Anda di halaman 1dari 29

(Instr) DCS, PLC dan PC

arief_rahman

Sebelumnya saya mohon maaf kalau ada beberapa item yang saya
uraikan yang kurang jelas sehingga menimbulkan salah persepsi.

Yang pertama, soal PC Based control. Berbicara soal PC Based control


dalam pengertian saya, dan juga refer ke beberapa artikel, tentu saja
mutlak harus dibedakan dengan Offices based PC. PC Based control
tentu saja musti memerlukan beberapa adjustment seperti misalkan
soal hard drive rugged-ness, dan terutama operating systemnya. Dari
sisi operating system, dibanding dengan standard windows, akan ada
beberapa "modifikasi" untuk minimizing available feature sehingga
yang tidak berkaitan dengan control tapi bias occupying tasking
operating system bisa dihilangkan. Dengan demikian reliability dan
real time-ness operating system bisa dijaga. Saya membaca, misalnya,
Ovation@ PC Based control dari Emerson (www.westinghousepc.com)
adalah PC Based control yang bahkan sudah pernah diaplikasikan
untuk I/O sampai 13.000 untuk industri power station. Dalam hal ini PC
benar-benar berfungsi sebagai controller. Soal criticality, tentu saja
ada degrees of criticality dan saya memaksudkan criticality dalam hal
ini tidak dari kacamata Oil & Gas industry an sich. Buat saya power
station adalah insudtri
yang critical.

Yang kedua soal lack the integrity of Open system, Saya ambil contoh
misalnya membandingkan antara feature DCS dan PLC + Wonderware.
Kalau saya membuat konfigurasi I/O di DCS dan menyelesaikan
loopnya, maka alarm (misal Low, High alarm) otomatis tergenerate
tanpa perlu lagi mendefinisikan tag number baru. Ada integrated
(Global ???) database yang off the self disediakan oleh DCS sehingga
mengurangi kemungkinan kesalahan karena mengambil alarm dari tag
yang salah.

Ini beda misalnya dengan Wonderware yang kita harus create tag
number baru untuk masing-masing alarm. Saya anggap Wonderware
sebagai "open", paling tidak relatif lebih open dibandingkan dengan
proprietary DCS, karena manufacture PLC-nya bisa apa saja. Data base
Integrity semacam yang ditawarkan vendor DCS itu yang ada baiknya
juga diconsider ketika memilih control system yang diinginkan. Seperti
yang saya katakan, there must be a good reason for DCS vendor to be
in business for so long.
Balik lagi, open juga punya level of openness. Saya, sebagai user, ingin
supaya setiap system bukan hanya interoperable tapi bisa diganti-
ganti semacam plug & play (bukan plug and Pray). Saya merindukan
FULLY OPEN, persis kaya control valev yang kalau sudah dibilang fully
open pengertiannya bisa disepakati semua orang.

Saya masih sulit membayangkan bahwa misalnya SMAR bisa diganti


HMI-nya dengan punya Delta-V tanpa perlu ada data bases
configuration. Selalu ada locking dari vendor yang un-explained dalam
brochure maupun presentasi dan hanya bisa diketahui pas sudah
dibeli. Ada permainan buzzword yang luar biasa dari para vendor.

Fakta yang paling jelas : Ada lebih dari satu fieldbuses yang diadopt
oleh fieldbus standard. Perlakuan vendor terhadap user hampir mirip
dengan perlakuan politisi terhadap rakyat kebanyakan. Selalu saja
dijadikan alas an untuk stndarisai, tapi toh akhirnya paling
dikorbankan.

WKundono

Pak Budhi, bisa diforward ke Milis. Makasih.


----------------------------------------------------------------

Untuk menambah wawasan, berikut ini artikel dari majalah "control"


tentang penggunaan commercial off-the-shelf (COTS) sebagai
komponen dari open system, plus minus serta komentar vendor and
end user

Lihat Attachment : COTS

waskita

Saya mencoba memberikan komentar (meskipun jangan disebut


pakar, masih banyak yang lebih pakar, dan mungkin saja saya salah):

1. Saya lebih cenderung untuk merancang system dengan hirarki


horizontal, artinya semua control subsystem (FCS, DCS, PLC, dsb.)
pada level hirarki yang sama yaitu sebagai integrated BPCS (Basic
Process Control System). Meletakkan satu subsystem dibawah yang
lainnya akan membuat suatu critical path, artinya kalau kita
mempunyai PLC yang di-integrasikan ke DCS baru kemudian ke
Operator Workstation, disini kita menciptakan beberapa critical path.
Kalau terjadi kegagalan pada DCS, communication (PLC-DCS), atau
Control Network, maka accessibility ke PLC kita juga ikut terganggu.
Demikian pula sebaliknya. Menjawab pertanyaannya: Bisa saja
hirarkinya dibalik (DCS dibawah PLC)! Pertanyaan baru timbul disini:
Apakah PLC yang dipergunakan mempunyai performance yang
memadai untuk melakukan supervosry control terhadap DCS?

2. Anda bisa baca buku "Fieldbusses for Process Control"


http://www.isa.org/Template.cfm?
Section=Books1&template=/Ecommerce/ProductDi
splay.cfm&ProductID=3036 (copy dan paste seluruh hyperlink text dari
http ...s/d... 3036 kalau Anda terima terpotong). Pada Chapter 2
dijelaskan mengenai Benefits, Savings and Doubts dari berbagai
teknologi fieldbus. Bisa kita tarik kesimpulan bahwa diantara semua
teknologi, FOUNDATION Fieldbus memberikan nilai tambah yang paling
tinggi kepada User.

Seberapa signifikan sangat relative tergantung dari process, control


dan instrumentasi plant kita. Untuk upgrade existing system, perlu
kita justifikasi dulu apakah memang existing system memang sudah
harus diupgrade (biaya operasional & maintenance tinggi, seringnya
terjadi spurious trip, tidak berfungsinya control - banyak yang harus
manual mode, susahnya mendapatkan spare parts, kurangnya vendor
support, dsb.). Kalau existing system memang sudah justified untuk
di-upgrade, maka pilihan untuk upgrade ke FF system adalah tepat
karena bisa memberikan nilai tambah yang signifikan. Perhatikan
bahwa initial cost FF belum tentu lebih murah daripada DCS mengingat
kita juga harus mengupgrade field devices.

Sebaliknya, hanya meng-upgrade DCS-nya saja tanpa upgrade field


instruments (istilahnya 'ganti kepala saja') merupakan usaha yang sia-
sia karena kita tidak mendapatkan nilai tambah apa-apa selain
mungkin beberapa host component yang umurnya sedikit bertambah.
Dan kenyataannya 'mengganti kepala' saja belum tentu lebih murah
dibandingkan mengganti keseluruhan system berikut field devices
dengan FF.

irfan_khomeini

Trims berat atas tanggapannya Pak Waskita,

Kira-kira sudah ada atau belum ya yang melakukan semacam


"benchmarking" untuk hal-hal yang semacam ini (utak-atik hirarki
kontrol), dan jika memang ada...gimana ngukur performansi nya??

Satu pertanyaan lagi nih Pak, di tempat saya didevelop sebuah


optimizer untuk proses, namanya DPO (Dynamic Process Optimizer).
Dia ini sebuah software yang memang dirancang khusus untuk
optimasi proses. Nah, si DPO ini mempunyai hierarki diatas DCS yang
melakukan semua kalkulasi dan manipulasi matematik dengan satu
tujuan, optimum process control. Saya baru saja menyelesaikan
beberapa project untuk sebagian plant dan masih akan banyak lagi
project yang akan dituntaskan. Sekarang ini masih dalam tahap ON-
OFF test untuk melihat seberapa jauh signifikansi nya. Selama
pengetesan saya masih sering bermasalah dengan availability
komunikasi nya. Seringkali pertukaran bit antara DCS dan DPO ini
membuat PC DPO menjadi hang dan terpaksa harus di-restart kembali.
Mungkin membutuhkan semacam "trik" dalam perancangan traffic nya
yang saya nggak tau gimana. Sebagai informasi, saya menggunakan
OPC buatan Matrikon untuk menghubungkan antara DPO dengan DCS.
Jadi, hasil kalkulasi optimasi dari DPO akan dikirim sebagai optimal
setpoint (Kondisi Operasi optimal buat plant)ke DCS via Matrikon OPC.
Mohon pencerahannya (lagi), please.

nugrohowibisono

Mas Irfan,

Saya bukan mau mencerahkan nih, malah mau nanya ke mas Irfan
Sabri..

