Anda di halaman 1dari 10

RESISTOR

Resitor dengan 4 gelang:


Lazimnya gelang resistor terdapat 4 gelang kode yang umumnya digunakan untuk
presisi rendah dengan toleransi 5%, 10% dan 20%. Gelang pertama dan kedua mewakili
angka resistor. Gelang ketiga mengindikasi perkalian (multiplier) berapa ‘nol’ yang
ditambahkan. Jika multiplier band adalah emas (gold) atau perak (silver) kemudian desimal
digeser ke kiri satu atau dua (dibagi dengan 10 or 100). Gelang toleransi (tolerance band)
deviasi dari nilai spesifik, biasanya terdapat jarak dari gelang lain.
Sebagai contoh, untuk resistor dengan nilai 560 ohm, 5% maka gelang warnanya
adalah hijau, biru, coklat dan emas. Penjelasan: Hijau dan biru mewakili angka (56);
sedangkan coklat adalah pengali (multiplier) (10) dan emas adalah toleransi (5%).
Sedemikian sehingga nilainya 56 x10 = 560.
Jika gelang ke tiga diubah ke warna merah, maka pengali (multiplier) akan menjadi
100, sehingga nilainya 56×100 = 5600 ohms = 5.6 k ohms. Jika gelang pengali (multiplier
band) adalah emas atau perak, kemudian desimal poin akan digeser ke kiri satu atau dua
tempat (dibagi dengan 10 atau 100). Sebagai contoh, sebuah resistor dengan gelang hijau,
biru, perak dan emas mempunyai nilai 56x0.01 = 0.56.
Catatan: 20% resistors hanya mempunyai 3 gelang – artinya, gelang toleransi (gelang ke
empat tanpa warna).
Resitor dengan 5 gelang:
Resistor dengan gelang seperti ini digunakan untuk rangkaian elektronika dengan
presisi tinggi, resistor dengan presisi 2%, 1% atau bertoleransi lebih rendah. Cara membaca
gelang mirip dengan sistem sebelumnya (4 gelang); hanya saja ada perbedaan nomor dari
angka. Gelang pertama, kedua dan ketiga mewakili nilai angka, gelang ke empat adalah
pengali (multiplier) dan gelang ke lima adalah toleransi.

* Gelang ke-3 hanya untuk 5-band resistors


Gambar 1: bagan warna resistor
Beberapa resistor mempunyai penambahan gelang – sangat jarang ditemui – indikasi
reliabilitas atau koefisien suhu (temperature coefficient).
Pada gelang reliability band, spesifikasi failure rate per 1000 jam (dengan asumsi
bahwa beban penuh diberikan pada resistor). Maka temperature coefficient dapat juga
ditandai pada resistors 1% resistor (contoh +/-100 ppm akan berubah temperatur 50 derajat
Celcius yang menyebabkan berubah nilai resistor sebesar 1%). Pengkodean seperti ini
mungkin membingungkan tetapi bagi yang hobi elektronika atau praktisi akan lebih mudah
tanpa harus mengingat kode warna gelang resistor.
Cara yang paling gampang bagi yang awam cukup dengan mengukur resistor dengan
multitester digital berkalibrasi (akurat); biasa dipakai di industri PCBA, maka nilai angka
akan muncul di layar monitor.
Contoh:
Resistor dengan 4 gelang:
Hijau, Biru, Merah, toleransi Perak: 56*100 = 5.6 kohms, dengan tol 10%
Coklat, Hitam, Jingga, Emas : 10*1000 = 10000 ohms (or 10K ohms), dengan tol 5%
Merah, Merah, Coklat, Perak : 22*10 = 220 ohms (220 ohms), dengan tol 10%
Resistor dengan 5 gelang:
Biru, Coklat, Putih, Coklat, Merah: 619*10 = 6190 ohms (6.19K ohms), dengan tol 2%
Merah, Merah, Coklat, Hitam, Coklat: 221*1 = 221 ohms, dengan tol 1%
Coklat, Hitam, Hitam, Merah, Coklat: 100*100 = 10000 ohms (10.0K), dengan tol 1%
Biar gampang mengingat kode warnanya, cukup hafalkan “Hi-Co-Me-Ji-Ku-Hi-Bi-U-A-
Pu”
KAPASITOR
Cara Membaca nilai Kapasitor
Membaca Nilai Kapasitor memang tidak sesulit membaca nilai pada resistor,
namun Cara Membaca nilai kapasitor juga wajib kita ketahui untuk mengetahui karakteristik
dan spesifikasinya bilamana terjadi kerusakanpada rangkaian.
Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka
yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada
kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uF/25v.
Kapasitor keramik yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan
2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads).
Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi kapasitor tersebut
adalah 47 pF. Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal,
sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Misalnya seperti gambar disamping yaitu
menunjukkan 154 berarti angka pertama dan kedua menunjukkan nilai yaitu 15 dan angka
ketiga angka 4 yang berarti faktor pengali= 10000, nilai kapasitor keramik tersebut
adalah 15×10000=150000 pF=150 nF=0,15uF , berikut adalah tabel pengali nilai kapasitor :

