Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

“ASKEP PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN


KECEMASAN”

Disusun Oleh :
ARIF ISNALIA
BAMBANG S.
CHOIRUN NISA
EKO SETIAWAN
FENTIANITA N.
MARIA ULFA
RIZA FRIKA. A
SEFTIFAN NUGROHO

POLITEKNIK KESEHATAN RS dr. SOEPRAOEN


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
MALANG
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga penyusunan makalah yang berjudul ”Askep pada Klien
dengan Gangguan Kecemasan” dapat terselesaikan dengan lancar dan tepat waktu.
Penulis menyadari sepenuhnya dalam penyusunan makalah ini tidak
terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan yang berharga
ini dengan segala kerendahan hati, perkenankan penulis menyampaikan rasa
hormat dan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah
membantu dengan setulus hati dalam proses penyusunan makalah ini yang tidak
bisa disebutkan satu persatu.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini sangat jauh dari sempurna
dan masih banyak kekurangan mengingat kemampuan kami yang terbatas. Untuk
itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami
harapkan dan kami terima dengan senang hati.

Malang, 22 April 2011

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan


meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan
kecemasan. Berbagai macam krisis yang terjadi sebenarnya bukan krisis
ekonomi sebagai pangkal masalahnya, melainkan mendasar pada kesehatan
mental bangsa ini sendiri. Minimnya perhatian terhadap kesehatan mental
bangsa termanifestasi dalam begitu banyak masalah yang disebut krisis
multidimensional. Pernyataan ini dinyatakan dengan jelas oleh dr. Danardi
Sosrosumihardjo, Sp.K.J., dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran
Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam konferensi pers Konvensi Nasional
Kesehatan Jiwa ke-2, yang bertema “Kesehatan Jiwa Masyarakat, Kesehatan
Jiwa Bangsa,” pada hari Kamis (9/ 10) di Jakarta.
Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar. Krisis ekonomi yang terus
berkepanjangan ternyata meninggalkan kisah-kisah menyedihkan dengan
meningkatnya jumlah penderita ganngguan jiwa, terutama jenis anxietas
(gangguan kecemasan). Gejala gangguan kesehatan mental yang mencakup
mulai dari gangguan kecemasan, depresi, panik hingga gangguan jiwa yang
berat seperti Schizoprenia hingga pada tindakan bunuh diri, semakin
mewabah di tengah masyarakat. Dari sekian jumlah penderita yang ada baru
8% yang mendapatkan pengobatan yang memadai. Sedangkan selebihnya
tidak tertangani.
Masalah gangguan jiwa yang menyebabkan menurunnya kesehatan
mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh negara di dunia. WHO (World
Health Organization) badan dunia PBB yang menangani masalah kesehatan
dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikan isu
global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan jiwa seperti
Schizoprenia, Alzheimer, epilepsy, keterbelakangan mental dan
ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian.
Di Indonesia jumlah penderita penyakit jiwa berat sudah cukup
memprihatinkan, yakni mencapai 6 juta orang atau sekitar 2,5% dari total
penduduk. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga
(SKMRT) pada tahun 1985 yang dilakukan terhadap penduduk di 11
kotamadya oleh Jaringan Epidemiologi Psikiatri Indonesia, ditemukan 185
per 1.000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukkan adanya gejala
gangguan kesehatan jiwa baik yang ringan maupun berat. Dengan analogi
lain bahwa satu dari lima penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa dan
mental. Sebuah fenomena angka yang sangat mengkhawatirkan bagi sebuah
bangsa.

Dengan adanya permasalahan tersebut, kami tertarik untuk membuat


makalah yang berjudul “Askep pada Klien dengan Gangguan Kecemasan”.

1.2 Rumusan Masalah


Diharapkan mahasiswa atau perawat dapat melakukan asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan kecemasan.

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa atau perawat mampu malakukan pengkajian.
2. Mahasiswa atau perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan.
3. Mahasiswa atau perawat dapat membuat intervensi keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 KECEMASAN / ANXIETAS
2.1.1 Definisi
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak
menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan
terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah
yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu.
Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung
berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau
buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan
gelisah. “ ( Harold I. LIEF) “Anenvous condition of unrest” ( Leland E.
HINSIE dan Robert S CAMBELL).
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan
oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan
membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang
individu atau kelompok biososialnya.” ( J.J GROEN).

