Anda di halaman 1dari 9

PERPAJAKAN I

PEMERIKSAAN PAJAK DAN


TINDAK PIDANA PAJAK

NAMA KELOMPOK 6 :

DM Bagus Umbara 1006305009


Ni Ketut Ayu Lestari W 0906205002
Ni Ketut Ayu Juli Astuti 0906205050
I Pt Gd Aditya W 0906305147

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
PEMERIKSAAN PAJAK DAN
TINDAK PIDANA PAJAK

Untuk melaksanakan upaya penegakan hukum salah satunya yaitu


dengan tindakan pemeriksaan pajak, maka mutlak diperlukan tenaga pemeriksa
pajak dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Sedangkan untuk
mendapatkan jaminan mutu atas hasil kerja pemeriksaan selain diperlukan
kuantitas dan kualitas yang memadai diperlukan juga prosedur pemeriksaan,
ruang lingkup, norma, dan pelaksanaan pemeriksaan yang tepat.
A. Pengertian Pemeriksaan
Menurut Siti Resmi dalam buku perpajakan, teori dan kasus
dinyatakan bahwa pemeriksaan adalah Pegawai Negeri Sipil dilingkungan
Direktorat Jenderal Pajak atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh direktur Jenderal
Pajak yang diberi tugas atau wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan
pemeriksaan. Sendangkan berdasarkan ketentuan Dalam Pasal 1 ayat 24 KUP
pemeriksaan merupakan serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan,
mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan peraturan
perundang-undangan. Sementara itu landasan hukum pemeriksaan telah diatur
dalam ketentuan pasal 29 sampai dengan 31 UU KUP. Tujuan Pemeriksaan
menurut keputusan menteri keuangan nomor :545/kmk.04/ 2000 yaitu:
a. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka
memberikan kepastian hukum, keadilan dan pembinaan kepada wajib pajak
yang dilakukan dalam hal :
1. Surat Pemberitahuan menunjukan kelebihan pembayaran pajak termasuk
yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan bayar.
2. Surat pemberitahuan tahun pajak penghasilan menunjukan rugi
3. Surat Pemberitahuan tidak disampaikan tidak pada waktu yang telah
ditetapkan
4. Surat Pemberitahuan yang memenuhi kriteria seleksi yang ditentukan oleh
Direktorat Jenderal Pajak
5. Adanya Indikasi Kewajiaban perpajakan selain kewajiban tersebut pada
point 3 (tiga) tidak dipenuhi.
b. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, yang dapat dilakukan dalam hal :
1. Pemberian Nomor pokok wajib pajak (NPWP) secara jabatan
2. Penghapusan Nomor pokok wajib pajak
3. Pengukuhan atau pencabutan Pengusaha Kena pajak
4. Wajib Pajak Pengajuan keberatan
5. Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghasilan neto
6. Pencocokan data dan atau keterangan
7. Penentuan Wajib Pajak berlokasi didaerah terpencil
8. Penentuan satu atau lebih tempat terutang pajak pertambahan nilai
9. Pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan untuk
tujan lain selain pada point 1 (satu) sampai point 8 (delapan).
B. Ruang Lingkup Pemeriksaan
Salah satu unsur dari pemeriksaan adalah ruang lingkup pemeriksaan,
yaitu suatu tempat dimana akan dilakukannya pemeriksaan apakah dikantor
ataupun dilapangan tempat dimana wajib pajak mempunyai kewajiban untuk
membayar pajak. Berdasarkan ruang lingkupnya, jenis-jenis pemeriksaan dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Pemeriksaan Lapangan
Adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap wajib pajak ditempat wajib
pajak, yang dapat mencakup kantor wajib pajak, pabrik, tempat usaha,
tempat tinggal, dan tempat lain yang ada kaitannya dengan kegiatan usaha,
juga pekerjaan bebas wajib pajak, serta tempat lain yang ditentukan oleh
Direktorat Jenderal pajak.
Pemeriksaan lapangan dapat meliputi suatu jenis pajak, seluruh jenis pajak
untuk tahun berjalandan atau tahun-tahun sebelumnya yang dapat dibedakan
sebagai berikut :
a) Pemeriksaan Lengkap adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap
wajib pajak, termasuk kerja sama operasi (KSO) dan konsorsium, atas
seluruh jenis pajak, untuk tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya,
dilaksanakan dengan penerapan teknik-teknik yang lazim digunakan
dalam rangka mencapai tujuan pemeriksaan. Pemeriksaannya dilakukan
dalam jangka waktu 2 (dua) bulandan dapat diperpanjang menjadi paling
lama 6 (enam) bulan.
b) Pemeriksaan Sederhana lapangan (PSL) adalah pemeriksaan lapangan
yang dilakukanterhadap wajib pajak untuk satu, beberapa atau seluruh
jenis pajaksecara terorganisasi antar seksi oleh kepala kantor unit
pelaksana pemeriksaaan pajak, dalam tahun berjalandan atau tahun-
tahun sebelumnya, dilaksanakan dengan penerapan teknik-teknik yang
dipandang perlu menurut keadaan dalam rangka mencapai tuuan
pemeriksaan. Pelaksanaannya dilakukan dalam waktu 1 (satu) bulandan
dapat diperpanjangmenjadi paling lama 2 (dua) bulan.
2. Pemeriksaan Kantor
Adalah pemeriksaan terhadap wajib pajak yang dilakukan kantor unit
pelaksana pemeriksaan pajak, dapat meliputi suatu jenis pajak tertentu, baik
untuk tahun berjalan maupun tahun-tahun sebelumnya. Pemeriksaan kantor
hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan sederhana kantor (PSK), jangka
waktu penyelesaiannya selama 4 (empat) minggu dan dapat diperpanjang
menjadi paling lama 6 (enam) minggu, dengan ketentuan berikut :
a) Jangka waktu penyelesaian pemeriksaan untuk masing-masing jenis
pemeriksaan tersebut diatas, tidak dapat diubah meskipun terjadi
pergantian pemeriksaan pajak.
b) Perpanjangan jangka waktu penyelesaian pemeriksaan sebagaimana
dimaksudkan di atas dapat diberikan berdasarkan permintaan kepala
kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atau atas permintaan direktur
pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan pajak.
c) Apabila terdapat transaksi transfer pricing, jangka waktu penyelesaian
pemeriksaan dapat diperpanjang menjadi paling lama 2 (dua) tahun.
C. Pedoman Pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan pajak didasarkan pada pedoman pemeriksaan
pajak yang meliputi:
1. Pedoman Umum Pemeriksaan Pajak
2. Pedoman Pelaksanaan Pemeriksaan Pajak
3. Pedoman Laporan Pemeriksaan Pajak

