Anda di halaman 1dari 47

Modul

BEA METERAI
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF
DASAR PAJAK I
JAKARTA, 25 FEBRUARI – 9 MEI
2008

PUSDIKLAT
PERPAJAKAN
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Jl. Sakti Raya No. 1, Kemanggisan, Jakarta 11480
Telepon (021) 5481145 Fax (021) 5481394
www.bppk.depkeu.go.id/pajak
BAB I
PENDAHULUAN

1. Sejarah Singkat

a. Tahun 1817 – 1921


Pengenaan Bea Meterai di Indonesia sudah mulai dikenal sejak
tahun 1817 yaitu pada masa penjajahan Belanda, yang disebut De Heffing
Van Het Recht Kleinnegel.Dalam peraturan tersebutpengenaan Bea
Meterai didasarkan pada perbuatan atau persetujuan yang tercantum
dalam surat (akta). Tahun 1885 aturan pengenaan Bea Meterai tersebut di
atas diganti dengan Ordonantie op de heffing van het legel recht in
Nederhlands Indie.Pengertian Bea Meterai ada dua cara yaitu yang
seragam dan ada pula yang sebanding yaitu untuk akta yang dibuat melalui
pejabat umum, peraturan ini berlaku sampai tahun 1921.

b. Tahun 1921 – 1985


Mulai tahun 1921 berlaku Aturan Bea Meterai 1921 (Zegel
Verordening 1921) yang dimuat dalam Staatslelad 1921 Nomor 498, yang
mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Undang Undang-
undang Nomor 2 Per Tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor
121), dan kemudian ditetapkan menjadi Undang-undang yaitu Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 38).
Undang-undang ini sifatnya perubahan atau penyempurnaan dari Aturan
Bea Meterai 1921, dengan demikian secara substantial sistematik dan
isinya masih sama dan dijiwai oleh Aturan Bea Meterai 1921.

c. Tahun 1986
Sejak Pemerintahan Orde Baru tahun 1966, banyak kebijakan baru
(pembaharuan) di bidang perpajakan untuk menunjang perkembangan

C:\Herr\Bea Meterai 1
ekonomi pada umumnya, dan penerimaan negara pada khususunya. Salah
satu yang paling menonjol yaitu dilakukannya reformasi di bidang
perpajakan ( tax reform ), antara lain :
a. Undang Undang Nomor 6 / 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan;
b. Undang Undang Nomor 7 / 1983 tentang Pajak Penghasilan;
c. Undang Undang Nomor 8 / 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Selang dua tahun kemudian di lakukan reformasi atas dua
Undang-undang, dan menghasilkan dua Undang-undang baru yaitu :
a. Undang Undang Nomor 13 / 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan,
dan
b. Undang Undang Nomor 13/ 1985 tentang Bea Meterai.
Kedua Undang-undang itu mulai berlaku 1 Januari 1986.
Khusus yang berkaitan dengan Undang Undang Nomor 13 / 1985 tentang
Bea Meterai, mengapa Undang-undang ini perlu dibentuk, jawabnya dapat
disimak pada konsideran undang-undang itu, yaitu :
a. “Bahwa Pembangunan Nasional menurut keikutsertaan segenap
warganya untuk berperan menghimpun dana pembiayaan memadai,
terutama harus bersumber dari kemampuan dalam negeri, hal mana
merupakan perwujudan kewajiban kenegaraan dalam rangka mencapai
tujuan Pembangunan Nasional ;
b. Bahwa Bea Meterai yang selama ini dipungut berdasarkan Aturan Bea
Meterai 1921 (Zegelverordening 1921) tidak sesuai lagi dengan
keperluan dan perkembangan keadaan di Indonesia ;
c. Bahwa sesungguhnya dengan hal tersebut diatas, perlu diadakan
pengaturan kembali tentang Bea Meterai yang lebih bersifat sederhana
dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat ;
d. Bahwa untuk mencapai maksud tersebut diatas, perlu dikeluarkan
undang-undang baru mengenai Bea Meterai yang menggantikan Aturan
Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921).”

C:\Herr\Bea Meterai 2
Sejauh mana Aturan Bea Meterai 1921 itu “ tidak sesuai” dan “
tidak mudah “ sebagaimana dapat kita sempurnakan atas koseideran
undang-undang itu, sehingga perlu dikeluarkan undang-undang baru, dapat
disimak perbandingan kedua undang-undang yang “lama” dan yang “ baru”.

Perbandingan Antara Aturan Bea Meterai 1921


dengan
UU No. 13/1985 tentang Bea Meterai

NO. URAIAN A B M 1921 UU No. 13 Tahun 1985

1. Jumlah Bab ¾ 15 bab ¾ 7 bab


2. Jumlah pasal ¾ 142 pasal termasuk ¾ 18 pasal
pasal sisipan
3. Obyek ¾ Bea Meterai dikenal ¾ Hanya atas dokumen
atas dokumen yang yang bersifat perdata
bersifat publik dan saja (itupun terbatas)
bersifat pribadi
4. Jenis Bea ¾ BM Tetap ¾ Hanya BM Tetap
Meterai ¾ BM Umum saja
¾ BM Menurut Luas
Kertas
¾ BM Sebanding
5. Macam Tarif ¾ 167 macam ¾ Hanya 2 macam saja
yaitu :
¾ Rp. 1.000,- dan
¾ Rp. 2.000,-
6. Cara Pelunasan ¾ Benda meterai ¾ Benda Meterai
BM ¾ Meterai khusus/luar ¾ Cara lain yang
biasa ditetapkan Menteri
¾ Surat Kuasa Untuk Keuangan
Menyetor (SKUM)
¾ Mesin Teraan Meterai
¾ Percetakan cap lunas
7. Daluarsa ¾ Ditentukan 3 tahun ¾ Ditentukan 5 tahun
sejak diketahui Sejak tanggal
dokumen dibuat.

C:\Herr\Bea Meterai 3
2. S i s t e m a t i k
Untuk mempermudah mempelajari Peraturan Perundang-undangan
Bea Meterai, sistematik penulisan materi bahan ajaran, disusun sesuai dengan
urutan pasal-pasal yang ada dalam UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea
Meterai. Disamping itu pasal yang berkaitan dengan materi yang sedang
dibahas disertakan dalam pembahasan, dengan demikian sumber materi yang
dibahas atentik dan pembaca tidak perlu lagi membuka UU No. 13 Tahun 1985
tentang Bea Meterai.
Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman sudah dicapai setelah
mempelajari materi ajaran, di belakang bab terakhir ditambah pertanyaan dan
jawabannya.
Buku ini dilengkapi juga foto copy slide sebagai ringkasan semua
materi yang ada dalam uraian.

C:\Herr\Bea Meterai 4
BAB II
KETENTUAN UMUM

Beberapa Pengertian
Pasal 1 UU N0. 13/ 1985 tentang Bea Meterai menjelaskan pengertian
beberapa istilah/terminologi yang dipakai dalam undang-undang tersebut sebagai
berikut :

1. Bea Meterai
Dengan nama Bea Meterai dikenakan pajak atas dokumen
sebagaimana disebut dalam UU N0 13 / 1985 tentang Bea Meterai.
Batasan atau pengertian pajak ada berbagai macam, salah satu diantaranya
dikemukakan oleh Prof. Dr. P.J.A. Adriani :
“ Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang
terhutang oleh wajib Pajak membayarnya menurut peraturan-peraturan,
dengan tidak mendapat prestasi-kembali, yang langsung dapat ditunjuk,
dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran
umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan
pemerintahan” ( R. Santoso Brotodihardjo, SH., Ilmu Hukum Pajak, 1995 :
2)

2. D o k u m e n
Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti
dan maksud tentang pembuatan, keadaan atau kenyataan bagi seseorang
dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan.

C:\Herr\Bea Meterai 5
Pengertian “ kertas “ harus diartikan secara luas, yaitu media untuk menulis
lainnya seperti bahan dari karton, plastik, kulit, kain dan lai-lainnya.

Adapun “ tulisan “ tidak hanya tulisan latin saja tetapi juga tulisan
beberapa huruf-huruf lainnya seperti Jawa, Arab, Cina, Kanji dan lain-lain.
Adapun mengenai bahasa yang ditulis itu tidak terbatas hanya bahasa
Indonesia melainkan, termasuk bahasa asing lainnya.

3. Benda Meterai
Benda meterai adalah meterai tempel dan kertas meterai yang
dikeluarkanoleh Pemerintah Republik Indonesia.
Adapun tentang tata cara dan persyaratan pengelolaan, penjualan, penukaran,
pengembalian dan pemusnahan benda meterai diatur dengan Keputusan
Menteri Keuangan Republik Indonesia N0. 1009/KMK.01/1986, tanggal 1
Desember 1986.

4. Tandatangan
Tandatangan adalah tandatangan sebagaimana lazimnya
dipergunakan, termasuk pula tatap, teraan atau cap nama atau tanda lainnya
sebagai pengganti tandatangan.

5. Pemeteraian Kemudian
Pemeteraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea Meterai yang
di lakukan oleh Pejabat Pos atau permintaan pemegang dokumen yang Bea
Meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya.

6. Pejabat Pos
Pejabat Pos adalah Pejabat Perusahaan Umum Pos dan Giro ( PT Pos
dan Giro ) yang diserahi tugas melayani permintaan pemeteraian kemudian.

C:\Herr\Bea Meterai 6
BAB III
OBJEK, TARIF, DAN YANG TERUTANG
BEA METERAI

1. Yang Dikenakan Bea Meterai


Pasal 1 (1) UU N0. 13 / 1985 tentang Bea Materai, menetapkan bahwa
yang dikenakan Bea Meterai adalah dokumen-dokumen yang disebut kan
dalam Undang Undang tersebut diatas.
Adapun jenis dokumen yang dikenakan Bea Meterai adalah sebagai mana
tercantum dalam Pasal 2 Undang Undang N0 13 / 1985 tentang Bea Meterai.
a. “ Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan
untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai pembuatan,
kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata;
b. Akta-akta notaris termasuk salinannya;
c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk
rangkap-rangkapnya;
d. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta
rupiah):
1) Yang menyebutkan penerimaan uang;
2) Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang
dalam rekening di bank;
3) Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
4) Yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau
sebagaimana telah dilunasi atau diperhitungkan;

C:\Herr\Bea Meterai 7
e. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep dan cek yang berharga
nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah);

f. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga


nominalnya lebih dari Rp. 1. 000.000,00 (satu juta rupiah).”

Penjelasan
a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya
1) Tidak semua dokumen dikenakan Bea Meterai.
2) Yang dikenakan Bea Meterai adalah dokumen sebagaimana tersebut
pada pasal 2 (1) huruf a s/d f tersebut dimuka.
3) Surat perjanjian dan surat lainnya adalah persetujuan yang dinyatakan
secara tertulis (dokumen) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih,
masing-masing berjanji akan mentaati apa yang tersebut dalam
persetujuan itu dan dibuat tujuan untuk digunakan sebagai alat
pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan, yang
bersifat perdata.
4) Pihak-pihak yang memegang surat perjanjian atau surat-surat lainnya
tersebut, dibebani kewajiban untuk membayar Bea Meterai atas surat
perjanjian atau surat-surat yang dipegangnya. Yang dimaksud surat-
surat lainnya pada huruf a ini antara lain surat kuasa, surat hibah, surat
pernyataan.

b. Akta Notaris
Sesuai pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris (Reglement op het Notaris –
ambt, Stll. 1860 N0 3) menyatakan bahwa Notaris adalah pejabat umum
yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai
semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu
peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk
dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya,

C:\Herr\Bea Meterai 8
menyimpan aktanya, dan memberikan grose, salinan dan kutipannya;
semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum

tidak juga ditugaskan atau di kecualikan kepada pejabat atau orang lain.
Adapun akta otentik adalah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan
oleh Undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang
untuk itu, di tempat di mana akta itu dibuat (Pasal 1868 kitab Undang-
undang Hukum Perdata).
c. Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
Perjanjian untuk memindahkan hak atas tanah, memberikan sesuatu hak
baru atas tanah, menggadaikan tanah atau meminjamkan uang dengan hak
atas tanah sebagai tanggungan harus dibuktikan dengan suatu akta yang
dibuat oleh dan dihadapan pejabat yang ditunjuk dan diangkat oleh Menteri
Dalam Negeri. PPAT diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Dalam
Negeri, dan untuk desa-desa di wilayah yang terpencil Menteri Dalam
Negeri dapat menunjuk PPAT sementara.
d. Surat Yang Memuat Jumlah Uang
Pasal 2 ayat (1) huruf d Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang
Bea Meterai menetapkan mengenakan Bea Meterai terhadap
surat/dokumen :
1) Yang menyebutkan penerimaan uang;
2) Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam
rekening di bank;
3) Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank;
4) Yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau
sebagaimana telah dilunasi atau diperhitungkan.
1) Dokumen yang menyebutkan penerimaan uang.
Dokumen ini biasa disebut “ KUITANSI “, yang mengandung arti/atau
pernyataan telah menerima sejumlah uang (surat bukti penerimaan
uang)

C:\Herr\Bea Meterai 9
Dalam perdagangan bukti penerimaan uang atau bukti seseorang
telah membeyar lunas atas barang yang dibelinya dinyatakan dalam
bentuk nota penjualan yang dibubuhi tanda “ LUNAS “ atau “ TUNAI
“. Nota sejenis ini jika digunakan secara internal misalnya untuk “
menebus “ barang yang telah dibeli meskipun nilainya melebihi Rp
100.000,- baca Rp 250.000,- sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat
(4) Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
tidak dikenakan Bea Meterai, tetapi jika nota tersebut digunakan oleh
si pembeli sebagai bukti bahwa ia telah menyerahkan uang
pembayaran atas barang yang dibelinya maka nota itu dikenakan
Bea Meterai.
2) Dokumen yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan
uang dalam rekening di bank. Contohnya seperti nota kredit yang
dikirim oleh bank kepada masalah ( pemegang rekening ) yang
menyebutkan bahwa dalam rekening atas namanya di bank tersebut
telah dibukukan dalam kredit sejumlah uang. Lembar surat setoran
ke bank yang dikembalikan kepada nasabah setelah dibubuhi tanda
terima oleh bank adalah sebagai tanda bukti penyetoran dan karena
itu dikenakan Bea Meterai, jika jumlah uang yang disetor itu
memenuhi syarat untuk dikenakan Bea Meterai.
3) Dokumen yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank.
Contohnya yaitu “ saldo bilyet “ atau “ surat saldo “ yang diberikan
bank kepada nasabahnya. Dokumen sejenis ini dikenakan Bea
Meterai, sepanjang jumlah uangnya memenuhi syarat untuk
dikenakan Bea Meterai.

C:\Herr\Bea Meterai 10
4) Dokumen yang berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya
atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan.
Contohnya yaitu seorang kreditur yang menerima pembayaran dari
debitur atas hutangnya baik seluruh maupun sebagian, kadang-
kadang kreditur tidak membuat surat yang menyebutkan penerimaan
uang, melainkan menyebutkan dengan kata-kata lain bahwa hutang
uang seluruhnya atau sebagian telah lunas atau diperhitungkan.
Meskipun dokumen ini bukan kwitansi, tetapi pada hakekatnya
dokumen ini berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau
sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan, atas dokumen
sejenis ini dikenakan Bea Meterai.

e. Surat Berharga
Dikenakan Bea Meterai atas dokumen yang berbentuk surat berharga
seperti :
¾ Wesel, adalah surat perintah atau surat kuasa kepada seseorang untuk
membayarkan sejumlah uang kepada orang lain yang berhak atas
pembayaran itu.
¾ Promes, adalah janji atau kesanggupan untuk membayar, jika promes
dibuat sendiri oleh yang berhutang.
¾ Aksep, adalah surat yang menyatakan setuju atau sepakat untuk
membayar.
¾ Cek, adalah suatu alat pembayaran, yang harus dibayar pada waktu
ditunjukkan atau diperlihatkan, jadi fungsinya dipersamakan dengan
uang tunai.
f. Efek dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dimaksud dengan efek
adalah surat saham dan surat okligasi.
¾ Saham, adalah tanda ikut serta dalam modal perseroan. Pemegang
saham berhak memperoleh bagian keuntungan yang disebut deviden.

