Anda di halaman 1dari 9

Stevonus Colonne don Rika Eliana Gambaran Tipe-lipe Konflik

IrtrrparcrtrirI Wririi

HUBUNGAN ANTARA STRES DAN PERILAKU MEROKOK


PADA REMAJA LAM-LAM
Hasnida dan mdii Keinala
P S. Psikologi Fakultas Kedokieran Universitas Surnatera Utara
Intisari
Penelitian mi merupakan penelitian korelasional yang bertujuan uiituk inengetahui
Imbwzgan antara si res dan perilaku merokok pada remaja lakil aki. Hipotesis penelitian
jul adalah bahwa ada hubungan posiifantara sires dan perilaku merokok pada remaja laki-
laki. Penelitian mi ,nelibatkan 98 orang siswa SMA Negri I Medaiz dan SMA Sivasta
Mehodist I Medan dengaii karakteristik sampel berfenis kelamin laki-laki, usia 15-18
taliun dan beiperilaku merokok. Pengambilan sanipel dilakukan dengan teknik cluster
random sampling. Ala: ukur yang digunakan ada/al? Skala Sires dan Skala Perilaku
Merokok Tekuik analisa data yang digunakan ada/al? korelasi Pearson Product Moment..
Dan hash penelit ian diperoleh kesimpulan bahwa terdapat liubungan positf yang sigiq/ikaii
antara sires dan perilaku merokok pada remaja dengan koefisien korelasi sebesar 0.792, (p K
C). 01) yang artinva apabila tingkat sires pada remaja laki-laki tiuggi inaka semakin tinggi
kecenderungan perilaku merokok pada remaja laid-laid. Juga dapat diketahui bahwa
sumbangan efektif variabel sires terhadap peningkatan perilaku nierokok adalah sebesar 63
%.
Kala Kunci : Sires, Peri/aku Merokok, Remaja Laid-Laid
Abstract
The study was a corelational, aimed to find the association beiiveen stress and smoking
behaviour in male teenagers. The hypothesis of the stud’ was that there is a positive
relationship between stress and smoking behaviour in male teenagers. The sample were 98
students from SMA Negri I Medan and SMA Methodist I Medan characterized by age of 15-
18 years old, male and having a smoking behaviour. Sampling was conducted with cluster
random sampling technique. Data ivas analyzed using Pearson Product Moment correlation
technique. This stuth’ conducted that there is a signfi cant positive relationship between
stress and smoking behaviour in imiale teenager gives a high tendency of smoking behaviour
(0.792, p < 0.01) The study also shoived an effective contribution of stress variable towards
the increasing of smoking behaviour of
63%.
Key words Stress, Smoking Behavioum; Male Teenager.
PENDAHULUAN berkaitan dengan masa pertumbithan. Remaja Sires menipakan bagian
yang tidak khawatir akan penibahan tubuhnya dan
teihindaikan dan kehidupan. Stres iliencani jati diii. Sebenaniya remaja dapat mempenganthi
setiap orang, bahkan anak- membicarakan masalah niereka dan anak. Kebaiiyakan stres di
usia remaja mengembangkan keterainpilan tnenyelesaikan

io

PSIKOLOGIA • Volume I • No.2 • Desember 2005

masalali. tetapi karena pergolakan emosional dan ketidakyakinan reinaja dalam ineinbuat keputusan
penting. ineinbuat remaja perlu inendapat bantuan dan dukungan khuSuS dan orang dewasa
(“Mengatasi.” 2002).
Sumber-sumber stres pada remaja berasal dan beberapa faktor antara lain faktor biologis, faktor
keluarga. fakior sekolah, faktor teman sebaya dan faktor lingkiuigan sosial (Needhnan. 2004).
Coinpas (Ormachea. 2004) mengatakan bahwa remaja laki-laki paling sering mengalanu konflik
dengan orang tua dan gum. Mereka sering menentang aturana turan yang ada, baik im peraturan
yang ada di sekolah maupun di rumah. Remaja laki-laki sering tidak inengerjakan tugast ugas di
sekolah, tidak inasuk sekolah, dan nielakukan kenakalan-kenakalan lain seperti merokok.
menggunakan obat terlarang dan berkelahi dengan temant emannya.
Jika dililiat data-data mengenai keterlibatan remaja dalani berbagai penilaku negatif, inaka kita akan
ineneinukan angka-angka yang ineiigejutkan dan mengkhawatirkan. Kelompok Smoking and
Health meinperkirakan sekitar enam ribu remaja mencoba rokok pertamanya setiap han dan tiga ribu
di antaranya menjadi perokok rutin (“Stop”. 2000).
Perilaku inerokok pada remaja uimunnya semakin lama akan semakin meningkat sesuai dengan tahap
perkembangairnya yang ditandai dengan ineningkatnya frekuensi dan intensitas met okok. dan sering
mengakibatkaii mereka inengalami ketergantungan nikotin (Laventhal dan Cleary dalam Mc Gee,
2005).
Smet (dalain Koinasari & Helmi. 2000) menyatakan bahwa usia pertama kali met okok pada
tumunnya berkisar antara 11 13 tahiui dan pada umunmya individu pada usia tersebut merokok

sebelum benisia 18 tahun. Data WHO jLiga seinakin mempertegas bahwa junilali perokok yang ada di
dunia sebanyak 30% adalah kaum remaja. Penelitian di

Jakarta menunjukkan bahwa 64.% pna dan dengan usia di atas 13 tahun adalah perokok (Tandra.
2003). Balikan menurut data pada tahun 2000 yang dikeluarkan oleb Global Youth Tobacco Survey
(GYTS) dan 2074 responden pelajar Indonesia usia 15 20 tahun, 43.90/0 (63°/o pria) mengaku pernah

inerokok (“Mengapa”. 2004).


Perokok laki-laki jauli lebih tinggi dibandingkan perempuan di mana j ika diuraikan menurut umur,
prevalensi perokok laki—laki paling tinggi pada umur 15—19 tahun. Remaja laki-laki pada uinuinnya
inengkonsiunsi 11-20 batang/hani (49.8%) dan yang mengkonsumsi lebih dan 20 batang/haii sebesar
5.6%. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menemukan 27,1% dan 1961 responden pelajar pnia
SMAJSMK. sudah mulai atau bahkan ten biasa merokok, uniumnya siswa kelas satti inenghisap sam
sainpai empat batang perhari, seinentara siswa kelas tiga inengkonsuinsi rokok lebib dan sepuhih
batang perhari (Sirait. dkk. 2001).
Menunit Sinet (1994) ada tiga tipe perokok yang dapat dikiasifikasikan memirut banyaknya rokok
yang dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah:
1. Perokok berat yang meughisap lebih dan
15 batang rokok dalain sehani.
2. Perokok sedang yang inenghisap 5-14 batang rokok dalam sehani.
3. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.
Penelitian yang dilakukan oleh Koniasari dan Helmi (2000) inenyatakan bahwa kepuasan psikologis
menipakan faktor terbesar dalam penilaku merokok pada remaja. Hasil dan penelitian mi juga
didapatkan bahwa stres adalah kondisi yang paling banyak menyebabkan perilaku menokok pada
remaja. Koiistuiisi rokok ketika stres menipakan upaya-upaya pengatasan masalali yang bersifat
einosional atau sebagai koinpensatoris kecemasan yang dialihkan terhadap penilaku merokok.
Tandna (2003) menyayangkan
ineningkatnya jumlali perokok di kalangan reinaja ineskipun telah inengetahiii dainpak buruk rokok
bagi kesehatan, dan menyebutkan bahwa 2O°o daii total perokok di Indonesia adalah remaja dengan
rentang usia antana 15

106

Hasnida don Indri Kemolo


Hubungan antara Stres dan Perilaku

limgga 21 tahun. Meningkatiiya prevalensi merokok di negara-negara berkembang. tennasuk


di Indonesia tenitania di kalangan remaja iuenyebabkan masalah merokok menjadi sernakin
sentis (Tulakom & Bonet.
2003).
Rice (1987) mengatakan bahwa stres adalali suatil kejadian atau stimulus lingkungan yang
inenyebabkan individu
merasa tegang. Atkinson (2000)
mengemukakan bahwa stres inengacu pada per istiwa yang dirasakan niembahayakan
kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi mi disebut sebagai penyebab stres dan
reaksi inidvidu terhadap situasi stres mi disebut sebagai respons sties.
Lazanis & Cohen (dalain Beny, 1998) mengklasifikasikan penyebab stres (stressor ke dalain
tiga kategori, yaitu:
1. C’ataclvsmic events
Fenoinena besar atau tiba-tiba kejadian-kejadian penting
mempenganthi banyak orang, bencana alani.
2. Persona! stressors
Kejadian-kejadian penting
ineinpengamhi sedikit orang sejumlah orang tertentu, seperti keluarga.
3. Background stressors
Pertikaian atau permasalahan yang biasa terjadi setiap ban, seperti inasalah dalam pekerjaan
dan rutinitas pekerjaan.
Menurut Baldwin (2002) sumber stres pada remaja laki-laki dan pereinpuan pada unitunnya
sama, hanya saja remaja perempuan set ing nierasa cemas ketika sedang menghadapi
masalah. sedangkan pada remaja laki-laki ketika inenghadapi masalali cendening lebib
beipeiilaku agresif. Reinaja laki-laki yang mengalanu stres akan inelakukan perbuatan negatif
sepeili
inengkonsumsi rokok dan alkohol
(Hurrehnaim dalam WelIe, 2004).
Menurut Lewin (Koiiiasari & Helini. 2000) perilaku merokok inerupakan fungsi

dan lingkungan dan individu. Artiuya, perilaku merokok selain disebabkan faktorf aktor dan
dalam din juga disebabkan faktoi lingkuugan. Laventhal (Smet, 1994) inengatakan bahwa
inerokok tahap awal dilakukan dengan teman-teinan (46%), seorang anggota keluarga bukan
orang tua (23%) dan orang tua (14%). Hal mi inendukung basil penelitian yang dilakukan
oleh Komasari dan Helini (dalain Komasari dan Helini. 2000) yang niengatakan bahwa ada
tiga faktor penyebab penilaku inerokok pada remaja yaitu kepuasan psikologis. sikap pennisif
orang ma terhadap perilaku merokok remaja. clan penganth teman sebaya.
Ada berbagai alasan yang dikemukakan oleh para ahli untuk inenjawab inengapa seseorang
merokok. Menurut Levy (1984) setiap mdividu Inempunyai kebiasaan inerokok yang berbeda
dan biasanya disesuaikan dengan tujuan niereka inerokok. Pendapat tersebut didukinig oleh
Sinet (1994) yang menyatakan bahwa seseorang nierokok karena faktor-faktor soslo cultural
seperti kebiasaan budaya. kelas sosial, gengsi. dan tingkat pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat diainbil kesimpulan bahwa stres yang dialami remaja laki-
laki biasanya berasal dan konflik yang dialaminya dengan lingkungan sosial dan orang ma.
Stres yang dialaini remaja mi menyebabkan teijadinya penilakii negatif pada remaja, salab
satlmya adalah penilaku merokok, karena itu peneliti inerasa tertank melakukan suatu
peneiuian mengenai hubungan antara stres dan perilaku inerokok pada remaja laki-laki.
METODE PENELITIAN
Subyek Penelitian
Juinlah subjek dalam penelitian mi adalah 98 orang. Sampel yang digunakan dalam
penelitian liii adalah remaja laki—laki yang merokok. Karaktenistik subjek dalam penelitian
iiii adalah remaja madya yang benunur 15-18 tahun, siswa SMA dan berperilaku merokok.
Adapim alat ukur yang digunakan di dalain penelitian mi adalah:

terjadi.
yang seperti

yang
atau knisis

Ii

PSIKOLOGIA • Volume I • No.2 • Desember 2005

1. SkalaStres
Skala stres menipakan skala yang distisun berdasarkan aspek-aspek psikologis dan stres yang
dikemukakan oleh Sarafino (1994) yang meliputi aspek:
koguisi. emosi. dan perilaku sosial. Skor tinggi pada skala mi inenunjukkan tingkat stres
yang tinggi pada subjek daii sebaliknya skor rendah menunjukkan tingkat stres yang rendah
pada subjek.
2. Perilaku Merokok
Skala perilaku inerokok inenipakan skala yang disusun berdasarkan aspeka spek perilaku
merokok yang dikernukakan oleh Aritonang ((1997) yaitu fiingsi inerokok dalam kehidupan
sehari-hari, mtensitas inerokok, tempat merokok. dan waktu inerokok. Skor tinggi pada skala
mi menunjukkan perilaku inerokok yang tmggi pada subjek dan sebaliknya skor rendah
inenunjukkan perilaku inerokok yang rendah pada subjek.
HASIL PENELITIAN
1. hash Utama Analisa Data Penelitian
Daii hasil perhittuigan dan pengujian korelasi dengan rnenggunakan Pea rson Product
Moment. diperoleh hasil rxy = 0.792 dengan p = 0.000. Dengan deinikian hipotesis yang
diajukan terbukti, baliwa terdapat hubimgan positif yang signifikan antara stres dan perilaku
inerokok pada remaja. Hipotesa penelitian diterirna. Juga dapat diketainti bahwa suinbangan
efektif variabel stres terhadap pen iiigkatan peiilaku inerokok adalah sebesar 63%, sedangkan
sisanya dipenganthi variabel lain.

II sties

tailed).
2. Hasil Tambahan
2.1 .Kategorisasi Sires (Ian Perilaku Merokok pada Remaja Laki-Laki
Hash Penehtian nienunjukkan bahwa Meal? empirik skala stres yang diperoleh sebesar 160.5 dengan
SD empirik sebesar 12.9 dan Mean hipotetik sebesar 122.5 dengan SD hipotetik sebesar 24.5. Hasil
perbandingan antara skor Meal? einpirik dengan Mea;i hipotetik ineminjukkau bahwa Meaii
empitik lebih besar daripada Mea,i hipotetik, yang berarti bahwa secara rata-rata subjek penelitiau
niemiliki tingkat stres yang lebii tinggi daripada populasinya secana uinuin.
Kernudian berdasailcan kategorisasi ineinuijukkan bahwa sebagian besar remaja laki-laki tennasuk
dalain kategori sedang sebesar 73.5%. sedangkan sisanya 16.3% kategori tinggi dan 10.2% kategori
rendah.
Berdasarkan perilaku merokok diperoleh Mean empirik skala perilaku inerokok yang diperoleh
sebesar 174.7 dengan SD einpirik sebesar 14.8 dan Mean hipotetik sebesar 132.5 deugan SD
hipotetik sebesar 26.5. Hasil perbandiugan antara skor Mean enipirik dengan Meal? hipotetik
menunjnkkan bahwa Meaii empink lebih besar daripada Meaii hipotetik, yang berarti bahwa secara
rata-iata subjek penelitiaii meiniliki tingkat perilaku inerokok yang Iebih tinggi daripada populasinya
secara tununi.
Keniui beithsaikan kategciisasi zirnagtd&an bahwa sebagian besar remaja laki-laki tennasuk dalarn
kategori sedang sebesar 72.4%. sedangkan sisanya 18.4% kategori rendah dan 9.2% kategoii tinggi.
DISKUSI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stres dan perilaku merokok pada
reiliaja laki-laki. Hubungan yang diperoleh dalam penelitia.n mi inemrnjukkan bahwa hubungan
antara stres

Pini

N
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

98
.792(
)
.000
98

98
1
98

** Correlation is siuificant at the 0.01 level (2-

Tabel 1. Product Moment Pearson Sties dengan Perilaku Merokok

lox

.92(
Pearson
ess Correlation
)

Sig. (2-tailed) .
.000
Hasnida don Indri Kemolo

Hubungan antara Stres dan Perilaku

dan perilaku merokok pada remaja laki-laki adalah hubtmgan yang positif dengan rxy = 0.792 dan p =
0.000 artinya semakin tinggi tingkat stres inaka seinakin tinggi tingkat perilaku inerokok pada rernaja
lakil aki. begitu juga sebahknya seinakin rendah tingkat stres maka setiiakiu reiidali tingkat perilaku
merokok pada remaja.
Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleb Parrot (2004) mengenai hubungan
antara stres dengan merokok yang dilakjikan pada orang dewasa daii pada retnaja menyatakan adanya
penibahan emosi selaina nierokok. Merokok dapat meinbuat orang yang stres inenjadi tidak stres lagi.
Menurut Parrot (2004). perasaan mi tidak akan lama. begitu selesai inerokok, mereka akan merokok
lagi untuk inencegali agar stres tidak terjadi lagi. Keinginan untuk inerokok kembali tunbul karena
ada hubungan antara perasaan negatif dengan rokok. yang berarti bahwa para perokok merokok
kembali agar inenjaga inereka untuk tidak menjadi stres.
Berdasarkan perolehan nilai koefisien detenninan (r) yang diperoleh dan hubungan antara stres dan
perilaku merokok pada rernaja laki-laki adalah sebesar 0.63, dapat dinyatakan bahwa kontnibusi stres
terhadap penilaku inerokok

pada remaja laki-laki adalah sebesar 63%. Dan hash huh dapat disiinpulkan bahwa terdapat
37% vaniabel lain yang beipenganih terhadap penilaku merokok pada reniaja laidl aid.
Variabel lain tersebut dapat berupa faktor-faklor yang ineinpenganthi penilaku merokok
(Komasari dan Hehiu. 2000) yaitu kepuasan psikologis. sikap pemiisif orang ma terhadap
penilaku merokok remaja dan penganth teman sebaya.
Hasil penelitian (Kornasani dan Helnii, 2000) inenyatakan bahwa kepuasan psikologis
merokok diperkuat oleh efek-efek setelah merokok. Selain itu nieuuntt Laventhal & Cleary
(dalain Komasari dan Hehni. 2000), inerokok sudah inenjadi salah sam bagiau dan cara
pengaturan din (self-regulating). Merokok dilakukan untuk inemperoleh efek fisiologis yang
nienyenangkan.
Menunit Koinasani dan Helini (2000), sikap pennisif orang ma terhadap perilaku merokok
reniaja dan lingkungan teman sebaya tuerupakan prediktor yang cukup baik terhadap
penilakii merokok remaja yaitu sebesar 38.4%. Hal mi berarti bahwa faktoi lingkungan
yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan teman sebaya memberikan sumbangan yang
berarti dalam perilakii inerokok remaja.

Sedangkaii menunit Mu’tadin (2002). faktor lain yang ineinpengaruhi reinaja inerokok adalah
pengaruh orang tua. penganth teinan, faktor kepribadian dan penganth ikian.
Ketinidian berdasarkan penelitian liii diperoleb ineaii einpirik skala stres sebesar 160.9 dengan SD
empuik sebesan 12.9, dan

Mean hipotetik sebesar 122.5 dengan SD hipotetik sebesar 24.5. Hasil perbandingan antara skor
Mean empirik dengan Mean hipotetik menunjukkan baliwa stres yang dirniliki oleh subjek
penelitian berada di atas rata-rata populasi pada umuiirnya. Ketnudian berdasarkaii kategori tingkat
stres didapatkan bahwa stres pada remaja laki-laki yang terbanyak pada kategoni sedang yaitu

Tabel 2. Kategoiisasi Data Empirik Variabel Sties

Variabel Kategori Rentaug Nilai Frekuensi Persentase


Rendali X<148 10 10.2%

Stres Sedaug 148 X<174 72 73.5%

Tinggi X 174 16 16.3%

Tabel 3. KategoIi%:’.i Daii Einpiiik Vaiiabel Perilaku


Merokok

Variabel Kategoii Rentang Nilai Frekuensi Persentase

Rendab X<160 18 18.4%

P.iuerokok Sedans 160X<190 71 72.4%

Tingi X 190 9 9.2 %

PSIKOLOGIA • Volume I • No.2 • Desember 2005

sebanyak 72 orang (73.4%), 16 orang relnaja laki laki (16.3%) berada pada tingkat sires
tiuggi, daii 10 orang reluaja laki-laki (10.2%) berada pada tingkat sires rendah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Walker (2002) pada 60 orang remaja. penyebab
titama ketegaugan dan iuasalah yang ada pada remaja berasal dan hubungan dengan teman
dan keluarga, tekanan dan harapan dan din mereka sendiri dan orang lain. tekanan di sekolah
oleh guru dan pekerjaan rumah. tekanan ekonomi dan tragedi yang ada dalam kehidupan
mereka inisa[nya kematian, perceraian dan penyakit yang dideritanya atau auggota
keluarganya.
Walker pada tahun 2002 juga inengatakan bahwa sires yang dialami reinaja bersuniber dan
dua hal yaitu dan lingkungan keluarga dan sekolah.
Berdasarkan penelitian mi diperoleh mean empinik skala perilaku nierokok sebesar 174.7
dengan SD empirik sebesar 14.8, dan Mean hipotetik sebesar 132,5 dengan SD hipotetik
sebesar 26,4. Hasil perbandingan antara skor Mean empinik dengan mean hipotetik
inenunjukkan bahwa perilaku inerokok yang diiniliki oleh subjek penelitian berada di atas
rata-rata populasi pada uinuilmya. Hasil penelitian mi sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Komasaii dan Helmi (2000) yang inenyatakan hahwa ketika subjek dalain
kondisi teilekan (stres) inaka peiilaku yang paling banyak nnuicul adalah perilaku merokok.
Konsunisi rokok ketika sires menipakan upaya-upaya pengatasan masalah yang bersifat
emosional atau sebagai kompesantoris kecemasan yang dialiikan kepada aktifitas inerokok.
Hal liii seinakin mempertegas mengapa para perokok inerasakan kenikmatan setelah inerokok
karena perilaku merokok dipandang sebagai upaya penyeiiubang dalam kondisi tertekan atau
stres.
SARAN
I. Hendaknya, saat mengalami ketegangan (stres) remaja laki-laki inencani alternatif lain
pengganti rokok, seperti inakan penneti karet dan olah raga.

