Mencermati Dampak Inflasi dari Opsi Kebijakan BBM Bersubsidi

Posted on March 15, 2011 by sayaprimata Kenaikan harga minyak yang terjadi selama beberapa minggu terakhir ini memaksa pemerintah untuk mengkaji ulang strateginya dalam mengatur subsidi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah sempat berniat untuk mengenakan pembatasan bensin dan solar secara bertahap mulai April mendatang, tapi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa minggu lalu mengindikasikan bahwa rencana ini tidak akan dilaksanakan sesuai jadwal. Belakangan, sebuah tim bentukan pemerintah bernama Tim Pengkajian Pengaturan BBM Bersubsidi yang dikepalai Anggito Abimanyu menyampaikan tiga opsi terbaik untuk mengatasi pembengkakan subsidi. Opsi pertama adalah menaikkan harga premium sebesar Rp 500 per liter, berlaku untuk semua jenis kendaraan. Meski demikian, pengusaha kendaraan umum akan mendapat pengembalian dana (cash back) juga senilai Rp 500 per liter, sehingga kebijakan ini diharapkan tidak ikut berdampak pada kenaikan tarif angkutan darat. Opsi kedua adalah memaksa pemilik kendaraan pribadi untuk beralih dari konsumsi premium ke Pertamax. Meski demikian, harga per liter Pertamax dibatasi sampai Rp 8.000. Jika harga keekonomian produk ini melebihi batas atas itu, kelebihannya akan disubsidi pemerintah. Yang belum jelas mengenai opsi ini adalah mengenai wilayah pemberlakuan, apakah diimplementasikan langsung secara nasional atau di daerah tertentu yang memang telah memiliki infrastruktur memadai untuk menjual Pertamax. Sementara, opsi terakhir adalah menetapkan pembatasan konsumsi premium dengan sistem kendali untuk semua jenis kendaraan. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada kejelasan mengenai opsi kebijakan yang akan diambil pemerintah. Tim Pengkajian Pengaturan BBM Bersubsidi merekomendasikan opsi kenaikan harga Rp 500 per liter (opsi pertama). Opsi ini jelas sekali adalah opsi yang paling mudah untuk diimplementasikan, semata-mata karena pelaksanaan opsi lain membutuhkan tambahan ³biaya´. Jika memilih opsi kedua, misalnya, ada ketidakpastian yang harus diperhitungkan terkait dengan pergerakan harga keekonomian Pertamax. Ini belum termasuk tambahan subsidi yang harus dibayar jika harga keekonomian Pertamax terus berada di atas Rp 8.000 per liter. Sementara itu, opsi pembatasan membutuhkan pengawasan yang ketat di lapangan, antara lain untuk memastikan bahwa premium yang dijual tidak ditimbun untuk dijual saat jatah komoditas itu dinyatakan habis. Kami juga mendapati bahwa opsi pertama ternyata sangat bersahabat dengan inflasi. Hasil simulasi ekonometrik kami menunjukkan bahwa kenaikan harga premium sebesar Rp 500 per liter mulai hari pertama di salah satu bulan selama April±September 2011 hanya akan menghasilkan tambahan 0,19 percentage points (ppts) hingga 0,4 ppts terhadap inflasi tahun ini. Dengan asumsi rata-rata harga minyak WTI 2011 sebesar US$ 101,77 per barel (merujuk pada ramalan US Energy Information Administration), inflasi tahun ini kami perkirakan mencapai 5,19% jika harga BBM bersubsidi di dalam negeri tidak berubah. Dengan demikian, kenaikan harga premium sebanyak Rp 500 per liter hanya akan menghasilkan inflasi sebesar 5,38%±5,59%, masih sesuai target Bank Indonesia di kisaran 4%±6%. Kalkulasi kami juga menunjukkan bahwa timing pemberlakuan kebijakan ini juga mempengaruhi hasil akhir inflasi. Implementasi opsi ini pada awal Mei 2011 menghasilkan

dilengkapi capping harga sebesar Rp 8. Bila ini terjadi. Karena kebijakan BBM belum diputuskan. ³Pertama adalah agar kita dan APBN khususnya. dalam keterangan tertulisnya.38%). jika opsi ini dipilih.25%±7. BI rate tampak masih akan ditahan di posisi 6. Sebaliknya konsumsi yang melebihi jatah akan berdampak pada inflasi. Jadi. Dengan kata lain. semakin besar windfall yang akan kita dapatkan.Kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang diterapkan pemerintah dinilai tidak efektif. penerapan kebijakan ini secara nasional terlihat sulit. Minggu (20/3/2011). implikasi harga dari penerapan opsi ketiga akan tergantung dari konsumsi bensin sendiri. ada ketidakpastian yang cukup tinggi dalam menerka arah inflasi 2011. Pri Agung Rakhmanto mengatakan ada tiga hal penting yang menjadi tujuan utama dari diterapkannya kebijakan harga BBM subsidi berfluktuasi. 