Anda di halaman 1dari 6

PENAWARAN

Studi :
DINAMIKA BISNIS TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA
(Menuju Era Telekomunikasi Konvergensi)
Mei 2011

Ditengah persaingan yang sangat ketat, bisnis telekomunikasi khususnya seluler terus
mengalami pertumbuhan pesat. Sebagai gambaran, selama tahun 2008-2009, pengguna selular
di Indonesia, dari 7 operator telekomunikasi baik jaringan GSM maupun CDMA meningkat
dari 151,6 juta pelanggan pada tahun 2008 menjadi 211,9 juta pelanggan pada tahun 2010,
belum termasuk pelanggan dari operator pendatang baru yaitu Natrindo Telepon Seluler
(Axis), Smart Telecom (Smart), Hutchison Telecom (Three) dan Sampoerna Telekomuniksasi
Indonesia (Ceria). Dengan tingkat penetrasi (teledensitas) mencapai 89,4% dari total polulasi
penduduk yang sebesar 237 juta, operator telekomunikasi seluler di Indonesia diperkirakan
segera memasuki era zero sum game dengan kondisi saturasi dan penetrasi yang cukup tinggi.
Oleh karena itu, pada era ini, operator telekomunikasi seluler bersaing dalam kapasitas,
cakupan dan sistem pendukung, infrastruktur seperti 2G, 3G, billing, solusi customer
relationship management, storage dan solusi lainnya yang memiliki kemampuan proses cepat
dan tersedia.
Dari tingkat penetrasi yang cukup tinggi, maka dalam tiga tahun terakhir ini, untuk
meraih jumlah pelanggan, semua operator telekomunikasi gencar melakukan promosi
penurunan tarif. Tren penurunan tarif yang dilakukan sejak tahun 2008 itu, tidak terlepas dari
perkembangan teknologi, yang mendorong turunnya investasi per pelanggan (subcriber).
Dengan kondisi di mana seluruh operator telah memberlakukan tarif yang sangat murah dan
relatif sama, maka persaingan bisnis telekomunikasi pada tahun-tahun mendatang tetap akan
mengutamakan kualitas layanan yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan kualitas
jaringan (network) serta pelayanan pelanggan (customer service).
Penurunan tarif telekomunikasi ini juga diikuti perubahan tarif interkoneksi, karena
struktur biaya telekomunikasi berubah setiap tahunnya sesuai dengan perkembangan
teknologi. Menurunnya tarif interkoneksi juga karena terdapat kecenderungan tarif panggilan
antar operator (off-net) berada pada tingkatan yang masih tinggi jika dibandingkan dengan
tarif panggilan sesama operator (on-net). Terkait hal itu, dalam implementasinya, pada tahun
2011, biaya interkoneksi dilakukan secara tidak penuh, yaitu tetap menggunakan biaya
interkoneksi eksisting untuk jaringan public switch telephone network (PSTN) milik Telkom dan
biaya interkoneksi lokal dari PSTN ke fixed wireless access (FWA) untuk mencegah kenaikan
tarif retail. Sementara untuk pola tidak berbayar pada SMS antar operator tetap dipertahankan
sampai rampungnya dilakukan kajian yang intensif tentang implementasi pola berbayar pada
SMS.
Sementara itu, ditengah menurunnya tarif, terdapat pergeseran pola pemakaian
layanan telekomunikasi oleh pengguna dari semula layanan suara (voice) yang memerlukan
pita sempit (narrowband) bergeser ke pita lebar (broadband) untuk komunikasi data termasuk
internet dan multimedia. Disisi lain, jaringan umum teleponi (PSTN) mulai berkonvergensi
dengan jaringan global internet. Dengan kata lain, bisnis telekomunikasi di Indonesia tengah
memasuki transisi menuju era telekomunikasi konvergensi yang ditandai masuknya layanan
telekomunikasi berbasis internet protocol (IP based services).
Sebagai gambaran, selama tahun 2009-September 2010, pengguna fixed
broadband/Speedy Telkom meningkat tajam dari hanya 241 ribu pelanggan pada tahun 2007
menjadi 1,64 juta pelanggan pada tahun 2010. Sedangkan pelanggan mobile broadband/Flash
Telkomsel naik pesat dari 1,37 juta pada September 2009 menjadi 3,8 juta pelanggan hingga

