Anda di halaman 1dari 121

Hj.

IMAS HODIJAH
0621210062

MODEL PEMBELAJARAN MENYUNTING SURAT RESMI


DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERAKTIF
(Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII
SMP Negeri 2 Tegalwaru Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. DR. H. Kosadi Hidayat, M.Pd. Cucu Agus Hidayat, S.Pd., M.Pd.

Mengetahui

Ketua STKIP Subang, Ketua Jurusan,

Drs. Asep Priatna, M.Pd. Prof. DR. H. Kosadi Hidayat, M.Pd.


LEMBAR PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Model Pembelajaran

Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi

Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun

Pelajaran 2009/2010)” ini sepenuhnya karya saya sendiri. Tidak ada bagian di

dalamnya merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan

penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika

keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya

siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian

ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan karya saya ini, atau ada

klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Subang, Aguastus 2010

Yang Membuat Pernyataan,

Hj.IMAS HODIJAH
0621210062
RIWAYAT HIDUP

Penulis, Imas Hodijah dilahirkan di Purwakarta

pada tanggal 29 November 1969 sebagai anak

ketiga dari empat bersaudara dari Bapak Adin dan

Ibunda Cicih Setiasah. Penulis berdomisili di Kp.

Pangkalan RT. 02/RT 01 Desa Palingihan Plered

Purwakarta.

Penulis masuk SD Negeri Pasakmulya Kec.

Kiarapedes dan lulus pada tahun 1983. Penulis melanjutkan sekolah ke SMP 1

Wanayasa dan lulus pada tahun 1986. Selanjutnya, penulis meneruskan sekolah ke

SPG Negeri Purwakarta dan lulus pada tahun 1989. Pada tahun 2003, penulis

diangkat menjadi Guru Bantu. Pada tahun 2007, penulis diangkat menjadi PNS.

Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan S1 di STKIP Purwakarta. Penulis

diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia

dan Daerah. Alhamdulillah pada tahun 2010, penulis dapat menyelesaikan studi

S1 dengan mengambil tugas akhir penyusunan skripsi ini dengan judul : “Model

Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri

(Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered

Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)”.


MOTTO :

Kesenangan hidup itu tidak berarti harus memiliki kekayan dunia


sebanyak-banyaknya. Bahkan hal itu tidak akan membawa kepada
kesenangan yang sebenarnya. Kesenangan hidup berarti kesenangan
badaniah dan rohaniah. Badan merasa enak dan jiwa merasa tentram. Dan
yang paling penting adalah kesenangan jiwa baik untuk waktu yang
sekarang maupun untuk waktu yang akan datang.

Janganlah anda menjanjikan sesuatu yang tak dapat anda


laksanakan, tetapi sekali berjanji usahakanlah dengan sungguh-sungguh
menepati janji anda.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki


oleh orang lain.

Kupersembahkan skripsi ini untuk

suamiku, anak-anaku, orang tuaku,

saudara-saudaraku yang terkasih dan

tersayang
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena

berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan

skripsi ini sesuai dengan agenda yang telah direncanakan. Skripsi ini berjudul :

“Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode

Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered

Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)”, disusun untuk memenuhi salah satu

syarat Ujian Lisan Sarjana Pendidikan dan untuk memenuhi sebagian dari sayarat

memproleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa,

Sastra Indonesia, dan Daerah STKIP Subang.

Isi skripsi ini merupakan sebagian kecil dari masalah yang ada dalam

pengajaran bahasa Indonesia. Selain itu, dalam penyajiannya masih terlihat

kekurangan. Untuk itu, penulis membuka dengan senang hati segala kritik, saran,

dan masukan yang konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini. Meskipun

demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi bagi

pengembangan pengajaran bahasa, keilmuan, dan kependidikan.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis sering mengalami hambatan

dan rintangan. Namun, berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, akhirnya penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, bantuan dan motivasi dari berbagai

pihak turut pula memperlancar penyusunan skripsi ini. Untuk itu, dalam

kesempatan yang berharga ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-

banyaknya kepada :
1. Bapak Drs. Asep Priatna, M.Pd., selaku ketua STKIP Subang yang telah

memberi kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi melalui

penerbitan SK Ketua STKIP;

2. Bapak Prof. Dr. H. Kosadi Hidayat, M.Pd., selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, yang telah mendorong

penulis untuk menyusun skripsi ini;

3. Bapak. Prof. Dr. H. Kosadi Hidayat, M.Pd., selaku selaku Dosen Pembimbing

I dan Bapak Cucu Agus Hidayat, S.Pd., M.Pd, selaku Dosen Pembimbing II,

yang telah membimbing penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi

ini hingga menghantarkan penulis menuju Sidang Ujian Lisan Sarjana

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah ;

4. Seluruh staf dosen, dan staf tata usaha STKIP Subang yang telah membantu

penulis memperlancar studi;

5. Kepala SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Purwakata, yang telah memberi

rekomendasi kepada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut;

6. Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Plered Kabupaten

Purwakata yang telah memberi waktu untuk mengadakan penelitian di kelas;

7. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia

dan Daerah yang selalu bersedia berdiskusi dengan penulis untuk membahas

penyusunankripsi ini ;

8. Suamiku, orang tuaku, dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan

do’a restu dan dorongan kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan

skripsi ini;
9. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang turut

membantu penyelesain skripsi ini.

Semoga semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun dan

menyelesaikan skripsi ini mendapat imbalan yang sepadan dari Allah SWT.

Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan

yang berarti bagi pengembangan keilmuan, pengajaran, dan pendidikan,

khususnya pengajaran bahasa Indonesia.

Subang, Agustus 2010

Penulis,
ABSTRAK

Hj.IMAS HODIJAH. Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan


Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas
VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010). Skripsi.
Subang : Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, STKIP
Subang, Agustus 2010.

Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui kemampuan siswa dalam


menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah
menggunakan metode inkuiri. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
mengetahui perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam
menyunting surat resmi sebelum dan sesudah menggunakan metode inkuiri.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen.
Dengan metode ini, penulis meneliti suatu efek atau pengaruh perlakuan
(treatment) yang diberikan pada sekelompok subjek eksperimen dan dibandingkan
dengan kelompok kontrol dalam suatu percobaan penggunaan metode interkatif
dalam menyunting surat resmi. Pelaksanaan metode ini didukung oleh
penggunaan desain eksperimen yang relevan dalam menata sampel, treatment,
observasi (tes), dan kontrol.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2
Plered Purwakarta yang berjumlah 360 orang. Sampel yang digunakan sebanyak
40 orang siswa kelas VIII B yang diambil dengan teknik random sampling, yaitu
teknik cluster sampling dan persentase. Kepada sampel diberikan instrumen tes
menyunting surat resmi untuk memperoleh data variabel X (menyunting surat
resmi dengan metode inkuiri) dan variabel Y (menyunting surat resmi tanpa
metode inkuiri) dalam waktu yang berbeda.
Analisis data menggunakan teknik “t” tes, yakni teknik analisis statistik
untuk mengetahui perbedaan mean variabel X dan variabel Y. Melalui
penghitungan diperoleh nilai hitung (to) sebesar 3,10. Dengan menggunakan df
(degree of freedom) atau derajat bebas sebesar 80, nilai “to” dibandingkan dengan
nilai t tabel (tt) untuk menguji hipotesis. Hasil pembandingan menunjukkan bahwa
nilai ”to” sebesar 3,10 ternyata lebih besar dibandingkan dengan nilai “tt” sebesar
1,99 dan 2,64 pda taraf signifikansi 5% dan taraf signifikansi 1%. Dengan
demikian, hipotesis alternatif (Ha) diterima.
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, kemampuan
siswa dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri
kurang baik dengan nilai rata-rata sebesar 5,5. Kedua, kemampuan siswa dalam
menyunting surat resmi sesudah menggunakan metode inkuiri cukup baik dengan
nilai rata-rata sebesar 6,4. Ketiga, hipotesis alternatif diterima, yakni ada
perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat
resmi sebelum dan sesudah menggunakan metode inkuiri.
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ……………………………………………… i


ABSTRAK ……………………………………………………….. iv
DAFTAR ISI ……………………………………………………….. v
DAFTAR TABEL …………………………………………………. viii
DAFTAR BAGAN ... …………………………………………….. ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………… …………
xi
BAB I PENDAHULUAN …………………………………. 1

1.1 Latar Belakang Masalah ………………..………… 1

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah …..……… 4

1.2.1 Pembatasan Masalah …………………………. 4

1.2.2 Perumusan Masalah …………………………… 5

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian …….…………… 6

1.3.1 Tujuan Penelitian ……………………………… 6

1.3.2 Kegunaan Penelitian ...…………………………... 6

1.4 Variabel Penelitian .......................................................... 8

1.5 Definisi Istilah ................................................................ 9

1.6 Kerangka Pemikiran ...................................................... 10

1.7 Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian ................. 12

1.7.1 Anggapan Dasar ………….…………… 12

1.7.2 Hipotesis Penelitian .....……………………….... 13

1.8 Metodologi Penelitian .................................................... 14


1.9 Lokasi dan Sampel Penelitian ........................................ 15

BAB II LANDASAN TEORETIS TENTANG MENYUNTING SURAT


RESMI DENGAN NETODE INKUIRI .................................... 17
2.1 Konsep Surat Resmi ........................................................... 17

2.1.1 Pengertian Surat Resmi .............................................. 17

2.1.2 Jenis-jenis Surat Resmi ............................................. 18

2.1.3 Bagian-bagian Surat Resmi ...................................... 19

2.1.5 Bentul-bentuk Surat Resmi ........................................ 33

2.2 Menyunting Surat .............................................................. 41

2.2.1 Pengertian Menyunting Surat .................................... 41

2.2.2 Tujuan Menyunting Surat Resmi ............................... 42

2.2.3 Aspek-aspek Surat Resmi yang Disunting ................ 43

2.2.4 Prosedur Menyunting Surat Resmi ............................ 44

2.2.5 Penilaian Menyunting Surat Resmi ........................... 46

2.3 Metode Inkuiri .................................................................... 47

2.3.1 Pengertian Metode Inkuiri ....................................... 47

2.3.2 Penggunaan Metode Inkuiri dalam Menyunting Surat 47

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .........…………………………


49
3.1 Metode Penelitian ………….………………….....………. 49

3.2 Desain Penelitian …………………....……………………. 50

3.3 Operasional Variabel Penelitian………………………..… 52

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ………………………..... 54

3.4.1 Populasi Penelitian ……………………………….... 54

3.4.2 Sampel Penelitian ………………………………...... 55


3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ....................…. 56

3.6 Prosedur Penelitian dan Teknik Analisis Data .................. 58

3.6.1 Prosedur Penelitian …………………………...…… 58

3.6.2 Teknik Analisis Data …………………………...…. 63

3.7 Rancangan Pengujian Hipotesis …………………..... 65

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN


PEMBAHASAN .................................................…………..… 67
4.1 Hasil Penelitian …..……………………………………... 67

4.1.1 Deskripsi Data ……..……………………………… 68

4.1.2 Analisis Data …...………..………………………... 76

4.1.3 Pengujian Hipotesis ...…………………………. 83

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian .....………………...…. 85

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN …….…………………....….


88
5.1 Kesimpulan …………………………………………...... 88

5.2 Saran – saran …………………………………....……... 90

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………..……….. 91


LAMPIRAN – LAMPIRAN …………………………………….……. 93
RIWAYAT HIDUP ………………………………………………..….. 103
DAFTAR TABEL

Tabel Nomor Halaman

2.1 Cirir-ciri Surat Resmi ......................................................................... 18


2.2 Klasifikasi Bagian-bagian Surat .......................................................... 21

3.1 Variabel Indikator dan Indikator Variabel .......................................... 53


3.2 Populasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta
Tahun Pelajaran 2009/2010 ............................................................... 54
3.3 Kisi-Kisi Instrumen Tes Menyunting Surat Resmi ........................... 57
3.4 Pedoman Penilaian Menyunting Surat Resmi .................................... 59
3.5 Pedoman Interpretasi Tingkat Kemampuan Menyunting Surat Resmi 62

4.1 Data Berupa Skor Menyunting Surat Resmi tanpa

Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel Y).................................... 68

4.2 Data Berupa Skor Menyunting Surat Resmi dengan

Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel X).................................... 70

4.3 Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi .................................... 72


4.4 Distribusi Frekuensi Nilai Variabel X ................................................ 77
4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Variabel Y ......................................... 77

4.6 Persiapan Penghitungan Mean, SD, SE Variabel X ..……………. 78

4.7 Persiapan Penghitungan Mean, SD, SE Variabel Y..........………… 78

4.8 Rekapitulasi Mean , SD, SE Variabel X dan Variabel Y..………… 81


DAFTAR BAGAN

Bagan Nomor Halaman

1.1 Kerangka Pemikiran ............................................................................. 12

3.1 Prates-Pascates Satu Kelompok ......................................................... 51

3.2 Variabel Penelitian ...........................................................…………… 53


DAFTAR GAMBAR

2.1 Bagian-bagian Surat ........................................................................... 20

2.2 Jarak Bagian-bagian Surat ................................................................... 22

2.3 Penulisan Alamat Luar Surat .............................................................. 29

2.4 Bentuk Lurus Penuh .......................................................................... 34

2.5 Bentuk Surat Lurus .............................................................................. 35

2.6 Bentu Surat Setengah Lurus ................................................................ 36

2.7 Bentuk Surat Lekuk ............................................................................ 37

2.8 Bentuk Indonesia ................................................................................ 38

2.9 Bentuk Persegi .................................................................................... 39

2.10 Bentuk British Style ......................................................................... 40

4.1Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Var X dan Var Y .................. 75


DAFTAR LAMPIRAN

1. SK Pengangkatan Dosen Pembimbing dan Penulisan Skripsi Program

Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Subang…….. 93

2. Surat Permohonan Izin Penelitian dari STKIP Subang ……………. 94

3. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari Kepala SMP

Negeri 2 Plered Purwakarta ..........................................…………… 95

4. Buku Bimbingan Skripsi ………………………………………….. 96

5. Instrumen Penelitian ……………………………………………….. 97

6. Data Penelitian …………………………………………………….. 98

7. Nukilan Tabel Nilai “t” untuk berbagai df ........................................ 99


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan yang

hendak dikomunikasikan ke dalam lambang-lambang tulisan. Representasi pikiran

secara tertulis tersebut diaktualisasikan ke dalam beragam bentuk tulisan. Salah

satu bentuk atau jenis hasil ekspresi tulis adalah surat. Menurut Rusyana

(1986:34) surat adalah “jenis karangan yang digunakan untuk mengutarakan

sesuatu kepada pihak lain, dengan maksud agar pihak lain itu melakukan sesuatu,

biasanya membalas pula dengan karangan sejenis”. Dilihat dari segi tindak

berbahasa, surat adalah “percakapan yang tertulis” (Soedjito dan Solchan,1991:1).

Sementara, dari segi bentuk dan isi, Muchlisoh, dkk., (1995:285) mendefinisikan

surat sebagai berikut.

Sehelai kertas atau lebih yang didalamnya dituliskan suatu informasi yang

perlu diketahui oleh orang tertentu atau suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh

penerimanya. Dengan demikian, surat memiliki fungsi sebagai alat komunikasi

tidak langsung atau komunikasi tidak tatap muka.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa surat

merupakan salah satu karangan berbentuk paparan atau dialog tidak langsung

yang ditulis pada media kertas. Dengan demikian, menulis surat pada prinsipnya

merupakan bentuk komunikasi dan memiliki karakteristik yang khas di samping

mengandung kesamaan dengan menulis jenis tulisan lainnya.

1
Kemampuan siswa dalam menulis surat sangat penting. Urgensitasnya itu

bukan saja menyangkut kepentingan pencapaian kompetensi linguistik dan

keterampilan berbahasa, tetapi juga kepentingan personal dan sosial. Kemampuan

menulis surat yang memadai akan memberikan keuntungan yang berkaitan dengan

reaktualisasi hasil belajar, relevansinya dengan fungsi sosial, dan implikasi

kompetensi personal. Selain kemampuan menulis surat, siswa juga diarahkan agar

mampu menyunting surat. Menyunting surat adalah “mengedit atau

menyempurnakan naskah surat“ (Moeliono,ed., 1990:871). Dengan menyunting

surat siswa dapat mengidentifikasi kesalahan dan memberikan rekomendasi bagi

perbaikannya, baik dari segi bahasa, isi, maupun tifografinya. Menyunting surat

merupakan bagian dari proses penulisan sekaligus sebagai strategi penulisan surat

yang baik. Berkaitan dengan kegiatan menyunting surat ini, Purwo (1997:8)

mengemukakan pendapat sebagai berikut.

Termasuk di dalam kegiatan menulis ialah kegiatan menemukan kesalahan


dalam menulis (tidak hanya ejaan dan tanda baca, tetapi kelengkapan atau
kejelasan kalimat, bahkan pemilihan kata). Siswa tidak hanya dilatih untuk
menemukan kesalahan sendiri, tetapi juga untuk memperbaiki dan
membenahinya. Jika siswa belum bisa melakukan hal itu untuk tulisannya
sendiri, mereka diminta untuk melakukan hal itu pada tulisan temannya.

Mengingat kemampuan para siswa dalam menyunting surat sangat penting

dan fungsional, maka menyunting surat dimasukkan ke dalam kurikulum mata

pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP,

standar kompetensi menyunting surat resmi ialah “mengungkapkan informasi

dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan” dengan kompetensi dasar

“menyunting karangan dengan perpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca,

2
pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana”

(Depdiknas, 2006:241). Indikator kemampuan menyunting surat resmi

menyangkut kemampuan memperbaiki naskah surat dari segi isi, bentuk, dan

bahasa.

