Anda di halaman 1dari 26

c cc

c
cc c 
c  c
http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/12/22/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-efusi-
pleura/

http://askep-askeb.blogspot.com/2009/12/efusi-pleura.html

http://askep-asuhankeperawatan.blogspot.com/2009/07/askep-efusi-pleura.html

A. Definisi

Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit
primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat
berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa
darah atau pus (Baughman C Diane, 2000)
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak
diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang
pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C
Suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga
pleura. (Price C Sylvia, 1995)

B. Etiologi

1.| Êambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada
dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor
ovarium) dan sindroma vena kava superior.
2.| Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus),
bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor
dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena
tuberculosis.

Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik,
tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari
empat mekanisme dasar :
‰ Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
‰ Penurunan tekanan osmotic koloid darah
‰ Peningkatan tekanan negative intrapleural
‰ Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
C. Tanda dan Gejala
‰ Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah
cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
‰ Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat,
batuk, banyak riak.
‰ Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan
cairan pleural yang signifikan.
‰ Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan
akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam
keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).
‰ Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian
atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan
mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler
melemah dengan ronki.
‰ Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D. Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi
seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh
kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik
elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis,
sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase
cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila
keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat
inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena
(gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat
pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai
peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang
menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar
langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini
juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah
sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E. Pemeriksaan Diagnostik
‰ Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya
sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan
melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.
‰ Ultrasonografi
‰ Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan,
sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada
sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah
(hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin
berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).
‰ Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam
(untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa,
amylase, laktat dehidrogenase (LDÊ), protein), analisis sitologi untuk sel-sel
malignan, dan pÊ.
‰ Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F. Penatalaksanaan medis
ü Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah
penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta
dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung
kongestif, pneumonia, sirosis).
ü Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna
keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.
ü Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau
minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit,
dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan
selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase ˜   atau
pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.
ü Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang
pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih
lanjut.
ü Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah
plerektomi, dan terapi diuretic.

G. Water Seal Drainase (WSD)


1. Pengertian
WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan
cairan melalui selang dada.

2. Indikasi
a. Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus
b. Êemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks
c. Torakotomi
d. Efusi pleura
e. Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi

3. Tujuan Pemasangan
‰ Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura
‰ Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
‰ Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian
‰ Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4. Tempat pemasangan
a. Apikal
o Letak selang pada interkosta III mid klavikula
o Dimasukkan secara antero lateral
o Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
b. Basal
o Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller
o Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura

5. Jenis WSD
ã Sistem satu botol
Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan
simple pneumotoraks
ã Sistem dua botol
Pada system ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua
adalah botol water seal.
ã System tiga botol
Sistem tiga botol, botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol.
System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan.

Ê. Pengkajian
1. Aktifitas/istirahat
Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat
2. Sirkulasi
Tanda : Takikardi, disritmia, irama jantung gallop, hipertensi/hipotensi, DVJ
3. Integritas ego
Tanda : ketakutan, gelisah
4. Makanan / cairan
Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus
5. nyeri/kenyamanan
Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam,
kemungkinan menyebar ke leher, bahu, abdomen
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi
6. Pernapasan
Gejala : Kesulitan bernapas, Batuk, riwayat bedah dada/trauma,
Tanda : Takipnea, penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada, retraksi
interkostal, Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat), Perkusi
dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan
âbservasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau
kemps, penurunan pengembangan (area sakit). Kulit : pucat, sianosis,berkeringat,
krepitasi subkutan

I. Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan),
gangguan musculoskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu, takipneu, perubahan kedalaman pernapasan,
penggunaan otot aksesori, gangguan pengembangan dada, sianosis, GDA taknormal.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil :
- Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal
- Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia
Intervensi :
‰ Identifikasi etiologi atau factor pencetus
‰ Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat, sianosis, perubahan tanda vital)
‰ Auskultasi bunyi napas
‰ Catat pengembangan dada dan posisi trakea, kaji fremitus.
‰ Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur
‰ Bila selang dada dipasang :
a. periksa pengontrol penghisap, batas cairan
b. âbservasi gelembung udara botol penampung
c. Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran
d. Awasi pasang surutnya air penampung
e. Catat karakter/jumlah drainase selang dada.
‰ Berikan oksigen melalui kanul/masker