3 Tujuan Kebijakan BBM Subsidi Berfluktuasi JAKARTA . Dengan demikian. Kedua. Sambil mencermati dampak kenaikan harga minyak internasional terhadap ekspektasi inflasi (yang menurut kami tidak akan berdampak lebih kuat dibandingkan kebijakan harga BBM di dalam negeri). implementasinya mungkin bakal dilakukan secara selektif di wilayah tertentu. bank sentral akan menunggu kepastian terkait kebijakan energi ini. ini dilakukan agar Indonesia sebagai negara produsen minyak dapat mulai menikmati windfall ketika harga minyak meningkat atau tinggi. . sedangkan penerapan pada bulan Juli menghasilkan inflasi paling tinggi. Bila masyarakat benar-benar bisa menyesuaikan diri sehingga jatahnya tidak terlanggar. tidak seperti saat ini dimana ketika harga minyak tinggi. dapat terbebas dari permasalahan klasik subsidi BBM yang diakibatkan oleh gejolak tingginya harga minyak. terutama pada bulan-bulan terakhir tahun ini. maka dari itu diusulkan menerapkan kebijakan harga BBM subsidi berfluktuasi.´ ungkapnya. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.000 per liter. Implementasi opsi pembatasan ini memungkinkan adanya konversi dari premium ke Pertamax jika jatah premium habis terpakai. selama pemerintah belum memberikan kepastian. APBN selalu mengalami tekanan. Kondisi ini kami pandang juga dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga yang ditentukan Bank Indonesia. Meski demikian. Sementara itu. akan membawa inflasi tahun ini ke 7. inflasi 2011 tentu saja tidak akan setinggi angka yang kami sebutkan tadi.angka inflasi paling rendah (5.75%. Bagaimana jika pemerintah memilih opsi kedua? Menurut hitungan kami.44%. konversi wajib ke Pertamax secara nasional. tidak akan ada dampak inflasi dari kebijakan ini. terkait dengan kesiapan daerah dalam memasarkan Pertamax. Semakin tinggi harga minyak.

Qoyum menilai hal itu masih harus dikaji lebih lanjut. kebijakan pencabutan subsi bahan bakar minyak (BBM) sebenarnya di sudah tepat. berbagai skema penerapan subsidi sedang dikaji. Sehingga lebih adapti terhadap dinamika perekonomianyang terjadi sepanjang waktu. Contohnya. Padahal. Untuk menghemat anggaran subsidi.´ tandasnya. berpendapat. pada prinsip nya kendaraan umum dan golongan masyarakat tidak . Selama ini pemerintah tidak mampu mengawasi penjualan BBM. Dari total konsumsi BBM bersubsidi. yang dananyasebenarnya didapat dari utang. Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menyata kan. ´Suruh orang kota yang kaya itu beli Pertamax.³Keti erekonomi n negara ini secara kesel ruhan baik itu unt k kalangan u pemerintah. dunia usaha. Selama ini pemerintah memilih menyubsidi BBM dan membiarkan bahan bakar gas yang lebih murah diekspor. harga gas alam cair yang diekspor tidak lebih dari 55 persen harga impor BBM. Menurutnya. rencana pemerintah membatasi BBM bersubsidi bagi kendaraan bermotor dinilai bukan solusi yang tepat dalam mengurangibesaran subsidi energi. pemerintah bisa mengubah BBM menjadi bahan bakar gas alam. Itu lebih populis. Sementara itu. sekitar 90 persen dari BBM subsidi. Dalam kaitan itu. Hanya saja. sebenarnya ada yang salah dari subsidi BBM. lantas uangnya dibelikan truk. Pemerintah seharusnya mengalihkan subsidi BBM yang lebih mahal ke pemberian subsidi untuk bahan bakar gas yang lebih murah. pada saat yang sama harus menambah devisa 45 persen untuk impor BBM. dan masyarakat luas terbiasa dengan harga BBM yang bergerak naik turun. Demikian dikatakan pengamat transportasi Rudy Thehamihardja dan ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata. 70 persen di antaranya dinikmati masyarakat menengah atas. apakah pemerintah mampu mengomunikasikannya kepada masyarakat dengan tepat? Djoko mengatakan ³masak kebijakan pemerintah gugur hanya karena protes masyarakat? Artinya. baik untuk motor maupun mobil. Apalagi konsumsi BBM untuk sepeda r motor relatif kecil. Jadi. Jadi. secara alamiah perekonomian yang sesungguhnya memang demikan adanya. ade) Kebijakan BBM Dinilai Tak Jelas Pernyataan dari para pejabat di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang saling bertolak belakang mengenai pencabutan subsidi bahan bakar minyak untuk sepeda motor dinilai sebagai tidak adanya cetak biru mengenai transportasi massal di Indonesia. ´Pikiran kita selama ini disesatkan dengan subsidi. Terkait pemb atasan subsidi BBM untuk sepeda motor. pemerintah tidak benar-benar menggelar survei soal BBM subsidi ini sehingga kebijakan subsidi BBM benar-benar terlihat hanya kebijakan yang reaktif. pemerintah akan terus mengupayakan agar subsidi BBM makin tepat sasaran.