Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA I

PERCOBAAN IX
PENENTUAN ENERGI AKTIVASI REAKSI
(K1-9)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2006
I. TUJUAN
• Dapat menentukan tenaga pengaktifan reaksi ion persulfat dengan ion
iodida
• Dapat menentukan tenaga pengaktifan reaksi hidrogen peroksida dengan
ion iodida.

II. LANDASAN TEORI


Pada percobaan untuk menentukan tenaga pengaktifan pada reaksi ion
persulfat dengan ion iodida, terjadi stokiometri reaksi persulfat dengan ion
iodida, yaitu
S2O8= + 2 I_ I2 + 2SO4=

Jika reaksi di atas dijalankan pada kondisi konsentrasi ion iodida yang
konstan, maka reaksi yang terjadi adalah reaksi tingkat satu terhadap persulfat
dan laju reaksinya dapat dinyatakan dengan

−d S 2O8 =

 
 = k S 2O8 =
dt 
 

Jika konsentrasi persulfat awal adalah a dan konsentrasi pada waktu t adalah
a-x, maka integrasi persamaan memberikan

 
1  1 
k = ln   (1)
ti / n  1 
1 − 
 n 

Waktu untuk menyelesaikan 1/n bagian reaksi itu dapat diamati dengan
menambahkan sejumlah ion tiosulfat dan larutan amilum dalam campuran
reaksi. Tiosulfat memberikan efek regenerasi iodida karena terjadi reaksi
2S2O3= + I2 2 I_ + 2S4O6=

Konsentrasi ion iodida dengan demikian adalah konstan dan karena reaksi ini
demikian cepat, maka tidak ada yodium yang dibebaskan sampai semua ion
tiosulfat telah habis yaitu pada waktu larutan berubah menjadi biru.
Pengaruh temperatur terhadap laju reaksi dinyatakan oleh persamaan Arhenius

ln k = ln A – E/RT (2)
dimana A adalah faktor frekuensi, E adalah tenaga pengaktivan dan T adalah
temperatur mutlak.
Dari persamaan (1) dan (2)
E
ln( t 1 / n ) = +B
RT
 
 
1 1
Dimana B = ln + ln ln  
A  1 
1 − 
 n 

Waktu untuk berlangsungnya reaksi 1/n bagian dapat diamati untuk


konsentrasi-konsentrasi reaktan yang sama pada variasi temperatur T dan
grafik ln t 1/n lawan 1/T akan memberikan garis lurus dengan kemiringan E/R

III. ALAT DAN BAHAN


a. Alat :
1. Tabung 100 mL 2 buah
2. Gelas Piala besar atau termostat
3. Pipet Ukur
4. Termometer
5. Pengaduk
b. Bahan :
1. Larutan KI 0,5 M
2. Larutan Kalium Persulfat 0,01 M
3. Larutan H2O2 3%
4. Lempung Na2S2O3 0,1 M
5. Larutan Indikator amilum (segar)
6. Aquades
7. Larutan H2SO4
c. Susunan Alat dan bahan :

Termometer
Pengaduk

Termostat

Air es / air hangat

IV. CARA KERJA


a. Untuk larutan K2S2O8 0,01 M

Tabung 1 Tabung 2
20 mL KI 0,5 M 20 mL K2S2O8 0,01 M
1 mL Na2S2O3 0,01 M 5 tetes amilum

Gelas Piala Besar


Di isi air + es + garam
atau air hangat

Di biarkan sampai temperature thermostat

Larutan dalam tabung 1


dimasukan dalam tabung 2

Diaduk dan diukur waktu


yang dibutuhkan agar
larutan berubah warna
menjadi biru

Diulangi prosedur itu pada


temperature 5OC, 10 O C,15 O C,
20 O C,25 O C,30 O C

b. Untuk larutan H2O2 3%


Tabung 1
20 mL KI 0,5 M Tabung 2
1 mL Na2S2O3 0,01 M 20 mL H2O2 3%
2 mL H2SO4 2 M 5 tetes amilum

