Anda di halaman 1dari 31

Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu

Susongko

BAB I
PENDAHULUAN

Kemajuan suatu negara, bisa dilihat dari kemajuan negara tersebut dalam
mengaplikasi suatu teknologi yang dapat mensejahterakan kehudupan masyarakat
di negara tersebut. Banyak bidang yang mengaplikasi sebuah teknologi masa
depan yang membuat suatu negara menjadi maju. Salah satu bidang yang sangat
vital dalam kehidupan suatu negara adalah bidang kelistrikan.

Dari tahun ke tahun kemajuan teknlogi di bidang kelistrikan sangat signifikan dan
sangat bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satunya penggunaan penghantar
sebagai media transmisi. Yang sebelumnya Saluran Udara Tegangan Menengah
(SUTM) masih menggunakan 3 kawat fasa dengan isolatornya sebagai pegangan
di tiap tiangnya. Tetapi akhir-akhir ini sebuah SUTM menggunakan 3 kawat
berisolasi yang memungkinkan kawat yang satu dengan yang laiannya bisa
bersentuhan. Berbeda dengan 3 kawat sejajar yang mewajibkan kawat satu dengan
yang lainnya tidak boleh bersentuhan sama sekali. Dengan demikian efisiensi
tempat ataupun daerah yang di lewati sangat baik. Hal ini sangat mendukung
untuk daerah perkotaan yang padat aktivitasnya maupun bangunan-bangunan
tingginya.

Hal menarik dari sebuah teknologi di bidang kelistrikan yang lainnya adalah
bahan listrik yang pernah ditemukan yang akhir-akhir ini banyak disinggung
adalah superkonduktor. Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang
fisikawan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun
1911. Pada tanggal 10 Juli 1908, Onnes berhasil mencairkan helium dengan cara
mendinginkan hingga 4°K atau suhu – 269 °C. Kemudian pada tahun 1911, Onnes
mulai mempelajari sifat-sifat listrik dari logam pada suhu yang sangat dingin.
Pada waktu itu telah diketahui bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika
didinginkan dibawah suhu ruang, akan tetapi belum ada yang dapat mengetahui

1
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

berapa batas bawah hambatan yang dicapai ketika temperatur logam mendekati 0°
K atau nol mutlak.

Beberapa ahli ilmuwan pada waktu itu seperti William Kelvin memperkirakan
bahwa elektron yang mengalir dalam konduktor akan berhenti ketika suhu
mencapai nol mutlak. Dilain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes
memperkirakan bahwa hambatan akan menghilang pada keadaan tersebut. Untuk
mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes kemudian mengalirkan arus pada
kawat merkuri yang sangat murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil
menurunkan suhunya. Padasuhu 4,2 °K, Onnes terkejut ketika mendapatkan
bahwa hambatannya tiba-tiba menjadi hilang.

Dari sejarah superkonduktor diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa,


superkonduktor menupakan material yang dapat mengalirkan arus listrik tanpa
hambatan dibawah suatu nilai suhu tertentu.

1.1 Latar Belakang


Arus listrik yang mengalir dalam penghantar selalu mengalami tahanan dari
penghantar itu sendiri. Besarnya tahanan tergantung bahannya, dan besarnya
tahanan tiap meter dengan penampang 1 mm2 pada suhu 200°C dinamakan
tahanan jenis yang dihitung dengan persamaan :

R=ρl
A

Dimana :
R : Hambatan Penghantar (Ω)
ρ : Hambatan Jenis Penghantar (Ω.mm2/m)

l : Panjang Penghantar (m)


A : Luas Penampang Penghantar (mm2)

2
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Tahanan atau hambatan suatu penghantar dikatakan sebesar satu ohm apabila
perbedaan tegangan antara ujung –ujung penghantar sebesar satu volt dan arus
yang mengalir sebesar satu ampere.

Suatu penghantar yang menghantarkan arus listrik yang mempunyai hambatan,


akan menyebabakan rugi tegangan yang mempengaruhi daya listrik yang
tersalurkan ke beban-beban yang dituju. Hal inilah yang menyebabkan besar
tegangan yang terdistribusikan ke beban jauh lebih rendah dari tegangan sumber.
Karena antara tegangan dan hambatan pada jaringan distribusi, akan selalu
berkaitan dan mempengaruhi besar daya yang di terima pada beban.

V=iR
Dimana :
V : Tegangan (Volt)
I : Arus (Ampere)
R : Hambatan atau Tahanan (Ohm)

Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa, besar suatu tegangan listrik yang
diserap oleh beban melalui sebuah jaringan distribusi jaringan kabel listrik, selalu
dipengaruhi arus yang mengalir dalam penghantar tersebut dan hambatan yang
dihasilkan dari penghantar yang digunakan. Selanjutnya dari besar tegangan yang
diterima disisi beban akan mempengaruhi besar dayanya. Persamaannya seperti
dibawah ini.

P=VI
Dimana :
P : Daya (VA)
V : Tegangan (Volt)
I : Arus (Ampere)

3
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Dapat diketahui bahwa, antara hambatan penghantar, abesar arus yang mengalir
dalam penghantar, besar tegangan yang diterima pada sisi beban, akan selalu
mempengaruhi besar daya yang diterima.

Rugi tegangan pada saluran yang menyebabkan adanya jatuh tegangan (ΔV) dapat
dinyatakan dengan pesamaan di bawah ini :

ΔV = Vs – Vr

Dimana :
ΔV : Jatuh tegangan
Vs : Tegangan pengiriman dari sumber
Vr : Tegangan penerimaan disisi beban

Hal lain yang membuat kehandalan suatu sistem transmisi berkurang seperti yang
kita tahu adalah karena hambatan penghantar yang dipakai. Pada sistem transmisi
3 fasa, yang seperti kita tahu adalah tegangannya adalah bolak-balik, maka unutk
penghitungan besar rugi-rugi dayanya seperti persamaan berikut :

ΔPt = 3I2R

Dimana :
ΔPt : rugi – rugi total transmisi (Watt)
I : arus pada kawat transmisi (A)
R : tahanan kawat transmisi per fasa (Ohm)

Dari beberapa formula diatas, rugi – rugi tegangan maupun rugi – rugi daya pada
transmisi dapat di atasi dengan beberapa cara :
1. Memperkecil tahanan konduktor dengan jalan memperbesar luas
penampangnya. Tetapi dalam penambahan luas penampang suatu
penghantar pada transmisi selalu ada batasannya.

