Anda di halaman 1dari 99

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1. Konsep Kebutuhan Dasar Pada Manusia
Kebutuhan dasar pada manusia merupakan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh manusia dalam menjaga keseimbangan baik secara
fisiologis maupun psikologis. Hal ini tentunya bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan.
Kebutuhan dasar pada manusia menurut Abraham Maslow, yaitu
Teori Hierarki Kebutuhan yang menyatakan bahwa setiap manusia
memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu
1) Kebutuhan fisiologis, merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia
antara lain pemenuhan kebutuhan oksigen dan pertukaran gas,
cairan(minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur,
aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, serta seksual.
2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, dibagi menjadi 2 :
a) Perlindungan fisik : perlindungan atas ancaman terhadap tubuh
atau hidup seperti penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan
dan lain-lain
b) Perlindungan psikologis : perlindungan atas ancaman dari yang baru
dan asing. Contoh : kekhawatiran pada saat pertama kali masuk
sekolah.
3) Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki,
antara lain memberi serta menerima kasih sayang, kehangatan, dan
persahabatan; mendapat tempat di dalam keluarga serta kelompok
social.
4) Kebutuhan harga diri, yaitu terkait keinginan untuk mendapatkan
kekuatan serta meraih prestasi, rasa percaya diri, dan kemerdekaan
diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.

1
5) Kebutuhan aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi dalam
hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang
lain/lingkunan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.
2. Ciri Kebutuhan Dasar pada Manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Pada
dasarnya, setiap orang memiliki kebutuhan yang sama. Akan tetapi karena
terdapat perbedaan budaya, maka kebutuhan tersebutpun akan berbeda.
Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia menyesuaikan diri dengan
prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan
berpikir lebih keras dan bergerak untuk berusaha mendapakannya.
3. Faktor yang Memengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Dasar pada
Manusia
Pemenuhan dasar pada manusia dipengaruhi oleh berbagai factor
sebagai berikut :
1) Penyakit.
2) Hubungan keluaraga
3) Konsep diri
4) Tahap perkembangan

B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Sebagai media pembelajaran bagi setiap mahasiswa
b. Tujuan khusus
1) Agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian Konsep Dasar
Kebutuhan Manusia
2) Agar mahasiswa mengetahui Gambaran Dasar Kebutuhan Manusia
3) Agar mahasiswa mengetahui pengertian Homeostatis dan
Homeodinamik
4) Agar mahasiswa mengetahui Prinsip pemenuhan kebutuhan oksigenasi
sebagai bagian dari kebutuhan dasar manusia
5) Agar mahasiswa mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan Nutrisi

2
6) Agar mahasiwa mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan eliminasi
7) Agar mahasiswa mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan cairan dan
elektrolit
8) Agar mahasiswa mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan perawatan
diri
9) Agar mahasiswa mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan mekanika
tubuh, posisi, ambulasi, mobilitas
10) Agar mahasiswa mengetahui Prinsip pemenuhan Kebutuhan
psikososial dan rasa nyaman (Bebas nyeri)
11) Agar mahasiswa mengetahui Intake Dan Output

C. Manfaat
a. Sarana membaca
b. Pelengkap Perpustakaan
c. Media Pembelajaran

D. Sistematika penulisan
BAB I : Pendahuluan menguraikan tentang ; latar belakang, tujuan,
manfaat dan sistematika penulisan
BAB II : Landasan teori menguraikan tentang : Homeostatis dan
Homeodinamik
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
kebutuhan Oksigen
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
kebutuhan Nutrisi
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
kebutuhan Eliminasi
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan

3
kebutuhan perawatan diri
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
kebutuhan mekanika tubuh, posisi, ambulasi, mobilitas
Landasan teori menguraikan tentang : Prinsip pemenuhan
Kebutuhan psikososial dan rasa nyaman (Bebas nyeri)
Landasan teori menguraikan tentang : Intake Dan Output
Landasan teori menguraikan tentang : Seksual
BAB III : Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. HOMEOSTATIS DAN HOMEODINAMIK


1. Homeostatis
Suatu proses yang terjadi secara terus-menerus untuk memelihara
stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis merupakan mekanisme tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapai berbagai kondisi yang dialaminya.
Homeostatis fisiologis, terjadi melaui 4 cara :
a. Peraturan diri (self regulation). Secara otomatis, cara ini terjadi pada
orang yang sehat, seperti pengaturan fungsi organ tubuh.
b. Kompensasi. Tubuh akan cenderung bereaksi terhadap
ketidaknormalan dalam tubuh. Contoh : pelebaran pupil untuk
meningkatkan persepsi visual pada saat tubuh mengalami ancaman.
c. Umpan balik negatif. Cara ini merupakan penyimpangan dari keadaan
normal. Contoh : apabila tekanan darah meningkat akan meningkatkan
baroseptor.
d. Umpan balik positif. Untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis.
Contoh : terjadinya proses peningkatan denyut jantung untuk
membawa darah dan oksigen yang cukup ke sel tubuh apabila
seseorang mengalami hipoksia.
Homeostatis psikologis, berfokus pada keseimbangan emosional dan
kesejahteraan mental. Proses ini di dapat dari pengalaman hidup dan
interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh norma dan ultur
masyarakat. Contoh : mekanisme pertahanan diri seperti menangis,
tertawa, berteriak, memukul, meremas, mencerca dan lain-lain.
2. Homeodinamik
Merupakan pertukaran energi antara manusia dan lingkungan
sekitarnya secara terus-menerus. Pada proses ini manusia tidak hanya

5
melakukan penyesuaian diri tetapi terus berinteraksi dengan lingkungan
agar mampu mempertahankan hidupnya.
Dalam proses homeodinamik, terdapat beberapa prinsip menurut
teori Rogers sebagai berikut :
1) Prinsip intregal, yaitu prinsip utama dalam hubungan yang tidak dapat
dipisahkan antar manusia dan lngkungan.
2) Prinsip resonansi, yaitu prinsip bahwa proses kehidupan manusia selalu
berirama dan frekuensinya bervariasi karena manusia memiliki
pengalaman dalam beradaptasi dengan lingkungan.
3) Prinsip helicy, yaitu prinsip bahwa setiap perubahan dalam proses
kehidupan manusia berlangsung perlahan-lahan dan terdapat hubungan
antara manusia dan lingkungan (Falco dan Lobo, 1997).

B. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN


1. Kebutuhan Oksigen
Kebutuhan oksigenasi merupakan salah satu kebutuhan dasar pada
manusia yaitu kebutuhan fisiologis. Pemenuhuan kebutuhan oksigenasi
ditujukan untuk menjaga kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidupnya, dan melakukan aktivitas bagi berbagai organ
atau sel.
Sistem Tubuh yang Berperan dalam Kebutuhan Oksigenasi
Saluran pernapasan bagian atas.
a. Hidung, proses oksigenasi di awali dengan masuknya udara melalui
hidung.
b. Faring, merupakan pipa berotot yang terletak dari dasar tengkorak
sampai dengan esophagus.
c. Laring, merupakan saluran pernapasan setelah faring
d. Epiglotis, merupakan katup tulang rawan yang bertugas menutup
laring saat proses menutup.

6
Saluran pernapasan bagian bawah.
b. Trakhea, merupakan kelanjutan dari laring sampai kira-kira ketinggian
vertebrae torakalis kelima.
c. Bronkhus, merupakan kelanjutan dari trakhea yang bercabang menjadi
bronchus kanan dan kiri.
d. Bronkiolus, merupakn saluran percabangan setelah bronchus.
Paru- paru
Paru-paru merupakan organ utama dalam system pernapasan
Proses Oksigenasi
Proses pemenuhan kebutuhan oksigenisasi di dalam tubuh terdiri
atas tiga tahapan,
1) Ventilasi, proses ini merupakan proses keluar dan masuknya oksigen
dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke dalam atmosfer.
Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor :
a. Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer
b. Adanya kondisi jalan napas yang baik
c. Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru dalam
melaksanakan ekspansi atau kembang kempis
Pusat pernapasan, yaitu medulla oblongata dan pons, dapat
dipengaruhi oleh ventilasi.
2) Difusi, merupakan pertukaran antara o2 dari alveoli ke kapiler paru-
paru dan co2 dari kapiler ke alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi
oleh beberapa factor yaitu :
a. Luasnya permukaan paru-paru
b. Tebal membran respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel
alveoli dan interstisial.
c. Perbedaan tekanan dan konsentrasi o2.
d. Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan saling
mengikat Hb.
3) Transportasi

7
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian antara O2
kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Pada
proses transportasi, O2 akan berikatan dengan Hb membentuk
oksihemoglobin (97%) dan larut dalam plasma (3%). Sedangkan CO2
akan berikatan dengan Hb membentuk karbominohemoglobin (30%),
larut dalam plasma (5%), dan sebagian menjadi HCO3 berada dalam
darah (65%).
Transportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya :
a. Kardiak output, dapat dinilai melalui isi sekuncup dan frekuensi
denyut jantung.
b. Kondisi pembuluh darah, latuhan dan aktivitas seperti olah raga,
dan lain-lain.
2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Oksigenasi
a. Saraf otonom
Rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonom dapat
memngaruhi kemampuan untuk dilatasi dan konstriksi. Hal ini dapat
terlihat ketika terjadi rangsangan baik oleh simpatis maupun
parasimpatis.
b. Hormonal dan obat
Semua hormon termasuk devirat katekolamin yang dapat melebarkan
saluran pernapasan.
c. Alergi pada saluran napas
Banyak faktor yang menimbulkan keadaan alergi antara lain debu,
bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk, makanan dan lain-
lain.
d. Faktor perkembangan
Tahap perkembangan anak dapat memengaruhi jumlah kebutuhan
oksigenasi karena usia organ di dalam tubuh seiring dengan usia
perkembangan anak.

8
e. Faktor lingkungan
Kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi kebutuhan oksigenasi,
seperti faktor alergi, ketinggian dan suhu. Kondisi-kondisi tersebut
memengaruhi kemampuan adaptasi.
f. Faktor perilaku
Perilaku yang di maksud diantaranya adalah perilaku dalam
mengkonsumsi makanan (status nutrisi), aktivitas yang dapat
meningkatkan kebutuhan oksigenasi, merokok dan lain-lain.
3. Gangguan / Masalah Kebutuhan Oksigenasi
a. Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan
oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan
penggunaan oksigen di sel, sehingga dapat memunculkan tanda seperti
kulit kebiruan (sianosis).
b. Perubahan Pola Pernapasan
1) Takipnea, merupakan pernapasan dengan frekuensi lebih dari 24
kali per menit. Proses ini terjadi karena paru-paru dalam keadaan
atelektaksis atau terjadi emboli.
2) Bradipnea, merupakan pola pernapasan yang lambat abnormal, ±
10 kali per menit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan
peningkatan tekanan intracranial yang di sertai narkotik atau
sedatif.
3) Hiperventilasi, merupakan cara tubuh mengompensasi
metabolisme tubuh yang melampau tinggi dengan pernapasan lebih
cepat dan dalam, sehingga terjadi peningkatan jumlah oksigen
dalam paru-paru. Proses ini di tandai adanya peningkatan denyut
nadi, napas pendek, adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasi
CO2 dan lain-lain.
4) Kussmaul, merupaka pola pernapasan cepat dan dangkal yang
dapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolic

9
5) Hipoventilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan
karbondioksida dengan cukup pada saat ventilasi alveolar, serta
tidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam
penggunaan oksigen.
6) Dispnea, merupakan sesak dan berat saat pernapasan. Hal ini dapat
disebabkan oleh perubahan kadar gas dalam darah/jaringan, kerja
berat/berlebuhan, dan pengaruh psikis.
7) Ortopnea, merupakan kesulitan bernapas kecuali pada posisi duduk
atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yang
mengalami kongesif paru-paru.
8) Cheyne stokes, merupakan siklus pernapasan yang amplitudonya
mula-mula nik kemudian menurun dan berhenti, lalu pernapasan
dimulai lagi dari siklus baru. Periode apnea berulang secara teratur.
9) Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan dimana dinding
paru-paru bergerak berlawanan arah dari keadaan normal. Sering di
temukan pada keadaan atelektasis.
10) Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengan
cheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
11) Stridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi karena
penyempitan pada saluran pernapasan. Pada umumnya ditmukan
pada kasus spasme trachea atau obstruksi laring.
c. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas merupakan suatu kondisi pada induvidu
dengan pernapasan yang mengalami ancaman, terkait dengan
ketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dpat disebabkan oleh
secret yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi;
immobilisasi; statis skreasi; serta batuk tidak efektif karena penyakit
persarafan seperti cerebro vascular accident (CVA), akibat efek
pengobatan sedative, dan lain-lain.
Tanda klinis :

10
1) Batuk tidak efektif atau todak ada
2) Tidak mampu mengelurakan secret di jalan napas
3) Suara napas menunjukkan adanya sumbatan
4) Jumlah, irama, dan kedalaman pernapasan tidak normal
d. Pertukaran gas
Pertukaran gas merupakan suatu kondisi pada individu yang
mengalami penurunan gas, baik oksigen maupun karbondioksida, antar
alveoli paru-paru dan system vascular. Hal ini dapat disebabkan oleh
secret yang kental atau immobilisasi akibat system saraf; depresi
susunan saraf pusat; atau penyakit radang pada paru-paru. Terjadinya
gangguan dalam pertukaran gas ini menunjukkan bahwa penurunan
kapasitas difusi dapat menyebabkan pengangkutan O2 dari paru-paru
ke jaringan terganggu, anemia dengan segala macam bentuknya,
keracunan CO2, dan terganggunya aliran darah. Penurunan kapasitas
difusi tersebut antara lain disebabkan oleh menurunnya luas
permukaan difusi, menebalnya membrane alveolar kapiler, dan rasio
ventilasi perfusi yang itdak baik.
Tanda klinis :
1) Dispea pada usaha napas
2) Napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang
3) Agistasi
4) Lelah, alergi
5) Meningkatnya tahanan vascular paru-paru
6) Menurunnya saturasi oksigen dan meningkatnya PaCO2
7) Sianosis
4. Tindakan untuk Mengatasi Masalah Kebutuhan Oksigenasi
a. Latihan napas
Latihan napas merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi
alveoli atau memelihara pertukaran gas, mencegah atelektaksis,
meningkatkan efisiensi batuk, dan dapat mengurangi stress.
Prosedur Kerja :

11
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur posisi (duduk atau telentang)
4) Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas terlebih
dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup
5) Kemudian anjurkan pasien untuk menahan napas sekitar 1-1,5
detik dan disusul dengan menghembuskan napas melalui bibir
dengan bentuk mulut seperti orang meniup
6) Catat respon yang terjadi
7) Cuci tangan
b. Latihan batuk efektif
Latihan batuk efektif merupakan cara melatih pasien yang tidak
memiliki kemampuan batuk secara efektif  untuk membersihkan jalan
napas (laring, trachea, dan bronkhiolus) dari secret atau benda asing.
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur posisi dengan duduk di tepi tempat tidur dan membungkuk ke
depan
4) Anjurkan untuk menarik napas, secara pelan dan dalam, dengan
menggunakan pernapasan diafragma
5) Setelah itu tahan napas selama ± 2 detik
6) Batukkan 2 kali dengan mulut terbuka
7) Tarik napas dengan ringan
8) Istirahat
9) Catat respons yang terjadi
10) Cuci tangan
c. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakana memberikan oksigen
kedalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat bantu
oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu

12
melalui kanula, nasal, dan masker. Pemberian oksigen tersebut
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mencagah
terjadinya hipoksia.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier
2) Nasal kateter, kanula, atau masker
3) Vaselin,/lubrikan atau pelumas (jelly)
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Cek flowmeter dan humidifier
4) Hidupkan tabung oksigen
5) Atur posisi semifowler atau posisi yang telah disesuaikan dengan
kondisi pasien
6) Berikan oksigen melalui kanula atau masker
7) Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan
telinga, setelah itu berikan lubrikan dan masukkan
8) Catat pemberian dan lakukan observasi
9) Cuci tangan
d. Fisioterapi dada
Fisioterapi dada merupakan tindakan melakukan postural
drainage, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan
system pernapasan untuk meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan
membersihkan jalan napas.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Pot sputum berisi desinfektan
2) Kertas tisu
3) Dua balok tempat tidur (untuk postural drainage)
4) Satu bantal (untuk postural drainage)

13
Prosedur Kerja :
Postural drainage
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
3) Miringkan psien kekiri (untuk membersihkan bagian paru-paru
kanan)
4) Miringkan pasien kekanan (untuk membersihkan badian paru-paru
kiri)
5) Miringkan pasien ke kiri dengan tubuh bagian belakang kanan
disokong satu bantal (untuk membersihkan bagian lobus tengah)
6) Lakukan postural drainage ± 10-15 menit
7) Observasi tanda vital selama prosedur
8) Setelah pelaksanaan postural drainage, dilakukan clapping,
vibrating, dan suction
9) Lakukan hingga lender bersih
10) Catat respon yang terjadi
11) Cuci tangan
Clapping
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
3) Atur posisi pasien sesuai dengan kodisinya
4) Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk
punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk
5) Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk
menampung sputum pada pot sputum
6) Lakukan hingga lender bersih
7) Catat respon yang terjadi
8) Cuci tangan
Vibrating
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan

14
3) Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya
4) Lakukan vibrating dengan menganjurkan pasien untuk menarik
napas dalam dan meminta pasien untuk mengularkan napas
perlahan-lahan. Untuk itu, letakkan kedua tangan diatas bagian
samping depan dari cekungan iga dan getarkan secara perlahan-
lahan.hal tersebut dilakukan secara berkali-kali hingga pasien ingin
batuk dan mengeluarkan sputum
5) Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk
menampung sputum di pot sputum
6) Lakukan hingga lendir bersih
7) Catat respon yang terjadi
8) Cuci tangan
e. Pengisapan lendir
Pengisapan lendir (suction) merupakan tindakan pada pasien
yang tidak mampu mengeluarkan secret atau lendir secara sendiri.
Tindakan tersebut dilakukan untuk membersihkan jalamn napas dan
memenuhi kebutuhan oksegenasi.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Alat pengisap lendir dengan botol yang berisi larutan desinfektan
2) Kateter pengisap lendir
3) Pinset steril
4) Dua kom berisi laturan akuades/NaCl 0,9% dan larutan desinfektan
5) Kasa steril
6) Kertas tisu
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan diaksanakan
3) Atur pasien dalam posisi telentang dan kepala miring kearah
perawat
4) Gunakan sarung tangan
5) Hubungakan kateter penghisap dengan selang penghisap

15
6) Hidupkan mesin penghisap
7) Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkna kateter pengisap
ke dalam kom berisi akuades atau NaCl 0,9% untuk mencegah
trauma mukosa
8) Masukkan kateter pengisap dalam keadaan tidak mengisap
9) Tarik lendir dengan memutar kateter pengisap sekitar 3-5 detik
10) Bilas kateter dengan akuades atau NaCl 0,9%
11) Laukan hingga lendir bersih
12) Catat respon yang terjadi
13) Cuci tangan

C. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI


1. Kebutuhan Nutrisi
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah
system pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ
asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usus halus bagian
distal, sedangkan organ asesoris terdiri atas hati, kantong empedu, dan
pankreas.
a. Saluran Pencernaan
1) Mulut
Mulut merupakan bagian awal dari saluran pencernaan
yang terdiri atas dua bagian luar (vestibula), yaitu ruang diantar
gusi, gigi, bibir, dan pipi; serta bagian dalam yang terdiri dari
rongga mulut.
2) Faring dan esophagus
Faring merupakan bagian saluran pencernaan yang terletak
di belakang hidung, mulut, dan laring. Faring berbentuk kerucut
dengan bagian terlebar di bagian atas yang berjalan hingga
vertebrae servikal keenam. Faring langsung berhubungan dengan
esophagus, sebuah tabung yang memiliki otot dengan panjang ±
20-25cm yang terletak di belakang trachea dan di depan tulang

16
punggung, kemudianmasuk melalui toraks menembus diafragma
yang berhubungan langsung dengan abdomen dan menyambung
dengan lambung.
Esophagus merupakan bagian yang menghantarkan
makanan dari faring menuju lambung, bentuknya seperti silinder
yang berongga dengan panjang 2cm. kedua ujungnya dilindungi
oleh sphincter. Dalam keadaan normal sphincter bagian atas selalu
tertutup, kecuali bila ada makanan masuk ke dalam lambung.
Keadaan ini bertujuan untuk mencegah gerakan balik ke oragan
bagian atas, yaitu esophagus. Proses penghantaran makanan
dilakukan dengan kerja peristaltic.
3) Lambung
Lambung merupakan bagian saluran pencernaan yang
terdiri atas bagian atas (disebut fundus), bagian utama, dan bagian
bawah yang horizontal (disebut antrum pilorik). Lambung ini
berhubungan langsung dengan esophagus melalui orifisium kardia
dan dengan duodenum melalui orifisium pilorik. Lambung terletak
di bawah diafragma dan di depan pancreas. Lambung memiliki
fungsi sebagai berikut :
a) Fungsi motoris adalah menampung makanan, mencagah
makanan menjadi partikel kecil, dan mencampurnya dengan
asam lambung
b) Fungsi sekreasi dan pencernaan adalah mensekresi pepsinogen
rennin, dan lipase. Pepsinogen diaktifkan oleh HCl menjadi
pepsin yang dapat memecah protein menjadi proteosa an
peptone.
4) Usus Halus
Usus halus terletak di daerah umbilicus dan dikelilingi oleh
usus besar. Usus halus merupakan tabung berlipat-lipat dengan
panjang ± 2,5 m dalam keadaan hidup.

17
Pada dinding usus halus, khususnya mukosa, terdapat
beberapa nodula jaringan limfa yang disebut kelenjar soliter yang
berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi.
Pada umumnya, fungsi usus halus adalah mencerna dan
mengabsorpsi chime dari lambung. Zat makanan yang telah halus
akan diabsorpsi di dalam usus halus, yakni pada duodenum. Disisni
terjadi absorpsi besi, kalsium dengan bantuan vitamin D; serta
vitamin A,D,E dn K dengan bantuan empedu dan asam folat.
5) Usus Besar
Usur besar (kolon) merupakan kelanjutan dari usus halus,
mulai dari katup ileokolik atau ileosaekal sebagai tempat lewatnya
makanan.
Fungsi utama usus besar adalah mengabsorsi air (± 90%),
elektrolit, vitamin, dan sedikit glukosa.
b. Organ Asesoris
1) Hati
Hati merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh
2) Kantong Empedu
Kantong empedu merupakan sebuah kantong yang terletak di
bawah kanan hati atau lekukan permukaan bawah hati sampai di
pinggiran depan yang memiliki panjang 8-12 cm, dengan kapasitas
40-60 cm3.
3) Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar yang strukturnya  sama dengan
kelenjar ludah dengan memilliki panjang ± 15 cm.
2. Zat Gizi
Zat gizi (nutrient) merupakan zat yang terdapat di dalam makanan,
yang terdiri atas :
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan zat gizi berbentuk amilum.

18
b. Lemak
Pencernaan lemak dimlai dalam lambung karena dalam mulut tidak
ada enzim pemecah lemak
c. Protein
Kelenjar ludah dalam mulut tidak membuat enzim protease terdapat
dalam lambung.
d. Mineral
Mineral tidak menbutuhkan pencernaan. Mineral hadir dalam bentuk
tertentu sehingga tubuh mudah untuk memprosesnya.
e. Vitamin
Proses penyerapan vitamin dapat dilakukan dengan difusi sederhana.
Vitamin yang larut dalam lemak diserap oleh system transport aktif
yang membawa lemak ke seluruh tubuh, sedangkan vitamin yang larut
dalam air mempunyai beberapa variasi mekanisme transport aktif.
f. Air
Air merupakan zat gizi yang paling mendasar. Tubuh manusia terdiri
dari kira-kira 50-70% air. Asupan air secara teratur sangat penting
disbandingkan dengan supan nutrisi lain.
3. Keseimbangan Energi Lain
Energi merupakan kapasitas untuk melakukan sebuah aktivitas yang
dapat diukur melalui pembentukan panas. Energi pada manusia dapat diperoleh
dari berbagai asupan zat gizi diantaranya protein, karbihidrat, lemak, maupun
bahan makanan yang disimpan dalam tubuh. Tubuh memerlukan keseimbangan
energi untuk melakukan sebuah aktivitas. Keseimbangan tersebut dapat
dihitung melalui kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan seseorang, kebutuhan kalori
dasar/basal, dan tingkat aktivitas.

Rumus = Berat Badan Ideal x 10


KKB
Keterangan KKB = kebutuhan kalori basal

19
4. Metabolisme Basal
Metabolisme basal merupakan energi yang dibutuhkan seseorang
dalam keadaan istirahat dan nilainya disebut dengan BMR (Basal
Metabolisme Rate). Basal Metabolisme
Metabolisme basal adalah banyaknya energi yang dipakai untuk
aktifitas jaringan tubuh sewaktu istirahat jasmani dan rohani. Energi
tersebut dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh berupa
metabolisme makanan, sekresi enzim, sekresi hormon, maupun berupa
denyut jantung, bernafas, pemeliharaan tonus otot, dan pengaturan suhu
tubuh.
Metabolisme basal ditentukan dalam keadaan individu istirahat
fisik dan mental yang sempurna. Pengukuran metabolisme basal
dilakukan dalam ruangan bersuhu nyaman setelah puasa 12 sampai 14 jam
(keadaan postabsorptive). Sebenarnya taraf metabolisme basal ini tidak
benar-benar basal. Taraf metabolisme pada waktu tidur ternyata lebih
rendah dari pada taraf metabolisme basal, oleh karena selama tidur otot-
otot terelaksasi lebih sempurna. Apa yang dimaksud basal disini ialah
suatu kumpulan syarat standar yang telah diterima dan diketahui secara
luas.
Metabolisme basal dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu jenis
kelamin, usia, ukuran dan komposisi tubuh, faktor pertumbuhan.
Metabolisme basal juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu,
kelembaban, dan keadaan emosi atau stres.
Orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak yang
sedikit mempunyai Metabolisme basal lebih besar dibanding dengan
orang yang mempunyai berat badan yang besar tapi proporsi lemak yang
besar. Demikian pula, orang dengan berat badan yang besar dan proporsi
lemak yang sedikit mempunyai Metabolisme basal yang lebih besar
dibanding dengan orang yang mempunyai berat badan kecil dan proporsi
lemak sedikit.

20
Metabolisme basal seorang laki-laki lebih tinggi dibanding dengan
wanita. Umur juga mempengaruhi metabolisme basal dimana umur yang
lebih muda mempunyai metabolisme basal lebih besar dibanding yang
lebih tua. Rasa gelisah dan ketegangan, misalnya saat bertanding
menghasilkan metabolisme basal 5% sampai 10% lebih besar. Hal ini
terjadi karena sekresi hormon epinefrin yang meningkat, demikian pula
tonus otot meningkat.
Macam – Macam Diet
a. Diet Wanita Hamil
Pada wanita, masa hamil merupakan saat dimana zat gizi
diperlukan dalam jumlah yang lebih banyak, secara kuantitas maupun
kualitas dibandingkan dengan saat tidak hamil. Asupan zat gizi
tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan ibu dan juga untuk
tumbuh kembang janin dalam kandungan.
b. Diet ibu menyusui
Masa menyusui juga memerlukan asupan gizi yang baik agar
dapat menghasilkan air susu dalam jumlah yang maksimal untuk
bayinya.
5. Gangguan/Masalah Yang Berhubungan Dengan Nutrisi
a. Obesitas
Obesitas merupakan peningkatan berat badan yang melebihi
20% batas normal berat badan seseorang. Setiap orang memerlukan
sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat
panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita
memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria[rujukan?].
Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan
adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita
dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih
dari 25% dianggap mengalami obesitas.

21
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari
nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami
obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:
- Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
- Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
- Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat
ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).
Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun,
tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran
lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita
cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga
memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya
lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran
seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang
mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan
beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa
menopause.
b. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan
gizi pada tingkat seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.
6. Faktor Yang Memengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
a. Pengetahuan
Rendahnya pengetahuan tentang manfaat makanan bergizi dapat
memengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapt disebabkan oleh
kurangnya iinformasi, sehingga dapat terjadi kesalaahan dalam
pemenuhan kebutuhan gizi.
b. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan yang bernilai
gizi tinggi, dapat memengaruhi status gizi seseorang.