Saya ingin tahu, apakah manipulasi/kalkulasi matematik untuk


menghasilkan optimal set point tidak dapat dilakukan di DCS saja?
Dengan begitu kita cukup mengutak-atik di software DCS saja tanpa
harus direpotkan dengan masalah komunikasi internal antar
software-nya yg kita ga tahu asal masalahnya dimana. (tapi kalo gitu
kesulitannya malah pindah jadi mrogram di DCS-nya ya..)

Saya juga ingin tahu, bagaimana Mas Irfan tahu kalau penyebab hang-
nya si PC DPO tersebut diakibatkan pertukaran bit-nya? Apa bukan
karena sebab yang lain? Kalau boleh tahu, bagaimana konfigurasinya
sih? Apakah melalui semacam AD/DA converter yg melalui port serial
PC dan ke DCS-nya diterima dalam bentuk sinyal analog? (kayak di lab
sampeyan dulu hehehe)

irfan_khomeini

Sorry telat ngerespon nya Web,

Sebenarnya untuk manipulasi algoritma control nya bisa aja dilakukan


di DCS, tinggal merangkai kombinasi blok-blok yang sudah difasilitasi
oleh DCS. Hanya saja, kurang "leluasa" untuk melakukan hal yang
demikian di DCS. Contoh, dari beberapa macam DCS yang saya
jumpai, untuk melakukan implementasi perhitungan yang matrix-
based sangat sulit dilakukan, atau malahan hampir2 nggak mungkin.
Kalo sekarang, nggak tau ya, mungkin udah ada DCS yang
memfasilitasi masalah ini sebagai additional feature nya. Menurut
saya, fasilitas ini lumayan penting karena untuk implementasi yang
lebih advance hampir sebagian besar kalkulasi optimasi
membutuhkan manipulasi matrix.

Sekedar flashback, dulunya waktu masih di lab, saya pake bantuan


software Matlab secara offline karena doi (Matlab) dikenal jagoan
punya dalam hal hitung menghitung. Di tempat kerja yang sekarang,
dulunya pernah juga tuh si doi ini dipake sebagai alat bantu buat
hitung2an optimasi proses secara offline, tapi sekarang nggak lagi
karena jaman udah makin canggih. Jadi, urut2an data prosesnya kayak
gini :

Field--->DCS--->Data Reconciliation Software--->


Optimized (Matlab)--->Process Value Validation--->DCS--->Field

Kalo sekarang, si PC yang ada Matlab nya ini udah nggak dipake lagi
karena semua fasilitas perhitungan sudah diakomodasi sama si
Optimizer (DPO), malahan dari update yang kemarin dia juga udah
support VB.NET.

Trus, gimana bisa tau nge hang gara2 pertukaran bit nya? Ya jelas tau
donk...hehe... Karena waktu bikinnya tinggal ngasih semacam alarm
aja kalo nggak ada pertukaran bit selama 5 menit maka di display
DCS langsung keluar warning. Trus, kalo 30 menit nggak respon baru
ngirim sinyal ke pager, dan ini dia yang bikin pusing bunyinya kalo pas
lagi libur. Definisi komunikasi yang biasa saya lakukan sederhana aja :

DCS:
Receive 0 ---> Transmit 0
Receive 1 ---> Transmit 1

DPO:
Receive 0 ---> Transmit 1
Receive 1 ---> Transmit 0

Kalo pengen tau jalan ceritanya, bikin aja tabel sequence dan masukin
aja sebarang keadaan awal.

IDermawan
Wah seru nih APCnya
Ayo Fan ceritakan lebih lanjut ttg apa saja yg dilakukan oleh Si
Optimizer aplication/DPO ? Apakah plant dynamic
modeling?/kontrollernya yg pasti bukan PID ya ?dll.

nugrohowibisono

Halo mas Irfan,


ndak papa telat ngeresponnya, maklum kok... gimana kabar Grasberg?
tambah dingin kah? :)

Mas Irfan, sekarang kayaknya perkembangan urusan hitung


menghitung sudah semakin maju. kebetulan waktu ketika saya
mengerjakan tugas akhir, rekan satu lab saya mengerjakan
pengontrolan boiler yg dimodelkan dengan persamaan orde 3.
pengontrolannya sendiri (dilab kami ketika itu) pake DCS Yokogawa
CS-1000. karena teman saya "malas" menurunkan persamaan itu
menjadi persamaan dalam time domain, akhirnya si Dinamika dari
sistem di Matlab, secara ONLINE (tidak offline lho) dihubungkan
dengan DCS, dan dilakukan aksi balik terhadap sistem itu. Supaya si
DCS bias ngomong2 sama Matlab, dia membuat semacam software yg
porting (saya menyebutnya software porting aja deh) ke OPC dan ke
Matlab. Jadi konfigurasinya (secara kasar) :

Matlab <--> Software Porting <--> OPC <--> DCS

tanda panah bolak-balik tsb mengindikasikan bahwa si Matlab tersebut


tidak hanya dapat mengirimkan "variabel proses", tetapi juga dapat
menerima "aksi kontrol". Dan seperti anda tahu, bahwa Matlab
mempunyai banyak tools yg sangat powerful untuk melakukan operasi
berbasis matriks... kemungkinan untuk melakukan operasi2 matematis
yg njlimet2 sangat dimungkinkan, dan tidak bergantung pada produk
software yg dibuat khusus untuk simulasi proses. ini buat informasi aja
lhoo... gimana mas? mau nyobain mas? hehehe... :)

Perkara nge-hang .. wah ga kebayang nih dari sini... mohon maaf kalo
saya salah lho ya, tapi saya sih mikirnya "tidak terjadi pertukaran bit
itu AKIBAT komputernya nge-hang, bukan PENYEBAB computer nge-
hang"... weleh... ketimbang ndak jelas, saya nyerah aja deh, situ yg
lebih jago kok hehehe... :)

waskita
Maaf saya baru mau menjawab Mas Irfan sudah keduluan pertanyaan
Mas Weby. Sekaligus saja saya memposting email ini untuk berdua dan
rekan-rekan yang lain. Rupanya diskusi terus bergulir menuju
Advanced Process Control.

Kalau tidak salah tangkap, yang dimaksud Mas Irfan dengan DPO
tersebut adalah system APC/POC (Advanced Process Control / Process
Optimization Control). APC/POC adalah suatu Supervisory Control yang
bekerjasama dengan BPCS (Basic Process Control System) - bisa FCS,
DCS atau PLC. Pada APC/POC system mempunyai model (dalam bentuk
software) dari process unit kita, mengambil historical dan current data
melalui BPCS, melakukan kalkulasi pada process model dan dari hasil
kalkulasi memberikan setpoints kembali kepada BPCS agar plant
beroperasi dalam kondisi optimized.

Untuk melakukan kalkulasi dengan banyak iterasi serta simulasi


modeling memakan cukup banyak resource processor sehingga kurang
dimungkinkan untuk dilaksanakan oleh BPCS yang sudah cukup sibuk
melakukan fungsinya sebagai BPCS. Ada beberapa vendor yang sudah
mengintegrasikan APC pada BPCS-nya sebagai optional module. Ini
mempunyai kelebihan karena Processor untuk APC sudah dirancang
untuk untuk bekerjasama (komunikasi, data exchange, dsb) dengan
Processor BPCS. Walaupun demikian menggunakan dedicated APC
dengan rancang bangun yang tepat masih bisa mengungguli yang
integrated, terutama karena pengembang dedicated APC lebih
specialized dan memasukkan semua expertisenya dalam APC system
mereka.

