I.

TATA GUNA LAHAN WILAYAH/KOTA
Menurut Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional , tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi pemukiman, perdagangan, industri, dan lain-lain. Tata guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan lingkungan karena keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi/lindung merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Di samping itu, pengembangan tata guna lahan yang sesuai akan meningkatkan perekonomian suatu kota atau wilayah. Perubahan tata guna lahan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi dalam proses penetapan kebijakan, perencanaan, dan pengambilan keputusan yang ada dalam suatu wilayah/kota. Hal tersebut terjadi karena perubahan yang ada memiliki kaitan erat dengan permasalahan dan peluang yang muncul pada suatu komunitas wilayah/kota yang terkait pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, permukiman dan kualitas lingkungan. Kondisi ini menyebabkan perubahan tata guna lahan menjadi penghubung yang kritis diantara seluruh permasalahan tersebut (Skole). Dengan adanya fakta tersebut maka penataan ruang tentang penggunaan lahan di suatu wilayah/kota mutlak untuk dilakukan. Sebagai sebuah kabupaten dengan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya, Kabupaten Klaten tentunya memiliki berbagai jenis penggunaan lahan. Penggunaan lahan ini tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Klaten yang berada pada kelompok dan fungsi tertentu. Seiring dengan dinamika wilayah yang ada, tata guna lahan di Kabupaten Klaten juga terus mengalami perubahan. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten telah diatur mengenai penataan ruang lahan yang ada. Setiap bentuk perubahan dan penggunaan lahan yang ada harus disesuaikan dengan RTRW tersebut. Hal ini ditujukan untuk mendapat manfaat total sebaik-baiknya secara berkelanjutan dari kemampuan total lahan yang tersediakan. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai kondisi umum lahan, perkembangan penatagunaan lahan, keterkaitan tata guna lahan dengan 1

aspek lain, serta upaya pengembangan yang dilakukan melalui kebijakankebijakan tertentu.

II.PROFIL KABUPATEN KLATEN
1. Letak Geografis Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Kabupaten Klaten terletak antara 7⁰32’19” LS sampai 7⁰48’33” LS dan antara 110⁰26’14” BT sampai 110⁰47’51” BT, dengan batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Boyolali : Kabupaten Sukoharjo : Kabupaten Gunung Kidul (DI Yogyakarta) : Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta)

2. Pembagian Wilayah Administratif Secara administratif Kabupaten Klaten terbagi dalam 26 kecamatan, 391 desa dan 10 kelurahan. Seluruh desa yang ada merupakan desa swasembada. Desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan pembangunan regional.

Tabel 1 : Pembagian Wilayah Administratif Kabupaten Klaten

2

17 29.38 39.66 14.64 24.84 24.45 19.00 35.74 16.56 3 .79 31.43 8.Kecamatan 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Desa 16 16 19 18 20 18 7 7 18 16 14 13 18 14 19 19 18 16 18 19 18 17 13 11 3 6 Kelurahan 1 1 6 2 Dukuh 183 149 178 228 238 171 99 65 202 252 35 124 42 151 161 208 149 37 44 48 185 207 214 112 97 124 Luas Wilayah (Km2) 24.97 24.78 23.47 33.43 34.67 26.14 18.96 26.70 26.38 Jumlah/Total 391 10 3 703 655.92 10.98 9.23 29.43 25.81 12.06 32.53 51.

Persebaran jenis tanah ini berada di bagian tengah Kabupaten Klaten dan mendominasi jenis tanah yang ada di Kabupaten Klaten. KONDISI LAHAN KABUPATEN KLATEN 1. yaitu : a. Hal ini terkait dengan potensi yang terkandung di dalam tanah itu sendiri sehingga pemanfaatan lahan dapat disesuaikan. Di Kabupaten Klaten terdapat beberapa jenis tanah yang tersebar di seluruh wilayah yang ada. Tanah Regosol-Aluvial Tanah regosol dan aluvial yang ada di wilayah Kabupaten Klaten merupakan tanah yang terbentuk dari endapan material vulkanik dari Gunung Merapi.Sumber : Klaten Dalam Angka 2009 (Peta Administrasi terdapat pada Lampiran 1) I. Tanah Grumosol 4 . Kedua jenis tanah ini merupakan tanah yang subur sehingga sesuai untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. b. Jenis Tanah Jenis tanah mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan lahan yang berada di atasnya.

