance. Based on the interest of market segment. No. geographical accessibility.09%).JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 3) lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. segmentation.74%). Universitas Hasanuddin. Halaman 156 . maka segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. pada satu sisi rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik dalam memenuhi fungsi sosialnya. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing adalah: segmen I sebanyak 30 orang (26. The data were obtained by survey and questionnaire to 115 patients or patients’ family in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar from April 15 to May 15.17%). 3 September 2009 . serta sarana dan fasilitas) cukup menunjang pelaksanaan strategi pemasaran bersasaran. manajemen organisasi. Makassar 2 Alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Pascasarjana Universitas Hasanuddin. market compartment. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar and labeled as health care maximize. and segment III consisting of 60 people (52.. pemasaran rumah sakit ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya kompetisi kualitas dalam pelayanan kesehatan rumah sakit. Based on the profile of Stella Maris Hospital in Makassar which is viewed from potential market size. Makassar ABSTRACT Backgrounds: The increasing of quality competition in service of hospital health. SDM. dan 5) semakin paham rumah sakit terhadap perilaku pasarnya. Methods: The research was carried out in the inpatient unit of Stella Maris Hospital in Makassar. driving management of Stella Maris Hospital in Makassar to design business strategy which can be cost effective and improve the earnings. 3) more comprehending of requirement and market desire 4) progressively narrow the scope market served. segmentasi. alat dan teknologi kesehatan. keuangan. dan pada sisi lain rumah sakit harus dikelola dengan menerapkan prinsip bisnis modern guna mendapatkan keuntungan bagi keberlanjutan 156 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. the interest of market segment. segment III is determined as the target market by Stella Maris Hospital in Makassar. segment II consisting of 25 people (21. and relationship between segment with partner companies or insurance. Keywords: target market. Darmawansyah1. segment III which labeled as health care maximize is determined as the target market of Stella Maris Hospital in Makassar in 2008.

geografis. 3) rumah sakit lebih memahami kebutuhan dan keinginan pasar. Jumlah sampel yang berhasil dijaring sesuai kriteria tersebut adalah sebanyak 115 responden.4 Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit milik yayasan keagamaan yang ada di Kota Makassar. dan persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 40 . maka rumah sakit akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu: 1) alokasi sumber daya lebih efisien. diikuti tingkat pendidikan SD (25. 2) sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang kesehatan secara umum. Data sekunder dikumpulkan dari laporan dan dokumen rumah sakit. Sebagian besar responden (59. 2) rumah sakit dapat memilih sasaran yang lebih menarik (atraktif).55 tahun dan di atas 55 tahun masing-masing sebanyak 15. Sebagaimana yang terjadi pada rumah sakit swasta milik lembaga keagamaan dan kemanusiaan lainnya di Indonesia.1%) berjenis kelamin perempuan dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 40. 3 September 2009 157 . No. 4) memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya. dan mengembangkan produk serta program pemasaran yang dirancang khusus bagi masing-masing segmen.5%). perilaku. Oleh karena itu. rumah sakit perlu melakukan strategi pemasaran bersasaran yaitu rumah sakit mengidentifikasi segmen-segmen pasar utama. Data dimaksud di antaranya adalah profil rumah sakit. Data primer dikumpulkan melalui teknik penyebaran kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik demografis. psikografis. serta instansi yang terkait dengan penelitian ini.9%. Tingkat pendidikan responden. dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan dari sejumlah 1. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Penentuan unit sampel menggunakan metode nonprobability sampling dengan pertimbangan bahwa pasien rawat inap mudah dijumpai dan memiliki cukup waktu untuk mengisi daftar pertanyaan. dan kebutuhan. sebagian besar (39. SLTP (13. 3) lebih menghendaki mutu pelayanan jasa medis.2%). jumlah penduduk.7% dan 9. Vol.5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun yaitu sejumlah 33 orang (28. Populasi penelitian adalah semua konsumen pengguna layanan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Hingga saat ini belum ada informasi tentang strategi pemasaran yang dilakukan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan bisnisnya. seiring dengan berkurangnya sumbangan dana-dana kemanusiaan (charity funds) yang sebelumnya menjadi sumber tradisional pendanaan rumah sakit.2 Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah melaksanakan pemasaran sasaran. dan 2) dapat mengisi lembar daftar pertanyaan penelitian.6%). Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan. serta menguji efektivitas dan daya tarik segmen pasar guna menentukan pasar sasaran yang dapat digarap sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimilikinya.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan pelayanannya. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini dirancang sebagai suatu penelitian kuantitatif eksplanatif 5 untuk mengidentifikasi segmen pasar rumah sakit yang terbentuk. sehingga perlu dilakukan penelitian ini. Dengan demikian. dan data lain yang terkait dengan penelitian ini. sarjana (13. terhitung sejak tanggal 15 April hingga 15 Mei 2008. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jenuh dengan kriteria responden sebagai berikut: 1) bersedia menjadi responden.8%.173 kunjungan pada tahun 2004. ditabulasi untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis klaster nonhirarkhis berupa K-mean klaster dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Sampel penelitian adalah pasien rawat inap yang menggunakan jasa pelayanan selama kurun waktu 15 April hingga 15 Mei 2008. Pekerjaan responden Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Data yang terkumpul. Rumah Sakit Graha Medika Jakarta telah merancang organisasi pemasaran untuk melayani kebutuhan sesuai keinginan pasar yang terpilih yaitu golongan menengah ke atas yang memiliki ciri sebagai berikut: 1) rata-rata berpendidikan cukup sehingga lebih kritis dan selektif dalam menilai dan memilih pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.9%). serta keinginan responden terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit. Rumah Sakit Stella Maris pada saat ini tengah mengalami perkembangan menarik.6%.3 Demikian pula Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta telah menetapkan 115 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar sasarannya. 12. dan 4) rumah sakit lebih memahami situasi persaingan terutama dalam menghadapi pesaing yang menawarkan produk yang sama ataupun yang bersubstitusi secara dekat. jumlah kunjungan.7%) diikuti kelompok usia di bawah 12 tahun sebanyak 27 orang (23.881 kunjungan pada tahun 2002 menjadi 2. dan tidak tamat SD sebanyak 7. 12 sampai 23 tahun sebanyak 26 orang (22. membidik satu atau dua segmen itu.9%).1%) berpendidikan SLTA.

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

umumnya adalah karyawan swasta yakni sebanyak 56,5%, diikuti PNS/TNI dan Polri sebanyak 17,4%, petani/petambak/nelayan sebanyak 13,9%, buruh sebanyak 7,8%, pensiunan sebanyak 2,6%, dan pemilik perusahaan sebanyak 1,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yaitu sebanyak 37,4% memiliki pendapatan antara Rp500.000,00 - Rp1.000.000,00 diikuti tingkat pendapatan di atas Rp1.000.000,00 - Rp2.000.000,00 sebanyak 26,1% dan di bawah Rp 500.000,00 sebanyak 20,9%. Responden yang berpendapatan tinggi (> Rp2.000.000,00 – Rp 3.000.000,00 dan di atas Rp3.000.000,00) hanya berjumlah 15,7%. Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yaitu sebanyak 91,3% dan yang berasal dari luar kota Makassar hanya sebanyak 8,7%. Responden yang berasal dari luar kota Makassar umumnya merupakan penduduk Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maminasata. Dari status tempat tinggal, sebagian besar (58,3%) responden telah memiliki rumah sendiri, tinggal di rumah keluarga sebanyak 26,1%, rumah kontrakan 13,9%, dan sebanyak 1,7% tinggal di rumah dinas. Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena beberapa alasan sebagai berikut6: pelayanannya baik dan cepat, letak rumah sakit dekat dan strategis, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap, memiliki tenaga dokter ahli dan profesional, pelayanan paramedis yang ramah dan profesional, menggunakan fasilitas Askes, dan faktor lainnya seperti tarif yang sesuai dan adanya keringanan dalam pola pembayaran jasa pelayanan rumah sakit. Kedelapan faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh pasien dengan kisaran antara 60,9% - 100%. Keyakinan responden terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan prima, terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa Rumah Sakit Stella Maris Makassar merupakan salah satu rumah sakit dengan kriteria baik. Rumah sakit yang baik memiliki kriteria utama: fasilitasnya lengkap, memiliki tenaga dokter dan perawat yang lengkap dan profesional, tarifnya tidak mahal dan terjangkau, kebersihan dan kenyamanan ruangan dan lingkungan rumah sakit, dan prosedur penerimaan dan pelayanan yang cepat. Jawaban responden atas jenis pertanyaan mengenai kriteria rumah sakit yang baik tersebut, berkisar antara 60,0% - 97,4%. Citra utama Rumah Sakit Stella Maris Makassar menurut responden adalah pelayanannya yang

profesional, serta kebersihan dan kerapihan ruangan dan lingkungan rumah sakit. Sumber informasi tentang Rumah Sakit Stella Maris dan pelayanannya umumnya bersumber dari keluarga dan teman, serta pengalaman pribadi responden karena sebelumnya pernah mengunjungi anggota keluarga dan kerabat yang dirawat di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. 7 Penggunaan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris dilakukan responden ketika menderita sakit ringan, sedang dan sakit berat, masing-masing dengan persentase: 44%; 88%; dan 100%. Selain menggunakan pelayanan kesehatan di rumah sakit, responden juga menggunakan jasa pelayanan dokter praktik, Puskesmas, pengobatan alternatif maupun pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek atau toko obat yang terdekat. Umumnya responden menggunakan jasa pelayanan Puskesmas dan melakukan pengobatan sendiri pada saat menderita sakit ringan dan sedang. Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dan keluarga) menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Alasan berobat ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sebanyak 84,3% responden mengambil keputusan atas ajakan keluarga dan 41,7% atas ajakan teman. Pilihan atas kemauan sendiri dan ajakan tetangga hanya sebanyak 3,5 dan 7,8 %. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit Stella Maris oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 40%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 18,3%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 10,4%. Keluarga responden adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 26,1%; 3 sampai 4 kali sebanyak 31,3%; 5 sampai 6 kali sebanyak 20,0%; dan lebih dar 6 kali sebanyak 22,6%. Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk, dilakukan analisis klaster. Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek yang memiliki kemiripan karakteristik.8 Obyek yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan obyek. Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan dengan outliers. 3 Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data, sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 115 responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 115 responden penelitian ini tidak ada satu pun yang dikeluarkan dari analisis.

158

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan skedul aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut: a) Segmen I beranggotakan responden no: 1, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 32, 34, 36, 39, 53, 54, 58, 71, 87, 97, dan 104 b) Segmen II beranggotakan responden no: 17, 19, 33, 38, 47, 51, 52, 55, 56, 57, 76, 79, 80, 81, 82, 86, 94, 95, 96, 100, 103, 105, 106, 109, dan 112 c) Segmen III beranggotakan responden no: 2, 3, 4, 5, 6, 15, 16, 29, 30, 31, 35, 37, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 48, 49, 50, 59, 70, 73, 74, 75, 78, 83, 84, 85, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 98, 99, 101, 102, 107, 108, 110, 111, 113, 114, dan 115 Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai berikut:5 segmen I sebanyak 30 orang, segmen II sebanyak 25 orang, dan segmen III sebanyak 60 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar, sangat baik. Hasil uji Anova memperlihatkan 31 karakteristik yang nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti terdapat 31 karakter yang berbeda antara segmen. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Syam8 di Rumah Sakit Lasinrang Pinrang yang hanya mengidentifikasi 21 karakter yang signifikan berbeda antar masing-masing segmen. Dalam analisis klaster, pengelompokan segmen pasar rumah sakit didasarkan atas adanya keserupaan karakteristik masyarakat pengguna. Semakin serupa karakteristik anggota suatu segmen, dan semakin berbeda karakteristik anggota antar segmen maka dikatakan semakin baik proses segmentasi tersebut. Hasil uji anova tersebut di atas berarti pula bahwa segmentasi pasar pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris Makassar ke dalam tiga segmen merupakan solusi yang terbaik. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa segmen I umumnya merupakan masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 24 sampai 39 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke atas. Hal ini didukung pula dengan

besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih tinggi dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan secara tunai (out of pocket).4 Segmen I umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Namun pencarian layanan kesehatan ke rumah sakit tidak terlalu giat. Jadi anggota segmen I merupakan pengguna yang inertia. Faktor yang membuat anggota kelompok I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik.9 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan adanya kunjungan dokter ke rumah untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 40 - 55 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah.7 Hal ini didukung pula dengan besar pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga yang lebih kecil dibanding dengan anggota segmen lainnya. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang relatif kecil, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan Askeskin. Segmen II umumnya kurang mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama pada saat sakit ringan dan sedang. Mereka biasanya mencari pengobatan alternatif tetapi ketika menderita sakit berat, mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit sangat rendah yaitu 1 - 2 kali dalam setahun. Jadi anggota segmen II bukan merupakan pengguna yang loyal.9 Faktor yang membuat anggota kelompok II tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris karena pelayanannya yang cepat, dan faktor inilah yang justru dinilai sebagai nilai unggul dari suatu rumah sakit yang baik. Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit menyediakan sarana transportasi untuk antar jemput pasien.9 Segmen III umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 sampai 23 tahun. Anggota segmen ini sebagian merupakan

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

159

Asiah Hamzah, dkk.: Analisis Penetapan Pasar Sasaran ...

orang yang sudah memiliki pekerjaan dan sebagian lagi sedang berada dalam bangku pendidikan atau masih dalam tanggungan orang tua. Berdasarkan jenis pekerjaan/pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, status tempat tinggal, pendapatan (keluarga) dan jumlah pengeluaran belanja rumah tangga, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah.3 Walaupun pengeluaran untuk belanja rumah tangga anggota segmen III sama dengan segmen II, namun pengeluaran untuk belanja kesehatan pribadi dan keluarga lebih besar dibandingkan dengan segmen II. Dengan tingkat pendapatan rumah tangga yang tidak terlalu besar, anggota kelompok ini umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan jaminan dari perusahaan tempat pasien/orang tua pasien bekerja.8 Segmen III umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan baik pada saat sakit ringan, sedang maupun sakit berat. Ketika menderita sakit ringan dan sedang mereka biasanya menggunakan jasa layanan Puskesmas terdekat, sedangkan pada kondisi sakit berat mereka mencari pelayanan rumah sakit. Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun oleh pribadi pasien, sangat tinggi.6 Jadi anggota segmen III digolongkan sebagai pengguna yang loyal. Faktor yang membuat anggota kelompok III tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Stella Maris adalah karena pelayannya yang cepat, walaupun mereka

menempatkan kebersihan ruangan dan lingkungan rumah sakit sebagai kriteria utama dari suatu rumah sakit yang baik.6 Untuk memudahkan pengguna dalam memanfaatkan jasa layanan, anggota kelompok ini cenderung menginginkan rumah sakit melakukan kunjungan ke rumah untuk mengadakan pemeriksaan secara berkala. Sebelum menentukan segmen pasar mana yang akan dipilih sebagai pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris, perlu dilakukan evaluasi terhadap setiap segmen yang terbentuk.10 Evaluasi dilakukan atas dasar kriteria sebagai berikut: 1) substansial, 2) dapat diukur, 3) dapat dijangkau, 4) dapat dibedakan, dan 5) dapat dilayani. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya maka ukuran segmen pasar Rumah Sakit Stella Maris diuraikan pada Tabel 1. Dalam penelitian ini, pasar sasaran ditentukan berdasarkan daya tarik segmen yang terbentuk dan ketersediaan sumber daya Rumah Sakit Stella Maris. Daya tarik segmen diukur dengan pendekatan:10 1) ukuran pasar, 2) intensitas persaingan, dan 3) akses pasar, sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2. Terlihat bahwa dari tujuh ukuran daya tarik segmen, semuanya terindikasi baik dibanding dengan segmen yang lainnya sehingga dapat dikatakan bahwa segmen III efektif dan cukup baik untuk dijadikan pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Keputusan pemilihan segmen III sebagai pasar sasaran utama, telah sesuai pula dengan misi R u m a h S a k i t S t e l l a M a r i s Makassar yaitu: 11 1) Keberpihakan pada golongan

Tabel 1. Ukuran Segmen Pasar Rumah Sakit Stella Maris Makassar Tahun 2008
30 Ya Agak sulit (karakteristik ambivalen) Dapat dibedakan Ya Dapat dilayani Agak sulit (cenderung menghindari menggunakan jasa RS) Keterangan Kurang efektif Sumber: Data Primer Diolah Kriteria Substansial Dapat diukur Dapat dijangkau Segmen I Segmen II 25 Ya Agak sulit (cenderung tidak menggunakan jasa RSSM) Ya Agak sulit (program yang dibuat untuk menarik segmen belum tentu efektif karena perilaku yg berbeda) Kurang efektif Segmen III 60 Ya Ya Ya Ya

Efektif

Tabel 2. Rangkuman Daya Tarik Segmen III (Health Care Maximizers)
Daya Tarik Segmen Ukuran segmen Ukuran pasar potensial (2007) Pangsa pasar Jumlah competitor terdekat Kehadiran substitusi Aksesibilitas geografis Keterkaitan dengan perusahaan /asuransi mitra Sumber: Data Primer Diolah Nilai 52,17% dari total pengguna layanan RSSM 122.354 X 3,5 kunjungan/jiwa = 428.239 kunjungan per tahun 56.428 : 428.239 X 100% = 13,18% 8 (delapan) rumah sakit Tidak ada Letaknya strategis Umumnya anggota segmen adalah pegawai swasta Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

160

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 3 September 2009

Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Perilaku Konsumen.2000. Tingkat pendapatan keluarga berkisar antara Rp 1. 2. Diterbitkan Oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM. 2008. dan Emmy KM.000. Laporan Kegiatan Tahun 2006 Rumah Sakit Stella Maris. Makassar. Simamora B. Tesis Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. 2005. Tigor HS. perlu merancang strategi bauran pemasaran bersasaran. Jakarta. Solo. Pengukuran dan Penganalisisan dengan SPSS. 10. Cetakan Keempat. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan karakteristik pengguna layanan jasa Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Strategi Pemasaran dan Perbaikan Mutu Berdasarkan Analisis Kepuasan Karyawan Instansi yang Bekerja Sama Dengan RS Bethesda Yogyakarta. 2003.17%). Achmad. 2005.Rp2. 9. diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai strategi bauran pemasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar dengan menambahkan variabel positioning dan Bauran pemasaran. Irwin McGraw-Hill. Analisis Multivariat Pemasaran. Kotler P. Pekerjaan pasien/keluarga umumnya adalah karyawan swasta. Segmentasi. segmen II sebanyak 25 orang (21.000.000. Vol. Setiadi JN. and Bitner MJ. Soebroto T. Bisnis Plan Rumah Sakit Stella Maris.23 tahun dengan status sosial menengah ke bawah. Services Marketing. Second Edition. PT Indeks. 3. Makassar. 2006. Kepuasan Pelanggan. Sains Kesehatan. Toto Suprapto. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.Jakarta. 2001. Kasali R. Huan HD. 5. perlu mengetahui profil lembaga penyaji layanan kesehatan guna mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang diharapkan dan bagi peneliti. Positioning. 4.00 . 08(01) Maret:11-8.74%). Jakarta. Bagian Penyusunan Program dan Laporan Ditjen Pelayanan Medik Depkes RI-WHO. Kuntjoro T. Soenarto S. 2000.00 Rp750. Sustainable Marketing Enterprise di Asia. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan. 6. Prenada Media. dan Joh S. Dalam konteks ini segmen pasar III yang diberi label health care maximizer patut pertimbangkan sebagai salah satu pasar sasaran utama. 2005. 3 September 2009 161 . Integrating Costumer Focus across the Firm. Gramedia. Zeithelm VA.14 (1). Mangopo SD. 12. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.000. 2004. Jakarta. Profil segmen III yang telah diuraikan terdahulu menunjukkan anggota segmen ini umumnya adalah masyarakat Kota Makassar yang berada pada rentang usia 12 . Pasar sasaran Rumah Sakit Stella Maris Makassar ditinjau dari daya tarik segmen dan profil Rumah Sakit Stella Maris adalah segmen pengguna III yang diberi label health care maximizer. Jakarta. Penerbit PT.000. 7. Rethinking Marketing.000. Kartajaya H. dan segmen III sebanyak 60 orang (52. Foley RL. Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Yogyakarta. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Membidik Pasar Indonesia. Evaluasi Efektivitas di Rumah Sakit Panti Waluyo. Jakarta. dan 3) Pelayanan kesehatan dengan standar kedokteran yang mutakhir dan komprehensif (one stop medical services). 2006. KEPUSTAKAAN 1. Hasnah.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan masyarakat lemah (option for the poor). Targeting.00 dengan pengeluaran untuk belanja kesehatan keluarga berkisar antara Rp500. 11. dan Nusyirwan MS. Anonimous. 2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima (excelent service). Syam. Soejitno S. Reformasi Perumahsakitan di Indonesia. teridentifikasi tiga segmen pasar dengan jumlah anggota masing-masing segmen adalah: segmen segmen I sebanyak 30 orang (26.09%). dan Liu S. 8. Makalah Seminar Tidak Dipublikasikan. 12. Ali Alkatiri dan Emil Ibrahim. Gramedia Pustaka Utama. Penetapan Pasar Sasaran Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.00 per tahun. 2000. Bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. No.

3 September 2009 . There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. Kesimpulan: Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. 12. salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%.05). Dinas Kesehatan Kota Batam berhasil mempertahankan pola peresepan yang baik. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. Akibatnya anggaran kesehatan dan juga kenaikan anggaran obat empat kali lebih tinggi dibandingkan tahun fiskal sebelumnya. Hasil: Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan telah terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai dua kali dibandingkan dengan sebelumnya. Method: The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data. Quantitative data were obtained with cluster sampling from documents of health centers such as monthly report.. Juli. dengan rancangan cross sectional study.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . anggaran obat ABSTRAK Latar belakang: Pemerintah Kota Batam telah menerapkan program pembebasan biaya retribusi pasien di semua pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kota Batam tanpa pengecualian (termasuk yang kaya dan miskin) selama mereka dapat menunjukkan kartu identitas penduduk mereka ketika mereka kunjungi Puskesmas. Secara kualitatif. 2006. The over procurement can be anticipated by planning of drug procurement the next years. drug budget belajar lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran obat. No. dilakukan wawancara mendalam terhadap para stakeholder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. retribution exemption. Vol. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasi menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. analytical survey method and cross sectional design. Agustus). dan 2007. selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. Data yang diperoleh ditabulasi. Rustamaji2. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. yaitu pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas bagi seluruh penduduk Kota 162 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. laporan kunjungan (LB4). Hal ini menarik untuk PENGANTAR Penerapan otonomi daerah mengamanatkan pengalihan beberapa peran pemerintah pusat kepada pemerintah daerah sebagai urusan wajib dan tugas pembantuan. dkk. FK UGM.170 Artikel Penelitian ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MELONJAKNYA ANGGARAN OBAT PEMERINTAH KOTA BATAM SETELAH PEMBEBASAN BIAYA RETRIBUSI PASIEN PUSKESMAS ANALYSIS OF FACTORS CAUSING SHARP INCREASE OF DRUG BUDGET AT BATAM MUNICIPALITY AFTER THE EXEMPTION OF RETRIBUTION COST OF HEALTH CENTER PATIENTS Nurliyasman1. dan resep-resep di Puskesmas pada tahun 2005. prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers (June. Qualitative data were obtained from in-depth interview with related stakeholders. Kata Kunci : Puskesmas. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. Halaman 162 . Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang. Kepulauan Riau 2 Bagian Farmakologi Klinik. Keywords: health centers. Sampling secara cluster. 03 September 2009 Nurliyasman. Result: Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. Conclusion : Caused sharp increase of drug budget after retribution exemption in health centers was over anticipate of drug procurement to forecast of visits health centre. July and August). pembebasan retribusi pasien. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi (uji t berpasangan p < 0. Data kuantitatif diperoleh dari laporan penyakit (LB1). Artinya. Yogyakarta 1 ABSTRACT Background: Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health canters.1 Pemerintah Kota Batam melaksanakan amanat tersebut dengan salah satu programnya.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. number of visits of the patients. Sri Suryawati2 Kantor Dinas Kesehatan Batam. masing-masing tahun diambil sampel resep tiga bulan perkiraan terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien Puskesmas (Juni. The Health Institution of Batam succeeded to maintain good prescription pattern.. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi dan peningkatan anggaran obat. Objective: The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. jumlah obat yang diresepkan.223. Selanjutnya diolah secara statistik menggunakan ujit berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% untuk melihat kebermaknaan data yang diperoleh. Kepala Seksi Farmasi Makanan dan Minuman. Kota Batam sampai tahun 2007 telah memiliki Puskesmas sebanyak 11 buah (8 buah di daerah mainland dan 3 buah di daerah hinterland) dari 12 kecamatan. terutama dalam hal kesehatan. kemudian dilihat perbandingan sebelum dan setelah pembebasan. baik miskin maupun kaya terhitung sejak 2 Januari 2007.000. Pengelola Obat Puskesmas. pedagang.960.220.7%. di samping itu ada juga yang menjadi pegawai negeri. Dengan sendirinya. pegawai swasta. Penduduk Kota Batam kebanyakan kaum muda yang sebagian besar bekerja di industri. berpedoman kepada how to investigate drug use in health facilities dari World Health Organization (WHO). dan Agustus. yang harus didukung oleh semua Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat dasar tempat dilaksanakannya program tersebut. yaitu Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam. perlu dianalisis faktor apa yang mempengaruhi terjadinya lonjakan anggaran obat tersebut. Untuk mendukung hasil data kuantitatif juga dilakukan pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap stakeholder yang terlibat. Apakah program pembebasan retribusi ini akan mengubah pola penyakit dan pola peresepan. yaitu perbandingan dengan dana kesehatan hanya sebesar 6.443. tahun 2006 sebesar Rp1. Data kuantitatif dikumpulkan pada formulir kerja yang sudah disiapkan. masing-masing tahun diambil data pada bulan Juni. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian observasional retrospektif menggunakan metode survei dengan rancangan penelitian cross sectional.00 dan tahun 2005 sebesar Rp 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Kepala Gudang Farmasi Kota Batam. dan jumlah anggaran yang dialokasikan untuk obat. Data yang diperoleh ditabulasi.7%. Data yang dikumpulkan adalah jenis kuantitatif dan kualitatif.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Batam.550. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan di Pemerintah Kota Batam untuk bahan pertimbangan mencari bentuk sistem pembiayaan kesehatan yang efektif dan efisien. Walikota Batam sebagai Kepala Daerah mengeluarkan kebijakan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada semua masyarakatnya. Vol. dan lain-lainnya. Penelitian dilakukan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau Subjek pada penelitian ini adalah Puskesmas. jauh lebih tinggi dari tahun 2005 dan 2006.2 Pembebasan biaya retribusi pasien di Puskesmas ini diharapkan bisa membantu mereka yang tidak mampu. serta tahun 2005 sebanyak 681. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 1. kerja di sektor informal. tanpa kecuali.514.044.9% dan 4. pola penyakit dan pola peresepan sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Kemudian dibandingkan jumlah kunjungan pasien.2 Berdasarkan uraian di atas.6%. Alokasi Anggaran Obat pada APBD Kota Batam Persentase antara anggaran obat dengan anggaran kesehatan pada tahun 2007 sebesar 18. dan Gudang Farmasi. No. 12. dan tahun 2006 sebanyak 713. Jumlah penduduk 724. Kepala Puskesmas. 3 September 2009 163 . Dinas Kesehatan sebagai pelaksana teknis harus melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya. Akibat pembebasan biaya retribusi ini terjadi kenaikan jumlah anggaran obat sampai 4 kali dari tahun sebelumnya. Juli. tahun 2006 sebesar 6. Sementara perbandingan antara dana kesehatan dengan APBD pada tahun 2007 sebesar 4.1% dan tahun 2005 sebesar 5.586 jiwa. serta pengangguran. sehingga kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan tidak terlalu membebani anggaran.500.315 jiwa tahun 2007.3 Kemudian direkap dan selanjutnya diambil rata-rata 1 tahun dari masingmasing indikator untuk semua sampel Puskesmas. 2006 dan 2007).394. Jumlah anggaran obat tahun 2007 dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam sebesar Rp6. Data kualitatif dari wawancara mendalam kemudian dibuatkan matriksnya untuk mendapatkan kesimpulan.7%. Unit analisis penelitian ini adalah data jumlah kunjungan. sebagai tempat pelaksanaan pelayanan yang dibebaskan retribusinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pembebasan retribusi terhadap kebutuhan anggaran obat dan dampaknya terhadap sistem pembiayaan kesehatan Kota Batam. Sampel diambil secara cluster pada 3 tahun terakhir (2005. Data kuantitatif dan kualitatif kemudian ditriangulasi untuk memperkuat kesimpulan hasil penelitian.

: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Pada Gambar 1 terlihat bahwa obat mendapat prioritas pendanaan dari sektor kesehatan. 12.084 Rp 175.550.000 Rp 216. kesehatan dan APBD Kota Batam tersebut.. Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2005. 2. Begitu juga dengan alokasi anggaran obat pada tahun 2006.Nurliyasman. Grafik pada Gambar 1 memberikan gambaran tentang fluktuasi alokasi anggaran obat.307 Rp 2.223.039. Perbandingan persentase anggaran kesehatan terhadap APBD. 2006 dan 2007 164 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.943 Rp 32.395. No. Tabel 1.566. Hal ini terjadi pada semua Puskesmas. Vol. 3 September 2009 .787 6. menunjukkan adanya lonjakan kunjungan pasien Puskesmas.035.485 Rp 35.443 Rp 5.472. rata-rata 2 sampai 3 kali jumlah kunjungan pasien sebelum diberlakukannya pembebasan retribusi. terjadi penurunan dibandingkan dengan tahun 2005. Jumlah Kunjungan Pasien Puskesmas Data yang diperoleh dari form laporan LB4 Puskesmas. 2006 dan 2007 tidak terlalu tinggi perbedaannya.394.9 5.916 4.857.115.803. Alokasi anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam mengalami penurunan pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2006.500 Rp 120.410 Rp 12.297 Rp 746. Grafik Persentase Perbandingan Dana Obat dengan Dana Kesehatan dan APBD Kota Batam Tahun 2005.1 *) Angka dalam ribuan rupiah. Artinya.253.276 Rp 6. dana kesehatan tersedot untuk belanja obat.514.762.7 6. Anggaran Kesehatan dan APBD Kota Batam Jenis Anggaran Dana obat *) Dana kesehatan *) ABPD kota *) % Dana obat dengan kesehatan % Dana kesehatan dengan APBD Rp Rp Rp Tahun Kenaikan Kenaikan 2006 2007 Anggaran Anggaran Rp 1..6 4. pada tahun 2007 malah paling rendah.2006 dan 2007 Dana kesehatan dengan APBD dari tahun 2005. Gambar 1.7 18. dkk. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2.897 Rp 529.7 2005 1. 20.925 353.279. Perbandingan Anggaran Obat.

521 17.428 216.566 31. karena mulai beroperasi 2006 ** Data Puskesmas Sei Pancur tahun 2005 tidak bisa diperoleh. Jadi pada prinsipnya tetap sama pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi.870 69.080 22. berkas tidak ada lagi.845 29.693 123. Sementara sebelumnya kenaikan kunjungan pasien dari tahun 2005 ke tahun 2006 hanya 10%. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Jumlah kunjungan 2005 2006 2007 15. Jadi dari data tersebut terlihat bahwa setelah pembebasan retribusi terjadi kenaikan jumlah kunjungan 2 kali dari jumlah kunjungan sebelumnya.628 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 113% 105% 34% 38% 249% 81% 191% 87% 144% 71% -1% 235% 26% -51% 82% 17% 61% 169% 77% 406% 110% Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Puskesmas IX Puskesmas X Puskesmas XI Jumlah Total Rata-rata 103% Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kota Batam Tahun 2005.525 19.809 43. penyakit kulit. 12. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan pasien total semua Puskesmas se-Kota Batam (11 buah Puskesmas) berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Batam. 2006 dan 2007 Nomor Puskesmas Puskesmas I Puskesmas II Puskesmas III Puskesmas IV Puskesmas V Puskesmas VI Puskesmas VII Puskesmas VIII Rata-Rata Rata-rata jumlah pasien/bulan 2005 2006 2007 2610 2919 5313 2521 2930 6695 * 1031 4359 ** 1496 3185 1886 2047 2373 1687 1907 4738 1005 1119 2000 2277 2182 4407 1498 1954 4134 Persentase kenaikan Sebelum Setelah 12 % 82 % 16 % 129 % * 323 % ** 113 % 9 % 16 % 13 % 149 % 11 % 79 % -4 % 102 % 10 % 124 % Catatan : * Data Puskesmas Sei Lekop tahun 2005 tidak ada. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 8 sampel Puskesmas dari data jumlah rata-rata kunjungan pasien setiap bulannya. Dari Gambar 2 terlihat bahwa urutan dari yang besar ke yang kecil sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi.702 22. Rata-Rata Jumlah Kunjungan per Bulan Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Tahun 2005.317 40.371 24.344 21. Sebelum pembebasan retribusi pola penyakitnya dengan urutan ISPA yang paling banyak diikuti oleh penyakit gigi dan mulut. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 3. seperti ISPA sedikit lebih besar sebelum dari setelah pembebasan retribusi. penyakit kulit. 3 September 2009 165 .097 12.066 6. Jumlah Kunjungan 11 Puskesmas di Kota Batam Tahun 2005. Vol. No. diare.088 3.267 34.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Tabel 2. diare.390 26.161 29. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit gigi dan mulut. data yang diperoleh dari hasil penelitian tidak begitu jauh berbeda yaitu kenaikan jumlah kunjungan setelah pembebasan retribusi sebesar 110%.705 13. ternyata setelah pembebasan retribusi terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien Puskesmas sebesar 124%. hipertensi dan seterusnya. hipertensi.362 22. namun urutannya tetap sebagai penyakit terbanyak kasusnya. sedikit Tabel 3. dan seterusnya. 3. penyakit lain saluran pernapasan atas.572 55.541 7. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.916 33. Jumlahnya saja sedikit berbeda.100 15. ternyata tidak ada mengalami perubahan pola penyakit antara waktu sebelum dan setelah pembebasan retribusi terhadap pasien Puskesmas.412 5.2006 dan 2007 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.213 11.913 14.103 14.800 22.098 391. penyakit lain saluran napas atas.100 13. Pola Penyakit Hasil penelitian terhadap pola penyakit yang ditangani oleh Puskesmas dari form laporan LB1. Urutan setelah pembebasan retribusi juga seperti itu tetap ISPA pada urutan tertinggi diikuti oleh penyakit lain seperti penyakit gigi dan mulut.705 31.