C:\Herr\Bea Meterai 11
¾ Okligasi, surat hutang untuk jangka waktu tertentu, yang dikeluarkan
untuk mendapatkan dana. Pemegang okligasi mempunyai hak untuk
memperoleh bunga yang tetap.
2. Pengenaan Bea Meterai Atas Dokumen Tersebut Pada Pasal 2 ayat (1) UU N0
13 Tahun 1983 Tentang Bea Meterai.
Pasal 2 ayat Undang Undang Nomor 13 Tahun 1983 tentang Bea
Meterai menetapkan bahwa dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f dikenakan Bea
Meterai dengan tarif sebesar Rp 1.000,- (seribu rupiah).
Dalam menjelaskan Pasal 2 ayat (1) huruf d, huruf e, huruf f, dikemukakan
sebagai berikut :
“ Jumlah uang ataupun harga nominal yang disebut dalam huruf d, huruf e,
huruf f ini juga dimaksudkan jumlah uang ataupun harga nominal yang
dinyatakan dalam mata uang asing. Untuk menentukan nilai rupiahnya
maka jumlah uang atau harga nominal tersebut dikalikan dengan nilai
tukar yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat
dokumen itu dibuat, sehingga dapat diketahui apakah dokumen tersebut
dikenakan atau tidak dikenakan Bea Meterai. “
Selanjutnya Pasal 2 ayat (4) Undang Undang Nomor 13 Tahun 1983
tentang Bea Meterai menetapkan sebagai berikut :
“ Terhadap dokumen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d,
huruf e, huruf f, yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp.100.000,-
(seratus ribu rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- (satu juta
rupiah) dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp. 500,- (lima ratus
rupiah), dan apabila harga nominal tidak lebih dari Rp. 100.000,-
(seratus ribu rupiah) tidak terhutang Bea Meterai “

C:\Herr\Bea Meterai 12
3. Pengenaan Bea Meterai Atas Dokumen Yang Akan Digunakan Sebagai Alat
Pembuktian Di Muka Pengadilan.
Pasal 2 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun 1983 Tentang Bea
Meterai menetapkan sebagai berikut :
“ Dikenakan pula Bea Meterai sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah) atas
dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka
Pengadilan :
a. Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan
b. Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan
tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh
orang lain, lain dari maksud semula.”
Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (3) Undang Undang Nomor 13 Tahun
1983 Tentang Bea Meterai di kemukakan sebagai berikut :
Huruf a
“ Surat-surat biasa yang dimaksud dalam huruf a ayat ini dibuat tidak
untuk tujuan sesuatu pembuktian misalnya seseorang mengirim surat
biasa kepada orang lain untuk menjual sebuah barang. Surat semacam
ini pada saat dibuat tidak kena Bea Meterai, tetapi apabila kemudian
dipakai sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan, maka terlebih
dahulu dilakukan pemeteraian kemudian. Surat-surat kerumahtanggaan
misalnya daftar harga barang. Daftar ini dibuat tidak dimaksudkan untuk
digunakan sebagai alat pembuktian, oleh karena itu tidak dikenakan
Bea Meterai. Apabila kemudian ada sengketa dan daftar harga barang
ini digunakan sebagai alat pembuktian, maka daftar harga barang ini
terlebih dahulu dilakukan pemeteraian kemudian.

C:\Herr\Bea Meterai 13
Huruf b
Surat-surat yang dimaksud dalam huruf b ayat ini ialah surat-surat yang
karena tujuannya tidak dikenakan Bea Meterai, tetapi apabila tujuannya
kemudian diubah maka surat yang demikian itu dikenakan Bea Meterai.
Misalnya tanda penerimaan uang yang dibuat dengan tujuan untuk
keperluan intern organisasi tidak dikenakan Bea Meterai. Apabila
kemudian tanda penerimaan uang tersebut digunakan sebagai alat
pembuktian dimuka Pengadilan, maka tanda penerimaan uang tersebut
harus dilakukan pemeteraian kemudian terlebih dahulu.“

4. Surat-surat Biasa, Surat Kerumahtanggaan Dan Surat-surat Yang Tidak


Dikenakan Bea Meterai Berdasarkan Tujuannya.
a. Surat Biasa
Atas surat biasa tidak dikenakan Bea Meterai, tetapi bila kemudian hari
terjadi sengketa dan surat tersebut digunakan sebagai alat pembuktian di
muka Pengadilan, maka atas surat biasa itu harus terlebih dahulu dibubuhi
meterai, dengan cara pemeteraian kemudian di Kantor Pos sebelum
diajukan kepada hakim.
Surat biasa dapat diketahui dari bentuk suratnya, contoh :
Si A berhutang kepada Si B sebesar Rp 10.000.000,- dan berkirim surat
kepada Si B bahwa dia akan melunasi hutangnya setelah dia menjual
mobil miliknya.
Atas surat yang bentuknya seperti tersebut di atas dikenakan Bea Meterai.
Dikemudian hari diketahui oleh Si B bahwa Si A telah menjual mobilnya dan
ternyata Si A tidak mau membayar hutangnya tersebut. Jika Si B kemudian
memperkarakan hal itu ke Pengadilan dan menggunakan surat itu sebagai
alat pembuktian, maka atas surat tersebut dikenakan Bea Meterai dengan
cara pemeteraian kemudian.

b. Surat Kerumahtanggaan

C:\Herr\Bea Meterai 14
Surat kerumahtanggaan adalah tulisan yang karena di dalamnya terdapat
hal-hal yang mempunyai arti penting bagi yang bersangkutan disimpan
dalam rumah tangga, misalnya
¾ Notula rapat dari suatu organisasi sosial.
¾ Surat hibah wasiat dari seorang ayah kepada anak-anaknya yang tidak
dibuat didepan Notaris.
¾ Daftar harga barang pada suatu toko dll.
Atas surat-surat tersebut di atas tidak dikenakan Bea Meterai.
c. Surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya.
1) Surat-surat yang karena tujuannya, tidak di kenakan Bea Meterai,
misalnya tanda penerimaan uang yang dibuat dengan tujuan untuk
keperluan intern organisasi, maka tidak dikenakan Bea Meterai (Pasal 2
ayat (3) huruf b).
2) Surat-surat berdasarkan sifat dokumen itu Undang-undang telah
menetapkan tidak dikenakan Bea Meterai, misalnya kwitansi yang
nilainya Rp. 50.000,- menurut Pasal 2 ayat (4) tidak dikenakan Bea
Meterai.
Atas kwitansi ini meskipun digunakan sebagai pembuktian di muka
Pengadilan tetap tidak dikenakan Bea Meterai (bersifat mutlak).

BAB IV

C:\Herr\Bea Meterai 15
TARIF BEA METERAI

Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) dan ayat (4) UU N0 13 / 1985 tentang Bea
Meterai tarif yang berlaku ada dua, yaitu Rp.1.000,- dan Rp. 500,- (lima ratus
rupiah).
Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1995,
Tentang Perubahan Tarif Bea Meterai, dan ditindaklanjuti dengan Keputusan
Menteri Keuangan Nomor : 182/KMK.04/1995, tanggal 1 Mei 1995, Tentang
Pelaksanan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1995, Tentang Perubahan
Tarif Bea Meterai maka secara efektif mulai tanggal 16 Mei 1995 berlaku tarif Bea
Meterai yang baru, yaitu Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah) dan Rp. 1.000,- (seribu
rupiah).
Secara ringkas penerapan tarif Bea Meterai tersebut adalah sebagai
berikut :

1. Objek Dan Tarif Bea Meterai


OBJEK BEA METERAI
(BENTUK DOKUMEN)
A. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (a.L. Rp. 2.000,00
Surat kuasa, surat hibah, surat pernyataan) (dua ribu rupiah)
yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan
sebagai alat pembuktian mengenai
perbuatan, kenyataan/keadaan yang bersifat
perdata.
B. Akta notaris termasuk salinannya. Rp. 2.000,00
(dua ribu rupiah)
C. Akta yang dibuat PPAT termasuk rangkap- Rp. 2.000,00
rangkap (dua ribu rupiah)
D.1. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 2.000,00