Menurut pengamatan saya OPC oleh Matrikon OPC baik adanya. Jadi
kemungkinan besar bukan OPC-nya yang bermasalah, melainkan ada
pada jalur / media komunikasi (speed, dsb), cara berkomunikasi (atau
bagaimana DPO PC me-manage data melalui OPC dan jalur
komunikasi), gangguan oleh aplikasi lain pada DPO PC, dan masih
banyak hal lagi yang perlu kita perhatikan. Mungkin beberapa butir
saran / checklist dibawah ini bisa membantu:

1. Pastikan BPCS berfungsi dengan baik, artinya semua controller bias


berfungsi 'auto' dengan tuning yang baik, serta semua I/O berjalan
baik dan mempunyai scanning time yang memadai seperti yang
diperlukan. Kunci sukses dari implementasi APC sangat dipengaruhi
oleh performance dari BPCS.
2. Hindari menggunakan serial communication antara BPCS dan APC
karena bandwidth kurang memadai. Usahakan APC bisa berkomunikasi
langsung ke BPCS melalui PCN (Process Control Network) tanpa melalui
Interface Gateway yang bisa menyebabkan gagalnya komunikasi. PCN
untuk BPCS berbeda-beda dari merk satu dan lain, seperti FF-HSE
untuk FCS; ControlNet untuk Plantscape atau ProcessLogix, dsb.
Seandainya PCN adalah Ethernet seperti pada FF-HSE, gunakanlah
'Industrial Ethernet' (lihat penjelasan di Industrial Ethernet
Network.pdf yang bisa didownloas dari
http://groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/files/Instrument/).
3. Uninstall semua application software pada DPO PC yang tidak
diperlukan termasuk bundled software dari OS seperti games,
multimedia, email manager (Outlook Express) dsb yang tidak
diperlukan. Usahakan DPO PC benar-benar dedicated hanya
difungsikan untuk DPO. Kalau menggunakan NT-based OS, matikan NT
Services yang tidak diperlukan. Hindari menggunakan Win9x-based
OS; OS ini tidak diperuntukkan untuk keperluan industrial application.

Semoga bisa membantu.

waskita

Mohon tanya:
1. Apakah MatLab cukup cepat melakukan semua kalkulasi yang
diperlukan agar bisa secara online bekerjasama dengan DCS?
2. Bagaimana minimum requirements dari PC yang yang menjalankan
MatLab,
Supporting Software, OPC, dan network?

IDermawan

Klo waktu kuliah dulu sih Pernah ada yg menggunakan matlab untuk
kalkulasi pake neural networks tapi lama (berjam2) , kemudian ada
juga yg bikin kalkulasinya pake software yg didevelop sendiri pake
labview (ini cepat /bisa online). Tapi tidak tahu untuk aplikasi kalkulasi
lainnya di matlab?

arief_rahman

Pak Waskita,

Berikut saya cuplikkan dari Website Emerson Process untuk Ovation :


___________________
Ovation® Controller

Based on open industry standards, the Ovation® Controller is the


industry's most powerful process controller. With an Intel Pentium
processor at its heart, the Ovation® Controller allows rapidly
advancing microprocessor technology to be easily integrated into the
system. An investment in Ovation® software is protected through the
use of a
PC-compatible, real-time operating system that provides full 32-bit,
preemptive multi-tasking.

The Ovation® Controller has the capability to originate up to 16,000


points - depending on the latest RAM and processing power available in
the industry.

The Ovation® Controller executes simple or complex modulating and


sequential control strategies, performs data acquisition functions, and
interfaces to the Ovation® Network and I/O sub-systems. Having a
standard PC architecture and passive PCI/ISA bus interface, the
Controller is compatible for plug and play operation with other
standard
PC products.
______________________

linknya : http://www.westinghousepc.com/ovation/details-
controller.cfm

Juga ada informasi di link :


http://www.westinghousepc.com/ovation/descriptions.cfm

Benar bahwa I/O-nya, misalnya, masih menggunakan hardware dari


produk lain. Tapi at the heart of the system, controllernya justru PC-
Based controller.

Soal Fleksibilitas penentuan alarm, konteks pembicaraan saya adalah


analog input signal. Di beberapa "DCS" (DCS dalam hal ini saya refer
ke produk-produk yang selama ini memang traditionally sudah
dikenal/terasosiasian sebagai DCS, misalnya Yokogawa, Honeywell
dsb) yang saya temui setiap kali satu AI didefinisikan maka template-
ya sudah menyediakan secara otomatis properties setting Alarm HH,
H, L, LL. Berapa settingnya, mau dipakai apa tidak tentu saja
tergantung usernya. Ini beda misalnya dengan,misalnya, wonderware
yang pernah saya konfigure. Feature ini saya anggap penting untuk
menjaga integritas system, karena kemungkinan salah comot alarm
bisa dihindari.

Ambil contoh misalnya tag number analog-nya : PI-1000. Kita mau


mempunyai alarm High untuk PI-1000 pada 80% di DCS, kita tinggal
klik di faceplate PI-1000 dan mengisi harga alarm high setpoint.
Dijamin alarm yang dihasilkan PASTI dari PI-1000. Kta tidak perlu
menggenerate lagi tag number baru.
Ini berbeda misalnya dengan apabila kita harus generate tag number
baru untuk dibuat semacam script supaya kalau value>80% then
alarm. Kalau kita salah mengambil address, misalnya, address dari
analog value yang lain (ambil contoh PI-5000) kan barabe.

Soal pendirian FF-UC, saya malah surprise bahwa kekhawatiran saya


kahirnya terbukti.
Kalau Pak Was jadi agak risi saya bisa paham. Sebagai vendor yang
tidak punya "masa lalu" dengan DCS tentu saja SMAR tidak punya
beban apa-apa kalau harus fully comply dengan standard. Lha kalau
yang sudah punya banyak customer, ada kebutuhan mempertahankan
kesinambungan support-nya.

Ternyata belakangan tak selalu jelek. Maaf kalau terkesan ikutan


promosi barangnya Pak Waskita. He ... he ... he ..

NB : Pak Waskita jangan pangil saya Bang, soalnya saya panggilnya


Pak Was dengan Bapak. Jadinya saya Pak De dong .......

waskita

Pak Arief dan rekan-rekan,

Melihat keterangan mengenai Ovation Controller dibawah memang ini


adalah Soft Controller running pada PC atau yang disebut sebagai PC-
based Controller. Arsitektur system sangat menyerupai DDC (Direct
Digital Control) System (Master & Slave) pada zaman dahulu (tahun
60-an) yang tidak pernah sukses. Memang hardware, OS, software,
teknologi electronics dan microelectronics sudah berkembang jauh
tidak seperti di zaman DDC, tetapi permasalahan DDC (yang
menyebabkan tidak suksesnya DDC) masih saja harus dipertanyakan
pada system seperti ini.

1. Meskipun dinyatakan "Fully compliant with POSIX1003.1b open


system standards", pertanyaannya adalah:
"How 'open' is the system?"
"Apakah system adalah 'open' pada setiap layer mulai dari plant
sampai dengan IT Enterprise level?"
"Apakah System ini interoperable dengan subsystem lainnya"
"Apakah system ini support OPC yang sudah kita kenal 'openness'-nya
untuk
integrasi dengan OPC Client applications?"
2. Meskipun dinyatakan "Provides complete "bumpless" automatic
failover to backup controllers", pertanyaannya adalah:
"Apakah User berani mempertaruhkan plant dengan 16,000 points
mengandalkan pada 'satu' PC-based controller dengan backup
controller-nya?"
"Apa yang terjadi apabila PC-based Controller dan backup-nya
mengalami kegagalan?"
"Bagaimana Distribution Level dari system seperti ini? Satu redundant
controller terhadap 16,000 I/O points?"
"Bagaimana isolasi kegagalan komponen agar tidak menyebabkan
kegagalan sebagian atau keseluruhan system? Atau, bagaimana
dengan 'common cause'
problem dari system"
3. Masih banyak lagi concern yang perlu kita perhatikan dan tidak bisa
saya bahas satu persatu disini untuk system dengan arsitektur seperti
ini.

------------------------------

Kalau yang dimaksud dengan integritas software adalah seperti ditulis


dibawah, saya kira hampir semua system FCS, DCS, PLC, SCADA, dsb.
Mempunyai integritas software yang boleh dibilang adalah setara. Itu
adalah bagian dari configuration atau engineering tool software dari
system. Kalau kita mengkonfigurasi DCS (lengkap dengan alarm dsb.),
pada Operator Workstation tetap harus kita lakukan configurasi untuk
dilakukan link pada tampilan terhadap variable / tag yang
bersangkutan.

