Anda di halaman 1dari 13

PERILAKU BUNUH DIRI

(Paper ini disusun untuk memenuhi Tugas Mid Semester matakuliah Psikologi Abnormal )

Oleh :

Irmania Sekar W. M2A006057

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2008
BAB I

PENDAHULUAN

Perilaku bunuh diri bukanlah suatu gangguan psikologis, tetapi sering merupakan ciri
atau symptom dari gangguan psikologis yang mendasarinya, biasanya gangguan mood. Di Bali
tercatat hampir setiap dua hari sekali terjadi satu kasus bunuh diri, hal itu dapat terlihat dari data
yang menyebutkan bahwa selama tahun 2008 sudah terdata 97 kasus dan sejak tahun 2003
tercatat 1.000 kasus. Lembaga kesehatan mental, Suryani Institute, mengemukakan di Denpasar,
sejak tahun 2004, bunuh diri di Bali jumlahnya lebih dari 150 kasus setiap tahun. Pelaku bunuh
diri adalah 66,5% laki-laki dan 42,7 merupakan usia produktif yakni usia 20 hingga 39 tahun
sedangkan terdapat 13,7% pelaku bunuh diri masih berusia di bawah 20 tahun.

Krisis ekonomi global yang terjadi saat ini juga dapat memicu perilaku bunuh diri
dilakukan. Menurut WHO (Word Health Organization), krisis ekonomi global memberikan
dampak pada kondisi kesehatan mental masyarakat dunia, karena dapat membuat orang
mengalami depresi, stress, gangguan kejiwaan dan mudah putus asa bahkan sampai bunuh diri.
Hal tersebut diperkuat dengan hasil temuan American Psychological Association, bahwa 8 dari
10 orang Amerika mengatakan kondisi ekonomi menjadi sumber utama stress dalam hidup
mereka. Orang yang rawan terkena gangguan mental akibat krisis ekonomi global adalah orang-
orang yang tinggal dengan pendapatan yang rendah hingga menengah. Serta kemungkinan
kecenderungan seseorang melakukan bunuh diri karena mengalami kesulitan ekonomi apapun
latar belakang status finansialnya.

Berikut ini adalah beberapa kelompok yang didiagnostik melakukan usaha bunuh diri
menurut Yayasan Harapan Permata Hati Kita, yaitu Depresi (dalam bentuk apapun), Gangguan
kepribadian (kepribadian anti sosial dan borderline dengan sifat yang impulsif, agresif dan
perubahan mood yang sering), Alkoholisme (dan/atau penyalahgunaan zat lain dalam
masaremaja), Schizophrenia, Gangguan mental organic, gangguan mental lainnya.
BAB II

TEORI

Seorang wanita cantik (27 tahun), pandai, aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar
rumahnya, dan memiliki banyak teman tiba-tiba merasa stress dan depresi. Ia mengasingkan diri
dari teman serta lingkungannya, tidak mau bekerja lagi dan berbulan-bulan lebih suka
mengurung diri dalam kamarnya bahkan ingin mengakhiri hidupnya (bunuh diri). Wanita ini
terlihat normal di depan mata orang lain. Tapi tidak ada yang tahu ternyata di dalam dirinya, dia
merasa sangat tertekan dan tersiksa dengan perasaannya sendiri. Keluarganya pun pontang
panting mencari terapis untuk mengembalikan keadaan anaknya ke semula.. Belum lagi kasus
terbaru di ITC Surabaya tentang seorang wanita berumur 22 tahun yang bunuh diri dari lantai 4.

Kasus-kasus diatas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak “beres” atau tidak sehat
dalam kepribadian orang tersebut yang secara kasat mata tidak terlihat penyebabnya. Erich From,
seorang ahli psikologi, memulai teori-teorinya mengenai kepribadian yang sehat dari
pengalamannya sedari kecil. Pada usia 27 tahun, seorang wanita muda yang cantik, berbakat dan
sahabat dari keluarganya bunuh diri. Tragedi itu ditambah lagi dengan beberapa tingkah laku
irasional yang ia temukan dalam pengalaman-pengalaman hidupnya. Pengalaman-pengalaman
yang membingungkan tersebut mendorong dia untuk mengetahui sumber tingkah laku yang
irasional.

