Anda di halaman 1dari 12

‫ﻦ اﻟَّﻠ ِﻪ اﻟ َّﺮﺣِﻴ ِﻢ‬

ِ ‫ﺣ َﻤ‬
ْ ‫ﺴ ِﻢ اﻟ َّﺮ‬
ْ ‫ِﺑ‬

(e-book)

Musyarakah Yang Terlarang

oleh

Abu Nabila
(syabab Hizbut Tahrir)

Bandung, Desember 2008


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Segala puji dan syukur bagi Allah Subhana wa Ta’ala, yang telah menurunkan risalah Islam kepada
Rasul-Nya sebagai petunjuk (huda) dan dien yang Haq, untuk dimenangkan-Nya diatas segala ide,
isme, ajaran, millah dan dien yang lainnya, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya.
Shalawat dan salam sejahtera bagi Rasul Muhammad Shallallaahu Alaihi wa Salam, yang tidak ada
nabi setelahnya, bagi keluarganya, sahabatnya dan mereka yang mengikuti sunnahnya sampai hari
kemudian.

Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan-Nya, kita bisa berdiskusi kembali dan melakukan
aktivitas saling mengingatkan karena Allah Subhana wa Ta’ala dan mendalami kembali ajaran
risalah yang Haq ini. Semoga Allah Subhana wa Ta’ala Berkenan Mengampuni semua dosa-dosa
kita, dosa kedua orang tua kita, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimah seluruhnya di hari
Akhirat nanti. Dan semoga pula, Allah Berkenan Menolong para aktivis pengemban da’wah
(hammilud da’wah) tanpa kekerasan yang menghabiskan waktunya untuk menyerukan al Khair
(Islam), ta’muru na bil ma’ruf (menyerukan kepada yang benar), wa tanha anil munkar (mencegah
dari yang munkar). Dan semoga pula, Allah Subhana wa Ta’ala Memberikan petunjuk kepada para
pemimpin muslim, untuk mau mengemban aqidah, dan menerapkan syariah wa khilafah Islam ala
Minhajunn Nubuwwah, dan Menghancurkan makar orang-orang kafir. Aamiieen.

Amma ba’du.

Mas wahyu, terima kasih udah mau menanggapi tulisan saya, yang masih kurang ilmu, pemahaman,
amal dan da’wahnya.

Dalam urusan musyarokah ini, pendapat para ulama terdahulu maupun kemudian mungkin akan
beragam. Kita akan menemukan pendapat ulama yang mungkin mendekati apa yang kita inginkan,
tetapi cara tersebut belum tentu jalan yang terbaik untuk mendekatkan kita pada apa yang dipahami
Nabi Shallallaahu Alaihi wa Salam dan para shahabatnya yang mulia. Karena, pada perkara-perkara
yang di dalamnya terdapat perbedaan pendapat ulama, dan menghasilkan konsekuensi syara’ yang
berbeda, antara yang mengharamkan dan yang tidak mengharamkan, sebaiknya kita tidak bisa
begitu saja memilih pendapat yang paling ringan atau sesuai dengan keinginan kita semata tanpa
memahami dalil yang mereka gunakan, fakta yang mereka hadapi, dan metode istimbath yang
mereka gunakan. wallaahu’alam.

Sebagaimana yang saya singgung pada makalah sebelumnya, bahwa musyarakah (dengan kaum
kafir, munafik dan dzalim) terutama dalam urusan ibadah, da’wah, kekuasaan, dan jihad adalah
bentuk yang diharamkan oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Aktivitas ini merupakan aktivitas tercela,
yang mustahil para nabi yang mulia, termasuk nabi Yusuf ‘Alaihis Salam, melakukan aktivitas ini.
Karena para nabi adalah manusia yang menyampaikan risalah-Nya, yang ma’shum (terpelihara) dari
dosa kecil atau dosa besar.

Di dalam kamus bahasa arab yang saya miliki1, terdapat kata-kata:


‫ﺸ ْﺭ ﹶﻜ ﹸﺔ‬
ِ = persekutuan, perserikatan
‫ﻙ‬
ٌ ‫ُﻤﺸﹶﺎ ﹺﺭ‬ = mitra, partner, rekanan, sekutu
‫ُﻤﺸﹶﺎ َﺭ ﹶﻜ ﹸﺔ‬ = persekutuan, perserikatan

Berdasarkan pengertian lughawi (bahasa) musyarokah tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa
tidak mungkin musyarakah dapat terlaksana tanpa adanya proses pengakuan sebagai partner

1
Kamus Bahasa Arab (Arab-Indonesia), Tim Kashiko, Penerbit Kashiko, Surabaya, 2000

2
(musyarikun), rekanan, teman setia, wali (pelindung/penolong) atau teman kepercayaan diantara
dua belah pihak atau lebih yang terlibat dalam musyarokah tersebut. Apabila musyarokah ini terkait
dengan pelaksanaan urusan Dien dan halal-haram, maka keberadaan musyarakah ini akan sangat
terkait dengan perkara wala’ (loyalitas) sebagai konsekuensi aqidah Islam dari seorang muslim,
dimana ayat-ayat di Al Qur’an banyak sekali mengkaitkannya dengan urusan keimanan.

Terdapat dua indikator keharaman musyarokah dalam urusan agama, yaitu :


a. Keharaman untuk menjadikan musuh-musuh Allah sebagai musyarikun (partner) atau
wali, dan memberikan wala (loyalitas) kepada mereka.

Ayat-ayat yang terkait dengan musyarokah adalah:

‫ﺨﺬﹸﻭﹾﺍ ﹺﺑﻄﹶﺎَﻧ ﹰﺔ ﻣﱢﻦ ﺩُﻭﹺﻧ ﹸﻜ ْﻢ ﹶﻻ َﻳ ﹾﺄﻟﹸﻮَﻧ ﹸﻜ ْﻢ َﺧﺒَﺎ ﹰﻻ َﻭﺩﱡﻭﹾﺍ ﻣَﺎ َﻋﹺﻨﱡﺘ ْﻢ ﹶﻗ ْﺪ‬
ِ ‫﴿ﻳﹶﺄﱡﻳﻬَﺎ ﺍﱠﻟﺬِﻳ َﻦ ﺀَﺍ َﻣﻨُﻮﹾﺍ ﹶﻻ َﺗﱠﺘ‬
‫ﺖ ﹺﺇ ﹾﻥ ﻛﹸﻨُﺘ ْﻢ‬
ِ ‫ﺻﺪُﻭ ُﺭ ُﻫ ْﻢ ﹶﺃ ﹾﻛَﺒﺮُ ﹶﻗ ْﺪ َﺑﱠﻴﻨﱠﺎ ﹶﻟﻜﹸﻢُ ﺍ ﱞﻻﻳَـ‬
ُ ‫ﺨﻔِﻰ‬
ْ ‫ﺕ ﺍﹾﻟَﺒ ْﻐﻀَﺂ ُﺀ ِﻣ ْﻦ ﹶﺃ ﹾﻓ َﻮ ِﻫ ﹺﻬ ْﻢ َﻭﻣَﺎ ُﺗ‬
ِ ‫َﺑ َﺪ‬
‫َﺗ ْﻌ ِﻘﻠﹸﻮ ﹶﻥ‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu (bithonah)
orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari
mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [QS. 3:118]