4
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

2. Perbaikan faktor daya beban yang dapat dilakukan dengan memasang


kapasitor kompensasi (shunt capasitor). Begitu juga dengan perbaikan
yang diperole harus ada batasannya pula.
3. Rugi – rugi transmisi berbanding lurus dengan besar tahanan knduktor dan
berbanding terbalik dengan kuadrat tengangan.

Faktor – faktor inilah yang salah satunya dapat menurunkan hambatan pada suatu
penghantar transmisi baik tegangan tinggi, tegangan menengah maupun tegangan
rendah.

1.2 Rumusan Masalah


Hal – hal yang menjadi permasalahan dalam penggunaan penghantar
konvensional yang sering digunakan ( penghantar tembaga maupun aluminium)
adalah :
1. Hambatan jenis suatu penhantar yang tidak disukai, karena dengan adanya
hambatan maka arus akan terbuang menjadi panas.
2. Dengan memperbesar diameter penghantar akan menyebabkan hambatan
pada suatu penghantar akan menurun. Tetapi dengan memperbesar
diameter penghantar, otomatis akan membuat masa penhantar tersebut
menjadi lebih berat dan dimensinyapun akan menjadi labih besar.

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
1. Agar masyarakat luas dapat mengenal perbandingan hambatan suatu
penghantar dengan penghantar yang lainnya.
2. Agar masyarakat luas dapat mengetahui dan memahami penyebab-
penyebab terjadinya rugi – rugi tegangan ataupun rugi – rugi daya yang
terjadi pada jaringan kabel.
3. Mengenalkan pada masyarakat tentang karakteristik bahan listrik
superkonduktor.

5
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Karena superkonduktor sampai saat ini masih terbatas penggunaannya
secara luas, hal ini memungkinkan persaingan para ahli fisikawan dunia
untuk berkompetisi menciptakan suatu penghantar yang mempunyai sifat
superkonduktor.
2. Sebagai sarana dokumentasi perbandingan bagi para teknisi tenaga listrik
untuk mempelajari dan memahami antara konduktor biasa dengan
superkonduktor.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Khusus
1. Dengan mengaplikasikan sebuah penghantar yang bersifat superknduktor
sebagai media transmisi pada jaringan listrik, hambatan yang tidak disukai
karena pengaruh hambatan jenis penghantar dapat dihindari.
2. Memungkinkan penggunaan penghantar superkonduktor dengan luas
penampang beberapa milimeter persegi, untuk menggantikan penghantar
yang sudah ada yang mempunyai luas penampang yang lebih besar.

1.4.2 Manfaat Ilmiah


1. Sebagai sarana kajian untuk meneliti dan mengembangkan bahan listrik
superkonduktor di masa yang akan datang.
2. Karena superkonduktor mempunyai prospek yang cerah sebagai
penghantar paling handal dalam menghantarkan listrik di masa yang akan
datang.

6
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Suhu Ktitis


Perubahan watak bahan dari keadaan normal ke keadaan superkonduktor dapat
dianalogikan misalnya dengan perubahan fase air dari keadaan cair ke keadaan
padat. Perubahan watak seperti ini sama-sama mempunyai suatu suhu transisi,
pada transisi superkonduktor suhu ini disebut sebagai suhu kritik Tc, pada transisi
fase ada yang disebut titik didih (dari fase cair ke gas) dan titik beku (dari fase
cair ke padat). Pada transisi feromagnetik suhu transisinya disebut suhu Curie.
Besaran fisis yang berkaitan dengan transisi superkonduktor adalah resistivitas
bahan, mari kita lihat grafik resistivitas sebagai fungsi suhu mutlak pada gambar
di bawah ini.

Gambar 2.1 Grafik resistifitas sebagai fungsi suhu mutlak

Pada suhu T > Tc bahan dikatakan berada dalam keadaan normal, ia memiliki
resistansi listrik. Transisi ke keadaan normal ini bukan selalu berarti menjadi
konduktor biasa yang baik, pada umumnya malah menjadi penghantar yang jelek,
bahkan ada yang ekstrim menjadi isolator! Untuk suhu T < Tc bahan berada
dalam keadaan superkonduktor. Di dalam eksperimen, pengukuran resistivitasnya
dilakukan dengan menginduksi suatu sampel bahan berbentuk cincin, ternyata
arus listrik yang terjadi dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Resistivitasnya

7
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

yang terukur tidak akan melebihi 10-25 ohm.meter, sehingga cukup beralasan bila
resistivitasnya dikatakan sama dengan nol.

Perkembangan bahan superkonduktor dari saat pertama kali ditemukan sampai


sekarang dapat diikuti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 Tabel jenis-jenis bahan sebagai bahan utama superkonduktor

Keluarga superkonduktor yang terdiri dari unsur-unsur tunggal yang dipelopori


oleh temuan Onnes, disebut superkonduktor tipe I atau superkonduktor
konvensional, ada kira-kira 27 jenis dari tipe ini. Suatu hal yang menarik, bahwa
unsur-unsur yang pada suhu kamar merupakan konduktor banyak diantara mereka
yang tidak memiliki sifat superkonduktor pada suhu rendah, contohnya tembaga,
perak dan golongan alkali.

Pada tahun 1960-an lahirlah keluarga superkonduktor tipe II, yang biasanya
berupa kombinasi unsur molybdenum (Mo), niobium (Nb), timah (Sn), vanadium
(V), germanium (Ge), indium (In) atau galium (Ga). Sebagian merupakan
senyawa, sebagian lagi merupakan larutan padatan. Sifatnya agak berbeda dengan
tipe I karena suhu kritiknya relatif lebih tinggi, sehingga tipe II ini sering disebut
superkonduktor yang alot. Semua alat yang telah menerapkan superkonduktor

8
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

dewasa ini menggunakan bahan tipe II ini, alasannya akan menjadi jelas
kemudian.

