P. 1
Klaten

Klaten

|Views: 1,776|Likes:
Dipublikasikan oleh Bagus Hendri Setyawan

More info:

Published by: Bagus Hendri Setyawan on May 01, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2013

pdf

text

original

I.

TATA GUNA LAHAN WILAYAH/KOTA
Menurut Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional , tata guna lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi pemukiman, perdagangan, industri, dan lain-lain. Tata guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan lingkungan karena keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi/lindung merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Di samping itu, pengembangan tata guna lahan yang sesuai akan meningkatkan perekonomian suatu kota atau wilayah. Perubahan tata guna lahan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi dalam proses penetapan kebijakan, perencanaan, dan pengambilan keputusan yang ada dalam suatu wilayah/kota. Hal tersebut terjadi karena perubahan yang ada memiliki kaitan erat dengan permasalahan dan peluang yang muncul pada suatu komunitas wilayah/kota yang terkait pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, permukiman dan kualitas lingkungan. Kondisi ini menyebabkan perubahan tata guna lahan menjadi penghubung yang kritis diantara seluruh permasalahan tersebut (Skole). Dengan adanya fakta tersebut maka penataan ruang tentang penggunaan lahan di suatu wilayah/kota mutlak untuk dilakukan. Sebagai sebuah kabupaten dengan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya, Kabupaten Klaten tentunya memiliki berbagai jenis penggunaan lahan. Penggunaan lahan ini tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Klaten yang berada pada kelompok dan fungsi tertentu. Seiring dengan dinamika wilayah yang ada, tata guna lahan di Kabupaten Klaten juga terus mengalami perubahan. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten telah diatur mengenai penataan ruang lahan yang ada. Setiap bentuk perubahan dan penggunaan lahan yang ada harus disesuaikan dengan RTRW tersebut. Hal ini ditujukan untuk mendapat manfaat total sebaik-baiknya secara berkelanjutan dari kemampuan total lahan yang tersediakan. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai kondisi umum lahan, perkembangan penatagunaan lahan, keterkaitan tata guna lahan dengan 1

aspek lain, serta upaya pengembangan yang dilakukan melalui kebijakankebijakan tertentu.

II.PROFIL KABUPATEN KLATEN
1. Letak Geografis Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Kabupaten Klaten terletak antara 7⁰32’19” LS sampai 7⁰48’33” LS dan antara 110⁰26’14” BT sampai 110⁰47’51” BT, dengan batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Boyolali : Kabupaten Sukoharjo : Kabupaten Gunung Kidul (DI Yogyakarta) : Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta)

2. Pembagian Wilayah Administratif Secara administratif Kabupaten Klaten terbagi dalam 26 kecamatan, 391 desa dan 10 kelurahan. Seluruh desa yang ada merupakan desa swasembada. Desa swasembada adalah desa yang masyarakatnya telah mampu memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam dan potensinya sesuai dengan kegiatan pembangunan regional.

Tabel 1 : Pembagian Wilayah Administratif Kabupaten Klaten

2

79 31.38 39.43 8.17 29.56 3 .98 9.00 35.47 33.64 24.45 19.23 29.81 12.67 26.92 10.84 24.43 34.96 26.38 Jumlah/Total 391 10 3 703 655.06 32.14 18.78 23.97 24.53 51.74 16.70 26.43 25.Kecamatan 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prambanan Gantiwarno Wedi Bayat Cawas Trucuk Kalikotes Kebonarum Jogonalan Manisrenggo Karangnongko Ngawen Ceper Pedan Karangdowo Juwiring Wonosari Delanggu Polanharjo Karanganom Tulung Jatinom Kemalang Klaten Selatan Klaten Tengah Klaten Utara Desa 16 16 19 18 20 18 7 7 18 16 14 13 18 14 19 19 18 16 18 19 18 17 13 11 3 6 Kelurahan 1 1 6 2 Dukuh 183 149 178 228 238 171 99 65 202 252 35 124 42 151 161 208 149 37 44 48 185 207 214 112 97 124 Luas Wilayah (Km2) 24.66 14.

Tanah Grumosol 4 . Tanah Regosol-Aluvial Tanah regosol dan aluvial yang ada di wilayah Kabupaten Klaten merupakan tanah yang terbentuk dari endapan material vulkanik dari Gunung Merapi. b. yaitu : a. Jenis Tanah Jenis tanah mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan lahan yang berada di atasnya. Hal ini terkait dengan potensi yang terkandung di dalam tanah itu sendiri sehingga pemanfaatan lahan dapat disesuaikan. Di Kabupaten Klaten terdapat beberapa jenis tanah yang tersebar di seluruh wilayah yang ada. Persebaran jenis tanah ini berada di bagian tengah Kabupaten Klaten dan mendominasi jenis tanah yang ada di Kabupaten Klaten.Sumber : Klaten Dalam Angka 2009 (Peta Administrasi terdapat pada Lampiran 1) I. Kedua jenis tanah ini merupakan tanah yang subur sehingga sesuai untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. KONDISI LAHAN KABUPATEN KLATEN 1.