C:\Herr\Bea Meterai 16
Rp. 1.000.000,00/ (harga nominal yang (dua ribu rupiah)
dinyatakan dalam mata uang asing)
1) Yang menyebutkan pene-rimaan uang.
2) Yang menyatakan pembukuan uang
atau penyimpanan uang dalam rekening
di bank.
3) Yang berisi pemberitahuan saldo
rekening di bank.
4) Yang berisi pengakuan bahwa utang
uang seluruhnya / sebagian telah
dilunasi / diperhitungkan.
OBJEK ( BENTUK DOKUMEN) BEA METERAI
D.2. Apabila harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000,00
Rp. 250.000,00 tetapi tidak lebih dari (seribu rupiah)
Rp. 1.000.000,00
D.3. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Tidak terutang
Rp. 250.000,00
E.1. Surat berharga seperti wesel, promes & Rp. 2.000,00
aksep yang harga nominalnya lebih dari Rp (dua ribu rupiah)
1.000.000,00 Rp. 1.000,00
E.2. Apabila harga nominalnya lebih dari Rp (seribu rupiah)
250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp tidak terutang
1.000.000,00
E.3. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp
250.000,00
F.1. Efek dengan nama & dalam bentuk apapun, Rp. 2.000,00
sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp (dua ribu rupiah)
1.000.000,00 Rp. 1.000,00

F.2. Apabila harga nominalnya lebih dari Rp (seribu rupiah)

C:\Herr\Bea Meterai 17
250.000,00 tetapi tidak lebih dari Rp tidak terutang
1.000.000,00
F.3. Apabila harga nominalnya tidak lebih dari Rp
250.000,00
G.1. Surat-surat biasa & surat-surat Rp. 2.000,00
kerumahtanggaan; (dua ribu rupiah)
2. Surat-surat yang semula tidak dikenakan bea
meterai berdasarkan tujuannya, jika
digunakan untuk tujuan lain/digunakan oleh
orang lain, lain dari maksud semula, yang
akan digunakan sebagai alat pembuktian di
muka pengadilan.

2. Tarif Bea Meterai Atas Cek Dan Balyet Giro


Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) dan ayat (4), besarnya tarif Bea Meterai
atas cek dan bilyet giro, dikaitkan dengan besarnya harga nominal dalam cek
dan bilyet giro, yaitu bila harga nominalnya.
¾ Kurang dari Rp 100.000,-, tidak dikenakan Bea Meterai
¾ Lebih dari Rp 100.000,- tetapi tidak dari Rp 1.000.000, dikenakan Bea
Meterai dengan tarif Rp 500,-
¾ Lebih dari Rp 1.000.000,- dikenakan Bea Meterai dengan tarif Rp 1.000,-
Karena dalam pelaksanaan penerapan dua jenis tarif tersebut secara
teknis menyulitkan pihak bank dan nasabahnya, maka dikeluarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 13 Tahun 1989, tentang Perubahan Besarnya Tarif Bea
Meterai Dan Besarnya Batas Harga Nominal Yang Dikenakan Bea Meterai
Atas Cek Dan Bilyet Giro, dimana pada Pasal 1 ditentukan bahwa tarif Bea
Meterai atas cek dan bilyet giro ditetapkan Rp 500,- (lima ratus rupiah) tanpa
batas pengenaan besarnya harga nominal.
Selanjutnya berdasarkan Pasal 3, Peraturan Pemerintah Nomor 7
Tahun 1995 menetapkan bahwa tarif Bea Meterai atas cek dan bilyet giro

C:\Herr\Bea Meterai 18
adalah Rp 1.000,- (seribu rupiah) tanpa batas pengenaan besarnya harga
nominal.
3. Perubahan Tarif Bea Meterai.
Perubahan tarif Bea Meterai dapat dilakukan oleh pemerintah, karena Undang
Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai memberi wewenang untuk
itu, berdasarkan Pasal 3, yang menyatakan bahwa :
“ Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan besarnya tarif Bea
Meterai dan besarnya batas pengenaan harga nominal yang dikenakan
Bea Meterai, dapat ditiadakan, diturunkan, dinaikan setinggi-tingginya
enam kali atas dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2."

BAB V
PENGECUALIAN

C:\Herr\Bea Meterai 19
Pengertian objek Bea Meterai yang dikecualikan adalah bahwa dokumen
dimaksud seharusnya dikenakan Bea Meterai, tetapi karena adanya
pertimbangan-pertimbangan tertentu objek tersebut dikecualikan sehingga
ditetapkan untuk tidak dikenakan Bea Meterai. Jadi ada dokumen yang nyata-
nyata bukan objek Bea Meterai dan ada dokumen yang merupakan objek Bea
Meterai tetapi dikecualikan sehingga tidak dikenakan Bea Meterai.
Pasal 4 UU N0 13 / 1985 tentang Bea Meterai menetapkan beberapa
dokumen yang tidak dikenakan Bea Meterai, sebagai berikut :
“ Tidak dikenakan Bea Meterai atas :
a. Dokumen yang berupa :
1) Surat penyimpanan barang;
2) Konsumen;
3) Surat angkutan penumpang dan barang;
4) Keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen
sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3);
5) Bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
6) Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;
7) Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat
sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6).

Penjelasan
Angka 7
Yang dimaksud dengan surat-surat lainnya dalam angka 7) ini
ialah surat-surat yang tidak disebut pada angka 1) sampai

dengan angka 6) namun karena isi dan kegunaannya dapat


disamakan dengan surat-surat yang dimaksud, seperti surat
titipan barang, ecel gudang, manifest penumpang, maka surat

C:\Herr\Bea Meterai 20
yang demikian ini tidak dikenakan Bea Meterai, menurut Pasal 4
huruf a ini.

b. Segala bentuk ijazah :


Penjelasan
Huruf b
Termasuk dalam pengertian segala bentuk ijazah ini ialah surat
tanda tamat belajar, tanda lulus, surat keterangan telah mengikuti
sesuatu pendidikan, latihan, kursus dan penataran.
c. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan
pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta
surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu;
d. Tanda bukti penerimaan uang Negara dari Kas Negara, Kas Pemerintah
Daerah dan Bank;
e. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang
dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintah dan
Bank;

Penjelasan
Huruf e
Bank yang dimaksud dalam huruf e ini adalah bank yang ditunjuk
oleh Pemerintah untuk menerima setoran pajak, bea dan cukai.
f. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;
g. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan
kepada penabung oleh bank, koperasi dan badan-badan lainnya yang
bergerak di bidang tersebut;
h. Surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;
i. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan
dalam bentuk apapun.”

C:\Herr\Bea Meterai 21
Berikut di bawah ini dijelaskan secara berturut-turut butir-butir yang
tercantum dalam Pasal 4 tersebut di muka :
a. Dokumen
Kalau kita perhatikan dokumen-dokumen sebagaimana tercantum dalam Pasal
4 huruf a dari butir 1 s/d bitir 7, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
dokumen-dokumen itu dikaitkan langsung dengan kegiatan perekonimian.
Kebijaksanaan untuk tidak mengenakan Bea Meterai atas dokumen-dokumen
itu ialah untuk mempelancar lalu lintas barang dan penumpang dan membantu
mengurangi biaya.
b. Segala bentuk ijazah
Ijazah yang diterbitkan oleh pemerintah bukan objek Bea Meterai karena
bersifat publik. Adapun ijazah yang dikeluarkan oleh swasta termasuk
dokumen sebagaimana Pasal 2 ayat (1) huruf a yang seharusnya dikenakan
Bea Meterai. Agar tidak terjadi diskriminasi dalam pengenaan Bea Meterai
maka semua jenis ijazah tidak dikenakan Bea Meterai.
c. Tanda terima gaji dan jenisnya
Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun dan yang lainnya merupakan tanda
terima uang dan termasuk objek Bea Meterai seperti tersebut dalam Pasal 2
ayat (1) huruf d, angka 1, karena Undang-undang mengecualikan maka atas
dokumen tersebut di atas tidak dikenakan Bea Meterai. Termasuk dalam
dokumen “surat-surat yang diserahkan untuk mendapat pembayaran itu”
antara lain surat kuasa untuk mengambil/menerima gaji, daftar keluarga untuk
pengurusan tunjangan keluarga dan lain-lain.
d. Tanda bukti penerimaan uang Negara
Pasal 4 huruf d menyatakan; “ tidak dikenakan Bea Meterai atas tanda bukti
penerimaan uang Negara dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah dan