Jatinom dan Tulung.500 meter diatas permukaan laut. kecuali sebagian kecil wilayah merupakan dataran lereng Gunung Merapi dan Gunung Kapur. Kemudian secara umum wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran. Tanah Grumosol di Kabupaten Klaten terdapat di sebelah selatan yang meliputi Kecamatan Cawas. Karangnongko. yaitu :  Sumber : BPN Kabupaten Klaten (Peta Persebaran Jenis Tanah terdapat pada Lampiran 2) Dataran Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara meliputi sebagian kecil sebelah utara wilayah Kecamatan Kemalang. Tanah Litosol-Latosol Jenis tanah ini terbentuk karena adanya proses pelapukan batuan lain.76% terletak diantara ketinggian 500 – 2. Gantiwarno. dan Prambanan.52% terletak diantara ketinggian 100 . Topografi Lahan Topografi lahan merupakan bentuk permukaan suatu lahan baik berupa ketinggian daerah ataupun tingkat kemiringan lahan. c.  Dataran Rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten. Gambar 1 : Proporsi Jenis Tanah Kabupaten Klaten 1. dimana mempunyai potensi sebagai kawasan pengembangan vegetasi hutan.  Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan kecamatan Bayat dan Cawas. Tanah jenis ini menyimpan potensi berupa pertambangan batu kapur/gamping. Persebaran jenis tanah ini berada di Kecamatan Kemalang dan Bayat. dan sisanya 12. Wedi. 5 . Terbanyak yaitu sebesar 83. Untuk ketinggian daerah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 kelompok.Jenis tanah grumosol merupakan lapisan tanah yang mempunyai bahan induk berupa batu kapur.100 meter di atas permukaan laut sebesar 3.72%. Bayat. yaitu yang terletak diantara ketinggian 0 .500 meter diatas permukaan laut.

dan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian. Meskipun dikelola. produktivitas lahan kritis sangat rendah. Lahan ini bersifat tandus. gundul.Sedangkan untuk tingkat kemiringan lahan (slope) dapat dilihat pada diagram berikut : Gambar 2 : Proporsi Tingkat Kemiringan Lahan Kabupaten Klaten Sumber : BPN Kabupaten Klaten (Peta Tingkat Kemiringan Lahan terdapat pada Lampiran 3) Tingkat kemiringan lahan/slope mempunyai keterkaitan dengan potensi bencana longsor atau erosi. Pada gambar (2) tentang proporsi tingkat kemiringan lahan dapat diklasifikasikan mengenai tipe lahan dan potensi bencana longsor/erosi yang ada : Tabel 2 : Klasifikasi Lahan Berdasarkan Slope 1. Luasan Lahan Kritis Lahan kritis adalah lahan yang Sumber : BPN Kabupaten Klaten tidak produktif. karena tingkat kesuburannya Kemiringan Lahan/Slope 0-15% 15-40% >40% Tipe Lahan Datar Landai Curam Potensi Longsor/erosi Rendah Sedang Tinggi sangat rendah. Lahan kritis terbagi 6 ini .

78% nya merupakan lahan dengan tingkat kemiringan yang relatif datar yaitu berkisar antara 0-15%. Di Kabupaten Klaten dari tahun 2005-2009 tidak terdapat luasan lahan kritis.menjadi tiga jenis. tetapi hanya potensial kritis dan agak kritis. 7 . Gambar 3 : Grafik Perubahan Luas Lahan Kritis Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten I. Hingga tahun 2009 jumlah mata air yang ada berjumlah 174 sumber. Sedangkan tingkat kemiringan lahan yang ada 96. Jenis tanah yang ada di wilayah Kabupaten Klaten Gambar 4 : Kegiatan Pertanian Kabupaten Klaten didominasi oleh tanah regosol dan aluvial yang berasal dari endapan material vulkanik gunung Merapi. PERKEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN KABUPATEN KLATEN (2005-2009) 1. dan telah kritis. Keberadaan lahan kritis ini dijadikan dasar dalam usaha pengembangan kawasan prioritas. sehingga termasuk kategori tanah subur. yaitu lahan potensial kritis.Pertanian Pemanfaatan suatu lahan sebagai lahan pertanian sangat bergantung pada kondisi tanah yang ada. agak kritis. Selain itu Kabupaten Klaten kaya akan sumber air.

Pertanian Lahan Basah Pertanian lahan basah berarti sistem pertanian yang menggunakan lahan sawah sebagai areal penanaman. sebesar 33. Jumlah luas sawah irigasi yang besar dikarenakan pengairannya banyak mengandalkan sumber-sumber mata air yang ada.412 Ha atau 50.5 Ha/tahun. Seiring dengan dinamika wilayah Kabupaten Klaten. Persebarannya meliputi seluruh kecamatan di Kabupaten Klaten kecuali Kecamatan Kemalang. luas lahan sawah yang ada juga mengalami perubahan : Gambar 5 : Grafik Perubahan Luas Lahan Sawah Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa luas sawah di Kabupaten Klaten terus mengalami penurunan dari tahun 2005-2009.Dengan kondisi lahan yang demikian maka Kabupaten Klaten sangat berpotensi sebagai kawasan pertanian.97 % dari total luas wilayah Kabupaten Klaten digunakan sebagai lahan pertanian (sawah). Dari tahun 2005-2009 terjadi penurunan luas sebesar 82 Ha atau jika dirata-rata tiap tahunnya terjadi pengurangan lahan sawah sebesar 20. 8 . Hingga tahun 2009.949 Ha dan sawah tadah hujan seluas 1.463 Ha. Sawah inipun terbagi menjadi dua yaitu sawah irigasi seluas 31. Kawasan pertanian di Kabupaten Klaten terbagi menjadi dua jenis pertanian utama. yaitu : a.