2. Nyeri dada b.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik
(pemasangan selang dada)
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol
- Pasien tampak tenang
Intervensi :
‰ Kaji terhadap adanya nyeri, skala dan intensitas nyeri
‰ Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi
‰ Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi
‰ Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri
‰ Berikan analgetik sesuai indikasi
3. Resiko tinggi trauma/henti napas b.d proses cidera, system drainase dada, kurang
pendidikan keamanan/pencegahan
Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas
Kriteria hasil :
- Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi
- Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik
Intervensi :
‰ Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase, catat gambaran keamanan
‰ Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah
‰ Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit, ganti ulang kasa
penutup steril sesuai kebutuhan
‰ Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang
‰ âbservasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.

4. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan


Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan
Kriteria hasil :
- Menyatakan pemahaman tentang masalahnya
- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk
mencegah terulangnya masalah
Intervensi :
‰ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya
‰ Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang
‰ Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, nutrisi, istirahat, latihan
‰ Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien
‰ Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien .
  c

c

Effusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson

2005).Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang

melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis).

Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan

pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan.

Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer, sehingga mencegah

kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura mungkin mengalami peradangan atau udara

atau cairan dapat masuk ke dalam rongga pleura menyebabkan paru tertekan atau kolaps.

Cairan dalam keadaan normal dalam rongga pleura bergerak dari kapiler didalam

pleura parietalis ke ruang pleura dan kemudian diserap kembali melalui pleura visceralis.

Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura visceralis lebih besar daripada

selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan pleura

visceralis lebih besar daripada pleura parietalis sehingga pada ruang pleura dalam

keadaan normal hanya terdapat beberapa mililiter cairan.

c



Berbagai penyebab timbulnya effusi pleura adalah :


1.| Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.

2.| Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.

3.| Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom Meigs.

4.| Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.

5.| Trauma

6.| Penyebab lain seperti lupus eritematosus sistemik, rematoid arthritis, sindroms

nefrotik dan uremia.

c



Patofisiologi terjadinya effusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan

dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara

lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi yang terjadi karena

perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial kemudian

melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat

melalui pembuluh limfe sekitar pleura.

Pada kondisi tertentu rongga pleura dapat terjadi penimbunan cairan berupa

transudat maupun eksudat. Transudat terjadi pada peningkatan tekanan vena pulmonalis,

misalnya pada gagal jatung kongestif. Pada kasus ini keseimbangan kekuatan

menyebabkan pengeluaran cairan dari pmbuluh darah. Transudasi juga dapat terjadi pada

hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal. Penimbunan transudat dalam

rongga pleura disebut hidrotoraks. Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru

akibat gaya gravitasi.


Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan akibat

peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan absorpsi getah bening.Jika efusi pleura

mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema. Empiema disebabkan oleh prluasan

infeksi dari struktur yang berdekatan dan dapat merupakan komplikasi dari pneumonia,

abses paru atau perforasi karsinoma ke dalam rongga pleura. Bila efusi pleura berupa

cairan hemoragis disebut hemotoraks dan biasanya disebabkan karena trauma maupun

keganasan.

Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi engembangannya.

Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran dan cepatnya

perkembangan penyakit. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan maka jumlah cairan

yang cukup besar mungkin akan terkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata.

Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani, pada akhirnya akan menyebabkan gagal

nafas. Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial

âksigen (Pa â2)” 60 mmÊg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) • 50

mmÊg melalui pemeriksaan analisa gas darah.

c


!!"

1.| Batuk

2.| Dispnea bervariasi

3.| Adanya keluhan nyeri dada (nyeri pleuritik)

4.| Pada efusi yang berat terjadi penonjolan ruang interkosta.

5.| Pergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang mengalami efusi.
6.| Perkusi meredup diatas efusi pleura.

