Anda di halaman 1dari 8

a.

Biaya Tetap dan Penyusutan

Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya relative tetap selama proses produksi,
tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi. Biaya tetap meliputi biaya sewa
gedung, biaya penyusutan peralatan. Menurut Budiono, (1982), biaya tetap adalah
biaya yang tetap dikeluarkan/dibayar oleh perusahaan (produsen) berapapun tingkat
output yang dihasilkan. Jadi, biaya tetap dikeluarkan secara teru-menerus baik ada
produksi maupun tidak ada produksi.
Rumus Biaya Tetap :
TFC = TC – TVC
Biaya tetap yang dikeluarkan Perusahaan CV AULA*DIVA untuk satu kali
produksi yaitu sebesar Rp 34.287,00 Sedangkan untuk produksi dalam satu tahun,
pada tahun pertama sebesar Rp 10.697.616,00 dan pengeluaran ini konstan hingga
tahun ke 6. Dengan perincian biaya tiap kali produksi alah sebagai berikut :

TFC Setiap 1 kali Produksi

No. Macam Biaya Jumlah


1 Biaya Depresiasi 2.445
2 Biaya Administrasi & TK
a. Direktur 380000/bln 15.000
b. Manager 311.000/bln 12.346
3 ATK 1932
4 Promosi dan Pemasaran 1932
5 Pemeliharaan 650
TOTAL 34.287

Perolehan biaya dalam satu tahun ialah dengan mengalikan total biaya 1 kali
produksi dengan jumlah hari kerja, yaitu 26 hari, dan jumlah bulan dalam 1 tahun (12
bulan). Maka akan diperoleh hasil Rp 10.697.616,00 dari tahun pertama hingga tahun
ke-6

Biaya Penyusutan

Biaya penyusutan merupakan biaya yang

Biaya penyusutan alat yang di gunakan dalam proses produksi emping coklat
pada setiap satu kali produksi yaitu sebesar Rp 2.445,00. Dengan rincian :

No. Keterangan Jumlah Harga Penyusustan


Pembelian
(Rp)
1 Sewa Tempat Usaha - - -
2 Mesin Pemipih 1 1.350.000 180
3 Kompor 2 290.000 280
4 Spatula 3 6.000 16,5
5 Baskom 4 3.000 15
6 Alat penggorengan 1 25.000 22,5
7 Dandang 2 20.000 30
8 Sendok 10.000 8,5
9 Bak 2 10.000 20
10 Gayung 1 3.500 3,5
11 Panci 1 20.000 20
12 Perlengkapan Kantor 1 1.500.000 1388
Nilai Total 3.237.500 2445

Maka untuk biaya penyusustan selama satu tahun ialah (2445 x 26 x 12)
Rp 762.840,00. Dimana lama pemakaian barang (penyusutan) antara 3 tahun hingga
5 tahun tergantung jenis barang yang digunakan.

b. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya dipengaruhi oleh besar kecilnya
produksi yang diperoleh. Besarnya biaya variabel berubah searah dengan berubahnya
jumlah output yang dihasilkan (skala produksi). Secara umum biaya variable dapat di
rumuskan dengan :
Rumus Biaya Variabel :
TVC = TC-TFC
Biaya variable yang dikeluarkan perusahaan emping jagung coklat dalam setiap
satu kali produksi ialah sebesar Rp 263.000,00 dengan uraian biaya ialah :

No. Keterangan Jumlah Harga/St Nilai (Rp


(Kg)
1 Jagung 5 2000 10000
2 Minyak goreng 2 liter 9000 18000
3 Bawang Putih 1 20000 20000
4 Garam 0,25 2000 700
5 Coklat blog 2 35000 70000
6 Coklat stroberi 1,5 50000 75000
7 Coklat Lemon 0,5 50000 25000
8 Telepon 5000
9 Transportasi bahan 5000
baku
10 Transportasi 5000
pengiriman
11 Cup 5000
12 toples 20000
13 Listrik 2000
14 Isi ulang tabung gas 2300
Total 263.000
Rp 263.000,00 merupakan biaya varibel yang harus dikeluarka dalam tiap kali
produksi, maka dalam satu tahun total biaya variable yang dikeluarkan oleh CV
Aula*diva, ialah sebesar (263.000 x 26 x 12) Rp 82.056.000,00. Dan konstan untuk
tahun-tahun berikutnya.

c. Cash Flow Selama 6 Th.

