Anda di halaman 1dari 95

Satu Untuk UNM

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Modul disusun dengan maksud utama: memberi manfaat yang optimal bagi
kelancaran dan efektivitas pelaksanaan PLPG Bimbingan Konseling. Guna mencapai maksud
tersebut, penggunaan modul perlu memperhatikan beberapa karakteristik penting dari modul
ini.
Pertama, uraian materi dalam modul ini disusun dengan mengacu pada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional nomor 27 tahun 2008 tentang Kualifikasi Akademik dan Standar
Kompetensi Konselor. Dua kompetensi utama yang menjadi fokus kajian dalam modul adalah
kompetensi pedagogik dan komptensi profesional. Modul terdiri atas 10 Kegiatan Belajar
(KB). Uraian materi pada Kegiatan Belajar (KB) 1, 2, 3, dan 4 didasarkan terutama pada
Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di Institusi Pendidikan Formal
(Depdiknas, 2009), sedangkan uraian materi pada KB 5, 6, 7, dan 8 dikembangkan
berdasarkan referensi terkait yang tersedia. Uraian materi pada setiap kegiatan belajar
diusahan sesimpel mungkin sehingga bahan yang ada dalam modul hanya memenuhi
standar minimum dari apa yang seharusnya dipelajari dan dikaji. Oleh karena itu, fasilitator
dan peserta perlu memperkaya dengan bahan lain dari sumber referensi terkait lainnya.
Kedua, modul ini berisi lesson plan berbasis active-learning. Pelaksanaan pelatihan
terutama berpusat pada peserta (trainee-centered). Keaktifan dan keterlibatan penuh setiap
peserta adalah kondisi esensial yang harus menyertai pelaksanaan setiap sesi pelatihan.
Walaupun sesi pelatihan banyak menggunkan format kelompok dan klasikal, namun
perhatian terhadap kondisi, keunikan, dan kebutuhan khas setiap peserta merupakan faktor
penentu keberhasilan pelatihan. Oleh karena itu, fasilitator perlu mengupayakan agar pada
setiap sesi yang dilakukan, setiap peserta didorong untuk mampu mengeksplorasi
permasalahan, pemikiran, ataupun pengalaman individualnya masing-masing. Di samping
itu, model prosedur, langkah-langkah, ataupun format-format yang ada pada setiap aktivitas
bersifat opsional. Fasilitator dapat meramu, mengkombinasi, atau bahkan menggantinya
dengan metode/format lain yang dirasa lebih cocok, sejauh tidak menyimpang dari tujuan-
tujuan yang ingin dicapai pada unit KB yang bersangkuitan dan tetap menggunakan prinsip
active-learning.
Ketiga, struktur modul disusun dan dengan memperhatikan urutan logis penguasaan
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional konselor. Unit Kegiatan Belajar 1, 2, 3,
dan 4 dimaksudkan menjadi bahan pengganti pelatihan pada bagian Pendalaman Materi
dalam PLPG, sementara Unit Kegiatan Belajar 5, 6, 7, dan 8 dimaksukan untuk menjadi
bahan pelatihan pada bagian Model-Model Bimbingan Konseling. Masing-masing unit KB

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 1
Satu Untuk UNM

berdurasi waktu 5 x 50 menit (kecuali unit KB 5 dan 8 yang berdurasi 6 x 50 menit). Urutan
penyajian unit KB dalam modul diharapkan dapat diikuti secara konsisten agar tidak
mengacaukan pemahaman peserta terhadap keseluruhan isi modul. Begitu pula,
pelaksanaan pelatihan pada setiap unit KB perlu memperhatikan alokasi waktu yang
disediakan untuk unit tersebut agar tidak mengganggu pelaksanaan pelatihan pada unit-unit
KB berikutnya.
Deskripsi isi dan alokasi waktu setiap unit Kegiatan Belajar diuraikan pada Matrik
berikut.
Kode Durasi
No Judul Kegiatan Belajar
Unit Waktu
1. KB 1 Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling 5 x 50 menit
2. KB 2 Program Bimbingan dan Konseling 5 x 50 menit
3. KB 3 Asesmen dan Perencanaan Bimbingan Konseling 5 x 50 menit
4. KB 4 Organisasi, Fasilitas, dan Evaluasi Bimbingan Knbseling 5 x 50 menit
5. KB 5 Konseling Behavioristik 6 x 50 menit
6. KB 6 Konseling Rational Emotive Behavior Therapy 5 x 50 menit
7. KB 7 Konseling Humanistik 5 x 50 menit
8. KB 8 Keterampilan Dasar Konseling 6 x 50 menit

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 2
Satu Untuk UNM

PENGANTAR

Pendahuluan
Keberadaan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam sistem pendidikan
nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,
dosen, pamong belajar, tutor, widya iswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal
1 ayat 6). Kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnya
tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks
tugas, ekspektasi kinerja, dan seting pelayanan spesifik yang satu dan yang lainnya
mengandung keunikan dan perbedaan. Oleh sebab itu, di dalam naskah ini konteks dan
ekspektasi kinerja guru bimbingan dan konseling atau konselor mendapatkan penegasan
kembali dengan maksud untuk meluruskan konsep dan praktik bimbingan dan konseling ke
arah yang tepat.
Merujuk pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, tenaga
pendidik di bidang bimbingan dan konseling disebut dengan Guru Bimbingan dan Konseling
atau Konselor. Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, perbedaan
rentang usia peserta didik pada tiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan pelayanan
bimbingan dan konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan. Batas ragam
kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lainnya tidak terbedakan sangat
tajam. Dengan kata lain, batas perbedaan antar jenjang tersebut lebih merupakan suatu
wilayah. Di pihak lain, perbedaan yang lebih signifikan tampak pada sisi pengaturan
birokratik, seperti misalnya di Taman Kanak-kanak sebagian besar tugas guru bimbingan dan
konseling atau konselor ditangani langsung oleh guru kelas taman kanak-kanak. Sedangkan
di jenjang Sekolah Dasar, meskipun memang ada permasalahan yang memerlukan
penanganan oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor, namun cakupan
pelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya guru bimbingan dan konseling
atau konselor di setiap Sekolah Dasar, sebagaimana yang diperlukan di jenjang sekolah
menengah (SMP/MTs, SMA/MA, SMK). Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan siswa
didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus
dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling atau konselor, dan
tenaga pendidik dan kependidikan lainnya sebagai mitra kerja. Sementara itu masing-masing
pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan
pencapaian kompetensi peserta didik. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara guru
bimbingan dan konseling atau konselor dengan guru mata pelajaran, antara lain dapat
dilakukan melalui kegiatan rujukan (referral). Masalah-masalah perkembangan peserta didik

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 3
Satu Untuk UNM

yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada guru bimbingan dan konseling
atau konselor untuk penanganannya, demikian pula masalah yang ditangani guru bimbingan
dan konseling atau konselor dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya apabila itu
terkait dengan proses pembelajaran mata pelajaran atau bidang studi. Masalah kesulitan
belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran
itu sendiri. Ini berarti di dalam pengembangan dan proses pembelajaran bermutu, fungsi-
fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru, dan sebaliknya, fungsi-
fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian guru bimbingan dan konseling
atau konselor.
Berdasarkan keunikan pelayanan bimbingan dan konseling oleh guru bimbingan dan
konseling atau konselor, maka sosok kompetensi utuh seorang Guru Bimbingan dan
Konseling atau Konselor adalah sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No 27 tahun
2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Sosok utuh
kompetensi guru bimbingan dan konseling atau konselor mencakup kompetensi akademik
dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah
dari kiat pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik
merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1)
memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka
teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan
konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas guru
bimbingan dan konseling atau konselor secara berkelanjutan. Unjuk kerja guru bimbingan
dan konseling atau konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat
kompetensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang
mendukung. Kompetensi akademik dan profesional guru bimbingan dan konseling atau
konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional.
Pembentukan kompetensi akademik guru bimbingan dan konseling atau konselor ini
merupakan proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang Bimbingan dan
Konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd)
bidang Bimbingan dan Konseling. Sedangkan kompetensi profesional merupakan
penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang
ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah
diperoleh dalam konteks otentik Rumusan Standar Kompetensi Lulusan telah dikembangkan
dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi
kinerja Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. Namun bila ditata ke dalam empat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 4
Satu Untuk UNM

kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP RI 19/2005, maka rumusan


kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat dipetakan dan dirumuskan
ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana
termaktub dalam Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Konselor. Merujuk pada Undang-Undang RI No 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
dan Peraturan Pemerintah RI No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
menyatakan guru adalah pendidik professional, termasuk guru bimbingan dan konseling atau
konselor dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas. Untuk itu guru dipersyaratkan
memiliki kualifikasi akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan
menguasai kompetensi sebagaimana yang dituntut oleh UU Guru dan Dosen. Pengakuan
professional bagi guru dibuktikan melalui sertifikasi pendidik. Sertifikasi pendidik bagi guru
prajabatan diperoleh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), sedangkan bagi guru dalam
jabatan diperoleh melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio atau pemberian
sertifikat secara langsung. Sertifikasi sebagai upaya peningkatan mutu guru diharapkan
dapat meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling. Peserta sertifikasi melalui
penilaian portofolio yang belum mencapai skor minimal kelulusan, diharuskan (a) melengkapi
kekuarangan portofolio atau (b) mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang
diakhiri dengan ujian.
Kebijakan pemerintah untuk melakukan standarisasi penyelenggaraan dan pengujian
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) merupakan upaya peningkatan kualitas guru
(termasuk di dalamnya guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor) perlu diapresiasi dan
dipandang sebagai salah satu proses profesionalisasi guru Bimbingan dan Konseling atau
Konselor. Oleh karena itu, standar kompetensi lulusan PLPG guru BK atau Konselor mengacu
pada Permendiknas Nomor 27 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi konselor. PLPG diselenggarakan sebagai salah satu upaya ―menambal‖
(melengkapi) kompetensi-kompetensi guru Bimbingan dan Konseling yang dinilai masih perlu
ditingkatkan. Peningkatan guru bimbingan dan konseling atau konselor melalui PLPG
ditunjukkan oleh hasil uji kompetensi meliputi uji tulis dan uji praktik, yang dilaksanakan
pada akhir PLPG. Pada uji tulis, yang diuji kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional
BK. Sedangkan kompetensi kepribadian dan sosial diuji melalui uji praktik dan atau penilaian
sejawat. Oleh karena itu tidak semua kompetensi Guru Bimbingan dan Konseling atau
Konselor sebagaimana diamanatkan dalam Permendiknas 27 tahun 2008 dilatihkan dalam
PLPG yang berdurasi hanya 90 jam pelajaran.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 5
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 1

A. Judul : Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling


B. Indikator
1. Menjelaskan konteks tugas konselor di sekolah
2. Menjelaskan urgensi pelayanan bimbimbingan konseling di sekolah
3. Menilai ketercapaian tujuan-tujuan tiga bidang pelayanan bimbingan konseling di
sekolah
4. Menjelaskan dengan contoh keterlaksanaan ketujuh fungsi bimbingan konseling di
sekolah
5. Menyebutkan contoh pelaksanaan enam prinsip bimbingan dan konseling
6. Menyebutkan minimal tiga contoh pelaksanaan azas bimbingan konseling yang telah
dilakukan di sekolah.
7. Membedakan fokus pelayanan konseling di SD, SMP, SMA, SMK, dan PT.

C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk enam kelompok. Setiap kelompok
menilai sejauhmana butir-butir yang diuraikan dalam bahan tersebut telah terlaksana
dan apa saja hambatan dalam mengimplementasikannya di lapangan. Bagilah tugas
membuat evaluasi ini dengan rincian sebagai berikut:

Kelompok Bahan yang dievaluasi


I Konteks Tugas Konselor & Urgensi pelayanan BK
II Tujuan Bimbingan dan Konseling
III Fungsi Bimbingan dan Konseling
IV Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
V Azas Bimbingan dan Konseling
VI Pelayanan BK di Berbagai Jenjang Pendidikan

3. Wakil setiap pasangan kelompok secara bergantian menyajikan hasil kerja


kelompok mereka di depan kelas
4. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 6
Satu Untuk UNM

dan memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan


topik diskusi pada butir 3.
5. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya

E. URAIAN MATERI
1. Konteks Tugas Konselor
Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur Pendidikan formal telah dipetakan
secara tepat dalam Kurikulum 1975, meskipun ketika itu masih dinamakan pelayanan
Bimbingan dan Penyuluhan, yang diposisikan sejajar dengan pelayanan Manajemen
Penidikan, dan pelayanan di bidang pembelajaran yang dibingkai dalam Kurikulum,
sebagaimana tampak pada Gambar 1.1

Gambar 1.1 Wilayah Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal

Akan tetapi, dalam Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi, pelayanan
Bimbingan dan Konseling diletakkan sebagai bagian dari kurikulum yang isinya dipilah
menjadi (a) kelompok mata pelajaran, (b) muatan lokal, dan (c) Materi Pengembangan Diri,
yang harus ―disampaikan‖ oleh Konselor kepada peserta didik, sebagaimana dapat
dilukiskan seperti Gambar 1.2

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 7
Satu Untuk UNM

Gambar 1.2 Kerancuan Wilayah Pelayanan Konselor dengan Wilayah Pelayanan Guru dalam
KTSP

Haruslah dihindari dampak yang membawa Konselor yang tidak menggunakan materi
pelajaran sebagai konteks layanan, ke dalam wilayah pelayanan Guru yang menggunakan
mata pelajaran sebagai konteks pelayanan.
Dengan kata lain, sesungguhnya penanganan pengembangan diri lebih banyak terkait
dengan wilayah pelayanan guru, khususnya melalui pengacaraan berbagai dampak
pengiring (nurturant effects) yang relevan, yang dapat dan oleh karena itu perlu, dirajutkan
ke dalam pembelajaran yang mendidik yang menggunakan mata pelajaran sebagai konteks
pelayanan. Meskipun demikian, Konselor memang juga diharapkan untuk berperan serta
dalam bingkai pelayanan yang komplementer dengan layanan guru, bahu-membahu dengan
Guru termasuk dalam pengelolaan kegiatan ekstra kurikuler. Persamaan, keunikan, dan
keterkaitan antara wilayah layanan, konteks tugas dan ekspektasi kinerja guru dengan
wilayah pelayanan, konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor dapat digambarkan seperti
tampak pada Gambar 1.3, di mana Materi Pengembangan Diri berada dan merupakan
wilayah komplementer antara guru dan konselor.

Gambar 1.3 Keunikan Komplementaritas Wilayah Pelayanan Guru dan Konselor


Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar 8
Satu Untuk UNM

2. Urgensi Bimbingan dan Konseling


Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah,
bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-
undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya
memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai
tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan
moral-spiritual).
Peserta didik sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau
kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan bimbingan
karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan
lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu
terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan peserta didik tidak selalu
berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses
perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi,
harapan dan nilai-nilai yang dianut.
Perkembangan peserta didik tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis
maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang
terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat.
Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka
akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku peserta didik, seperti terjadinya
stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan
perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan
perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat,
pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi
informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari
agraris ke industri.
Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti: maraknya tayangan
pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-
obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga;
dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup
peserta didik (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah
moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran,
meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 9
Satu Untuk UNM

dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas,
dan pergaulan bebas (free sex).
Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak
sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam
tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan
keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang
mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi
semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya
secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut.
Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti
disebutkan, adalah mengembangkan potensi peserta didik dan memfasilitasi mereka secara
sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini
merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif
dan berbasis data tentang perkembangan peserta didik beserta berbagai faktor yang
mempengaruhinya.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang
mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif
dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan
konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional
dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan peserta
didik yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan
atau kematangan dalam aspek kepribadian.
Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan
konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat
pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif.
Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and
Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and
Counseling). Pepepelayanani bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada
upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan
masalah-masalah peserta didik. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar
kompetensi yang harus dicapai peserta didik, sehingga pendekatan ini disebut juga
bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling).

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 10
Satu Untuk UNM

Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor


dengan para personal Sekolah/Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru,
dan staf administrasi), orang tua peserta didik, dan pihak-pihak terkait lainnya (seperti
instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi
dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu
para peserta didik agar dapat mengembangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara
penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah
diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik, yang
meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi
peserta didik sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial,
dan spiritual).

3. Tujuan Bimbingan dan Konseling


Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar peserta didik dapat: (1) merencanakan
kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan
datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal
mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta
lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi,
penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan
untuk: (1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya,
(2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3)
mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan
tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan
kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan
masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan
(7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu peserta didik
atau peserta didik agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek
pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
a. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial peserta
didik adalah sebagai berikut.
1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 11
Satu Untuk UNM

keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja,


maupun masyarakat pada umumnya.
2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling
menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara
yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta
dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang
dianut.
4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik
yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
5) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
7) Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain,
tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
8) Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen
terhadap tugas atau kewajibannya.
9) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan
dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan
sesama manusia.
10) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat
internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain..
11) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

b. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar)
adalah sebagai berikut.
1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami
berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca
buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran,
dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
3) Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan
membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan
diri menghadapi ujian.
5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 12
Satu Untuk UNM

seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri


dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi
tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
c. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah sebagai
berikut.
1) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait
dengan pekerjaan.
2) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang
kematangan kompetensi karir.
3) Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang
pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan
sesuai dengan norma agama.
4) Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)
dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi
citra-cita karirnya masa depan.
5) Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali
ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan
sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
6) Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan
secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat,
kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
7) Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila
seorang peserta didik bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa
harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir
keguruan tersebut.
8) Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan
dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.
Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya,
dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap
pekerjaan tersebut.
9) Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.
4. Fungsi Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik
(peserta didik) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 13
Satu Untuk UNM

lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan


pemahaman ini, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan potensi
dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara
dinamis dan konstruktif.
b. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk
senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya
untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini,
konselor memberikan bimbingan kepada peserta didik tentang cara
menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan
bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para
peserta didik dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak
diharapkan, diantaranya: bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan
obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).
c. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari
fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta
didik. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai
teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan
program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya
membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik
bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial,
diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.
d. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini
berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada peserta didik yang telah
mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun
karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
e. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu peserta didik
memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan
penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan
ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu
bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga
pendidikan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 14
Satu Untuk UNM

f. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala


Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program
pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan
kebutuhan peserta didik (peserta didik). Dengan menggunakan informasi yang
memadai mengenai peserta didik, pembimbing/konselor dapat membantu para
guru dalam memperlakukan peserta didik secara tepat, baik dalam memilih dan
menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran,
maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan
peserta didik.
g. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu peserta didik
agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan
konstruktif.

5. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling


Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi
pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang
kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan,
baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah
sebagai berikut.
a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik). Prinsip
ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik atau peserta didik,
baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik
anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan
dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan
(kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).
b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik
bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan peserta didik
dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga
berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah peserta didik, meskipun
pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
c. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada peserta
didik yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan
dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan
pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang
menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 15
Satu Untuk UNM

membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan,


dan peluang untuk berkembang.
d. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya
tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala
Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja
sebagai teamwork.
e. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan
dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu peserta didik agar dapat
melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk
memberikan informasi dan nasihat kepada peserta didik, yang itu semua sangat
penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan peserta didik diarahkan
oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi peserta didik untuk memper-
timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan
keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan
kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama
bimbingan adalah mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
masalahnya dan mengambil keputusan.
f. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan)
Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di
Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-
lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan
bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan,
dan pekerjaan.

6. Asas Bimbingan dan Konseling


Keterlaksanaan dan keberhasilan pepelayanan bimbingan dan konseling sangat
ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.
a. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut
dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang
menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak
layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh
memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya
benar-benar terjamin.
b. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya
kesukaan dan kerelaan peserta didik (konseli) mengikuti/menjalani

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 16
Satu Untuk UNM

pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing


berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
c. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
peserta didik (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan
tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri
maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi
pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban
mengembangkan keterbukaan peserta didik (konseli). Keterbukaan ini amat terkait
pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta
didik yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka,
guru pembimbing terlebih dahuu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
d. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta
didik (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam
penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing
perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan
bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
e. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan
umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (konseli) sebagai sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi peserta didik-peserta didik
yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,
mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru
pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan
konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
f. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek
sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik
(konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan ―masa
depan atau kondisi masa lampau pun‖ dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan
kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
g. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi
pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh
guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 17
Satu Untuk UNM

Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam
penyelenggaraan pepelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan.
Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
i. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak
boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama,
hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.
Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat
dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan
norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (konseli)
memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.
j. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-
kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan
dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan
konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam
penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam
penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
k. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan
konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (konseli)
mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing
dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan
demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata
pelajaran/praktik dan lain-lain.

7. Pelayanan Bimbingan Konseling di Berbagai Jenjang Pendidikan


Meskipun sama-sama berada dalam jalur pendidikan formal, namun perbedaan
rentang usia peserta didik pada tiap jenjang memicu tampilnya kebutuhan layanan
Bimbingan dan Konseling yang berbeda-beda pada tiap jenjang pendidikan, namun batas
ragam kebutuhan antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lain tidak terbedakan
sangat tajam yang tergambar sebagai gair. Dengan kata lain, batas perbedaan antar
jenjang tersebut lebih merupakan suatu wilayah. Di pihak lain, perbedaan yang lebih

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 18
Satu Untuk UNM

signifikan, juga nampak pada pada sisi pengaturan birokratik, seperti misalnya di Taman
Kanak-kanak sebahagian besar tugas Konselor ditangani langsung oleh Guru Kelas
Taman Kanak-kanak. Sedangkan di jenjang Sekolah Dasar, meskipun memang ada
permasalahan yang memerlukan penanganan oleh Konselor, namun cakupan
pelayanannya belum menjustifikasi untuk ditempatkannya posisi struktural Konselor di
tiap Sekolah Dasar, sebagaimana yang diperlukan di jenjang Sekolah Menengah. Berikut
ini, digambarkan secara umum perbedaan ciri khas ekspektasi kinerja Konselor di tiap
jenjang pendidikan.
a. Jenjang Taman Kanak-kanak.
Di jenjang Taman Kanak-kanak di tanah air tidak ditemukan posisi struktural bagi
Konselor. Pada jenjang ini fungsi bimbingan dan konseling lebih bersifat preventif dan
developmental. Secara programatik, komponen kurikulum bimbingan dan konseling
yang perlu dikembangkan oleh konselor jenjang Taman Kanak-kanak membutuhkan
alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan yang dibutuhkan oleh siswa
pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, pada jenjang TK komponen
individual student planning (yang terdiri dari: pelayanan appraisal, advicement,
transition planning) dan responsive services (yang berupa pelayanan konseling dan
konsultasi) memerlukan alokasi waktu yang lebih kecil. Kegiatan konselor di jenjang
Taman Kanak-kanak dalam komponen responsive services, dilaksanakan terutama
untuk memberikan pelayanan konsultasi kepada guru dan orang tua dalam mengatasi
perilaku-perilaku disruptive siswa Taman Kanak-kanak.
b. Jenjang Sekolah Dasar.
Sampai saat ini, di jenjang Sekolah Dasar pun juga tidak ditemukan posisi struktural
untuk Konselor. Namun demikian, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik
usia Sekolah Dasar, kebutuhan akan pelayanannya bukannya tidak ada, meskipun
tentu saja berbeda dari ekspektasi kinerja Konselor di jenjang Sekolah Menengah dan
jenjang perguruan tinggi. Dengan kata lain, konselor juga dapat berperan serta
secara produktif di jenjang Sekolah Dasar, bukan dengan memosisikan dari sebagai
fasilitator pengembangan diri peserta didik yang tidak jelas posisinya, melainkan
mungkin dengan memosisikan diri sebagai Konselor Kunjung yang membantu guru
Sekolah Dasar mengatasi perilaku mengganggu (disruptive behavior), antara lain
dengan pendekatan Direct Behavioral Consultation.
c. Jenjang Sekolah Menengah.
Secara hukum, posisi konselor di tingkat sekolah menengah telah ada sejak tahun
1975, yaitu sejak diberlakukannya Kurikulum Bimbingan dan Konseling. Dalam sistem

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 19
Satu Untuk UNM

pendidikan di Indonesia konselor di sekolah menengah mendapat ‖tempat yang


cukup leluasa‖. Peran konselor, sebagai salah satu komponen student support
services, adalah men-support perkembangan aspek-aspek pribadi-sosial, karier, dan
akademik siswa, melalui pengembangan menu program bimbingan dan konseling,
pembantuan kepada siswa dalam individual student planning, pemberian layanan
responsive, serta pengembangan system support. Pada jenjang ini, konselor
menjalankan semua fungsi bimbingan dan konseling, yang meliputi fungsi preventif,
developmental, maupun fungsi kuratif.
d. Jenjang Perguruan Tinggi.
Meskipun secara struktural posisi konselor perguruan tinggi belum tercantum dalam
sistem pendidikan di tanah air, namun bimbingan dan konseling dalam rangka
men‖support‖ perkembangan personal, sosial, akademik, dan karier mahasiswa
dibutuhkan. Sama dengan konselor pada jenjang pendidikan TK, SD, dan SM;
konselor perguruan tinggi juga harus mengembangkan dan mengimplementasikan
kurikulum bimbingan dan konseling, individual student planning, dan responsive
services, serta system support. Namun, alokasi waktu yang digunakan konselor
perguruan tinggi lebih banyak pada pemberian bantuan dalam individual student
career planning dan penyelenggaraan responsive services.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 20
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 2

A. Judul : Program Bimbingan dan Konseling


B. Indikator
1. Menguraikan peran bimbingan konseling dalam program pengembangan diri siswa di
sekolah
2. Membandingkan komponen program pada pola 17, pola 17 plus, dan pola
komprehensif
3. Menjelaskan bagan kerangka utuh layanan bimbingan konseling komprehensif
4. Menjelaskan perbedaan strategi pelayanan dasar dan pelayanan responsif bimbingan
konseling di sekolah
5. Menguraikan langkah umum pelaksanaan layanan perencanaan individual dalam
bimbingan konseling
6. Menjelaskan dengan contoh kegiatan pokok dalam komponen program dukungan
sistem dalam pelayanan BK di sekolah
C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Lakukan curah pendapat dengan peserta bagaimana pendapat mereka mengenai
program bimbingan konseling dan pengembangan diri siswa di sekolah.
3. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang)
4. Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
melakukan curah pendapat dan menyepakati butir-butir tentang:
 Peran konselor dalam program pengembangan diri siswa
 Perbedaan pokok dalam Pola 17, Pola 17 plus, dan Pola Komprehensif
 Tantangan dalam melaksanakan empat komponen utama dalam program BK pada
Pola Komprehensif
 Usaha mengatasi hambatan pelaksanaan program BK di sekolah
5. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
6. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 21
Satu Untuk UNM

7. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan


atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
8. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
topik diskusi pada butir 4.
9. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

D. URAIAN MATERI
1. Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
Seperti ditegaskan di muka bahwa Pengembangan Diri sebagaimana dimaksud
dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor.
Penjelasan tentang Pengembangan Diri yang tertulis dalam Struktur Kurikulum
dijelaskan bahwa:
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan
minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga
kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pepelayanan konseling
yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan
pengembangan karir peserta didik.

Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh
penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur
pendidikan formal, sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi
kinerja konselor.
a. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk,
rancangan, dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah
adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. Namun, manakala
masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan
terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan
bakat dan minat peserta didik dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Ini
berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan
tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 22
Satu Untuk UNM

b. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa
di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang
memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Inipun berarti
bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor, dan tidak
semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.
c. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau
pengganti pelayanan bimbingan dan konseling, melainkan di dalamnya mengandung
sebagian saja dari pelayanan (dasar, responsif, perencanaan individual) bimbingan
dan konseling yang harus diperankan oleh konselor.
Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian
yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Pelayanan
pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum.
Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan
bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap
posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan seperti
tampak pada Gambar 2.1

Pimpinan Satuan
Pendidikan
Manajemen

Guru,
Menyelenggarakan Muatan Lokal
Pembelajaran yang
Mendidik KURIKULUM Perkembangan
Mata Pelajaran/ (KTSP) Optimum
Bidang Studi Peserta Didik

Wilayah
Komplementer Pengembangan Diri

Konselor, Menyelenggarakan
Bimbingan dan Konseling Bimbingan. dan
Yang Memandirikan Konseling

Gambar 2.1 Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP)


dalam Jalur Pendidikan Formal

Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal
yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan
konseling dalam upaya memfasilitasi peserta didik mencapai perkembangan optimum yang
diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. Dengan demikian pengembangan
diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 23
Satu Untuk UNM

komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri
peserta didik.
2. Komponen Program BK
Program bimbingan konseling di sekolah mengalami pasang surut sejalan dengan
perkembangan profesionalisasi dan upaya aktualisasi profesi bimbingan konseling di
Indonesia. Pada sekitar akhirt tahun 1990an dikenalkan apa yang disebut dengan POLA 17.
Di sebutkan demikian, karena komponen program digambarkan dalam suatu skema yang
terdiri atas 17 kotak. Ini terdiri atas empat bidang layanan (pribadi, sosial, belajar, dan
karir), tujuah jenis layanan (orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok), serta lima layanan pendukung
(Instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah, dan pelimpahan kasus).
Program bimbingan konseling Pola 17 digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2 Program Bimbingan Konseling Pola 17

Selanjutnya, dikembangkan Program bimbingan konseling Pola 17 Plus, di mana


program bimbingan konseling disempurnakan dengan menambahkan bidang bimbingan
keberagamaan dan bimbingan keluarga, serta tamnbahan layanan mediasi dan layanan
konsultasi.
Terakhir dikembangkan lagi pola program bimbingan konseling yang lebih utuh,
yang dikenal dengan Pola Kompreghensif Program bimbingan dan konseling. Dalam pola ini,
program bimbingan konseling terdiri atas empat komponen pelayanan, yaitu: (1) pelayanan
dasar bimbingan; (2) pelayanan responsif, (3) perencanaan indiviual, dan (4) dukungan
sistem. Keempat komponen program tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar 24
Satu Untuk UNM

Gambar 2.3
Komponen Program Bimbingan dan Konseling

Di samping empat komponen program tersebut, dalam Pola Komprehensif ini


dikemukakan 16 strategi layanan bimbingan konseling (orientasi, informasi, bimbingan
kelompok, konseling individual, konseling kelompok, referal, konseling sebaya, konsultasi,
penempatan & penyeluran, kunjungan rumah, konferensi kasus, kolaborasi, akses TIK,
sistem najemen, akuntabilitas, dan pengembangan profesi). Secara utuh keseluruhan proses
kerja bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal dapat digambarkan pada
gambar 2.4.

Gambar 2.4. Kerangka Kerja Utuh Bimbingan dan Konseling Pola Komprehensif

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 25
Satu Untuk UNM

Gambar 2.4 menunjukkan bahwa seluruh pelayanan bimbingan dan konseling yang
selama ini dilaksanakan di Sekolah/Madrasah bisa dipayungi oleh dan terakomodasi ke dalam
kerangka kerja tersebut. Berdaarkan kerangka kerja utuh dimaksud pelayanan bimbingan
dan konseling harus dikelola dengan baik sehingga berjalan secara efektif dan produktif.
Fungsi manajemen yang penting dijalankan dalam pelayanan bimbingan dan konseling
meliputi: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis dan tindak lanjut.

3. Uraian Program Bimbingan Konseling


a. Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh
peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku
jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan
sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan
kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.
Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di
kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen
kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman tersetruktur
yang disebutkan.
Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua peserta didik agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan
dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu peserta didik agar mereka dapat
mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat
dirumuskan sebagai upaya untuk membantu peserta didik agar (1) memiliki kesadaran
(pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan
agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan
lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
(4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut
aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya
membantu peserta didik dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai
standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas
dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan: (1) self-
esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 26
Satu Untuk UNM

keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau


berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung
jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA)
mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan
program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis,
jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6)
iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas,
(9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.
Pelayanan Dasar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, sebagai berikut:
1) Bimbingan Kelas
Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung
dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan
bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa
diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
2) Pelayanan Orientasi
Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat
memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan
Sekolah/Madrasah, untuk mempernudah atau memperlancar berperannya mereka di
lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal
program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di Sekolah/Madrasah biasanya
mencakup organisasi Sekolah/Madrasah, staf dan guru-guru, kurikulum, program
bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana,
dan tata tertib Sekolah/Madrasah.
3) Pelayanan Informasi
Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi
peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media
cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).
4) Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-
kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan
dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini,
adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti :
cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 27
Satu Untuk UNM

5) Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi)


merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi
peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan
dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
b. Pelayanan Responsif
Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada peserta didik yang
menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera,
sebab jika tidak segera dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian
tugas-tugas perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, konsultasi dengan
orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam bantuan yang dapat
dilakukan dalam pelayanan responsif.
Tujuan pelayanan responsif adalah membantu peserta didik agar dapat
memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu
peserta didik yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Tujuan pelayanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk
mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi peserta didik yang muncul
segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau
masalah pengembangan pendidikan.
Fokus pelayanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan peserta
didik. Masalah dan kebutuhan peserta didik berkaitan dengan keinginan untuk
memahami sesuatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya secara
positif. Kebutuhan ini seperti kebutuhan untuk memperoleh informasi antara lain tentang
pilihan karir dan program studi, sumber-sumber belajar, bahaya obat terlarang, minuman
keras, narkotika, pergaulan bebas.
Masalah lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dirasakan
mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan diri peserta didik,
karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas
perkembangan. Masalah peserta didik pada umumnya tidak mudah diketahui secara
langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.
Gejala perilaku bermasalah yang mungkin dialami peserta didik diantaranya: (1)
merasa cemas tentang masa depan, (2) merasa rendah diri, (3) berperilaku impulsif
(kekanak-kanakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan-nya secara
matang), (4) membolos dari Sekolah/Madrasah, (5) malas belajar, (6) kurang memiliki
kebiasaan belajar yang positif, (7) kurang bisa bergaul, (8) prestasi belajar rendah, (9)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 28
Satu Untuk UNM

malas beribadah, (10) masalah pergaulan bebas (free sex), (11) masalah tawuran, (12)
manajemen stress, dan (13) masalah dalam keluarga.
Pelayanan responsif dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut:
1) Konseling Individual dan Kelompok
Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan untuk membantu peserta didik yang
mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Melalui konseling, peserta didik (konseli) dibantu untuk
mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan
masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat
dilakukan secara individual maupun kelompok.
2) Referal (Rujukan atau Alih Tangan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah
konseli, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak
lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan kepolisian. Konseli
yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah, seperti depresi,
tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit kronis.
3) Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas
Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka memperoleh
informasi tentang peserta didik (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan pribadinya),
membantu memecahkan masalah peserta didik, dan mengidentifikasi aspek-aspek
bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran. Aspek-aspek itu di
antaranya: (1) menciptakan iklim sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar
peserta didik; (2) memahami karakteristik peserta didik yang unik dan beragam; (3)
menandai peserta didik yang diduga bermasalah; (4) membantu peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar melalui program remedial teaching; (5) mereferal
(mengalihtangankan) peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan
konseling kepada guru pembimbing; (6) memberikan informasi yang up to date
tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang diminati peserta didik; (7)
memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan, sehingga dapat
memberikan informasi yang luas kepada peserta didik tentang dunia kerja (tuntutan
keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (8)
menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun
moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan ―figur central‖ bagi peserta
didik); dan (9) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata pelajaran
yang diberikannya secara efektif.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 29
Satu Untuk UNM

4) Kolaborasi dengan Orang tua


Konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua peserta didik. Kerjasama
ini penting agar proses bimbingan terhadap peserta didik tidak hanya berlangsung di
Sekolah/Madrasah, tetapi juga oleh orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini
memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran
antar konselor dan orang tua dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik
atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi peserta didik. Untuk melakukan
kerjasama dengan orang tua ini, dapat dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala
Sekolah/ Madrasah atau komite Sekolah/Madrasah mengundang para orang tua
untuk datang ke Sekolah/Madrasah (minimal satu semester satu kali), yang
pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2) Sekolah/Madrasah
memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan belajar
atau masalah peserta didik, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan
anaknya di rumah ke Sekolah/Madrasah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan
perilaku sehari-harinya.
5) Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait di luar Sekolah/Madrasah
Yaitu berkaitan dengan upaya Sekolah/Madrasah untuk menjalin kerjasama dengan
unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu
pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi
pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi
Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang
terkait, seperti psikolog, psikiater, dan dokter, (5) MGP (Musyawarah Guru
Pembimbing), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan
pekerjaan).
6) Konsultasi
Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi guru, orang tua, atau pihak pimpinan
Sekolah/Madrasah yang terkait dengan upaya membangun kesamaan persepsi dalam
memberikan bimbingan kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan Sekolah/
Madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan referal, dan
meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.
7) Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)
Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh peserta didik
terhadap peserta didik yang lainnya. Peserta didik yang menjadi pembimbing
sebelumnya diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Peserta didik yang
menjadi pembimbing berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu peserta

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 30
Satu Untuk UNM

didik lain dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun
non-akademik. Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu
konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau
masalah peserta didik yang perlu mendapat pelayanan bantuan bimbingan atau
konseling.
8) Konferensi Kasus
Yaitu kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan
yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan
komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik itu. Pertemuan konferensi
kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.
9) Kunjungan Rumah
Yaitu kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang peserta didik
tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya menggentaskan masalahnya, melalui
kunjungan ke rumahnya.

c. Perencanaan Individual
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada peserta didik agar
mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa
depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta
pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Pemahaman
peserta didik secara mendalam dengan segala karakteristiknya, penafsiran hasil
asesmen, dan penyediaan informasi yang akurat sesuai dengan peluang dan potensi
yang dimiliki peserta didik amat diperlukan sehingga peserta didik mampu memilih dan
mengambil keputusan yang tepat di dalam mengembangkan potensinya secara optimal,
termasuk keberbakatan dan kebutuhan khusus peserta didik. Kegiatan orientasi,
informasi, konseling individual, rujukan, kolaborasi, dan advokasi diperlukan di dalam
implementasi pelayanan ini.
Perencanaan individual bertujuan untuk membantu peserta didik agar (1)
memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan,
perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek
pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan
pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya.
Tujuan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya
memfasilitasi peserta didik untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola rencana
pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi layana

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 31
Satu Untuk UNM

perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan peserta didik untuk
memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian
meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh peserta didik,
pelayanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan,
tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing peserta didik. Melalui
pelayanan perencanaan individual, peserta didik diharapkan dapat:
1) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan
mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan
akan dirinya, informasi tentang Sekolah/Madrasah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
2) Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
3) Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
4) Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.
Fokus pelayanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan
aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Secara rinci cakupan fokus tersebut antara lain
mencakup pengembangan aspek (1) akademik meliputi memanfaatkan keterampilan
belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus
atau pelajar-an tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (2)
karir meliputi mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan
pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (3) sosial-
pribadi meliputi pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan
keterampilan sosial yang efektif.
Konselor membantu peserta didik menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya
berdasarkan data atau informasi yang diperoleh, yaitu yang menyangkut pencapaian
tugas-tugas perkembangan, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, peserta didik akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif. Pelayanan perencanaan individual ini
dapat dilakukan juga melalui pelayanan penempatan (penjurusan, dan penyaluran),
untuk membentu peserta didik menempati posisi yang sesuai dengan bakat dan
minatnya.
Konseli menggunakan informasi tentang pribadi, sosial, pendidikan dan karir yang
diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif
kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk
memperbaiki kelemahan dirinya; (2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau
perencanaan yang telah ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah
dilakukannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 32
Satu Untuk UNM

d. Dukungan Sistem
Ketiga komponen diatas, merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada
peserta didik secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen
pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi
Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara
berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik
atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik.
Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memper-lancar
penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah
untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah/Madrasah.
Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (a) pengembangan jejaring (networking), (b)
kegiatan manajemen, (c) riset dan pengembangan.
1) Pengembangan Jejaring (networking)
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi (1)
konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang
tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan
kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah, (4) bekerjasama dengan personel
Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah
yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, (5) melakukan penelitian tentang
masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan (6)
melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan
bimbingan dan konseling.
2) Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui
kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3)
pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
a) Pengembangan Professionalitas.
Konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan
dan keterampilannya melalui (a) in-service training, (b) aktif dalam organisasi profesi,
(c) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah; seperti seminar dan workshop (lokakarya),
atau (d) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana).
b) Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf
Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah/Madrasah (pemerintah,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 33
Satu Untuk UNM

dan swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan
bantuan yang telah diberikannya kepada para peserta didik, menciptakan lingkungan
Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik, melakukan
referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling. Dengan kata
lain strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah/Madrasah untuk menjalin kerjasama
dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu
pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi
pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi
Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang
terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua peserta didik, (5) MGBK
(Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka
analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
c) Manajemen Program
Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan
(manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan
terarah.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 34
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 3

A. Judul : Asesmen dan Perencanaan Program BK


B. Indikator
1. Menguraikan pokok-pokok langkah kegiatan dalam perencanaan program bimbingan
konseling
2. Menguraikan tanggung jawab persenil sekolah dalam pelaksanaan program BK di
sekolah
3. Merancang denah ruang BK yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing
4. Menyusun alokasi anggaran untuk pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah

C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
1. Fasilitator menjelaskan secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta
ruang lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
menyusun rancangan program dan pengembangan layanan BK di sekolah, mencakup:
 Analisis dan deskripsi kebutuhan
 Rumusan tujuan
 Komponen program
 Rencana operasional
 Organisasi pelaksana dan tanggung jawab
 Anggaran
3. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
4. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;
5. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
6. Fasilitatir mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 35
Satu Untuk UNM

E. Uraian Materi
1. Asesmen Kebutuhan Bimbingan Konseling
Menurut Kubinski (1999), asesmen kebutuhan (need assessment) di sekolah adalah
proses sistematik untuk memperoleh gambaran akurat dan menyeluruh mengenai kekuatan
dan kelemahan suatu komunitas sekola yang dapat digunakan untuk merespon kebutuhan
akademik semua siswa guna meningkatkan prestasi siswa dan memenuhi standar akademik
yang dihadapi. Asesmen kebutuhan melibatkan proses mengumpulkan dan menguji
informasi tentang isu-isu persekolahan dan selanjutnya menggunakan data itu untuk
menentukan prioritas tujuan, menyusun suatu rencana, dan mengalokasikan anggaran dan
sumber yang diperlukan. Dalam pengumpulan data perlu melibatkan siswa, orangtua, guru,
staf administrasi, dan anggota masyarakat lainnya.
Kegiatan asesmen ini meliputi (1) asesmen lingkungan, yang terkait dengan kegiatan
mengidentifikasi harapan Sekolah/Madrasah dan masyarakat (orangtua peserta didik),
sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, dan
kebijakan pimpinan Sekolah/Madrasah; dan (2) asesmen kebutuhan atau masalah peserta
didik, yang menyangkut karakteristik peserta didik, seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan
keberfungsiannya), kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, minat-minatnya
(pekerjaan, jurusan, olahraga, seni, dan keagamaan), masalah-masalah yang dialami, dan
kepribadian; atau tugas-tugas perkembangannya, sebagai landasan untuk memberikan
pelayanan bimbingan dan konseling.
Asesmen mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam
pelaksanaan bimbingan dan konseling. Konselor di sekolah mempunyai tanggung jawab
untuk membantu siswa atau konseli agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya
secara optimal. Membantu perkembangan para siswa atau konseli berarti melakukan sesuatu
untuk siswa tersebut. Agar konselor dapat melakukan sesuatu untuk siswa maka seorang
konselor perlu mengetahui keadaan siswa yang dibimbing. Untuk itu sangat diperlukan
berbagai informasi/data-data yang akurat dan relevan. Dalam hal ini pengukuran dan
penilaian psikologis merupakan sarana dan wahana terbaik untuk mendapatkan
informasi/data-data yang akurat dan relavan mengenai keadaan siswa atau konseli.
a. Fungsi Asesmen Kebutuhan
Hasil-hasil yang diperoleh dalam asesmen berfungsi sebagai dasar dalam
mengambil keputusan. Berdasarkan atas keputusan yang diambil dalam asesmen
psikologis mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi seleksi yaitu untuk memutuskan individu-individu yang akan dipilih. Misalnya
tes masuk suatu lembaga pendidikan atau suatu jenis jabatan tertentu. Berdasarkan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 36
Satu Untuk UNM

hasil-hasil asesmen psikologis yang telah dilakukan pimpinan lembaga dapat


memutuskan calon-calon pelamar yang diterima dan menolak calon-calon yang
lainnya.
b. Fungsi klasifikasi yaitu mengelompokan individu dalam kelompok sejenis. Misalnya
mengelompokkan siswa yang mempunyai maslah yang sejenis sehingga dapat
diberikan bantuan yang sesuai masalahnya. Atau pengelompokkan siswa ke dalam
program khusus.
c. Fungsi deskripsi yaitu menyuguhkan hasil asesmen psikologis yang telah dilakukan
tanpa klasifikasi tertentu. Misalnya melaporkan profile minat dan bakat seseorang
yang telah dites dengan tes minat dan bakat.
d. Mengevaluasi suatu treatment yaitu untuk mengetahui apakah suatu tindakan
tertentu yang dilakukan terhadap seseorang atau kelompok individu telah mencapai
hasil atau belum, atau beberapa hasil yang ditimbulkan oleh suatu tindakan tertentu
terhadap seorang atau kelompok orang. Misalnya, seorang siswa yang mengalami
kesulitan belajar diberikan remedial. Setelah pemberian remedial tersebut lalu
diadakan tes untuk mengetahui apakah remedial yang diberikan sudah berhasil atau
belum.
b. Tujuan Asesmen Kebutuhan
Tujuan asesmen psikologis khususnya dlam layanan bimbingan dan konseling di
sekolah dapat dikemukakan sebagai beriktu:
a. Membantu siswa untuk mengenal dirinya sendiri, yaitu agar siswa mengerti apa
kelebihan dan apa kekurangannya. Berdasarkan pemahaman diri tersebut siswa
diharapkan dapat merencanakan masa depannya secara realistis.
b. Membantu orangtua mengenal anaknya. Sama hal dengan yang disebutkan diatas,
yaitu agar orang tua memahami segala kelebihan dan kelemahan putra putrinya. Dan
dengan pemahaman tersebut pula orang tua diharapkan dapat membuat
perencanaan yang realistis sehubungan dengan masa depan putra-putrinya.
c. Membantu kepala sekolah dalam menetapkan suatu kebijakan. Kepala sekolah perlu
mendapatkan pandangan umum tentang keadaan siswa pada masing-masing kelas.
Kelas mana yang berprestasi baik, kelas mana yang menunjukkan kinerja akademik
rendah, dan sebagainya. Gambaran tentang masing-masing kelas kita disebut peta
kelas. Berdasarkan peta kelas tersebut kepala sekolah akan dapat mengambil
kebijakan-kebijakan yang tepat yang berhubungan dengan pengembangan
pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 37
Satu Untuk UNM

d. Untuk keperluan layanan bimbingan dan konseling, seperti bahan-bahan diagnostik


(baik diagnostik kesulitan belajar maupun diagnostik kesulitan pribadi lainnya) bahan
informasi dalam layanan penempatan (pemilihan program khusus, pemilihan
kelanjutan studi, pemilihan lapangna kerja dan penempatan lainnya).
e. Membantu guru dalam merencanakan dan mengelola program pembelajaran agar
lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Guru akan dapat
melaksanakan tugas dengan baik apabila ia mengenal siswa-siswanya dengan baik
pula. Guru perlu mengetahui mana siswa yang mempunya kemampuan yang tinggi,
mana yang memiliki kemampuan yang rendah atau lemah, mana siswa yang selalu
antusias dalam mengikuti pelajaran, mana siswa yang loyo, mana siswa yang suka
mengganggu teman-temannya dan sebagainya. Berdasarkan peta siswa tersebut
guru dapat merencanakan dan mengelola proses pembelajaran dengan tepat.
c. Langkah-langkah dalam Asesmen Kebutuhan
Pelaksanaan asesmen kebutuhan dilakukan dalam tujuah langkah utama, yaitu:
1) Mengklarifikasi maksud asesmen kebutuhan.
Ada beberapa pertanyaan yang perlu diklarifikasi sebelum melakukan asesmen
kebutuhan, antara lain:
 Apa yang anda telah ketahui? Apa yang anda pikirkan tentang yang diketahui itu?
Apa yang anda ingin ketahui lagi?
 Mengapa anda perlu melakukan asesmen kebutuhan?
 Apa yang anda ingin ukur?
 Apa yang anda ingin lakukan dengan informasi yang anda kumpulkan?
 Bagaimana anda akan melaporkan informasi itu? Apakah informasi itu dimengerti
dan mudah dipahami?
 Apakah semua kelompok peminat terlibat dala perencanaan dan pelaksanaan
asesmen kebutuhan?
 Siapa yang bertanggung jawab pada setiap tahap kegiatan?
Jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut akan membantu dalam
memutuskan apa yang perlu dilakukan, bagaimana itu dilakukan, dan siapa saja yang
perlu terlibat dalam asesmen kebutuhan.
2) Mengidentifikasi populasi
Siapa yang akan menjadi sasaran asesmen kebutuhan: siswa, guru, pimpinan, staf
administrasi, staf sekolah lainnya, orangtua, warga masyarakat, tenaga bantu,
penyedia layanan, atau lainnya?
3) Menentukan bagaimana anda akan melakukan asesmen kebutuhan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 38
Satu Untuk UNM

Kembangkan desain dan mekanisme yang akan ditempuh dalam pelaksanaan


kegiatan pengumpulan data dan analisis data. Termasuk menentukan skedul kegiatan
serta organisasi pelasana yang terlibat beserta tanggung jawab masing-masing.
Diskusikan desain dan prosedur ini dengan semua pihak yang akan terlibat langsung
dalam kegiatan lapangan.
4) Menyusun instrumen survey atau mengadopsi instrumen yang telah tersedia.
Beberapa pertanyaan penting yang perlu dijawab, antara lain: apakah instrumen yang
diperlukan tersedia? Apakah instrumen itu mudah digunakan? Apakah format
instrumennya mudah diorganisasi dan dianalisis? Jika tersedia, bagaimana instrumen
itu diadakan, disusun sendiri atau mengadopsi dari yang sudah ada? Lembaga apa
saja yang dapat diajak bekerjasama dalam mengukuran psikologis siswa di sekolah?
Dalam pelaksanaan asesmen kebutuhan, konselor dapat menggunakan instrumen
berbentuk tes ataupun non-tes. Instrumen tes dapat berbentuk tes intelegensi, tes
bakat, tes minat, tes kepribadian, ataupun tes hasil belajar. Untuk penggunaan teknik
tes, khususnya tes psikologi, sekolah/konselor dapat bekerja sama dengan lembaga
penyedia layanan pengukuran psikologis yang berwenang untuk melaksanakannya.
Yang tergolong jenis instrumen non-tes adalah: observasi, interview (langsung dan
tak langsung), angket (langsung dan tak langusng), sosiometri, daftar cek masalah
(problem check-list), pengumpulan bahan/portofolio siswa (bahan permainan dan
hasil karya), bogragfis (biografi, otobiografi, buku harian, kenang-kenangan masa
muda dan case history), dan sebagainya. Konselor diharapkan mampu menyusun
sendiri bentuk-bentuk instrumen non-tes sesuai kebutuhan sekolah.
5) Mengumpulkan data
Pengumpulan data diarahkan, antara lain untuk mendapatkan infomasi tentang:
 kebutuhan sekarang dan masa depan dari sekolah siswa, guru, orangtua, guru,
dan warga masyarakat
 sebarapa baik proses yang ada sekarang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan
sasaran-sasaran tersebut
 pola perubahan yang terjadi di sekolah dan masyarakat
 akar terjadinya problem yang dihadapi siswa/sekolah
 bentuk program dan keahlian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan di
masa depan
Guna memudahkan proses analisis data, proses pengumpulan data perlu
memperhatikan kegiatan berikut:
 Kembangkan sistem pengelolaan dalam mengumpulkan dan mengorganisasi data

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 39
Satu Untuk UNM

 Tentukan data dasar (baseline data)


 Pikirkan bagaimana anda menindaklanjuti mereka yang tidak merespon dan
menjawab/mengisi alat pengumpulan data yang diberikan.
 Organisasi data dengan membuat kategori-kategoti kunci guna memudahkan
untuk menemukan makna dan kesimpulan.
 Gunakan lembar/format ringkasan data untuk membantu menentukan pola-pola
informasi dan untuk mempermudah analisis data
6) Menganalisis data
Analisis data diarahkan terutama untuk menjawab menjawab pertanyaan yang
diajukan dan untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bagi pelaksanaan analisis
kebutuhan yang dilakukan. Secara umum, analisis data diarahkan untuk memetakan
kedaan (kelemahan dan kekuatan) dalam rangka meningkatkan kualitas program dan
layanan, menyediuakan balikan mengenai kinerja dan capaian siswa, serta
memperoleh pemahaman mengenai bagaimana kualitas kinerja yang telah dicapai dan
seberapa jauh kita telah mencapainya
7) Memanfaatkan hasil
Pelajari kembali tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang telah dirumuskan—
gunakan setidaknya 3 sumber data untuk menjelaskan (menjustifikasi) pencapaian
setiap tujuan atau area target.
Berdasarkan hasil analisis data, kembangkan suatu draf rencana tentang apa yang
harus dilakukan. Identifikasi dan alokasikan sumber-sumber yang diperlukan bagi
pelaksanaan rencana. Terakhir, buat kesimpulan mengenai temuan analisis
kebutuhan.

2. Perencanaan Program
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan
kebutuhan peserta didik (hasil need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi
instrumentasi. Struktur program pelayanan bimbingan konseling mencakup: (1) empat
bidang layanan, (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung, (3) format kegiatan, (4) sasaran
pelayanan, dan (5) volume/beban tugas konselor. Program bimbingan dan konseling di
Sekolah/Madrasah dapat disusun secara makro untuk 3-5 tahun, meso 1 tahun dan mikro
sebagai kegiatan opersional dan untuk memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan khusus.
Berikut adalah struktur pengembangan program berbasis tugas-tugas perkembangan
sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. Dalam merumuskan program,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 40
Satu Untuk UNM

struktur dan isi/materi program ini bersifat fleksibel yang disesuaikan dengan kondisi atau
kebutuhan peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan di masing-masing Sekolah.
b. Rasionel
Rumuskan dasar pemikiran tentang urgensi bimbingan dan konseling dalam
keseluruhan program Sekolah/Madrasah. Ke dalam rumusan ini dapat menyangkut
konsep dasar yang digunakan, kaitan bimbingan dan konseling dengan
pembelajaran/implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan sosial budaya
terhadap gaya hidup masyarakat (termasuk para peserta didik), dan hal-hal lain yang
dianggap relevan.
c. Visi dan Misi
Secara mendasar visi dan misi bimbingan dan konseling perlu dirumuskan ulang
ke dalam fokus isi: Membangun iklim Sekolah/Madrasah bagi kesuksesan seluruh peserta
didik. Misi: Memfasilitasi seluruh peserta didik memperoleh dan menguasai kompetensi di
bidang akademik, pribadi-sosial, karir berlandasakan pada tata kehidupan etis normatif
dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
d. Deskripsi Kebutuhan
Rumuskan hasil needs assessment (penilaian kebutuhan) peserta didik dan
lingkungannya ke dalam rumusan perilaku-perilaku yang diharapkan dikuasai peserta
didik. Rumusan ini tiada lain adalah rumusan tugas-tugas perkembangan, yakni Standar
Kompetensi Kemandirian yang disepakati bersama.
e. Tujuan
Rumuskan tujuan yang akan dicapai dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai
peserta didik setelah memperoleh pelayanan bimbingan dan konseling. Tujuan
hendaknya dirumuskan ke dalam tataran tujuan:
1) Penyadaran, untuk membangun pengetahuan dan pemahamsan peserta didik
terhadap perilaku atau standar kompetensi yang harus dipelajari dan dikuasai
2) Akomodasi, untuk membangun pemaknaan, internalisasi, dan menjadikan perilaku
atau kompetensi baru sebagai bagian dari kemampuan dirinya, dan
3) Tindakan, yaitu mendorong peserta didik untuk mewujudkan perilaku dan kompetensi
baru itu dalam tindakan nyata sehari-hari.
f. Komponen Program.
Komponen program meliputi: (a) Komponen Pelayanan Dasar, (b) Komponen Pelayanan
Responsif, (c) Komponen Perencanaan Individual, dan d) Komponen dukungan sistem
(manajemen)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 41
Satu Untuk UNM

g. Rencana Operasional (Action Plan)


Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin peluncuran program
bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana
kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program,
baik kegiatan di Sekolah/Madrasah maupun luar Sekolah/Madrasah, untuk memfasilitasi
peserta didik mencapai tugas perkembangan atau kompetensi tertentu.
Atas dasar komponen program di atas lakukan:
1) Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan
ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik
2) Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di
atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus.
Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan
konseling dalam setiap komponen program perlu dirancang dengan cermat. Peren-
canaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang
harus dilakukan oleh konselor. Berikut dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar
perkiraan atau pedoman relatif dalam pengalokasian waktu untuk konselor dalam
pelaksanaan komponen pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.