1
Desember 2010. Sementara pelanggan Blackberry naik dari 148.000 pelanggan pada September
2009 menjadi 573.000 pelanggan sampai September 2010. Kecenderungan meningkatnya
jumlah pelanggan broadband juga diikuti operator telekomunikasi yang memegang ijin
layanan seluler 3G lainnya seperti Indosat, XL Axiata, Natrindo Telepon Seluler dan
Hutchison CP Telekomunikasi. Indosat menyediakan layanan broadband nirkabel
menggunakan platform 3G pada tahun 2009 dan per 31 Desember 2009, layanan 3G Indosat
tersebar di 34 kota di Indonesia. Sementara operator layanan broadband nirkabel lainnya
adalah Telkomsel dengan layanan Flash dan XL dengan layanan XL Unlimited, yang
keduanya menggunakan teknologi 3.5G W-CDMA. Sedangkan operator telekomunikasi
lainnya seperti Smart Telecom dan Mobile 8 juga menyediakan layanan wireless broadband
dengan teknologi EVDO-CDMA.
Sementara itu, hingga kini, terdapat lima penyelenggara jaringan akses nirkabel atau
broadband wireless access (BWA/WiMax) pada pita frekuensi 2,3 GHz yang berupaya untuk
menggelar layanan akses data pita lebar secara komersial sebelum batas akhir yang ditetapkan
oleh pemerintah pada November 2011, yaitu First Media, Indosat Mega Media (IM2), Telkom,
Berca Hardayaperkasa dan Jasnita Telekomindo. Kelima perusahaan itu telah membayar
biaya hak penggunaan (BHP) spektrum frekuensi BWA 2,3 GHz dan memperoleh ijin prinsip
penggelaran BWA selama 10 tahun yang dapat diperpanjang selama 10 tahun. Selain itu,
perusahaan pemenang tender BWA itu telah melakukan uji laik operasi sebelum penggelaran
jaringan dan layanan secara komersial, seperti First Media, Indosat Mega Media (IM2),
Telkom dan Berca Hardayaperkasa.
Terkait perolehan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari biaya hak penggunaan
(BHP) frekuensi tidak akan turun, kendati formulasi pemungutan diubah menjadi berbasis
lebar pita. Pemungutan BHP frekuensi berbasis lebar pita ini lebih komprehensif dan
memudahkan dalam proses penghitungan. Berdasakan catatan Kemenkominfo, PNBP dari
sektor telekomunikasi berupa BHP frekuensi terus meningkat, yaitu dari Rp 7,71 triliun pada
tahun 2008 menjadi Rp 9,92 triliun pada tahun 2009 dan Rp 12,1 triliun pada tahun 2010.
Pada studi yang merupakan update dari edisi Agustus 2009 ini, pembahasan meliputi
perkembangan bisnis telekomunikasi seluler dan internet. Selain itu, studi ini juga dilengkapi
profil operator telekomunikasi termasuk komunikasi data, kebijakan di sektor telekomunikasi
dan perkembangan bisnis satelit Indonesia.
Kami berharap, buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para
pengambil keputusan di sektor telekomunikasi, serta bagi kalangan bisnis yang terkait secara
langsung maupun tidak langsung seperti sektor perbankan. Selain itu, laporan ini juga
bermanfaat bagi para investor atau calon investor yang akan menjalin kerjasama dengan
perusahaan yang aktif di bisnis telekomunikasi di Indonesia.
Buku studi setebal 850 halaman ini kami susun dalam dua jilid dan kami tawarkan
seharga Rp 6.500.000 (Enam juta lima ratus ribu rupiah) per copy (dua jilid) untuk versi
bahasa Indonesia, atau US$ 850 (Delapan ratus lima puluh US Dollar) per copy (dua jilid)
dalam versi bahasa Inggris. Untuk pemesanan dan informasi dapat menghubungi PT Media
Data Riset melalui telepon nomor (021) 809 6071, dan faximile (021) 809 6071 dengan mengisi
formulir terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambah biaya kirim.
Demikian penawaran ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Mei 2011