Bank ” dalam penjelasannya “ cukup jelas ” kalau ketentuan di atas ditafsirkan


secara harfiah maka kata ” …… dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah dan
Bank bersifat definitif dan limitatif. Tegasnya kalau uang Negara itu diterima
bukan dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah dan Bank, maka dokumen

C:\Herr\Bea Meterai 22
yang menyatakan bukti penerimaan uang Negara itu dikenakan Bea Meterai.
Bagaimana kalau uang Negara itu diterima dari bendaharawan UUDP (uang-
uang untuk dipertanggungjawabkan), misalnya karena adanya pembelian ATK
untuk keperluan kantor.?
Karena bendaharawan UUDP itu merupakan kepanjangan tangan dari kas
Negara/Kas Pemerintah Daerah, maka bukti penerimaan uang dari
bendaharawan UUDP, tidak dikenakan Bea Meterai.
e. Kuitansi untuk semua jenis pajak
Bea Meterai adalah pajak, wajar jika atas kuitansi penerimaan pembayaran
pajak tidak dikenakan Bea Meterai, sehingga tidak menimbulkan kesan
terjadinya dua kali pengenaan pajak.
Penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu (pajak) antara lain
penerimaan :
¾ Pajak Bumi dan Bangunan.
¾ Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
¾ Bea Cukai.
¾ Dan lain-lain.
f. Tanda penerimaan untuk keperluan intern organisasi
Tanda penerimaan yang terjadi secara internal dalam organisasi pada
hakekatnya merupakan tanda penerimaan dari dan untuk diri organisasi itu
sendiri. Namun demikian jika tanda penerimaan antara bagian dalam
organisasi itu akan digunakan sebagai alat bukti di muka Pengadilan maka
tujuannya sudah lain dari tujuan semula, bila demikian maka atas tanda
penerimaan itu harus dikenakan Bea Meterai.
g. Dokumen yang menyangkutkan tabungan dan lainnya yang bergerak di bidang
itu.
Tidak dikenakan Bea Meterai atas dokumen yang menyebutkan tabungan dan
lainnya yang bergerak di bidang itu adalah untuk mendorong dan menunjang
kebijaksanaan pemerintah dalam TABANAS dan jenis tabungan lainnya.
h. Surat gadai dari Perjan Pegadaian

C:\Herr\Bea Meterai 23
Tidak dikenakan Bea Meterai atas surat gadai dari Perjan Pegadaian
dimaksudkan untuk tidak menambah bahan terhadap pengambilan kredit yang
pada umumnya kecil dan sedang kesulitan likuiditas.
i. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek.
Yang dimaksud tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek ialah
kupon dan tanda deviden, terhadap dokumen ini tidak dikenakan Bea Meterai
karena terhadap efeknya telah dikenakan Bea Meterai (Pasal 2 ayat (1) huruf
e).
Jika kemudian hari kupon atau penerimaan uang ini dibuatkan kuitansi, maka
atas kuitansi penerimaan uang ini dikenakan Bea Meterai.

BAB VI
SAAT TERUTANG BEA METERAI
DAN YANG HARUS MEMBAYAR BEA METERAI

C:\Herr\Bea Meterai 24
1. Saat Terutang Bea Meterai.
Saat terutang Bea Meterai diterapkan dalam Pasal 5 UU N0 13/ 1985 tentang
Bea Meterai, sebagaimana tersebut dibawah ini :
“ saat terhutang Bea Meterai ditentukan dalam hal :
a. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu
diserahkan;
b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak, adalah pada saat
selesainya dokumen itu dibuat;
c. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di
Indonesia.”
Penjelasan
a. Dokumen yang dibuat satu pihak.
“ Saat terhutang Bea Meterai atas dokumen yang termasuk pada huruf a,
adalah pada saat dokumen itu diserahkan dan diterima oleh pihak untuk
siapa dokumen itu dibuat, bukan pada saat ditandatangani, misalnya
kuitansi, cek dan sebagiannya.
Contoh
Si A membuat surat kuasa kepada Si B, dimana dalam surat kuasa itu
disebutkan bahwa Si B atas nama Si A diberi kuasa untuk menagih dan
menerima sejumlah uang dari Si C yang berhutang kepada Si A.
Pada waktu surat kuasa itu dibuat oleh Si A dan belum diserahkan kepada
Si B, maka atas surat kuasa itu belum dikenakan Bea Meterai. Jika surat
kuasa itu diserahkan kepada Si B (pihak penerima kuasa) maka pada saat
penyerahan itu Bea Meterainya menjadi terhutang.

b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak


Saat terutang Bea Meterai atas dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu
pihak adalah pada saat dokumen itu selesai dibuat, yang ditutup dengan
pembubuhan tanda tangan dari yang bersangkutan.
Contoh :

C:\Herr\Bea Meterai 25
Si A menjual rekening tanah kepada Si B melalui/dihadapan PPAT, maka
tanda tangan PPAT merupakan penutup dari akta jual beli yang
sebelumnya ditandatangani oleh saksi dan para penghadap. Pada saat
akta jual beli itu selesai ditandatangani oleh semua pihak yang
bersangkutan termasuk PPAT, maka saat itulah Bea Meterai terutang.

c. Dokumen yang dibuat di luar negeri


Saat terutang dokumen yang dibuat di luar negeri adalah saat digunakan di
Indonesia.
Hal ini sesuai dengan Pasal 9 UU N0 13 / 1985 tentang Bea Meterai, yang
menetapkan :
“ Dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia
harus telah dilunasi Bea Meterai yang terutang dengan cara pemeteraian
kemudian.”

Contoh :
Si A (orang Indonesia) membuat perjanjian jual beli di Kuala Lumpur
dengan Si B warga negara Malaysia. Jika dokumen perjanjian jual beli itu
oleh Ai A dibawa ke Indonesia dan disimpan saja di dalam lemari, maka
atas dokumen perjanjian jual beli itu belum/tidak terutang Bea Meterai.
Jika dokumen perjanjian itu hendak digunakan di Indonesia (misalnya
dalam realisasi jual beli yang diperjanjikan) maka pada saat itu terutang
Bea Meterai dan harus dibubuhi meterai dengan cara pemeteraian
kemudian di Kantor Pos.

2. Kapan Bea Meterai Harus Di Bayar


Lazimnya kewajiban membayar pajak timbul setelah tiba saat terutang pajak.
Tetapi hal ini tidak selalu berlaku dalam pembayaran Bea Meterai, sebab pada
saat seseorang membeli meterai atau kertas meterai di Kantor Pos pada saat
itu pula terjadi penerimaan negara atas pajak yang berasal dari Bea Meterai

C:\Herr\Bea Meterai 26
(kas stelsel), pada hal belum tentu orang tersebut dalam waktu yang
bersamaan menggunakan meterai tersebut untuk memenuhi kewajibannya
membayar Bea Meterai.
Contoh lain misalnya jika sebuah bank menggunakan mesin teraan, maka
pada hakekatnya ia telah membayar pajak yang berasal dari Bea Meterai.
Sebaliknya bisa terjadi, bank tersebut telah menggunakan mesin teraan
melebihi penyetoran dimuka (misalnya karena bank itu membuka segelnya
atau karena mesin teraannya rusak). Dalam keadaan ini bank tersebut dapat
disebut “ tidak atau kurang melunasi kewajiban membayar Bea Meterainya”
sehingga dapat dikenakan denda administrasi sebesar 200 % dari Bea Meterai
yang tidak atau kurang di bayar (Pasal 8 ayat (1) UU N0 13 / 1985 tentang Bea
Meterai).
Adapun Undang-undang menetapkan saat terutang Bea Meterai ini mutlak
perlu, yaitu untuk menjamin kepastian hukum apakah seseorang telah
melaksanakan kewajiban perpajakannya (Bea Meterai) sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak.

3. Siapa Yang Terutang Bea Meterai.


Pasal 6 UU N0 13 / 1985 Tentang Bea Meterai menetapkan bahwa :
“ Bea Meterai terhutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang
mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain.”
Dalam penjelasan Pasal 6 tersebut diberikan contoh-contoh sebagai berikut

a. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, misalnya kuitansi, bea meterai terutang
oleh penerima kuitansi.
b. Dalam hal dokumen dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, misalnya surat
perjanjian di bawah tangan, maka masing-masing pihak terutang Bea
Meterai atas dokumen yang diterimanya.

C:\Herr\Bea Meterai 27
c. Jika surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris maka Bea Meterai yang
terhutang baik atas asli salih yang disimpan oleh Notaris maupun
salinannya yang diperuntukkan pihak-pihak yang bersangkutan terutang
oleh pihak-pihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, yang
dalam contoh ini adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian.
d. Jika pihak-pihak bersangkutan menentukan lain, maka Bea Meterai
terutang oleh pihak atau pihak-pihak yang ditentukan dalam dokumen
tersebut.

BAB VII
PELUNASAN BEA METERAI

C:\Herr\Bea Meterai 28
1. Bentuk, Ukuran, Dan Warna Kertas Bermeterai
Pasal 7 ayat (1) UU N0 13 / 1985 Tentang Bea Meterai mengatur tentang
Bentuk, Ukuran, Dan Kertas Bermeterai, seperti tersebut di bawah ini :
(1) “ Bentuk, Ukuran, Warna meterai tempel, dan kertas meterai, demikian
pula percetakan, pengurusan, penjualan serta penelitian
keabsahannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.”
Adapun pelaksanaan teknisnya di atur oleh Menteri Keuangan, yang dalam hal
ini seperti tersebut pada Keputusan menteri Keuangan Nomor :
419/KMK.04/1995 Tentang Bentuk, Ukuran, Dan Warna Kertas Bermeterai,
tanggal 6 September 1995 (lihat lampiran)
2. Cara Melunasi Bea Meterai
Cara melunasi Bea Meterai pada dasarnya diatur melalui Pasal 7 ayat (2),
seperti tersebut di bawah ini :
(2) “ Bea Meterai atas dokumen dilunasi dengan cara :
a. Menggunakan benda meterai;
b. Menggunakan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.”
Selanjutnya pada penjelasan Pasal 7 ayat (2) dikatakan :
“ Pada umumnya Bea Meterai atas dokumen dilunasi dengan benda
meterai menurut tarif yang ditentukan dalam Undang-undang ini.
Disamping itu dengan Keputusan Menteri Keuangan dapat ditetapkan
cara lain bagi pelunasan Bea Meterai, misalnya membutuhkan tanda tera
sebagai pengganti benda meterai di atas dokumen dengan mesinteraan,
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ditentukan untuk
itu.”

a. Benda Meterai
Yang dimaksud dengan benda meterai adalah meterai tempel dan kertas
meterai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Pasal 1
ayat (2) ).

C:\Herr\Bea Meterai 29
Adapun pengadaan, pengelolaan dan penjualan benda meterai pada
dasarnya di atur dengan Peraturan Pemerintah (PP N0 28 Tahun 1986)
sedang pelaksanaan teknisnya di atur oleh Menteri Keuangan, yang antara
lain menyebutkan :
1. Penetapan dalam rangka pengadaan menteri, dilaksanakan oleh
Perusahaan Umum (PERUM) Percetakan Uang Republik Indonesia
(PERURI).
2. Pengelolaan dan penjualan benda meterai, dilaksanakan oleh PERUM
Pos dan Giro.
Pengaturan selanjutnya lihat keputusan Menteri Keuangan Nomor
1009/KMK.01/1986 Tentang Tata Cara Dan Persyaratan Pengelolaan,
Penjualan, Penukaran, Pengembalian, Dan Pemusnahan Benda
Meterai (lihat lampiran)
b. Penggunaan benda meterai.
Bagaimana caranya menggunakan benda meterai dalam pelunasan Bea
Meterai di atur dalam Pasal 7 ayat (3) s/d ayat (9), sebagai berikut :
(3) “ Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di
atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai.
(4) Meterai tempel direkatkan di tempat di mana tanda tangan akan
dibubuhkan.
(5) Pembubuhan tandatangan disertai dengan pencantuman tanggal,
bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau sejenis dengan itu,
sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi
di atas meterai tempel.

(6) Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus
dibubuhkan sebagaian di atas semua meterai tempel dan sebagian
diatas kertas.
(7) Kertas meterai yang sudak digunakan, tidak boleh digunakan lagi.”

C:\Herr\Bea Meterai 30
Penjelasan
“ Ayat ini menegaskan bahwa sehelai kertas meterai hanya dapat
digunakan untuk sekali pemakaian, sekalipun dapat terjadi tulisan atau
keterangan yang dimuat dalam kertas meterai tersebut hanya
menggunakan sebagaian saja dari kertas meterai. Andaikan bagian
yang masih kosong atau tidak terisi tulisan atau keterangan, akan
dimuat tulisan atau keterangan lain, maka atas pemuatan tulisan atau
keterangan lain tersebut terhutang Bea Meterai tersendiri yang
besarnya disesuaikan dengan besarnya tarif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2. Jika sehelai kertas meterai karena sesuatu hal tidak
jadi digunakan dan dalam hal ini belum ditanda tangani oleh pembuat
atau yang berkepentingan, sedangkan dalam kertas meterai telah
terlajur ditulis dengan beberapa kata atau kalimat yang belum
merupakan suatu dokumen yang selesai dan kemudian tulisan yang
ada pada kertas meterai tersebut dicoret dan dimuat tulisan atau
keterangan baru maka kertas meterai yang demikian dapat digunakan
dan tidak perlu dibubuhi meterai lagi.
(8) Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk
dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk
bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak
bermeterai.
(9) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sampai
dengan ayat (8) tidak dipenuhi, dokumen yang bersangkutan dianggap
tidak bermeterai.”

3. Pemeteraian Kemudian.
Mengenai pemeteraian kemudian UU N0 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai
mengatur melalui tiga pasal yaitu Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10, yang
lengkapnya sebagai berikut :

C:\Herr\Bea Meterai 31
Pasal 8
(1) Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang Bea
Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya
dikenakan denda administrasi sebesar 200 % (dua ratus persen) dari
Bea Meterai yang tidak atau kurang dibayar.
(2) Pemegang dokumen atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) harus melunasi Bea Meterai yang terhutang berikut dendanya
dengan cara pemeteraian kemudian.
Pasal 9
Dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia
harus telah dilunasi Bea Meterai yang terhutang dengan cara pemeteraian
kemudian.
Penjelasan
“ Dokumen yang dibuat di luar negeri tidak dikenakan Bea Meterai
sepanjang tidak digunakan di Indonesia. Jika dokumen tersebut
hendak digunakan di Indonesia harus dibubui meterai terlebih dahulu
yang besarnya sesuai dengan tarip sebagaimana dimaksud dalam
pasal 2 dengan cara pemeteraian kemudian tanpa denda. Namun
apabila dokumen tersebut baru dilunasi Bea Meterainya sesudah
digunakan, maka pemeteraian kemudian dilakukan berikut dendanya
sebesar 200 % (dua ratus persen).”
Pasal 10
“ Pemeteraian kemudian atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (3), Pasal 8, dan Pasal 9 dilakukan oleh Pejabat Pos
menurut tata cara yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.”

Dari uraian di muka dapat disimpulkan bahwa pemeteraian kemudian


dilakukan karena :

C:\Herr\Bea Meterai 32
a. Dokumen yang semula tidak/belum perlu dibubuhi meterai tetapi karena
kemudian dipergunakan sebagai alat bukti di muka Pengendalian, maka
harus dibubuhi meterai (Pasal 2 ayat (3) )
b. Dokumen tidak/kurang dilunasi pengenaan Bea Meterainya (Pasal 8)
c. Dokumen yang dibuat di Luar Negeri akan digunakan di Indonesia (Pasal
(9) )
d. Pada dasarnya pemeteraian kemudian (yang dilakukan oleh Pejabat Pos)
adalah pelunasan Bea Meterai dengan cara menggunakan meterai tempel
juga, tetapi karena sesuatu hal dilakukan kemudian (dokumen telah
ditandatangani).
4. Cara melakukan Pemeteraian Kemudian.
Cara melakukan pemeteraian kemudian tergantung dari penyebab dilakukan
pemeteraian kemudian dan jenis dokumennya.
a. Jika pemeteraian kemudian dilakukan atas surat kerumahtanggaan dan
surat lainnya sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat (3) UU N0 13 / 1985
tentang Bea Meterai, yang dipergunakan sebagai alat bukti di muka
Pengadilan, maka besarnya Bea Meterai adalah 2.000,- tanpa denda
administrasi.

Contoh :
Suatu surat kerumahtanggaan (sesuai peraturan perundang-undangan
tidak dikenakan Bea Meterai) digunakan sebagai alat bukti di muka
Pengadilan maka atas surat kerumahtanggaan itu harus dilakukan
pemeteraian kemudian di Kantor Pos dan Pejabat Pos akan mengenakan
Bea meterai Rp 2.000,- (dua ribu rupiah) tanpa denda administrasi.

b. Jika pemeteraian kemudian dilakukan atas dokumen yang seharusnya


dikenakan Bea Meterai (misalnya Rp 2.000,-) tetapi ternyata pelunasannya

C:\Herr\Bea Meterai 33
terlambat (lewat saat terhutangnya) maka dalam pelaksanaan pemeteraian
kemudiannya ditambah denda 200 %.

Contoh :
Suatu surat perjanjian jual beli tidak bermeterai baik yang dipegang penjual
maupun pembeli maka dikenakan pemeteraian kemudian masing-masing
Rp 2.000,- + 200 % x Rp 2.000,- = Rp 6.000,-

c. Jika pemeteraian kemudian dilakukan atas dokumen yang kurang bayar


Bea Meterainya, maka pengenaan pemeteraian kemudian adalah
disamping yang kurang bayarnya harus dilunasi dikenakan pula denda
administrasi 200 % terhadap yang barang bayar itu.

Contoh :
Suatu kuitansi bukti pembayaran senilai Rp 5.000.000,- dikenakan Bea
Meterai Rp 1.000,- (kurang bayar Rp 1.000,-). Jika atas kuitansi ini
dilakukan pemeteraian kemudian maka dikenakan Rp 1.000,- + 200 % x Rp
1.000,- = Rp 3.000,-

5. Pelunasan Bea Meterai Menggunakan Cara Lain.


Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b UU N0 13 / 1985
tentang Bea Meterai, pelunasan Bea Meterai dapat dilakukan dengan cara lain
yang ditetapkan oleh Menteri keuangan. Sebagai tindak lanjut dari ketentuan
itu telah terbit beberapa peraturan pelaksanaannya yaitu :
a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 104/KMK.04/1986 Tentang
Pelunasan Bea Meterai Dengan menggunakan Cara Lain, tanggal 22
Pebruari 1986;
b. Surat Edaran Dirjen Pajak No SE-11/PJ.3/1986, Tentang Petunjuk
Mengenai Pelunasan Bea Meterai Dengan Menggunakan Cara Lain,
tanggal 19 Maret 1986;

C:\Herr\Bea Meterai 34
c. Surat Edaran Dirjen Pajak No SE-07/PJ.3/1988, Tentang Penerbitan
Terhadap Pemberian Izin Penggunaan Mesin Teraan Meterai, tanggal 3
Maret 1988;
d. Surat Edaran Dirjen Pajak No SE-33?PJ.3/1988, Tentang Pelunasan Bea
Meterai Dengan Menggunakan Mesin Teraan Meterai, tanggal 1 Agustus
1988.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut:
a. U m u m
1) Pelunasan Bea Meterai dengan menggunakan cara lain adalah dengan
menggunakan mesin teraan atau alat lain dengan teknologi tertentu.
2) Mesin teraan atau alat lain di maksud, penggunaannya harus mendapat
ijin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak.
3) Penggunaan mesin teraan atau alat lain, diberikan kepada pemakai
yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal
Pajak.

b. Ijin Penggunaan Mesin Teraan Meterai


1) Untuk memperoleh izin penggunaan mesin teraan meterai. Pengusaha
harus mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur Pajak Tidak
Langsung atau Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam surat
permohonan harus dicantumkan jenis/merek dan tahun pembuatan
mesin teraan Bea Meterai yang akan digunakan.
2) Ijin penggunaan mesin teraan meterai dapat diberikan, bila digunakan
mesin teraan meterai yang tidak dapat melampaui jumlah angka
pembilang sesuai dengan jumlah penyetoran Bea Meterainya. (Mesin
teraan akan berhenti bila sudah mencapai angka pembilang akhir
sesuai dengan jumlah yang diijinkan dalam Berita Acara tentang
pemasangan segel mesin teraan meterai tersebut ).
3) Jika permohonan dapat disetujui, maka sebelum dikeluarkan keputusan
pemberian ijin penggunaan mesin teraan meterai pemohon harus

C:\Herr\Bea Meterai 35
menyetor di muka Bea Meterai sebesar minimal Rp 5.000.000,- (lima
juta rupiah), dengan menggunakan Surat Setor bentuk KPU 8A.
4) Keputusan ijin menggunakan mesin teraan meterai (bentuk KP.BM-1)
dikeluarkan sesudah pemohon melunaskan jumlah setoran tersebut
pada bitir (3) dan menyampaikan SSP (KPU 8A) lembar ke-II(Warna
Merah).
5) Sebelum mesin teraan meterai yang bersangkutan digunakan, terlebih
dulu harus dilakukan pemasangan segel dan dibuat Berita Acara
pemasangan segel (formulir KP.BM-2) untuk pemakaian yang pertama
dan Berita Acara pembukaan dan pemasangan segel untuk
perpanjangan pemakaian mesin teraan meterai (KP. BM-2A).
6) Pemberian ijin penggunaan mesin teraan meterai pada dasarnya
bersifat selektif dan agar dibatasi hanya kepada wajib pajak/pemakai
mesin teraan meterai yang melakukan pemeteraian atas dokumen
dalam jumlah besar didalam waktu yang relatif singkat, seperti setiap
hari tidak kurang dari 50 dokumen yang harus diberi meterai. Oleh
karena itu dalam setiap permohonan ijin penggunaan mesin teraan
meterai agar dilampirkan pernyataan (bermeterai Rp 2.000,-) dari
pemilik/pemakai mesin teraan meterai bahwa dokumen yang harus
dibubuhi meterai setiap hari cukup banyak, sehingga memerlukan
penggunaan mesin teraan meterai. Untuk penerbitan Keputusan ijin
penggunaan mesin teraan meterai yang pertama kali, digunakan
formulir bentuk KP. BM-88.
7) Ijin penggunaan mesin teraan meterai hanya diberikan dalam jangka
waktu 2 (dua) tahun, karena itu setiap 2 (dua) tahun diperpanjang,

apabila dalam jangka waktu 2 tahun depositnya habis, maka dengan


menambah setoran di muka Bea Meterai, mesin teraan meterai harus di
program lagi sesuai penambahan deposit tersebut dan setelah
dilakukan penyegelan lagi serta telah dibuat Berita Acara pembukaan
dan penerangan segel, langsung dapat digunakan lagi.

C:\Herr\Bea Meterai 36
8) Laporan bulanan atas ijin penggunaan mesin teraan meterai dipakai
formulir KP. BM-3.

c. Ijin pencetakan lunas Bea Meterai


1) Ijin pencetakan lunas Bea Meterai biasanya diajukan oleh Perusahaan
Perbankkan (mencentak lunas meterai pada Buku Cek) atau
perusahaan lain yang banyak menggunakan kuitansi. Untuk sementara
ijin untuk pencetakan tanda “ lunas Bea Meterai “ pada dokumen hanya
diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan karenanya permohonan
untuk memperoleh ijin pencetakan tanda lunas Bea Meterai hanya
dapat diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak U.P. Direktur Pajak
Tidak Langsung.
2) Cara pelunasan dengan melakukan pencetakan lunas Bea Meterai pada
dokumen yang akan digunakan, dianggap sama cara pelunasannya
dengan menggunakan Benda Meterai asalnya jumlah Bea Meterai yang
dilunasi sama besarnya dengan jumlah Bea Meterai terutang
berdasarkan UU N0 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai.

BAB VIII
KETENTUAN KHUSUS DAN DALUWARSA

C:\Herr\Bea Meterai 37
Bab IV UU N0 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai mengatur tentang ketentuan
khusus, memuat dua hal yaitu (a) tindakan yang tidak dibenarkan bagi pejabat (b)
daluwarsa.
1. Tindakan Yang Tidak Dibenarkan Bagi Pejabat
Pasal 11 Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai,
menentukan :
1) “ Pejabat Pemerintah, hakim, panitera, jurusita, notaris, dan pejabat
umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya tidak
dibenarkan :
a. Menerima, mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang
Bea Meterainya tidak kurang bayar;
b. Melekatkan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang
dibayar sesuai dengan taripnya pada dokumen lain yang berkaitan;
c. Membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dari
dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar;
d. Memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak
atau kurang dibayar sesuai dengan tarif Bea Meterainya.
2) Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dikenakan sanksi administatip sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.”

