Anda di halaman 1dari 21

A.

TUJUAN
Memahami secara kuantitatif sifat-sifat adsorbsi zat terlarut dari suatu larutan pada permukaan
adsorben.

B. DASAR TEORI
Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair mempunyai gaya tarik ke arah
dalam karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi. Adanya gaya-gaya ini menyebabkan
molekul pada zat padat dan cair mempunyai gaya adsorbsi. Adsorbsi berbeda dengan absorbsi.
Pada absorbsi, zat yang diserap masuk ke dalam absorben sedangkan pada adsorbsi zat yang
diserap hanya terdapat pada permukaannya.
Daya serap adsorben terhadap zat teradsorb (adsorbat) tergantung pada jenis adsorben,
jenis zat teradsorb, luas permukaan adsorben, dan temperatur serta tekanan sistem.
Jenis adsorbsi ada dua macam :
a. Adsorbsi fisik atau Van der Waals
 Panas adsorbsi rendah (∼ 10.000 kal/mol).
 Kesetimbangan adsorbsi reversibel dan cepat.
 Contohnya adsorbsi gas pada batu bara.
b. Adsorbsi kimia atau adsorbsi aktivasi
 Panas adsorbsi tinggi (20.000-100.000 kal/mol).
 Adsorbsi di sini terjadi dengan pembentukan senyawa kimia sehingga ikatannya lebih
kuat.
 Contohnya adsorbsi H2 pada Ni.
Beberapa persamaan matematis telah dikembangkan untuk mempelajari data adsorbsi. Dua
persamaan yang umum digunakan adalah persamaan Freundlich dan Langmuir. Pada persamaan
adsorbsi isoterm Freundlich, pengaruh konsentrasi larutan terhadap adsorbsi dinyatakan sebagai
berikut :
x
= kc n
m
Di mana :
x = berat adsorbat
m = berat adsorben
c = konsentrasi adsorbat pada saat kesetimbangan tercapai (yang ada dalam larutan)
k,n = tetapan empiris
Adsorbsi isoterm Langmuir menggambarkan bahwa pada permukaan adsorben terdapat
sejumlah situs aktif yang sebanding dengan luas permukaan adsorben. Pada setiap situs aktif,
hanya satu molekul yang dapat diserap. Ikatan antara adsorbat dengan adsorben harus cukup kuat
untuk mencegah migrasi molekul yang telah diserap sepanjang permukaan adsorben. Interaksi
antara molekul-molekul adsorbat dalam lapisan hasil adosrbsi diabaikan. Teori ini
mengasumsikan bahwa ikatan yang terjadi tidak tegantung pada ikatan yang telah terbentuk pada
situs aktif yang berada di dekatnya.
Menurut persamaan isoterm Langmuir, pengaruh konsentrasi larutan pada adsorbsi dapat
dituliskan sebagai berikut :
x α ×C
=
m 1 + β ×C

C 1 β
= + C
x/m α α
Zeolit
Zeolit merupakan material dengan pori-pori sangat kecil yang mampu memuat molekul-
molekul kecil, disebut sebagai molekular Sieve. Zeolit dapat diperoleh dari alam atau dibuat
secara sintesis seperti kristal aluminium non silikat. Zeolit banyak digunakan sebagai adsorben.
Zeolit alam merupakan senyawa alumino silikat terhidrasi, dengan unsur utama yang terdiri dari
kation alkali dan alkali tanah. Senyawa ini berstruktur tiga dimensi dan mempunyai pori yang
dapat diisi oleh molekul air. Mineral zeolit yang paling umum dijumpai adalah klinoptirotit,
yang mempunyai rumus kimia (Na3K3)(Al6Si30O72).24H2O. Ion Na+ dan K+ merupakan kation
yang dapat dipertukarkan, sedangkan atom Al dan Si merupakan struktur kation dan oksigen
yang akan membentuk struktur tetrahedron pada zeolit. Molekul-molekul air yang terdapat
dalam zeolit merupakan molekul yang mudah lepas. Zeolit alam terbentuk dari reaksi antara
batuan tufa asam berbutir halus dan bersifat riolitik dengan air pori atau air meteorik
Penggunaan zeolit adalah untuk bahan baku water treatment, pembersih limbah cair dan rumah
tangga, untuk industri pertanian, peternakan, perikanan, industri kosmetik, industri farmasi, dan
lain-lain. Zeolit terdapat di beberapa daerah di Indonesia yang diperkirakan mempunyai
cadangan zeolit sangat besar dan berpotensi untuk dikembangkan, yaitu Jawa Barat dan
Lampung.
Struktur zeolit sesuai dengan kerangka tiga dimensi tetrahedral dari SiO4 dan AlO4 yang
saling berhubungan melalui atom O, pada struktur tersebut Si4+ dapat diganti dengan Al3+.
Rumus empiris zeolit adalah :
M2/nO.Al2O3.xSiO2.yH2O.
Di mana :
M = kation alkali atau alkali tanah x. = konstanta (2 s/d 10)
N = valensi logam alkali y = konstanta (2 s/d 7)