Pada tahun 1985 di laboratorium riset IBM di Zurich, A.Muller dan G.Bednorz
memulai era baru bagi ilmu bahan superkonduktor. Mereka menemukan bahwa
senyawa keramik tembaga oksida dapat memiliki sifat superkonduktor pada suhu
yang relatif tinggi, rekor suhu kritik yang saat ini sudah mencapai 125 K juga
dipegang oleh golongan ini. Perkembangan selanjutnya tampak agak seret, para
ahli sendiri masih meributkan ada tidaknya batas suhu kritik yang mungkin
dicapai. Ahli riset di Institut Teknologi California meramalkan bahwa suhu kritik
superkonduktivitas tidak akan pernah melampaui 250 K, jadi masih cukup jauh di
bawah suhu kamar. Apakah benar demikian, kita tunggu saja hasil-hasil penelitian
berikutnya.

2.2 Medan Magnet Kritis


Tinggi rendahnya suhu transisi Tc dipengaruhi banyak faktor. Seperti tekanan
yang dapat menurunkan titik beku air, suhu kritik superkonduktor juga bisa turun
dengan hadirnya medan magnet yang cukup kuat. Kuat medan magnet yang
menentukan harga Tc ini disebut medan kritik (Hc). Kita lihat grafik
ketergantungan Tc terhadap kuat medan magnet pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 Grafik ketergantungan Tc terhadap medan magnet

9
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Walaupun Pb bersuhu kritik normal (tanpa medan magnet) 7,2 K, apabila ia


dikenai medan H = 4,8.104 A/m misalnya, suhu kritiknya turun menjadi 4 K.
Artinya dengan medan sbesar itu pada suhu 5 K pun Pb masih bersifat normal.
Medan kritiknya ini dapat dinyatakan dengan persamaan :

Hc(T) = Hc (0) [ 1 - (T/Tc)2 ]

Hc (0) adalah harga maksimum Hc yaitu harga pada suhu 0 K. Medan kritik ini
tidak harus berasal dari luar, tapi juga bisa ditimbulkan oleh medan internal, yaitu
jika ia diberi aliran arus listrik. Untuk superkonduktor berbentuk kawat beradius r,
arus kritiknya dinyatakan oleh aturan Silsbee :

Ic = 2 p . r . Hc

Jadi pada suhu tertentu ( T < Tc ) , bahan superkonduktor memiliki ketahanan


yang terbatas terhadap medan magnet dari luar dan arus listrik yang bisa
diangkutnya. Kalau harga-harga kritik ini dilampaui, sifat superkonduktor bahan
akan lenyap dengan sendirinya. Ambil contoh untuk kawat Pb beradius 1 mm
pada suhu 4 K, agar ia tetap bersifat superkonduktor ia tidak boleh menerima
medan magnet lebih besar dari 48000 A/m atau mengangkut arus listrik lebih dari
300 A. Pada ukuran dan suhu yang sama Nb3Sn mampu mengangkut 12500 A,
oleh sebab itulah secara teknis superkonduktor tipe II lebih baik pakai.

Sebagai perbandingan YBCO pada suhu 77 K dapat mengangkut arus sebesar 530
A, cukup lumayan! Naiknya suhu operasi mempunyai nilai ekonomis, karena
biaya pendinginan menjadi lebih murah dibandingkan helium cair (untuk menjaga
suhu 4 K). Satu liter He harganya US$ 4 (Rp.7000) sedangkan satu liter N2 cuma
25 cent (Rp.450), padahal dalam prakteknya penguapan 1 liter N2 setara dengan
penguapan 25 liter He.

10
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

2.3 Effek Meissner


Sifat kemagnetan superkonduktor diamati oleh Meissner dan Ochsenfeld pada
tahun 1933, ternyata superkonduktor berkelakuan seperti bahan
diamagnetiksempurna, ia menolak medan magnet sehingga ia pun dapat
mengambang di atas sebuah magnet tetap. Jadi kerentanan magnetnya
(susceptibility) c = -1, bandingkan dengan konduktor biasa yang c = -10-5.
Fenomena ini disebut efek Meissner yang tersohor itu.

Jadi satu keunggulan lagi bagi superkonduktor terhadap konduktor biasa. Ia tidak
saja menjadi perisai terhadap medan listrik, tapi juga terhadap medan magnet,
artinya medan listik dan magnet sama dengan nol di dalam bahan superkonduktor.

Tetapi pada tahun 1935 London bersaudara melalui penelitian sifat elektrodinamik
superkonduktor mendapatkan bahwa intensitas medan magnet masih dapat
menembus bahan superkonduktor walaupun hanya sebatas permukaan saja,
ordenya hanya beberapa ratus angstrom. Sifat rembesan ini dinyatakan oleh
parameter l yang disebut kedalaman rembesan London. Medan magnet ternyata
berkurang secara eksponensial terhadap kedalaman sesuai dengannya.

B (x) = Bo exp -(x / l )

Bo adalah medan di luar dan x adalah kedalamannya. l membesar dengan naiknya


suhu, di Tc harga l tak berhingga besar, sehingga medan magnet mampu
menerobos ke seluruh bagian bahan tersebut atau dengan perkataan lain sifat
superkonduktor telah hilang digantikan dengan keadaan normalnya.

Teori London ini juga memberikan kesimpulan bahwa dalam bahan


superkonduktor arus listrik akan mengalir di bagian permukaannya saja. Hal ini
berbeda dengan arus listrik dalam konduktor biasa yang mengalir secara merata di
seluruh bagian konduktor.

Perbandingan sifat magnetik pada keadaan normal, superkonduktor tipe I dan

11
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

tipe II adalah seperti pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Grafik perbandingan sifat magnetik pada keadaan normal

Pada tipe ii terdapat daerah peralihan yaitu antara Hcl dan Hc , pada saat itu
struktur bahan terjadi dari daerah normal yang berupa silinder-silinder kecil,
disebut fluksoid karena bisa diterobos fluks magnet, yang dikelilingi sepenuhnya
oleh daerah superkonduktor.