Gelas Piala Besar


Di isi air + es + garam
atau air hangat

Di biarkan sampai temperature thermostat

Larutan dalam tabung 1


dimasukan dalam tabung 2

Diaduk dan diukur waktu


yang dibutuhkan agar
larutan berubah warna
menjadi biru

Diulangi prosedur itu pada


temperature 5OC, 10 O C,15 O C,
20 O C,25 O C,30 O C

V. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


a. Data Eksperimen
Tabel pengamatan lama waktu reaksi kalium persulfat

t1/n (dalam sekon)


No. Suhu
I II Rata-rata
1. 5OC 479 450 464,5
2. 10OC 412 420 416
3. 15OC 257 282 269,5
4. 20OC 225 261 243
5. 25OC 100 210 155
6. 30OC 97 124 110

Tabel pengamatan lama waktu reaksi hidrogen peroksida

t1/n (dalam sekon)


No. Suhu
I II Rata-rata
1. 5OC 27,41 36,4 31,905
2. 10OC 20,38 24,1 22,24
3. 15OC 14,94 15,2 15,07
4. 20OC 9,62 12,8 11,21
5. 25OC 7,32 10,8 9,06
6. 30OC 2,71 9 5,855

b. Hasil Perhitungan
• Untuk percobaan dengan larutan K2S2O8 didapat energi aktivasi
sebesar 40,95 KJ mol-1 dengan faktor frekuensi sebesar 2,63 .104 s-1
• Untuk percobaan dengan larutan H2O2 didapat energi aktivasi
sebesar 45,89 KJ mol-1 dengan faktor frekuensi sebesar 3,5. 105 s-1
c. Pembahasan
Setelah dilakukan percobaan sesuai dengan prosedur serta di lakukan
perhitungan, didapatkan harga-harga Ea dan A seperti yang telah
tercantum diatas dimana Ea merupakan energi aktivasi dan A adalah faktor
frekuensi.
Dari data pengamatan, tampak bahwa dengan bertambahnya suhu,
bertambah cepat pula reaksi terjadi. Kenaikan suhu akan meningkatkan
energi-energi dari molekul sehingga makin banyak molekul yang
mencapai energi pengaktifan. Selain itu, pengaruh suhu juga menyebabkan
partikel begerak lebih cepat sehingga meningkatkan frekuensi tumbukan.
Panas merupakan gerak ketidak teraturan suatu zat. Ketika suatu partikel
bergerak makin cepat (akibat naiknya suhu) maka kemungkinan
bertumbukan dengan molekul lain semakin besar. Namun tidak semua
tumbukan akan menghasilkan suatu reaksi. Partikel harus bertumbukan
dengan Energi yang lebih tinggi dari energi aktivasi untuk menjamin
berlangsungnya suatu reaksi.
Energi aktivasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk
melangsungkan terjadinya suatu reaksi. Jika partikel-partikel bertumbukan
dengan energi yang lebih rendah dari energi aktivasi, tidak akan terjadi
reaksi. Mereka akan kembali ke keadaan semula. Kita dapat
membayangkan energi aktivasi sebagai tembok dari reaksi. Hanya
tumbukan yang memiliki energi sama atau lebih besar dari energi aktivasi
yang dapat menghasilkan terjadinya reaksi. Walaupun partikel-partikel itu
berorientasi dengan baik, kita tidak akan mendapatkan reaksi jika partikel-
partikel tersebut tidak dapat bertumbukan melampui energi minimum yang
disebut dengan energi aktivasi reaksi. Di dalam reaksi kimia, ikatan-ikatan
diceraikan (membutuhkan energi) dan membentuk ikatan-ikatan baru
(melepaskan energi). Umumnya, ikatan-ikatan harus diceraikan sebelum
yang baru terbentuk. energi aktivasi dilibatkan dalam menceraikan
beberapa dari ikatan-ikatan tersebut. Ketika tumbukan-tumbukan tersebut
relatif lemah, dan tidak cukup energi untuk memulai proses penceraian
ikatan. mengakibatkan partikel-partikel tersebut tidak bereaksi.
Karena energi aktivasi memegang peranan penting dalam menentukan
suatu tumbukan menghasilkan reaksi, hal ini sangat berguna untuk
menentukan bagaimana macam bagian partikel berada untuk mendapatkan
energi yang cukup ketika mereka bertumbukan. Di dalam berbagai sistem,
keberadaan partikel-partikel akan memiliki berbagai variasi besar energi.
Agar reaksi berlangsung, partikel-partikel harus bertumbukan guna
memperoleh energi yang sama atau lebih besar daripada aktivasi energi.
Pada percobaan menggunakan larutan hidrogen peroksida, di gunakan
katalis H2SO4. Hidrogen peroksida adalah cairan bening, agak lebih kental
daripada air, yang merupakan oksidator kuat. Katalis adalah suatu zat yang
mempercepat suatu laju reaksi, namun ia sendiri, secara kimiawi, tidak
berubah pada akhir reaksi. Katalisator dapat mengubah mekanisme reaksi
dengan membuat tahapan reaksi yang memiliki energi pengaktifan yang
lebih rendah Ketika reaksi selesai, kita akan mendapatkan massa katalasis
yang sama seperti pada awal kita tambahkan. Katalisator bereaksi pada
satu tahap kemudian dibebaskan pada tahap berikutnya. Karena itulah
reaksi yang terjadi pada larutan ini berlangsung relatif cepat.
d. Sumber kesalahan
• Larutan yang di sediakan pada waktu praktikum sudah terkontaminasi
sehingga praktikan harus mengulang eksperimen dengan larutan yang
berbeda.
• Termometer yang digunakan hanya satu sehingga suhu pada tabung yang
lain hanya dalam prediksi.
• Suhu kurang bisa dijaga konstan selama berlangsungnya reaksi akibat
mengalirnya panas dari tubuh kita ke tabung, serta gesekan pengaduk yang
pasti akan menimbulkan panas.
VI. KESIMPULAN
Hasil dari percobaan ini dapat disimpulkan :
• Untuk percobaan dengan larutan K2S2O8 didapat energi aktivasi sebesar
40,95 KJ mol-1 dengan faktor frekuensi sebesar 2,63 . 104 s-1
• Untuk percobaan dengan larutan H2O2 didapat energi aktivasi sebesar
45,89 KJ mol-1 dengan faktor frekuensi sebesar 3,5. 105 s-1

