Anda di halaman 1dari 22

Mengarungi Pasar Lewat Pendekatan Horisontal

Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin


Kamis, 3 Desember 2009 | 10:01 WIB

shutterstock
KOMPAS.com - Di artikel-artikel sebelumnya kami sudah membahas bahwa PDB (Positioning,
Differentiation dan Branding) yang ‘vertikal’ itu sudah tidak cukup lagi. Harus dihorisontalkan
menjadi Triple C! Positioning menjadi Clarification, Differentiation jadi Codification dan Brand
jadi Character.

Setelah melihat satu per satu inisiatif-insiatif yang diambil oleh kedai kopinya Paman Howie
yang bernama Starbucks untuk menerapkan prinsip New Wave, selanjutnya kita perlu melihat
tepatnya bagaimanakah Triple C dari Starbucks, dalam hal ini bagaimana ia mengklarifikasikan
apa gunanya Starbucks buat komunitas, bagaimana ia mengkodifikasikan DNA sesungguhnya
yang betul-betul otentik, dan juga membangun karakternya yang sempat menghilang. Analisa
Triple-C ini akan mengungkapkan bagaimana strategi Starbucks dalam menghadapi pasar,
terutama di era horizontal ini.

Starbucks selalu mengklarifikasikan diri diri sebagai ”the third place for coffee” atau tempat
ketiga untuk menikmati kopi, setelah rumah dan kantor. Dengan klarifikasi ini, Starbucks
mencoba untuk jujur dengan menyatakan bahwa mereka tidak berkompetisi dengan kopi yang
disajikan di rumah yang mungkin merupakan ritual keluarga ataupun dengan kopi di tempat
kerja yang bagian dari suatu kebutuhan. Sehingga cukup jelas komunitas yang ingin diklarifikasi
oleh Starbucks, yaitu kelompok sosial yang gemar berkumpul di luar kantor dan rumah.

Sedangkan DNA Starbucks terkodifikasi, berpusat pada ”The Starbucks Experience”. Inilah
DNA code dari Starbucks yang tidak dapat ditiru dengan mudah oleh kompetitor karena
terbentuk selama bertahun-tahun sejak perusahaan ini mulai dikelola oleh Paman Howie .
Kodifikasi inilah yang menjadi kunci yang membedakan sampai mengakar antara Starbucks dan
kompetitornya.

Starbucks memang sempat nyaris lupa diri dengan melupakan kodifikasinya ini. Setelah Paman
Howie mengundurkan diri sebagai CEO pada tahun 2000, fokus perusahaan lebih diarahkan pada
pertumbuhan dan diversifikasi usaha. Era pertumbuhan Starbucks yang dipimpin oleh Orin
Smith dan Jim Donald ini memang membawa hasil yang signifikan. Jumlah outlet Starbucks di
dunia mencapai puluhan ribu. Tapi pada era ini, sepertinya perusahaan melupakan fokusnya pada
“The Starbucks Experience”.

Tanpa ada pembeda yang kuat antara Starbucks dan kompetitor-nya, perusahaan ini mengalami
banyak ancaman. Dengan munculnya kopi premium dari McDonalds dan Dunkin Donuts, posisi
Starbucks sebagai “the third place” tidak lagi solid. Saat pembeli melihat bahwa kualitas kopi
yang ditawarkan kompetitor tidak jauh berbeda dengan Starbucks, pembeli kehilangan motivasi
untuk membeli produknya yang memang dijual dengan harga premium itu. Starbucks saat itu
seperti melupakan bahwa “The Starbucks Experience” adalah salah satu alasan utama para
pembelinya mencintai kopi yang sering disebut over-priced itu.

Kodifikasi inilah yang akhirnya dibangkitkan kembali oleh Paman Howie saat dia memutuskan
untuk kembali menjadi CEO perusahaan dan memecat Jim Donald pada awal 2008. Secara
gamblang menyatakan bahwa Starbucks sudah menjadi “korporasi tak berjiwa” dan fokus utama
dia adalah mengembalikan “The Starbucks Experience” dan menghentikan komoditisasi yang
sedang terjadi terhadap brand yang dibesarkannya ini.

Karakter Starbucks memang mencerminkan apa yang menjadi ambisi dari Paman Howie, yaitu
perusahaan yang berada pada keseimbangan antara profitability (keuntungan) dan benevolece
(kedermawanan). Itulah mengapa aktivisme sosial sangat penting bagi perusahaan ini. Dan
seperti telah dibahas dibahas sebelumnya, karakter ini

Sebuah kutipan dari Paman Howie mungkin bisa menyimpulkan tulisan studi kasus ini, sekaligus
menunjukkan bagaimana pemipin Starbucks ini melihat perusahaannya di tengah kompetisi:
“Kami tidak memiliki hak paten atas apa yang kami lakukan dan apa pun yang kami jalankan
dapat ditiru oleh siapapun. Tapi mereka tidak mungkin bisa meniru jiwa dan hati nurani
perusahaan.”

Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Rabu, 9 Desember 2009 | 10:16 WIB

shutterstock
KOMPAS.com - Di tengah seiring perjalanan waktu, dunia terus berubah dan pemasaran juga
tentunya ikut berubah, dan begitu juga sebaliknya langkah pemasaran yang dilakukan oleh
pemasar-pemasar yang visioner juga mengubah dunia. Sebut saja Mark Zuckeberg yang
mengubah dunia lewat Facebook, Jawed Karim, Chad Hurley and Steve Chen mengubah dunia
lewat YouTube, Jimmy Wales dan Larry Sanger mengubah dunia lewat Wikipedia, dan banyak
lagi technopreneur lain.

Sejak Tim O’Reilly, seorang pakar teknologi internet, memproklamasikan lahirnya Web 2.0 pada
saat membuat O’Reilly Media Web 2.0 Conference di tahun 2004, kita seperti hidup di dunia
yang lain. Generasi baru internet ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi, berpartisipasi,
berinteraksi, berbagi, berkomunitas, atau berkolaborasi satu sama lain.

Kekuatan Web 2.0 yang menelurkan berbagai produk Social Networking menjadi kian menggila.
Situs-situs seperti Facebook, YouTube, MySpace, Flickr, Wikipedia, dan lain sebagainya kian
digandrungi para netizen, yang melihat bahwa internet yang sesungguhnya adalah yang begini,
yang lebih cool, lebih interaktif, lebih partisipatif, dan lebih sosial.