Mn-Zeolit
Mn-Zeolit adalah zeolit yang telah dimodifikasikan dengan mengimpregnasi zeolit dengan
ion mangan dan potassium permangat yang aktif (Mn2+ dan Mn7+).
Karbon Aktif Granular
Arang aktif adalah arang yang telah mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimianya
karena dilakukan perlakuan aktifasi dengan aktifator bahan-bahan kimia ataupun dengan
pemanasan pada temperatur tinggi, sehingga daya serap dan luas permukaan partikel serta
kemampuan arang tersebut kan menjadi lebih tinggi.
Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari
bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan
berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara di dalam ruangan pemanasan
sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi.
Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben
(penyerap). Daya serap ditentukan oleh luas permukaan partikel dan kemampuan ini dapat
menjadi lebih tinggi jika terhadap arang tersebut dilakukan aktifasi dengan aktif faktor bahan-
bahan kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, arang akan
mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia. Arang yang demikian disebut sebagai arang
aktif.
Arang aktif merupakan senyawa karbon amorph, yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan
yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk
mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 300-3500
m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori internal yang menyebabkan arang aktif
mempunyai sifat sebagai adsorben. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa
kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan
luas permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25-1000 % terhadap berat arang aktif.
Arang aktif dibagi atas 2 tipe, yaitu arang aktif sebagai pemucat dan sebagai penyerap uap.
Arang aktif sebgai pemucat, biasanya berbentuk bubuk yang sangat halus, diameter pori
mencapai 1000Ao, digunakan dalam fase cair, berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu
yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan, membebaskan pelarut dari zat-zat
penganggu dan kegunaan lain yaitu pada industri kimia dan industri baru. Diperoleh dari serbuk-
serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil
dan mempunyai struktur yang lemah.
Arang aktif sebagai penyerap uap, biasanya berbentuk granular atau pellet yang sangat
keras dengan diameter pori berkisar antara 10-200 Ao, tipe pori lebih halus, digunakan dalam
rase gas, berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut, katalis, pemisahan dan pemurnian gas.
Diperoleh dari tempurung kelapa, tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai
mempunyai struktur keras.