Beberapa contoh berikut ini akan lebih memperjelas ketentuan di atas :


a) Seorang notaris menerima dan menyimpan dari kliennya surat kuasa jual
beli, padahal suarat kuasa itu belum dikenakan Bea Meterai.
b) Seorang PPAT menyimpan dalam berkas penyelesaian Akta Jual Beli
Tanah kliennya, sebuah kuitansi yang pengenaan Bea Meterainya masih
kurang dibayar.
c) Seorang Notaris membuat salinan Akta Jual Beli Tanah dan Bangunan
kemudian menyerahkan Akta tersebut kepada kliennya padahal Bea
Meterainya tidak atau kurang di bayar.

C:\Herr\Bea Meterai 38
d) Seorang hakim memberikan keterangan atau catatan pada dokumen
berupa surat kerumah tanggaan yang digunakan sebagai alat bukti pada
hal surat kerumah tanggaan tersebut belum dikenakan pemeteraian
kemudian.

2. Daluwarsa
Pasal 12 Undang Undang Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai
menetapkan bahwa.
“ Kewajiban pemenuhan Bea Meterai dan denda administrasi yang
terhutang menurut Undang-undang ini daluwarsa setelah lampau waktu
lima tahun, terhitung sejak tanggal dokumen dibuat.”

Penjelasan
“ Ditinjau dari segi kepastian hukum daluwarsa 5 (lima) tahun dihitung
sejak tanggal dokumen dibuat, berlaku untuk seluruh dokumen
termasuk kuitansi.”

Ketentuan daluwarsa di atas berarti setelah lampau 5 (lima) tahun sejak


tanggal dokumen dibuat, maka orang yang terhutang Bea Meterai dan denda
administrasinya atas dokumen tersebut. Saat tanggal dokumen dibuat, dan
jangka waktu lima tahun merupakan waktu-waktu yang pasti, dengan demikian
adanya ketentuan daluwarsa dimaksud untuk menjamin kepastian hukum dan
memudahkan menghitung daluwarsanya.

Contoh :
Kuitansi penerimaan uang senilai Rp 5.000.000,- yang dibuat tanggal 20
Agustus 1999, tidak dikenakan Bea Meterai sebagaimana mestinya, maka
setelah lampau tanggal 20 Agustus 2004 yang mendapat manfaat atas
kuitansi tersebut tidak berkewajiban lagi memenuhi Bea Meterai yang
terhutang, demikian juga dendanya.

C:\Herr\Bea Meterai 39
Perlu diingatkan bahwa saat tanggal dokumen dibuat berbeda dengan saat
terutang Bea Meterai, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 Undang Undang
Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai.

BAB IX
KETENTUAN PIDANA

C:\Herr\Bea Meterai 40
Dalam Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai, Ketentuan
Pidana diatur dalam Pasal 13 dan Pasal 14, untuk jelasnya dapat dikemukan
sebagai berikut :
1. Ketentuan Pidana Pasal 13 Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang
Bea Meterai, menetapkan.
“ Dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana :
a) Barang siapa meniru atau memalsukan meterai tempel dan kertas
meterai atai meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk
mensahkan meterai;
b) Barang siapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk
diedarkan atau memasukkan ke Negara Indonesia meterai palsu,
yang dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak;
c) Barang siapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan,
menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke
Negara Indonesia meterai yang mereknya, capnya, tandatangan,
tanda sahnya atau tanda waktunya mempergunakan telah
dihilangkan seolah-olah meterai itu belum dipakai dan atau
menyuruh orang lain menggunakan dengan melawan hak;
d) Barang siapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas yang
diketahuinya digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk
meniru dan memalsukan benda meterai.”
Penjelasan (cukup jelas)

Jika kita kaji ketentuan tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai


berikut :
a. Sesuai dengan kalimat pertamanya Ketentuan Pidana dalam Bea Meterai,
mengacu kepada Kitab Undang-undang Hukum Pidana, sedang perbuatan
hukumnyalah yang secara lex specialis mengenai Bea Meterai.

C:\Herr\Bea Meterai 41
b. Ketentuan itu sama sekali tidak menyebut/menentukan besarnya hukuman,
hal ini berarti hakim yang mengadilinya yang akan menentukan besarnya
hukuman sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-undang Hukum
Pidana yang terdapat dalam Bab XI, antara lain Pasal 253, Pasal 257,
Pasal 260 dan Pasal 261.
2. Ketentuan Pidana Pasal 14 N0 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai,
menetapkan :
1) “ Barang siapa dengan sengaja menggunakan cara lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b tanpa ijin Menteri Keuangan,
dipidana penjara selama-selamanya 7 (tujuh) tahun.”

Penjelasan
“ Melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam penjelasan
Pasal 7 ayat (2) ijin Menteri Keuangan, akan menimbulkan
keuntungan bagi pemilik atau yang menggunakannya, dan
sebaliknya akan menimbulkan kerugian bagi Negara. Oleh karena
itu harus dikenakan sanksi pidana berupa hukuman setimpal
dengan kejahatan yang diperbuatnya.

2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah


kejahatan.”

Sesuai Keputusan Menteri Keuangan No 104/KMK.04/1986 Tentang


Pelunasan Bea Meterai Dengan Menggunakan Cara Lain, khususnya Pasal 2,
ditetapkan bahwa mesin teraan atau alat lain yang digunakan sebagai “ cara
lain “ dimaksud, harus mendapat ijin tertulis dari Dirjen Pajak (yang
dilimpahkan kepada Direktur Pajak Tidak langsung untuk DKI Jaya dan kepada

C:\Herr\Bea Meterai 42
Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk wilayah di luar DKI). Dengan demikian
wajar jika pelanggaran dengan sengaja terhadap Pasal 7 ayat (2) Undang
Undang Nomor 13 Tahun 1985 terutang Bea Meterai tersebut dipidana penjara
selama-lamanya 7 tahun. Hal ini sebagaimana penjelasan Pasal 14 dimaksud,
adalah untuk menjaga agar negara tidak dirugikan.

BAB X
KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP

C:\Herr\Bea Meterai 43
1. Ketentuan Peralihan.
Berdasarkan Pasal 18 Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea
Meterai, dinyatakan bahwa Undang-undang tersebut mulai berlaku pada
tanggal 1 Januari 1986, ini berarti bahwa Aturan Bea Meterai (
Zegelverordening 1921 ), berakhir masa berlakunya pada tanggal 31
Desember 1985. Hal di atas dipertegas dengan Pasal 15 Undang Undang
Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai sebagai berikut :

Pasal 15
1) “ Atas dokumen yang tidak atau kurang dibayar Bea Meterainya yang
dibuat sebelum Undang-undang ini berlaku, Bea Meterainya tetap
terhutang berdasarkan Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening
1921).
2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur
oleh Menteri Keuangan.”

Sedang mengenai peraturan pelaksanan Undang Undang Nomor 13 Tahun


1985 Tentang Bea Meterai yang belum dikelurkan maka peraturan
pelaksanaan berdasarkan Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921)
yang tidak bertentangan dengan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985
Tentang Bea Meterai yang belum dicabut dan diganti dinyatakan masih tetap
berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1988.
Adapun pelaksanaan Undang Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea
Meterai selanjutnya di atur dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 17).

Ketentuan Peralihan dalam suatu Undang-undang diperlukan, terutama pada


Undang-undang yang sifatnya menyempurnakan/mengganti Undang-undang
sebelumnya, agar terjamin kepastian hukum sehingga tidak menimbulkan
keraguan atau kekacauan dalam pelaksanaannya.
2. Ketentuan Penutup

C:\Herr\Bea Meterai 44
Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea meterai yang sederhana
dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat, diadakan untuk mengatur kembali
pengenaan Bea Meterai yang sebelumnya di atur berdasarkan Aturan Bea
Meterai 1921 (Zegelverordening 1921), ditutup dengan Pasal 18 yaitu :
“ Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1986.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran
NegaraRepublik Indonesia.”

C:\Herr\Bea Meterai 45