STRATEGI PENBANGUNAN EKONOMI DAERAH MENUJU PERTUMBUHAN DAN PEMERATAAN Dr. Moch.

Rum Alim, MSi Abstrak
Strategi pembangunan ekonomi di masa lalu telah mengubah struktur ekonomi secara mengesankan dan mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Namun, perubahan struktur ekonomi ini hanya terjadi pada level nasional, sedangkan pada level daerah secara agregat relatif stagnan, terutama daerah-daerah di laur pulau Jawa. Ini berarti bahwa peranan dan partisipasi daerah dalam pembangunan ekonomi nasional belum optimal. Untuk meningkatkan peranan dan partisipasi daerah dalam pembangunan ekonomi nasional, tidak ada cara lain selain daripada membangun perekonomian daerah dengan menerapkan Strategi Agroindustri Berorientasi Ekspor di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah pusat perlu memberikan dukungan secara serius dengan menerapkan Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis. Hal ini menuntut adanya penataan ulang kelembagaan yang ada saat ini, yang salah satu diantaranya adalah reorganisasi Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, dan Departemen Kelautan dan Perikanan menjadi Departemen Agribisnis Pertanian, Departemen Agribisnis Kehutanan, dan Departemen Agribisnis Kelautan dan Perikanan. Jika Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis berjalan dengan baik, maka seluruh daerah akan memberikan konstribusi secara optimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, mengurangi kesenjangan ekonomi antar daerah, mengurangi pengangguran, serta mengurangi tingkat kemiskinan. Kata kunci : strategi pembangunan ekonomi, struktur ekonomi, kesenjangan ekonomi antar daerah, reorganisasi, pengangguran.

Abstract
Past economic development strategy has amazingly change the economic structure and reached relatively high economic growth. However, the economic structure change has been existed only national level, contrasted to relatively stagnant at regional level, especially region outside Java. This reflects that the role and participation of regions to national economic development has not been optimized. To improve the role and participation of regions to national economic development, there is no other way to adopt export oriented agro-industry strategy within the whole area of Indonesia. Central Government has to fully support the implementation of this export oriented agribusiness promotion strategy. This will require institution restructuring, such as reorganization of agriculture department, forestry department, and marine and fishery department become agriculture agribusiness department, forestry agribusiness department, and marine and fishery agribusiness department. If this agribusiness oriented export promotion strategy is implemented successfully, all regions will optimally contribute the national economic growth, reduce regional economic development gap, reduce unemployment, and reduce poverty rate. Keyword: economic development strategy, economic structure, regional economic gap, reorganization, unemployment.

Pendahuluan Awal tahun 1960-an Raul Prebisch berhasil membangun dan menyebarkan konsep Strategi Substitusi Impor. Strategi ini diilhami

Substansi mengembangkan industri manufaktur untuk kebutuhan pasar domestik dan melindungi barang-barang hasil produksi dalam negeri dengan berbagai hambatan. secara bertahap telah memperlebar kesenjangan ekonomi antara pulau Jawa . Prebish menganjurkan substitusi agar negara berkembang utama dari menerapkan strategi ini strategi adalah impor. Seiring dengan itu. Malah strategi yang diterapkan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari sebaran industri manufaktur. Strategi industrialisasi substitusi impor (ISI) yang diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru terpusat pada pulau Jawa. Strategi industrialisasi substitusi impor ini diterapkan Indonesia hingga pertengan dekade 1980. Pola hubungan antara kedua kelompok negara ini adalah hubungan dominan-tergantung. yang pada gilirannya semakin memperlebar kesenjangan ekonomi antara kedua negara. laju pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mencapai tingkat yang cukup tinggi. Indonesia termasuk salah satu negara yang mengadopsi strategi ini. tidak semua daerah memperoleh manfaat dari strategi tersebut. terutama daerah-daerah di luar pulau Jawa. Untuk mempersempit kesenjangan ekonomi antara negara berkembang dan negara maju. Selama strategi ISI diterapkan Indonesia telah berhasil mengubah struktur ekonominya. dimana negara maju pada posisi dominan dan negara berkembang pada posisi tergantung. sedangkan pada level daerah.2 oleh suatu kondisi ketidakseimbangan antara negara maju (centre) dengan negara berkembang (periphery). Perubahan struktur ekonomi dan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai Indonesia pada masa itu terjadi pada level nasional. Pola hubungan semacam ini lebih menguntungkan negara maju. dimana lebih dari 80% industri manufaktur Indonesia berlokasi di pulau Jawa. dari struktur ekonomi yang semula didominasi oleh sektor pertanian menjadi struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor industri manufaktur.

Apabila pola hubungan antar daerah telah berubah menjadi saling tergantung secara berimbang.tergantung menjadi pola saling tergantung secara berimbang. telah dikenal paling sedikit terdapat 10 teori. Konsep Local Economic Development dan Penerapannya di Indonesia Dalam teori pembangunan ekonomi daerah (local economic development). hendaknya menjadi titik balik untuk mengubah pola hubungan dari dominan-tergantung menjadi pola saling tergantung secara berimbang. Teoriteori Pembangunan Ekonomi Daerah ini dirangkum oleh Maliza dan Feser (1999) kedalam bentuk tabel sebagai berikut: Tabel 1 Ringkasan Teori Local Economic Development (LED) N o 1 Teori Economi c Based Dasar Teori Ekspor Barang (komoditas) Dasar Pengembangan Peningkatan laju pertumbuhan. Era otonomi daerah (Otda).3 dengan pulau-pulau besar lainnya. yang disertai dengan upaya-upaya sistimatis dan sungguh-sungguh untuk mencapainya. yakni dari pola dominan . Tulisan ini bertujuaan untuk menelaah kemungkinan terjadinya perubahan pola hubungan antara Jawa dan Luar Jawa di masa depan. Telah terbangun pula pola hubungan antara pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya dengan pola dominan-tergantung. maka semua daerah akan memberikan kontribusi yang optimal terhadap pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi nasional sembari memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah. Sasaran Pengembangan Merespon permintaan luar . Semangat untuk mengubah pola hubungan antar daerah ini harus dibangun oleh pemerintah pusat dan daerah. sekalipun masih dalam masa awal. dimana pulau Jawa (sebagai centre) pada posisi dominan dan pulau-pulau lainnya (sebagai periphery) pada posisi tergantung.

dan peningkatan pendapatan Industri berorientasi ekspor Pengembangan semua sektor ekonomi baik primer. maupun tersier Ekspor merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Pengembangan aneka ragam sektor dan peningkatan produktivitas sektor Theory negeri dan multiplier effect Peranan modal asing untuk melayani kebutuhan pasar internasional Peningkatan sektor akan meningkatkan kebutuhan dan pendapatan sektor 2 Staple Theory 3 Sector Theory N o Teori Dasar Teori Dasar Pengembangan Industri yang bahan bakunya berasal dari daerah lain sehingga pertumbuhan industri semacam ini selain mendorong ekonomi lokasi industri juga mampu meneteskan pertumbuhna ekonomi daerah lain Sasaran Pengembangan 4 Growth Pole Theory Industri Lokasi industri (propulsive industry) merupakan kutup pertumbuhan (growth pole) 5 Regional Concentration and Diffusion Theory Perdagangan antar daerah dan antar industri Peningkatan pendapatan per kapita Spread and backwash effect (Myrdal) atau terjadinya penetesan perkembangan dan efek polarisasi (Hirchman) Peningkatan tabungan untuk mendukung investasi dan pembentukkan modal Penyesuaian harga akan memberikan keseimbangkan pada harga. sekonder. dan efekefek lainnya Produk inovasi baru dan 6 Newclasiccal Growth Theory Agregat ekonomi wilayah Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi per kapita 7 Interregional Trade Theory Faktor harga dan kuantitas komuditi Produk baru akan maturing kemudian usang Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan konsumsi 8 Product Cyrcle Theory Kreasi baru akan terus muncul . kualitas.4 penciptaan lapangan kerja.