Tabel 3.1 Perkiraan Alokasi Waktu Pelayanan

JENJANG PENDIDIKAN
KOMPONEN PELAYANAN
SD/MI SMP/MTs SMA/MAN/SMK
1. Pelayanan Dasar 45 – 55 % 35 – 45 % 25 – 35 %

2. Pelayanan Responsif 20 – 30 % 25 – 35 % 15 – 25 %

3. Pelayanan Perencanaan 25 – 35 % (Porsi


5 – 10 % 15 – 25 %
Individual dan keluarga untuk SMK lebih besar

4. Dukungan Sistem 10 – 15 % 10 – 15 % 10 – 15 %

3) Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel


kebutuhan yang akan menjadi renana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud
dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun.
Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan Program semester.
4) Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam
rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender
kegiatan mencakup kalender tahunan, semesteran, bulanan, dan mingguan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 42
Satu Untuk UNM

5) Program bimbingan perlu dilaksanakan dalam bentuk (a) kontak langsung, dan (b)
tanpa kontak langsung dengan peserta didik. Untuk kegiatan kontak langsung yang
dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu
terjadwal 2 (dua) jam pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan bimbingan
tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan
(seperti e-mail, buku-buku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home
visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referal).
h. Pengembangan Tema/Topik (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
Tema ini merupakan rincian lanjut dari kegiatan yang sudah diidentifikasikan yang terkait
dengan tugas-tugas perkembangan. Tema secara spesifik dirumuskan dalam bentuk
materi untuk setiap komponen program.
i. Pengembangan Satuan Pelayanan (bisa dalam bentuk dokumen tersendiri)
Ini dikembangkan secara bertahap sesuai dengan tema/topik.
j. Evaluasi
Rencana evaluasi perkembangan peserta didik dirumuskan atas dasar tujuan yang ingin
dicapai. Sejauh mungkin perlu dirumuskan pula evaluasi program yang berfokus kepada
keterlaksanaan program, sebagai bentuk akuntabilitas pelayanan bimbingan dan
konseling.
k. Anggaran
Rencana anggaran untuk mendukung implementasi program dinyatakan secara cermat,
rasional, dan realistik.
Secara operasional, program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-
masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan
kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan
program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran
dan kegiatan ekstra kurikuler, serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan
fasilitas sekolah/ madrasah.
Dilihat dari jenisnya, program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program,
yaitu:
1. Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.
2. Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
3. Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi
seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 43
Satu Untuk UNM

4. Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi


seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
5. Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang
dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan
jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau
satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling.

3. Peyusunan Silabus Bimbingan Konseling


Guna manjamin pelaksanaan layanan bimbingan konseling dapat berjalan secara
sistematis, terencana, dan terarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan, perlu disusun
silabus bimbingan konseling. Silabus menjadi pemandu bagi konselor dalam melaksanakan
semua layanan dasardalam program bimbingan konseling.
Dalam pelaksanaan program bimbingan konseling berbasis perkembangan,
penyusunan silabus mengacu pada butir-butir tugas perkembangan individu menurut
kelompok usia peserta didik yang dilayani. Aspek dan rumusan tugas perkembangan dapat
mengacu pada salah satu sumber yang tersedia, yang biasanya diuraikan dalam buku
psikologi perkembangan. Dalam Panduan Pelayanan Bimbingan Konseling Sekolah Menengah
Umum/Kejuruan, Madrasah Aliyah, dan Sederajat yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum
Balitbang Depdiknas (2004), dikemukakan sembilan asepek tugas perkembangan yang
menjadi acuan dalam merumuskan tujuan kompetensi pelayanan bimbingan konseling.
Tugas perkembangan tersebut, meliputi:
1) Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam
perannya sebagai pria atau wanita
3) Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat
4) Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan program
kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi, serta berperan dalam
kehidupan masyarakat yang lebih luas
5) Mencapai kematangan dalam pilihan karir
6) Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional,
sosial, intelektual dan ekonomi
7) Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
8) Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni
9) Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 44
Satu Untuk UNM

Gunan membantu peserta didik mampu merealisasi dengan optimal tugas-tugas


perkembangan tersebut, maka konselor perlu menjabarkan setiap aspek tugas
perkembangan tersebut ke dalam suatu silabus. Salah satu format silabus yang dapat
digunakan adalah sebagai berikut:

Silabus Pelayanan BK Berbasis Kompetensi


Nama Sekolah : SMA X
Sub Tugas Perkembangan:
Materi
Bidang Rumusan Kegiatan Kegiatan
Pengembangan Kelas Penilaian Ket.
Bimbingan Kompetensi Layanan Pendukung
Kompetensi

Contoh silabus untuk tugas perkembangan 1: Mencapai kematangan dalam beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Materi
Bidang Rumusan Kegiatan Kegiatan Penila
Pengembanga Kelas Ket.
Bimbingan Kompetensi Layanan Pendukung ian
n Kompetensi
1. Memiliki Kaidah-kaidah
kemantapan keimanan dan
keimanan dan ketaqwaan
ketaqwaan kepada Tuhan
kepada Tuhan Yang Maha Esa
Yang Maha Esa Bekerja
Laijape
sesuai agama ORIN sama
Bimbingan APIN n
yang dianut 1, 2, 3 INP dengan
Pribadi PBLJ
HPDT Laijapa
Guru
2. Memiliki Cara dan
ng
kemantapan penerapan Agama
dalam kaidah-kaidah
melaksanakan keimanan dan
kaidah-kaidah ketaqwaan
ajaran agama kepada Tuhan
yang dianut Yang Maha Esa.
1. Memiliki Pendalaman
kemantapan aspek-aspek
keyakinan sosial dalam
tentang aspek- kehidupan
aspek sosial beragama. Bekerja
Laijape
Bimbingan kehidupan ORIN sama
APIN n
Sosial beragama 1, 2, 3 INP dengan
HPDT Laijapa
2. Melaksanakan Praktik bagi PBLJ Guru
ng
secara mantap terwujudnya Agama
aspek-aspek aspek-aspek
sosial sosial dalam
kehidupan kehidupan
beragama beragama.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 45
Satu Untuk UNM

Materi
Bidang Rumusan Kegiat-an Kegiatan Penila
Pengembanga Kelas Ket.
Bimbingan Kompetensi La-yanan Pendukung ian
n Kompetensi
1. Memiliki Pendalaman
kemantapan aspek-aspek
keyakinan belajar dalam
bahwa belajar kehidupan
merupakan beragama
perintah Tuhan
Yang Maha Esa
2. Memiliki Contoh-contoh
kemantapan bahwa belajar
keyakinan keras akan
bahwa meningkatkan
kegiatan mutu kehidupan
belajar yang beragama Bekerja
Laijape
sebaik-baiknya ORIN sama
Bimbingan APIN n
akan 1, 2, 3 INP dengan
Belajar HPDT Laijapa
meningkatkan PBLJ Guru
ng
mutu Agama
kehidupan
beragama
3. Mampu Praktik
mewujudkan terwujudnya
secara efektif, aspek-aspek
efisien dan belajar dalam
produktif kehidupan
tentang beragama.
kegiatan
belajar sesuai
dengan ajaran
agama
1. Memiliki Pendalaman
kemantapan aspek-aspek
keyakinan bekerja dan
bahwa bekerja pengembangan
dan karir dalam
pengemba- kehidupan
ngan karir beragama.
merupakan
perintah Tuhan Bekerja
Laijape
Bimbingan Yang Maha Esa ORIN sama
APIN n
Karir 2. Memiliki Contoh-contoh 1, 2, 3 INP dengan
HPDT Laijapa
kemantapan bahwa bekerja PBLJ Guru
ng
keyakinan dan pengemba- Agama
bahwa bekerja ngan karir akan
dan dapat mening-
pengemba- katkan
ngan karir kehidupan
dapat kehidupan
meningkatkan beragama.
kehidupan
beragama

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 46
Satu Untuk UNM

3. Mampu Praktik bagi


mewujudkan terwujudnya
secara efektif, pengembangan
efisien dan persiapan karir
produktif sesuai dengan
tentang ajaran agama
pengembanga
n persiapan
karir sesuai
dengan ajaran
agama

4. Implementasi Kegiatan Bimbingan Konseling


Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya, konselor berpartisipasi
secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin, insidental dan
keteladanan. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk
renacan kegiatan bimbingan (Satlan dan Satkung) dilaksanakan sesuai dengan sasaran,
substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pihak-pihak yang terkait.
Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam
dan di luar jam pelajaran, yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan
sekolah/madrasah.
Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam
pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk:
a. Kegiatan tatap muka, yaitu kegiatan bimbingan konseling yang dilakukan dengan
berinteraksi langsung dengan peserta didik, baik secara individual, kelompok, maupun
klasikal. Ini dapat dilakuan dalam bentuk layanan konseling, pemberian informasi,
penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta
layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di ruang bimbingan konseling ataupun di
dalam kelas. Untuk kegiatan tatap muka secara klasikal, volume kegiatan membutuhkan
alokasi waktu 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal.
b. Kegiatan non-tatap muka, adalah kegiatan bimbingan konseling yang tidak berhadapan
langsung dengan peserta didik. Bentuk kegiatan yang termasuk dalam kategori ini,
antara lain: layanan konsultasi (dengan guru atau orangtua), kegiatan konferensi kasus,
himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan kepustakaan, dan alih tangan kasus.
Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan di luar jam
pembelajaran sekolah/madrasah. Ini dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non
tatap muka dengan peserta didik, untuk menyelenggarakan layanan orientasi, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta kegiatan lainnya
yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 47
Satu Untuk UNM

Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran
tatap muka dalam kelas. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam
pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan
dan Konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Setiap kegiatan
pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program
(LAPELPROG).

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 48
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 4
A. Judul : Organisasi, Fasilitas, dan Evaluasi Bimbingan Konseling
B. Indikator
1. Menjelaskan peran dan fungsi setiap persenol sekolah dalam pelayanan bimbingan
konseling
2. Menguraikan kebutuhan fasilitas bagi kelancaran pelayanan bimbingan konseling
3. Menjelaskan pentingnya penilaian dan evaluasi dalam bimbingan konseling
4. Menyebutkan dengan contoh aspek-aspek yang dievaluasi dalam bimbingan konseling
5. Menyusun rancangan program evaluasi bimbingan konseling di sekolah
C. Waktu : 4 x 60 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Fasilitator menjelaskan secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesis ini serta
ruang lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
Dengan menggunakan bahan bacaan pada Uraian Materi sesi ini, setiap kelompok
melakukan evaluasi/penilaian terhadap program bimbingan konseling di sekolah,
khususnya pada aspek-aspek berikut:
 pelaksanaan peran dan tanggung jawab persenil sekolah dalam pelayanan
bimbingan konseling
 ketersediaan fasilitas dalam pelayanan bimbingan konseling
 ketersediaan anggaran dalam pelayanan bimbingan konseling.
 keterlaksanaan layanan bimbingan konseling
3. Setiap kelompok menuliskan hasil curah pendapat pada kertas plano atau kartun
manila dan memajang hasil kerja di dinding atau tempat yang disediakan;
4. Setiap kelompok diminta berjalan berkeliling rungan untuk membaca pajangan hasil
kerja kelompok lain dan memberi tanggapan atau membuat catatan untuk dibahas;
5. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan tanggapan
atas hasil kerja kelompok lain atau menanyakan hal-hal yang kurang dipahami
6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 49
Satu Untuk UNM

E. URAIAN MATERI
a. Organisasi Personel Bimbingan dan Konseling
Personil pelaksana pepelayanan bimbingan dan konseling adalah segenap unsur yang
terkait di dalam organigram pepelayanan bimbingan dan konseling, dengan Koordinator dan
Guru Pembimbing sebagai pelaksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personil
tersebut, khusus dalam kaitannya dengan pepelayanan bimbingan dan konseling, adalah
sebagai berikut.
a. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di Sekolah/Madrasah secara
menyeluruh, khususnya pepelayanan bimbingan dan konseling. Tugas kepala
Sekolah/Madrasah dan wakil kepala Sekolah/Madrasah adalah:
1) Mengkoordinir segenap kegiatan yang direncanakan, diprogramkan dan berlangsung
di Sekolah, sehingga pepelayanan pengajaran, latihan, dan bimbingan dan konseling
merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
2) Menyediakan sarana dan prasarana, tenaga, dan berbagai fasilitas lainnya untuk
kemudahan bagi terlaksananya pepelayanan bimbingan dan konseling yang efektif
dan efisien.
3) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan
program, penilaian dan upaya tindak lanjut pepelayanan bimbingan dan konseling.
4) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pepelayanan bimbingan dan konseling di
Sekolah/Madrasah kepada pihak-pihak terkait, terutama Dinas Pendidikan yang
menjadi atasannya.
5) Menyediakan fasilitas, kesempatan dan dukungan dalam kegiatan kepengawasan
yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
b. Koordinator Bimbingan dan Konseling
Koordinator Bimbingan dan Konseling adalah pembantu kepala
Sekolah/Madrasah bidang pelayanan bimbingan dan konseling yang bertugas:
1) Mengkoordinasikan para konselor dalam :
2) memasyarakatkan pepelayanan bimbingan dan konseling kepada segenap warga
Sekolah/Madrasah (peserta didik, guru, dan personil Sekolah/Madrasah lainnya),
orang tua peserta didik, dan masyarakat.
3) menyusun program kegiatan bimbingan dan konseling (program pelayanan dan
kegiatan pendukung, program mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan)
4) melaksanakan program bimbingan dan konseling
5) mengadministrasikan program kegiatan bimbingan dan konseling

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 50
Satu Untuk UNM

6) menilai hasil pelaksanaan program kegiatan bimbingan dan konseling


7) menganalisis hasil penilaian pelaksanaan bimbingan dan konseling
8) memberikan tindak lanjut terhadap analisis hasil penilaian bimbingan dan konseling
9) Mengusulkan kepada Kepala Sekolah/Madrasah dan mengusahakan bagi
terpenuhinya tenaga, prasana dan sarana, alat dan perlengkapan pepelayanan
bimbingan dan konseling.
10) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pepelayanan bimbingan dan konseling
kepada Kepala Sekolah/Madrasah.
11) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah
Bidang Bimbingan dan Konseling.
c. Konselor
Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, konselor bertugas:
1) Melakukan studi kelayakan dan needs assessment pepelayanan bimbingan dan
konseling.
2) Merencanakan program bimbingan dan konseling untuk satuan-satuan waktu
tertentu. Program-program tersebut dikemas dalam program harian, mingguan,
bulanan, semesteran, dan tahunan.
3) Melaksanakan program pelayanan bimbingan dan konseling.
4) Menilai proses dan hasil pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
5) Menganalisis hasil penilaian pelayanan bimbingan dan konseling.
6) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian pelayanan bimbingan dan
konseling.
7) Mengadministrasikan kegiatan program pelayanan bimbingan dan konseling yang
dilaksanakannya.
8) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dalam pepelayanan bimbingan dan
konseling secara menyeluruh kepada Koordinator Bimbingan dan Konseling serta
Kepala Sekolah/Madrasah.
9) Mempersiapkan diri, menerima dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan
kepengawasan oleh Pengawas Sekolah/Madrasah Bidang Bimbingan dan Konseling.
10) Berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas serta pihak terkait dalam
pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
d. Guru Mata Pelajaran/Praktik
Sebagai pengampu mata pelajaran dan/atau praktikum, guru dalam pepelayanan
bimbingan dan konseling memiliki peran sebagai berikut:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 51
Satu Untuk UNM

1) Membantu konselor mengidentifikasi peserta didik-peserta didik yang memerlukan


pelayanan bimbingan dan konseling, serta membantu pengumpulan data tentang
peserta didik.
2) Mereferal peserta didik yang memerlukan pepelayanan bimbingan dan konseling
kepada konselor.
3) Menerima peserta didik alih tangan dari konselor, yaitu peserta didik yang menurut
konselor memerlukan pepelayanan pengajaran/ latihan khusus (seperti
pengajaran/latihan perbaikan, program pengayaan).
4) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada peserta didik yang memerlukan
pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling untuk mengikuti/menjalani
pelayanan/kegiatan yang dimaksudkan itu.
5) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah peserta didik, seperti
konferensi kasus.
6) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian
pelayanan bimbingan konseling dan upaya tindak lanjutnya.
e. Wali Kelas
Sebagai pembina kelas, dalam pepelayanan bimbingan dan konseling Wali Kelas
berperan :
1) Melaksanakan peranannya sebagai penasihat kepada peserta didik khususnya di
kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
2) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya
di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, untuk menjalani pelayanan dan/atau
kegiatan bimbingan dan konseling.
3) Berpartisipasi aktif dalam konferensi kasus.
4) Mereferal peserta didik yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling
kepada konselor.
f. Staf Administrasi
Staf administrasi memiliki peranan yang tidak kecil dalam memperlancar pelaksanaan
program bimbingan dan konseling. Mereka diharapkan membantu menyediakan format-
format yang diperlukan dan membantu para konselor dalam memelihara data dan serta
sarana dan fasilitas bimbingan dan konseling yang ada.
b. Ruang Bimbingan dan Konseling
Ruang bimbingan dan konseling merupakan salah satu sarana penting yang turut
mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, pengadaan ruang

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 52
Satu Untuk UNM

bimbingan dan konseling perlu mempertimbangkan letak atau lokasi, ukuran, jenis dan
jumlah ruangan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Letak atau lokasi ruang bimbingan dan konseling di suatu Sekolah/Madrasah dipilih
lokasi yang mudah diakses oleh peserta didik (strategis) tetapi tidak terlalu terbuka. Dengan
demikian seluruh peserta didik bisa dengan mudah dan tertarik mengunjungi ruang
bimbingan dan konseling, dan prinsip-prinsip convidential tetap terjaga.
Ukuran ruang bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan akan
jenis dan jumlah ruangan. Antar ruangan sebaiknya tidak tembus pandang. Jenis ruangan
yang perlu ada antara lain (1) ruang kerja staf dan administrasi, (2) ruang tamu, (3) ruang
konseling individual (4) ruang data, dan (5) ruang bimbingan dan konseling kelompok.
Jumlah ruang kerja staff, dan ruang konseling individual, serta ruang bimbingan dan
konseling kelompok disesuaikan dengan jumlah peserta didik dan jumlah konselor yang ada
di suatu Sekolah/Madrasah.
Berikut dikemukakan gambar contoh minimal ruangan Bimbingan dan konseling di
Sekolah/Madrasah.

Gambar 4.1: Contoh Minimal Ruangan Bimbingan dan Konseling

Fasilitas ruangan yang diharapkan tersedia ialah ruangan tempat bimbingan yang
khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 53
Satu Untuk UNM

pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu. Ruangan itu hendaknya sedemikian rupa
sehingga di satu segi para peserta didik yang berkunjung ke ruangan tersebut merasa
nyaman, dan segi lain di ruangan tersebut dapat dilaksanakan pelayanan dan kegiatan
bimbingan lainnya sesuai dengan asas-asas dan kode etik bimbingan dan konseling. Khusus
ruangan konseling individual harus merupakan ruangan yang memberi rasa aman, nyaman
dan menjamin kerahasiaan konseli.
Di dalam ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap perangkat instrumen
bimbingan dan konseling, himpunan data peserta didik, dan berbagai data serta informasi
lainnya. Ruangan tersebut hendaknya juga mampu memuat berbagai penampilan, seperti
penampilan informasi pendidikan dan jabatan. Yang tidak kalah penting ialah, ruangan itu
hendaklah nyaman yang menyebabkan para pelaksana bimbingan dan konseling betah
bekerja. Kenyamanan itu merupakan modal utama bagi kesuksesan program pelayanan yang
disediakan.
c. Fasilitas Lain
Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan
konseling antara lain:
a. Dokumen program Bimbingan dan Konseling (buku program tahunan, buku program
semesteran, buku kasus, dan buku harian)
b. Instrumen pengumpul data dan kelengkapan administrasi seperti:
1) Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes bakat
Sekolah/Madrasah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi
belajar.
2) Alat pengumpul data teknik non-tes yaitu: biodata peserta didik, pedoman
wawancara, pedoman observasi (seperti pedoman observasi dalam kegiatan
pembelajaran, pedoman observasi dalam bimbingan dan konseling kelompok),
catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, angket (angket peserta didik dan orang
tua), biografi dan autobiografi, sosiometri, AUM, ITP, format satuan pelayanan,
format-format surat (panggilan, referal), format pelaksanaan pelayanan, dan format
evaluasi.
3) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data. Alat penyimpan data
itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi, map dan file dalam komputer. Bentuk kartu
ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna tertentu, sehingga
mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan,
informasi atau pun data untuk masing-masing peserta didik, maka perlu disediakan
map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data peserta didik yang perlu dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 54
Satu Untuk UNM

harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat menghimpun data
secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
4) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat bantu
bimbingan perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, blanko surat, kartu
konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat, buku-buku
panduan, buku informasi tentang studi lanjutan atau kursus-kursus, modul
bimbingan, atau buku materi pelayanan bimbingan, buku hasil wawancara, laporan
kegiatan pelayanan, data kehadiran peserta didik, leger Bimbingan dan Konseling,
buku realisasi kegiatan Bimbingan dan Konseling, bahan-bahan informasi
pengembangan keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir, dan buku/ bahan
informasi pengembangan keterampilan hidup, perangkat elektronik (seperti
komputer, tape recorder, film, dan CD interaktif, CD pembelajaran, OHP, LCD, TV);
filing kabinet/lemari data (tempat penyimpanan dokumentasi dan data peserta didik),
dan papan informasi Bimbingan dan Konseling.

Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja Bimbingan dan Konseling terkini, para
konselor Sekolah/Madrasah perlu terampil menggunakan perangkat komputer, perangkat
komunikasi dan berbagai software untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data,
menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat diakases secara cepat dan secara
interaktif. Perangkat tersebut memiliki peranan yang sangat strategis dalam pelayanan
Bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah dewasa ini. Dalam konteks ini, para konselor
dituntut untuk menguasai sewajarnya penggunaan beberapa perangkat lunak dan perangkat
keras komputer. Banyak sekali perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan oleh konselor
dalam upaya memberikan pepelayanan terbaik kepada para peserta didik. Selain itu dengan
menggunakan perangkat lunak komputer, konselor dapat memberikan pelayanan Bimbingan
dan konseling secara lebih efisien, dan dengan daya jangkau pelayanan yang lebih luas.
Sebagai contoh perangkat lunak itu antara lain, program database peserta didik, perangkat
ungkap masalah, analisis tugas dan tingkat perkembangan peserta didik, dan beberapa
perangkat tes tertentu.
Komputer yang disediakan di ruang Bimbingan dan Konseling hendaknya memiliki
memori yang cukup besar karena akan menyimpan semua data peserta didik, memiliki
kelengkapan audio agar dapat dimanfaatkan setiap peserta didik untuk menggunakan
berbagai CD interaktif informasi maupun pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan masalah,
serta kelengkapan akses internet agar dapat mengakses informasi penting yang diperlukan
peserta didik maupun dimanfaatkan peserta didik untuk melakukan e-counseling.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 55
Satu Untuk UNM

Salah satu perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi kebutuhan
pelayanan bimbingan dan konseling adalah Inventori Tugas Perkembangan (ITP).
Pengolahan data secara komputerisasi memungkinkan kebutuhan peserta didik terdeteksi
secara rinci sehingga dapat diturunkan manjadi program umum sekoloha, program untuk
tingkatan kelas maupun program individual setiap peserta didik. Kondisi ini memungkinkan
karena data setiap peserta didik, data peserta didik dalam kelompok kelas, data peserta didik
sebagai bagian dari tingkatan kelas maupun data seluruh Sekolah/Madrasah dapat
tertampilkan.
Berbagai film dan CD interaktif sebagai bahan penunjang pengembangan
keterampilan pribadi, sosial, belajar dan karir juga harus tersedia, sehingga para peserta
didik tidak hanya memperoleh informasi melalui buku ataupun papan informasi. Media
bimbingan merupakan pendukung optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling.

d. Pembiayaan: Sumber dan Alokasi


Perencanaan anggaran merupakan komponen penting dari manajemen bimbingan
dan konseling. Perlu dirancang dengan cermat berapa anggaran yang diperlukan untuk
mendukung implementasi program. Anggaran ini harus masuk ke dalam Anggaran dan
Belanja Sekolah/Madrasah.
Memilih strategi manajemen yang tepat dalam usaha mencapai tujuan program
bimbingan dan konseling memerlukan analisa terhadap anggaran yang dimiliki. Strategi
manajemen program yang dipilih harus disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Strategi
yang dipilih tanpa mempertimbangkan anggaran yang dimiliki mungkin hanya akan menjadi
angan-angan yang mungkin sulit untuk sampai mencapai tujuan program.
Kebijakan lembaga yang kondusif perlu diupayakan. Kepala Sekolah/Madrasah harus
memberikan dukungan yang serius dan sistematis terhadap penyelenggaraan program
bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus diperlakukan
sebagai kegiatan yang utuh dari seluruh program pendidikan.
Komponen anggaran meliputi:
a. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum pada program
b. Anggaran untuk aktivitas pendukung (seperti untuk home visit, pembelian buku
pendukung/sumber bacaan, mengikuti seminar/ workshop atau kegiatan profesi dan
pengembangan staf, penyelenggaraan MGMP, pembelian CD pelayanan bimbingan dan
konseling)

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 56
Satu Untuk UNM

c. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan kenyamanan ruang atau pepelayanan


bimbingan dan konseling (seperti pembenahan ruangan, pengadaan buku-buku untuk
terapi pustaka, penyiapan perangkat konseling kelompok).

Sumber biaya selain dari RABS (rencana anggaran belanja Sekolah), dengan
dukungan kebijakan kepala Sekolah/Madrasah jika memungkinkan dapat mengakses dana
dari sumber-sumber lain melalui kesepakatan lembaga dengan pihak lain, atau
menggunakan sumber yang dialokasikan oleh komite Sekolah/Madrasah.

e. Evaluasi Bimbingan Konseling


a. Konsep Dasar dan Fungsi Evaluasi
Evaluasi atau penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program
bimbingan. Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi
keberhasilan pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program
bimbingan merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam
pencapaian tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat lewat kegiatan penilaian.
Menurut Shertzer dan Stone (1966), evaluasi melibatkan kegiatan pembuatan
penilaian sistematis mengenai keefektifan program dalam mencapai tujuan berdasarkan
standar khusus tertentu. Evaluasi dapat pula diartikan sebagai proses pengumpulan
informasi (data) untuk mengetahui efektivitas (keterlaksanaan dan ketercapaian) kegiatan-
kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Pengertian lain dari
evaluasi ini adalah suatu usaha mendapatkan berbagai informasi secara berkala,
berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan sikap dan
perilaku, atau tugas-tugas perkembangan para siswa melalui program kegiatan yang telah
dilaksanakan.
Penilaian kegiatan bimbingan di sekolah adalah segala upaya, tindakan atau proses
untuk menentukan derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan
program bimbingan di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu
sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program
layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpenuhi atau tidak
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan siswa dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung
maupun tidak langsung berperan membantu siswa memperoleh perubahan perilaku dan
pribadi ke arah yang lebih baik.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 57
Satu Untuk UNM

Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling, penilaian diperlukan


untuk memperoleh umpan balik terhadap keefektivan layanan bimbingan yang telah
dilaksanakan. Dengan informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat keberhasilan
kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah
tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya. Kegiatan
evaluasi bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari
program yang telah ditetapkan.
Adapun fungsi evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah adalah:
1. Memberikan umpan balik (feed back) kepada guru pembimbing konselor) untuk
memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling.
2. Memberikan informasi kepada pihak pimpinan sekolah, guru mata pelajaran, dan
orang tua siswa tentang perkembangan sikap dan perilaku, atau tingkat ketercapaian
tugas-tugas perkembangan siswa, agar secara bersinergi atau berkolaborasi
meningkatkan kualitas implementasi program BK di sekolah.
b. Aspek-aspek yang Dievaluasi
Ada dua macam aspek kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilain
proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana keefektivan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian hasil
dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektivan layanan bimbingan dilihat dari
hasilnya. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain:
1) Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan;
2) Keterlaksanaan program;
3) Hambatan-hambatan yang dijumpai;
4) Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar;
5) Respon siswa, personil sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan
bimbingan;
6) Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan,
pencapaian tugas-tugas perkembangan, dan hasil belajar; dan keberhasilan siswa
setelah menamatkan sekolah baik pada studi lanjutan ataupun pada kehidupannya di
masyarakat.
Berbeda dengan hasil evaluasi pengajaran yang pada umumnya berbentuk angka
atau skor, maka hasil evaluasi bimbingan dan konseling berupa deskripsi tentang aspek-
aspek yang dievaluasi (seperti partisipasi/aktivitas dan pemahaman siswa; kegunaan
layanan menurut siswa; perolehan siswa dari layanan; dan minat siswa terhadap layanan
lebih lanjut; perkembangan siswa dari waktu ke waktu; perolehan guru pembimbing;

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 58
Satu Untuk UNM

komitmen pihak-pihak terkait; serta kelancaran dan suasana penyelenggaraan kegiatan).


Deskripsi tersebut mencerminkan sejauh mana proses penyelenggaraan
layanan/pendukung memberikan sesuatu yang berharga bagi kemajuan dan
perkembangan dan/atau memberikan bahan atau kemudahan untuk kegiatan layanan
terhadap siswa.
c. Langkah-langkah Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi program ditempuh langkah-langkah berikut.
1) Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Karena tujuan evaluasi adalah
untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengambil keputusan, maka
konselor perlu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan hal-
hal yang akan dievaluasi. Pertanyaan-pertanyaan itu pada dasarnya terkait
dengan dua aspek pokok yang dievaluasi yaitu : (1) tingkat keterlaksanaan
program (aspek proses), dan (2) tingkat ketercapaian tujuan program (aspek
hasil).
2) Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk memperoleh
data yang diperlukan, yaitu mengenai tingkat keterlaksanaan dan ketercapaian
program, maka konselor perlu menyusun instrumen yang relevan dengan kedua
aspek tersebut. Instrumen itu diantaranya inventori, angket, pedoman
wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi.
3) Mengumpulkan dan menganalisis data. Setelah data diperoleh maka data itu
dianalisis, yaitu menelaah tentang program apa saja yang telah dan belum
dilaksanakan, serta tujuan mana saja yang telah dan belum tercapai.
4) Melakukan tindak lanjut (Follow Up). Berdasarkan temuan yang diperoleh, maka
dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini dapat meliputi dua kegiatan,
yaitu (1) memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat, atau kurang
relevan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan (2) mengembangkan program,
dengan cara merubah atau menambah beberapa hal yang dipandang dapat
meningkatkan kualitas atau efektivitas program.
Penilaian di tingkat sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah yang
dibantu oleh pembimbing khusus dan personel sekolah lainnya. Di samping itu penilaian
kegiatan bimbingan dilakukan juga oleh pejabat yang berwenang (pengawas bimbingan
dan konseling) dari instansi yang lebih tinggi (Departemen Pendidikan Nasional Kota atau
kabupaten).
Sumber informasi untuk keperluan penilaian ini antara lain siswa, kepala sekolah,
para wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, tokoh masyarakat, para pejabat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 59
Satu Untuk UNM

depdikbud, organisasi profesi bimbingan, sekolah lanjutan, dan sebagainya. Penilaian


dilakukan dengan menggunakan berbagai cara dan alat seperti wawancara, observasi,
studi dokumentasi, angket, tes, analisis hasil kerja siswa, dan sebagainya.
Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian
perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam tindak lanjut untuk perbaikan dan
pengembangan program layanan bimbingan. Dengan dilakukan penilaian secara
komprehensif, jelas dan cermat maka diperoleh data atau informasi tentang proses dan
hasil seluruh kegiatan bimbingan dan konseling. Data dan informasi ini dapat dijadikan
bahan untuk pertanggungjawaban (akuntabiltas) pelaksanaan program bimbingan dan
konseling. Secara skematis evaluasi program bimbingan dan konseling tersebut dapat
digambarkan pada bagan 4.2.

EVALUASI PROGRAM

FUNGSI
TUJUAN LANGKAH-LANGKAH
1. Memberikan umpan
Mengetahui balik bagi konselor 1. Memberikan umpan balik
keterlaksanaan 2. Memberikan bagi konselor
dan ketercapaian informasi kepada 2. Memberikan informasi
tujuan program pihak lain tentang kepada pihak lain tentang
perkembangan perkembangan siswa
siswa

ASPEK YANG
DIEVALUASI

PROSES HASIL
1. Kesesuaian pelaksanaan dan 1. Kualitas ketaqwaaan dan akhlak siswa
rancangan program 2. Kualitas pemahaman, penerimaan, dan
2. Tingkat partisipasi personel pangarahan diri siswa
3. Keberhasilan dan hambatan yang 3. Sikap dan kebiasaan belajar siswa
dialami 4. Prestasi belajar siswa
4. Respons stakeholder (siswa, kepala 5. Kualitas kedisiplinan siswa
sekolah, guru, orangtua) 6. Kualitas sikap sosial siswa
7. Pemahaman dan persiapan karir siswa
8. Sikap siswa terhadap program BK

Bagan 4.2 Skema Evaluasi Program


Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24
Universitas Negeri Makassar 60
Satu Untuk UNM

Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan dalam bentuk mendorong


konselor dan personil layanan bimbingan dan konseling untuk melakukan evaluasi program
dan keterlaksanaan program. Minimal evaluasi dilakukan pada akhir tahun ajaran dan
menjadi slaah satu dasar pengembangan program untuk tahun ajaran berikutnya. Evaluasi
proses sebaiknya dilakukan setiap bulan melalui forum pertemuan staf (MGBK di sekolah)
dan dapat dihadiri oleh unsur pimpinan sekolah. Konselor dapat mengembangkan instrumen
yang dapat menjaring umpan balik secara triangulasi yaitu dari siswa sebagai objek dan
subjek bimbingan, dari pendidik di sekolah sebagai person yang terlibat dan berinteraksi
langsung dengan siswa, pimpinan sekolah terkait dengan ketercapaian tujuan dan dukungan
terhadap program sekolah, orang tua terkait dengan perubahan perilaku dan perkembangan
siswa. Dokumen pelaksanaan evaluasi menjadi salah satu indikator unjuk kerja konselor.
d. Penilaian Proses Kegiatan
Penilaian proses dimaksudkan untuk menilai keterlaksanaan berbagaai proses dan
pengelolaan dalam bimbingan dan konseling. Ini dapat mencakup penilaian terhadap:
1) layanan bimbingan dan konseling
2) kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
3) mekanisme dan instrumentasi yang digunakan dalam layanan
4) pengelolaan dan administrasi layanan
Penilaian proses dalam bimbingan konseling dapat dilakukan dengan cara berikut ini.
1) Mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegiatan layanan bimbingan.
2) Mengungkapkan pemahaman siswa atas bahan-bahan yang disajikan atau
pemahaman/pendalaman siswa atas masalah yang dialaminya.
3) Mengungkapkan kegunaan layanan bagi siswa dan perolehan siswa sebagai hasil dari
partisipasi/aktivitasnya dalam kegiatan layanan bimbingan.
4) Mengungkapkan minat siswa tentang perlunya layanan bimbingan lebih lanjut.
5) Mengamati perkembangan siswa dari waktu ke waktu (butir ini terutama dilakukan
dalam kegiatan layanan bimbingan yang berkesinambungan).
6) Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan.
e. Penilaian Hasil Layanan
Penilaian hasil layanan dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan layanan
dilakukan penilaian. Dengan penilaian ini dapat diketahui apakah layanan tersebut efektif
dan membawa dampak positif terhadap siswa yang mendapatkan layanan.
Penilaian ditujukan kepada perolehan siswa yang menjalani layanan. Perolehan ini
diorientasikan pada:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 61
Satu Untuk UNM

a. Pengentasan masalah siswa: sejauh manakah perolehan siswa menunjang bagi


pengentasan masalahnya? Perolehan itu diharapkan dapat lebih menunjang
terbinanya tingkah laku positif, khususnya berkenaan dengan permasalahan dan
perkembangan diri siswa.
b. Perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa, seperti sikap, motivasi, kebiasaan,
keterampilan dan keberhasilan belajar, konsep diri, kemam-puan berkomunikasi,
kreatifitas, apresiasi terhadap nilai dan moral.
Secara khusus fokus penilaian bimbingan konseling diarahkan kepada
berkembangnya:
1) Pemahaman baru yang diperoleh melalui layanan, dalam kaitannya dengan masalah
yang dibahas.
2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui
layanan.
3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan
dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Semua fokus penilaian tersebut mengacu kepada kompetensi yang ditunjukkan dan
mampu aplikasikan oleh p[eserta didik untuk pengentasan permasalahan yang dihadapinya
dalam rangka kehidupan sehari-hari yang lebih efektif.
Penilaian dapat dilakukan dalam bentuk: (1) format individual, kelompok, dan/atau
klasikal; (2) media, lisan dan/atau tulisan; ataupun (3) penggunaan panduan dan/atau
instrumen baku dan/atau yang disusun sendiri oleh guru pembimbing.
Dilihat dari jenisnya, penilaian bimbingan konseling dapat dibedakan atas:
1) Penilaian segera (laiseg), merupakan penilaian tahap awal, yang dilakukan segera
setelah atau menjelang diakhirinya layanan yang dimaksud.
2) Penilaian jangka pendek (laijapen), merupakan penilaian lanjutan yang dilakukan
setelah satu (atau lebih) jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai
paling lama satu bulan.
3) Penilaian jangka panjang (laijapang), merupakan penilaian lebih menyeluruh setelah
dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu
semester.
f. Analisis Hasil Evaluasi Program dan Tindak Lanjut
Hasil evaluasi menjadi umpan balik program yang memerlukan perbaikan, kebutuhan
peserta didik yang belum terlayani, kemampuan personil dalam melaksanakan program,
serta dampak program terhadap perubahan perilaku peserta didik dan pencapaian prestasi
akademik, peningkatan mutu proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 62
Satu Untuk UNM

Hasil analisa harus ditindaklanjuti dengan menyusun program selanjutnya sebagai


kesinambungan program, mengembangkan jejaring pelayanan agar pelayanan bimbingan
dan konseling lebih optimal, melakukan referal bagi peserta didik-peserta didik yang
memerlukan bantuan khusus dari ahli lain, serta mengembangkan komitmen baru kebijakan
orientasi dan implementasi pelayanan bimbingan dna koseling selanjutnya.
Hasil evaluasi proses juga digunakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan
bimbingan dan konseling secara menyeluruh. Laporan hasil penilaian dalam bentuk
‗portofolio‘ dituangkan berbentuk profil laporan siswa berisi prestasi kegiatan akademik,
psikologis, bakat dan minat siswa yang ditandatangani guru pembimbing, koordinator dan
kepala sekolah. diketahui orang tua

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 63
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 5
A. Judul : Konseling Behavioristik
B. Indikator:
1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling Behavioristik
2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
pandangan Behavioristik
3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling Behavioristik
4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling Behavioristik
5. Menentukan teknik konseling Behavioristik yang sesuai pada kasus tertentu.
C. Waktu : 6 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
rangkuman mengenai karakteristik konseling behavioristik, khususnya mengenai:
 Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
 Tujuan konseling
 Proses konseling
 Peran konselor
 Teknik-teknik konseling yang digunakan
4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenbai karakteristik konseling
behavioristik. Hasil rumusan Tim Perumus dibacakan di depan kelas.
5. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
Terapi behavioral yang modern tidak mempunyai asumsi deterministik tentang manusia
yang menganggap manusia hanya sebagai produk dari kondisioning sosiokultural (Corey,
2005). Individu adalah hasil produksi dan juga yang memproduksi lingkungannya. Modifikasi

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 64
Satu Untuk UNM

perilaku bertujuan meningkatkan keterampilan individu sehingga mereka mempunya lebih


banyak pilihan dalam memilih suatu perilaku.
Bagi para ahli modifikasi perilaku, penting untuk menemukan bukti empirik dan
dukungan ilmiah bagi teknik yang mereka pakai. Beberapa ahli yang menyikapi pembelajaran
sosial-kognitif menekankan bahwa orang memperoleh pengetahuan dan perilaku baru
dengan cara mengamati orang lain dan berbagai macam kejadian tanpa mereka sendiri
harus melakukan perilaku tersebut dan tanpa konsekuensi langsung kepada diri mereka
(misalnya modeling). Tipe belajar ini tidak memerlukan partisipasi aktif.
Berikut dikemukakan berapa konsep kunci yang mendasari pemikiran konseling
behavioristik, yaitu:
a. Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari
luar.
b. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan
interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
c. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima
dalam situasi hidupnya.
d. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-
hukum belajar: (a) pembiasaan klasik, (b) pembiasaan operan, dan (c) peniruan.
e. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang
diperolehnya.
f. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar,
sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi
pembentukan tingkah laku.
g. Karakteristik konseling behavioral adalah: (1) berfokus pada tingkah laku yang tampak
dan spesifik, (2) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, (3)
mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah konseli, dan (4)
penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
a. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau
tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan
lingkungan.
b. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang
salah.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 65
Satu Untuk UNM

c. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif


dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman
dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.
d. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku
tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar
3. Tujuan Konseling
Konseling behavioral mengarahkan proses konseling pada pencapaian tujuan-tujuan
berikut:
a. Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untuk digantikan
dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan konseli.
b. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik: (1)
diinginkan oleh konseli; (2) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai
tujuan tersebut; (3) konseli dapat mencapai tujuan tersebut; (4) dirumuskan secara
spesifik
c. Konselor dan konseli bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/ merumuskan
tujuan-tujuan khusus konseling.
4. Deskripsi Proses Konseling
Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar
tersebut. Langkah utama yang dilakukan dalam proses konseling mencakup:
a. Assesment, yaitu langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika
perkembangan konseli (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya,
kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku
penyesuaian, dan area masalahnya) Konselor mendorong konseli untuk
mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment
diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai
dengan tingkah laku yang ingin diubah.
b. Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan
informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan konseli menyusun
dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. Perumusan tujuan
konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (1) Konselor dan konseli
mendifinisikan masalah yang dihadapi konseli; (2) Konseli mengkhususkan perubahan
positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling; (3) Konselor dan konseli
mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan konseli: apakah merupakan tujuan yang
benar-benar dimiliki dan diinginkan konseli; apakah tujuan itu realistik; kemungkinan
manfaatnya; atau kemungkinan kerugiannya; (4) konselor dan konseli membuat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 66
Satu Untuk UNM

keputusan apakah melanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan


dilaksanakan, mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai, atau melakukan
referal.
c. Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling
yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan
konseling.
d. Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan
konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan
tujuan konseling.
e. Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan
meingkatkan proses konseling.
5. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral
a. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah
dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan
demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.
b. Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar konseli terdorong
untuk merubah tingkah lakunya, penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya
yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan
melalui tingkah laku konseli.
c. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.
d. Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan dapat mengakibatkan
terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.
e. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model
(film, tape recorder, atau contoh nyata langsung).
f. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan
dengan sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk
materi maupun keuntungan sosial.
6. Peran Konselor
Pada umumnya konselor yang berorientasi behavioral bersikap aktif dalam sesi-sesi
konseling. Konseli belajar menghilangkan atau belajar kembali berperilaku tertentu.
Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasihat, pemberi
dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau mensupervisi orang-orang
pendukung yang ada di lingkungan konseli yang membantu dalam proses perubahan
tersebut
Dalam konseling behavioristik, peran utama konselor adalah:

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 67
Satu Untuk UNM

a. Merumuskan masalah yang dialami konseli dan menetapkan apakah konselor dapat
membantu pemecahannya atu tidak
b. Memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya
tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling
c. Mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.
7. Teknik Konseling
Pelaksanaan konseling behavioral menggunakan teknik-teknik umum modofikasi
perilaku seperti:
a. Skedul penguatan. Bila suatu perilaku baru saja dipelajari, maka perilaku itu harus
diperkuat setiap kali muncul-dengan perkataan lain penguatan yang berlangsung
terus. Setelah terbentuk, frekuensi penguat dapat dikurangi, dengan perkataan lain
memakai penguat intermiten, supaya perilaku tetap bertahan
b. Shaping. Perilaku yang dipelajari secara bertahap dengan pendekatan suksesif,
disebut sebagai shaping. Untuk mempelajari keterampilan baru, konselor dapat
memecah-mecah perilaku ke dalam unit-unit, dan mempelajarinya dalam unit-unit
kecil.
c. Ekstingsi. Eliminasi dari perilaku karena penguat tidak diberikan lagi. Hanya sedikit
individu yang mau melakukan sesuatu yang tidak memberi keuntungan.

Selain teknik-teknik umum tersebut, sering pula digunakan beberapa teknik-teknik


khusus, sebagai berikut:
a. Desensitisasi sistematik. Desensitisasi sistematik dirancang untuk membantu
konseli mengatasi anxietas dalam situasi-situasi tertentu. Konseli diminta supaya
menggambarkan situasi yang menimbulkan kecemasan dan kemudian harus
membuat urutan situasi yang paling menimbulkan kecemasan (100), sampai yang
tidak menimbulkan keprihatinan (0). Konselor mengajar konseli untuk rileks secara
fisik dan mental. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat
secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang
akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak
dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.
b. Time-out. Time-out adalah teknik aversif yang sangat ringan. Konseli dipisahkan
dari kemungkinan mendapatkan penguat positif. Sangat efektif bila digunakan untuk
waktu yang singkat, misalnya dalam menit.
c. Implosion dan flooding. Gladding (2004) menjelaskan terapi implosif sebagai
suatu teknik yang sudah lanjut (advanced) yang mencakup mendesensitisasi konseli

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 68
Satu Untuk UNM

dengan cara meminta konseli membayangkan suatu situasi penimbul anxietas yang
bisa berakibat parah. Konseli tidak diajarkan untuk rileks terlebih dahulu (seperti
dalam desensitisasi sistematik). Flooding lebih ringan sifatnya, karena situasi
penimbul anxietas yang dibayangkan tidak menimbulkan konsekuensi yang parah
d. Latihan Asertif. Teknik ini dugunakan untuk melatih konseli yang mengalami
kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan
ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu
mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan
afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan
peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan
dalam latihan asertif ini.
e. Pengkondisian Aversi. Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan
buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan konseli agar
mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus
tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan
secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki
kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku
yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
f. Pembentukan Tingkah laku Model. Teknik ini dapat digunakan untuk
membentuk tingkah laku baru pada konseli, dan memperkuat tingkah laku yang
sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada konseli tentang
tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau
lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh.
Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran
dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial

F. Tugas Latihan
1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
konseli dari sudut pandang Konseling Behavioral.
2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling Behavioral.
3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
pelaksanakan Konseling Behavioral.
4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan skenario
wawancara Konseling Behavioral.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 69
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 6
A. Judul : Konseling Rational Emtove Behavior Therapy
B. Indikator:
1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling REBT
2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
pandangan REBT
3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling REBT
4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling REBT
5. Menentukan teknik konseling REBT yang sesuai pada kasus tertentu.
C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
rangkuman mengenai karakteristik konseling REBT, khususnya mengenai:
 Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
 Tujuan konseling
 Proses konseling
 Peran konselor
 Teknik-teknik konseling yang digunakan
4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenbai karakterstik konseling
REBT. Hasil rumusan Tim Perumus dibacakan di depan kelas.
5. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
6. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
Manusia pada dasarnya adalah unik dan memiliki kecenderungan untuk berpikir
rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif,
bahagia, dan kompeten. Sebaliknya, ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional, individu

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 70
Satu Untuk UNM

akan menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang terhadap suatu situasi/kejadian
sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun
tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang
tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka,
sangat personal, dan irasional. Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis
yang diperoleh dari orangtua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan
tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara
berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.
Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang
rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara
verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-
konsep kunci teori Albert Ellis: ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu
Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional Consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
Perceraian dalam keluarga, kelulusan bagi siswa, dan putus hubungan merupakan contoh
antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang
rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana,
dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau
system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak
produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan
antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi
disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun
yang iB.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah
adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Menurut
Gladding (2004), REBT berasumsi bahwa orang secara inheren adalah rasional dan irasional,

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 71
Satu Untuk UNM

masuk akal (sensible) dan gila. Dualitas ini sifatnya inheren secara biologis dan akan
menjadi menetap kecuali bila dipelajari cara berpikir yang baru. Menurut Ellis (1973) anak-
anak lebih rentan terhadap pengaruh luar dan pemikiran irasional dibandingkan dengan
orang dewasa. Ia percaya bahwa manusia mudah dipengaruhi, sangat sugestif dan mudah
terganggu. Tetapi, manusia mempunyai sarana yang berasal dari dalam dirinya sendiri untuk
mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakannya, tetapi ia harus menyadari dulu apa yang
dia katakan pada dirinya sendiri (self-talk), supaya ia dapat menguasai hidupnya sendiri.
Ellis (1995) mendeskripsikan proposisi utama REBT sebagai berikut:
a. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk rasional (self-constructive) dan irasional (self-
defeating). Mereka mempunyai potensi melakukan preservasi-diri, untuk berpikir, untuk
kreatif, untuk berminat terhadap orang lain, belajar dari kesalahan, rnengaktualisasi
potensinya untuk berkembang. Tetapi, mereka juga mempunyai kecenderungan untuk
destruksi-diri, menyukai kesenangan sesaat, rnenghindar berpikir panjang, untuk
melakukan kesalahan yang sama, untuk percaya tahayul, tidak toleran, perfeksionistik
dan memikir yang besar-besar dan menghindar rnengaktualisasikan potensinya untuk
berkembang.
b. Kecenderungan orang untuk berpikir irasional, kebiasaan yang merugikan diri sendiri,
wishful thinking, dan tidak toleran seringkali dipertebal oleh budaya mereka dan
kelompok keluarga mereka.
c. Orang mempersepsi, berpikir, merasa dan berperilaku secara simultan. Dengan
demikian, pada saat yang bersamaan mereka kognitif, konatif, dan motorik. Sensasi dan
tindakan dipandang dengan kerangka pengalaman, dengan memori yang terdahulu.
Orang jarang melakukan tindakan tanpa mempersepsi, berpikir dan merasa, karena
proses-proses ini memberikan alasan untuk bertindak. Dalam hal perilaku yang
terganggu, berlaku proses yang sama, karena itu harus diubah dengan metode-metode
yang sifatnya perseptual-kognitif, emotif-evokatif dan behavioristik-reedukatif.
d. Memperoleh wawasan (insight) tidak membawa kepada perubahan kepribadian yang
besar. Bukan activating events (A) dalam kehidupan seseorang yang "menyebabkan"
konsekuensi emosi yang disfungsional (C), tetapi fakta bahwa orang menginterpretasi
peristiwa ini secara tidak realistik dan karena itu mempunyai keyakinan yang self-
defeating (B) tentang hal itu. Dengan demikian, penyebab "sesungguhnya" terletak di
dalam diri orang itu sendiri dan bukan apa yang terjadi pada diri mereka.
Penyebab sehingga individu tidak mampu berpikir secara rasional, adalah: (1) tidak
mampu membedakan dengan jelas tentang saat ini dan yang akan datang, atau antara
kenyatan dan imajinasi; (2) tunduk dan menggantungkan diri pada perencanaan dan

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 72
Satu Untuk UNM

pemikiran orang lain; (3) mengadopsi kecenderungan cara berpikir irasional dari orangtua
atau masyarakat yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media.

3. Tujuan Konseling
Menurut REBT, kebanyakan problem nerotik menyangkut pemikiran magis, pemikiran
yang secara empirik tidak dapat divalidasi, dan bila ide-ide yang menimbulkan gangguan ini
ditantang habis-habisan melalui pemikiran logis-empiris, pemikiran-pemikiran ini dapat
dikenali sebagai sesuatu yang palsu atau salah dan kemudian diminimalisasi. Tidak peduli
seberapa defektifnya hereditas seseorang, dan tidak peduli bagaimana traumatiknya
pengalaman seseorang, alasan utama mereka sekarang ini bereaksi berlebih atau tak
bereaksi adalah karena mereka sekarang ini mempunyai keyakinan yang dogmatik, irasional
dan yang tidak ada buktinya
Tujuan konseling REBT adalah memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir,
keyakinan serta pandangan konseli yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang
rasional dan logis agar dia dapat mengembangkan diri, meningkatkan aktualisasi dirinya
seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Di samping itu,
dalam konseling REBT, konseli dibantu untuk menghilangkan gangguan-gangguan emosional
yang merusak diri sendiri seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas,
merasa was-was, rasa marah.
Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai konseli dalam konseling dengan pendekatan
rasional-emotif:
Pertama, insight dicapai ketika konseli memahami bahwa tingkah laku penolakan diri
berhubungan dengan penyebab yang sebagian besar berkaitan dengan keyakinannya
tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
Kedua, insight terjadi ketika konselor membantu konseli untuk memahami bahwa apa yang
menganggu konseli pada saat ini adalah keyakinan irasional yang dipelajari dari dan
diperoleh sebelumnya.
Ketiga, insight dicapai pada saat konselor membantu konseli untuk mencapai pemahaman
ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan emosional kecuali dengan
mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional itu.
Konseli yang telah memiliki keyakinan rasional akan memiliki peningkatan dalam hal: (1)
minat kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi terhadap pihak
lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen terhadap sesuatu di luar
dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil risiko, dan (10) menerima kenyataan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 73
Satu Untuk UNM

4. Deskripsi Proses Konseling


Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan
sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-
batas tujuan yang disusun secara bersama oleh konselor dan konseli.
Proses Konseling REBT memiliki karakteristik, sebagai berikut:
a. Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu
mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b. Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek
kognitif dari konseli dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c. Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga
memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan
emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari
gangguan tersebut.
d. Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya
menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.

5. Peran Konselor
Dalam pendekatan REBT, konselor adalah aktif dan direktif. Mereka adalah instruktur
yang mengajari dan membetulkan kognisi konseli. Menentang keyakinan yang sudah berakar
mendalam memerlukan lebih daripada sekadar logika. Perlu repetisi konsisten. Karena itu
konselor harus mendengarkan dengan hati-hati pernyataan-pernyataan konseli yang tidak
logis atau salah dan menantang keyakinan ini. Seorang konselor REBT hams mempunyai ciri-
ciri berikut: pandai, berpengetahuan luas, empatik, menambah respek, genuine, konkret,
persisten, ilmiah, berminat membantu orang lain dan ia sendiri) menggunakan REBT.
Dalam Konseling REBT, tugas konselor adalah menunjukkan kepada konseli bahwa:
(1) masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak
rasional; (2) bahwa usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-
sebab permulaan.
Operasionalisasi tugas konselor, mencakup fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. lebih edukatif-direktif kepada konseli, dengan cara lebih banyak memberikan cerita dan
penjelasan, khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah konseli secara
langsung;
b. menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara
berpikir konseli, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 74
Satu Untuk UNM

dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang
menyebabkan hambatan emosional pada dirinya;
c. mendorong konseli menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya;
d. menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis dengan menggunakan humor dan
―menekan‖ sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional.

