Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Filariasis di Indonesia dikenal dengan nama kaki gajah. Disebut

begitu karena secara fisik penderitanya akan mengalami pembesaran

kaki, lengan dan alat kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Penyakit

ini disebabkan oleh cacing filaria ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Di

Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi.

Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat

sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26

Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233

orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata

Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah

terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi

untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas.

(http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=32, online, diakses pada

tanggal 1 Oktober 2009, pukul 3.20 WITA)

Seseorang bisa tertular penyakit ini jika tergigit nyamuk yang di

dalam tubuhnya terdapat microfilaria. Gejala umumnya berupa demam

selama 3-5 hari. Demam ini bisa hilang dan muncul lagi jika bekerja berat.

Jika telah menahun (kronik) dan tidak mendapatkan pengobatan, maka

penderitanya akan mengalami cacat menetap. Di Indonesia yang beriklim

tropis, demam kadang dianggap masalah biasa karena flu dan beberapa
penyakit lainnya biasanya diawali dengan demam. Pemberian obat

penurun demam dianggap sudah cukup. Yang jadi masalah, jika ternyata

penyakit itu bisa berakibat jangka panjang seperti halnya filariasis.

Di Sulawesi Selatan penyakit ini tersebar cukup luas dengan

rentang usia yang cukup variatif, baik laki-laki maupun perempuan.

Penularannya yang cepat selain cacat menetap yang diakibatkannya

membuat masyarakat perlu diberi informasi sebanyak-banyaknya

mengenai kecenderungan penyakit ini. Beberapa pertanyaan seperti

tempat, umur, dan jenis kelamin terbanyak pengidap filariasis di Sulawesi

Selatan menjadi alasan utama penulisan makalah ini.

Adapun tujuan penulisan adalah :

1. Untuk memperoleh informasi mengenai filariasis, penularan dan

gejalanya,

2. Untuk memperoleh pengetahuan mengenai distribusi filariasis

berdasarkan umur, jenis kelamin dan lokasi kejadian terbanyak.


TINJAUAN PUSTAKA

A. Tentang Filariasis

Nama lain filariasis selain kaki gajah adalah Elephantiasis,

merupakan merupakan gangguan di pembuluh darah dan pembuluh limfe

yang disebabkan cacing Wuchereria Bancrofti dan Brugia Timori. Penyakit

ini tersebar di nagara tropis dan subtropis melalui gigitan nyamuk culex,

aedes, dan anopheles yang banyak di sekitar kita. Pada saat berbentuk

larva dan microfilia cacing ini berada dalam darah, namun setelah

beranjak dewasa mereka akan migrasi ke pembuluh limfe dan seringkali

berdiam diri dalam kelenjar getah bening. Kegiatan cacing ini sering

mengakibatkan sumbatan pembuluh limfe, dan sumbatan inilah yang

mengakibatkan akumulasi cairan di tubuh bagian bawah termasuk juga

scrotum, sehingga daerah-daerah tersebut seringkali membengkak.

Gejalanya sendiri ada dua tahap :

1. Tahap akut : demam berulang 1-2 kali atau lebih selama 3-5 hari

(demam sembuh sendiri tanpa diobati),Timbul benjolan dan terasa

nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka. teraba ada

urat seperti tali berwarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha

atau ketiak sampai ujung kaki atau tangan.

2. Gejala tahap kronis : perbesaran timbul di kaki, payudara, tangan,

kantong buah zakar, alat kelamin wanita, dan lama-lama menjadi

cacat menetap. banyak penderita yang tidak menunjukkan gejala

sama sekali, mereka terlihat sehat, padahal dalam tubuhnya sudah


ada anak cacing dan cacing dewasa.

(http://rw12maharaja.blogspot.com/2008/07/kenali-filariasis-

penyakit-kaki-gajah.html, online, diakses pada tanggal 1 Oktober

2009, pukul 4.18).

B. Filariasis di Sulawesi Selatan

Dari data sekunder yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan

Provinsi bisa dilihat penyebaran/distribusi penyakit ini di Sulawesi Selatan.