7.| Egofoni diatas paru yang tertekan dekat efusi.

8.| Suara nafas berkurang diatas efusi pleura.

9.| Fremitus fokal dan raba berkurang.

10.|Jari tabuh merupakan tanda fisik yang nyata dari karsinoma bronkogenik,

bronkiektasis, abses dan TB paru.

c

#"

1.| Rontgen Toraks

Dalam foto thoraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat

permukaan yang melengkung jika jumlah cairan > 300 cc. Pergeseran mediastinum

kadang ditemukan.

2.| CT Scan Thoraks

Berperan penting dalam mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang

utama bronkus, menentukan lesi pada pleura dan secara umum mengungkapkan sifat

serta derajat kelainan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lainnya.

3.| Ultrasound

Ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang timbul dan sering

digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada

torakosentesis.

4.| Torakosentesis
c



Pada efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi

melalui selang iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya

multiokuler, perlu tindakan operatif. Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi

cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik. Pengobatan secara sistemik hendaknya

segera dilakukan, tetapi terapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang

adequate.

Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi dapat dilakukan

pleurodesis yakni melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis. Zat-zat yang

dipakai adalah tetrasiklin, Bleomicin, Corynecbaterium parvum dll.

1.| Pengeluaran efusi yang terinfeksi memakai pipa intubasi melalui sela iga.

2.| Irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (Betadine).

3.| Pleurodesis, untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi.

4.| Torasentesis: untuk membuang cairan, mendapatkan spesimen (analisis),

menghilangkan dispnea.

5.| Water seal drainage (WSD)

Drainase cairan (Water Seal Drainage) jika efusi menimbulkan gejala subyektif

seperti nyeri, dispnea, dll. Cairan efusi sebanyak 1 ± 1,2 liter perlu dikeluarkan segera

untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak

maka pengeluaran cairan berikutya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.

6.| Antibiotika jika terdapat empiema.


7.| âperatif.

c

#

1. Fibrotoraks

Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik

akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan

ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan

mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya. Pembedahan

pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan membrane-membran

pleura tersebut.

2. Atalektasis

Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh

penekanan akibat efusi pleura.

3. Fibrosis paru

Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam

jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan sebagai

kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada efusi

pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan

paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada

sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan

kolaps paru.

c

c$%

c"

1.| Anamnesis:

Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin cepat

dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai demam sub febril

pada kondisi tuberkulosis.

2.| Kebutuhan istrahat dan aktifitas

ã| Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya, kesulitan tidur,

demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak.

ã| Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas sekuat-

kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot, nyeri dan stiffness

(kekakuan).

3.| Kebutuhan integritas pribadi

ã| Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan

pertolongan dan harapan


ã| Dapat ditemukan perilaku denial (terutama pada tahap awal) dan kecemasan

4.| Kebutuhan Kenyamanan/ Nyeri

ã| Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk

ã| Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan kurang

istrahat/kelelahan

5.| Kebutuhan Respirasi

ã| Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas pendek, nyeri

dada

ã| Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan fibrosis paru

(parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris, fremitus vokal menurun,

pekak pada perkusi suara nafas menurun atau tidak terdengan pada sisi yang

mengalami efusi pleura. Bunyi nafas tubular disertai pectoriloguy yang lembut dapat

ditemukan pada bagian paru yang terjadi lesi. Crackles dapat ditemukan di apex paru

pada ekspirasi pendek setelah batuk.

ã| Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah

ã| Dapat pula ditemukan deviasi trakea

6.| Kebutuhan Keamanan

ã| Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS , demam sub

febris

ã| Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris

7.| Kebutuhan Interaksi sosial


ã| Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita, perubahan

pola peran.

#

Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi pekak, fremitus vokal menurun atau asimetris

bahkan menghilang, bising napas juga menurun atau hilang. Gerakan pernapasan

menurun atau asimetris, lenih rendah terjadi pada sisi paru yang mengalami efusi pleura.