´ Menurut Rudy.´ Baik Djoko maupun Rudy kembali mengingatkan pemerintah untuk tidak memberlakukan disparitas harga. Sebagian pengguna sepeda motor merupakan golongan menengah ke atas dan sebagian lagi termasuk masyarakat bawah. pengamat energi Qoyum Tjandranegara mengatakan. Sektor transportasi adalah penerima subsidi BBM terbesar. dengan pencabutan subsidi BBM. Larangan pemberian BBM bersubsidi bagi sepeda moto tidak bijaksana. Djoko Setijowarno.´ Rudy menegaskan. setiap Indonesia menjual gas alam cair. sebenarnya pemerintah malah dapat bertindak populis. Tulis di dinding truk itu bahwa truk itu dibeli dari uang pengalihan dana subsidi. membelikan truk untuk angkutan pedesaan dari pengalihan dana subsidi BBM.

mampu akan t tap mendapat ubsidi. Untuk mematangkan kebijakan ini. penjatahan konsumsi premium dengan sistem kendali penjatahan. pihak yang kontra beralasan menaikkan harga minyak sama saja dengan membunuh rakyat kecil karena kenaikan harga BBM bisa dipastikan akan berimbas pada meroketnya harga berbagai kebutuhan bahan pokok. Bukan tidak mungkin. pemerintah memastikan memilih opsi untuk tidak akan menaikkan BBM bersubsidi dalam waktu dekat ini. Paradoks Sejak dulu. pihak yang pro menganggap kenaikan harga BBM ditengah kondisi melonjaknya harga minyak dunia adalah suatu hal yang masuk akal. ¢ ¡   £ . 2011 | Artikel Setelah mempertimbangkan berbagai opsi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Kedua. Jika ini terjadi social cost yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dari dana yang didapat dari penghematan. menaikkan harga BBM dengan cara dan momentum yang tidak tepat justru akan menciptakan gejolak sosial. mewajibkan kendaraan pribadi roda empat untuk beralih dari premium ke pertamax. pemerintah bahkan sudah membentuk Tim Pengkajian Pengaturan BBM yang dipimpin oleh Anggito Abimanyu dan perwakilan beberapa akademisi. Sebelumnya pemerintah mewacanakan akan menerapkan pembatasan BBM. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh melalui keterangan persnya (9/3/2011) kemaren. Alih-alih menyelamatkan APBN. menaikkan harga premiun sebesar Rp500 menjadi Rp5000 per liter. subsidi BBM yang terus bertambah dapat berimbas pada membengkaknya defisit anggaran yang tahun ini ditargetkan tidak lebih dari 2% APBN. kenaikan harga BBM selalu memunculkan paradoks tersendiri. Sementara itu. publik yang merasa dipermainkan dengan politik µharga BBM turun tiga kali¶ semasa kampanye SBY-Boediono akan marah. Pendukung rezim ini beralasan. Ketiga. Dalam konteks harga minyak dunia saat ini yang mencapai USD114 per barel. Kenaikan harga BBM ditengah kondisi inflasi harga pangan juga bukan sebuah pilihan yang bijak dan justru akan memicu stagflasi (inflasi plus stagnasi ekonomi). Padahal harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus melonjak sepanjang tahun 2011 ini seiring bergolaknya situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Belakangan beberapa pihak menilai solusi yang ditawarkan oleh tim ini sangat parsial karena mengabaikan masalah substansial yang di hadapi manajemen sumber daya en ergi nasional. Dalam diskursus efek domino (multiplier effect) harga minyak. Mengurai Karut Marut Kebijakan BBM Posted by Admin on March 9. opsi menaikkan harga minyak adalah pilihan realistis. Tim ini kemudian menghasilkan tiga tiga opsi pengaturan BBM bersubsidi yakni pertama. termasuk mereka ang menggunakan sepeda motor. hingga kemudian menuntut pemakzulan. Konsumen BB dari kalangan kendaraan roda dua tidak perlu khawatir karena kebijakan pengetatan itu tidak ditujukan kepada kelompok masyarakat ini.

terutama untuk angkutan umum. produksi minyak kita sangat rendah dan target produksi tiap tahun selalu gagal dicapai. kendati selalu berulang. akar permasalahan minyak di Indonesia adalah pengelolaan sisi hulu yang sangat mengecewakan. Diversifikasi yang paling feasible adalah dengan mengkonfersi pemakaian BBM dengan bahan bakar gas BBG. misteri cost recovery. jumlah produksi per hari/tahun. Kalaupun dibicarakan. Pengamat ekonomi Kurtubi pernah mengemukakan. Saat ini pemerintah terkesan hanya melihat sisi hilir semata. Dalam Global Petroleum Survey 2010. jika produksi minyak kita berhasil mencapai 1. tetapi terkesan sekadar berwacana. Indonesia mempunyai banyak potensi energi yang belum maksimal dan belum serius dikembangkan oleh pemerintah. Keempat. diversifikasi energi. pengembangan energi alternatif hanya menjadi wacana dan proposal belaka. kebijakan strategis peningkatan efisiensi pemakaian BBM sama sekali tak terlihat. setidaknya ada lima hal penting yang perlu segera dilakukan pemerintah. Seperti diketahui. Dalam hitung-hitungan sederhana. menginisiasi gerakan nasional penghematan energi. upaya peningkatan produksi tidak signifikan. Kelima. Ketiga. pertambahan jumlah kendaraan. kondisi industri investasi perminyakan di Indonesia saat ini merupakan yang terburuk di Oceania dan terburuk ke-111 dari 113 negara di dunia. yakni hanya melihat masalah konsumsi dan subsidi BBM saja namun abai dan terkesan menutup mata dengan permasalahan di sektor hulu. Hingga saat ini pemerintah tidak pernah memiliki kejelasan dalam membuat kebijakan pemenuhan energi terutama dibidang perminyakan dan kelistrikan yang sangat dibutuhkan rakyat. Padahal. pemerintah terkesan biasa-biasa saja menghadapinya. dan aneka pertanyaan lain yang mesti dijawab secara tuntas. Celakanya. Segera menyusun road map energi nasional. perbaikan tata kelola kebijakan. Padahal potensi gas 40% dunia ada di Indonesia. pertumbuhan ekonomi. dasar kebijakan investasi sektor energi. Lebih dari itu.5 juta barel per hari seperti tahun 1999. Seperti diketahui hingga saat tidak pernah ada transparansi kebijakan di sektor minyak. Permasalahan domestik selaku produsen sekaligus konsumen minyak tak pernah tuntas diatasi. proyeksi produksi energi secara holistik dalam jangka panjang. Road map energi tersebut paling tidak harus mencakup proyeksi kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang. justru malah turun. tapi di baliknya terdapat banyak hal yang tidak jelas mengenai ekonomi minyak di negeri ini. Itulah sebabnya. Kemacetan lalu lintas di kota-kota besar makin parah. dan pertumbuhan penduduk jelas memicu peningkatan konsumsi minyak. penerimaan sektor ini akan bisa mencapai Rp400 triliun sehingga subsidi BBM yang nilainya Rp90 triliun tidak akan terlalu membebani anggaran. jumlah . jika menginginkan permasalah harga minyak ini dapat segera tuntas dalam jangka panjang dan tidak menjadi bom waktu dikemudian hari: Pertama. terjadi ketegangan sosial. percepatan pengembangan energi alternatif. Pemerintah tidak pernah menjelaskan berapa biaya produksi minyak per liter/barel. level kebocoran distribusi minyak. Hingga detik ini. Hingga saat ini. Namun. Kedua. Rakyat tidak boleh diminta terus-menerus berkorban yang timbul atas kesalahan kebijakan maupun pengelolaan sumber daya ekonomi di negara ini. distribusi energi nasional. Tidaklah patut apabila kebijakan kenaikan harga BBM dilakukan.(Tidak) Belajar Dari Kesalahan Sudah tidak terhitung perekonomian nasional selalu meradang gara-gara lonjakan harga minyak. dasar kebijakan yang mendorong penggunaan energi ramah lingkungan serta insentif penggunaan energi ramah lingkungan. belum lagi geotermal dan batubara. Terlepas dari permasalahan perminyakan di sektor hulu dan hilir yang terus menghimpit kita.

carut marut kebijakan BBM tidak akan pernah terurai. Kita berharap jangan sampai kesalahan tata kelola ini justru menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan berujung pada pemakzulan penguasa .kendaraan naik dramatis sementara sarana dan prasarana transportasi massal yang layak tidak kunjung terealisasi. Alhasil. serta mempercepat produksi dan konsumsi energi alternatif yang ramah lingkungan. efisiensi pemakaian BBM secara nasional. Selama komitmen tersebut tidak tampak. BBM yang terbakar di kemacetan lalu lintas terus membengkak. Memperbaiki tata kelola energi tentu dalam konteks untuk meningkatkan produksi minyak mentah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful