Anda di halaman 1dari 3

Fungsi Humus

1. Humus adalah sumber energi bagi sebagian besar organisme tanah sehingga
meningkatkan populasi dan aktivitas organisme tanah dengan cara meningkatkan
organisme saprofit dan menekan organisme paasit bagi tanaman.

2. Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya sehingga aerasi (karena ruang pori
tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat), permeabilitas, dan infiltrasi
menjadi lebih baik. Akibatnya, daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.

3. Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat
polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan
partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah dan
tanaman di atasnya. Kadar air optimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah 0,5 bar/
atmosfer.

4. Meningkatkan penyerapan energi radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu


tanah. Hal ini karena humus memiliki tekstur gelap.

5. Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). sehingga, menambah
kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.
6. Meningkatkan struktur tanah, yaitu melalui peningkatan persentase bahan organik.
7. meningkatkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik.
8. Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.

Proses Pembentukan Humus

komponen residu bahan-bahan yang berasal dari makhluk hidup (tumbuhan, hewan, dan
manusia)aktifitas organisme untuk mendekomposisi (mineralisasi) bahan-bahan tersebut
sebagai substrat (energi diperoleh dari oksidasi senyawa organik)

proses perombakan bahan organik dapat terjadi dalam 2 kondisi:

1. kondisi aerob. persamaan reaksinya sebagai berikut:


gula (CH2O)X (selulosa, hemiselulosa) + O2  xCO2 + H2O + E

N-organik (protein)  NH4+  NH2-  NO3- + E

S (sulfur organik) + xO2  SO4-2 + E

fosfor organik (fitin, lesitin)  H3BO3  Ca(HPO4)

reaksi utuhnya:
aktifitas organisme

bahan organik CO2 + H2O + hara + humus+ E (484-674


kcal/mol glukosa)

2. kondisi anaerob
bakteri penghasil asam methanomonas

(CH2O)X xCH3COOH CH4 + CO2

N-organik  NH3

2H2S + CO2  (CH2O)X + S + H2O + E (26 kcal/mol glukosa)

faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan humus antara lain sebgai berikut:

a) sifat dari bahan tanaman, termasuk jenis tanaman, umur tanaman dan komposisi
kimia

b) tanah, termasuk aerasi, temperatur, kelembaban, keasaman dan tingkat kesuburan

c) faktor iklim terutama pengaruh dari kelembaban dan temperatur

d) topografi dan sifat penyadiaan hara

Dekomposisi bahan organik terjadi melalui 3 reaksi, yaitu :


1. Reaksi enzimatis atau oksidasi enzimatis, yaitu reaksi oksidasi senyawa hidrokarbon
yang terjadi melalui reaksi enzimatis menghasilkan produk akhir berupa karbondioksida
(CO2), air (H2O), energi dan panas.
2. Reaksi spesifik berupa mineralisasi dan atau immobilisasi unsur hara essensial berupa
hara nitrogen (N), Phospor (P), dan belerang (S).
3. Pembentukan senyawa-senyawa baru atau turunan yang sangat resisiten berupa humus
tanah.

Bagaimana cara identifikasi keberadaan zat organik dalam tanah dan dapatkan zat
tersebut dipindahkan ke bagian tanah yang lain?

mengidentifikasi adanya senyawa organik dapat dilakukan dengan cara pengamatan fisik
terhadap tanah tersebut. Hal ini karena tanah dengan kandungan bahan organik banyak memiliki
ciri fisik yang berbeda jika dibandingkan dengan tanah yang tidak banyak memiliki banyak
kandungan bahan organik. Umumnya, tanah dengan intensitas bahan organik yang besar akan
tampak berwarna gelap, hitam, atau mungkin juga abu-abu. Senyawa organik yang terletak pada
suatu tempat tidak dapat dipindahkan ke tempat lain karena senyawa organik dalam tanah adalah
senyawa yang memiliki struktur yang sangat rumit sehingga tidak dapat diisolasi untuk
dipindahkan ke tempat lain. Perbaikan terhadap struktur tanah lain hanya dapat dilakukan dengan
cara menambahkan pupuk organik atau pengomposan yang dilakukan di tempat tersebut.