Disamping itu. baik pergeseran dari Dekonsentrasi menjadi Desentralisasi. aksinya (action plan) lebih tidak secara utuh pada presepsi memilih satu teori atau kombinasi dari berbagai teori. pernah pula menerapkan teori pembangunan ekonomi daerah berbasis wilayah gabungan kota dan kabupaten yang berciri "Nodalitas" yang disebut dengan Satuan Wilayah Pengembangan (SWP). juga diwarnai oleh munculnya paradigma-paradigma baru yang dianggap sebagai solusi. seperti misalnya : pendekatan partisipatif. dan dalam didasarkan kebutuhan daerah dan bukan pada realitas kebutuhan dan potensi . Penggunaan basis wilayah provinsi atau gabungan provinsi memang dimungkinkan dalam mekanisme dekonsentrasi ketika itu. Selain itu. Bukan rahasia lagi bahwa pola perkembangan ekonomi nasional tidak terfokus. sehingga berimbas pada pengembangan ekonomi daerah yang juga tidak terfokus.5 Enterprenersh ip Theory Flexible Specialization Theory Fungsi dan peranan pengusaha Struktur industri Ketahanan dan diversifikasi Pembangunan berkelanjutan melalui produk-produk baru. Sedikit banyak teori-teori tersebut pernah diterapkan di Indonesia dalam kebijakan-kebijakan pembangunan ekonomi masa lalu (Repelita) dengan basis wilayah (regionalisasi) berupa provinsi atau gabungan provinsi (Wilayah Pembangunan Utama/WPU). inovasi. pro bottom up planning. maupun pergeseran fungsifungsi pada institusi pemerintahan Pusat. dan spesialisasi 9 Proses inovasi Mengikuti pola permintaan dan flesibel 10 Sepuluh teori tersebut di atas sesungguhnya telah popular dikalangan pakar ekonomi regional (regional economist) dan regional planner di Indonesia. Tidak terfokusnya pengembangan ekonomi nasional maupun pembangnan ekonomi daerah juga dipengaruhi oleh perubahan-perubahan institusi. Hanya saja penerapannya rencana daerah.

sekuritisasi aset) dan lain sebagainya. bahkan cenderung acak satu sama lain. Besar kecilnya nilai ekspor tergantung pada harga dari jenis barang yang diekspor dan volume ekspor.6 rural-urban linkages. . program pengentasan kemiskinan. World Bank (City Development Strategy). JICA. diikuti oleh berbagai sponsor seperti dari UNDP (Partnership for Local Economic Development). serta pendekatan investasi dan kereksadanaan (obligasi. baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk keperluan produksi. ADB (Sustainable Capacity Building for Decentralization). atau mungkin bisa disebut sebagai Schools of Thought saat ini. besarnya volume ekspor suatu wilayah tergantung pada tingkat kebutuhan wilayah pengimpor. USAID (Performance Oriented Regional Management Project). Daerah yang memperoleh manfaat dari perdagangan tersebut adalah daerah yang nilai ekspornya lebih besar dari nilai impor. tidak saling terkait dan tidak saling mendukung menuju pada sasaran-sasaran LED. tidak terdapat strategi untuk dipakai sebagai "payung" dari semua upaya yang ada. berbagai program yang diselenggarakan oleh pihak sponsor tersebut. good governance. khususnya LED. Semua ini menengarai tidak adanya visi yang sama terhadap pengembangan ekonomi nasional. borrowing system. Besarnya kebutuhan impor suatu daerah untuk tujuan produksi. tergantung pada seberapa besar keterkaitan (linkages) antara sektor-sektor produksi di daerah pengimpor terhadap sektor-sektor produksi di daerah pengekspor. berjalan sendiri-sendiri. CIDA. Namun demikian. Berbagai paradigma tersebut. dan Bantuan Bilateral lainnya seperti GTZ. pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM). Dengan demikian. Sementara itu. Interaksi Ekonomi Antar Daerah Interaksi ekonomi antar daerah berlangsung melalui perdagangan antar daerah.

Ketergantungan ekonomi antar daerah dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola. dilakukan oleh beberapa pihak dengan . Pola ini menunjukkan bahwa wilayah periphery menghasilkan dan memasok bahan baku (input) ke wilayah centre. di mana sektor industri (moderen) umumnya berada di wilayah perkotaan sebagai wilayah centre dan sektor primer (tradisional) yang umumnya berada di wilayah pedesaan atau pinggiran kota sebagai wilayah periphery. Pola ini menunjukkan interaksi ekonomi antarwilayah yang saling menguntungkan secara berimbang. di mana wilayah dominan memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam interaksi ekonomi. pola ini akan menimbulkan ketimpangan ekonomi antarwilayah yang semakin besar. Pertama. Ketiga. yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah centre. sehingga kemajuan ekonomi wilayah centre akan menarik kemajuan ekonomi wilayah periphery ke tingkat yang lebih maju. pola “centre-periphery” (konsep interdependence). pola yang serupa dengan pola interaksi ekonomi antara sesama negara industri maju. Kesenjangan Ekonomi Antar Daerah di Indonesia Studi empirik yang berkaitan dengan interaksi ekonomi antar daerah di Indonesia. pola “dominan-tergantung” (dependence). keterkaitan antar sektor antar daerah.7 Interlinkages. Pola interaksi semacam ini pun tidak luput dari kemungkinan terjadinya kesenjangan ekonomi antarwilayah. Hal yang serupa juga terjadi apabila ekonomi wilayah periphery mengalami pertumbuhan maka permintaan akan hasil produksi wilayah centre akan meningkatkan. Pola ini mempunyai ciri interaksi antara wilayah dominan dan wilayah yang tergantung. menentukan pola ketergantungan ekonomi antar daerah. manakala nilai tukar (term of trade) sektor primer semakin rendah. Dengan demikian. Kedua. bahkan cenderung mengeksploitasi wilayah yang tergantung untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.

Lebih dari 80 persen industri manufaktur yang didirikan di Indonesia berlokasi di Jawa. Wilayah makro Jawa terdiri atas tiga wilayah mikro. dimana nilai impor daerah Luar Jawa jauh lebih besar daripada nilai ekspornya. Daerah-daerah Luar Jawa pada umumnya mengekspor produkproduk primer ke Jawa dan mengimpor produk-produk sekunder dari Jawa. Hadi (2001) menggunakan model Interregional Accounting Matrix (IRSAM) membagi wilayah studi menjadi Kawasan Barat Indonesia (meliputi Jawa dan Sumatera) dan Kawasan Timur Indonesia. dan Pulau-pulau lainnya. yakni : Jawa Barat. dan sisanya yang kurang dari 10 persen (antara 7–8 persen) berada di wilayah lainnya. Hal yang demikian. Sumatera. namun menunjukkan fenomena kesenjangan ekonomi antar daerah di Indonesia yang serupa. Kontribusi nilai tambahnya kurang lebih sama dengan persentase sebaran industri tersebut. Sulawesi. Kalimantan. Sulawesi. Ketimpangan neraca perdagangan ini menjadi . Sedangkan wilayah makro Luar Jawa terdiri atas empat wilayah mikro. 2. Wuryanto (1996) menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE) membagi wilayah studi menjadi wilayah makro Jawa dan wilayah makro Luar Jawa. Jawa Tengah. Sedangkan Alim (2006) menggunakan model IRSAM dengan wilayah studi Jawa dan Sumatera. dan pulau-pulau lainnya di Luar Jawa.8 pembagian wilayah yang berbeda dan kurun waktu yang berbeda. sekitar 12 . Achjar et el (2003) menggunakan model IRSAM dengan wilayah studi Jawa. dan setiap wilayah makro dibagi lagi menjadi wilayah mikro. Secara umum. hasil studi empirik sebagaimana disebutkan di atas menunjukkan bahwa melebarnya kesenjangan ekonomi antar daerah antara lain bersumber dari hal-hal sebagai berikut : 1. Kalimantan. Jawa Timur. yakni : Sumatera. membuat neraca perdagangan daerah-daerah Luar Jawa mengalami defisit terhadap neraca perdagangan Jawa.13 persen di Sumatera.

3. akan berdampak pada penyebaran penduduk. prioritas utama dalam pembangunan ekonomi nasional adalah mengatasi kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Luar Jawa. Kesenjangan ekonomi antar daerah yang sangat ekstrim akan sangat mudah menimbukan konflik. Paling sedikit tiga hal tersebut di atas. Dengan kata lain spillover effect yang ditimbuhkan oleh kemajuan ekonomi daerah-daerah Luar Jawa terhadap perekonomian Jawa jauh lebih besar daripada sebaliknya. Tenagakerja yang berdomisili di suatu daerah. sedangkan sebaliknya tidak. Eksporimpor dalam pengertian ini mencakup jual-beli barang dan jasa dari satu daerah ke daerah lain. mengurangi tekanan pengangguran dan kemiskinan. merupakan penyebab utama kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Luar Jawa menjadi semakin melebar. disamping dari dan ke negera lain. upaya serius pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Luar Jawa. Ini berarti bahwa aktivitas ekspor-impor terjadi dalam perekonomian daerah. baik konflik vertikal maupun konflik horizontal. upaya untuk mengatasi kesenjangan ekonomi antar daerah secara sungguh-sungguh merupakan suatu keharusan. Hal ini mengakibatkan efek multiplier yang diterima perekonomian Jawa atas kemajuan ekonomi daerah-daerah Luar Jawa sangat besar. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terpecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Strategi Pembangunan Ekonomi Daerah Perekonomian daerah adalah ekonomi terbuka. Oleh karena itu. tetapi bekerja dan primer . sedangkan sebaliknya tidak. Kegiatan produksi sektor-sektor ekonomi di Luar Jawa sangat bergantung pada input yang berasal dari Jawa. Sesungguhnya. Implikasinya.9 semakin parah manakala harga relatif produk-produk semakin rendah terhadap produk-produk sekunder.

yakni sektor basis dan sektor non-basis. permintaan terhadap hasil-hasil produksi tersebut tergantung pada pendapatan masyarakat setempat dan pendapatan masyarakat lokal tergantung pada permintaan input oleh sektor produksi setempat. Sedangkan sektor non-basis adalah semua kegiatan ekonomi yang diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi lokal. sehingga ekonomi daerah tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan alamiah daerah (tidak bebas tumbuh). maka sektor basis akan mendorong sektor non-basis sehingga pendapatan lokal akan meningkat melebihi peningkatan pendapatan lokal yang . Konsep input Basis Ekonomi dapat beranggapan bahwa permintaan terhadap hanya meningkat melalui perluasan permintaan terhadap output yang diproduksi oleh sektor basis (ekspor) dan sektor non-basis (lokal).10 memperoleh uang dari daerah lain termasuk dalam pengertian ekspor. Dari sudut pandang sektor non-basis. dari sudut padang sektor basis. sektor non-basis terikat terhadap kondisi pendapatan masyarakat lokal. Permintaan terhadap produksi sektor non-basis hanya dapat meningkat apabila pendapatan lokal meningkat. permintaan output sektor produksi tidak hanya terbatas pada permintaan lokal tetapi juga oleh permintaan daerah lain (ekspor). aktivitas sektor produksi meningkat kalau permintaan output (demand) meningkat. Sedangkan suatu perekonomian yang mampu mengembangkan dan meningkatkan sektor basis. Namun. Sementara itu. Sementara itu. Dengan demikian. peningkatan pendapatan lokal ini akan terbatas apabila perekonomiannya hanya mengandalkan pada sektor non-basis. Ekspor-impor antar daerah dalam satu negara tidak pernah mengalami hambatan (barrier) apapun seperti yang dikenal dalam perdagangan antar negara (hambatan tarif dan non-tarif). Sektor basis adalah semua kegiatan yang mendatangkan uang dari luar daerah (ekpor barang dan jasa). dikelompokkan ke dalam dua sektor. Kegiatan ekonomi daerah dari sudut pandang Konsep Basis Ekonomi.

Dengan demikian. dan Singapur.11 hanya mengandalkan sektor non-basis. namun dapat menikmati bagian terbesar dari keuntungan global bersama-sama dengan negara-negara industri maju. sedangkan stategi promosi ekspor disebut outward looking strategy. Strategi industriliasasi substitusi impor berorientasi pada pasar lokal (dometik). Jepang. Dalam perdagangan dunia pasca GATT. Sedangkan negara-negara berkembang yang menerapkan outward looking strategy mencapai suskses dalam pembangunan ekonominya. yang disebut juga inward looking strategy. dan Cina. Thailand. yaitu : strategi industriliasasi substitusi impor dan strategi promosi ekspor. seperti Taiwan. Thailand juga menikmati keuntungan global karena agroindustrinya juga kuat. Korea Selatan. Dengan demikian. pembangunan ekonomi daerah adalah pembangunan yang berpusat (fokus) pada perbaikan neraca perdagangan daerah (minimal tidak defisit). Dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang terdapat dua strategi yang menonjol. Masyarakat Ekonomi Eropa. negara-negara yang menikmati bagian terbesar dari keuntungan global adalah Amerika Serikat. termasuk Indonesia (meskipun pada dekade 1980 beralih ke strategi promosi ekspor. Masalah pokok dalam pembangunan ekonomi daerah (local economi development) berada pada karidor neraca perdagangan daerah. yang produk-produknya telah memasuki pasar dunia. Cina tidak tergolong ke dalam negara-negara industri maju. Daerah-daerah yang ekspornya didominasi oleh komoditas primer dan industri pengolahannya sangat tergantung pada bahan baku . Hal ini terjadi karena Cina memiliki agroindustri yang cukup kuat disamping industri ringan lainnya. ekspor daerah (regional) merupakan penentu dalam pembangunan ekonomi daerah. Negara-negara berkembang yang menerapkan inward looking strategy berakhir dengan kegagalan. namun basis industrinya masih lemah).

Oleh karena itu. Agribisnis pada dasarnya yang merupakan terdapat di pemberdayaan setiap daerah. potensi pasar juga besar. strategi pembangunan ekonomi daerah yang relevan adalah Strategi Agroindustri Berorientasi Ekspor. akan mengalami defisit neraca perdagangan. Keadaan yang seperti ini akan membuat perekonomian daerah tersebut akan semakin tertinggal dan kesenjangan eknomi antar daerah akan semakin melebar. Dengan demikian. Selain itu. Strategi pembangunan ekonomi nasional yang relevan adalah Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis. Mengapa 1. Ini berarti bahwa perubahan struktur ekspor-impor daerah baru akan terjadi manakala daerah-daerah berhasil mengembangkan agroindustri yang berorientasi ekspor. Strategi pembangunan ekonomi daerah ini akan memperoleh tenaga yang besar apabila pemerintah pusat dapat memberikan dukungan penuh berupa penataan ulang strategi pembangunan nasional. pembangunan ekonomi daerah haruslah berorientasi pada perbaikan neraca perdagangan daerah. 2. Sedangkan upaya untuk mengubah struktur impor daerah berpangkal pada upaya mengembangkan industri pengolahan berbasis bahan baku lokal. Perbaikan neraca perdagangan daerah hanya dapat ditempuh melalui perubahan struktur ekspor dan struktur impor daerah.12 impor. Upaya untuk mengubah struktur ekspor daerah berpangkal pada upaya meningkatkan nilai ekspor barang-barang yang sudah terolah melebihi nilai ekspor barang-barang primer. keanekaragaman ekosistem . baik pasar domestik maupun pasar internasional. Indonesia agribisnis memiliki dipilih sebagai yang landasan amat memiliki pembangunan besar untuk ekonomi daerah? Sekurang-kurangnya ada empat alasan pokok: potensi mengembangkan agribisnis karena sumberdaya agroklimat dan keanekaragaman sumberdaya hayati yang sangat besar dan terlengkap di dunia.

dari berbagai jenjang dan latar memberikan hasil optimal apabila keseluruhan subsistemnya telah terintegrasi secara padu ke dalam satu wadah. Agribisnis merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat subsistem subsistem pemasaran. Oleh karena itu. serta meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha di setiap daerah. 4. akan mampu mewujudkan pemerataan pembangunan. Teknologi produksinya memiliki variasi yang sangat luas. dan Departemen Agribisnis Kelautan dan Perikanan. apabila pemerintah pusat telah berketetapan memilih Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis sebagai strategi pembangunan nasional. mulai dari padat karya (labor intensive) sampai pada padat ilmu pengetahuan (knowledge intensive). Reorganisasi yang dimaksud adalah merubah nama dan fungsi Departemen Pertanian. Departemen Agribisnis Kehutanan. bahkan dapat menghasilkan devisa dan memupuk cadangan devisa. Tentunya fungsi dan peranan dari sejumlah departemen yang terkait akan mengalami perubahan. maka salah satu langkah yang mesti ditempuh adalah melakukan reorganisasi pada departemen teknis. Dengan demikian. saprotan budidaya. sehingga mampu mengakomodasi tenagakerja belakang pendidikan. dan Departemen Kelautan dan Perikanan menjadi Departemen Agribisnis Pertanian. yakni : subsistem agroindustri dan subsistem pemasaran .13 sehingga pembangunan agribisnis tidak lain adalah pembangunan ekonomi pada setiap daerah. Departemen Kehutanan. apabila agribisnis dibangun dengan baik dan sungguh-sungguh. Penerapan (penyediaan subsistem konsep sarana agribisnis produksi dan hanya pertanian). 3. Pembangunan agribisnis yang berbasis sumberdaya lokal tidak terlalu menuntut pembiayaan dengan utang luar negeri yang besar. subsistem akan dapat agroindustri.

Apabila Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis berjalan dengan baik. Konsentrasi industrialisasi di beberapa daerah di pulau Jawa ternyata tidak mampu menarik/menghela (driven) ekonomi daerah-daerah lain (sebagai periphery) ke arah yang lebih maju. Perubahan struktur ekonomi nasional pada masa lalu tidak mengakar pada perekonomian daerah. 4. Selain itu. Untuk mendukung Agribisnis keberlangsungan diperlukan Strategi Promosi Ekspor pada Berbasis adanya reorganisasi . serta meningkatkan kesempatan kerja. perekonomian daerahdaerah daerah akan juga memberikan akan bisa konstribusi secara optimal kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan membuat kesenjangan ekonomi antar daerah semakin melebar. maka laju pertumbuhan ekonomi daerah akan tinggi dan merata di seluruh wilayah. Ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sebagai buah 3. Untuk dari perubahan struktur ekonomi nasional tidak dikonstribusikan secara optimal oleh perekonomian daerah.14 yang selama ini berada pada departemen-departemen lain. terutama daerah-daerah Luar Jawa. Dengan demikian. dan mengurangi tingkat kemiskinan. Pembangunan ekonomi masa lalu telah menimbulkan kesenjangan ekonomi antar daerah semakin melebar. 2. kesenjangan ekonomi antar diminimumkan. Kesimpulan dan Saran 1. meningkatkan nasional peranan daerah yang terhadap pertumbuhan dan ekonomi perlu ikhtiar sungguh-sungguh sistimatis melalui penerapan Strategi Agroindustri Berorientasi Ekspor di tingkat daerah dan Strategi Promosi Ekspor Berbasis Agribisnis di tingkat pusat. mesti dipisahkan dan diintegrasikan kepada ketiga departemen yang disebutkan di atas.

E. A. Jakarta. S..J. dan L. .uiuc. 2001. dan D. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Syamsulbahri. Jakarta. S. Manajemen Pembangunan Untuk Negera Berkembang. LP3ES. Bandung. Beberapa Agenda Perekonomian Indonesia Kritik dan Solusi. dan H. 1999. C. L. 1994. Institut Pertanian Bogor. M. Pembangunan Ekonomi Rakyat Di Pedesaan. Arsyad. 1987.15 departemen teknis. Analisis Keterkaitan dan Kesenjangan Ekonomi Intra dan Interregioal Jawa dan Sumatera. R. H. Program Pascasarjana. 2001. 1999.edu/unit/real. S. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. yakni mengintergrasikan subsistem-subsistem agribinis ke dalam departemen yang relevan. Setyaningrum. Oesman. Bina Rena Pariwara.. Hewings and M. H. Universitas Pajajaran-Press. dan E. Hadi. G. PT. Syamsulbahri. Sonis. Penerbit Graha Ilmu. Studi Dampak Kebijaksanaan Pembangunan Terhadap Disparitas Ekonomi Antar Wilayah (Pendekatan Model Analisis Neraca Sosial Ekonomi).. N. Edisi Pertama. Hakim. BPFE-Yogyakarta. 2005.. 2003. Blakely. 2000. Perekonomian Indonesia : Krisis dan Strategi Alternatif. Alim. Yogyakarta. Yogyakarta Alim.J. Jakarta. Hidayat. dan B. 2006. Bogor. DRFE-Usakti. Bogor. White.. Two-Layer Feedback Loop Structure of the Regional Economies of Indonesia: An Interregional Block Structural Path Analysis. Proverty. Edisi pertama. S. Jakarta. M. Planning Local Economic Development: Theory and Practice. 2001. www. Jakarta. Unas-Cidesindo. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Jakarta. Disertasi Doktor. U. B. Basri. Regional Development in The Era of Decentralization: Growth. Pustaka Quantum. Alisjahbana. S. 2004. Santosa.. 2004. Adisasmita. and the Environment. Bryant. Brojonegoro. G. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. dan D. R. The Regional Economics Applications Laboratory (REAL) 03-T-17. Disertasi Doktor. Pustaka Quantum. Hidayat.. P. Sage Publications. L.D. Basalim. Daftar Pustaka Achjar. R.

United Nations. E.. Understanding Local Economic Development. L.. B. G. . Dissertation. An Interregional Computable General Equilibrium Approach. USA. Membangun Masa Depan Ekonomi Indonesia Melalui Pembangunan Sektor Agribisnis. Cornell University. Ithaca.. Fiscal Decentralization and Economic Performance in Indonesia. R. 1964. Wuryanto. urdi. Sularto Sumodiningrat. Teori dan Penerapannya.. Info URDI. 1999. New Jersey. Editor: St. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. T.pdf. PT Bina Rena Pariwara. Toward a New Trade Policy for Development. 1996. Samiaji. Rachbini. dalam buku Menggugat Masa Lalu. Edisi pertama. 1996. Granit. Local Economic Development.16 Maliza and Feser. Jakarta.. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. Saragih. D. B. 2004.J. Prebisch. 1999. 2006. Volume 15. Jakarta. Ekonomi Politik : Kebijakan dan Strategi Pembangunan.. Center for Urban Policy Research.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful