Anda di halaman 1dari 42

STATISTIK INDUKTIF

UNTUK EKONOMI

OLEH :

Ummiy fauziyah laili


MATERI
PENGANTAR UMUM STATISTIKA
BAB I RUANG SAMPEL DAN KEJADIAN
 Pendahuluan
 Ruang Sampel
 Kejadian
 Dua Kejadian Yang Saling Lepas
 Operasi Kejadian
BAB II MENGHITUNG TITIK SAMPEL
 Prinsip Perkalian/ Aturan Dasar
 Notasi Faktorial
 Permutasi
 Permutasi (Seluruhnya) Dengan Beberapa Unsur Yang Sama
 Permutasi Melingkar
 Kombinasi
 Diagram Pohon
BAB III PELUANG KEJADIAN
 Definisi Klasik
 Beberapa Hukum Peluang
 Kejadian Saling Bebas
BAB IV PELUANG BERSYARAT DAN ATURAN BAYES
 Peluang Bersyarat
 Aturan Bayes
Identifikasi, Pemilihan, Perumusan
Masalah

Landasan Teori (Kajian DEDUKSI Penyusunan Kerangka


Teori dan Penelitian yang Berpikir
Relevan)

Perumusan Hipotesis Penelitian The role of


INDUKSI statistics
Pengujian Hipotesis Penelitian
(Pengumpulandan Analisis Data)

ya tidak

Hipotesis
Diterima?

SCIENTIFIC METHOD CYCLE


Statistika
 Statistika
adalah pengetahuan yang berhubungan dengan
cara penyusunan data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan mengenai suatu
keseluruhan (yang disebut populasi)
berdasarkan data yang ada pada bagian dari
keseluruhan tadi.
 Bagian dari keseluruhan (populasi) disebut
sampel.
Statistik
 Statistika deskriptif (deduktif)
adalah bagian statistika yang mempelajari cara
penyusunan dan penyajian data yang
dikumpulkan.
 Statistika inferensial (induktif)
adalah bagian statistika yang mempelajari tata
cara penarikan kesimpulan mengenai populasi
berdasarkan data yang ada pada sampel
Populasi dan Sampel
Dilakukan
perhitungan
pada sampel
(analisis data)

sampel sampel

Hasil perhitungan pada sampel


POPULASI dikembalikan kepada populasi

Populasi adalah sekumpulan objek


yang ingin diteliti
Sampel adalah himpunan Membuat inferensi
bagian dari populasi (generalisasi)
DATA STATISTIK
 1. data kualitatif
 Data yang tidak dalam bentuk angka
 Misal: mutu barang disupermarket “X” jelek
 2. data kuantitatif
 Data yang umumnya berbentuk angka
 Contoh : rentang nilai mahasiswa antara 0 sampai dengan 4
 a. diskrit
 adalah data hasil menghitung atau merupakan hasil membilang .
Contoh : printer yang terjual 3 buah
 b. kontinyu
 adalah data dari hasil pengukuran
 contoh : berat badan mahasiswa semester 1 adalah 47,5 kg, 50
kg, 80, 3 kg
Variabel
 Variabel diartikan sebagai konstruk-konstruk
atau sifat-sifat yang diteliti.
 Variabel adalah sesuatu yang dapat
menggolongkan anggota-anggota kelompok ke
dalam beberapa golongan.
 Variabel adalah suatu sifat yang dapat memiliki
bermacam nilai (harga).
 Apabila suatu variabel hanya mempunyai satu
nilai saja, maka variabel tersebut disebut
konstanta.
Skala Variabel

 Variabel Nominal (klasifikasi)


 Variabel Ordinal (klasifikasi, urutan)
 Variabel Interval (klasifikasi, urutan,
terdapat satuan ukuran)
 Variabel Rasio (klasifikasi, urutan,
terdapat satuan ukuran, terdapat nol
mutlak) ,nolnya punya nilai,contoh suhu
BAB I RUANG SAMPEL DAN KEJADIAN

