Anda di halaman 1dari 24

ASPEK REGULASI, PENGUSAHAAN DAN

PERPAJAKAN PANASBUMI

1. Regulasi/Perundangan
Kebijakan yang ditempuh dalam pengusahaan panas bumi tidak lepas dari Kebijakan
Umum Bidang Energi (KUBE), yaitu bahwa energi panas bumi termasuk energi
terbarukan (renewable) dan tidak dapat diekspor (unexportable), maka tenaga panas
bumi cukup besar potensinya untuk menempati urutan pertama dalam prioritas
pengembangan untuk keperluan kebutuhan dalam negeri.

Agar pengusahaan panas bumi dapat menarik investor asing maupun lokal,
pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dan strategi sebagai berikut :
1. Mengadakan kerja sama dengan perusahaan asing dalam bentuk Kontrak Operasi
Bersama (KOB).
2. Menurunkan pajak pengusahaan panas bumi dari 46% menjadi 34% dari
pendapatan bersih perusahaan.
3. Mengusahakan prospek panas bumi mulai dari pengembangan lapangan sampai
dengan pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik (total project)
4. Membentuk satu pintu (Tim Pelaksana Panas Bumi Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral) untuk penanganan pengusahaan panas bumi.
5. Pemberlakuan Undang-Undang No. 44 Prp Tahun 1960 dan Undang-Undang No. 8
Tahun 1971, tentang kuasa pengusahaan sumber daya panas bumi skala besar
hanya diselenggarakan oleh negara (Pertamina).

Setelah Keppres No. 5 Tahun 1998 yang menunda dan mengkaji kembali beberapa
project panasbumi, belum ada regulasi termasuk Keppres No. 76 Tahun 2000 yang
berhasil menarik investasi baru. Dengan terbitnya UU No. 27 Tahun 2003 tentang
panasbumi diharapkan akan memberikan kepastian hukum dalam mendorong
investasi untuk pengembangan panasbumi. Berikut ini regulasi yang berkaitan
dengan pengusahaan panasbumi:
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun 1981 tentang Pemberian
Kuasa Eksplorasi/Eksploitasi Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkit
Energi/Listrik kepada Pertamina.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 23 Tahun 1981 tentang Pajak
Perseroan dan Royalti pada Pelaksanaan Kuasa Pengusahaan Sumber Daya Panas
Bumi dan Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract) antara Pertamina
dan Kontraktor dalam Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi.
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 45 Tahun 1991 tentang Perubahan
Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1981.
4. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 49 Tahun 1991 tentang Perlakuan
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pungutan-pungutan Lainnya
Terhadap Pelaksanaan Kuasa dan Ijin Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi
untuk Pembangkitan Energi/Listrik.
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 39 Tahun 1997 tentang
Penangguhan/Pengkajian Kembali Proyek Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara,
dan Swasta yang Berkaitan dengan Pemerintah/Badan Usaha Milik Negara.
6. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 47 Tahun 1997 tentang Perubahan
Status Pelaksanaan Beberapa Proyek Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, dan
Swasta yang Berkaitan dengan Pemerintah/Badan Usaha Milik Negara yang
Semula Ditangguhkan atau Dikaji Kembali.
7. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 05 Tahun 1998 tentang Pencabutan
Keputusan Presiden No. 47 Tahun 1997 tentang Perubahan Status Pelaksanaan
Beberapa Proyek Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara, dan Swasta yang
Berkaitan dengan Pemerintah/Badan Usaha Milik Negara yang Semula
Ditangguhkan atau Dikaji Kembali.
8. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2000 tentang Pengusahaan
Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkit Tenaga Listrik.
9. Undang – undang Republik Indonesia No. 27 Tahun 2003 Tentang Panas Bumi.
10. Undang – Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2000 Tentang Perubahan
Ketiga Atas Undang – Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.
11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 1 Tahun 2007 Tentang Fasilitas Pajak
Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau
Di Daerah-Daerah Tertentu
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 59 Tahun 2007 Tentang Kegiatan
Usaha Panasbumi

Resume perkembangan regulasi pengusahaan panasbumi di Indonesia, dapat dilihat


pada Tabel 1.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Tabel 1. Perkembangan hukum pengusahaan panas bumi di Indonesia (Soemarinda,
2002)

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


2. Kuasa Pengusahaan Eksplorasi dan Eksploitasi
Dasar hukum pengusahaan sumber daya panas bumi di Indonesai adalah berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1981, dimana kuasa eksplorasi dan eksploitasi sumber
daya panas bumi untuk pembangkit energi/listrik di Indonesia diberikan kepada Pertamina. Di
samping itu, untuk pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan
sendiri oleh Pertamina, Menteri Pertambangan dan Energi dapat menunjuk pihak lain sebagai
kontraktor untuk mengadakan kerja sama dengan Pertamina dalam bentuk Kontrak Operasi
Bersama (Joint Operation Contract). Dalam pelaksanaan pengusahaan tersebut Pertamina wajib
menjual energi/listrik sebagai hasil produksinya kepada PLN. Keputusan Presiden Nomor 22
Tahun 1981 merupakan peraturan dari sisi pengusahaan panas bumi sedangkan sisi
perpajakannya diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 23 Tahun 1981 tentang
Pajak Perseroan dan Pajak atas Bunga, Deviden dan Royalty pada Pelaksanaan Kuasa
Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi dan Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation
Contract) antara Pertamina dan Kontraktor dalam Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Dalam pelaksanaannya terdapat kendala yang bersifat teknis dan ekonomis sehingga kurang
diminati oleh para penanam modal. Untuk mengatasi kendala tersebut, serta dalam rangka
meningkatkan pengembangan pengusahaan panas bumi, pemerintah mengeluarkan peraturan
baru, yaitu penyempurnaan Keppres No. 22 Tahun 1981 menjadi Keppres No. 45 Tahun 1991.
Sedangkan di bidang perpajakan, pemerintah mengganti Keppres 23 Tahun 1981 menjadi
Keppres No. 49 Tahun 1991. Dengan diterbitkannya Kepres No. 45 dan No. 49 Tahun 1991,
pengusahaan panas bumi menjadi lebih menarik karena energi berupa uap atau listrik yang
dihasilkan selain dijual kepada PLN juga dapat dijual kepada instansi lain, Badan Usaha milik
negara lain, Badan Usaha Nasional yang berstatus badan hukum dan koperasi. Pajak
pengusahaan panas bumi juga diturunkan dari 46% menjadi 34% dari penerimaan bersih
perusahaan (Net Operating Income ). Kewajiban pembayaran pajak sebesar 46% yang terdapat
dalam Keppres 23 Tahun 1981 meliputi 40% pajak perseroan dan 10% pajak deviden.