Berdasarkan uraian tersebut, menyunting surat menjadi salah satu cara

meningkatkan kemampuan siswa menulis surat resmi. Dengan melakukan

kegiatan penyuntingan surat, diharapkan siswa mampu menulis surat dengan lebih

cermat dan efektif. Dapat dikatakan bahwa kemampuan menyunting surat sangat

penting dimiliki oleh siswa sebagai jalan menuju kemampuan menulis surat resmi

dengan baik. Siswa dapat menulis surat resmi berdasarkan kesalahan dan

perbaikan yang dilakukannya. Misalnya, pada aspek kebahasaan (ejaan, tanda

baca, struktur kata, struktur kalimat, dan penataan paragraf), aspek penyajian (tata

urutan, komponen, dan bentuk surat), dan aspek estetika/perwajahan (pemanfaatan

ruang atau format surat) akan lebih baik dan bermakna.

Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut, telah banyak upaya

instruksional yang telah dilakukan guru dan siswa untuk membentuk kompetensi

siswa dalam menulis surat. Namun demikian, dalam kenyataannya di lapangan

kemampuan siswa dalam menyunting surat masih belum memuaskan.

Kekurangmampuan siswa dalam menyunting surat resmi tidak boleh dibiarkan.

Kekurangmampuan siswa akan berpengaruh pada kompetensi menulis surat.

Untuk itu, perlu dicari upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut yang relevan

dengan permasalahan yang sebenarnya dan dapat diaplikasikan dengan baik.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan siswa dalam

3
menulis surat resmi adalah dengan memilih dan mengunakan teknik pembelajaran

yang relevan. Salah satunya ialah dengan melaksanakan pembelajaran menyunting

surat resmi dengan metode inkuiri.

Metode inkuiri atau metode penyelidikan merupakan cara belajar dengan

memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan masalah dan mengolah data

yang tersedia. Untuk tujuan tersebut, penulis akan melakukan penelitian dengan

merumuskan judul penelitian ini seperti berikut : “Model Pembelajaran

Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi

Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun

Pelajaran 2009/2010)”.

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.2.1 Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan dalam

penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut. Kemampuan para siswa SMP

pada umumnya dalam menyunting surat resmi masih belum memuaskan. Hal ini

terlihat pada kemampuan memperbaiki isi gagasan, struktur kata atau pilihan kata

yang kurang tepat, struktur kalimat yang masih kurang efektif, dan aspek ejaan

serta tanda baca yang ditemukan masih ada kesalahan. Untuk mengetahui lebih

objektif tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi, penulis

bermaksud melakukan penelitian menyunting surat resmi dengan metode inkuiri

pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran

2009/2010.

4
Untuk memperjelas ruang lingkup masalah penelitian, diperlukan

pembatasan masalah. Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada kegiatan meneliti

dan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered tahun

pelajaran 2009/2010 dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan

metode inkuiri; meneliti dan mendeskripsikan kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi setelah menggunakan metode inkuiri. Selain itu, diteliti

perbedaan kemampuan menyunting surat resmi sebelum dan sesudah

menggunakan metode inkuiri.

1.2.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, secara umum rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan siswa kelas VIII SMP

Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2008/2009 dalam menyunting surat

resmi dengan menggunakan metode inkuiri ?”

Untuk menetapkan fokus penelitian atau fokus analisis agar lebih spesifik

dan jelas, perumusan masalah di atas masih bersifat umum dan perlu dirinci

menjadi rumusan masalah yang lebih spesifik dan operasional. Adapun rincian

perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Bagaimanakah kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum

mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?

2) Bagaimana kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sesudah

mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?

5
3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan metode inkuiri ?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, secara umum tujuan penelitian

ini ialah ingin meneliti dan mendeskripsikan gambaran kemampuan siswa kelas

VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2008/2009 dalam

menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri.

Sementara itu, secara khusus tujuan penelitian ini ialah untuk :

1) mengetahui gambaran tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat

resmi sebelum mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri;

2) mengetahui gambaran tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat

resmi sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri;

dan

3) membuktikan apakah terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan

siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti

pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri.

6
1.3.2 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis dan

teoretis baik bagi penulis maupun beberapa pihak yang terkait dan

berkepentingan. Adapun manfaat yang dimaksud sebagai berikut.

1) Bagi penulis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang masalah yang

diteliti dan memperdalam pemahaman empirik terhadap masalah yang diteliti

yakni, menyunting surat resmi. Hasil penelitian ini dapat memperkuat

keyakinan penulis tentang masalah dan memberikan sumbangan untuk

memperkaya teori tentang menyunting surat resmi.

2) Bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia

Penelitian ini bermanfaat sebagai masukan tentang kondisi objektif

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi. Para guru mata pelajaran

Bahasa Indonesia dapat membuat perencanaan pembelajaran menyunting surat

resmi dengan fokus pada penggunaan media pembelajaran yang tepat dan

stimulatif, diantaranya dengan metode inkuiri.

3) Bagi para siswa

Penelitian ini bermanfaat untuk memberi informasi mengenai kemampuan

siswa dalam menyunting surat resmi. Dengan demikian, para siswa dapat

mengetahui letak kelemahan dalam menyunting surat resmi buku harian,

sehingga siswa dapat lebih cermat dan tertib dalam menyunting surat resmi.

7
4) Bagi pengembangan keilmuan

Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan disiplin keilmuan, baik

teoritis maupun praktis, yang berkaitan dengan pengajaran menyunting surat

resmi dan pengajaran menulis pada umumnya.

5) Bagi Lembaga (Sekolah)

Penelitian ini bermanfaat bagi sekolah untuk dijadikan masukan tentang

kondisi aktual proses dan hasil pembelajaran menyunting surat resmi. Selain

itu, hasil penelitian dapat dijadikan masukan bagi pimpinan sekolah dan

seluruh staf guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

1.4 Variabel Penelitian

Variabel merupakan gejala, karakteristik, atau objek yang diteliti yang

dapat diamati, diukur, dan dinilai, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

Dalam penelitian eksperimen ini terdapat dua variabel. Kedua variabel tersebut

adalah variabel bebas (independent variabel) atau variabel penyebab dan variabel

terikat (dependent variabel) atau variabel akibat. Variabel bebas menjadi

penyebab munculnya kondisi pada variabel terikat, sedangkan variabel terikat

merupakan akibat atau gejala yang muncul akibat dari variabel bebas dalam suatu

pecobaan.

Yang menjadi variabel bebas adalah metode inkuiri. Sementara itu, yang

manjadi variabel terikat adalah kemampuan menyunting surat resmi. Metode

inkuiri menjadi variabel bebas yang digunakan, dimanipulasi, dan diteliti

pengaruhnya terhadap kemampuan menyunting surat resmi. Untuk memastikan

8
adanya data dari setiap variabel atau untuk memperjelas pengukuran terhadap

variabel, dibutuhkan variabel kontrol di samping variabel eksperimen. Karena itu,

variabel yang dapat diperoleh datanya adalah variabel eksperimen (variabel X),

yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri dan variabel kontrol (variabel Y), yakni nilai kemampuan menyunting

surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri.

1.5 Definisi Istilah

Definisi istilah dirumuskan untuk menciptakan makna tunggal terhadap

istilah atau konsep yang terdapat dalam judul atau variabel penelitian agar

terhindar dari perbedaan penafsiran terhadap judul penelitian, sekaligus

memudahkan penentuan objek masalah yang diteliti. Berkaitan dengan hal

tersebut, definisi istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Model pembelajaran merupakan rancangan pengajaran yang menggambarkan

beberapa proses bertujuan dan situasi lingkungan yang dihasilkan dengan

mengarahkan siswa berinteraksi dalam setiap arah perubahan perilaku mereka.

Model pembelajaran dituangkan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP) yang berbasis kompetensi dengan komponen-komponen nama sekolah,

mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi

waktu, skenario pembelajaran, media, sumber, dan penilaian.

2) Pembelajaran adalah suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi,

dsb.) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar

9
sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah dan berhasil

(Depdiknas, 2004:6).

3) Menulis adalah kegiatan berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan,

dan kehendak kepada orang lain secara tertulis (Suriamihardja, 1996 : 2).

4) Surat resmi adalah surat yang dikirimkan oleh kantor pemerintah/swasta

kepada kantor pemerintah atau dikirimkan oleh perorangan kepada kantor

pemerintah dan sebaliknya. (Soedjito dan Solchan, 1991:14).

5) Metode inkuiri adalah metode penyelidikan yang melibatkan proses mental

dengan kegiatan-kegiatan mengajukan pertanyaan, merumuskan masalah,

merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan percobaan,

mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan (Mulyasa,

2008:109).

Berdasarkan definisi-definisi di atas, variabel penelitian ini dapat

dijelaskan sebagai berikut. Model pembelajaran menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri berarti contoh; pola; acuan; ragam dari suatu

rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dsb.) belajar yang dirancang untuk

mempengaruhi pembelajar dalam proses belajar memperbaiki surat resmi dengan

cara menyelidiki dan menganalisis kesalahan.

1.6 Kerangka Pemikiran

Menyunting surat menjadi salah satu kompetensi dasar menulis yang harus

dikuasai oleh siswa. Menyunting surat adalah “mengedit atau menyempurnakan

naskah” (Moeliono, ed., 1990:871). Melalui kegiatan menyunting aspek surat

10
diharapkan para siswa mampu menemukan dan memperbaiki kesalahan atau

kekurangan surat dari segi bahasa, isi, dan sistematika dan memanfaatkannnya

untuk kegiatan menulis surat dengan baik. Berkenaan dengan kegiatan

menyunting surat ini, Depdiknas (2003:6) memberikan penjelasan tentang

menyunting, yaitu sebagai berikut.

Menyunting merupakan salah satu kompetensi yang dituntut di dalam


daftar kompetensi dasar yang senantiasa hadir dalam kegiatan mengarang.
Melalui kegiatan menyunting, siswa ditajamkan keterampilannya
mengidentifikasi kesalahan atau kekurangjelasan mengungkapkan sesuatu
dan dilatih melakukan pembenahan baik secara sendiri-sendiri maupun
dalam diskusi dengan teman.

Karena peranannya itu, menyunting surat yang baik dan benar sangat

penting dimiliki oleh setiap orang, terutama para pelajar. Kemampuan

memperbaiki komposisi surat yang meliputi aspek kebahasaan, isi, dan sistem

penyajiannnya perlu dimiliki sebagai modal untuk menulis surat dengan baik.

Memperbaiki aspek kebahasan, isi, dan bentuk penting dikuasai, menginggat

semua informasi yang ditulis akan mudah dimengerti jika menggunakan ejaan,

tanda baca, diksi, struktur kata, kalimat, paragraf, gagasan, dan isi yang baik dan

benar. Para siswa perlu memiliki kemampuan menyunting aspek kebahasan surat

sebagai bagian dari upaya melatih kemampuan menulis surat dengan baik.

Melalui kegiatan menyunting surat, siswa akan dilatih menemukan dan

memperbaik kesalahan aspek kebahasaan surat dan menjadikannnya sebagai

pengalaman penting untuk menulis surat dengan baik dan benar.

Kemampuan menyunting surat yang baik memiliki korelasi resiprokal

dengan kemampuan siswa menulis surat dengan lebih baik. Kendati demikian,

kemampuan siswa dalam menyunting mamsih belum memuaskan dan perlu

11
ditingkatkan. Salah satu upaya mengatasi permasalahn tersebut ialah dengan

menggunakan metode inkuiri. Berdasarkan uraian di atas, kerangka pemikiran

penelitian ini daapat diringkas sebagai berikut.

Kemampuan menyunting surat sangat penting

Menyuntung kebahasaan surat bermanfaat untuk menulis surat dengan

baik, benar, dan efektif

Kemampuan siswa dalam menyuntung masih belum baik

Metode inkuiri dapat digunakan untuk mengatasai permasalahan dalam

menyunting surat

1.7 Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian

1.7.1 Angapan Dasar

Anggapan dasar atau asumsi merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang

kebenarannya diterima oleh peneliti. Anggapan dasar atau asumsi yang melatar

belakangi penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Menyunting surat resmi merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus

diajarkan dan dimahirkan kepada siswa SMP sebagai bagian dari kompetensi

menulis secara umum (Depdiknas, 2006:233).

2) Kemampuan siswa dalam menyunting surat masih belum memuaskan.

12
3) Metode inkuiri dapat membantu siswa mampu menyunting surat resmi dengan

baik dan bermakna. Metode inkuiri dapat dijadikan stimulus bagi siswa dalam

menyunting surat resmi dengan baik.

1.7.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan rumusan jawaban atau kesimpulan sementara yang

harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian. Hipotesis

dalam penelitian ini disusun dalam dua bentuk perumusan sebagai dasar

implementasi analisis data. Hipotesis itu berbentuk hipotesis alternatif/hipotesis

kerja (Ha) dan hipotesis nihil/nol (Ho).

Penggunaan dua hipotesis ini dimaksudkan agar penulis tidak memiliki

kecenderungan untuk mengarahkan hasil penelitian yang bersifat memihak.

Berkaitan dengan hal itu, Arikunto (1993: 66) berpendapat bahwa dalam

penelitian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi hipotesis nihil/nol (Ho), agar

peneliti tidak mempunyai prasangka atau tidak terpengaruh pernyataan Ha.

Kemudian dikembalikan lagi ke Ha pada rumusan akhir pengetasan hipotesis.

Adapun hipotesis yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1) Hipotesis alternatif/kerja (Ha) :

“Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan metode inkuiri”.

13
2) Hipotesis nihil/nol (Ho) :

“Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan metode inkuiri”.

1.8 Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen

dengan jenis eksperimen semu. Metode tersebut digunakan karena penelitian ini

bertujuan ingin meneliti kemungkinan adanya efek dari adanya sebuah kondisi

perlakuan (treatment) kepada sebuah kelompok eksperimen dan

memperbandingkannya dengan kelompok kontrol. Melalui penelitian ini ingin

diketahui efek penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan siswa

menyunting surat resmi.

Desain penelitian eksperimen yang digunakan ialah Pretest and Postest

Group Design (Arikunto, 1993:77). Di dalam desain ini, tes dilakukan sebanyak

dua kali, yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang

dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretes dan observasi sesudah

eksperimen (O2) disebut postes. Perbedaan antara O1 dan O2, yakni O2 -- O 1

diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen.

Skema desain tersebur tampak gambar berikut.

Pretes Treatment Postes

(T1) (Perlakuan) (T2)

O1 X O2

14
Teknik dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu teknik

pengumpulan data dan teknik pengolahan data. Teknik pengumpulan data yang

digunakan ialah teknik tes. Tes tersebut meliputi tes awal (pretes) dan tes akhir

(postes). Tes tersebut berupa tes keterampilan menulis petunuk sebelum dan

sesudah menggunakan metode inkuiri. Dengan demikian, instrumen pengumpulan

data yang akan digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi.

Analisis data dilakukan dengan memperhatikan metode penelitian, desain

penelitian, dan tujuan penelitian. Teknik analisis data atau pengolahan data untuk

menguji hipotesis digunakan teknik statistik parametris, yaitu uji t atau t-test.

Untuk keperluan uji hipotesis, dilakukan beberapa langkah, yaitu mengajukan

kembali hipotesis, menetapkan degrees of freedom (df) atau derajat bebas (db)

dengan rumus df= (N1+N2)-2, menetapkan kriteria signifikansi dengan uji dua

pihak, yaitu taraf signifikansi (keberartian) sebesar 1% dan 5% dan taraf

reliability (kepercayaan) sebesar 99% dan 95%, dan membandingkan nilai hitung

(to) dengan dengan nilai t tabel (tt). Pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut.

Jika pada taraf signifikansi 1% dan 5% nilai hitung (to) lebih besar daripada nilai t

tabel (tt), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nihil (Ho) ditolak.

Sebaliknya, jika nilai hitung (to) lebih kecil daripada nilai t tabel (tt), maka

hipotesis alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nihil (Ho) diterima.

15
1.9 Lokasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Plered Purwakarta.

Kegiatan di lokasi tersebut diantaranya adalah kegiatan mengumpulkan data dari

sampel penelitian melalui kegiatan pembelajaran. Penetapan lokasi penelitian di

sekolah tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu jarak yang

ditempuh relatif dekat, waktu tempuh tidak terlalu lama, dan dana yang digunakan

relatif efisien.

Sumber data mengacu pada populasi dan sampel. Populasi merupakan

keseluruhan objek atau subjek penelitian. Berdasarkan sumber data sebagai subjek

penelitian dan bentuk data sebagai subjek penelitian, maka populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata

tahun ajaran 2009/2010 beserta seluruh data yang berjumlah 200 siswa. Sampel

penelitian adalah sebagian dari wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam

penelitian ini diambil dengan teknik sampling, yaitu purposive sampling,

sebanyak 40 orang siswa kelas kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata

tahun ajaran 2009/2010.

Agenda pelaksanaan penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi

kegiatan menyerahkan judul dan proposal, seminar proposal, penetapan dosen

pembimbing, dan perbaikan proposal. Tahap pelaksanan meliputi kegiatan

penyusunan Bab I, II, dan III dengan bimbingan, pengumpulan data, pengolahan

data, penyusunan Bab IV dan Bab V dengan bimbingan, dan penyusunan draf

16
skripsi terakhir. Tahap penyelesaian meliputi kegiatan seminar prasidang,

penggandaan skripsi, ujian sidang, dan revisi serta penjilidan.

1.10 Sistematika Penulisan

Skripsi ini akan diusun dengan mengikuti sistematika penulisan berikut.