C. METODOLOGI PERCOBAAN
I. Alat
• Timbangan analitik
• Buret 50 mL
• Pipet ukur 10 mL
• Gelas ukur 10 mL
• Erlenmeyer 250 mL
• Labu pengeceran 200 mL
• Corong
• Kertas saring
• Gelas beker
• Propipet
• Pipet
II. Bahan
• Zeolit alam
• Mn zeolit
• Arang aktif
• Karbon aktif
• Larutan standar NaOH 0,5 M
• Larutan asam asetat 1 M
• Indikator PP
• akuades
III. Cara Kerja
1. Dari larutan asam asetat 1 M dibuat 5 sampel larutan asam asetat dengan
konsentrasi berturut-turut 0,1 M; 0,2 M; 0,3 M; 0,4 M; dan 0,5 M. Untuk mengetahui
konsentrasi sebenarnya dari setiap larutan tersebut, maka masing-masing larutan asam
asetat perlu dititrasi dengan larutan standar NaOH .
2. Untuk setiap larutan, diambil 10 mL asam asetat lalu dititrasi dengan larutan
standar NaOH 0,5 M dengan indikator PP. Percobaan titrasi dilakukan masing-masing dua
kali untuk setiap larutan. Konsentrasi asam asetat sebenarnya sebelum adsorbsi dapat
ditentukan dari hasil titrasi rata-rata.
3. Diambil dari setiap larutan asam aetat (1) sebanyak 30 mL kemudian dimasukkan
ke dalam erlenmeyer. Untuk setiap erlenmeyer, ditambahkan masing-masing 1 gram
karbon aktif lalu dikocok beberapa saat. Setelahnya, erlenmeyer ditutup dengan kertas
saring dan campuran didiamkan selama 15 menit.
4. Campuran-campuran di atas kemudian disaring dengan kertas saring dan
dipisahkan filtratnya. Diambil masing-masing 10 mL larutan kemudian dititrasi dengan
larutan standar NaOH 0,5 M. Proses titrasi masing-masing larutan dilakukan dua kali.
Konsentrasi asam asetat sisa yang ada dalam larutan dapat ditentukan dari hasil titrasi rata-
rata.
5. Dilakukan langkah kerja yang sama untuk adsorben zeolit alam, Mn zeolit, dan
arang aktif.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN


I. Data Hasil Perhitungan dan Grafik
• Zeolit alam • Arang aktif
n = 0,181 ≈ 0 n = 0,4957 ≈ 0
k = 10-1,6794 k = 10-0,9912
α = -0,21437 α = 0,2222
β = -21,2395 β = -0,08044
R = 0,8187 R = 0,01
• Mn zeolit • Karbon aktif
n = -0,0397 ≈ 0 n = 0,3066 ≈ 0
k = 10-2,0188 k = 10-0,8444
α = -0,0708 α = 1,3428
β = -14,62499 β = 9,7176
R = 0,7841 R = 0,8999
II. Pembahasan
Pada percobaan ini, indikator yang digunakan adalah PP karena titik ekivalen yang
terjadi pada proses titrasi berada pada rentang pH netral sampai sedikit basa. Trayek perubahan
warna indikator PP berada pada kisaran harga sedikit basa sehingga agar penentuan titik akhir
titrasi lebih valid, digunakan indikator PP.
Gambar fenolftalein
O
-O
HO

OH
O-

C O-
C C

O OH
COO-
CO
COO-

Jernih (pH 0-8,0) Merah (pH 8,0-9,8) Jernih (pH >12,0)


Setelah penambahan adsorben, campuran larutan didiamkan agar reaksi dapat berjalan
dengan baik (pembentukan kesetimbangan tidak terganggu karena reaksi kesetimbangan sangat
sensitif terhadap perlakuan pada sistem reaksi tersebut).
Pada saat penyaringan larutan partikel adsorben tidak boleh ikut terambil karena zat yang
teradsorb dalam adsorben dapat ikut bereaksi dengan NaOH sehingga titik ekivalen dan titik
akhir titrasi yang terbaca tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Dari keempat adsorben yang digunakan, nilai R pada adsorben zeolit alam, Mn zeolit,
dan karbon aktif hampir mendekati 1 yang berati adsorbsi yang terjadi melalui proses kimiai.
Sedangkan pada arang aktif, nilai R hampir mendekati nol yang berarti adsorbsi yang terjadi
melalui proses fisika.
Berdasarkan data hasil percobaan, semakin besar konsentrasi adsorbat semakin besar
pula kekuatan adsorbsi. Namun bila konsentrasi adsorbat terus dinaikkan, maka pada suatu
konsentrasi tertentu, kekuatan adsorbsi akan tetap/naik sangat kecil. Hal ini dikarenakan luas
permukaan adsorben (yang digunakan untuk menangkap/mengadsorb adsorbat) tetap sehingga
jika semua permukaan adsorben telah mengadsorb adsorbat, penambahan adsorbat tidak akan
mempengaruhi kekuatan adsorbsi.
Jika dibandingkan, daya adsorbsi zeolit alam terhadap asam asetat lebih kuat dari pada
daya adsorbsi Mn zeolit. Kekuatan/daya adsorbsi ini dapat dilihat dari nilai α (konsentrasi
adsorbat pada ½ kapasitas monomolekul) dan β (kapasitas/kemampuan monomolekul untuk
mengadsorb adsorbat). Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan daya adsorbsi Mn
zeolit lebih besar dari pada daya adsorbsi zeolit alam. Ketidaksesuain ini disebabkan beberapa
hal yang nanti akan dibahas.
Daya adsorbsi pada arang aktif dan karbon aktif memiliki nilai yang tidak berbeda jauh
karena zat pembentuknya sama yaitu karbon. Namun daya adsorbsi karbon aktif lebih besar
dari pada arang aktif. Hal ini terlihat dari nilai β karbon aktif yang lebih besar dari pada arang
aktif. Perbedaan daya adsorbsi ini mungkin dikarenakan perlakuan yang diberikan pada saat
pembuatan karbon aktif yang berbeda dengan perlakuan yang diberikan pada arang aktif.
Akibatnya struktur karbon aktif berbeda dengan struktur arang aktif. Perbedaan struktur akan
berakibat pada perbedaan daya adsorbsi.
Ketidaksesuaian data hasil percobaan dengan teori dalam percobaan ini dikarenakan
beberapa hal seperti :
• Data hasil percobaan merupakan data gabungan dari beberapa kelompok yang skill tiap
individunya tidak sama sehingga kevalidan data tiap kelompok tidak sama.
• Kesalahan dalam proses titrasi, penimbangan adsorben, pengenceran asama asetat, serta
dalam pengukuran lainnya.
• Keterbatasan alat.