Kemudian secara umum wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran. Gantiwarno.500 meter diatas permukaan laut. yaitu :  Sumber : BPN Kabupaten Klaten (Peta Persebaran Jenis Tanah terdapat pada Lampiran 2) Dataran Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara meliputi sebagian kecil sebelah utara wilayah Kecamatan Kemalang. Topografi Lahan Topografi lahan merupakan bentuk permukaan suatu lahan baik berupa ketinggian daerah ataupun tingkat kemiringan lahan.500 meter diatas permukaan laut. Persebaran jenis tanah ini berada di Kecamatan Kemalang dan Bayat. Jatinom dan Tulung. Karangnongko.72%. Wedi. Tanah jenis ini menyimpan potensi berupa pertambangan batu kapur/gamping.76% terletak diantara ketinggian 500 – 2. 5 .52% terletak diantara ketinggian 100 .  Dataran Rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten. dimana mempunyai potensi sebagai kawasan pengembangan vegetasi hutan.100 meter di atas permukaan laut sebesar 3. Gambar 1 : Proporsi Jenis Tanah Kabupaten Klaten 1.  Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan kecamatan Bayat dan Cawas.Jenis tanah grumosol merupakan lapisan tanah yang mempunyai bahan induk berupa batu kapur. c. Terbanyak yaitu sebesar 83. kecuali sebagian kecil wilayah merupakan dataran lereng Gunung Merapi dan Gunung Kapur. Bayat. dan Prambanan. dan sisanya 12. Tanah Grumosol di Kabupaten Klaten terdapat di sebelah selatan yang meliputi Kecamatan Cawas. yaitu yang terletak diantara ketinggian 0 . Tanah Litosol-Latosol Jenis tanah ini terbentuk karena adanya proses pelapukan batuan lain. Untuk ketinggian daerah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 kelompok.

karena tingkat kesuburannya Kemiringan Lahan/Slope 0-15% 15-40% >40% Tipe Lahan Datar Landai Curam Potensi Longsor/erosi Rendah Sedang Tinggi sangat rendah.Sedangkan untuk tingkat kemiringan lahan (slope) dapat dilihat pada diagram berikut : Gambar 2 : Proporsi Tingkat Kemiringan Lahan Kabupaten Klaten Sumber : BPN Kabupaten Klaten (Peta Tingkat Kemiringan Lahan terdapat pada Lampiran 3) Tingkat kemiringan lahan/slope mempunyai keterkaitan dengan potensi bencana longsor atau erosi. Meskipun dikelola. Lahan ini bersifat tandus. dan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian. gundul. produktivitas lahan kritis sangat rendah. Luasan Lahan Kritis Lahan kritis adalah lahan yang Sumber : BPN Kabupaten Klaten tidak produktif. Pada gambar (2) tentang proporsi tingkat kemiringan lahan dapat diklasifikasikan mengenai tipe lahan dan potensi bencana longsor/erosi yang ada : Tabel 2 : Klasifikasi Lahan Berdasarkan Slope 1. Lahan kritis terbagi 6 ini .

sehingga termasuk kategori tanah subur.78% nya merupakan lahan dengan tingkat kemiringan yang relatif datar yaitu berkisar antara 0-15%. Gambar 3 : Grafik Perubahan Luas Lahan Kritis Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten I. Jenis tanah yang ada di wilayah Kabupaten Klaten Gambar 4 : Kegiatan Pertanian Kabupaten Klaten didominasi oleh tanah regosol dan aluvial yang berasal dari endapan material vulkanik gunung Merapi. yaitu lahan potensial kritis. tetapi hanya potensial kritis dan agak kritis. Selain itu Kabupaten Klaten kaya akan sumber air.menjadi tiga jenis. Sedangkan tingkat kemiringan lahan yang ada 96. dan telah kritis. agak kritis. Keberadaan lahan kritis ini dijadikan dasar dalam usaha pengembangan kawasan prioritas. PERKEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN KABUPATEN KLATEN (2005-2009) 1. Di Kabupaten Klaten dari tahun 2005-2009 tidak terdapat luasan lahan kritis. Hingga tahun 2009 jumlah mata air yang ada berjumlah 174 sumber. 7 .Pertanian Pemanfaatan suatu lahan sebagai lahan pertanian sangat bergantung pada kondisi tanah yang ada.

8 . Kawasan pertanian di Kabupaten Klaten terbagi menjadi dua jenis pertanian utama. yaitu : a. Jumlah luas sawah irigasi yang besar dikarenakan pengairannya banyak mengandalkan sumber-sumber mata air yang ada. sebesar 33.97 % dari total luas wilayah Kabupaten Klaten digunakan sebagai lahan pertanian (sawah).Dengan kondisi lahan yang demikian maka Kabupaten Klaten sangat berpotensi sebagai kawasan pertanian.463 Ha.5 Ha/tahun. Dari tahun 2005-2009 terjadi penurunan luas sebesar 82 Ha atau jika dirata-rata tiap tahunnya terjadi pengurangan lahan sawah sebesar 20. Sawah inipun terbagi menjadi dua yaitu sawah irigasi seluas 31. Persebarannya meliputi seluruh kecamatan di Kabupaten Klaten kecuali Kecamatan Kemalang. Seiring dengan dinamika wilayah Kabupaten Klaten.949 Ha dan sawah tadah hujan seluas 1. Pertanian Lahan Basah Pertanian lahan basah berarti sistem pertanian yang menggunakan lahan sawah sebagai areal penanaman. luas lahan sawah yang ada juga mengalami perubahan : Gambar 5 : Grafik Perubahan Luas Lahan Sawah Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa luas sawah di Kabupaten Klaten terus mengalami penurunan dari tahun 2005-2009.412 Ha atau 50. Hingga tahun 2009.