2.2.2 Penggolongan Anxietas


1. Anxietas Ringan
Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda
dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan
membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, bertindak,
menyelesaikan masalah, merasakan, dan melindungi dirinya sendiri.
Anxietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa
kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan
individu akan berhati-hati dan waspada.
a. Respon Fisiologis
 Sesekali nafas pendek
 Nadi dan tekanan darah naik
 Gejala ringan pada lambung
 Muka berkerut dan bibir bergetar
 Ketegangan otot ringan
 Rileks atau sedikit gelisah
b. Respon Kognitif
 Mampu menerima rangsang yang kompleks
 Konsentrasi pada masalah
 Menyelesaikan masalah secara efektif
 Perasaan gagal sedikit
 Waspada dan memperhatikan banyak hal
 Terlihat tenang dan percaya diri
 Tingkat pembelajaran optimal
c. Respon Perilaku dan Emosi
 Tidak dapat duduk tenang
 Tremor halus pada tangan
 Suara kadang-kadang meninggi
 Sedikit tidak sabar
 Aktivitas menyendiri

2. Anxietas Sedang
Ansietas sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa
ada sesuatu yang benar-benar berbeda, individu menjadi gugup atau
agitasi. Misalnya, seorang wanita mengunjungi ibunya untuk pertama
kali dalam beberapa bulan dan merasa bahwa ada sesuatu yang sangat
berbeda. Ibunya mengatakan bahwa berat badannya turun banyak
tanpa ia berupaya menurunkannya. Pada tingkat ini lahan persepsi
terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal
yang penting saat itu dan mengesampingkan hal yang lain.
a. Respon fisiologis
 Ketegangan otot sedang
 Tanda-tanda vital meningkat
 Pupil dilatasi, mulai berkeringat
 Sering mondar-mandir, memukulkan tangan
 Suara berubah: suara bergetar, nada suara tinggi
 Kewaspadaan dan ketegangan meningkat
 Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyari
punggung
b. Respon kognitif
 Lapang persepsi menurun
 Tidak perhatian secara selektif
 Fokus terhadap stimulus meningkat
 Rentang perhatian menurun
 Penyelesaian masalah menurun
 Pembelajaran berlangsung dengan memfokuskan
c. Respon prilaku dan emosi
 Tidak nyaman
 Mudah tersinggung
 Kepercayaan diri goyah
 Tidak sadar
 Gembira

3. Ansietas Berat
Ansietas berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu
yang berbeda dan ada ancaman; ia memperlihatkan respon takut dan
distres. Ketika individu mencapai tingkat tertinggi ansietas, panik
berat, semua pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut
mengalami respon fight, flight atau freeze-yakni, kebutuhan untuk
pergi secepatnya, tetap ditempat dan berjuang, atau menjadi beku atau
tidak dapat melakukan sesuatu.
a. Respon fisiologis
 Ketegangan otot berat
 Hiperventilasi
 Kontak mata buruk
 Pengeluaran keringat meningkat
 Bicara cepat, nada suara tinggi
 Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
 Rahang menegang, menggetakkan gigi
 Kebutuhan ruang gerak meningkat
 Mondar-mandir, berteriak
 Meremas tangan, genetar
b. Respon kognitif
 Lapang persepsi terbatas
 Proses berfikir terpecah-pecah
 Sulit berfikir
 Penyelesaian masalah buruk
 Tidak mampu mempertimbangkan informasi
 Hanya memerhatikan ancaman
 Preokupasi dengan pikiran sendiri
 Egosentris
c. Respon prilaku dan emosi
 Sangat cemas
 Agitasi
 Takut
 Bingung
 Merasa tidak adekuat
 Menarik diri
 Penyangkalan
 Ingin bebas

2.2.3 Faktor Predisposisi


1. Teori Psikoanalitik
Menurut freud,struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu “ID,
EGO Dan SUPER EGO”. Ego melambangkan dorongan insting dan
impuls primitif. Super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang , sedangkan Ego
digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari ID dan Super Ego.
2. Teori Interpersonal
Anxietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal
ini juga dihubungkan akan trauma pada masa pertumbuhan, seperti
kehilangan, perpisahan individu yang mempunyai harga diri rendah
biasanya sangat mudah mengalami anxietas yang berat.
3. Teori Perilaku
Anxietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal
kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan
menunjukkan kemungkinan anxietas yang berat pada kehidupan masa
dewasanya.

2.2.4 Bentuk Gangguan Anxietas


1. Gangguan Panik
Serangan panik adalah suatu episode ansietas yang cepat, intens,
dan meningkat, berlangsung 15-30 menit, ketika individu mengalami
ketakutan emosional yang besar juga ketidaknyamanan fisiologis.
Diagnosis gangguan panik ditegakkan ketika individu mengalami
serangan panik berulang dan tidak diharapkan yang diikuti oleh rasa
khawatir yang menetap sekurang-kurangnya satu bulan bahwa ia akan
mengalami serangan panik berikutnya atau khawatir tentang makna
serangan panik, atau perubahab prilaku yang signifikan terkait dengan
serangan panik, saat gejala-gejala tersebut bukan akibat penyalahgunaan
zat atau gangguan jiwa lain. Sedikitnya lebih dari 75% individu
dengangangguan panik mengalami serangan awal spontan tanpa ada
pemicu dari lingkungan. Sisanya mengalami serangan panik yang
distimulasi oleh stimulus fobia atau karena berada di bawah pengaruh
zat yang mengubah sistem saraf pusat dan menstimulasi respon
hormonal, organ, tanda vital yang sama, yamg terjadi pada serangan
panik. Setengah dari individu yang mengalami serangan panik juga
mengalami agorafobia.
Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa
agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia kedua gangguan
panik ini harus ada serangan panic