E. KESIMPULAN
1. Penambahan konsentrasi adsorbat akan semakin memperbesar daya adsorbsi hingga
maksimal. Penambahan adsorbat setelah mencapai daya adsorbsi maksimal hanya akan
mengubah sedikit nilai daya adsorbsi.
2. Reaksi adsorbsi pada adsorben zeolit alam, Mn zeolit dan karbon aktif berjalan
melalui proses fisika.
3. Reaksi adsorbsi pada adsorben arang aktif berjalan melalui proses kimia.
4. Urutan daya adsorbsi hasil percobaan dari yang paling kuat adalah karbon aktif,
arang aktif, zeolit alam, dan Mn zeolit.
5. Dari hasil perhitungan, didapat data sebagai berikut :
• Zeolit alam R= 0,7841
n = 0,181 ≈ 0 • Arang aktif
k = 10-1,6794 n = 0,4957 ≈ 0
α = -0,21437 k = 10-0,9912
β = -21,2395 α = 0,2222
R= 0,8187 β = -0,08044
• Mn zeolit R= 0,01
n = -0,0397 ≈ 0 • Karbon aktif
k = 10-2,0188 n = 0,3066 ≈ 0
α = -0,0708 k = 10-0,8444
β = -14,62499 α = 1,3428
β = 9,7176 R= 0,8999

F. DAFTAR PUSTAKA
Adamson, A., 1990, Physical Chemsitry of Surface, John Wiley and Sons : USA
Daniels, F., 1976, Experimental in Physical Chemistry, McGraw-Hill : New York
Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press : Jakarta
Sukardjo, 1997, Kimia Fisika, PT Rineka Cipta : Jakarta

Yogyakarta, 4 Desember 2007


Asisten Praktikan

Naniek Octaviani Fiby Achmad V.


PERHITUNGAN

Zeolit Alam
1. Penentuan konsentrasi asam asetat hasil standardisasi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

a . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,25 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0625 M

• Asam asetat 0,2 M


2,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,125 M

• Asam asetat 0,3 M


3,75 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,1875 M

• Asam asetat 0,4 M


5,05 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,2525 M

• Asam asetat 0,5 M


6,35 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,3175 M
2. Penentuan konsentrasi asam asetat setelah adsorbsi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

b . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0575 M

• Asam asetat 0,2 M


2,3 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,115 M
• Asam asetat 0,3 M
3,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,175 M