VII. DAFTAR PUSTAKA


•Alberty, R.A. & Daniels, F., 1984, KIMIA FISIKA, jilid 2 (terjemahan),
Penerbit Erlangga, Jakarta
•Atkins, P.W., 1990, Physical Chemistry, edisi 4, Oxford University Press.
Oxford
•Castellan, G. W., 1983, Physical Chemistry, edisi 3, Adison-Wesley
Publishing Company, Singapore
•Hamroy, Muchlas.1999. Kimia fisika I. Yogyakarta: MIPA UGM
•Moore & Pearson, 1987, Chemical Kinetics, John Wiley & sons, New
York

VIII. LAMPIRAN
1. Menentukan 1/n
a. Untuk larutan K2S2O8
Reaksi
S2O8= + 2 I_ I2 + 2SO4=

2S2O3= + I2 2 I_ + 2S4O6=

+
S2O8= + 2S2O3=_ 2SO4= + S4O6=

Mula-mula 0,2 mmol 0,1 mmol - -


Reaksi 0,05 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol 0,05 mmol
-
Setimbang 0,15 mmol - 0,1 mmol 0,05 mmol

1 mmolS2O8 = bereaksi
=
n mmolS2O8 = awal
0,05 mmol
=
0,20 mmol
1
=
4

1 1
Jadi nilai untuk larutan K2S2O8 adalah
n 4

b. Untuk larutan H2O2

Mencari konsentrasi hiderogen peroksida


%massa 1000
konsentras i = x xρ
Mr 100
3 1000
konsentras i = x x1,1
34 100
konsentras i = 0,97 M

Maka kuantitas H2O2 yang digunakan

n = (0,97 x 20 ) mmol
n =19 ,4mmol
Reaksi
H2O2 + 2 I_ + 2H+ I2 + 2H2O

2S2O3= + I2 2 I_ + 2S4O6=

+
H2O2 + 2S2O3=_ 2H2O + S4O6=

Mula-mula 19,4 mmol 0,1 mmol - -


Reaksi 0,05 mmol 0,1 mmol 0,1 mmol 0,05 mmol
-
Setimbang 18,9 mmol - 0,1 mmol 0,05 mmol

1 mmolH 2O 2bereaksi
=
n mmolH 2O 2 awal
0,05 mmol
=
19 ,4mmol
= 0,0258
1
Jadi nilai untuk larutan H2O2 adalah 0,0258
n
2. Menentukan Ea dan A
Dari data percobaan t1/n dan T dibuat grafik ln t1/2 dimana T adalah suhu dalam
satuan Kelvin. Dari grafik tersebut akan didapat garis dengan kemiringan
tertentu. Persamaan garis tersebut

y = m x +c
analog
Ea 1
ln t1/n = +B
R T
dimana
 
 
1 1
B = ln + ln ln  
A  1 
1 − 
 n 
Dari rumusan di atas kita akan mendapatkan nilai Ea yang merupakan tenaga
pengaktifan reaksi dan A yaitu faktor frekuensi.

a. Untuk Grafik ln t1/n Vs 1/T K2S2O8 dari 5OC sampai 30OC

No. T (K) 1/T(1/K) t(s) ln t


1 278 0,003597 464,5 6,140962
2 283 0,003534 416 6,030685
3 288 0,003472 269,5 5,596568
4 293 0,003413 243 5,493061
5 298 0,003356 155 5,043425
6 303 0,0033 110 4,70048

Grafik ln t1/n Vs 1/T dengan Larutan


K2S2O8
7

4
ln t1/n

y = 4926x - 11,471
2
R2 = 0,9666

0
0,00325 0,0033 0,00335 0,0034 0,00345 0,0035 0,00355 0,0036 0,00365

1/T (1/K)

Didapat y = mx +c
y= 4926 x-11,417
Ea
m=
R
Ea = m.R
= 4926 . 8,314 J mol -1 K-1
= 40954,764 J mol-1
= 40,95 KJ mol-1
B =c
 
 
1 1
B = ln + ln ln  
A  1
1 − 
 n
 
1  1 
ln = B −ln ln  
A  1
1 − 
 n
 
1  1 
ln = ( - 11,417 ) − ln ln  
A 1 − 1 
 
 4 

= - 11,417 -(-1,246)
= -10,171
1
= 3,8.10 −6
A
A = 2,63.104 s-1

b. Untuk Grafik ln t1/n Vs 1/T H2O2 dari 5OC sampai 30OC

No. T (K) 1/T(1/K) t(s) ln t


1 278 0,003597 31,905 3,462763
2 283 0,003534 22,24 3,101892
3 288 0,003472 15,07 2,712706
4 293 0,003413 11,21 2,416806
5 298 0,003356 9,06 2,203869
6 303 0,0033 5,855 1,767296

Grafik ln t1/n Vs 1/T dengan Larutan H2O2


4

3,5
3

2,5
ln t1/n

2
1,5
y = 5519,6x - 16,406
1 2
R = 0,9938
0,5

0
0,0033 0,0033 0,0034 0,0034 0,0035 0,0035 0,0036 0,0036 0,0037
1/T (1/K)

Didapat y = mx +c
= 5519,6x-16,406

Ea
m=
R
Ea = m.R
= 5519,6 . 8,314 J mol -1 K-1
= 45889,95 J mol-1
= 45,89 KJ mol-1

B =c
 
 
1 1
B = ln + ln ln  
A  1
1 − 
 n
 
1  1 
ln = B −ln ln  
A  1
1 − 
 n
1  1 
ln = ( - 16,406 ) − ln ln  
A  1 − 0,0258 

= - 16,406 -(-3,64434)
= -12,76166

1
= 2,67 .10 −6
A
A = 348592,9 s-1
= 3,5. 105 s-1