2.4 Teori BCS


Teori tentang superkonduktor yang lebih terinci melibatkan mekanika kuantum
yang dalam, diajukan oleh Barden, Cooper dan Schrieffer pada tahun 1975
dikenal sebagai teori BCS yang akhirnya memenangkan hadiah Nobel pada tahun
1972.

Dalam teori ini dikatakan bahwa elektron-elektron dalam superkonduktor selalu


dalam keadaan berpasang-pasangan dan seluruhnya berada dalam keadaan
kuantum yang sama, pasangan-pasangan ini disebut pasangan Cooper.

Kita bandingkan dengan elektron konduksi dalam konduktor biasa. Di sini


elektron bergerak sendiri-sendiri dan akan kehilangan sebagian energinya jika ia
terhambur oleh kotoran (impurities) atau oleh phonon, phonon adalah kuantum

12
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

energi getaran kerangka (lattice) kristal bahan. Elektron tersebut akan


menimbulkan distorsi terhadap kerangka kristal sehingga menimbulkan daerah
tarikan. Tarikan ini dalam superkonduktor pada suhu rendah bisa mengalahkan
tolakan Coulomb antar elektron, sehingga dengan ukar menukar phonon dua
elektron justru akan membentuk ikatan menjadi pasangan Cooper. Oleh karena
keadaan kuantum mereka semuanya sama, suatu elektron tidak dapat terhambur
tanpa mengganggu pasangannya, padahal pada suhu T < Tc getaran kerangka
tidak memiliki cukup energi untuk mematahkan ikatan pasangan tersebut.
Akibatnya mereka tahan terhadap hamburan, jadilah bahan tersebut
superkonduktor.

13
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

BAB III
METODE PENULISAN

Penulisan paper ini dilakukan dengan cara pengumpulan bahan-bahan materi dari
berbagai sumber yang sudah ada. Sumber-sumber materi tersebut atara lain dari
referensi buku-buku yang terkait dan dari pencarian materi di internet.

Pencarian bahan-bahan materi dari sumber-sumber terkait dilakukan antara bulan


Mei – Juni 2009.

14
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Perbandingan Superkonduktor dengan Konduktor biasa


Hal-hal yang menjadi permasalahan dalam penggunaan penghantar konvensional
yang sering digunakan ( penghantar tembaga maupun aluminium) adalah :
1. Hambatan jenis suatu penhantar yang tidak disukai, karena dengan adanya
hambatan maka arus akan terbuang menjadi panas.
2. Dengan memperbesar diameter penghantar akan menyebabkan hambatan
pada suatu penghantar akan menurun. Tetapi dengan memperbesar
diameter penghantar, otomatis akan membuat masa penhantar tersebut
menjadi lebih berat dan dimensinyapun akan menjadi labih besar

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa, penghantar konvensioanal yang sampai
saat ini masih diaplikasikan, khususnya tembaga dan aluminium, masih
mempunyai hambatan jenis yang bisa menyebabkan kerugian daya.
Sebagai contoh :
Bahan Aluminium.
Aluminium murni mempunyai massa jenis 2,7 g/cm3, ? -nya 1,4. 105, titik leleh
6580C dan tidak korosif. Daya hantar aluminium sebesar 35 m/ohm.mm2 atau
kira-kira 61, 4 % daya hantar tembaga. Aluminium murni dibentuik karena lunak,
kekuatan tariknya hanya 9 kg/mm2. Untuk itu jika aluminium digunakan sebagai
penghantar yang dimensinya cukup besar, selalu diperkuat dengan baja atau
paduan aluminium. Penggunaan yang demikian mis alnya pada : ACSR
(Aluminium Conductor Steel Reinforced), ACAR (Aluminium Conductor Alloy
Reinforced).

Bahan Tembaga
Tembaga mempunyai daya hantar listrik yang tinggi yaitu 57 ? mm2/m pada suhu
200C. Koefisien suhu (? ) tembaga 0,004 per 0C. Kurva resistivitas tembaga

15
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

terhadap suhu adalah tidak linier seperti yang ditunjukan pada gambar dibawah
ini:

Gambar 4.1 Kurva resistivitas tembaga terhadap suhu

Dari kedua contoh diatas dapat dilihat bahwa, kedua jenis bahan penghantar
tersebut masih mempunyai hambatan jenis. Besar hambatan jenis suatu bahan
penghantar, akan mempengaruhi dari pada tegangan maupun daya yang
dikirimkannya dari sisi sumber ke sisi beban. Karena semakin besar hambatan
jenis dari bahan penghantar tersebut, maka semakin berkurang kemampuan daya
hantar dari penghantar tersebut.

Grafik Perbandingan Hambatan Penghantar

0.1

0.08

0.06 aluminium
tembaga
0.04
superkonduktor
0.02

0
aluminium tembaga super.k

Gambar 4.2 Gambar Perbandingan Hambatan Penghantar

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa, hambatan penghantar yang sampai saat ini
masih digunakan dalam transmisi maupun distribusi instalasi listrik, baik tegangan

16
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

tinggi, tegangan menengah maupun tegangan rendah yaitu aluminium dan


tembaga, tetap saja mempunyai hambatan jenis. Berbeda dengan bahan
superkonduktor yang nyaris tanpa hambatan dalam menghantarkan arus listrik

Di bawah ini contoh dari berbagai macam hambatan jenis logam yang salah
satunya digunakan sebagai bahan utama dari penghantar.