KATA PENGANTAR

ABSTRAK

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan diuraikan latar belakang masalah, perumusan dan

pembatasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka

pemikiran, anggapan dasar dan hipotesis, variabel penelitian, definisi

operasional, metodologi, lokasi dan sampel, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisi uraian tentang landasan teoritis yang menyangkut masalah

pengajaran menyunting surat resmi, metode inkuiri, kemampuan

menyunting surat resmi dengan metode inkuiri, dan aspek penilaian

buku harian.

17
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang metode dan desain penelitian, operasional

variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instumen

pengumpul data, teknik aalisis data, dan rancangan uji hipotesis.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi uraian hasil penelitian, deskripsi data, pengujian hipotesis,

temuan dan pembahasan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan penelitian dan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

1.10 Lokasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Plered Purwakarta.

Kegiatan di lokasi tersebut diantaranya adalah kegiatan mengumpulkan data dari

sampel penelitian melalui kegiatan pembelajaran. Penetapan lokasi penelitian di

sekolah tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu jarak yang

ditempuh relatif dekat, waktu tempuh tidak terlalu lama, dan dana yang digunakan

relatif efisien.

Sumber data mengacu pada populasi dan sampel. Populasi merupakan

keseluruhan objek atau subjek penelitian. Berdasarkan sumber data sebagai subjek

penelitian dan bentuk data sebagai subjek penelitian, maka populasi dalam

18
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata

tahun ajaran 2009/2010 beserta seluruh data yang berjumlah 200 siswa. Sampel

penelitian adalah sebagian dari wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam

penelitian ini diambil dengan teknik sampling, yaitu purposive sampling,

sebanyak 40 orang siswa kelas kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata

tahun ajaran 2009/2010.

Agenda pelaksanaan penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi

kegiatan menyerahkan judul dan proposal, seminar proposal, penetapan dosen

pembimbing, dan perbaikan proposal. Tahap pelaksanan meliputi kegiatan

penyusunan Bab I, II, dan III dengan bimbingan, pengumpulan data, pengolahan

data, penyusunan Bab IV dan Bab V dengan bimbingan, dan penyusunan draf

skripsi terakhir. Tahap penyelesaian meliputi kegiatan seminar prasidang,

penggandaan skripsi, ujian sidang, dan revisi serta penjilidan.

19
BAB II

LANDASAN TEORITIS

TENTANG MENYUNTING SURAT RESMI

DENGAN MERODE INKUIRI

2.1 Konsep Surat Resmi

2.1.1 Pengertian Surat Resmi

Tarigan, et.al. (1998:8.39) membagi surat atas dua jenis, yaitu surat

pribadi dan surat resmi (dinas). Sementara itu, Soedjito dan Solchan (1991:14)

membedakan surat atas tiga jenis, yaitu surat pribadi, surat resmi (dinas), dan surat

niaga (dagang). Baik Tarigan (1998: 8.39) maupun Soedjito dan Solchan (199:14)

sependapat bahwa surat resmi (surat dinas) adalah surat yang dikirim oleh

individu atau lembaga kepada lembaga yang bersifat resmi. Sebuah surat

dikatakan resmi apabila ditulis oleh seseorang atau instansi, jawatan, organisasi,

dan sejenisnya untuk instansi lain atau individu dengan memperhatikan bentuk

surat yang lazim, bahasa yang baku/resmi, dan sifat-sifat keformalan lainnya.

Konsep tersebut sekaligus mencakup makna surat dinas. Karena itu, surat

resmi dering disamakan dengan surat dinas. Sebuah surat dikatakan bersifat

kedinasan jika isinya berupa informasi mengenai urusan dinas dan bersifat resmi.

Karena menyangkut hubungan formal, maka sifatnya surat harus resmi dengan

memperhatikan bahasa baku, lugas, dan seperlunya saja. Kadang-kadang semua

komponen surat ditulis dalam surat resmi.


Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa surat resmi/

dinas ialah surat yang dikirim oleh individu atau lembaga/organisasi kepada

lembaga atau individu atau sebaliknya yang berisi informasi tentang urusan dinas

dan bersifat resmi. Dari pengertian tersebut ada beberapa karakteristik surat resmi.

Berikut ciri-ciri yang dimaksud dalam bentuk tabel.

Tabel 2.1

Ciri-Ciri Surat Resmi

No.
Aspek Ciri-ciri

1. Pengirim Pengirim bisa dari perseorangan atau lembaga,

instani, jawatan, perusahaan, organisasi dari

jenisnya, baik pemerintah maupun swasta.

2. Penerima Penerima (terkirim) bisa perseorangan, lembaga,

instansi, jawatan, perusahaan, organisasi dan

sejenisnya, baik pemerintah maupun swasta.

3. Informasi/pesan Informasi/pesan menyangkut urusan kedinasan

yang bersifat resmi/formal dalam lingkungan

kedinasan atau keformalan.

4. Bentuk Surat Surat resmi biasanya disusun dalam bentuk yang

lazim dalam korespondensi yang bersifat resmi

dengan memperhatikan bagian-bagian surat.

5. Penulisan Surat resmi dibuat dengan cara diketik atau ditulis

tangan dengan memperhatikan kerapian,

18
kejelasan, kelogisan, kelugasan, dan keefektifan.

6. Bahasa Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang

benar/baku sesuai dengan kaidah bahasa

Indonesia.

2.1.2 Jenis-Jenis Surat Resmi

Baik Soedjito dan Solchan (1991:14) mendeskripsikan jenis-jenis surat

resmi meliputi surat undangan, permohonan, pemberitahuan, pengantar,

keputusan, perjanjian, kuasa, instruksi, lamaran pekerjaan, nota dinas, ucapan

terima kasih, wasiat dan sebagainya. Semua jenis surat tersebut tidak dijadikan

bahan pembelajaran untuk siswa SMP, baik untuk kelas 7, kelas 8, dan kelas 9.

Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendiaikan SMP, jenis surat yang

dijadikan kompetensi dasar, khususnya jenis surat resmi adalah surat permohonan,

surat undangan, dan jenis surat lain yang relevan dengan kebutuhan siswa.

Dalam konteks penelitian ini, jenis surat yang akan diangkat sebagai

bagian dari penelitian kompetensi menyunting surat resmi yang juga menjadi

salah satu variabel penelitian hanya satu jenis surat, yaitu surat undangan. Jenis

surat ini dipilih karena faktor keseringan dan fungsinya dalam berkorespondensi

sangat penting. Siswa diharapkan dapat menyunting surat resmi dengan baik

sehingga dapat surat undangan dengan baik pula.

2.1.3 Bagian-bagian Surat Resmi

Bagian-bagian surat adalah komponen-komponen yang mengisi letak

surat. Bagian-bagian surat untuk jenis surat resmi biasanya lengkap. Umumnya

19
komponen surat meliputi, yaitu : kepala surat, nama tempat dan tanggal, nomor

surat, lampiran, hal/perihal, alamat surat, salam pembuka, isi (tubuh) surat, salam

penutup, dan tembusan. Unsur lain yang selalu ada dalam surat resmi adalah tanda

tangan, nama terang, nomor induk pegawai dan cap.

Surat resmi yang dikirim oleh perseorangan dapat menggunakan sebagian

dari seluruh komponen surat tersebut. Kepala surat, nomor surat, tembusan dan

cap surat boleh diabaikan. Akan tetapi, ciri keformalan surat yang dikirim tentu

saja masih dapat ditemukan. Dalam hal ini, selain dari bagian-bagian surat yang

dihadirkan, juga dari penggunaan bahasa yang baku, lugas atau resmi.

Untuk lebih jelas, berikut ini gambar bagian-bagian surat yang disadur dari

Soedjito dan Solchan (1991:23).

20
----------------- Keterangan :
a ----------------------- (1) a/(1) : Kepala Surat
____________________________________ b : Pembukaan
c : Isi surat
--------------- (3) --------------- (2) d : Penutup
--------------- (4) (2) : Nama tempat
--------------- (5) dan tanggal
(3) : Nomor
------------------------- (6) (4) : Lampiran
b
--------------- (5) : Hal/Perihal
--------------- (6) : Alamat
(7) : Salam pembuka
--------------------(7) (8a) : Pembukaan
(8b) : Isi sesungguhnya
--------------------------------------- (8a) (8c) : Penutup
------------------------------------------------ (9) : Salam penutup
c --------------------------------------- (8b) (10) : Tanda tangan
------------------------------------------------ (11) : Nama terang
--------------------------------------- (8c) (12) : NIP
------------------------------------------------ (13) : Tembusan
(14) : Cap (Stempel)
----------------------- (9)
(14) (10)
d --------------------- (11)
--------------------- (12)
--------------------- (13)
---------------------
---------------------

Gambar 2.1

Bagian bagian Surat

Bagian-bagian surat di atas dapat dikelompokkan ke dalam empat rangka

surat. Menurut Marjo (2005:45) rangka surat terdiri dari kop surat, leher surat,

badan surat, dan kaki surat. Berikut ini klasifikasi bagian-bagian tersebut.

21
Tabel 2.2

Klasifikasi Bagian-Bagian Surat

BAGIAN
ASPEK BAGIAN SURAT
SURAT

a. Nama organisasi/badan atau perusahaan

b. Alamat lengkap

c. Nomor telepon, telex, kotak pos

d. Alamat kawat
Kop Surat
e. Alamat kantor

f. Jenis usaha

g. Nama bankir perusahaan

h. Lambang perusahaan/logo.

a. Tanggal surat

b. Nomor surat

c. Lampiran
Leher Surat
d. Hal/perihal

e. Sifat surat

f. Alamat yang dituju

g. Salam pembuka

h. Kalimat pembuka
Badan surat
i. Isi surat

j. Kalimat penutup

22
a. Salam penutup

b. Nama dan jabatan

c. Tanda tangan

Kaki surat d. Nama lengkap

e. Tembusan

f. Stempel badan, organisasi, perusahaan

g. Inisial pembuat surat.

Dalam menggunakan bagian-bagian surat tersebut, perlu diperhatikan

penataannya. Hal ini dimaksudkan agar perwujudan surat menampakkan

keharmonisan bentuk sajian, mencerminkan kerapihan penulisan, dan

memperlihatkan bentuk yang benar. Berikut ini gambar jarak bagian-bagian

surat seperti diungkapkan oleh Soedjito dan Solchan (1991:24).

23
-----------------
----------------------- (1)
________________________________
4 Kait 2 Kait

--------------- (3) --------------- (2)


--------------- (4)
--------------- (5)
2 Kait
------------------------- (6)
---------------
---------------
2 Kait
--------------------(7)
2 Kait
--------------------------------------- (8a)
------------------------------------------------
2 Kait
--------------------------------------- (8b)
------------------------------------------------
2 Kait
--------------------------------------- (8c)
------------------------------------------------
3 Kait
----------------------- (9)
(10)
4 Kait
--------------------- (11)
--------------------- (12)
--------------------- (13)

Gambar 2.2

Jarak Bagian-Bagian Surat


---------------------

Untuk memperjelas bagian-bagian surat, berikut deskripsi bagian-bagian

surat secara ringkas.

24
1) Kepala Surat atau Kop Surat

Kepala surat disebut juga kop surat. Biasanya diketik ditengah-tengah dan

boleh juga ditulis disebelah kiri atas. Kepala surat disusun (kadang-kadang sudah

dicetak) dalam bentuk yang menarik. Isi kepala surat antara lain : lambang, nama

unit organisasi/lembaga, alamat, nomor telepon (jika ada), nomor kotak pos (jika

ada), dan nama alamat kawat (jika ada).

Untuk surat niaga, dapat dilengkapi nama bankir, nama usahanya, gambar

yang bersifat reklame, dan alamat kantor (pusat atau cabang). Kepala surat itu

menunjukkan keresmian sebuah surat. Karena itu, untuk surat pribadi kepala surat

tidak perlu ditulis. Menurut Silmi (2002:6), kepala surat berfungsi sebagai “alamat

pengenal, alat pemberian informasi, dan sebagai tanda advertensi atau iklan”.

Berikut contoh kepala surat.

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 TEGALWARU

Jalan Raya Sukapadi Tegalwaru No.11 Telepon (0264) 270000

2) Tempat dan Tanggal Surat

Tanggal surat berisi tempat, tanggal, bulan dan tahun surat ditulis atau

dikirim. Jika dalam kepala surat sudah tertera alamat, maka untuk alamat pada

tanggal surat tidak perlu ditulis lagi. Tanggal surat ini dtulis atau diketik di

sebelah kiri atas (bentuk surat lurus penuh) atau di sebelah kanan atas (bentuk

setengah lurus dan Indonesia).

25
Ada beberapa ketentuan dalam menulis tanggal surat. Nama bulan

hendaknya ditulis dengan huruf secara utuh atau tidak boleh disingkat dan diganti

dengan angka. Demikian pula dengan angka tahun, hendaknya ditulis lengkap,

jangan ditulis dua angka terakhir saja. Di belakang angka tahun tidak boleh ada

tanda titik ( . ). Letak penulisan tempat dan tanggal surat yang dibuat, meski

disesuaikan dengan bentuk (format) surat. Kebanyakan tempat dan tanggal surat

di sebelah pojok kanan atas. Berikut contoh tanggal surat.

Tegalwaru, 20 April 2010

3) Nomor Surat

Dalam surat resmi yang dikirim oleh organisasi atau lembaga, nomor surat

selalu dicantumkan. Nomor surat berisi nomor surat yang dikirimkan (keluar),

kode dan tahun. Nomor surat ditulis segaris dengan tanggal surat (untuk bentuk

lurus, setengah lurus dan Indonesia).

Fungsi nomor surat adalah salah satu atau kombinasi dari fungsi-fungsi

berikut. Memudahkan pengaturan penyimpanan, memudahkan mecnari kembali,

mengetahui jumlah surat yang keluar, mempercepat penyelesaian surat-menyurat

(membalas surat), dan memudahkan petugas kearsipan.

Contoh nomor surat adalah seperti berikut.

Nomor : 05/OSIS-
OR/2010

26
4) Lampiran

Jika bersama surat yang dikirimkan disertakan surat atau lembaran-

lembaran tambahan, maka perlu dituliskan dalam lampiran. Lampiran berfungsi

menerangkan jumlah keterangan lain yang ikut disertakan dalam surat. Jika tidak

ada yang dilampirkan, cukup dituliskan dengan cara berikut, yaitu lampiran atau

tidak dituliskan. Contoh lampiran adalah seperti berikut.

Lampiran : 4 (empat) helai


Lampiran : 4 (empat) eksampler
Lamp. : 4 (empat)
lembar

5) Hal/Perihal

Hal/perihal menunjukkan isi atau inti surat secara singkat. Dengan

membaca hal/perihal, secara cepat dapat diketahui masalah yang ditulis dalam

surat itu. Karena itu, hal/perihal dapat disamakan dengan judul karangan biasa

yang wujud dan cara menulisnya berupa frase (bukan kalimat) dan huruf pertama

setiap kata ditulis dengan huruf kapital. Sama dengan lampiran, di belakang

hal/perihal tidak boleh ada tanda titik ( . ). Menurut Silmi (2004 8) hal/perihal

berfungsi untuk intisari surat secara keseluruhan, intisari pokok permasalahan, dan

referensi atau acuan bagi petugas administrasi.

Adakalnya pengirim surat menunjukkan sifat yang dikirim. Sifat surat

biasanya ditulis di bawah nomor surat atau di bawah hal/perihal. Sifat surat resmi

dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu : (1) rahasia, (2) penting, dan (3) biasa. Surat

rahasia ialah surat yang dipakai untuk naskah, dokumen, rekomendasi atau surat

lain yang bersifat rahasia (tertutup). Surat penting ialah surat yang isinya

27
mengandung kepentingan yang mengikat, memerlukan tanda lanjut dan

mengandung informasi yang diperlukan dalam waktu lama, misalnya : surat

keputusan, peraturan, instruksi, dan sebagainya. Sementara, surat biasa ialah surat

yang informasinya tidak rahasia/penting atau kegunaannya relatif singkat dan

terbuka. Misalnya surat undangan, pengumuman, dan sebagainya.

Mengenai hal/perihal, berikut contohnya.

Perihal : Undangan Rapat OSIS

6) Alamat Surat/Alamat Dalam

Alamat surat menunjukkan alamat pihak yang dituju. Ada dua macam

alamat surat, yaitu alamat dalam (ditulis dalam surat) dan alamat luar (ditulis pada

amplop). Isi alamat surat biasanya mengenai hal-hal berikut, yaitu (1) nama

orang/ nama jabatan, (2) nama jalan dan nomor rumah/gedung/kantor, dan (3)

nama kota. Ketiga unsur pokok ini masih ditambah dengan penggunaan beberapa

kata, yaitu (4) kata kepada, (5) kata sapaan kalimat/Yth, (6) kata sapaan atau

sebutan (Saudara, Bapak, atau Ibu), dan (7) kata depan di yang ditulis di depan

nama kota.

Beberapa ketentuan dalam penulisan alamat surat ialah sebagai berikut :

a) Penggunaan kata depan dan kepada

(1) Kata depan Kepada merupakan kepala alamat surat diketik berdiri sendiri

pada bagian atas (terpisah) atau di kiri dengan menggunakan tanda baca

titik dua ( : ) atau diketik satu baris dengan pihak yang dituju.

(2) Kepala kalimat Kepada boleh tidak dituliskan, karena sudah jelas kepada

siapa surat itu ditujukan.

28
(3) Kata depan Kepada dipakai di depan kata yang menunjukkan orang, tidak

dipakai di depan nama kantor/perusahaan/jawatan/instansi.

b) Penggunaan kata sapaan hormat (Yth.)