Pemeriksaan fisik sangat terbantu oleh pemeriksaan radiologi yang memperlihatkan jelas

frenikus kostalis yang menghilang dan gambaran batas cairan melengkung.



# 

Kultur sputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis

Apusan darah asam Zehl-Neelsen : positif basil tahan asam

Skin test : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48 ± 72 jam

setelah injeksi.

Foto thorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru, deposit

kalsium pada lesi primer, dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang, serta

gambaran batas cairan yang melengkung.

Biakan kultur : positif Mycobacterium tuberculosis

Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis)

Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan oleh retensi

air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis


ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru

Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan rasio

residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik tahap

lanjut.

 %&##'(

1.| Ketidakefektifan pembersihan jalan nafas berhubungan dengan kelemahan dan upaya

batuk buruk

2.| Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan

paru dan atalektasis

3.| Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum

4.| Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea

dan anoreksia

 )

1. Ketidak efektifan pembersihan jalan nafas berhubungan dengan kelemahan dan upaya

batuk buruk.

* (

ã| Menunjukkan pembersihan jalan nafas yang efektif dan dibuktikan dengan status

pernafasan, pertukaran gas dan ventilasi yang tidak berbahaya :

- Mempunyai jalan nafas yang paten

- Mengeluarkan sekresi secara efektif.


- Mempunyai irama dan frekuansi pernafasan dalam rentang yang normal.

- Mempunyai fungsi paru dalam batas normal.

ã| Menunjukkan pertukaran gas yang adekuatditandai dengan :

- Mudah bernafas

- Tidak ada kegelisahan, sianosis dan dispnea.

- Saturasi â2 dalam batas normal

- Rontgen toraks dalam rentang yang diharapkan.

 (

ã| Kaji dan dokumentasikan

- Keefektifan pemberian oksigen dan perawatan yang lain.

- Keefektifan pengobatan.

- Kecenderungan pada gas darah arteri.

ã| Auskultasi dada anterior dan posterior untukmengetahui adanya penurunan atau tidak

adanya ventilasi dan adanya bunyi hambatan.

ã| Penghisapan jalan nafas

- Tentukan kebutuhan penghisapan oral/trakeal.

- Pantau status oksigen dan status hemodinamik serta irama jantung sebelum, selama dan

setelah penghisapan.
ã| Pertahankan keadekuatan hidrasi untuk menurunan viskositas sekresi.

ã| Jelaskan penggunaan peralatan pendukung denganbenar, misalnya oksigen, alat

penghisap lender.

ã| Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa merokok merupakan kegiatan yang

dilarang di dalam ruang perawatan.

ã| Instruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam untuk memudahkan

keluarnya sekresi.

ã| Rundingkan dengan ahliterapi oernafasan sesuai dengan kebutuhan.

ã| Berikan oksigen yang telah dihumidifikasi.

ã| Beritahu dokter tentang hasil analisa gas darah yang abnormal.

ã| Bantu dalam pemberian aerosol. Nebulizer dan perawatan paru lain sesuai dengan

kebijakan dan protocol institusi.

ã| Anjurkan aktivitas fisik untuk meningkatkan pergerakan sekresi.

ã| Jika pasien tidak mampu untuk melakukan ambulasi, letak posisi tidur pasien diubah

tiap 2 jam.

ã| Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur untuk menurunkan

kecemasan dan peningkatan kontrol diri.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan

paru dan atalektasis.

* (

ã| Gangguan pertukaran gas akan terkurangi yang dibuktikan dengan status pernafasan

yang tidak bermasalah.

ã| Pertukaran gas tidak akan terganggu dibuktikan dengan indicator :


- Status neurologist dalam rentang yang diharapkan.

- Tidak ada dispnea saat istirahat dan aktifitas.

- Tidak ada gelisah, siamosis dan keletihan

- Pa â2, Pa Câ2, pÊ arteri dan saturasi â2 dalam batas normal.

 (

ã| Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman, usaha bernafas, produksi sputum.