Tabel 4.1 Tabel bahan-bahan utama penghantar

Apabila sebuah transmisi pendistribusian jaringan listrik menggunakan bahan


superkonduktor, maka kerugian drop tegangan dan drop daya dapat dihindari.
Mengapa bisa demikian? Karena bahan superkonduktor dapat menghantarkan arus
listrik tanpa hambatan dibawah suatu nilai suhu tertentu. Artinya, bahan
superkonduktor apabila sudah mencapai nilai suhu kritisnya, hambatan jenis
bahan tersebut akan menurun atau bahkan hilang sama sekali. Tetapi apabila suhu
dari bahan superkonduktor tersebut sudah diatas nilai suhu kritisnya ataupun

17
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

diatas kuat medan magnetnya, maka secara otomatis bahan tesebut akan menjadi
konduktor biasa.

Gambar 4.3 grafik medan magnet superkonduktor lebih kecil dari medan kritis

Perkembangan bahan superkonduktor dari saat pertama kali ditemukan sampai


sekarang dapat diikuti pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2 Tabel bahan-bahan utama superkonduktor

4.2 Superkonduktor Keramik

18
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Bahan superkonduktor suhu tinggi yang memiliki bahan dasar keramik secara
teoritis belum dapat dijelaskan tuntas. Ia tidak bisa digolongkan ke dalam tipe I
maupun II karena ada beberapa sifatnya yang unik.

Bentuk kristalnya termasuk golongan perovskite, suatu bentuk kristal kubus yang
cukup populer. Rumus umum molekul perovskite adalah ABX3 , dimana A dan B
adalah kaiton logam dan X adalah anion non logam. Banyak bahan elektronis
yang memiliki bentuk perovskite ini, misalnya PbTiO3 dan PbZrO3 yang bersifat
piezoelektrik kuat sehingga baik digunakan untuk pressure-gauge.

Superkonduktor suhu tinggi ini ternyata berupa perovskite yang cacat. Misalnya
YBCO yang ditemukan oleh Chu Chingwu cs. dari Universitas Houston berbentuk
3 kubus perovskite dengan rumus molekul YBa2Cu3O6,5 , yang menunjukkan
defisiensi atom oksigen sebagai anionnya (mestinya ada 9 atom). Nama lain untuk
YBCO ini adalah 1-2-3, menunjukkan perbandingan cacah atom Y, Ba dan Cu di
dalam kristalnya. Atom-atom tembaganya terletak pada suatu lapisan inilah arus
listrik lewat dalam bahan YBCO. Struktur yang demikian memiliki andil yang
besar bagi sifat superkonduktivitas suhu tinggi, terbukti senyawa barium-kalium-
bismuth-oksida buatan AT & T Bell Laboratoies (1988) cuma memiliki Tc = 30 K,
senyawa ini tentu saja tidak memiliki atom tembaga sebagai lapisan penghantar
elektron.

Elektron-elektron juga dalam keadaan berpasangan, hal ini telah dibuktikan


dengan dijumpainya flukson yang merembes di dalamnya. Flukson adalah
kuantum fluks magnetik dalam superkonduktor, besarnya kira-kira 2 x 10-15
weber, dalam perhitungan besarnya ini bersesuaian dengan kehadiran partikel
bermuatan listrik dua kali muatan elektron.

Watak-wataknya yang masih perlu penjelasan teoritis adalah tarikan antar


elektron
dalam pasangan Cooper yang ternyata masih cukup kuat walaupun suhu
transisinya tinggi. Padahal suhu yang tinggi menyebabkan bertambahnya cacah

19
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

phonon, sehingga ikatan elektron itu seharusnya akan hancur karenanya. dalam
kaitan ini peranan kerangka kristal harus kembali dipertanyakan. Mungkin saja
kotoran di dalamnya yang justru mampu meredam interaksi phonon atau
gangguan-gangguan lain termasuk medan magnet yang besar agar ia tetap stabil
sebagai superkonduktor.
Sifat lain yang tidak menguntungkan dari YBCO adalah mudahnya ia melepaskan
oksigen ke lingkungannya, padahal dengan berkurangnya atom oksigen sifat
superkonduktornya akan hilang. Lagi pula ia terlalu rapuh untuk dibentuk menjadi
kawat.

Lebih jauh lagi Philip W. Anderson (pemenang hadiah Nobel 1977 bidang Fisika)
mengemukakan peranan besaran spin dalam fenomena superkonduktor suhu
tinggi ini, pernyataan ini telah didukung oleh data percobaan MIT oleh RJ
Birgeneau.

4.3 Aplikasi Superkonduktor


Memang sampai saat ini aplikasi superkonduktor masih belum diproduksi dan di
aplikasi secara luas, tetapi masih pada tahap penelitian. Karena superkonduktor
sampai saat ini masih membutuhkan pendinginan agar mencapai suhu kritis dari
bahan tersebut. Dari penelitian para ahli tentang superkonduktor yang sudah
dilakukan, ada beberapa yang sudah digunakan secara permanen dan ada pula
yang masih dalam pengembangan pada laboratorium-laboratorium tertentu.

4.3.1 Efisiensi dan Desain yang Dinamis


Manfaat yang terbesar dengan ditemukannya bahan superkonduktor adalah jelas
terasa pada bidang kelistrikan. Andai saja jika pada generatr konvensional
efisiensinya terletak antara 98,5 sampai 99,0 persen, maka pada pada generator
superkonduktor efisiensinya mencapai 99,6 persen. Peningkatan yang cukup
signifikan ini disebabkan karena superkonduktor dapat menghasilkan medan
magnet yang sangat kuat.

20
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Misalkan ada konduktor berupa kabel sepanjang 1000 km dipakai untuk


menyalurkan daya listrik sebesar 100 watt dari ujung yang satu ke ujung yang
lain, maka resistensi kabel itu akan mengkorupsi sebagian daya yang
disalurkannya, akibatnya di ujung kabel itu daya yang sampai tidak sampai 100
watt, mungkin hanya 90 watt atau bahkan hanya 10 watt. Nah superkonduktor
diharapkan memiliki resistensi yang kecil sehingga bila menggunakan kabel
dengan bahan tersebut diujung kabel kita masih mendapat daya sebesar 100 watt.
Manfaat lainnya, penggunaan superkonduktor memungkinkan pembuatan
generator listrik dengan ukuran yang jauh lebih kecildibandingkan dengan ukuran
genaratr konvensional yang masih menggunakan kawat tembaga. Dari segi berat,
generator konvensional 500 MW dari bahan konduktor mempunyai berat hingga
400 ton, sementara dengan menggunakan bahan superknduktor beratnya hanya
210 ton.

Tak heran desain yang ramping dan dinamis dengan berat lebih ringan ini
menyebabkan banyak oerusahaan yang mempelajari dan memproduksi generator
berbahan superkonduktr. Antara lain, Westinghouse serta EPRI (Electric Power
Research Institute) bekerja sama membuat generator terpasang 300 MVA,
Electric de France (EdF) di Perancis juga sedang mempelajari desain generator
superkonduktor 600 MW, sedangkan Central Electric Research Laboratory di
Inggris mempelajari desai generator superkonduktor 500 MW.

Manfaat lain yang tidak kalah pentingnya dari bahan superkonduktor adalah
peluang menggunakan kawat superkonduktor dalam sistem transmisi tenaga
listrik. Brookaven National Laboratory telah menguji saluran transmisi
sepanjang115,5 meter dengan tegangan 138 kV sejak tahun 1982. bahkan untuk
transmisi listrik, pemerintah Amerika Serikat dan Jepang berencana
memanfaatkan kabel superkonduktor berpendingin netrogen cair sebagai
pengganti kabel bawah tanah yang terbuat dari tembaga. Penggantian ini dapat
menaikkan efisiensi sebesar 7.000 persen dari segi tempat, karena 18.000 pon
kabel tembaga dapat digantikan oleh 250 pon kabel superkonduktor. Arus yang
ditransmisikan dengan kabel superkonduktor jauh lebih besar

21
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

4.3.2 Penyimpan Energi Listrik


Banyak cara yang dilakukan untuk menyimpan energi listrik. Salah satunya
adalah dengan cara elektrokimia yang menggunakan bantuan baterai. Teknik ini
memungkinkan penyimpanan energi listrik secara efisien antara 50 hingga 90
persen.

Cara lain yang juga bisa dilakukan adalah memaksimalkan penggunaan


superkonduktor. Superkonduktor bisa digunakan sebagai alat penyimpan energi
listrik atau sering disebut dengan nama Superconducting Magnetic Energy
Storage (SMES). Efisiensi penyimpanan denga teknolgi ini mencapai 95 persen.
Meski penyimpanan dengan sistem SMES untuk kondisi saat ini masih dinilai
mahal, namun dengan penemuan superkonduktr suhu tinggi diharapakan
persoalan biaya tersebut dapat diturunkan.

SMES biasanya dipakai antara lain untuk stabilisasi frekuensi dan tegangan serta
unutk peredaman osilasi dalam sistem penyediaan tenaga listrik. Dengan demikian
apabila dalam sistem pembangkit energi terdapat kelebihan daya, maka kelebihan
daya tersebut dapat disimpan dengan teknik SMES ini.

Banyak sudah negara-negara maju yang menggunakan teknik penstabilan listrik


ini dengan menggunakan bantuan superkonduktor. American Superconductor
Corporation, sebuh perusahaan ketenagalistrikan di AS, telah diminta untuk
memasang satu sistem penstabil listrik yang diberi nama Distributed
Superconducting Magnetic Energy Storage System (D-SMES). Satu unit D-SMES
dapat menyimpan energi listrik sebesar 3 juta Watt yang dapat digunakan unutk
menstabilkan listrik apabila terjadi gangguan. Juga di Jepang yang memulai suatu
percobaan untuk membuat SMES dengan ukuran 100 kWh.

4.3.3 Elektromagnet
Karena konduktor tidak mempunyai kerugian yang disebabkan resistansi, maka
dimungkinkan membuat selenoide dengan super konduktor tanpa kerugian yang

22
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

menimbulkan panas. Selenoide dengan arus yang sangat kecil pada medan magnet
nol untuk kawat yang digunakan memungkinkan membangkitkan sebuah medan
magnet tipis dari lilitan. Karena dengan bahan super konduktor memungkinkan
membuat elektromagnet yang kuat dengan ukuran yang kecil. Aplikasi dari
elektromagnet dengan super konduktor antara lain : komponen Magneto Hidro
Dinamik.
4.3.4 Elemen Penghubung
Karena super konduktor mempunyai Hc dan Tc, maka dalam pemakaian super
konduktor sebagai elemen penghubung dapat menggunakan pengaruh salah satu
besaran di atas. Artinya suatu gawai penghubung yang menggunakan super
konduktor akan dapat berubah sifatnya dari super konduktor menjadi konduktor
biasa karena pengubahan suhu atau medan magnet di atas nilai kritisnya. Pemutus
arus yang bekerja dipengaruhi oleh magnetik dielektrik Cryotron, misalnya
digunakan pada pemutus komputer.

4.3.5 Bidang Transportasi


Penggunaan superkonduktor dibidang transportasi memanfaatkan efek Meissner,
yaitu pengangkatan magnet oleh superkonduktor. Hal ini diterapkan pada kereta
api supercepat di Jepang yang diberi nama The Yamanashi MLX01 MagLev train.
Kereta api ini melayang diatas magnet superkonduktor. Dengan melayang, maka
gesekan antara roda dengan rel dapat dihilangkan dan akibatnya kereta dapat
berjalan dengan sangat cepat, 343 mph atau sekitar 550 km/jam.

Kereta terbang? Kereta api yang begitu berat dan panjang bisa terbang? Apa
mungkin?

23
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Kenapa tidak? Pesawat saja bisa terbang, bahkan mobil-mobil terbang pun kini
sedang dikembangkan teknologinya. Sekarang giliran alat transportasi lain yang
ikut-ikutan bosan menyentuh daratan sebagai landasannya. Tetapi kereta api yang
bisa terbang ini memiliki konsep dan teknologi yang sangat jauh berbeda dengan
pesawat terbang dan mobil terbang. Ini karena pesawat terbang menjelajahi
angkasa pada ketinggian yang sangat besar dan melibatkan konsep-konsep
aerodinamika. Kereta api terbang yang dikenal sebagai Magnetically Levitated
Train (Maglev Train) ini hanya akan melayang setinggi beberapa sentimeter di
atas rel kereta. Hanya beberapa sentimeter, tetapi kereta itu benarbenar terbang
karena sama sekali tidak bersentuhan dengan rel kereta. Kereta ini juga tidak akan
memiliki sayap seperti pesawat terbang (dalam aerodinamika, sayap merupakan
bagian paling penting untuk terbang). Dan selain bisa terbang, kereta ini juga bisa
meluncur dengan kecepatan sangat tinggi.

Sesuai dari namanya: Magnetically Levitated Train. Ini berarti kereta bisa
terangkat karena adanya gaya-gaya magnet. Kita tahu bahwa magnet itu memiliki
dua kutub, Utara (U) dan Selatan (S). Kita juga tahu bahwa kutub Utara dan kutub
Selatan selalu tarik-menarik, sedangkan kutub-kutub sejenis (Utara dengan Utara
atau Selatan dengan Selatan) selalu tolak-menolak. Prinsip dasar yang sederhana
inilah yang diaplikasikan untuk menjalankan dan ‘menerbangkan’ Maglev Train.

24
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

Kereta api ini memiliki rel (lintasan) kereta yang berbeda dengan rel kereta yang
sudah kita kenal selama ini. Pada kedua sisi lintasan Rel kereta terbang ini
terdapat dinding-dinding yang dilengkapi dengan kumparan-kumparan kawat.
Oleh prinsip induksi elektromagnet, kumparan-kumparan kawat ini dapat menjadi
magnet. Kereta bisa bergerak maju karena adanya interaksi antara magnet-magnet
pada dinding-dinding itu dengan magnet-magnet pada kereta (Gambar 2).

Pada Gambar 2-A kita bisa melihat jajaran magnet di sepanjang dinding dan di
sepanjang kereta (huruf-huruf U menunjukkan kutub Utara, dan S menunjukkan
kutub Selatan). Jajaran magnet di sepanjang dinding ini dihasilkan oleh arus listrik
bolak-balik dari stasiun-stasiun terdekat. Kutub Utara (U) di gerbong kereta
paling depan ditarik oleh kutub Selatan dan ditolak oleh kutub Utara dinding
lintasan. Hal yang sama terjadi pada sisi kereta yang lain. Pada gambar, panah
berwarna hijau menunjukkan gaya tarik antara kutub Utara dan Selatan yang
menarik maju kereta. Panah kecil berwarna biru menunjukkan gaya tolak antar
kutub sejenis (Utara dengan Utara, Selatan dengan Selatan). Gaya tarik dan gaya
tolak yang bekerja bersamaan ini membuat kereta bergerak maju dengan mulus.
Tetapi ini baru prinsip yang digunakan untuk bergerak maju. Apa prinsip yang
digunakan untuk mengangkat kereta sehingga bisa ‘terbang’?

Prinsipnya tetap sama! Gaya tarik dan gaya tolak kutub-kutub magnet! Pada
Gambar 1-B kita melihat adanya magnet pada dinding lintasan. Magnet ini
dihasilkan oleh induksi elektromagnet akibat gerakan kereta. Ketika posisi kereta
beberapa sentimeter dibawah pusat magnet dinding ini, maka kutub Selatan
dinding akan menarik kereta ke atas dan kutub Utaranya akan mendorong kereta

25
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

juga ke atas. Gaya tarik dan gaya dorong ini membuat kereta melayang , tidak
menyentuh rel sama sekali.

Dinding yang memagari lintasan kereta ini tidak hanya berfungsi untuk menarik
dan mendorong kereta supaya bergerak maju dan mengangkat kereta sehingga
bisa melayang. Ada satu fungsi lainnya yang tidak kalah pentingnya, yaitu sebagai
pengendali arah laju kereta (guidance). Maksudnya adalah supaya kereta tidak
pernah keluar jalur dan tetap berada di tengah-tengah lintasan setiap saat. Prinsip
magnet kembali digunakan sebagai pengendali. Ketika kereta oleng ke kiri,
gerakan kereta ini mengakibatkan kumparan kawat dinding kiri dan kanan
menjadi magnet. Magnet pada dinding kiri dan dinding kanan diusahakan
memiliki kutub yang sama, misalnya kutub Utara. Misalnya gerbong kereta yang
berhadapan dengan dinding di sisi kiri memiliki kutub Utara juga, dan gerbong
kereta yang berhadapan dengan dinding di sisi kanan memiliki kutub Selatan.
Pada sisi kiri akan terjadi tolak-menolak antara kutub Utara dari dinding dan
kutub Utara gerbong kereta. Pada sisi kanan terjadi tarik-menarik antara kutub
Utara dinding dan kutub Selatan kereta. Gaya-gaya ini akan mengembalikan
kereta pada posisi sebelum oleng. Demikian juga jika kereta oleng ke kanan,
kereta akan dikembalikan ke posisi semula oleh gaya magnet ini. Jadi gaya
magnet ini akan mempertahankan kereta supaya tetap berada di lintasannya (stabil
di tengah-tengah lintasan), tidak akan keluar jalur.

Kereta api Maglev yang super cepat ini juga memiliki kelebihan lain yang sudah
pasti tidak dimiliki oleh kereta api lainnya. Satu hal yang selalu menjadi ciri khas
kereta api adalah suaranya. Kereta api selalu menghasilkan suara ribut dan bising
yang mengganggu telinga. Kereta Maglev justru hampir tidak bersuara sama
sekali! Ini karena kereta tidak bersentuhan (tidak mengalami gesekan) dengan
permukaan apa pun sehingga tidak ada suara yang tercipta akibat gesekan.
Teknologi kereta terbang ini semakin maju dengan aplikasi konsep
superkonduktor. Bahan superkonduktor ini dapat menolak medan magnet. Ini
berarti magnet yang diletakkan di atas bahan superkonduktor akan melayang

26
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

(terbang) karena tidak bisa mendekati bahan superkonduktor itu (mengalami gaya
tolak).

