Anda di halaman 1dari 38

KETERAMPILAN KLINIS

KEPERAWATAN GERONTIK

By. Iwan Wahyudi, S.Kep.,Ns.,S.Kep


Latihan Kognitif Lansia
Pengkajian lansia yg mengalami gangguan
kognitif:
• Kemunduran kemampuan untuk
ekspresikan pikiran dalam tulisan
• Penurunan kemampuan dalam mengambil
keputusan
• Penurunan kemampuan komunikasi/bicara
Tujuan latihan/stimulasi kognitif
• Memberikan rangsangan pada SSP agar
daya ingat dapat dipertahankan seoptimal
mungkin
Persiapan alat
• Kelender dengan angka besar
• Jam meja dengan angka besar
Proses :
• Anjurkan klien duduk dan letakkan alat peraga
didepannya dengan jarak pandang yang jelas,
gunakan kaca mata bila perlu
• Anjurkan klien menyebutkan apa yang ditunjuk
perawat
• Tutup alat peraga selama 5 menit , minta klien
untuk mengulangi lagi
• Latih secara teratur 15-20 menit sehari
• Libatkan keluarga untuk membantu
Hasil
• Evaluasi respon verbal dan non verbal klien
apa yang klien rasakan terhadap latihan
yang diberikan
• Anjurkan klien mengulangi 15-20 menit
setiap hari
Hal yg perlu diperhatikan:
• Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami
• Gunakan teknik komunikasi terapeutik: tatap
muka, teknik fokus, refleksi, klarifikasi
• Beri kesempatan paa klien untuk mencerna
informasi yg disampaikan
• Gunakan alat bantu yg memudahkan klien
Evaluasi
• Observasi dan catat semua penampilan dan
kemmapuan klien selama dan setelah
intervensi
• Susun rencana tindak lanjut
• Cermati perubahan/kemunduran kognitif yg
cepat
Latihan Fisik lansia
• Aktifitas fisik secara rutin memiliki dampak
yang baik untuk meningkatkan kesehatan
lansia, namun aktifitas fisik yang salah akan
menimbulkan risiko lebih besar dari
manfaat yang diperoleh
Latihan pada lansia perlu dibedakan berdasar
beberapa kondisi:

• Penyakit yang diderita seperti penyakit


jantung, darah tinggi, diabetes atau rematik
• Kebiasaan olah raga sebelumnya
• Status kognitif pasien : apakah ada
kepikunan?
• Riwayat jatuh sebelumnya
• Bentuk latihan aerobik adalah bentuk yang paling
aman bagi lansia secara umum. Latihan aerobik
meliputi lari ringan ataupun jalan cepat, berenang,
senam seperti tai-chi, maupun yoga.
• Dengan frekuensi 3-4 kali seminggu selama 30
menit tiap kalinya akan memberikan manfaat yang
sangat baik bagi kesehatan lansia.
• Bagi penderita DM, latihan aerobik merupakan
bentuk latihan utama yang sangat bermanfaat bagi
pengendalian gula darah. Olah raga yang
dianjurkan adalah lari ringan selama minimal 30
menit 4 kali seminggu dengan target denyut
jantung 60% denyut maksimal.
• Latihan beban merupakan latihan tambahan yang
dapat meningkatkan efektifitas pengendalian gula
darah.
• Namun perlu diingat bahwa penderita DM
sering disertai komplikasi lain seperti
penyakit jantung, darah tinggi sehingga
latihan beban lebih baik diawasi oleh
seorang personal trainer yang mengerti
tentang kondisi medis tersebut
• Lansia dengan penyakit jantung koroner
maupun gagal jantung , sangat tidak
disarankan untuk latihan beban maupun
latihan yang menggunakan gerakan
mendadak seperti tennis, badminton, atau
high impact aerobic
• Hal ini disebabkan perubahan mendadak
dalam gerakan latihan akan memacu
jantung untuk menyesuaikan diri dengan
meningkatkan denyut secara cepat. Pada
lansia dengan gangguan koroner maupun
gagal jantung, hal ini dapat mengakibatkan
henti jantung mendadak dan kematian
• Olah raga bagi penderita jantung adalah
olah raga yang bersifat kontinyu dan
ditingkatkan secara progresif seperti
berenang, jogging selama 10 menit dan
sebanyak 2-4 kali seminggu yang kemudian
ditingkatkan hingga 30 menit tiap sesi
latihan.
• Penderita osteoporosis akan mendapat
manfaat yang sangat baik dengan latihan
beban sedang. Penggunaan beban dalam
latihan akan mempertahankan kekuatan otot
dan meningkatkan densitas masa tulang
sebagai mekanisme kompensasi terhadap
beban tersebut
• Penderita stroke juga akan mendapat banyak
manfaat dengan latihan beban
• Sisi tubuh yang lumpuh pada awalnya harus
dilatih secara pasif (digerakkan oleh orang lain)
namun secara perlahan harus terus dilatih secara
aktif. Pada beberapa orang dengan stroke yang
ringan hingga sedang, kelumpuhan yang terjadi
akan tidak nampak lagi dengan latihan intensif
selama beberapa bulan.
Prinsip Program Latihan Fisik / Olah Raga
bagi lansia :
1. Latihan fisik harus disenangi / diminati
2. Latihan fisik harus disesuaikan dengan kondisi
kesehatan (ada kelainan / penyakit atau tidak)
3. Latihan fisik sebaiknya bervariasi
4. Latihan fisik sebaiknya berlangsung lama /
teratur dan berulang
5. Dosis latihan fisik :
a. Lama latihan minimum : 15 – 45 menit
teratur
b. Frekuensi latihan : 3 – 4 x / minggu
c. Kekuatan latihan : 60 – 80 % DNmaks
(denyut nadi maks)
dimana DNM = 220 – usia
6. Perlu latihan pemanasan dan pendinginan (bila
sudah ada latihan tersebut dalam senam, boleh
tidak dilakukan)
7. Sebelum latihan boleh minum (sebelum, selama
dan setelah latihan)
8. Makan sebaiknya sudah selesai 2 jam sebelum
latihan, agar tidak mengganggu pencernaan. Kalau
latihan pagi hari tidak perlu makan terlebih dahulu
9. Latihan diawasi pelatih agar tidak terjadi cedera
Jenis Olah Raga / Latihan yang
Baik Bagi Lansia
• Beberapa contoh olah raga yang dapat
dilakukan oleh usia lanjut dalam
memelihara kebugaran, antara lain :
1. Pekerjaan Rumah dan Berkebun
2. Jalan Kaki
Berjalan baik untuk meregangkan otot – otot kaki
dan bila jalannya makin lama makin cepat, akan
bermanfaat bagi daya tahan tubuh. sebaiknya
dilakukan pada pagi hari antara pukul 5 – 6,
dikala udara masih bersih dan segar
• 3. Berenang
Berenang akan melatih pergerakan seluruh tubuh. Latihan
ini lebih baik lagi untuk orang – orang yang mengalami
kelemahan otot atau kaku sendi, asalkan dilakukan secara
teratur.
4. Lompat Tali
Melompat tali mempunyai beberapa keistimewaan
(menggerakkan tali secara berirama menggerakkan tubuh
bagian atas lebih banyak daripada lari perlahan
Latihan fisik dasar bagi lansia
Prinsip :
• Lakukan pada kondisi badan yg baik
• Dimulai dari ringan
• Jangan memaksakan diri jika tidak mampu
• Setiap gerakan dilakukan satu persatu
sebanyak 2-3x kemudian meningkat 8-10x
Latihan fisik dasar meliputi:
• Latihan kepada dan leher
• Latihan bahu dan lengan
• Latihan tangan
• Latihan punggung
• Latihan paha dan kaki
Latihan Napas Dalam
Tujuan
1. Meningkatkan kapasitas vital dan ventilasi
paru
2. Membantu mengeluarkan sekret dan
meningkatkan pengembangan paru scr
maksimal
3. Membantu kenyamanan klien
Persiapan :
• Cuci tangan
• Menjelaskan prosedur dan alasan
• Mengatur posisi (duduk di tempat tidur atau
kursi dengan posisi fowler, semi fowler,
sikap tubuh rileks
Pelaksanaan :
• Meletakkan kedua tangan diatas perut bagian atas
dan temukan kedua ujung jari tengah kanan kiri
tepat diatas prosesus xipoideus
• Menarik napas dalam dengan perlahan melalui
hidung, tahan 3 detik, hembuskan melalui bibir
sedikit demi sedikit
Latihan kandung kemih
Tujuan :
• Mengembalikan kontrol berkemih dalam
rentang 2-4 jam
• Memberikan rasa nyaman
• Dapat menahan kencing dlm waktu yg lama
• Mencegah inkontinensia urgensi
• Pelaksanaan :
1. Jelaskan tujuan
2. Membuat jadwal teratur berkemih sesuai
kebiasaan (misal tiap 1 jam)
3. Jadwal berlaku pd saat klien tidak tidur
4. Klien harus berkemih pada waktu yg ditentukan
baik ada keinginan atau tidak
5. Klien harus mampu menahan berkemih
diluar jadwal berkemih dengan teknih
distraksi dan relaksasi
6. Ajarkan klien untuk memahami
tanda2/rangsangan berkemih
(kedinginan,berkeringat, resah, kedutan otot
dll)
• Lakukan pencatatan dan evaluasi scr teratur.
Latihan ini dihentikan apabila tidak ada
kemajuan selama 3 minggu
• Atur posisi senyaman mungkin untuk
berkekmih dan jaga privasi
• Beri motivasi dan reinforcement
• Bila jadwal dipenuhi, keberhasilan 75%,
angka berkemih diluar kontrol menurun,
maka rentang ditambahkan 30 menit
• Bila inkontinensia masih terjadi
(keberhasilan <75%) maka rentang
berkemih diturunkan
Bantuan ADL umum
Bagi lansia yang bedrest :
• Bantal tidak terlalu keras atau lembek
• Latihan bangun tidur dgn usaha sendiri agar badan tetap
aktif, menghindar pegal2, atrofi otot
• Pengaturan letak tempat tidur : guling dibawah lutut,
berikan bantal angin yg berbentuk cincin untuk mencegah
lecet pada tumit dan bokong
• Miring ki/ka secara bergantian
• Pada letak atau posisi setengah duduk, dibagian kepala
tempat tidur diberi sandaeran atan papan
Cara pindah dari tempat tidur ke kursi :
• Siapkan kursi roda atau kursi lainnya, letakkan didekat tempat tidur
disebelah dinding
• Dudukkan lansia, turunkan kaki ke bawah sisi tempat tidur
• Perawat berdiri tepat didepan lansia, sambil meletakkan kedua tangan
dikedua ketiak lansia
• Suruh lansia meletakkan kedua tangannya diatas pundak perawat untuk
membantu menopang berat badannya, dengan kaki menginjak diatas kaki
penolong
• Angkat perlahan-lahan hingga pasien berdiri tegak diatas kaki penolong
• Tahan beberapa detik lalu mulai melangkah miring ke kursi
• Dudukkan perlahan-lahan
• Bagi 5 kelompok
• Masing kelompok2 mensimulasikan
keterampilan klinis lansia