jika dirata-rata tiap tahunnya lahan yang berkurang adalah 12.55% dari luas total wilayah Kabupaten Klaten. Kemalang) dan daerah kapur (Kec. Berdasarkan data yang didapat terlihat bahwa dari tahun 2005-2009 perubahan luas yang terjadi terus mengalami penurunan. Areal ini sebagian besar berada di Kecamatan Kemalang dan Bayat.b. Pertanian Lahan Kering Pertanian lahan kering menggunakan lahan berupa ladang/tegalan/kebun untuk areal penanaman.263 Ha atau 9. Sebanyak 49 Ha lahan berkurang dari tahun 2005-2009.25 Ha/tahun. luas total wilayah pertanian di Kabupaten Klaten pada 2005 adalah 9 . Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan perubahan luas lahan ladang/tegalan/kebun di Kabupaten Klaten : Gambar 6 : Grafik Perubahan Luas Pertanian Lahan Kering Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten Grafik di atas menunjukkan bahwa luas lahan ladang/tegalan/kebun di Kabupaten Klaten dari tahun 2005-2009 cenderung mengalami penurunan. Baik dari pertanian lahan basah maupun lahan kering di wilayah Kabupaten Klaten tiap tahunnya terus terjadi perubahan jumah luas lahan. Jika dijumlahkan antara pertanian lahan basah dan lahan kering. Pada tahun 2009 jumlah luas lahan pertanian kering sebesar 6.Bayat). Persebaran ini karena dua derah tersebut merupakan daerah tandus di lereng Gunung Merapi (Kec.

3 25.252 33.3607 Ha.103 8 31.38% digunakan sebagai perumahan.6043 tri 3.12 3.4821 5 74 0. Di dalam data yang dimiliki BPN Kabupaten Klaten disebutkan secara lebih terperinci mengenai perubahan luas lahan pertanian di Kabupaten Klaten : Tabel 3 : Alih Fungsi Lahan Pertanian(Ha) Perumah Indus Perusaha Tahu n 2005 2006 2007 2008 2009 Total an 40. dan sisanya yaitu sebesar 9.7043 48.6899 16.79 4 46.39.98 3.675 Ha. dimana pada tahun 10 Gambar 7 : Kawasan Rowo .899 47. Kolam/Rawa Pada tahun 2009 di wilayah Kabupaten Klaten terdapat 202 Ha kolam/rawa.59 1.10 1.1498 21.28 3.313Sumber : BPN Kabupaten 7 48 Klaten 22.53 Jumla an h 1.856 25. Jumlah ini merupakan peningkatan sebesar 1 Ha pada tahun-tahun sebelumnya.2 15.2007 7 33 1.619 4 35 15.36% digunakan untuk jasa. Dari luas 245. Namun data yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Klaten ini berbeda dengan data yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Klaten.464 150. 1.129 5 3.6555 5 85 3.96% digunakan untuk industri.270 28. Artinya lahan pertanian di Kabupaten Klaten berkurang 131 Ha mulai dari tahun 20052009.806 Ha. 10.67 111. atau hampir dua kali dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Klaten.2703 61 607 Jasa Berdasarkan data dari BPN Kabupaten Klaten tersebut diketahui bahwa jumlah luas lahan pertanian yang berkurang dari tahun 2005-2009 adalah sebesar 245.95 245. 18.522 7 4.3607 tersebut 61.5963 23. Hingga tahun 2009 jumlahnya menjadi sebesar 39.30 % digunakan untuk perusahaan.

01% dari luas total hutan yang ada atau 682 Ha. Sedangkan untuk luas hutan produksi sebesar 47. 5. Rawa/kolam seluas 180 Ha ini oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten digunakan sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Di Kabupaten Klaten. Kolam/rawa terbesar terdapat di Kecamatan Bayat. yaitu Rawa Jombor. Luas areal yang digunakan untuk perindustrian pada tahun 2005 adalah seluas 787 Ha dan terus meningkat hingga tahun 2009 yaitu seluas 834 Ha. Jenis tanah di kedua kecamatan tersebut adalah tanah litosol dan latosol. sehingga cocok untuk pengembangan kawasan vegetasi hutan. Perumahan/bangunan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. dan batu andesit 2.920 Ha.095 Ha. konveksi. 2. luas wilayah perumahan di tahun 2005 adalah sebesar 19. Jumlah ini terus bertambah sebesar 112 Ha hingga 11 .2005 hingga 2006 jumlah luasnya sebesar 201 Ha dan bertambah menjadi 202 Ha pada tahun 2007 hingga 2009. Hutan lindung mempunyai proporsi sebesar 52.605 Ha. di samping fungsinya juga sebagai kawasan wisata.99% atau seluas 768 Ha. batu gamping 464 Ha. 4. dimana dari tahun 2005-2009 tidak mengalami pertambahan ataupun pengurangan luas. 3. Jumlah luas hutan lindung ditambahkan dengan luas hutan produksi adalah sebesar 1450 Ha. sedangkan hutan produksi berada di Kecamatan Bayat. Perindustrian Jenis industri yang ada di Kabupaten Klaten antara lain cor logam. Luas tersebut terdiri dari 3 daerah pertambangan yaitu pertambangan pasir sebesar 46 Ha. mebel. Kehutanan Hutan di Kabupaten Klaten terbagi menjadi dua jenis yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Pertambangan Luas daerah pertambangan di Kabupaten Klaten sebesar 2. gerabah. dan tembakau asapan. Hutan lindung sebagian besar berada di Kecamatan Kemalang.

