Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS BEDAH ORTOPEDI

SEORANG ANAK PEREMPUAN 13 TAHUN DENGAN


FRAKTUR RADIUS SINISTRA 1/3 TENGAH TRANSVERSE
DISPLACED TERTUTUP NON KOMPLIKATA

Disusun oleh :
Anggit Pudjiastuti (G6A009028)

Pembimbing :
dr. Agus Priambodo, Sp.B, Sp.OT, FICS (K Spine)

SUB BAGIAN BEDAH ORTOPEDI


BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. N
Umur : 13 tahun
Agama : Islam
Alamat : Karang bendo RT 2 / RW 3 Jatingaleh Semarang
No. CM : 6582556
Masuk Rumah sakit : 3 April 2011
Tempat dirawat : A2
II. DAFTAR MASALAH
No Problem aktif Tanggal No Problem Tanggal
Pasif
1. Fraktur radius sinintra 4 April 2011
1/3 tengah transverse
displaced tertutup non
komplikata

III. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 4 April 2011 jam 16.00 di
Bangsal A2 RSDK
Keluhan Utama: nyeri pada tangan kiri setelah jatuh dari ayunan
Riwayat Penyakit Sekarang:
+ 1 jam sebelum masuk rumah sakit pasien jatuh dari ayunan duduk, jatuh
ke kiri, tangan kiri menahan badan, pasien sadar, nyeri kepala (-), mual (-),
muntah (-). Tangan kiri terasa nyeri, bengkak (-), teraba panas (-), jari-jari
tangan kiri masih bisa digerakkan, masih bisa merasakan, pasien langsung
dibawa ke UGD RSDK. Di UGD pasien di spalk dan diberi asam
mefenamat 250 mg.
Riwayat Penyakit Dahulu:
 Riwayat luka sulit sembuh tidak ada
 Riwayat perdarahan tidak berhenti tidak ada
 Riwayat menderita kencing manis, sakit jantung, tidak ada
 Riwayat alergi terhadap obat disangakal

Riwayat penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga yang menderita kencing manis dan darah tinggi.

Riwayat sosial ekonomi:


Pasien adalah anak ketiga. Memiliki dua orang kakak dan satu orang adik
yang belum bekerja. Tinggal bersama ibu. Ibu pasien tidak bekerja.
Berobat ditanggung jamkesmas.
Kesan social ekonomi: kurang

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Status praesens ( dilakukan di bangsal A2 pada 4 april 2011 jam 16.00)
Keadaan umum : baik
Kesadaran : kompos mentis
Tanda vital : TD : 100/70 mmhg
N : 80 kali per menit
RR : 16 kali per menit
T : 36.7 C
Pemeriksaan Fisik:
Kepala : mesosefal
Mata : konjungtiva palpebra pucat (-/-), pupil bulat, di tengah, isokor (3
mm/3mm)
THT : discharge (-/-)
Mulut : perdarahan (-), intra oral tidak ada kelainan
Leher : trakea di tengah, jejas (-)
Thorax :
Pulmo:
I : Simetris saat statis dan dinamis
Pa : stem fremitus kanan = kiri
Pe : sonor seluruh lapangan paru
Au : suara dasar vesikuler +/+, suara tambahan -/-
Cor:
I : ictus cordis tak tampak
Pa: ictus cordis di SIC V 2 cm medial LMCS
Pe: konfigurasi jantung dalam batas normal
Au: bunyi jantung I-II normal, bising (-).
Abdomen:
I : datar, jejas (-)
Au : bising usus (+) normal
Pe : timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)
Pa : supel, hepar dan lien tidak teraba
Pelvis:
I : jejas (-)
Pa: anteroposterior, laterolateral tidak ada kelainan
Genitalia : perempuan, dalam batas normal
Ekstrimitas:
Superior Inferior
Edema -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capillary refill <2”/<2” <2”/<2”
Sensibilitas +/+ +/+
Motorik:
Gerak +/+ +/+
Kekuatan 5/3 5/5

Status lokalis regio antebrachii sinistra


I : tampak deformitas berupa angulasi, oedem (-). Perdarahan (-), luka (-)
Pa : Arteri radialis teraba, nyeri tekan (+), suhu dan warna sama dengan
kulit sekitar, sensibilitas (+), gerak aktif (+)
Motorik : ekstensi jari I (+)
Abduksi jari V (+)
D. DIAGNOSIS SEMENTARA
Fraktur radius sinistra 1/3 tengah transverse displaced tertutup non
komplikata.

E. PENATALKSANAAN
Ip Dx : S: -
O: X-foto antebrachii AP-Lateral, darah rutin, GDS, elektrolit,
PPT/PTTK
Ip Rx : Pasang spalk
Asam mefenamat 3 x 250 mg
Ip Mx : Keadaan umum, tanda vital
Ip Ex : Memberitahkan kepada pasien dan keluarganya bahwa tulang
tangan kiri pasien patah. Untuk mengetahui jenis patah dan garis
patahnya akan dilakukan foto rontgen. Terapi dan tindakan
selanjutnya ditentukan berdasarkan hasil foto rontgen tersebut.

TINJAUAN PUSTAKA
MEKANISME TRAUMA
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang,
tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang
parsial. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung,
tekanan langsung pada tulang, dan terjadi fraktur pada daerah tekanan, dan trauma
tidak langsung, trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur.
Akibat trauma bergantung pada jenis trauma, kekuatan, arahnya dan umur
penderita.
KLASIFIKASI FRAKTUR
Klasifikasi fraktur dibagi menjadi:
1. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar
 Fraktur tertutup
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
 Fraktur terbuka
Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka
pada kulit dan jaringan lunak
2. Menurut etiologis
 Fraktur traumatic
Terjadi karena trauma yang tiba-tiba
 Fraktur patologis
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan
patologis pada tulang maupun di luar tulang, misalnya tumor,
infeksi, atau osteoporosis.
 Fraktur stress
Terjadi karena beban lama atau trauma ringan yang terus-menerus
pada suatu tempat tertentu, misalnya fraktur pada tulang tibia atau
metatarsal pada tentara atau olahragawan yang sering berlari atau
baris-berbaris.
3. Menurut komplit tidaknya garis fraktur
 Fraktu komplit
Apabila garis patah yang melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang.
 Fraktur tidak komplit
Apabila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.
4. Menurut garis fraktur
 Transversal
 Obliq
 Spiral
 Kominutif
 Kupu-kupu
 Segmental
 Depresi
5. Menurut bergeser atau tidak bergesernya fragmen-fragmen fraktur
 Fraktur undisplaced
Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser
 Fraktur displaced
Terjadi pergeseran fragme-fragmen fraktur