Anda di halaman 1dari 14

c  

  


 c  
  

Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini adalah
hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum internasional terbagi
menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum perdata internasional.

Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan bersifat
perdata.

Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum
yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain,
hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-
masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1)

Awalnya, beberapa sarjana mengemukakan pendapatnya mengenai definisi dari


hukum internasional, antara lain yang dikemukakan oleh Grotius dalam bukunya ¦   
  
  (Perihal Perang dan Damai). Menurutnya ͞hukum dan hubungan internasional
didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. Ini
ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya ͟.

Sedang menurut Akehurst : ͞hukum internasional adalah sistem hukum yang di bentuk
dari hubungan antara negara-negara͟

Salah satu definisi yang lebih lengkap yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai
hukum internasional adalah definisi yang dibuat oleh Charles Cheny Hyde :
͞ hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar
terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negara-negara,
dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu
dengan lainnya, serta yang juga mencakup:
a. organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan
lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsi-
fungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negara-
negara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau
individu-individu ;

b. peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan


subyek-subyek hukum bukan negara ˜       sepanjang hak-hak dan
kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut
bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional͟ (Phartiana, 2003; 4)

Sejalan dengan definisi yang dikeluarkan Hyde, Mochtar Kusumaatmadja mengartikan


͛͛hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara
dengan negara dan negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum
bukan negara satu sama lain͛͛. (Kusumaatmadja, 1999; 2)

Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh gambaran


umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang di dalamnya
terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar subyek atau
pelaku, serta hal-hal atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya, serta prinsip-prinsip
dan kaidah atau peraturan-peraturan hukumnya.

Sedangkan mengenai subyek hukumnya, tampak bahwa negara tidak lagi menjadi
satu-satunya subyek hukum internasional, sebagaimana pernah jadi pandangan yang
berlaku umum di kalangan para sarjana sebelumnya
ë   
  

Yuridiksi Mahkamah terbagi dua macam yaitu :


a. Untuk memutuskan perkara-perkara perdebatan (     )

b. Untuk memberi opini-opini nasihat (   )

c. Memerikasa perselisihan/sengketa antara negara-negara anggota PBB yang diserahkan


kepada Mahkamah Internasional.

Menurut mahkamah, ada beberapa pembatasan penting atas pelaksanaan fungsi ʹ


fungsi yudisialnya dalam kaitan yuridiksi pedebatan dan terhadap hak ʹ hak dari negara untuk
mengajukan klaim dalam lingkup yuridiksi ini, yaitu

a. Mahkamah tidak boleh memberikan putusan abstrak, untuk memberikan suatu dasar bagi
keputusan politis, apabila keyakinannya tidak berhubungan dengan hubungan ʹ
hubungan hukum yang aktual. Sebaliknya Mahkamah boleh benar ʹ benar bertindak
sebagai suatu Mahkamah yang didebat. Aspek yang erat kaitannya yaitu bahwa para
pihak tidak dapat diperlakukan sebagai pihak yang dirugikan satu sama lain dalam suatu
sengketa apabila hanya ada ketidaksesuaian kongkret atas masalah ʹ masalah yang
secara substansif mempengaruhi hak ʹ hak dan kepentingan ʹ kepentingan hukum
mereka.

b.Yang banyak menimbulkan kontroversi, Mahkamah memutuskan dengan suara mayoritas


dalam       
 bahwa negara ʹ negara yang mengajukan
klaim, yaitu Ethiopia dan Liberia, telah gagal untuk menetapkan hak hukum mereka atau
kepentingan yang berkaitan dengan mereka di dalam pokok sengketa dari klaim ʹ
klaimnya sehingga menyebabkan klaim itu harus ditolak. Persoalan ini telah dianggap
sebagai salah satu dari persoalan permulaan, meski demikian ada kaitannya dengan
materi perkara.
  
  

1. Asas Teritorial
Menurut azas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua barang
yang ada di wilayahnya dan terhadap semua barang atau orang yang berada diwilayah
tersebut, berlaku hukum asing (internasional) sepenuhnya.