6. Teknik Konseling
Dalam konseling REBT konselor menggunakan berbagai macam teknik, bermain-
peran, pelatihan asertivitas, desensitisasi, humor, sugesti, dukungan dan lain-lain, atau apa
saja yang efektif untuk membantu konseli mengubah keyakinan yang sudah begitu menetap
dalam. REBT tidak hanya bertujuan menghilangkan simtom, tetapi juga membantu orang
untuk memeriksa dan mengubah beberapa nilai dasar mereka - terutama yang menimbulkan
gangguan.
Pendekatan konseling REBT menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli. Beberapa teknik dimaksud
antara lain adalah sebagai berikut.
a. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
1) Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan konseli untuk
secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.
Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri konseli.
2) Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-
perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga
konseli dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
3) Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu
dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang
negatif.
b. Teknik-teknik Behavioristik
1) Reinforcement
Teknik untuk mendorong konseli ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis
dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).
eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional
pada konseli dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 75
Satu Untuk UNM

Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka konseli akan


menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
2) Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada konseli. Teknik ini
dilakukan agar konseli dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan
dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
c. Teknik-teknik Kognitif
1) Home work assigments
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih,
membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola
tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, konseli
diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan
yang tidak dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk
mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu
berdasarkan tugas yang diberikan. Pelaksanaan homework assigment yang diberikan
konselor dilaporkan oleh konseli dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung
jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
pengelolaan diri konseli dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
2) Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian konseli dalam mengekspresikan tingkah laku
tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model
sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah: (a) mendorong kemampuan konseli
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya; (b)
membangkitkan kemampuan konseli dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri
tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong konseli untuk
meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 76
Satu Untuk UNM

F. Tugas Latihan
1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
konseli dari sudut pandang REBT
2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling REBT
3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
pelaksanakan konseling REBT.
4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan skenario
wawancara konseling REBT.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 77
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 7
A. Judul : Konseling Humanistik (Berpusat Pada Pribadi)
B. Indikator:
1. Menjelaskan konsep kunci dalam konseling humanistik
2. Menyebutkan dengan contoh penyebab individu mengalami problem menurut
pandangan humanistik
3. Menjelaskan fokus yang menjadi tujuan utama dalam konseling humanistik
4. Menjelaskan prosedur pokok dalam proses konseling humanistik
5. Menejelaskan peran konselor dalam konseling humanistik
C. Waktu : 5 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
3. Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan membuat
rangkuman mengenai karakteristik konseling humanistik, khususnya mengenai:
 Asumsi dasar tentang perilaku bermasalah
 Tujuan konseling
 Proses konseling
 Peran konselor
 Teknik-teknik konseling yang digunakan
4. Bentuk tim perumus yang merupakan wakil dari setiap kelompok. Tim perumus
selanjutnya membuat resume hasil diskusi kelas mengenai karakteristik konseling
humanistik.
5. Anggota tim perumus dari setiap kelompok kembali ke kelompk masing-masing untuk
menjelaskan hasil rumusan Tim Perumus.
6. Fasilitator memberi penjelasan tambahan yang diperlukan, khususnya terkait dengan
topik diskusi dan hasil kerja kelompok.
7. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 78
Satu Untuk UNM

E. Uraian Materi
1. Konsep Dasar
Konseling humanistik berakar dari aliran pemikiran humanistik dalam psikologi.
Pemikiran humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai
reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan
perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan
teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari
James Bugental (1964), sebagai berikut:
a. Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
b. Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
c. Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
d. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
e. Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan
tokoh-tokohnya seperti Kierkegard, Nierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre.
Konseling humanistik seringpula disebut konseling berpusat pada pribadi
dikembangkan oleh Carl Rogers. Konseling ini memfokuskan perhatian pada potensi individu
untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan
dirinya sendiri dan lingkungannya. Para konselor yang memakai Konseling berpusat pada
pribadi membantu konseli untuk meningkatkan pemahaman diri melalui mengalami
perasaan-perasaan mereka.
Pendekatan konseling ini memandang manusia sebagai individu yang unik. Manusia
merupakan seseorang yang ada, sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Setiap
orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya, menyempurnakan
esensi dan fakta eksistensinya. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan
sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang
ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. Manusia tidak pernah
statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani
menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri. Setiap orang memiliki
potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal
kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.
Konseling humanistik berpandangan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik
Karakteristik manusia adalah positif, ingin berkembang kearah yang lebih baik, konstruktif,
realistik, and trustworthy (Rogers, 1980). Setiap pribadi adalah orang yang sadar, terarah
dari dalam (inner directed) dan bergerak ke arah aktualisasi diri. Menurut Rogers, aktualisasi

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 79
Satu Untuk UNM

diri adalah dorongan yang paling menonjol dan memotivasi eksistensi dan mencakup
tindakan yang mempengaruhi keseluruhan kepribadian.
2. Asumsi Dasar mengenati Perilaku Bermasalah
Kemunculan diri (self) yang sehat, memerlukan penghargaan positif, kasih sayang,
perhatian, dan penerimaan. Tetapi, pada masa kanak-kanak, orang biasanya menerima
conditional regards dari orangtua dan orang lain. Perasaan berharga berkembang bila
seseorang berperilaku dengan cara tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh orang
yang persetujuannya diharapkan, karena akseptansi kondisional mengajarkan orang untuk
merasa berharga hanya bila ia konform dengan keinginan orang lain. Kalau orang tidak
melakukan seperti yang dikehendaki orang lain, ia tidak akan diterima atau dihargai. Tetapi,
bila ia konform, ia akan membuka jurang antara ideal self (apa yang orang inginkan dirinya
untuk menjadi) dan real self (apa adanya dirinya). Makin jauh jurang antara keduanya,
orang akan menjadi makin maladjusted.
Dalam pandangan pendekatan humanistik, gangguan jiwa disebabkan karena individu
yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. Dengan perkataan lain,
pengalamannya tertekan.
3. Tujuan Konseling
Konseling humanistik mengarahkan proses konseling pada pencapaian tujuan-tujuan
berikut:
a. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya
menurut apa adanya—―Saya adalah saya‖.
b. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan
dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization
seoptimal mungkin.
c. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam
proses aktualisasi dirinya.
d. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat
dijangkau menurut kondisi dirinya.
4. Deskripsi Proses Konseling
Proses konseling humanistik ditandai beberapa karakteristik, antara lain:
a. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli.
b. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan
apa yang diinginkannya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 80
Satu Untuk UNM

c. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku
individu dengan tanpa memberikan sanggahan.
d. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan
kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam
hubungan konseling.
e. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat
diperlukan oleh konselor.
5. Peran Konselor
Peran konselor bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap-sikap
mereka, tidak pada teknik-teknik yang dirancang agar konseli melakukan sesuatu. Konselor
menggunakan dirinya sendiri, sebagai instrumen perubahan. Fungsi mereka menciptakan
iklim terapeutik yang membantu konseli untuk tumbuh. (Rogers,1980). Konselor menyadari
bahasa verbal dan nonverbal konseli dan merefleksikannya kembali. Konselor dan konseli
tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan dicapai. Konselor percaya
bahwa konseli akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin dicapainya. Konselor
hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
6. Teknik Konseling
Pendekatan ini menganggap kualitas hubungan konseling jauh lebih penting daripada
teknik. Ada tiga kondisi yang dibutuhkan dalam konseling, yaitu 1) empathy; (2) positive
regard (acceptance), dan (3) congruence genuineness. Empati adalah kemampuan konselor
untuk merasakan bersama dengan konseli dan menyampaikan pemahaman ini kembali
kepada mereka. Empati dalam hubungan konseling adalah faktor yang paling berpengaruh
dan membawa perubahan dan pembelajaran. Positive regard atau akseptansi adalah
penerimaan yang tulus dan penghargaan yang mendalam terhadap konseli. Kongruensi
adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik dengan tidak memakai topeng.
Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client
centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi:
a. acceptance (penerimaan);
b. respect (rasa hormat);
c. understanding (pemahaman);
d. reassurance (menentramkan hati);
e. encouragement (memberi dorongan);
f. limited questioning (pertanyaan terbatas; dan
g. reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 81
Satu Untuk UNM

Teknik-teknik tersebut sesungguhnya mendasari dan diterapkan pada pelaksanaan


proses konseling pada hampir semua pendekatan konseling. Melalui penggunaan teknik-
teknik tersebut diharapkan konseli dapat:
a. memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik;
b. mengambil keputusan yang tepat;
c. mengarahkan diri; dan
d. mewujudkan dirinya.
F. Tugas Latihan
1. Tetapkan satu kasus dan deskripsikan kasus tersebut menggambarkan permasalahan
konseli dari sudut pandang konseling humanistik (Berpusat pada Pribadi).
2. Buat rencana tindakan dalam bentuk satuan layanan Konseling Berpusat pada
Pribadi.
3. Lakukan wawancara konseling secara tertulis yang menggambarkan proses
pelaksanakan Konseling Berpusat pada Pribadi.
4. Buat laporan program pelaksanaan konseling dengan melampirkan skenario
wawancara Konseling Berpusat pada Pribadi.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 82
Satu Untuk UNM

KEGIATAN BELAJAR 8

A. Judul : Keterampilan Dasar dalam Konseling


B. Indikator:
1. Menjelaskan pentingnya setiap keterampilan dasar konseling
2. Memperagakan contoh pelaksanaan setiap keterampilan dasar konseling
3. Menentukan letak ketidakefektifan suatu respons konselor dalam percakapan
konseling
4. Menjelaskan keterampilan komunikasi yang terlibat dalam prosedur pemecahan
masalah
C. Waktu : 6 x 50 menit
D. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jelaskanlah secara ringkas tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini serta ruang
lingkup materi yang akan dikaji.
2. Fasilitator mengarahkan peserta untuk membentuk kelompok kecil (5-6 orang).
Mintalah setiap kelompok membaca bahan pada Uraian Materi sesi ini dan kemudian
melakukan permainan peran secara bergantian, yaitu bertindak sebagai konselor,
konseli, dan pengamat.
3. Praktikkan setiap keterampilan komunikasi secara bertahap. Ikuti prosedur berikut:
a. Fasilitator memberi penjelasan singkat tetntang keterampilan yang akan
dipraktikkan. Disarankan fasilitator dapat memeragakan langsung keterampilan
yang dimaksud
b. Pemeran konselor dan pemeran konseli diminta memerankan suatu dialog
konseling. Pemeran konseli mengungkapkan suatu problem hipotetik dan
pemeran konselor mempraktikkan keterampilan dasar konseling yang telah
dipelajari.
c. Selama simulasi dialog konseling, anggota kelompok lainnya bertindak sebagai
pengamat yang bertugas mengamati dan mencatat perilaku keterampilan dari
pemeran konselor.
d. Setelah sesi dialog, lakukan revie dan refleksi atas pelaksanaan simulasi dialog
konseling tersebut.
e. Lanjutkan simulasi dialog konseling kepada peserta lainnya sampai semua
anggota berkesempatan melakukan peran konselor.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 83
Satu Untuk UNM

4. Fasilitator mereviu tujuan sesi ini dan meminta peserta menilai sendiri dan
mengungkapkan ketercapaiannya.
E. Uraian Materi
Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan menolong orang lain (helping job)
pasti melibatkan proses komunikasi. Bahkan, pada sejumlah pekerjaan menolong, seperti
guru, psikolog, konselor, dan semacamnya, proses komunikasi ini menjadi wahana utama
kegiatan kerjanya. Mereka menolong orang lain—mengajar, mengkonseling, mengarahkan,
menasehati, dan sebagainya—dengan menerapkan keterampilan mereka dalam
berkomunikasi. Karena itu, terampil berkomunikasi menjadi salah satu prasyarat penting
yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin bekerja secara efektif dalam peranan dan
tugas menolong orang lain.
Kegiatan menolong seperti yang dilakukan oleh konselor sekolah juga melibatkan dan
mempersyaratkan keterampilan berkomunikasi. Untuk bisa menolong orang lain, konselor
harus bisa berkomunikasi secara efektif. Dengan menerapkan kemampuan berkomunikasi
yang efektif, konselor dapat menciptakan suasana yang kondusuf bagi pelaksanaan proses
konseling. Konseli yang dibantu dapat merasa aman dan merasa diterima sehingga mereka
bisa lebih percaya dan terbuka untuk mengungkapkan persoalan yang dihadapinya.
Konselor membutuhkan sejumlah keterampilan komunikasi. Dalam uraian ini
dikemukakan sebagian dari keterampilan komunikasi dasar yang dimaksud, yaitu:
1. Keterampilan penampilan dalam penerimaan.
2. Keterampilan bertanya dan membuka percakapan
3. Keterampilan membuat paraprase
4. Keterampilan mengempati perasaan
5. Keterampilan membuat ringkasan
6. Keterampilan pemecahan masalah
Keenam keterampilan tersebut hanyalah sebagian dari keseluruhan keterampilan
komunikasi yang diperlukan dalam kegiatan menolong orang lain. Namun demikian, keenam
keterampilan tersebut merupakan unsur keteram[ilan penting yang perlu dikuasai guna
melaksanakan suatu proses konseling yang efektif.
Berikut dikjelaskan secara ringkat keenam keterampilan dasar tersebut.
1. Keterampilan Attending (Penampilan Dalam Penerimaan)
Perhatian yang baik adalah komponen penting dalam menjalin komunikasi yang baik.
Perilaku penampilan yang tepat dapat menunjukkan kepada orang yang anda ajak
berbicara bahwa anda menghormatinya sebagai pribadi, bahwa anda bersedia
menerimanya, dan bahwa anda bersungguh-sungguh ingin menolongnya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 84
Satu Untuk UNM

Sebagai suatu keterampilan, penampilan melibatkan berbagai proses dan pengelolaan


diri. Yang penting diingat, jika ingin menjadi seorang penolong, anda harus menunjukkan
diri secara fisik bahwa anda memiliki keinginan dan kesediaan menolong orang yang
datang kepada anda.
Unsur keterampilan yang terlaku dengan attending, meliputi:
a. Penampilan badaniah, meliputi posisi tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan anggota
badan.
Penampilan badaniah yang baik, antara lain:
1) Duduk dengan badan menghadap ke arah konseli.
2) Posisi tangan di atas pangkuan
3) Gerakan tangan yang sesuai mengikuti komunikasi verbal.
4) Ekspresi wajah yang responsif, misalnya tersenyum spontan atau anggukan kepala
sebagai tanda persetujuan dan mengerutkan dahi sebagai tanda kurang mengerti.
5) Duduk dengan kepala tegak dan dengan badan yang agak condong ke arah
konseli
Penampilan badaniah yang kurang baik:
1) Duduk dengan badan dan kepala tidak menghadap ke arah konseli
2) Kepala selalu menunduk atau duduk terpaku dalam posisi yang kaku tanpa gerak
3) Penampilan badan ekspresi wajah yang gelisah atau tidak tenang
4) Mempermainkan tangan atau benda tertentu yang dipegang atau menggigit kuku
5) Tangan tidak memperlihatkan gerakan isyarat yang menyertai komunikasi verbal
6) Muka tampak kaku, tegang, tanpa senyum
7) Senyum yang dibuat-buat, tidak spontan, atau dilakukan pada saat yang tidak
tepat.
b. Kontak Mata (Eye Contact), yaitu keterampilan menggunakan mata dalam
berkomunikasi.
Kontak mata yang baik, antara lain:
1) Pandangan mata yang diarahkan langsung ke konseli
2) Kontak pandangan dengan gerakan mata yang spontan.
3) Pandangan mata yang berbinar, pupil mata agak terbuka
Kontak mata kurang baik, antara lain:
1) Memandang ke arah lain saat berbicara
2) Menghindari memandang konseli
3) Pandangan kosong dan kaku
4) Pandangan terlalu tajam atau melotot

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 85
Satu Untuk UNM

c. Pengelolaan Suara, yaitu keterampilan menglola nada dan intonasi suara saat
berbicara.
Pengelolaan suara yang baik, antara lain:
1) Nada suara yang hangat dan lembut
2) Kecepatan suara yang sedang dan diatur sesuai isi pembicaraan
3) Intonasi dan kekerasan (lodness) suara yang tepat yang tepat sesuai materi
pembicaraan
4) Gaya bicara (diction) yang cermat dan teratur.
Pengelolaan suara yang kurang baik, antara lain:
1) Nada suara yang monoton
2) Cara bicara terlalu cepat atau sebaliknya terlalu pelan.
3) Intonasi suara yang terlalu tinggi atau sebaliknya terlalu rendah
4) Gaya bicara ceplas-ceplos, tidak teratur, atau berbelit-belit.
d. Pendengaran (listening), yaitu keterampilan badaniah saat mendengar orang lain
berbicara.
Pendengaran yang baik, antara lain:
1) Menunjukkan perhatian penuh pada isi pembicaraan konseli
2) Mendengarkan semua apa yang disampaikan oleh konseli
3) Menyimak secara utuh pesan yang disampaikan—kata-kata, perasaan, dan
perilakunya.
4) Menggunakan ransangan minimal (seperti hmm, ya, lalu, dsb)
5) Menunjukkan minat mendengarkan melalui penerapan keterampilan penampilan
badaniah, kontak mata, dan penglolaan suara.
Pandengaran yang kurang baik, antara lain:
1) Perhatian terbagi atau melakukan kegiatan lain saat mendengarkan konseli
2) Cepat membuat penilaian dan tanggapan sebelum mendengarkan semua yang
disampaikan oleh konseli
3) Memotong pembicaraan ketika konseli masih ingin berbicara
4) Melompat dari satu topik ke topik yang lain, tanpa sistematika yang jelas.
2. Keterampilan Bertanya dan Membuka Percakapan
Konseli yang datang meminta bantuan kepada anda membawa sejumlah perasaan yang
merupakan masalah baginya. Agar anda dapat memahami bagaimana konseli melihat
situasi permasalahannya, maka anda memerlukan alat yang disebut ―pertanyaan
terbuka,‖ suatu jenis pertanyaan yang membuka kemungkinan jawaban baru namun
tidak menyimpang dari konteks permasalahan yang sedang dibicarakan.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 86
Satu Untuk UNM

Unsur keterampilan yang terlibat dalam bertanya dan membuka percakapan, meliputi:
a. Keterampilan Bertanya
Pertanyaan yang baik bercirikan antara lain:
1) Menggunakan pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban
yang bersifat mengurai dan menjelaskan
2) Menggunakan kata tanya: apa?, bagaimana?, atau dapatkah?
3) Bersifat spesifik dan jelas maksudnya
4) Menanyakan hanya satu topik untuk satu pertanyaan yang diajukan.
Di samping itu, pertanyaan dalam proses bantuan mempunyai empat macam, yaitu:
1) Pertanyaan untuk membuka percakapan, contoh:
 ―Apa yang anda ingin kemukakan sekarang?‖
 ―Bagaimana keadaan anda sesudah pertemuan kita yang terakhir?‖
2) Pertanyaan untuk memnacing konseli berbicara lebih jauh tentang masalahnya.
Contoh:
 ―Dapatkah anda mengemukakan lebih jauh tentang hal tersebut?‖
 ―Saya ingin tahu lebih jauh tentang apa yang menyebabkan anda bereaksi
seperti itu?‖
3) Pertanyaan untuk memberi contoh untuk membantu konseli memahami
perilakunya dengan lebih baik. Contoh:
 ―Dapatkah anda mengatakan apa yang anda lakukan ketika sedang marah?‖
4) Pertanyaan untuk memokuskan perasaan konseli. Contoh:
 ‖Anda tampaknya sangat mencemaskan hal itu. Coba jelaskan lebih jauh hal
tersebut?‖
 ―Bagaimana perasaan anda terhadap perlakuan teman anda itu?‖
Pertanyaan yang kurang baik, mancakup:
1) Banyak menggunakan pertanyaan tertutup, seperti:
 ―Apakah anda merasa kecewa dengan keadaan tersebut?‖
2) Menggunakan pertanyaan-pertanyaan beruntun dan membutuhkan jawaban yang
beruntun pula, seperti:
 ―Dapakah anda mengemukakan hal itu kepada saya? Di manakah terjadinya?
Kapan itu terjadi? Bagaimana perasaan anda atas kejadian itu?‖
3) Menggunakan kata tanya mengapa (sehingga menyulitkan konseli untuk memberi
jawaban yang diinginkan), misalnya:
 ―Mengapa anda melakukan hal itu?‖

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 87
Satu Untuk UNM

4) Mengajukan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah inklusif dalam


pertanyaan itu, misalnya:
 ―Apakah anda tidak menyenanginya, lalu anda tidak mau lagi berbicara
kepadanya?‖
b. Ransangan Minimal (Minimal Encourages)
Ransangan minimal yang baik, mencakup:
1) mengelaborasi aspek-aspek non-verbal dari perlaku penampilan yang baik,
misalnya:
 memelihara kontak mata
 badan yang condong ke depan sebagai tanda penuh perhatian
 gerakan-gerakan anggota badan yang wajar
 gerakan isyarat yang memadai
 anggukan kepala
2) ucapan-ucapan verbal yang singkat, seperti:
 ―Oh?‖ ―dan?‖ ―lalu?‖ ―terus?‖
 ―Coba anda teruskan?‖
 ―Umm-mmm‖, ―Uh-huh‖, ―Yaaah‖
Ransangan minimal yang kurang baik, mencakup:
1) Posisi badan yang kaku
2) Gerakan badan yang berlebihan (overacting)
3) Malu dan diam
4) Bermasa bodoh dan kebingungan.

3. Keterampilan Membuat Paraprhase


Paraphrase adalah suatu kerampilan dasar komunikasi untuk memperbaiki hubungan
interpersonal dengan konseli. Keterampilan ini membutuhkan kemampuan untuk
―menangkap‖ esensi isi pembicaraan dan ―menyatakannya kembali‖ kepada lawan bicara.
Paraphrase mempunyai tiga tujuan, yakni: (1) menyatakan kepada konseli bahwa kita
ada bersamanya, dan bahwa kita berusaha memahami apa yang dikatakannya, (2)
mengendapkan apa yang dibicarakan konseli tentang dirinya dengan membuat ringkasan
yang berguna untuk memberi arah wawancara yang dilakukan; dan (3) mengecek
kembali mengenai persepsi kita terhadap masalah yang diajukan oleh konseli.
a. Paraphrase yang baik, mencakup pernyataan kembali pesan dasar konseli dengan
kata-kata yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi makna yang terkandung

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 88
Satu Untuk UNM

dalam pernyataan tersebut. Paraphrase yang baik ditandai dengan suatu kalimat
awal, seperti:
―Apakah yang anda katakan adalah bahwa…………….‖
―Tampaknya yang anda katakan adalah ……………….‖
Misalnya:
Konseli : ―Biasanya ia selalu senang dengan saya, tapi kok tiba-tiba saja ia
memusuhi saya.‖
Konselor: ―Apakah yang anda katakan adalah bahwa perilakunya tidak konsisten lagi
terhadap anda.‖
b. Pokok-pokok yang disarankan untuk membuat paraphrase yang baik, antara laian:
1) Dengarkan secara teliti pesan dasar yang disampaikan oleh klein
2) Nyatakan kembali kepada konseli kesimpulan atau ringkasan singkat pesan dasar
tersebut.
3) Amatilah apakah perilaku konseli menunjukkan respon yanbg tegas terhadap
paraphrase yang anda buat. Aatau mintalah konseli menanggapi paraphrase
tersebut.
c. Paraphrase yang kurang baik, meliputi:
1) Memasukkan respon yang bersifat analisis, interpretasi atau penilaian terhadap
pesan yang disampaikan oleh konseli.
2) Memberikan respon terhadap hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan pesan
yang disampaikan konseli
3) Menggunakan kata-kata atau phrase yang sifatnya tidak cocok terhadap
wawancara, misalnya kata-kata teknis, kata-kata jargon (istilah khusus pada
bidang tertentu).
4. Mengempati Perasaan
Empati berarti memahami individu secara penuh, bahwa perasaan, pikiran, dan
motive mereka bisa dimengerti. Empati berarti menyelam ke dalam diri individu dan
mencoba melihat dunia melalui mata mereka, mencoba mengalami dunia individu seolah-
olah anda adalah mereka.
Empati merupakan unsur terpenting dalam berhubungan dengan orang lain.
Keterampilan ini sangat vital dalam menjalankan peranan sebagai seorang penolong.
Keterampilan ini juga merupakan sentral di hampir semua teori bantuan terapi. Empati
seringkali disebutkan dan dikaitkan dengan istilah lain seperti: kehangatan (warmth),
kepedulian (compasion), dan pemahaman (understanding), atau istilah lain yang memiliki
makna yang sama. Berbagai hasil penelitian menunjukkan, keterampilan ini dapat

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 89
Satu Untuk UNM

dipelajari, dan bahwa sebagian besar orang, melalaui latihan yang efektif, dapat belajar
menjadi empatik.
a. Mengenal berbagai kata-kata perasaan.
Untuk menangkap perasaan orang lain, anda perlu mengetahui banyak kata-kata
perasaan. Anda perlu mengembangkan satu daftar kosa-kata perasaan. Untuk
latihan, lakukan langkah-langkah berikut:
b. Bacalah daftar kosa kata perasaan, seperti contoh berikut:
Tersinggung Terkekang Dihargai Terganggu Intim Sedih
Diterima Gagal Gelisah Disaingi Gembira Puas
Ditolak Tertekan Sakit hati Disayangi Curiga Takut
Kalah,
Dimarahi Rendah diri Bodoh, tolol Bebas Kesepian
―down‖
Cemas Malu Cemburu Frustrasi Mencintai Dipercaya
Diperhatikan Gugup Bingung Berdosa Ditinggalkan Hebat
Bersemang
Bosan Tegang Terbuka Terpukul Bangga
at

c. Cobalah gambarkan diri anda jika berada situasi mengalami perasaan atau emosi
tersebut. Contoh, ―Bila saya merasa tersinggung‖, maka:

 Saya merasa tidak berharga  Saya merasa tidak berguna apa-apa


 Saya merasa seperti badan teriris-iris  Saya merasa seperti binatang saja
 Saya merasa seperti ingin menangis  Saya merasa terpukul
 Saya merasa malu sekali  Saya merasa divonis
 Saya merasa hancur  Saya merasa dilimpari kotoran
 Saya merasa terpojok  Saya merasa seperti ditampar saja

d. Menggambarkan perasaan
Perasaan yang terkandung dalam pernyataan konseli dapat dikelompokkan menadi
dua bagian. Pertama, perasaan yang tampak atau perasaan permukaan, yaitu
perasaan yang dinyatakan langsung oleh konseli. Kedua, pernyataan tersembunyi,
yaitu perasaan yang tersirat di balik kata-kata dan pernyataan konseli. Perhatikan
contoh berikut:
Konseli : ―Saya sangat marah pada diri sendiri. Setiap kali saya mencoba berbuat
sesuatu yang benar, selalu saja berakhir dengan kekacauan. Sungguh berat
dan mengecewakan untuk tetap berbuat sesuatu.‖
Perasaan permukaan: jengkel, marah, kecewa, kacau.
Perasaan tersembunyi: kasihan pada diri sendiri, kurang berharga, kurang percaya
diri.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 90
Satu Untuk UNM

e. Mengenali bentuk pengungkapan perasaan


Individu dalam mengungkapkan perasaannya dapat menggunakan salah satu dari
empat bentuk, yaitu dengan kata tunggal, dengan phrase, dengan pernyataan
eksperiensial, dan dengan pernyataan verbal. Berikuit dikemukakan contoh ekspresi
perasaan gembira dengan menggunakan keempat cara tersebut:
1) Dengan kata tunggal : ―Saya merasa marah.‖
2) Menggunakan kiasan : ―Saya merasa seperti di surga.‖
3) Pernyataan eksperiensial: ―Saya merasa ia menyukai pekerjaan saya.‖
4) Pernyataan behavioral : ―Saya merasa seperti pergi ke acara resepsi yang
meriah.‖
f. Menanggapi dan merefleksi perasaan
Anda perlu belajar menanggapi isi perasaan yang terkandung dalam pernyataan
konseli dan kemudiaan menyatakannya kembali kepada konseli. Untuk maksud ini,
disarankan melakukan perilaku berikut:
1) Menyimak semua kata-kata yang mengungkapkan perasaan, saat anda
mendengar pembicaraan konseli.
2) Mengatur waktu yang tepat dalam memberi komentar. Jangan mengulang setiap
pertanyaan
3) Memparaphrasa kata-kata perasaan dan maksud pesan yang diungkapkan, baik
positif maupun negatif. Gunakan kata-kata kunci pendahuluan, berikut:
 ―Tampaknya yang anda katakan adalah………..‖
 ―Barangkali anda merasa…………………………‖
 ―Kalau begitu, rupanya yang anda alami adalah…………..‖
 ―Adakah kamu mengatakan bahwa anda………………….‖
Contoh:
Konseli : ―Guru itu jahanam, Saya membencinya. Saya tidak akan mengerjakan
tugas PR yang diberikannya. Saya tidak akan mengerjkan tugas-tugas
darinya‖
Penolong : ―Tampaknya anda merasa sungguh-sungguh marah.‖

5. Keterampilan Membuat Ringkasan


Biasanya dalam setiap wawancara banyak bermunculan ide dan perasaan.
Keterampilan membuat ringkasan diperlukan untuk membantu anda mengklarifikasikan
dan memfokuskan serangkaian ide yang agak berkepanjangan dan leboh menjelaskan
cara bagaimana suatu ide akan dibicarakan lebih lanjut. Keterampilan ini juga membantu

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 91
Satu Untuk UNM

memberi konseli kemungkinan hasrat untuk mengungkapkan berbagai ide dan perasaan,
serta memberi kesadaran akan kemajuan dalam pemahaman diri dan proses pemecahan
masalah. Di samping itu, keterampilan ini juga memberi efek ―jaminan‖ kepada konseli
bahwaanda berada bersama-sama dengannya, bahwa anda tetap mengikuti semua pokok
pembicaraannya.
Keterampilan meringkas melibatkan perilakumendengar secara penuh problem
konseli dan kemudian meringkas pernyataan-pernyataan tentang problem itu dengan
memberi sorotan baru kepada konseli.
Unsur keterampilan yang terkait dengan keterampilan membuat kesimpilan, meliputi:
a. Keterampilan meringkas, melibatkan perhatian terhadap:
1) Apa yang dikatakan konseli---yang selanjutnya merupakan perluasan dari
keterampilan paraphrase.
2) Bagaimana konseli mengemukakan perasaan dan berbibicara---yang selanjutnya
merupakan perluasan dari keterampilan merefleksi perasaan.
3) Tujuan, waktu, dan efek dari pernyataan-pernyatan konseli (proses)—suatu
pernyataan dari mana proses bantuan itu dimulai dan berlangsung hingga ankhir.
b. Pembuatan ringkasan yang memadai hanya terbatas pada suatu aspek saja atau
dapat pula merupakan kombinasi dua atau tiga aspek lainnya. Beberapa petunjuk
untuk membuat ringkasan, antara lain:
1) Mencerminkan bermacam-macam tema dan dengan nada suara emosional
sebagaimana konseli mengucapkannya.
2) Ambillah perasaan dan ide-ide kunci yang dinyatakan konseli ke dalam
pernyataan umum dari pengertian dasarnya.
3) Jangan menambahkan ide baru dalam ringkasan yang dibuat
4) Putuskan membuat ringkasan jika itu sangat membantu anda sebagai penolong,
dan nyatakan rumusan ringkasan anda kepada konseli.
5) Dalam proses pembuatan keputusan ini, pertimbangkan tujuan anda, apakah
karena didasari oleh pertimbangan berikut:
 Adakah hal itu menghangatkan konseli pada permulaan wawancara?
 Adakah hal itu berpusat pada pemikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh
konseli?
 Adakah itu merupakan pembahasan yang intensif terhadap topik/tema
pembicaraan?
 Adakah hal itu mengecek pemahaman anda?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 92
Satu Untuk UNM

 Adakah hal itu mendorong konseli mengeksplorasi topik/tema secara lebih


mendalam?
 Adakah hal itu merupakan terminasi hubungan dengan suatu ringkasan
kemajuan (summary of progress)?
 Adakah hal itu menjamin kelangsungan wawancara?
6) Kata-kata kunci yang dapat digunakan untuk membuat ringkasan, antara lain:
 ―Apa yang saya dengar, yang anda katakan adalah……………….‖
 ―Tampak bagi saya bahwa yang anda katakan adalah…………..‖
 ―Makna yang sebenarnya di balik semua yang anda katakan
adalah……………..‖
 ―Maksud utama di balik yang anda rasakan adalah…………………‖
6. Keterampilan Pemecahan Masalah
Konseli yang datang mengemukakan masalahnya kepada anda, akan mengharapkan
anda untuk membantunya dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Proses
pemberian bantuan seperti ini akan melibatkan keterampilan pemecahan masalah
(problem solving). Karena itu, anda perlu melengkapi diri dengan keterampilan
pemecahan masalah ini. Berbagai keterampilan komunikasi dasar yang telah anda
pelajari juga akan digunakan dalam tindakan dan pelaksanaan pemecahan masalah
konseli.
Keterampilan pemecahan masalah melibatkan tujuh tahap. Ke dalam setiap tahap,
akan digunakan keterampilan komunikasi tertentu sebegaimana yang sudah anda
pelajari. Berikut dikemukakan ketujuh tahap dalam pemecahan masalah tersebut, disertai
gambaran mengenai peran konseli dan peran anda sebagai penolong.
Tujuh Tahap Dalam Pemecahan Masalah
TAHAP PERAN KONSELI PERAN KONSELOR
1. Mengukap-kan Mengemukakan dan menjelaskan as- Menggunakan keterampilan penam-
Problem pek permukaan problem yang pilan, pertanyaan terbuka, serta
dihadapi dalam bahasa yang sangat mengenal dan merefleksi perasaan.
umum
2. Memahami Melihat semua aspek problem, alasan Menggunakan keterampilan penam-
Problem sehingga membutuhkan perhatian pilan, mengenal dan merefleksi
dan menggarisbawahi perasaan perasaan, pertanyaan terbuka
terhadap berbagai aspek problem ketulusan, dan paraprase
tersebut.
3. Membatasi Menyatakan secara jelas problem Mendapatkan persetujuan
Problem yang dihadapi dalam ungkapan yang mengenai problem konseli yanng
lebih spesifik. Pembatasan sebenarnya melalui penggunaan
dibutuhkan tidak hanya pada dimensi keterampilan paraprase dan
problem, tapi juga pada tujuan yang meringkas.
ingin dicapai oleh konseli dengan
mengatasi problemnya.

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 93
Satu Untuk UNM

4. Mengung- Memikirkan dan mengungkapkan Bersama konseli mengungkapkan


kapkan semua alternatif pemecahan masalah semua jalan tindakan (alternatif)
Aternatif yang mungkin ditempuh tanpa yang bisa ditempuh untuk
Pemecahan mengevaluasinya. Tujuannya adalah mengatasi problem konseli. Anda
mendapatkan sebanyak mungkin dapat meng-usulkan alternatif
alternatif yang bisa dibayangkan. tertentu jika konseli mengalami
kesulitan atau mengaju-kan
pertanyaan terbuka untuk men-
dorong konseli memikirkan
alternatif.
5. Mengevaluasi Menguji setiap alternatif sehubungan Membuat daftar nilai yang
Alternatif dengan nilai yang dianut. (Nilai berkaitan dengan problem konseli
adalah sesuatu yang dipandang dan menggaris-bawahi nilai paling
sangat penting oleh konseli. Nilai ini penting yang dianut konseli.
membantu untuk membuat priorotas Kemudian mencatat kekuatan dan
dan menentukan pilihan alternatif). kelemahan konseli dalam
Konseli juga menguji kekuatan dan menerapkan setiap alternatif. Kete-
kelemahan setiap alternatif yang rampilan yang digunakan meliputi
diidentifikasi. memahami dan merefleksi
perasaan, pertanyaan terbuka,
paraprase, dan membuat
ringkasan.
6. Memutuskan Memutuskan alternatif terbaik sesuai Mencatat solusi terbaik dan nilai
Alternatif nilai yang dianut. Konseli menguji yang terlibat dalam membuat
Terbaik keku-atan yang dimiliki untuk keputusan. Kemudian membuat
menerapkan alternatif itiu. Konseli daftar kekuatan konseli dalam
perlu menguji alternatif pilihan menerapkan alternatif, dengan
dengan menjawab beberapa mengajukan pertanyaan berikut:
pertanyaan berikut: a. Apakah anda memililiki data
a. Apakah saya memililiki data yang yang diperlukan?
diperlukan? b. Apakah alternatif itu cukup
b. Apakah alternatif itu cukup spesifik?
sfesifik? c. Apakah alternatif itu
c. Apakah alternatif itu meyakinkan meyakinkan dan sesuai dengan
dan sesuai dengan nilai yang nilai yang anda anut?
saya anut? d. Apakah alternatif membantu
d. Apakah alternatif itu membantu an-da bertumbuh sebagai
saya bertumubh sebagai pribadi? pribadi?
e. Apakah alternatif itu adalah e. Apakah alternatif itu adalah
sesuatu yang saya inginkan? sesuatu yang anda inginkan
7. Menerapkan Mengembangkan rencana tindakan Membantu konseli membuat
Alternatif untuk menerapkan alternatif terbaik, rencana tindakan yang masuk akal,
dengan menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan
berikut: berikut:
a. Apa tujuan saya sayang perlu a. Apa tujuan anda sayang perlu
dipenuhi dengan mengatasi dipenuhi dengan mengatasi
problem ini? problem ini?
b. Apa tindakan pertama yang b. Apa tindakan pertama yang
diperlukan untuk menjalankan anda perlukan untuk
rencana? menjalankan rencana?
c. Apa saja rencana kegiatan c. Apa saja rencana kegiatan
berikutnya yang akan dilakukan berikutnya yang akan anda
guna mencapai tujuan yang saya lakukan guna mencapai tujuan
harapkan? yang saya harapkan?
d. Apa kendala yang akan saya d. Apa kendala yang akan anda
tempui untuk mencapai tujuan? tempuh untuk mencapai
e. Apa kekuatan yang saya miliki tujuan?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 94
Satu Untuk UNM

untuk mengatasi kendala itu? e. Apa kekuatan yang anda miliki


f. Apa lagi yang dibutuhkan untuk untuk mengatasi kendala itu?
menjalankan alternatif yang f. Apa lagi yang dibutuhkan untuk
dipilih? menjalankan alternatif yg
g. Berapa lama waktu yang dibu- dipilih?
tuhkan untuk mencapai tujuan? g. Berapa lama waktu yang dibu-
h. Di manakah alternatif dan tuhkan untuk mencapai tujuan?
rencana tindakan akan h. Di manakah alternatif dan
dilaksanakan? renca-na tindakan akan
i. Kapan saya memulai melaksakan dilaksanakan?
tindakan pertama? i. Kapan anda mulai melaksakan
tindakan pertama?

Pendidikan & Latihan Profesi Guru Rayon 24


Universitas Negeri Makassar 95