Dengan kekuatan baru yang ditawarkan oleh kecanggihan generasi baru Internet ini, berbagai
kalangan sudah melihat bahwa perubahan besar sedang terjadi. Thomas Friedman, kolumnis dari
New York Times, mencetuskan tesisnya mengenai “The World is Flat” di mana ia berkata bahwa
kemajuan teknologi berbasis Internet akan mampu mentransformasikan dan membebaskan
individu, membebaskan potensinya, membebaskan kreativitasnya, dan membebaskan
kabapibilitasnya. Dengan teknologi tersebut, umat manusia, siapa saja, di mana saja, kapan saja,
bisa bersaing di tingkat global, asalkan terhubung ke Internet.

Thomas Friedman tidak sendirian ketika mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan dunia
tengah berubah total. Karena pemikirannya disambut secara eksplisit maupun implisit oleh
beberapa pemerhati lain.

Chris Andersen sebelumnya juga sudah mengungkap hal yang kurang lebih sama pada artikel
editorialnya di majalah Wired ketika mengemukakan untuk pertama kalinya mengenai ‘Long
Tail’, sebuah fenomena di mana dominasi pemain besar akan runtuh digantikan oleh jutaan
pemain kecil yang mendominasi 80 persen pasar. Di tengah terjadinya peralihan dari korporasi
ke individu, dengan adanya Internet Web 2.0, siapapun bisa jadi produsen, siapapun bisa jadi
distributor, siapapun bisa jadi promoter, maka tak heran kalau majalah Time memberikan
penghargaan Person of the Year pada tahun 2006 lalu kepada Anda (Ya, Anda semua), yang
termasuk 5 miliar umat manusia yang mengontrol dunia.

Setidaknya setelah Web 2.0 merebak dan menjadi sebuah hype yang mengglobal, dan juga tesis
Thomas Friedman mengenai “The World is Flat” yang menjadi percakapan di mana-mana,
kalangan media juga menyambutnya dengan mengatakan bahwa arus besar sedang terjadi dan
dunia tengah mengalami perubahan yang sangat dasyhat.

Majalah Business Week, contohnya, memberikan berbagai laporannya tentang bagaimana efek
teknologi internet di era Web 2.0, mulai dari praktek kolaborasi masal yang ditawarkan oleh
kekuatan teknologi Web 2.0, dunia blogosphere yang akan merubah cara kita melakukan bisnis
dan pemasaran, dan juga fenomena social media secara keseluruhan.

Seiring dengan masuknya kita ke dalam awal abad-21 ini, dunia teknologi semakin memberikan
interaksi, partisipasi, dan peluang untuk berkolaborasi, sehingga membawa kita untuk melakukan
praktek pemasaran yang bertumpu pada jejaring yang saling ter-CONNECT!

CONNECT! untuk Berselancar Dalam New Wave Marketing


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Senin, 7 Desember 2009 | 14:50 WIB

shutterstock

KOMPAS.com - Berbagai perubahan yang kita alami di dalam dunia pemasaran saat ini
bermuara pada lahirnya sebuah pendekatan marketing yang baru. Pendekatan marketing yang
bersifat vertikal digantikan oleh pendekatan yang bersifat horisontal. Dunia pemasaran
tertransform dari era ’Legacy’ ke ’New Wave.’

Sejak buku New Wave Marketing (NWM) menjadi laris, kami diundang dalam berbagai
kesempatan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kami juga tidak lupa menyebarkan virus
NWM ini agar mereka tahu bahwa kita di Indonesia selalu update dengan perkembangan
mutakhir di dunia pemasaran. Kunjungan kami keliling ke banyak tempat, baik ke berbagai kota
di tanah air, negara-negara di kawasan ASEAN dan Asia, sampai ke Amerika, bahkan ke belahan
Afrika beberapa waktu lalu adalah dalam rangka menyebarkan pemahaman tentang perubahan
dunia pemasaran ini.

Setiap ada kesempatan kami ditanyai dan didebat. Pertanyaan biasanya berupa permintaan untuk
menjelaskan lebih detil tentang 12C pemasaran New Wave yang merupakan "horisontalisasi"
dari 9 Elemen Inti dalam model Legacy Marketing kami .

Banyak yang mengatakan bahwa “prakteknya sulit dilaksanakan.” Lantas kami jawab , “sudah
pasti susah karena belum terbiasa.” Ada pula yang mengatakan “ini kan mahal?” kami jawab
“justru konsep ini adalah pintu masuk untuk mencapai cita-cita pemasar untuk menggapai
praktek pemasaran yang low-budget high impact.”

Ada lagi yang mengatakan “Ini kan tidak ada di dalam text-book, jadi tidak ilmiah?” Memang
benar tidak ada di buku teks, karena biasanya isi dari buku teks adalah mencatat apa yang sudah
terjadi, mencatat apa-apa yang ada di dalam era Legacy.

New Wave Marketing adalah kepekaan kami menangkap "weak signal" transformasi para
Marketer yang visioner yang semakin resah ketika metode Legacy-nya tidak jalan. Padahal,
tuntutan terhadap ROMI (Return on Marketing Investment) semakin dahsyat.

Lantas? Apa lagi masalahnya?

Sebenarnya ada satu ‘C’ lagi yang bobotnya besar sekali sebelum ke 12C ini bisa dilaksanakan
dengan baik, yaitu CONNECT! yang mutlak harus ada kalau mau menjalankan New Wave
Marketing. Dalam arti lain, CONNECT! adalah pintu masuk ke 12C yang lain.

Di model Legacy, kami hanya menekankan pada pentingnya 4C. Mengenali Change (perubahan
di Teknologi, Politik dan Legal, Ekonomi, Sosial Budaya, Pasar) yang merubah Competitor dan
Customer. Ketiga ‘C’ inilah yang kami sebut lanskap pemasaran. ‘C’ keempat adalah Company
yang harus bisa selamat di tengah arus perubahan dan bahkan memenangkan persaingan di
lanskap yang dinamis tersebut.

Di era Legacy, se-dinamis-dinamis-nya lanskap bisnis ketika itu, CONNECT! belum jadi suatu
isu yang utama.

Walaupun New Wave Marketing bukan Internet Marketing, Digital Marketing atau Online
Marketing, tapi Internet yang makin perkasa ini memaksa sebuah Company untuk menambahkan
‘C’ kelima yaitu CONNECT! dalam 4C-nya.

Artinya? Kalau tidak ada yang satu ini, maka sebuah perusahaan tidak akan bisa survive. Selama
kita harus istirahat, tidur, istirahat, dan tidur lagi, kita harus mempunyai sistem yang menjaga
agar kita tetap CONNECT! terhadap tiga C yang lain. CONNECT! ke Customer, Change bahkan
dengan Competitor. Kata klisenya: 24/7/365!