Tingkah laku irasional diawali oleh pola pikir yang irasional. Pola pikir seseorang kerap
kali tidak bisa dibaca oleh orang lain. Kepribadian yang tidak sehat biasanya terlihat setelah
tingkah laku irasionalnya tampak, misal seperti perilaku bunuh diri, mengurung diri, takut
bertemu orang lain atau bahkan sampai pada perilaku membunuh orang lain. Secara umum, kita
tidak bisa membedakan kepribadian orang yang tidak sehat dengan yang sehat sebelum perilaku
irasionalnya tampak.

"Pelaku bunuh diri memang sebagian besar laki-laki, namun angka percobaan bunuh diri
pada perempuan pun tinggi," kata Psikiater Suryani Institute, Cokorda Bagus Jaya Lesmana. Hal
tersebut dapat saja terjadi karena pada umumnya laki-laki memilih tindakan yang lebih cepat dan
alat yang lebih mematikan seperti pistol saat melakukan bunuh diri. Kemudian adanya fakta
bahwa laki-laki juga cenderung untuk memiliki riwayat penyalahguanaan alkohol dan obat lebih
serta cenderung untuk tidak memiliki anak di rumah mendukung pernyataan mengenai pelaku
bunuh diri yang lebih “berhasil” dilakukan oleh laki-laki.

Emile Durkheim (seorang sosiolog Prancis), mengelompokkan perilaku bunuh diri


menjadi 3 jenis:

a. Altruistic suicide yaitu bila individu merasa terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia
cenderung untuk bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, sehingga
ia merasa kelompok tersebut sangat mengharapkannya, misalnya harakiri di Jepang.

b. Egoistic suicide yaitu apabila individu tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat karena
masyarakat menjadikan individu itu seolah-olah tidak berkepribadian, misalnya orang yang
kesepian, tidak menikah dan pengangguran.

c. Anomic suicide yaitu apabila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu
dengan masyarakat, sehingga individu mengalami krisis identitas, misalnya orang kaya yang
mengalami kebangkrutan dalam usahanya.

Saat ini, kita hidup dalam suatu masyarakat yang oleh Durkheim dinamakan anomic,
suatu masyarakat dimana perubahan terjadi secara cepat yang menyebabkan kegelisahan dari
anggota masyarakatnya. Perubahan ini memberikan pukulan yang hebat terhadap kaum muda
yang bisa dilihat pada kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan pemuda. Berikut ini akan
dijelaskan mengenai perspektif teoritis mengenai perilaku bunuh diri, sebagai berikut :

a. Pendekatan Shneidman Mengenai Bunuh Diri

Shneidman telah membuat daftar mengenai 10 karakteristik umum dari bunuh


diri, namun tidak semua ditemukan dalam setiap kasus dan semua kasus.
Pandangannya mengenai bunuh diri berdasarkan bahwa seseorang secara sadar
berusaha untuk menemukan solusi dari masalahnya yang telah menyebabkan
penderitaan. Semua harapan dan tindakan konstruktif telah menghilang.
Menurutnya, seseorang yang merencanakan bunuh diri biasanya
mengkomunikasikan niatnya tersebut, terkadang menangis untuk meminta
bantuan, terkadang menarik diri dari orang lain. Berikut ini adalah 10
karakteristik dari bunuh diri menurut Shneidman:

1) Fungsi umum dari bunuh diri adalah untuk mencari solusi.

2) Tujuan umum dari bunuh diri adalah penghentian kesadaran.

3) Stimulus umum dalam bunuh diri adalah penderitaan psikologis yang


tidak tertahankan.