1. 12 . luas RTH yang harus dimiliki oleh suatu wilayah adalah sebesar 30% dari luas wilayah yang ada. 2007 tentang Penataan Ruang. letak perumahan/permukiman harus berada lebih dari 5 Km dari puncak gunung. Untuk potensi bencana letusan Gunung Merapi. Ini berarti sebesar 30. Potensi bencana yang ada di Kabupaten Klaten yaitu bencana letusan Gunung Merapi dan tanah longsor. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 3.26 th. Gambar 8 : Grafik Perubahan Luas Lahan Perumahan Kabupaten Klaten Sumber : Bappeda Kabupaten Klaten Dalam pemanfaatan lahan untuk perumahan harus memperhatikan kondisi lahan untuk mengurangi tingkat resiko kerugian akibat adanya bencana. Namun pertambahan jumlah perumahan/bangunan di Kabupaten Klaten tidak diiringi dengan peningkatan luas ruang terbuka hijau (RTH). Sedangkan untuk potensi bencana tanah longsor.85% atau 771 Ha berada pada daerah rawan longsor.34% atau 18. mengacu pada tabel (2) 94. Namun masih ada sekitar 25 Ha permukiman yang berada kurang dari 5 Km dari puncak gunung. Namun untuk Kabupaten Klaten luas RTH (non-pertanian) hanya sebesar 21 %.56% wilayah Kabupaten Klaten digunakan sebagai kawasan permukiman.tahun 2009 menjadi 20.898 Ha perumahan di Kabupaten Klaten berada pada lahan relatif datar sehingga mempunyai potensi bencana tanah longsor tingkat rendah.032 Ha.81 % atau 363 Ha wilayah perumahan berada pada lahan relatif landai dan mempunyai potensi tanah longsor sedang. Menurut UU No.

Dari data-data tersebut jika dikompilasikan maka dapat diketahui tentang proporsi penggunaan lahan di Kabupaten Klaten. Kabupaten mengalami Klaten merupakan pada kabupaten yang Dari penduduknya tahun terus pertumbuhan tiap tahunnya. karena tiap penduduk memerlukan ruang untuk hidup (Alonso dalam Harjanti. 2005-2009 Lampiran 4) *hasil kompilasi data pertambahan penduduk yang ada sebesar 17. maka tiap jiwa membangun sarana perumahan rata-rata sebesar 62 m2. Pembangunan sarana perumahan ini sebagian besar merupakan pengalihfungsian dari lahan pertanian. Berikut ini akan dijelaskan mengenai keterkaitan tata guna lahan dengan penduduk dan transportasi yang ada di Kabupaten Klaten. Aktifitas ini berlangsung pada lahan-lahan tertentu. sedangkan pertumbuhan sarana perumahan adalah sebesar 112 Ha. Gambar (9) menunjukkan proporsi penggunaan lahan di tahun 2009 :9 : Proporsi Gambar Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten* I. Keterkaitan Tata Guna Lahan dengan Kependudukan Kabupaten Klaten Penduduk merupakan pelaku dari berbagai aktifitas yang ada di suatu wilayah/kota. 2002). Perubahan yang dimaksud berhubungan dengan sarana perumahan yang ada. KETERKAITAN TATA GUNA LAHAN Lahan merupakan tempat suatu aktifitas berlangsung. dimana jka terjadi perubahan jumlah penduduk maka tata guna lahan yang ada juga akan mengalami perubahan. Jika terjadi perubahan tata guna suatu lahan maka tentu saja berpengaruh Lahan terdapat pada (Peta Persebaran Guna terhadap aktifitas yang ada. 13 . 1.825 jiwa. Jika dihitung secara kasar dari pertambahan penduduk tahun 2005-2009. begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu tata guna lahan mempunyai keterkaitan dengan beberapa aspek.