Kalau system menggunakan OPC kesalahan pengambilan tag akan


menjadi minimum karena kita melakukan link dengan menggunakan
OPC Browser. Pernyataan TagID juga sebaiknya menggunakan OPC-
link dengan mengambil TagID seperti yang kita konfigurasikan pada
system (jangan menggunakan text entry). Semuanya tidak perlu men-
generate tag baru, artinya kita mempunyai 'single integrated system
database'. OPC object mengirim data paket mencakup PV, Status,
Time, TagID, dsb. (selama system support semua parameter tersebut)
sebagai satu kesatuan object, sehingga kita tahu pasti dataapa yang
dilakukan link.

tjahyo_soenaryono

Bapak-bapak,...
kalo boleh ikut nimbrung masalah ini...
Saya ada pertanyaan mengenai FCS, dan bukan masalah open atau
tidaknya. Seberapa kencang sih kecepatan dari system ini? apakah
untuk fungsi-fungsi digital lebih cepat dari PLC? dan untuk fungsi2
control lebih handal dari DCS? Apakah lebih handal dibandingkan
dengan gabungan PLC untuk fungsi digital dan DCS untuk fungsi2
analog? Apakah cocok digunakan untuk Boiler control & safety
system, karena systemnya harus benar2 independent, antara BMS
dan fungsi controlnya?

apakah cukup "safe"?

waskita

Performance atau kinerja dari system dapat dilihat dari macrocycle


pada control loop. Macrocycle adalah execution time mulai dari
pembacaan process variable (PV) pada transmitter - controller - final
element, termasuk transmisi, I/O Module, konversi A/D & D/A dsb.

Pada FF System dengan arsitektur FCS dan sensor dan actuator digital,
execution time untuk I/O module (termasuk transmisi I/O-bus) dan A/D
& DA conversion tidak ada (=0). Transmisi PID Function Block ke AO
block (kalau PID block diletakkan pada FF Positioner) juga tidak ada
(=0). Hasilnya, pada test yang saya lakukan kita bisa mendapatkan
macrocycle 132 msec untuk simple control loop pada FF-H1 yang
dedicated untuk loop tersebut.

Di dunia nyata kita tidak hanya mempunyai satu loop, akan tetapi
system meng-handle multiple control loops. Pada FCS jumlah device
per FF-H1 mempengaruhi macrocycle karena communication traffic
menjadi lebih banyak. Jadi untuk control loops yang memerlukan
macrocycle cepat (seperti flow), kita harus membatasi jumlah device
per FF-H1. Pada DCS untuk melayani control loops dengan kebutuhan
macrocycle cepat, banyak hal yang harus kita perhitungkan, seperti
jumlah I/O per CPU, jumlah function block yang dikerjakan oleh CPU,
dsb. Artinya kita harus menambah jumjlah processor agar macrocycle
yang dibutuhkan tercapai.

Secara umum bisa kita katakan performance FCS jauh lebih baik
dibandingkan DCS. Belum lagi membicarakan fitur-fitur lainnya seperti
kehandalan yang diuraikan dalam buku yang saya sebut terdahulu.

FCS sangat cocok untuk Boiler Control sebagai BPCS bukan sebagai SIS
(Safety Instrumented System). Installasi FF komersial pertama didunia
(1984) adalah untuk Boiler Control dan sampai saat ini masih berjalan
dengan baik. SIS tetap harus dipasangkan secara dedicated sebagai
Layer Of Protection diatas BPCS sesuai standard ISA 84, OSHA dan
safety authority lainnya.

FCS tidak dirancang untuk Safety System, jadi kalau toh kita
memaksakan untuk safety related application, waktu kita mengadakan
safety calculation tidak akan menghasilkan angka yang memadai
bahkan untuk SIL 1. Walaupun demikian, Fieldbus Foundation sedang
menggarap teknologinya dengan safety authorities untuk bisa dipakai
sebagai safety system. Pakar SIS, Paul Gruhn percaya bahwa FF akan
bisa menjadi safety system, one day.

gunawan

Dear peserta milis, ijinkan saya ikut serta dalam diskusi ini.

Kalau pendapat saya sih, mau pakai DCS atawa PLC sih itu tergantung
kebutuhan prosesnya. Dari sejarahnya, DCS memang dirancang untuk
menggantikan SLC untuk proses-proses yang kompleks ( menyediakan
complex control schemes ); sedangkan PLC pada awalnya dirancang
untuk menggantikan "electrical relay" pada ESD System. Setahu saya,
dgn DCS dimungkinkan Advanced Process Control (APC) dan Plant
Information System (PIS). Sedangkan PLC lebih banyak dipakai untuk
SS ( Safety - System ).

Untuk "grass-root plant" seperti kilang LNG, biasanya ada dokumen


yang namanya "Process Control System Philosophy" yang biasanya
dibuat pada tahap "Conceptual / Front End Engineering Phase" yang
sekaligus juga mencerminkan "corporate operational and technical
preferences" berdasarkan pengalaman yang telah diperoleh selama
ini.

CICS ( Centralized Integrated Control System ) biasanya meliputi sub-


sistem sbb :

1. Plant Supervisory Control System yang terdiri dari :


a) PCS ( Process Control System ) ---> DCS
b) Plant Information System ( PIS )
c) Advanced Process Control ( APC )
d) ADAS ( Analyzers Data Aquisition System )

2. Plant Safety System ( PSS ) yang terdiri dari :


a) Emergency Shutdown System ( ESD )---> PLC-based
b) Emergency Depressurization System ( EDP )---> PLC-based
c) Fire & Gas System ---> PLC-based
d) HIPPS ( High Integrity Pressure Protection System )
e) PA/GA System

3. Power Distribution Control System ( PDC )--> PLC-based.

Sub-system ESD / F&G ( Triconex PLC), HIPS ( HIMA ), PDC ( APRIL ) dsb
semuanya memberikan status ke DCS Foxboro I/A PCS. Ini berlaku
untuk UPSTREAM ( 3 buah WH Platforms, 1 Process Platform dan 1
Process - Utilities Platform ) dan DOWNSTREAM ( Main Control Room ,
Onshore Receiving Control Room , Utilities Control Room dan Storage
& Loading Control Room ).

Mudah-mudahan informasi ini bisa me"ramaikan" diskusi kita.

febry_klanis

Assalamualaikum,

Kalau boleh nih ikut nimbrung menanggapi topik ini. aya sih emang
baru 2 tahun punya experience di bidang DCS, namun saya ingin
sedikit menyumbang pendapat mengenai topik ini.

Mengenai soal HMI, saya mengenal Intellution Fix/Ifix dimana produk


ini dipakai di beberapa vendor misalnya utk DeltaV System (Fisher
Rosemount), selain software ini dipakai secara independen. HMI ini
hanya bersifat sepagai Operator Interface pada sistem DCS/PLC yg
terkoneksi dengannya. Dilengkapi dengan tools2 yg sangat lengkap
misalnya historical data, Alarm/Events, OPC, dll. Dan hampir semua
kebutuhan seorang Operator maupun Engineering terpenuhi oleh
software ini. Intellution ini hampir sama dengan Wonderware dimana
banyak vendor PLC/DCS memakai HMI ini.

Soal PC Based Control, saya kurang tahu cuman DEltaV menggunakan


PC sebagai Batch Control Executive (Batch MAchine) untuk mengontrol
sistem Batch, dimana controller memang kurang mampu untuk
menangani aplikasi batch tersebut. Selain fungsi Batch, semua
fungsi kontrol ada dalam controller.

Open System merupakan standar yg banyak diikuti oleh hampir semua


vendor DCS/PLC, memang tidak bias dipungkiri dengan open-nya
sistem maka rentan akan security, reliability, dll. Namun dengan
membuat sistem arsitektur OPC yg baik saya yakin sistem ini sudah
mengantisipasi hal tsb. OPC memungkinkan kita dapat
mengintegrasikan, sharing data berbagai macam sistem DCS/PLC
melalui skala Software. OPC mengadopsi teknologi COM/DCOM dari
Microsoft, yg semula berkembang teknologi ActiveX, dan DDE.
Dalam pandangan saya sekarang ada 3 jenis system kontrol yg
berkembang dan masih dipergunakan, meskipun ketiganya mungkin
rancu untuk dibedakan. Pertama adalah PLC, DCS dan saya sebut PCS
(Process Control System)/Hybrid Control. PLC sangat identik dengan
Discrete Control, meskipun dengan berkembangya PLC memungkinkan
mengontrol sistem kontinu. DCS dengan sistem arsitektur yg jauh lebih
besar dan kompleks yg memang\ bertujuan utk mengontrol sistem
kontinu maupun discrete (tidak sebaik PLC). Sedangkan Hybrid Control
ini bisa saya sebut generasi terbaru dan yg masih berkembang saat
ini. Saya ambil contoh DeltaV (mungkin ada brand lain yg masuk
kategori ini) dimana system ini memiliki sizing yg compact,
kemampuan yg hampir sama dengan DCS, dan scalable system.