2. Orang tua sebaiknya meiuberikan


perhatian lebih pada reniaja laki-laki sepenti sering inengliabiskan waktu bersama,
mengobrol. jalan-jalan dan bersikap lebih terbuka dengan cara mau mendengarkan pendapat
anak dan man dikritik. sehingga inereka iuerasa lebili dihargai.
3. Guru sebaiknya inemberikan tugas-tugas yang tidak terlalu berat kepada iiiunidm unid dan
diharapkan dapat inenerangkan pelajaran dengan balk dan nuidah dimengerti oleh murid-
niurid. agar tidak menjadi stressor bagi inereka yang dapat memungkinkan niunciilnya
penyelesaian inasalah yang tidak diinginkan. nusalnya inerokok. membolos, inengguuakan
obato batan terlarang. daii sebagainya.
4. Pemerintah sebaiknya mengadakan seiiiinar atau penyuluhan mengenai bahaya merokok.
terutarna pada remaja yang duduk di bangku SMP. karena berdasarkan penehtian yang
di1akiikai dan penelitianp enelitian sebeluinnya, sebagian besar reinaja merokok pentama
kali ketika duduk di bangku SMP.
DAFTAR PUSTAKA
Aritonang, MR. (1997). Fenomena wanita merokok. Jurnal psikologi Universitas Gadjah
Mada. Yogyakanta: Universitas Gadjah Mada Press.
Atkinson, S, dkk. ç2000). Introduction to psychology (if Edition). Harcourt College
Publisher.
Baldwin, R.D. (2002). Stress and ilines in adolescence: Issue of race and gender.http://www.
fidarticles.coml [onl inel.
Berry, L.M. (1998).. Psi’chology at ivork: An introduction to organization psychology. (2
ed). New York : Mc-Graw Hill.
Komasari, D. & Helnii, AF. (2000). Faktorf aktor penyebab perilaku inerokok pada remaja.
Jurnal Psikologi Universitas

11

Hasnida don Indri Kemolo

Hubungan antara Stres dan Perilaku

Gadjah Mada, 2. Yogyakarla:


Universitas Gadjali Mada Press.
Levy, M.R. (1984). Lfe and health. New York: Random House.
Mengapa reinaja n,erokok, 2004. http:/I www.mqmedia.com/tabloidmq/apr03/
mq_remaja_pernik.htm [on-line].
Mengatasi sires pada remaja, 2002. http:// www.ramuracik.com! [on—line].
Mc Gee. dkk. (2005). Is cigarette smoking associated with suicidal ideation among yotmg people? :
The American Journal of Psychology. Washington. httpJ/www. proque st.com/ [on-line].
Mu’ tadin. Z. (2002). Kemandirian seba gal kebutulian psikologis pada reinaja. http://
www.epsikologi.com/reniaja.050602.ht m [on-line].
Neediman. R. (2004). Adolescents stress.
http://www.drspock.com/artic1e/0.1510.796 1 ,00.html [on—lineJ.
Ormachea. dkk. (2004). Gender and gender-role orientation differeiices on adolescents’ coping with
peer stressors. Journal of Youth & Adolescence. New York. http:I/ www.proquest.com/ [onl ine].
PalTot, A. (2004). Does cigarette smoking causa stress? Journal of Clinica,,
.

Psychology. http:// www.fidarticles.com.


Rice. P. L. (1992). Stress & health (2 ed,).
California: Brooks/Cole Publishing
Company.
Sarafmo, F.P. (1994). Health psychology (2- nd Edition). New York: Jolui Wiley & Sons.
Sirait, M.A. dkk (2001). Perilaku Merokok di
Indonesia. Jurnal Fakultas Kesehatan
Masvarakat. Medati :Universitas Sumatera
Utara.
Smet. B. (1994). Psikologi Kesehatan. Sernarang:
PT. Gramedia
Stop merokok sekarangjuga!!!. (2000). http:// www.klinikpria.com/nondokter/gayahidup
/selingan./stopmerokok.html [on-line].
Tandra. H. (2003). Merokok dan Kesehatan.
http://www.antirokok.or. id/berita/berita_rokok kesehatan.htm [on-line].
Tulakoiu & Bonet. (2003). Merokok? ngapain juga!!!.
http://www.english.com [oii-line].
Walker, 3. (2002). Teens in distress series adolescent stress and depression.
http://www.extension.umn.edu/
distributioiilyouthdevelopmeiitlDA3083 .litml [on-line].
Welle D. (2004). Sires di kalangan remaja Jerman. http :1/ www.dw-world.htm [onl ine].