2 403/2002 kebutuhan ruang tiap penduduk adalah sebesar 9 m /orang. Kemudian jika dilihat dari ketersediaan sarana perumahan bagi penduduk Kabupaten Klaten. Jadi dilihat dari sisi tata guna lahan perumahan secara keseluruhan wilayah Kabupaten Klaten mempunyai tingkat kepadatan yang rendah.56% dari luas total wilayah kabupaten.45 % maka termasuk kategori kawasan dengan tingkat kepadatan rendah. Namun jika dilihat per kecamatan ada dua kecamatan yang termasuk kategori kepadatan sedang (45-60%) yaitu Kecamatan Klaten Utara sebesar 53. Secara keseluruhan. menurut Keputusan Menteri Kimpraswil No. maka tiap penduduk mendapatkan ruang perumahan seluas 154 m2 yang berarti jauh melebihi ketetapan yang ada. perkantoran dan bangunan lain tempat berlangsungnya kegiatan) di sepanjang jalan-jalan utama (ribbon development) yang terdapat di pusat Kabupaten Klaten.910 jiwa.37% sehingga dikategorikan sebagai kawasan yang mempunyai tingkat kepadatan sangat rendah (<30%).38 %. Sedangkan sistem transportasi yang tidak bisa melayani suatu tata guna lahan maka sistem transportasi tersebut dianggap mengalami kegagalan.032 Ha atau 200. Hubungan antara tata guna lahan dengan transportasi di Kabupaten Klaten terlihat dari pertumbuhan guna lahan (seperti lahan permukiman. sedangkan jumlah penduduk yang ada adalah sebesar 1. 327/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan jika luas tutupan lahan berkisar antara 30 . sarana perumahan di Kabupaten Klaten pada tahun 2009 adalah sebesar 30. Suatu tata guna lahan tidak akan berfungsi atau berjalan secara optimal jika tidak didukung dengan adanya sistem transportasi. Menurut Keputusan Menteri Kimpraswil No.000 m2.303. 2. yaitu Kota 14 . Keterkaitan Tata Guna Lahan dengan Transportasi Kabupaten Klaten Tata guna lahan dan transportasi merupakan dua hal yang saling terkait.08% dan Kecamatan Klaten Tengah sebesar 55. Jika dilakukan perhitungan secara kasar berdasarkan data yang ada. Pada tahun 2009 jumlah sarana perumahan adalah seluas 20.Di samping itu dari tata guna lahan perumahan dapat juga diperhitungkan mengenai tingkat kepadatan. Sedangkan kecamatan Polanharjo merupakan kecamatan yang mempunyai kepadatan paling rendah yaitu 17.320.

Pemanfaatan ruang ini akan menciptakan suatu pola tata guna lahan dengan berpedoman pada RTRW. 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Klaten Tahun 2006-2015. Dengan adanya penataan lahan yang berpedoman pada RTRW ini diharapkan mampu mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan tetap berwawasan lingkungan. Dari ketiga kecamatan yang terdapat di Kota Klaten tersebut terdapat penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan sebesar 3986. Artinya. Hal ini menunjukkan bahwa jalan raya (aksesibilitas transportasi) sangat berpengaruh terhadap tata guna lahan di sekitar jalan tersebut. bersinergi. terdapat sekitar 2734. RTRW Kabupaten Klaten ini selanjutnya 15 . Hal ini menimbulkan kebutuhan akan aksesibilitas di Kota Klaten.9% penggunaan lahan untuk pusat-pusat kegiatanyang terkonsentrasi d jalan utama.52 Ha yang terkonsentrasi di jalan utama. dll) di Kota Klaten mendekati akses ke jalan utama tersebut. dan dapat dijadikan acuan dalam program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. terpadu. PENGEMBANGAN TATA GUNA LAHAN KABUPATEN KLATEN Rencana pengembangan dan peraturan penggunaan lahan di Kabupaten Klaten didasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten. 4 Th. yaitu Kecamatan Klaten Utara. Hingga saat ini pemanfaatan ruang yang dilaksanakan di Kabupaten Klaten didasarkan pada dokumen RTRW yang masih berlaku yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Klaten No. terdapat sekitar 68. dan berkesinambungan. RTRW Kabupaten Klaten merupakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang menetapkan lokasi yang harus dilindungi. terarah. I. efisien dalam alokasi investasi. pusat perbelanjaan. Kota klaten terdiri dari 3 kecamatan. RTRW Kabupaten Klaten dijadikan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan ruang secara terencana. perkantoran. lokasi pengembangan kawasan budidaya termasuk kawasan produksi dan kawasan permukiman (bangunan gedung) yang berada dalam wilayah Kabupaten Klaten. Kecamatan Klaten Tengah dan Kecamatan Klaten Selatan.Klaten.30 Ha. Sehingga penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan (perumahan. Dari total luas penggunaan lahan tersebut.