• Asam asetat 0,4 M


4,8 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,24 M

• Asam asetat 0,5 M


6,25 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,3125 M
3. Penentuan massa asam asetat yang teradsorbsi
30 (a − b) × M NaOH × MrCH 3COOH
Massa teradsorbsi (x) = ×
10 1000
• Asam asetat 0,1 M
30 (1,25 −1,15 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,009 gr
10 1000
• Asam asetat 0,2 M
30 (2,5 − 2,3) × 0,5 × 60
x= × = 0,018 gr
10 1000
• Asam asetat 0,3 M
30 (3,75 − 3,5) × 0,5 × 60
x= × = 0,0225 gr
10 1000
• Asam asetat 0,4 M
30 (5,05 − 4,8) × 0,5 × 60
x= × = 0,0225 gr
10 1000
• Asam asetat 0,5 M
30 (6,35 − 6,25 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,009 gr
10 1000
4. Tabel dan grafik
[CH3COOH] x (gr) m (gr) C x/m log (x/m) C/(x/m) log C
0,0625 0,009 1 0,0575 0,009 -2,04576 6,388889 -1,24033
0,125 0,018 1 0,115 0,018 -1,74473 6,388889 -0,9393
0,1875 0,0225 1 0,175 0,0225 -1,64782 7,777778 -0,75696
0,2525 0,0225 1 0,24 0,0225 -1,64782 10,66667 -0,61979
0,3175 0,009 1 0,3125 0,009 -2,04576 34,72222 -0,50515
Grafik Log (x/m) vs Log C

-1,4 -1,2 -1 -0,8 -0,6 -0,4 -0,2 0


0
Log C
-0,5

-1

-1,5

-2

y = 0,181x - 1,6794 -2,5


R2 = 0,0656 Log (x/m)

Grafik C/(x/m) vs C

40
35
30
25
C/(x/m)

20
15
10
5
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35
y = 99,076x - 4,6447
C
R2 = 0,6703

5. Menentukan orde reaksi


Log (x/m) = log Cn + log k
Log (x/m) = n log C + log k

y slope x intersept
Dari grafik dapat diketahui bahwa nilai n (orde) reaksi sebesar 0,181. Karena nilai n sangat
kecil (mendekati nol) maka dapat diasumsikan bahwa orde reaksinya adalah nol.
Sedangkan nilai konstanta laju reaksinya sebesar 10-1,6794.
6. Menentukan nilai α , β , dan R
C β 1
= C +
x/m α α

y slope x intersept
β 1
Dari grafik, dapat diketahui nilai dan sehingga nilai α dan β dapat ditentukan.
α α
1
= -4,6647 α = -0,21437
α
β
= 99,076 β = -21,2395
α
R2 = 0,6703 R = 0,8187
Mn Zeolit
1. Penentuan konsentrasi asam asetat hasil standardisasi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

a . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0575 M

• Asam asetat 0,2 M


2,25 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,1125 M

• Asam asetat 0,3 M


3,7 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,185 M

• Asam asetat 0,4 M


4,65 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,2325 M

• Asam asetat 0,5 M


6 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,3 M
2. Penentuan konsentrasi asam asetat setelah adsorbsi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

b . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,05 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0525 M

• Asam asetat 0,2 M


2,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,1075 M

• Asam asetat 0,3 M


3,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,175 M

• Asam asetat 0,4 M


4,45 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,2225 M

• Asam asetat 0,5 M


5,95 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,2975 M
3. Penentuan massa asam asetat yang teradsorbsi
30 (a − b) × M NaOH × Mr CH 3COOH
Massa teradsorbsi (x) = ×
10 1000
• Asam asetat 0,1 M
30 (1,15 −1,05 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,009 gr
10 1000
• Asam asetat 0,2 M
30 (2,25 − 2,15 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,009 gr
10 1000
• Asam asetat 0,3 M
30 (3,7 − 3,5) × 0,5 × 60
x= × = 0,018 gr
10 1000
• Asam asetat 0,4 M
30 (4,65 − 4,45 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,018 gr
10 1000
• Asam asetat 0,5 M
30 (6 − 5,95 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,0045 gr
10 1000
4. Tabel dan grafik
[CH3COOH] x (gr) m (gr) C x/m log (x/m) C/(x/m) log C
0,0575 0,009 1 0,0525 0,009 -2,04576 5,833333 -1,27984
0,1125 0,009 1 0,1075 0,009 -2,04576 11,94444 -0,96859
0,185 0,018 1 0,175 0,018 -1,74473 9,722222 -0,75696
0,2325 0,018 1 0,2225 0,018 -1,74473 12,36111 -0,65267
0,3 0,0045 1 0,2975 0,0045 -2,34679 66,11111 -0,52651

Grafik Log (x/m) vs Log C

-1,4 -1,2 -1 -0,8 -0,6 -0,4 -0,2 0


Log C 0

-0,5

-1

-1,5

-2

-2,5
y = -0,0397x - 2,0188
Log (x/m)
R2 = 0,0022

Grafik C/(x/m) vs C

70
60
50
40
C/(x/m)

30
20
10
0
-10 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35
y = 206,53x - 14,122
C
R2 = 0,6149

5. Menentukan orde reaksi


Log (x/m) = log Cn + log k
Log (x/m) = n log C + log k

y slope x intersept
Dari grafik dapat diketahui bahwa nilai n (orde) reaksi sebesar -0,0397. Karena nilai n negatif
dan sangat kecil (mendekati nol) maka dapat diasumsikan bahwa orde reaksinya adalah nol.
Sedangkan nilai konstanta laju reaksinya sebesar 10-2,0188.
6. Menentukan nilai α , β , dan R
C β 1
= C +
x/m α α
y slope x intersept
β 1
Dari grafik, dapat diketahui nilai dan sehingga nilai α dan β dapat ditentukan.
α α
1
= -14,122 α = -0,0708
α
β
= 206,53 β = -14,62499
α
R2 = 0,6149 R = 0,7841
Arang Aktif
1. Penentuan konsentrasi asam asetat hasil standardisasi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

a . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,075 M

• Asam asetat 0,2 M


2,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,125 M

• Asam asetat 0,3 M


3,9 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,195 M

• Asam asetat 0,4 M


5,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,2575 M

• Asam asetat 0,5 M


6,6 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,33 M
2. Penentuan konsentrasi asam asetat setelah adsorbsi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

b . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,05 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0525 M

• Asam asetat 0,2 M


2,35 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,1175 M

• Asam asetat 0,3 M


3,5 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,175 M

• Asam asetat 0,4 M


4,55 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,2275 M

• Asam asetat 0,5 M


5,6 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,28 M
3. Penentuan massa asam asetat yang teradsorbsi
30 (a − b) × M NaOH × MrCH 3COOH
Massa teradsorbsi (x) = ×
10 1000
• Asam asetat 0,1 M
30 (1,5 −1,05 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,0405 gr
10 1000
• Asam asetat 0,2 M
30 (2,5 − 2,35 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,0135 gr
10 1000
• Asam asetat 0,3 M
30 (3,9 − 3,5) × 0,5 × 60
x= × = 0,036 gr
10 1000
• Asam asetat 0,4 M
30 (5,15 − 4,55 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,054 gr
10 1000
• Asam asetat 0,5 M
30 (6,6 − 5,6) × 0,5 × 60
x= × = 0,09 gr
10 1000
4. Tabel dan grafik
[CH3COOH] x (gr) m (gr) C x/m log (x/m) C/(x/m) log C
0,075 0,0405 1 0,0525 0,0405 -1,39254 1,296296 -1,27984
0,125 0,0135 1 0,1175 0,0135 -1,86967 8,703704 -0,92996
0,195 0,036 1 0,175 0,036 -1,4437 4,861111 -0,75696
0,2575 0,054 1 0,2275 0,054 -1,26761 4,212963 -0,64302
0,33 0,09 1 0,28 0,09 -1,04576 3,111111 -0,55284

Grafik Log (x/m) vs Log C

-1,4 -1,2 -1 -0,8 -0,6 -0,4 -0,2 0


Log C 0

-0,5

-1

-1,5

-2
y = 0,4957x - 0,9912
Log (x/m)
R2 = 0,2215

Grafik C/(x/m) vs C

10

6
C/(x/m)

0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3
y = -0,3619x + 4,4987
C
R2 = 0,0001

5. Menentukan orde reaksi


Log (x/m) = log Cn + log k
Log (x/m) = n log C + log k

y slope x intersept
Dari grafik dapat diketahui bahwa nilai n (orde) reaksi sebesar 0,4957. Karena nilai n relatif
kecil (nilainya lebih mendekati nol dari pada satu) maka dapat diasumsikan bahwa orde
reaksinya adalah nol.
Sedangkan nilai konstanta laju reaksinya sebesar 10-0,9912.
6. Menentukan nilai α , β , dan R
C β 1
= C +
x/m α α

y slope x intersept
β 1
Dari grafik, dapat diketahui nilai dan sehingga nilai α dan β dapat ditentukan.
α α
1
= 4,4987 α = 0,2222
α
β
= -0,3619 β = -0,08044
α
R2 = 0,0001 R = 0,01
Karbon Aktif
1. Penentuan konsentrasi asam asetat hasil standardisasi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

a . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


1,55 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,0775 M

• Asam asetat 0,2 M


2,75 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,1375 M

• Asam asetat 0,3 M


4 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,2 M

• Asam asetat 0,4 M


5,55 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,2775 M

• Asam asetat 0,5 M


6,85 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

M CH 3COOH = 0,3425 M
2. Penentuan konsentrasi asam asetat setelah adsorbsi
( V.M) NaOH = (V.M) CH 3COOH

b . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH

• Asam asetat 0,1 M


0,85 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,0425 M

• Asam asetat 0,2 M


2,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,1075 M

• Asam asetat 0,3 M


3,15 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,1575 M

• Asam asetat 0,4 M


4,4 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,22 M

• Asam asetat 0,5 M


5,7 mL . 0,5 M = 10 mL . M CH 3COOH
M CH 3COOH = 0,285 M
3. Penentuan massa asam asetat yang teradsorbsi
30 (a − b) × M NaOH × MrCH 3COOH
Massa teradsorbsi (x) = ×
10 1000
• Asam asetat 0,1 M
30 (1,55 − 0,85 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,063 gr
10 1000
• Asam asetat 0,2 M
30 (2,75 − 2,15 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,054 gr
10 1000
• Asam asetat 0,3 M
30 (4 − 3,15 ) × 0,5 × 60
x= × = 0,0765 gr
10 1000
• Asam asetat 0,4 M
30 (5,55 − 4,4) × 0,5 × 60
x= × = 0,1035 gr
10 1000
• Asam asetat 0,5 M
30 (6,85 − 5,7) × 0,5 × 60
x= × = 0,1035 gr
10 1000
4. Tabel dan grafik
[CH3COOH] x (gr) m (gr) C x/m log (x/m) C/(x/m) log C
0,0775 0,063 1 0,0425 0,063 -1,20066 0,674603 -1,37161
0,1375 0,054 1 0,1075 0,054 -1,26761 1,990741 -0,96859
0,2 0,0765 1 0,1575 0,0765 -1,11634 2,058824 -0,80272
0,2775 0,1035 1 0,22 0,1035 -0,98506 2,125604 -0,65758
0,3425 0,1035 1 0,285 0,1035 -0,98506 2,753623 -0,54516

Grafik Log (x/m) vs Log C

-1,6 -1,4 -1,2 -1 -0,8 -0,6 -0,4 -0,2 0


Log C 0
-0,2
-0,4
-0,6
-0,8
-1
-1,2
-1,4
y = 0,3066x - 0,8444
R2 = 0,6089 Log (x/m)

Grafik C/(x/m) vs C

3
2,5
2
C/(x/m)

1,5
1
0,5
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3
y = 7,2367x + 0,7447
C
R2 = 0,8099

5. Menentukan orde reaksi


Log (x/m) = log Cn + log k
Log (x/m) = n log C + log k

y slope x intersept
Dari grafik dapat diketahui bahwa nilai n (orde) reaksi sebesar 0,3066. Karena nilai n sangat
kecil (mendekati nol) maka dapat diasumsikan bahwa orde reaksinya adalah nol.
Sedangkan nilai konstanta laju reaksinya sebesar 10-0,8444.
6. Menentukan nilai α , β , dan R
C β 1
= C +
x/m α α

y slope x intersept
β 1
Dari grafik, dapat diketahui nilai dan sehingga nilai α dan β dapat ditentukan.
α α
1
= 0,7447 α = 1,3428
α
β
= 7,2367 β = 9,7176
α
R2 = 0,8099 R = 0,8999