Data selengkapnya terdapat pada Tabel 4.6% Puskesmas III 94. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kecenderungan peningkatan penggunaan obat dengan nama dagang. ada kecenderungan pengurangan penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.6% Puskesmas IV 4.7% Puskesmas VIII 97.0% 5. Tabel 5. No.. obat dengan merk dagang dan obat antibiotika yang selengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut.2% 4.Nurliyasman. 3 September 2009 . Berarti b. Perbedaan baru terlihat pada penyakit yang persentasenya kecil.3% 94.0% * uji t berpasangan p < 0.4% 4.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . 166 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.1% 5. karena angka dan selisihnya pun cukup kecil. Data selengkapnya terlihat pada Tabel 5.1*% * uji t berpasangan p < 0. Rata-Rata Persentase Obat Nama Dagang Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Setelah Puskesmas I 4.3% Puskesmas IV 96.0% 5.05 Setelah 95.0% 5. Sebagai akibat dari anggaran obat yang cukup besar.05 c.0% Puskesmas VIII 3.4% 94.0% Rata-rata 96. 12.5% Puskesmas VI 97.. Persentase Penggunaan Antibiotika Pada Pasien Puskesmas Pengolahan data persentase pemakaian antibiotika pada penelitian ini yang diamati bukan jumlah item antibiotika per lembar resep. a. Hal ini seiring dengan menurunnya penggunaan obat generik setelah pembebasan retribusi.7*% Gambar 2. Sedikit perbedaan terdapat pada penggunaan obat generik. dkk. yang tujuannya supaya pelayanan tidak terganggu.2% Puskesmas V 4.8% 94.4% Puskesmas VI 3. dalam pengadaan obat apapun jenis obat yang diusulkan Puskesmas dikabulkan.8% Rata-rata 4. Grafik Persentase 20 Terbanyak Penyakit yang Ditangani Puskesmas Kota Batam Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi lebih besar sebelum dibandingkan dengan setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas VII 95.6% 93. Persentase Penggunaan Obat dengan Merek Dagang Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan pemakaian obat dengan nama dagang. tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan biaya retribusi pasien.8% 94. ada sedikit perubahan urutan. Vol. tetapi urutannya sama pada peringkat kedua terbanyak kasus penyakit yang ditangani oleh Puskesmas.5% 5. Rata-rata Persentase Obat Generik Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 95. Tabel 4. Persentase Penggunaan Obat Generik Per Pasien Penggunaan obat generik semua Puskesmas terlihat persentasenya tidak jauh berbeda satu sama lain. Penggunaan obat esensial rata-rata disetiap Puskesmas berkisar antara 85% . Persentase penggunaan obat generik sebelum sedikit lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.0% Puskesmas V 95.7% Puskesmas II 3.3% 95. Jumlah obat yang diberikan pada setiap pasien antara 3-4 jenis. Pola Peresepan Pola peresepaan tidak berubah karena pembebasan retribusi Puskesmas.1% Puskesmas III 5. Pemakaian obat dengan nama dagang lebih banyak pada saat pembebasan retribusi dibandingkan dengan sebelumnya.7% 5.3% 5. 4.9% Puskesmas II 96.87%.3% Puskesmas VII 4.9% 94.7% 94. namun hal tersebut tidak begitu berpengaruh.

dari angka tersebut di atas kenaikan jumlah kunjungan pasien setelah pembebasan retribusi adalah 2 kali dari jumlah kunjungan sebelum pembebasan retribusi. Diperkirakan hal ini wajar mungkin juga disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk Kota Batam. 12.6%. Hanya dari jumlah kunjungan pasien saja yang meningkat. No.3% 46.3% Puskesmas V 39. Rata-rata Persentase Obat Antibiotika Diresepkan Sebelum dan Setelah Pembebasan Retribusi Puskesmas Nomor Puskesmas Sebelum Puskesmas I 54. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.8% 49.01 Setelah 53. Seperti yang disampaikan oleh Murti5 bahwa program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat mendapat prioritas lebih rendah dan karena itu sering dicoret. ternyata pada akhir tahun sudah mulai terlihat penurunan dan pada tahun kedua pelaksanaan.4%. yang dikorelasikan dengan data besarnya anggaran obat pada tahun yang sama.7% Puskesmas III 51. dana kesehatan berkisar antara 2.4 Berarti anggaran total kesehatan Kota Batam masih jauh di bawah angka kesepakatan tersebut. Tabel 6. Terjadi penurunan penggunaan antibiotika pada waktu pelaksanaan pembebasan retribusi. 2006 dan 2007. pada waktu pembebasan retribusi. karena sepertinya masyarakat dalam tahap mencoba sesuatu yang baru. Angka-angka di atas membuktikan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap kesehatan belum maksimal.7%. Jika dibandingkan dengan situasi sebelum desentralisasi.6 Berarti tidak jauh berbeda dalam pelaksanaan dukungan pemerintah daerah terhadap program kesehatan sebelum dan setelah otonomi daerah. 3 September 2009 167 .3% 26. angka rata-rata yang terjadi secara nyata di beberapa kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebesar 3% . Jenis dan bentuk pelayanan di Puskesmas sama saja.9% dan tahun 2006 sebesar 4. sedangkan program kesehatan lebih abstrak.7%. baik sebelum maupun setelah pelaksanaan program ini. begitu juga dengan jenis obat-obatan yang digunakan sama saja. walaupun ada peningkatan tetapi tidak banyak. sebagaimana sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Hartati 7 menunjukkan bahwa memang mutu Puskesmas jadi menurun. Jika dibandingkan dengan laporan dari Dinas Kesehatan Kota Batam. jumlah total kunjungan semua Puskesmas untuk satu tahun terjadi kenaikan sebesar 110%. Setelah berjalan satu tahun.4% tahun 2002. Namun.0% Puskesmas VII 49.4% dan maksimum 7%.7%.4% 31. di Kota Batam tidak jauh beda yaitu 4.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan tetapi ada atau tidaknya penggunaan antibiotika dalam setiap resep.0% 49.7%. berarti terjadi penurunan persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota Batam tahun 2007.3*% Persentase penggunaan antibiotika sebelum lebih tinggi dari setelah pembebasan retribusi.5% Rata-rata 49. ingin merasakan pelayanan Puskesmas yang tidak dipungut bayaran tersebut.8% Puskesmas IV 48.3% 45. Masalah mutu pelayanan Puskesmas yang tidak ditarik retribusinya. yang berarti terjadi penurunan penggunaan antibiotika setelah pembebasan retribusi. Hasil kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia tahun 2000. tetapi kenyataannya baru mencapai 9% pada tahun 2001 dan 3% .1% dan tahun 2005 sebesar 5. Alokasi yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya sebesar 6. Jadi. sehingga masyarakat banyak yang mengunjungi Puskesmas. Perkiraan anggaran obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 didasarkan pada data kunjungan tahun 2005. jumlah kunjungan kembali normal seperti kondisi biasa. Pembahasan Anggaran obat setelah pembebasan retribusi pasien melonjak sampai 4 kali anggaran sebelumnya. analisis dengan regresi didapatkan persamaan sebagai berikut : Y = 20192X – 2E+09 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.5% . Rata-rata lebih mengutamakan proyek pembangunan fisik yang lebih terukur. Vol.7% Puskesmas VI 44. Ada diberi skor 1 dan tidak diberi skor 0. besarnya alokasi anggaran kesehatan adalah sebesar 15% dari total dana APBD. Tidak diketahui hal ini terjadi karena memang kualitas pelayanannya yang bagus atau disebabkan karena gratis.7% Puskesmas VIII 46.3% Puskesmas II 60. tahun 2006 sebesar 6.3% 44. mudah dilihat (konkrit) dan dapat dirasakan dengan cepat. Hal ini membuktikan bahwa terjadi penurunan kasus penyakit akibat infeksi setelah pembebasan retribusi. dimana apabila dilihat pola penyakit salah satunya kasus ISPA memang terjadi penurunan persentase setelah pembebasan retribusi. Apabila dilihat perbandingan antara anggaran total kesehatan dengan ABPD tahun 2007 sebesar 4. dari anggaran total kesehatan mencapai sebesar 18. Lonjakan jumlah kunjungan pasien rata-rata perbulan sebesar 124%.7% 52.4% * uji t berpasangan p < 0.

000.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya .000.966. mengakibatkan melonjaknya anggaran obat sampai 4 kali dari sebelumnya. memiliki dana kembali lebih besar daripada yang melakukan pembebasan. dkk. dengan melihat penerimaan dokter dan perawat terhadap sistem pelayanan gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar Provinsi Riau.00 dengan asumsi jumlah kunjungan meningkat 50% dari tahun sebelumnya.100% secara aktif berpartisipasi dalam mendukung 50% pembiayaan kesehatan. Sehingga persamaan ini kurang tepat dipakai untuk perkiraan dana tahun 2008. (Gambar 2a). 12. Masyarakat 70% . Pengalaman beberapa negara.267.000 pasien.000.000. Analisis regresi dari simulasi terhadap data jumlah kunjungan dengan dana pengadaan obat diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 8612. Dengan demikian pada tahun 2007 terjadi kelebihan dana obat sebesar Rp2. 3 September 2009 . yakni 588. preventif perorangan seperti imunisasi. Sikap dokter dan perawat pada pelayanan gratis memberikan layanan kepada pasien tidak sepenuh Gambar 2a.6 miliar rupiah.600. Maka besarnya anggaran obat tahun 2008 adalah Rp9. Untuk itu dana riil yang dibutuhkan untuk pengadaan obat tahun 2008 adalah sebesar Rp2. dengan pelayanan gratis. Grafik Forecasting Terhadap Jumlah Kunjungan Pasien dengan Anggaran Obat Gambar 2b. pusat kesehatan publik yang mengelola sendiri dana obat dan pelayanan. Eropa Timur dengan melaksanakan pembebasan. Berarti sangat besar sekali dana yang dibutuhkan untuk pengadaan obat. yaitu insentif yang keliru. Sebagai koreksi.872. Inggris dengan National Health Service (NHS).600.00. timbul masalah. Maka tahun 2007. pelayanan rehabilitasi dan pendidikan kesehatan.896. Penelitian terdahulu oleh Elfian9. Pusat kesehatan publik yang menerapkan sistem membayar.8 miliar rupiah.00. seperti Central African Republic.152. sebanyak 80% total belanja kesehatan untuk pelayanan kuratif.00 .000.267.584.8 Jadi dari pengalaman beberapa negara seperti yang diuraikan di atas. Vol. suatu koperasi yang menyediakan pelayanan kesehatan yang tidak mahal dan menyediakan obat esensial dengan kualitas bagus.134. Angka tersebut diperoleh dari perhitungan rata-rata biaya yang dikeluarkan Pemerintah Kota Batam per pasien tahun 2005 dan 2006. Di Thailand dengan Village Drug Fund (VDF).Nurliyasman.600. terjadi kekurangan dana obat Dinas Kesehatan Kota Batam tahun 2008 sebesar Rp368. Hasil perkiraan yang diperoleh. Dari persamaan tersebut. ada segi positif dan negatif dari pembebasan terhadap biaya pelayanan kesehatan. Kualitas dari pelayanan kesehatan dengan pembebasan biaya tidak bisa diharapkan sebagus pelayanan dengan ditarik biaya. Sikap dan apresiasi para petugas Puskesmas terhadap program pembebasan retribusi pun beragam.000 pasien. 2009 dan seterusnya.. sebagian besar (85%) dibiayai melalui anggaran pendapatan negara. kekurangan bahan-bahan dan peralatan medis dan duplikasi pelayanan antara klinik pelayanan dasar dan rumah sakit.267. kualitas pelayanannya juga meningkat. Hasil perkiraan kebutuhan anggaran obat tahun 2008 Kota Batam butuh dana untuk pengadaan obat sebesar Rp5. maka dilakukan simulasi dengan asumsi dana pengadaan obat tahun 2007 sebesar Rp3.628 pasien adalah 3. tapi kebanyakan kurang puas. Hal ini diakibatkan karena pada tahun 2007 terjadi pengadaan yang terlalu banyak. No.168.00. jika diasumsikan jumlah kunjungan tahun 2008 naik 50% dari tahun 2007 yaitu menjadi 588. rata-rata biaya obat per kunjungan Rp9.. Pengecekan terhadap angka pengadaan obat Dinas Kesehatan Kota Batam untuk tahun 2008 adalah sebesar 1. dana obat yang diperlukan dengan jumlah kunjungan 391. Negara Costa Rica dengan skema asuransi The Costa Rica Social Security Fund (CCSS).00 jika kunjungan naik 50%.7 X + 7E+07 (Gambar 2b). Simulasi Forecasting dengan Anggaran Obat Sesuai Jumlah Kunjungan Pasien 168 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.

Akibatnya. rongga mulut. No. maupun Dinas Kesehatan. Pola peresepan yang diteliti secara garis besarnya tidak ada perubahan yang berarti antara sebelum dengan setelah pembebasan retribusi. sebaiknya harus bayar. apabila Puskesmas juga melayani semua penyakit bisa saja akan terjadi perubahan pola penyakit yang ditangani. Bagi yang sudah memiliki jaminan dari pihak asuransi. sehingga bisa berjalan sesuai dengan ketentuan dari departemen kesehatan. Kondisi seperti ini tentu saja hasil kerja keras dari unit pembina dan pengayom Puskesmas yaitu bidang pelayanan medik Dinas Kesehatan. sehingga akhirnya masyarakat menilai pelayanan Puskesmas tidak bermutu. dengan tarif tidak terlalu tinggi. keragaman penyakit yang ditangani tidak kompleks. Hal ini barangkali disebabkan karena Puskesmas hanya untuk pelayanan kesehatan dasar. dengan tidak mengabaikan kelompok masyarakat kaya. Tidak terjadinya perbedaan pola penyakit sebelum dan setelah pembebasan retribusi. baik dari jenis penyakit yang muncul maupun dari segi jumlah dan urutan persentase yang besar dan kecil. seperti tidak semua gratis. perlu dilakukan batasan-batasan bentuk pelayanan. Tentu saja akan terjadi perubahan dari fungsi Puskesmas jika hal itu terjadi. Vol. Penggunaan obat antibiotika juga mengalami penurunan. seharusnya diberikan tanggung jawab membayar. Hasil penilitian yang telah dilakukan di Kota Batam menunjukkan rata-rata Puskesmas tidak keberatan dengan program pembebasan retribusi asal tidak semua digratiskan. Langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Batam dalam pembiayaan kesehatan adalah dengan membentuk suatu sistem kesehatan daerah. Keseimbangan dan keadilan dalam pemberian subsidi kepada masyarakat akan bisa tercapai. Pembebasan retribusi pada prinsipnya bisa diteruskan. jika bisa dibatasi. Jamsostek atau lainnya. Sebaran pola penyakitnya tetap saja didominasi oleh penyakit ISPA. sehingga tidak membutuhkan dana yang besar untuk menanganinya. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. yaitu yang kaya disubsidi dengan bayaran yang rendah dan masyarakat miskin disubsidi dengan tidak membayar. bagi yang kaya. terutama yang memerlukan tindakan. Pola peresepan yang relatif tetap ini. merasa terbantu dengan program pembebasan retribusi ini.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan hati. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam menyampaikan bahwa sudah dilakukan evaluasi terhadap program ini dan akan terus dilakukan supaya program ini berjalan dengan baik serta lebih efisien dan efektif dalam melayani masyarakat. secara umum tidak berubah. apabila dikelola dan dimanajemen dengan baik. apalagi dengan tidak ditariknya retribusi kepada pasien. yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan pemakaian obat dengan merk dagang pada saat dilaksanakannya pembebasan retribusi. Sistem itu akan mengatur mekanisme penyaluran subsidi terhadap kelompok masyarakat miskin. berarti para penulis resep meminimalkan penulisan resep antibiotika jika tidak perlu yang merupakan anjuran penggunaan obat yang rasional. maupun paramedis untuk meresepkan dan menggunakan obat secara rasional. 12. jika ada tindakan medis yang perlu diberikan pada pasien. Berarti Puskesmas dengan batasan layanannya sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar. Petugas yang memberikan pelayanan berharap supaya mendapatkan insentif tambahan. Hasil dari evaluasi menunjukkan ternyata pihak Dinas Kesehatan mengusulkan untuk dicarikan bentuk alternatif lain. Para kepala Puskesmas juga selalu memonitor setiap aktifitas di lingkungannya. terutama Puskesmas. Puskesmas lebih banyak merujuk pasien ke rumah sakit. sehingga jenis penyakit yang muncul pun tidak ada yang terlalu serius dan mengkhawatirkan. asal-asalan. 3 September 2009 169 . akan tetapi sebaiknya hanya diberikan kepada masyarakat miskin saja. Program-program pelatihan yang diberikan kepada penulis resep. serta menganjurkan pemakaian obat generik di fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan publik. Sebaran pola penyakit yang diteliti terhadap laporan LB1 pada 8 buah Puskesmas menunjukkan tidak ada perbedaan. Karena bagi masyarakat miskin sangat membantu sekali. diare. Terjadi penurunan penggunaan obat generik. tidak akan terlalu membebani anggaran. karena sudah bekerja ekstra. tidak perlu digratiskan mungkin bisa diklaim ke perusahaan yang menanggung. merupakan suatu keberhasilan Dinas Kesehatan Kota Batam dalam menerapkan pedoman pengobatan dilingkungan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. dengan ketidakmampuannya untuk mengakses pelayanan kesehatan. Mungkin. Sistem cost sharing mungkin salah satu bentuk pembiayaan kesehatan yang bisa dicontoh dan diterapkan. Maka dengan diberlakukannya pembebasan retribusi kepada pasien sebagai subsidi pemerintah terhadap masyarakatnya. Dinas Kesehatan setiap tahun selalu mengeluarkan surat edaran untuk menggunakan obat secara rasional. dan penyakit kulit.

Universitas Gadjah Mada. Health Economics and Drugs DAP Series No. Dasar-Dasar Asuransi Kesehatan. Kebijakan. 170 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.8. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pemerintah Kota Batam. Hal ini bisa dimengerti karena lonjakan kunjungan pasien akibat pembebasan retribusi memang agak sulit diprediksi karena belum ada presedennya. 12.2007. Yogyakarta. How to Investigate Drug Use in Health Facilities. Gudang Farmasi Kota Batam. Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. 2. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Geneva.: Analisis Faktor Penyebab Melonjaknya . Penerbit Kanisius. Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-satu per satu dalam tulisan ini. Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press. 1992. World Health Organisation. Penerimaan Dokter dan Perawat terhadap Sistem Pelayanan Gratis di Puskesmas Kabupaten Kampar. World Health Organization. 2004. Department of Essential Drugs and Medicines Policy. Vol. Pada tahun-tahun yang akan datang kelebihan belanja obat ini bisa dikompensasi. Dinas Kesehatan Kota Batam. Yogyakarta.1999.. 6. 5. dkk. Gadjah Mada University Press. Geneva. Tesis Program Pasca Sarjana. hanya jumlahnya saja yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan pasien. Dinas Kesehatan Kota Batam. Review of Cost-Sharing Experiences in Financing Drugs in South-East Asia. Jadi penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam adalah antisipasi belanja obat yang ternyata terlalu banyak dibandingkan dengan melonjaknya jumlah kunjungan Puskesmas. KESIMPULAN DAN SARAN Terjadi peningkatan anggaran pembiayaan obatobatan sampai empat kali dari anggaran sebelumnya. Mutu Pelayanan Puskesmas dengan Pembebasan Tarif Retribusi di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. Jakarta. 9. 2006. Profil Kesehatan Kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Trisnantoro L. 3 September 2009 . Batam. Republik Indonesia. 4. Pembebasan biaya retribusi pasien Puskesmas mengakibatkan lonjakan jumlah kunjungan jadi dua kali dari sebelum pembebasan. Yogyakarta.Nurliyasman. 7. Magister Manajemen dan Kebijakan Obat atas semua fasilitas dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. KEPUSTAKAAN 1. Pembangunan Kesehatan di Indonesia Prinsip Dasar. serta pola peresepen secara umum tidak berubah. Hartati. Suryawati S. 2007. Murti B. yang telah membantu atas terlaksananya penelitian dan dalam penyelesaian tulisan naskah ini. Desentralisasi Kesehatan di Indonesia dan Perubahan Fungsi Pemerintah 2001-2003. Yogyakarta. Yogyakarta. 3. No. 8.. Puskesmas se-Kota Batam. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1998. Tesis Program Pasca Sarjana. 2005.2000. Rachmat HH. Tidak terjadi perubahan pola penyakit pada waktu pelaksanaan pembebasan biaya retribusi Puskesmas. Elfian.

Jack Duncan. kita bisa meningkatkan wawasan kita tentang manajemen strategis. No. Penulis berharap dengan menggunakan pendekatan ini. dan mengelola strategi momentum. dan pemasaran kesehatan yang berujung pada persaingan ketat dalam industri pelayanan kesehatan. Secara umum model baru ini menggambarkan manajemen strategis sebagai proses dari berpikir strategis. Pande Putu Januraga Bagian AKK PSIKM FK Universitas Udayana Bali dr. dan kemudian dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran strategis lainnya. Terakhir manajer yang baik akan selalu bertanya Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Buku ini dari awal membawa kita kepada sebuah upaya berpikir strategis yang secara jelas memisahkan antara strategic thinking. Untuk itu. antara lain masalah kuantitas dan kualitas tenaga profesional kesehatan.unud.id 171 T idak ada yang kekal di dunia ini. Beberapa kasus baru yang dimunculkan adalah: The Health Care Industry Note. sehingga dalam edisi ini konsep kontrol atau monitoring dan evaluasi diintegrasikan ke dalam Bab Strategy Development di bawah judul Managing Strategic Momentum.januraga@gmail. dan dipercaya lebih mencerminkan realitas dalam pengembangan dan pengelolaan strategi. Pada bagian akhir edisi kelima ini ditampilkan beberapa contoh kasus yang diperbaharui dan yang benar-benar baru mengikuti model dan perspektif baru yang disajikan sebelumnya. 12. masalah mutu layanan. Memang buku ini bukanlah satu-satunya peta atau kompas yang tersedia. Satu hal yang dipertahankan dalam edisi ini adalah bagaimana melatih pembaca untuk mengembangkan pemikiran logis yang objektif dan analitik dengan tidak meninggalkan kemampuan intuisi dalam mengidentifikasi isu-isu strategis. Swayne. Melalui manajemen perencanaan strategis. dimanapun mereka bertugas. dan Riverview the HMA Facility. strategic control adalah bagian integral dari mengelola momentum strategis. termasuk sektor pelayanan kesehatan.ac. pemahaman dan perspektif baru muncul dan proses berpikir strategis. strategic planning.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah mengembangkan dan menyusun sebuah rencana aksi melalui sebuah perencanaan strategis. dan berbagai masalah pembiayaan lainnya. Vol. segala sesuatu terus berubah. mengembangkan pertanyaan. akan lebih mencerminkan bagaimana strategic control bekerja dalam sebuah organisasi sebagai bagian dari mengelola strategi.com atau januraga@sph. dan mengembangkan ide-ide baru. Pada akhirnya. perencanaan. tentunya semua ini memberikan tambahan pemahaman tentang perencanaan strategis kepada kita. Untuk memenuhi kebutuhan itulah kemudian buku ini disusun. Peter M. tetapi tetap sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai referensi bagi para calon pemikir strategis. Dengan hanya membaca beberapa kasus yang tersedia. dan bagaimana mengelola strategi (managing strategic momentum). W. Selamat membaca. seorang manajer pelayanan kesehatan harus menjadi seorang pemikir strategis dengan kemampuan untuk menganalisis perubahan lingkungan. dan pengelolaan dimulai kembali. 03 September 2009 Halaman 171 Resensi Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Judul Penulis Penerbit Edisi : : : : Strategic Management of Health Care Organizations Linda E. Ketiga konsep tersebut ditawarkan sebagai elemen utama konseptual model yang baru dari manajemen strategis. Kita akan diperkenalkan kepada berbagai variasi organisasi pelayanan kesehatan dan bagaimana pendekatan mereka terhadap manajemen strategis. mengembangkan pemikiran strategis ke dalam rencana strategis. Tentunya berbagai kemajuan yang ada tidak terlepas dari berbagai masalah yang masih menghantui sistem pelayanan kesehatan. 3 September 2009 . Midwest Medical Group. Beberapa perubahan mendasar yang mengubah tampilan sektor pelayanan kesehatan kita adalah kemajuan pesat di bidang penelitian dan terapi gen. Ketika sebuah strategi berhasil dirumuskan langkah selanjutnya adalah memelihara momentum strategis dari organisasi kita. menganalisis data. masalah keterbatasan akses. Ginter Blackwell Publishing Kelima apakah strategi yang mereka kembangkan berjalan efektif atau tidak. ekonomi. Dari sudut pandang penulis. bukan sebagai sesuatu yang dipikirkan terakhir atau pelengkap sebuah perencanaan. buku ini adalah sebuah peta atau kompas yang memberikan kita arah ke mana kita akan memulai perjalanan pribadi kita dalam mengarungi lautan pemikiran strategis. Berbagai perubahan lingkungan di atas harus disikapi oleh pengelola pelayanan kesehatan dengan sebuah strategi yang jelas. kemajuan bioengenering.