Dalam RTRW Kabupaten Klaten dijelaskan tentang Rencana Struktur dan Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah yang merupakan acuan dalam RTRW untuk pemanfaatan ruang: 1. Hierarki ini terdiri dari sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan.  Permukiman desa tradisonal. dimana RTRW ini akan diprioritaskan pengembangannya dalam kurun waktu 10 tahun. Hierarki pusat pelayanan adalah suatu jejaring yang menggambarkan sebaran kota-kota kecamatan dan fungsional kota-kota yang terkait dengan pola transportasi dan prasarana wilayah lainnya dalam ruang wilayah Kabupaten Klaten. a. yaitu sekitar Kota Klaten dan ibukota-ibukota kecamatan. merupakan permukiman perdesaan yang karena posisinya termasuk dalam wilayah administrasi kota. serta sistem prasarana wilayah.dugunakan sebagai arahan kebijaksanaan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Klaten sebagai pedoman bagi penataan ruang wilayah kabupaten dan dasar dalam penyusunan program pembangunan. yang terdiri dari : 16 . Dalam strategi pengembangannya pengelolaan kawasan perdesaan diarahkan untuk meningkatkan fungsi kawasan sebagai permukiman dan sentra produksi pertanian dengan pendekatan teknologi sehingga tetap memiliki daya tarik bagi penyerapan tenaga kerja dan pengembangan ekonomi. Sistem Permukiman Perdesaan Sistem permukiman perdesaan terdiri dari :  Permukiman desa kota. Sistem Permukiman Perkotaan Sistem permukiman perkotaan membentuk sistem kota sebagai sistem simpul pelayanan. merupakan permukiman perdesaan yang posisinya sebagai daerah belakang ibukota-ibukota kecamatan. a. Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah Merupakan rencana pemanfaatan ruang wilayah berdasarkan hierarki pusat pelayanan wilayah.

17 . Tulung. yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan tingkat kabupaten. yaitu Kota Delanggu. Jatinom. yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan tingkat kecamatan. Prambanaan. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai setingkat bank kecamatan dan badan kredit kecamatan.  Pusat pelayanan sub-wilayah atau Kota Orde II. Ngawen. Wedi. Karangdowo. pusat pelayanan perdagangan sampai dengan setingkat pasar khusus umum. sampai pusat dengan setingkat puskesmas rawat jalan. optimal upaya perekonomian pengembangan/pembangunan. dan Klaten Selatan. pusat pelayanan pendidikan sampai dengan setingkat pendidikan tinggi. Wonosari. Kebonarum. pusat pelayanan kesehatan sampai dengan setingkat puskesmas rawat inap.  Pusat pelayanan kecamatan atau Kota Orde III. yaitu Kota Juwiring. Kemalang. Trucuk. Dalam dan strategi pengembangannya yang Dalam pengelolaan sehingga kawasan mampu perkotaan mendorong diarahkan untuk menciptakan simpul koleksi dan distribusi hasil produksi barang konsumsi wilayah. dan Kalikotes. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai dengan setingkat bank umum dan swasta. Gantiwarno. Pusat pelayanan wilayah atau Kota Orde I. pusat pelayanan perdagangan sampai dengan setingkat pasar khusus (pasar hewan dan buah). Jogonalan. yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan setingkat dengan kecamatan. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai dengan setingkat bank cabang tingkat kecamatan. setingkat pusat pelayanan kesehatan atas. pusat pelayanan pendidikan sampai pendidikan menengah dengan pelayanan cabang perdagangan sampai dengan setingkat pasar kecamatan. Cawas. Karanganom. pusat pelayanan pendidikan sampai dengan setingkat pendidikan sekolah menengah tingkat atas. Karangnongko. Manisrenggo. yaitu Kota Klaten yang meliputi wilayah kecamatan Klaten Utara. Ceper. Bayat. Klaten Tengah. dan Pedan. Polanharjo. pusat pelayanan kesehatan sampai dengan setingkat rumah sakit umum.

 SWP III. dan Karangaom. peningkatan kualitas pelayanan dan sesuai dengan struktur tata ruang wilayah yang dituju. a. dan Ngawen. dan prasarana pengelolaan lingkungan. meliputi Kecamatan Delanggu. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Jatinom. Gantiwarno. meliputi Kecamatan Bayat. meliputi Kecamatan Prambanan. Wonosari. dan Karangdowo.  SWP IV. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam. Ceper. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Delanggu. Klaten Selatan. meliputi Kecamatan Klaten Utara. Tulung. diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Kalikotes. Jogonalan. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Dalam rencana pola pemanfaatan ruang wilayah digambarkan tentang daerah persebaran kawasan lindung dan budidaya serta pengembangannya. Karangnongko.  SWP VI.  SWP II. dengan pusat pertumbuhan di Kota Klaten. meliputi Kecamatan Pedan. sumber daya buatan. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Pedan. Sistem Prasarana Wilayah Pengembangan sistem prasarana wilayah meliputi transportasi. Kebonarum. telekomunikasi.wilayah Kabupaten Klaten terbagi dalam Struktur Tata Ruang Wilayah. Manisrenggo dan Kemalang. dan Trucuk. dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna 18 . (Peta Pembagian SWP terdapat dalam Lampiran 5) a. dan Juwiring. energi. pengairan. Polanharjo. Struktur tata ruang wilayah dibuat berdasarkan pembagian Sub Wilayah Pembangunan (SWP) yang terdiri dari :  SWP I. 1.  SWP V. meliputi Kecamatan Jatinom. Wedi. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Cawas. Cawas. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Prambanan. Klaten Tengah.

