Anda di halaman 1dari 5

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

Beberapa model pembelajaran tersebut antara lain dikemukakan oleh Lapp, Bender,
Ellenwood, & John (1975) yang berpendapat bahwa berbagai aktivitas belajar mengajar dapat
dijabarkan dari 4 model utama, yaitu;
1. The ClassicalModel,
2. The Group Process Model. Model ini utamanya diarahkan untuk mengembangkan
kesadaran diri, rasa tanggung jawab dan kemampuan bekerjasama antara siswa.
3. The Developmental Cognitive Model, yang menitikberatkan untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan kognitif.
4. T h e Programmed Model, yang dititikberatkan untuk
men gembangkan keterampilan- keterampilan dasar melalui modifikasi tingkah
laku.
5. T h e Fundamental Model, yang dititikberatkan untuk
men gembangkan keterampilan- keterampilan dasar melalui pengetahuan
faktual.

Joyce, Weil, dan Calhoun (2000) mendeskripsikan empat kategori model


mengajar, yaitu kelompok model sosial (social family), kelompok pengolahan informasi
(information processing family), kelompok model personal (personal family), dan
kelompok model system penlaku (behavioral systems family).

Families The Social The The The


Family Information Personal Behavioral
Processing Family Systems Family
1. Partners in 1. Inductive 1. Non 1. Mastery
learning thinking directive learning
1.1 Positive (classification Teaching 2. Direct
interdepen- oriented) 2. Enhan- instruction
dence 2. Concept cing self 3. Simulation
1.2 Structural attainment Esteem 4. Social learning
inquiry 3. Mnemonics 5. Programmed
Models 2. Group (memory Schedule (task
investigation assists) performance
3. Role4. Advance reinforcement)
playing organizers
4. Jurispruden-5. Scientific
tial inquiry inquiry
6. Inquiry
7. Synectics

1. Kelompok model interaksi sosial (social interaction models)


Model interaksi sosial adalah suatu model pembelajaran yang beranjak dari pandangan
bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari realitas kehidupan, individu tidak mungkin
melepaskan dirinya dari interaksi dengan orang lain.
Model interaksi sosial didasarkan pada dua asumsi pokok, yaitu; (1) masalah-
masalah sosial dapat diidentifikasi dan dipecahkan melalui kesepakatan-kesepakatan
bersama melalui proses-proses sosial dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat,
(2) proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan dalam upaya perbaikan system
kehidupan sosial masyarakat secara terarah dan berkesinambungan.
Kelompok model interaksi sosial ini meliputi sejumlah model, yaitu; investigasi
kelompok (Group Investigation), bermain peran (Role Playing), penelitian
yurisprodensial (Yurisprodential Inquiry), latihan laboratories (Laboratory Training),
penelitian ilmu sosial (Social Science Inquiry).

a. Investigasi Kelompok (Group Investigation).


memberikan penekanan tentang eksistensi investigasi kelompok sebagai wahana untuk
mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran,
Sebagaimana diketahui bahwa keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran merupakan hal
yang sangat esensial karena siswa adalah sentral dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.
Dan oleh sebab itu pula kebermaknaan pembelajaran sesungguhnya akan sangat
tergantung pada bagaimana kebutuhan-kebutuhan siswa dalam memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan, nilai-nilai, serta pengalaman mereka dapat terpenuhi secara
optimal melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

b. Bermain Peran (Role Playing)


Model ini dirancang khususnya untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai
sosial dan moral dan pencerminannya dalam perilaku. Di camping itu model ini
digunakan pula untuk membantu para siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-
isu moral dan sosial, mengembangkan empati terhadap orang lain, dan berupaya memperbaiki
keterampilan sosial. Sebagai model mengajar, model ini mencoba membantu individu untuk
menemukan makna pribadi dalam dunia sosial dan berupaya memecahkan dilema-dilema sosial
dengan bantuan kelompok. Karena itu pada dimensi sosial model ini
memungkinkan individu untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi sosial,
terutama permasalahan interpersonal melalui cara-cara yang demokratis guna menghadapi
situasi tersebut.

c. Model Penelitian Yurisprudensi (jurisprodential Inquiry)


Pada dasarnya metode ini merupakan metode studi kasus dalam proses peradilan
dan selanjutnya diterapkan dalam suasana belajar di sekolah. Dalam model ini para
siswa sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah sosial yang menuntut pembuatan kebijakan
pemerintah yang diperlukan serta berbagai pilihan untuk mengatasai isu tersebut, misalnya
tentang konflik moral, toleransi clan sikap-sikap sosial lainnya. Model ini bertujuan
membantu siswa belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu mutahir. Para siswa
dituntut merumuskan isu-isu tersebut dan menganalisis pemikiran-pemikiran alternatif. Model
ini juga didasarkan atas konsep tentang masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan
pandangan dan prioritas bahkan konflik nilai antara seseorang dengan yang lain

2. Kelompok model pengolahan informasi (Information)


Processing Model

Kelompok model pengolahan informasi salah satu kelompok model pembelajaran yang lebih
menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas qC! yang terkait dengan memproses atau pengolahan
informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses

a. Berpikir induktif (inductive thinking)


Model pembelajaran ini beranggapan bahwa kemampuan berpikir seseorang
tidak dengan sendirinya dapat berkembang dengan baik jika proses pembelajaran
dikembangkan tanpa memperhatikan kesesuaiannya dengan kebutuhan berpikir
seseorang. Kemampuan berpikir harus diajarkan melalui pendekatan yang khusus
yang memungkinkan para siswa terampil berpikir. Strategi-strategi pembelajaran
yang terarah pada pengembangan kemampuan berpikir siswa harus digunakan berurutan
karma keterampilan berpikir yang satu dibangun di atas yang lain secara sequensial pula.

a. Pencapaian konsep (concept attainment)


Model pencapaian konsep adalah model pembelajaran yang dirancang untuk menata
atau menyusun data sehingga konsep-konsep penting dapat dipelajari secara tepat dan efisien.
Model ini memiliki pandangan bahwa para siswa tidak hanya dituntut untuk mampu
membentuk konsep melalui proses pengklasifikasian data akan tetapi mereka juga harus
dapat membentuk susunan konsep dengan kemampuannya sendiri.

c. Memorisasi
Model ini diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siwa menyerap dan mengintegrasikan
informasi sehingga siswa-siswa dapat mengingat informasi yang telah diterima dan dapat me-
recall kembali pada saat yang diperlukan.

d. Advance organizers
Model ini dikembangkan berdasarkan pemikiran Ausubel tentang materi pembelajaran,
struktur kognitif.

e. Penelitian Ilmiah (Scientific inquiry)


Esensi model penelitian ilmiah adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa di dalam
menyelesaikan masalah melalui suatu penelitian dengan membandingkan masalah tersebut
dengan kondisi y a t a p a d a a r e a l p e n e l i t i a n , m e m b a n t u s i s w a d i
d a l a m mengidentifikasi konsep atau metode pemecahan masalah pada kawasan penelitian dan
membantu mereka agar mampu mendisain cara-cara mengatasi masalah. Model penelitian
ilmiah dalam proses pembelajaran menuntut terciptanya iklim kelas yang kooperatif.

f . I n q u ir y t ra in in g

Model ini diarahkan untuk mengajarkan siswa suatu proses dalam rangka
mengkaji dan menjelaskan suatu fenomena khusus. Tujuannya adalah membantu siswa
mengembangkan disiplin dan mengembangkan keterampilan intelektual yang
cliperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa
i n g in ta hu ny a. M el al ui k eg ia ta n i ni c li ha ra pk an s is w a a kt if mengajukan
pertanyaan mengapa sesuatu terjadi kemudian mencari dan mengumpulkan serta
memproses data secara logis untuk selanjutnya mengembangkan strategi intelektual
yang dapat digunakan untuk dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu
terjadi .

g. Synectics
Sinektik merupakan salah satu model pembelajaran yang didis ain oleh Gord o n
y an g p ada das arnya diarahkan untuk mengembangkan kreativitas. Gordon
menggagas model sinektik dalam empat gagasan yang intinya menampilk an
p er ub ah an pandangan konvensional tentang kreativitas.

3. Kelompok Model Personal (The Personal Family Model)


Model personal dikembangkan dengan beberapa tujuan esensial; (1) untuk
mengarahkan perkembangan dan kesehatan mental dan emosional melalu i
pengembangan rasa percaya diri dan pandangan realistik tentang dirinya, dengan
membangun rasa empati dirinya terhadap orang lain, (2) mengembangkan keseimbangan proses
pendidikan beranjak dari kebutuhan dan aspirasi siswa sendiri, menempatkan siswa
sebagai partner di dalam menentukan apa yang ia pelajari dan bagaimana ia
mempelajarinya, (3) mengembangkan aspek-aspek khusus kemampuan berpikir kualitatif,
seperti kreativitas, ekspresi-ekspresi pribadi. Model personal pada dasarnya beranjak dari
pandangan tentang "kedirian" individu. Pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan
yang sengaja dilakukan agar seseorang dapat memahami diri sendiri secara mendalam,
memikul tanggung jawab sehingga memungkinkan mencapai kualitas kehidupan yang
lebih baik. Yang termasuk model ini adalah model pembelajaran tanpa arahan (non
directive teaching), dan model-model yang terarah pada peningkatan rasa'percaya diri.