3 September 2009 . Akar penyebab (basic cause) masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara dimungkinkan manajemen maskapai penerbangan belum melaksanakan (memenuhi) atau melaksanakan sebagian saja dari kebijakan (peraturan perundangan) dan standar keamanan dan keselamatan penerbangan. Peraturan Pemerintah. 03 September Korespondensi 2009 Halaman 172 . Oleh karena itu. Pada alinea pertama dari pengantar artikel tersebut dinyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keselamatan dan Keamanan Penerbangan Sipil Nasional yang berbasis pada peraturan perundangan yaitu UndangUndang (UU) No. Menurut saya lebih tepat istilah Sistem K3 Penerbangan menjadi Sistem Manajemen K3 Penerbangan. Vol. bahkan mengadopsi peraturan (standar keselamatan) yang ditetapkan oleh badan internasional (International Civil Aviation Organization.JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 12 No. 15/1992 tentang Penerbangan. 2/Juni/2009. 12/ No. Sepengetahuan saya bahwa UU No. dan menyempurnakan secara berkelanjutan sistem manajemen keselamatan (safety management system) dengan berpedoman pada program keselamatan penerbangan nasional”. Pasal 314 ayat 1 dinyatakan bahwa “Setiap penyedia jasa penerbangan wajib membuat. namun jumlah kasus kecelakaan penerbangan belum dapat ditekan seminim mungkin.pasal 322). 15/1992 tentang Penerbangan telah diganti (direvisi) dengan UU No. mungkin sama dengan yang penulis maksud. Meningkatnya kasus kecelakaan dan kerugiannya serta meningkatnya potensi bahaya dalam aktivitas kerja dibutuhkan pengelolaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara efektif. Permenhub. KM 20/ 2009 sepertinya tidak mencakup ruang lingkup kesehatan kerja.2 Pemerintah telah berupaya dalam pencegahan kecelakaan pesawat udara melalui kebijakan yang ditetapkan terkait dengan penerbangan (termasuk keselamatan dan keamanannya) dengan berbagai bentuk seperti Undang-Undang. Masih tingginya jumlah kasus kecelakaan pesawat udara (penerbangan sipil) di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis merupakan masalah utama di sektor perhubungan khususnya perhubungan udara yang memerlukan perhatian serius bagi pihak otoritas yang berkompeten termasuk manajemen maskapai penerbangan. Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan ini dijabarkan lebih rinci pada Peraturan Menteri Perhubungan No. melaksanakan. dan terintegrasi dalam manajemen perusahaan melalui pendekatan SMK3. mengevaluasi. dan seterusnya. Di samping belum adanya Sistem K3 Penerbangan sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. Pada hakikatnya upaya keselamatan kerja harus sejalan dengan kesehatan kerja. Sistem Manajemen Keselamatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. Sistem Manajemen Keselamatan hendaknya menyatu dengan 172 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Civil Aviation Safety Regulation). KM 20/ 2009 tentang Sistem Manajemen Keselamatan. Dalam UU ini telah diatur tentang pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan yang dinyatakan pada Bab XIII Keselamatan Penerbangan Bagian Keempat Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan (mulai pasal 314 . Bila kita mau menurunkan angka kecelakaan pesawat terbang atau ingin mencapai nihil kecelakaan (zero accident). 1 Pencegahan kecelakaan merupakan tanggung jawab utama manajemen dan upaya pencegahannya berbasis pada manajemen melalui penerapan SMK3 yang terintegrasi di dalam proses dan budaya bisnis. No. maka perlu suatu program keselamatan penerbangan yang konsisten. menyeluruh. SK Dirjen Perhubungan Udara. 12. 1/2009 tentang Penerbangan tanggal 12 Januari 2009.com DEVELOPING FRAMEWORK FOR CIVIL AVIATION OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY SYSTEM IN INDONESIA M elalui korespondensi ini mohon kiranya diperkenankan saya memberikan tanggapan dan masukan perihal artikel I Made Ady Wirawan yang berjudul Developing Framework for Civil Aviation Occupational Health and Safety System in Indonesia (Mengembangkan Kerangka Konsep Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja Penerbangan Sipil Di Indonesia) yang dimuat pada Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol.3 Program K3 yang disusun merupakan komponen dari SMK3.173 Korespondensi Email ditujukan ke hiillary@yahoo.

KEPUSTAKAAN 1. Gerry Silaban Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Dicetak oleh Sekretariat ASEAN OSHNET. SMK3 ini dapat diterapkan diberbagai sektor usaha/ jasa (termasuk penyedia jasa penerbangan sipil). Diselenggarakan oleh PT Sucofindo (Persero). Permenaker RI No. Tersedia dalam http://news. namun diperlukan komitmen yang kuat dari manajemen maskapai penerbangan sipil dengan melibatkan seluruh jajarannya untuk memerapkan SMK3.2004. 05/1996 sesuai dengan situasi dan kondisi penerbangan di Indonesia. Mulijadi H. Keselamatan Penerbangan. di samping rasa nyaman dan aman dari pengguna jasa. oleh karena itu perlu ada kerja sama dan koordinasi antara instansi Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Perhubungan agar SMK3 dapat diterapkan oleh manajemen perusahaan maskapai penerbangan sipil. Rudiyanto. 12. Output dari penerapan SMK3 dapat mendongkrak citra maspakai penerbangan sipil yang sekaligus mewujudkan zero accident. Fundamental Principles of Occupational Health and Safety. sehingga disain Sistem K3 Penerbangan Sipil yang diusulkan penulis dapat menjadi masukan bagi Departemen Perhubungan. peran serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta pihak lainnya yang peduli terhadap masalah K3 penerbangan sipil. Diakses pada 14 Februari 2007. Makalah Pelatihan Pengenalan SMK3.php/ ReadStory/2007/02/14/58/4512/keselamatanpenerbangan. Cetakan Ke 2. Saya sangat menghargai adanya konsep desain Sistem K3 Penerbangan Sipil di Indonesia dari penulis berupa program keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana yang disajikan dalam artikel. kebakaran. Dalam: Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. First Published. Departemen Perhubungan dapat mengembangkan SMK3 yang ditetapkan Permenaker No. 2. Vol. Geneva. International Labor Office.Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Kesehatan Kerja. com/index. Penerapan SMK3 dan Pelaksanaan Audit SMK3. Pada pasal 3 Permenaker ini dinyatakan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. 2002. No.2001. 05/1996. dan pencemaran wajib menerapkan SMK3. 4. 3 September 2009 173 . pembinaan dan pengawasan dari pemerintah Departemen Perhubungan. 05 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta. 3. namun saya belum melihat detail dari desain tersebut. peledakan. Sebenarnya kita telah memiliki suatu standar pengelolaan K3 melalui pendekatan suatu sistem yang dikenal dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang pelaksanaannya terintegrasi dalam manajemen perusahaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. Jakarta. Alli BO.4 Hingga saat ini belum banyak perusahaan maskapai penerbangan sipil yang menerapkan SMK3 tersebut. Penerapan SMK3 di bidang penerbangan sipil bukanlah suatu pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. penyakit akibat kerja.vokezone.