Selain itu Keppres No. 45 tahun 1991 juga memberikan kemungkinan bahwa apabila diperlukan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dapat memberikan ijin pengusahaan sumber daya
panas bumi skala kecil kepada instansi lain, Badang Usaha milik negara lain, Badan Usaha
Nasional lain yang berstatus hukum maupun koperasi untuk keperluan ketenagalistrikkan serta
usaha lainnya.

Joint Operation Contract (JOC) atau Kontrak Operasi Bersama (KOB) adalah perjanjian
antara kontraktor dengan Pertamina, mewakili pemerintah. Pertamina bertanggungjawab terhadap
manajemen operasi dan kontraktor bertanggungjawab atas produksi energi panas bumi dari area
kontrak, konversi energi menjadi listrik, dan menyalurkan energi panas bumi atau listrik. JOC
mengijinkan operator beroperasi hingga 42 tahun, termasuk periode produksi selama 30 tahun.
Pertamina tidak mempunyai kepemilikan saham dalam usaha ini, dan tugas Pertamina menagih
kompensasi sebagai pemilik kuasa penambangan. Listrik terjual berdasarkan Energy Sales
Contract (ESC), yang biasanya dalam bentuk dollar dan mewajibkan PLN untuk membeli listrik
selama periode 30 tahun atau lebih. Banyak pihak yang terlibat dalam ESC meminta negosiasi
ulang.

Ketentuan-ketentuan pokok dalam KOB adalah sebagai berikut :

1. Manajemen operasi di tangan Pertamina.

2. Kontraktor bertanggung jawab kepada Pertamina atas pelaksanaan operasional sumber daya
panas bumi.

3. Kontraktor menanggung biaya dan resiko pelaksanaan operasi pengusahaan sumber daya
panas bumi.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


4. Kontraktor mendapat bagian dari hasil penjualan energi/listrik sebagai hasil produksi
pengusahaan sumber daya panas bumi berdasarkan KOB.

5. Energi/listrik sebagai hasil produksi pelaksanaan KOB dijual oleh Pertamina kepada PLN.

Perjanjian Energi Sales Contract, sebagai bagian yang tidak terpisah dari JOC, adalah perjanjian
antara kontraktor dan pemasok uap panas bumi, Pertamina sebagai penjual dan PLN sebagai
pembeli dari energi panas bumi. Dalam perjanjian ini, periode produksi untuk menyalurkan energi
panas bumi dari setiap unit adalah 30 tahun sejak tanggal komersial pertama dimulai. Jangka
waktu ESC adalah 42 tahun.

3. PERPAJAKAN PANAS BUMI


Menurut UU No. 27 Tahun 2003, Penerimaan negara berupa pajak dan bukan pajak.
- Pajak
Pajak, bea masuk dan pungutan lain atas cukai dan impor, pajak daerah dan retribusi
daerah.
- Bukan Pajak
Pungutan negara berupa iuran tetap dan iuran produksi serta pungutan negara lainnya
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan, bonus.

Iuran tetap dan iuran produksi: 20% pemerintah dan 80% pemerintah daerah. Bagian
Pemerintah Daerah: Provinsi 16%, Kabupaten/Kota Penghasil 32%, Kabupaten/Kota Lainnya
dalam provinsi yang bersangkutan 32%. Iuran tetap umumnya besarannya kecil sekali. Untuk
iuran produksi (royalty), Pemerintah merencanakan pemberlakuan royalty sebesar 2.5% dari
penjualan listrik (untuk total project) atau 5% dari penjualan uap (untuk steam field project).

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Perkembangan Peraturan Panas Bumi di Indonesia dari
Aspek Bisnis dan Perpajakan

Aspek Operasional Aspek Perpajakan


ASPEK BISNIS ASPEK PERPAJAKAN
Kep. Pres. No. 23 Kontrak Operasi
Kep. Pres. No. 22 Tahun 1981 Bersama
Tahun 1981 Kep. Men. Keuangan
No. 746 Tahun 1981
2 Kontrak

Perubahan Penggantian
Penyempurnaan Pergantian

Kep. Pres. No. 49


Kep. Pres. No. 45 Tahun 1991
Tahun 1991 Kep. Men. Keuangan 6 Kontrak
No. 766 Tahun 1992

Pergantian Pergantian
Penggantian Penggantian

Keputusan Presiden Undang-Undang 0 Kontrak


No. 76 Tahun 2000 Yang Berlaku
(Termasuk UU RI No. 17
Undang-Undang Tahun 2000)
No, 27 Tahun 2003

Gambar 1. Perkembangan Peraturan Panas Bumi di Indonesia dari Aspek Bisnis


dan Perpajakan

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Tabel 2. Perkembangan Sistem Perpajakan Panasbumi Di Indonesia
(Sumber:Asosiasi Panasbumi Indonesia, 2004)