Berikut ini kami sajikan bentuk distribusinya berdasarkan umur dan jenis

kelamin, lokasi kejadian, dan waktu.

Tabel 1. Distribusi Filariasis Berdasarkan Umur Dan Jenis Kelamin

FREK KET
UMUR
L P LK PK LP PP
5 − 14 2 1 1 - 1 1
15 − 24 2 - - - 2 -
25 − 34 2 1 - - 2 1
35 − 44 4 6 2 2 2 4
45 − 54 6 3 5 3 1 -
55 − 64 20 16 17 12 3 3
65 − 74 22 15 20 15 2 -
75 – 84 8 2 8 1 - 1
85 – 94 2 - 2 - - -
95 – 104 0 1 - 1 - -
JUMLAH 68 45 55 34 13 10
Kemudian distribusi Filariasis berdasarkan wilayah kami buat dalam

bentuk tabel berikut :


Tabel 2. Sebaran filariasis berdasarkan tempat (kabupaten)

No Kabupaten Jumlah penderita


1 Enrekang 20
2 Bone 5
3 Barru 6
4 Wajo 3
5 Luwu Timur 71
6 Sidrap 9
7 Pare-pare 1
8 Jeneponto 1
9 Pinrang 2
10 Sinjai 1

Selanjutnya kecenderungan (tren) peningkatan kasus berdasarkan waktu

dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3. Distribusi Penemuan Kasus Filariasis Berdasarkan Waktu

NO TAHUN JUMLAH PENDERITA


1 2006 8

2 2007 3

3 2008 17
PEMBAHASAN

Data yang didapat dari rekapitulasi penderita Filariasis provinsi

Sulawesi Selatan didistribusikan dalam bentuk tabel berdasarkan umur

dan jenis kelamin, wilayah (kabupaten), dan waktu (tahun) dimana kasus

filariasis paling banyak muncul.

a. Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

Setelah dilakukan tabulasi dan pengelompokan penderita berdasarkan

rentang umur seperti ditunjukkan pada tabel 1 dapat dilihat bahwa

filariasis paling banyak didapati pada rentang usia 65 – 74 tahun (37

orang), kemudian pada rentang usia 55 – 64 tahun (36 orang). Secara

sederhana kami jelaskan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena

filariasis sifatnya kronis, sehingga penderita yang terinfeksi/positif

diusia muda baru menunjukkan gejalanya diusia tua.

Dari tabel 1 juga bisa dilihat bahwa filariasis ini kebanyakan diderita

oleh laki-laki dibanding perempuan. Hal ini dimungkinkan karena laki-

laki melakukan aktivitas di luar rumah lebih banyak daripada

perempuan.
b. Berdasarkan Wilayah (Kabupaten)

Tabel 2 menunjukkan bahwa sebaran filariasis paling banyak

ditemukan di kabupaten Luwu Timur (71 orang). Hal ini bisa terjadi

karena Luwu Timur merupakan daerah transmigrasi sehingga

memungkinkan carier (pembawa microfilaria) memasuki wilayah

tersebut, selain karena host perantara (nyamuk) juga banyak terdapat

di daerah tersebut. Wilayah lain dengan penderita terbanyak kedua

adalah Enrekang (20 orang), karena secara geografis kedua

kabupaten itu berbatasan sehingga penularannya bisa lebih cepat.

c. Berdasarkan Waktu (Tahun)

Tahun 2008 merupakan tahun dimana penderita filariasis paling

banyak ditemukan, setelah melihat kecenderungannya selama tiga

tahun terakhir (2006, 2007, dan 2008), sebagaimana ditunjukkan

tabel 3. Hal tersebut bisa terjadi kemungkinan berkaitan dengan

persoalan dana. Anggaran untuk program filariasis ditahun tersebut

banyak, sehingga memungkinkan dilakukan pendataan dengan lebih

baik.
PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan tersebut dapat kami simpulkan bahwa filariasis

paling banyak diderita oleh kaum laki-laki dibanding perempuan karena

aktivitas laki-laki yang lebih banyak di luar rumah sehingga lebih mudah

terpapar, dan paling banyak diderita oleh kaum usia lanjut karena sifat

filariasis yang kronis. Penderita filariasis terbanyak di Sulawesi Selatan

ditemukan di kabupaten Luwu Timur terkait dengan wilayahnya yang

merupakan daerah transmigrasi, dan Enrekang karena posisinya yang

berbatasan dengan Luwu Timur.

Saran

Fenomena “Gunung Es” memungkinkan penyebaran filariasis

semakin tinggi. Karenanya sumber dana yang menjadi penentu

diperolehnya data yang lebih akurat sebaiknya ditingkatkan. Diperlukan

kerjasama semua pihak agar kejadian filariasis bisa diminimalkan.

Promosi kesehatan mengenai sanitasi lingkungan harus lebih digiatkan

agar perkembangan vektornya bisa dicegah.


Filariasis
merupakan
penyakit infeksi
yang bersifat
menahun yang
disebabkan
cacing filaria yang
ditularkan lewat
nyamuk.

Filariasis = Kaki Gajah

 Secara fisik penderitanya akan mengalami


pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin,
baik laki-laki maupun perempuan
 Disebabkan oleh cacing filaria ditularkan
oleh berbagai jenis nyamuk
Cacing ini
bertahan
hidup selama
4-6 tahun
dalam kelenjar
getah bening
(bagian tubuh
yang
melindungi
kita dari
penyakit)

pembengkakan kantung testis dan kaki


pada pasien filariasis
UMUR FREK KET

L P LK PK LP PP

5 − 14 2 1 1 - 1 1

15 − 24 2 - - - 2 -

25 − 34 2 1 - - 2 1

35 − 44 4 6 2 2 2 4

45 − 54 6 3 5 3 1 -

55 − 64 20 16 17 12 3 3

65 − 74 22 15 20 15 2 -

75 − 84 8 2 8 1 - 1

85 − 94 2 - 2 - - -

95 − 104 0 1 - 1 - -

JUMLAH 68 45 55 34 13 10

 Usia 65 – 74 th dan  L>P


 Usia 55 – 74 th

⇛ filariasis sifatnya ⇛ Aktivitas laki-laki


kronis, jadi paling lebih banyak di luar
banyak di usia tsb. rumah dibanding
perempuan
NO KABUPATEN JUMLAH PENDERITA
1 Enrekang 20
2 Bone 5
3 Barru 6
4 Wajo 3
5 Luwu Timur 71
6 Sidrap 9
7 Pare-pare 1
8 Jeneponto 1
9 Pinrang 2
10 Sinjai 1
Jumlah 119

Luwu Timur mrp daerah transmigrasi


⇛ Memungkinkan carier (pembawa
microfilaria) memasuki wilayah
tsb.
 Host perantara (nyamuk) banyak
terdapat di daerah tsb.
TAHUN JUMLAH KASUS

2006 8

2007 3

2008 17

Paling banyak di tahun 2008


⇛ Kemungkinan anggaran untuk program
filariasis di tahun tsb meningkat, shg lebih
banyak penderita bisa di data.

 Filariasis paling banyak diderita oleh kaum laki-


laki dibanding perempuan karena aktivitas laki-
laki yang lebih banyak di luar rumah sehingga
lebih mudah terpapar

 Paling banyak diderita oleh kaum usia lanjut


karena sifat filariasis yang kronis.

 Penderita filariasis terbanyak di Sulawesi Selatan


ditemukan di kabupaten Luwu Timur ⇛daerah
transmigrasi, dan Enrekang ⇛ berbatasan
dengan Luwu Timur.
 Sumber dana yang menjadi penentu
diperolehnya data yang lebih akurat
sebaiknya ditingkatkan

 Sanitasi lingkungan harus lebih digiatkan


agar perkembangan vektornya bisa dicegah.