A. Pendahuluan
Dari jaman dulu sampai sekarang orang sering berhadapan
dengan “peluang”. Misalnya orang melambungkan satu kali
mata uang logam bersisi gambar dan bersisi angka, maka
peluang muncul sisi gambar sama dengan peluang muncul
sisi angka; kemungkinan muncul sisi gambar adalah 1 dari
2, yaitu peluangnya muncul sisi gambar adalah 1/2,
demikian pula peluangnya muncul sisi angka adalah 1/2.
Misalnya dalam permainan sepakbola, seorang wasit
melambungkan mata uang logam satu kali untuk mengundi
tempat bermain masing-masing kesebelasan yang
berhadapan sebagai lawan, upaya wasit melakukan undian
seperti ini dipandang adil baik oleh para pemain maupun
penonton.
B. Ruang Sampel
 Definisi 1.1
Himpunan dari semua hasil yang mungkin muncul pada
suatu percobaan disebut ruang sampel, sedangkan
anggota-anggota dari ruang sampel disebut titik sampel.
 Ruang sampel biasa disimbolkan dengan huruf S,
sedangkan anggota-angota ruang sampel didaftar dengan
menuliskannya diantara dua kurung kurawal (alokade),
masing-masing anggota dipisah dengan tanda koma.
 Contoh
Pada percobaan melempar sebuah dadu sekali maka ruang
sampelnya adalah S = {1,2,3,4,5,6} dengan 1 menyatakan
banyaknya titik dadu bagian atas ada satu, 2 menyatakan
banyaknya titik dadu bagian atas ada dua, dan seterusnya.
C. Kejadian
Definisi
Kejadian atau peristiwa adalah himpunan bagian dari ruang sampel .
Karena kejadian adalah himpunan bagian dari ruang sampel maka biasanya
disimbolkan dalam huruf besar.
Pada umumnya kejadian dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
Kejadian sederhana; yaitu kejadian yang hanya mempunyai satu titik sampel.
Contoh
{1}, {4}, {5} adalah kejadian-kejadian sederhana dari percobaan melempar sebuah
dadu bersisi enam.
Kejadian majemuk; yaitu kejadian yang mempunyai lebih dari satu titik
sampel.
Contoh
{1,2}, {2,4,6}, {2,3,5} adalah kejadian-kejadian majemuk pada percobaan melempar
sebuah dadu bersisi enam.
Dari definisi kejadian juga dapat disimpulkan bahwa S dan  juga suatu kejadian,
karena SS dan S.
D. Dua kejadian Yang Saling Lepas (Saling Asing)

 Dua kejadian dikatakan saling lepas/asing apabila dua


kejadian tersebut tidak mungkin terjadi bersama-sama
atau tidak mungkin dipertemukan. Dengan kata lain
kejadian yang satu meniadakan kejadian yang lain.
 Contoh
Pada percobaan melempar sebuah dadu satu kali,
kejadian munculnya mata dadu 1 dan kejadian munculnya
mata dadu 3 adalah dua kejadian yang saling lepas,
sebab apabila muncul mata dadu 1 maka mata dadu 3
tidak mungkin muncul, demikian pula sebaliknya.
 Dalam notasi himpunan dua kejadian A dan B disebut
saling lepas jika AB=.
Pada contoh diatas misalkan A adalah kejadian
munculnya mata dadu 1 dan B adalah kejadian
munculnya mata dadi 3 maka A = {1} dan B={3} sehingga
AB=, disimpulkan kejadian A dan B saling lepas
E. Operasi Kejadian
Operasi antar kejadian antara lain: operasi gabungan (union), operasi irisan
(interseksi) dan komplemen
Contoh
Misalkan pada percobaan melempar sebuah dadu sebanyak satu kali dengan ruang
sampel S={1,2,3,4,5,6}. Misalkan A kejadian munculnya mata dadu ganjil, maka
A={1,3,5}, dan B kejadian munculnya mata dadu prima, maka B={2,3,5}.
Dari dua kejadian tersebut dapat dibentuk kejadian majemuk sebagai berikut .
 Gabungan dua kejadian , P = AB = {1,2,3,5}. Kejadian P adalah kejadian
munculnya mata dadu ganjil atau prima. Arti kata “atau” dalam hal ini adalah
kejadian A atau kejadian B atau kejadian kedua-duanya. Jadi gabungan kejadian
A dan B ditulis AB adalah himpunan titik sampel yang terdapat pada kejadian A
atau kejadian B atau kedua-duanya.
 Irisan dua kejadian Q= AB ={3,5}. Kejadian Q adalah kejadian munculnya
mata dadu ganjil dan prima. Kata “dan” berarti kejadian A terjadi dan bersamaan
dengan itu kejadian B terjadi. Jadi irisan kejadian A dan B ditulis AB adalah
himpunan titik sampel yang terdapat pada kejadian A dan terdapat pada kejadian
B.
 Operasi Komplemen. Komplemen kejadian A dalam ruang sampel S adalah
himpunan semua unsur di S yang tidak termasuk di A.
Misalkan A={1,3,5} maka komplemen A ditulis Ac atau Ā = {2,4,6}.
 Operasi Gabungan. Kejadian yang menggambarkan adanya
himpunan yang saling mengiris maupun saling menggabung.

 Contoh : Pada suatu asrama putri, 20 putri berlangganan majalah


femina, 17 berlangganan majalah gadis, 13 berlangganan majalah
kartini, 7 orang berlangganan femina dan gadis, 5 berlangganan
femina dan kartini, 4 berlangganan gadis dan kartini dan 1 orang
berlangganan ketiga majalah. Setiap putrid berlangganan sedikitnya
satu majalah. Berapa jumlah putri di situ?
BAB II MENGHITUNG TITIK SAMPEL

A. Prinsip Perkalian/Aturan Dasar


Jika suatu kejadian dapat terjadi dengan
n1 cara yang berbeda, dan kejadian
berikutnya (sebut kejadian kedua) terjadi
dengan n2 cara yang berbeda, dan
seterusnya maka banyaknya
keseluruhan kejadian dapat terjadi
secara berurutan dalam n1.n2.n3… cara
yang berbeda.
Contoh
Berapa banyak kertas yang harus disediakan, jika tiap kertas ditulisi
bilangan 3 angka yang dibentuk dari lima angka 1,3,5,7,9, jika :
a. pengulangan tidak diperbolehkan
b. pengulangan diperbolehkan.
Penyelesaian.
a. Misalkan ada tiga kotak untuk mempresentasikan bilangan sebarang.
kotak pertama dapat diisi dengan 5 cara, karena pengulangan tidak
diperbolehkan maka kotak kedua dan ketiga masing-masing dapat
diisi dengan 4 dan 3 cara.
Jadi banyaknya bilangan yang dapat terbetuk ada 5.4.3=60 bilangan.
Karena tiap bilangan dituliskan pada sebuah kertas maka banyaknya
kertas yang harus disediakan ada 60 kertas.
b. Karena pengulangan diperbolehkan maka kotak pertama, kedua dan
ketiga dapat diisi dengan 5 cara, sehingga banyaknya bilangan yang
terbentuk ada 5.5.5 = 125 bilangan. Jadi banyaknya kertas yang
harus disediakan ada 125 lembar.
B. Notasi Faktorial

 Definisi 2.1
Hasil kali bilangan bulat positif dari 1 sampai n
disebut n faktorial ditulis n! .
Jadi n! = 1.2.3…..(n-2)(n-1).n ; dan 0! = 1

Contoh
Hitunglah (a) 5! (b) 10 !
Penyelesaian
(a) 5! = 5.4.3.2.1 = 720
(b) 10! = 10.9.8.7.6.5.4.3.2.1 = 3.628.800
C. PERMUTASI
Permutasi adalah susunan berurutan dari semua atau sebagian elemen
suatu himpunan

P(n,r) = Banyaknya permutasi-r dari suatu himpunan dengan n


elemen.
Teorema 1. P(n,r) = n(n-1)(n-2) … (n-r+1)
Bukti
• Ada n cara untuk memilih elemen pertama dari permutasi.
• Untuk memilih elemen kedua ada (n-1) cara, karena tinggal n-1
elemen dalam himpunan yang dapat digunakan sebagai elemen
kedua.
• Dengan cara yg sama, ada (n-2) cara untuk memilih elemen ketiga.
• Ada tepat (n-r+1) cara utk memilih elemen ke-r.
• Menurut aturan perkalian,
P(n,r) = n(n-1)(n-2) … (n-r+1).