jika dirata-rata tiap tahunnya lahan yang berkurang adalah 12.25 Ha/tahun. Pada tahun 2009 jumlah luas lahan pertanian kering sebesar 6. Pertanian Lahan Kering Pertanian lahan kering menggunakan lahan berupa ladang/tegalan/kebun untuk areal penanaman.Bayat). Kemalang) dan daerah kapur (Kec. Berdasarkan data yang didapat terlihat bahwa dari tahun 2005-2009 perubahan luas yang terjadi terus mengalami penurunan. Areal ini sebagian besar berada di Kecamatan Kemalang dan Bayat. luas total wilayah pertanian di Kabupaten Klaten pada 2005 adalah 9 . Baik dari pertanian lahan basah maupun lahan kering di wilayah Kabupaten Klaten tiap tahunnya terus terjadi perubahan jumah luas lahan. Persebaran ini karena dua derah tersebut merupakan daerah tandus di lereng Gunung Merapi (Kec.263 Ha atau 9.b. Sebanyak 49 Ha lahan berkurang dari tahun 2005-2009.55% dari luas total wilayah Kabupaten Klaten. Berikut ini adalah grafik yang menunjukkan perubahan luas lahan ladang/tegalan/kebun di Kabupaten Klaten : Gambar 6 : Grafik Perubahan Luas Pertanian Lahan Kering Kabupaten Klaten Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Klaten Grafik di atas menunjukkan bahwa luas lahan ladang/tegalan/kebun di Kabupaten Klaten dari tahun 2005-2009 cenderung mengalami penurunan. Jika dijumlahkan antara pertanian lahan basah dan lahan kering.

12 3.103 8 31.98 3.806 Ha. Hingga tahun 2009 jumlahnya menjadi sebesar 39.252 33.270 28. atau hampir dua kali dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Klaten. Jumlah ini merupakan peningkatan sebesar 1 Ha pada tahun-tahun sebelumnya. 18.464 150.10 1.5963 23.36% digunakan untuk jasa.619 4 35 15.79 4 46.6899 16.6043 tri 3.3 25.3607 tersebut 61.522 7 4.4821 5 74 0.95 245.313Sumber : BPN Kabupaten 7 48 Klaten 22. 1.2007 7 33 1.899 47.38% digunakan sebagai perumahan. dimana pada tahun 10 Gambar 7 : Kawasan Rowo .1498 21. Dari luas 245.3607 Ha.67 111.129 5 3. Namun data yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Klaten ini berbeda dengan data yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Klaten.2703 61 607 Jasa Berdasarkan data dari BPN Kabupaten Klaten tersebut diketahui bahwa jumlah luas lahan pertanian yang berkurang dari tahun 2005-2009 adalah sebesar 245.59 1.39. 10. dan sisanya yaitu sebesar 9.53 Jumla an h 1.6555 5 85 3.856 25. Kolam/Rawa Pada tahun 2009 di wilayah Kabupaten Klaten terdapat 202 Ha kolam/rawa. Di dalam data yang dimiliki BPN Kabupaten Klaten disebutkan secara lebih terperinci mengenai perubahan luas lahan pertanian di Kabupaten Klaten : Tabel 3 : Alih Fungsi Lahan Pertanian(Ha) Perumah Indus Perusaha Tahu n 2005 2006 2007 2008 2009 Total an 40. Artinya lahan pertanian di Kabupaten Klaten berkurang 131 Ha mulai dari tahun 20052009.675 Ha.96% digunakan untuk industri.7043 48.30 % digunakan untuk perusahaan.2 15.28 3.

Pertambangan Luas daerah pertambangan di Kabupaten Klaten sebesar 2. di samping fungsinya juga sebagai kawasan wisata. dan batu andesit 2. dimana dari tahun 2005-2009 tidak mengalami pertambahan ataupun pengurangan luas. konveksi. Kehutanan Hutan di Kabupaten Klaten terbagi menjadi dua jenis yaitu hutan lindung dan hutan produksi. Jenis tanah di kedua kecamatan tersebut adalah tanah litosol dan latosol. 4. Hutan lindung sebagian besar berada di Kecamatan Kemalang. 2.99% atau seluas 768 Ha. 5. Perindustrian Jenis industri yang ada di Kabupaten Klaten antara lain cor logam. Sedangkan untuk luas hutan produksi sebesar 47. 3. dan tembakau asapan.2005 hingga 2006 jumlah luasnya sebesar 201 Ha dan bertambah menjadi 202 Ha pada tahun 2007 hingga 2009. Hutan lindung mempunyai proporsi sebesar 52.920 Ha. Rawa/kolam seluas 180 Ha ini oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten digunakan sebagai tempat budidaya ikan air tawar. Perumahan/bangunan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.095 Ha. luas wilayah perumahan di tahun 2005 adalah sebesar 19. yaitu Rawa Jombor. mebel. gerabah. Kolam/rawa terbesar terdapat di Kecamatan Bayat.01% dari luas total hutan yang ada atau 682 Ha. batu gamping 464 Ha. Jumlah ini terus bertambah sebesar 112 Ha hingga 11 . sedangkan hutan produksi berada di Kecamatan Bayat.605 Ha. Jumlah luas hutan lindung ditambahkan dengan luas hutan produksi adalah sebesar 1450 Ha. Di Kabupaten Klaten. sehingga cocok untuk pengembangan kawasan vegetasi hutan. Luas tersebut terdiri dari 3 daerah pertambangan yaitu pertambangan pasir sebesar 46 Ha. Luas areal yang digunakan untuk perindustrian pada tahun 2005 adalah seluas 787 Ha dan terus meningkat hingga tahun 2009 yaitu seluas 834 Ha.

mengacu pada tabel (2) 94.85% atau 771 Ha berada pada daerah rawan longsor. 12 .898 Ha perumahan di Kabupaten Klaten berada pada lahan relatif datar sehingga mempunyai potensi bencana tanah longsor tingkat rendah. Menurut UU No. 1. 2007 tentang Penataan Ruang. Potensi bencana yang ada di Kabupaten Klaten yaitu bencana letusan Gunung Merapi dan tanah longsor. Gambar 8 : Grafik Perubahan Luas Lahan Perumahan Kabupaten Klaten Sumber : Bappeda Kabupaten Klaten Dalam pemanfaatan lahan untuk perumahan harus memperhatikan kondisi lahan untuk mengurangi tingkat resiko kerugian akibat adanya bencana. Untuk potensi bencana letusan Gunung Merapi. letak perumahan/permukiman harus berada lebih dari 5 Km dari puncak gunung. Sedangkan untuk potensi bencana tanah longsor.81 % atau 363 Ha wilayah perumahan berada pada lahan relatif landai dan mempunyai potensi tanah longsor sedang.56% wilayah Kabupaten Klaten digunakan sebagai kawasan permukiman.34% atau 18. Namun untuk Kabupaten Klaten luas RTH (non-pertanian) hanya sebesar 21 %. Ini berarti sebesar 30. Namun pertambahan jumlah perumahan/bangunan di Kabupaten Klaten tidak diiringi dengan peningkatan luas ruang terbuka hijau (RTH). Sedangkan sisanya yaitu sebesar 3.032 Ha.26 th.tahun 2009 menjadi 20. luas RTH yang harus dimiliki oleh suatu wilayah adalah sebesar 30% dari luas wilayah yang ada. Namun masih ada sekitar 25 Ha permukiman yang berada kurang dari 5 Km dari puncak gunung.

Keterkaitan Tata Guna Lahan dengan Kependudukan Kabupaten Klaten Penduduk merupakan pelaku dari berbagai aktifitas yang ada di suatu wilayah/kota. Aktifitas ini berlangsung pada lahan-lahan tertentu.825 jiwa. 1. begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu tata guna lahan mempunyai keterkaitan dengan beberapa aspek. KETERKAITAN TATA GUNA LAHAN Lahan merupakan tempat suatu aktifitas berlangsung. Gambar (9) menunjukkan proporsi penggunaan lahan di tahun 2009 :9 : Proporsi Gambar Penggunaan Lahan Kabupaten Klaten* I. Pembangunan sarana perumahan ini sebagian besar merupakan pengalihfungsian dari lahan pertanian. karena tiap penduduk memerlukan ruang untuk hidup (Alonso dalam Harjanti. Jika dihitung secara kasar dari pertambahan penduduk tahun 2005-2009. 2005-2009 Lampiran 4) *hasil kompilasi data pertambahan penduduk yang ada sebesar 17. Perubahan yang dimaksud berhubungan dengan sarana perumahan yang ada. sedangkan pertumbuhan sarana perumahan adalah sebesar 112 Ha.Dari data-data tersebut jika dikompilasikan maka dapat diketahui tentang proporsi penggunaan lahan di Kabupaten Klaten. Jika terjadi perubahan tata guna suatu lahan maka tentu saja berpengaruh Lahan terdapat pada (Peta Persebaran Guna terhadap aktifitas yang ada. maka tiap jiwa membangun sarana perumahan rata-rata sebesar 62 m2. 13 . Berikut ini akan dijelaskan mengenai keterkaitan tata guna lahan dengan penduduk dan transportasi yang ada di Kabupaten Klaten. Kabupaten mengalami Klaten merupakan pada kabupaten yang Dari penduduknya tahun terus pertumbuhan tiap tahunnya. 2002). dimana jka terjadi perubahan jumlah penduduk maka tata guna lahan yang ada juga akan mengalami perubahan.

perkantoran dan bangunan lain tempat berlangsungnya kegiatan) di sepanjang jalan-jalan utama (ribbon development) yang terdapat di pusat Kabupaten Klaten.000 m2. Secara keseluruhan. 327/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan jika luas tutupan lahan berkisar antara 30 .910 jiwa. Pada tahun 2009 jumlah sarana perumahan adalah seluas 20.320. Namun jika dilihat per kecamatan ada dua kecamatan yang termasuk kategori kepadatan sedang (45-60%) yaitu Kecamatan Klaten Utara sebesar 53. Kemudian jika dilihat dari ketersediaan sarana perumahan bagi penduduk Kabupaten Klaten.45 % maka termasuk kategori kawasan dengan tingkat kepadatan rendah.56% dari luas total wilayah kabupaten. Sedangkan kecamatan Polanharjo merupakan kecamatan yang mempunyai kepadatan paling rendah yaitu 17. sarana perumahan di Kabupaten Klaten pada tahun 2009 adalah sebesar 30. 2 403/2002 kebutuhan ruang tiap penduduk adalah sebesar 9 m /orang.303. Jadi dilihat dari sisi tata guna lahan perumahan secara keseluruhan wilayah Kabupaten Klaten mempunyai tingkat kepadatan yang rendah. sedangkan jumlah penduduk yang ada adalah sebesar 1. Menurut Keputusan Menteri Kimpraswil No. menurut Keputusan Menteri Kimpraswil No. maka tiap penduduk mendapatkan ruang perumahan seluas 154 m2 yang berarti jauh melebihi ketetapan yang ada. Hubungan antara tata guna lahan dengan transportasi di Kabupaten Klaten terlihat dari pertumbuhan guna lahan (seperti lahan permukiman. Sedangkan sistem transportasi yang tidak bisa melayani suatu tata guna lahan maka sistem transportasi tersebut dianggap mengalami kegagalan. yaitu Kota 14 . Suatu tata guna lahan tidak akan berfungsi atau berjalan secara optimal jika tidak didukung dengan adanya sistem transportasi.Di samping itu dari tata guna lahan perumahan dapat juga diperhitungkan mengenai tingkat kepadatan.032 Ha atau 200.37% sehingga dikategorikan sebagai kawasan yang mempunyai tingkat kepadatan sangat rendah (<30%). 2. Jika dilakukan perhitungan secara kasar berdasarkan data yang ada. Keterkaitan Tata Guna Lahan dengan Transportasi Kabupaten Klaten Tata guna lahan dan transportasi merupakan dua hal yang saling terkait.38 %.08% dan Kecamatan Klaten Tengah sebesar 55.

PENGEMBANGAN TATA GUNA LAHAN KABUPATEN KLATEN Rencana pengembangan dan peraturan penggunaan lahan di Kabupaten Klaten didasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Klaten. dll) di Kota Klaten mendekati akses ke jalan utama tersebut. terdapat sekitar 68. yaitu Kecamatan Klaten Utara. Sehingga penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan (perumahan. dan berkesinambungan. Dengan adanya penataan lahan yang berpedoman pada RTRW ini diharapkan mampu mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan tetap berwawasan lingkungan. Pemanfaatan ruang ini akan menciptakan suatu pola tata guna lahan dengan berpedoman pada RTRW. pusat perbelanjaan. RTRW Kabupaten Klaten dijadikan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan ruang secara terencana. Kota klaten terdiri dari 3 kecamatan. Hingga saat ini pemanfaatan ruang yang dilaksanakan di Kabupaten Klaten didasarkan pada dokumen RTRW yang masih berlaku yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Klaten No. I. terdapat sekitar 2734.Klaten.30 Ha.52 Ha yang terkonsentrasi di jalan utama. Hal ini menunjukkan bahwa jalan raya (aksesibilitas transportasi) sangat berpengaruh terhadap tata guna lahan di sekitar jalan tersebut. terarah. Artinya. lokasi pengembangan kawasan budidaya termasuk kawasan produksi dan kawasan permukiman (bangunan gedung) yang berada dalam wilayah Kabupaten Klaten. RTRW Kabupaten Klaten merupakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Klaten yang menetapkan lokasi yang harus dilindungi. perkantoran. Dari ketiga kecamatan yang terdapat di Kota Klaten tersebut terdapat penggunaan lahan untuk berbagai kegiatan sebesar 3986. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan aksesibilitas di Kota Klaten. Kecamatan Klaten Tengah dan Kecamatan Klaten Selatan. bersinergi. terpadu. efisien dalam alokasi investasi. 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Klaten Tahun 2006-2015. Dari total luas penggunaan lahan tersebut. RTRW Kabupaten Klaten ini selanjutnya 15 .9% penggunaan lahan untuk pusat-pusat kegiatanyang terkonsentrasi d jalan utama. 4 Th. dan dapat dijadikan acuan dalam program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Sistem Permukiman Perdesaan Sistem permukiman perdesaan terdiri dari :  Permukiman desa kota. a. Dalam RTRW Kabupaten Klaten dijelaskan tentang Rencana Struktur dan Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah yang merupakan acuan dalam RTRW untuk pemanfaatan ruang: 1. Hierarki ini terdiri dari sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. a. Sistem Permukiman Perkotaan Sistem permukiman perkotaan membentuk sistem kota sebagai sistem simpul pelayanan.dugunakan sebagai arahan kebijaksanaan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Klaten sebagai pedoman bagi penataan ruang wilayah kabupaten dan dasar dalam penyusunan program pembangunan. dimana RTRW ini akan diprioritaskan pengembangannya dalam kurun waktu 10 tahun. serta sistem prasarana wilayah. Dalam strategi pengembangannya pengelolaan kawasan perdesaan diarahkan untuk meningkatkan fungsi kawasan sebagai permukiman dan sentra produksi pertanian dengan pendekatan teknologi sehingga tetap memiliki daya tarik bagi penyerapan tenaga kerja dan pengembangan ekonomi. merupakan permukiman perdesaan yang karena posisinya termasuk dalam wilayah administrasi kota.  Permukiman desa tradisonal. yaitu sekitar Kota Klaten dan ibukota-ibukota kecamatan. Hierarki pusat pelayanan adalah suatu jejaring yang menggambarkan sebaran kota-kota kecamatan dan fungsional kota-kota yang terkait dengan pola transportasi dan prasarana wilayah lainnya dalam ruang wilayah Kabupaten Klaten. yang terdiri dari : 16 . merupakan permukiman perdesaan yang posisinya sebagai daerah belakang ibukota-ibukota kecamatan. Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah Merupakan rencana pemanfaatan ruang wilayah berdasarkan hierarki pusat pelayanan wilayah.