Harus pula dicatat bahwa apa yang kami maksud di sini dengan CONNECT! adalah bukan saja
bagaimana pemasar terhubung secara online, namun juga harus dibarengi dengan dunia online.

Online hanya bisa menimbulkan Excitement dan Engagement tapi Offline bisa lebih jauh ke
Intimacy dan Enthusiasm! Dan, kalau keduanya digabung akan menjadi suatu kesatuan yang
bersifat Physical, Intellectual, Emotional dan Spiritual!

Cerita Nike Sebagai Konektor Eksperiensial


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Senin, 23 November 2009 | 08:02 WIB
WORLSCARFANS/ HIGH SNOBIETY
Warna sepatu disesuaikan dengan kelir mobil

KOMPAS.com - Philip Kotler, gurunya pemasaran modern, pernah mengatakan bahwa Nike
Town adalah sebuah retailing experience. Toko flagship yang dibuka sejak awal tahun 1990an
ini diibaratkan sebagai sebuah ruang pamer berbagai produk Nike, bukan sekedar toko Nike
biasa, Kenapa? Karena, di situ produk-produk Nike bukan hanya disusun berdasarkan kategori
produk, tapi ditata berdasarkan kategori cabang olahraga. Dan diupayakan agar suasana setiap
cabang olahraga mengemuka. Itu bukan hanya diupayakan melalui pemasaran poster bintang-
bintang olahraga, tapi juga dengan memunculkan suara khas yang biasa muncul di suatu cabang
olahraga. Di counter tenis, misalnya, muncul suara bola tenis dipukul.

Sebab itu, orang yang berkunjung ke sana tidak pernah merasa pergi ke toko, melainkan ke ruang
pamer. Dan itu bukan sekedar ruang pamer biasa, melainkan ruang pamer yang memunculkan
memorable experience. Karena banyaknya atlet yang diendorse oleh Nike selama ini, maka
otomatis masing-masing atlet tersebut menjadi pooling factor tersendiri untuk mendatangkan
komunitasnya. Dengan banyaknya atlet yang ia endorse dan dipamerkan di Nike Town, maka
ketika berkunjung ke sana, pengunjung merasa seperti berkunjung ke sebuah community center,
di mana orang-orang yang suka dengan Tiger Woods atau Ronaldinho, ketemu dan berkumpul di
sana.

Nike memang sudah bukan sepatu nike lagi, tapi ia adalah sebuah pengalaman dari segala
aktivitas yang berhubungan dengan karakter brand-nya. Aktivasi dari bentuk experience yang
diberikannya ada di mana-mana, mulai dari produk, experiential channel seperti Nike Town,
communal activation (seperti jogo bonito), dan juga tentunya parade iklan yang selama ini kita
lihat. Mereka dapat mengkonek dengan audiens-nya lewat pendekatan multisensory, emosional,
dan sharing.

Multisensory bisa menjadi hidup karena mereka merangsang panca indra audiens, ada poster
yang besar dengan gambar yang tajam, suasana intens layaknya sedang di sebuah acara olah-
raga, dan sebagainya. Kalau sudah nyala panca indranya, maka audiens tentunya akan dapat
secara emosional merasakan sesuatu yang luar biasa dan secara intelektual mendapatkan sesuatu
yang positif.
Untuk mendapatkan pengalaman maksimal, tentunya ada elemen sharing pula. Artinya, audiens
dilibatkan agar mereka bisa ikut serta dan lebih aktif ketika menikmati sebuah pengalaman.
Seperti bisa menendang bola seperti layaknya seorang Ronaldinho atau mencoba memukul
seperti Tiger Woods, dan sebagainya. Maka tak heran karena begitu adanya, mereka akan
terdorong untuk membagi pengalamannya dengan teman-teman, koneksinya, dan jaringannya.

Menjadi experiential connector di dunia online

Melihat trend yang berkembang ditahun 90an, penggabungan antara experience dan
customization yang terbentuk dalam sebuah platform online merupakan cara baru untuk
berinteraksi dengan runners. Hal ini menjadi sangatlah tepat bagi Nike karena pada saat yang
bersamaan, para pengguna Nike telah berubah. Mereka tidak lagi menginginkan sebuah
perlengkapan olahraga yang “state-of-the-art-technology,” tetapi mereka justru mencari produk
olah raga yang sesuai/“tailored” dengan yang mereka butuhkan.

Melihat popularitas dan cepatnya pertumbuhan NikeID.com sejak pertama kali berdiri, Nike
terbilang sukses dalam memulai hubungan dengan para Nike runners. Sejak NikeID.com
diluncurkan pada tahun 1999, Nike tidak henti-hentinya mengembangkan portal online tersebut.
Bermula dari bertambahnya jumlah akses dan pengunjung, Nike mengembangkan pilihan
produk-produknya. Dari beberapa model sepatu; Nike telah menambah pilihan kustomisasi pada
produk lini lainnya, seperti pakaian dan aksesories olah raga.

Hal ini tentunya mentransformasi cara Nike runners membeli produk. Ada dua keuntungan bagi
runners. Pertama adalah mereka akhirnya dapat merealisasikan sepatu yang sesuai dengan
kebutuhan dan juga personal style mereka. Dimana hal ini sebelumnya cukup sulit mereka
lakukan karena tingginya biaya customization desain dan produksi.

Keuntungan kedua adalah experience yang baru dan berbeda—mengingat konsep NikeID.com
adalah yang pertama dalam industrinya. Cukup penting untuk disadari bahwa pengalaman yang
ditawarkan oleh Nike dalam proses penciptaan dan pembuatan produk merupakan value-added
bagi para runners. NikeID.com meningkatkan excitement para runners dan selain memberikan
pengalaman, Nike telah memberikan kepuasan tersendiri bagi runners. Hal inilah yang dapat
meningkatkan ikatan emosional runners dengan produk yang mereka ciptakan dan brand yang
menyediakan pengalaman tersebut.

Dari sisi Nike sebagai perusahaan dan brand, NikeID.com juga memiliki beberapa keuntungan.
Pertama adalah NikeID.com telah memperluas jangkauan interaksi mereka dengan penggunanya.
Kedua, Nike memiliki kesempatan berinteraksi secara langsung dengan para penggunanya
diseluruh dunia. Ketiga, Nike dapat mengembangkannya menjadi sebuah proses data mining
yang juga menggeser level hubungan—dari mass menjadi lebih kearah relationship marketing.