2. Asas kebangsaan
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya, menurut asa ini
setiap negara di manapun juga dia berada tetap mendapatkan perlakuan hukum dari
negaranya, Asas ini mempunyai kekuatan extritorial, artinya hukum negera tersebut
tetap berlaku juga bagi warga negaranya, walaupun ia berada di negara asing.

3. Asas kepentingan Umum


Asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan mengatur
kepentingan dalan kehidupan masyarakat, dalam hal ini negara dapat menyesuaikan diri
dengan semua keadaan dan peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan umum, jadi
hukum tidak terikat pada batas batas wilayah suatu Negara.

HAKIKAT HUKUM INTERNASIONAL

Hukum internasional mempunyai dua makna, yaitu Hukum Internasional dalam arti luas dan
Hukum Internasional dalam arti sempit. Hukum Internasional dan Hukum Publik Internasional.
Hukum Perdata Internasional adalah hukum yang mengatur hubungan perdata yang di
dalamnya terdapat suatu elemen asing serta menyentuh lebih dari satu tata hukum dari
negara-negara yang berlainan.
       mengartikan hukum perdata
internasional sebagai keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan hukum
perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata (nasional)
yang berlainan (1990:1).

Sedangkan mengenai Hukum Publik Internasional banyak istilah yang digunakan. Ada yang
menyebutkan Hukum Internasional (International Law), ada juga yang meyebutkan Hukum
Bangsa-Bangsa (Law of Nation).
O
O

  


O

   
  

Sumber hukum formal adalah faktor yang menjadikan suatu ketentuan menjadi ketentuan
hukum yang berlaku umum. Sumber hukum formal bagi hukum internasional sebagai berikut. 



  
 ˜ 
Perjanjian internasional ada dua macam.

(1) Law Making Treaties

‰      adalah perjanjian internasional yang menetapkan ketentuan hukum


internasional yang berlaku umum. ‰      ini menetapkan ketentuan-ketentuan
hukum perjanjian internasional ˜     . ‰       juga disebut     
    . Contoh      sebagai berikut.

a. Konvensi Perlindungan Korban Perang Jenewa Tahun 1949.


b. Konvensi Hukum Laut Jenewa Tahun 1958.
c. Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
d. Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan Konsuler.

(2) Treaty Contract

      menetapkan ketetuan hukum internasional yang berlaku bagi dua pihak atau
lebih yang membuatnya dan berlaku khusus bagi pihak-pihak tersebut. Ketentuan hukum
internasional yang menetapkan      hanya untuk hal khusus dan tidak dimaksudkan
berlaku umum. Namun dalam beberapa hal dapat berlaku secara umum melalui
kebiasaan,yaitu jika ada pengulangan, ditiru oleh   , dan sebagai hukum internasional
kebiasaan.

  
  

Kebiasaan internasional menetapkan ketentuan-ketentuan hukum kebiasaan internasional


˜         Kabiasaan menurut pasal 38 ayat (1) Piagam Mahkamah
Internasional adalah kebiasaan yang terbukti dalam praktik umum dan diterima sebagai hukum.

Contoh kebiasaan internasional adalah penyambutan tamu dari negara-negara lain dan yang
mengharuskan menyalakan lampu bagi kapal yang berlayar pada malam hari di laut bebas
untuk menghindar tabrakan.
Semula ketentuan tentang menyalakan lampu kapal tersebut ditetapkan oleh pemerintah
Inggris, tetapi kemudian diterima umum sebagai hukum kebiasaan internasional.

Badan peradilan banyak berperan dalam menetapkan ketentuan hukum kebiasaan


internasional. Adapun badan-badan peradilan yang menetapkan ketentuan hukum kebiasaan
internasional sebagai berikut.

(1) Peradilan Internasional

Peradilan internasional dapat dibedakan :

1. bersifat umum, misalnya          ˜ ; dan


2. Bersifat sementara, misalnya Mahkamah Militer Internasional.

(2) Peradilan Nasional

Putusan peradilan nasional dapat menjadi sumber hukum internasional melalui berikut ini :

1. Preseden ˜   yaitu putusan peradilan nasional suatu negara yang ditiru atau
dicontoh dalam praktik hukum internasional.
2. Kebiasaan, yaitu proses pembuatan suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang
berlaku umum, tetapi tidak memenuhi persyaratan yang berlaku bagi perundang-
undangan.

(3) Abitrase Internasional

Lembaga abitrase internasional bersifat tidak tetap. Lembaga ini ada jika dikehendaki oleh para
pihak. Dalam menyelesaikan masalah, lembaga abitrase cenderung menempuh cara kompromi.


 

Yang dimaksud disini ialah dasar-dasar sistem hukum pada umumnya yang berasal dari asas
hukum Romawi. Menurut pendapat O
 O    O
 O, fungsi dari prinsip-prinsip
hukum umum ini terdiri dari hal-hal sebagai berikut.

1. Sebagai pelengkap dari hukum kebiasaan dan perjanjian internasional. Contoh:


Mahkamah Internasional tidak dapat menyatakan     , yaitu tidak dapat
mengadili karena tidak ada hukum yang mengaturnya. Tetapi dengan sumber ini
Mahkamah Internasional bebas bergerak.
2. Sebagai penafsiran bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan. Jadi kedua
sumber hukum itu harus sesuai dengan asas-asas hukum umum.
3. Sebagai pembatasan bagi perjanjian internasional dan hukum kebiasaan. Contoh,
perjanjian internasional tidak dapat memuat ketentuan yang bertentangan dngan asas-
asas hukum umum.
¦
! "
 ˜
 

Karya yuridis bukan merupakan sumber hukum yang independen, tetapi hanya sebagai
pelengkap atau penjelasan hukum internasional, yaitu berupa analisis secara umum terhadap
peristiwa-peristiwa tertentu.

r      #    


   ˜

  

  
  

Keputusan-keputusan organ atau lembaga internasional pada prinsipnya hanya


mengikutinegara-negara anggota, tetapi dapat berlaku secara umum. Misalnya:    
¦       


 "

   $       % ¦        

  

Yurisprudensi internasional ˜     dan pendapat ahli hukum internasional


merupakan sumber hukum tambahan yang digunakan untuk membuktikan dipakai tidaknya
kaidah hukum internasional berdasarkan sumber hukum primer, seperti perjanjian
internasional, kebiasaan internasional, dan prinsip-prinsip hukum umum dalam menyelesaikan
perselisihan internasional. Walaupun bersifat tidak mengikat, yang berarti tidak dapat
menimbulkan suatu kaidah hukum, mamun tetap memiliki pengaruh besar dalam
perkembangan hukum internasional.

^O
c 
  
  

Sumber hukum material adalah faktor yang menentukan isi ketentuan hukum yang berlaku.
Sumber hukum material bagi hukum internasional adalah prinsip-prinsip yang menentukan isi
ketentuan hukum internasional yang berlaku. Prinsip-prinsip tersebut misalnya, bahwa setiap
pelanggaran perjanjian menimbulkan kewajiban untuk memberikan ganti rugi dan korban
perang harus diperlakukan manusiawi.

Diantara prinsip-prinsip tersebut ada yang berlaku memaksa. Prisnip ini disebut    .
Prinsip yang berlaku memaksa misalnya, perjanjian harus ditaati ˜      .
Berlakunya prinsipini tidak dapat disimpangi oleh ketentuan hukum internasional yang
ditetapkan kemudian dan tidak dapat diubah oleh prinsip hukum internasional yang sifatnya
tidak sama.
Peranan Lembaga Peradilan Internasional

Peran Mahkamah Internasional sangat menentukan kepada kedua negara yang sedang
bersengketa. Dalam hal ini, Mahkamah Internasional mempunyai kewenangan, dimana
Mahkamah Internasional berwenang untuk memeriksa, menyelesaikan sengketa hingga
memberikan keputusan atas dasar sengketa tersebut. Hal ini dinyatakan dalam pasal 94 ayat (1)
Piagam PBB, yaitu :
͞Setiap anggota PBB berusaha mematuhi keputusan Mahkamah Internasional dalam perkara
apapun dimana anggota tersebut menjadi suatu pihak.͟

Sedangkan pada ayat (2) dinyatakan sebagai berikut :


͞Apabila sesuatu pihak dalam suatu perkara tidak memenuhi kewajiban ʹ kewajiban yang
dibebankan kepadanya oleh suatu keputusan Mahkamah, pihak yang lain dapat meminta
perhatian Dewan Keamanan, yang jika perlu, dapat memberikan rekomendasi atau
menentukan tindakan ʹ tindakan yang akan diambil untuk terlaksananya keputusan itu.͟

MI adalah organ utama lembaga kehakiman PBB, yang kedudukan di Den Haag, Belanda.
Mahakamah ini mulai berfungsi sejak tahun 1946 sebagai pengganti MIP. Fungsi utama MI
adalah untuk menjelaskan kasus-kasus persengkataan intersional yang subjeknya adalah
negara. Statuta adalah hukum-hukum yang terkandung.

Pasal 9 Statuta MI menjelaskan, komposisi MI terdiri dari 15 hakim. Ke-15 calon hakim tersebut
direkrut dari warga negara anggota yang dinilai cakap dibidang hukum internasional, untuk
memilih anggota mahkamah dilakukan pemungutan suara secara independen oleh majelis MU
dan Dewan Keamanan (DK). Biasanya 5 hakim MI berasal dari anggota tetap DK PBB, tugasnya
untuk memeriksa dan memutuskan perkara yang disidangkan baik yang bersifat sengketa
maupun yang bersikap nasihat.

Yurisdiksi adalah kewenangan yang dimiliki oleh MI yang bersumber pada hukum internasional
untuk menentukan dan menegakan sebuah aturan hukum, meliputi: memutuskan perkara-
perkara pertikaian dan memberikan opini-opini yang bersifat nasihat. Beberapa kemungkinan
cara penerimaan tersebut:

2 Perjanjian khusus
2 Penundukkan diri dalam perjanjian Internasional.
2 Pernyataan penundukan diri negara peserta statuta MI
2 Keputusan MI mengenai Yurisdiksinya
2 Penafsiran putusan
2 Perbaikan putusan
Mahkamah Pidana Internasional

MPI adalah Mahkamah Pidana Internasional yang berdiri permanen berdasarkan traktat
multilateral, yang mewujudkan supremasi hukum internasional yang memastikan bahwa pelaku
kejahatan berat internasional di pidana. Jenis kejahatan berat pada pasal 5-8 statuta yaitu
sebagai berikut:
2 Kejahatan genosida
2 Kejahatan terhadap kemanusiaan
2 Kejahatan perang
2 Kejahatan agresi

Panel Khusus dan Spesial Pidana Internasional

Panel khusus pidana internasional (PKPI) dan Panel spesial pidana internasional (PSPI) adalah
lembaga peradilan internasional yangberwenang mengadili para tersangka kejahatan berat
internasional yang bersifat tidak permanen. Artinya selesai mengadili, peradilan ini dibubarkan.

Perbedaan antara PKPI dan PSPI terletak pada komposisi penuntut dan hakim ad hoc-nya. Pada
PSPI komposisi penuntut dan hakim ad hoc-nya merupakan gabungan antara peradilan nasional
dan internasional. Sedangkan pada PKPI komposisi sepenuhnya ditentukan berdasarkan
ketentuan peradilan internasional.
O 
  

Subyek hukum internasional diartikan sebagai pemilik, pemegang atau pendukung hak dan
pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. Pada awal mula, dari kelahiran dan
pertumbuhan hukum internasional, hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum
internasional. Namuan, seiring perkembangan zaman telah terjadi perubahan pelaku-pelaku
subyek hokum internasional itu sendiri. Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang
diakui oleh masyarakat internasional, adalah:

1. å 

Menurut Konvensi Montevideo 1949, mengenai Hak dan Kewajiban Negara,


kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum
internasionaladalah: penduduk yang tetap, mempunyai wilayah (teritorial) tertentu;
pemerintahan yang sah dan kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan
negara lain. Negara dinyatakan sebagai subjek hukum internasional yang pertama
karena kenyataan menunjukkan bahwa yang pertama melakukan hubungan
internasional adalah negara. Aturan-aturan yang disediakan masayarakat
internasional dapat dipastikan berupa aturan tingkah laku yang harus ditaati oleh
negara apabilamereka saling mengadakan hubungan

&
  
  
Organisasi internasional mempunyai klasifikasi, yakni:

a.Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan


maksud dan tujuan yang bersifat umum, contohnya adalah Perserikatan Bangsa
Bangsa ;

b.Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan


tujuan yang bersifat spesifik, contohnya adalah   ,
UNESCO,        !       ‰" # $  , dan
lain-lain;

cOrganisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan


tujuan global, antara lain:         %    
&  (ASEAN), %   

      '()       


1.   c

  

Pada awal mulanya, Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam


ruang lingkup nasional, yaitu Swiss, didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan
Swiss, yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan.
Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional
mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara, yang kemudian membentuk
Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. Palang Merah Nasional dari
negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional
(          *   +ICRC) dan berkedudukan di Jenewa,
Swiss.

2.    O' (   

Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat
Lateran tanggal 11 Februari 1929, antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan
mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. Perjanjian Lateran tersebut pada
sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci
sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri, walaupun tugas dan
kewenangannya, tidak seluas tugas dan kewenangan negara, sebab hanya terbatas
pada bidang kerohanian dan kemanusiaan, sehingga hanya memiliki kekuatan
moral saja, namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat
Katholik sedunia, sudah diakui secara luas di seluruh dunia.

3.     
 )   

Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri
suatu negara berdaulat. Oleh karena itu, penyelesaian sepenuhnya merupakan
urusan negara yang bersangkutan. Namun apabila pemberontakan tersebut
bersenjata dan terus berkembang, seperti perang saudara dengan akibat-akibat di
luar kemanusiaan, bahkan meluas ke negara-negara lain, maka salah satu sikap
yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum
pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri, walaupun sikap ini akan
dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat
pemberontakan terjadi. Dengan pengakuan tersebut, berarti bahwa dari sudut
pandang negara yang mengakuinya, kaum pemberontak menempati status sebagai
pribadi atau subyek hukum internasional

4.  * 

Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (    ¦    
,  * pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa
konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan, menyatakan individu
adalah sebagai subyek hukum internasional yang mandiri.
5. PEMBERONTAKAN DAN PIHAK DALAM SENGKETA
(BELLIGERENT)

Menurut hukum perang, pemberontakan dapat memperoleh kedudukan dan hak


sebagai pihak yang bersengketa (belligerent) dalam beberapa keadaan tertentu.
Akhir-akhir ini timbul perkembangan baru yang walaupun mirip dengan pengakuan
status pihak yang bersengketa dalam perang, memiliki cirri lain yang khas, yakni
pengakuan terhadap gerakan pembebasan.

Kelainan itu karena pengakuan gerakan pembebasan demikian merupakan


penjelmaan dari suatu konsepsi baru yang terutama dianut oleh Negara-negara
dunia ketiga yang didasarkan atas pengertian bahwa bangsa-bangsa (peoples)
dianggap mempunyai beberapa hak asasi seperti:
1.Hakmenentukan nasib sendiri;
2. Hak secara bebas memilih system ekonomi, politik, dan social sendiri;
3. Hak menguasai sumber kekayaan alam dari wilayah yang didudukinya.

6. 
  c   $cå%

Eksistensi MNC dewasa ini, memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa
disangkal lagi. Di beberapa tempat, negara-negara dan organisasi internasional
mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang
kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional, yang tentu saja
berpengaruh terhadap eksistensi, struktur substansi dan ruang lingkup hukum
internasional itu sendiri.