 Pusat pelayanan wilayah atau Kota Orde I. pusat pelayanan perdagangan sampai dengan setingkat pasar khusus umum. yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan tingkat kabupaten. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai dengan setingkat bank umum dan swasta. Polanharjo. pusat pelayanan perdagangan sampai dengan setingkat pasar khusus (pasar hewan dan buah). dan Klaten Selatan. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai setingkat bank kecamatan dan badan kredit kecamatan. Prambanaan. Cawas. yaitu Kota Klaten yang meliputi wilayah kecamatan Klaten Utara. Wedi. Dalam dan strategi pengembangannya yang Dalam pengelolaan sehingga kawasan mampu perkotaan mendorong diarahkan untuk menciptakan simpul koleksi dan distribusi hasil produksi barang konsumsi wilayah. setingkat pusat pelayanan kesehatan atas. Karangdowo. pusat pelayanan kesehatan sampai dengan setingkat puskesmas rawat inap. pusat pelayanan pendidikan sampai dengan setingkat pendidikan sekolah menengah tingkat atas. dan Pedan. pusat pelayanan kesehatan sampai dengan setingkat rumah sakit umum. Jatinom. dan pusat pelayanan jasa keuangan sampai dengan setingkat bank cabang tingkat kecamatan.  Pusat pelayanan sub-wilayah atau Kota Orde II. Trucuk. Wonosari. Karanganom. pusat pelayanan pendidikan sampai pendidikan menengah dengan pelayanan cabang perdagangan sampai dengan setingkat pasar kecamatan. yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan tingkat kecamatan. Karangnongko. Manisrenggo. Kebonarum. yaitu Kota Delanggu. sampai pusat dengan setingkat puskesmas rawat jalan. Kemalang. 17 . yang berfungsi sebagai : pusat pelayanan pemerintahan sampai dengan kantor pemerintahan setingkat dengan kecamatan. Bayat. Tulung. pusat pelayanan pendidikan sampai dengan setingkat pendidikan tinggi. Ngawen.  Pusat pelayanan kecamatan atau Kota Orde III. dan Kalikotes. yaitu Kota Juwiring. Ceper. Klaten Tengah. Jogonalan. optimal upaya perekonomian pengembangan/pembangunan. Gantiwarno.

 SWP IV. sumber daya buatan. Ceper. (Peta Pembagian SWP terdapat dalam Lampiran 5) a. dan Karangaom. meliputi Kecamatan Klaten Utara. Tulung. meliputi Kecamatan Bayat. meliputi Kecamatan Jatinom.  SWP VI. meliputi Kecamatan Delanggu. Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Dalam rencana pola pemanfaatan ruang wilayah digambarkan tentang daerah persebaran kawasan lindung dan budidaya serta pengembangannya. Wonosari.  SWP III. telekomunikasi. pengairan. dan prasarana pengelolaan lingkungan. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Pedan.  SWP II. Klaten Tengah. Wedi. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Prambanan. 1. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Jatinom. dengan pusat pertumbuhan di Kota Klaten. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Cawas. Klaten Selatan. meliputi Kecamatan Pedan.  SWP V. dengan pusat pertumbuhan di Kota Kecamatan Delanggu. dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna 18 . Cawas. meliputi Kecamatan Prambanan.wilayah Kabupaten Klaten terbagi dalam Struktur Tata Ruang Wilayah. peningkatan kualitas pelayanan dan sesuai dengan struktur tata ruang wilayah yang dituju. Karangnongko. dan Juwiring. dan Karangdowo. Sistem Prasarana Wilayah Pengembangan sistem prasarana wilayah meliputi transportasi. Polanharjo. energi. Kalikotes. Struktur tata ruang wilayah dibuat berdasarkan pembagian Sub Wilayah Pembangunan (SWP) yang terdiri dari :  SWP I. Manisrenggo dan Kemalang. dan Trucuk. Jogonalan. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam. dan Ngawen. a. Kebonarum. diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Gantiwarno.

Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan di Bawahnya Merupakan yang berada pada ketinggian dan kemiringan tertentu yang apabila tidak dilindungi dapat membahayakan kehidupan di kawasan yang berada di bawahnya. terletak di sekitar Rawa Jombor  Kawasan sekitar mata air ditetapkan meliputi kawasan sekurangkurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar seluruh mata air. Di Kabupaten Klaten kawasan ini ditetapkan di lereng Gunung Merapi Kecamatan Kemalang sebesar 15. dan Candi Plaosan – – Kecamatan Karangnongko : Kawasan Candi Merak Kecamatan Bayat : Kawasan Pandanaran i. Candi Bubrah.kepentingan pembangunan yang berkelanjutan. Candi Sowijan. Candi Lumbung.Kawasan Rawan Bencana 19 .  i.Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Kawasan Cagar Budaya : – Kecamatan Prambanan : Kawasan Candi Prambanan. yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari pasang titik tertinggi kea rah darat.6 Ha. Pengelolaan kawasan lindung diarahkan dalam upaya mempertahankan kawasan lindung yang masih ada dan mengoptimalkan fungsinya melalui pengawasan yang lebih baik.7% dari luas total Kecamatan Kemalang atau 810. yaitu : i.Kawasan Perlindungan Setempat  Kawasan sempadan sungai  Kawasan sekitar waduk/rawa : ditetapkan meliputi dataran sepanjang tepian danau. Kawasan lindung di Kabupaten Klaten terdiri dari 4 kawasan. waduk atau rawa. ii. Candi Asu.

Kawasan Hutan Produksi Kawasan hutan produksi terbagi menjadi dua yaitu kawasan hutan rakyat dan kawasan hutan produksi terbatas yang dapat dikelola dengan tetap mempertahankan rakyat fungsi hutannya. Bawukan.Kawasan rawan bencana letusan Gunung Merapi ditetapkan di sebagian Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Manisrenggo dengan luas sekitar 532 Ha. Balerante. Dompol. Tlogowatu. Gantiwarno. dan Tangkil. Tulung. Kawasan budidaya Kabupaten Klaten terdiri dari : i. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang dimanfaatkan secara terencana dan terarah sehingga dapat berdayaguna dan berhasilguna bagi hidup dan kehidupan manusia yang terdiri dari kawasan budidaya pertanian dan nonpertanian. Manisrenggo. Kecamatan Kalikotes. Kawasan rawan bencana tanah longsor/erosi ditetapakan di : – – – Lereng pegunungan Jiwowetan Kecamatan Wedi Desa Sukorini Kecamatan Manisrenggo Desa Tegalmulyo. kawasan hutan produksi ditetapkan sebagai berikut : Kawasan hutan ditetapkan Kecamatan Karangnongko. dan Bayat. Pengelolaan kawasan budidaya diarahkan pada optimalisasi fungsi kawasan. Sidorejo. Kendalsari. Jatinom. Kawasan hutan produksi terbatas ditetapkan di wilayah Kecamatan Bayat. Bumiharjo. 20 . i. di Pengembangan Kemalang. Kemalang. a. kecuali Kecamatan Kemalang.Kawasan Pertanian Pengembangan kawasan pertanian ditetapkan sebagai berikut : Kawasan pertanian lahan basah ditetapkan dengan lokasi tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten. Wedi.

Manisrenggo. Kawasan industri ditetapkan di Desa Troketon dan Desa Kaligawe Kecamatan Pedan dengan luas lahan 100 Ha. Bayat. Kawasan perikanan air tawar ditetapkan dengan lokasi di sekitar Rawa Jombor Kecamatan Bayat. Ngawen. Kecamatan Polanharjo. Karangnongko. Jatinom. Jatinom. i. Manisrenggo. Karangnongko. Kawasan tanaman tahunan/perkebunan ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang. Pedan. dan Ceper. dan Wedi. Trucuk. Bayat. dan Kebonarum.Kawasan Pertambangan Pengembangan kawasan pertamabangan ditetapkan sebagai berikut : Pertambangan batu Andesit Karangdowo ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Karangdowo. Manisrenggo. Kebonarum. Pertambangan gabro dan diorit ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Bayat. Jatinom. Pertambangan pasir vulkanik dan Andesit Merapi ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang dan Manisrenggo.Kawasan peruntukan industri Pengembangan kawasan peruntukan industri ditetapkan sebagai berikut : Kawasan perindustrian ditetapkan di Desa Karanganom Kecamatan Klaten Utara dan Kelurahan Mojayan Kecamatan Klaten Tengah. Pertambangan lempung aluvial ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Gantiwarno. Jogonalan. dan Cawas. Kawasan peternakan sapi perah ditetapkan dengan lokasi di Kemalang. Bayat. i. Karangnongko. Pertambangan batu gamping ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Bayat dan Cawas. Karanganom. Tulung. Tulung.Kawasan tanaman pangan lahan kering ditetapkan dengan lokasi di Kecamatan Kemalang. dan Tulung. 21 . Karangnongko. Tulung.