Tafsir Al-Jalalayn2
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah engkau mengambil teman dekat, memberitahukan
kepada mereka rahasiamu, siapapun yang bukan golonganmu, yaitu diantara orang-orang yahudi,
nasrani, dan munafiqun; termasuk orang-orang yang melakukan apapun untuk menghancurkanmu
(kata ‘khabālan’ adalah dalam bentuk objek penderita sebab preposisi [yang biasanya mengawali
kata ‘khabālan’ tersebut] telah dihilangkan). Kalimat tersebut untuk menunjukkan bahwa mereka
tidak akan lengah untuk menghancurkanmu; mereka sangat berharap kamu menderita (kata al-‘anat
berarti penderitaan yang amat sangat). Kebencian dan rasa permusuhan dinyatakan dan
dimanifestasikan dengan mulut mereka, dengan menyebarkan penghinaan kepada kamu dan
memberitahukan kepada pemimpin mereka tentang rahasia-rahasiamu; dan apa yang hati mereka
sembunyikan, yaitu permusuhan, adalah lebih besar lagi. Kami telah membuat kamu jelas akan
tanda-tandanya. Jika kamu memahami hal ini, maka janganlah menjadikan mereka teman.

Ibn Abbas radhiyallaahu anhu3


Allah Subhana wa Ta’ala telah melarang orang-orang beriman dari diantara para shahabat untuk
berbicara dengan orang-orang yahudi, atau memberitahukan rahasia-rahasia kepada mereka, dengan
mengatakan: (Wahai orang-orang beriman, janganlah mengambil) orang-orang yahudi; (sebagai
teman) kepercayaan; (diluar kalanganmu) yaitu orang-orang yang beriman dengan sungguh-
sungguh. (Orang-orang tersebut melakukan apa saja untuk menghancurkanmu dan menyukai apa
saja untuk menyusahkanmu), yaitu mereka menyukai agar kamu berbuat dosa dan menjadi musyrik
sebagaimana mereka telah musyrik. (Kebencian mereka dinyatakan) dengan ucapan; (dari mulut-
mulut mereka) melalui fitnah dan pembunuhan karakter. (Tetapi, apa yang di dalam dada mereka
adalah lebih besar), artinya apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka adalah jauh lebih

2
Bisa dilihat di www.altafsir.com
3
Bisa dilihat di www.altafsir.com

3
besar lagi. (Kami telah menjelaskan kepadamu tentang ayat-ayat) tanda-tanda dari kedengkian
mereka; (jika kamu ingin memahami), apa yang kami turunkan kepadamu; Kalimat ini juga berarti:
“Kami telah membuat ayat-ayat kami (yang terdiri perintah dan larangan) menjadi jelas, sehingga
kamu memahami apa yang Kami perintahkan kepadamu”.

Imam Ibnu Katsiir4


Allah Subhana wa Ta’ala melarang hamba-hamba yang beriman kepada-Nya dari mengambil
orang-orang munafik sebagai penasehat kepercayaan (advisor), sehingga orang-orang munafik tidak
memiliki kesempatan untuk menyebarkan rahasia-rahasia dan rencana-rencana orang yang beriman
yang berperang dengan musuh-musuhnya. Orang-orang munafik mencoba segala usaha terbaik
untuk meyakinkan, melawan dan memecah-belah orang-orang beriman dengan segala cara yang
mereka mampu, dan dengan menggunakan cara-cara yang licik mereka. Mereka berharap sangat
buruk dan ingin menyusahkan orang-orang beriman. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

﴾ْ‫ﺨﺬﹸﻭﹾﺍ ﹺﺑﻄﹶﺎَﻧ ﹰﺔ ﻣﱢﻦ ﺩُﻭﹺﻧ ﹸﻜﻢ‬


ِ ‫﴿ ﹶﻻ َﺗﱠﺘ‬
..Jangan engkau ambil mereka sebagai Bithonah orang-orang diluar kalangan-mu… [QS. 3:118].
Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasa’I rahimahullaahuma menyampaikan riwayat dari Abu Sa’id
radhiyallaahu anhu. Abu Sa’id radhiyallaahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi
wa Salam berkata:

‫ﺨْﻴ ﹺﺮ‬
َ ‫ ﹺﺑﻄﹶﺎَﻧ ﹲﺔ َﺗ ﹾﺄﻣُﺮُﻩُ ﺑﹺﺎﹾﻟ‬:‫ﺖ ﹶﻟﻪُ ﹺﺑﻄﹶﺎَﻧﺘَﺎ ِﻥ‬
ْ ‫ﻒ ِﻣ ْﻦ َﺧﻠِﻴ ﹶﻔ ٍﺔ ﹺﺇﻟﱠﺎ ﻛﹶﺎَﻧ‬
َ ‫ﺨﹶﻠ‬
ْ ‫ﷲ ِﻣ ْﻦ َﻧﹺﺒ َﻲ َﻭﻟﹶﺎ ﺍ ْﺳَﺘ‬
ُ ‫ﺚﺍ‬ ‫»ﻣَﺎ َﺑ َﻌ ﹶ‬
«‫ﺼ َﻢ ﺍﷲ‬ َ ‫ ﻭَﺍﹾﻟ َﻤ ْﻌﺼُﻮﻡُ َﻣ ْﻦ َﻋ‬،ِ‫ َﻭﹺﺑﻄﹶﺎَﻧ ﹲﺔ َﺗ ﹾﺄﻣُﺮُﻩُ ﺑﹺﺎﻟﺴﱡﻮ ِﺀ َﻭَﺗﺤُﻀﱡﻪُ َﻋﹶﻠْﻴﻪ‬،ِ‫َﻭَﺗﺤُﻀﱡﻪُ َﻋﹶﻠْﻴﻪ‬
Allah Subhana wa Ta’ala tidak mengirim setiap Nabi dan setiap Khalifah, kecuali mereka memiliki
2 tipe penasehat, yang pertama adalah yang memerintahkan kebaikan dan menasihati mereka
dengan kebaikan, dan yang kedua adalah yang memerintahkan keburukan dan menasehati mereka
dengan keburukan. Hanya orang-orang Allah Subhana wa Ta’ala memberikan perlindungan
padanya yang dapat menghadapinya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Abi ad-Dahqanah radhiyallaahu anhu berkata, “Umar
bin Khattab radhiyallaahu anhu berkata, ‘Ada seorang pemuda disini dari orang-orang Hirah (di
Iraq, beragama Nasrani) yang pandai menulis’. Ibnu Abi ad-Dahqanah radhiyallaahu anhu
bertanya, ‘Mengapa kamu tidak mengangkat-nya sebagai penulis?’. Umar radhiyallaahu anhu
berkata, ‘Aku tidak akan mengambil penasehat dari orang-orang kafir’.”. Ayat ini dan riwayat dari
Umar radhiyallaahu anhu membuktikan bahwa Kaum Muslim tidak diizinkan untuk menjadikan
Ahlul dzimmah sebagai penulis atau kepercayaan yang mempengaruhi urusan kaum muslimin, dan
menyebarkan rahasia kaum muslimin, sehingga rahasia tersebut tersebar ke pasukan kafir.

Catatan : memberi nasehat atau masukkan kepada Nabi tidak berarti karena Nabi melakukan kesalahan. Akan tetapi,
para Nabi adalah manusia yang ma’shum (terpelihara) dari dosa kecil dan dosa besar. Nasehat dan masukkan kepada
mereka hanyalah yang tidak terkait perkara aqidah dan syariat, sebagaimana Nabi Shalallaahu alaihi wa Salam
meminta nasehat kepada para shahabat tentang lokasi tempat pertahanan yang terbaik bagi kaum muslimin pada saat
menghadapi perang Badar.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

4
Bisa dilihat di www.tafseer.com

4
Penurut sepengetahuan saya, ayat [QS. 3:118] ini, memberikan larangan yang bersifat pasti bagi
orang-orang mu’min, dalam hal mengambil orang-orang yang diluar kaum mu’min sebagai teman
kepercayaan. Berdasarkan penjelasan, dari ketiga tafsir tersebut, ayat ini turun berkaitan hubungan
kita (kaum muslim) dengan mereka, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Munafiqqun. Dengan
menggunakan:

• kaidah ushul "Al-'Ibrah bi 'umum al-lafadz la bi khususi as-sabab" 5 (makna diambil dari
keumuman ma’na, bukan dari kekhususan sebab), dan “Al Umm Yabqo fii ummumihi maa lam
yarid dallilu at-takhsis”6 (Dalil yang umum, tetap dalam keumumannya, kecuali ada dalil yang
mengkhususkannya)
• adanya I’llat (sebab-sebab kemunculan hukum) pada ayat tersebut yaitu

<< ‫ﹶﻻ َﻳ ﹾﺄﻟﹸﻮَﻧ ﹸﻜ ْﻢ َﺧﺒَﺎ ﹰﻻ َﻭﺩﱡﻭﹾﺍ ﻣَﺎ َﻋﹺﻨﱡﺘ ْﻢ‬ >> (… (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan) kemudaratan bagimu dan menyukai apa yang menyusahkan kamu…),

maka yang termasuk orang-orang diluar kalangan mu’min, tidak hanya orang-orang kafir dari
kalangan ahlul kitab, orang-orang musyrik dan munafiqqun, tetapi bisa jadi dia adalah orang-orang
munafik, orang-orang fasiq atau orang-orang dzalim, yang kesemuanya masih terkategori sebagai
muslim. Sepanjang mereka membawa kemudharatan bagi da’wah Islam, bagi perjuangan
penegakan Syari’ah dan khilafah Islam, maka mereka itu dikategorikan sebagai orang-orang diluar
kalangan kita, yang diharamkan untuk dijadikan sebagai teman kepercayaan dalam urusan agama
dan halal-haram. Kecuali mereka bertobat dan kembali kepada kaum muslimin.

Kemudian, di dalam tafsir Imam Ibnu Katsiir rahimahullah mengenai ayat ini, dikemukakan
riwayat Ibnu Abi ad-Dahqanah radhiyallaahu anhu bahwa Umar radhiyallaahu menolak ahluz-
dzimmah sebagai penulis kepercayaan. Berdasarkan riwayat ini, kita bisa meng-qiyash-kan suatu
pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan seorang penulis, yaitu misalnya menjadi caleg atau
menjadi teman koalisi partai yang nantinya memiliki kekuasaan untuk melegislasi undang-undang
yang akan diberlakukan kepada publik. Urusan kekuasaaan adalah urusan yang jauh lebih
mempengaruhi urusan kaum muslimin daripada hanya sekedar menjadi penulis kepercayaan. Hal ini
berarti, tingkat keharaman menjadikan orang-orang yang diluar kalangan kita sebagai caleg
atau teman koalisi adalah lebih besar daripada menjadikan mereka sebagai penulis
kepercayaan, berdasarkan kesimpulan dari qiyash ini.

Ayat-ayat lain dibawah ini, juga membahas bahwa tidak menjadikan orang-orang yang memusuhi
Allah dan Rasul-Nya merupakan representasi dari keimanan seorang mu’min.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

‫ﺠﺪُ ﹶﻗﻮْﻣﹰﺎ ُﻳ ْﺆ ِﻣﻨُﻮ ﹶﻥ ﺑﹺﺎﻟﻠﱠ ِﻪ ﻭَﺍﹾﻟَﻴ ْﻮ ﹺﻡ ﺍ ﱞﻻ ِﺧ ﹺﺮ ﻳُﻮَﺁﺩﱡﻭ ﹶﻥ َﻣ ْﻦ ﺣَﺂ ﱠﺩ ﺍﻟﱠﻠ َﻪ َﻭ َﺭﺳُﻮﹶﻟﻪُ َﻭﹶﻟ ْﻮ ﻛﹶﺎﻧُﻮﹾﺍ ﺀَﺍﺑَﺂ َﺀﻫُ ْﻢ ﹶﺃ ْﻭ ﹶﺃ ْﺑﻨَﺂ َﺀ ُﻫ ْﻢ ﹶﺃ ْﻭ‬‫ﱠﻻ َﺗ ﹺ‬
‫ﺠﺮﹺﻯ‬ ْ ‫ﺖ َﺗ‬ ٍ ‫ﺡ ﻣﱢ ْﻨ ُﻪ َﻭﻳُ ْﺪ ِﺧﻠﹸﻬُ ْﻢ َﺟﻨﱠـ‬ ‫ﺐ ﻓِﻰ ﹸﻗﻠﹸﻮﹺﺑ ﹺﻬﻢُ ﺍ ِﻹﳝَـ َﻦ َﻭﹶﺃﱠﻳ َﺪﻫُ ْﻢ ﹺﺑﺮُﻭ ﹴ‬ َ ‫ﻚ ﹶﻛَﺘ‬ َ ‫ﺸ َﲑَﺗﻬُ ْﻢ ﹸﺃ ْﻭﻟﹶـِﺌ‬ ِ ‫ﹺﺇ ْﺧ َﻮَﻧﻬُ ْﻢ ﹶﺃ ْﻭ َﻋ‬
‫ﺏ ﺍﻟﻠﱠ ِﻪ ُﻫ ُﻢ‬ َ ‫ﻚ ِﺣ ْﺰﺏُ ﺍﻟﻠﱠ ِﻪ ﹶﺃ ﹶﻻ ﹺﺇﻥﱠ ِﺣ ْﺰ‬ َ ‫ﺿ َﻰ ﺍﻟﱠﻠ ُﻪ َﻋ ْﻨ ُﻬ ْﻢ َﻭ َﺭﺿُﻮﹾﺍ َﻋ ْﻨﻪُ ﹸﺃ ْﻭﻟﹶـِﺌ‬
ِ ‫ﺤِﺘﻬَﺎ ﺍ ﱞﻻ ْﻧﻬَـ ُﺮ ﺧَـِﻠﺪِﻳ َﻦ ﻓِﻴﻬَﺎ َﺭ‬ ْ ‫ﻣِﻦ َﺗ‬
﴾ ‫ﺍﹾﻟ ُﻤ ﹾﻔِﻠﺤُﻮ ﹶﻥ‬