22
c. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan
tertantu dapat juga memengaruhi status gizi.
d. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat
mengakibatkan kurangnya variasi makanan, sehingga tubuh tidak
memperoleh zat-zat gizi yang dibutuhkan secara cukup.
e. Ekonomi
Status ekonomi dapat memengaruhi perubahan status gizi. Penyediaan
makanan yang bergizi membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga
perubahan status gizi dipengaruhi oleh status ekonomi. Dengan kata
lain, orang dengan status ekonomi kurang biasanya kesulitan dalam
penyediaan makanan bergizi. Sebaliknya, orang dengan status
ekonomi cukup lebih mudah untuk menyediakan makanan yang
bergizi.
7. Tindakan Untuk Mengatasi Masalah Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
a. Pemberian nutrisi melalui oral
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Piring
2) Sendok
3) Garpu
4) Gelas
5) Serbet
6) Mangkok cuci tangan
7) Pengalas
8) Jenis diet
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

23
3) Atur posisi depan
4) Pasang pengalas
5) Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
6) Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan
sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan
7) Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk
sebentar
8) Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
9) Cuci tangan
b. Pemberian nutrisi melaluipipa penduga/lambung
Pemberian nutrisi melalui pipa penduga merupakan tindakan pada
pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Pipa penduga dalam tempatnya
2) Corong
3) Spuit 20cc
4) Pengalas
5) Bengkok
6) Plester, Gunting
7) Makanan dalam bentuk cair
8) Air matang
9) Obat
10) Stetoskop
11) Klem
12) Baskom berisi air (kalo tidak ada stetoskop)
13) Vaselin
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur posisi semi/fowler pada pasien
4) Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah dada

24
5) Letakkan bengkok (neirbekken) di dekat pasien
6) Tentukan letak pipa penduga dengan mengukur panjang pipa dari
epigastrum sampai hidung. Kemudian dibengkokkkan ke telinga,
dan beri tanda batasnya.
7) Berikan vaselin atau pelicin pada ujung pipa dan klem pangkal
pipa tersebut, lalu masukkan melalui hidung secara perlahan-lahan
sambil pasien dianjurkan untuk menelannya
8) Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke
lambung dengan cara :
a) Masukknya ujung selang yang diklem ke dalam baskom yang
berisi air (klem dibuka). Perhatikan bila ada gelembung, pipa
tersebut masuk ke lambung. Setelah itu di klem atau dilipat
kembali.
b) Masukkan udara dengan spuit ke dalam lambung melalui pipa
tersebut dan dengarkan dengan stetoskop. Bila di lambung
terdengar bunyi, berarti pipa tersebut sudah masuk. Setelah itu,
keluarkan udara yang ada di dalm sebanyak jumlah yang
dimasukkan.Setelah selesai, maka lakukan tindakan pemberian
makanan dengan memasang corong atau spuit pada pangkal
pipa
9) Pada awalnya, tuangkan dan masukkan air matang ± 15cc melalui
pinggirnya
10) Berikan makanan dlam bentuk cair yang tersedia. Setelah itu, bila
ada obat, maka asupan, kemudia beri minum, lalu pipa penduga
diklem
11) Catat hasil atau respons pasien selama pemberian makanan.
12) Cuci tangan

25
D. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
1. Kebutuhan Cairan Tubuh
a. Kebutuhan Cairan Tubuh Manusia
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar
manusia secara fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam
bagian tubuh dengan hampir 90% dari total berat badan.
Pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit dalam tubuh diatur
oleh ginjal, kulit, paru-paru dan gastrointestinal
1) Ginjal
Ginjal merupakan organ yang memiliki peran cukup besar dalam
pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit.
2) Kulit
Kulit merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yang
terkait dengan proses pengaturan panas.
3) Paru-paru
Organ paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan
menghasilkan insensible water loss ± 400ml/hari.
4) Gastrointestinal
Gastrointestinal merupakan organ saluran pencernan yang berperan
dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan
pengeluaran air. Dalam keadaan normal, cairan yang hilang dalam
system ini sekitar 100-200 ml/hari.
Selain itu, pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui
mekanisme rasa haus yang dikontrol oleh system endokrin
(hormonal), yakni anti diuretic hormone (ADH), system
aldosteron, prostaglandin, dan glukokortikoid.
a) ADH
Hormon ini memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air
ehingga dapat mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh

26
b) Aldesteron
Hormon ini diekresi oleh kelenjar adrenal ddi tubulus ginjal
dan berfungsi pada absorbsi natrium
c) Prostaglandin
Prostaglandin merupakan asam lemak yang terdapat pada
jaringan yang berfungsi merespons radang, pengendalian
tekanan darah, kontraksi uterus, dan pengaturan gerakan
gastrointestinal.
d) Glukokortikoid
Hormon ini berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium
dan air yng menyebabkan volume darah meningkat sehingga
terjadi retensi natrium.
b. Cara Perpindahan Cairan
1) Difusi
Difusi merupakan tercampurnya molekul-molekul dalam
cairan, gas atau zat padat secra bebas atau acak
2) Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti air)
melalui membrane semipermeabel, biasanya terjadi dari larutan
dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan
konsentrasi lebih pekat, sehingga larutan yang berkonsentrasi
rendah volumenya akan berkurang, sedangkan larutan yang
berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya.
3) Transpor aktif
Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan
mekanisme transport aktif. Transport aktif merupakan gerak zat
yang akan berdifusi dan berosmosis yang memerlukan aktivitas
metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakkan
berbagai materi guna menembus membrane sel.
c. Faktor yang Berpengaruh dalam Pengaturan Cairan

27
Proses pengaturan cairan di pengaruhi oleh dua faktor yakni :
a) Tekanan cairan, proses difusi dan osmosis melibatkan adanya
tekanan cairan
b) Membran semipermiabel, merupakan penyaring agar cairan yang
bermolekul besar tidak tergabung.
d. Jenis Cairan
1) Cairan zat gizi (nutrien)
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori
setiap hari. Cairan nutrien dapat diberikan melalui intravena dalam
bentuk karbohidrat, itrogen dan vitamin untuk metabolisme. Kalori
yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-1500
kalori perliter. Cairan nutrien terdiri atas :
 Karbohidrat dan air
 Asam amino
 Lemak
2) Blood volume expanders
Blood volume expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi
meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau
plasma
e. Gangguan/ masalah dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan
a) Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena
penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan.
Ada tiga macam kekurangan volume cairan eksternal atau
dehidrasi, yaitu:
1) Dehidrasi isotonic, terjadi jika kekurangan sejumlah cairan dan
elektrolitnya yang seimbang
2) Dehidrasi hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang
lebih banyak daripada elektrolitnya
3) Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan
elektrolitnya daripada air.

28
Macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya :
Dehidrasi berat
1)     Pengeluaran/ kehilangan cairan 4-6 L
2)     Serum natrium 159-166 mEq/L
3)     Hipotensi
4)     Turgor kulit buruk
5)     Oliguria
6)     Nadi dan pernapasan meningkat
7)     Kehilangan cairan mencapai > 10% BB
Dehidrasi sedang
1)     Kehilangan cairan 2-4 l atau antara 5-10% BB
2)     Serum natrium 152-158 mEq/L
3)     Mata cekung
Dehidrasi ringan, dengan terjadinya kehiangan cairan sampai 5%
BB atau 1,5-2 L
b) Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat dua manifestasi yang ditimbulkan akibat
kelebihan cairan yaitu, hipervolume (peningkatan volume darah)
dan edema (kelebihan cairan pada interstisial).
2. Kebutuhan Elektrolit
Elektrolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh
mengandung oksigen, nutrient, dan sisa metabolisme (seperti
karbondioksida), yang semuanya disebut dengan ion.
a. Komposisi elektrolit
Komposisi elektrolit dalam plasma sebagai berikut :
Natrium              : 135- 145 m Eq/L
Kalium                : 3,5-5,3 m Eq/L
Klorida                : 100-106 m Eq/L
Bikarbonat arteri : 22-26 m Eq/L
Bikarbonat vena  : 24-30 m Eq/L
Kalsium               : 4-5 m Eq/L

29
Magnesium           : 1,5-2,5 m Eq/L
Fosfat                    : 2,5-4,5 mg/100ml
b. Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat
bertegangan tetap. Cairan saline terdir dari cairan isotonic, hipotonik,
dan hipertonik.
Konsentrasi isotonic disebut juga normal saline yang banyak
dipergunakan.
c. Pengaturan Elektrolit
1) Pengaturan keseimbanga natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfngsi dalam
pengaturan osmolaritas dan volume cairan tubuh.
2) Pengaturan keseimbangan kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan
intrasel dan berfungsi mengatur keseimbangan elektrolit.
Aldosteron juga berfungsi mengatur keseimbangan kadar kalium
dalam plasma (cairan ekstrasel). System pengaturannya melalui
tiga langkah:
a) Peningkatan konsentrasi kalium dalam cairan ekstrasel yang
menyebabkan peningkatan produksi aldosteron
b) Peningkatan jumlah aldosteron akan memengaruhi jumlah
kalium yang dikeluarkanmelalui ginjal
c) Peningkatan pengeluaran kalium; konsentrasi kalium dalam
cairan ekstrasel menurun
3) Pengaturan keseimbangan kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang
4) Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua
dalam cairan intrasel
5) Pengaturan keseimbangan klorida

30
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi
klorida dapat ditemukan pada cairan ekstrasel dan intrasel. Fungsi
klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan osmotic dalam darah
6) Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer
(penyangga) dalam tubuh
7) Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam
pembentukan gigi dan tulang. Fosfat diserap dari saluran
pencernaan dan dikeluarkan melalui urine.
d. Gangguan /Masalah Kebutuhan Elektrolit
1) Hiponatremia, merupakan suatu keadaan kekurangan kadar
natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar
natrium plasma yang kurang dari 135 mEq/L,mual,muntah dan
diare.
2) Hipernatremia, suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma
tinggi, yang ditandai dengan adanya mukosa kering,
oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit
membengkak, kulit kemerahan, lidah kering, dll
3) Hipokalemia, merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium
dalam darah. Hipokalemia ini dapat terjadi dengan sangat cepat.
Sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan.
4) Hiperkalemia, merupakan suatu keadaan dimana kadar kalium
dalam darah tinggi. Keadaan ini sering terjadi pada pasien luka
bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik. Hiperkalemia dditandai
dengan adanya mual, hiperaktifitas system pencernaan,dll
5) Hipokalsemia, merupakan kekurangan kadar kalsium dalam
plasma darah. Hipokalsemia ditandai dengan adanya kram otot dan
karam perut, kejang,bingung, dll

31
6) Hiperkalsemia, merupakan suatu keadaan kelebihan kadar kalsium
dalam darah. Hal ini terjadi pada pasien yang mengalami
pengangkatan kelenjar gondok dan makan vitamin D secara
berlebihan.
Hiperkalsemia ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi
otot, batu ginjal, dll, dan kadar kalsium daam plasma lebih dari 4,3
mEq/L
7) Hipomagnesia, merupakan kekurangan kadar magnesium dalam
darah. Hipomagnesia ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor,
kram pada kaki dan tangan, dll, serta kadar magnesium dalam
darah kurang dari 1,3 mEq/L
8) Hipermagnesia, merupakan kelebihan kadar magnesium dalam
darah. Hal ini ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan,
dan kadar magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.
9) Keseimbangan Asam Basa
Aktivitas tubuh memerlukan keseimbangan asam basa,
keseimbangan asam basa dapat diukur dengan pH (derajat
keasaman). Dalam keadaan normal, nilai pH cairan tubuh 7,35-
7,45. keseimbangan dapat dipertahankan melalui proses
metabolisme dengan sistem buffer pada seluruh cairan tubuh dan
melalui pernapasan dengan sistem regulasi (pengaturan di ginjal).
Tiga macam sistem larutan buffer cairan tubuh yaitu larutan
bikarbonat, larutan buffer fosfat, dan larutan buffer protein.
Jenis Asam Basa
Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi osidosis.
Keadaan osidosis dapat di sebabkan karena henti jantung dan koma
diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium (sodium
laktat) dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan garam dari asam
lemah yang dapat mengambil ion H+ dari cairan, sehingga
mengurami keasaman (asidosis). Ion H+ diperoleh dari asam
karbonat (H2CO3), yang mana terurai menjadi HCO3 (bikarbonat)

32
dan H+. selain system pernapasan, ginjal juga berperan untuk
mempertahankan keseimbangan asam basa yang sangat kompleks.
10) Asidosis respiratorik, merupakan suatu keadaan yang disebabkan
oleh karena kegagalan system pernapasan dalam membuang
karbondioksida dari cairan tubuh
11) Asidosis metabolik, merupakan suatu keadaan kehilangan basa
atau terjadi penumpukan asam.
12) Alkalosis respiratorik, merupakan suatu keadaan kehilangan CO2,
dari paru-paru yang dapat menimbulkan terjadinya paCO2 arteri
ukurang dari 35 mmHg, pH lebih dari 7,45.
13) Alkalosis metabolik, merupakan suatu keadaan kehilangan ion
hydrogen atau penambahan cairan basa pada cairan tubuh
denganadanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L
dan pH arteri lebih dari 7,45.
e. Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Cairan dan Elektrolit
Kebutuhan cairan elektrolit dalam tubuh dipengaruhi oleh
faktor=faktor :
1) Usia. Perbedaan usia menentukan luas permukaan tubuh dan
aktivitas organ, sehingga dapat memengaruhi jumlah kebutuhan
cairan dan elektrolit.
2) Temperature yang tinggi menyebabkan proses pengeluaran cairan
melalui keringat cukup banyak, sehingga tubuh akan banyak
kehilangan cairan.
3) Diet. Apabila tubuh kekurangan zat gizi, maka tubuh akan
memecah cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh
sehingga terjadi penggerakan cairan dari interstisial ke interseluler,
yang dapat berpengaruh pada jumlah pemenuhan kebutuhan cairan.
4) Stress dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan cairan dan
elektrolit, melalui proses peningkatan produksi ADH karena pada
proses ini dapat meningkatkan metabolisme sehingga

33
mengakibatkan terjadinya glikolisis otot yang dapat menimbulkan
retensi natrium dan air.
5) Sakit. Pada keadaan sakit terdapat banyak sel yang rusak, sehingga
untuk memperbaikinya sel membutuhkan proses pemenuhan cairan
yang cukup.
f. Tindakan Untuk Mengatasi Masalah/Gangguan dalam Pemenuhan
Kebutuhan  Cairan dan elektrolit
a) Pemberian cairan melalui infus
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan
memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien
dengan bantuan perangkat infuse. Tindakan ini dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, serta sebagai tindaka
pengobatan dan pemberian makanan.
Persiapan Bahan dan Alat :
1) Standar infuse
2) Perangkat infuse
3) Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien.
4) Jarum infus/ abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
5) Pengalas
6) Tourniquet/pembendung
7) kapas alkohol 70%
8) Plester
9) Gunting
10) Kasa steril
11) Betadine™
12) Sarung tangan
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan
dilaksanakan

34
3) Hubungakan cairan dan perangkat infuse dengan menusukkan
ke dalam botol infuse (cairan)
4) Isi cairan ke dalam perangkat infuse dengan menekan bagian
ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian, kemudian
buka penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya
5) Letakkan pengalas
6) Lakukan pembendungan dengan tourniquet
7) Gunakan sarung tangan
8) Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
9) Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
10) Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar
melalui jarum infus/abocath
11) Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang infus
12) Buka tetesan
13) Lakukan desinfeksi dengan betadine™ dan tutup dengan kasa
steril
14) Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
15) Catat respons yang terjadi
16) Cuci tangan
Cara menghitung tetesan infus :
1) Dewasa : (makro dengan 20 tetes/ml)
Tetesan /menit = jumlah cairan yang masuk
Lamanya infuse (jam) x 3
Atau
tetesan/menit = Σ keb.cairan x faktor tetesan
lama infuse (jam) x 60 menit
Keterangan :
Faktor tetsan infus bermacam-macam, hal ini dapat dilihat pada
label infus (10 tetes / menit, 15 tetes / menit dan 20 tetes /
menit)
2) Anak :

35
Tetesan per menit (mikro) = jumlah cairan yang masuk
Lamanya infus (jam)
b) Transfusi Darah
Transfusi darah merupakan tindakan memasukkan darah
melalui vena dengan menggunakan seperangkat alat transfusi pada
pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Standar infus
2) Perangkat transfusi
3) NaCl 0,9%
4) Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5) Jarum infus/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
6) Pengalas
7) Tourniquet/ pembendung
8) Kapas alcohol 70%
9) Plester
10) Gunting
11) Kasa steril
12) Betadine™
13) Sarung tangan
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai proosedur yang akan dilakukan
3) Hubungkan cairan NaCl 0,9% dan seperangkat transfuse
dengan menusukkannya
4) Isi cairan NaCl 0,9% ke dalam perangkat transfusi dengan
menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi
sebagian. Kemudian buka penutup, hingga selang terisi dan
udaranya keluar.
5) Letakkan pengalas

36
6) Lakukan pembendungan dengan tourniquet
7) Gunakan sarung tangan
8) Desinfeksi daerah yang akan disuntik
9) Lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
10) Cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar
melalui jarum infus/abocath
11) Tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang tranfusi
12) Buka tetesan
13) Lakukan desinfeksi dengan betadine™ dan tutup dengan kasa
steril
14) Beri tanggal dan jam pelaksanaan infuse pada plester
15) Setelah NaCl 0,9% masuk sekitar ± 15 menit, ganti dengan
darah yang sudah disiapkan
16) Darah sebelum dimasukkan, terlebih dahulu cek warna darah,
identitas pasien, jenis golongan darah dan tanggal kadaluwarsa
17) Lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian
transfusi
18) Catat respons terjadi
19) Cuci tangan

E. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI


Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua, yakni eliminasi urine
(kebutuhanbuang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar)
1. Kebutuhan Eliminasi Urine
a. Organ yang Berperan dalam Eliminasi urine
1) Ginjal
Merupakan organ retropenitoneal (di belakang selaput perut) yang
terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal
berperan sebagi pengatur komposisi dan volume cairan dalam
tubuh.
2) Kandung kemih (bladder, buli-buli)

37
Merupakan sebuah kantung yang terdiri atas otot halus yang
berfungsi sebagai penampung air seni (urine).
3) Uretra
Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke
bagian luar.
4) Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria
(kandung kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan
saraf bila urinaria berisi ± 250-450 cc (pada orang dewasa) dan
200-250 cc (pada anak-anak).
Komposisi urine :
1) Air (96%)
2) Larutan (4%)
Larutan Organik
Urea, ammonia, keratin, dan asam urat
Larutan Anorganik
Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sufat,
magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik
yang paling banyak.
b. Faktor yang Memengaruhi Eliminasi Urine
a) Diet dan asupan
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang
memengaruhi output urine (jumlah urine). Protein dan natrium
dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk.selain itu, minum
kopi juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
b) Respon keinginan awal untuk berkemih
Kebiasan mengabaikan keinginan awal utnuk berkemih dapat
menyebabkan urin banyak tertahan di vesika urinaria, sehingga
memengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah ppengeluaran
urine
c) Gaya hidup

38
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan
eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet.
d) Stress psikologis
Meningkatkan stres dapat meningkatkan frekuensi keinginan
berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk
keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
e) Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinearia yang
baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot di dapatkan
dengan beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinearia dapt
menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun.
f) Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi
pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih
mengalami  mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air
kecil. Namun kemampuan dalam mengontrol buang air kecil
meningkat dengan bertambahnya usia
g) Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti
diabetes mellitus.
h) Sosiokultural
Budaya dapat memegaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine,
seperti adanya kultur pada pada masyarakat tertentu yang melarang
untuk buang air kecil di tempat tertentu.
i) Kebiasaan seseorang
Seseorng yang memiliki kebiasaan berkemh di toilet, biasanya
mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot
urine bila dalam keadaan sakit.
j) Tonus otot
Tonus otot yang berperan penting dlam membantu proses berkemih
adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya

39
sangat berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran
urine
k) Pembedahan
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai
dampak dari pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan
penurunan jumlah produksi urine.
l) Pengobatan
Pemebrian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya
peningkatan atau penurunan proses perkemihan.
m) Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan
eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan
dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus
pyelogram (IVP).
c. Gangguan/Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine
a) Retensi urine,merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih
akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
kandung kemih.
Tanda klinis retensi :
1) Ketidaknyamanan daerah pubis
2) Distensi vesika urinaria
3) Ketidaksanggupan untuk berkemih
4) Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine (25-50
ml)
5) Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya
6) Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
7) Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih
Penyebab :
1) Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria
2) Trauma sumsum tulang belakang

40
3) Tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang  lemah
4) Sphincter yang kuat
5) Sumbatan (striktur uretra dan pembesaran kelenjar prostat)
b) Inkontinensia urine, merupakan ketidakmampuan otot sphincter
eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine.
c) Enuresis, merupakan ketiksanggupan menahan kemih
(mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter
eksterna.
Faktor penyebab enuresis :
1) Kapasitas vesika urinaria lebih besar dari normal
2) Anak-anak yang tiidurnya bersuara dan tanda-tanda dari
indikasi keinginan berkemih tidak diketahui. Hal itu
mengakibatkan terlambatnya bangun tidur untuk ke kamar
mandi
3) Vesika urrinaria peka rangsang, dan seterusnya, tidak dapat
menampung urine dalam jumlah besar.
4) Suasana emosional yang tidak menyenangkan dirumah
(misalnya, persaingan dengan saudara kandung atau cekcok
dengan orang tua)
5) Orang tua yang mempunyai pendapat bahwa anaknya akan
mengatasi kebiasaannya tanpa di bantu dengan mendidiknya
6) Infeksi saluran kemih, perubahan fisik, atau neurologis system
perkemihan.
7) Makanan yang banyak mengandung garam dan mineral
8) Anak yang takut jalan gelap untuk ke kamar mandi
d) Perubahan pola eliminasi urine, merupakan keadaan sesorang yang
mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi
anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih.
Perubahan eliminasi terdiri atas :
1) Frekuensi, merupakan banyaknya jumlah berkemih dalam satu
hari

41
2) Urgensi, merupakan perasaan seseorang yang takut mengalami
inkontinesia jika tidak berkemih
3) Disuria, merupakan rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih
4) Poliuria, merupakan produksi urine abnormal dalam jumlah
besar oleh ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan cairan.
5) Urinaria supresi, merupakan berhentinya produksi urine secara 
mendadak.
d. Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Urine
a) Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan
Mengingat tujuan pemeriksaan dengan bahan urine tersebut
berbeda-beda, maka dalam pengambilan atau pengumpulan urine
juga dibedakan sesuai dengan tujuannya. Cara pengambilan urine
tersebut antara lain :
1) Pengambilan urine biasa, merupakan pengambilan urine
dengan mengeluarkan urine secara biasa, yaitu buang air kecil.
Pengambilan urine biasa ini biasanya digunakan untuk
pemeriksaan kadar gula dalam urine, pemeriksaan kehamilan
dan lain-lain
2) Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan
enggunakan alat steril, dilakukan dengan kateterisasi atau
fungsi suprapubis ayng bertujuan mengetahui adanya infeksi
pada uretra, ginjal, atau saluran kemih lainnya.
3) Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan
urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam, bertujuan untuk
mengetahui jumlah urine selama 24jam dan mengukur berat
jenig, asupan dan output, serta mengetahui fungsi ginjal.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Botol penampung beserta tutup
2) Etiket khusus
Prosedur Kerja (untuk pasien yang mampu buang air kecil
sendiri) :

42
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Bagi pasien yang tidak mampu buang air kecil sendiri, maka
bantu untuk baung air kecil (lihat prosedur menolong buang air
kecil). Keluarkan urine, kemudian tampung ke dalam botol.
4) Bagi pasien yang mampu baung air kecil sendiri, maka
anjurkan pasien untuk buang air kecil dan biarkan urine yang
pertama keluar dahulu. Kemudian anjurkan manampung urine
ke dalam botol
5) Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan
6) Cuci tangan
b) Menolong Buang Air Kecil dengan Menggunakan Urineal
Tindakan membantu pasien yang tidak mampu buang air
kecil sendiri di kamar mandi dilakukan dengan menggunakan alat
penampung (urineal), hal tersebut dilakukan untuk menampung
urine dan mengetahui kelainan dari urine (warna dan jumlah)
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Urineal
2) Pengalas
3) Tisu
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Pasang alas urineal di bawah glutea
4) Lepas pakaian bawah pasien
5) Pasang urineal dibawah glutea/pinggul atau diantara kedua
paha
6) Anjurkan pasien untuk berkemih
7) Setelah selesai, rapikan alat
8) Cuci tangan, catat warna, dan jumlah produksi urine.
c) Melakukan kateterisasi

43
Kateterisasi merupakan tindakan memasukkan kateter
kedalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu
memenuhi kebutuhan elimnasi, sebagai pengambilan bahan
pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, kateterisasi terbagi menjadi
dua tipe indikasi yaitu :
Indikasi :
Tipe Intermitent :
1) Tidak mampu berkemih 8-12 jam setelah operasi
2) Retensi akut setelah trauma uretra
3) Tidak mampu berkemih akibat obat sedative atau analgesik
4) Cedera tulang belakang
5) Degenerasi neuromuscular secara progesif
6) Untuk mengeluarkan urine residual
Tipe Indwelling :
1) Obstruksi aliran urine
2) Post op uretra dan struktur disekitarnya (TUR-P)
3) Obstruksi uretra
4) Inkontinensia dan disoreintasi berat
Persiapan Alat danBahan :
1) Sarung tangan steril
2) Kateter steril (sesuai dengan ukuran dan jenis)
3) Duk steril
4) Minyak pelumas/jelly
5) Larutan pembersih antiseptik (kapas sublimat)
6) Spuit yang berisi cairan
7) Perlak dan alasnya
8) Pinset anatomi
9) Bengkok
10) Urineal bag
11) Sampiran
Prosedur Kerja (pada perempuan)

44
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur ruangan
4) Pasang perlak/alas
5) Gunakan sarung steril
6) Pasang duk steril
7) Bersihkan vulva dengan kapas sublimas dari atas ke bawah (± 3
kali hingga bersih)
8) Buka labia mayor dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri.
Bersihkan bagian dalam
9) Kateter diberi minyak pelumas / jelly pada ujungnya, lalu
asupan pelan-pelan-pelan sambil anjuran untuk tarik napas,
asupan (2,5-5cm) atau hingga urine keluar.
10) Setelah selesai, isi balon dengan cairan akuades
2. Kebutuhan Eliminasi Alvi (Buang Air Besar)
a. Sistem yang Berperan dalam Eliminasi Alvi
Sistem tubuh berperan dalam proses eliminasi alvi (buang air besar)
adalah sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus
besar.
b. Proses Buang Air Besar (Defekasi)
Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut
buang air besar. Terdapat dua pusat ang menguasai refleks untuk
defekasi, yang terletak di medula dan sumsum tulang belakang.
Secara umum, terdapat dua macam terdapat dua macam refleks
yang membantu proses defekasi yaitu refleks defekasi intrinsic dan
refleks defekasi parasimpatis.
c. Gangguan / Masalah Eliminasi Alvi
a) Konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami
atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga

45
mengalami eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja yang keluar
jadi terlalu kering dank eras.

Tanda Klinis :
1) Adanya fefes yang keras
2) Defekasi kurang dari 3 kali seminggu
3) Menurunnya bising usus
4) Adanya keluhan pada rektum
5) Nyeri saat mengejan dan defekasi
6) Adanya perasaaan masih ada sisa feses
Kemungkinan Penyebab:
1) Defek persarafan, kelemahan pevis, immobilitas karena cedera
serebrospinalis, cerebro vascular accident (CVA), dan lain-
lain.
2) Pola defekasi yang tidak teratur
3) Nyeri saat defekasi karena hemorrhoid
4) Menurunnya peristaltic karena stress psikologis
5) Penggunaan obat seperti antasida, laksantif, atau anestesi
6) Proses menua (usia lanjut)
b) Diare
Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko
sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare
sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa mula dan muntah
Tanda Klinis :
1) Adanya pengeluaran feses cair
2) Frekuensi lebih dari 3 kali sehari
3) Nyeri/kram abdomen
4) Bising usus meningkat
Kemungkinan Penyebab :
1) Malabsorpsi atau inflamasi, proses infeksi
2) Peningkatan peristaltic karena peningkatan metabolisme

46
3) Efek tindakan pembedahan usus
4) Efek penggunaan obat seperti antasida, laksantif, antibiotic, dan
lain-lain
5) Stres psikologis
c) Inkontinensia Usus
Inkontinesia usus merupakan keadaan individu yang
mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal,
sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak disadari. Hal
ini juga disebut sebagai inkontinensia alvi yang merupakan
hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses
dan gas melalui sphincter akibat kerusakan sphincter.
Tanda Klinis :
1) Pengeluaran feses yang tidak dikehendaki
Kemungkinan Penyebab :
1) Gangguan sphincter rectal akibat cedera anus, pembedahan,
dan lain-lain
2) Distensi rectum berlebih
3) Kurangnya control sphincter akibat cedera medula spinalis,
CVA, dan lain-lain
4) Kerusakan kognitif
d) Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena
pengumpulan gas berlebihan dalam lambung atau usus
e) Hemorroid
Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di
daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus
yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi
dan lain-lain
f) Fecal Impaction
Fecal impaction merupakann massa feses karena dilipatan rektum
yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang

47
berkepanjangan. Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang,
aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.

d. Faktor yang Memengaruhi Proses Defekasi


a) Usia
Setiap tahap perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol
proses defekasi yang berbeda.
b) Diet
Diet, pola atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat
memengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan
serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah
yang dikonsumsipun dapat memengaruhinya
c) Asupan cairan
Pemasukana cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi
menjadi keras. Oleh karena itu, proses absopsi air yang kurang
menyebabkan kesulitan proses defekasi.
d) Aktivitas
Aktivitas dapat memengaruhi proses defekasi karena melalui
aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat
membantu kelancaran proses defekasi
e) Pengobatan
Pengobatan juga dapat memengaruhinya proses defekasi, seperti
penggunaan laksantif, atau antasida yang terlalu sering.
f) Gaya hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat memengaruhi proses defekasi.
Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup
sehat/ kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih
atau toilet, etika seseorang tersebut buang air besar di tempat
terbuka atau tempat kotor, maka akan mengalami kesulitan dalam
proses defekasi.
g) Penyakit

48
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses defekasi, biasanya
penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan system
pencernaan, seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya.
h) Nyeri
Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan / keinginan untuk
defekasi seperti nyeri pada kasus hemorrhoid atau episiotomi
i) Kerusakan sensoris dan motoris
Kerusakan pada system sensoris dan motoris dapat memengaruhi
proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan
stimulasi sensoris dalam melakukan defekasi.
e. Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Alvi (Buang Air Besar)
a) Menyiapkan Feses untuk Bahan Pemeriksaan
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan merupakan
tindakan yang dilakukan untuk mengambil feses sebagai bahan
pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut yaitu pemeriksaan lengkap dan
pemeriksaan kultur (pembiakan)
1) Pemeriksaan feses lengkap merupakan pemeriksaan feses yang
terdiri atas pemeriksaan warna, bau, konsistensi, lendir, darah
dan lain-lain
2) Pemeriksaan feses kultur merupakan pemeriksaan feses melalui
biakan dengan cara toucher (lihat prosedur pengambilan feses
melalui tangan)
Persiapan Alat danBahan :
1) Tempat penampung atau botol penampung beserta tutup
2) Etiket khusus
3) Dua batang lidi kapas sebagai alat untuk mengambil feses
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

49
3) Anjurkan untuk buang air besar lalu ambil fases melalui lidi
kapas yang telah dikeluarkan. Setelah selesai, anjurkan untuk
membersihkan daerah sekitar anus.
4) Asupan bahan pemerikasaan kedalam botol yang telah
disediakan
5) Catat nama pasien dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan
6) Cuci tangan
b) Membantu Pasien Buang Air Besar dengan Pispot
Membantu pasien buang air besar dengan pispot di tempat tidur
merupakan tindakan pada pasien yang tidak mempu buang air
besar secara sendiri di kamar kecil. Tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan eliminasi alvi.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Alas/ perlak
2) Pispot
3) Air bersih
4) Tisu
5) Sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum
6) Sarung tangan
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Pasang sampiran kalau di bangsal umum
4) Gunakan sarung tangan
5) Pasang pengalas di bawah glutea
6) Tempatkan pispot di antara pengalas tepat dibawah glutea
dengan posisi bagian lubang pispot tepat dibawah rektum
7) Setelah pispot tepat dibawah glutea, tanyakan pada pasien
apakan sudah nyaman atau belum. Kalau belum, atur sesuai
dengan kebutuhan

50
8) Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang telah
disediakan
9) Setelah selesai, siram dengan air bersih, kemudian keringkan
dengan tisu
10) Catat tanggal, jam defekasi, dan karakteristiknya
11) Cuci tangan
c) Memberikan Huknah Rendah
Memberikan huknah rendah merupakan tindakan
memasukkan cairan hangat kedalam kolon desenden dengan kanula
rekti mealui anus. Tindakan tersebut bertujuan untuk
mengosongkan usus pada proses pra bedah agar dapat mencegah
terjadinya obstruksi makanan sebagai dampak dari pascaoperasi
dan merangsang buang air besar bagi pasien yang mengalami
kesulitan buang air besar.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Pengalas
2) Irigator lengkap dengan kanula rekti
3) Cairan hangat ± 700-1000 ml dengan suhu 40,5-43º C pada
orang dewasa
4) Bengkok
5) Jelly
6) Pispot
7) Sampiran
8) Sarung tangan
9) Tisu
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur ruangan dengan meletakakn sampiran apabila di bangsal
umum atau menutup pinti apabila di ruang sendiri
4) Atur posisi sim miring ke kiri pada pasien

51
5) Pasang pengalas di bawah glutea
6) Irigator diisi cairan hangat sesuai dengan suhu badan (40,5-43º
C) dan hubungakan dengan kanula rekti. Kemudian cek aliran
dengan membuka kanula dan keluarkan air ke bengkok serta
berikan jelly pada ujung kanula.
7) Gunakan sarung tangan dan asupan kanula kira-kita 15 cm ke
dalam rektum kea rah kolon desenden sambil pasien diminta
untuk bernapas panjang dan memegang irigator setinggi 50 cm
dari tempat tidur. Buka klemnya dan air dialirkan sampai
pasien menunjukkan keinginan untuk buang air besar.
8) Anjurkan pasien untuk menahan sebentar bila mau buang air
besar dan pasang pispot atau anjurkan ke toile. Jika pasien
tidak mampu mobilisasi jalan, bersihkan daerah di sekitar
rektum hingga bersih.
9) Cuci tangan
10) Catat jumlah feses yang keluar, warna, konsistenti, dan respon
pasien
d) Memberikan Huknah yang Tinggi
Memberikan huknah tinggi merupakan tindakan
memasukkan cairan hangatkedalam kolon asenden dengan kanula
usus. Hal tersebut dilakukan untuk pengosongan usus pada pasien
pra bedah atau untuk prosedur diagnosik
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Pengalas
2) Irigator lengkap dengan kanula usus
3) Cairan hangat
4) Bengkok
5) Jelly
6) Pispot
7) Sampiran
8) Sarung tangan

52
9) Tisu
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur ruangan dengan meletakakn sampiran apabila di bangsal
umum atau menutup pinti apabila di ruang sendiri
4) Atur posisi sim miring ke kanan pada pasien
5) Gunakan sarung tangan
6) Irigator diisi cairan hangat sesuai dengan suhu badan (40,5-43º
C) dan hubungkan dengan kanula usus. Kemudian cek aliran
dengan membuka kanula dan keluarkan air ke bengkok serta
berikan jelly pada ujung kanula.
7) Masukkan kanula kedalam rektum kea rah kolon asenden kira-
kita 15-20  cm sambil pasien diminta untuk bernapas panjang
dan memegang irigator setinggi 30 cm dari tempat tidur. Buka
klem sehingga air mengalir  pada rektum sampai pasien
menunjukkan keinginan untuk buang air besar.
8) Anjurkan pasien untuk menahan sebentar bila mau buang air
besar dan pasang pispot atau anjurkan ke toilet. Jika pasien
tidak mampu mobilisasi jalan, bersihkan daerah di sekitar
rektum hingga bersih.
9) Buka sarung tangan, catat jumlah feses yang keluar, warna,
konsistenti, dan respon pasien
10) Cuci tangan
e) Memberikan Gliserin
Memberikan gliserin merupakan tindakan memasukkan
cairan gliserin kedalam poros usus dengan spuit gliserin. Hal ini
dilakukan untuk merangsang peristaltik usu, sehingga pasien dapat
buang air besar (khususnya pada orang yang mengalami sembelit).
Selain itu, tindakan ini juga dapat digunakan untuk persiapan
operasi.

53
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Spuit gliserin
2) Gliserin dalam tempatnya
3) Bengkok
4) Pengalas
5) Sampiran
6) Sarung tangan
7) Tisu
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Atur ruangan. Apabila pasien sendiri, maka tutup pinti, dan bila
pasien di ruang bangsal, maka gunakan sampiran.
4) Atur posisi pasien (miringkan ke kiri), dan berikan pengalas di
bawah glutea serta buka pakaian bagian bawah pasien
5) Gunakan sarung tangan, kemudian spuit diisi gliserin ± 10-20
cc dan cek kehangatan cairan gliserin.
6) Masukkan gliserin perlahan-lahan ke dalam anus dengan
tangan kiri mendorong peregangan daerah rektum, sedngkan
tangan kanan memasukkan spuit ke dalam anus sampai pangkal
kanula dengan ujung spuit diarahkan ke depan. Anjurkan
pasien napas dalam.
7) Setelah selesai, cabut dan masukkan ke dalambengkok.
Anjurkan oasien untuk menahan sebentar rasa ingin defekasi
dan pasang pispot. Apabila pasien tidak mampu ke toilet,
bersihkan dengan air hingga bersih lalu keringkan dengan tisu.
8) Pasang pispot atau anjurkan ke toilet
9) Buka sarung tangan, catat jumlah feses yang keluar, warna,
konsistenti, dan respon pasien
10) Cuci tangan
f) Mengeluarkan Fases dangan Jari

54
Mengeluarkan feses dengan jari merupakan tindakan
memasukkan jari ke dalam rektum pasien utnuk mengambil atau
menghancurkan massa feses sekalligus mengeluarkannya. Indikasi
tindakan ini adalah apabila massa feses terlalu keras dan dalam
pemberian enema tidak berhasil, maka terjadi konctipasi serta
pengerasan feses yang tidak mampu dikeluarkan oleh manula.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Sarung tangan
2) Minyak pelumas/jelly
3) Alat penampung atau pispot
4) Pengalas
Prosedur Kerja :
1) Cuci tangan
2) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
3) Gunakan sarung tangan dan beri minyak pelumas (jelly) pada
jari telunjuk
4) Atur posisi miring dengan lutut refleksi
5) Masukkan jari ke dalam rektum dan dorong perlahan-lahan
sepanjang dinding rektum kea rah umbilicus (ke arah massa
feses yang impaksi)
6) Secara perlahan-lahan, lunakkan massa dengan massage daerah
feses yang impaksi (arahakan jari pada inti yang keras)
7) Gunakan pispot bila ingin buang air besar atau bantu ke toilet
8) Lepaskan sarung tangan, kemudia catat jumlah feses yang
keluar, warna, kepadatan, dan respons pasien
9) Cuci tangan

F. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN DIRI


Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan
perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan baik
secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan perawatan diri dipengaruhi

55
berbagai faktor, diantaranya : budaya, nilai sosial pada individu atau keluarga,
pengetahuan tentang perawatan diri, serta persepsi terhadap perawatan diri.
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat
penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi
kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi
oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di
antaranya kebudayaan , sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang
terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan.
Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang
diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan
adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat
mempengaruhi kesehatan secara umum.
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang
artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseoang adalah
suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseoran untuk
kesejahteraan fisik dan psikis.
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene ) merupakan
perawatan diri sendiri yan dilakukan untuk mempertahankan kesehatan baik
secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan perawatan diri dipengaruhi
berbagai factor diantaranya: budaya, nilai social pada individu atau keluarga,
pengetahuan terhadap perawatan diri serta persepsi terhadap perawatan diri.
a. Fisiologi Kulit
Sistem integumen terdiri atas kulit, lapisan subkutan di bawah kulit
dan pelengkapnya, seperti kelenjar dan kuku. Kulit terdiri atas 2 lapisan
yaitu lapisan epidermis yang terdapat pada bagian atas yang banyak
mengandung sel-sel epitel. Sel-sel epitel ini mudah sekali mengalami
regeneras. Lapisan ini tidak mengandung pembuluh darah.
Lapisan kedua adalah lapisan dermis yang terdiri atas jaringan otot,
saraf folikel rambut dan kelenjar. Pada kulit terdapat 2 kelenjar : pertama
kelnejar sebasea yang menghasilkan minyak yang disebut sebun yang
berfungsi meminyaki kulit dan rambut. Kedua, kelenjar serumen yang

56
terdapat dalam telingga yang berfungsi sebagai pelumas dan berwarna
cokelat.

b. Fungsi Kulit :
1) Proteksi tubuh
2) Pengaturan temperatur tubuh
3) Pengeluaran pembuangan air
4) Sensasi dari stimulus lingkungan
5) Membantu keseimbangan carian da eletrolit
6) Memproduksi dan mengabsorpsi vitamin D
7) Macam-macam Personal Hygiene
8) Perawatan kulit kepala dan rambut
9) Perawatan mata
10) Perawatan hidung
11) Perawatan telingga
12) Perawatan kuku kaki dan tangan
13) Perawatan genetalia
14) Perawatan kulit seruruh tubuh
15) Perawatan tubuh secara keseluruhan
16) Tujuan Personal Hygiene
17) Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
18) Memelihara kebersihan diri seseorang
19) Memperbaiki personal hyiene yang kurang
20) Mencagah penyakit
21) Menciptakan keindahan
22) Meningkatkan rasa percaya diri
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
1) Body image

57
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan
diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak
peduli terhadap kebersihannya.
2) Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene
3) Status sosial-ekonomi
Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya
4) Pengetahuan
Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien
penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh
dimandikan.
6) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.
7) Kondisi fisik
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang
dan perlu bantuan untuk melakukannya.
d. Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hyiene
1) Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik
yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan
membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan
fisik pada kuku.
2) Dampak Psikososial

58
Masalah social yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah
gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai,
kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

1. Jenis Perawatan Diri Berdasarkan Waktu Pelaksanaan


a. Perawatan dini hari.
Merupakan perawatan yang dilakukan pada waktu bangun
tidur, untuk melakukan tindakan seperti persiapan dalam
pengambilan bahan pemeriksaan (urine dan feses), memberikan
pertolongan, mempersiapkan pasien untuk melakukan makan pgi
dengan melakukan tindakan perawatan diri seperti mencuci muka
dan tangan, serta menjaga kebersihan mulut.
b. Perawatan pagi hari.
Perawatan yang dilakukansetelah melakukan makan pagi
dengan melakukan perawatan diri seperti melakukan pertolongan
dalam pemenuhan eliminasi (buang air besar dan kecil), mandi dan
mencuci rambut, melakukan perawatan kulit, melakukan pijitan pada
punggung, membersihkan mulut, membersihkan kuku, dan rambut,
serta merapikan tempat tidur pasien.
c. Perawatan siang hari.
Perawatan diri yang dilakukan setelah melakukan berbagai
tindkan pengobatan atau permeriksaan dan setelah makan siang.
Berbagai tindakan perawatan diri yang dapar dilakukan antara lain :
mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan tempat
tidur, serta melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan
kesehatan pasien.
d. Perawataan menjelang tidur.
Perawatan diri yang dilakukan pada saat menjelang tidur agar
pasien dapat tidur atau beristirahat dengan tenang. Berbagai kegiatan

59
yang dapat dilakukan antara lain : pemenuhan kebutuhan eliminasi
(buang air besar dan kecil), mencuci tangan dan muka,
membersihkan mulut, serta memijat daerah punggung.
Tujuan perawatan diri adalah unutk mempertahankan
perawatan diri, baik secara sendiri maupun dengan bantuan, dapat
melatih hidup sehat/bersih dengan memperbaiki gambaran atau
persepsi terhadap kesehatan dan kebersihan, serta menciptakan
penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan.
2. Jenis Perawatan Diri Berdasarkan Tempat
a. Perawatan Diri pada Kulit
Kulit merupakan salah satu bagian penting dari tubuh yang
dapat melindungi tubuh dari berbagai kuman atau trauma, sehingga
diperlukan perawatan yang adekuat (cukup) dalam mempertahankan
fungsinya.
1) Fungsi Kulit
a) Melindungi tubuh dari berbagai masuknya kuman atau truma
jaringan bagian dalam sehingga dapat menjaga keutuhan kulit
b) Mengatur keseimbangan suhu tubuh serta membantu dalam
produksi keringat dan penguapan
c) Sebagai alat peraba yang dapat membantu tubuh untuk
menerima rangsangan dari luar melalui rasa sakit, sentuhan,
tekanan, dan suhu.
d) Sebagai alat ekskresi keringat melalui pengeluaran air,
garam, dan nitrogen
e) Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit yang bertugas
mencegah pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan
f) Memproduksi dan menyerap vitamin D sebagai penghubung
atau pemberi vitamin D dari sinar ultraviolet yang dating dari
sinar matahari.
2) Faktor-faktor yang Memengaruhi kulit
a) Usia

60
Perubahan kulit yang dapat ditentukan oleh usia
seseoang. Hal ini dapat terlihat pada bayi yang berusia
relative muda dengan kondisi kulit yang sangat rawan
terhadap berbagai trauma atau masuknya kuman.

b) Jaringan kulit
Perubahan dan keutuhan kulit dapat dipengaruhi oleh
struktur jaringan kulit. Apabila jaringan kulit rusak, maka
terjadi perubahan pada struktur kulit.
c) Kondisi/keadaan lingkungan
Beberapa kondisi atau keadaan lingkungan dapat
memengaruhi keadaan kulit secara utuh, antara lain
keadaan panas, adanya nyeri akibat sentuhan serta tekanan,
dan lain-lain
3) Tindakan Perawatan Diri pada Kulit
Cara Perawatan Kulit
Merupakan tindakan pada kulit yang mengalami atau
beresiko terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut, khususnya pada
daerah yang mengalami tekanan (tonjolan). Tujuannya adalah
untuk mencegah dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat
tekanan yang lama dan tidak hilang.
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Baskom cuci
2) Sabun
3) Air
4) Agen pembersih
5) Balutan
6) Pelindung kulit
7) Plester
8) Sarung tangan

61
Prosedur Kerja :
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
3) Tutup pintu ruangan
4) Atur posisi pasien
5) Kaji luka/kulit tertekan dengan memperhatikan warna,
kelembaban, penampilan sekitar kulit, ukur diameter kulit,
dan ukur kedalaman.
6) Cuci sekitar luka dengan air hangat atau sabun cuci secara
menyeluruh dengan air.
7) Secara menyeluruh dan perlahan-lahan, keringkan kulit yang
disertai pijatan
8) Secara menyeluruh, bersihkan luka dengan cairan normal
atau larutan pembersih. Gunakan semprit irigasi luka pada
luka yang dalam.
9) Setelah selesai, berikan obat atau agen tropikal.
10) Catat hasil
11) Cuci tangan
Cara Memandikan Pasien di Tempat tidur
Memandikan pasien di tempat tidur dilakukan pada
pasien yang tidak mampu mandi secara sendiri. Tujuannya untuk
menjaga kebersihan tubuh, mengurangi infeksiakibat kulit kotor,
memperlancar system peredaran darah, dan menambah
kenyamanan pasien
Persiapan Alat dan Bahan :
1) Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan
air hangat
2) Pakaian pengganti
3) Kain penutup
4) Handuk, sarung tangan pengusap badan
5) Tempat untuk pakaian kotor

62
6) Sampiran
7) Sabun
Prosedur Kerja :
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Cuci tangan
3) Atur posisi pasien
4) Pada pasien, lakukan tindakan memandikan yang diawali
dengan membentangkan handuk di bawah kepala. Kemudian
bersihkan muka, telinga, dan leher dengan sarung tangan
pengusap. Keringkan dengan handuk
5) Kain penutup diturunkan, kedua tangan pasien dinaikkan
keatas, serta handuk diatas dada pasien dipindahkan dan
dibentangkan. Kemudian kembalikan kedua tangan di posisi
awal diatas handuk, lalu basahi kkedua tangan dengan air
bersih. Keringkan dengan handuk
6) Kedua tangan dinaikkan keatas, handuk dipindahkan di sisi
pasien lalu bersihkan daerah dada dan perut. Keringkan
dengan handuk
7) Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan dibawah
punggung sampai glutea dan basahi punggung sampai glutea,
lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya, miringkan pasien
ke kanan dan lakukan hal yang sama. Selanjutnya,
kembalikan pasien ke posis telentang dan pasangkan pakaian
dengan rapi.
8) Letakkan handuk dibawah lutut, lalu bersihkan kaki. Kaki
yang paling jauhdidahulukan dan dikeringkan dengan handuk
9) Ambil handuk, dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah
perut dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan
genitalia. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan
rapi.
10) Cuci tangan

63
b. Perawatan Diri pada Kuku dan Kaki
Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek
penting dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai
kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui kuku.
1) Masalah/Gangguan pada Kuku
a) Ingrown nail
Kuku tangan yang tidak tumbuh-tumbuh dan dirasakan sakit
pada daerah tersebut.
b) Paronychia
Radang di sekitar jaringan kuku
c) Ram’s Horn Nai
Gangguan kuku yang ditandai dengan pertumbuhan yang
lambat disertai kerusakan dasar kuku atau infeksi
d) Bau Tak Sedap
Reaksi mikroorganisme yang menyebabkan bau tidak sedap.
2) Tindakan Perawatan Diri pada Kuku
Cara Perawatan Kuku
Merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu
merawat kuku sendiri. Tujuannya adalah menjaga kebersihan
kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat garukan
dari kuku.
Persiapan Alat dan Bahan:
1) Alat pemotong kuku
2) Handuk
3) Baskom berisi air hangat
4) Bengkok
5) Sabun
6) Kapas
7) Sikat kuku
Prosedur Kerja :
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

64
2) Cuci tangan
3) Atur posisi pasien dengan posisi duduk atau tidur
4) Tentukan kuku yang akan dipotong
5) Rendamkan kuku dengan air hangat ± 2 menit. Lakukan
penyikatan dengan beri sabun bila kotor.
6) Keringkan dengan handuk
7) Letakkan tangan diatas bengkok dan lakukan pemotongan
kuku.
8) Cuci tangan.
c. Perawatan Diri pada Rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi
proteksi dan pengatur suhu. Indikasi perubahan status kesehatan diri
juga dapat dilihat dari rambut mudah rontok sebagai akibat gizi
kurang.
a) Masalah/Gangguan pada Perawatan Rambut
1) Kutu
2) Ketombe
3) Alopecia (botak)
4) Sehorrheic dermatitis (radang pada kulit di rambut)
b) Tindakan Perawatan Diri pada Rambut
Cara Perawatan Rambut
Merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan perawatan diri dengan menyuci dan
menyisir rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman-
kuman yang ada pada kulit kepala, menambah rasa nyaman,
membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit, serta
memperlancar system peredaran darah di bawah kulit.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Handuk secukupnya
2) Perlak atau pengalas
3) Baskom berisi air hangat

65
4) Shampo atau sabun pada tempatnya
5) Kasa dan kapas
6) Sisir
7) Bengkok
8) Gayung
9) Ember kosong
Prosedur Kerja
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Cuci tangan
3) Tutup jendela atau pasang sampiran
4) Atur posisi pasien dengan posisi duduk atau berbaring
5) Letakkan baskom dibawah tempat tidur, tepat dibawah kepala
pasien
6) Pasang perlak atau pengalas di bawah kepala dan dismbungkan
kearah bagian baskom dengan pinggir digulung
7) Tutup telinga dengan kapas
8) Tutup dada sampai leher dengan handuk
9) Kemudian sisir rambut dan lakukan pencucian dengan air
hangat. Selanjutnya gunakan shampo dan bilas dengan air
hangat sambil dipijat
10) Setelah selesai, keringkan
11) Cuci tangan
d. Perawatan Diri pada Mulut dan Gigi
Gigi dan mulut adalah bagian penting yang harus
dipertahankan kebersihannya, sebab berbagai kuman dapat masuk
melalui organ ini.
a) Masalah/Gangguan pada Gigi dan Mulut
1) Halitosis, bau napas tidak sedap yang disebabkan adanya
kuman atau lainnya
2) Ginggivitas, radang pada daerah gusi
3) Karies, radang pada gigi

66
4) Stomatitis, radang pada daerah mukosa atau rongga mulut
5) Periodontal disease, gusi yang mudah berdarah dan bengkak
6) Glostitis, radang pada lidah
7) Chilosis, bibir yang pecah-pecah
b) Tindakan Perawatan Diri pada Gigi dan Mulut
Cara Perawatan Gigi dan Mulut
Merupakan tindakan pada pasien yang itdak mampu
mempertahankan kebersihan mulut dan gigi dengan membersihkan
serta menyikat gigi dan mulut secara teratur. Tujuannya untuk
mencegah infeksi pada mulut akibat kerusakan pada daerah gigi
dan mulut, membantu menambah nafsu makan, serta menjaga
kebersihan gigi dan mulut.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Handuk dan kain pengalas
2) Gelas kumur berisi
a) Air masak/NaCl
b) Obat kumur
c) Boraks gliserin
3) Spatel lidah telah dibungkus dengan kain kasa
4) Kapas lidi
5) Bengkok
6) Kain kasa
7) Pinset atau arteri klem
8) Sikat gigi dan pasta gigi
Prosedur Kerja
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Cuci tangan
3) Atur posisi pasien
4) Pasng handuk di bawah dagu dan pipi pasien
5) Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang berisi air dan
NaCl

67
6) Anjurkan pasien untuk membuka. Lakukan mulut dengan sudip
lidah bila pasien tidak sadar.
7) Lakukan pembersihan dimulai dari dinding rongga mulut, gusi,
gigi, lidah, bibir. Bila sudah kootor, letakkan di bengkok
8) Lakukan hingga bersih. Setelah itu, oleskan boraks gliserin
9) Untuk perawatan gigi, lakukan penyikatan dengan geraan naik
turun dan bilas. Lalu keringkan
10) Cuci tangan
e. Perawatan Diri pada Alat Kelamin Perempuan
a) Tindakan Perawatan Diri pada Alat Kelamin
Cara Vulva Higiene
Vulva higiene merupakan tindakan pada pasien yang
tidak mampu membersihan vulva sendiri. Tujuannya adalah
mencegah terjadinya infeksi pada vulva dan menjaga kebersihan
vulva.
Persiapan Alat dan Bahan
1) Kapas sublimate atau desinfektan
2) Pinset
3) Bengkok
4) Pispot
5) Tempat membersihkan (cebok) yang berisi desinfektan
6) Desinfektan sesuai dengan kebutuhan
7) Pengalas
8) Sarung tangan
Prosedur Kerja
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Cuci tangan
3) Atur posisi pasien dengan posisi dorsal recumbent
4) Pasang pengalas dan pispot, kemudian letakkan dibawah
glutea pasien
5) Gunakan sarung tangan

68
6) Lakukan tindakan perawatan kebersihan vulva dengan tangan
kiri membuka vulva memakai kapas sublimate dan tangan
kanan menyiram vulva dengan larutan desinfektan
7) Kemudian ambil kapas sublimate dengan pinset, lalu
bersihkan vulva dari atas kebawah. Kapas yang telah kotor
dibuang ke bengkok. Hal ini dilakukan hingga bersih.
8) Setelah selesai, ambil pispot dan atur posisi pasien.
9) Cuci tangan
3. Kebutuhan Kebersihan Lingkungan Pasien
Pemenuhan kebutuhan kebersihan lingkungan pasien yang
dimaksud disini adalah kebersihan pada tempat tidur. Melalui kebersihan
tempat tidur, diharapakna pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa
gangguan selama tidur, sehingga dapat membantu proses
pemnyembuhan. Pemenuhan ini melalui prosedur penyiapan tempat tidur
tertutup maupun terbuka.
a) Cara Menyiapkan Tempat Tidur
Persiapan Alat dan Bahan
1) Tempat tidur, kasur, bantal
2) Seprai besar
3) Seprai kecil
4) Sarung bantal
5) Perlak
6) Selimut
Prosedur Kerja
1) Cuci tangan
2) Atur tempat tidur, kasur dan bantal
3) Pasang seprai besar dengn garis tengah lipatannya tepat di tengah
kasur/tempat tidur
4) Atur kedua sisi samping seprai atau tempat tidur dengan sudut 90º,
lalu masukkan ke bawah kasur
5) Pasang perlak di tengah tempat tidur

69
6) Pasang seprei kecil di atas perlak
7) Lipat selimut menjadi empat secara terbalik dan pasang bagian
bawah. Masukkan ujung selimut ke bawah kasur
8) Pasang sarung bantal
9) Cuci tangan

G. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN MEKANIKA TUBUH, POSISI,


AMBULASI, MOBILITAS
Mekanika tubuh adalah usaha koordinasi dari musculoskeletal dan
system saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanina
tubuh dan pengaturan posisi tersebut merupakan cara menggunakan tubuh
secara efisien, yaitu tidak banyak mengeluarkan tenaga terkoordinir, serta
aman dalam menggerakkan dan mempertahankan keseimbangan selama
aktifitas.
1. Prinsip Mekanika Tubuh
Mekanik tubuh adalah usaha koordinasi diri muskoloskeletal dan
sistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanika
tubuh dan ambulasi merupakan bagian dari kebutuhan aktivitas manusia
Gravitasi merupakan prinsip yang pertama yang harus diperhatikan
dalam melakukan mekanika tubuh dengan benar, yaitu memandang
gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Keseimbangan adalah
penggunaan mekanika tubuh dicapai dengan cara mempertahankan posisi
garis gravitasi diantara pusat gravitasi dan dasar tumpuhan. Berat dalam
menggunakan mekanika tubuh yang sangat diperhatikan adalah berat atau
bobot benda yang akan diangkat karena berat benda akan mempengaruhi
mekanika tubuh.
a. Pergerakan Dasar dalam Mekanika Tubuh
Mekanika tubuh dan ambulasi merupakan bagian dari
kebutuhan aktifitas manusia.
1) Gerakan (ambulating)

70
Gerakan yang benar akan membantu mempertahankan
keseimbangan tubuh. Misal, orang yang berdiri akan lebih mudah
stabil dibanding orang yang berjalan, karena pada posisi berjalan
terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi yang satu ke sisi yang
lain.
2) Menahan (Squatting)
Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat untuk
mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan
dilakukan.
3) Menarik (Pulling)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik benda,
diantaranya ketinggian, letak benda, posisi kaki dan tubuh sewaktu
menarik (seperti condong ke depan dari panggul), sodorkan telapak
tangan dan lengan atas dibawah pusat gravitasi pasien, lengan atas
dan siku diletakkan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut
dan pergelangan kaki ditekuk dan lalu lakukan penarikan.
4) Mengangkat (lifting )
Mengangkat merupakan pergerakan daya tarik. Gunakan otot-otot
besar dari tumit, paha bagian atas dan kaki bagian bawah, perut
dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian
belakang.
5) Memutar (pivoting)
Memutar gerakan utuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada
tulang belakang.
b. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Mekanika Tubuh
1) Status Kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat memengaruhi system
musculoskeletal dan system saraf berupa penurunan koordinasi.
2) Nutrisi
Salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses
pertumbuhan tulang dan perbaikan sel.

71
3) Emosi
Kondisi psikologis seseorang dapat memudahkan perubahan dalam
perilaku yang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dan
ambulasi yang baik
4) Situasi dan Kebiasaan
Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseorang misalnya sering
mengangkat benda – benda berat akan menyebabkan perubahan
mekanika tubuh dan ambulasi.
5) Gaya Hidup
Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stress dan
kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan.
6) Pengetahuan
Pengetahuan yang baik terhadap mekanika tubuh akan mendorong
seseorang untuk mempergunakannya secara benar, sehingga akan
mengurangi energy yang telah di keluarkan.
c. Pengaturan Posisi
1) Posisi fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana
bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan . posisi
mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan
pasien.
2) Posisi Sim
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau miring ke kiri
dengan dilakukan untuk memberi kenyamanan dan memberikan
obat per anus (supositoria).
3) Posisi Trendelenburg

72
Posisi pasien berbaring ditempat tidur dengan bagian kepala lebih
rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk
melancarkan peredaran darah ke otak.

4) Posisi Dorsal Recumbent


Pada posisi ini pasien berbaring telentang dengan kedua lutut fleksi
(ditarik/ direnggangkan) diatas tempat tidur. Posisi ini dilakukan
untuk merawat dan memeriksa genitalia serta proses persalinan.
5) Posisi Litotomi
Posisi berbaring telentang dengan mengangkat kedua kaki dan
menariknya keatas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk
memeriksa genitalia pada proses persalinan dan memasang alat
kontrasepsi.
6) Posisi Genu Pectoral
Pada posisi ini pasien ini menungging dengan kedua kaki ditekuk
dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi ini
dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.
2. Ambulasi Dan Mobilitas
Ambulasi Dini adalah latihan berjalan pertama yang dilakukan
pada pasien setelah menjalani proses pembedahan/ operasi. Sebelum
melakukan ambulasi dini, terlebih dulu lakukan dangling. Dangling adalah
pasien duduk dengan kaki menjuntai di tepi tempat tidur.
Ambulasi merupakan upaya seseorang untuk melakukan latihan
jalan atau berpindah tempat. Mobilitas merupakan suatu kemampuan
individu untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
a. Tahapan Dangling
Dalam melakukan dangling, ada beberapa tahapan yang harus
dilalui di antaranya:
1) Lakukan semua tindakan prosedur awal.

73
2) Ingatlah untuk mencuci tangan, mengidentifikasi pasien dan
member privasi kepada pasien.
3) Siapkan peralatan yang diperlukan seperti bantal dan selimut.
4) Periksa denyut nadi pasien.
5) Turunkan penghalang tempat tidur dan kunci tempat tidur pada
posisi yang terendah.
6) Perlahan-lahan tinggikan kepala tempat tidur.
7) Bantu pasien untuk memakai selimut atau mantel mandi.
8) Letakkan satu tangan disekeliling bahu pasien dan tangan lainnya
di bawah lutut pasien.
9) Dengan perlahan dan lembut putar pasien sampai menghadap
perawat, biarkan kaki pasien menggantung di tepi tempat tidur.
10) Gulung bantal dan letakkan di belakang punggung pasien untuk
dijadikan penopang.
11) Setelah pasien memakai sandal, beri instruksi untuk
menggoyangkan kaki. sebuah kursi bisa ditempatkan untuk
menopang kaki pasien selama beberapa menit.
12) Mintalah pasien dangling selama waktu yang diperintahkan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan dangling
adalah : “saat pasien pusing atau pingsan, bantu pasien berbaring
dan periksa tanda-tanda vital pasien”.
13) Periksa kembali nadi pasien.
14) Atur kembali bantal di kepala tempat tidur, lepas selimut atau
mantel mandi dan sandal pasien.
15) Letakkan satu tangan disekeliling bahu pasien dan satu lagi di
bawah lutut. Dengan lembut dan perlahan angkat kaki pasien ke
atas tempat tidur.
16) Turunkan kepala tempat tidur, pasang penghalang tempat tidur dan
periksa kembali nadi pasien.
17) Setelah selesai, cuci tangan dan dokumentasikan waktu (durasi)
dangling, nadi dan reaksi pasien.

74
b. Tahapan Ambulasi
Setelah melakukan proses dangling, bila pasien dalam keadaan
baik-baik saja, lalu dilanjutkan dengan tahapan ambulasi dini,
meliputi:
1) Pastikan tempat tidur dalam posisi terendah. Sediakan sebuah kursi
untuk berjaga-jaga kalau pasien lelah.
2) Setelah pasien melakukan dangling tanpa rasa sakit, bantu pasien
untuk berdiri, periksa nadi pasien.
a) Jika nadi meningkat sampai lebih dari 10 poin, kembali ke
tempat tidur.
b) Jika pasien pusing atau pingsan, kembalilah ke tempat tidur.
c) Minta pasien untuk menarik napas dalam dan melihat sekeliling
ruangan. Kepala pasien tegak dan mata terbuka.
d) Berbicara dan yakinkan pasien.
3) Pindahkan lengan perawat ke belakang pinggang pasien dan
berbalik sehingga perawat menghadap ke arah yang sama dengan
pasien.
4) Pasien berjalan perlahan dengan jarak yang pendek dan kembali ke
sisi tempat tidur. Jika pasien tampak lelah dan akan pingsan atau
terjadi perubahan besar pada nadi, biarkan pasien beristirahat.
5) Jika pasien pingsan saat pelaksanaan ambulasi dini :
a) Dengan perlahan turunkan pasien ke lantai.
b) Lindungi kepala pasien.
c) Jangan mencoba menahan pasien berdiri.
d) Beri tanda untuk meminta bantuan.
6) Setelah selesai, cuci tangan dan dokumentasikan waktu (durasi)
ambulasi dini, nadi dan reaksi pasien.
c. Jenis Mobilitas
1) Mobilitas penuh
Merupakan kemampuan seseorang untuk bergcrak secara
penuh dan bebas sehingga dapat mcaakukan interaksi sosial dan

75
menjalankan peran schari-hari. Mobilitas pc:nuh ini merupakan
fungsi saraf motorik volunter dan scnsorik untuk dapat mengontrol
seluruh area tubuh seseorang.

2) Mobilitas sebagian
Merupakan kemampuan sescorang untuk bergerak dengan
batasan yang jclas, dan tidak mampu bergerak secara bebas karena
dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area
tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cfedera atau patah
tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplcgi dapat
mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena
kehilangan kontrol motorik dan scnsorik. Mobilitas sebagian ini
dibagi mcnjadi dua jenis, yaitu:
Mobilitas sebagian temporer merupakan kemampuan
individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada sistem
muskuloskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan
tulang.
Mobilitas sebagain permanen merupakan kemampuan
individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menctap.
Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang
revc;rsibel. Contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke,
paraplegi karena cedera tulang belakang, dan untuk kasus
poliomielitis terjadi karena terganggunya sistem saraf motorik dan
sensorik.
d. Faktor yang Memengaruhi Mobilitas
Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya:
1) Gaya hidup.

76
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi kemampuan mobilitas
seseorang, karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau
kebiasaaan sehari-hari.
2) Proses Penyakit/injuri.
Proses penyakit dapat memengaruhi kemampuan mobilitas karena
dapat mcmengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh orang
yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan
pcrgerakan dalam ekstremitas bagian bawah.
3) Kebudayaan.
Kemampuan melakukan mobilitas dapat juga dipengaruhi oleh
kebudayaan. Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering
bc;rjalan jauh memiliki kemampuan mobilitas yang kuat,
sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit)
karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas.
4) Tingkat Energi Seseorang.
Energi adalah sumber melakukan mobilitas. Agar seseorang dapat
melakukan mobilitas dengan baik, dibutuhkan energi yang cukup.
5) Usia dan Status Perkembangan.
Terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tiungkat usia yang
berbeda. Hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi
alat gerak sejalan dengan perkembangan usia.
e. Tindakan yang Berhubungan dengan Ambulasi dan Mobilitas
1) Latihan Ambulasi
a) Duduk ditempat diatas tidur
Cara:
1. Anjurkan pasien untuk melctakkan tangan di samping
badannya, dengan telapak tangan menghadap ke bawah.
2. Berdirilah di samping tempat tidur kemudian letakkan
tangan pada bahu pasien.
3. Bantu pasien untuk duduk dan beri penopang/bantal
b) Turun dan berdiri

77
Cara:
1. Atur kursi roda dalam posisi terkunci.
2. Berdirilah menghadap pasien dengan ke dua kaki
merenggang.
3. Fleksikan lutut dan pinggang anda.
4. Anjurkan pasien untuk meletakkan ke dua tangannya di
bahu Anda dan letakkan kedua tangan Anda di samping
kanan kiri pinggang pasien
5. Ketika pasien melangkah ke lantai tahan lutut anda pada
lutut pasien
6. Bantu berdiri tegak dan jalan sampai ke kursi
7. Bantu pasien duduk di kursi dan atur posisi secara nyaman
c) Membantu berjalan Cara:
1. Anjurkan pasien untuk melctakkan tangan di samping
badan atau memegang tclapak tangan anda.
2. Berdiri disamping pasien dan pegang telapak dan lengan
tangan pada bahu pasien
3. Bantu pasien untuk jalan
2) Membantu Ambulasi dengan Memindahkan Pasien
Merupakan tindakan keperawatan dengan cara
memindahkan pasien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan
dari tempat tidur ke branchard.
Cara:
1. Atur branchard dalam posisi terkunci.
2. Bantu pasien dengan 2-3 orang.
3. Berdiri menghadap pasien.
4. Silangkan tangan di depan dada.
5. Tekuk lutut Anda, kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh
pasien.
6. Orang pertama meletakkan tangan di bawah ieher/ bahu dan
bawah pinggang, orang kedua meletakkan tangan di bawah

78
pinggang dan panggul pasicn dan orang ketiga meletakkan
tangan di bawah pinggul dan kaki.
7. Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard.
8. Atur posisi pasien di brachard.

3) Istirahat
Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya
tekanan emosional dan bukan hanya dalam keadaan tidak
beraktivitas tetapi juga berhenti sejenak kondisi yang tersebut
membutuhkan ketenangan. Kata istirahat beristirahat menyegarkan
diri atau diam setelah melakukan kerja keras atau suatu keadaan
untuk melepaskan lelah bersantai untuk menyegarkan diri, atau
suatu keadaan melepaskan diri dari segala apa yang membosankan,
menyulitkan bahkan menjengkelkan.
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yangmutlak
harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang
cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan
tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu.
Secara umum,istirahat berartisuatu keadaan tenang,relaks,tanpa
tekanan emosional,dan bebas dari perasaan gelisah.
Jadi,beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama
sekali. Terkadang,berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan
sebagai suatu bentuk istirahat.
Karakterisik Istirahat
Terdapat berbagai karakteristik. Narrow (1976) dikutip
Perry dan Potter (1977) mengemukakan ada 6 karakteristik yang
berhubungan dengan istirahat diantaranya:
a) Merasa bahwa segala sesuau dapat diatasi
b) Merasa diterima
c) Mengetahui apa yang sedang terjadi
d) Bebas dari gangguan ketidaknyamanan

79
e) Mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang
mempunyai tujuan.
f) Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan
Kebutuhan istirahat dapat dirasakan apabila semua karakteristik
tersebut diatas dapat terpenuhi.
4) Tidur
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu
dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton
1986), atau juga dapat dikaakan sebagai suatu keadaan tidak
sadarkan diri yang relative, bukan hanya keadaan penuh
ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih meruakan suatu urutan
siklus yang berulang, dengan cirri adanya aktifitas yang minim,
memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses
fisiologis dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari
luar.
Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang
minimal,tingkat kesadaran yang bervariasi,perubahan proses
fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal.
Hamper sepertiga dari waktu kita,kita gunakan untuk tidur. Hal
tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan
atau mengistirahatkan fisik setelah seharian
beraktivitas,mengurangi stress dan kecemasan,serta dapat
meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat hendak
melakukan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan proses tidur terdapat dua jenis tidur yaitu :
a) Tidur gelombang lambat (slow wave sleep)/NREM (non rapid
eye movement)/tidur nyenyak.
Ciri-ciri tidur nyenyak yaitu menyegarkan tanpa mimpi
atau tidur dengan gelombang delta, keadaan istirahat penuh,
tekanan darah menurun, pergerakkan bola mata melambat,

80
mimpi berkurang serta metabolisme turun. Tahapan tidur jenis
NREM:
Tahap I
Merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur, ciri-
cirinya yaitu rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa
mengantuk, bola mata bergerak, frekuensi nadi dan napas
menurun, yang berlangsung selama 5 menit.
Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus
menurun, ciri-cirinya yaitu mata pada umumnya menetap,
denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh
menurun, metabolisme menurun, berlangsung selama 10-15
menit.
Tahap III
Ciri-ciri tahap ini yaitu denyut nadi dan frekuensi napas
dan proses tubuh lainnya lambat.
Tahap IV
Merupakan tahap tidur dalam, ciri-cirinya yaitu
kecepatan jantung dan napas turun, jarang bergerak dan sulit
dibangunkan, gerak bola mata cepat, skresi lambung dan tonus
otot menurun.
b) Tidur paradoks/tidur REM (rapid eye movement)
Terjadi pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata
timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit. Ciri
tidur REM yaitu :
1) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2) Lebih sulit dibangunkan
3) Tonus otot tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi
spinal atas sistem pengaktivasi retikularis.
4) Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur

81
5) Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak
teratur, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, skresi
gaster meningkat dan metabolisme meningkat.
Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor .

1) Stres psikologi
Seseorang yang memiliki masalah psikologis akan
mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
2) Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat
mempercepat proses tidur. Sebaliknya kebutuhan nutrisi
yang kurang akan menyebabkan sulit tidur.
3) Obat
Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur
(insomnia), antidepresan dapat menekan REM, kafein dapat
meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan
untuk tidur.
4) Aktivitas
Aktivitas yang tinggi membutuhkan lebih banyak tidur
untuk menjaga keseimbangan energi yang telah
dikeluarkan.
5) Penyakit
Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu
kurang tidur atau bahkan tidak bisa tidur karena
penyakitnya itu.
6) Lingkungan
Lingkungan yang nyaman dan aman dapat mempercepat
proses tidur tetapi jika keadaan lingkungan tidak nyaman
dapat menghilangkan keinginan untuk tidur.
7) Motivasi

82
Merupakan keinginan untuk tidur, jika ada keinginan untuk
tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
Fisiologis Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang
melibatkan hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian
agar mengaktifkan dan menekan pusat otak untuk dapat tidur dan
bangun.
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang
sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang
seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian.
Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior
hypothalamus.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan
sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis medulo
oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf
pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat
pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat
penggugah atau aurosal state.
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
1) Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2) Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari
4 stadium, lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara
fase NREM dan REM terjadi secara bergantian antara 4-7 kali
siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20 jam/hari, anak-
anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur
diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa.
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
Tidur stadium Satu. Fase ini merupakan antara fase terjaga
dan fase awal tidur. Fase ini didapatkan kelopak mata tertutup,
tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan

83
kekiri. Fase ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali
dibangunkan. Gambaran EEG biasanya terdiri dari gelombang
campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta dengan
amplitudo yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang sleep
spindle dan kompleks K
Tidur stadium dua Pada fase ini didapatkan bola mata
berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang, tidur lebih dalam
dari pada fase pertama. Gambaran EEG terdiri dari gelombang
theta simetris. Terlihat adanya gelombang sleep spindle,
gelombang verteks dan komplek K
Tidur stadium tiga Fase ini tidur lebih dalam dari fase
sebelumnya. Gambaran EEG terdapat lebih banyak gelombang
delta simetris antara 25%-50% serta tampak gelombang
slee[ spindle.
Tidur stadium empat Merupakan tidur yang dalam
serta sukar dibangunkan. Gambaran EEG didominasi oleh
gelombang delta sampai 50% tampak gelombang sleep spindle.
Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit
sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada
waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan
menjadi lebih insten dan panjang saat menjelang pagi atau bangun.
Pola tidur REM ditandai adanya gerakan bola mata yang
cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila dibangunkan hampir
semua organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut nadi
bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis, tonus otot
menunjukkan relaksasi yang dalam.
Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan seseorang
seperti periode neonatal bahwa tidur REM mewakili 50% dari
waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya masuk ke
fase REM tanpa melalui stadium 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan
pola berubah sehingga persentasi total tidur REM berkurang

84
sampai 40% hal ini sesuai dengan kematangan sel-sel otak,
kemudian akan masuk keperiode awall tidur yang didahului oleh
fase NREM kemudian fase REM pada dewasa muda dengan
distribusi fase tidur sebagai berikut:
a) NREM (75%) yaitu stadium 1: 5%; stadium 2 : 45%; stadium 3
: 12%; stadium 4 : 13%
b) REM; 25 %.
Fungsi Dan Tujuan Tidur
Fungsi dan tujuan masih belum diketahui secara jelas.
Meskipun demikian, tidur diduga bermanfaat untuk menjaga
keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan
Gangguan / Masalah Kebutuhan Tidur
a) Insomnia
Merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur
yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan
tidur yang hanya sebentar atau susah tidur.
b) Hipersomnia
Merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan.
Pada umumnya lebih dari Sembilan jam pada malam hari, yang
disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis,
depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati
dan gangguan metabolisme.
c) Parasomnia
Merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat
menggangu pola tidur seperti somnambulisme (berjalan – jalan
dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak – anak yaitu pada
tahap III dan IV dari tidur NREM.
d) Enuresis
Merupakan buang air kecil yang tidak sengaja pada waktu tidur
atau istilah lain dikenal dengan nama mengompol
e) Apnea Tidur dan Mendengkur

85
Mendengkur pada umumnya tidak termasuk gangguan dalam
tidur, tetapi mendengkur yang disertai dengan keadaan apnea
dapat menjadi masalah .

f) Narcolepsi
Merupakan keadaan tidur yang tidak dapat dikendalikan,
seperti saat seseorang tidur dalam keadaan berdiri,
mengemudikan kendaraan, atau tengan suatu pembicaraan.
g) Mengigau
Merupakan suatu gangguan tidur bila terjadi terlalu sering dan
diluar kebiasaan.
h) Gangguan Pola Tidur secara Umum
Merupakan suatu keadaan ketika individu mengalami atau
mempunyai risiko perubahan jumlah dan kualitas pola istirahat
yang menyebabkan ketidaknyamam atau menggangu gaya
hidup yang diinginkan (carpentio, LJ, 1995).

H. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL DAN RASA


NYAMAN (BEBAS NYERI)
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas. Setiap
manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan pendapat,
memberikan sesuatu kepada orang lain dan menrima sesuatu dari orang lain
atau lembaga tertentu. Hak tersebut dapat dimiliki oleh setiap orang. Dalam
menuntut suatu hak, tanggung jawab moral sangat diperlukan agar dapat
terjalin suatu ikatan yangmerupakan kontrak sosial, baik tesurat maupun yang
tersirat, sehingga segala sesuatunya dapat memberikan dampak positif.
Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula
dengan hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi
manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap negara/pemerintah

86
untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan
dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.

1. Hak – Hak Pasien


Hak pasien merupakan bagian dari hak manusia, mengingat hak
merupakan tuntutan secara rasional dalam situasi tertentu. Setiap manusia
mempuyai hak untuk dihargai sebagai manusia. Beberapa hak pasien
dalam pelayanan kesehatan, adalah sebagai berikut :
1) Hak mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, memadai dan
berkhualitas
2) Hak untuk diberikan informasi
3) Hak untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan
dan perawatan
4) Hak untuk diberikan informed consent
5) Hak untuk menolak suatu consent
6) Hak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang
menolong
7) Hak untuk mempunyai pendapat
8) Hak untuk diperlakukan secara hormat
9) Hak untuk konfidentialitas termasuk privasi
10) Hak untuk memilih integritas tubuh
11) Hak untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legal
12) Hak untuk mempertahankan kemuliaan (dignitas).
(Prihardjo, Robert 1995)
a. Peranan hak-hak.
1) Hak dapat digunakan sebagai pengekspresian kekuasaan dalam
konflik antara seseorang dengan kelompok
Contoh :

87
Seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai
hak untuk menginstruksikan pengobatan yang ia inginkan untuk
pasiennya. Disini terlihat bahwa dokter tersebut mengekspresikan
kekuasaannnya untuk menginstruksikan pengobatan terhadap
pasien, hal ini mmerupakan haknya selaku penanggung jawab
medis.
2) Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu
tindakan.
Contoh :
Seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya
mendapat kritikan karena terlalu lama menghabiskan waktunya
bersama pasien. Perawat tersebut dapat mengatakan bahwa ia
mempunyai hak untuk memberikan asuhan keperawatan yang
terbaik untuk pasien sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam hal ini, perawat tersebut mempunayi hak melakukan asuhan
keperawatan sesuai denga kondisi dan kebutuhan pasien.
3) Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Seseorang
seringkali dapat menyelesaikan suatu perselisihan dengan
menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang lain.
Contoh :
Seorang perawat menyarankan pada pasien agar tidak keluar
ruangan selama dihospitalisasi. Pada situasi tersebut pasien marah
karena tidak setuju dengan saran perawat dan pasien tersebut
mengatakan pada perawat bahwa ia juga mempunyai hak untuk
keluar dari ruanagan bilamana ia mau. Dalam hal ini, perawat
dapat menerima tindakan pasien sepanjang tidak merugikan
kesehatan pasien. Bila tidak tercapai kesepakatan karena
membatasi pasien, berarti ia mengingkari kebebasan pasien.
b. Jenis-Jenis Hak
1) Hak untuk memilih/kebebasan

88
Yaitu hak orang-orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya
dalam batas-batas yang telah ditentukan.
Contoh :
Seorang perawat wanita yang bekerja dirumah sakit dapat
mempergunakan seragam yang diiginkan (haknya) asalkan
berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas-batas. Batas-
batas ini merupakan kebijakan RS dan suatu norma yang
ditetapkan perawat.
2) Hak kesejahteraan
Yaitu hak-hak yang diberikan secara hukum untuk untuk hal-hal
yang merupakan standar keselamatan spesifik dalam suatu
bangunan atau wilayah tertentu.
Contoh :
Hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk
memperoleh air bersih, dan lain-lain.
3) Hal legislatif
Yaitu hak yang diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep
keadilan.
Contoh :
Seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan
semena-mena oleh suaminya.
Bandman dan Bandman (1986) menyatakan bahwa hak
legislatif mempunyai 4 peranan dimasyarakat yaitu membuat
peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap
peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau
menyelesaikan perselisihan. 5 syarat yang mempengaruhi
penentuan hak-hak seseorang (Bandman and Bandman, 1985)
a) Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih oleh
seseorang lain, orang yang bersangkutan tidak disalahkan atau
dihukum karena menggunakan atau tidak menggunakan hak
tersebut.

89
Contoh :
Pasien mempunyai hak untuk pengobatan yang ditetapkan oleh
dokter, tapi dia mempunyai hak untuk menerima atau menolak
pengobatan tersebut.
b) Seseorang mempunyai tugas untuk memberikan kemudahan
bagi orang lain untuk menggunakan hak-haknya.
Contoh :
Perawat mempunyai tugas untuk meyakinkan dan melindungi
hak paisen untuk mendapatkan pengobatan.
c) Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, yaitu
persamaan, tidak memihak dan kejujuran.
Contoh :
Semua pasien mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan
pengobatan dan perawatan.
d) Hak untuk dapat dilaksanakan.
Contoh :
Dibeberapa Rs, para penentu kebijakan mempunyai tugas untuk
memastikan bahwa pemberian hak-hak asasi manusia
dilaksanakan untuk semua pasien.
e) Apabila hak seseorang bersifat membahayakan, maka hak
tersebut dapat dikesampingkan atau ditolak dan orang tersebut
akan diberi kompensasi atau pengganti.
Contoh :
Apabila nama pasien tertunda dari jadwal pembedahan dengan
tidak disengaja, pasien dikompensasikan untuk ditempatkan
bagian tertas dari daftar pembedahan berikutnya (bila terjadi
kekeliruan).
Hak-hak pasien sekarang sudah sering dibicarakan,
tumbuh dari mata rantai pasal 25 The United Nations Universal
Declaration Of Human rights 1948; pasal 1 The United Nations
International Convention Civil and Political Rights 1966 yaitu :

90
1) Hak memperoleh pemeliharaan kesehatan (the right to
health care)
2) Hak menentukan nasib sendiri (the right to self
determination)
Kemudian dari Deklarasi Hesinki, oleh The 18th World
Medical Assembly, Finland 1964 muncul hak untuk
memperoleh informasi (the right to informasi). Ada 4 hak dasar
yang dikemukakan oleh John F. Kennedy (1962) yaitu :
1) Hak mendapatkan perlindungan keamanan
2) Hak mendapat informasi
3) Hak memilih
4) Hak mendengar
2. Kebutuhan Rasa Nyaman (Bebas Nyeri)
a. Pengertian
Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak
menyenangkan, bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri
berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan
hanya pada orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.
b. Fisiologi Nyeri
Munculnya nyeri sangay terkaitan erat dengan reseptor dan
adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor,
merupakan ujung – ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit
atau bahkan myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya
pada organ viresal, persendian, dinding arteri, hati dan kandung
empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya
stimulasi atau rangsangan.
c. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri secara umum di bagi menjadi dua, yakni nyeri
akut dan kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara

91
mendadak dan cepat menghilang, tidak melebihi 6 bulan dan ditandai
adanya peningkatan tegangan otot.
d. Stimulus Nyeri
Seseorang dapat menoleransi, menahan nyeri (pain tolerance)
atau dapat mengenali jumlah stimulasi nyeri sebelum merasakan nyeri
(pain threshold). Terdapat beberapa jenis stimulus nyeri, diantaranya :
1) Trauma pada jaringan tubuh
2) Gangguan pada jaringan tubuh
3) Tumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeri
4) Iskemia pada jaringan
5) Spasme otot.

I. INTAKE DAN OUTPUT


1. Intake Cairan
Selama aktivitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa
minum kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh
kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari
diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.

Tabel 2.1 kebutuhan intake cairan berdasarkan umur dan berat badan
No Umur BB (Kg) Kebutuhan Cairan
1 3 hari 3 250-300
2 1 tahun 9,5 1150-1300
3 2 tahun 11,8 1350-1500
4 6 tahun 20 1800-2000
5 10 tahun 28,7 2000-2500
6 14 tahun 45 2200-2700
7 18 tahun 54 2200-2700

Pengaturan utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus.


Pusat haus dikendalikan berada di otak sedangkan rangsangan haus
berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai
respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan

92
penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi
bersama dengan sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri.
Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi
oleh gastrointestinal.

2. Output Cairan
Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
a. Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekskresi melalui traktus
urinarius merupakan proses output cairantubuh yang utama. Dalam
kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau
sekitar 30-50 ml per jam pada orang dewasa. Pada orang yang sehat
kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila
aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan
menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam
tubuh.
b. IWL (Insesible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit. Melalui kulit dengan
mekanisme diffusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan
tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 ml per hari, tetapi
bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat
meningkat.
c. Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang
panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan
impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang
dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
d. Feses

93
Pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200 ml per hari,
yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus
besar (kolon).
Hal – hal yang perlu di perhatikan:
Rata-rata cairan per hari
1. Air minum : 1500-2500 ml
2. Air dari makanan :750 ml
3. Air dari hasil oksidasi atau metabolisme :200 ml
Rata- rata haluaran cairan per hari
1) Urin : 1400 -1500 ml
2) Iwl
a) Paru : 350 -400 ml
b) Kulit : 350 – 400 ml
3) Keringat : 100 ml
4. Feses : 100 -200 ml
Iwl
5. dewasa : 15 cc/kg BB/hari
6. anak : (30-usia{tahun}cc/kgBB/hari
7. jika ada kena
3. Mengukur Intake Dan Output
a. Definisi
Merupakan suatu tindakan mengukur jumlah cairan yang masuk ke
dalam tubuh (intake) dan mengukur jumlah cairan yang keluar dari
tubuh (out put).
b. Tujuan
a) Menentukan status keseimbangan cairan tubuh klien
b) Menentukan tingkat dehidrasi klien
c. Prosedur
a) Menentukan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh klien,
terdiri dari air minum, air dalam makanan, air hasil oksidasi
(metabolisme), cairan intra vena.

94
b) Menentukan jumlah cairan yang keluar dari tubuh klien, terdiri
dari urine, keringat, feses, muntah, insensible water loss (IWL).
c) Menentukan keseimbangan cairan tubuh klien dengan rumus :
INTAKE – OUTPUT
d) Mendokumentasikan

4. Perhitungan Intake & Output


Total TBW = 60% / BB (45%-75% / BB)
Cairan Tubuh dibagi :
1. Cairan Intraselular = 2/3 TBW (40%)
2. Cairan Ekstraseluler =
a) Cairan Intravasculer (plasma) = 5 %
b) Cairan Interstitial = 15 %
c) Cairan Transceluler = 1-3 %
Perbandingan CIS dengan CES
1. Dewasa = 2:1
2. Anak-Anak = 3:2
3. Bayi = 1:1
Jumlah Cairan Tubuh :
1. Dewasa = 45%-75% / BB
Pria = 60 %
Wanita = 55 %
2. Anak & Bayi = 75 %
Konsentrasi cairan elektrolit dihitung dengan
Rumus : M.Eq/L = Mg % x 10 x 1

95
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kebutuhan dasar pada manusia merupakan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh manusia dalam menjaga keseimbangan baik secara fisiologis
maupun psikologis. Hal ini tentunya bertujuan untuk mempertahankan
kehidupan dan kesehatan.
Prinsip Pemenuhan kebutuhan dasar manusia :
1. Homeostatis dan Homeodinamik
Homeostatis
Suatu proses yang terjadi secara terus-menerus untuk memelihara
stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.
Homeostatis merupakan mekanisme tubuh untuk mempertahankan
keseimbangan dalam menghadapai berbagai kondisi yang dialaminya.
Homeodinamik
Merupakan pertukaran energi antara manusia dan lingkungan
sekitarnya secara terus-menerus. Pada proses ini manusia tidak hanya
melakukan penyesuaian diri tetapi terus berinteraksi dengan lingkungan
agar mampu mempertahankan hidupnya.
2. Prinsip Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi
Kebutuhan oksigenasi merupakan salah satu kebutuhan dasar pada
manusia yaitu kebutuhan fisiologis. Pemenuhuan kebutuhan oksigenasi

96
ditujukan untuk menjaga kelangsungan metabolisme sel tubuh,
mempertahankan hidupnya, dan melakukan aktivitas bagi berbagai organ
atau sel.
3. Prinsip pemenuhan akan kebutuhan nutrisi
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah system
pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan organ asesoris.

4. Prinsip pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit


Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara
fisiologis kebutuhan ini memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh
dengan hampir 90% dari total berat badan.
5. Prinsip pemenuhan kebutuhan eliminasi
Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua, yakni eliminasi urine
(kebutuhanbuang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar)
6. Prinsip pemenuhan kebutuhan perawatan diri
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan
perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan
baik secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan perawatan diri
dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya : budaya, nilai sosial pada
individu atau keluarga, pengetahuan tentang perawatan diri, serta persepsi
terhadap perawatan diri.
7. Prinsip pemenuhan kebutuhan mekanika tubuh, posisi, ambulasi, mobilitas
Mekanika tubuh adalah usaha koordinasi dari musculoskeletal dan system
saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanina tubuh
dan pengaturan posisi tersebut merupakan cara menggunakan tubuh secara
efisien, yaitu tidak banyak mengeluarkan tenaga terkoordinir, serta aman
dalam menggerakkan dan mempertahankan keseimbangan selama
aktifitas.
8. Prinsip pemenuhan kebutuhan psikososial dan rasa nyaman (Bebas Nyeri)

97
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas.
Setiap manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan
pendapat, memberikan sesuatu kepada orang lain dan menrima sesuatu
dari orang lain atau lembaga tertentu. Hak tersebut dapat dimiliki oleh
setiap orang. Dalam menuntut suatu hak, tanggung jawab moral sangat
diperlukan agar dapat terjalin suatu ikatan yangmerupakan kontrak sosial,
baik tesurat maupun yang tersirat, sehingga segala sesuatunya dapat
memberikan dampak positif.
Hak-hak pasien dan perawat pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan
hak-hak manusia atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi
manusia tidak tanpa batas dan merupakan kewajiban setiap
negara/pemerintah untuk menentukan batas-batas kemerdekaan yang dapat
dilaksanakan dan dilindungi dengan mengutamakan kepentingan umum.
9. Intake Dan Output
Selama aktivitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-
kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml
per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari
makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.

B. Saran
Kebutuhan dasar pada manusia merupakan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh manusia dalam menjaga keseimbangan baik secara fisiologis
maupun psikologis. Hal ini tentunya bertujuan untuk mempertahankan
kehidupan dan kesehatan. Untuk itu diharapkan bagi calon bidan agar dapat
meningkatkan pelayanan pemenuhan kebutuhan manusia dikemudian hari.

98
DAFTAR PUSTAKA

masriahyahoed.files.wordpress.com/2010/08/materi-kdpk.docx

http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/asumsi-dasar-maslow-tentang-motivasi

http://jokoateng-jokoateng.blogspot.com/2009/05/kebutuhan-mekanika-tubuh-
dan-ambulasi.html

http://as-kep.blogspot.com/2009/06/ambulasi-dini.html

http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2009/12/intake-dan-output.html

http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2009/12/mengukur-intake-dan-
output.html

99