Anda di halaman 1dari 5

10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan perbandingan

tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Dikemukakan

bahwa angka kematian perinatal lebih mencerminkan kesanggupan satu negara untuk

memberikan pelayanan kesehatan. (Manuaba.2002. hlm. 4)

Setiap tahun diperkirakan 4 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan

dan dua pertiganya meninggal pada minggu pertama. Penyebab utama kematian pada

minggu pertama kehidupan adalah komplikasi kehamilan dan persalinan seperti asfiksia,

sepsis, dan komplikasi berat lahir rendah. Kurang lebih 98% kematian ini terjadi di

negara berkembang dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah dengan pencegahan

dini dan pengobatan yang tepat. (Depkes RI. 2003.hlm. 1)

Di negara ASEAN Indonesia mempunyai angka kematian tertinggi 330/100.000

dan angka kematian perinatal 420/100.000 persalinan hidup. Dengan perkiraan

persalinan diIndonesia setiap tahunnya sekitar 5.000.000 jiwa dapat dijabarkan bahwa

kematian bayi sebesar 56/10.000 menjadi sekitar 280.000 atau terjadi setiap 18-20 menit

sekali. Penyebab kematian bayi adalah asfiksia neonatorum 49-60%, infeksi 24-34%,

prematuritas/BBLR 15-20%, trauma persalinan 2-7%, dan cacat bawaan 1-3%.

(Manuaba. 2008. hlm. 346).

Universitas Sumatera Utara


11

Angka kematian bayi (AKB) diIndonesia, pada tahun 1997 tercatat sebanyak

41,4 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan menurut SDKI 2002, angka kematian bayi

adalah 35 per 1000 kelahiran hidup.Dalam upaya mewujudkan visi “Indonesia sehat

2010”, maka salah satu tolak ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas

neonatus, dengan proyeksi pada salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir

adalah ensefalopati billirubin(lebih dikenal sebagai kernikterus). Ensefalopati billirubin

merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat.(Sastroasmoro,2004,Tata

laksana ikterus neonatorum,¶1,http//www. Yanmedik.depkes.net.com,diperoleh tanggal

24 september 2008).

Sampai saat ini ikterus masih merupakan masalah pada bayi baru lahir yang

sering dihadapi tenaga kesehatan terjadi pada sekitar 25-50% bayi cukup bulan dan lebih

tinggi pada neonatus kurang bulan. Oleh sebab itu memeriksa ikterus pada bayi harus

dilakukan pada waktu melakukan kunjungan neonatal/pada saat memeriksa bayi

diklinik. (Depkes RI. 2006. hlm. 24).

Ikterus(jaundice) terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah,

sehingga kulit(terutama) dan atau sklera bayi (neonatus) tampak kekuningan. Pada

sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya.

Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan

80% bayi kurang bulan. (Risa,2006,¶1,Hiperbilirubinemia pada

neonatus,http//www.pediatrik.com,diperoleh tanggal 17 oktober 2008).

Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500g atau

usia gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertamanya.Di Indonesia

didapatkan data ikterus dari beberapa rumah sakit pendidikan. Insidens di RSCM tahun

Universitas Sumatera Utara


12

2003, menemukan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir sebesar 58%. RS. Dr. Sardjito

melaporkan sebanyak 85% bayi cukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin diatas

5mg/dl dan 23,8% memiliki kadar bilirubin diatas 13mg/dl dan 23,8% memiliki kadar

bilirubin diatas 13mg/dl.(Sastroasmoro,2004,Tata laksana ikterus

neonatorum,¶3,http//www. Yanmedik.depkes.net.com,diperoleh tanggal 24 september

2008).

Data yang agak berbeda didapatkan dari RS. Dr. Kariadi Semarang dimana

insidens ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar 13,7%, 78% diantaranya merupakan

ikterus fisiologis dan sisanya ikterus patologis. Angka kematian terkait

hiperbilirubinemia sebesar13,1%. Didapatkan juga data insidens ikterus pada bayi cukup

bulan sebesar 12,0% dan bayi kurang bulan 22,8%. Insidens ikterus neonatorum di

RS.Dr. Soetomo Surabaya sebesar 30% pada tahun 2000 dan 13% pada tahun 2002.

(Sastroasmoro,2004,Tata laksana ikterus

neonatorum,¶3,http//www.Yanmedik.depkes.net.com, diperoleh tanggal 24 september

2008).

Dari survey awal yang peneliti lakukan pada bulan oktober 2008 melalui data

rekam medik, insidens ikterus di RSUD Pirngadi Medan didapatkan hasil yaitu pada

tahun 2006 bayi kurang bulan (18 orang pasien) dan bayi cukup bulan(10 orang pasien) .

Sedangkan pada tahun 2007 bayi kurang bulan (10 orang) dan bayi cukup bulan (9

orang).

Pencegahan dan penanganan ikterus bukan hanya tanggung jawab petugas

kesehatan, tetapi juga merupakan tanggung jawab ibu untuk menurunkan angka

Universitas Sumatera Utara


13

kematian bayi khususnya ikterus. Oleh karena itu, berdasarkan data diatas maka

penelitian ini perlu dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah pengetahuan ibu post partum tentang ikterus pada bayi baru lahir

di rumah sakit Pirngadi Medan tahun 2009

C Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang ikterus pada

bayi baru lahir di RSUD Pirngadi Medan tahun 2009

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengidentifikasi karakteristik responden.

b. Untuk mengidentifikasi sumber informasi responden

c. Untuk mengidentifikasi pengetahuan ibu post partum tentang ikterus pada

bayi baru lahir yang berkaitan dengan pengertian ikterus, pembagian ikterus,

penyebab ikterus, gejala ikterus, serta penanganan ikterus.

D. Manfaat Penelitian

1.Bagi Institusi Rumah Sakit

Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pihak rumah sakit

Pirngadi Medan mengenai pengetahuan ibu post partum yang berada disana

tentang ikterus pada bayi baru lahir sehingga bila pengetahuan ibu belum baik

Universitas Sumatera Utara


14

maka diharapkan rumah sakit beserta tenaga kesehatan untuk lebih aktif

melakukan penyuluhan tentang ikterus pada bayi baru lahir.

2.Bagi bidan di Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan kepada bidan untuk

memberikan informasi kepada mahasiswa dan sebagai bahan perbandingan

terhadap materi pembelajaran khususnya tentang ikterus pada bayi baru lahir.

3.Bagi bidan di lapangan

Hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi bidan dalam

memberikan pelayanan tentang ikterus pada bayi baru lahir.

4.Bagi penelitian selanjutnya

Diharapkan dapat menjadi data awal untuk penelitian selanjutnya.

Universitas Sumatera Utara