Diluar dari itu, Nike kembali menjadi sebuah brand pioneer yang terdepan dan selalu
menciptakan terobosan. Pendekatan melalui NikeID.com ini pun menjadi trend dibeberapa
industri lainnya. Secara spesifik pada industri footwear dan olah raga. Banyak dari brand-brand
lain berusaha mengikuti kesuksesan Nike iD dengan meluncurkan versi kustomisasi. Beberapa
contoh adalah seperti Build Your Own Boot dari Timberland, Made over to your taste dari
Converse, dan Custom Old Skools dan Custom Slip-Ons dari Vans.

NikeID.com merupakan satu contoh dimana Nike telah membuktikan keberhasilannya dalam
menggunakan experiential konektor dalam meningkatkan hubungan dan meningkatkan
popularitasnya.

Pemasaran yang Berjalan (Bagian Satu Dari Dua Tulisan)


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Senin, 16 November 2009 | 09:12 WIB

shutterstcok

KOMPAS.com - Pernahkan Anda cukup "beruntung" bertemu seorang lak-laki berambut kribo
dengan dandanan aneh menenteng-nenteng papan di dadanya? Dari tampilan khasnya, ditambah
lagi dengan tulisan dengan huruf-huruf besar yang menempel di depan dadanya, Anda pasti akan
langsung tahu bahwa dia sedang mempromosikan program talk show di sebuah stasiun televisi.

Sejak dahulu, manusia sudah dikaruniai dengan kemampuan sekaligus kebutuhan mobilitas yang
tinggi. Dengan beragam alasan kita senantiasa bergerak dan berpindah tempat, entah didorong
oleh kebutuhan ekonomi, sosial, ataupun spiritual. Fakta ini disadari pula oleh para marketer.
Beragam marketing tools pun diciptakan untuk "mengimbangi" pergerakan konsumen yang tidak
bisa diam.

Di era legacy, kita sudah mengenal beragam bentuk "iklan berjalan", atau biasa di kenal juga
dengan istilah out-of-home media. Bentuknya beraneka ragam, sifatnya pun bervariasi; ada yang
statis dan ada pula yang lebih dinamis (mobile).

Contoh out-of-home media yang statis adalah billboard dan street furniture. Billboard tentu
bukan barang asing bagi kita. Papan ukuran raksasa semacam ini sengaja di tempatkan di titik-
titik strategis tempat manusia berlalu-lalang, mencoba menarik perhatian mereka dengan gambar
ilustratif dan pesan-pesan pemasaran. Street furniture tak jauh beda konsepnya, hanya bentuk
medianya saja yang berbeda. Pesan pemasaran tidak diukir di papan ukuran raksasa, tapi di
"perabotan" yang bergeletakan di pinggir jalan-jalan utama: kotak telepon umum, halte bis,
tembok toko di pinggir jalan, dan sebagainya.
Namun sifatnya yang statis menjadikan media-media out-of-home di atas memiliki kelemahan
mendasar. Bagi para pemakai jalan yang selalu menggunakan rute tempat billboard ataupun
street furniture tersebut dipajang, mungkin pesan pemasaran akan lebih efektif tersampaikan
karena adanya interaksi yang berulang-ulang. Namun jika Anda hanya sesekali melewatinya,
belum tentu pesan itu akan sempat dicerna karena ada banyak hal di jalan raya yang bisa menjadi
noise. Meskipun demikian contoh-contoh out-of-home media di atas tetap dilandasi oleh
keinginan untuk menjangkau target audience yang senantiasa mobile.

Maka mulai digunakanlah media-media lain yang lebih dinamis (mobile). Pilihan out-of-home
media selanjutnya adalah transit advertising. Jika Anda pernah melihat bus umum yang body-
nya penuh dengan warna-warni pesan iklan, itu adalah salah satu contohnya. Iklan di dalam
kereta api, pesawat terbang maupun kapal laut adalah contoh-contoh lainnya. Melalui taktik
transit advertising, media yang digunakan adalah sarana yang dianggap biasa menemani
mobilitas pelanggan dalam jumlah yang massal.

Harapannya, pesan pemasaran akan lebih lama berinteraksi dengan target audience karena media
yang digunakan ikut "berjalan" bersama mereka.

Contoh-contoh di atas adalah pemanfaatan mobile connector di era legacy. Jika kita mengacu
pada konsep "Triple-T Revolution" yang pernah kami singgung dalam tulisan sebelumnya, "T"
yang dioptimalkan baru sebatas transportation dan travel. Perkembangan teknologi, terutama di
bidang informasi dan telekomunikasi, belum sepenuhnya dieksplorasi.

Jika kita perhatikan media-media yang telah disebutkkan sebelumnya, semuanya masih memiliki
karakter yang sama: cenderung berkomunikasi secara searah (one way). Inilah ciri khas
pendekatan marketing yang legacy.

Lalu seperti apa pemanfaatan mobile connnector di era new wave?

Dengan perkembangan teknologi yang demikian massif, sekarang telah terbuka peluang untuk
menjadikan out-of-home media menjadi lebih interaktif. Ada dua contoh menarik yang akan
kami ceritakan dalam artikel berikutnya.

Pemasaran yang Berjalan (Bagian Dua dari Dua Tulisan)


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Senin, 16 November 2009 | 20:38 WIB
shutterstock

KOMPAS.com — Contoh yang sangat menarik adalah program komunikasi pemasaran yang
dilakukan oleh Nike untuk mengampanyekan "Nike iD", sepatu yang pilihan warnanya bisa di-
customize oleh pelanggan. Apa media yang digunakan? Salah satunya sudah kami sebutkan di
atas: billboard. Nike memasang sebuah papan raksasa berisi gambar sepatu di New York Times
Square. Namun, billboard ini bukan sekadar papan iklan yang hanya bisa dipandang.

Dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi, para pejalan kaki yang melewatinya bisa
"berkomunikasi" secara interaktif dengan pesan yang ada di billboard. Dengan memanfaatkan
ponsel, mereka bisa mengubah-ubah warna sepatu yang ada di dalam layar raksasa berbentuk
billboard tadi. Caranya sederhana, mereka tinggal menelepon nomor yang tertera di layar dan
selanjutnya rangkaian instruksi untuk melakukan customization akan muncul di layar ponsel.
Dan ini berlangsung secara real time!

Tak hanya itu, setelah sepatu yang ada di billboard raksasa berubah warna, mereka pun akan
dikirimi pesan berisi link untuk men-download gambar ke dalam ponsel dan menjadikannya
sebagai wallpaper. Tak lupa, Anda juga akan ditawari untuk langsung melakukan order
pembelian secara on-line. Sangat interaktif bukan?

Apa yang dilakukan Nike di Shanghai, Beijing, dan Guangzhou beda lagi. Billboard yang
dipasang di 3 kota ini dilengkapi dengan teknologi Bluetooth yang secara otomatis akan
mengirimkan pesan kepada pejalan kaki yang lewat di dekatnya. Isinya berupa instruksi untuk
berlari ke toko Nike terdekat secepat mungkin! Sebuah stopwatch virtual secara otomatis akan
muncul begitu pejalan kaki menerima pesan, dan akan berhenti secara otomatis begitu mereka
sampai di toko sepatu Nike.

Setiap hari, toko sepatu itu akan memberikan sepasang sepatu gratis pada pelari tercepat. Dan
hari berikutnya, foto sang juara sudah nampang di layar billboard.

Kampanye di tiga kota tadi berlangsung selama 3 minggu. Tercatat ada 250.000 pesan terkirim
via Bluetooth, sebanyak 15.000 peserta ikut berpartisipasi, dan 63 pasang sepatu Nike diberikan
sebagai hadiah.
Cerita kedua seputar pemanfaatan mobile connector ala new wave adalah tentang sebuah
perusahaan periklanan asal Eropa bernama Adwalker.

Perusahaan ini memiliki armada pejalan kaki yang tiap orangnya "dipersenjatai" dengan sebuah
rompi berteknologi multifungsi. Di bagian depan rompi ada sebuah layar LCD tipis yang
terhubung dengan internet. Hal ini memungkinkan pengiklan untuk menampilkan pesan-
pesannya secara dinamis dan personal karena sang pemakai rompi akan dengan antusias
mengajak target audiensi berkomunikasi.

Rompi itu juga dibekali dengan sebuah printer mini. Dengan peranti ini, seandainya ada
hypermarket yang sedang mengampanyekan program diskon besar-besaran, audiensi bisa
mencetak langsung kupon promosinya saat itu juga.

Teknologi yang dikombinasikan dengan kemampuan mobilitas serta penetrasi yang tinggi dari
sang pemakai rompi juga menjadikannya sebagai sarana yang efektif untuk melakukan
pengumpulan data pelanggan. Inilah yang dilakukan Castrol saat menggunakan jasa Adwalker
untuk mendata sekaligus mempromosikan produknya dalam sebuah event balapan akbar.

Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini, masih banyak lagi model interaksi yang bisa
dilakukan dengan target pelanggan melalui perantara sang pemakai rompi.

Inilah model new wave mobile connection yang tidak sekadar canggih dari sisi teknologi, tetapi
juga mampu membuka komunikasi dua arah dengan pelanggan.

Meninjau Ulang "Brand Management"


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Senin, 9 November 2009 | 15:16 WIB

shutterstock
TERKAIT:

• Ketika Konsumen Menjadi Inovator


• Cerita Eli Lilly dengan e.Lilly
• Meninjau Ulang Product Management
• Artikel Ini Dilacak oleh Dell!
• Membangun Loyalitas di Era New Wave

KOMPAS.com — Pemasaran tidak lengkap jika dilakukan hanya lewat manajemen produk dan
manajemen pelanggan. Anda perlu juga melengkapi diri dengan pengelolaan brand sebagai
jembatan bagi keduanya. Kenapa jembatan? Karena manajemen brand yang solid akan mampu
menstimulasi dan mengakselerasi bertemunya percepatan perkembangan teknologi dan
percepatan perkembangan kebutuhan pelanggan. Manajemen brand akan memungkinkan produk
atau teknologi menemukan potensi maksimalnya di pasar.

Prosesor Intel menemukan critical mass-nya di pasar setelah meluncurkan kampanye branding
Intel Inside. Apple Mac mencapai sukses puncaknya setelah produk ini membangun identitas
mereknya sebagai produk yang penuh dengan gaya, di samping tentunya community-friendly.
Begitu pula dengan VW Beetle yang mencapai sukses luar biasa ketika mengajak para
konsumennya untuk “Think Small.” Produk adalah barang mati. Ia akan hidup setelah diberi
“nyawa.” Nyawa itu adalah brand. Proses penerimaan pasar akan semakin cepat jika produk
yang Anda ciptakan hidup, memiliki identitas, memiliki karakter: ketika produk Anda memiliki
brand yang kokoh.

Keputusan menetapkan brand, posisinya secara strategis dalam pengembangan produk baru.
Brand memberi nyawa bagi semua produk. Namun, nama dan nyawa tidak akan membentuk
ekuitas brand yang kuat jika tidak didukung komitmen dalam perilaku dan konsistensi dalam
aktivasi merek dan visualisasi merek.

Di dalam era Legacy, manajemen brand difokuskan pada peningkatan ekuitas merek. Ekuitas
merek adalah asset intangible yang dimiliki oleh sebuah merek karena value yang diberikannya
baik kepada si produsen maupun si pelanggan. Kalau pemasar melakukan program pemasaran
mulai dari promosi di koran atau TV, membenahi distribusi, atau memperbaiki layanan, maka
sesungguhnya ia sedang berupaya untuk meningkatkan ekuitas mereknya. Semakin tinggi ekuitas
merek ini, maka akan semakin tinggi pula value yang diberikan oleh merek tersebut, baik kepada
si produsen maupun si pelanggan.

Karena ekuitas merek tergantung pada upaya membangun merek yang kita lakukan, maka nilai
ekuitas merek itu pun naik turun dari waktu ke waktu, tergantung dari upaya yang kita lakukan.

Dengan menggunakan metode statistik tertentu, ekuitas sebuah merek bisa diukur nilainya.
Melalui pendekatan statistik ini, beberapa unsur ekuitas merek bisa diukur, seperti brand value,
brand strength, top of mind, brand awareness, perceived quality, brand association, brand
preference, hingga brand loyalty.

Itu tentunya di era Legacy. Era ketika pembangunan merek adalah segalanya. Era ketika ekuitas
merek adalah segalanya. Era ketika pembangunan merek untuk meningkatkan ekuitas merek
dilakukan secara vertikal.

Di era New Wave, brand memang masih penting. Namun, jangan lupa, brand bisa naik turun
dengan cepat. Orang bisa terkenal dalam sehari di internet dan nyaris tidak kedengaran lagi di
hari kedua.
Seperti yang kami telah bahas sebelumnya, di era New Wave ini, yang lebih penting adalah
karakter, bukan lagi brand-nya. Karakter ini adalah isi sesungguhnya (the true self) dari Anda,
sedangkan brand adalah the cover atau bungkus. Maka dari itu, manajemen brand di era New
Wave ini tentunya sudah tidak lagi bertumpu hanya pada penguatan ekuitas merek semata karena
yang terpenting adalah cara membangun sebuah karakter yang dilakukan secara horizontal.

Meninjau Ulang Product Management


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Jumat, 6 November 2009 | 08:30 WIB

KOMPAS.com - Product management di era legacy sangat erat hubungannya dengan


bagaimana pemasar mewujudkan ide menjadi produk yang siap dipasarkan. Dalam hal ini
minimal ada tiga tahapan yang harus dilalui yakni melakukan scoping and building business
case, development and testing, dan terakhir ditutup dengan product launching.

Sebagai tahapan pertama, scoping and building business case bertujuan untuk menilai dan
mengukur aspek keuangan, aspek penerimaan pasar, aspek operasional teknik mewujudkan ide
menjadi produk nyata, dan faktor-faktor lain yang berpotensi meningkatkan atau menurunkan
tingkat kesuksesan produk di pasar.

Secara tradisional, aktivitas utama dalam tahapan ini adalah melakukan riset primer (dengan
metode interview dan focus group discussion (FGD) kepada pelanggan), dan melakukan riset
sekunder (studi literatur, internet, dan dokumentasi internal yang dimiliki).

Output yang dihasilkan dari tahapan ini adalah keputusan diteruskan atau tidak diteruskannya ide
pengembangan produk baru ke tahapan yang selanjutnya. Karena di tahap ini, perusahaan
menimbang banyak hal yang menyangkut tingkat penerimaan pasar, kemampuan keuangan dan
teknis, dan faktor eksternal lain yang berpotensi mempengaruhi kesuksesan produk. Apabila
setelah dinilai dari aspek pasar, keuangan, teknik, dan faktor eksternal semuanya positif, ide
pengembangan produk baru akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya ke tahap development and
testing.

Pada tahapan development dan testing, perusahaan melakukan analisa lebih dalam mengenai
empat aspek di atas. Ada lab test, in-house test, alpha-test untuk memastikan aspek teknis dari
produk. Sedangkan di sisi pasar dilakukan berbagai analisa pasar dan analisa terhadap input dari
pelanggan yang dilakukan secara paralel dengan aktivitas pre-test, test market, dan trial-sell agar
sebelum produk diluncurkan semuanya telah sempurna; produknya sempurna, jaringan distribusi
(channel) juga siap, dan kebijakan penjualan beserta harganya telah jelas.

Apabila salah satu aspek tidak sempurna dan produk nekat diluncurkan, dengan berbagai
pertimbangan misalnya karena tidak mau kalah cepat dengan pesaing, produk kemungkinan
besar akan gagal di pasar. Yang sering ditemukan adalah produknya telah sempurna dan siap
dipasarkan namun perusahaan belum selesai merancang strategi penjualan dan distribusinya.

Product launching (peluncuran produk) adalah titik kulminasi dari dua proses sebelumnya,
namun bukan proses terakhir menuju produk sukses. Product launching adalah awal dari proses
komersialisasi produk baru yang kemudian akan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan marketing
taktis.

Pada tahapan ini, manajemen minimal harus telah selesai merancang product positioning,
differentiation dan brand (PDB produk), marketing-mix-nya dan taktik penjualan beserta
channel management-nya. Jika elemen tersebut telah siap, maka product launching benar-benar
akan menjadi moment of truth bagi kesuksesan produk di pasar, bukan sekedar memperlihatkan
dummy product seperti yang telah umum terjadi.

Di dalam marketing customer, product, dan brand management sangat penting. Customer
management terkait dengan bagaimana pemasar mengelola sisi permintaan. Product
management terkait dengan bagaimana pemasar mengelola sisi penawaran. Brand management
adalah bagaimana pemasar menjembatani keduanya.

Di era New Wave, praktek dan cara kita mengelola produk tentunya tidak bisa lagi se-tradisional
atau se-legacy seperti yang di atas. Karena sisi demand-nya berubah. Praktek customer
management yang dilakukan oleh pemasar juga berubah, seperti yang telah dijelaskan kemarin,
harus berorientasi penuh pada komunitas.

Karena praktek komunitisasi menjadi sentral dalam New Wave ini, maka pemasar harus
barenginya dengan product management yang bertumpu dan mengacu pada pendekatan komunal
pula. Artinya pemasar harus melibatkan komunitas pelanggan dalam proses pengelolaan
produknya, sehinga dapat menghasilkan co-creation yang meaningful bagi pelanggan.

Customer Management di Era New Wave


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Rabu, 4 November 2009 | 13:48 WIB
shutterstock
TERKAIT:

• New Wave Marketing Trilogy di Dell


• Surfing the New Wave: The How Question
• Connecting dan Collaborating untuk Value Creation
• Bukan Sekedar Membuat Platform
• Process is Collaboration

KOMPAS.com - Pengelolaan pelanggan, jika dilakukan dengan benar akan membantu pemasar
dalam meningkatkan efektifitas mendapatkan pelanggan baru (Get), mempertahankan pelanggan
yang telah ada (Keep), dan meningkatkan wallet share tiap pelanggan (Grow). Pada intinya,
pelanggan bukan hanya harus diakuisisi, tapi dipertahankan agar dapat memberikan nilai jangka
panjang. Dan bukan itu saja, pengelolaan pelanggan ini akan membantu pula untuk
menghasilkan pelanggan loyal yang lebih banyak.

Di era Legacy, pengelolaan pelanggan ini bisa dilakukan secara sistematis, lewat prinsip
sembilan elemen pemasaran. Untuk mendapatkan pelanggan baru yang berpotensi untuk
ditingkatkan loyalitasnya (keep dan grow), sejak awal perusahaan harus menyaring secara benar
para suspek yang masuk menjadi prospek yang bernilai tinggi. Dengan demikian hanya
diperlukan sumber daya yang minim untuk mengubahnya menjadi pembeli pertama (first time
buyer). Suspek yang masuk disaring dengan strategi Segmentasi, Targeting, dan Positioning-
disingkat STP. Tujuannya adalah agar suspek yang masuk menjadi prospek adalah suspek-
suspek yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang sama dangan value proposition yang
dimiliki produk.

Kemudian untuk menarik prospek menjadi pembeli pertama digunakan strategi diferensiasi,
marketing-mix, dan selling- disingkat menjadi DMS. Diferensiasi yang mendorong prospek
memilih produk kita dibandingkan produk pesaing. Diferensiasi dikongkritkan lagi dalam
marketing mix yang yakni product, price, promotion dan place, harganya mau dipatok pada
angka berapa, bagaimana konsep iklan below the line (BTL) dan above the line (ATL)-nya dan
mau memakai saluran distribusi apa saja. Keputusan dalam marketing mix akan menentukan
kredibilitas positioning yang telah dibangun sebelumnya. Misalnya produk telah diposisikan
sebagai produk yang ekslusif namun ternyata pelanggan dapat menjumpainya di sembarang
channel, maka jelas kesan ekslusif yang coba dibangun dengan promosi menjadi tidak berguna.

Setelah mendapat first time buyer, tentunya perusahaan ingin mempertahankannya selama
mungkin menjadi pelanggan loyal. Caranya dengan menjelaskan nilai dari brand, meningkatkan
kualitas servis (Service), dan memperbaiki proses yang mendukung perbaikan servis (Process)-
disingkat BSP.

Untuk mendorong first time buyer melakukan pembelian berikutnya, pelanggan harus percaya
pada nilai brand (brand value). Membangun brand yang kuat berkaitan dengan usaha untuk
membuat pelanggan melihat brand kita sebagai brand yang paling kredibel yang dapat
memberikan solusi terbaik. Brand harus menjadi bayung yang merepresentasikan produk dan
servis.

Untuk meningkatkan brand value, sebuah brand membutuhkan dukungan servis yang baik.
Peningkatan nilai produk melalui servis tidak akan terjadi tanpa adanya proses yang efektif dan
efisien. Proses di sini yang dimaksud adalah proses penciptaan nilai bagi pelanggan yang
tergambar pada kualitas produk, biaya yang dikeluarkan dan kualitas hantaran produk kepada
pelanggan atau disingkat QCD-quality, cost, delivery.

Itu semua tentunya ajaran yang sesuai dengan konsep pemasaran yang Legacy di mana pemasar
dibantu oleh sistem yang ‘canggih’ seperti CRM, ERP, atau lain sebagainya. Tentunya itu semua
sudah semakin tidak relevan lagi seiring dengan masuknya kita ke era New Wave.

Di dunia yang baru dan horizontal ini, kepanjangan dari CRM mungkin bukan lagi Customer
Relationship Management, namun Customer Really-Managed. Karena konsumen semakin
memegang kendali, mereka terhubung kemana-mana, dan lebih komunal. Sebagai mana yang
akan dibahas dalam artikel selanjutnya, yang menjadi sentral dalam customer management di era
New Wave ini adalah bagaimana pemasar mengelola pelanggan di komunitas mereka.

Membangun Loyalitas di Era New Wave


Laporan wartawan Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
Kamis, 5 November 2009 | 09:18 WIB

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

KOMPAS.com - Seperti yang telah dijelaskan di dalam artikel kemarin, pengelolaan pelanggan
(customer management) adalah sangat penting, karena ia terkait dengan langkah pemasar untuk
mendapatkan pelanggan baru, menjaga mereka, dan membesarkan mereka agar mereka loyal
dengan kita. Tentunya praktek yang dilakukan sangat berbeda apabila kita bandingkan antara era
Legacy dengan New Wave.

Di era Legacy, langkah pemasar dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan
pengelolaan pelanggan ini berorientasi pada segmentasi dan targeting, bagaimana mengubah
calon pelanggan menjadi pelanggan, untuk kemudian dibina hubungannya agar mereka menjadi
pelanggan yang loyal. Dibinanya tentu dengan berbagai cara yang vertikal. Apalagi dengan
dibantu dengan sistem CRM, data historis pelanggan dan perilaku mereka terekam di dalam
database pemasar, sehingga pemasar di era legacy dapat menganalisa hal-hal apa lagi yang dapat
dijual ke pelanggan.

Di era New Wave, tujuan untuk pengelolaan pelanggan pada dasarnya tetap sama, yaitu
mengejar loyalitas pelanggan. Hanya saja, pemasar di dunia yang horizontal ini memang bukan
sekedar teriming untuk punya basis pelanggan yang kuat yang terus membeli produk mereka,
tapi mereka lebih tertarik dengan membangun basis pelanggan yang sifatnya loyal advocate yang
rajin memberikan rekomendasi. Dan itu semua memungkinkan karena adanya praktek
komunitisasi sesuai dengan elemen pertama dari 12C pemasaran New Wave yang telah
dijelaskan sebelumnya.

Dengan adanya konektor yang bersifat mobile, ekperiensial, dan sosial, yang berkembang di
dunia online maupun offline, pelanggan semakin mudah untuk berbicara dan memberikan
rekomendasi. Rekomendasi dianggap penting disini, karena, sekali lagi, yang dimaksud dengan
pelanggan yang setia itu bukan hanya yang melakukan pembelian ulang, bukan repeat buying,
tetapi loyal dan rajin memberikan rekomendasi terhadap kita ke orang lain.
Di dalam prakteknya, pemasar di era New Wave mengejar apa yang dinamakan Net Promoter
Score (NPS) untuk mengukur masukan dari pelanggan.

Di sini pemasar hanya tertarik dengan satu pertanyaan simpel yaitu “Apakah Anda akan
merekomendasikan produk/merek/layanan ini kepada orang lain?” Kemudian pelanggan akan
memilih angka untuk mewakili keinginan mereka merekomendasikan merek tersebut, dari yang
terkecil 0 jika mereka sama sekali tidak mau memberi rekomendasi, sampai yang terbesar angka
10. NPS kemudian akan dihitung dengan cara menjumlahkan persentase Promoter (angka 9-10)
dengan Passively satisfied customer (angka 7-8) dan dikurangi dengan Detractors atau sebut saja
teroris yang suka menyebarkan hal-hal yang buruk tentang kita (angka 0-6). Kalau dilihat dari
cara perhitungannya, akan sulit untuk meraih angka yang tinggi untuk NPS ini, karena pelanggan
yang memberi rekomendasi harus dikurangi dengan Detractors.

Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk mendapatkannya. Harley Davidson, contohnya, adalah
salah satu perusahaan yang dikabarkan punya NPS tinggi, lebih dari 80 persen. Tapi itu Harley
Davidson, yang memang punya komunitas loyal yang bukan sekedar menjadi basis ‘pembeli’
produk mereka, namun merupakan basis komunitas ‘pembela’ yang rela mati-matian untuk
Harley Davidson dan memiliki kesamaan jiwa dan karakter.

Di era New Wave, pelanggan semakin memegang kendali, sehingga semakin susah bagi pemasar
untuk ‘mengunci’ mereka sebagaimana yang selama ini diajarkan dalam customer management
di pemasaran era legacy. Namun bukan berarti praktek ‘mengunci’ itu tidak bisa dilakukan,
hanya saja memang harus lewat komunitisasi.

New Wave Marketing

If you're new here, you may want to subscribe to my Newsletter & Download My Special Report
using the form on top left and/or RSS feed for the latest updates. Take some time to leave
comments too :-) Thanks for visiting!

New Wave Marketing – The Modern Marketing Principles

My mentor and friend, Pak Hermawan Kartajaya, is the Asean’s


Marketing Guru and the Pride of Indonesia. Since late August of this year, he has been writing
about “The New Wave Marketing Series 100” at Kompass.com (Indonesia Online Media). It
is also a great joy to hear that he will co-author with Philip Kotler on a new book with the same
title “New Wave Marketing”.

I am sure anyone in the marketing world, especially those that has taken “marketing” in their
higher education, will remember the thick blue book of “Principles of Marketing” by Philip
Kotler. ( Of course, there has been many new editions of the book that may be of different colors
now.) So there is no need of me to further the introduction of the world famous “Father of
Modern Marketing for International Market”

So What’s “New Wave Marketing”?

According to Kartajaya, the famous nine principles of marketing, as we all have learned to know
and applied in our marketing strategies, need to be revised and adapt to the modern world today
and these new principles will be known as New Wave Marketing. Whether or not they will
actually replaced the old terms from now on has not been announced.

Just to point out, The nine principles of marketing by Kotler also referred as “Legacy
Marketing” are:
1. Segmentation,
2. Targeting,
3. Positioning,
4. Differentiation,
5. Marketing-Mix (Product, Price, Place, Promotion),
6. Selling,
7. Brand,
8. Service,
9. Process

12 C’s of “New Wave Marketing”

The new elements or principles has now been termed the 12 C’s of “New Wave Marketing”
and they are:

1. Communitization,
2. Confirming,
3. Clarifying,
4. Coding,
5. Crowd-Combo (Co-Creation, Currency, Communal Activation, Conversation),
6. Commercialization,
7. Character,
8. Caring,
9. Collaboration

The reason why I am posting and sharing this with you is


that Internet Marketing Strategies are by and large derived from Marketing Strategies as we have
learned and apply in the offline world. The nine principles of Marketing by Philip Kotler are
commonly applied to all businesses in their marketing strategies.

These nine principles have been widely applied in internet marketing by many businesses and
internet marketers. Since these nine principles of marketing will soon be revised to be “NEW
WAVE MARKETING“, it is important for us to be aware of these new principles and apply the
New Wave Marketing to online businesses and internet marketing in general.
The evolution of New Wave Marketing is actually the result of the development of internet. And
many large successful businesses, who have applied it, has become highly successful including
online companies such as FACEBOOK, eBay, Apple and Amazon!

You will be able to understand the new terms better with the illustration below and you will see
that the New Wave Marketing is actually a replacement of terms of the Nine Principles of
Marketing.

• Segmentation => Communitization


• Targeting => Confirming
• Positioning => Clarifying
• Differentiation => Coding
• Marketing-Mix => Crowd-Combo
• Product => Co-Creation
• Price => Currency
• Place =>Communal Activation
• Promotion => Conversation
• Selling => Commercialization
• Brand => Character
• Service => Caring
• Process => Collaboration

These new terms described the principles of Marketing better than the previous terms and make
more sense in the new world today. The changes in information technology especially the
internet has revolutionized how human interact with one another, creating more opportunities as
well as threats to all businesses. Just like the 9 principles of Marketing that needs adaption to the
new world, we too need to adapt to the New Wave Marketing and apply them to our business to
face this new world.

“We cannot Live Without Changes”

“It is not the Strongest that will Survive, BUT the Most Adaptable” -Jong Yong Yun (CEO
Samsung)

These New Wave Marketing principles, when applied, allows companies to reap huge benefits
with sustainable competitive advantage over others.

As an example, Communitization is the first key of New Wave Marketing. Communities can
easily be found on the internet as Online Communities have flourished tremendously over the
past years. This can be seen in forums and social networking sites where users created their own
community. With communitization principle in mind, marketers can now explore and research
potential communities to market their business to.

Kartajaya explains that Communitization is much more effective than Segmentation as


markets will not only be based on geography, demography or social backgrounds in traditional
segmentation. BUT, markets will now be based on groups of people with the same passion or
interest from all walks of life from anywhere around the world as communities.

If a company can apply communitization and gain the trust and love of communities, then these
communities will volunteerily help market the company and defend the company from critisims
coming from outside the community.

Marketers need to be aware of these new principles, gain better understanding and apply these
New Wave Marketing in order to reap bigger benefits.

The 100 essays of New Wave Marketing are still developing at Kompas.com as I write this post.
However, they are written in Bahasa Indonesia, you will need to wait for the new book with
Kotler to gain deeper understanding about this New Wave.

Applying New Wave Marketing Principles

To show an example, Kartajaya instantly apply New Wave Marketing strategies in launching his
book and conference by organizing a New Wave Marketing Competition.

There are three categories to the competition. Participants /Contestants will help promote “New
Wave Marketing” and “Markplus” online by submitting either

1. a Picture to Flickr,
2. a Video to Youtube and/or
3. a Story to their personal blogs.

By entering into this competition and submitting these materials online, contestants will actually
help promote “Markplus” and the “New Wave Marketing” principles for Kartajaya online,
creating more awareness and buzz for his product launch. This is an example of the New
Marketing Mix - Crowd Combo in New Wave Marketing.

The prize:

There are 6 prizes to be won, 2 from each category and the winner will win a Nokia N3500
handphone each sponsored by Nokia!

As you can see, the prizes do not have to be huge and you can even find sponsor for it This is
an example of “low budget high impact” New Wave Marketing Strategies as described and
applied by Pak Hermawan Kartajaya.

With an example shown above, I am sure you will get some ideas on how you can use internet
and New Wave Marketing to enhance your presence online as well as boosting your business
performance.

Source: New Wave Marketing | Internet Marketing Solutions


http://www.bobmarketing.com/new-wave-marketing/#ixzz0n2JHPVNG
Copyright: www.BOBmarketing.com