(1) Ucapan penghormatan Yang terhormat dapat disingkat menjadi Yth.,

dengan diakhiri tanda baca titik ( . ).

(2) Penulisan Yth. di belakang kata Kepada secara berdiri sendiri atau

menggantung (tanpa diikuti kata sebutan/jabatan) tidak tepat.

(3) Penulisan Yth. boleh lebih dari satu apabila penulisan alamat surat

berganda.

c) Kata sebutan dan nama orang/jabatan/pimpinan

(1) Di belakang Yth. dituliskan kata sebutan Saudara (disingkat Sdr.), Bapak

(jangan disingkat Bp./Bpk.), atau Ibu.

(2) Di belakang kata sebutan Bapak, Ibu, atau Sdr. dituliskan nama orang,

jabatan, pimpinan, dan sejenisnya. Nama orang hendaknya ditulis lengkap

(jangan disingkat atau dipendekkan) untuk menjaga kesopanan).

(3) Kata sebutan Bapak, Ibu atau Sdr. di depan nama orang atau jabatan

boleh tidak dicantumkan untuk menunjukkan sifat resmi serta

menghilangkan basa-basi. Jika ditujukan kepada perseorangan, ucapan

penghormatan Yth. yang diikuti oleh kata sebutan Bapak, Ibu, Sdr.

hendaknya ditulis.

(4) Surat hendaknya dialamatkan kepada pejabatnya, bukan nama kantornya.

Jika pejabat itu tidak diketahui dengan pasti namanya, misalnya Rektor,

maka dapat dipakai sebutan “Kepala” atau “Pimpinan”.

29
d) Nama jalan, nomor rumah/kantor, dan nama kota

(1) Nama jalan hendaknya ditulis lengkap, jangan disingkat atau

dipendekkan. Misalnya : Jalan Jenderal Sudirman.

(2) Nama kota diketik berdiri sendiri tanpa digaris bawahi dan tidak diberi

tanda baca titik ( . )

(3) Nama kota biasanya kata depan di. Kata depan di sebagai pengantar nama

kota ditulis menyatu, tidak menggantung atau terpisah. Kata depan di

boleh dihilangkan.

Demikianlah deskripsi tentang alamat dalam surat. Berikut ini beberapa

contoh alamat surat.

Kepada

Yth. Sdr. Drs. Supono

Jalan Jengkol 13

Purwakarta

Yth. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru

Jalan Raya Sukapanen

Tegalindah Purwakarta

Untuk alamat luar dituliskan pada amplop yang berukuran 10,5 x 23 Cm.

Alamat luar disusun berturut-turut sebagai berikut : (1) kata depan Kepada, (2)

kata sapaan hormat/Yth, (3) kata sebutan, (4) nama orang atau jabatan, (5) nama

instansi, (6) nama jalan, gang, nomor rumah/kantor, dan (7) nama kota dan kode

pos.

30
Alamat yang dituju terletak pada seperempat bagian sebelah kanan bawah

sampul. Hurup K pada kata Kepada terletak tepat di titik tengah sampul. Alamat

pengirim dapat dituliskan pada salah satu dari tiga kemungkinan. Pertama, pada

halaman muka di sudut kiri atas/tengah. Kedua, pada halaman muka di sudut kiri

bawah. Ketiga pada halaman belakang sampul di bagian atas tengah. Berikut

contoh alamat surat bagian luar.

Ryan Romadona
Jalan Ahmad Yani 13
Purwakarta

Kepada :
Yth. Bapak Mahendra
Jalan Beludru 31
Bandung

Ryan Romadona
Jalan Ahmad Yani 13
Purwakarta

Gambar 2.3

Penulisan Alamat Luar Surat

31
7) Salam Pembuka

Salam pembuka merupakan salam hormat atau tanda hormat sebagai

pembuka sebelum menyampaikan isi surat. Dalam beberapa jenis surat resmi,

salam pembuka yang sering digunakan ialah Dengan hormat yang ditulis terpisah

di bawah alamat surat. Sering pula dijumpai salam pembuka bernafaskan

keagamaan, seperti Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan salam pembuka di

antaranya ialah :

a. Salam pembuka ditulis mandiri di bawah alamat surat dan diakhiri dengan

tanda baca koma ( , ).

b. Salam pembuka Dengan hormat tidak boleh disingkat menjadi Dh. atau DH.

c. Salam pembuka Dengan hormat dapat dihilangkah dan diintegrasikan pada

kalimat pertama pembukaan surat, misalnya :


Kami beritahukan dengan hormat bahwa …
Dengan hormat kami sampaikan bahwa …

Contoh-contoh yang lainnya misalnya : Tuan yang terhormat, Nyonya

yang terhormat, salam sejahtera, salam bahagia, dan lain-lain.

8) Isi Surat/Tubuh Surat

Isi surat umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) pembukaan, (2) isi

yang sesungguhnya/isi pokok, dan (3) penutup. Dengan demikian, isi surat

disusun dalam tiga paragraf. Meskipun demikian, pada beberapa surat, dapat

ditemukan hanya dua bagian saja yang ditulis. Bagian pembuka dan isi pokok

32
digabungkan, lalu diakhiri penutup surat. Dengan demikian, paragraf pertama

tubuh surat itu sekaligus memaparkan isi yang dimaksud.

Pembukaan berguna untuk mengantar dan menarik perhatian pembaca

terhadap pokok surat. Untuk itum harus digunakan kalimat-kalimat pembuka yang

sesuai dengan maksud dan tujuan surat. Isi pokok surat berisi sesuatu yang

diberitahukan, dikemukakan, ditanyakan, disusun dan sebagainya yang dikirim

kepada penerima surat. Sementara, penutup surat merupakan kesimpulan yang

berfungsi sebagai kunci isi surat. Isi penutup surat merupakan salah satu dari

empat kemungkinan berikut, yaitu : (1) untuk menyatakan rasa terima kasih, (2)

untuk menunjukkan suatu kenyataan yang telah disebutkan sebelumnya, (3) untuk

menyatakan suatu harapan, dan (4) untuk menyatakan sesuatu yang dinantikan.

9) Salam Penutup

Salam penutup merupakan salah satu bagian penutup surat,s elain bagian

lainnya, yaitu : nama jabatan, nama terang, tanda tangan, nomor kepegawaian,

cap/stempel, dan tembusan. Salam penutup dalam surat mengandung makna

sebagai ucapan hormat di bagian akhir surat. Karena itu, salam penutup selalu

ditulis serangkai dengan bagian-bagian tersebut.

Penulisan salam penutup biasanya disesuaikan dengan penulisan salam

pembuka. Jika pada salam pembuka digunakan ucapan hormat assalamu’alaikum

dan dengan hormat, maka dalam salam penutup digunakan ucapan wassalam,

salam kami, atau hormat kami/hormat saya.

33
Berikut contoh salam penutup.

Wasalam,
Sekretaris,

ttd

Ryan Romadona

10) Tembusan

Tembusan/tindasan (c.c. = carbon copy) dilihat jika isi surat yang dikirim

kepada pihak yang sebenarnya dituju, perlu juga diketahui oleh pihak-pihak lain

yang ada hubungannya dengan isi surat tersebut. Dengan cara demikian, yang

dikirimi surat akan mengerti siapa saja yang juga diberitahu tentang isi surat itu.

Apabila pihak lain dipandang tidak perlu mengetahui isi surat itu, maka tembusan

tidak perlu ditulis.

Dalam surat resmi terdapat bermacam-macam penulisan tembusan.

Ketentuan penulisan tembusan diantaranya adalah sebagai berikut :

a) Penulisan kata tembusan boleh menggunakan huruf kecil, baik digarisbawahi

atau tidak dengan huruf kapital di awal kata.

Contoh : Tembusan : atau Tembusan :

b) Penulisan kata tembusan boleh juga menggunakan huruf kapital semua, baik

digarisbawahi atau tidak.

Contoh : TEMBUSAN : atau TEMBUSAN :

c) Ketentuan a dan b di atas digunakan dengan menambah kata sapaan hormat

dibelakangnya (Yth.).

Contoh : Tembusan Yth. : atau Tembusan Yth.:

34
TEMBUSAN YTH. : atau TEMBUSAN YTH.:

d) Ketentuan c di atas digunakan dengan menambah kata-kata disampaikan

kepada Yth. : di belakang kata ketentuan.

e) Isi tembusan yang sering dijumpai, yaitu arsip atau pertinggal tidak perlu

dicantumkan, sebab setiap mengetik surat untuk dikirimkan dengan sendirinya

ditinggalkan/disimpan selembar sebagai arsip.

Berikut contoh penulisan tembusan.

Tembusan Yth. :
1. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta
2. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru

TEMBUSAN :
1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta
2. Yth. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru
3.

2.1.3 Bentuk-Bentuk Surat Resmi

Yang dimaksud bentuk surat adalah susunan letak bagian-bagian surat.

Variasi susunan bagian-bagian surat menyebabkan timbulnya bermacam-macam

bentuk surat. Dengan adanya variasi bentuk surat, memberikan kemungkinan

pemilihan bentuk surat yang tepat guna memperoleh efisiensi penulisan surat.

Berkaitan dengan variasi bentuk surat itu, Soedjito dan Solehan (1991:15)

menjelaskan adanya lima bentuk surat dalam surat menyurat resmi, yaitu : bentuk

lurus penuh, bentuk lurus, bentuk setengah lurus, bentuk lekuk, dan bentuk

Indonesia. Sementara itu, Marjo (2005 : 60) mengemukakan beberapa bentuk

surat, yaitu bentuk lurus penuh, bentuk lurus, bentuk setengah lurus, bentuk

35
persegi, bentuk sederhana, bentuk lekuk, bentuk resmi/dinas pemerintah, bentuk

Amerika, bentuk personal Inggris, bentuk bisnis Inggris, dan bentuk lengkap.

1) Bentuk Lurus Penuh (Full Block Style)

Pada bentuk surat lurus penuh, semua bagian surat diketik mulai dari

margin kiri yang sama. Paragraf yang satu dengan yang lain berjarak satu baris.

Bentuk surat tersebut adalah seperti berikut.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________
---------------------(2)
--------------- (3)
--------------- (4)
--------------- (5)
------------------------- (6)
-------------------------
---------------
-------------------- (7)
--------- --------------------------------------- (8a)

------------------------------------------------
------------------------------------------------ (8b)
------------------------------------------------
-------- --------------------------------------- (8c)
------------------------------------------------
----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
--------------------- (12)
------------------------ (13)
--------------------- (Soedjito dan Solchan, 1991 : 25)
---------------------
Gambar 2.4

Bentuk Lurus Penuh

36
2) Bentuk Lurus (Block Style)

Pada surat bentuk ini, semua bagian surat kecuali tanggal dan salam

penutup, diketik mulai dari margin yang sama. Tanggal dan salam penutup diketik

di sebelah kanan bawah. Pengetikan sama seperti bentuk lurus penuh. Berikut

gambar surat lurus.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________
--------------- (3) --------------- (2)
--------------- (4)
--------------- (5)
------------------------- (6)
---------------
---------------
-------------------- (7)
--------- --------------------------------------- (8a)

------------------------------------------------
------------------------------------------------ (8b)
------------------------------------------------
------------------------------------------------ (8c)
------------------------------------------------
----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
--------------------- (12)
--------------------------- (13)
---------------------
---------------------
(Soedjito dan Solchan, 1991: 22)

Gambar 2.5

Bentuk Surat Lurus

37
3) Bentuk Setengah Lurus (Semi Block Style)

Semua bagian surat, kecuali isi surat, diketik sama seperti bentuk lurus.

Setiap alinea baru diketik sesudah 5 ketukan dari margin kiri. Alinea yang satu

dengan yang lain tidak berjarak. Berikut gambar bentuk surat yang dimaksud.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________
--------------- (3) --------------- (2)
--------------- (4)
--------------- (5)
------------------------- (6)
---------------
---------------
-------------------- (7)
--------------------------------------- (8a)

------------------------------------------------
--------------------------------------- (8b)
------------------------------------------------
--------------------------------------- (8c)
------------------------------------------------
----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
--------------------- (12)
------------------------- (13)
---------------------
---------------------
(Soedjito dan Solchan, 1991:29)

Gambar 2.6

Bentuk Surat Setengah Lurus

38
4) Bentuk Lekuk (Idented Style)

Pada bentuk surat lekuk, semua bagian surat kecuali alamat, diketik sama

seperti bentuk setengah lurus. Alamat surat diketik sebagai berikut.

a) Baris pertama (nama orang pejabat) diketik mulai dari margin kiri.

b) Baris kedua (nama jalan) diketik sesudah lima ketukan dari margin kiri.

c) Baris ketiga diketik sesudah lima ketukan dari nama jalan.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________
--------------- (3) --------------- (2)
--------------- (4)
--------------- (5)
------------------------- (6)
---------------
---------------
-------------------- (7)
--------------------------------------- (8a)

------------------------------------------------
--------------------------------------- (8b)
------------------------------------------------
--------------------------------------- (8c)
------------------------------------------------
----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
--------------------- (12)
------------------------- (13)
---------------------
---------------------
(Soedjito dan Solchan, 1991:31)

Gambar 2.7

Bentuk Surat Lekuk

39
5) Bentuk Indonesia (Indonesian Style)

Pada bentuk ini, semua bagian surat, kecuali alamat diketik sama seperti

bentuk setengah lurus. Alamat surat diketik sebelah kanan di bawah tanggal surat,

sebaris dengan hal/perihal. Berikut bentuk surat yang dimaksud.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________
--------------- (3) ----------------- (2)
--------------- (4)
--------------- (5)
------------------------- (6)
---------------
---------------
-------------------- (7)
--------------------------------------- (8a)

------------------------------------------------
--------------------------------------- (8b)
------------------------------------------------
--------------------------------------- (8c)
------------------------------------------------
----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
--------------------- (12)
------------------------- (13)
---------------------
---------------------
(Soedjito dan Solchan, 1992:33)

Gambar 2.8

Bentuk Indonesia

40
6) Bentuk Persegi (Square Block Style)

Pada bentuk ini, semua bagian surat, kecuali tempat/tanggal surat dan hal

diketik mulai dari margin kiri. Berikut bentuk surat tersebut.

-----------------
----------------------- (1)
________________________________

----------------- (2)

------------------------- (6)
-------------------------
-------------------------

-------------------- (5)

--------------------, (7)

------------------------------------------------ (8a)

------------------------------------------------

------------------------------------------------ (8b)
------------------------------------------------

------------------------------------------------ (8c)
------------------------------------------------

----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)

(Marjo, 2005:69)

Gambar 2.9

Bentuk Perdegi

41
7) Bentuk Surat Pribadi Inggris (British Style)

Pada bentuk surat ini, ada beberapa komponen surat yang tidak ditulis.

Alamat, salam penutup, nama pengirim, dan tanda tangan ditulis di sebelah kanan.

Selebihnya di sebelah kiri. Berikut bentuk surat tersebut.

-------------------------------------------------
(1)
---------------------- (2)
-------------------
-------------------

------------------------- (6)

------------------------------------------------

------------------------------------------------ (8a)

------------------------------------------------

------------------------------------------------ (8b)
------------------------------------------------

------------------------------------------------ (8c)
------------------------------------------------

----------------------- (9)
(10)
--------------------- (11)
---------------------
---------------------
--------------------- ( Marjo, 2005: 82)
---------------------
Gambar 2.10
(alamat pengirim)

Bentuk British Style

42
2.2 Menyunting Surat Resmi

2.2.1 Pengertian Menyunting Surat

Menurut Moeliono, ed. (1990:871) menyunting adalah “mengedit atau

menyempurnakan naskah“.Dengan demikian, menyunting surat resmi adalah

mengedit atau menyempurnakan naskah surat resmi. Selain pengertian tersebut,

Anang, dkk. (2004:6) memberikan pengertian menyunting yang lebih luas, yaitu

sebagai berikut.

Menyunting adalah merapikan naskah agar siap cetak dengan melihat


kembali, membaca, atau memperbaiki naskah secara keseluruhan, baik
dari segi bahasa maupun dari segi materinya, penyajiannnya,
kelayakannnya, dan kebenaran materi (isi) naskah yang akan diterbitkan.
Perbaikan itu dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan berkaitan
dengan kaidah penulisan.

Menyunting surat merupakan bagian dari proses penulisan sekaligus

sebagai strategi penulisan surat yang baik. Dengan menyunting surat resmi, siswa

dapat mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam surat dan memberikan

rekomendasi serta upaya untuk memperbaiki kesalahan yang ada pada surat resmi,

baik dari segi bahasa, isi surat, maupun tifografinya atau teknik perewajahannnya.

Berkaitan dengan kegiatan menyunting surat ini, Purwo (1997:8) mengemukakan

pendapat sebagai berikut.

Termasuk di dalam kegiatan menulis ialah kegiatan menemukan kesalahan


dalam menulis (tidak hanya ejaan dan tanda baca, tetapi kelengkapan atau
kejelasan kalimat, bahkan pemilihan kata). Siswa tidak hanya dilatih untuk
menemukan kesalahan sendiri, tetapi juga untuk memperbaiki dan
membenahinya. Jika siswa belum bisa melakukan hal itu untuk tulisannya
sendiri, mereka diminta untuk melakukan hal itu pada tulisan temannnya.

Berdasarkan uraian tersebut, menyunting surat menjadi salah satu cara

mengurangi kekurangmampuan siswa menulis surat resmi. Dengan melakukan

43
kegiatan penyuntingan terhadap surat, diharapkan siswa mampu menulis surat

dengan lebih cermat dan efektif.