4) Stressor umum dalam bunuh diri adalah frustrasi kebutuhan psikologis.

5) Emosi umum dalam bunuh diri berkaitan dengan hopelessness-


helplessness.

6) Cognitive state umum dalam bunuh diri adalah ambivalen.

7) Perceptual state umum dalam bunuh diri adalah sempit.

8) Tindakan umum dari bunuh diri adalah egression.

9) Tindakan interpersonal umum dalam bunuh diri adalah komunikasi


mengenai intensi.

10) Konsistensi umum mengenai bunuh diri adalah dengan pola


coping seumur hidup.

b. Sudut Pandang Psikologis

Freud, seorang tokoh psikodinamika klasik memandang bunuh diri


menampilkan agresi yang diarahkan ke dalam diri seseorang akibat kehilangan
seseorang yang dicintai dan dibenci. Semakin kuat perasaan tersebut, maka
seseorang akan semakin mungkin melakukan bunuh diri. Sehingga dapat
dikatakan bahwa bunuh diri mewakili kemarahan yang diarahkan ke dalam yang
menjadi bersifat membunuh. Freud menyatakan, bunuh diri kemungkinan
dimotivasi oleh “insting kematian” (tanatos) yaitu suatu kecenderungan untuk
kembali ke keadaan bebas tekanan sebelum kelahiran.

Teoritikus belajar banyak berfokus pada kurangnya keterampilan


pemecahan masalah untuk menangani tekanan hidup yang berat. Menurut
Shneidman (1985), orang yang melakukan percobaan bunuh diri berharap untuk
dapat lari dari rasa sakit psikologis yang tidak tertahankan dan kemungkinan
mempersepsikan bahwa tidak ada jalan keluar lain. Orang yang melakukan bunuh
diri sering kali mengatakan pada orang lain mengenai niat mereka atau
meninggalkan petunjuk-petunjuk sebelumnya.

Teoritikus sosial-kognitif mengatakan bunuh diri dapat dimotivasi oleh


harapan positif dan oleh sikap-sikap persetujuan terhadap legitimasi dari bunuh
diri (D. Stein dkk.,1998). Orang yang melakukan bunuh diri mungkin berharap
bahwa mereka akan dirindukan atau dikenang setelah kematian mereka. Sudut
pandang inin juga berfokus pada dampak modeling yang potensial dari
mengobservasi perilaku bunuh diri pada orang lain, terutama di kalangan remaja
yang merasa terbebani dengan stressor akademik dan sosial.

c. Sudut Pandang Sosiologis

Emile Durkheim, seorang pemikir sosial. Bunuh diri, yang bermacam-


macam bentuk (egoistic suicide, altruistic suicide, anomic suicide), itu memang
merupakan penyimpangan perilaku seseorang. Bagaimana bunuh diri itu terjadi
atau dilakukan oleh seseorang, menurut Durkhiem, disebabkan oleh benturan dua
kutub integrasi dan regulasi di mana kuat dan lemahnya kedua kutub itu akan
menyebabkan orang melakukan bunuh diri. Di sinilah, begitu Durkheim
menekankan, pentingnya agama bagi seseorang untuk menghindarkan dari
berbagai penyimpangan yang mungkin terjadi. di mana unsur-unsur esensial dari
agama itu mencakup berbagai mitos, dogma, dan ritual, yang kesemuanya
merupakan fenomena religius yang dihadapi manusia. Dalam kaitan ini, ada hal-
hal yang sifatnya 'suci' (sacred) dan juga ada hal-hal yang sifatnya 'tidak suci'
(profane) yang pemisahan antara keduanya menunjukkan kepada pemikiran-
pemikiran religius yang dilakukan manusia. Harus diperhatikan bahwa di dalam
agama, khususnya yang menyangkut ritual keagamaan, ada yang dinamakan ritual
negatif dan juga ritual positif. Bagi Durkheim, moralitas itu merupakan suatu
aturan yang merupakan patokan bagi tindakan dan perilaku manusia (juga dalam
berinteraksi). Konsepnya mengenai moralitas ini merujuk pada apa yang
dinamakan norms (norma-norma) dan rules (aturan-aturan) yang harus dijadikan
acuan dalam berinteraksi.