dan Plaosan di Kecamatan Prambanan. dan Tradisi Padusan di Kecamatan Tulung. Pemancingan Janti. Kawasan Wisata Pemandian Tirtomulyono di Kecamatan Kebonarum. ziarah (keagamaan). dan peninggalan sejarah (candi). Candi Sewu. Kawasan Wisata Sumber Air Ingas. Pemandian Lumban Tirto. Kawasan Wisata Deles Indah di Kecamatan Kemalang.Kawasan Pariwisata Kawasan wisata di Kabupaten Klaten terdiri dari kawasan wisata alam. Pengembangan kawasan wisata ditetapkan sebagai berikut : Kawasan Wisata Candi Prambanan. Kawasan Wisata Museum Gula Jawa Tengah di Gondangwinangun Kecamatan Jogonalan. pendidikan (museum). budaya (tradisi). Kawasan Wisata Pemandian Jolotundo di Kecamatan Karanganom. permainan dan olahraga (pemandian). Kawasan Wisata Rawa Jombor Permai dan Makam Ki Ageng Pandanaran di Kecamatan Bayat.Kawasan sentra industri ditetapkan di : – – – – – – – – Kecamatan Ceper sebagai sentra industri cor logam Kecamatan Pedan sebagai sentra industri tenun ATBM Kecamatan Wedi sebagai sentra industri konveksi Kecamatan Juwiring dan Kecamatan Trucuk sebagai sentra industri mebel/furnitur Kecamatan Bayat sebagai sentra industri gerabah/keramik Kecamatan Trucuk dan Manisrenggo sebagai sentra industri tembakau asapan Kecamatan Ngawen sebagai sentra industri soon Kecamatan Jogonalan sebagai sentra makanan kecil i. 22 . Kawasan Wisata Makam Ki Ageng Gribig dan Tradisi Yaqowiyu di Kecamatan Jatinom. Kawasan Wisata Alam Gunung Watu Prau dan Pegunungan Kidul di Kecamatan Bayat.

Kalikotes. Wonosari. Jogonalan. Cawas. yang memungkinkan terselenggarakannya pola hunian yang berimbang – Tidak terganggu oleh kebisingan – Memiliki pola permukiman yang kompak – Memiliki kemudahan mencapai fasilitas umum – Topografi cukup datar. Trucuk. Klaten Selatan. Ceper. Wedi. Jatinom dan pusat-pusat pelayanan kecamatan lainnya. Delanggu. dengan dominasi di Kecamatan Gantiwarno. Ngawen. Karangnongko. Pengembangan kawasan permukiman meliputi : Kawasan permukiman perdesaan ditetapkan di seluruh wilayah kecamatan.Kawasan Wisata Makam Ki Ageng Ronggowarsito di Kecamatan Trucuk. Karanganom. i. Bayat. Klaten Tengah. Pembangunan dan pengembangan kawasan perumahan baru harus mengacu pada persyaratan lokasi sebagai berikut : – Tidak berlokasi pada kawasan rawan bencana – Tidak berlokasi pada kawasan konservasi – Tidak berlokasi pada kawasan yang masih dalam sengketa – Mempunyai sumber air baku yang memadai (kualitas dan kuantitas) atau terhubungkan dengan jaringan pelayanan air bersih serta jaringan sanitasi dan pernatusan berskala kota – Terletak pada hamparan dengan luasan yang cukup. Kawasan permukiman perkotaan ditetapkan di Kecamatan Klaten Utara. Pedan. Polanharjo. dan Kemalang. Perwito di Kecamatan Wonosari. Tulung. Manisrenggo. Kebonarum.Kawasan Permukiman Kawasan permukiman terdiri dari kawasan permukiman perdesaan dan kawasan permukiman perkotaan. Kawasan Wisata Makam Ki A. Karangdowo. Prambanan. dengan kelerengan lahan ≤ 25% a. Kawasan Prioritas 23 . Juwiring.

Wonosari. terletak di Kecamatan Delanggu. 24 . Cawas. terletak di Kecamatan Prambanan. Jogonalan dan Delanggu – Kawasan pengembangan sektor-sektor strategis/unggulan pertanian tanaman pangan. Karangdowo. Jatinom. Karangnongko. Manisrenggo dan Tulung – Kawasan pertumbuhan cepat. Wonosari. Kawasan prioritas pembangunan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangannya meliputi : – Kawasan perbatasan. Manisrenggo. Klaten Selatan. Pedan. Bayat.Kawasan prioritas adalah kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu perencanaan. fungsi lindungnya di untuk menghindarkan Kemalang – Kawasan prioritas Konservasi Lereng Gunung Merapi terletak di Kecamatan Kemalang – Kawasan Pengembangan Kawasan Tertinggal terletak di Kecamatan Bayat dan Gantiwarno Pengembangan kawasan prioritas memiliki kriteria sebagai berikut : – Kawasan yang mempunyai kontribusi terhadap pencapaian sasaran pembangunan secara regional dan nasional – Kawasan yang tidak masuk dalam deliniasi kawasan tertentu dan andalan tetapidari dimensi Daerah memiliki peranan untuk pertumbuhan dan pemerataan yang besar – Kawasan yang mempunyai permasalahan ruang yang harus segera ditangani kerusakan terletak Kecamatan Gantiwarno. Klaten Tengah. terletak di Klaten Utara. Cawas. Tulung. Juwiring. Trucuk dan Polanharjo – Kawasan kritis yang perlu dipelihara lingkungan. Juwiring.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->