5
Syakhshiyyah Islamiyyah, Taqiyuddin An-Nabhaani rahimahullah
6
Idem

5
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-
orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan
mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap
mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan
Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. [QS.
58:22]

Tafsir Al-Jalalayn
Kamu tidak akan menemukan orang-orang yang beriman kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan hari
Akhir, menjadikan teman orang-orang yang menentang Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul-Nya,
sekalipun mereka (yang menentang) adalah ayahnya (yaitu ayah dari orang yang beriman tersebut),
atau anaknya atau saudaranya atau keluarganya, justeru (kamu akan temukan bahwa) mereka (orang
mu’min) berkeinginan untuk memerangi mereka (yang menentang Allah Subhana wa Ta’ala dan
Rasul-Nya) karena urusan agama, sebagaimana terjadi pada suatu saat pada beberapa shahabat,
semoga Allah Subhana wa Ta’ala Merahmati mereka. Bagi mereka (yaitu orang-orang beriman
yang memusuhi para penentang Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul-Nya), Allah Subhana wa
Ta’ala telah Menuliskan dan Memperlihatkan keyakinan di dalam dada mereka dan
memperkuatnya dengan keimanan (spirit), yang merupakan cahaya dari-Nya, kemuliaan-Nya, dan
Dia akan memasukkan mereka kedalam Jannah yang sungai-sungai mengalir dibawahnya, dimana
mereka akan tinggal didalamnya, semoga Allah Merahmati mereka. Hal ini sebagai balasan atas
ketaatan mereka kepada Allah Subhana wa Ta’ala, sehingga mereka dirahmati Allah Subhana wa
Ta’ala sebagai balasan dari-Nya. Dan mereka-lah golongan Allah, yang mengikuti perintah-Nya
dan mencegah dari apa yang Dia larang. Yakinlah, mereka adalah golongan Allah yang pasti
menjadi pemenang.

Ibn Abbas radhiyallaahu anhu


Allah Subhana wa Ta’ala menurunkan ayat ini berkaitan dengan Hatib Ibnu Abi Balta’ah
(radhiyallaahu anhu), seorang shahabat dari Yaman, yang menulis surat kepada orang-orang di kota
Mekah dimana ia membocorkan salah satu rahasia dari rencana Nabi Shallallaahu Alaihi wa Salam
yang berbunyi (Engkau tidak akan menemukan) wahai Muhammamad Shallallaahu Alaihi wa
Salam, Hatib Ibnu Abi Balta’ah radhiyallaahu anhu sebagai (orang yang beriman kepada Allah
Subhana wa Ta’ala dan hari akhir) yaitu hari pembalasan setelah kematian; (mencintai orang-
orang yang memusuhi) menentang melawan (Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu
Alaihi wa Salam) dalam urusan agama, dalam hal ini adalah orang-orang mekah; (sekalipun mereka
adalah ayahnya) yaitu ayah kandung; (atau anaknya, atau saudaranya, atau keluarganya) atau
sukunya atau sanak familinya; (Mereka itulah) yaitu Hatib dan orang beriman lainnya; (yang Allah
Subhana wa Ta’ala telah menanamkan keyakinan di dalam hati mereka) yaitu Dia Memasukkan
kecintaan terhadap keimanan di dalam dada mereka; (dan Dia telah memperkuat mereka dengan
keimanan dari-Nya) beserta ampunan dari-Nya; dan ini diartikan Allah Subhana wa Ta’ala
menolong mereka dengan pertolongan dari-Nya; (dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam
surga yang dibawahnya) yaitu dibawah pohon-pohonya dan tempat tinggalnya; (sungai-sungai
mengalir) yaitu sungai dari anggur, air yang jernih, madu dan susu; (dimana mereka akan tinggal di
dalamnya) yaitu mereka akan mendiaminya selama-lamanya, tidak pernah mati atau
meninggalkannya. (Allah Subhana wa Ta’ala benar-benar Meridhai mereka) disebabkan keimanan
mereka, amal-amal mereka dan taubat mereka; (dan mereka benar-benar meridhai Allah Subhana
wa Ta’ala) disebabkan oleh balasan dan kemuliaan yang mereka terima dari Allah Subhana wa
Ta’ala). (Mereka adalah partai atau golongan Allah Subhana wa Ta’ala) yaitu mereka adalah

6
tentara Allah Subhana wa Ta’ala. (Ketahuilah, bukankah partai atau golongan Allah yang akan
menang?) yaitu mereka yang diselamatkan dari kemurkaan dan azab-Nya; mereka adalah orang-
orang yang menemukan dan mendapatkan apa yang mereka cari, dan diselamatkan dari syaitan
yang mereka berlindung darinya. Hatib radhiyallaahu anhu adalah seorang yang pernah mengikuti
Perang Badar (ahli Badar), dan kisahnya bisa ditemukan didalam surat al-Mumtahanah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah


(Engkau tidak akan menemukan seoarangpun yang beriman kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan
hari Akhir, membuat persahabatan dengan orang-orang yang memusuhi Allah Subhana wa Ta’ala
dan Nabi-nya Shallallaahu Alaihi wa Salam, sekalipun mereka adalah ayahnya, anaknya atau
saudaranya atau keluarganya). Kalimat ini berarti: Janganlah menjadikan teman dari orang-orang
penentang (Subhana wa Ta’ala dan Nabi-nya Shallallaahu Alaihi wa Salam), sekalipun jika mereka
ada diantara keluarga terdekat kita.