terletak di sekitar Rawa Jombor  Kawasan sekitar mata air ditetapkan meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar seluruh mata air. ii.kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. dan Candi Plaosan – – Kecamatan Karangnongko : Kawasan Candi Merak Kecamatan Bayat : Kawasan Pandanaran i. Candi Lumbung. yaitu : i. Candi Sowijan.Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Kawasan Cagar Budaya : – Kecamatan Prambanan : Kawasan Candi Prambanan.Kawasan Rawan Bencana 19 . Di Kabupaten Klaten kawasan ini ditetapkan di lereng Gunung Merapi Kecamatan Kemalang sebesar 15. yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari pasang titik tertinggi kea rah darat.  i.6 Ha. Pengelolaan kawasan lindung diarahkan dalam upaya mempertahankan kawasan lindung yang masih ada dan mengoptimalkan fungsinya melalui pengawasan yang lebih baik. Candi Bubrah.Kawasan Perlindungan Setempat  Kawasan sempadan sungai  Kawasan sekitar waduk/rawa : ditetapkan meliputi dataran sepanjang tepian danau.7% dari luas total Kecamatan Kemalang atau 810. Kawasan lindung di Kabupaten Klaten terdiri dari 4 kawasan. Candi Asu.Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan di Bawahnya Merupakan yang berada pada ketinggian dan kemiringan tertentu yang apabila tidak dilindungi dapat membahayakan kehidupan di kawasan yang berada di bawahnya. waduk atau rawa.

Kecamatan Kalikotes. Dompol. Kawasan hutan produksi terbatas ditetapkan di wilayah Kecamatan Bayat.Kawasan rawan bencana letusan Gunung Merapi ditetapkan di sebagian Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Manisrenggo dengan luas sekitar 532 Ha. Gantiwarno. di Pengembangan Kemalang. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang dimanfaatkan secara terencana dan terarah sehingga dapat berdayaguna dan berhasilguna bagi hidup dan kehidupan manusia yang terdiri dari kawasan budidaya pertanian dan nonpertanian. i.Kawasan Pertanian Pengembangan kawasan pertanian ditetapkan sebagai berikut : Kawasan pertanian lahan basah ditetapkan dengan lokasi tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten. dan Tangkil. kecuali Kecamatan Kemalang. 20 . Kendalsari. Bawukan. Wedi. Pengelolaan kawasan budidaya diarahkan pada optimalisasi fungsi kawasan. kawasan hutan produksi ditetapkan sebagai berikut : Kawasan hutan ditetapkan Kecamatan Karangnongko. Kawasan budidaya Kabupaten Klaten terdiri dari : i. Jatinom. Kawasan rawan bencana tanah longsor/erosi ditetapakan di : – – – Lereng pegunungan Jiwowetan Kecamatan Wedi Desa Sukorini Kecamatan Manisrenggo Desa Tegalmulyo. Balerante. Bumiharjo. Tulung.Kawasan Hutan Produksi Kawasan hutan produksi terbagi menjadi dua yaitu kawasan hutan rakyat dan kawasan hutan produksi terbatas yang dapat dikelola dengan tetap mempertahankan rakyat fungsi hutannya. a. Kemalang. Tlogowatu. dan Bayat. Sidorejo. Manisrenggo.

i. Bayat. Manisrenggo. Karangnongko. i. Karanganom. Jatinom. Karangnongko. Pertambangan lempung aluvial ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Gantiwarno. Pertambangan gabro dan diorit ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Bayat. Pertambangan pasir vulkanik dan Andesit Merapi ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang dan Manisrenggo.Kawasan tanaman pangan lahan kering ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang. Jatinom. dan Wedi. Tulung.Kawasan Pertambangan Pengembangan kawasan pertamabangan ditetapkan sebagai berikut : Pertambangan batu Andesit Karangdowo ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Karangdowo. Pedan. Pertambangan batu gamping ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Bayat dan Cawas. Kecamatan Polanharjo. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang. dan Kebonarum. Kawasan industri ditetapkan di Desa Troketon dan Desa Kaligawe Kecamatan Pedan dengan luas lahan 100 Ha. Manisrenggo. Bayat. Tulung. Karangnongko. Bayat. Karangnongko. dan Tulung. Trucuk. 21 . Manisrenggo. dan Ceper. Jogonalan. Ngawen. dan Cawas. Tulung. Jatinom. Kawasan peternakan sapi perah ditetapkan dengan lokasi di Kemalang.Kawasan peruntukan industri Pengembangan kawasan peruntukan industri ditetapkan sebagai berikut : Kawasan perindustrian ditetapkan di Desa Karanganom Kecamatan Klaten Utara dan Kelurahan Mojayan Kecamatan Klaten Tengah. Kawasan perikanan air tawar ditetapkan dengan lokasi di sekitar Rawa Jombor Kecamatan Bayat. Kebonarum.