Kep. Men. Keuangan Kep. Men.Keuangan Undang-Undang


No. 746/KMK.04/1992 No.766/KMK.04/1992 No. 17 Tahun 20003)
Pajak Penghasilan
a. Tarif Pajak 46% 1) 34% 30%
Penghasilan Percepatan Declining Balance Tidak diatur khusus4)
b. Metoda Depresiasi 6 tahun 7 tahun2) Tidak diatur khusus4)
c. Masa Depresiasi 12,5%, 25% Tidak diatur khusus4)
d. Tarif Depresiasi kecuali tahun 3 =
37,5%
Pajak Pertambahan Tidak diatur a. Dibayar oleh a. Dibayar oleh
Nilai pengusaha, tetapi Pengusaha,
dapat diperoleh tetapi tidak dapat
kembali diperoleh kembali
b. Ada b. Tidak ada
penundaan penundaan
pembayaran PPN pembayaran PPN
Pungutan-Pungutan Tidakdiatur Ditanggung
Lain Pemerintah

Import Barang Operasi Tidakdiatur Tidak dipungut bea Dipungut bea masuk
masuk dan PPN dan PPN
Investment Tax Credit 5% per tahun, untuk 4 Tidak ada Dimungkinkan5)
tahun

Keterangan :
1. Pajak Penghasilan 40% dan PABDR (Pajak Atas Bunga Deviden Royalti) 10%
2. Mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan No. 457/KMK.012/1984 dengan perlakuan
khusus
3. Beserta Undang-Undang Pajak Tahun 2000 lainnya yang terkait.
4. Mengacu pada Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan Pasal
11 ayat 6 (bangunan permanen, straight line, 20 tahun, 5%) dan Keputusan Menteri
Keuangan No. 520/KMK04/2000 (Kelompok 3; Declining Balance, 16 tahun, 12,5%).
5. Pasal 31A ayat (1) a. Undang-Undang No. 17 Tahun 2000 Tentang Pajak Penghasilan :
"Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang tertentu dan atau di
daerah-daerah tertentu dapat diberikan fasilitas perpajakan dalam bentuk pengurangan
penghasilan neto paling tinggi 30% dari jumlah penanaman yang dilakukan".

Pajak Perusahaan (PPh)


Pajak perusahaan yang berlaku besarnya 30% sesuai dengan peraturan
perpajakan. Meskipun dalam kenyataannya perusahaan-perusahaan yang
berasal dari Amerika tetap memperhitungkan besarnya pajak perusahaan
sebesar 34% karena di Amerika pajak perusahaan minimal dikenakan 34% yang

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


berarti kalaupun di Indonesia dikenakan 30% berarti mereka masih membayar
4% lagi sisanya di negaranya.

Untuk kontrak lama sebelum terbitnya UU No. 27 tahun 2003 (seperti yang
diperlihatkan pada tabel di atas), pajak penghasilan dikenakan kepada kontraktor
apabila kumulatif dari taxable income sudah bernilai positif.

Gross Revenue

(-)
Cost Recovery

(-)
Investment Allowance

Tax Contractor Share

INDONESIA TAKE TOTAL CONTRACTOR SHARE

Cost

Contractor Cash Flow

Gambar 3 Kontrak Kerjasama Panas Bumi

Pajak Dividen
Pada awalnya sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, pajak deviden
adalah sebesar 10% untuk perusahaan PMDN dan 20% untuk perusahaan PMA.
Untuk permanent establishment company yang beroperasi di Indonesia (seperti
pada umumnya perusahaan-perusahaan perminyakan) yang berasal dari negara
yang memiliki tax treaty dengan Indonesia, maka pajak deviden yang berlaku
adalah yang lebih rendah yang dikenakan di negara masing-masing. Ini berarti

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


bahwa jika suatu perusahaan berasal dari suatu negara yang tidak mengenakan
pajak deviden maka perusahaan tersebut kenakan pajak 0%.

Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, perkembangan ekonomi


daerah dan penciptaan lapangan kerja, Pemerintah mengeluarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tanggal 2 Januari 2007
tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang
Usaha Tertentu dan/atau Di Daerah-daerah tertentu. Fasilitas yang diberikan
Pemerintah yakni fasilitas Pajak Penghasilan untuk investasi langsung, baik
melalui PMA (Penanaman Modal Asing) maupun PMDN (Penanaman Modal
Dalam Negeri).

Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini diharapkan bisa lebih memberi


daya tarik kepada para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia
karena lebih memberi jaminan kepastian hukum dalam berinvestasi. Hal-hal
penting dalam Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Wajib Pajak yang berhak mendapat fasilitas:
• Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang berbentuk perseroan terbatas dan
koperasi yang melakukan penanaman modal pada bidang tertentu atau
pada bidang tertentu dan daerah tertentu;
• Yang dimaksud penanaman modal adalah investasi berupa aktiva tetap
berwujud termasuk tanah yang digunakan untuk kegiatan utama usaha.
Baik untuk penanaman modal baru maupun perluasan dari usaha yang
telah ada;
• Bidang-bidang Usaha Tertentu adalah bidang usaha disektor kegiatan
ekonomi yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional;
• Daerah-daerah Tertentu adalah daerah yang secara ekonomis
mempunyai potensi yang layak dikembangkan.

