Anda di halaman 1dari 16

PSIKOMETRI

Pengertian :
∞ Psikometri adalah cabang ilmu psikologi yang berkaitan dengan pengukuran
(pengukuran menghasilkan angka-angka tetapi psikometri lebih mengarah
kepada teorinya).
Tujuan Mempelajari Psikometri :
1. Mahasiswa memahami teori-teori dasar pengukuran.
Contoh : Pengukuran intelegensi berbeda dengan pengukuran tinggi badan.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan evaluasi rehadap alat ukur
psikologi.
Contoh : Kita mempertanyakan apakah alat ukur itu baik / jelek, bisa
dipercaya atau tidak.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengembangan alat ukur
psikologi.
Pengembangannya berupa proses menyusun → membuat norma → publikasi
→ revisi.
Materi :
1. Pengertian Psikometri, Pengukuran, Jenis-jenis Tes.
2. Teori Tes Klasik.
3. Teori Tes Modern.
4. Reliabilitas.
5. Validitas.
6. Analisis Faktor.
7. Pengembangan Alat Ukur.
Sumber Bacaan untuk Referensi :
1. Penulis : Syaiffudin Aswar
Judul buku : Dasar-dasar Psikometri
2. Penulis : Guilford
Judul buku : Psychometrie Method
3. Penulis : Nunnally
Judul buku : Psychometrie Theory

MATERI :
PSIKOMETRI
• Psikometri merupakan sebuah cabang psikologi yang berhubungan dengan
faktor-faktor yang dapat diukur.
(Inti Psikometri = pengukuran)
• Mengapa ψ memerlukan pengukuran sehingga mempelajari Psikometri ?
→ Psychometrie is the “centerpiece” at empirical psychological research and
practice.
→ All data result from some form of “measurement”.
→ The better …
• Pengukuran merupakan prosedur pemberian bilangan kepada suatu objek
untuk menunjukkan kuantitas atribut pada objek tersebut.
• Properti Pengukuran
1. Dalam proses pengukuran, angka diberikan menurut beberapa aturan yang
tetap (fix) dan eksplisit, tidak memberikan angka menurut kehendaknya
sendiri.
2. Angka digunakan untuk menunjukkan kuantitas atribut yang diukur.
3. Pengukuran selalu menyangkut ciri-ciri/ atribut tertentu dari suatu objek.
Jadi yang diukur bukanlah objek itu sendiri melainkan ciri / atribut dari
objek tersebut.

1. Pengukuran berbeda dengan evaluasi.


2. Evaluasi meliputi proses penilaian suatu objek/ peristiwa dengan berdasar
pada suatu standar.
3. Standar bisa berupa standar sosial (standar yang berdasarkan rata-rata dari
masyarakat tertentu), kultural ( standar yang berdasarkan rata-rata dari
kebudayaan tertentu), maupun ilmiah.
Contoh :
183 → pengukuran
RI → tinggi sekali → evaluasi rata-rata
USA → sedang → evaluasi atau standar
Angka = data
• Postulat Pengukuran
Postulat = pendapat singkat yang dianggap benar.
1. Postulat yang berhubungan dengan persamaan (equalities) atau identitas.
2. Postulat yang berhubungan dengan sifat rank order.
3. Postulat yang berhubungan dengan sifat additive (penambahan).

• Postulat Persamaan/ Identitas


1. a = b atau a ≠ b
2. Jika a = b, maka b = a
3. Jika a= b, dan b = c, maka a = c
• Postulat Rank Order
1. Jika a > b, maka b > a
2. Jika a > b, b > c, maka a > c
• Postulat Sifat Additive
1. Jika a = p dan b > a, maka a + b > p
2. a + b = b + a
3. Jika a= p dan b = q, maka a + b = b + q
Bilangan identik atau sama bisa saling menggantikan.
4. ( a + b ) + c = a + ( b + c )
Kembali ke urutan.