Dan memang semua hal yg saya sebutkan diatas sangat tergantung


pemakaian pada process-nya. Untuk proses shutdown, interlock yg
bersifat crtitical bisanya menggunakan PLC, dan untuk regulatory
control DCS masih memegang peranan penting. Dan biasanya dalam
suatu proses yg cukup kompleks pasti melibatkan kedua system
tersebut.

Apabila ada kata yg kurang berkenan saya mohon maaf. Dan apabila
ada yg salah atau tidak sependapat, mohon pencerahannya. Terima
kasih

mochamadr

Buat Cak Febri,

Sorry kalo sangat-sangat telat respond subject diatas. Dari diskusi


yang berkembang, saya cuman tertarik untuk komentar tulisan anda
ini.
1. Saya agak confused dg klasifikasi anda.
"Dalam pandangan saya sekarang ada 3 jenis sistem kontrol yg
berkembang dan masih dipergunakan, meskipun ketiganya mungkin
rancu untuk dibedakan. Pertama adalah PLC, DCS dan saya sebut PCS
(Process Control System)/Hybrid Control."
2. Apa yg dimaksud dg Hybrid control belum terdefinisi secara jelas.
"Sedangkan Hybrid Control ini bisa saya sebut generasi terbaru dan yg
masih berkembang saat ini."

Menurut pemahaman saya, klasifikasi tsb berdasarkan jenis signal


being transferred & communication protocol. Kalau boleh saya cuplik
dari katalog-nya Yokogawa yg menyatakan
Communication Protocol adalah Analog, Hybrid & Fieldbus. Disitu
Ditulis: "Hybrid communication protocol is a communication technique
in which field device information is superimposed as digital signal on
conventional 4-20mA analog signal" "Fieldbus communication protocol
which is different from analog or hybrid communication protocols,
support perfect digital signal communication system"

Jadi kesimpulan saya, kalau bicara tentang Hybrid maka topic-nya


adalah signal type. Setahu saya DCS saat ini mostly adalah Hybrid
system karena kombinasi antara analog signal & di-superimposed oleh
digital signal (Smart type w/ Hart protocol).
Kalau bicara tentang PLC & DCS, topicnya adalah tentang controller
hardware & programming system-nya. Tapi koq muncul "Hybrid
Control" dari klasifikasi diatas ??
Atau ada definisi lain dari yg disebutkan diatas ??
Mohon pencerahan ...thanks.

febry_klanis@yahoo.com

Cak Rofiq,

Mungkin memang agak membingungkan, krn seperti yg saya lihat dan


amati dari perkembangan PLC dan DCS, ada semacam teknologi yg
berbau 'grey' dimana orang tidak memakai istilah PLC/DCS. Saya ambil
contoh, DeltaV ini sebenarnya berangkat dari berkembangnya
teknologi DCS nenek moyangnya (RS3/Provox), namun dia tidak bias
dikatakan sama dengan PLC.

Bagi saya DCS adalah continuous control dan PLC adalah Discrete
control. Nah tp yg berkembang skrg PLC seperti Allen Bradley,
Modicon, dll sudah mampu utk melakukan control kontinyu. Apalagi
kalau kita tinjau dari segi pemrogramannya, DCS banyak
menggunakan FBD dan SFC, sedangkan PLC memakai Ladder. Namun
sekali lagi sekarang PLC sudah bisa memakai FBD disisi
pemrogramannya. AKhirnya saya sendiri bingung utk menentukan apa
istilah yg tepat utk semacam DeltaV. Emerson/Fisher Rosemount sih
bilangnya Scalable Process System.

Dari perkembangan diskusi rekan2 kemaren soal


Ovation/Westinghouse juga membuat saya bertanya2. Ada yg
menstate bahwsannya system tsb adalah PC based Controller, namun
beliau ragu dan akhirnya tidak menstate system tsb dikategorikan sbg
PC based Controller. PAdahal menurut saya meskipun Ovation
memakai Pentium processor, apa bedanya dengan PLC yg jugak
sebenarnya memakai prosesor meskipun dalam bentuk minimum
system. Yang saya tahu utk produk Emerson, Daniel metering juga
menggunakan prosesor 486 Intel, apakah ini juga dikatakan PC based
controller ?

Apa kriteria/parameter yg bisa membedakan antara PLC dan DCS saat


ini ? Ukuran fisik ? Pemrograman ? Sistem yg dikontrol ? Tipe proses yg
dikontrol ? Spesifikai ?

aam

Makanya dari awal saya sudah confused ...

Kita bicara sistem .. Atau bicara tentang alat dengan


kemampuannya ...

Karena menurut saya itu akan sangat membingungkan ..... Jangan


sampai hanya kemampuan alat kita jadikan sebagai sistem.

: Jadi pembaca setia dechhhhh ( daripada komentar dan nggak


nyambung hehehe )

mochamadr

Terima kasih Cak Febri,

Dari jalan cerita anda sepertinya DeltaV sama dengan produk2 lain yg
mana basic design-nya adalah DCS lalu dikembangkan & dilengkapi dg
fitur2 dari PLC. Seperti yg pernah dibahas Pak Waskita (kalo nggak
salah), DCS punya Honeywell hanya support CPU, arsitechture dll lalu
dilengkapi dg fitur PLC (I/O, PSU dll) yang ternyata dari brand lain,
Rockwell Automation. Kalau nggak salah namanya TPS-
TotalPlantSolution (???)
Permasalahannya apakah istilah yg tepat menyebut kombinasi tsb ?
Karena Hybrid system punya definisi tersendiri seperti yg saya cuplik
sebelumnya.
Apakah itu istilah resmi yg tercantum di 'technical information'nya
Rosemount ? Kalau ya, saya pikir akan leading to confuse nantinya.

BTW, apakah DeltaV murni part of Rosemount, baik DCS mauppun PLC
system-nya
?? Bukan gabungan dg brand lain ??

waskita
Deltav yang tidak menggunakan Linking Device (LD) dan FF-HSE jelas
akan mengalami degradasi performance pada waktu memperbesar
system. Ethernet Network bisa digunakan sebagai Plant/Process
Control Network (PCN) dan menjadi deterministic dengan
menggunakan Industrial Ethernet.

Ladder adalah salah satu programming language dari IEC 61131-3.


Suatu system yang menggunakan satu atau lebih programming
language IEC 61131-3 bisa dikatakan mempunyai kemampuan sebagai
PLC.

Microprocessor Pentium/486 bisa saja dipergunakan oleh Industrial


System untuk melakukan fungsinya, dan ini tidak berarti
microprocessor yang dipergunakan oleh PC, membuat industrial
system tersebut menjadi PC atau PC-based Controller.

mochamadr

Pak Waskita,
Dari diskusi ini -khususnya tentang FF- ada beberapa point dari
postingan yg masuk belum terbahas. Saya menggaris bawahi
postingan Pak May (tjahyo_soenaryono@yahoo.com) yg
mempertanyakan detail construction secara keseluruhan technologi FF
jika diaplikasikan utk SIS. Setahu saya, shutdown signal pada SIS (baik
ESD atau PSD) adalah menggunakan hardwired link bukan multidrop
system seperti pada FF. Atau mungkin pertanyaannya bisa diganti,
apakah technologi FF hanya bias diaplikasikan pada process control
system dan bukan untuk safety/ shutdown system ?? Kalau
jawabannya tidak, apakah acceptable multidrop system menghandle
shutdown signal yg butuh action 'sangat cepat'? Demikian saya tunggu
pencerahannya. Terima kasih.

gunawan

Rekan-rekan sekalian,

Baik DCS, PLC , PC-based Controller , PC + HMI Software sebenarnya


adalah alat bantu untuk membantu pihak Operation dalam melakukan
pengendalian proces untuk memenuhi target produksi. Jadi semestinya
hirarki yang harus diikuti oleh Control & Safety Philosophy adalah
Operation Philosophy.

Kalau dilihat dari perspektif hirarki Operasi ada lapisan sbb :


1. Layer Plant Management & Supervisory Control
2. Layer Process Control.

DCS, PLC dan PC-based Controller berada di lapisan Process Control


dan perangkat kerasnya adalah Microprocessor. Fungsi-fungsi utama
dari lapisan ini adalah : signal conditioning, scanning, alarming dan
controlling.

DCS terutama dirancang untuk regulatory control thd proses yang


kontinyu dan kompleks, walaupun mempunyai juga kemampuan
Sequential Control ( misalnya Yokogawa DCS yang terpasang di Arun
Field/Plant ). Feature "distributed" disukai karena mendistribusikan
"controller" sesuai dgn kebutuhan operasi process ( Main Process,
Utilities, Storage/Loading , dsb ) sehingga mengurangi resiko total
failure yang berarti meningkatkan kehandalan dan juga menghemat
biaya "cabling". Oleh karena itu DCS banyak dipakai di kilang /
refinery , offshore- platforms, dsb. DCS membutuhkan programming,
debugging, etc oleh sebab itu ditangani oleh spesialis Control System
Engineer atau DCS Engineer ( yang lain tugasnya dari Instrument
Engineer ). Namun software DCS yang proprietary tidak diijinkan
untuk "diutak-atik" dan user hanya perlu melakukan "system
configuration". "Benchmarking" untuk DCS sudah ada bukunya yang
dibuat oleh Applied Digital Research dari Research Triangle Park,
North Caroline, USA ( dekat kantor ISA ). Waktu bertugas di Arun kami
membelinya untuk keperluan proyek DCS Feasibility Study dan
disimpan di perpustakaan PT.Arun NGL Co.

PLC terutama dirancang untuk sequential control bagi process "batch",


oleh karena itu banyak dipakai untuk aplikasi Gas/Air Drying ,
Compressor Control, Boiler Control dan Safety/Shutdown Systems. Jadi
PLC lebih banyak digunakan untuk posisi "local controller" dan cocok
untuk "small to medium size process". PLC dirancang untuk tidak
membutuhkan "sophisticated programming" , tetapi "simple &
straightforward" dengan memakai Ladder Diagram, Sequential
Function Chart (SFC) dan Function Block Diagram (FBD).

Lapisan atas ( Plant Management & Supervisory Control ) bebas dari


fungsi-fungsi Process Control, tetapi melakukan fungsi-fungsi lain
misalnya Optimisasi/Advanced Control,etc dan perangkat kerasnya
adalah Computer Micro dan Mini seperti DEC VAX/ALPHA ( Honeywell /
Foxboro) , HP-1000 ( Yokogawa ) dan dibantu perangkat lunak seperti
DMC Plus dari Aspentech, dsb.

waskita
Rekan-rekan,

Saya setuju dengan pendapat Mas Rofiq. FF system dengan arsitektur


FCS (Field Control System) sepenuhnya memanfaatkan Linking Device
dan FF-HSE. Jadi tidak bisa pula kita sebut Deltav sebagai FCS.

Arsitektur Deltav mirip dengan Plantscape. Apakah kita mau sebut


sebagai DCS atau PLC? Saya cenderung untuk menggunakan istilah
yang digunakan Smar untuk product LC700 yang dinamakan Universal
Programmable Hybrid Controller. Berikut adalah cuplikan description
dari LC700 Universal Programmable Hybrid Controller:
"As a hybrid controller, it has the logic capability and speed of a
traditional PLC, and the regulatory features and power of a DCS. A
powerful hardware platform with a wide range of conventional I/O
modules and field communications modules for leading industrial
networks combined with an extensive set of programming function
blocks and logic elements makes the LC700 extremely versatile." Yang
dimaksud sebagai:
'field communications modules for leading industrial networks' adalah
FF, Profibus PA, DeviceNet, dsb; 'Hybrid' menyatakan kemampuan
gabungan sebagai PLC maupun DCS.

Kebetulan saya mengikuti perkembangan Provox, RS3 dan Deltav.


Sejarahnya pada waktu akuisisi Fisher oleh Emerson, mereka
bermaksud untuk menggabungkan Provox dan RS3 menjadi satu
system, akan tetapi karena DCS yang sangat proprietary mereka
menghadapi kesulitan teknis dan saya tidak tahu bagaimana
prosesnya, muncul Deltav yang sama sekali berbeda dengan Provox
ataupun RS3. Kalau mau disebut nenek-moyangnya mungkin ada
benarnya juga karena dalam merancang Deltav expertise yang sudah
mereka punyai dari Provox dan RS3 dituangkan dalam Deltav
ditambah FF dsb.

Yang saya maksud pada posting sebelumnya adalah OEM (Original


Equipment Manufacturer). Tidak semua vendor melakukan
manufacturing untuk semua komponennya sendiri, tetapi bisa
mengambil dari OEM. OEM dari I/O modules, racks, power supply dan
accessories dari Plantscape atau ProcessLogix adalah Rockwell
Automation, sedangkan OEM dari Processor module, software dan
design architecture adalah Honeywell. Demikian pula OEM dari I/O
Module Deltav adalah MTL (MTL 8000 series); YEW system banyak
menggunakan I/O module dan conditioner dari OEM M-Series, banyak
system vendor menggunakan OEM OPTO-22, dst. Serupa juga adalah
istilah 'private labelling' seperti dahulu sebelum merging, Fisher dan
Daniel pressure transmitter adalah Rosemount pressure transmitter
dengan merk dan warna berbeda. Sumbangan Mas Warih melalui Mas
Budhi artikel mengenai COTS (commercial-off-the-shelf), menyebut
bahwa hampir semua vendor menggunakan COTS product didalam
systemnya. Komponen electronics pasti dibeli dari OEM. Jadi yang
dipromote oleh vendor adalah 'trade mark' dan 'brand image' masing-
masing.

febry_klanis

Terima kasih Pak WAskita atas tanggapan dan tambahannya. Saya


memang masih awam dalam bidang ini, mengingat saya masih punya
pengalaman 2 tahun dalam bidang ini, dan kebetulan sebelumnya
saya belajar DeltaV dan sekarang saya berpindah ke Centum Series
dari Yokogawa.Saya memberanikan diri utk sedikit berkomentar
(meskipun salah/kurang benar) karena ingin belajar dari rekan2
sekalian yg punya pengalaman dan ilmu yg lebih banyak dari saya.

DeltaV di Emerson menyebut dirinya sebagai Scalable Process System


(entah apa ini bisa disebut Hybrid Control spt Smar), krn setelah saya
lihat dan bandingkan dgn Centum Series memiliki architectur yg mirip,
dgn segala kekomplekannya. Dari bisa menangani Controller yg
terdisribusi sampai 100 Controller, 64 station yg berbeda fungsinya,
dan tiap controller yg mampu menangani ribuan IO, dsb. Tentunya dgn
keterbatasn jumlah memory utk program dan load dari
networking/controllernya. DeltaV juga mampu berkomunikasi/support
utk hampir seluruh bus yg ada di semua vendor, dari devicenet,
fieldbus, modbus, ASI bus, Profibus, dll. Untuk Fieldbus,
Fisher/Rosemount juga memiliki tipe utk transmitter/Control valve yg
mampu sebagai dedicated controller (dapat mengontrol tanpa adanya
Main Controller/DeltaV Controller), atau dikenal FCS-nya, tp ini
tergantung dari tipe device tsb apakah memiliki kemampuan tsb.

Kalau masalah DeltaV mirip dgn Plantscape saya kurang setuju, krn yg
saya tahu Plantscape adalah utk process system yg medium ke bawah,
dan utk Medium ke atas Honeywell memakai GUS (saya lupa
kepanjangannya), dan saya lebih setuju jika DeltaV disejajarkan dgn
system ini. Mungkin pendapat saya bisa salah, mohon pencerahannya.

Untuk masalah OEM, memang DeltaV juga banyak dibuat dari


manufaktur lain spt MTL. Menurut Pak Waskita sebenarnya parameter
perbedaan antara PLC dan DCS sebenarnya apa ? Apakah dilihat dari
segi architekturnya dimana PLC hanya mampu utk menangani process
mini sampai medium size, atau dari segi pemrogramannya, atau yang
lain ? Karena yg saya lihat dari produk Fisher Roemount (PRovox/RS3),
CS Yokogawa, memiliki struktur yg sama, konfigurasi/pemrograman yg
relatif sama. Sedangkan utk DeltaV yg saya tahu perbedaannya hanya
terletak dari Ukuran fisiknya, terlepas dari softawre/utility yg inculde
didalamnya.

DeltaV juga memiliki feauture integrate dgn FieldBus system(dpt


melakukan konfigurasi, maintenance, dll) tanpa software tambahan,
Auto Tuning, Optimized Process (DeltaV Inspect, Fuzzy, NEural, dll), dll.

Mohon pencerahannya, terima kasih.

waskita

Diskusi semakin seru nih. Ayo donk rekan-rekan PTCS, Honeywell, YEW
angkat suara. Brand Anda banyak disebut dalam diskusi ini. Saya yang
jadi ngga enak seolah-olah lebih mengetahui daripada vendornya
sendiri. Maaf kalau rekan-rekan yang berdiskusi disini sudah ada dari
rekan vendor yang tidak saya ketahui karena email addressnya tidak
menggunakan atribut perusahannya.