Dari penemuan-penemuan yang telah dicapai, begitu banyak manfaat yang dapat
diraih dari penggunaan superkonduktor. Dari beberapa uji coba hingga saat ini,
menimbulkan banyak harapan, bahwa kelak di kemudian hari, superkonduktor
suhu tinggi akan mewarnai peralatan-peralatan maupun prduk-produk kelistrikan
mutakhir yang memberikan berbagai keuntungan. Yang pasti, dengan kehadiran
alat-alat listrik superkonduktor sangat mengefisienkan konsumsi energi listrik
yang demikian tinggi. Penghematan yang sangat luar biasa dalam pemakaian
energi listrik ini jelas mengurangi biaya yang harus dikeluarkan.

Sungguh merupakan sebuah tantangan besar bagi para ahli dari berbagai bidang
untuk memahami lebih jauh fenomena superkonduktor jenis baru ini. Tampaknya
bahan ini akan semakin merajai teknologi pada masa yang akan datang, yaitu abad
XXI.

27
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Dari uraian yang telah dibahas di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahan superkonduktor adalah suatu material yang dapat menghantarkan
arus listrik tanpa hambatan di bawah suatu nilai suhu tertentu.
2. Suhu kritis suatu bahan superkonduktor adalah suhu dimana terjadi
perubahan sifat konduktifitas dari konduktor biasa menjadi
superkonduktor.
3. Superkonduktor dapat hilang sifat konduktifitasnya, apabila suhunya
diatas suhu kritisnya dan medannya diatas medan magnetnya.
4. suhu kritis tertinggi suatu bahan superkonduktor yang pernah ditemukan
adalah 18,1 ° K, untuk senyawa Nb3Sn.
5. Beberapa hasil penelitian yang pernah tercatat diantaranya
a) Logam – logam menovalen adalah bukan superkonduktor.

28
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

b) Logam – logam ferromagnetik dan anti ferromagnetik adalah


bukan superkonduktor.
c) Konduktor yang baik pada suhu kamar adalah bukan
superkonduktor dan logam superkonduktor sebagai logam normal
adalah bukan konduktor yang baik pada suhu kamar.
d) Film tipis dari Be, Bi dan Fe adalah menunjukkan sebagai
superkonduktor.
e) Bismut, Pb dan Te menjadi superkonduktor jika mendapat tekanan
yang tinggi
6. Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli kimia maupun
fisikawan, jenis superkonduktor dibagi menjadi dua yaitu :
a) Superkonduktor jenis I. Super konduktor jenis I termasuk, Pb, Ag
dan Sn. Superkonduktor jenis ini dapat menyalurkan arus sampai
kedalaman 104mm pada medan magnet hingga setinggi-tingginya
adalah kuat medan magnet Nb dan paduan Pb. Pada saat konduktor
ini menghantarkan arus, tetap akan menimbulkan medan magnet
dan tanpa menimbulkan kerugian daya, karena medan listriknya di
semua tempat.
b) Superkonduktor jenis II. Superkonduktor jenis II, jika medan
magnetnya mencapai suhu kritis dan suhu kritisnya relatif, maka
keadaan superkonduktor tidak langsung menjadi konduktor
normal, tetapi menjadi bahan yang merupakan peralihan atau
kondisi dari superkonduktor menjadi konduktor normal. Pada saat
superkonduktor jenis II menghantarkan arus, akan menimbulkan
kerugian yang sangat kecil nilainya dan dapat diabaikan.

5.2 Saran
Karena sampai saat ini bahan Superkonduktor masih sebatas penelitian, dan hanya
beberapa perusahaan besar dunia saja yang melakukan penelitian, banyak
masyarakat yang belum memahami ataupun bahkan tidak tahu apa itu
superkonduktor. Mungkin sebagai generasi muda dan para praktisi teknik elektro
dapat melakukan penelitian dan pengembangan tentang bahan-bahan listrik,

29
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

khusunya sebagai bahan utama konduktor. Agar dikemudian hari kita bisa
menciptakan bahan listrik yang mempunyai sifat superkonduktor asli ciptaan anak
negeri.

BAB VI
PENUTUP

Demikianlah akhir dari paper yang saya susun, sebagai tugas akhir dari mata
kuliah bahan listrik. Saya mengambil tema tentang bahasan Superkonduktor.
Karena bahan superkonduktor mempunyai prospek cerah sebagai pengganti
penghantar transmisi maupun distribusi jaringan tenaga listrik. Dengan
menggunakan bahan superkonduktor, diharapkan tidak terjadi penurunan ataupun
kerugian energi selama transmisi dari sisi sumber menuju sisi beban.
Superkonduktor merupakan saru-satunya solusi yang tepat untuk menghindari
rugi tegangan pada media transmisi. Pada abad 21 ini, superkonduktor akan
menjadi sangat populer diberbagai bidang.

Mungkin dari cara penyusunan paper yang saya lakukan ini masih belum
mencapai kesempurnaan. Kalau ada data-data ataupun penyajian data yang masih

30
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009
Bahan Listrik Super Konduktor… Wahyu
Susongko

belum relevan dengan yang terjadi di lapangan, mohon kritik membangun untuk
menjadikan kesempurnaan dari paper yang saya buat ini. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Pikatan, Sugata. Mengenal Super Konduktor. Majalah Kristal. Juli 1989.
[2] Drs. Muhaimin. Bahan-bahan Listrik untuk Politeknik. Pradnya Paramita,
Januari 1993.
[3] Bonggas L. Tobing. Dasar Teknik Pengujian Tegangan Tinggi. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta 2003.
[4] Bonggas L. Tobing. Peralatan Tegangan Tinggi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta 2003.
[5] Depdiknas. Modul Pembelajaran : Ilmu Bahan Listrik. Depdiknas 2003.
[6] Akhadi, Mukhlis. Memanfaatkan Superkonduktor. Majalah Indonesia Power.
2004.
[7] Internet. http\\www.google.id\ilmu_elektronika. Mei 2009

31
Mata Kuliah Bahan Listrik Juni
2009