PT Media Data Riset

Drh. H. Daddy Kusdriana, M.Si


Direktur Utama
2
DAFTAR ISI
DINAMIKA BISNIS TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA
(Menuju Era Telekomunikasi Konvergensi)
Mei 2011

1. Pendahuluan 3.2.6. Solusi Tunas Pratama raih pinjaman


1.1. Latar Belakang US$120 juta
1.2. Tujuan dan Cakupan Studi 4. Perkembangan Kebijakan dan Regulasi
1.3. Sumber Data dan Informasi Telekomunikasi di Indonesia
2. Overview 4.1. Pendahuluan
2.1. Penyelenggara Telekomunikasi di Indonesia 4.2. Kebijakan IPTV
2.1.1. Operator telekomunikasi menurut jenis 4.3. Kebijakan Kewajiban Pelayanan Umum
penyelenggaraan di Indonesia (KPU/USO)
2.1.2. Perkembangan Kapasitas 4.4. Kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penyelenggaraan Telekomunikasi (PNBP) Telekomunikasi
2.2. Perkembangan Bisnis Operator Telekomunikasi 4.4.1. Kinerja Kemenkominfo Tahun 2010
2.2.1. Perkembangan jumlah nomor telepon 4.5. Kebijakan Tarif Interkoneksi Tahun 2011
yang digunakan menurut operator 4.5.1. Tarif interkoneksi dinilai masih tinggi
2.2.2. Perkembangan pelanggan jaringan tetap 4.5.2. ICT Fund akan diserahkan ke BTIP
lokal 4.5.3. Konsep ICT Fund Diselesaikan Tahun
2.2.3. Perkembangan pelanggan telepon seluler 2011
2.2.4. Jumlah pelanggan menurut region 4.5.4. BRTI dukung opsi insentif Palapa
2.2.5. Perkembangan Teledensitas Ring timur
2.3. Perkembangan Kinerja Operator 4.5.5. Insentif Palapa Ring akan dihapus
Telekomunikasi 4.6. Kebijakan Alokasi Spektrum Frekuensi
2.3.1. Pendapatan Operator Penyelenggara Radio Indonesia
Jaringan Telekomunikasi. 4.7. Kebijakan Perencanaan Penggunaan Pita
2.3.2. Laba (Rugi) Operasional (Operating Frekuensi Radio (Band Plan) 300 MHz
Income/Loss) 4.8. Kebijakan Penerapan Biaya Hak Penggunaan
2.3.3. Perkembangan Earning Before Interest, Berdasarkan Lebar Pita
Tax, Depreciation and Ammortization 4.8.1. Kebijakan Biaya Hak Penggunaan
(EBITDA) (BHP) IPSFR
2.3.4. Perkembangan ARPU 4.9. Tata Cara Penilaian Pencapaian TKDN Pada
2.3.5. Biaya Operasional Penyelenggara Penyelenggaraan Telekomunikasi
Telekomunikasi 4.9.1. Persyaratan Teknis Perangkat GSM
4.10.Uji Publik Terhadap RPM Penggunaan
3. Investasi dan Pembiayaan Sektor Satelit
Telekomunikasi 4.11.RUU Tentang Konvergensi Telematika
3.1. Perkembangan Belanja Modal (Capital
Expenditure/Capex) 5. Perkembangan Teknologi Telekomunikasi
3.1.1. Telkom Group 5.1. Tren Konvergensi Telekomunikasi
3.1.2. Indosat 5.1.1. Tren Pita Lebar (broadband)
3.1.3. XL Axiata 5.2. Tren Komputasi Awan (Cloud Computing)
3.1.4. Bakrie Telecom 5.2.1. Infrastruktur hambat ekspansi cloud
3.1.5. Mobile-8 Telecom computing
3.2. Perkembangan Kepemilikan BTS 5.2.2. Tahun 2020, sebanyak 50 miliar
3.2.1. BTS ramah lingkungan perangkat terhubung Internet
3.2.2. Bisnis BTS setelah terbitnya Permen 5.2.3. Ericsson dukung harmonisasi
No. 2/2008 frekuensi untuk 4G/LTE
3.2.3. Kewajiban Menara Telekomunikasi 5.3. Tren Penyiaran Digital
Bersama 5.3.1. Improvement on Television
3.2.4. Uji Publik Penataan Ulang Menara Transmitting Stations (ITTS)
Telekomunikasi Bersama 5.3.2. Uji Coba Digital
3.2.5. Tower Bersama dan VNL bangun 5.3.3. Konvergensi
infrastruktur telekomunikasi