d. Sudut Pandang Biologis

Usaha untuk bunuh diri dapat disebabkan oleh kurangnya serotonin pada
pasien depresi. Penurunan serotonin ditemukan pada banyak orang yang mencoba
atau melakukan bunuh diri. Kurangnya serotonin dalam tubuh menyebabkan
disinhibition atau plepasan dari perilaku impulsive yang mengambil bentuk
tindakan bunuh diri pada seseorang yang rapuh. Bunuh diri juga cenderung
menurun dalam keluarga, yang menandakan adanya factor genetis. Kira-kira 1
dari 4 orang yang mencoba bunuh diri memiliki 1 anggota keluarga yang telah
melakukan bunuh diri (Sorensen & Rutter, 1991).
BAB III

PEMBAHASAN

Dalam paper ini akan disertakan lampiran berupa jurnal penelitian mengenai perilaku
bunuh diri pada orang dewasa. Berikut ini adalah keterangan mengenai jurnal penelitian tersebut,
sebagai berikut :

a. Judul penelitian : Autobiograpicahl memory, interpersonal problem solving and


suicidal behavior in adolescent inpatients. Ingatan riwayat hidup, pemecahan
masalah interpersonal dan perilaku bunuh diri pada orang dewasa yang sedang
menjalani treatmen di rumah sakit.

b. Tujuan penelitian : tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji teori Williams’
(William JMG. Depression and the specificity of autobiographical memory. In
Rubin D, ed. Remembering Our Past: Studies in Autobiographical Memory.
London : Cambridge University Press; 1996: 244-267) mengenai perilaku bunuh
diri pada dewasa muda dan remaja dengan mempertimbangkan hubungan antara
perilaku bunuh diri dengan kemampuannya dalam ingatan riwayat hidup,
kemampuan dalam pemecahan masalah, pengalaman traumatis, represi dan tidak
memilki harapan hidup.

c. Metodelogi penelitian :

1) Populasi :

Partisipannya adalah 75 dewasa muda dan remaja yang terdiri dari


25 orang yang menjadi pasien rumah sakit psikiatri (berafiliasi dengan
universitasnya) karena percobaan bunuh diri, 25 dewasa muda yang
menjadi pasien pada rumah sakit yang sama karena alasan lain selain
percobaan bunuh diri dan yang tidak pernah mencoba bunuh diri, 25
subjek lain yang sehat. Adapaun karekteristik dari subjek penelitian, yaitu
semua subjek telah mengikuti assessmen dan memiliki skor di bawah 40,
semua subjek memiliki IQ dan prestasi pendidikan rata-rata, semua subjek
memiliki kemampuan verbal dan performansi IQ yang normal, semua
subjek memiliki kemampuan membaca dan bahasa yang sesuai dengan
usianya, serta semua subjek dan para orangtuanya telah menyetujui surat
persetujuan menjadi subjek penelitian.

Subjek yang melakukan percobaan bunuh diri terdiri dari 11 laki-


laki dan 14 wanita denagn usia 12 hingga 19 tahun. Mereka minimal telah
menyelesaikan 9 tahun sekolah dan mendapatkan kelas pertengahan
dengan latar belakang yahudi. Metode yang digunakan untuk bunuh diri
termasuk di dalamnya memotong pergelangan tangan, overdosis,
melompat, gantung diri serta kombinasi dari beberapa metode tersebut
(campuran).