Cash flow (aliran kas) merupakan “sejumlah uang kas yang keluar dan yang
masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dengan kata lain adalah aliran kas
yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan
serta berapa saldonya setiap periode.
Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur arus
kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana/uang yang kita miliki, kita simpan atau
investasikan. Secara sederhana fungsi itu terbagi menjadi tiga yaitu
1. Pertama, fungsi likuiditas, yaitu dana yang tersedia untuk tujuan memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan dapat dicairkan dalam waktu singkat relatif tanpa
ada pengurangan investasi awal
2. Kedua, fungsi anti inflasi, dana yang disimpan guna menghindari resiko
penurunan pada daya beli di masa datang yang dapat dicairkan dengan relatif
cepat.
3. Ketiga,capital growth, dana yang diperuntukkan untuk
penambahan/perkembangan kekayaan dengan jangka waktu relatif panjang.

Untuk penerimaan yang diperoleh dalam usaha emping jagung coklat CV


Aula*Diva dalam perkiraan 6 tahun ke depan dengan rincian tiap 1 X produksi 4 kg
emping, terdiri dari:

600 butir emping cokelat @ Rp 500,- = Rp 300.000,-


450 butir emping stroberi @ Rp 500,- = Rp 225.000,-
150 butir emping lemon @ Rp 500,- = Rp 75.000,-

Rp 600.000,-

Maka diperoleh penerimaan Rp 600.000,- tiap 1 kali produksi, jika dihitung


dengan waktu tahunan, maka dalam 1 tahun akan diperoleh penerimaan sebesar:
600.000 x 26 x 12 = 187,200,000
Jadi cash flow pertahuan dengan perumpamaan jumlah produksi, nilai jual,
penerimaan, dan total cost yang sama ialah :

Cash Flow th 1 = 94,446,384

Cash Flow th 2 = 94,446,384

Cash Flow th 3 = 94,446,384


Cash Flow th 4 = 94,446,384
Cash Flow th 5 = 94,446,384
Cash Flow th 6 = 94,446,384
Dengan perhitungan :

Pengurangan penerimaan dengan Total Cost (187.200.000 - 92,753,616 ).

d. Perhitungan BEP

Setiap perusahaan memiliki tujuan utama yaitu mencari keuntungan yang


optimal. Untuk itu perusahaan harus mampu menjual barang yang dihasilkan
semaksimal mungkin agar diperoleh laba sesuai yang diinginkan. Bila perusahaan
menghubungkan antara biaya yang dikeluarkan, laba yang diperoleh, dan volume
penjualan akan didapatkan suatu analisa yang disebut sebagai cost, profit, volume
analysis atau yang biasa disebut dengan analisis Break Even Point. Dimana BEP
adalah adalah suatu kondisi dimana pada periode tersebut perusahaan tidak mendapat
keuntungan dan juga tidak menderita kerugian.
BEP dapat dirumuskan dengan :
• BEP harga:

BEP harga = Total Biaya


Produksi

• BEP unit:
BEP unit = Total Biaya
Harga
BEP juga dapat dihitung dengan menjumlah total TFC harian ditambah total
TVC harian, dibagi jumlah barang yang dihasilkan.

Makan BEP yang harus dipenuhi dalam produksi emping jagung coklat, agar
tidak mengalami kerugian ialah sebesar Rp 247,74 untuk BEP Rupiahnya, dan harus
menjual sebanyak 594,57 butir untuk BEP unit nya.

e. Perhitungan Pay Back Period (PBP)

Menurut Husnan, dan Swarsono (1991:208) Metode P a y P a y B a c k


P e r i o d “metode ini mengukur seberapa cepat investasi dapat kembali, karena
itu satuan hasilnya bukan prosentase, tapi satuan waktu”. S e d a n g k a n m e n u r u t
R i y a n t o ( 1 9 9 8 : 1 2 4 ) M e t o d e P a y B a c k P e r i o d adalah satuan periode
yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan
mengunakan proses a t a u a l i r a n k a s n e t t o ( Net Cash Flow ), dengan
demikian metode ini menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan
agar dana yang ditanam pada saat investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya.
Dengan berdasarkan pada metode Pay Back Period usulan yang diterima
adalah usulan yang menghasilkan Pay Back Period yang lebih p e n d e k d a r i P a y
B a c k Maksimum yang ditetapkan (umur ekonomisproyek).
Rumus Payback Period yaitu:
Dari definisi tersebut, maka payback period dapat dicari dengan dua cara:
1. Apabila cash flow dari proyek investasi sama setiap tahun

PBP = initial investasi x 1th


Cash flow

2. Apabila cash flow dari proyek investasi berbeda setiap tahun

PBP = n + a - b x 1 th

c–b

Dimana:
n = tahun terakhir dimana cash flow masih belum bisa menutupi initial
investment
a = jumlah initial investment
b = jumlah cumulative cash flow pada tahun ke-n
c = jumlah cumulative cash flow pada tahun ke- n +1

Maka perhitungan PBP

Investasi = 5.000.000

Cash flow =

Investasi 1 th = PBP = 5000000 1 th

Cash flow 94,446,384

= 0,0529

Hal ini menunjukkan modal dapat kembali setelah 0,0529 tahun atau kurang
lebih setengah bulan.

f. Perhitungan RC Ratio

RC ratio diperoleh dari pembagian antara PV Revenue dengan PV cost. RC


Ratio yang diperoleh usaha emping jagung coklat sebesar 2,018. Denngan
perhitungan :

167,142,857 = 2,018
82,815,729

Yang berarti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan nilai sebesar 2,018
rupiah.

g. Perhitungan NPV

NPV merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah


didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor,
atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan
datang yang didiskontokan pada saat ini. Untuk menghitung NPV diperlukan data
tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan
manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan. Jadi perhitungan NPV mengandalkan
pada teknik arus kas yang didiskontokan.

Menurut Kasmir (2003:157) Net Present Value (NPV) atau nilai bersih
sekarang merupakan perbandingan antara PV kas bersih dengan PV Investasi selama
umur investasi. Sedangkan menurut Ibrahim (2003:142) Net Present Value (NPV)
merupakan net benefit yang telah di diskon dengan menggunakan social opportunity
cost of capital (SOCC) sebagai discount factor.

• Rumus menghitung NPV:

Selisisih dari nilai sekarang dari cash flow dengan nilai sekarang dari investasi

Tahun Cash Flow DF (15%) PV Revenue

1 94,446,384 0.870 80.655.318,3

2 94,446,384 0.756 70.135.059

3 94,446,384 0.658 60.987.008,14

4 94,446,384 0.572 53.032.181

5 94,446,384 0.497 46.114.940

6 94,446,384 0.432 40.099.948

Total PV Cash flow = 351.024.455


Total PV Investasi = 5.000.000

NPV = 346,024,455

h. Perhitungan IRR
IRR merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu
proyek/investasi dapat dilakukan apabila laju pengembaliannya (rate of return) lebih
besar dari pada laju pengembalian apabila melakukan investasi di tempat lain (bunga
deposito bank, reksadana dan lain-lain). IRR digunakan dalam menentukan apakah
investasi dilaksanakan atau tidak, untuk itu biasanya digunakan acuan bahwa investasi
yang dilakukan harus lebih tinggi dari Minimum acceptable rate of return atau Minimum
atractive rate of return (MARR) . MARR adalah laju pengembalian minimum dari suatu
investasi yang berani dilakukan oleh seorang investor.

Rumus umum IRR sebagai berikut :

Tingkat diskon rate yang bias menyamakan PV investasi dan PV cash flow

Atau disederhanakan :

IRR = rr + NPVrr x (rt-rr)

TPV rr – TPV rt

Keterangan :

rr = diskon rate rendah

rt = diskon rate tinggi

IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan
nol. Discount rate yang dipakai untuk mencari present value dari suatu benefit/biaya
harus senilai dengan opportunity cost of capital seperti terlihat dari sudut pandangan si
penilai proyek. Konsep dasar opportunity cost pada hakikatnya merupakan
pengorbanan yang diberikan sebagai alternatif terbaik untuk dapat memperoleh
sesuatu hasil dan manfaat atau dapat pula menyatakan harga yang harus dibayar
untuk mendapatkannya.
Tahun DF (15%) PV Revenue

1 0.870 162,782,609

2 0.756 141,550,095

3 0.658 123,087,039

4 0.572 107,032,208

5 0.497 93,071,485

6 0.43 80,931,726

Total PV Cash flow =

Total PV Investasi =