a. Pembelajaran Tanpa Arahan


Model pembelajaran tanpa arahan adalah model yang berfokus pada upaya
memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Lingkungan belajar diorganisasi sedemikian rupa untuk
membantu siswa mengembangkan integritas kepribadian, meningkatkan efektivitas Berta
membantu merealisasikan harapan atau cita-cita siswa. Model ini didasari asumsi bahwa
siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap aktivitas belajamya, karena
keberhasilannya tergantung pada kemauan yang ada di dalam dirinya. Model ini pada
prinsipnya adalah meletakkan peranan guru untuk secara aktif membangun
kerjasama yang diperlukan dan memberikan bantuan yang dibutuhkan pada saat para
siswa mencoba memecahkan masalah.

b. Model pembelajaran untuk meningkatkan rasa percaya diri (Enhancing Self


Esteem)
T e r d a p a t b e b e r a p a m o d e l p e m b e l a j a r a n y a n g d a p a t dipergunakan guru
di dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa yang merupakan bagian dari model-
model personal. Winataputra (2005: 6) mengemukakan selain dari model
pembelajaran tanpa arahan sebagaimana dikemukakan sebelumnya, masih ada
beberapa model lain yang juga diarahkan untuk mendorong peningkatan integritas
kepribadian, terutama rasa percaya diri siswa, yaitu model sinektik sebagaimana telah
dibahas terdahulu, latihan kesadaran dan pertemuan kelas.

1). Model latihan kesadaran (Ewareness Training Models)


Model latihan kesadaran adalah model pembelajaran yang diarahkan untuk
memperluas kesadaran diri dan kemampuan untuk merasa dan berpikir. Model ini
berisikan rangkaian kegiatan yang dapat mendorong timbulnya refleksi hubungan
antar individu, citra diri atau "self immage", ekperimentasi dan penampilan diri.

2). Model pertemuan kelas (classroom meeting)


William Glas er mengadaptas i model kons eling untuk merancang
model ini dengan maksud membantu para pelajar memikul tanggung jawab atas
perilakunya dan tanggung jawab untuk lingkungan sosialnya sehingga
dapat digunakan dalam lingkungan kelas. Di dalam kelas, model ini
diwujudkan seperti layaknya rapat atau pertemuan di mana kelompok
bertanggung jawab untuk membangun sistem sosial yang sesuai untuk
melaksanakan tugastugas akademis dengan mempertimbangkan unsur
perbedaan perseorangan dengan tetap, menghargai tugas-tugas bersama dan
hakhak orang lain.

3).Kelompok Model-model Sistem Perilaku


Model pembelajaran behavioral pada mulanya dikembangkan pada
eksperimen terhadap kondisi yang bersifat klasikal oleh Pavlov, kemudian
dikembangkan oleh Thordike dalam bentuk sistem raward di dalam
pembelajaran. Model ini memusatkan perhatian pada perilaku yang
teramati (terobservasi). Beranjak dari psikologi behavioristik, model
mengajar kelompok ini mementingkan penciptaan sistem lingkungan belajar
yang memungkinkan manipulasi penguatan tingkah laku (reinforcement)
secara efektif sehingga terbentuk pola tingkah laku yang dikehendaki.
Terdapat beberapa bentuk model yang termasuk kelompok modl ini, yaitu; Belajar Tuntas
(Mastery Learning), Pengajaran Langsung (Direct instruction), Simulasi (Simulation),
Belajar Social
(Social Learning). Berikut diielaskan tiga model dari kelompok ini yang lazim dikembangkan
guru dalam proses pembelajaran.
a. Belajar Tuntas (Mastery Learning)di
Belajar tuntas menunjuk kepada sebuah kerangka Kerja untukmerencanakan urutan
pembelajaran yang pada awalnya digagas oleh John B. Carroll (1971) dan Benjamin Bloom
(1971).pada prinsipnya belajar tuntas adalah suatu aktivasi proses pembelajaran yang bertujuan agar
dapat dikuasai secara tuntas oleh siswa.

b. Pengajaran langsung (Direct Instruction)


Pembelajaran langsung merupakan suatu model pembelajaran dimana kegiatannya
terfokus pada aktivitas-aktivitas akademik. Sehingga di dalam implementasi
kegiatan pembelajaran guru melakukan kontrol yang ketat terhadap kemajuan
belajar siswa, pendayagunaan waktu serta iklim kelas yang dikontrol secara ketat
p u l a. P e mb er ia n a ra ha n d an ko nt ro l s ec ar a k et at di d al am pengembangan
model pembelajaran langsung ini terutama sekali dilakukan ketika guru menjelaskan
tentang tugas-tugas belajar, menjelaskan materi pelajaran.Tujuan utama model
pembelajaran langsung adalah untuk memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa
(Joyce, Weil dan Calhoun, 2000: 38). Sedangkan dampak pengajarannya adalah
tercapainya ketuntasan muatan akademik dan k e t e r a m p i l a n , m e n i n g k a t n y a m o t i v a s i
b e l a j a r s i s w a s e r t a meningkatnya kemampuan siswa.