2) Instrumen :

Peristiwa hidup semasa kanak-kanak dan dewasa awal diukur


dengan skala Coddington Life Events (self report) yang merupakan
modifikasi tes asosiasi kata dari Holmes dan Rahe yang sudah disesuaikan
untuk digunakan di Israel. Kemudian Represi yang merupakan mekanisme
pertahanan dinilai dengan Hebrew Version of Life Style Index. Ingatan
riwayat hidup dites dengan semistruktur interview. Pemecahan masalah
interpersonal dinilai dengan Hebrew Translation of Means-Ends Problem
Solving Test (MEPS). Keputusasaan diukur dengan self report BHS
sebanyak 20 aitem. Resiko bunuh diri diukur dengan self report skala
suicide risk yang terdiri dari 15 aitem. Kecenderungan untuk bunuh diri
diketahui dengan sejarah klinis individu.

3) Hasil :

Perilaku bunuh diri sidnifikan dengan kesulitan dalam pemecahan masalah


interpersonal dan kemampuan dalam ingatan riwayat hidup.
Dalam jurnal di atas kesulitan dalam pemecahan masalah interpersonal serta ingatan
riwayat hidup mempengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri. Sedangkan dari beberapa
penelitian menemukan bahwa rasa putus asa merupakan prediktor yang kuat dari bunuh diri
(Beck, 1986b; Beck, et al., 1985, 1990, dalam Davison, Neale, & Kring, 2004) bahkan lebih kuat
dari depresi (Beck, Kovacs, & Weissman, 1975, dalam Davison, Neale, & Kring, 2004).
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa seseorang dengan ketidakpuasan yang tinggi dengan
kehidupannya cenderung memiliki usaha untuk bunuh diri.

Penelitian lainnya menemukan bahwa individu yang bunuh diri lebih kaku dalam
mendekati masalah yang dialaminya dan kurang memiliki pemikiran yang fleksibel (Levenson,
1972, dalam Davison, Neale, & Kring, 2004). Penelitian yang melibatkan orang yang tidak
pernah berusaha untuk bunuh diri, orang yang usaha bunuh dirinya tidak menyebabkan cedera
yang serius dikaitkan dengan low-lethal, dan orang yang usaha bunuh dirinya mendekati
kematian dikaitkan dengan high-lethal, menemukan bahwa orang depresi yang pernah
melakukan usaha bunuh diri khususnya terkait dengan high-lethal, lebih memiliki keterbatasan
dalam membuat rencana, menyelesaikan masalah, membuat keputusan, dibandingkan dengan
dua orang lainnya. Bunuh diri juga dapat di sebabkan oleh faktor lingkungan :

a. Tekanan hidup

1. Masalah interpersonal atau masalah pribadi seperti bertengkar dengan pasangan, keluarga,
teman.

2. Ditolak teman atau keluarga.

3. Kejadian merugikan seperti: perusahaan bangkrut atau rugi secara finansial.

4. Masalah keuangan, kehilangan pekerjaan, pensiun, kesulitan finansial.

5. Perubahan yang terjadi di masyarakat seperti : perubahan drastis dalam politik atau ekonomi.

b. Tekanan lainnya yang disebabkan oleh rasa malu atau ancaman akibat berbuat salah.
Adapaun karakteristik pemikiran dari orang yang ingin bunuh diri :

a. Ambivalensi : Kebanyakan orang yang ingin bunuh diri memiliki perasaan yang campur
aduk tentang bunuh diri itu sendiri. Keinginan untuk hidup dan mati beradu dalam orang
tersebut, ada keinginan untuk lari dari rasa sakit dan ada juga hasrat untuk hidup.
Kebanyakan dari mereka tidak ingin mati, mereka hanya tidak senang dengan hidup mereka.

b. Impulsitas : Bunuh diri adalah merupakan tindakan impulsif, dan sama seperti tindakan
impulsif lainnya, dorongan ini bisa bertahan lama atau hanya beberapa menit atau beberapa
jam saja. Biasanya dipicu oleh kejadian-kejadian negatif. Menolak krisis-krisis tersebut
dengan lebih banyak bermain dengan waktu, keinginan untuk bunuh diri dapat di kurangi
atau dicegah.

c. Rigiditas: Apabila orang ingin bunuh diri, pemikiran, perasaan dan tindakan mereka
terbatasi. Mereka berpikir untuk bunuh diri secara konstan dan tidak mampu menerima jalan
keluar dari masalah. cara berpikir mereka sangat ekstrim.

Seperti yang telah diketahui bahwa mekanisme psikologis berkaitan dengan atensi,
memori dan suatu keputusan yang diambil seseorang menentukan sikap yang akan dia pilih.
Pertama, pada individu dengan perilaku bunuh diri memiliki atensi yang bias. Mereka menjadi
terlalu sensitif dalam menundukkan sinyal stimuli dan dalam penolakan sesuatu. Kedua, mereka
memiliki memori yang tidak umum dalam mendefinisikan solusi terhadap suatu masalah,
mereka seolah-olah merasa terjebak dan tidak memiliki pelarian yang lain. Ketiga, mereka
memiliki harapan hidup yang rendah.

Untuk mencegah terjadinya bunuh diri dapat dilakukan beberapa cara, yaitu :

a. Penanganan Psikososial :

1. Meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah dengan terapi pemecahan


masalah.
2. Meningkatkan intensitas kasih sayang. Dukungan dari keluarga dan orang-orang
terdekat sangat membantu mencegah terjadinya perilaki bunuh diri.

3. Terapi psikologis yang intensif. Terapi Dialectical Behavior yang dikembangkan


oleh Linehan (1993) dapat digunakan sebagai salah satu terapi psikologis. Hasil
yang dapat dicapai dengan diadakannya terapi adalah pengurangan dalam perilaku
self-harming, hati yang terkontrol serta emosi yang lebih stabil. Terapi psikologis
dapat dilakuakan secara terpi kelompok ataupun terapi individu. Selain itu terapis
juga dapat menciptakan hubungan empati atau terapeutik yang melibatkan
kepercayaan dan harapan. Adanya fasilitas pusat atau komunitas pencegahan
bunuh diri juga dapat membantu, karena biasanya seseorang yang ingin bunuh diri
memberikan peringatan atau meminta bantuan sebelum menjalankan usahanya.

b. Penanganan pharmalogical :

Memberikan antidepresan seperti SSRIs (Selective Serotonin RE-uptake Inhibitors),


karena kadar serotonin dalan tubuh orang dengan perilaku bunuh diri rendah. Dengan
pemberian SSRIs diharapkan dapat menyeimbangkan kadar serotonin tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Arie, Miri and friends. 2008. Autobiographical memory, interpersonal problem solving and
suicidal behavior in adolescent inpatients. Elsevier/locate/comppsych.htm

---.---. Bunuh diri. yakita.or.id--bunuh_diri.htm

Heeringen, Kees Van. 2001. Understanding Suicidal Behaviour: the suicidal process approach
to research, treatmetnt and prevention. England : John Wiley & Sons Ltd.

---. 2008. Kasus Bunuh Diri di Bali Terjadi Setiap Dua Hari. Menkokera.go.id—content—view
—9068—39.htm

Nevid, Jeffrey S. 2005. Psikologi Abnormal jilid 1. Jakarta : Erlangga

Ramadhani, Arya Verdi. 2008. Mood Diorder. Aryavaerdiramadhani.blogspot.com—2008—07


—vj37vii2008-mood-diorders.html

---. 2008. Teori Sosiologi Klasik. Pustaka.ut.ac.id—puslata—online.php-


menu=bmpshort_detail2&ID=387.htm

----. 2008. WHO Waspadai Meningkatnya Kasus Bunuh Diri dan Penderita Stress.
eramuslim.com—berita—dunia—dampak-krisis-keuangan-global-who-waspadai-meningkatnya-
kasus-bunuh-diri-dan-penderita-stres.htm