2.2.2 Tujuan Menyunting Surat Resmi

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan

siswa dalam menulis surat resmi adalah dengan melaksanakan pembelajaran

menyunting surat secara tepat dan efektif, baik aspek kebahasaan, isi, dan

penyajiannnya atau tifografinya. Penyuntingan surat resmi dimaksudkan bukan

saja untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca, tetapi juga mnghindari tulisan

dari berbagai kesalahan.

Dengan disunting, surat resmi yang ditulis dapat dijaga kualitasnya, seperti

keruntutan, kelogisan, ketepatan pemakaian bahasa, atau kelengkapan unsur

tulisan lainnya. Dengan demikian, seorang penyunting dapat menjaga kelayakan

dan kepantasan tulisan itu untuk dibaca atau disampaikan kepada orang lain yang

menjadi sasaran tulisan tersebut. Melalui kegiatan menyunting surat, sebenarnya

penyunting dapat melakukan kritik dan otokritik, saran, atau catatan-catatan demi

perbaikan tulisannnya. Dalam kaitan ini, Anang (2004:6) berpendapat sebagai

berikut.

Penulislah yang tahu seluk beluk tulisannnya. Selain itu, kegiatan


menyunting merupakan kegiatan akhir dari rangkaian kegiatan menulis.
Pada bagian ini diharapkan penulis dapat merenungkan kembali hasil
tulisannnya. Apakah tuliasan itu sudah runtut, logis, pemakaian bahasanya
sudah tepat dan unsur kelengkapan tulisan sudah lengkap.

44
2.2.3 Aspek-aspek Surat Resmi yang Disunting

Subyantoro (2004:50) berpendapat bahwa ”aspek menyunting dalam tes

menulis mencakup penyuntingan bahasa, penyuntingan teknik (ejaan, tanda baca,

dan sistematika), dan penyuntingan isi”. Pendapat senada dikemukakan Anang

(2004:6) yang berpendapat bahwa ada tiga aspek pokok yang harus disunting

dalam tulisan atau naskah, yaitu “isi, organisasi, dan bahasa”. Dengan demikian,

apabila dijabarkan aspek-aspek bahasa yang disunting mencakup penulisan ejaan

(pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan huruf kapital, penulisan huruf

miring), penulisan kata (kata dasar, kata tururnan, bentuk ulang, gabungan kata,

kata ganti, kata depan, partikel, singkatan, akronim), penulisan angka dan

lambang bilangan, penulisan unsur serapan, pemakaian tanda baca, penulisan

kalimat (keefekktifan), penulisan paragraf (kepaduan, kesatuan, kelengkapan).

Sementara, aspek isi menyangkut kejelasan pengembangan isi surat dan aspek

teknik penyajian atau perwajahan mencakup tata urutan, komponen, bentuk surat,

pemanfaatan ruang, dan atau format surat.

Sejalan dengan uraian di atas, Semi (1995:111) mengatakan bahwa ”tugas

penyuntingan tulisan berita menyangkut dua kelompok, yaitu mencegah terjadinya

kesalahan atau kelemahan pemakaian bahasa dan mencegah terjadinya kesalahan

isi”. Aspek pertama dalam penyuntingan adalah memperbaiki atau

menyempurnakan pemakaian bahasa. Dalam hubungan ini, yang perlu di

perhatikan adalah sebagai berikut : (1) kesalahan pemakaian ejaan, seperti

kesalahan penetapan tanda koma, huruf besar, penulisan kata, dan pengeja nama;

(2) kesalahan pemakaian istilah atau ungkapan; (3) kesalahan pemakaian kalimat,

45
seperti kalimat rancu, kalimat tidak efektif, kalimat tidak memiliki fungsi, dan

unsur kalimat yang tidak lengkap, dan (4) kesalahan penyusunan paragraf, seperti

paragraf tidak di kembangkan dengan baik, atau pengembangan paragraf yang

berlebihan. Sementara, kesalahan dalam bidang isi adalah (1) menjaga tidak

terjadi kesalahan dalam penyajian fakta; (2) kesalahan dalam penulisan srtuktur

surat; (3) pengulangan penyampaiain isi sehingga terkesan tidak hemat dan tidak

lugas; (4) menjaga agar jangan sampai ada fakta yang tertinggal; (5) menjaga

jangan sampai ada unsur yang merupakan pencemaran nama baik seseorang,

organisasi, atau lembaga.

2.2.4 Prosedur Menyunting Surat Resmi

Menurut Anang, dkk. (2004:6) kegiatan menyunting dapat dilakukan

melalui beberapa proses, yaitu melihat kembali, membaca, atau memperbaiki

naskah secara keseluruhan, baik dari segi bahasa maupun dari segi materinya,

penyajiannnya, kelayakannnya, dan kebenaran materi (isi) naskah. Senada dengan

pendapat itu, Semi (1995:109) mengemukakan tiga langkah menyunting, yaitu

membaca dengan kritis, memotong atau menambah, dan susun serta periksa

kembali. Uraian selengkapnya adalah sebagai berikut.

1) Membaca dengan Kritis

Bacalah tulisan (surat resmi) dengan kritis. Berlakulah seolah-olah kita

sedang membaca tulisan orang lain, dan tulisan itu belum pernah ditemui

sebelumnya. Dengan cara demikian, diharapkan akan ditemukan berbagai

kelemahan atau kekerungan yang patut diperbaiki. Di dalam membaca kritis itu

46
selalulah bertanya apakah maksud tulisan itu sama dengan yang anda maksudkan

semula sebelum menulis. Perhatikan dengan cermat adakah kesalahan yang

terlihat, baik kesalahan ejaan, tanda baca, penulisan nama orang atau tempat,

penulisan angka, kalimat yang rancu, kalimat yang tidak berfungsi, kompenen

surat, dan lain-lain. Dengan membaca kritis, anda dapat melakukan penyuntingan

yang baik.

2) Menghilangkan dan Menambah

Menghilangkan bagian tulisan yang tidak perlu bukanlah perbuatan yang

tercela. Buanglah kata yang berlebih dan kalimat yang tidak berguna atau tidak

berfungsi. Bila dirasa ada perulangan yang tidak perlu, jangan digunakan. Bahkan,

paragraf yang dirasakan kurang penting juga patut dibuang. Dengan begitu,

diharapkan surat akan menjadi efektif dan bagus. Jika ada sesuatu yang patut di

hilangkan atau di buang, tentu saja ada kemungkinan terdapat sesuatu yang perlu

ditambah atau dilengkapi guna memperjelas pengertian dan gagasan. Bila ada

paragraf yang belum dikembangkan secara memadai, kembangkanlah. Bila ada

kata yang kurang, tambahkanlah. Hal itu tentu saja dilakukan bukan untuk

memperpanjang tulisan, tetapi karena ingin menyempurnakanya.

Kegiatan menyunting pada tahap ini dapat sipecah-pecah lagi ke dalam

kegiatan yang lebih kecil, yaitu (1) mengidentifikasi bagian yang salah, (2)

menghilangkan bagian yang salah/berlebih, (3) melengkapi yang seharusnya ada

tetapi belum ada, (4) mengganti bagian yang tidak tepat (aparagraf, kalimat, kata),

(5) memperbaiki urutan, struktur, ejaan, tanda baca, sistematika, atau isi, dan (6)

mengidentifikasi penggunaan bahasa/ejaan yang tidak tepat/yang tepat.

47
3) Susun dan Periksa Kembali

Setelah kedua kegiatan itu dilakukan, sekarang saatnya melakukan

penyusunan kembali surat tersebut menurut tata susunan yang diinginkan. Bila

naskah telah disusun rapi dan diketik/ditulis ulang, masih tetap perlu membacanya

kembali, karena ada kemungkinan munculnya kesalahan lain yang tidak

diinginkan. Perhatikan juga pada tahapan terakhir ini, masalah perwajahan tulisan,

seperti bentuk surat, letak komponen surat, ukuran huruf, spasi ketikan, dan

penampilan lain. Dengan demikian, surat resmi tersebut akan menjadi surat yang

baik dan siap dikirimkan kepada penerima surat.

2.2.5 Penilaian Menyunting Surat Resmi

Indikator penyuntingan dalam tes menulis surat dapat digunakan secara

efektif untuk mengukur kemampuan menggunakan bahasa dalam konteks tertentu.

Kemampuan meggunakan kata, kalimat, tanda penghubung dengan berbagai

bentuk dan ragam dapat diukur dengan indikator menyunting ini.

Indikator menyunting dalam tes menulis dipecah-pecah lagi ke dalam

indikator yang lebih kecil, yaitu kemampuan (1) mengidentifikasi bagian yang

salah, (2) menghilangkan bagian yang salah/berlebih, (3) melengkapi yang

seharusnya ada tetapi belum ada, (4) mengganti bagian yang tidak tepat

(aparagraf, kalimat, kata), (5) memperbaiki urutan, struktur, ejaan, tanda baca,

sistematika, atau isi, dan (6) mengidentifikasi penggunaan bahasa/ejaan yang tidak

tepat/yang tepat.

48
2.3 Metode Inkuiri

2.3.1 Penertian Metode Inkuiri

Beberapa ahli pendidikan berbeda pendapat tentang istilah doscovery

(discoveri) dan inkuiri. Ada yang menggunakannnya bersamaan dengan inquiry

(inkuiri) dan ada pula yang membedakan artinya. Robert B. Sund (dalam Subana

dan Sunarti, 2009:112) mengatakan bahwa discovery adalah proses mental pada

diri individu untuk mengasimiisai konep dan prinsip-prinsip. Dengan kata lain,

suatu kegiatan pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat

menemukan konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Pengajaran

dengan discovery harus meliputi pengalaman belajar yang dapat mengembangkan

siswa untuk menemukan konsep sendiri.

Adapun yang dimaksud dengan inkuisi (inquiry) adalah suatu perluasan

dari proses discovery. Sebagai tambahan pada proses discovery, inquiry

mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatanya. Misalnya merumuskan

masalah, merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis

data, menarik kesimpulan, berdsikap jujur, objektif, penuh keingintahuan, terbuka,

dan sebagainya. Siswa melakukan kegiatan inkuiri jika ia mampu merumuskan

masalahnya sendiri, merumuskan hipotesis, medesain percobaan, mengumpulkan

dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan.

49
2.3.2 Penggunaan Metode Inkuiri dalam Menyunting Surat

Proses belajar melalui metode inkuiri meliputi beberapa kegiatran siswa.

Menurut Amin (dalam Subana dan Sunarti, 2009:113), proses tersebut ialah : (1)

bertanya, tidak semata-mata mendengarkan dan menghafal; (2) bertindak, tidak

semata-mata melihat dan mendengarkan; (3) memberi pemecahan, tidak semata-

mata mendapatkan; (4) menemukan problema, tidak semata-mata belajar fakta-

fakta; (5) menganalisis, tidak semata-mata mengamati; (6) membuat sintesa, tidak

hanya membuktikan, (7 )berpikir, tidak semata-mata melamun/membayangkan;

(8) menghasilkan, tisak semata-mata menggunakan; (9) menyusun, tidak semata-

mata mengumpulkan; dan (10) menciptakan.

Adapun hal-hal yang harus didorong dalam proses belajar siswa ialah

memberikan otonomi kepada siswa, kebebasan dan dukungan pekada siswa,

bersikap terbuka, percaya pada diri sendiiri, dan membetuk konsep sendiri.

Peranan guru dalm metode inkuiri ialah menciptakan kebebasan untuk memiliki

dan mengekspresikan ide, menyediakan lingkungan belajar yang responsif, dan

membantu siswa menemukan pengarahan agar terbina keterampilan dan

pengetahuannya.

Dalam kaitan dengan menyunting surat, siswa diberikan rangsangan

masalah (bahasa, isi, dan bentuk surat) yang salah. Kemudian, siswa menyusun

dugaan masalah. Selanjutnya, siswa menemukan dan menganalisis masalah. Pada

tahap akhir, siswa memperbaiki kesalahan aspek-aspek surat tersebut.

50
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Tujuan penelitian ini ialah ingin meneliti dan mengetahui suatu keadaan

atau gejala yang muncul pada kondisi tertentu akibat dari suatu percobaan dan

mengamati setiap gejala yang muncul secermat mungkin, sehingga dapat

diketahui hubungan sebab-akibat munculnya gejala tersebut. Dengan perkataan

lain, melalui penelitian ini akan diselididki kemungkinan adanya kondisi

hubungan kausalitas sebagai efek atau pengaruh dari perlakuan (treatment) dalam

suatu percobaan yang diberikan kepada sebuah kelompok eksperimen dan

membandingkannya dengan subjek kelompok kontrol yang sama yang tidak

mendapat perlakuan. Percobaan yang dimaksud ialah pembelajaran menyunting

surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri. Oleh karena itu, metode

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan

jenis kuasi eksperimen atau eksperimen semu. Dalam hal ini, Suhardjono

(1995:73) memberikan keterangan sebagai berikut.

Penelitian eksperimen (eksperimental research) adalah penelitian untuk


menyelidiki kemungkinan saling berhubungan sebab-akibat dengan cara
mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimen satu atau lebih
kondisi perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih
kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan.

51
Penelitian eksperimen (eksperimental research) ini merupakan penelitian

yang dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan timbulnya efek pada sebuah

kelompok penelitian dengan mengenakan kondisi perlakuan (treatment),

kemudian hasilnya dibandingkan dengan kelompok yang sama sebagai kelompok

kontrol yang tidak diberi perlakuan, sehingga diketahui efek kausalitas dari

pemberian perlakuan tersebut. Penggunaan metode eksperimen difokuskan pada

kegiatan percobaan metode inkuiri dalam menyunting surat resmi.

3.2 Desain Penelitian

Dalam penelitian eksperimen diperluksan sebiah desain yang cocok untuk

memperjelas kedudukan dan hubungan variabel serta memperlancar proses

penelitain. Dalam riset eksperimental ini, desain selalu dilibatkan tiga hal, yaitu

sampel, perlakuan, dan ukuran atau observasi. Keterlaksanaan eksperimen banyak

ditentukan oleh kecermatan dalam menggunakan desain penelitian atau

memperlakukan subjek penelitian, manipulasi, dan melakukan observasi

(pengukuran), sehingga diperlukan desain riset eksperimental yang tepat dan

cocok dengan tujuan penelitian ini.

Desain eksperimental memiliki beberapa jenis. Dalam penelitian ini,

desain eksperimen yang akan digunakan ialah Desain Prates-Pascates Satu

Kelompok atau One Group Pretest-Postest Design (Sukmadinata, 2005:208).

Skema desain tersebut tampak pada bagan berikut.

52
Pretes Treatment Postes

(T1) (Perlakuan) (T2)

O1 X O2

Bagan 3.1

Prates-Pascates Satu Kelompok

Keterangan :

O1 = Tes Awal (Pretes)

X = Perlakuan/Treatment

O2 =Tes Akhis (Postes)

Sesuai dengan desain tersebut, tes dilakukan kepada satu kelompok sampel

sebanyak dua kali, yaitu sebelum eksperimen (pretes) dan sesudah eksperimen

(postes). Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretes dan

observasi sesudah eksperimen (O2) disebut postes. Pretes diberikan untuk

mengukur kemampuan awal sampel penelitian sebelum diberi perlakuan atau

sebelum diberi penjelasan tentang penggunaan metode inkuiri dalam

pembelajaran menyunting surat resmi. Kemudian, kepada sampel diberikan

perlakuan (treatment). Selanjutnya, diberikan postes sebagai langkah untuk

mengetahui perkembangan kemampuan sampel dalam menyunting surat resmi

dengan metode inkuiri. Perkembangan hasil belajar tersebut dapat diihat dari

perbandingan skor prates dan postes. Perbedaan antara O1 dan O2 atau O2 - O1

diasumsikan merupakan efek dari treatment atau perlakuan.

53
3.3 Operasional Variabel Penelitian

Djojosuroto dan Sumaryati (2009:11) mengatakan bahwa variabel adalah

karakteristik atau ciri-ciri dari orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai

nilai-nikai yang berbeda-beda. Berdasarkan pengertian itu, variabel mengacu pada

gejala, karakteristik, peristiwa, keadaan, yang kemunculannya bervariasi pada

setiap subjek. Operasional variabel berarti batasan tentang keberadaan variabel

secara operasional, bentuk dan jenis datanya, pengukurannya, dan substansi

kedudukan dan kaitan dengan variabel lain. Setiap variabel harus menujukkan

data dan cara mengukurnya.

Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel utama, yaitu variabel bebas

(independent variable) atau variabel penyebab dan variabel terikat (dependent

variable) atau variabel akibat. Yang menjadi variabel bebas adalah metode

inkuiri. Sementara itu, yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan

menyunting surat resmi. Sebagai variabel bebas, metode inkuiri dimanipulasi,

diukur, dan diteliti pengaruhnya terhadap kemampuan menyunting surat resmi

sebagai variabel terikat. Tingkat kemampuan menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri harus dinetralisir oleh variabel lain, yaitu variabel

kontrol. Variabel kontrol ini menjadi faktor untuk menetralisir pengaruh variabel

luar terhadap hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Karena itu,

variabel yang diteliti dalam penelitian eksperimen ini adalah variabel eksperimen

(variabel X), yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri dan variabel kontrol (variabel Y), yakni nilai

kemampuan menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri.

54
Adapun kedudukan variabel tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.

Variabel Bebas
Metode Inkuiri

Variabel Variabel Eksperimen (X) = Menyunting surat resmi


Penelitian
dengan menggunakan metode inkuiri

Variabel Kontrol (Y) = Menyunting surat resmi

tanpa menggunakan metode inkuiri

Variabel Terikat
Kemampuan Menyunting Surat Resmi

Bagan 3.2

Variabel Penelitian

55
Berdasarkan uraian di atas, indikator variabel tersebut ialah sebagai

berikut.

Tabel 3.1

Variabel dan Indikator Variabel

Variabel dan Indikator

Subvariabel

Menyunting surat Mampu menyunting surat resmi sesuai

resmi dengan konteks dengan mempperhatikan

a. dengan metode kriteria, yaitu :

inkuiri. (1) ejaan dan tanda baca;

b. tanpa metode (2) pilihan kata;

inkuiri. (3) keefektifan kalimat;

(4) keterpaduan paragraf;

(5) kebulatan wacana.

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian

3.4.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah himpunan keseluruhan karakteristik dari objek yang

diteliti (Sedarmayanti dan Hidayat, 2002:121). Populasi mengacu pada

keseluruhan subjek penelitian yang menjadi objek penelitian, baik dalam bentuk

manusia maupun bukan manusia. Berdasarkan sumber data sebagai subjek

penelitian dan bentuk data sebagai objek penelitian, populasi dalam penelitian ini

56
adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta dan hasil tes

menyunting surat resmi yang berjumlah 200 orang.

Berikut ini data jumlah populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered

Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010.

Tabel 3.2

Populasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta

Tahun Pelajaran 2009/2010

No. Kelas Jumlah

1. VIII A 40

2. VIII B 40

3. VIII C 40

4. VIII D 40

5. VIII E 40

Jumlah 360

3.4.2 Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah sebagian atau wakil dari wakil populasi yang

akan diteliti. Teknik sampling yang digunakan dalam menentukan besarnya

jumlah sampel adalah teknik cluster sampling. Berkaitan dengan teknik cluster

sampling ini, Ali (1987:67) menyatakan sebagai berikut.

57
Pada cluster sampling, sampel terdiri dari sekelompok anggota yang
terhimpun pada gugus (cluster), bukan anggota populasi yang diambil
secara satu persatu (secara individual). Terlihat di sini bahwa cluster
sampling mengambil sekelompok individu, bukan mengambil secara
individu anggota populasi menjadi sampel penelitian.

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa teknik sampel

kelompok (cluster sampling) mengambil besarnya sampel dari gugus atau

kelompok individu (kelas) tertentu yang secara representatif memiliki

homogenitas dan mewakili populasi secara keseluruhamn. Dalam penelitian ini,

penulis mengambil sampel kelas VIII B SMP Negeri 2 Plered Purwakarta

sebanyak 40 orang siswa.

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

3.5.1 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data variabel

yang diteliti. Teknik penelitian yang digunakan ialah teknik tes. Teknik tes

merupakan cara melakukan penilaian yang berbentuk latihan, pertanyaan, atau

tugas yang harus dikerjakan siswa untuk mendapatkan data kemampuan atau

prestasi siswa. Teknik tes yang dimaksud adalah teknik tes menyunting surat

resmi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyunting

surat resmi dalam kaitan dengan uji coba penggunaan metode inkuiri.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan data primer

berupa skor yang diperoleh dari tes menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun

pelajaran 2009/2010. Data tersebut diperoleh melalui dua tahap, yaitu:

58
1) Pretes, yaitu tes yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai yang bertujuan

untuk mengetahui kemampuan awal siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered

Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam menyunting surat resmi sebelum

menggunakan metode inkuiri.

2) Postes, yaitu tes yang diberikan setelah pembelajaran dilaksanakan yang

bertujuan untuk mengetahui kemampuan menyunting surat resmi siswa kelas

VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam

menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data merupakan alat untuk mengumpulkan data

dari subjek penelitian. Berdasarkan jenis dan bentuk data yang akan dikumpulkan,

instrumen tes yang akan digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi.

Instrumen ini berbentuk tes menyunting surat resmi. Alat tes ini digunakan untuk

mengumpulkan data berupa kemampuan subjek penelitian dalam pembelajaran

menyunting surat resmi dalam kaitan dengan percobaan penggunaan metode

inkuiri.

Instrumen tes itu digunakan pada pretes dan postes dengan bentuk yang

berbeda. Dalam menyusun instrumen, dipertimbangkan fungsi tes, aspek yang

dinilai, bentuk tes, petunjuk pengerjaan, dan tujuan alat tes. Aspek-aspek atau

kategori yang tercakup dalam instrumen diarahkan untuk menilai kemampuan

sampel dalam menyunting surat resmi dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (1)

59
ejaan dan tanda baca; (2) pilihan kata; (3) struktur kalimat; (4) kepaduan

paragraf; (5) kebulatan isi surat.

Dalam menyusun instrumen, dilakukan beberapa langkah, di antaranya

menyusun kisi-kisi instrumen tes; menyusun alat tes dengan sejumlah petunjuk

pengerjaannya; menyunting butir-butir soal; dan menggandakan instrumen. Kisi-

kisi instrumen tes menyunting surat resmi dengan metode inkuiri memuat

variabel, subevariabel, kategori/indikator, sumber data, dan teknik pengumpulan

data (Sukmadinata, 2005:235). Kisi-kisi yang dimaksud tampak pada tabel

berikut.

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Instrumen Tes Menyunting Surat Resmi

Variabel / Kategori/Indikator Sumber Data Teknik/Instru-

Subvariabel men

Kemampuan Mampu menyunting surat 40 siswa kelas Teknik dan

menyunting surat resmi pada spek : VIII SMP instrumen tes

resmi sebelum dan (1) ejaan dan tanda baca; Negeri 2 Plered menyunting surat

sesudah (2) pilihan kata; Purwakarta resmi sebelum

menggunakan (3) keefektifan kalimat; dan setelah

metode inkuiri : (4) keterpaduan paragraf; menggunakan

a. Bahasa (5) kebulatan wacana. metode inkuiri

b. Isi

c. Penyajian

60
3.6 Prosedur Penelitian dan Teknik Analisis Data

3.6.1 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah penelitian yang

dilakukan. Prosedur penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan tujuan

penelitian, metode penelitian, desain penelitian, dan bentuk data. Penulis

melakukan beberapa prosedur umum penelitian, yaitu : (1) mengidentifikasi,

membatasi, dan merumuskan masalah; (2) merumuskan hipotesis penelitian; (3)

menyusun rencana operasional yang meliputi: menentukan variabel, memilih

desain yang digunakan, menentukan sampel, menyusun instrumen, membuat

prosedur pengumpulan data, dan merumuskan teknik analisis data; (4)

melaksanakan eksperimen atau mengumpulkan data; (5) menyusun data untuk

mempermudah analisis data; (6) menentukan taraf signifikansi dan reliabilitas

yang digunakan dalam pengujian hipotesis; (7) menganalisis data secara statistik

untuk menguji hipotesis; dan (8) membahas serta menyimpulkan hasil penelitian.

Dalam kaitan dengan pengolahan data, dilakukan beberapa langkah

berikut.

1) Pemberian Skor (Scoring)

Menurut Purwanto (2006:72) penskoran (scoring) merupakan suatu proses

pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka atau mengadakan

kuantifikasi. Penskoran dilakukan terhadap data mentah (raw-score) yang

dikumpulkan yang diperoleh dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Data mentah berupa karangan belum bisa memberikan arti, sehingga perlu

61
ikoreksi dan diberi skor. Penskoran menggunakan Pedoman Penilaian Karangan

Narasi yang berisi sepuluh aspek penilaian seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel 3.4

Pedoman Penilaian Menyunting Surat Resmi

No. Aspek Penilaian Skala Nilai Bobot Skor

Tertinggi

1. Ejaan dan Tanda Baca 1-5 2 10

2. Diksi atau Pilihan Kata 1-5 2 10

3. Struktur Kalimat 1-5 2 10

4. Paragraf 1-5 2 10

5. Kebulatan Isi 1-5 2 10

Jumlah Skor 10 50

Skala nilai melambangkan beberapa makna atau deskripsi arti setiap aspek

penilaian. Makna nilai pada skala nilai tersebut adalah sebagai berikut. Nilai 5

berarti sangat bagus, nilai 4 berarti bagus, nilai 3 berarti cukup bagus, nilai 2

berarti kurang bagus, dan nilai 1 berarti tidak bagus/jelek. Bobot yang diberikan

kepada setiap aspek penilaian sama, disesuaikan dengan tingkat kepentingan,

kebutuhan, dan kesulitan atau tujuan tertentu. Dengan menggunakan pedoman

penilaian di atas akan diperoleh skor poster. Skor tertinggi yang mungkin

diperoleh oleh siswa adalah 50 dan skor terendah adalah 10. Berikut ini deskriptor

dan indikator masing-masing aspek penilaian menyunting surat resmi dengan

skala 1 – 5.

62
Tabel 3.5

Deskriptor Aspek Penilaian Menyunting Surat Resmi

Nilai Deskriptor
Ejaan dan Tanda Baca
Mampu menyunting ejaan dan tanda baca dengan :
5 Sangat baik dan benar.
4 Baik dan benar.
3 Cukup baik dan benar.
2 Kurang baik dan benar. .
1 Tidak baik dan benar.
Pilihan Kata
Mampu menyunting diksi dengan :
5 Sangat baik dan benar.
4 Baik dan benar.
3 Cukup baik dan benar.
2 Kurang baik dan benar. .
1 Tidak baik dan benar.
Penyusunan Kalimat
Mampu menyunting kalimat dengan :
5 Sangat baik dan benar.
4 Baik dan benar.
3 Cukup baik dan benar.
2 Kurang baik dan benar. .
1 Tidak baik dan benar.

63
Penyusunan Paragraf
Mampu menyunting paragraf dengan :
5 Sangat baik dan benar.
4 Baik dan benar.
3 Cukup baik dan benar.
2 Kurang baik dan benar. .
1 Tidak baik dan benar.
Kebulatan Isi
Mampu menyunting isi surat dengan :
5 Sangat baik dan benar.
4 Baik dan benar.
3 Cukup baik dan benar.
2 Kurang baik dan benar. .
1 Tidak baik dan benar.

2) Penilaian (Grading atau Valuing)

Penilaian dalam hal ini merupakan pemberian nilai (grading atau valuing),

yaitu sebagai suatui proses untuk mengukur kadar pencapaian seseorang

(Nurgiyantoro, 1988:5). Data hasil penilaian berupa nilai (angka) yang dapat

dijadikan bahan pemberian pertimbangan, keputusan, dan proses penganalisisan

data secara statistik. Untuk memperoleh nilai, dilakukan konversi skor ke dalam

skala nilai 1-10. Teknik pengubahan skor menjadi nilai ditempuh dengan

menggunakan rumus berikut.

R
NP = _________ X 10
SM
(Purwanto, 2006:103)

64
Keterangan :

NP = Nilai yang dicari

R = Skor mentah yang diperoleh

SM = Skor maksimum ideal

10 = Bilangan tetap

Dengan diperoleh nilai, dapat ditentukan batas ketuntasan belajar atau

kemampuan menyunting surat resmi secara klasikal dan individual. Secara

individual, paling sedikit siswa mencapai 60 % penguasaan kompetensi dasar

(Depdiknas, 2004:39). Secara purposive, siswa dianggap mampu menyunting

surat resmi jika memperoleh nilai sebesar 60% dari skor tertinggi. Sebaliknya,

siswa tidak mampu menyunting surat resmi jika memperoleh nikai di bawah 60%

dari skor tertinggi. Sementara itu, tingkat keberhasilan secara klasikal adalah

sebesar 75 % dari siswa memperoleh nilai sebesar 60 % dari skor tertinggi.

Penentuan persentase ini didasarkan poada kondisi sekolah dan tujuan tertentu.

Deskripsi kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dilakukan pula

secara verbal untuk setiap aspek penilaiannya. Berikut ini pedoman interpretasi

tingkat kemampuan menyunting surat resmi siswa.

65
Tabel 3.6

Pedoman Interpretasi

Tingkat Kemampuan Menyunting surat resmi

Nilai Makna

1 Buruk Sekali

2 Buruk

3 Kurang Sekali

4 Kurang

5 Hampir Sedang

6 Sedang

7 Cukup

8 Baik

9 Baik Sekali

10 Sempurna

Adapun untuk kriteria persentase keberhasilan pembelajaran setiap siklus

menggunakan rumus :

f
p= __________ X 100
n
Keterangan :

p = Persentase yang dicari

f = Frekuensi nilai yang diperoleh

n = Jumlah siswa yang dijadikan sampel

100 = Bilangan tetap (konstan)

66
3.6.2 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan memperhatikan metode penelitian, desain

penelitian, dan tujuan penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai

berikut : (1) pengumpulan dan penyusunan data, (2) penataan dan klasifikasi, (3)

tabulasi data termasuk pengubahan skor menjadi nilai, (4) pemaduan atau

perangkuman data, (5) pengolahan atau analisis data dengan teknik statistik, dan

(6) penapsiran dan penyimpulan.

Analisis data dilakukan untuk mencari perbedaan mean variabel X dan variabel Y.

Oleh karena itu, teknik analisis data untuk menguji hipotesis yang digunakan

adalah teknik analisis statistik tes-t (T-tes). Tes-t (T-tes) digunakan untuk

membandingkan rata-rata atau mean (M) dan standar error (SE) perbedaan dua

mean dua kelompok eksperimen dan kontrol. Teknik ini membantu penulis

menentukan perbedaan-perbedaan antara dua kelompok sebagai hasil dari

percobaan, sekaligus mengetahui pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan

menyunting surat resmi.

Dalam menganalisis data, mean variabel X dan mean variabel Y dihitung

secara statistik. Teknik analisis data untuk menguji diterima atau ditolaknya

hipotesis penelitian menggunakan rumus t-tes, sehingga diperoleh nilai “to”

(nilai t hitung) dan dibandingkan dengan nilai “tt” (nilai t tabel). Nilai “to”

adalah perbedaan dua mean, sedangkan “tt” adalah harga kritik "t" yang terdapat

pada tabel nilai t. Rumus t-tes (to) yang digunakan ialah :

to = M1 - M2
SEM1 – SEM2

(Sudijono, 1992:297)

67
Keterangan :

to = Perbedaan dua mean

M1 = Mean variabel X

M2 = Mean variabel Y

SEM1 – SEM2 = Standar eror perbedaan dua mean

Untuk memperoleh nilai hitung (nilai to), dilakukan beberapa tahap

penghitungan, yaitu sebagai berikut.

1. Menyiapkan tabel distribusi frekuensi nilai variabel X dan nilai variabel Y.

2. Menentukan mean (M), standar deviasi (SD), dan standar Error (SE), nilai

variabel X dan nilai variabel Y dengan rumus :

fX fY
M1 atau M 2
N1 N2

1 1
SD1 ( N1)( fX ) ( fX ) atau SD2 ( N 2)( fY)( fY )
N1 N2

SD1 SD 2
SEM 1 atau SEM 2
N1 1 N2 1

3. Mencari standar error dari perbedaan mean variabel X dan mean variabel Y

(SEM1 – SEM2) dengan menggunakan rumus:

SEM 1 SEM 2 SEM 1 SEM 2

4. Mencari nilai to atau perbedaan mean variabel X dan variabel Y dengan

menggunakan rumus:

to = M1 - M2
SEM1 – SEM2

68
5. Menafsirkan dan membandingkan nilai “to” dengan nilai “tt” dengan melihat

tabel nilai “tt” dengan terlebih dahulu menetapkan df atau db.

6. Menguji hipotesis dan menyimpulkan hasil penelitian.

3.7 Rancangan Pengujian Hipotesis

Dalam rancangan uji hipotesis ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu

mengajukan kembali rumusan hipotesis, menentukan taraf signifikansi dan

reliability, menganalisis data, mencari nilai hitung, menetapkan derajat bebas (db)

atau degrees of freedom (df), dan merumuskan kriteria pengujian hipotesis.

Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam riset eksperimental ini terdiri dari dua

bentuk rumusan, yaitu hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nihil (Ho). Rumusan

kedua hipotesis tersebut adalah sebagai berikut.

1) Hipotesis alternatif/kerja (Ha):

Ada perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting

surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan

metode inkuiri.

2) Hipotesis nihil/nol (Ho):

Tidak ada perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah

menggunakan metode inkuiri.

Taraf signifikansi dan reliability menggunakan pengujian dua pihak, yaitu

taraf signifikansi 5% dan taraf signifikansi 1% atau taraf reliability 95 % dan taraf

reliability 99 %. Untuk menguji hipotesis mana yang diterima dan ditolak, nilai

69
hitung (to) dibandingkan dengan harga kritik “t” atau nilai t tabel (tt), baik pada

taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%. Pembandingan nilai

tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan besarnya derajat bebas (db)

atau degrees of freedom (df). Untuk menetapkan df, diggunakan rumus df =

(N1+N2) -2 (Sudijono, 1992:299). Dengan diketahuinya df, kriteria pengujian

hipotesis adalah seperti berikut. Jika pada taraf signifikansi 5% dan 1%, “to” lebih

besar daripada “tt”, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sebaliknya, jika pada taraf

signifikansi 5% dan 1%, “to” lebih kecil daripada “tt”, maka Ha ditolak dan Ho

diterima.

70
BAB IV

HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA,

DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil-hasil Penelitian

Data hasil penelitian diperoleh melalui kegiatan penelitian di SMP Negeri

2 Plered Purwakarta. Pengumpukan data dilakukan dengan menggunakan

instrumen tes kemampuan menyunting surat resmi dengan dan tanpa

menggunakan metode inkuiri terhadap sampel sebagai subjek penelitian yang

berjumlah 40 orang siswa kelas VIII. Sampel diambil dari populasi siswa kelas

VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta yang berjumlah 360 orang siswa dengan

menggunakan metode cluster sampling.

Berdasarkan desain penelitian yang digunakan, 40 sampel itu diposisikan

sebagai subjek kelompok eksperimen dan sebagai subjek kelompok kontrol.

Kepada subjek penelitian itu diberikan tes untuk memperoleh data dengan

menggunakan instrumen yang berbeda. Instrumen tes pertama yang digunakan

adalah instrumen tes menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri.

Tes pertama (pretes) dilakukan tanpa memberikan perlakuan (treatment).

Sementara itu, instrumen tes kedua yang digunakan adalah instrumen tes

menyunting surat resmi dengan metode inkuiri. Tes kedua (postes) dilakukan

dengan terlebih dahulu memberikan perlakuan (treatment). Dengan demikian, dari

hasil pelaksanaan pengumpulan data diperoleh dua buah data mentah, yaitu

67
suntingan surat resmi yang dilakukan tanpa menggunakan metode inkuiri dan

dengan menggunakan metode inkuiri.

4.1.1 Deskripsi Data

Data statistik berupa skor kemampuan menyunting surat resmi siswa, baik

dengan maupun tanpa menggunakan metode inkuiri diperoleh dengan melakukan

penilaian terhadap hasil kerja siswa dengan menggunakan pedoman penilaian

menyunting surat resmi. Pedoman tersebut memuat lima aspek penilaian, yaitu :

ejaan dan tanda baca, pilihan kata, struktur kalimat, paragraf, dan kebuilatan isi.

Setiap aspek penilaian memiliki skala nilai 1 sampai 5 dengan bobot untuk kelima

aspek penilaian tersebut ialah 2, 2, 2, 2, dan 2. Skala nilai melambangkan makna

atau arti setiap aspek penilaian kualitatif, yaitu : nilai 5 berarti sangat bagus, nilai

4 berarti bagus, nilai 3 berarti cukup bagus, nilai 2 berarti kurang bagus, dan nilai

1 berarti tidak bagus/jelek. Dengan demikian, skor tertinggi yang mungkin

diperoleh siswa ialah 50 dan skor terendah ialah 10.

Berikut ini deskripsi data berupa skor kemampuan menyunting surat resmi

siswa sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan metode

inkuiri.

68
Tabel 4.1

Data Berupa Skor Kemampuan Menyuntung Surat Resmi

Tanpa Menggunakan Metode Inkuiri

(Variabel Y)

Nomor Nilai Aspek Penilaian


Subjek Nomor Skor
1 2 3 4 5

1. 3 9 6 6 6 30
2. 2 3 6 8 6 25
3. 2 3 6 8 6 25
4. 4 12 8 8 8 40
5. 2 3 6 8 6 25
6. 2 3 6 8 6 25
7. 3 12 6 8 6 35
8. 3 12 6 8 6 35
9. 2 3 6 8 6 25
10. 2 6 4 4 4 20
11. 4 12 8 8 8 40
12. 2 6 4 4 4 20
13. 3 9 6 6 6 30
14. 2 6 4 4 4 20
15. 4 12 8 8 8 40
16. 2 6 4 4 4 20
17. 3 9 6 6 6 30
18. 3 9 6 6 6 30
19. 2 3 6 8 6 25
20. 3 12 6 8 6 35
21. 2 6 4 4 4 20

69
22. 2 3 6 8 6 25
23. 2 3 6 8 6 25
24. 2 6 4 4 4 20
25. 4 12 8 8 8 40
26. 2 3 6 8 6 25
27. 3 9 6 6 6 30
28. 2 6 4 4 4 20
29. 3 9 6 6 6 30
30. 2 6 4 4 4 20
31. 3 9 6 6 6 30
32. 2 6 4 4 4 20
33. 3 12 6 8 6 35
34. 2 6 4 4 4 20
35. 3 9 6 6 6 30
36. 2 3 6 8 6 25
37. 2 3 6 8 6 25
38. 3 9 6 6 6 30
39. 2 3 6 8 6 25
40. 3 9 6 6 6 30

70
Tabel 4.2

Data Berupa Skor Kemampuan Menyunting Surat Resmi

Dengan Menggunakan Metode inkuiri

(Variabel X)

Nomor Nilai Aspek Penilaian


Subjek Nomor Skor
1 2 3 4 5

1. 4 12 8 8 8 40
2. 3 12 6 8 6 35
3. 2 3 6 8 6 25
4. 3 12 6 8 6 35
5. 4 12 8 8 8 40
6. 3 12 6 8 6 35
7. 2 3 6 8 6 25
8. 3 12 6 8 6 35
9. 3 12 6 8 6 35
10. 2 3 6 8 6 25
11. 4 12 8 8 8 40
12. 3 9 6 6 6 30
13. 4 12 8 8 8 40
14. 2 3 6 8 6 25
15. 4 12 8 8 8 40
16. 2 6 4 4 4 20
17. 4 12 8 8 8 35
18. 3 12 6 8 6 40
19. 2 3 6 8 6 35
20. 4 12 8 8 8 40
21. 2 6 4 4 4 20

71
22. 3 12 6 8 6 35
23. 4 12 8 8 8 40
24. 3 12 6 8 6 35
25. 4 12 8 8 8 40
26. 3 9 6 6 6 30
27. 4 12 8 8 8 40
28. 3 9 6 6 6 35
29. 2 6 4 4 4 20
30. 3 9 6 6 6 30
31. 3 12 6 8 6 35
32. 2 6 4 4 4 30
33. 4 12 8 8 8 35
34. 2 6 4 4 4 20
35. 2 3 6 8 6 30
36. 3 9 6 6 6 30
37. 2 6 4 4 4 20
38. 3 9 6 6 6 30
39. 2 3 6 8 6 25
40. 3 9 6 6 6 30

Skor yang diperoleh diubah menjadi nilai berstandar 1-10. Konversi

dilakukan untuk memudahkan penganalisisan data untuk kepentingan pengujian

hipotesis. Pengubahan skor menjadi nilai tersebut ditempuh dengan menggunakan

rumus. Rumus konversi nilai yang dimaksud adalah seperti berikut.

R
NP = __________ X 10
SM

(Purwanto, 2006:103)

72
Keterangan :

NP = Nilai yang dicari

R = Skor mentah yang diperoleh

SM = Skor maksimum ideal

10 = Bilangan tetap

Berdasarkan rumus konversi nilai tersebut, nilai kemampuan siswa dalam

menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri (data variabel X)

dan tanpa metode inkuiri (data variabel Y) dapat diketahui. Berikut ini distribusi

nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri dan tanpa metode inkuiri yang disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 4.3

Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi

dengan Metode Inkuiri (Variabel X)

dan Tanpa Metode Inkuiri (Variabel Y)

Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi


Dengan Menggunakan Tanpa Menggunakan
Nomor Subjek
Metode Inkuiri Metode Inkuiri
(Variabel X) (Variabel Y)
1 8 6
2 7 5
3 5 5
4 7 8
5 8 5
6 7 5

73
7 5 7
8 7 7
9 7 5
10 5 4
11 8 8
12 6 4
13 8 6
14 5 4
15 8 8
16 4 4
17 7 6
18 8 6
19 7 5
20 8 7
21 4 4
22 7 5
23 8 5
24 7 4
25 8 8
26 6 5
27 8 6
28 7 4
29 4 6
30 6 4
31 7 6
32 6 4
33 7 7
34 4 4
35 6 6
36 6 5

74
37 4 5
38 6 6
39 5 5
40 6 6

Untuk mengetahui pencapaian tingkat keberhasilan atau kemampuan siswa

dalam menyunting surat resmi digunakan batas keberhasilan sebesar 75% dari

skor tertinggi yang diperoleh siswa. Batas keberhasilan individual adalah bernilai

6. Dengan perkataan lain, siswa dianggap mampu menyunting surat resmi, jika ia

memperoleh nilai 6 atau di atas nilai 6 dan siswa dianggap tidak mampu

menyunting surat resmi, jika ia memperoleh nilai di bawah nilai 6.

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, siswa yang mampu menyunting surat dengan

menggunakan metode inkuiri berjumlah 30 orang atau 75% dan siswa yang tidak

mampu menyunting surat resmi dengan menggunagakan metode inkuiri berjumlah

10 orang atau 25%. Distribusi nilai yang diperoleh lima orang yang memperoleh

nilai 4, lima orang memperoleh nilai 5, delapan orang yang memperoleh nilai 6,

duabelas orang yang memperoleh nilai 7, dan sepuluh orang yang memperoleh

nilai 8.

Sementara itu, siswa yang mampu menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri berjumlah 18 orang atau 45% dan siswa yang tidak

mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri berjumlah 22

orang. Distribusi nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri diketahui ada sepuluh orang yang memperoleh

nilai 4, duabelas orang yang memperoleh nilai 5, sepuluh orang yang memperoleh

75
nilai 6, empat orang yang mendapat nilai 7, dan empat orang yang memperoleh

nilai 8.

Distribusi nilai tersebut menunjukkan adanya perbedaan prestasi subjek

penelitian. Secara umum, nilai variabel X lebih baik daripada nilai variabel Y.

Dengan perkataan lain, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan ketika mereka mampu

menyunting surat resmi tanpa menggunakan meode inkuiri. Dalam hal ini,

terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri.

Disitribusi nilai Variabel X dan Variabel Y dapat dilihat pada bagan

berikut.

Grafik 4.1

Diatribusi Nilai Variabel X dan Variabel Y

14

12

10

0
8 7 6 5 4
Frek uesni Nilai Var 10 12 8 5 5
X
Frek uensi Nilai Var 4 4 10 12 10
Y

76
4.1.2 Analisis Data

Analisis data secara statistik dimaksudkan memperoleh nilai hitung yang

berguna dalam menguji hipotesis penelitian yang diajukan dan membuat

kesimpulan hasil penelitian. Uraian pada bagian ini akan difokuskan pada

pengolahan data dalam rangka pengujian hipotesis. Analisis data dilakukan

dengan parameter statistik. Metode analisis data yang digunakan adalah metode

analisis t-Tes. Tes “t” digunakan untuk mencari perbedaan dua mean, sehingga

diperoleh nilai hitung (to). Untuk memperoleh nilai to (perbedaan dua mean),

digunakan rumus berikut.

M1 M 2
to
SEM 1 SEM 2

(Sudijono, 1992:297)

Keterangan :

to = perbedaan dua mean

M1 = mean variabel X

M2 = mean variabel Y

SEM1 – SEM2 = standar error perbedaan dua mean

Dalam mencari nilai hitung atau to , penulis melakukan beberapa tahap

penghitungan sebagai berikut.

1) Menyiapkan Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Variabel X dan Nilai Variabel Y

77
Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Nilai Prates

(Variabel X)

VARIABEL X

Nilai Tanda Frekuensi


8 IIII IIII 10
7 IIII IIII II 12
6 IIII III 8
5 IIII 5
4 IIII 5
N = 40

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Nilai Prates

(Variabel Y)

VARIABEL Y

Nilai Tanda Frekuensi


8 IIII 4
7 IIII 4
6 IIII IIII 10
5 IIII IIII II 12
4 IIII IIII 10
N = 40

2) Menentukan Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Standar Error (SE) Nilai

Pascates (Variabel X) dan Nilai Prates (Variabel Y)

78
Sebelum menentukan Mean, SD, dan SE variabel X dan variabel Y,

dipersiapkan perhitungan awal seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel 4.6

Persiapan Penghitungan Mean, Sd, Dan SeVariabel X

X f fx x2 fx2

8 10 80 64 640
7 12 84 49 588
6 8 48 36 288
5 5 25 25 125
4 5 20 16 80
N=40 fx = 257 fx2 = 1.721

Adapun persiapan penghitungan Mean, SD, dan SE Variabel Y tersaji

pada tabel berikut.

Tabel 4.7

Persiapan Penghitungan Mean, Sd, Dan Se

Variabel Y

Y F fy Y2 Fy2

8 4 32 64 256
7 4 28 49 196
6 10 60 36 360
5 12 60 25 300
4 10 40 16 160
N = 40 fy =220 fy2 = 1.272

79
Untuk memperoleh Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Standar Error

(SE) Variabel X dan Variabel Y (M1 atau M2, SD1 atau SD2, dan SE1 atau SE2),

penulis menggunakan rumus yang berikut.

fx fx
M1 atau M2
N1 N2

1
SD1 ( N1 )( fx ²) ( fx )² atau
N1

1
SD2 ( N 2 )( fy ²) ( fy ) ²
N2

SD1 SD2
SEM 1 atau SEM 2
N1 1 N2 1

(Sudijono, 1992:152)

Dengan menggunakan rumus di atas, penghitungan mean, standar deviasi,

dan standar error variabel X adalah sebagai berikut.

fx
M1
N1

257
M1
40

M1 = 6,4

1
SD1 ( N 2 )( fx ²) ( fx )²
N2

1
SD1 (40)(1.721) (257)²
40

1
SD1 (68.840)- (66.049)
40

80
1
SD1 2.791
40

1
SD1 x52,829
40

SD1 = 1,320

SD1
SEM 1
N1 1

1,320
SEM 1
40 1

1,320
SEM 1
39

1,320
SEM 1
6.244

SEM1 = 0,211

Penghitungan mean, standar deviasi, dan standar error variabel Y

dilakukan dengan menggunakan rumus yang sama. Berikut ini proses dan hasil

penghitungannya.

fy
M2
N1

220
M2
40

M2 = 5,5

1
SD2 ( N 2 )( fy ²) ( fy )²
N2

1
SD2 (40) (1.272) - (220)²
40

81
1
SD2 (50.880)- (48.400)
40

1
SD2 2.480
40

1
SD2 x 49,799
40

SD2 = 1,244

SD2
SEM 2
N2 1

1,244
SEM 2
40 1

1,244
SEM 2
39

1,244
SEM 2
6,244

SEM2 = 0,199

Berikut ini, rekapitulasi mean, standar deviasi, dan standar error untuk

kedua variabel tersebut.

Tabel 4.9

Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Srandar Error (SE)

Variabel X danVariabel Y

VARIABEL X VARIABEL Y
6,4 Mean (M) 5,5
1,320 Standar Deviasi (SD) 1,244
0,211 Standar Error (SEM) 0,199

82
3) Mencari Standar Error dari Perbedaan Mean Variabel X dan Mean Variabel Y

Untuk mengetahui nilai standar error dari perbedaan mean variabel X dan

variabel Y ( SEM1 - SEM2), diggunakan rumus berikut.

SE M1 SEM 2 SE M1 ² SE M2 ²

(Sudijono, 1992:308)

Dengan menggunakan rumus di atas, nilai standar error perbedaan mean

variabel X dan mean variabel Y ( SEM1 – SEM2) adalah sebagai berikut.

SEM1 – SEM2 = SEM12 + SEM22

SEM1 SEM 2 0,211² 0,199²

SEM1 SEM 2 0,044521 0,039601

SEM1 SEM 2 0,084122

SE M1 SEM 2 0,290

4) Mencari to atau perbedaan Mean Variabel X dan Mean Variabel Y

Dalam memperoleh nilai to (perbedaan dua mean), penulis menggunakan

rumus berikut.

M1 M 2
to
SEM 1 SEM 2

(Sudijono, 1992:297)

Dengan diketahuinya mean variabel X (M1), mean variabel Y (M2), dan

standar error dari perbedaan mean variabel X dan variabel Y (SEM1 – SEM2), maka

nilai to adalah 3,10. Nilai to tersebut diperoleh melalui penghitungan dengan

rumus tersebut diatas, yaitu :

83
6,4 - 5,5
to
0,290

0,9
to
0,290

to = 3,10

4.1.3 Pengujian Hipotesis

Dalam menguji hipotesis penelitian, dilakukan beberapa tahap, yaitu

menyusun kembali hipotesis penelitian, menetapkan taraf signifikansi dengan

pengujian dua pihak, menentukan kriteria pengujian hipotesis, melakukan

interpretasi nilai “to” dengan berkonsultasi pada Tabel Nilai “t” untuk berbagai df,

dan menarik kesimpulan.

Dalam penelitian ini, hipotesis yang diuji terdiri dari dua rumusan, yaitu

hipotesis alternatif atau hipotesis kerja (Ha) dan hipotesis nihil atau hipotesis nol

(Ho). Hipotesis alternatif (Ha) berbunyi : “Terdapat perbedaan yang signifikan

tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”. Sementara itu, hipotesis

nihil (Ho) berbunyi : “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”.

Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah taraf

signifikansi (kebermaknaan) 1% atau taraf kepercayaan 99% dan taraf signifikansi

(kebermaknaan) 5% atau taraf kepercayaan 95%. Nilai to yang diperoleh melalui

perhitungan akan dibandingkan dengan besarnya nilai “tt” atau harga kritik “t”

84
yang terdapat pada Tabel Nilai “t” berdasarkan taraf signifikansi tersebut, dengan

terlebih dahulu menetapkan derajat kebebasan (db). Rumus untuk menentukan

derajat kebebasan (db) atau degrees of freedom (df) yang digunakan adalah df

atau db = (N1 + N2) – 2 (Sudijono, 1992:299).

Dengan menggunakan rumus tersebut, maka df yang diketahui adalah 78

(40+40-2 ). Karena df sebesar 78 tidak dijumpai dalam Tabel Nilai “t”, maka

digunakan df yang terdekat, yaitu 80. Pada Tabel Nilai “t” diketahui harga kritik

“t” pada taraf signifikansi 5% atau taraf kepercayaan (5%) dengan df 80 bernilai

1,99. Adapun harga kritik “t” pada taraf signifikansi 1% atau taraf kepercayaan

95% dengan df 80 bernilai 2,64. Dengan demikian, nilai to kebih besar daripada tt,

yaitu :

1,99 3,10 2,64


( 5% : tt ) to ( 1% : tt )

Sementara itu, kriteria pengujian hipotesis adalah sebagai berikut. Jika

pada taraf signifikansi 1% dan 5% nilai to lebih besar daripada tt, maka Ha

diterima dan Ho ditolak. Sebaliknya, jika to lebih kecil daripada tt, maka Ha

ditolak dan Ho diterima. Karena nilai to lebih besar daripada tt, maka hipotesis

alternatif (Ha) yang menyatakan “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, diterima. Sebaliknya, hipotesis

hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan

85
tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, ditolak.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis di atas, dapat diartikan bahwa antara

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri lebih baik dibandingkan dengan kemampuan siswa dalam menyunting

surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri. Dengan perkataan lain, dapat

disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan menyunting surat resmi

dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri.

