Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Tingginya angka kejahatan yang ada di tengah masyarakat seperti halnya
kebodohan, kemiskinan maupun kelaparan adalah suatu kondisi dimana negara ini
seddang sakit. Namun negara tidak selalu memikirkan mengapa, dan kenapa
kejahatan itu timbul, tapi selalu menyalahkan kepada masyarakat atas tindakan
tersebut seperti halnya menyalahkan aturan yang telah dibuat, walaupun
sesungguhnya kegiatan kejahatan itu adalah suatu penyambung bagi hidup
mereka.
Pada akhirnya semua kejahatan terus meningkat pada negara ini. Dalam
menyikapi kejahatan tersebut terkadang negara juga terlalu berlebihan dalam
menyikapinya. Seperti halnya pada kasus nenek minah yang hanya mencuri biji
kakau, padahal disatu segi yang lain terdapat kasus kasus yang amat lebih besar
seperti halnya para koruptor yang telah merugikan negara berjuta-juta bahkan
bermilyar-milyar uang negara yang jika dilihat penegakan hukumnya kurang
berdiri tegak dalam penerapannya.
Dalam kasus kasus tertentu keserupaan dan perbedaan di antara manusia
yang relevan bagi kritik atas tatanan hukum yang adil atau tidak adil sudah cukup
jelas, hal ini terutama terjadi ketika yang kita maksud bukan keadilan atau
ketidakadilan hukum melainkan penerapannya.1
Indonesia adalah negara yang berdasarkan kepada hukum (rechtaat),
hukum harus dijadikan panglima dalam menjalankan kehidupan bernegara dan
bermasyarakat, sehingga tujuan hakiki dari hukum bisa tercapai seperti keadilan,
kepastian dan ketertiban. Secara normatif hukum mempunyai cita-cita indah
namun didalam implentasinya hukum selalu menjadi mimpi buruk dan bahkan
bencana bagi masyarakat. Ketidaksinkronan antara hukum di dalam teori (law in
a book) dan hukum dilapangan (law in action) menjadi sebuah perdebatan yang

1
H.L.A Hart, Konsep Hukum, Nusamedia, 2010, hal. 248.

1
tidak kunjung hentinya. Terkadang untuk menegakkan sebuah keadilan menurut
hukum harus melalui proses-proses hukum yang tidak adil.
Sebagain besar hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum bekas
jajahan Belanda, banyak kaedah-kaedah dalam hukum tersebut tidak sesuai
dengan nilai-nilai yang ada di tengah-tengah masyarakat dan tidak mencerminkan
nilai-nilai keadilan. Hukum kolonial yang masih berlaku di Indonesia menganut
ajaran Positivisme. Hukum menurut aliran ini adalah apa yang menurut undang-
undang, bukan apa yang seharusnya. Atas dasar itu, hukum harus pula dibersihkan
dari anasir-anasir yang tidak yuridis seperti etis (penilaian baik dan buruk), politis
(subjektif dan tidak bebas nilai), sosiologis (terlepas dari kenyataan sosial).

2
BAB II
LANDASAN TEORI

Ditinjau dari teori Lower Class Culture kejahatan yang dilakukan oleh
nenek Minah merupakan kejahatan kelas bawah yang didasari oleh kesulitan
hidup, ketegaran, kemiskinan dan kebodohan. Nenek Minah mengambil biji kakau
bukan untuk menambah kekayaan dan bukan pula untuk bersenang-senang tetapi
digunakannnya untuk ditanam kembali dan hasilnya nanti digunakan untuk
memenuhi kehidupannya. Namun disatu sisi Indonesia merupakan negara hukum,
hukum harus ditegakkan.
Kasus nenek Minah merupakan sebuah gambaran umum mengenai
kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah yang harus
mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Jika ditinjau dari teori Karl
Max maka masyarakat hanya ada dua kelas, yakni :
a. Kelas Bawah: sekelompok orang yang tidak memiliki alat produksi,
bekerja pada sekelompok kecil orang pemilik alat produksi, mereka
selalu menginginkan upah yang tinggi.
b. Kelas Atas : sekelompok kecil orang yg memiliki alat produksi.
Mereka sll menginginkan keuntungan yang tinggi.2
Di Indonesia diberlakukan suatu kajian sosiologis terhadap hukum
karena Indonesia akan mengalami kesulitan untuk dapat memberikan penjelasan
hukum yang memuaskan terhadap kemelut yang tengah terrjadi di negeri ini. 3
Oleh sebab itu, penulis mencoba menganalisa kasus nenek Minah dari
teori Lower Class Cultur. Penulis mencoba menganalisa tindakan nenek Minah
mengambil buah kakau yang jatuh dari pohonnya di perusahaan tersebut ditinjau
dari premis-premis yang ada, dan untuk masalah ini masalah penegakan
hukumnya dicoba untuk sidingkirkan, karena fokus dari penulisan ini adalah
penyebab terjadinya kejahatan pada masyarakat kelas bawah.