2. Fasilitas Pajak yang diberikan:

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


• Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari
jumlah penanaman modal, dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-
masing sebesar 5% (lima persen) per tahun;
• Penyusutan dan amortisasi dipercepat;
• Pengenaan Pajak Penghasilan atas deviden yang dibayarkan kepada
Subjek Pajak luar negeri dengan tarif yang lebih rendah yaitu sebesar
10% (sepuluh persen), atau tarif menurut Persetujuan Penghindaran
Pajak Berganda yang berlaku, mana yang lebih rendah; dan
• Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih
dari 10 (sepuluh) tahun dengan kriteria tertentu.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan:


• Menteri Keuangan menerbitkan keputusan pemberian fasilitas Pajak
Penghasilan setelah mempertimbangkan usulan dari Kepala BKPM;
• Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas perpajakan atas kegiatan
usaha di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang
Perlakuan Perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 147
Tahun 2000, maka atas kegiatan usaha tersebut tidak lagi diberikan
fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
ini;
• Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan
Peraturan Pemerintah ini diatur atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
• Pemerintah Pemerintah ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007.

Sebagai catatan, dalam analisa keekonomian proyek panas bumi, pajak deviden
sebaiknya tidak diperhitungkan karena deviden dari suatu perusahaan tidak
selalu dibagikan. Pajak deviden dikenakan jika deviden dibagikan kepada share
holder sedangkan yang diinvestasikan kembali tidak dikenakan pajak.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
PPN dikenakan untuk barang dan jasa dalam negeri, besarnya 10%. Dampak
pengenaan PPN ini adalah kenaikan biaya investasi 10% untuk komponen
barang dan jasa dalam negeri.

Bea Masuk dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor)


Besarnya bea masuk dan PDRI meliputi bea masuk, PPN Impor dan PPh. Besar
dari komponen bea masuk untuk yang memiliki fasilitas Master List besarnya
antara 0 sampai 10%, akan tetapi untuk yang tidak memiliki fasilitas master list
bisa mencapai 15%, PPN Impor 10% dan PPh 2.5%.

Menteri Keuangan melalui Permenkeu No 177/PMK 011/2007, Permenkeu No


178/PMK 011/2007, dan Permenkeu No 179/PMK 011/2007, akhirnya
membebaskan bea masuk impor barang untuk kegiatan usaha hulu migas dan
panas bumi, menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) impor barang untuk
kegiatan eksplorasi hulu migas dan panas bumi, sekaligus membebaskan bea
masuk impor platform pengeboran produksi terapung dan di bawah air.

Pajak Lain
Pajak lain yang dikenakan adalah PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) akan tetapi
dibanding komponen pajak yang lain besarnya relatif kecil. Untuk gambaran
besarnya PBB dan cara perhitungan, lihat tulisan yang relevan mengenai PBB
Panas Bumi ini pada Lampiran.

4. Road Map Pengembangan Energi Panasbumi Untuk Pembangkit Listrik

Dalam perundangan-undangan tentang energi khususnya panas bumi dalam UU


27/2003 dan kebijakan energi nasional 2005-2025 semua isu tentang lingkungan
dan pembangunan berkelanjutan menjadi bahasan yang utama. Khusus tentang
panas bumi telah disusun Blue Print dengan Roap Map pengembangannya.
Dalam road map Pemerintah menargetkan panas bumi sebagai sumber energi
alternatif listrik dengan kapasitas sebagai berikut:

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


1. Tahun 2008 target kapasitas listrik dari panas bumi sebesar 2000 MWe
2. Tahun 2012 target kapasitas listrik dari panas bumi sebesar 3400 MWe
3. Tahun 2020 target kapasitas listrik dari panas bumi sebesar 6000 MWe
4. Tahun 2025 target kapasitas listrik dari panas bumi sebesar 9500 MWe
Peranan pemanfaatan energi panas bumi meningkat menjadi 3,8% pada 2025,
dengan kondisi eksisting pemanfaatan sampai awal tahun 2005 baru tercapai
807 MWe (1,4%) dengan dominasi berada di Jawa Barat sebesar 744 MWe.
Kerangka waktu pengembangan panas bumi sebagai sumber energi listrik
diilustrasikan pada Gambar 3.

KERANGKA WAKTU PENGEMBANGAN NASIONAL PANAS BUMI


EBT PB
“Energi
eksisting
1,4% dari Pengembangan Pemanfaatan 6000 MW 2005 - 2020 terbarukan 3,8 %
Energi dari Energy-Mix
Mix pada 2025”

Kontribusi Jabar
744 MW

2005 2008 2012 2016 2020 2025

807 MW 2000 MW 3442 MW 4600 MW 6000 MW


(produksi) (target) 9500 MW
WKP baru
1193 MW 1442 MW 1158 MW 1400 MW
Optimis
WKP yang WKP yang WKP yang ada WKP baru
7500 MW
ada ada + WKP baru

Pengembangan Potensi 21000 MW dan non volcanic jangka panjang :

2005 2012 2025

Gambar 3.
Kerangka Waktu Pengembangan Panas Bumi Nasional tahun 2005-2025

5. Perizinan

Perizinan panas bumi di atur berdasarkan Undang-undang No 27 tahun 2003.


Proses perijinan digambarkan dalam alur proses kegiatan operasional dan
pengusahaan panas bumi pada Gambar 4.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Pengembangan Pemanfaatan 6000 MW 2005 -
2025
Pemerintah/ Pemerintah/
Pemda/ Badan BUMN, BUMD,
SWASTA,
Swasta Usaha KOPERASI

Peman-
Potensi faatan
Survey ? Panas
Energi Studi Kelayakan
Pendahuluan Eksplorasi Eksploitasi bumi

3 thn 2 thn 30 thn

SDM, TEKNIS, PERUNDANGAN


Izin Usaha Pertambangan Panas
Penugasan Bumi (IUP)
Pembelian listrik dari EBT dengan
penunjukan langsung

Gambar 4. Alur Proses Kegiatan Operasional dan Pengusahaan Panas Bumi


Menurut Undang-undang No 27/2003

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


LAMPIRAN

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


PBB ATAS PENGUSAHAAN SUMBERDAYA PANAS BUMI
(GEOTHERMAL)
Objek Potensial Yang Belum Tergali Optimal

oleh: Yi Hermawan, SE

http://www.ut.ac.id/ol-supp/PAJA3233/pemberdayaan_pbb.htm

Komponen terbesar penerimaan PBB sampai saat ini masih diperoleh


dari sektor Pertambangan, khususnya Pertambangan Minyak Bumi dan
Gas Bumi (Migas). Data tahun 1998 menunjukkan dari total realisasi
penerimaan PBB sebesar Rp 3.298,9 milyar, realisasi PBB Migas
mencapai 47% atau Rp 1.555,1 (Direktorat PBB Juni 1999). Dengan
peranan yang besar tersebut, tidak heran pembicaraan seputar PBB
Migas selalu menjadi perhatian banyak pihak terutama menyangkut
pembagian besarnya PBB untuk masing-masing Dati II. Apalagi jika
dikaitkan dengan diberlakukannya UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah serta UU Nomor 25 Tahun 1999
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah,
dimana peranan PBB terhadap APBD Tingkat UU terutama untuk Dati II
di luar Jawa menjadi semakin dominan.

Namun, kecenderungan meningkatnya ketergantungan penerimaan


PBB dari sektor Migas harus segera dikurangi mengingat pada tahun-
tahun mendatang produksi migas maupun harganya diperkirakan akan
terus mengalami penurunan. Sebagai salah satu upaya penggalian
potensi penerimaan PBB di luar sektor migas sebenarnya masih ada
satu komponen PBB Pertambangan yang sangat potensial namun
sampai saat ini belum dapat digali secara optimal yaitu PBB atas
pengusahaan sumberdaya panas bumi (geothermal). Penrimaan Pajak
Bumi dan Bangunan dari sektor panas bumi sampai saat ini masih kecil
dibanding sektor migas. Untuk tahun 1998, PBB yang berhasil
dihimpun dari sektor ini hanya sebesar Rp 4,5 miyar atau 3% saja dari
total penerimaan PBB Migas (Direktorat PBB Juni 1999). Padahal dari
segi potensial, kapasitas sumberdaya panas bumi sangat besar dan
tersebar hampir di seluruh tanah air.

Mekanisme Pengenaan PBB Panas bumi

Mekanisme pengenaan PBB atas obyek Panas bumi secara umum


sama dengan pengenaan atas obyek PBB Migas, kecuali dalam tiga hal
pokok yaitu karakteristik pengelolaan, komponen peruntukan obyek

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


tanah dan bangunan emplasemen, serta satuan unit produksi yang
digunakan.

1. Pengelolaan Sumberdaya Panas bumi

Berbeda dengan pengusahaan pertambangan Migas yang hanya


dilakukan oleh Pertamina atau Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing
Contract, PSC) antara Pertamina dengan Kontraktor Asing,
pengusahaan Sumberdaya Panas bumi dapat dikelola sepenuhnya oleh
Pertamina, Kontrak Operasi Bersama/Joint Operation Contract (JOC)
antara Pertamina dengan Kontraktor Asing, dan bisa berupa Pemegang
Ijin Pengusahaan Sumberdaya Panas bumi Skala Kecil, yang semata-
mata melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya panas bumi
untuk menghasilkan uap panas bumi guna pembangkit energi listrik
atau secara terpadu menghasilkan uap panas bumi dan
membangkitkan energi listrik (total project).

2. Peruntukan obyek Pajak

Sama halnya dengan PBB Migas, peruntukan obyek PBB Panas bumi
terdiri atas lima komponen utama yaitu areal produktif, areal belum
produktif, areal tidak produktif, areal emplasemen, serta areal lainnya.
Perbedaannya terletak pada karateristik areal emplasemen.

Tanah dan bangunan emplasemen untuk pengusahaan pertambangan


migas umumnya terdiri atas obyek perkantoran, pabrik, silo, kilang,
tangki, pipa, perumahan, sarana olehraga/rekreasi, bangunan sosial
serta helipad. Sedangkan areal emplasemen untuk pengusahaan
sumberdaya panas bumi terdiri atas tiga komponen utama yaitu:

• Fasilitas produksi, meliputi sumur panas bumi produktif/injeksi,


pipa panas bumi, separator/scrubbes, dam, dan stasiun pompa
air.
• Fasilitas pembangkit listrik, meliputi bangunan utama
pembangkit listrik, cooling tower, kolam limbah produksi, swict
yard.
• Fsailitas pendukung, meliputi komponen-komponen seperti pada
emplasemen pertambangan migas.

3. Satuan Unit Produksi


Hasil produksi minyak dan gas bumi dinyatakan dalam ukuran barrel
untuk minyak dan mscf untuk gas bumi, sedangkan atas hasil produksi
panas bumi dinyatakan dalam ukuran KWh.
Penentuan Nilai Objek Pajak (NJOP) dan Besarnya PBB
Terutang

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


Untuk setiap peruntukan objek PBB panas bumi, penentuan NJOP
didasarkan atas karakteristik, posisi, dan kondisi dari masing-masing
peruntukan.
1. NJOP atas Areal Produktif
Area Produktif adalah bumi di dalam Wilayah Kuasa Pengusahaan
Sumberdaya Panas bumi (WKPSP) yang dimanfaatkan pada tahap
eksploitasi atau produksi. Pada dasarnya yang dihasilkan dari
sumberdaya panas bumi adalah air atau uap panas bumi alami dan
energi yang terkandung di dalamnya dalam bentuk panas atau energi,
yang dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik.
Dasar penentuan hasil produksi panas bumi untuk keperluan
penghitungan besarnya PBB sampai tahun 1996 menggunakan satuan
ton (konsep Barrel of Oil Equivalent, BOE) dengan
mengkonversikannya ke dalam satuan ukur setara barrel minyak
mentah, dimana 1 ton uap setara dengan 0,246356 BOE.
Penghitungan berdasarkan konsep BOE menghasilkan data yang
akurat, namun hasilnya hanya berlaku untuk produksi satu lapangan
panas bumi saja. Misalnya, penghitungan produksi atas lapangan
Panas bumi Kamojang tidak dapat digunakan untuk penghitungan
produksi atas lapangan Dieng. Penggunaan konsep BOE menjadi tidak
efektif pada saat jumlah lapangan panas bumi menjadi semakin
banyak.
Untuk memperbaiki kelemahan konsep BOE maka mulai tahun pajak
1997 berdasarkan kesepakatan pihak Ditjen Pajak dan Pertamina, unit
produksi panas bumi digunakan satuan Kilo Watt hour (KWh). Dengan
satuan KWh perhitungan ketetapan PBB menjadi lebih sederhana
karena hasil perhitungan produksi atas satu lapangan panas bumi
dapat digunakan untuk semua lapangan.
Penentuan besarnya NJOP atas hasil produksi ditetapkan berdasarkan
tingkat kapitalisasi sebesar 9,5 kali hasil penjualan energi panas
bumi/listrik dalam satu tahun sebelum tahun pajak yang bersangkutan.
Jika disajikan dalam bentuk formula adalah sebagai berikut:
NJOP = 9,5 x Hasil Produksi Tahun X (KWh) x Harga Jual Hasil Produksi per KWh (US$)
x Nilai Tukar US$ ke Rupiah
2. NJOP atas Areal di Luar Areal Produktif
Areal di luar areal produktif meliputi empat komponen utama, yaitu:

a. Areal belum produktif, meliputi areal penyelidikan umum, areal


eksplorasi, dan areal cadangan produksi.
b. Areal tidak produktif adalah areal yang sama sekali tidak
menghasilkan energi panas bumi.
c. Areal emplasemen adalah areal di dalam maupun di luar WKPSP
yang di atasnya terdapat bangunan dan atau pekarangan.
d. Areal lainnya, meliputi areal pengamanan, areal perairan, dan
tanah kosong yang tidak dimanfaatkan untuk kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, ekploitasi, atau areal

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


emplasemen.
Penentuan besarnya NJOP atas keempat areal di atas adalah
sebesar NJOP berupa tanah sebagaimana ditetapkan dalam
Keputusan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak setempat.

3. Penentuan NJOP Bangunan


Termasuk kategori bangunan dalam pengusahaan sumberdaya panas
bumi adalah semua komponen fasilitas produksi, fasilitas pembangkit
listrik, dan fasilitas-fsailitas pendukungnya. NJOP-nya sebesar luas
bangunan dikalikan NJOP bangunan yang disusun berdasarkan Daftar
Biaya Komponen Bangunan sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak setempat.
4. Contoh Ilustratif Perhitungan Besarnya PBB
Berdasarkan perhitungan NJOP untuk masing-masing peruntukan objek
pajak di atas, berikut disajikan contoh ilustratif perhitungan besarnya
PBB terutang atas Wajib Pajak Kontraktor KOB PT X untuk tahun pajak
1998.
1. NJOP atas Areal Produktif
a. Hasil produksi tahun 1997
= 5.719.483 KWh
b. Harga jual hasil produksi per KWh
= US$0,04656 = Rp 302,6 (US$1=
Rp6.500)
c. Harga jual hasil produksi total (axb)
= 5.719.483 KWh x Rp 302,6
= Rp 1.730.944.335
d. NJOP (9,5 x c)
= 9,5 x Rp 1.730.944.335
= Rp 16.443.971.184 ………………….. 1)
2. NJOP Di Luar Areal Produktif
a. Areal belum produktif
- luas = 542.998 m2, NJOP/m2 (kelas46)
= Rp 480
- NJOP = Rp 480 x 542.998 m2
= Rp 260.639.040
b. Tanah kosong
- luas = 10.325 m2 , NJOP/m2 (kelas 38)
= Rp 7.150
- NJOP = Rp 7.150 x 10.325 m2
= Rp 73.823.750
c. Tanah pengaman
- luas = 751.338 m2 , NJOP/m2 (kelas 45)
= Rp 660

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


- NJOP = Rp 660 x 751.338 m2
= Rp 495.883.080
d. Tanah emplasemen
- NJOP = Rp 322.435.520 *)
e. Bangunan emplasemen
- NJOP = Rp 188.566.200 *)
Total NJOP Di Luar Areal Produktif
= Rp 1.341.347.590 …2)
3. NJOP sebagai Dasar
Pengenaan PBB (1 + 2) = Rp 17.785.318.774
4. Dikurangi NJOPTKP = Rp 8.000.000
5. NJOP untuk Penghitungan PBB (3-4)
= Rp 17.777.318.774
6. NJKP (20% x 5)
= 20% x Rp 17.777.318.774 = Rp 3.555.463.755
7. PBB terhutang
= 0,5% x Rp 3.555.463.755 = Rp 177.773.188
*) NJOP total, berdasarkan perhitungan masing-masing item tanah
dan bangunan emplasemen

Prospek Peningkatan Penerimaan PBB dari Sumberdaya Panas


bumi
Prospek pengusahaan panas bumi sebagai salah satu energi alternatif
guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan gas bumi di
masa mendatang sangat cerah. Sebagai negeri vulkanis dengan
jajaran gunung berapi tersebar di seluruh wilayah, Indonesia kaya akan
sumber panas bumi. Daerah-daerah pegunungan mulai dari wilayah
sepanjang Jawa, Sumatera, sampai pegunungan Maluku dan Irian Jaya,
merupakan sumber panas bumi yang potensial. Data Pertamina
sampai tahun 1998 menunjukkan bahwa potensi cadangan terbukti
sumberdaya panas bumi sangat besar mencapai 20.000 MW dan
tersebar hampir di seluruh tanah air (Devisi Panas bumi, Pertamina,
Juni 1999).
Disamping itu, ketersediaan sumber energi panas bumi relatif
kontinyu. Setiap daerah vulkanis yang menunjukkan gejala di
permukaan bumi seperti uap panas yang muncul melalui rekakan
tanah, sumber air panas, atau kubangan lumpur panas, maka cukup
dengan melakukan pengeboran untuk memasukkan air ke dalam
batuan di dalamnya, sudah dapat diperoleh uap yang diinginkan dan
dapat dipertahankan untuk waktu yang sangat lama. Hal ini berbeda
dengan potensi migas, yang mempunyai kandungan sumberdaya
terbatas, sehingga dalam jangka waktu tertentu yang relatif pendek
dapat mengalami penyisihan sebagian WKP (relinguishment) atau
bahkan pengakhiran kontrak (terminate). Untuk tahun 1998, terdapat

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


9 kontraktor migas yang mengalami relinguishment seluas 16.920,2
km2 dengan ketetapan PBB sebesar Rp 28,7 milyar serta 3 kontraktor
terminate seluas 8.497,3 km2 dengan ketetapan PBB yang hilang
sebesar Rp 14,4 milyar (BPPKA, Pertamina Juni 1999).
Namun, potensi panas bumi yang sangat besar tersebut sampai saat
ini belum dapat digali secara optimal. Jumlah lapangan panas bumi
yang telah diusahakan sampai tahun 1998 sebanyak 12 (dua belas)
lapangan, 4 lapangan diusahakan sepenuhnya oleh Pertamina dan 8
lapangan merupakan KOB/JOC antara Pertamina dengan pihak swasta.
Total produksi yang dihasilkan baru sebesar 2.690.997.219 KWh atau
hanya 13,5% dari total potensi panas bumi. Total produksi itupun
hanya dihasilkan oleh 4 lokasi di wilayah Jawa Barat dengan
sumbangan terbesar dari lapangan Kamojang (41%), sedangkan 11
lokasi lainnya hanya berupa areal penambahan. Total PBB yang
berhasil dihimpun dari sektor ini baru sebesar Rp 4,45 milyar, dimana
PBB atas hasil produksi hanya Rp 1,45 milyar (32%) sedangkan sisanya
sebesar Rp 3,1 milyar (68%) adalah realisasi atas areal penambangan
(data tabel 1).

TABEL 1
DATA OBJEK PBB PENGUSAHAAN SUMBERDAYA PANAS BUMI TAHUN
1998
Areal Penambahan Hasil Produksi
Lokasi Objek Pajak Total
Luas (m2)
(Propinsi/Kabupaten) Ketetapan Energi Ketetapan Ketetapan
(Ribu Rp.) (KWh) (Ribu Rp.) (Ribu Rp.)
Bumi Bangunan

1 2 3 4 5 6 7

1. SUMUT 769.468.592 86.242 771.628 771.628


c. Karo 108.592 - 99 99
d. Tapanuli Selatan 336.086.825 18.016 306.199 306.199
e. Tapanuli Utara 433.273.175 68.226 465.330 465.330

2. LAMPUNG
- Tanggamus 30.000.000 925 30.567 30.567

3. JABAR 1.077.146.3 1.185.16 1.635.33 2.690.997.2 1.446.67 3.082.00


f. Bandung 39 4 5 19 2 7
g. Garut 495.026.290 576.659 523.945 1.091.506.4 586.791 1.110.73
h. Tasikmalaya 266.120.049 191.944 425.085 70 226.124 6
i. Bogor 216.000.000 - 362.840 - - 651.209
j. Sukabumi 49.700.000 275.314 147.625 420.619.466 266.530 362.840
50.300.000 141.247 175.840 495.779.332 367.228 414.154

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


683.091.901 543.068

4. JATENG 63.000.000 661.039 98.333 98.333


k. Banjarnegara 30.000.000 453.536 55.051 55.051
l. Wonosobo 33.000.000 207.503 43.282 43.282

5. SULUT
- Minahasa 372.840 20.557 7.781 7.781

6. BALI 585.532.500 184.665 555.074 555.074


m. Badung 32.500 29.575 29.575
n. Tabanan 297.500.000 184.665 263.419 263.419
o. Buleleng 288.000.000 262.080 262.080

Total 2.525.520.2 2.138.59 3.098.71 2.690.997.2 1.446.67 4.545.38


71 1 7 19 2 9

% 68% 32% 100%

Permasalahannya adalah mengapa potensi yang begitu besar, namun


baru digali hanya 13,5% saja? Hal ini terkait dengan mekanisme
investasi yang melibatkan banyak pihak serta terpuruknya kondisi
perekonomian jauh di luar perkiraan, yang melahirkan kesadaran
bahwa perekonomian kita khususnya institusi vital seperti migas dan
sumber energi selama ini tidak dibangun di atas landasan yang
rasional, rapuh dan lekat dengan unsur KKN.
Menyangkut mekanisme investasi, maka berbeda dengan
pengusahaan pertambangan Migas dimana Pertamina sebagai
pemegang kuasa pertambangan baik pada rangkaian hulu maupun
hilir, pada pengusahaan panas bumi pihak Pertamina terkait dengan
instansi lain yaitu PLN. Pertamina hanya mengerjakan bagian ‘hulu’
yaitu melakukan eksplorasi dan eksploitasi sampai diperoleh energi
dan menyalurkannya sampai ke mulut pipa. Proses selanjutnya
merupakan rangkaian kegiatan Pembangkit Listrik tenaga Panas bumi
(PLTP) yang dikelola oleh PLN. Ketidaksesuaian rencana dan target
operasional antara kedua instansi ini dapat menyebabkan inefisiensi
antara lain berupa iddle capacity akibat energi yang sudah terlanjur
dipompa oleh Pertamina belum dapat disalurkan ke PLTP dengan
alasan dayanya belum diperlukan saat ini.
Kemudian sebagai wujud dari optimisme akan pertumbuhan
permintaan, sepanjang tahun 1994 sampai dengan 1996 PLN ekspansif
melakukan kontrak untuk pembangunan pembangkit listrik swasta.
Setidaknya ada 26 proyek yang disepakati akan dibangun, 9 proyek di
antaranya adalah PLTP. Namun, badai krisis ekonomi berkepanjangan
yang menyebabkan depresiasi luar biasa terhadap rupiah, memaksa
PLN menjadwal ulang proyek-proyek di atas. Penjadwalan tersebut
dilakukan berdasarkan Keppres Nomor 5 Tahun 1998, berupa

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


penangguhan pelaksanaan proyek termasuk sejumlah proyek PLTP
yang sudah terlanjur digarap, yaitu PLTP Karaha Bodas dan PLTP
Patuha di Jawa Barat, PLTP Dieng di Jawa Tengah, serta PLTP Bedugul
di Bali. Penangguhan ini memberikan pukulan yang besar bukan saja
bagi PLN tapi juga pihak pengelola PLTP. Dan Ditjen Pajak pun tak
terkecuali terkena imbas, sebab target penerimaan dari hasil produksi
panas bumi menjadi tak tercapai. Sementara ini yang dapat diandalkan
hanya Pajak Bumi dan Bangunan dari areal penambangan saja.
Sebagai upaya penggalian potensi dan optimalisasi penerimaan PBB,
setidaknya dalam 3 tahun terakhir pihak Ditjen Pajak telah melakukan
berbagai upaya antara lain melakukan penyempurnaan ketentuan
pengenaan atas PBB Panas bumi, terakhir dengan diterbitkannya SE
Dirjen Pajak Nomor: SE-24/PJ.6/1999 tanggal 23 April 1999, dengan
penyempurnaan atas cakupan objek pajak spesifikasi peruntukan objek
pajak, tingkat kapitalisasi yang digunakan, serta penentuan NJOP. Di
samping itu dilakukan pula pembahasan intensif dengan pihak-pihak
terkait terutama dengan Divisi Panas bumi Pertamina dan Ditjen
Lembaga Keuangan yang ditindaklanjuti dengan survei dan verifikasi
lapangan dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pengenaannya.
Namun di luar upaya Ditjen Pajak di atas, sejauh mana peningkatan
potensi penerimaan PBB dari sumberdaya panas bumi akan tercapai,
sangat tergantung kepada seberapa cepat pemulihan kondisi
perekonomian kita, dalam pengertian sistem dan ‘tingkah laku’
ekonomi khususnya perlakuan atas institusi vital seperti migas dan
panas bumi kembali dibangun di atas landasan yang benar
berdasarkan prinsip-prinsip dasar perekonomian.
Kita berharap semoga PLN berhasil menyelesaikan berbagai kesulitan
yang dialaminya saat ini dengan melakukan restrukturisasi secara
menyeluruh atas perusahaan. Khususnya program rasionalisasi listrik
swasta untuk mendapatkan kontrak yang seimbang serta harga yang
lebih murah, kaitannya dengan efisiensi bahan bakar serta pembangkit
energi yang digunakan. Kita berharap PLN dapat memanfaatkan
sumberdaya berupa energi panas bumi (PLTP) yang sudah tersedia dan
bahkan iddle capacity di beberapa lapangan panas bumi Pertamina,
daripada memprioritaskan kepada penggunaan sumber lain seperti
PLTU atau PLTD dari perusahaan listrik swasta dengan biaya yang lebih
mahal. Berdasarkan kontrak (yang belum direstrukturisasi) rata-rata
harga listrik yang harus dibayar oleh PLN dari perusahaan swasta
adalah US$ 0,6 –US$ 0,8 per Kwh. Contohnya, listrik yang dihasilkan
oleh PLTU Tanjung Jati B dihargai sebesar US$0,573 per KWh (Adhi
Satrya, Republika, 26 Juli 1999, halaman 4). Bandingkan dengan harga
energi dari PLTP Drajat yang hanya US$0,04656 per KWh, atau PLTP
Gunung Salak yang haya US$0,04751 per KWh (Devisi Panas bumi,
Pertamina, Juli 1998). Betapapun, harga jual energi PLTP Pertamina
jauh lebih murah dibandingkan harga listrik swasta, sehingga banyak
prioritas kepada penggunaan energi panas bumi, banyak pihak yang

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)


akan memperoleh manfaat. Pihak PLN akan mampu meningkatkan
efisiensi dengan menekan harga beli sehingga PLN tidak perlu
melakukan pengalihan beban biaya kepada konsumen berupa
kenaikan tarif listrik. Pihak pengelola PLTP akan memperoleh
keuntungan dari berjalannya kembali investasinya. Dan pada
gilirannya, sejalan dengan berbagai penyempurnaan di bidang
pengenaan panas bumi, pihak Ditjen Pajak akan memperoleh
peningkatan penerimaan PBB dari peningkatan hasil produksi. Bahkan
jika kondisi perekonomian terus membaik peningkatan penerimaan
PBB pun akan diperoleh dari areal WKP karena adanya lapangan panas
bumi yang baru. Semoga, skenario inilah yang dipilih oleh pemerintah
dalam melakukan restrukturisasi secara menyeluruh atas penyelesaian
msaalah yang sedang dihadapi PLN saat ini.

Ali Ashat (Geothermal Lab.-ITB)