Kawasan Wisata Makam Ki Ageng Gribig dan Tradisi Yaqowiyu di Kecamatan Jatinom. dan Tradisi Padusan di Kecamatan Tulung. Candi Sewu. Kawasan Wisata Museum Gula Jawa Tengah di Gondangwinangun Kecamatan Jogonalan. Kawasan Wisata Alam Gunung Watu Prau dan Pegunungan Kidul di Kecamatan Bayat.Kawasan Pariwisata Kawasan wisata di Kabupaten Klaten terdiri dari kawasan wisata alam. Kawasan Wisata Rawa Jombor Permai dan Makam Ki Ageng Pandanaran di Kecamatan Bayat.Kawasan sentra industri ditetapkan di : – – – – – – – – Kecamatan Ceper sebagai sentra industri cor logam Kecamatan Pedan sebagai sentra industri tenun ATBM Kecamatan Wedi sebagai sentra industri konveksi Kecamatan Juwiring dan Kecamatan Trucuk sebagai sentra industri mebel/furnitur Kecamatan Bayat sebagai sentra industri gerabah/keramik Kecamatan Trucuk dan Manisrenggo sebagai sentra industri tembakau asapan Kecamatan Ngawen sebagai sentra industri soon Kecamatan Jogonalan sebagai sentra makanan kecil i. 22 . Kawasan Wisata Deles Indah di Kecamatan Kemalang. Pemancingan Janti. Pemandian Lumban Tirto. budaya (tradisi). ziarah (keagamaan). pendidikan (museum). Kawasan Wisata Pemandian Jolotundo di Kecamatan Karanganom. Kawasan Wisata Pemandian Tirtomulyono di Kecamatan Kebonarum. dan peninggalan sejarah (candi). Kawasan Wisata Sumber Air Ingas. dan Plaosan di Kecamatan Prambanan. Pengembangan kawasan wisata ditetapkan sebagai berikut : Kawasan Wisata Candi Prambanan. permainan dan olahraga (pemandian).

Juwiring. Delanggu. Pengembangan kawasan permukiman meliputi : Kawasan permukiman perdesaan ditetapkan di seluruh wilayah kecamatan. Karangdowo. yang memungkinkan terselenggarakannya pola hunian yang berimbang – Tidak terganggu oleh kebisingan – Memiliki pola permukiman yang kompak – Memiliki kemudahan mencapai fasilitas umum – Topografi cukup datar. Tulung. dan Kemalang. Cawas. Jogonalan. dengan kelerengan lahan ≤ 25% a. Pedan. Trucuk. dengan dominasi di Kecamatan Gantiwarno. Polanharjo.Kawasan Wisata Makam Ki Ageng Ronggowarsito di Kecamatan Trucuk. Bayat. Klaten Tengah. Kawasan Wisata Makam Ki A. Ngawen. Pembangunan dan pengembangan kawasan perumahan baru harus mengacu pada persyaratan lokasi sebagai berikut : – Tidak berlokasi pada kawasan rawan bencana – Tidak berlokasi pada kawasan konservasi – Tidak berlokasi pada kawasan yang masih dalam sengketa – Mempunyai sumber air baku yang memadai (kualitas dan kuantitas) atau terhubungkan dengan jaringan pelayanan air bersih serta jaringan sanitasi dan pernatusan berskala kota – Terletak pada hamparan dengan luasan yang cukup. Prambanan. Kalikotes. Karangnongko. Wedi. Ceper. Kebonarum. Jatinom dan pusat-pusat pelayanan kecamatan lainnya. Kawasan permukiman perkotaan ditetapkan di Kecamatan Klaten Utara. Wonosari. Perwito di Kecamatan Wonosari. Karanganom. Manisrenggo. Kawasan Prioritas 23 . i.Kawasan Permukiman Kawasan permukiman terdiri dari kawasan permukiman perdesaan dan kawasan permukiman perkotaan. Klaten Selatan.

Klaten Tengah. Tulung. Juwiring. terletak di Klaten Utara. terletak di Kecamatan Prambanan. Kawasan prioritas pembangunan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangannya meliputi : – Kawasan perbatasan. Cawas. fungsi lindungnya di untuk menghindarkan Kemalang – Kawasan prioritas Konservasi Lereng Gunung Merapi terletak di Kecamatan Kemalang – Kawasan Pengembangan Kawasan Tertinggal terletak di Kecamatan Bayat dan Gantiwarno Pengembangan kawasan prioritas memiliki kriteria sebagai berikut : – Kawasan yang mempunyai kontribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan secara regional dan nasional – Kawasan yang tidak masuk dalam deliniasi kawasan tertentu dan andalan tetapidari dimensi Daerah memiliki peranan untuk pertumbuhan dan pemerataan yang besar – Kawasan yang mempunyai permasalahan ruang yang harus segera ditangani kerusakan terletak Kecamatan Gantiwarno. Karangnongko. 24 . Manisrenggo dan Tulung – Kawasan pertumbuhan cepat. Manisrenggo. Jogonalan dan Delanggu – Kawasan pengembangan sektor-sektor strategis/unggulan pertanian tanaman pangan. Wonosari. Jatinom.Kawasan prioritas adalah kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu perencanaan. Pedan. Karangdowo. Juwiring. Wonosari. Cawas. Klaten Selatan. Trucuk dan Polanharjo – Kawasan kritis yang perlu dipelihara lingkungan. terletak di Kecamatan Delanggu. Bayat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful