Anda di halaman 1dari 17

Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

TUGAS MIKROBIOLOGI TERAPAN

PERAN MIKROBA DALAM PERTUNASAN DAN PERAKARAN

Disusun oleh :

Prima Nanda Fauziah 140410080036

Ria Yuliyanti 140410080073

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Padjadjaran

2011
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

PERAN MIKROBA DALAM PERTUNASAN DAN PERAKARAN

I. Latar Belakang

Begitu banyaknya petani yang mengeluh di masa sekarang ini, karena berbagai

macam persoalan, antara lain, produksi yang terus menurun, tanah tak lagi subur dan begitu

mudahnya tanaman terserang hama dan penyakit. Cara umum pak tani mengatasi masalah

tersebut biasanya dengan menambah dosis pupuk, dosis insektisida yang akhirnya berujung

pada meningkatnya biaya usaha tani.

Mikroba memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.  Tanpa kehadiran mereka,

dunia penuh dengan limbah.  Berkembangnya ilmu pengetahuan telah membuka wawasan

bahwa ternyata peran mikroba tidak hanya mampu merombak limbah menjadi mineral yang

dibutuhkan oleh tanaman, tetapi masih banyak peran lainnya (Radit, 2010)

Mikroba yang memiliki peran menguntungkan bagi manusia adalah mikroba

pengurai, nitrifikasi, nitrogen, usus, dan penghasil antibiotik.   Mikroba pengurai memiliki

kemampuan merombak senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. 

Hasil perombakannya dapat dimanfaatkan oleh mahluk hidup lainnya. Mikroba nitrifikasi

memiliki kemampuan untuk merombak senyawa amoniak menjadi nitrat yang dapat

dimanfaatkan oleh tumbuhan.  Keberadaan senyawa amoniak dalam media budidaya dapat

menimbulkan keracunan bagi ikan yang dibudidaya. Aktivitas mikroba nitrogen sangat

bermanfaat bagi tanaman.  Mikroba ini mampu mengikat nitrogen langsung dari udara dan

mengubahnya menjadi komponen yang dapat diserap oleh akar.  Mikroba ini hidup diantara

akar tanaman. Mikroba usus hidup di saluran pencernaan.  Mikroba ini memiliki peran dalam

membusukan sisa makanan di dalam usus.  Selain itu, mikroba ini juga memiliki kemampuan

untuk menghasilkan vitamin B12 dan K yang memiliki peran pening dalam proses
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

pembekuan darah. Mikroba penghasil antibiotik pertama kali ditemukan oleh Alexander

Flaming.  Saat ini telah banyak mikroba yang diketahui memiliki kemampuan untuk

memproduksi antibiotik.  Antibiotik merupakan senyawa ini banyak digunakan sebagai bahan

untuk mengatasi keberadaan mikroba patogen dan pembusuk (Zay, 2008).

II. Peran Mikroba Dalam Membantu Perakaran dan Pertunasan

Tanaman dapat menyerap unsur hara melalui akar atau melalui daun. Sebagian besar

unsur hara diserap dari dalam tanah, hanya sebagian kecil yaitu unsur C dan O diambil

tanaman dari udara melalui stomata. Tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah

umumnya dalam bentuk ion (NH4+, NO3-, H2PO4-, Ca2+, dll). Unsur hara tersebut dapat

tersedia di sekitar akar tanaman melalui aliran massa, difusi dan intersepsi akar. Sistem

perakaran sangat penting dalam penyerapan unsur hara karena sistem perakaran yang baik

akan memperpendek jarak yang ditempuh unsur hara untuk mendekati akar tanaman. Bagi

tanaman yang sistem perakarannya kurang berkembang, peran akar dapat ditingkatkan

dengan adanya interaksi simbiosis dengan Jamur mikoriza (Douds and Millner, 1999). Selain

itu juga menurut Lugtenberg and Kravchenko (1999) mikroba tanah akan berkumpul di dekat

perakaran tanaman (rhizosfer) yang menghasilkan eksudat akar dan serpihan tudung akar

sebagai sumber makanan mikroba tanah. Bila populasi mikroba di sekitar rhizosfir

didominasi oleh mikroba yang menguntungkan tanaman, maka tanaman akan memperoleh

manfaat yang besar dengan hadirnya mikroba tersebut.

Tujuan tersebut dapat tercapai hanya apabila kita menginokulasikan mikroba yang

bermanfaat sebagai inokulan di sekitar perakaran tanaman. Sebagian besar penyebab

kekurangan unsur hara didalam tanah adalah karena jumlah unsur hara (makro) sedikit atau

dalam bentuk tidak tersedia yaitu diikat oleh mineral liat atau ion-ion yang terlarut dalam

tanah. Untuk meningkatkan kuantitas unsur hara makro terutama N dapat dilakukan dengan
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

meningkatkan peran mikroba penambat N simbiotik dan non simbiotik. Ketersediaan P dapat

ditingkatkan dengan menanfaatkan mikroba pelarut P, karena masalah pertama P adalah

sebagian besar P dalam tanah dalam bentuk tidak dapat diambil tanaman atau dalam bentuk

mineral anorganik yang sukar larut seperti C32HPO4. Jamur mikoriza dapat pula

meningkatkan penyerapan sebagian besar unsur hara makro dan mikro terutama unsur hara

immobil yaitu P dan Cu (Sharma, 2002).

Mikroba tanah juga menghasilkan metabolit yang mempunyai efek sebagai zat

pengatur tumbuh. Bakteri Azotobacter selain dapat menambat N juga menghasilkan thiamin,

riboflavin, nicotin indol acetic acid dan giberelin yang dapat mempercepat perkecambahan

bila diaplikasikan pada benih dan merangsang regenerasi bulu-bulu akar sehingga penyerapan

unsur hara melalui akar menjadi optimal. Metabolit mikroba yang bersifat antagonis bagi

mikroba lainnya seperti antibiotik dapat pula dimanfaatkan untuk menekan mikroba patogen

tular tanah disekitar perakaran tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mikroba

tanah melakukan immobilisasi berbagai unsur hara sehingga dapat mengurangi hilangnya

unsur hara melalui pencucian. Unsur hara yang diimobilisasi diubah sebagai massa sel

mikroba dan akan kembali lagi tersedia untuk tanaman setelah terjadi mineralisasi yaitu

apabila mikroba mati (Franser, 2010).

Adapun Mikroba yang berperan dalam pertunasan dan perakaran adalah sebagai

berikut:

A. Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas palustris, Rhodobacter sphaeroides)

Bakteri fotosintetik merupakan bakteri yang dapat mengubah bahan organik menjadi

asam amino atau zat bioktif dengan bantuan sinar matahari. Bakteri ini adalah

mikroorganisme mandiri dan swasembada. Bakteri ini membentuk senyawa-senyawa

bermanfaat dari sekresi akar tumbuhan, bahan organik dan gas-gas berbahaya dengan sinar

matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat yang terbentuk anatara
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

lain, asam amino asam nukleik, zat bioaktif dan gula yang semuanya berfungsi mempercepat

pertumbuhan. Hasil metabolisme ini dapat langsung diserap tanaman dan berfungsi sebagai

substrat bagi mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terus bertambah (Anonim, 2011).

B. Bakteri Asam Laktat ( Lactobacillus plantarum, Lactobacillus casei, Streptococcus

lactis)

Bakteri asam laktat ( Lactobacillus spp. ) dapat mengakibatkan kemandulan

( sterilizer) oleh karena itu bakteri ini dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme yang

merugikan; meningkatkan percepatan perombakan bahan organik; menghancurkan bahan

organik seperti lignin dan selulosa serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan senyawa

beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik Bakteri ini dapat menekan

pertumbuhan fusarium, yaitu mikroorganime merugikan yang menimbukan penyakit pada

lahan/ tanaman yang terus menerus ditanami (Anonim, 2011).

C. Actinomycetes sebagai Antibiotik (Streptomyces albus, Streptomyces griseus)

Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan

bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.

Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama menongkatkan

mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah (Anonim,

2011).

D. Cendawan Antagonis ( Trichoderma basiana)

Keunggulan jamur Trichoderma sebagai agensia pengendali hayati dibandingkan

dengan jenis fungisida kimia sintetik adalah selain mampu mengendalikan jamur patogen

dalam tanah, ternyata juga dapat mendorong adanya fase revitalisasi tanaman. Revitalisasi ini
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

terjadi karena adanya mekanisme interaksi antara tanaman dan agensia aktif dalam memacu

hormone pertumbuhan tanaman.

E. Yeast (Saccharomyces cerevisiae)

Melalui proses fermentasi, ragi menghasilkan senyawa-senyawa bermanfaat bagi

pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik

atau bahan organik dan akar-akar tanaman. Ragi juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti

hormon dan enzim untuk meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi

Ragi adalah substrat yang baik bakteri asam laktat dan Actinomycetes.

F. Bakteri Pemfiksasi Nitrogen (Azotobacter, Azospirillum, Rhizobium)

Azotobacter secara alamiah memfiksasi nitrogen bebas di dalam rizosphir.

Azotobacter menggunakan karbon untuk proses metabolismenya dari substansi sederhana

atau substansi senyawa dari karbon yang ada di alam. Persamaannya, medium yang

digunakan untuk pertumbuhan Azotobacter memerlukan keberadaan nitorgen organik, mikro

nutrisi dan garam untuk meningkatkan kemampuan fiksasi nitrogen oleh Azotobacter. Di

samping memfiksasi nitrogen, Azotobacter juga menghasilkan Thiomin, Riboflavin, Nicotin,

indol acitic acid dan giberalin. Ketika Azotobacter diaplikasikan ke dalam benih,

perkecambahan benih diperbaiki ke tingkat yang lebih baik, juga Azotobacter berperan dalam

mengontrol penyakit tanaman melalui substansi yang dihasilkan oleh Azotobacter.

Bakteri Azospirillum merupakan mikroba penambat N yang hidup berasosiasi

dengan tanaman di dalam akar. Asosiasi antara Azospirillum dengan akar tanaman

mampu meningkatkan efisiensi pemupukan. Menurut Hastuti dan Gunarto (1993), dalam

Dewi (2007) asosiasi antara Azospirillum sp. dengan tanaman diduga bersifat simbiosis

karena bakteri itu menggunakan senyawa malat sebagai sumber C untuk pertumbuhannya.

Kefalogianni dan Anggelis (2002) dalam Dewi (2007) menambahkan bahwa asosiasi yang
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

bersifat simbiosis antara Azospirillum sp. dengan tumbuhan berlangsung karena bakteri

menerima fotosintat dari tumbuhan dan sebaliknya bakteri menyediakan N untuk tumbuhan

dari N yang difiksasinya, zat pengatur tumbuh, vitamin, dan unsur besi. Beberapa laporan

menunjukkan pengaruh positif inokulasi Azospirillum terhadap pertumbuhan tanaman

(Elmerich, 1984; Okon, 1985; Michiels dkk.,1989, dalam Dewi, 2007). Penelitian in vitro

menunjukkan bahwa bakteri Azospirillum dapat meningkatkan laju yang tinggi fiksasi N pada

kondisi optimum. Kemampuan bakteri untuk bertahan tumbuh dan membentuk koloni pada

rizosfer tanaman merupakan kondisi awal minimum yang harus dimiliki dalam potensinya

untuk mengikat N.

Bakteri penambat nitrogen yang terdapat didalam akar kacang-kacangan adalah jenis

bakteri Rhizobium. Bakteri ini masuk melalui rambut-rambut akar dan menetap dalam akar

tersebut dan membentuk bintil pada akar yang bersifat khas pada kacang – kacangan. Belum

diketahui sepenuhnya bagaimana rhizobium masuk melalui rambut – rambut akar, terus ke

dalam badan akar dan selanjutnya membentuk bintil – bintil akar. Untuk menambat nitrogen,

bakteri ini menggunakan enzim nitrogenase, dimana enzim ini akan menambat gas nitrogen

di udara dan merubahnya menjadi gas amoniak dan kemudian asetylen menjadi ethylene.

G. Bakteri Pemfiksasi Fe3+ ( Pseudomonas fluresens)

Salah satu group mikroorganisme yang punya potensi untuk dikembangkan sebagai

agen hayati adalah Pseudomonas fluorescens. Bakteri ini juga berperan sebagai pemacu

pertumbuhan (Plant growth Promoting Rhizobakteria = PGPR), karena menghasilkan zat

pengatur tumbuh (ZPT) dan dapat pula meningkatkan ketersediaan hara melalui produksi

asam organic (Linderman and Paulizt, 1985).


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

H. Bakteri Pengoksidasi Sulfur (Thiobacillus)

Bakteri pengoksidasi sulfur untuk meningkatkan serapan S. Bakteri pengoksidasi

sulfur seperti Thiobacillus sp. dan Sulfolobus sp. sebagai akseptor elektron yang

mengoksidasi sulfur menjadi sulfat. Bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi sulfat pada

kondisi anaerob menjadi sulfida, selanjutnya dapat mengendapkan logam-logam toksik

sebagai logam sulfida.

I. Bakteri Pelarut Fosfat ( Bacillus dan Pseudomonas)

Pemanfaatan bakteri pelarut fosfat sebagai salah satu penerapan bioteknologi

merupakan suatu alternatif yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam mencari

pemecahan masalah efektivitas ketersediaan unsur P pada tanah masam. Pelarut fosfat oleh

Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik, diantaranya asam sitrat,

glutamat, suksinat, laktat, oksalat, glioksilat, malat, fumarat. Hasil sekresi tersebut akan

berfungsi sebagai katalisator, pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut

membentuk senyawa kompleks denga kationkation Ca2+, Mg2+, Fe2+, dan Al3+ sehingga

terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman (Rao, 1982

dalam Wulandari, 2001).

J. Bakteri Pereduksi Mangan untuk Mengikat Mn2+

Mangan (Mn) diserap oleh akar sebagai ion Mn2+. Mangan dapat membantu proses

pembentukan klorofil dan enzim pada pernapasan.

III.Cara Membuat Inokulum dan Inokulasinya

3.1 Isolasi dari nodula segar


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Akar legum segar yang dikumpulkan dari lapangan dibersihkan dengan air untuk

membuang semua tanah dan partikel organik. Dengan menggunakan gunting tang, akar yang

terinfeksi nodula dipotong hingga 2-3 mm setiap bagian dari nodula, utuh dan tidak rusak.

Lalu mencelupkannya selama 10 detik ke dalam etanol 95% atau isopropanol dipindahkan ke

larutan sodium hypoklorit 2.5 – 3% (v/v) atau clorox 1 : 1 (v/v) dan rendam selama 4-5

menit. Nodula dihancurkan dalam pipa steril dengan tangkai gelas steril dan air yang steril.

Slurry ditambahkan air dan kemudian piring berisi lapisan pada permukaan YMA (Yeast

Manitol Agar) berisi congo red. Cawan petri yang berisi inokulan diinkubasi pada suhu 25-

280C selama 3 sampai 10 hari, bergantung pada strain dan penampakan koloni yang spesifik.

Koloni rhizobia adalah mucoid, bundar/bulat dan menunjukkan sedikit atau tidak ada absorpsi

congo red. Isolat dari koloni rhizobia tunggal kemudian dimurnikan dan disebut sebagai

Rhizobium melalui demonstrasi kemampuan bentuk nodula pada percobaan legum tanaman

inangh dibawah kondisi bakteriologis yang terkontrol.

Metode lain adalah isolasi menggunakan jarum. Metode jarum ini terutama berguna

apabila nodula segar dipanen berukuran 2 mm atau berdiameter besar. Nodula pertama kali

dicuci menggunakan air, kemudian masukkan ke dalam alkohol dan dipegang menggunakan

gunting tang dan lewatkan ke dalam api. Permukaan akan steril, nodule diletakkan ke dalam

kertas saring steril (2x2 cm) dalam cawan petridis.Setiap kertas saring berlaku untuk satu

jarum.

3.2 Produksi Inokulan Rhizobium

1. Persiapan Media tumbuh “Air Kaldu”

Rhizobia relatif mudah untuk ditumbuhkan dalam medium liquid. Sejak rhizobia tidak

berkompetisi dengan mikroorganisme lain, sangat penting untuk mensterilkan semua bejana

tumbuh dan medium sebaik mungkin untuk meyakinkan inokulasi dengan starter rhizobia

dibawa lingkungan yang steril. Hal ini dapat dipengaruhi oleh medium kultur, strains
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

rhizobia, temperatur dan aerasi. Rhizobia merupakan bakteri aerobik dan memerlukan

oksigen untuk pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi inokulan

rhizobia memerlukan aerasi 5 -10 liter air untuk 1 liter medium dalam 1 jam. Temperatur

optimum untuk pertumbuhan rhizobia sekitar 28 – 30 0C. Medium mensuplai energi, nitrogen,

mineral garam tertentu dan faktor tumbuh. Medium Yeast Manitol (YM) yang umum

digunakan dalam kultur air kaldu rhizobia.

Komposisinya adalah sebagai berikut :

Bahan-bahan g l-1
KH2PO4 0.5
MgSO4. 7 H2O 0.1
NaCl 0.2
Manitol 10.0
Yeast Extract 0.5
Air destilasi 1.000 l

CHEMICAL
PURPOSE/NUTRIENT AMT/LITER
d-mannitol Carbon source, Energy 10 gms
K2HPO4 Phosphate, Potassium 0.5 gms
MgSO4.7H2O Magnesium, Sulfur 0.1 gms
NaCl Sodium, Chlorine 0.2 gms
FeCl3.6H2O Iron 0.02 gms
Molybdic Acid Molybdenum 0.002 gms
CaCO3 Calcium 10 gms
Ditambah dengan air hingga satu liter

Ada juga yang menambahkan ekstrak ragi digunakan untuk suplement pertumbuhan

bagi rhizobia. Alternatif lain adalah tepung segar dapat digunakan. International Cente for
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Agricultural Research in Dry Areas (ICARDA) menyarankan beberapa komposisi umum

media.

Komposisi menurut : (g l-1)

Van
Bahan-bahan
Waksman Schreven Date 1976
1928 1963

Manitol 10.0 - 10.0


Sukrosa - 15.0 -
K2PO4 0.5 0.5 0.5
K3PO4 - - -
KH2PO4 - - -
MgSO4. 7H2O 0.2 0.2 0.2
NaCl
0.1 - 0.2
CaCO3
3.0 2.0 -
Ca SO4.2H2O
- - -
FeCl.6H2O
- - 0,1
Air Ragi(Yeast
100.0 100.0 100.0
Water)
Ekstrak ragi
(Yeast - - -
Extract)
Minyak Parafin - 0,5
(NH4)2HPO4 - - -
Air 900 900 900

Untuk memproduksi “kultur air kaldu”, tempat atau bejana dalam berbagai ukuran

sering digunakan. Bejana diisi dengan media 1/3 sampai 2/3 dan disterilisasi pada autoclave.

Kultur starter liquid diinokulasikan pada bejana dengan rasio 1-3 % (v/v) dari media. Waktu

yang diperlukan untuk tumbuh rhizobia berada pada kisaran 3-7 hari, bergantung pada daya

tumbuh strains rhizobia tersebut. Selama pertumbuhan rhizobia dalam starter dan kultur air

kaldu sangat penting untuk melihat kontaminan dan mengontrol kepadatan rhizobia.

2. Produksi Carier Steril- Dasar Inokulan


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Produksi memerlukan carrier/pembawa steril yang lengkap dalam paket steril. Cara

sederhana adalah mencampurkan carier steril dengan kultur baketri liquid. Sterilisasi

pendahuluan pada kantung pembawa/carier adalah dengan menyuntikkan zat aseptik pada

kultur dengan jarum steril. Untuk produksi dalam skala besar , auto syringe” (automatic

dispensing machine) bisa digunakan. Area tusukan harus didesinfeksi dengan etanol. Lubang

bekas suntikan kemudian segera ditutup dengan label perekat. Kelembaban akhir dari

inokulan seharusnya sekitar 45-50%. Setelah injeksi kantung yang berisi carier seharusnya

45-50%. Setelah penyuntikan, paket yang berisi carier harus ditempatkan pada temperatur

dan area yang dikontrol tepat untuk membiarkan sel bakteri tumbuh mencapai populasi

maksimum. Inokulan siap digunakan setelah 2 minggu. Ciri koloni bakteri Rhizobium :Putih

bening, mengkilat, menonjol, tepian rata. Kontaminan (Agrobacterium) : warna merah

3. Teknik Inokulasi Rhizobium

Inokulum berisi bakteria yang harus senantiasa dijaga tetap hidup. Setiap paket yang

berisi inokulum pada umumnya memiliki tanggal kadaluarsa. Setelah tanggal ini, bakteria

tidak hidup dan inokulum seharusnya tidak diunakan lagi. Periode panas yang pendek dapat

menurunkan jumlah Rhizobia yang hidup, paket yang berisi inokulum seharusnya disimpan

di tempat dingin dan terhindar sinar matahari langsung. Penyimpanan yang lebih disukai oleh

inokulum adalam dalam lemari es (tetapi bukan dalam freezer). Bakteri hidup bisa

ditambahkan pada tanah ((direct-soil application)) atau diaplikasikan ke benih (seed-applied

inoculant).

Syarat-syarat inokulan rhizobium :

• Pembawa/carrier : gambut yang dinetralkan dg CaCO3 lolos saringan 200 mesh.

• Dikemas dalam plastik polietilen 0,05 mm

• Disterilisasi dengan sinar gama dosis 5,0 x 106 rads.


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

• Rhizobium dikulturkan dlm kaldu yeast manitol dg kepadatan 500 x 106 rhizobium

hidup/ml.

• Kelembaban carrier 45 – 60 %.

• Diinkubasi 26oC selama 2 minggu.

• Disimpan dlm ruang suhu 4oC

• Standar Rhizobium pd inokulan 108 -109 sel hidup/g media

3.3 Aplikasi ke tanah (Direct-soil application)

Bentuk granular dari inokulum dapat ditempatkan dalam barisan benih melalui kotak

insektisida atau melalui pupuk atau kotak benih (bersihkan kotak/box sebelum inokulum

ditempatkan di dalamnya). Granul akan mengalir secara bebas melalui peralatan penanaman

dan pengaliran inokulum ini sebaiknya dikalibrasi dan diukur. Konsentrasi liquid kultur

inokulum yang dibekukan mungkin ditambah air agar mencair, kemudian tambahkan air ke

dalam tangki untuk aplikasi penyemprotan ke dalam barisan benih. Inokulan sebaiknya tidak

dicampur dengan pestisida atau pupuk jika diaplikasikan ke dalam barisan benih. Ketika

benih tumbuh menjadi legum, dapat direkomendasikan bahwa pupuk dapat diaplikasikan

sebagian. Aplikasi inokulan langsung ke dalam tanah sangat efektif. Bagaimanapun,

permukaan terbesar menjadi tertutup oleh inokulan memerlukan material yang lebih banyak.

Hal ini terutama pada kasus ketika barisan kedelai ditanam terbatas. Akhirnya metode ini

lebih mahal dibandingkan dengan inokulasi pada benih.

3.4 Aplikasi ke Benih (Seed-applied inoculant)

Inokulum yang akan dicampurkan ke dalam benih sebelum ditanam tersedia dalam

bercam-macam carier/pembawa ; carier/pembawa yang umum adalah “peat”. (sejenis bahan

organik). “Peat” menyediakan carier lebih baik dibandingkan carier lainnya melindungi

kehidupan bakteria dibawah kondisi lingkungan yang tidak baik (tempertaur tinggi,

keterlambatan penanaman).
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Ketika benih diinokulsi, dua kondisi yang harus dijaga untuk memperoleh nodulasi

yang baik : (1) akar harus kontak dengan bakteri Rhizobia dan (2) Rhizobia harus dalam

kondisi hidup dan dapat menginfeksi akar tanaman. Agar bakteria dapat kontak dengan akar

tanaman, inokulum harus menutupi masing-masing benih. Untuk mencapai distribusi terbaik,

inokulum seharusnya dicampurkan dengan benih dalam jumlah besar dibandingkan dismpan

dalam kotak benih –menutupi lantai - dalam bak. Gunakan bahan perekat (“sticker”) yang

dapat membantu inokulan agar melekat pada masing-masing benih. Hal ini penting terutama

pada benih legum yang sangat kecil, yang memerlukan lebih banyak inokulan per unit benih-

area permukaan.

Contoh

Pengaruh Inokulan dan Penggunaan Perekat pada Nodulasi Akar Kedelai

Treatment Nodules per plant

Source: University of Kentucky.

No inoculants 0

Inoculant, no sticker 0.8

Inoculant, plus commercial 2.7

sticker

Inoculant, plus sugar sticker 2.7

Hal ini menunjukkan keuntungan dalam jumlah nodula yang dibentuk dengan menggunakan

perekat selama proses inokulasi. Baik komersial dan perekat yang dibuat sendiri adalah cukup efektif.

Perekat buatan sendiri dapat disediakan dengan pengenceran 1 -10 sirup atau molases, pengenceran

cola atau susu dapat juga digunakan. Mencampurkan benih dan perekat secukupnya hanya untuk

melembabkan semua benih. Terlalu cair dapat mengakibatakan perkecambahan yang prematur pada

benih. Untuk melembabkan benih tambahkan inokulan pada lapisan benih. Pengeringan udara dengan
Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

menghamparkan benih pada kondisi teduh. Pengeringan bisa dipercepat dengan menambahkan

tambahan “peat” beralaskan inokulan atau batu kapur halus. Benih harus kering pada saat ditanam.

Benih seharusnya sesegera mungkin ditanam setelah inokulasi sebab bakteria mulai mti pada proses

pengeringan. Jika tidak ditanam dalam waktu 24 jam, inokulasi kembali.

Pre-inokulasi benih. Salah satu metode preinokulasi yang umum digunakan (1) meresapi

(impregnation) Rhizobia dengan proses vakum atau (2) dibuat pil dengan batu kapur halus. Tipe pil

dari preinokulasi benih adalah umumnya lebih disukai pada penelitian dasar dan menunjukkan bahwa

bakteria hidup lebih lama pada benih pil dan tipe preinokulasi benih menghasilan formasi jumlah

nodula yang lebih banyak. Preinokulasi benih seharusnya ditangani dengan cara yang sama seperti

halnya paket inokulum. Beberapa tindakan pencegahan dapat menjamin hasil yang lebih baik.

Mengecek kembali tanggal kadaluarsa pada kantong benih, penyimpanan dan tsimpan benih jangan

dibawah sinar matahari langsung dan hindari panas dan tanam sesegera mungkin . Jika bakteria

dipastikan dalm kondisi mati, inokulasi kembali benih. Jika airatau larutan perekat menyebabkan

kandungan asam pada benih pil menjadi gum up, gunakan mineral oil (0.5 to 1.0 of oil per lb. of seed)

untuk melekatkan inokulum baru pada benih.


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Bakteri Fotosintetik. http://hobiikan.blogspot.com/2008/08/lactobaccilus-

bakteri-fotosintetik.html. Diakses 26 Maret 2011.

Anonim. 2011. Teknologi EM-4, Dimensi Baru Dalam Pertanian Modern. http://www.

dyahkurnia.student.umm.ac.id/download-as.../student_blog_article_26.doc. Diakses

26 Maret 2011.

Dewi, A.I.R. 2007. Fiksasi N Biologis Pada Ekosistem Tropis. Jurusan Ilmu Tanaman

Universitas Padjadjaran. Bandung

Franser. 2010. Peranan Mikroba Tanah Dalam Siklus Unsur Hara Dalam Tanah.

http://franser88.blogspot.com/2010/10/peranan-mikroba-tanah-dalam-siklus.html.

Diakses 26 Maret 2011.

Radit. 2010. Peranan Mikroba. http://eafrianto.wordpress.com/2009/11/29/peranan-

mikroba/. Diakses 26 Maret 2011.


Disusun oleh Prima Nanda F & Ria Yuliyanti

Wulandari, S. 2001. Efektivitas Bakteri Pelarut Fosfat Pseudomonas sp. Terhadap

Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Pada Tanah Podsolik Merah

Kuning. Laboratorium Biologi FKIP UNRI. Jurnal Natur Indonesia 4 (1): (2001)

Zay. 2008. Peranan Mikroba. http://panglima-zay.blogspot.com/2008/11/peranan-

mikroba.html. Diakses 26 Maret 2011.