Anda di halaman 1dari 21

Fungsi Dan Tujuan Komunikasi

Fungsi Dan Tujuan Komunikasi

Fungsi komunikasi menurut Harol D. Lasswell adalah sebagai berikut :


The surveillance of the environment, fungsi komunikasi adalah untuk mengumpulkan dan
menyebarkan informasi mengenai kejadian dalam suatu lingkungan (kalau dalam media
massa hal ini sebagai penggarapan berita).
The correlation of correlation of the parts of society in responding to the environment,
dalam hal ini fungsi komunikasi mencakup interpretasi terhadap informasi mengenai
lingkungan (disini dapat diidentifikasi sebagai tajuk rencana atau propaganda).
The transmission of the social heritage from one generation to the next, dalam hal ini
transmission of culture difocuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai-
nilai, dan norma sosial dari suatu generasi ke generasi lain.
Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi-dimensi Komunikasi mempunyai pendapat
sebagai berikut :
Public Information♣
Publik Education♣
Publik Persuasion♣
♣ Publik Entertainment
Ad.
1. Memberikan informasi kepada masyarakat. Karena perilaku menerima informasi
merupakan perilaku alamiah masyarakat. Dengan menerima informasi yang benar
masyarakat akan merasa aman tentram. Informasi akurat diperlukan oleh beberapa bagian
masyarakat untuk bahan dalam pembuatan keputusan. Informasi dapat dikaji secara
mendalam sehingga melahirkan teori baru dengan demikian akan menambah
perkembangan ilmu pengetahuan. Informasi disampaikan pada masyarakat melalui
berbagai tatanan komunikasi, tetapi yang lebih banyak melalui kegiatan mass
communication .
2. Mendidik masyarakat. Kegiatan komunikasi pada masyarakat dengan memberiakan
berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, lebih maju, lebih
berkembang kebudayaannya. Kegiatan mendidik masyarakat dalam arti luas adalah
memberikan berbagai informasi yang dapat menambah kemajuan masyarakat dengan
tatanan komunikasi massa. Sedangkan kegiatan mendidik masyarakat dalam arti sempit
adalah memberikan berbagai informasi dan juga berbagai ilmu pengetahuan melalui
berbagai tatanan komunikasi kelompok pada pertemuan-pertemuan, kelas-kelas, dan
sebagainya. Tetapi kegiatan mendidik masyarakat yang paling efektif adalah melalui
kegiatan Komunikasi Interpersonal antara penyuluh dengan anggota masyarakat, antara
guru dengan murid, antara pimpinan dengan bawahan, dan antara orang tua dengan anak-
anaknya.
3. Mempengaruhi masyarakat. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat
juga dapat dijadikan sarana untuk mempengaruhi masyarakat tersebut ke arah perubahan
sikap dan perilaku yang diharapkan. Misalnya mempengaruhi masyarakat untuk
mendukung suatu pilihan dalam pemilu dapat dilakukan melalui komunikasi massa dalam
bentuk kampanye, propaganda, selebaran-selebaran, spanduk dan sebagainya. Tetapi
berdasarkan beberapa penelitian kegiatan mempengaruhi masyarakat akan lebih efektif
dilakukan melalui Komunikasi Interpersonal.
4. Menghibur masyarakat. Perilaku masyarakat menerima informasi selain untuk
memenuhi rasa aman juga menjadi sarana hiburan masyarakat. Apalagi pada masa
sekarang ini banyak penyajian informasi melalui sarana seni hiburan.

Selanjutnya tujuan dari komunikasi adalah seperti yang dikemukakan oleh Dan B. Curtis
dalam buku Komunikasi Bisnis Profesional sebagai berikut :
Memberikan informasi, kepada para klien, kolega, bawahan dan penyelia (supervisor)
Diberi informasi, karena perilaku diberi informasi merupakan bentuk interaksi
komunikasi. Orang atau masyarakat cenderung merasa lebih baik diberi informasi yang
diperlukannya atau yang akan diberi jalan masuk menuju informasi tersebut yang
merupakan bagian dari keadaan percaya dan rasa aman.
Menolong orang lain, memberikan nasihat kepada orang lain, ataupun berusaha
memotivasi orang lain dalam mencapai tujuan.
Menyelesaikan masalah dan membuat keputusan, karena semakin tinggi
kedudukan/status seseorang maka semakin penting meminta orang lain untuk keahlian
teknis sehingga dalam menyelesaikan masalah/membuat keputusan tersebut harus ada
komunikasi untuk meminta data sebagai bahan pertimbangan.
Mengevaluasi perilaku secara efektif, yaitu suatu penilaian untuk mengetahui hal-hal
yang akan mereka lakukan setelah menerima massege. (1992 : 9)
Sementara itu menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku Dimensi – dimensi
Komunikasi tujuan komunikasi adalah sebagai berikut :
Social Change♣ / Social Participation.
Attitude Change.♣
Opinion Change♣
♣ Behaviour Change

1. Perubahan Sosial dan partisipasi sosial. Memberikan berbagai informasi pada


masyarakat tujuan akhirnya supaya masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap
tujuan informasi itu disampaikan. Misalnya supaya masyarakat ikut serta dalam pilihan
suara pada pemilu atau ikut serta dalam berperilaku sehat, dan sebagainya.
2. Perubahan Sikap. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan
tujuan supaya masyarakat akan berubah sikapnya. Misalnya kegiatan memberikan
informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti pola
hidup sehat dan sikap masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat.
3. Perubahan pendapat. Memberikan berbagai informasi pada masyarakat tujuan akhirnya
supaya masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu
disampaikan, misalnya dalam informasi mengenai pemilu. Terutama informasi mengenai
kebijakan pemerinatah yang biasanya selalu mendapat tantangan dari masyarakat maka
harus disertai penyampaian informasi yang lengkap supaya pendapat masyarakat dapat
terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.
4. Perubahan perilaku. Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan
tujuan supaya masyarakat akan berubah perilakunya. Misalnya kegiatan memberikan
informasi mengenai hidup sehat tujuannya adalah supaya masyarakat mengikuti pola
hidup sehat dan perilaku masyarakat akan positif terhadap pola hidup sehat atau
mengikuti perilaku hidup sehat.
Tujuan Komunikasi
Tujuan Komunikasi. Ada empat tujuan atau motif komunikasi yang perlu dikemukakan di sini. Motif
atau tujuan ini tidak perlu dikemukakan secara sadar, juga tidak perlu mereka yang terlibat menyepakati
tujuan komunikasi mereka. Tujuan dapat disadari ataupun tidak, dapat dikenali ataupun tidak. Selanjutnya,
meskipun. teknologi komunikasi berubah dengan cepat dan drastis (kita mengirimkan surat elektronika,
bekerja dengan komputer, misalnya) tujuan komunikasi pada dasarnya tetap sama, bagaimanapun hebatnya
revolusi elektronika dan revolusi-revolusi lain yang akan datang. (Arnold dan Bowers, 1984; Naisbit.1984).

a. Menemukan Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri (personal discovery) Bila
anda berkomunikasi dengan orang lain, anda belajar mengenai diri sendiri selain juga tentang orang lain.
Kenyataannya, persepsi-diri anda sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah anda pelajari tentang diri
sendiri dari orang lain selama komunikasi, khususnya dalam perjumpaan-perjumpaan antarpribadi.
Dengan berbicara tentang diri kita sendiri dengan orang lain kita memperoleh umpan balik yang berharga
mengenai perasaan, pemikiran, dan perilaku kita. Dari perjumpaan seperti ini kita menyadari, misalnya
bahwa perasaan kita ternyata tidak jauh berbeda dengan perasaan orang lain. Pengukuhan positif ini
membantu kita merasa "normal."
Cara lain di mana kita melakukan penemuan diri adalah melalui proses perbandingan sosial, melalui
perbandingan kemampuan, prestasi, sikap, pendapat, nilai, dan kegagalan kita dengan orang lain. Artinya,
kita mengevaluasi diri sendiri sebagian besar dengan cara membanding diri kita dengan orang lain.
Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita
ajak bicara. Tetapi, komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar—dunia yang
dipenuhi objek, peristiwa, dan manusia lain. Sekarang ini, kita mengandalkan beragam media komunikasi
untuk mendapatkan informasi tentang hiburan, olahraga, perang, pembangunan ekonomi, masalah
kesehatan dan gizi, serta produk-produk baru yang dapat dibeli. Banyak yang kita peroleh dari media ini
berinteraksi dengan yang kita peroleh dari interaksi antarpribadi kita. Kita mendapatkan banyak informasi
dari media, mendiskusikannya dengan orang lain, dan akhirnya mempelajari atau menyerap bahan-bahan
tadi sebagai hasil interaksi kedua sumber ini.

b. Untuk berhubungan
Salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah berhubungan dengan orang lain (membina dan memelihara
hubungan dengan orang lain). Kita ingin merasa dicintai dan disukai, dan kemudian kita juga ingin
mencintai dan menyukai orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi kita untuk
membina dan memelihara hubungan sosial. Anda berkomunikasi dengan teman dekat di sekolah, di kantor,
dan barangkali melalui telepon. Anda berbincang-bincang dengan orangtua, anak-anak, dan saudara anda.
Anda berinteraksi dengan mitra kerja.

c. Untuk meyakinkan Media masa ada sebagian besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan
perilaku kita. Media dapat hidup karena adanya dana dari iklan, yang diarahkan untuk mendorong kita
membeli berbagai produk. Sekarang ini mungkin anda lebih banyak bertindak sebagai konsumen
ketimbang sebagai penyampai pesan melalui media, tetapi tidak lama lagi barangkali anda-lah yang akan
merancang pesan-pesan itu—bekerja di suatu surat kabar, menjadi editor sebuah majalah, atau bekerja pada
biro iklan, pemancar televisi, atau berbagai bidang lain yang berkaitan dengan komunikasi. Tetapi, kita
juga menghabiskan banyak waktu untuk melakukan persuasi antarpribadi, baik sebagai sumber maupun
sebagai penerima. Dalam perjumpaan antarpribadi sehari-hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku
orang lain. Kita berusaha mengajak mereka melakukan sesuatu, mencoba cara diit yan baru, membeli
produk tertentu, menonton film, membaca buku, rnengambil mata kuliah tertentu, meyakini bahwa sesuatu
itu salah atau benar, menyetujui atau mengecam gagasan tertentu, dan sebagainya. Daftar ini bisa sangat
panjang. Memang, sedikit saja dari komunikasi antarpribadi kita yang tidak berupaya mengubah sikap atau
perilaku.

d. Untuk bermain Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri.
Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula
banyak dari perilaku komunikasi kita dirancang untuk menghibur orang lain (menceritakan lelucon
mengutarakan sesuatu yang baru, dan mengaitkan cerita-cerita yang menarik). Adakalanya hiburan ini
merupakan tujuan akhir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang Iain
sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain.

Tentu saja, tujuan komunikasi bukan hanya ini; masih banyak tujuan komunikasi yang lain. Tetapi keempat
tujuan yang disebutkan di atas tampaknya merupakan tujuan-tujuan yang utama. Selanjutnya tidak ada
tindak komunikasi yang didorong hanya oleh satu faktor; sebab tunggal tampaknya tidak ada dunia ini.
Oleh karenanya, setiap komunikasi barangkali didorong oleh kombinasi beberapa tujuan bukan hanya satu
tujuan.

TINGKATAN KOMUNIKASI
Posted on Februari 21, 2009 by imron rosyidi
Tingkatan Komunikasi dibagi dalam 3 tingkatan.
1. Komunikasi intra personal
2. Komunikasi interpersonal
3. Komunikasi massa
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri, berusaha mengenal
diri sendiri dan segala konsep diri yang melingkupinya, menyanyakan kepada diri sendiri
tentang segala hal yang ingin dia ketahui terkait dengan keinginan, kebutuhan dll.
Metode
Refleksi : menanyakan kepada diri sendiri apakah tujuan hidup sudah tercapai atau
belum, apakah hal yang direncanakan mampu dilaksanakan dengan baik
Renungan : melakukan tanya jawab atau dialog dengan diri sendiri apa yang sudah
dilakukan, apakah hidup sudah seperti yang diinginkan dll
Curhat/diary : menuliskan semua perasaan yang ada dalam hati kedalam bentuk tulisan
privat sehingga bisa direnungi, dianalisa masalah apa yang terjadi dan bagaimana
memecahkan masalah tersebut.
Kontemplasi : berdialog dengan diri sendiri, apakah diri sudah sesuai dengan konsep
yang diterima masyarakat atau belum.
Komunikasi Interpersonal adalah berkomunikasi dengan orang lain secara face to face
maupun dalam kelompok.
Metode
Komunikasi searah : pembicara memberikan sebuah informasi dan pendengar
menyimak informasi tanpa memberikan pertanyaan, argumentasi maupun sanggahan
Komunikasi dua arah : pembicara dan pendengar saling melakukan aksi reciprokal atau
saling berbalasan, saling bertukar peran, pendengar terkadang memberi informasi,
pembicara terkadang mendengarkan
Syarat komunikasi interpersonal yang baik.
Good Listener : mendengarkan orang lain untuk memberi kesempatan mereka
mengungkapkan ide atau pemikiran
Intonasi : beri irama dalam setiap ucapan sehingga kata – kata mampu diserap dan
dicerna oleh pendengar
Empati : memperhatikan respon emosi orang lain, jangan terlalu banyak humor jika
lawan bicara sedang sedih atau sebaliknya.
Humor : menyegarkan hubungan dengan sebuah suasana yang fresh dan tidak terkesan
formal.
Komunikasi Massa : menyampaikan informasi kepada beberapa orang di sebuah situasi
yang sengaja diciptakan.
Syarat
Positioning : menguasai posisi dimana harus berdiri, kapan harus mendekat, kapan harus
menjauh, membuat perubahan posisi di depan, ditengah maupun dibelakang.
Volume Suara : ucapan yang dikeluarkan mampu didengarkan oleh orang – orang dalam
massa tersebut.
Bahasa Tubuh : jangan terlalu banyak mengekplorasi bahasa tubuh yang tidak perlu.
Motivasi : gunakan kata – kata atau bahasa yang inspiratif maupun membangkitkan
motivasi, bahkan dalam suasana belajar mengajar sekalipun, memotivasi orang lain
sekalipun merupakan sebuah hal perlu dipertimbangkan.

Definisi Komunikasi dan Tingkatan Proses Komunikasi


Kapita Selekta Komunikasi
Kuliah 1

Dosen : Drs. Riswandi, M.Si.


Definisi komunikasi
Kata atau istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “communication”) berasal dari
Bahasa Latin “communicatus” yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik
bersama”.Dengan demikian, kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu
pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan.Menurut
Webster New Collogiate Dictionary dijelaskan bahwa komunikasi adalah “suatu
proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-
lambang, tanda-tanda atau tingkah laku”. Berikut ini adalah bebarapa definsi
tentang ilmu komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai
berikut :Hovland, Janis & Kelley Komunikasi adalah suatu proses melalui mana
seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-
kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya
(khalayak.Berelson & Steiner Komunikasi adalah suatu proses penyampaian
informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-
simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, dan lain-lain.
Harold Lasswell Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang
menjelaskan “siapa” “mengatakan “apa” “dengan saluran apa”, “kepada siapa” ,
dan “dengan akibat apa” atau “hasil apa”.(who says what in which channel to
whom and with what effect).
Barnlund Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk
mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau
memperkuat ego.
Weaver Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang
dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.
Gode Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula yang
dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang
atau lebih.
Dari berbagai definisi tentang ilmu komunikasi tersebut di atas, terlihat bahwa
para ahli memberikan definisinya sesuai dengan sudut pandangnya dalamelihat
komunikasi. Masing-masing memberikan penekanan arti, ruang lingkup, dan
konteks yang berbeda.Hal ini menunjukkan bahwa, ilmu komunikasi sebagai
bagian dari ilmu sosial adalah suatu ilmu yang bersifat multi-disipliner. Definisi
Hovland Cs, memberikan penekanan bahwa tujuan komunikasi adalah
mengubah atau membentuk perilaku.Definisi Berelson dan Steiner, menekankan
bahwa komunikasi adalah proses penyampaian, yaitu penyampaian informasi,
gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain.Definisi Lasswell, secara eksplisit dan
kronologis menjelaskan tentang
lima komponen yang terlibat dalam komunikasi, yaitu :- siapa (pelaku
komunikasi pertama yang mempunyai inisiatif atau sumber.- mengatakan apa
( isi informasi yang disampaikan)
- kepada siapa (pelaku komunikasi lainnya yang dijadikan sasaran penerima)
- melalui saluran apa (alat/saluran penyampaian informasi)
- dengan akibat/hasil apa (hasil yang terjadi –pada diri penerima)
Definisi Lasswell ini juga menunjukkan bahwa komunikasi itu adalah suatu upaya
yang disengaja serta mempunyai tujuan. Definisi Gode, memberi penekanan
pada proses penularanpemilikan, yaitu dari yang semula (sebelum komunikasi)
hanya dimiliki oleh satu orang kemudian setelah komunikasi menjadi dimiliki oleh
dua orang atau lebih.Definisi Barnlund, menekankan pada tujuan komunikasi,
yaitu untuk mengurangi ketidakpastian, sebagai dasar bertindak efektif, dan
untuk mempertahankan atau memperkuat ego.
Berdasarkan definisi-definisi tentang komunikasi tersebut di atas, dapat diperoleh
gambaran bahwa komunikasi mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut

Komunikasi adalah suatu proses Komunikasi sebagai suatu proses artinya


bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi
secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya
dalam kurun waktu tertentu.
Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan.
Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja,
serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.
Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang
terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang
berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama
mempunyai perhatian yang samaterhadap topik pesan yang disampaikan.
Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan
yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling
umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam
bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua
tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu
dilakukan secara seimbang atau porsional.
Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para
peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu
serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi
seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi
menjadi masalah dalam berkomunikasi.

Tingkatan Proses Komunikasi


Menurut Denis McQuail, secara umum kegiatan/proses komunikasi dalam
masyarakat berlangsung dalam 6 tingkatan sebagai berikut :
Komunikasi intra-pribadi (intrapersonal communication Yakni proses
komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi
melalui pancaindra dan sistem syaraf.Contoh : berpikir, merenung, menggambar,
menulis sesuatu, dll.
Komunikasi antar-pribadi Yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara
langsung antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka,
korespondensi, percakapan melalui telepon, dsbnya.
Komunikasi dalam kelompok Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung di
antara suatu kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang terlibat masing-
masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam
kelompok. Pesan atau informasi yang disampaikan juga menyangkut
kepentingan seluruh anggota kelompok, bukan bersifat pribadi.Misalnya,
ngobrol-ngobrol antara ayah, ibu, dan anak dalam keluarga, diskusi guru dan
murid di kelas tentang topik bahasan, dsbnya.
Komunikasi antar-kelompok/asosiasi Yakni kegiatan komunikasi yang
berlangsung antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Jumlah pelaku
yang terlibat boleh jadi hanya dua atau beberapa orang, tetapi masing-masing
membawa peran dan kedudukannya sebagai wakil dari kelompok/asosiasinya
masing-masing.
Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi mencakup kegiatan komunikasi
dalam suatu organisasi dan komunikasi antar organisasi.Bedanya dengan komunikasi
kelompok adalah bahwa sifat organisasi organisasi lebih formal dan lebih
mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melakukan kegiatan
komunikasinya.
Komunikasi dengan masyarakat secara luas Pada tingkatan ini kegiatan
komunikasi ditujukan kepada masyarakat luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat
dilakukan melalui dua cara :Komunikasi massa Yaitu komunikasi melalui media
massa seperti radio, surat kabar, TV, dsbnya.Langsung atau tanpa melalui
media massa Misalnya ceramah, atau pidato di lapangan terbuka.

Definisi Media Komunikasi dan Fungsinya


Posted on M Baitul Alim on November 23, 2010

Secara sederhananya, media komunikasi ialah perantara dalam


penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikate yang bertujuan untuk
efisiensi penyebaran informasi atau pesan tersebut. Sedangkan fungsi media komunikasi
yang berteknologi tinggi ialah sebagai berikut (Burgon & Huffner, 2002);
1. Efisiensi penyebaran informasi; dengan adanya media komunikasi terlebih yang
hi-tech akan lebih membuat penyebaran informasi menjadi efisien. Efisiensi yang
dimaksudkan di sini ialah penghematan dalam biaya, tenaga, pemikiran dan
waktu. Misalnya, kita memberikan ucapan selamat hari raya Idul Fitri atau Natal
cukup melalui SMS, MMS, e-mail, mailist dan media canggih lainnya. Hal ini
lebih disukai karena nilai praktisnya jika dibandingkan dengan mengirimkan kartu
lebaran atau kartu Natal dengan waktu yang lebih lama. Namun apakah cukup
efektif?
2. Memperkuat eksistensi informasi; dengan adanya media komunikasi yang hi-tech,
kita dapat membuat informasi atau pesan lebih kuat berkesan terhadap audience/
komunikate. Suatu contoh, dosen yang mengajar dengan multimedia akan lebih
efektif berkesan daripada dosen yang mengajar secara konvensional.
3. Mendidik/ mengarahkan/ persuasi; media komunikasi yang berteknologi tinggi
dapat lebih menarik audience. Sebagaimana kita pelajari pada bab sebelumnya
tentang komunikasi persuasi maka hal yang menarik tentunya mempermudah
komunikator dalam mempersuasi, mendidik dan mengarahkan karena adanya efek
emosi positif.
4. Menghibur/ entertain/ joyfull; media komunikasi berteknologi tinggi tentunya
lebih menyenangkan (bagi yang familiar) dan dapat memberikan hiburan
tersendiri bagi audience. Bahkan jika komunikasi itu bersifat hi-tech maka nilai
jualnya pun akan semakin tinggi. Misalnya, presentasi seorang marketing akan
lebih mempunyai nilai jual yang tinggi jika menggunakan media komunikasi hi-
tech daripada presentasi yang hanya sekedar menggunakan metode konvensional.
5. Kontrol sosial; media komunikasi yang berteknologi tinggi akan lebih mempunyai
fungsi pengawasan terhadap kebijakan sosial. Seperti misalnya, informasi yang
disampaikan melalui TV dan internet akan lebih mempunyai kontrol sosial
terhadap kebijakan pemerintah sehingga pemerintah menjadi cepat tanggap
terhadap dampak kebijakan tersebut. Masih ingat kasus facebookers pendukung
Bibit & Chandra?

Model-Model Komunikasi
MODEL-MODEL KOMUNIKASI
TEORI – TEORI KOMUNIKASI PADA TAHAP AWAL
Menurut Effendy (2003) teori dan model komunikasi yang tampil pada tahun awal sekitar
dekade 1940-an dan 1950-an adalah sebagi berikut :
1. Lasswell’s Model (Model Lasswell)
Teori komunikasi yang dianggap paling awal (1948). Lasswell menyatakan bahwa cara
yang terbaik untuk menerangkan proses komunikasi adalah menjawab pertanyaan : Who
says in which channel to whom with what effect (Siapa mengatakan apa melalui saluran
apa kepada siapa dengan efek apa). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik : Lasswell itu
merupakan unsur-unsur proses komunikasi yaitu Communicator (komunikator), Message
(pesan), Media (media), Receiver (komunikan/penerima), dan Effeck (efek).
Adapun fungsi komunikasi menurut Lasswell adalah sebagai berikut :
The surveillance of the environment (pengamatan lingkungan)
The correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi
kelompok-kelompok dalam masyarakat ketika menanggapi lingkungan).
The transmission of the social heritage from one generation to the next (transmisi warisan
sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain).
2. S-O-R Theory (Teori S-O-R)
Teori S-O-R singkatan dari Stimulus-Organism-Response ini semua berasal dari
psikologi. Objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama yaitu manusia
yang jiwanya meliputi komponen-komponen : sikap, opini, perilaku, kognisi afeksi dan
konasi.
Menurut stimulus response ini efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap
stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian
antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini adalah ;
Pesan (stimulus, S)
Komunikan (organism, O)
Efek (Response, R)
Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat berubah, hanya jika stimulus
yang menerpa benar-benar melebihi semula. Mengutip pendapat Hovland, Janis dan
Kelley yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga variabel
penting yaitu : (a) perhatian, (b) pengertian, dan (c) penerimaan.
Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau
mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan.
Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan
proses berikutnya.
Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk
mengubah sikap.
3. S-M-C-R model (Model S-M-C-R)
Rumus S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah : S singkatan dari Source yang
berarti sumber atau komunikator ; M singkatan dari Message yang berarti pesan ; C
singkatan dari Channel yang berarti saluran atau media, sedangkan R singkatan dari
Receiver yang berarti penerima atau komunikan.
Khusus mengenai istilah Channel yang disingkat C pada rumus S-M-C-R itu yang berarti
saluran atau media, komponen tersebut menurut Edward Sappir mengandung dua
pengertian, yakni primer dan sekunder. Media sebagai saluran primer adalah lambang,
misalnya bahasa, kial (gesture), gambar atau warna, yaitu lambang-lambang yang
dieprgunakan khusus dalam komunikasi tatap muka face-to-face communication),
sedangkan media sekunder adalah media yang berwujud, baik media massa, misalnya
surat kabar, televisi atau radio, maupun media nir-massa, misalnya, surat, telepon atau
poster. Jadi, komunikator pada komunikasi tatap muka hanya menggunakan satu media
saja, misalnya bahasa, sedangkan pada komunikasi bemedia seorang komunikator,
misalnya wartawan, penyiar atau reporter menggunakan dua media, yakni media primer
dan media sekunder, jelasnya bahasa dan sarana yang ia operasikan.
4. The Mathematical Theory of Communication (Teori Matematika Komuikasi)
Teori matematikal ini acapkali disebut model Shannon dan Weaver, oleh karena teori
komunikasi manusia yang muncul pada tahun 1949, merupakan perpaduan dari gagasan
Claude E. Shannon dan Warren Eaver. Shannon pada tahun 1948 mengetengahkan teori
matematik dalam komunikasi permesinan (engineering communication), yang kemudian
bersama Warren pada tahun 1949 diterapkan pada proses komunikasi manusia (human
communication).
Sumber informasi (information source) memproduksi sebuah (message) untuk
dikomunikasikan. Pesan tersebut dapat terdiri dari kata-kata lisan atau tulisan, musik,
gambar, dan lain-lain. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi isyarat (signal)
yang sesuai bagi saluran yang akan dipergunakan. Saluran (channel) adalah media yang
menyalurkan isyarat dari pemancara kepada penerima (receiver). Dalam percakapan
sumber informasi adalah benak (brain) pemancar adalah mekanisme suara yang
menghasilkan isyarat, saluran (channel) adalah udara.
5. The Osgood and Schramm Circular Model (Model sirkular Osgood dan Schramm)
Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses linier, model Osggod dan Schramm
dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya adalah apabila
Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang
menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan perkataan lain
komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya
pad perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi.
Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan
distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmiting) dan
pada sisi pemnerimaan (receiving ) dari proses.
Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkannya
dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding atau menajdi, decoding atau menjadi balik,
dan interpreting atau menafsirkan.
6. Dance’Helical Model (Model Helical Dance)
Model komunkasi helical ini dapat dikaji sebagai pengembangan dari model sirkular dari
Osggod dan Schramm. Ketika membandingkan model komunikasi linier dan sirkular,
Dance mengatakan bahwa dewasa ini kebanyakan orang menganggap bahwa pendekatan
sirkular adalah paling tepat dalam menjelaskan proses komunikasi.
Heliks (helix), yakni suatu bentuk melingkar yang semakin membesar menunjukkan
perhatian kepada suatu fakta bahwa proses komunikasi bergerak maju dan apa yang
dikomunikasikan kini akan mempengaruhi struktur dan isi komunikasi yang datang
menyusul. Dance menggarisbawahi sifat dinamik dari komunikasi
Proses kounikasi, seperti halnya semua proses sosial, terdiri dari unsur-unsur, hubungan-
hubungan dan lingkungan-lingkungan yang terus menerus berubah. Heliks
menggambarkan bagaimana aspek-aspek dri proses berubah dari waktu ke waktu.
Dalam percakapan ,misalnya bidang kognitif secara tetap membesar pada mereka yang
terlibat. Para aktor komunikasi secara sinambung memperoleh informasi mengenai topik
termasa tentang pandangan orang lain, pengetahuan dan sebagainya.
7. Newcomb’ABX Model (Model ABX Newcomb)
Pendekatan komunikasi yang berdasarkan pada pendekatan seorang pakar psikolog sosial
berkaitan dengan interaksi manusia. Dalam bentuk yang paling sederhana dari kegiatan
komunikasi seseorang A menyampaikan informasi kepada orang lain B mengenai sesuatu
X. Model ini menyatakan bahwa orientasi A (sikap) terhadap B dan terhadap X adalah
saling bergantung dan ketiganya membentuk sistem yang meliputi empat orientasi.
Seperti dikutip Effendy (2003) menurut Severin dan Tankard (1992) pada model
newcomb ini komunikasi merupakan cara yang biasa dan efektif dimana orang-orang
mengorientasikan dirinya terhadap lingkungannya.
8. The Theory of Cognitive Dissonance (Teori Disonansi Kognitif)
Istilah disonansi kognitif dari teori yang ditampilkan Festinger ini berarti ketidaksesuain
antara kognisi sebagai aspek sikap dengan perilaku yang terjadi pada diri seseorang.
Orang yang mengalami disonansi akan beruapaya mencari dalih untuk mengurangi
disonansinya. Pada umunya orang berperilaku ajeg atau konsisten dengan apa yang
diketahuinya. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sering pula seseorang berperilaku
tidak konsisten seperti itu. Jika seseorang mempunyai informasi atau opini yang tidak
menuju ke arah menjadi perilaku, maka informasi atau opini itu akan menimbulkan
disonansi dengan perilaku.
9. Innoculation Theory (Teori Inokulasi)
Teori inokulasi atau teori suntikan yang pada mulanya ditampilkan oleh Mcguire ini
mengambil analogi dari peristiwa medis. Orang yang terserang penyakit cacar, polio
disuntik. Diberi vaksin untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuhnya. Demikian
pula halnya dengan orang yang tidak memiliki informasi mengenai suatu hal atau tidak
menyadari posisi mengenai hal tersebut, maka ia akan lebih mudah untuk dipersuasi atau
dibujuk. Suatu cara untuk membuatnya agar tidak mudah kena pengaruh adalah
”menyuntiknya” dengan argumentasi balasan (counterarguments).
10. The Bullet Theory of Communication (Teori Peluru)
Teori peluru ini merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa yang oleh para
teoritis komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodermic needle theory yang dapat
diterjemahkan sebagai teori jarum suntik

Model Komunikasi menurut para ahli


Written by Jurusan ilmu komunikasi on 22:21

Sebelumnya udah ada ne tentang model- model komunikasi..tapi knapa yakk gw masii
post lagi ne model..tap gpp dah biar temen2 tambah pinta dan juga nambah referensi juga
kali ajah berguna untuk tugas2 dari dosen hee...nah yaudah ane mulai ye..!!

Menurut Om Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal
mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model
merepresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi
yang tidak perlu dalam “dunia nyata”.

B. Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih
bagian dari fenomena yang dijadikan model.

Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr. mengatakan bahwa model membantu
merumuskan suatu teori dan menyarankan hubungan. Oleh karena hubungan antara
model dengan teori begitu erat, model sering dicampuradukkan dengan teori

FUNGSI DAN MANFAAT MODEL

Gordon Wiseman dan Larry Barker, mengemukakan bahwa model kamunikasi


mempunyai tiga fungsi :

1. Melukiskan proses komunikasi,

2. Menunjukkan hubungan visual,


3. Membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.

Deutsch menyebutkan bahwa model itu mempunyai empat fungsi :

1. Mengorganisasikan (kemiripan data dan hubungan) yang tadinya tidak teramati,

2. Heuristik (menunjukkan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui),

3. Prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga kuantitatif
yang berkenaan dengan kapan dan seberapa banyak,

4. Pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi,

MODEL-MODEL KOMUNIKASI : SUATU PERKENALAN

Sejauh ini terdapat anyak sekali model komunikasi yang telah dibuat pakar komunikasi.
Maka disini kita “hanya” akan membahas sebagian kecil saja dari sekian banyak model
komunikasi tersebut :

v Model S – R

Model stimulus – respons (S-R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini
dipengaruhi oleh disiplin psikologi behavioristik.

Model ini menunjukkan bahwa komunikasi itu sebagai suatu proses “aksi-reaksi” yang
sangat sederhana. Jadi model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat
nonverbal, gambar dan tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan
respon dengan cara tertentu. Pertukaran informasi ini bersifat timbal balik dan
mempunyai banyak efek dan setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi.

Contoh : Anda menyukai seseorang, lalu anda melihat dan memperhatikan wajahnya
sambil senyum-senyum. Ternyata orang tersebut malah menutup wajahnya dengan buku
atau malah teriak “apa liat-liat, nantang ya?” lalu anda kecewa dan dalam pikiran anda
merasa cintanya bertepuk sebelah tangan dan anda ingin bunuh dia.

v Model Aristoteles

Model ini adalah model komunikasi yang paling klasik, yang sering juga disebut model
retoris. Model ini sering disebut sebagai seni berpidato.

Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kererpercayaan anda),
argumen anda (logos-logika dalam emosi khalayak). Dengan kata lain, faktor-faktor yang
memainkan peran dalam menentukan efek persuatif suatu pidato meliputi isi pidato,
susunannya, dan cara penyampainnya.

Salah satu kelemahan model ini adalah bahwa komunikasi dianggap sebagai fenomena
yang statis.

v Model Lasswell

Model ini berupa ungkapan verbal, yaitu :

Who

Says What

In Which Channel

To Whom

With What Effect

Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi yaitu :

1. Pengawasan Lingkungan – yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan


bahaya dan peluang dalam lingkungan.

2. Korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan,

3. Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.

Akan tetapi model ini dikritik karena model ini mengisyaratkan kehadiran komunikator
dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.

v Model Shannon dan Weaver

Model yang sering disebut model matematis atau model teori informasi. Model itu
melukiskan suatu sumber yang menyandi atau menyiptakan pesan dan menyampaikannya
melalui suatu saluran kepada seorang penerima.

Konsep penting Shannon dan Weaver adalah :

Gangguan (noise), Setiap rangsangan tambahan dan tidak dikendaki yang dapat
mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan.

Konsep lain yang ikut andil adalah entropi dan redundasi serta keseimbangan yang
diperlukan diantara keduanya untuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan dapat
mengatasi gangguan dalam saluran.

Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang parsial, komunikasi dipandang
sebagai fenomena satu arah.
v Model Newcomb

Komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektif yang memungkinkan orang orang
mengorientasikan diri terhadap lingkungan mereka. Ini adalah model tindakan
komunikatif dua orang yang disengaja.

Model ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem ditandai oleh suatu keseimbangan atau
simetri,karena ketidakkeseimbangan atau kekurangan simetri secara psikologis tidak
menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan keseimbangan.

v Model Westley dan Maclean

Menurut pakar ini, perbedaan dalam umpan balik inilah yang membedakan komunikasi
antarpribadi dengan komunikasi massa. Umpan balik dari penerima bersifat segera dalam
komunikasi antarpribadi, dalam komunikasi massa bersifat minimal atau tertunda.
Sumber dalam komunikasi antar pribadi dapat langsung memanfaatkan umpan balik dari
penerima sedangkan dalam komunikasi massa sumber misalnya penceramah agama,
calon presiden yang berdebat dalam rangka kampanye politik.

Konsep pentingnya adalah Umpan balik, Perbedaan dan kemiripan komunikasi


antarpribadidengan komunikasi massa. Pesan ini juga membedakan pesan yang bertujuan
dan pesan yang tidak bertujuan.

v Model Gerbner

Model verbal Gerbner adalah :

1. Seseorang ( sumber, komunikator )

2. Mempersepsi suatu kejadian

3. Dan bereaksi

4. Dalam suatu situasi

5. Melalui suatu alat

6. Untuk menyediakan materi

7. Dalam suatu bentuk

8. Dan konteks

9. Yang mengandung isi

10. Yang mempunyai suatu konsekuensi


v Model Berlo

Menurut model Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor :

1. Keterampilan komunikasi

2. Sikap

3. Pengetahuan

4. Sistem sosial

5. Budaya

Salah satu kelebihan model ini adalah model ini tidak terbatas pada komunikasi publik
atau komunikasi massa, namun juga komunikasi antarpribadi dan berbagai bentuk
komunikasi tertulis. Model ini bersifat heuristik (merangsang penelitian).

v Model DeFleur

Source dan Transmitter adalah dua fase yang berbeda yang dilakukan seseorang, fungsi
receiver dalam model ini adalah menerima informasi dan menyandi baliknya mengubah
peristiwa fisik informasi menjadi pesan.

Menurut DeFleur komunikasi adalah terjadi lewat suatu operasi perangkat komponen
dalam suatu sistem teoretis, yang konsekuensinya adalah isomorfisme diantara respons
internal terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima.

v Model Tubbs

Pesan dalam model ini dapat berupa pesan verbal, juga non verbal, bisa disengaja
ataupun tidak disengaja. Salurannya adalah alat indera, terutama pendengaran,
penglihatan dan perabaan.

Gangguan dalam model ini ada 2, gangguan teknis dan gangguan semantik. Gangguan
teknis adalah faktor yang menyebabkan si penerima merasakan suatu perubahan dalam
informasi atau rangsangan yang tiba, misalnya kegaduhan. Ganguan semiatik adalah
pemberian makna yang berbeda atas lambang yang disampaikan pengirim.

v Model Gudykunst dan Kim

Merupakan model antar budaya, yakni komunikasi antara budaya yang berlainan, atau
komunikasi dengan orang asing.

Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian balik pesan merupakan
suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang dikategprikan
menjadi faktor-faktor budaya, sosial budaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan.

v Model Interaksional

Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang


mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui apa
yang disebut pengambilan peran orang lain. Diri berkembang lewat interaksi dengan
orang lain, dimulai dengan orang terdekatnya seperti keluarga dalam suatu tahap yang
disebut tahap permainan dan terus berlanjut hingga kelingkungan luas dalam suatu tahap
yang disebut tahap pertandingan.
A. PRINSIP DASAR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI
1. Faktor teknis
Faktor yang bersifat teknis yaitu kurangnya penguasaan teknis
komunikasi. Teknik komunikasi mencakup .unsur-unsur yang ada dalam
komunikator dikala mengungkapkan pesan menjadi lambang-lambang.
kejelian dalam memilih saluran, metode penyampaian pesan.
2. Faktor perilaku
Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang
bersifat : pandangan yang bersifat apriori, prasangka yang didasarkan
atas emosi, suasana yang otoriter, ketidak mampuan untuk berubah
vvalaupun salah, sifat yang egosentris.
3. Faktor situasional
Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi misalnya situasi
ekonomi, sosial, politik dan keamanan
4. Keterbatasan waktu
Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau
berkomunikasi secara tergesa-gesa, yang tentunya tidak akan bisa
memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi.
5. Jarak Psychologis/status sosial
Jarak psychologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status, yaitu
status sosial maupun status dalam pekerjaan. Misalnya, seorang pesuruh
akan sulit berkomunikasi dengan seorang menteri karena ada jarak
psichologis yaitu pesuruh merasa statusnya terlalu jauh terhadap menteri.
Selanjutnya, ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang dia
senangi saja, sedangkan informasi lainnya tidak.
6. Adanya evaluasi terlalu dini
Seringkali orang sudah mempunyai prasangka, atau sudah menarik suatu
kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini
jelas menghambat komunikasi yang baik.
7. Lingkungan yang tidak mendukung
Komunikasi interpersonal akan lebih efektif jika dilakukan dalam
lingkungan yang menunjang, berikut ini beberapa contoh suasana
lingkungan yang tidak menunjang atau mendukung yaitu :
• Keadaan suhu (terlalu panas atau terlalu dingin)
• Keadaan ribut atau bising
• Lingkungan fisik yang tidak mendukung (ruang terlalu sempit/kurang
keleluasaan pribadi)
8. Keadaan si komunikator
Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap
berhasil atau gagalnya komunikasi. Misalnya :
• Komunikator sedang mempunyai masalah pribadi hingga pikiran
kacau. Hal ini akan mengakibatkan pesan yang disampaikannya juga
kacau, tidak sistematis hingga membingungkan pendengar/sasaran.
19
• Komunikator sedang sakit, juga mempengaruhi komunikasi, atau kalau
komunikator mempunyai cacat seperti suara sengau. gagap dan
sebagainya akan mengakibatkan pesan yang disampaikan tidak jelas
tertangkap oleh sasaran.
9. Gangguan bahasa
a Komponen semantik : Gangguan Semantik ialah gangguang
komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang
digunakan (Blake, 1979).
Gangguang semantik sering terjadi karena :
i Kata-kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon bahasa
asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu.
ii Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang
digunakan oleh penerima.
iii Komponen semantik meliputi, pengetahuan objek. hubungan objek,
dan hubungan peristiwa (M.Lahey, 1989).
b Komponen Struktur
i Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya
sehingga membingungkan penerima.
ii Komponen Struktur meliputi, fonologi, morfologi, dan sintaksis
(M.Lahey, 1989).
c Komponen Penggunaan / Pragmatik
Komponen pragmatik meliputi fungsi dan konteks. Penguasaan akan
komponen ini menjadikan mampu mengawali komunikasi, memelihara
komunikasi dan mengakhiri komunikasi (M. Lahey, 1989)
10. Rintangan fisik
Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan karena kondisi
geografis misalnya jarak yang jauh sehingga sulit dicapai, tidak adanya
sarana kantor pos, kantor telepon, jalur transportasi dan semacamnya.
20
Dalam komunikasi antar manusia rintangan fisik bisa juga diartikan
karena adanya gangguan organik, yakni tidak berfungsinya salah satu
panca indra penerima.
11.Rintangan kerangka berpikir

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Kesehatan


Menurut Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D dalam
bukunya "Komunikasi Lintas Budaya" yang terbit bulan Mei 2010, komunikasi kesehatan
dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai, komunikasi Verbal dan Non Verbal.

Kepercayaan

Penduduk di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah yang terbiasa


meminum air mentah mempercayai bahwa air matang tidak enak. Penyuluh kesehatan di
sana menganggap kepercayaan tersebut sebagai kendala yang harus diatasi. Karena
kebiasaan meminum air mentah dapat menimbulkan penyakit diare yang mematikan
(suartika, 2000). Kepercayaan ini mirip dengan kepercayaan suatu komunitas di Los
Molinas, Peru yang tidak mau meminum air matang. Mereka menganggap air matang
hanya layak untuk orang sakit. Warga desa tersebut memercayai air matang telah
kehilangan kekuatan atau sarinya bagi kehidupan manusia, sehingga dapat membuat
orang sehat menjadi loyo. (Rogers, 1995 : 1-5)

Nilai

Dalam masyarakat Timur yang kolektivis komunikasi lebih rumit daripada dalam
masyarakat barat yang individualis. Untuk menjaga hubugan serasi dengan orang lain,
orang kolektivis cenderung berbasa-basi. Kalau perlu berbohong untuk menyenangkan
orang lain. Contohnya ketika seorang perawat Filipina di AS yang diminta dokter
Amerika untuk memberi obat kepada pasien. Meski perawat sadar bahwa dokter telah
memberi resep yang salah dan akan merugikan pasien, ia terpaksa mengikuti pesan
dokter tanpa membantahnya. (Brislin dan Yoshida, 1994 : 53)

Komunikasi verbal

Bahasaa sifatnya relatif. Kata-kata tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain
dengan kecermatan yang sama. Perbedaan pemahaman atas kata-kata akan lebih rumit
lagi jika orang-orang menggunakan bahasa ibu yang berbeda. Misalnya, penyakit masuk
angin yang dikenal di Indonesia tidak dikenal di Barat. Begitu juga cara pengobatannya
dengan mengerok badan dengan uang logam. Suatu anekdot melukiskan : seorang
eksekutif Indonesia yang terbang ke luar negeri yang badannya merah2 setelah dikerok
dilepaskan oleh kelompok teroris bule yang menyangka bahwa dia menderita penyakit
menular.
Komunikasi non verbal

Di Indonesia, menganggukkan kepala tidak selalu berarti ya dan menggelengkan kepala


tidak selalu berarti tidak. Dokter Indonesia harus kritis menafsirkan pesan pasien yang
samar ini. Misalnya, jika dokter mengharapkan pasien untuk kembali menemuinya
minggu depan, setelah dokter memberi obat, anggukan kepala pasien tidak otomatis
berarti persetujuan. Pasien mengangguk, namun bisa jadi ia tidak berniat untuk kembali
menemui dokter. Padahal konsultasi selanjutnya penting bagi kesehatan pasien.

Aspek sentuhan juga penting. Riset dalam komunikasi kesehatan menunjukkan


kebutuhan pasien akan sentuhan tidak dipenuhi oleh profesional medis (Kreps dan
Thornton, 1992:33). Pijitan dan sentuhan oleh dokter dan perawat menghasilkan efek
positif pada pasien yang dirawat di RS (Knapp dan hall, 2002:273). Namun tentunya,
profesional medis juga perlu memperhatikan bentuk, frekuensi, lokasi sentuhan, jenis
kelamin, budaya, dan agama pasien agar pasien merasa nyaman dengan sentuhan
tersebut.

Isyarat tangan pun dapat menjadi sumber masalah. Seorang profesional medis yang
memanggil pasien dewasa di Ethiopia atau di Afrika Timur dengan telunjuk telah
melakukan kesalahan besar. Karena di negara itu, isyarat tersebut hanya digunakan untuk
memanggil anak-anak atau anjing.

Penataan ruangpun perlu juga diperhatikan. Dokter Abraham White melakukan


eksperimen informal untuk mengetahui apakah meja yang membatasi dokter dan
pasiennya mempengaruhi konsultasi mereka. Dokter tersebut menemukan, bila meja
pembatas itu ditiadakan, 55,4 % dari jumlah pasiennya duduk santai. Bila meja itu
ditempatnya, hanya 10,8% dari jumlah pasiennya yang duduk santai. (Rich, 1974:168).
(Dini)

Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi


Komunikator harus mencari sifat-sifat penerima yang berhubungan erat dengan daya
persuasi dan menggunakan sifat-sifat ini untuk mengarahkan pesan dan mengembangkan
media. Orang yang berpendidikan dan/atau berkecerdasan tinggi dianggap lebih sulit
dipengaruhi, tetapi pernyataan ini tidak menyakinkan. Orang yang memiliki konsep diri
yang lemah tampaknya lebih mudah dipengaruhi, seperti juga orang yang kurang percaya
diri. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Cox dan Bauer (1979;46) menunjukkan
hubungan kurva linear antara kepercayaan diri dengan daya persuasi, yaitu mereka yang
memiliki tingkat kepercayaan diri yang sedang adalah mereka yang paling mudah
dipengaruhi.
Komunikator juga perlu memperhatikan kesadaran para penerima bahwa komunikator
sedang berusaha mempengaruhi mereka. Orang yang sebelumnya telah dihadapkan pada
beberapa upaya persuasi akan memberikan tanggapan yang berbeda dengan orang yang
belum pernah dipengaruhi sebelumnya. Fiske dan Hartley (1980;79) menunjukkan faktor-
faktor umum yang mempengaruhi efektivitas suatu komunikasi :
1. Semakin besar monopoli sumber komunikasi terhadap penerima, semakin besar
kemungkinan penerima akan menerima pengaruh atau pesan tersebut.
2. Pengaruh komunikasi yang paling besar adalah pada saat pesan yang disampaikan
sesuai dengan pendapat, kepercayaan dan watak penerima.
3. Komunikasi dapat menyebabkan perubahan yang efektif atas masalah yang tidak
dikenal, dianggap ringan, dan bukan inti, yang tidak terletak pada pusat sistem nilai
penerima itu.
4. Komunikasi akan lebih efektif jika sumber dipercaya memiliki keahlian, status yang
tinggi, obyektif, atau disukai, tetapi yang paling utama adalah sumber memiliki
kekuasaan dan dapat diidentifikasikan.
5. Konteks sosial, kelompok atau kelompok referensi akan menjadi penengah dalam
komunikasi dan mempengaruhi apakah komunikasi akan diterima ataukah ditolak.