Tabel Pedoman Pemeriksaan Pajak

Jenis Deskripsi
Pedoman • Pemeriksaan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak yang
Umum
Pemeriksaan a. Telah mendapat pendidikan teknis yang cukup dan
memiliki keterampilan sebagai Pemeriksa Pajak

b. Bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, penuh


pengabdian, bersikap terbuka, sopan, dan objektif, serta
menghindarkan diri dari perbuatan tercela; dan

c. Menggunakan keahliannya secara cermat dan


seksama serta memberikan gambaran yang sesuai
dengan keadaan sebenarnya tentang Wajib Pajak

• Temuan hasil pemeriksaan dituangkan dalam Kertas


Kerja Pemeriksaan sebagai bahan untuk menyusun
Laporan Pemeriksaan Pajak
Pedoman • Pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan
Pelaksanaan persiapan yang baik, sesuai dengan tujuan pemeriksaan,
Pemeriksaan dan mendapat pengawasan yang seksama
• Luas pemeriksaan ditentukan berdasarkan petunjuk
yang diperoleh yang harus dikembangkan melalui
pencocokan data, pengamatan, tanya jawab, dan tindakan
lain berkenaan dengan pemeriksaan

• Pendapat dan kesimpulan Pemeriksa Pajak harus


didasarkan pada temuan yang kuat dan berlandaskan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
Pedoman • Laporan Pemeriksaan Pajak disusun secara ringkas
Laporan dan jelas, memuat ruang lingkup sesuai dengan tujuan
Pemeriksaan pemeriksaan, memuat kesimpulan Pemeriksa Pajak yang
Pajak didukung temuan yang kuat tentang ada atau tidak adanya
penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan
perpajakan, dan memuat pula pengungkapan informasi lain
yang terkait
• Laporan Pemeriksaan Pajak yang berkaitan dengan
pengungkapan penyimpangan Surat Pemberitahuan harus
memperhatikan Kertas Kerja Pemeriksaan antara lain
mengenai:
o berbagai faktor perbandingan;
o nilai absolut dari penyimpangan;
o sifat dari penyimpangan;
o petunjuk atau temuan adanya
penyimpangan;
o pengaruh penyimpangan;
o hubungan dengan permasalahan lainnya