Subyek hukum internasional juga dapat didefinisikan sebagai pihak yang dapat dibebani hak
dan kewajiban yang diatur oleh Hukum Internasional atau setiap negara, badan hokum
(internasional) atau manusia yang memiliki hak dan kewajiban dalam hubungan internasional.
Kendala-Kendala yang dihadapi oleh Mahkamah
Internasional

Dalam proses penyelesaian sengketa Mahkamah Internasional bersifat pasif artinya hanya akan
bereaksi dan mengambil tindakan-tindakan bila ada pihak-pihak berperkara mengajukan ke
Mahkamah Internasional. Dengan kata lain Mahkamah Internasional tidak dapat mengambil
inisiatif terlebih dahulu untuk memulai suatu perkara. Dalam mengajukan perkara terdapat 2
tugas mahkamah yaitu menerima perkara yang bersifat kewenangan memberi nasihat (advisory
opinion) dan menerima perkara yang wewenangnya untuk memeriksa dan mengadili perkara
yang diajukan oleh negara-negara (contensious case).

Sebenarnya hanya negara sebagai pihak yang boleh mengajukan perkara kepada Mahkamah
Internasional. Karena itu perseorangan, badan hukum, serta organisasi internasional tidak
dapat menjadi pihak untuk berperkara ke Mahkamah internasional. Namun demikian
berdasarkan Advisory opinion tanggal 11 April 1949 Mahkamah Internasional secara tegas
menyatakan bahwa Perserikatan bangsa-bangsa adalah merupakan pribadi hukum yang dapat
mengajukan klaim internasional atau gugatan terhadap negara. Advisory Opinion ini telah
membuka kesempatan kepada PBB untuk menjadi pihak dalam perkara kontradiktor
(contentious case).

Meskipun Mahkamah Internasional adalah merupakan organ utama PBB dan anggota PBB
otomatis dapat berperkara melalui Mahkamah Internasional, namun dalam kenyataannya
bukanlah merupakan kewajiban untuk menyelesaikan sengketa pada badan peradilan ini.
Beberapa negara tidak berkemauan untuk menyelesaikan perkaranya melalaui Mahkamah
Internasional. Sebagai contoh dalam perkara Kepulauan Malvinas tahun 1955 dimana Inggris
menggugat Argentina dan Chili ke Mahkamah Internasional namun Chili dan Argentina menolak
kewenangan Mahkamah Internasional untuk memeriksa perkara ini.

Perlu dicatat bahwa para hakim yang duduk di Mahkamah Internasional tidak mewakili
negaranya , namun dipilih dan diangkat berdasarkan persyaratan yang bersifat individual
seperti keahliannya dalam ilmu hukum, kejujuran serta memiliki moral yang baik. Penunjukan
para hakim ini diusulkan dan dicalonkan oleh negara-negara ke Majelis Umum PBB dan Dewan
Keamanan PBB.
Pengajuan perkara ke Mahkamah Internasional dapat menggunakan 2 cara yaitu :

1. Bila pihak-pihak yang berperkara telah memiliki perjanjian khusus (special agreement) maka
perkara dapat dimasukkan dengan pemberitahuan melalui panitera Mahkamah.

2. Perkara dapat diajukan secara sepihak (dalam hal tidak adanya perjanjian/persetujuan
tertulis).

Kendala-Kendala MI ialah sebagai Berikut:

1. Sikap Egoisme antar negara yang bersengketa.

2. Sikap Arogan yang ditunjukkan oleh salah satu negara yang bersengketa.

3. Adanya sikap Monopoli atau hasutan dari negara-negara Adidaya kepada


Mahkamah Internasional dalam memutuskan suatu keputusan dalam
persengketaan.

4. Tidak adanya sikap tranparansi dari pihak suatu kelompok yang terkait atau
pemerintahan dalam pengumpulan bukti-bukti untuk kasus Genosida atau
kejahatan perang.