‫ﺲ ِﻣ َﻦ ﺍﻟﻠﱠ ِﻪ‬
َ ‫ﻚ ﹶﻓﹶﻠْﻴ‬
َ ‫ﲔ َﻭﻣَﻦ َﻳ ﹾﻔ َﻌ ﹾﻞ ﹶﺫِﻟ‬
َ ‫ﺨ ِﺬ ﺍﹾﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻣﻨُﻮ ﹶﻥ ﺍﹾﻟﻜﹶـ ِﻔﺮﹺﻳ َﻦ ﹶﺃ ْﻭِﻟﻴَﺂ َﺀ ﻣِﻦ ﺩُﻭ ِﻥ ﺍﹾﻟﻤُ ْﺆ ِﻣﹺﻨ‬
ِ ‫﴿ ﱠﻻ َﻳﱠﺘ‬
﴾ُ‫ﺴﻪ‬ َ ‫ﺤﺬﱢ ْﺭﻛﹸﻢُ ﺍﻟﱠﻠ ُﻪ َﻧ ﹾﻔ‬
َ ُ‫ﻓِﻲ َﺷ ْﻰ ٍﺀ ﹺﺇ ﹶﻻ ﺃﹶﻥ َﺗﱠﺘﻘﹸﻮﹾﺍ ِﻣْﻨ ُﻬ ْﻢ ُﺗﻘﹶـ ﹰﺔ َﻭﻳ‬
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan
orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah
Subhana wa Ta’ala kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.
Dan Allah Subhana wa Ta’ala memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada
Allah kembali (mu). [QS. 3:28]. Dan,

‫ﺸ َﲑﺗُﻜﹸ ْﻢ َﻭﹶﺃ ْﻣ َﻮ ﹲﻝ ﺍ ﹾﻗَﺘ َﺮ ﹾﻓﺘُﻤُﻮﻫَﺎ‬


ِ ‫﴿ ﹸﻗ ﹾﻞ ﺇﹺﻥ ﻛﹶﺎ ﹶﻥ ﺀَﺍﺑَﺎﺅُﻛﹸ ْﻢ َﻭﹶﺃْﺑﻨَﺂ ُﺅ ﹸﻛ ْﻢ َﻭﹺﺇ ْﺧ َﻮﻧُﻜﹸ ْﻢ َﻭﹶﺃ ْﺯ َﻭﺟُﻜﹸ ْﻢ َﻭ َﻋ‬
‫ﺐ ﹺﺇﹶﻟْﻴ ﹸﻜ ْﻢ ﱢﻣ َﻦ ﺍﻟﻠﱠ ِﻪ َﻭ َﺭﺳُﻮِﻟ ِﻪ َﻭ ﹺﺟﻬَﺎ ٍﺩ‬ ‫ﺿ ْﻮَﻧﻬَﺂ ﹶﺃ َﺣ ﱠ‬
َ ‫ﺸ ْﻮ ﹶﻥ ﹶﻛﺴَﺎ َﺩﻫَﺎ َﻭ َﻣﺴَـ ِﻜﻦُ َﺗ ْﺮ‬ َ‫ﺨ‬ ْ ‫َﻭِﺗﺠَـ َﺮﹲﺓ َﺗ‬
﴾‫ﲔ‬ َ ‫ﺴ ِﻘ‬ ِ ‫ﻓِﻲ َﺳﺒﹺﻴِﻠ ِﻪ ﹶﻓَﺘ َﺮﱠﺑﺼُﻮﹾﺍ َﺣﺘﱠﻰ َﻳ ﹾﺄِﺗ َﻰ ﺍﻟﱠﻠ ُﻪ ﹺﺑﹶﺄ ْﻣ ﹺﺮ ِﻩ ﻭَﺍﻟﻠﱠﻪُ ﹶﻻ َﻳ ْﻬﺪِﻯ ﺍﹾﻟ ﹶﻘ ْﻮ َﻡ ﺍﹾﻟﻔﹶـ‬

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta


kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari)
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik [QS. 9:24]. Sa’id ‘Abdul-‘Aziz dan lainnya
berkata tentang ayat ini :

﴾‫ﺠﺪُ ﹶﻗﻮْﻣﹰﺎ ُﻳ ْﺆ ِﻣﻨُﻮ ﹶﻥ ﺑﹺﺎﻟﻠﱠ ِﻪ ﻭَﺍﹾﻟَﻴ ْﻮ ﹺﻡ ﺍ ﱞﻻ ِﺧﺮﹺ‬


‫﴿ ﱠﻻ َﺗ ﹺ‬

Engkau tidak akan menemukan seoarangpun yang beriman kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan
hari Akhir… diturunkan berkaitan dengan kasus Abu ‘Ubaydah ‘Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah

7
radhiyallaahu anhu ketika membunuh ayahnya yang kafir pada saat perang Badar. Hal ini
merupakan alasan mengapa Umar bin Al-Khattab radhiyallaahu anhu menempatkan urusan
khilafah dengan berkonsultasi kepada 6 shahabat setelah berkonsultasi kepada Abu ‘Ubaydah Amir
radhiyallaahu anhu. Umar bin Al-Khattab radhiyallaahu anhu berkata: “Jika Abu ‘Ubaydah
radhiyallaahu anhu masih hidup, Aku ingin menunjuknya sebagai khalifah.” Pada ayat ini juga
dikatakan bahwa:

﴾ ‫﴿ ﹶﺃ ْﻭ ﹶﺃْﺑﻨَﺂ َﺀ ُﻫ ْﻢ‬
(Sekalipun mereka adalah anaknya…) diturunkan berkaitan dengan kasus Abu Bakr As-Shiddiq
radhiyallaahu anhu ketika dia ingin membunuh anaknya yang kafir ‘Abdur-Rahman pada perang
Badar. Ayat:

﴾ْ‫﴿ﹶﺃ ْﻭ ﹺﺇ ْﺧ َﻮَﻧ ُﻬﻢ‬


(atau saudaranya..) diturunkan berkaitan dengan kasus Mus’ab bin ‘Umair radhiyallaahu anhu,
yang membunuh saudanya, ‘Ubaid bin ‘Umair. Dan ayat:

﴾ْ‫ﺸ َﲑَﺗ ُﻬﻢ‬


ِ ‫﴿ﹶﺃ ْﻭ َﻋ‬
(atau keluarganya…) diturunkan berkaitan kasus ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallaahu anhu, yang
membunuh salah satu keluarganya pada saat perang Badar, dan juga kasus Hamzah, ‘Ali, dan
Ubaydah bin Al-Harith radhiyallaahu anhum. Mereka membunuh ‘Utbah, Shaybah, dan Al’Walid
bin ‘Utbah. Wallahu’alam.

Pada suatu kasus yang mirip, yaitu ketika rasulullah shallallaahu alaihi wa salam berkonsultasi
dengan shahabatnya tentang apa yang harus dilakukan kepada tawanan perang Badar. Abu Bakr As-
Shiddiq radhiyallaahu anhu berpendapat bahwa kaum muslimin harus menerima tebusan untuk
tawanan-tawanan tersebut sehingga kaum muslimin mendapatkan sumber pendanaan untuk
memperkuat kaum muslimin. Beliau (Abu Bakr As-Shiddiq radhiyallaahu anhu) menyebutkan
bahwa tawanan-tawanan tersebut adalah sepupu-sepupu dan keluarga kaum muslimin, dan mereka
mungkin akan memeluk Islam nantinya, dengan pertolongan Allah Subhana wa Ta’ala. Sedangkan
Umar bin Al-Khattab radhiyallaahu anhu mengatakan, “Tetapi aku memiliki pendapat yang
berbeda, wahai rasulullah shallallaahu alaihi wa salam! Biarkan aku membunuh fulan dan fulan,
keluargaku, dan biarkan Ali radhiyallaahu anhu membunuh Aqil (saudara Ali radhiyallaahu anhu),
dan fulan dan fulan. Biarkan kita membuat mereka mengetahui Allah Subhana wa ta’ala bahwa kita
tidak mengasihi didalam hati kita untuk kaum musyrikin.” Allah subhana wa Ta’ala berkata:

﴾ُ‫ﺡ ﱢﻣْﻨﻪ‬
‫ﺐ ﻓِﻰ ﹸﻗﻠﹸﻮﹺﺑ ﹺﻬﻢُ ﺍ ِﻹﳝَـ َﻦ َﻭﹶﺃﱠﻳ َﺪﻫُ ْﻢ ﹺﺑﺮُﻭ ﹴ‬
َ ‫ﻚ ﹶﻛَﺘ‬
َ ‫﴿ﹸﺃ ْﻭﻟﹶـِﺌ‬
(Bagi mereka yang Allah Subhana wa Ta’ala telah menanamkan keimanan di dalam hatinya dan
menguatkan mereka dengan Ruh daripada-Nya) berarti, orang-orang beriman yang memiliki
kualitas untuk tidak menjadikan teman dari mereka yang memusuhi Allah Subhana wa Ta’ala dan
Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam, sekalipun mereka adalah ayahnya, saudaranya, adalah orang
yang Allah tanamkan keimanan (yang berarti kebahagiaan) di dalam hatinya dan membuat
keimanan itu indah di dalam hati mereka, dan disinilah terletak kebahagiaan-kebahagiaan itu....

8
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Para shahabat (semoga Allah Subhana wa Ta’ala Merahmati mereka) adalah orang-orang yang bisa
dijadikan contoh tentang bagaimana pengorbanan yang mereka lakukan demi tegaknya Al-Haq dan
kemenangan bagi Islam. Mereka rela berlepas diri (Baro’ah) dan siap memerangi orang-orang yang
memusuhi Allah Subhana wa Ta’ala dan Rasul Shallallaahu Alaihi wa Salam. Sekalipun orang-
orang yang memusuhi itu adalah keluarga terdekat mereka sendiri. Mereka tidak menyisakan
sedikitpun dari apa yang mereka miliki, kecuali hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan, ayat ini
merupakan salah satu pujian dari Allah Subhana wa Ta’ala bagi mereka. Dan, Allah Subhana wa
Ta’ala juga Memerintahkan kepada kita untuk meneladani Rasul Shallallaahu Alaihi wa Salam dan
Shahabat-nya untuk tidak menjadikan orang-orang yang menentang da’wah, syariah dan khilafah
Islam sebagai teman, awliya atau musyarikun, sekalipun mereka memiliki hubungan darah dan
kekerabatan dengan kita.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda:

‫ل‬
ُ ‫ﻥ ُﻴﺨﹶﺎِﻟ‬
ْ ‫ﺤ ُﺩ ﹸﻜ ْﻡ َﻤ‬
َ ‫ﻅ ْﺭﹶﺍ‬
‫ﺨﻠِ ْﻴﻠِﻪِ ﹶﻓﹾﻠﻴَﻨ ﹸ‬
‫ﻥ ﹶ‬
‫ﻲ ِﺩ ْﻴ ﹺ‬
َ ‫ﹶﺍﹾﻟ َﻤ ْﺭ ُﺀﻋَﻠ‬
Seseorang adalah sejalan, sealiran dan seagama (diini) dengan kawan akrabnya, maka hendaklah
kamu berhati-hati dalam memilih kawan pendamping. (HR. Ahmad)

Hadist ini, bisa ditemukan didalam kitab 1100 Hadist Terpilih (Dr. Muhammaf Faiz Almath).
Hadist ini memberikan panduan kepada kita dalam hal teman akrab, terlebih dalam urusan Dien.
Urusan Politik adalah bagian dari urusan Dien kita. Dalam urusan Politik (siyasi), terdapat berbagai
aliran, dan tidak semua aliran politik tersebut sejalan dengan Islam. Kita hanya boleh memilih,
berkawan akrab, dan ber-musyarokah pada harokah atau partai yang sejalan dengan aliran Idiologi
Islam saja, dan dilarang bagi kita untuk memilih, berkawan akrab, dan ber-musyarokah pada
harokah atau partai yang tidak sejalan dengan Islam. Karena, aktivitas tersebut akan
menyimpangkan kita dari jalan, aliran dan dien Islam, dan tidak mungkin hal tersebut dapat
dilakukan kecuali kita telah sejalan, sealiran dan menyetujui perkara-perkara yang bertentangan
dengan Islam berdasarkan Hadist riwayat Imam Ahmad rahimahullah diatas.

Pandangan Para Ulama Yang Terkait Al-Wala’ wal Bara’

• Di dalam kitab Al-Islam, karangan Syaikh Sai’id Hawwa rahimahullaah, pada halaman 222,
beliau memasukkan aktivitas ‘Mengangkat orang-orang kafir dan munafiqqin sebagai
pemimpin serta tidak mencintai orang-orang yang beraqidah dan orang-orang mu’min’
sebagai Fenomena Kekufuran Yang Dapat Membatalkan Syahadatain.

• Syaikh Salman bin Fadh Al-Audah, di dalam kitab (terjemahan) Hakadza Allamal Anbiya La
illaha Illallaah di dalam bab Pembebasan Wala’ (loyalitas) untuk Allah Subhana wa Ta’ala,
menguraikan: Termasuk tuntutan kalimat Tauhid adalah membebaskan manusia dari
memberikan Wala’ (loyalitas) kepada selain Allah Subhana wa Ta’ala, seperti loyalitas
kepada para Thaghut, kaum musyrikin, kaum Yahudi, kaum Nasrani, kaum sekuler, kaum
munafik, serta penganut ajaran-ajaran yang menyimpang dari jalan para rasul.

• Di dalam kutaib, Al-Aqidat al-Islamiyyah min al-Kitab wa as-Sunnah ash-Shahihah, Syaikh


Muhammad Jamil bin Zainu, pada halaman 46, beliau mengungkapkan : “Al wala’ (loyalitas)
adalah kecintaan dan kesiapan (hanya) untuk menolong sesama muslim. Firman Allah :

9
‫ﺾ‬
ٍ ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ َأ ْوِﻟﻴَﺎ ُء َﺑ ْﻌ‬
ُ ‫ت َﺑ ْﻌ‬
ُ ‫ن وَا ْﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻡﻨَﺎ‬
َ ‫وَا ْﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻡﻨُﻮ‬
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebahagian yang lain… [QS. At-Taubah (9): 71]

Sebaliknya, kita tidak diperbolehkan mengasihi dan menolong orang-orang kafir berdasarkan
firman Allah Subhana wa Ta’ala:

… ‫ﻦ ِﻣ ْﻨ ُﻬ ْﻢ‬
ْ ‫… َﻓِﺈ َﻥّ ُﻪ ِﻣ ْﻨ ُﻜ ْﻢ َﻳ َﺘ َﻮَّﻟ ُﻬ ْﻢ َو َﻣ‬
… Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin (awliya), maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…[QS. Al-Maidah (5): 51]

• Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan rahimahullah, di dalam kitab (terjemah) Al-Wala’ wal
Bara’ fil Islami, halaman 44, mengkategorikan aktivitas “Meminta bantuan kepada kaum
kafir, mempercayakan urusan kepada mereka, memberikan kekuasaan kepada
mereka agar menduduki jabatan yang di dalamnya ada banyak perkara yang
menyangkut urusan kaum muslimin, serta menjadikan mereka sebagi kawan
terdekat dan teman dalam bermusyawarah” sebagai “Sebagian Fenomena Yang
Tampak Dari Sikap Wala’ Terhadap Orang Kafir”. Beliau menguraikan sebagai berikut:

“Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, radhiyallahu
‘anhu, dia berkata kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Saya memiliki sekretaris yang
beragama nasrani.” Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Mengapa kamu berbuat
demikian? Celaka engkau. Tidakkah engkau mendengar Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :

‫ﻦ َأ ُّﻳﻬَﺎ ﻳَﺎ‬
َ ‫ﺨﺬُوا ﻻ ﺁ َﻣﻨُﻮا اَّﻟﺬِﻳ‬
ِ ‫ﻀ ُﻬ ْﻢ َأ ْوِﻟﻴَﺎ َء وَاﻟ َّﻨﺼَﺎرَى ا ْﻟ َﻴﻬُﻮ َد َﺕ َّﺘ‬
ُ ‫َأ ْوِﻟﻴَﺎ ُء َﺑ ْﻌ‬
‫ﺾ‬
ٍ ‫َﺑ ْﻌ‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain… [QS. Al-Maidah (5) :51]

Kenapa engkau tidak ambil seorang muslim sebagai sekretarismu?” Abu Musa
radhiyallaahu ‘anhu menjawab : “Wahai Amirul mukminin, saya butuhkan tulisannya dan
urusan agama terserah dia”. Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata : “Saya tidak akan
memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, saya tidak akan
mengangkat derajat mereka karena Allah telah merendahkan mereka dan saya tidak akan
mendekatkan mereka kerena Allah telah menjauhkan mereka.”

Imam Ahmad dan Muslim rahimahullahuma meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu


‘alayhi wa Sallam keluar menuju Badar. Tiba-tiba seorang dari kaum musyrikin
menguntitnya dan berhasil menyusul beliau ketika sampai di Herat, lalu dia berkata :
“Sesungguhnya aku ingin mengikuti kamu dan aku rela berkorban untuk kamu.” Nabi
Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda : “Berimankah kamu kepada Allah dan Rasul-
Nya?” dia berkata : “Tidak!” Beliau bersabda : “Kembalilah, karena saya tidak akan
meminta pertolongan kepada orang musyrik.”

10
Dari nash-nash tersebut di atas jelaslah bagi kita tentang haramnya mengangkat kaum
kafir untuk menduduki jabatan pekerjaan kaum muslimin yang mereka nanti akan
mengokohkan kedudukannya dengan sarana yang ada padanya untuk mengetahui
keadaan kaum muslimin dan membuka rahasia-rahasia mereka atau menipu
menjerumuskan ummat Islam ke dalam kerugian dan kebinasaan. Namun sayang hal ini
banyak terjadi pula di negeri kaum muslimin, negeri Haromain Syarifain (Arab Saudi)
yang mejadikan kaum kuffar sebagai pekerja-pekerja, sopir-sopir, pelayan-pelayan, guru-
guru di rumah-rumah yang bergaul bersama keluarga muslim atau membaur dengan kaum
muslimin di negerinya.

• Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah rahimahullaah, di dalam kitab Mafahim Islamiyyah,
hal 221, menyampaikan penjelasan yang terkait surat Ali Imran, ayat 104: “Ini adalah sifat-
sifat yang dimuat pada ayat diatas, yaitu dakwah kepada Islam, memerintah dengan perkara
yang halal dan mencegah dan perkara haram. Semuanya merupakan unsur-unsur utama
sebuah partai dalam Islam. Maka haram atas kaum muslimin membentuk (dan membiarkan)
partai di atas asas selain Islam dan haram atas Negara Islam mentolelir berdirinya
kelompok-kelompok partai di atas asas selain Islam seperti sekularisme, patriotisme,
nasionalisme atau yang lain-lain karena semuanya sangat berlawanan dengani Islam. Karena
semuanya bertentangan dengan tujuan syar’i didirikan Negara Islam yaitu mengemban Islam
dan memelihara aqidah Islam, serta menyelisihi nash- nash syara’ yang telah mengharamkan
atas kaum muslimin berdakwah kepada selain Islam.

Kemudian, Syaikh Dr. Muhammad Husain Abdullah rahimahullaah, dihalaman yang sama,
menambahkan penjelasannya tentang musyarokah, loyalitas, koalisi terhadap orang-orang
kafir:

Haram atas Negara Islam memberikan kepada orang-orang kafir kekuasaan atas kaum
muslimin, yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan dalam bidang kemiliteran atau
perjanjian-perjanjian politik, ekonomi, kebudayaan atau lain-lainnya d mana loyalitas-nya
diberikan kepada orang kafir. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

‫ﺱﺒِﻴﻼ‬
َ ‫ﻦ‬
َ ‫ﻋﻠَﻰ ا ْﻟ ُﻤ ْﺆ ِﻡﻨِﻴ‬
َ ‫ﻦ‬
َ ‫ﻞ اﻟَّﻠ ُﻪ ِﻟ ْﻠﻜَﺎ ِﻓﺮِی‬
َ ‫ﺠ َﻌ‬
ْ ‫ﻦ َی‬
ْ ‫َوَﻟ‬
… dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir kekuasaan
(jalan) atas orang-orang yang beriman. [QS. An-nisa (4) :141]

• Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah di dalam kitab Hadist Ash-Shiyam, didalam


Bab Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang Kafir, hal 88, menguraikan :
Maka persahabatan (muwalah) dengan mereka, yaitu meminta bantuan kepada mereka
adalah haram. Dan mereka berperang (bergabung) bersama kita hukumnya juga haram.
Mengadakan pakta militer dengan mereka juga haram, termasuk meminta pasokan logistic
dalam peperangan kepada mereka juga haram. Kecuali pada keadaan dimana orang-orang
kafir itu secara individu atau sejumlah individu ingin bergabung dengan pasukan kaum
muslimin dibawah bendera Islam, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini pernah terjadi dimasa
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, dan beliau ketika itu mendiamkannya.

Kewajiban agama kita kepada mereka orang-orang kafir (baik kafir ahlul kitab ataupun kaum
musyrikin) adalah dengan melakukan da’wah, melindungi dan menundukkan mereka didalam
kekuasaan Islam, memungut jizyah, atau jihad fii sabilillah saja. Diluar hal-hal tersebut, kaum
muslimin boleh musyarokah terkait urusan keduniaan (muamalah) misalnya perdagangan, ijaroh
(perburuhan), dan menerima tamu; atau urusan kemanusiaan, misalnya menolong orang-orang kafir
yang akan tenggelam, menolong orang kafir yang ditimpa kemiskinan, dan sebagainya, sepanjang
11
tidak bertentangan dengan hukum syara’. Hal ini, didasarkan salah satu hadist yang terkait
mua’amalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan orang Yahudi, yaitu: dari riwayat
Aisyah radhiyallaahu ‘anha, bahwa beliau berkata:
Rasulullah saw. pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan cara menangguhkan
pembayarannya lalu beliau menyerahkan baju besi beliau sebagai jaminan. (Shahih Muslim
No.3007)

Sedangkan, untuk kafir harbi (yang mengadakan permusuhan kepada kaum muslimin), maka kita
diwajibkan mengadakan boikot atas seluruh interaksi dengan mereka, termasuk interaksi perkara
muamalah, kecuali terdapat izin khusus dan terbatas dari khalifah. Hal ini diuraikan oleh syaikh
Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah di dalam kitab (terjemah) Nidzomul Islam, Bab Rancangan
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, hal 187, pasal 161:
Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan
tempat asal komoditas. Pedagang kafir harbi dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di
negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya atau komoditasnya. Pedagang yang
berasal dari negara yang terikat perjanjian diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita
dengan mereka. Pedagang yang termasuk rakyat negara tidak diperbolehkan mengekspor bahan-
bahan yang diperlukan negara, termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat musuh baik
secara militer, industri maupun ekonomi. Pedagang tidak dilarang mengimpor harta/barang
yang sudah mereka miliki. Dikecualikan dari ketentuan ini adalah negara yang di antara kita
dengan negara itu sedang terjadi peperangan secara riil “seperti Israel” maka diberlakukan
hukum-hukum Darul Harb yang riil sedang memerangi Negara dalam seluruh interaksi dengan
negara itu baik dalam perdagangan maupun yang lain.

Berkaitan dengan permasalahan kafir Harb ini, kaum muslimin yang berada dibawah Negara
khilafah Islam wajib memerangi kafir harbi, baik secara ide atau fisik. Sedangkan bagi mereka yang
belum berada dibawah Negara Khilafah, wajib melawan terhadap serangan fisik orang-orang kafir
ke negeri-negeri mereka (sekalipun dibelakang penguasa muslim yang zalim karena menerapkan
sistem kufur), atau dengan mengungkap makar-makar orang kafir, dan tidak ber-musyarokah
dengan mereka. Terdapat firman dari Allah Subhana wa Ta’ala:

‫ﺠﺪُﻭﹾﺍ ﻓِﻴ ﹸﻜ ْﻢ ِﻏ ﹾﻠ ﹶﻈ ﹰﺔ ﻭَﺍ ْﻋﹶﻠﻤُﻮﹾﺍ ﹶﺃﻥﱠ‬


‫﴿َﻳﹶﺄﱡﻳﻬَﺎ ﺍﱠﻟﺬِﻳ َﻦ ﺀَﺍ َﻣﻨُﻮﹾﺍ ﻗﹶﺎِﺗﻠﹸﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬِﻳ َﻦ َﻳﻠﹸﻮَﻧ ﹸﻜ ْﻢ ﱢﻣ َﻦ ﺍﹾﻟ ﹸﻜﻔﱠﺎ ﹺﺭ َﻭِﻟَﻴ ﹺ‬
﴾‫ﲔ‬ َ ‫ﺍﻟﻠﱠ َﻪ َﻣ َﻊ ﺍﹾﻟﻤُﱠﺘ ِﻘ‬
Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan
hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa. [QS. At-Taubah (9) : 123]

Atas dasar ini, maka aktivitas kerjasama (musyarokah) dibidang pendidikan yang dilakukan oleh
seorang kepala daerah yang muslim dengan pemerintah Darul Kuffur Harbi Amerika Serikat,
adalah haram dan batil dari sisi aqad-nya. wallahu’alam

Sedangkan bagi mereka yang terkategori orang-orang munafiqqin, zhalim, kaum nasionalis,
liberalis, sekuler, kapitalis dan komunis, yang masih beragama Islam, maka kewajiban kita
hanyalah berda’wah kepada mereka, mengingatkan kepada keta’atan kepada Allah Subhana wa
Ta’ala dan Rasul shallallaahu alaihi wa salam, dan menjauhi kebid’ah-an mereka, tidak ber-
musyarokah dengan mereka kecuali untuk urusan keduniaan (bukan urusan Dien dan halal-haram),
serta mengingatkan kaum muslimin atas bahaya dan makar yang mereka lakukan agar berhati-hati
dan menjauhi kemungkaran yang mereka lakukan. wallahu’alam bi ash-showab.

12