n!
P (n, r ) 
(n  r )!
Contoh
Tentukan banyaknya kata (tidak harus punya arti) yang
terdiri dari 3 huruf yang dapat dibentuk dari huruf-huruf
dari kata CINTA
a. Apabila setiap huruf yang digunakan tidak boleh lebih
dari sekali.
b. Apabila setiap huruf bisa diulangi dalam sebarang
penyusunan.
Penyelesaian.
a. Banyaknya kata-kata = pengaturan 5 huruf yang
berbeda diambil 3 sekaligus = P(5,3) = 60
b. Banyaknya kata-kata = 5.5.5 = 75
D. Permutasi (Seluruhnya) dengan
Beberapa Unsur yang Sama
 Teorema
Banyaknya permutasi yang berlainan dari
n elemen bila n1 diantaranya berjenis
pertama, n2 berjenis kedua, … ,nk
berjenis ke-k adalah
n!
P(n , (n1,n2,n3,…nk)) = ,
n1!n 2!n 3!...nk!

dimana n1 + n2 + n3 + …+ nk = n
Contoh
Ada berapa penyusunan kata-kata (tidak harus
punya arti) yang diambil dari kata “KAKAKKU”.
Penyelesaian
Permutasi dari 7 huruf dimana ada 4 huruf sama
yaitu K, dan 2 huruf sama yaitu A adalah
7!
P(7, (4,2,1)) = = 105.
4! 2! 1!
Jadi banyaknya penyusunan kata yang mungkin
ada 105 kata.
E. Permutasi Melingkar (Permutasi Siklis)

Banyaknya permutasi n unsur berlainan yang


disusun melingkar adalah (n-1)!
Contoh
Sekelompok mahasiswa yang terdiri dari 4 orang
duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Dalam
berapa cara keempat orang mahasiswa tadi
dapat duduk mengelilingi meja tersebut.
Penyelesaian.
Keempat mahasiswa tadi dapat diatur
mengelilingi meja dalam (4-1)! = 3! = 6
F. Kombinasi

 Definisi
Kombinasi adalah susunan unsur-unsur
yang urutannya tidak diperhatikan.
Banyaknya kombinasi r elemen yang diambil dari n
n
elemen ditulis C(n,r) atau nCr atau  n  atau C r
r
n!  
adalah dengan r  n.
r! (n  r )!
Contoh
Suatu tim bola basket terdiri dari 5 orang akan
dipilih darin 10 pemain. Berapa macam susunan
dapat dipilih ?
Penyelesaian.
Susunan yang dapat dipilih adalah pengambilan
5 orang dari 10 orang yang urutannya tidak
diperhatikan, jadi menggunakan banyaknya
kombinasi 5 orang yang dipilih dari 10 orang =
C(10,5) = 10! 10!
  252
5! (10  5)! 5! 5!
G. Diagram Pohon
Diagram pohon merupakan cara yang mudah
untuk menggambarkan hasil-hasil yang mungkin
dari sederetan percobaan jika dari setiap
percobaan hasil yang mungkin berhingga.
(dalam teori peluang disebut proses stokastik).
Diagram pohon bila diperhatikan menurut suatu
arah tertentu, mulai dengan satu titik, bercabang
dan cabang-cabang itu mungkin bercabang-
cabang lagi dan cabang-cabang baru itu
bercabang lagi dan seterusnya. Jadi menurut
suatu arah tertentu, dan banyaknya cabang
yang meninggalkan titik itu paling sedikit satu.
Contoh
Melempar 3 mata uang bersama-sama (sisi
mata uang angka disingkat A dan gambar
disingkat G), hasilnya dapat digambar dengan
diagram pohon sebagai berikut .
A AAA
A
G GAA
A
A AGA
G
G AGG

A AGG
A
G GAA
G
A GGA
G
G GGG
Gambar diatas menggambarkan semua hasil yang mungkin terjadi pada percobaan
melempar 3 mata uang, sehingga kita bisa menentukan ruang sampel dan peluang
setiap kejadian yang berkaitan dengan percobaan tersebut.
BAB III
PELUANG KEJADIAN
A. Definisi Peluang Klasik
Jika suatu percobaan menghasilkan n hasil
yang tidak mungkin terjadi bersama-sama dam
masing-masing mempunyai kesempatan yang
sama untuk terjadi, maka peluang suatu
kejadian A ditulis P(A) = n ( A ) ,
n
dimana n(A) adalah banyaknya hasil dalam
kejadian A.
Setiap hasil dari n hasil yang mungkin muncul
dengan kesempatan yang sama itu berpeluang
muncul yang sama dengan 1/n.
 Jika kejadian yang diharapkan tidak pernah
terjadi, berarti n(A) = 0, maka
P(A) = 0/n = 0, sehingga peluangnya = 0.
 Jika kejadian A yang diharapkan itu selalu
terjadi terus menerus, berarti n(A)=n maka P(A)
= n/n = 1. Sehingga peluangnya = 1
 Kesimpulannya adalah bahwa nilai P(A) terletak
diantara nol dan satu, atau ditulis 0  P(A)  1.
Contoh
Sebuah mata uang dilempar dua kali, tentukan
peluang munculnya sisi gambar pada lemparan
pertama dan sisi angka pada lemparan kedua.
Penyelesaian.
Ruang sampel dari percobaan diatas S= {(A,A),
(A,G), (G,A), (G,G)}
Misalkan D kejadian munculnya sisi gambar
pada lemparan pertama dan sisi angka pada
lemparan kedua, maka D = {(G,A)}.
Karena semua titik sampel bersempatan sama
untuk terjadi maka P(D) = ¼.
B. Beberapa Hukum Peluang
Teorema
Bila A dan dua kejadian sembarang, maka
P(AB) = P(A )+ P(B) – P(AB).
Akibat 1.
Bila A dan B kejadian yang saling lepas (terpisah),
maka P(AB) = P(A) + P(B).
Akibat 2.
Bila A1, A2, A3, ..., An saling lepas, maka
P(A1 A2A3 ... An) = P(A1)+P(A2)+P(A3)+...+P(An)
Teorema
Bila A dan A’ kejadian yang saling berkomplemen, maka
P(A’) = 1 – P(A).
C. Kejadian Saling Bebas
Definisi
Kejadian A dan B dikatakan saling bebas jika dan
hanya jika
P(A).P(B) =P(AB).
Contoh
Jika A dan B dua kejadian yang saling bebas
dengan P(A) =0,2 dan P(B)=0,3, hitung
P(AB) ?
Penyelesaian
Karena A dan B kejadian yang saling bebas,
maka P(AB)= P(A).P(B)=0,2.0,3=0,6
BAB IV PELUANG BERSYARAT DAN
ATURAN BAYES
A. Peluang Bersyarat
Definisi
Peluang bersyarat B dengan dengan diketahui A ditentukan
oleh P( A  B)
P(BA) = , bila P(A) > 0
P ( A)
Akibat 1
P(AB)=P(A) P(BA)

Akibat 2
Bila suatu percobaan, kejadian A1, A2, A3, …. dapat terjadi
maka
P(A1 A2 A3 …. ) = P(A1).P(A2|A1).P(A3| A1 A2)…
Contoh
Dari seperangkat kartu bridge diambil satu kartu
secara berturut-turut sebanyak dua kali.
Tentukan peluang pengambilan pertama As dan
pengambilan kedua King.
Penyelesaian
Misalkan A: kejadian pertama (terambil kartu As)
B: kejadian kedua (terambil kartu King)
Maka P(A) = 4/52 dan P(BA)=4/51 (karena
satu kartu telah terambil).
Jadi P(AB)=P(A) P(BA) = 4/52. 4/51 = 4/663.
B. ATURAN BAYES
Teorema (Aturan Bayes).
Jika kejadian-kejadian B1, B2, B3, …, Bk
adalah partisi dari ruang sampel S dengan
P(BI)  0 , I = 1.2,3,..,k maka untuk setiap
kejadian A dalam S denga P(A)  0
berlaku
P( Bi  A) P ( Bi ).P( A Bi )
P(BiA) = k  k
 P( B  A)  P( B ).P( A B )
i 1
i
i 1
i i
Contoh
Jurusan matematika FMIPA UNNES ingin menyewa Bus dari 3
perusahaan , yaitu 60% bus Jawa Indah, 30% Bus Nusantara, dan 10%
bus Kramat Jati. Diketahui juga 9% bus Jawa Indah tidak berAC, 20%
bus Nusantara tidak berAC, dan 6% bus Kramat Jati tidak berAC. Jika
sebuah Bus yang disewa dan ternyata tidak berAC, hitung peluang yang
disewa adalah bus Jawa Indah.
Penyelesaian
Misalkan J : kejadian yang terambil adalah bus Jawa Indah
N : kejadian yang terambil adalah bus Nusantara
K : kejadian yang terambil adalah bus Kramat Jati
P( J ) P( A J )
Maka P(JA) =
P( J ) P( A J )  P( N ) P( A N )  P( K ) P( A K )
60%.9%
=
60%.9%  30%.20%  10%.6%
= 0,45
SOAL LATIHAN PROBABILITAS
1. Suatu perusahaan memerlukan ban mobil untuk kendaraan- kenclaraan mibk
perusahaan. Probabilitas bahwa perusahaan akan membeli ban mobil merk Uniroyal,
Goodyear, General, Continental, Bridgestone, dan Amstrong adalah berturut-turut
0,17, 0,22, 0,03, 0,29, 0,21, dan 0,08. Hitunglah probabilitasnya bahwa perusahaan
tersebut akan membeli :
a. ban mobil merk Goodyear atau Bridgestone.
b. ban mobil merk Uniroyal, Continental, atau Bridgestone.
c. ban mobil merk General atau Amstrong.
d. ban mobil merk Goodyear, Continental, atau Amstrong.
2. Probabilitas bahwa suatu stasiun TV akan menerima 0, 1, P
 2, 3, , 8, atau paling sedikit 9 pengaduan/keluhan
sesudah menyiarkan suatu program yang kontroversial, berturut-turut adalah 0,01,
0,03, 0,07, 0,15, 0,19, 0,18, 0,14, 0,12, 0,09, dan 0,02. Hitunglah probabilitasnya
bahwa sesudah menyiarkan program tersebut, stasiun TV akan
 menerima :
a. Kurang dari 4 pengaduan/keluhan.
b. Paling sedikit 6 pengaduan/keluhan.
c. 5 sampai dengan 8 pengaduan/keluhan.
4. Dari 100 personil suatu pabrik diketahui : 57 orang merupakan karyawan bagian
produksi (dinotasikan A), 40 orang pengawas (dinotasikan B), 2 orang sekretari
(dinotasikan C), dan 1 orang adalah top manajer (dinotasikan D). Jika seorang
karyawan dipilih secara random, berapa P(A U B U C) ?
5. Sebuah kota kecil memiliki satu unit pemadam kebakaran dan satu ambulance yang
tersedia dalam keadaan darurat. Probabilitas bahwa unit pemadam kebakaran akan
siap bila diperlukan adalah 0,98 dan probabilitas bahwa ambulance siap bila
dipanggil adalah 0,92. Dalam peristiwa terbakar nya suatu gedung di kota itu berapa
probabilitasnya kedua nya akan siap beroperasi.
6. Misalnya seorang insinyur telah membuat suatu mesin model baru, dan X
menunjukkan kejadian bahwa mesin ter­sebut pemakaian bahan bakarnya hemat, Y
menunjukkan kejadian bahwa mesin tersebut biaya pemeliharaannya ren­dah, dan Z
menunjukkan kejadian bahwa mesin tersebut dapat dijual dengan laba yang tinggi.
Kejadian-kejadian ter­sebut dapat digambarkan dalam diagram Venn di bawah ini
 Jelaskan dengan kata-kata kejadian apa yang ditunjukkan
 oleh daerah dalam diagram Venn seperti di bawah ini :
 Daerah 1 e. Daerah 1 dan 4 bersama
 Daerah 4 f. Daerah 3 dan 6 bersama
 Daerah 5 g. Daerah 2, 5, 7 dan 8 bersama.
 Daerah 8
SOAL PERMUTASI KOMBINASI
1. Diperoleh tugas untuk merakit 4 komponen yang berbeda. Tiap komponen mempunyai
kode warna yang berbeda dan dapat dirakit dengan berbagai jalan. Departemen
produksi ingin mendapatkan cara yang paling efisien untuk merakit 4 komponen
tersebut. Kemudian dilakukan percobaan untuk memecahkan masalah tersebut.
Pertama, perakitan 4 komponen tersebut dengan susunan : Hijau, Hitam, Kuning,
clan Biru. Perakitan dilanjutkan dengan susunan yang berbeda. Berapa banyak cara
4 komponen tersebut dapat dirakit
2. Terdapat 6 warna dasar yang dapat digunakan untuk men­dekorasi sebuah gedung
kesenian barn. Setiap komposisi dapat mempergunakan 4 bush warna. Misalnya,
warna emas sebagai warna dasar, biru sebagai warna pujian, merah se­bagai warna
dominan, dan putih sebagai warna sapuan. Komposisi lain misalnya, biru sebagai
warna dasar, putih sebagai warna pujian, emas sebagai warna dominan, dan merah
sebagai warna sapuan.
a. Apabila pengulangan warna tidak diperkenankan (seperti misalnya : biru, biru, biru,
dan putih), ada berapa ke­mungkinan komposisi yang dapat dipakai.
b. Apabila pengulangan warna diperbolehkan, ada berapa banyak komposisi yang
dapat digunakan
3. Sebuah panitia yang terdiri 3 anggota dibentuk dari, 3 karyawan, 2
manajer, clan 4 orang dari luar perusahaan.Panitia tersebut harus
terdiri dari seorang karyawan, se orang manajer, dan seorang dari
luar perusahaan. Ada berapa banyak cara panitia tersebut dapat
dibentuk. Gam­barkan dalam diagram pohon
4. Suatu mesin menghasilkan sebanyak 12000 botol setup hari dan
rata-rata 3 persennya rusak. Dari 600 botol yang di­ambil secara
random, berapa probabilitasnya 12 di antara­nya rusak.
5. Seorang importir ditawari komoditi mutiara seharga S 20,000. dan
probabilitas bahwa ia akan mungkin menjual­nya dengan harga $
24,000, $ 22,000, $ 20,0000, $ 18,000 adalah berturut-turut 0,22,
0,47, 0,26, dan 0,05. Jika ia membeli mutiara tersebut, berapa
besarnya laba bruto yang diharapkan ?
6. Seorang petani akan menebarkan bibit suatu jenis tanaman di suatu tempat. Ia
mempunyai alternatif tiga. kebun. Petani itu memperkirakan bahwa peluang tanaman
itu akan tumbuh subur apabila disemaikan di kebun I adalah 0,6 dan apabila tumbuh
subur ia akan bisa memetik keuntungan Rp 300.000,00 tiap panen, sebaliknya bila
tidak berhasil ia akan rugi Rp 50.000,00. Peluang bahwa tanaman itu akan tumbuh
subur bila disemaikan di kebun II adalah 0,5, dengan harapan bisa memetik
keuntungan Rp 400.000,00 tiap panen, dan bila tidak berhasil ia akan menderita
kerugian Rp 100.000,00. Di kebun III peluang berhasil adalah 0,55 dengan harapan
keuntungan Rp 350.000,00, bila gagal akan rugi Rp 60.000,00.
 Berdasarkan harapan matematik tertinggi, kebun mana yang akan terpilih ?
 Bila peluang berhasil di kebun III hanya 0,5, apakah petani akan merubah keputusan
pertama ? Jelaskan.

Anda mungkin juga menyukai