• Jenis data ( 1 )
≈ Nominal.
≈ Kategorisasi atau identifikasi.
≈ Misal jenis kelamin, agama, suku, nomor pemain bola (identifikasi).
→ Menggunakan postulat persamaan atau identitas.
• Jenis data ( 2 )
≈ Ordinal.
≈ Perjenjangan.
≈ Jarak antar jenjang tidak sama.
≈ Misal ranking kelas, prestasi olahraga.
→ Menggunakan postulat yang rank order.
• Jenis data ( 3 )
≈ Interval.
≈ Perjenjangan.
≈ Jarak/ interval (diasumsikan) sama.
≈ Nilai nol mutlak.
1. Nol tidak mutlak berarti objek tidak mempunyai atribut yang diukur.
2. Tidak dimungkinkan adanya perkalian/ pembagian.
≈ Misal nilai ujian, skor kecerdasan.
→ Menggunakan postulat rank order (karena perjenjangan) dan additive
(karena jarak antar jenjang dianggap sama, rasio).
• Jenis data ( 4 )
≈ Rasio.
≈ Semua sifat data lain.
≈ Nilai data mutlak.
≈ Misal tinggi badan, luas, jumlah saudara.

TES PSIKOLOGI
↔ Pengertian
Tes berarti suatu prosedur standar untuk mengukur secara kuantitatif (skor)
maupun kualitatif (evaluasi) satu / beberapa aspek atribut psikologis dengan
menggunakan sample perilaku verbal maupun non verbal.
↔ Tujuan Tes Psikologi
1. Membandingkan dua atau lebih aspek atribut psikologis pada individu
yang sama.
2. Membandingkan individu yang berbeda pada aspek atribut psikologis yang
sama.
↔ Karakteristik Tes Psikologi
1. Tes adalah suatu prosedur yang sistematik yang terdiri dari stimulus yang
didesain dengan baik dalam rangkaian tertentu berdasar kepada prinsip-
prinsip konstruksi tes. Stimulus disebut juga dengan item.
2. Tes psikologis melakukan baik pengukuran kuantitatif dengan
menggunakan skala numerik maupun proses evaluasi yang bersifat
kualitatif dengan menggunakan sistem kategori.
↔ Klasifikasi Tes Psikologi
1. Dimensi atribut psikologis
- Atribut kognitif dan atribut non kognitif (kepribadian).
- Atribut kognitif sendiri dapat dibedakan menjadi :
a. Atribut intelegensi
b. Atribut potensi intelektual
c. Atribut hasil belajar
2. Dimensi materi yang digunakan dalam menyusun tes. Dimensi proyektif
(stimulus yang dipahami berbeda) dan non proyektif (pemahaman sama,
respon berbeda).
Contoh : Ada sebuah gambar ditunjukkan kepada sejumlah objek,
kemudian didapat persepsi yang berbeda dari setiap objek terhadap gambar
tersebut.
3. Dimensi administrasi (pelaksanaan) tes kelompok dan individual.

∞ Minggu depan : TEORI TES KLASIK

TEORI TES KLASIK


• Pendahuluan :
› Mengapa disebut teori klasik ?
Karena munculnya pada tahun 1900an tepatnya pada tahun 1901 dan
sampai sekarang masih dimunculkan atau kemanfaatannya masih bisa
diambil.
• Disebut klasik karena unsur-unsur teori yang sudah dikembangkan dan
diaplikasikan sejak lama.
• Inti dari teori tes klasik adalah asumsi-asumsi yang dirumuskan secara
matematik.
• Modelnya disebut dengan True Score Model.
› Karena asumsi utamanya berkaitan dengan skor nyata/ true score.
Asumsi ( 1 )
▪ X=T+E
▪ Keterangan :
X = Observed score (skor nyata) → skor perolehan
T = True score (skor murni)
E = Random error (kesalahan)
☼ Skor yang kita dapatkan setiap kali melakukan 2 pengukuran, dan ternyata
terdiri dari 2 unsur, yaitu skor murni dan kesalahan.
Asumsi lainnya :
Asumsi ( 2 )
▪ ε(X)=T
☼ Nilai harapan observed score adalah sama dengan true score.
☼ Darimana cara menentukan observed dan true score :
1. Pengukuran berulang kali sampai tak terhingga.
2. Tiap-tiap pengukuran yang kita lakukan terpisah satu sama lain artinya
kondisi pada saat tes satu tidak akan terpengaruh.
3. True score dilakukan dengan cara seperti ini :
a. Menjumlahkan hasil pengukuran (observed score) kemudian dicari
rata-ratanya = true score.
b. Melakukan pengukuran berulang kali kemudian amati nilai-nilai
dari beberapa kali pengukuran tersebut. Lihat nilai-nilai yang stabil
= true score.
c. Melakukan pengukuran berulang kali yang terbebas yang
menghasilkan true score adalah tidak mungkin karena pengukuran
true score bersifat hipotetik.
Asumsi ( 3 )
▪ ρ TE = 0 , dimana : ρ = r = korelasi
☼ Menyatakan bahwa hubungan antara true score dan error = 0, artinya tidak
ada korelasi atau hubungan.
☼ True score yang tinggi tidak akan menentukan bahwa errornya juga tinggi
atau true score yang rendah maka errornya juga rendah.
☼ Contoh :
Subjek A, T = 102
1. 113 = 102 + 11 error
2. 104 = 102 + 2
Subjek B, T = 89
1. 111 = 89 + 22
Asumsi ( 4 )
▪ ρ E1 E2 = 0
☼ Hubungan antara error pertama pada satu tes dengan error ke-2 pada tes
berikutnya adalah 0, artinya error 1 dan 2 tidak ada hubungan.
Asumsi ( 5 )
▪ ρ E1 T2 = 0
☼ Error 1 pada tes 1 tidak berhubungan pada score murni pada tes yang lain
(tesnya berbeda).
☼ Asumsi ( 5 ) bisa gugur bila kedua tes itu ternyata mengukur 2 atribut yang
sama.
☼ Skor murni pada 1 orang dihipotesakan sama.

TES PARALLEL
↔ Parallel = maknanya dianggap sama dan bisa saling menggantikan meskipun
wujudnya berbeda.
↔ Dua tes disebut parallel bila :
1. Apabila true score pada 1 subjek itu sama pada tes yang lain.
▪ Contoh :
Annisa melakukan tes X sebanyak 5 kali dan tes Y sebanyak 5 kali
juga. Kemudian hasil pada tes X dirata-rata, begitu juga hasil pada tes
Y dirata-rata juga. Jika didapat hasil rata-rata yang sama pada tes X
dengan tes Y maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tes X dan tes Y
adalah tes yang parallel.
▪ Rumus : T = T’
2. Varians error tes X dan varians error tes Y itu sama.
▪ Catatan : Tes X dan tes Y diberikan kepada sekelompok subjek.
▪ Rumus : σ 2 E1= σ 2 E2
↔ Kesimpulan :
2
Mean dan σ X (varians skor tampaknya) setara, ada korelasi meski tidak
sempurna.
Mean Mean X

TES EKUIVALEN
↔ Ekuivalen = tes yang hasilnya dianggap setara.
Misalnya :
Dilakukan 2 tes psikometri, yaitu di Psikologi Undip dan di Unisula. Hasil tes
psikometri yang diperoleh di Undip = 90, dan di Unisula = 100 bisa dianggap
setara/ ekuivalen → maknanya dianggap sama.
↔ Kondisi yang bagaimana sehingga tes tersebut disebut tes yang ekuivalen :
Bila perbedaan antara skor murni tes 1 dengan skor murni tes 2 konstan.
Rumus : T1 = T2 + C
T1 ∞ T2

KETERBATASAN
↔ Meskipun pemanfaatannya yang tinggi, teori tes klasik juga mempunyai
keterbatasan, yaitu :
1. Sample Bound
→ Bound = tergantung/ terkait.
→ Dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Butir soal/ itemnya
Tidak menggambarkan kemampuan anda yang sesungguhnya.
b. Orang/ subjek
Menggunakan norma dari banyak orang.
2. Eksistensi True Score
↔ Dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Jawaban secara filosofis
Dari aliran platonisme yang mengatakan bahwa “kalau kita
berpikir sesuatu itu ada, maka ada”.
b. Jawaban secara statistik
Dari pengukuran yang tak berhingga didapatkan nilai-nilai yang
stabil/ stagnant.

∞ Tugas : Membaca TEORI TES MODERN

TEORI TES MODERN


• Merupakan teori yang muncul untuk mengatasi kelemahan dan keterbatasan
teori tes klasik.
• Sample-Fee
→ tidak bergantung pada kondisi sampel, misalnya alat ukur timbangan berat
badan.
• Tujuan :
Untuk membuat alat ukur yang mampu diterima dimana pun.
• Teori tes modern mempunyai istilah lain, yaitu :
1. Item Response Theory (IRT)
Menyatakan bahwa :
Keadaan diri/ keadaan psikologis manusia tercermin dari responnya
kepada seperangkat item atau soal.
Misal : Dari mana saya bisa tahu anda paham Psikometri atau tidak ?
Dengan cara memberi soal-soal Psikometri (item), dan jawaban anda
merupakan responnya.
2. Latent Trait Theory (LTT)
Menyatakan bahwa :
Performance (kemampuan/ prestasi/ tingkah laku yang dimiliki oleh
manusia) dipengaruhi oleh hal yang ada di dalam diri manusia yang
sifatnya latex.
3. Item Characteristic Function (ICF)
Teori tes modern bisa digambarkan dengan fungsi karakteristik item.
• Dasar Pemikiran
♣ Hasil tes seseorang dapat diprediksi berdasarkan kemampuan (ability-trait
yang sifatnya latex) yang dimilikinya.
♣ Hubungan antara hasil tes dan kemampuan dinyatakan dalam sebuah
fungsi yang disebut Item Characteristic Curve (ICC).

Probabilitas untuk menjawab dengan benar pada tes kognitif

1,0

0,5

Triat, kemampuan yang


sifatnya latex

↔ Kemungkinan menjawab benar tidak dipengaruhi oleh sampelnya


tetapi kondisi subjek saat itu.
• Unsur Teori
1. Unsur butir.
→ Item tersebut.
2. Unsur peserta tes.
→ Responnya.
3. Unsur isi respons peserta terhadap butir.
• Asumsi-asumsi
1. Unidimensi
▪ Uni = satu ; dimensi = kemampuan.
▪ Unidimensi = satu item akan mengungkap satu kemampuan.
▪ Unidimensi kurang berlaku dalam kenyataan karena :
a. Beberapa item akan mengukur/ mengungkap kemampuan/ atribut
yang mirip/ hampir sama/ sama.
b. Beberapa/ banyak item saling melengkapi.
▪ Unidimensi dapat dilihat dari item yang dominan.
2. Independensi Lokal
▪ Asumsi Independensi Lokal mengukur kemampuan bahwa respon
terhadap suatu item tidak akan mempengaruhi/ sebaliknya akan
dipengaruhi oleh respon kepada item yang lain.
3. Invariansi Parameter
▪ Parameter = ciri-ciri item/ karakteristik item.
▪ Dalam teori tes klasik, setiap parameter item sifatnya invarian, artinya
parameter item akan mempunyai sifat selalu tepat meskipun diberikan
kepada subjek yang berbeda.
▪ Dalam teori tes modern, parameter akan sama ketika diberikan kepada
semua psikolog di Indonesia.
▪ Parameter Butir
a. Daya Pembeda Butir (soal/item)
Kemampuan item untuk membedakan subjek yang mempunyai
kemampuan tinggi dan kemampuan rendah.
b. Tingkat Kesukaran Soal
Perbandingan antara jumlah subjek yang menjawab benar pada
suatu soal dengan keseluruhan subjek.
Misalnya :
Ada 100 subjek, yang menjawab benar pada satu soal adalah 80
anak maka taraf kesukaran soal (menurut Pak Pras lebih enak
menyebutnya taraf kemudahan soal) :
P = B / T = 80 / 100 = 0,8
c. Faktor Kebetulan Menjawab Benar/ Faktor Tebakan
Kondisi item dijawab benar bukan oleh kemampuan tetapi oleh
faktor tebakan.
• Teori tes modern dibedakan dalam beberapa model.
Untuk menentukan model, kita bisa melihat kepada berapa banyak parameter
item yang dilibatkan dalam model tersebut.
1. Model logistik 1 parameter
Melibatkan 1 parameter yaitu taraf kesukaran soal.
2. Model logistik 2 parameter
Melibatkan 2 parameter, yaitu :
a. Taraf kesukaran soal.
b. Indeks daya beda.
3. Model logistik 3 parameter
Melibatkan 3 parameter, yaitu :
a. Taraf kesukaran soal.
b. Indeks daya beda.
c. Faktor kebetulan.
∞ Minggu depan : Mempelajari PERBANDINGAN ANTARA TEORI TES
KLASIK DENGAN TEORI TES MODERN

TEORI TES KLASIK DAN TEORI TES MODERN


♦ Peraturan Lama (dijabarkan dari Teori Tes Klasik → banyak soal untuk
mengukur satu kemampuan) :
1. Kesalahan pengukuran standard berlaku untuk semua skor dalam populasi
tertentu.
▪ Error diukur dari banyaknya skor.
2. Tes yang berlangsung lama lebih baik daripada tes yang sebentar.
▪ Semakin banyak soal semakin baik.
3. Pembandingan skor tes dalam bentuk multiple akan lebih optimal bila
bentuknya parallel atau berupa persamaan.
4. Penilaian sifat-sifat item yang tidak bias tergantung kepada sample yang
representatif.
▪ Contoh :
Item no.9, rit = 0,4 (baca : indeks daya beda adalah 0,4)

contoh sifat item
› Tidak bias tergantung sample yang representatif yang bersifat
homogen (karakteristik banyak tapi khusus) dan sebaliknya,
menjadi bias apabila sample representatifnya heterogen.
5. Skor tes akan berguna bila membandingkannya dalam 1 kelompok
standard.
▪ Standard atau norma ditentukan oleh 1 kelompok representatif.
6. Sifat skala interval bisa diperoleh dengan adanya distribusi normal.
▪ Distribusi normal : distribusi nilai-nilai yang mengikuti kurva normal.
▪ Kurva normal : kurva yang bentuknya seperti genta atau lonceng yang
mengikuti hukum Gauss.
▪ Gambar :

▪ Sifat skala bisa ditunjukkan ketika distribusi normal bisa dihitung.


▪ Syarat : Data terdistribusi secara normal.
7. Format-format item campuran bisa menyebabkan ketidakseimbangan
dalam total skor tes.
▪ Format item campuran berupa pilihan ganda dengan assosiasi tidak
boleh sama jumlah itemnya, seharusnya lebih banyak pilihan gandanya
karena tidak seimbang, makanya format item campuran dihindari.
8. Perubahan skor tidak akan bisa diperbandingkan apabila tingkat skor
awalnya berbeda.
9. Analisa faktor pada item biner akan menghasilkan artifak dan bukan
faktor.
10. Fitur-fitur stimulus tidak perlu diperbandingkan dengan sifat-sifat
psikometrik.
♦ Peraturan Baru (dijabarkan dari Teori Tes Modern → satu soal mengukur satu
kemampuan) :
1. Kesalahan pengukuran standard berbeda untuk semua skor namun sama
dalam populasinya.
▪ Error berlaku hanya untuk mengukur satu skor.
2. Tes yang berlangsung sebentar bisa lebih baik daripada tes yang
berlangsung lama.
3. Pembandingan skor tes dalam bentuk multiple akan lebih optimal bila
tingkat kesulitan tesnya berbeda antar setiap orang.
4. Penilaian sifat-sifat item yang tidak bias bisa berasal dari sample yang
tidak representatif.
▪ Alat ukur bersifat sample-fee.
5. Skor tes akan berguna bila membandingkannya dengan item-itemnya.
▪ Karena item itu mengungkapkan kemampuan dari subjek.
6. Sifat skala interval bisa diperoleh dengan menggunakan pengukuran yang
bisa disesuaikan.
▪ Skala interval : SS S N TS STS
tidak terasa sakit sekali

▪ Skala non interval (skala kategori) : Ya Tidak


7. Format-format item campuran dapat menghasilkan skor yang optimal.
8. Perubahan skor bisa diperbandingkan apabila tingkat skor awalnya
berbeda.
▪ Karena yang dicapainya sama.
9. Analisa faktor pada item biner akan menghasilkan faktor yang lengkap.
10. Fitur-fitur stimulus item dapat dihubungkan secara langsung dengan sifat-
sifat psikometrik.
∞ Minggu depan : VALIDITAS