Pengali/Multiplier (dua digit pertama


Angka ke-3
memberi Anda nilai di Pico-Farads)
0 1
1 10
2 100
3 1,000
4 10,000
5 /100,000
6 not used
7 not used
8 .01
9 .1
Tabel 1: tabel pengali nilai kapasitor
Pada beberapa jenis kapasitor ada juga yang menggunakan toleransi yang biasanya
menggunakan kode huruf :
Simbol huruf Toleransi
D +/- 0.5 pF
F +/- 1%
G +/- 2%
H +/- 3%
J +/- 5%
K +/- 10%
M +/- 20%
P +100% ,-0%
Z +80%, -20%
Table 2: tabel pengali nilai kapasitor 2
Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 =
1.000, 4 = 10.000 dan seterusnya. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104, maka
kapasitansinya adalah 10 x 10.000 = 100.000pF atau = 100nF. Contoh lain misalnya tertulis
222, artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2.2 nF.
Selain dari kapasitansi ada beberapa karakteristik penting lainnya yang perlu
diperhatikan. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat didalam
datasheet. Berikut ini adalah beberapa spesifikasi penting tersebut.
Tegangan Kerja (working voltage)
Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih
dapat bekerja dengan baik. Para elektro- mania barangkali pernah mengalami kapasitor yang
meledak karena kelebihan tegangan. Misalnya kapasitor 10uF 25V, maka tegangan yang bisa
diberikan tidak boleh melebihi 25 volt dc. Umumnya kapasitor-kapasitor polar bekerja pada
tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC.
Temperatur Kerja Kapasitor
Nilai yang ditunjukkan pada baan kapasitor masih memenuhi spesifikasinya jika
bekerja pada suhu yang sesuai. Pabrikan pembuat kapasitor umumnya membuat kapasitor
yang mengacu pada standar popular. Ada 4 standarpopular yang biasanya tertera di badan
kapasitor seperti C0G (ultra stable), X7R (stable) serta Z5U dan Y5V (general purpose).
Pada sebagian besar rangkaian TV biasanya jika terjadi kerusakan terhadap satu nilai
di kapasitor maka kapasitor tersebut bisa diganti ke nilai yang lebih besar atau paling tidak
mendekati nilai asli, namun tidak semua kapasitor bisa diganti dengan pengganti yang
berbeda nilai, biasanya di bagian osilator. Seperti misalnya kapasitor pada Osilator Power
Supply yang biasanya mempunyai nilai 22-47uF hendaknya diganti dengan nilai persis
dengan yang asli, karena nilai tersebut tentu saja berpengaruh terhadap tegangan output yang
dihasilkan ( berpengaruh pada kerja osilator supply). Demikian artikel tentang Cara Membaca
nilai kapasitor. Semoga Bermanfaat, Lihat juga cara kerja kapasitor di artikel Cara Kerja
Kapasitor
OSILOSKOP
Osiloskop (Gambar 1) merupakan alat ukur dimana bentuk gelombang sinyal listrik
yang diukur akan tergambar pada layer tabung sinar katoda.

Gambar 1. Osiloskop
Pengetahuan tentang osiloskop sangatlah penting karena instrumen ini akan terus
digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Akustik, Akustik Kelautan, Dasar-dasar
Instrumentasi dan Instrumentasi Kelautan serta Teknik Deteksi Bawah Air. Dengan
praktikum ini akan dapat dipahami fenomena gelombang sinus, istilah-istilahnya serta prinsip
superposisi gelombang sinus.
Penggunaan Osiloskop
1. Mengukur Tegangan Searah dan Tegangan Bolak-balik
a. Kesalahan yang mungkin timbul dalam pengukuran tegangan, disebabkan oleh
kalibrasi osiloskop, pengaruh impendansi input, kabel penghubung serta gangguan
parasitic
b. Untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh impedansi input, dapat
digunakan probe yang sesuai (dengan memperhitungkan maupun dengan kalibrasi
dari osiloskop)
c. Besar tegangan sinyal dapat langsung dilihat dari gambar pada layar dengan
mengetahui nilai volt/div yang digunakan
d. Osiloskop mempunyai impedansi input yang relative besar, jadi dalam mengukur
rangkaian dengan impedansi rendah, maka impedansi input osiloskop dapat
dianggap oleh circuit (impedansi input osiloskop CRC 5401,1 M ohm parallel
dengan 30 pF).
2. Mengukur Beda Fasa
Pengukuran beda fasa antar dua buah sinyal dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu:
a. dengan osiloskop “dual trace”
b. dengan metoda “lissajous”
c. Dengan Osiloskop Dual Trace
Sinyal pertama dihubungkan pada kanal A, sedangkan sinyal kedua dihubungkan
pada kanal B dari osiloskop
d. Dengan Metoda Lissajous
Sinyal pertama dihubungkan pada input Y, dan sinyal kedua dihubungkan pada
input X osiloskop.