Mengenai bagaimana system akan dinamakan atau digolongkan itu


adalah haknya masing-masing vendor, maka pada posting sebelumnya
saya menggunakan kata 'cenderung'.

Seperti yang sudah pernah saya bahas sebelumnya, pengertian saya


mengenai 'scalable system' adalah dimana pengembangan
(memperbesar) system tidak mempengaruhi system performance,
sedangkan pengembangan system yang membuat degradasi system
performance, menurut pengertian saya adalah 'expandable system'. Ini
adalah pemikiran individual dari saya. Rekan PTCS mungkin lebih tepat
untuk memberikan pengertian 'Scalable Process System' dari Deltav.

Demikian pula pengertian mengenai FCS yang menggunakan FF-HSE


dan LD (Linking Device) adalah vendor specific. Fieldbus Foundation
tidak mengharuskan vendor membuat systemnya dengan arsitektur
FCS. Keuntungan FF system dengan arsitektur FCS yang menggunakan
FF-HSE dan LD adalah dimana bridging bisa dilakukan antar FF-H1
pada LD satu melalui FF-HSE dan LD lainnya ke FF-H1 dibawahnya
tanpa memerlukan OPC Mirror. Referensi mengenai
kemampuan bridging bisa dibaca di Technical Overview
FOUNDATION(TM) Fieldbus FD-043 Rev.3 item 6.1.

Yang saya katakan mirip dari Plantscape dan Deltav, juga LC700
adalah arsitekturnya. Ini bukanlah penyetaraan performance, kapasitas
atau funfgsionalnya.
Seperti yang sudah diutarakan banyak rekan dalam diskusi ini definisi
DCS, PLC, PC-based Controller, SCADA, dan sebagainya sudah kabur
dan tidak bias lagi membuat garis pemisahan yang jelas. Ini adalah
issue international yang berdiskusi mengenai hal ini dan balik-baliknya
tetap masih kabur. Jadi sebaiknya kita anggap saja semua system
sebagai BPCS yang melayani process seperti yang diutarakan
sebelumknya oleh beberapa rekan. User men-specify BPCS
requirements, vendor menawarkan suitable BPCS sesuai requirements.

febry_klanis

Pak Waskita,

Mohon maaf sebelumnya, saya sebelumnya adalah Engineering PTCS


selama 2 tahun, dan sekarang saya sudah pindah ke Yokogawa.
Seperti yg sebelumnya saya kemukakan, DeltaV menyebut dirinya
sebagai Scalable PRocess System, meskipun sistem dinaikkan
eskalasinya utk menangani proses yg lebih besar, sistem tidak akan
berpengaruh besar (hanya dibatasi oleh bandwith Netowrk TCP/IP)
pada sistem tsb, dan selama load dari tiap controller masih berada
pada toleransi optimum bekerja (biasanya 30-40% sisa load
min)sistem tidak akan terpengaruh.

Saya setuju dan sependapat dgn bapak soal kekaburan pengertian


ketiga definisi sistem tsb. Makanya pada email sebelumnya memang
saya bingung pada ketiga definis tsb, dimana semua sistem seakan2
berlomba utk memperbaiki sistemnya kearah yg lebih komplit shg
mungkin cenderung ke arah yg sama. Dan biasanya mereka tetap
mempertahankan filosofi lama, misalnya utk PLC pasti masih support
dgn ladder-nya. Namun utk DCS sama sekali tidak menggunakan
ladder. Dari perkembangan produk Emerson yg saya ikuti memang
kecendurangan beberpa produk menggunakn prosesor Pentium/486
sebagai main procesorrnya. Contoh Ovation dan Daniel. Entah apa ini
disebut PC based controller/ tidak.

waskita

Deltav yang tidak menggunakan Linking Device (LD) dan FF-HSE jelas
akan mengalami degradasi performance pada waktu memperbesar
system. Ethernet Network bisa digunakan sebagai Plant/Process
Control Network (PCN) dan menjadi deterministic dengan
menggunakan Industrial Ethernet.
Ladder adalah salah satu programming language dari IEC 61131-3.
Suatu system yang menggunakan satu atau lebih programming
language IEC 61131-3 bisa dikatakan mempunyai kemampuan sebagai
PLC.

Microprocessor Pentium/486 bisa saja dipergunakan oleh Industrial


System untuk melakukan fungsinya, dan ini tidak berarti
microprocessor yang dipergunakan oleh PC, membuat industrial
system tersebut menjadi PC atau PC-based Controller.

suradi

Supaya tidak bingung2 saya punya konsep yang simple untuk


membedakan DCS, PLC dan PC Based control, dengan melihat antara
Controller, software konfiguratornya dan HMI/User Interfacenya. DCS
umumnya mempunyai software configurasi dan HMI (user
Interfacenya) yang sama brand. Software untuk mengkonfigurasi dan
HMInya satu packet dengan controllernya. Tagname yang di PC sama
persis dengan tagname di Controller. PLC umumnya mempunyai
software konfigurasi khusus yang satu brand dengan PLCnya namun
untuk HMI(User interfacenya) dapat menggunakan Brand Lain.
Tagnamenya akan berbeda dengan tagname yang dikontroller. Malah
kadang di controller hanya berupa register/address saja. Umumnya
PLC dapat bekerja walau tanpa HMI/User Interface. PC Base Control
Umumnya adalah PC yang fungsinya personal computer (baik itu
industrial PC ataupun home PC) namun dilengkapi dengan Card
IO/module IO atau PLC controller namun PC tersebut sebagai otak
kontrolnya baik itu semua Atau sebahagian control yang dilakukan
oleh PC tersebut.

Mudah-mudahan tidak salah. Kalaupun salah mohon dikoreksi.

tjahyo_soenaryono

Mungkin untuk koreksi,.. kalo nggak salah..

Ada DCS yang mempunyai development sofwarenya yang beda


dengan HMI nya, misalnya Yamatake : dengan RTC Editornya utk
mendevelop fungsi2 pada hardwarenya dan menggunakan
Wonderware sebagai HMInya..

terus ada juga vendor PLC yang punya software utk membuat
'ladder'nya yang sama brandnya dengan HMInya, misalkan siemens
plc dengan step7 utk laddernya dan Protool, Protool/pro, wincc utk
HMInya demikian juga dengan AB dengan RSLogic dan RS Viewnya
yang juga buatannya sendiri...

tjahyo_soenaryono

Mengenai vendor yang mengasumsikan dirinya sebagai yang fully


menggunakan FF, dan mengatakan bahwa teknologi DCS dan PLC
sudah mungkin nggak akan berlangsung lama, eh ternyata dia juga
punya produk programmable controller. Apa mungkin nggak terlalu PD
menggunakan FCS..?? mungkin juga untuk tujuan yang lain.

terus yang kedua, masalah constructionnya (cable ke field dll.), kalo


misalkan teknologi FF belum bisa dipakai untuk SIS, berarti harus pake
hardware yang lain utk SIS disamping FCS sebagai Control
Systemnya.. berarti cablenya harus beda, cable tray lain juga, conduit,
junction box yang beda pula.. nambah duit lagi... bisa jauh lebih mahal
ketimbang DCS utk BPCS dan PLC utk safety systemnya..

Terus kalao masalah keterdistribusiannya, kalo dibandingkan dengan


scada misalnya ??

febry_klanis

Iya betul pak Tjahyo, untuk DeltaV sendiri memakai Intellution sbg
MMI-nya, Objectivity sbg Databasenya, Sytech utk Report dan sebagian
kecil tools yg ada di softwarenya, Historical data memakai PI system
dari OSI Soft, dll. Ini menandakan bahwasannya pembedaan bukan
terletak pada hal tsb. DeltaV demikian opennya sampai hampir semua
tools-nya memakai outsourcing yg berbeda. Saya kurang tahu apa hal
ini merupakan sebuah kelebihan atau justru kekurangan bagi
systemnya, bahkan harwdare-nya pun menggunakan brand lain seperti
MTL.

Pak Suradi ini dulunya dari Asia Karsa ya ? Titip salam buat PAk Hery
(alumni PTCS), dan pak Munir.

Saya FF tidak akan bisa menggantikan begitu saja sistem DCS dan PLC.
Karena masing2 sistem memiliki aplikasi yg berbeda2 sesuai dgn
kebutuhannya. Masalah SCADA sebenarnya adalah masalah komunkasi
diantara RTU dan master-nya atau supervisory-nya. Sistem SCADA
menggunakan PLC disisi kontroller-nya. Misalnya di Total Peciko sudah
menggunakan sistem SCADA dimana PLC yg digunakan adalah
Modicon dgn Intellution sbg HMI-nya.

suradi
Kalau yamatake saya tidak tahu.
Setahu saya biasanya DCS itu display/HMI dan tools configurasinya
proprietary. Kalau Siemens PLC paketnya dengan ProTool dan AB-PLC
paket dengan RSLogix. Kedua PLC ini dapat menggunakan HMI lain
selain brandnya. Wincc dan RSView adalah HMI umum yang bisa untuk
PLC apapun yang penting protocol dimiliki oleh software tsb. Kalau
DeltaV memakai Intellution FIX yang proprietry untuk DeltaV.
Intellution untuk aplikasi HMI umum versi iFIX (intellution iFix).

wildam

Kalo untuk model yang sederhana (orde-2 dan 3), Matlab cukup OK.

Tapi untuk matriks orde tinggi, saya ngga jamin. Yang pernah saya
tahu, matlab bisa eksekusi sampai matriks ukuran 10x10,Saya tidak
tau jika ada produk matlab terbaru.

Tapi kalo untuk yang ngejelimet, sebaiknya membuat satu modul


program sendiri (dalam dalam C++) untuk menghemat waktu
komputasi. Dasar yang penting adalah algoritma Numerik untuk
mencari solusi model

Matlab bisa dalam bentuk blok diagram, dipaket simulink nya ada,dan
user friendly sekali.

Semoga Membantu

nugrohowibisono

Yth. Members,
Saya respon borongan deh, mumpung udah lewat jam kantor hehe.

--- "Dermawan, Imam" <IDermawan@mcdermott.com> wrote:


> Klo waktu kuliah dulu sih Pernah ada yg menggunakan matlab untuk
kalkulasi pake neural networks tapi lama (berjam2) , kemudian ada
juga yg bikin kalkulasinya pake software yg didevelop sendiri pake
labview (ini cepat /bias online). Tapi tidak tahu untuk aplikasi kalkulasi
lainnya di matlab?

Mas Imam,

Mohon maaf jika salah lho ya.. Kasus yang mas Imam bicarakan itu
adalah tahapan dalam
pencarian model yang tepat dengan cara mengisi konstanta-
konstantanya secara iterasi , atau istilahnya kerennya sih learning
process untuk neural network(NN)-nya (mas Imam pasti sudah paham
ini ya). Dalam tahapan tersebut, si NN-nya belajar untuk menghasilkan
suatu model (bisa model dari proses, bias model dari kontrolnya).
Kalau tahapan itu memang lama mas, tapi kalau dari tahapan itu
ditemukan bahwa galatnya sudah acceptable, berarti sudah dihasilkan
model yang sudah cukup mewakili dari suatu keadaan yg ingin
dimodelkan. Barulah kalau tahapan simulasi dinamika proses, itu yg
bisa cepat... Kasus yg saya bicarakan adalah mengenai simulasi
dinamika proses dan bukan simulasi kontrolnya (lha kalo simulasi
kontrol, DCS-nya buat apa? Hehehe). Saya kurang tahu apakah teman
mas Imam menggunakannya untuk memodelkan prosesnya atau
memodelkan kontrolnya... Labview setahu saya cukup cepat juga
(bahasa C yg berbasiskan grafis kalo ga salah ya?), cuma saya kurang
familiar dengan Labview, jadi kurang begitu paham juga hehe.. Saya
kurang begitu tahu apakah LabView bisa komunikasi dengan OPC
selain punyanya National Instrument sendiri ya.

> From: Waskita Indrasutanta


>
> Mohon tanya:
> 1. Apakah MatLab cukup cepat melakukan semua kalkulasi yang
diperlukan agar bisa secara online bekerjasama dengan DCS?

Pak Waskita,

Mohon maaf kalau saya salah lho ya.


Untuk pertanyaan nomor 1, perlu saya luruskan bahwa konteks
pembicaraan saya dalam penggunaan Matlab ini adalah untuk simulasi
dinamika proses. Jika yang dimaksudkan ini maka jawabannya adalah
saya rasa Matlab cukup cepat untuk melakukan kalkulasi semacam ini.
Kenapa saya menggunakan kata "saya rasa"? karena memang saya
tidak pernah melakukan benchmarking atau melihat performansi
kecepatan kalkulasi untuk keperluan simulasi dinamika proses secara
khusus. Lagi pula, namanya juga komputer di lab kampus, isi komputer
yg digunakan hampir bisa dipastikan tidak hanya berisikan software-
software yg berguna secara akademis, tetapi juga "berguna" untuk
sang pemakai komputer i.e. : winamp, games, ICQ, YahooMessenger,
dan software2 yg ga ketahuan juntrungannya hehe.. balik topik ah..
Pengalaman kami dulu di lab, Matlab terlihat cukup cepat untuk
memberikan balikan berupa variabel proses yg dikalkulasi secara
online (dari pemodelan yg diinputkan kedalam Matlab), malahan
karena scanning time dari DCS adalah 1 detik, kadang DCS-nya yang
kurang cepat hehehe. Memang tujuannya sih untuk memudahkan
tahapan
implementasi model saja supaya bisa langsung ke DCS, ga kepikiran
aja apakah cukup cepat atau tidak.

Jadi idenya ini kurang lebih dapat digambarkan seperti ini pak
Waskita :

Model Proses (Matlab) <-->???<--> DCS

Menurut informasi dari teman saya, katanya sih Matlab-nya udah


nyediain fasilitas buat nempel ke DCS.. saya sendiri malah belum
searching tuh.. Nah, kalau konteks pembicaraannya "kalkulasi yg
berkaitan dengan optimization", ini saya yg engga begitu tahu...
Karena saya belum mencoba atau belum pernah melihat rekan-rekan
menggunakan Matlab untuk keperluan ini. Tentu saja, dengan
algoritma yang "sangat berat" Matlab akan kesulitan memberikan
respon yang cepat. Btw, pengalaman saya mencoba Matlab 6.5, agak
berat untuk di load. Iseng2 saya perhatikan, sepertinya untuk tampilan
grafisnya menggunakan Java ya? Mohon info juga kepada rekan-rekan
yang mengetahui. Bukan apa2, pengalaman pribadi sih didalam
lingkungan windows, Java cukup berat untuk di load...

> 2. Bagaimana minimum requirements dari PC yang yang


menjalankan MatLab,
> Supporting Software, OPC, dan network? Minimum requirements-
nya? Wah ini kembali ke
pertanyaan nomor 1 : mau untuk simulasi dinamika proses atau
optimization? Kalau untuk simulasi dinamika proses sih pakai Pentium
III (MHz-nya lebih dari 300-an lah), RAM 256 MB, sepertinya cukup
deh..kalau untuk optimization saya kurang tahu...

Saya kira begitu, kurangnya mohon dikoreksi...


Terima kasih.

wildam

Kalo untuk model yang sederhana (orde-2 dan 3), Matlab cukup OK.
Tapi untuk matriks orde tinggi, saya ngga jamin. Yang pernah saya
tahu, matlab bisa eksekusi sampai matriks ukuran 10x10,Saya tidak
tau jika ada produk matlab terbaru. Tapi kalo untuk yang ngejelimet,
sebaiknya membuat satu modul program sendiri (dalam dalam C++)
untuk menghemat waktu komputasi. Dasar yang penting adalah
algoritma Numerik untuk mencari solusi model Matlab bisa dalam
bentuk blok diagram, dipaket simulink nya ada,dan user friendly sekali.
Semoga Membantu
nugrohowibisono

Halo mas Wildany,


pengalaman sih oke juga kok, koneksi ke DCS juga ok kok..

sepengetahuan saya yg minim sih, model proses yg mempunyai orde 2


ke atas amat jarang di dunia industri proses alias mereka sudah cukup
didekati dengan orde satu. kalau mau maksain utk memodelkan ke
orde tinggi sih (menurut saya lho), juga tidak banyak pengaruh ke
kontrolnya. selain itu pemodelan (baik secara analitik ataupun
eksperimen) memerlukan effort yg lebih besar dengan hasil yg hampir
sama apabila kita memodelkan proses dengan orde satu.. ini menurut
saya lhooo... lha wong namanya belajar, salah kan ndak papa, ya
nggak brur? hehehe...

Mohon koreksinya...