2.2.5 Gejala Umum Anxietas


1. Gejala psikologik
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati ,
takut ”gila”, takut kehilangan kontrol dan sebagainya.
2. Gejala fisik
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan,
pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa
gatal, gangguan di lambung dan lain-lain. Keluhan yang dikemukakan
pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada;
kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang
menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan
merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus
bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan
beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak
spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak
semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas kronik, melainkan
seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja.
Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang
bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.
3. Gejala penyerta
Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan
agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan
bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian telah menemukan
bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan
panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan
mental.
2.2.6 Gambaran Klinis
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau
serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah
luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma
emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau
situasi yang sering mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai
dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit.
Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan
ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu
menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa
kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.
Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat.
Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya
berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi
dimana ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa
bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KECEMASAN /


ANXIETAS
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian ditujukan pada fungsi fisiologis dan perubahan perilaku melalui
gejala atau mekanisme koping sebagai pertahanan terhadap kecemasan.
a. Kaji faktor predisposisi
Faktor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat menyebabkan timbulnya kecemasan seperti:
1. Peristiwa traumatic yang dapat memicu terjadinya kecemasandengan
krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau
situasional.
2. Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan
dengan baik. Konflik antara id dan super ego atau antara keinginan
dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu.
3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu
berpikir secara realistissehingga akan menimbulkan kecemasan.
4. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego.
5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan
ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep
diri individu.
6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani setres
akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang
dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari
dalam keluarga.
7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi
respon individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi
kecemasannya.
8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah
pengobatan yang mengandung benzodiepin, karena benzodizepin
dapat menekan neurotrasmiter gamma amino butyric acid (GABA)
yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab
menghasilkan kecemasan.
b. Kaji stressor presipitasi
Stressor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
dapat mencetuskan timbulnya kecemasan. Stressor presipitasi kecemasan
dikelompokkan menjadi dua bagian:
1. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam
integritas fisik meliputi:
• Sumber internal, mrliputi kegagalan mekanisme fisiologis system
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal
(mis.hamil)
• Sumber eksternal, meliputi paparan terhadapinfeksi virus dan
bakteri, polutan lingkungan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya
tempat tinggal.
2. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
• Sumber internal: kesulitan dalam berhubungan interpersonal
dirumah dan di tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru.
Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat
mengancanm harga diri.
• Sumber eksternal: kehilangan orang yang dicintai, perceraian,
perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, social budaya.
c. Kaji perilaku
Secara langsung kecemasan dapat di ekspresikan melalui respon
fisiologis dan psikologis dan secara tidak langsung melalui
pengambangan mekanisme koping sebagai pertahanan melawan
kecemasan.
1. Respon fisiologis.
Mengaktifkan system saraf otonom(simpatis dan parasimpatis)
2. Respon psikologologis.
Kecemasan dapat mempengaruhi aspek intrapersonal maupun
personal.
3. Respon kognitif.
Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik proses
pikir maupun isis pikir, diantaranya adalah tidak mampu
memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunya
lapangan persepsi, bingung.
4. Respon afektif.
Klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga
berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan.
d. Kaji penilaian terhadap stressor
e. Kaji sumber dan mekanisme koping
f. Rentang perhatian menurun
g. Gelisah, iritabilitas
h. Kontrol impuls buruk
i. Perasaan tidak nyaman, ketakutan, atau tidak berdaya
j. Deficit lapangan persepsi
k. Penurunan kemampuan berkomunikasi secara verbal
2.2.2 Diagnosa Keperawatan, Kriteria Hasil dan Rencana Keperawatan
1. Panik berhubungan dengan penolakan keluarga karena bingung dan gagal
mengambil keputusan.
KRITERIA HASIL :
 Klien tidak akan menciderai diri sendiri dan orang lain.
 Klien akan berkomunikasi dengan efektif.
 Klien akan menyampaikan pengetahuan tentang gangguan panik.
 Klien akan mengungkapkan rasa ppengendalian diri.
INTERVENSI :
 Bantu klien berfokus pada pernapasan lambat dan melatihnya
bernapas secara ritmik.
 Bantu klien mempertahankan kebiasaan makan teratur dan
seimbang.
 Identifikasi gejala awal dan ajarkan klien melakukan perilaku
distraksi seperti: berbicara kepada orang lain, melibatkannya
dalam aktivitas fisik.
 Bantu klien melakukan bicara pada diri sendiri positif yang
direncanakan sebelumnya dan telah terlatih.
 Libatkan klien dalam mempelajari cara mengurangi stressor dan
situasi yang menimbulkan ansietas.

2. Kecemasan berat berhubungan dengan konflik perkawinan.


KRITERIA HASIL :
 Klien mendiskusikan tentang perasaan cemasnya.
 Klien mengidentifikasi respon terhadap stress.
 Klien mendiskusiksn suatu topik ketika bertemu dengan perawat.
INTERVENSI :
 Eksplorasi perasaan cemas klien, perlihatkan diri sebagai orang
yang hangat, ,menjadi pendengar yang baik.
 Bantu klien mengenali perasaan cemas dan menyadari nilainya.
 Melakukan komunikasi dengan teknik yang tepat dan dimulai dari
topik yang ringan.
 Bantu kilen mengidentifikasi respon terhadap stres.

3. Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan kematian saudara


kandung.
KRITERIA HASIL :
 Klien memiliki koping terhadap ancaman.
 Strategi koping positif.
 Untuk mengetahui sebab biologis.
 Klien melakukan aktifitas seperti biasanya.
INTERVENSI :
 Dorong klien untuk menggunakan koping adaftif dan efektif yang
telah berhasil digunakan pada masa lampau.
 Bantu kien melihat keadaan saat ini dan kepuasan mencapai
tujuan.
 Bantu klien untuk menentukan strategi koping positif.
 Konseling dan penyuluhan keluarga ataun orang terdekat tentang
penyebab biologis.
 Dorong klien untuk melakukan aktifitas yang disukainya,
hal ini akan membatasi klien untuk menggunakan mekanisme
koping yang tidak adekuat.

4. Ketakutan yang berhubungan dengan rencana pembedahan.


KRITERIA HASIL :
 Meningkatkan kesadaran diri klien.
 Klien merasakan tenang dan nyaman dengan lingkungannya.
 Klien memahami rasa takutnya ekstrim dan berlebihan.
INTERVENSI :
 Perawat harus dapat menyadari perasaan cemasnya,
membuka perasaan cemasnya dan menangani secara konstruktif
dan gunakan cara yang dilakukan perawat secara terapeutik untuk
membantu mengatasi kecemasan klien.
 Fasilitasi lingkungan dengan stimulus yang minimal, tenang dan
membatasi interaksi dengan orang lain atau kurangi kontak
dengan penyebab stresnya.
 Berikan alternatif pilihan pengganti, tidak mengonfrontasi dengan
objek yang ditakutinya, tidak ada argument, tidak mendukung
fobianya, terapkan batasan perilaku klien untuk membantu
mencapai kepuasan dengan aspek lain.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada Ny. I dengan usia 45 tahun, masuk RSJ Lawang karena mengalami
gangguan jiwa dikarenakan ada masalah pada perkawinannya dengan Tn. A
akibatnya terjadi perceraian dikarenakan Tn. A berselingkuh dengan perempuan
lain sehingga Ny. I mengalami stress yang ditandai dengan panic, menarik diri,
menghindari kontak sosial terutama pada seorang pria, depresi, takut yang
berlebihan.

Identitas
Nama : Ny. I
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Bululawang, Malang
Suku : Jawa, Indonesia
Agama : Islam
Status Perkawinan : Janda
Pendidikan : SMA
Nomor Register : 04511
Tanggal Masuk : 12 April 2011 pukul 08.45 WIB
Tanggal Pengkajian : 13 April 2011 pukul 11.15 WIB di ruang 27

Penanggung jawab
Nama : Tn. S
Umur : 36 tahun
Pendidikan : Diploma III
Pekerjaan : PNS
Alamat : Kedung, Jepara
Hubungan dengan klien : Adik kandung
A. Alasan Masuk
Panik, menarik diri, menghindari kontak sosial terutama pada seorang pria,
depresi, takut yang berlebihan.

B. Faktor Predisposisi
Klien sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan jiwa.
Menurut adik kandung klien, tidak ada keluarga yang menderita sakit jiwa
seperti klien. Klien adalah seorang istri yang sangat setia dan cinta dengan
suaminya dan klien sudah mempunyai 2 orang anak. Dan klien
mengetahui secara tidak sengaja bahwa suaminya mempunyai istri lain.
Tetapi klien selalu menutupi masalahnya sendiri dengan cara menarik diri
dan menghindari kontak sosial dengan keluarganya.

C. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda vital
TD : 110/70 mmHg
N : 84 x/mnt
RR : 20 x/mnt
BB : 52 kg
TB : 165 cm
2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Rambut hitam merata, bersih, tidak ada benjolan dan
bekas trauma
Mata : Sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pandangan
kosong
Hidung : Bersih, tidak ada septum deviasi, tidak ada polip, tidak
ada nafas cuping hidung
Telinga : Bersih, pendengaran baik, tidak nyeri, tidak
menggunakan alat bantu pendengaran
Mulut : Mukosa lembab, gigi bersih, bibir tidak sianosis
Leher : Trakea simetris, tidak ada pembesaran vena jugularis
Paru-paru : I : tidak ada lesi pada dada, pergerakan regular
Pa : tidak ada krepitasi, tidak ada nyeri
Pe : resonan
A : vesikuler
Jantung : I : Ictus cordis tidak tampak
Pa : Ictus Cordis teraba pada SC VI media LMCS
Pe : pekak
A : bunyi jantung I dan II
Abdomen : I : tidak ada lesi
A : peristaltik usus 12x/mnt
Pe : tympani
Pa : tidak ada nyeri tekan
Genetalia : Bersih, tidak terpasang kateter
Ekstremitas : Tidak ada edema, CRT < 2 detik, klien dapat berjalan
dengan baik

D. Psikososial
Genogram

Keterangan:
: Laki-laki : Orang yang terdekat
: Perempuan : Klien
: Meninggal
: Orang yang tinggal serumah
Keterangan :
Klien sudah menikah, mempunyai seorang suami dan 2 orang anak. Dari keluarga
tidak ada yang menderita gangguan jiwa seperti klien.
1. Konsep diri
a. Gambaran diri
Klien merasa sudah tidak cantik lagi dan merasa banyak
kekurangan pada dirinya sehingga suaminya berpaling pada wanita
lain.
b. Identitas diri
Klien mengatakan bahwa merasa banyak kekurangan dalam
dirinya.
c. Peran diri
Klien merupakan seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2
orang anak. Klien sudah tinggal di rumahnya sendiri bersama suami
dan anaknya.
d. Ideal diri
Klien mengatakan ingin segera sembuh dari penyakitnya tetapi
klien tidak ingin pulang ke rumahnya karena tidak ingin bertemu
dengan suaminya.
e. Harga diri
Klien merasa minder dengan masyarakat sekitar karena sudah
ditinggal selingkuh oleh suaminya.Klien dalam kesehariannya jarang
bergaul dengan tetangganya. Kegiatan kelompok tidak pernah klien
ikuti.
2. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti
Menurut klien orang yang sangat berarti dalam hidupnya adalah
suami dan anak-anaknya.
b. Peran serta dalam kelompok atau masyarakat
Klien mengatakan tidak pernah ikut dalam kegiatan kelompok
dalam masyarakat seperti arisan, PKK,dll.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan bahwa klien adalah orang yang lebih banyak
diam dan mengatakan malas bertemu atau berbicara dengan orang lain.
Klien jarang bergaul.
3. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien beragama Islam dan percaya bahwa Tuhan, surga dan neraka
ada.
b. Kegiatan beribadah
Selama sakit, klien tidak pernah menjalankan sholat 5 waktu.

E. Status Mental
a. Penampilan
Penampilan cukup rapi, rambut disisir rapi, pakaian yang
dikenakan sesuai, tidak terlalu besar dan kecil, klien juga memakai alas
kaki.
b. Pembicaraan
Pembicaraan klien pelan malah kadang-kadang tidak mau
berbicara sama sekali, nada suara rendah, kontak mata kurang dan selalu
menunduk dan suka menyendiri.
c. Aktivitas motorik
Klien lebih bayak diam di pojok ruangan selama di rumah sakit,
aktivitas motorik tidak mengalami gangguan seperti mandi, ganti baju
atas inisiatif sendiri dan dilakukan secara mandiri tetapi klien jarang mau
untuk makan.
d. Afek
Afek kurang serasi, klien kurang merespons dengan benar stimulus
yang diberikan.
e. Interaksi selama wawancara
Klien kurang kooperatif, tidak pernah kontak mata selama
berinteraksi.
f. Persepsi
Saat dikaji klien mengatakan tidak ada halusinasi.
g. Proses pikir
Pembicaraan klien bisa dimngerti oleh perawat, selama komunikasi
dengan perawat dapat diobservasi bahwa pembicaraan klien terarah,
jawaban klien koheren dengan pertanyaan yang diajukan.
h. Isi pikir
Saat interaksi dengan perawat klien mengatakan bahwa ia merasa
tidak berharga, karena ditinggal oleh suaminya .
i. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien baik, orientasi tempat, waktu dan orang
baik, klien mengetahui sekarang berada di rumah sakit jiwa Lawang,
klien mengetahui hari, tanggal dan jam, klien dapat membedakan pagi,
siang dan malam.
j. Memori
Klien masih ingat tahun lahir yaitu tahun 1966, mampu mengingat
kejadian masa lalu, dan kejadian sekarang, klien dapat menceritakan
riwayat kehidupannya secara berurutan dan konsisten.
k. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien mudah berkonsentrasi, daya ingat jangka panjang klien baik,
dimana klien masih mengingat tahun lahirnya dan tahun lahir anaknya,
klien masih mampu mengingat hal-hal yang baru saja terjadi. Klien
masih dapat berhitung sederhana, ketika diberi pertanyaan 12 + 9 + 11 =
klien menjawab 32.
l. Kemampuan penilaian
Klien masih mampu mengambil keputusan sederhana, dibantu
orang lain. Contoh ketika diberi opsi minum obat dulu sebelum tidur
atau tidur dulu sebelum minum obat, klien mengatakan minum obat dulu
sebelum tidur.
m. Daya tilik diri
Klien mengakui dan sadar bahwa dirinya sedang sakit dan ingin
segera sembuh.
G. Kebutuhan Persiapan Pulang
Selama di rumah sakit klien makan 3x sehari dengan komposisi nasi,
sayur, lauk dan buah tetapi kadang dimakan kadang tidak. Pola buang air
besar klien tidak teratur. Buang air kecil tidak mengalami masalah. Dalam
buang air besar dan buang air kecil klien di kamar mandi / WC atas inisiatif
sendiri, begitu juga membersihkan diri setelah buang air besar / buang air
kecil. Klien mandi 2x sehari atas inisiatif sendiri. Selama di rumah sakit
klien berpakaian rapi dan terlihat sesuai tubuhnya. Klien berpakaian sendiri
dan ganti setiap hari. Klien mengalami gangguan tidur. Selama di rumah
sakit penggunaan obat klien diatur oleh perawat, pemeriksaan kesehatan
dilakukan setiap hari oleh perawat pula.
Klien memiliki sistem pendukung yaitu keluarga dan perawat selama di
rumah sakit.
2. Mekanisme Koping
Klien mengatakan jika ada masalah dipendam sendiri namun kadang cerita
dengan suaminya.
3. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Klien mengatakan jarang bergaul dengan tetangganya. Mengenai masalah
perumahan, ia mengatakan tinggal di rumahnya sendiri.
4. Pengetahuan
Klien mengetahui dan sadar akan sakit yang dideritanya, namun
klien kurang tahu mengenai obat-obatan karena kurang ada bimbingan dari
perawat ruangan.
5. Aspek Medik
Therapi oral :
Benadryl 25-50 mg
Atarax 25-50 mg
Diazepam 15 mg
Halcion 0,125-0,25 mg
H. ANALISA DATA
No Data Fokus Masalah Keperawatan
1. DS : Kecemasan berat
- Klien mengatakan sudah tidak cantik lagi
dan merasa banyak kekurangan pada
dirinya sehingga suaminya berpaling pada
wanita lain.
- Klien mengatakan ingin segera sembuh
dari penyakitnya tetapi klien tidak ingin
pulang ke rumahnya karena tidak ingin
bertemu dengan suaminya.
- Klien merasa minder dengan masyarakat
sekitar karena sudah ditinggal selingkuh
oleh suaminya.
- Klien selalu memendam perasaannya
ketika ada masalah .
DO :
- Klien kurang kooperatif
- Nada bicara rendah ketika sedang
berinteraksi dengan perawat
- Klien terlihat bingung dan gelisah
- Klien sering terlihat menyendiri di pojok
ruangan
- Klien tidak mau bertemu dengan orang
laki-laki terutama suaminya
2. DS : Panik
- Klien mengatakan jarang bergaul dengan
tetangganya
- Klien mengatakan ingin segera sembuh
dari penyakitnya
- Klien mengatakan bahwa ia merasa tidak
berharga lagi
DO :
- Tidak pernah ada kontak mata saat
berinteraksi
- Klien terlihat panik
- Klien tidak tampak dijenguk oleh
keluarganya
3. DS : Isolasi sosial : menarik diri
- Klien mengatakan jarang ikut kegiatan
masyarakat seperti arisan, PKK, dll
- Klien mengatakan jarang bergaul dengan
tetangganya
- Klien mengatakan bergaul dengan orang
tertentu saja / keluarganya saja
DO :
- Klien berbicara lambat, nada rendah dan
selalu menunduk.
- Klien sulit diajak berinteraksi

I. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Kecemasan berat
2. Panik
3. Isolasi sosial : menarik diri

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Kecemasan berat berhubungan dengan konflik perkawinan.
- Panik berhubungan dengan penolakan keluarga (suami).
- Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
K. RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien : Ny. I
Ruang : 27
No. RM : 04511

No Diagnosa Perencanaan
No Intervensi Ttd
Dx. Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi
Kecemasan 1.Ekspresi wajah
1 1 berat Tujuan Umum: bersahabat, 1.Bina hubungan
berhubungan Kecemasan klien menunjukkan rasa saling percaya dengan
dengan konflik hilang dan klien senang, ada kontak mengungkapkan
perkawinan. dapat mata, mau berjabat prinsip komunikasi
berhubungan tangan, mau terapeutik. a.Sapa
sosial dengan menyebutkan nama, klien dengan ramah
orang lain secara mau menjawab baik verbal maupun
optimal salam, klien mau non verbal
Tujuan Khusus : duduk berdampingan b.Perkenalkan diri
Klien dapat dengan perawat, mau dengan sopan
membina mengutarakan c.Tanyakan nama
hubungan saling masalah yang lengkap klien dan
percaya dihadapi nama panggilan yang
disukai klien
d.Jelaskan tujuan
pertemuan
e.Jujur dan menepati
janji
f.Tunjukkan sikap
empati dan menerima
klien apa adanya
g.Beri perhatian
kepada klien dan
perhatikan kebutuhan
dasar klien
Tujuan Khusus 2 2.Klien mau bercerita 2.Eksplorasi perasaan
Klien dapat semua masalahnya cemas klien,
percaya kepada kepada perawat tanpa perlihatkan diri
perawat dank lien adanya tanda-tanda sebagai orang yang
dapat mampu kecemasan dan hangat, ,menjadi
menceritakan menarik diri pendengar yang baik
semua
masalahnya
Tujuan Khusus 3 3. Klien memahami 3.Bantu klien
Klien dapat dan mengerti mengenali perasaan
menilai penyebab cemas dan menyadari
kemampuan yang kecemasannya nilainya
digunakan dan
kecemasan yang
dihadapi
Tujuan Khusus 4 4. Klien mampu 4.Melakukan
Klien mampu menjawab semua komunikasi dengan
menceritakan pertanyaan yang teknik yang tepat dan
semua diberikan oleh dimulai dari topik
masalahnya perawat yang ringan.
Tujuan Khusus 5 5. Stres klien hilang 5.Bantu kilen
Klien dapat berkurang atau hilang mengidentifikasi
melakukan respon terhadap stres.
kegiatan sesuai
kondisi sakit dan
kemampuannya
tanpa stres
L. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama Klien : Ny. I
Ruang : 27
No. RM : 04511

Tgl/ No
Implementasi Keperawatan Evaluasi TTD
jam Dx
13/04/ 1 TUK 1 S:
11 Membina hubungan saling -“Wa’alaikum salam…”
11.15 percaya “nama saya Ny. I , saya
a. Menyapa dan memberi berasal dari Bululawang, saya
salam tidak bekerja ”
b. Memperkenalkan diri -Klien menjawab pertanyaan
dengan menyebut nama perawat tapi tidak mau
lengkap, nama panggilan, berjabat tangan “Hobi saya
alamat dan berjabat tangan memasak”
c. Menanyakan nama
lengkap klien, nama panggilan
serta asal
d. Menjelaskan tujuan
pertemuan yaitu ingin
membantu menyelesaikan
masalah klien

TUK 2 O:
Klien dapat percaya kepada -Klien tidak mau berjabat
perawat dank lien dapat mampu tangan dengan perawat
menceritakan semua masalahnya -Klien terdiam tanpa ekspresi,
a. Memualisasi TUK 2 jarang terjadi kontak mata,
b. Menanyakan pada klien duduk berdampingan dengan
tentang kemampuan dan aspek perawat, nada bicara rendah/
positif yang dimiliki klien pelan, klien sedikit
c. Memberikan menceritakan tentang
reinforcement positif atas masalahnya
keberhasilan klien -Klien kurang kooperatif saat
mengungkapkan segala bicara dengan perawat
kemampuan klien
d. Menyampaikan kontrak
waktu untuk pertemuan
berikutnya
A:
-TUK 1 tercapai
Klien mau menyebut nama
lengkap, alamat serta hobi
-TUK 2 sedikit tercapai
Klien mau menceritakan
sedikit masalahnya
P:
P : optimalkan TUK 2
Lanjutkan TUK 3 dan 4
K : katakan pada klien bahwa
perawat ingin membantu klien
dan ingin menjadi teman klien,
katakan bahwa perawat siap
kapan saja klien mau bercerita
tentang masalah yang
dihadapi, motivasi klien untuk
mengetahui kemampuan yang
dimiliki, anjurkan untuk
mengingat nama perawat
14/04/ TUK 3 S:
11 Klien dapat menilai kemampuan -Klien mengatakan
09.10 yang digunakan dan kecemasan “wa’alaikum salam
yang dihadapi -Klien mengatakan tadi malam
a. Mengucapkan salam tidak bisa tidur, makannya
b. Mengajak klien untuk tidak habis, obatnya sudah
berbincang-bincang sesuai diminum
kontrak sebelumnya -Klien mengatakan
c. Mengingatkan kembali perasaannya lebih baik dari
(identitas / nama perawat) kemarin
d. Bertanya pada klien tentang -Klien masih memilih untuk
kontrak hari ini diam di dalam ruangan
e. Mendiskusikan
kemampuan klien yang dapat
dilakukan selama di rumah
sakit atau di rumah
TUK 4 O:
Klien mampu menceritakan -Klien mau menjawab salam
semua masalahnya -Klien sudah mau berjabat
a. Meminta klien untuk memilih tangan dengan perawat
kegiatan yang akan dilakukan -Klien hanya diam, kontak
di rumah sakit mata sudah ada meskipun
b. Memberi pujian atas jarang, duduk berdampingan
keberhasilan klien dengan perawat, nada bicara
c. Merencanakan kontrak yang rendah dan pelan
akan datang -Klien mau mencoba
d. Mencoba kegiatan yang pilihannya
dipilih -Klien melakukan kegiatan
kurang baik
-Klien mulai kooperatif saat
bicara dengan perawat
A:
TUK 3 tercapai
Klien mau menilai kemampuan
yang digunakan
TUK 4 sedikit tercapai
Klien dapat mencoba kegiatan
yang dipilih tapi belum
maksimal
P:
P : optimalkan TUK 4
Lanjutkan TUK 5
K : katakan bahwa perawat
siap kapanpun klien mau
bercerita tentang masalah yang
dihadapi, anjurkan klien untuk
mengingat nama perawat,
anjurkan klien membuat
jadwal kegiatan sehari-hari
15/04/ TUK 5 S:
11 Klien dapat melakukan kegiatan “Wa’alaikum salam”
09.30 sesuai kondisi sakit dan -Klien mengatakan suster Ani
kemampuannya tanpa stres -Klien mengatakan akan
a.Mengucapkan salam mencuci gelas dan sendok
b.Mengajak klien untuk setelah makan siang
berbincang-bincang sesuai O:
kontrak sebelumnya dengan -Klien duduk, disamping
klien perawat
c.Mengingatkan kembali -Klien mau berjabat tangan
identitas perawat -Klien ingat nama perawat
d.Bertanya kepada klien tentang -Klien mulai kooperatif
kontrak hari ini -Klien membuat jadwal
f.Mendiskusikan dengan klien kegiatan bersama perawat
kemampuan klien yang dapat A:
dilakukan selama sakit atau di TUK 5 Klien dapat melakukan
rumah kegiatan sesuai kondisi sakit
g.Memberikan kertas jadwal dan kemampuannya tanpa stres
kepada klien beserta TUK 5 terpenuhi
bolpoinya P:
h.Merencanakan bersama klien P : optimalkan TUK 5
aktivitas yang dapat dilakukan K : motivasi klien untuk
setiap hari sesuai kemampuan melakukan kegiatan sesuai
i.Mendiskusikan kemampuan kondisi sakit dan
yang dapat dilanjutkan kemampuannya tanpa stres
penggunaannya

M. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)


Masalah keperawatan : Kecemasan
1. Proses Keperawatan
a. Kondisi : Klien mengatakan merasa tidak berharga lagi.
b. Diagnosa : Kecemasan berat berhubungan dengan konflik perkawinan
c. TUK : 1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki.
2. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( SP )
a. Orientasi
1). Salam Terapeutik
Assalamu'alaikum Ibu I, nama saya Ani Lestari, biasa dipanggil Ani.
Saya pagi ini akan merawat Ibu I dari pukul 07.00-14.00 nanti.
2). Evaluasi /Validasi
Apa yang terjadi di rumah sehingga Ibu I harus dibawa ke sini?
3). Kontrak
Topik : Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan atau
hobby atau hal-hal yang biasa Ibu I lakukan?
Tempat : Dimana kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini
saja?
Waktu : Berapa lama kita akan bercakap-cakap? Bagaimana kalau 10
menit saja?
b. Kerja
- Apa yang biasa Ibu I kerjakan dirumah?
- Sekarang yang biasa dilakukan di rumah?
- Apa yang ibu I senangi dari keluarga? Bagaimana dengan suami dan
anak-anak?
- Bagaimana pula dengan tempat tinggalnya? Apa ada yang disenangi
disana?
c. Terminasi
a. Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Ibu I setelah kita bercakap-
cakap?
b. Evaluasi Obyektif :
- Apa saja tadi kemampuan Ibu I ? (bagus sekali)
- Apa saja tadi yang disenangi dirumah? (bagus sekali)
c. Rencana Tindak Lanjut : Baiklah, waktu kita sudah habis, nanti coba Ibu
I ingat lagi kemampuan yang belum disampaikan.
d. Kontrak
Topik : Besok kita akan melihat kemampuan Ibu I yang masih dapat
dilakukan di rumah sakit.
Tempat : Kira- kira dimana kita akan bicara? Bagaimana kalau di
tempat ini saja?
Waktu : Kira-kira besok jam 08.30 ya! Berapa lama kita akan
berbincang-bincang? Bagaimana kalau 20 menit?
Baiklah, silahkan Ibu I melanjutkan kegiatan, bila ada sesuatu yang
ingin disampaikan saya ada diruang perawatan.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak
menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan
terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah
yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu.
Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung
berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau
buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan
gelisah.

4.2 Saran
Makalah ini disusun dengan menggunakan pedoman dari berbagai
sumber dengan harapan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca. Makalah dapat bermanfaat lebih baik apabila pembaca juga
menggunakan referensi yang lain sehingga pembaca mengetahui
kelemahan dan kelebihan dari makalah ini dan makalah tersebut dapat
menjadi salah satu acuan untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan
pada klien krisis dan kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA

http://tamoy.com/list/kasus-askep-kecemasan-pada-pasien-jiwa
http://www.asuhan-keperawatan.co.cc/2010/01/respon-cemas-dan-gangguan-
kecemasan_04.html
http://www.scribd.com/doc/34869031/STUDI-KASUS-Anak-Dengan-Gangguan-
Kecemasan
http://mausehatdong.blogspot.com/2009/10/askep-cemas-dan-gangguan-
kecemasan.html
http://yuflihul.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-pada-klien-jiwa.html