ã| Pantau saturasi â2 dengan oksimeter.

ã| Pantau hasil analisa gas darah.

ã| Pantau status mental ( tingkat kesadaran, gelisah, confuse)

ã| Peningkata frekuanse pemantauan pada saatpasien tampak somnolen.

ã| âbservasi terhadap sianosis, terutama membrab mukosa mulut.

ã| Jelaskan penggunaan alat bantu yang digunakan.

ã| Ajarkan teknik bernafas dan relaksasi.

ã| Ajarkan batuk yang efektif.

ã| Konsultasikan dengan dokter tentang kebutuhan pemeriksaan AGD dan alat Bantu

yang dianjurkan sesuai dengan perubahan kondisi pasien.

ã| Laporkan perubahan kondisi pasien: bunyi nafas, pola nafas, hasil AGD dan efek dari

pengobatan.

ã| Berikan obat-obat yang diresepkan.

ã| Jelaskan kepada pasien sebelum memulai pelaksanaan prosedur, untuk menurunkan

ansietas.

ã| Lakukan tindakan untuk menurunkan konsumsi oksigen.

ã| Atur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan mengurangi dispnea.


3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum.

* (

ã| Mentoleransi aktifitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya tahan,

penghematan energi dan aktifitas kehidupan sehari-hari.

ã| Menunjukkan penghematan energi ditandai dengan indicator :

> Menyadari keterbatasan energi.

> Menyeimbangkan aktifitas dan istirahat.

> Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktifitas.

 (

ã| Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktifitas.

ã| Tentukan penyebab keletihan.

ã| Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas.

ã| Pantau asupan nutrisi untuk memastikan keadekuatan sumber energi.

ã| Pantau pola istirahat pasien dan lamanya istirahat.

ã| Ajarkan kepada pasien dan keluarga tentang teknik perawatan diri yang akan

meminimalkan konsumsi oksigen.

ã| Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah

kelelahan.

ã| Êindari menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat.


ã| Bantu pasien untuk mengubah posisi tidur secara berkala dan ambulasi yang dapat

ditolerir.

ã| Rencanakan aktifitas dengan pasien / keluarga yang meningkatkan kemandirian dan

daya tahan.

ã| Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktifitas.

ã| Rencanakan aktivitas pada periode pasien mempunyai energi paling banyak.

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ditandai dengan kelemahan, dispnea

dan anoreksia.

* (

ã| Menunjukkan status gizi yang baik dengan indicator adekuatnya makanan oral,

pemberian makanan lewat NGT atau nutrisi parenteral.

ã| Mempertahankan berat badan dalam batas normal.

ã| Nilai laboratorium albumin, transferin dan elektrolit dalam batas normal.

 (

ã| Tentukan motivasi pasien untk mengubah kebiasaan makan.

ã| Pantau nilai laboratorium khususnya transferin, albumin dan elektrolit.

ã| Ketahui makanan kesukaan pasien.

ã| Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

ã| Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.

ã| Timbang pasien pada interval yang tepat.

ã| Ajarkan keluarga dan pasien tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.
ã| ›i i li i i l i i t

ã| R j t t t ti i

ã| Ci t li t

ã| B t i t

ã| ÷ ti i i t t  t


t
 
il  

p p
´  
   

c   
 il l l
  i i l l l    iti
jtj i i  tj i   it itli i t i
ji
  i t t tt  t  
t  
B 
C›i
 il l l
  li l l  tlt it
 i l itl   itijtj ittii  
  it   t
  itlil l l
  j l
ili il  i il   
 i l lt   i ilt C 

    
 t  ii il     ti 
  i i  itijlt  iti  i it i 
 i  i
t i li
 t  l i  ii 
it i      i  l t 
i i 
 t ›i÷  i t  l i 
!li
il  tt  l    itl ti
tli i  l i  i÷i i l
  iit  t  it
i   :
‰ittil l lt li ti
‰  t tili  

‰itttiitl l
‰"  i l it l til 
#
1. Pneumonia
2. Fibrosis paru
3. Pneumotorak
4. Emfisema
5. ArelektasisI.

 "
1. Pemeriksaan laboratorium (analisis cairan efusi yang di thorakosentesis)
2. Pemeriksaan radiology
Foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan yang
melengkung jika jumlah ciran efusi lebih dari 300 ml, pergeseran mediastinum kadang
ditemukan.
3. CT scan dada akan terlihat adnaya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya.
4. Ultra sono grafi pada pleura dapat menentukan adnaya cairan rongga pleura.
5. Bronkoskopi pada kasus-kasus neoplasma, korpus aleunum dan abses paru.
6. Thorakoskopi (tiber optic pleura) pada kasus dengan neoplasma tuberculosis pleura.
7. Biopsi pleura.


!!"
Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena‰ pergesekan, setelah cairan
cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan‰ nyeri dada pleuritis
(pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak
riak.
‰ Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan
pleural yang signifikan.
Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,‰ karena cairan akan
berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus
melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk
permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup‰ timpani dibagian atas garis
Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong
mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
‰ Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

+!'&+ (Suzanue C
Smeltezer dan Brenda G. Bare, 2002).
1. Transudat
Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh, terjadi jika
faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu
karena ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik. Transudasi menandakan kondisi
seperti asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal sehingga terjadi
penumpukan cairan.
2. Eksudat
Ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat inflamasi oleh produk
bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus. Efusi
pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi
paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis, embolisme paru, infeksi
parasitik.


Perubahan pergerakan cairan ke dalam dan keluar rongga pleura disebabkan adanya
ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotic dalam permukaan kapiler
dan pleura.
Perbedaan antara eksudat dan transudat didasarkan pada isi proteinnya trasudat (hidrotoraks)
diproduksi ketika cairan yang bebas protein mengalir dalam rongga pleura menjadi
terganggu. Cairan tampak jerniah atau kuning pucat. Berat jenis 1,015 atau kurang dengan
kandungan protein normal kurang dari 3 gr/dl, hitung jenis sel darah. Peningkatan tekanan
kapiler pada gagal jantung dan pengurangan tekanan onkotik plasma dalam ginjal atau
penyakit hepar telah diketahui menyebabkan cairan transudat.

Diagnosa Keperawatan
1!+!,#!-'./
#'/&-/# 
Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu, takipneu, perubahan kedalaman pernapasan,
penggunaan otot aksesori, gangguan pengembangan dada, sianosis, GDA taknormal.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil :
- Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal
- Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia
Intervensi :
‰ Identifikasi etiologi atau factor pencetus
‰ Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat, sianosis, perubahan tanda vital)
‰ Auskultasi bunyi napas
‰ Catat pengembangan dada dan posisi trakea, kaji fremitus.
‰ Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur
‰ Bila selang dada dipasang :
a. periksa pengontrol penghisap, batas cairan
b. âbservasi gelembung udara botol penampung
c. Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran
d. Awasi pasang surutnya air penampung
e. Catat karakter/jumlah drainase selang dada.
‰ Berikan oksigen melalui kanul/masker
&!!+!'0+,#".!'0
,#!!.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol
- Pasien tampak tenang
Intervensi :
‰ Kaji terhadap adanya nyeri, skala dan intensitas nyeri
‰ Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi
‰ Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi
‰ Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri
‰ Berikan analgetik sesuai indikasi
·#-$+!'!/&#!!!/
!!#-'$
Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas
Kriteria hasil :
- Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi
- Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik
Intervensi :
‰ Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase, catat gambaran keamanan
‰ Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah
‰ Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit, ganti ulang kasa penutup steril
sesuai kebutuhan
‰ Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang
‰ âbservasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.
X$#!!+
Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan
Kriteria hasil :
- Menyatakan pemahaman tentang masalahnya
- Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah
terulangnya masalah
Intervensi :
‰ Kaji pemahaman klien tentang masalahnya
‰ Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang
‰ Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, nutrisi, istirahat, latihan
‰ Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien
‰ Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien .