Anda di halaman 1dari 5

Sejarah Munculnya Mu’tazilah

Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah,
antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin M
arwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Ba
shrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama
Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H
dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin
‘Ubaid (seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dala
m suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat F
iraq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821, Siyar A’lam An-Nubala, karya
Adz-Dzahabi, 5/464-465, dan Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48
)
Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan se
kian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku
filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah
manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi p
ada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah -pen). (Al-Mila
l Wan-Nihal, hal.29)
Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih
didahulukan daripada syariat (Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, pen) dan akal-lah seb
agai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal –menurut
persangkaan mereka– maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil. (L
ihat kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi ‘alal Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyr
ar, 1/65)
(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syar
iat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi pers
elisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal
itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tia
p-tiap umat dalam rangka membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana y
ang terdapat dalam An-Nahl: 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka
akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain
yang menunjukkan batilnya kaidah ini. Untuk lebih rincinya lihat kitab Dar’u Ta’arru
dhil ‘Aqli wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ash-Shawa’iq Al-
Mursalah ‘Alal-Jahmiyyatil-Mu’aththilah, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim.)
Mengapa Disebut Mu’tazilah?
Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri. Sebutan
ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan A
l-Bashri, salah seorang imam di kalangan tabi’in.
Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Ha
san Al-Bashri seraya berkata: “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita
ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dos
a tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya da
ri agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat to
leran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak
berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanl
ah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebag
aimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat
ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya
sebagai prinsip (dalam beragama)?”
Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum bel
iau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh: “Menurutku pe
laku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, bahkan ia berad
a pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir.” La
lu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menya
takan pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-H
asan Al-Bashri berkata: “ ” “Washil telah memisahkan diri dari kit
a dengan sebutan Mu’tazilah.(Al-Milal Wan-Nihal,hal.47-48 )
Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban Ahlus
sunnah Wal Jamaah: “Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) adalah s
eorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut
mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi ti
dak sempurna).” (Lihat kitab Lamhah ‘Anil-Firaq Adh-Dhallah, karya Asy-Syaikh Shalih
Al-Fauzan, hal.42)
Asas dan Landasan Mu’tazilah
Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahk
an di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.
Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan poko
k). Adapun rinciannya sebagai berikut:
Landasan Pertama: At-Tauhid
Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifa
t Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah meneta
pkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menuru
t mereka (Firaq Mu’ashirah, 2/832). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan A
hlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah).
Bantahan:
1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dalil ini sang
at lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang men
erangkan tentang kebatilannya. Adapun dalil sam’i: bahwa Allah mensifati dirinya s
endiri dengan sifat-sifat yang begitu banyak, padahal Dia Dzat Yang MahaTunggal.
Allah berfirman:
0 0
Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (
makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah Yang Maha Pengampu
n lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa
yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruuj: 12-16)
0 0 0
“Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan Menyempurnakan (pen
ciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-masing) dan Memberi Petunjuk,
Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan rerumputan itu kering kehitam-hita
man.” (Al-A’la: 1-5)
Adapun dalil ‘aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang
disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukka
n bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat
yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini
pasti mempunyai berbagai macam sifat … “ (Al-Qawa’idul-Mutsla, hal. 10-11)
2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq bukan
lah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam A
r-Risalah Al-Hamawiyah: “Menetapkan sifat-sifat Allah tidak termasuk meniadakan ke
sucian Allah, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhlu
k-Nya.” Bahkan ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan
yang meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyi
rikan. Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dah
ulu menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Lebih dari itu, ketik
a mereka meniadakan sifat-sifat Allah yang sempurna itu, sungguh mereka menyamak
an Allah dengan sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tid
ak mungkin sesuatu itu ada namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena
itu Ibnul-Qayyim rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan ‘Abidu
l-Ma’duum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). (Untuk lebih rincinya lihat
kitab At- Tadmuriyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal.79-81)
Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Mu’aththilah, dan peny
embah sesuatu yang tidak ada wujudnya.
Landasan kedua: Al-‘Adl (keadilan)
Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu data
ng dari Allah, sedangkan kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (mas
yi’ah) Allah . Dalilnya adalah firman Allah :
“Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205)
“Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)
Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisah
kan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghe
ndaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya). Oleh karena itu mereka
menamakan diri dengan Ahlul-‘Adl atau Al-‘Adliyyah.
Bantahan:
Asy-Syaikh Yahya bin Abil-Khair Al-‘Imrani t berkata: “Kita tidak sepakat bahwa kesu
kaan dan keinginan itu satu. Dasarnya adalah firman Allah :
“Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 32)
Padahal kita semua tahu bahwa Allah-lah yang menginginkan adanya orang-orang kaf
ir tersebut dan Dialah yang menciptakan mereka. (Al-Intishar Firraddi ‘Alal- Mu’tazi
latil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/315)
Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwasanya apa yang dikehendaki dan dikerja
kan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan-Nya. Allah berfirman:
“Dan kalian tidak akan mampu menghendaki (jalan itu), kecuali bila dikehendaki All
ah.” (Al-Insan: 30)
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang kalian perbuat.” (Ash-Shaaffaat:
96)
Dari sini kita tahu, ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai kedok
untuk mengingkari kehendak Allah yang merupakan bagian dari taqdir Allah . Atas d
asar inilah mereka lebih pantas disebut dengan Qadariyyah, Majusiyyah, dan orang
-orang yang zalim.
Landasan Ketiga: Al-Wa’du Wal-Wa’id
Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah I untuk mem
enuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah,
dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah
syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak bo
leh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyya
h.
Bantahan:
1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan pahalanya (se
perti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan tidaklah p
antas bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu kepada Allah , karena terma
suk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan terhadap firma
n-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji (-Nya).” (Ali ‘Imran: 9)
Bahkan Allah mewajibkan bagi diri-Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba
-Nya.
Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa besarnya (di
bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan
kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-Nya dan Maha berhak p
ula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha
Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terlebih lagi Dia telah menyatakan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal du
nia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bag
i siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48) (Diringkas dari kitab Al-Intishar Fir
raddi ‘Alal-Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 3/676, dengan beberapa tambahan).
2. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abad
i di An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa a
yat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah r yang artinya: “Tel
ah datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari
umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya aka
n masuk ke dalam al-jannah.” Aku (Abu Dzar) berkata: “Walaupun berzina dan mencuri?” B
eliau menjawab: “Walaupun berzina dan mencuri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shah
abat Abu Dzar Al-Ghifari)
(Meskipun mungkin mereka masuk neraka lebih dahulu (ed).)
Landasan Keempat: Suatu keadaan di antara dua keadaan
Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tin
gkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik)
maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berad
a pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).
Bantahan:
1.Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berk
urang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :
“Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah keimanan mereka
.” (Al-Anfal: 2)
Dan juga firman-Nya:
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) a
da yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya)
surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sed
ang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada
penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafiran
nya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 124-125)
Dan firman-Nya:
“Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam Al-Jann
ah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya
Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntun
gan yang besar di sisi Allah.” (Al-Fath: 4)
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan tidaklah
Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang ka
fir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang
beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang
-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): ‘Apakah yang dikehendaki Allah denga
n bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-ora
ng yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar i
tu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (Al-Muddatstsir: 31)
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-o
rang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menye
rang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimana
n mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adal
ah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana
Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menj
awab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)…” (
Al-Baqarah: 260)
Rasulullah bersabda: “Keimanan itu (mempunyai) enam puluh sekian atau tujuh puluh
sekian cabang/tingkat, yang paling utama ucapan “Laa ilaaha illallah”, dan yang pali
ng rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman
.” (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah z)
2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan
dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin namun kurang iman,
karena Allah masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini term
asuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firm
an-Nya:
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur, maka da
maikanlah antara keduanya…” (Al-Hujurat: 9)
Landasan Kelima: Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah
(muslim) yang zalim.
Bantahan:
Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang b
ertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil a
mri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59)
Rasulullah r bersabda: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti p
etunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka
yang berhati setan namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah,
apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau me
ndengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu d
iambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman) [Untuk lebih rincinya,
lihat majalah Asy–Syari’ah edisi Menyikapi Kejahatan Penguasa]
Sesatkah Mu’tazilah?
Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al Qur’an dan A
s-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu bagaimana
bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka punyai, seperti:
- Mendahulukan akal daripada Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ Ulama.
- Mengingkari adzab kubur, syafa’at Rasulullah untuk para pelaku dosa, ru’yatullah (
dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat, Ash-Shirath (
jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga Rasulullah di pada
ng Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah diciptakannya Al-Jannah dan A
n-Naar (saat ini), turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, hadits ahad (sel
ain mutawatir), dan lain sebagainya.
- Vonis mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertemp
uran Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabi’in), bahwa mereka adalah o
rang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Dan engka
u sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak mukmin dan
juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-naar.
- Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan kesy
irikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam (berbicara) bagi Allah denga
n sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa A
l-Qur’an itu makhluq, bukan Kalamullah. Demikian pula mereka mentakwil sifat Istiw
aa’ Allah dengan sifat Istilaa’ (menguasai).
Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan, mengapa mer
eka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa’ bagi Allah?! (Lihat kitab Al-Intishar
Firraddi Alal-Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, Al-Milal Wan-Nihal, Al-Ibanah ‘an U
shulid-Diyanah, Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah dan Ash-Shawa’iq Al-Mursalah ‘alal Jah
miyyatil-Mu’aththilah)
Para pembaca, betapa nyata dan jelasnya kesesatan kelompok pemuja akal ini. Oleh
karena itu Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ari (yang sebelumnya sebagai tokoh Mu’tazilah)
setelah mengetahui kesesatan mereka yang nyata, berdiri di masjid pada hari Jum’a
t untuk mengumumkan baraa’ (berlepas diri) dari madzhab Mu’tazilah. Beliau melepas p
akaian yang dikenakannya seraya mengatakan: “Aku lepas madzhab Mu’tazilah sebagaiman
a aku melepas pakaianku ini.” Dan ketika Allah beri karunia beliau hidayah untuk m
enapak manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, maka beliau tulis sebuah kitab bantahan un
tuk Mu’tazilah dan kelompok sesat lainnya dengan judul Al-Ibanah ‘an Ushulid-Diyanah
. (Diringkas dari kitab Lamhah ‘Anil-Firaq Adh-Dhallah, hal. 44-45).
Wallahu a’lam bish-shawab.