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Keterampilan menyunting surat, khususnya keterampilan menyunting

surat resmi sangat penting dikuasai oleh siswa. Menyunting surat resmi sangat

penting untuk melatih ketelitian, kecermatan, dan ketertiban dalam berbahasa

tulis. Namun, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi secara faktual

masih belum memuaskan dan perlu terus ditingkatkan melalui penerapan metode

yang lebih variatif dan menarik. Untuk itu, penelitian ini dilaksanakan dalam

upaya memberikan kontribusi implementasi metodologis, yaitu penelitian tentang

kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan

tanpa menggunakan metode inkuiti.

Data yang diperoleh dari subjek penelitian dengan menggunakan

instrumen penelitian dan pedoman penilaian kemampuan menyunting surat resmi

berupa 40 nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri dan tanpa metode inkuiri. Berdasarkan distribusi nilai, diketahui jumlah

86
siswa yang mampu menyunting surat resmi dengan metode inkuiri sebanyak 30

orang atau sebesar 75 %. Sementara itu, jumlah siswa yang tidak mampu

menyunting surat resmi dengan baik sebanyak 10 orang atau sebesar 25%. Hal ini

sesuai batas persentase keberhasilan klasikal yang telah ditetapkan sebesar 75 %.

Distribusi nilai yang diperoleh adalah sepuluh orang yang memperoleh nilai 8,

duabelas orang yang memperoleh nilai 7 , delapan orang yang memperoleh nilai

6, lima orang memperoleh nilai 5, dan lima orang yang memperoleh nilai 4. Nilai

rata-rata kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiriadalah 6,4.

Sementara itu, siswa yang yang mampu menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri sebanyak 18 orang atau sebesar 45%, sedangkan

yang tidak mampu menyunting surat resmi dengan baik sebanyak 22 orang atau

sebesar 55 %. Persentase ini berada di bawah batas persentase keberhasilan

klasikal yang telah ditetapkan sebesar 75 %. Distribusi nilai yang diperoleh

adalah empat orang yang memperoleh nilai 8, empat orang yang mendapat nilai 7,

sepuluh orang yang memperoleh nilai 6, duabelas orang yang memperoleh nilai 5,

dan sepuluh orang yang memperoleh nilai 4. Nilai rata-rata kemampuan

menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri adalah 5,5.

Berdasarkan distribusi nilai, frekuensi nilai, nilai rata-rata, dan persentase

keberhasilan sebagaimana diuraikan di atas, menunjukkan adanya perbedaan nilai

dan kemampuan subjek penelitian dalam memahami isi bacaan. Nilai kemampuan

siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih

baik dibandingkan dengan nilai kemampuan menyunting surat resmi para siswa

87
tanpa menggunakan metode inkuiri. Untuk keperluan pengujian hipotesis, data

tersebut perlu dianalisis secara statistik. Analisis data dengan menggunakan

metode Tes “t” memperoleh nilai to (perbedaan dua mean). Nilai to dicari, karena

untuk menguji hipotesis, penulis akan membandingkan harga nilai to dengan harga

kritik “tt” yang terdapat pada Tabel Nilai “t”.

Berdasarkan hasil penghitungan, diketahui nilai to sebesar 3,10. Nilai to ini

jauh lebih besar daripada nilai tt sebesar 1,99 pada taraf signifikansi 5% atau taraf

kepercayaan 95% dan 2,64 pada taraf signifikansi 1% atau taraf kepercayaan 99%.

Karena nilai to lebih besar daripada tt, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak dan

hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan “terdapat perbedaan yang signifikan

tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan dan tanpa

menggunakan metode inkuiri” diterima.

Dengan diterimanya hipotesis alterrnatif, dapat diartikan bahwa

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode

inkuiri lebih baik daripada kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri. Temuan ini menunjukkan bahwa metode inkuiri

lebih efektif digunakan sebagai metode dalam menyunting surat resmi karena

berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam memahami surat.

Karena itu, untuk para guru sebaiknya dipertimbangkan penggunaan metode

inkuiri dalam pembelajaran menyunting surat.

88
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil analisis data dan temuan penelitian sepeeti

diuraikan pada bab IV, kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode

inkuiri kurang memuaskan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang

diperoleh sebagai hasil pelaksanaan tes, yaitu sebesar 5,5. Siswa yang mampu

menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri berjumlah 18

orang atau 45% dan yang tidak mampu menyunting surat resmi berjumlah 22

orang atau 55%. Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri diketahui ada sepuluh orang yang memperoleh

nilai 4, duabelas orang yang memperoleh nilai 5, sepuluh orang yang

memperoleh nilai 6, empat orang yang mendapat nilai 7, dan empat orang

yang memperoleh nilai 8.

2) Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri cukup memuaskan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata

yang diperoleh sebagai hasil pelaksanaan tes, yaitu sebesar 6,4. Siswa yang

mampu menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri

berjumlah 30 orang atau 75% dan siswa yang tidak mampu menyunting surat

resmi berjumlah 10 orang atau 25%. Distribusi nilai variabel X terdapat lima

orang yang memperoleh nilai 4, lima orang memperoleh nilai 5, delapan orang

89
yang memperoleh nilai 6, duabelas orang yang memperoleh nilai 7, dan

sepuluh orang yang memperoleh nilai 8.

3) Berkaitan dengan pengujian hipotesis, hipotesis alternatif (Ha) yang

menyatakan “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa

dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa

menggunakan metode inkuiri” diterima. Sedangkan rumusan hipotesis nihil

(Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan

metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, ditolak. Hal ini

terbukti setelah dilakukan pembandingan nilai hitung (to) dengan harga kritik

“tt” dengan menggunakan df 80. Ternyata nilai to atau nilai perbedaan mean

variabel X dan mean variabel Y hasil penghitungan sebesar 3,10, lebih besar

daripada nilai “tt” yang ada pada Tabel Nilai “t”, yaitu sebesar 1,99 pada taraf

signifikasi 5% atau taraf kepercayaan 95% dan sebesar 2,64 pada taraf

signifikasi 1% atau taraf kepercayaan 99%.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa

dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik

dibandingkan kemampuan mereka dalam menyunting surat resmi tanpa

menggunakan metode inkuiri. Dengan perkataan lain, terdapat perbedaan yang

signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan

menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri.

90
5.2 Saran -saran

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi

komponen pendidikan dan pengajaran. Dalam kaitan itu, ada beberapa saran yang

dapat disampaikan. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut.

1) Untuk para guru bahasa Indonesia, hendaknya terus berupaya meningkatkan

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan lebih baik. Hal ini

sangat penting untuk meningkatkan kecermatan dalam berbahasa. Dalam

kaitan ini perlu pembelajaran menyunting surat resmi dengan metode yang

tepat.

2) Kemampuan siswa yang masih belum memuaskan dalam menyunting surat

resmi hendaknya dijadikan bahan introspeksi bagi guru dan siswa. Bagi guru,

hal tersebut harus ditindaklanjuti dengan perencanaan dan pelaksanaan

pengajaran menyunting surat resmi dengan lebih baik lagi. Dalam kaitan ini,

hasil pembelajaran membaca sebaiknya langsung diikuti dengan kegiatan

evaluasi dan refleksi.

3) Kelemahan pembelajaran menyunting surat resmi selama ini terletak pada

penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Sebaiknya para

guru memilih dan menggunakan teknik yang menarik daya kreasi siswa dalam

memahami isi bacaan. Salah satu di antaranya adalah dengan metode inkuiri.

4) Para siswa hendaknya semakin menyadari pentingnya keterampilan

menyunting surat resmi bagi kepentingan studi dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kegiatan menyunting surat sebaiknya terus dilakukan dengan

penuh minat dan motivasi.

91
DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah (1994). Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta :


PT. Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. (1993). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan


Praktek. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. (1994). Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.

Depdikbud. (1993). Kurikulum SLTP, GBPP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Jakarta : Depdikbud.

Depdikbud. (1999). Pokok-pokok Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:


Depdikbud.

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran


Bahasa dan Sastra Indonesia SMP. Jakarta : Depdiknas.

De Uci, Oom Somara.2002 “Membaca dan Menulis Kenapa Tidak ? Buletin


Pusat Perbukuan. Vol.6. Tahun 2002. Jakarta : Pusbuk.

Hadi, Farid dan Boediono Issas. (1997). Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia.
Jakarta : Depdikbud.

Keraf Gorys (1984) Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende –


Flores : Nusa Indah.

Marjo, Y.S. (2005). Surat-surat Lengkap. Jakarta : Setia Kawan.

Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesional. Bandung : Rosda.

Moeliono, Anton, ed., (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. (edisi ke-3)
Jakarta : Depdiknas.

Muchlisoh, et. al., (1995) Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta
:Universitas Terbuka.

Mulyati, Yeti, et. al. (1998). Buku Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka.

Nafiah, Hadi. (1981). Anda Ingin Jadi Pengarang. Surabaya : Usaha Nasional

92
Nurgiyantoro, Burhan (1988). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta : BPFE.

Poerwadarminta, W.J.S. (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN


Balai Pustaka.

Rusyana, Yus. (1986). Buku Materi Pokok Keterampilan Menulis. Jakarta :


Karunika.

Semi, M. Atar. (1995). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung :


Mugantara.

Silmi, Sikka Mutiara. (2004). Panduan Menulis Surat Lengkap. Yogyakarta:


Absolut.

Sudijono, Anas. (1992). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : CV. Rajawali.

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : CV.


Sinar Baru..

Sudjana, Nana. (2005). Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah : Makalah-Skripsi-


Tesis-Disertasi. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : CV.


Sinar Baru..

Sudjana, Nana. (2005). Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah : Makalah-Skripsi-


Tesis-Disertasi. Bandung : Sinar Baru Algensindo.

Sugiyono. (1988). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alpabeta.

Suhendar dan Mien Supinah. (1992). MKDU Menulis. Bandung : Pionir Jaya.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung.


Rosda.

Soedjito dan Solchan. (1991). Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia. Bandung
: Remaja Rosdakarya.

Suriamihardja, Agus. (1996). Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Depdikbud.

Syamsudin, A.R. (1992). Study Wacana : Teori, Analisis, dan Pengajaran.


Bandung : FPBS – IKIP.

Tarigan, Djago (1991). Membina Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung:


Angkasa.

93
Tarigan, Djago. (1998). Kependidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta:
Depdikbud.

Tarigan, Djago dan H.G. Tarigan, (1990). Teknik Pengajaran Keterampilan


Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tarigan, Djago, et. al, (1998). Buku Materi Pokok pendidikan bahsa dan Sastra
Indonesia di kelas rendah. Bandung : Angkasa.

Tarigan, Djago. (1998). Buku Materi Pokok Kependidikan Keterampilan


Berbahasa. Modul 1-4. Jakarta : Depdikbud.

Tarigan, Henry Guntur. (1992). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.


Bandung : Angkasa

Tarigan, H.G. (1992). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung


: Angkasa.

Tarigan, H.G. (1993). Prinsip-Prinsip Dasar Metode Riset Pelajaran


Pembelajaran Bahasa. Bandung : CV Angkasa.

94
INSTRUMEN PENELITIAN

Alat Pengumpulan Data


Menyunting Surat Dinas dengan Metode Inkuiri
Lokasi Penelitian : SMP Negeri 2 Plered
Subjek Penelitian : Sampel Siswa Kelas VIII
Waktu : 70 Menit

Petunjuk Umum :
1. Tulislah nama dan nomor urut tesmu pada kolom identitas yang telah
disediakan !
2. Bacalah setiap petunjuk khusus sebelum kamu mengerjakan tes !
3. Periksalah kembali hasil pekerjaanmu sebelum dikumpulkan !

Petunjuk Khusus :
1. Bacalah contoh surat dinas berikut!
2. Carilah kesalahan kebahasaan dan isi surat tersebut!
3. Perbaiki kesalahan yang ada pada surat dengan menulis kembali surat dinas
tersebut !

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)


SMP NEGERI 2 PUTRA BANGSA
Jalan Raya Sukasari 10 Purwakarta

Nomor : 021/OSIS/III/2010. 20 Oktober 2009.


Lampiran : Satu Berkas.
Hal : Undangan.

Yth. Bapak Erwin Gutawa


SMP Negeri 2 Plered
Purwakarta.

Dengan hormat
Dengan ini dalam upaya bulan Bahasa, OSIS SMP 2 Putra Bangsa akan
mengadakan kegiatan Lomba Majalah Dinding antar kelas pada tanggal 28
Oktober 2010.
Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon bapak erwin gutawa
berkenan menjadi juri lomba tersebut.
Demikianlah permintaan kami ini disampaikan. Atas perhatian bapak kami
ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Hormat kami

Sandi Asmara
NAMA : NOMOR URUT TES :

__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________

96
Kunci Jawaban

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)


SMP NEGERI 2 PUTRA BANGSA
Jalan Raya Sukasari 10 Purwakarta

Nomor : 021/OSIS/III/2010 20 Oktober 2009


Lampiran : Satu Berkas
Hal : Undangan

Yth. Bapak Erwin Gutawa


SMP Negeri 2 Plered
Purwakarta

Dengan hormat,
Dalam rangka Bulan Bahasa, OSIS SMP 2 Putra Bangsa akan
mengadakan kegiatan Lomba Majalah Dinding antarkelas pada tanggal 28
Oktober 2010.
Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon Bapak Erwin Gutawa
berkenan menjadi juri lomba tersebut.
Demikian permohonan ini kami sampaikan. Atas perhatian Bapak kami
ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Sandi Asmara

97
Alat Pengumpulan Data
Menyunting Surat Dinas tanpa Metode Inkuiri
Lokasi Penelitian : SMP Negeri 2 Plered
Subjek Penelitian : Sampel Siswa Kelas VIII
Waktu : 70 Menit

Petunjuk Umum :
1. Tulislah nama dan nomor urut tesmu pada kolom identitas yang telah
disediakan !
2. Bacalah setiap petunjuk khusus sebelum kamu mengerjakan tes !
3. Periksalah kembali hasil pekerjaanmu sebelum dikumpulkan !

NAMA : NOMOR URUT TES :

Petunjuk Khusus :
Lingkarilah huruf A, B, C, atau D yang terletak di depan alternatif jawaban yang
paling tepat !

1. Amati penulisan kepala surat berikut !

DEPARTEMENT PENDIDIKAN NASIONAL


PROYEK PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
Jl. Diponegoro, Nomer 82, Jakarta, Tilpon 022-484584, Kotak Pos 2625

Pada kepala surat di atas terdapat kesalahan ejaan, kecuali …


A. Kotak Pos. C. Nomer.
B. Depertement. D. Tilpon.

2. Amati penulisan alamat surat berikut !

Purwakarta, 24 Februarai ‘07


Kepada
Yth. Bapak Pimpinan PT Ayam Super
Cabang Sumpit
di
Purwakarta

Pada alamat surat di atas, terdapat kesalahaan ejaan, yaitu …


A. Februari seharusnya Pebruari. C. PT seharusnya P.T.
B. ’07 seharusnya 2007 D. Yth. Seharusnya yth.

98
3. Amati penulisan salam pembuka berikut !
Dengan hormat ;
Di belakang salam pembuka seharusnya dibubuhi tanda baca…
A. Titik (.). C. Tanda koma (,).
B. Tanda hubung (-). D. Titik dua (:).

4. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya mengucapkan banyak-banyak terima


kasih.
Kata yang digunakan pada bagian penutup surat di atas yang perlu dihilangkan
adalah …
A. perhatian. C. Atas.
B. Terima kasih. D. banyak-banyak.

5. Kami mengharap Bapak/Ibu/Saudara pada upacara peringatan Hari


Pendidikan Nasional 3 Mei 2007 yang diselenggarakan…
Pada kalimat pembuka surat di atas tedapat kata yang seharusnya ada, yaitu …
A. Kehadiran. C. Penjelasan.
B. Keterangan. D. Perjanjian.

a. Demikianlah surat tugas ini.


Kalimat penutup surat di atas perlu dilengkapi, yaitu dengan pernyataan…
A. diserahkan untuk dilaksanakan.
A. diberikan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.
C. diperintahkan untuk dilaksanakan.
D. diinstruksikan untuk ditindaklanjuti.

6. Wassalam.
Penulisan salam penutup yang benar adalah …
A. Wasalam. C. Wasalam,
B. Wassalam, D. Wassalam;

8. Demikianlah surat ini kami sampaikan. Atas kehadiran Saudara, kami


mengucapkan terima kasih.
Paragraf penutup surat di atas sangat cocok untuk jenis surat…
A. Permohonan. C. Instruksi.
B. Tugas. D. Undangan.

9. Berikut ini penulisan tembusan yang benar, kecuali…


A. Tembusan : C.Tembusan YTH. :
B. Tembusan : D. TEMBUSAN YTH.:

10. Jika ada bahan-bahan yang dilampirkan, maka pembuka surat dapat
menggunakan kalimat atau frase …
A. Dengan ini. C. Sehubungan dengan.
B. Bersama surat ini. D. Membalas surat Saudara.

99