2
Slide Sosiologi Hukum, Prof. Dr. Bambang Widodo Umar, hal. 50
3
Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, Kompas Gramedia, Jakarta, 2008, hal.
181

3
Dalam menganalisa kejahatan budaya kelas bawah, menurut Walter B
Miller ada enam premis yang dapat diajukan menjadi acuan dalam menganalisa
kejahatan budaya kelas bawah, yakni: Trouble / kesulitan, Toughness / kenekatan,
Smartness / kecerdikan, Excitement / kegembiraan yang berlebihan, Fate / nasib,
4
Autonomy / kemandirian.

4
http://ardon96.blogspot.com/

4
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisa
Kasus hukum nenek Minah yang sangat menarik untuk ditelaah, yakni
seorang nenek berumur 55 Tahun yang bernama Minah diganjar 1 bulan 15 hari
penjara karena menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di
perkebunan milik PT. Rumpun Sari Antan (RSA) adalah hal yang biasa saja.
Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai
di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan
Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah
ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao.
Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3
buah kakao yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian
memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3
buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja.
Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA.
Mandor itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos,
Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu
tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri.
Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan
berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia
serahkan kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali
bekerja. Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang.
Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi.
Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang
terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Majelis hakim
yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari
dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan
meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

5
Menurut aliran Sosiologis, hukum bukanlah norma-norma atau peraturan-
peraturan yang memaksa orang berkelakuan menurut tata tertib yang ada dalam
masyarakat, tetapi kebiasaan-kebiasaan orang dalam pergaulannya dengan orang
lain, yang menjelma dalam perbuatan atau perilakunya dimasyarakat.5
Dalam menganalisa kejahatan budaya kelas bawah, menurut Walter B
Miller ada enam premis yang dapat diajukan menjadi acuan dalam menganalisa
kejahatan budaya kelas bawah, dimana ke 6 premis tersebut bersifat alternatif
serta tidak berkesinambungan6. Adapun untuk kasus ini, Penulis hanya
memaparkan beberapa premis yang hanya berkaitan secara lansung. Adapun
premis pertama ialah :
1. Kesulitan (Trouble)
Kesulitan merupakan cirri utama kebudayaan kelas bawah. Konsep ini
punya aneka makna. Kesulitan merupakan situasi atau sejenis perilaku yang
disukai untuk membingungkan petugas atau agen dari kelas menengah.
Mendapatkan kesulitan dan keluar dari kesulitan mewakili isu utama bagi pria dan
wanita, dewasa dan anak.
Bagi nenek Minah mengambil buah kakau tersebut merupakan sebuah
kesulitan kehidupan yang dialaminya berupa kemiskinan. Untuk keluar dari
kemiskinan tesebut nenek Minah rela mengambil sesuatu yang bukan haknya,
karena apapun kesempatan yang ada didepan mata diambilnya tanpa harus
memikir panjang apa yang akan terjadi dikemudian hari.
2. Ketegaran
Konsep ketegaran pada kebudayaan kelas bawah digambarkan dengan
memiliki ketangguhan dan keberanian yang diukur dengan berani melawan
aturan-aturan yang ada. Pranata-pranata kehidupan yang ada tidak lagi berfungsi
secara maksimal sehingga untuk mendapatlkan tujuannya masyarakat kelas bawah
sering melanggar aturan-aturan tersebut. Pada kasus nenek Minah, nenek Minah
setelah mendapatkan teguran mengaku bersalah kepada Mandor perkebunan

5
idiysorhazmah.files.wordpress.com/2010/10/kasus-nenek-minah.doc
6
http://ardon96.blogspot.com/2009/05/kasus-penggusuran-di-jakarta-dalam.html

6
tersebut dan segera meminta maaf. Dari sini kita bisa melihat bahwa nenek Minah
sadar bahwa yang dilakukannya adalah salah.
3. Nasib/Takdir (Faith)
Kelompok yang merasa kehidupannya dikuasai oleh suatu kekuatan
besar merasa bahwa kehidupannya dikuasai oleh suatu kekuatan besar merasa
bahwa kehidupan ini sudah ditakdirkan sudah diatur kita tinggal menjalankannya
saja. Nasib sial dan mujur bagi individu kelas bawah tidak lansung disamakan
dengan kekuatan supernatural atau agama yang diorganisasikan secara formal.
Pemikirannya lebih banyak bertalian dengan kekuatan megis, sedang bernasib
mujur maka memang demikianlah adanya. Sikap pasrah dan menerima yang
dilakukan oleh nenek Minah yang ditampakkan oleh ekspresi wajahnya, karena
dia meyakini inilah takdir yang harus dijalaninya ketika mendapatkan kasus
hukum tersebut.
4. Otonomi (Authonomy)
Kontrol terhadap perilaku individu merupakan suatu yang penting
dalam kebudayaan. Bagi suatu kebuadayaan kelas bawah memiliki cirri khas
tersendiri dengan pola yang berbeda-beda. Kesenjangan antara apa yang dinilai
secara terbuka dengan apa yang diusahakan secara tertutup sering menonjol
dibidang ini. Pada tingkat terbuka ada cara penyelesaian yang digunakan melalui
control eksternal, sebagai pembatasan perilaku terhadap otoritas yang tidak adil.
Pada tingkat yang tertutup keinginan akan kebebasan pribadi dikendalikan melalui
kelembagaan. Hal ini menunjukkan disatu pihak mereka menghendaki kebebasan
pribadi, dilain pihak mencari lingkungan sosial restriktif di mana ada control
eksternal yang tetap terhadap perilaku mereka. Suatu kesenjangan yang sama
antara apa yang diinginkan secara terbuka dan tertutup ditemukan dalam bidang
dependensi dan independensi.
Pada kasus nenek Minah terdapat kurangnya otonomi, yakni disatu sisi
apa yang dilakukan oleh nenek Minah merupakan suatu yang hal yang wajar dan
tidak menjadi masalah sedangkan disatu sisi yang lain perbuatan nenek Minah
merupakan sebuah pelanggaran hukum, karena mengambil sesuatu yang bukan
milikinya. Hal ini harus dilakukan penekanan yang tegas bahwa mengambil buah

7
kakau yang terjatuh merupakan sebuah kejahatan karena mengambil bukan
haknya. Namun, dalam penyelesaian kasus nenek Minah harus dilakukan dengan
bijaksana.
Kerisauan otonomi dependensi terurai dengan kesulitan yang dikontrol
oleh kekuatan yang sering memaksa, sementara mereka itu berhadapan dengan
kekuatan penentu untuk menghambat, sehingga mereka berusaha untuk
menyelamatkan diri dengan bersikap acuh terhadap segala sesuatu yang ingin
membatasi perilakunya. Solusinya adalah menata perilaku sedemikian rupa oleh
seperangkat kontrol yang kuat untuk menghindari perlawanan.
Salah satu penyebab banyaknya terjadi kejahatan dikelas bawah ialah
kurang tegasnya aturan yang mengatur tentang kehidupan yang bermasyarakat,
hal ini disebabkan oleh kekurangtahuan yang disebabkan oleh kebodohan dan
kurangnya sosialisasi dan penegakan hukum dari aparat penegak hukum.
Sehingga masyarakat pada kelas bawah yang sedang terhimpit oleh kesulitan
hidup sering melakukan kejahatan-kejahatan dan merasa bahwa kejahatan yang
dilakukannya bukan merupakan sebuah perbuatan kejahatan.

8
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kasus nenek Minah sontak mencidrai rasa keadilan di tengah
masyarakat, sebab nenek Minah yang tak tau apa-apa tersebut harus berurusan
dengan hukum dan dijatuhi hukuman oleh hakim. Padahal apa yang diperbuat
oleh nenek Minah sangat tidak berbanding dengan sanksi yang diterimanya.
Seharusnya perkara-perkara kecil seperti ini tidak sampai ke pengadilan dan
cukup diselesaikan bawah, tetapi hukum berkata lain. Substansi hukum tidak lagi
mencerminkan keadilan ditengah masyarakat, hukum sudah jauh dari nilai-nilai
yang hidup ditengah masyarakat.
Ditinjau dari teori Lower Class Culture, tindakan nenek Minah bisa
dikategorikan sebagai kejahatan budaya kelas bawah, hal ini didasarkan dengan
kesamaan premis-premis pendukung dari teori tersebut dengan analisa mengenai
tindakan kajahatan yang dilakukan oleh nenek Minah.
Adapun premis-premis yang berkaitan lansung dengan kasus nenek Minah
ini ialah Kesulitan berupa kemiskinan dan desakan hidup, ketegaran berupa
berani melawan aturan-aturan yang ada, Nasib/ takdir berupa bersifat pasrah
dengan yang diterima serta otonomi berupa kurangya control eksternal maupun
internal dalam kehidupan nenek minah sehingga menganggap perbuatan yang
dilakukannya bukan merupakan sebuah pelanggaran terhadap nilai-nilai yang ada.
Secara idialnya perkembangan masyarakat harus diikuti oleh
perkembangan hukum. Dari kasus nenek Minah, penggunaan pranata hukum yang
tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat dan tidak mencerminan nilai-nilai
keadilan ditengah masyarakat hanya membawa ketidakadilan ditengah-tengah
masyarakat. Ditambah lagi dengan aparat penegak hukum yang masih berpola
pikir konservatif dalam menegakkan hukum. Hukum adalah hasil ciptaan
masyarakat, tapi sekaligus ia juga menciptakan masyarakat. Sehingga konsep

9
dalam berhukum seyogyanya adalah sejalan dengan perkembangan
masyarakatnya.7

7
Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum Makna Dialog Antara Hukum dan Masyarakat,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009, hlm. 242

10
DAFTAR PUSTAKA

H.L.A Hart, Konsep Hukum, Nusamedia, Bandung, 2010, hal. 248

Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, Kompas


Gramedia, Jakarta, 2008

Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum Makna Dialog Antara


Hukum dan Masyarakat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009

Slide Sosiologi Hukum, Prof. Dr. Bambang Widodo Umar.

ardon 96.blogspot.com

idiysorhazmah.files.wordpress.com/2010/10/kasus-nenek-minah.doc

11