• Laporan Pemeriksaan Pajak harus didukung oleh


daftar yang lengkap dan rinci sesuai dengan tujuan
pemeriksaan

D. Norma Pemeriksaan
Didalam melaksanakan tugas pemeriksaan, pemeriksaan pajak wajib
mengikuti tata cara pemeriksaan pajak yang sudah ditetapkan, baik yang
berbentuk peraturan perundang-undangan maupun norma-norma tertentu
mengenai pemeriksaan pajak. Tujuannya adalah agar hak dan kewajiban, baik
pemeriksa pajak maupun wajib pajak tetap dihormati, karena masing-masing telah
diatur dengan jelas, sedangkan tujuan yang lain dari pengaturan tata cara
pemeriksaan pajak ini untuk menghindari terjadinya penyimpangan-
penyimpangan dalam pelaksanaan pemeriksaan, sekaligus sebagai alat
pengawasan bagi atasan pemeriksaan pajak. Berikut ini rincian mengenai hak dan
kewajiban, baik bagi pemeriksa maupun bagi wajib pajak, sebagai norma dan
pedoman pemeriksaan pajak, meliputi:
1. Norma Pemeriksaan Pemeriksa Pajak dalam Rangka Pemeriksaan
Lapangan, antara lain:
a. Pada waktu melakukan pemeriksaan, pemeriksaan pajak harus
memiliki tanda pengenal pemeriksaan pajak dan dilengkapi dengan
surat perintah pemeriksaan pajak.
b. Pemeriksa pajak wajib memberitahukan secara tertulis kepada wajib
pajak tentang akan dilakukannya pemeriksaan.
c. Pemeriksa wajib pajak memperlihatkan kepada wajib pajak, tanda
pengenal pemeriksa pajak dan surat perintah pemeriksaan pajak.
d. Pemeriksa pajak wajib menjelaskan kepada wajib menjelaskan
kepada wajib pajak yang akan diperiksa tentang magsud dan tujuan
pemeriksaan.
e. Hasil pemeriksaan diatuangkan kedalam kertas kerja pemeriksaan.
f. Pemeriksa pajak wajib membuat laporan pemeriksaan pajak (LPP) .
g. Pemeriksa pajak wajib memberikan petunjuk kepada wajib pajak
mengenai penyelenggaraan pembukuan, pencatatan dan petunjuk
lainnyamengenai pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan
dengan pemeriksaan yang dilakukan, dengan tujuan agar
penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan dan pemenuhan
kewajiban perpajkan dalam tahun-tahun selanjutnya agar
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
h. Pemeriksa pajak wajib pengembalikan buku-buku, catatan-catatan
dan dokumen pendukung lainnya yang dipinjam dari wajib pajak
paling lam 14 (empat belas) hari sejak selesainya pemeriksaan.
i. Pemeriksa pajak dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang
tidak berhak, segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan
kepadanya oleh WP dalam rangka pemeriksaan.
2. Norma Pemeriksaan Pemeriksa Pajak dalam rangka Pemeriksaan
Kantor, antara lain:
a. Pemeriksa pajak, dengan menggunakan surat pengadilan yang
ditanda tangani oleh kepala kantor yang bersangkutan, memanggil
WP untuk datang kekantor direktorat jenderal pajak yang ditunjuk
dalam rangka peberiksaan.
b. Pemeriksaan pajak wajib menjelaskan maksud dan tujuan
pemeriksaan kepada WP yang akan diperiksa.
c. Pemeriksan pajak wajib membuat laporan pemeriksaan pajak.
d. Pemeriksa pajak wajib memberitahukan secara tertulis kepada WP
tentang hasil pemeriksaan berupa hal-hal yang berbeda antara surat
pemberitahuan dengan hasil pemeriksaan.
e. Pemeriksa pajak wajib memberi petunjuk kepada WP mengenai
penyelenggaraan pembukuan atau pencataan dan petunjuk lainnya
mengenai pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan dengan
pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan agar penyelenggaraan
pembukuan atau pencatatan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam
tahun-tahun selanjutnya dilaksanakan suseai dengan ketentuan yang
berlaku.
f. Pemeriksa pajak wajib mengembalikan buku-buku, catatan-catatan
dan dokumen pendukung lainnya yang dipinjam dari WP paling lama
7 (tujuh) hari sejak selesainya pemeriksaaan.
g. Pemeriksa pajak dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang
tidak berhak, segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan
kepadanya oleh WP dalam rangka pemeriksaan.
3. Norma Pemeriksaan berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan, antara
lain:
a. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh seorang/ lebih pemeriksa pajak
b. Pemeriksaan dilaksanakan di kantor DJP, di kantor WP atau di
kantor lainnya, atau di pabrik atau di tempat pekerjaan bebas atau di
tempat tinggal WP atau di tempat lain yang ditentukan DJP.
c. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila dipandang
perlu dapat dilanjutkan diluar jam kerja.
d. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam kertas kerja pemeriksaan.
e. Laporan pemeriksaan pajak disusun berdasarkan kertas kerja
pemeriksaan.
f. Hasil pemeriksaan lapangan yang seluruhnya disetujui WP atau
kuasanya, dibuatkan surat pernyataan tentang persetujuan tersebut
dan ditanda tangani oleh WP yang bersangkutan atau kuasanya.
g. Terhadap temuan sebagai hasil pemeriksaan lengkap yang tidak atau
tidak seluruhnya disetujui oleh WP, dilakukan pembahasan akhir
hasil pemeriksaan dan dibuatkan berita acara hasil pemeriksaan.
h. Berdasarkan laporan pemeriksaan pajak, diterbitkan surat ketetapan
pajak dan surat tagihan pajak, kecuali pemeriksaan dilanjutkan
dengan tindakan penyidikan.
4. Norma Pemeriksaan berkaitan dengan WP, antara lain:
a. Dalam hal pemeriksaan lapangan, WP berhak meminta kepada
pemeriksa pajak untuk memperlihatkan surat perintah pemeriksaan
dan tanda pengenal pemeriksa.
b. WP berhak meminta kepada pemeriksa pajak untuk memberikan
penjelasan tentang maksud dan tujuan pemeriksa.
c. Dalam hal pemeriksaan kantor, WP wajib memenuhi panggilan
untuk datang menghadiri pemeriksaan sesuai dengan waktu yang
ditentukan.
d. WP wajib memenuhi permintaan peminjaman buku-buku, catatan-
catatan dan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kelancaran
pemeriksaan dan memberikan keterangan dalam jangka waktu paling
lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal surat permintaan, dan apabila
permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh WP, maka pajak yang
terrutang dapat dihitung secara jabatan.
e. WP berhak meminta kepada pemeriksa pajak rincian yang berkenaan
dengan hal-hal yang berbeda antara hasil pemeriksaan dengan surat
pemeriksaan.
f. WP atau kuasanya wajib menandatangani surat pernyataan
persetujuan apabila seluruh hasil pemeriksaan disetujuinya.
g. Dalam hal pemeriksaan lengkap, WP atau kuasanya wajib
menandatangani berita acara hasil pemeriksaan apabila hasil
pemeriksaan tersebut tidak atau tidak seluruhnya disetujui.
h. Dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan, WP wajib melaksanakan
ketentuan sebagai mana diatrur dalam pasal 29 UU No. 6 Tahun
1983 tentang KUP sebagaimana telah diubah dengan UU No. 16
Tahun 2000.

E. Pelaksanaan Pemeriksaan
Pelaksanaan Pemeriksaaan berpedoman pada norma pemeriksaan
yang berkaitan dengan pemeriksaan pajak, pemeriksaan, dan wajib pajak.
Pemeriksaan dilaksanakan oleh pemeriksa pajak yang tergabung dalam tim
pemeriksa pajak yang susunannya terdiri dari suvervisor, seorang ketua tim, dan
seorang atau lebih anggota. Pemeriksaan dilakukan pada hari dan jam kerja sesuai
dengan ketentuan yang berlaku dan jika dipandang perlu, dapat dilanjutkan diluar
jam kerja atau hari kerja. Namun apabila saat dilakukan pemeriksaan pajak wajib
pajak tidak ada ditempat, maka pemeriksaan tetap dapat dilakukan sepanjang ada
pihak lain yang dapat dan mempunyai kewenangan untuk berlaku selaku yang
mewakili wajib pajak.
1. Dalam melakukan pemeriksaan Pajak, Pemeriksaan pajak
berwenang :
a. Memeriksa dan atau meminjam buku-buku, catatan-catatan, dan
dokumen-dokumen pendukung lainnya termasuk keluaran atau
media komputer, serta perangkat elektronik pengolah data lainnya.
b. Meminta keterangna lisan dan atau tertulis dari wajib pajak yang
diperiksa.
c. Memasuki tempat atau ruangan yang diduga merupakan tempat
penyimpanan dokumen, uang, dan barang yang dapat memberikan
petunjuk tentang keadaan usaha wajib pajak dan atau tempat-
tempat lain yang dianggap penting, serta melakukan pemeriksaan
ditempat-tempat tersebut, melakukan penyegelan tempat atau
ruangan yang dimagsud diatas, apabila wajib pajak, wakil atau
kuasanya tidak berada ditempat pada saat pemeriksaan dilakukan.
d. Meminta keterangan dan atau data yang diperlukan dari pihak
ketiga yang mempunyai hubungan dengan wajib pajak yang
diperiksa.
2. Laporan Pemeriksaan Pajak
a. Laporan pemeriksaan pajak digunakan sebagai dasar penerbitan
surat tagihan pajak atau unyukntujuan lain dalam rangka
pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. Perhitungan besarnya pajak yang terutang menurut laporan
pemeriksaan pajak digunakan sebagai dasar penerbitan ketetapan
pajak dan surat tagihan pajak berbeda dengan surat pemberitahuan,
diberitahukan kepada wajib pajak.

F. Pengertian Tindak Pidana Pajak


Pengertian tindak pidana pajak sering kali disebut dengan istilah
“delik”. Kata delik berasal dari bahasa Latin yaitu “delictum” dalam bahasa
Belanda disebut “delict”. Definisi tindak pidana perpajakan secara jelas dapat
dilihat pada penjelasan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang No. 25 Tahun 2007
Tentang Penanaman Modal. Berikut kutipan lengkapnya: Yang dimaksud dengan
“tindak pidana perpajakan” adalah informasi yang tidak benar mengenai
laporan yang terkait dengan pemungutan pajak dengan menyampaikan surat
pemberitahuan, tetapi yang isinya tidak benar atau tidak lengkap atau
melampirkan keterangan keterangan yang tidak benar sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada negara dan kejahatan lain yang diatur dalam
undang-undang yang mengatur perpajakan. Dalam hukum pajak, disamping
sanksi administratif terdapat juga sanksi pidana. Sanksi administrasi dijatuhkan
untuk pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya ringan. Hukum pidana merupakan
ancaman bagi wajib pajak yang bertindak tidak jujur. Adanya tindak pidana
perpajakan ini dapat dilihat dalam ketentuan UU No. 28 Tahun 2007 Tentang
Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan. Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang
dilakukan oleh Wajib Pajak sepanjang menyangkut tindakan administrasi
perpajakan dikenakan sanksi administrasi, sedangkan yang menyangkut tindak
pidana di bidang perpajakan, dikenakan sanksi pidana.
Dan untuk mengetahui telah terjadinya suatu tindak pidana di bidang
perpajakan maka perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari, mengumpulkan,
mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Khusus untuk pemeriksa
pajak adalah PNS di lingkungan DJP atau tenaga ahli yang ditunjuk oleh Dirjen
Pajak yang diberi tugas wewenang, dan tanggungjawab untuk melaksanakan
pemeriksaan di bidang perpajakan.

G. Penuntutan Tindak Pidana Pajak


Penuntutan tindak pidana pajak merupakan rangkaian hokum
berikutnya setelah proses hukum penyidikan berjalan tuntas. Proses penuntutan
dalam tindak pidana pajak adalah sama dengan tindak pidana umum lainnya.
Setelah proses penyidikan pajak selesai dilakukan, maka penyidik pajak akan
menyampaikan hasil penyidikannya kepada-kepada penuntut umum. Sesuai
hukum acara pidana, penuntut umumlah yang menentukan kebijakan suatu
penuntutan, termasuk penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan.
Dengan kata lain, penuntut umum yang menentukan apakah hasil
penyidikan yang dilakukan oleh penyidik pajak (penyidik pegawai negeri sipil/
PPNS Dikjen pajak) sudah atau belum. Apabila penuntut umum belum
menyatakan lengkap, maka penyidik pajak harus melengkapi berkas
penyidikannya. Sesuai pasal 1 butir 6 KUHAP, penuntut umum ialah jaksa yang
diberi wewenang oleh UU untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan
penetapan hakim. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh UU untuk
bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Dengan demikian, yang bertindak
melakukan penuntutan tindak pidana perpajakan adalah jaksa yang diberi
wewenang oleh UU. Pengertian penuntutan itu sendiri adalah tindakan penuntut
umum untu melimpahkan perkara ke pengadilan negeri yang berwenang dalam
hal dan menurut cara yang diatur dalam UU dengan permintaan supaya diperiksa
dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.