Beberapa tombol pengatur yang penting:


a. Intensitas: mengatur intensitas (“keterangan”) cahaya pada layar. Sebaiknya dijaga
agar tombol intensitas ini tidak pada kedudukan maksimum
b. Focus : mengatur ketajaman gambar yang terjadi pada layar
c. Horizontal dan Vertikal: mengatur kedudukan gambar dalam arah horizontal dan
vertical
d. Volt/Div (atau Volts/cm), ada 2 tombol yang konsentris. Tombol ditempatkan pada
kedudukan maksimum ke kanan (searah dengan jarum jam) menyatakan osiloskop
dalam keadaan terkalibrasi untuk pengukuran. Kedudukan tombol di luar menyatakan
besar tegangan yang tergambar pada layar per kotak (per cm) dalam arah vertical
e. Time/Div (atau Time/cm), ada 2 tombol yang konsentris. Tombol di tengah pada
kedudukan maksimum ke kanan (searah dengan jarum jam) menyatakan osiloskop
dalamkeadaan terkalibrasi untuk pengukuran. Kedudukan tombol diluar menyatakan
factor pengali untuk waktu dari gambar pada layar dalam arah horizontal
f. Sinkronisasi: mengatur supaya pada layar diperoleh gambar yang tidak bergerak
g. Slope: mengatur saat trigger dilakukan, yaitu pada waktu sinyal naik (+) atau pada
waktu sinyal turun (-)
h. Kopling: menunjukan hubungan dengan sinyal searah atau bolak-balik
i. Trigger “Ext” atau “Int”:
j. “Exit” : Trigger dikendalikan oleh rangkaian di luar osiloskop. Pada kedudukan ini
fungsi tombol “sinkronisasi”, “slope” dan “kopling” tidak dapat dipergunakan
k. “Int” : trigger dikendalikan oleh rangkaian di dalam osiloskop. Pada kedudukan ini
fungsi tombol “simkronisasi”, “slope” dan “kopling” dapat dipergunakan
PENGUAT COMMAN EMITOR
Pada rangkaian BJT terdapat tiga rangkaian dasar penguat (amplifier), yaitu emitor
bersama (common-emitter, CE), kolektor bersama (common-collector, CC) dan basis
bersama (common-base, CB).
Emitor bersama (common-emitter)
Rangkaian emitter bersama (common-emitter) adalah rangkaian BJT yang
menggunakan terminal emitor sebagai terminal bersama yang terhubung ke sinyal sasis
(ground), sedangkan terminal masukan dan keluarannya terletak masing-masing pada
terminal basis dan terminal kolektor.
Rangkaian penguat common-emitter adalah yang paling banyak digunakan karena
memiliki sifat menguatkan tegangan puncak amplitudo dari sinyal masukan. Faktor
penguatan dari transistor dilambangkan dengan simbol beta (β).
Gambar dari rangkaian dasar common-emitter adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Rangkaian dasar common-emitter


C1 dan C2 adalah kapasitor kopling yang menentukan dalam analisis DC dan AC,
karena berfungsi sebagai hubungan singkat (short circuit) atau hubungan terbuka (open
circuit). Besarnya penguatan ditentukan oleh hambatan basis RB dan hambatan kolektor RC.
Penguat common emitor adalah penguat yang kaki emitor transistor di groundkan,
lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common
Emitor juga mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.

Gambar 2: Penguat Common Emitor


Penguat common emitor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Sinyal outputnya berbalik fasa 180 derajat terhadap sinyal input.
b. Sangat mungkin terjadi osilasi karena adanya umpan balik positif, sehingga sering
dipasang umpan balik negatif untuk mencegahnya.
c. Sering dipakai pada penguat frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio).
d. Mempunyai stabilitas penguatan yang rendah karena bergantung pada kestabilan suhu
dan bias transistor.