3
5.3.4. Perubahan Skema Perijinan Pada Era TV 10.2. Indosat
Digital 10.2.1. Latar Belakang
5.3.5. Arsitektur layanan TV digital 10.2.2. Pemegang saham
5.3.6. Roadmap migrasi TV analog ke TV 10.2.3. Anak Perusahaan
digital 10.2.4. Kegiatan Usaha
5.3.7. Perubahan Band Plan 10.2.5. Layanan & Perkembangan
5.4. Roadmap Infrastruktur TV Digital Pendapatan Komunikasi Data (MIDI)
5.5. Roadmap Pengembangan Teknologi Informasi 10.2.6. Pelanggan dan Pemasaran
dan Komunikasi (TIK) Indonesia 2010-2020 10.2.7. Perkembangan Pengeluaran Barang
5.6. Rencana Program Jangka Menengah Modal
Kemenkominfo 2010-2014 10.2.8. Tahun 2010, laba bersih Indosat
5.7. Roadmap IPV6 anjlok 56,8%
5.7.1. Jadwal Roadmap Internet (IPv6) 10.3. Telkomsel
10.3.1. Latar Belakang
6. Perkembangan Bisnis Broadband Wireless
10.3.2. Perijinan
Access (BWA)
10.3.3. Produk dan Tarif
6.1. Pendahuluan
10.3.4. Layanan Telkomsel Flash (High
6.2. Kendala pengembangan broadband
Speed Wireless Broadband)
6.3. Perkembangan infrastruktur jaringan BWA
10.3.5. Layanan BlackBerry
6.3.1. Empat pemenang tender BWA lakukan
10.3.6. Layanan pada pelanggan
pembayaran up front fee
10.3.7. Penjualan, Pemasaran dan Distribusi
6.3.2. Pembersihan Pita Frekuensi Radio 2360
10.3.8. Pengelolaan Piutang Pelanggan
- 2390 MHz
10.3.9. Perkembangan pelanggan
6.3.3. Dua pemenang tender BWA mundur
10.3.10. Perkembangan BTS
6.3.4. Internux akan diakuisisi
10.3.11. Infrastruktur Jaringan
6.3.5.Telkom peroleh lisensi BWA di tujuh zona
10.3.12. Pembelian barang modal
6.4. Perkembangan WiMAX
10.3.13.Perjanjian pinjaman dan fasilitas
6.4.1. Pendahuluan
kredit lainnya
6.4.2. WiMAX di Dunia
10.3.14. Perkembangan Pendapatan
6.4.3. WiMAX di Indonesia
10.3.15. Strategi bisnis Telkomsel
6.4.4. WiMax 16e masih kaji
10.4. Natrindo Telepon Seluler (NTS)
6.4.5. Berca perkuat penetrasi WiMax di
10.5. Hutchinson Charoen Pokphand
Kalimantan
Telecommunication (HCPT)
6.4.6. Spectrum Indonesia kembangkan
teknologi MIMO 11. Penyelenggara Broadband ADSL
7. Perkembangan Proyek Universal Service 11.1. Telekomunikasi Indonesia (Telkom)
Obligation (USO) 11.1.1. Latar Belakang
8. Perkembangan Proyek Palapa Ring 11.1.2. Pemegang Saham
9. Perkembangan Proyek Sambungan 11.1.3. Anak Perusahaan
Komunikasi Kabel Laut (SKKL) 11.1.4. Indonusa peroleh Ijin
10. Penyelenggara Broadband 3G Penyelenggaraan Penyiaran
10.1. XL Axiata Berlangganan
10.1.1. Latar Belakang 11.1.5. Perusahaan non konsolidasi
10.1.2. Pemegang Saham 11.1.6. Layanan Data dan Internet
10.1.3. Anak Perusahaan 11.1.7. Perkembangan Pendapatan
10.1.4. Ijin investasi 11.1.8. Pembelian barang modal
10.1.5. Ijin penyelenggaraan 11.1.9. Kerjasama Jaringan Telekomunikasi
10.1.6. Produk dan Layanan 11.1.10.Infrastruktur Jaringan
10.1.7. Pemasaran dan Promosi 11.1.11.Pengembangan Jaringan
10.1.8. Disaster Recovery Centre (DRC) 11.1.12.Perkembangan Belanja Modal
10.1.9. Peningkatan Customer Relationship 11.1.13.Investasi Tahun 2011
Management (CRM) 11.1.14.Tahun 2010, pendapatan Telkom
10.1.10. Pengembangan Jaringan tumbuh 4%
10.1.11. Belanja Modal
10.1.12. Perjanjian dengan pihak ketiga 12. Penyelenggara Broadband Hybrid Fiber
10.1.13.Pendapatan XL mencapai Rp16,6 Coaxial (HFC)
triliun 12.1. Indonusa Telemedia (TelkomVision)
10.1.14.Strategi bisnis XL di masa mendatang 12.1.1. Latar Belakang
4
12.1.2. Produk & Layanan 14.8.3. High Altitude Platform Station (HAPS)
12.1.3. Perkembangan Pelanggan TelkomVision 14.9. Proyeksi Demand Tahun 2007 – 2021
12.1.4. Tarif 14.10. Perusahaan Pengguna Satelit
12.1.5. Pemasaran
LAMPIRAN :
12.1.6. Indonusa peroleh Ijin Penyelenggaraan
• Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
Penyiaran Berlangganan
No. 11/PER/M.KOMINFO/07/2010 Tentang
12.2. First Media
Penyelenggaraan Layanan Televisi Protokol
12.2.1. Latar Belakang
Internet (Internet Protocol Television/IPTV) di
12.2.2. Perkembangan bisnis First Media
Indonesia.
12.2.3. Pemegang Saham
12.2.4. Anak Perusahaan • Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
12.2.5. Produk dan Layanan No. 01/PER/M.KOMINFO/01/2010 Tentang
12.2.6. Perkembangan Pelanggan & Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi
Pendapatan • Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
12.3. Perkembangan Bisnis Televisi Berlangganan No. 25/PER/M.KOMINFO/12/2010 Tentang
12.3.1. Pendahuluan Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri
12.4. MNC Sky Vision (Indovision) Komuikasi dan Informatika No.
12.4.1.Latar Belakang 29/PER/M.KOMINFO/07/2009 Tentang Tabel
12.4.2.Pendapatan Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia
12.4.3.Penetrasi televisi berlangganan • Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
hanya 3% No. 26/PER/M.KOMINFO/12/2010 Tentang
12.5. PT. Cipta Skynindo (Skynindo TV) Perencanaan Penggunaan Pita Frekuensi Radio
12.6. PT. Nusantara Vision (OkeVision) (Band Plan) Pada Pita Frekuensi Radio 300 MHz
12.7. Aora TV Untuk Sistem Komunikasi Radio Konvensional
dan Studio-Transmitter Link
13. Perkembangan Bisnis Internet dan • Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
Komunikasi Data No. 03/PER/M.KOMINFO/02/2010 Tentang
13.1. Layanan Internet Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan
13.1.1. Penyelenggara Jasa Multimedia Informatika, No. 32/PER/M.KOMINFO/10/2008
13.1.2. Network Access Provider (NAP) Tentang Kewajiban Palayanan Universal
13.1.3. Internet Teleponi untuk Keperluan (KPU/USO) Telekomunikasi
Publik (ITKP) • Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika
13.1.4. Sistem Komunikasi Data No.14/PER/M.KOMINFO/09/2010 Tentang Tata
(Siskomdat/SKD) Cara Penilaian Pencapaian Tingkat Komponen Dalam
14. Infrastruktur Satelit Indonesia Negeri Belanja Operasional (Operational Expenditure
14.1. Pendahuluan /OPEX) Pada Penyelenggaraan Telekomunikasi
14.2. Konsep Peta-Jalan (Roadmap) Infrastruktur • Peraturan Menteri Komuikasi dan Informatika,
Satelit Indonesia No.13/PER/M.KOMINFO/08/2010 Tentang
14.3. Peraturan tentang Satelit Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri
14.4. Satelit Sebagai Sumber Daya yang Terbatas Perhubungan No. KM. 15 Tahun 2003 Tentang
14.5. Pemanfaatan Satelit dan Potensinya Di Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio
Indonesia Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk
14.6. Satelit dan Palapa Ring Project Keperluan Radio Siaran FM (Frequency Modulation)
14.6.1. Tahun 2011, Telkom luncurkan • Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan
Satelit Telkom-3 Informatika, No. /PER/M.KOMINFO/ /2011
14.6.2. Tiga perusahaan pendatang baru di Tentang Peta Jalan (RoadMap) Infrastruktur
bisnis satelit Satelit Indonesia
14.6.3. ASSI harapkan dukungan • Rancangan Peraturan Bersama Menteri Dalam
pemerintah terkait condosat Negeri No. Menteri Pekerjaan Umum No.
14.6.4. Filing satelit di slot 108,2°BT diselidiki Menteri Komunikasi dan Informatika No. dan
14.6.5. Kehilangan BHP pita mencapai Kepala BKPM No. Tentang Perubahan Atas
Rp2,4 triliun per tahun Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri,
14.7. Gambaran kemampuan satelit nasional Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Komunikasi
14.8. Perkembangan teknologi dan Informatika dan Kepala BKPM.
14.8.1. Jaringan Kabel (Wireline network)
14.8.2. Jaringan NirKabel Terestrial
(Terrestrial Wireless Network)

5
FORMULIR PESANAN
PT MEDIA DATA RISET
Jl. SMA XIV, No. 12 A WS
Cawang–UKI, Jakarta 13630
Phone : (021) 809 6071, 809 3140
Fax : (021) 809 6071, 809 3140
Email : sales@mediadata.co.id / info@mediadata.co.id

Studi :
DINAMIKA BISNIS TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA
(Menuju Era Telekomunikasi Konvergensi)
Mei 2011

Silahkan pilih (√ ) untuk pesanan :


Edisi Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Nama (Mr/Mrs/Ms)
Position
Nama Perusahaan
NPWP No.

Alamat

Telepon Fax :

Tanda Tangan

Tanggal

Harga :
Edisi Bhs. Indonesia - Rp 6.500.000 (Enam juta lima ratus ribu rupiah)
Edisi Bhs.Inggris - US$ 850 (Delapan ratus lima puluh US Dollar)
Catatan: Harga belum termasuk pajak (10% PPn)
Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir)
Pembayaran, Silahkan beri tanda (√ )

Cash

Cheque

Transfer to - PT MEDIA DATA RISET


AC NO. 070 000 534 0497
BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA
JAKARTA

Anda mungkin juga menyukai