Anda di halaman 1dari 79

KULIAH I

SEJARAH PEMULIAAN TERNAK

Pemuliaan ternak atau dalam bahasa Inggris disebut Animal Breeding merupakan aplikasi dari genetika dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak.

Performa atau produktivitas ternak dipengaruhi oleh Breeding, Feeding, dan Manajemen. Pengetahuan ini tentunya berdasarkan atas penelitian-penelitian yang intensif dan komprehensif dan melibatkan berbagai ilmu yang menunjang seperti Biologi, Reproduksi, Nutrisi dan Statistika. Keadaan ini tentunya bergeser sesuai dengan waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada saat ini, untuk mencapai produktivitas dan efesiensi produksi, para akhli menambahkan kriteria lain seperti pengendalian penyakit, pemasaran produk dan pengolahan pasca panen.

Sebelum tahun 1800, perbaikan mutu genetik ternak masih mengutamakan seleksi alam dengan kekuatan daya adaptasi. Para akhli pemuliaan telah mengetahui sebagian karakteristik bangsa-bangsa ternak yang berada di dunia. Sebagai contoh: untuk daerah yang panas, para peternak memilih sapi Brahman, untuk daerah dingin dan basah dipilih sapi Herdford, Angus, atau Highlander, untuk daerah pegunungan dipilih sapi Charolais dan Simental, dan untuk daerah gurun dipakai kambing Anggora.

Sekitar tahun 1800, Robert Bakewell merintis metoda seleksi yang sistematik pada ternak. Beliau mulai mengembangkan populasi ternak superior pada sapi dengan cara menyeleksi sifat-sifat spesifik yang diinginkan, seperti kecepatan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan. Robert Bakewell juga mengembangkan populasi tertutup melalui inbreeding dan linebreeding untuk memperoleh populasi yang seragam. Robert Bakewell sampai sekarang dikenal sebagai bapak Pemuliaan Ternak.

sampai sekarang dikenal sebagai bapak Pemuliaan Ternak . Pada tahun 1800, negara-negara Eropa mengadakan ekspansi dan

Pada tahun 1800, negara-negara Eropa mengadakan ekspansi dan kolonialisasi di benua Amerika, Asia, Afrika dan Australia. Keadaan ini menyebabkan bangsa-bangsa ternak dari Eropa menyebar ke negara-negara koloni mereka. Disana terjadi perkawinan antara ternak-ternak lokal dengan ternak dari Eropa, yang hasilnya terjadi diservikasi gene pool.

dari Eropa, yang hasilnya terjadi diservikasi gene pool. Pada tahun 1850an, seorang ilmuwan, Gregor Mendel ,

Pada tahun 1850an, seorang ilmuwan, Gregor Mendel, merintis teori dasar penurunan sifat yang sangat memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu pemuliaan. Kalau Robert Bakewell lebih mengarah ke pengembangan praktis performa ternak dengan tidak mempelajari alasan penurunan sifatnya, Gregor Mendel berusaha menggali alasan penurunan sifat walau sifat yang digunakan sangat sederhana, yaitu warna pada bunga ercis. Tetapi teori yang dirintis Mendel memberi dampak yang sangat luas pada ilmu pemuliaan sampai sekarang. Gregor Mendel dikenal sebagai bapak Genetika.

Pada tahun 1900, di Amerika terjadi pergeseran populasi dari desa ke kota dan diikuti oleh banyaknya imigran yang memasuki negara tersebut. Kebanyakan populasi di kota tidak memproduksi makanan sendiri. Keadaan tersebut memicu peningkatan dan efisiensi produksi baik untuk bidang peternakan ataupun pertanian. Pengaruh nyata pada dunia peternakan adalah banyaknya bangsa-bangsa ternak yang memasuki Amerika dan dipelajari karakteristiknya.

banyaknya bangsa-bangsa ternak yang memasuki Amerika dan dipelajari karakteristiknya. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 1
banyaknya bangsa-bangsa ternak yang memasuki Amerika dan dipelajari karakteristiknya. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 1

Pada tahun 1925, dibangun pusat penelitian di Amerika yang khusus mempelajari performa-performa ternak. Station ini mulai membandingkan secara ilmiah bangsa- bangsa ternak dari berbagai pelosok dunia. Penelitian-penelitian yang dilakukan lebih mengarah ke uji performa dan seleksi keunggulan genetik dibandingkan dengan manajemen. Hasil-hasil penelitian juga mendemontrasikan keunggulan ‘Hybrid Vigor’ dan hasil ‘Cross Breeding’ dari bangsa ternak murninya. Rekomendasi-rekomendasi hasil penelitian persilangan di station ini memaksa para peternak bangsa murni diseluruh dunia meminta perlindungan hukum terancam kepunahan karena para peternak lebih memilih memelihara ternak persilangan dibandingkan dengan ternak murni.

Pada sekitar tahun 1925, berkembang ilmu genetika quantitatif yang merupakan akar dari teori seleksi, persilangan dan evaluasi genetik pada ternak. Pada tahun 1960, Falconer seorang ilmuwan dari Edinburgh, Skotlandia, mendeklarasikan bahwa ilmu genetika kuantitatif sebagai ilmu dasar tersendiri. Ilmu genetika kuantitatif sampai sekarang banyak dipakai sebagai alat dalam perbaikan mutu genetik ternak di berbagai industri perbibitan.

Setelah tahun 1960, ilmu pemuliaan ternak mengalami perkembangan yang pesat dengan ditemukannya Struktur DNA oleh Watson dan Crick. DNA merupakan dasar material pembawa keturunan penting dan bisa digunakan sebagai penciri karakteristik spesifik pada mahluk hidup. Penemuan DNA telah banyak membawa perkembangan mutu genetik yang spesifik, terutama untuk sifat-sifat yang sulit diukur. Dalam perkembangan selanjutnya, teknologi DNA menjanjikan bisa membawa perbaikan mutu genetik ternak melalu teknologi manipulasi DNA dan Penciri pembantu dalam program seleksi.

manipulasi DNA dan Penciri pembantu dalam program seleksi. Di akhir tahun 1970, Handerson mengembangkan teori

Di akhir tahun 1970, Handerson mengembangkan teori pendugaan nilai pemuliaan dengan nama Best Linear Unbiased Prediction (BLUP). Metoda ini merupakan penyempurnaan dari metoda-metoda terdahulu. Metoda ini sampai sekarang merupakan metoda standar untuk evaluasi genetik dunia dan banyak dipakai baik di program evaluasi genetik nasional di banyak negara dan indutri-industri perbibitan.

Pada tahun 1990, para peneliti pemuliaan berusaha menggabungkan teknik perbaikan mutu genetik dengan cata genetika kuantitatif dan teknologi DNA. Teori-teori telah terbentuk tapi sampai saat ini penggabungan kedua teknik ini masih sangat mahal dan belum efektif dan efisien dipakai di industri perbibitan ternak. Sampai saat ini di banyak industri masih memakai ilmu genetika kuantitatif sebagai alat utama, sedangkan teknologi DNA lebih banyak dipakai sebagai Marka untuk mengetahui karakteristik dan diversity populasi.

Sejak tahun 1925, perusahaan-perusahaan perbibitan mulai terbentuk dan membawa kearah kemajuan performa ternak yang nyata. Sebagai contoh performa-peforma ternak saat ini dibandingkan dengan 70 tahun yang lalu: Produksi susu naik 300% dengan jumlah ternak sapi perah turun hampir 50%, waktu pelihara pada babi lebih pendek 50% dan FCR turun 300%, berat sapih sapi potong naik 35% dan FCR turun 35%, dan bobot satu tahun sapi potong naik 25% sedang FCR turun 50%.

Perubahan nyata juga terjadi pada ayam pedaging dan petelur. Pada ayam pedaging misalnya, pada tahun 1950 untuk mendapatkan bobot badan 1,8 kg diperlukan waktu pelihara sekitar 84 hari dengan FCR 3,25. Pada saat ini untuk mendapatkan bobot badan

yang sama diperlukan waktu pemeliharaan hanya 28 hari dengan FCR 1,5. Pada ayam petelur juga mengalami peningkatan mutu bibit yang luar biasa. Dari tahun 1925 sampai

1950

produksi telur naik 8%, dari tahun 1950 sampai 1975 naik 36%, dan dari tahun

1975

sampai 1998 naik 20%.

8%, dari tahun 1950 sampai 1975 naik 36%, dan dari tahun 1975 sampai 1998 naik 20%.
8%, dari tahun 1950 sampai 1975 naik 36%, dan dari tahun 1975 sampai 1998 naik 20%.

Perba ikan produk tivitas terna k masa yan g akan dat ang akan te rgantung pa da perbaika n

ilmu geneti ka kuantitat if, sedangka n

pengg unaan mat erial geneti k melalui kl oning, trans fer inti, ma nipulasi gen a, dan tekn ik

mutu genetik tern ak. Perbaik an akan ma sih melalui

gena

penciri digu nakan untu k membant u keakurata n dalam pr ogram selek si. Perbaika n

mutu

genetik te rnak akan

dipercepat

dengan ba ntuan tekn ologi reprod uksi seper ti,

Insem inasi Buata n, Super O vulasi, Emb rio Transfe r, Invitro M aturation/Fe rtilitation, da n

Seme n Sexing.

Perba ikan mutu g enetik mela lui rekayas a genetika a kan mengh adapi bany ak tantanga n,

dan perse psi konsum en terhada p saat ini ce nderung me milih produ k-

ke

teruta ma

keala miahan pro duk. Konsu men produk peternakan

produ k yang ala mi, bahkan

ekste nsif kembali . Keadaan ini akan me rubah teknik -teknik perb aikan mutu genetik yan g

selam a ini banya k diterapkan untuk terna k-ternak ya ng dipelihar a secara int ensif.

yang

berhubunga n

dengan

kode

etik

manajeme n ternak p un sudah

banyak yan g beralih

yang berhubunga n dengan kode etik manajeme n ternak p un sudah banyak yan g beralih
yang berhubunga n dengan kode etik manajeme n ternak p un sudah banyak yan g beralih
yang berhubunga n dengan kode etik manajeme n ternak p un sudah banyak yan g beralih

K ULIAH II

DASAR G ENETIKA D ALAM PEM ULIAAN TE RNAK

Pada tahun 1908 , seorang a khli matema tik dari Ing gris, G.H. H ardy dan a khli fisika da ri

Germ an, W. Wei nberg seca ra terpisah

didala m suatu po pulasi. Teo ri mereka te rkenal den gan Hukum

Wein berg. Huku m ini menya takan bahw a frekuensi ke ge nerasi jika :

dari genera si

telah mene mukan prins ip-prinsip fr ekuensi gen a

Keseimba ngan Hard y-

genotip ak an konstan

(1 ) Perkawina n terjadi se cara acak (r andom) (2 ) Tidak ada mutasi (3 ) Tidak ada migrasi, (4 ) Tidak terja di seleksi (5 ) Drift

Ilustra si Hukum k ekekalan H ardy-Weinbe rg

(5 ) Drift Ilustra si Hukum k ekekalan H a rdy-Weinb e rg Asas H ardy-Weinb
(5 ) Drift Ilustra si Hukum k ekekalan H a rdy-Weinb e rg Asas H ardy-Weinb

Asas H ardy-Weinb erg untuk d ua alel yaitu

:

sumbu

horizontal

menunjukk an frekuen si

alel p

dan q, se dangkan su mbu vertik al

menun ukkan frek uensi genot ipe. Tiap-tia p

tiga genotip e

yang m emungkink an.

kurva

menampilka n satu dari

Dalam

Freku ensi genoti p adalah pro porsi dari g enotip terte ntu terhada p jumlah se luruh genot ip

didala m populasi, sedangkan frekuensi g ena adalah proporsi su atu alel tert entu terhada p seluru h alel yang diamati dal am populasi .

suatu po pulasi, gen a atau ge notip biasa nya diungk apkan dala m frekuen si.

Ca tatan : (1) Frekuensi

gena, (2) Fr ekuensi ge notip, dan (3) Frekuen si fenotip

Untuk

memperjel as tentang

frekuensi g ena dan fr ekuensi ge notip, perh atikan conto h

beriku t.

Cont oh 1 (Legate s dan Warw ick, 1990)

Dalam

mera h, 44 ekor w arna roan d an 9 ekor w warna putih. terhad ap putih (m m).

(1) Be rapa frekue nsi gena M dan m? (2) Be rapa frekue nsi genotip MM, Mm, d an mm?

suatu pop ulasi terdap at 100 ekor sapi Short horn, yang t erdiri dari 4 7 ekor warn a

Merah (M) dominan tid ak sempurn a

sapi Short horn, yang t erdiri dari 4 7 ekor warn a Merah (M) dominan tid
sapi Short horn, yang t erdiri dari 4 7 ekor warn a Merah (M) dominan tid

Jawab:

Seekor individu mempunyai 1 pasang alel, jadi 100 ekor = 2 x 100 = 200 alel. Genotip merah (MM), roan (Mm), dan putih (mm).

(1) Frekuensi gena M atau p = (

2 47

x

)

+

44

200

= 0 69

.

Frekuensi gena m atau q = (

2

)

9

x +

44

200

= 0 31

.

(2) Frekuensi genotip Merah : Roan : Putih = (M+m) 2 = (p+q) 2 = M 2 + 2Mm + m 2

a. Merah = (0.69) 2

b. = 2(0.69)(0.31) = 0.4278

c. = (0.31) 2

= 0.4761

= 0.0961

Roan

Putih

p+q =1

(p +q) 2 =1

p 2 +2pq + q 2 =1

Contoh 2 (Willis, 1991)

Pada suatu bangsa sapi, hitam (H) dominan sempurna terhadap merah (h). Pada suatu pupulasi, terdiri dari 1% warna merah. Hitung frekuensi gena dan frekuensi genotip?

a. Frekuensi gena merah (hh) = h 2 = 0.01

Frekuensi

h = 0.1

gena H = 1 - 0.1 = 0.9

b. Frekuensi genotip: HH = (0.9) 2

= 0.81

Hh = 2(0.9)(0.1) = 0.18

hh

= (0.1) 2

= 0.01

Rumus di atas bisa juga diterapkan pada alel ganda seperti golongan darah ataupun warna bulu pada kelinci. Dibawah ini adalah suatu contoh penggunaan rumus frekuensi gena pada alel ganda (golongan darah pada manusia) (Falconer, 1993).

Misal : A=p, B=q, O=r.

Frekuensi gena/genotip ditentukan dengan (p+q+r) 2 =

dimana: p+q+r = 1

p

2

22

+ 2 + + 22+ +

pr q

qr r

p 2 22 + 2 + + 22 + + pr q qr r pq

pq

(p+q+r) 2 = dimana: p+q+r = 1 p 2 22 + 2 + + 22 +
(p+q+r) 2 = dimana: p+q+r = 1 p 2 22 + 2 + + 22 +

Klasifikasi berdasarkan genotip/fenotip

Grup darah

Genotip

Frekuensi genotip

A

AA + AO

p 2 + 2pr

B

BB + BO

q 2 + 2qr

O

OO

r 2

AB

AB

2pq

2 2 ⇒ A + O = p + 2 pq + r = (
2
2
A +
O
=
p
+
2
pq + r
=
(
p + q
)
p + r =
A + O
Jadi :
p =
A
+
O - r
2
dimana : r
= r
Demikian
juga : q
=
B − O
r

2

2 dimana : r = r Demikian juga : q = B − O − r
2 dimana : r = r Demikian juga : q = B − O − r

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Gena

Ada 4 faktor penting yang akan dibahas yang mempengaruhi perubahan frekuensi gena:

(1) seleksi, (2) mutasi, (3) migrasi, dan (4) genetik drift.

Seleksi

Frekuensi gena atau genotip bisa berubah baik dengan seleksi alam maupun seleksi buatan. Disini hanya akan dibahas seleksi buatan, yang merupakan salah satu cara yang banyak dipakai untuk memperbaiki mutu genetik ternak. Pada dasarnya seleksi tidak menciptakan gena-gena baru tapi hanya memberi peluang munculnya gena- gena yang disukai.

Kembali ke contoh terdahulu. Apabila kita menginginkan ternak merah dan roan saja dengan menyingkirkan ternak-ternak putih, frekuensi gena dan frekuensi genotip akan berubah menjadi:

Jumlah ternak menjadi 91 ekor atau banyaknya alel = 2 x 91 = 182.

Frekuensi gena M = 2 47

x

182

=

0 . 76

Frekuensi gena m =

182 44 = 0.24

Frekuensi genotip: MM = Merah = (0.76) 2

= 0.5776

Mm = Roan

mm

= putih

= 2(0.76)(0.24) = 0.3648

= (0.24) 2

= 0.0576

mm = putih = 2(0.76)(0.24) = 0.3648 = (0.24) 2 = 0.0576 Pada dasarnya seleksi tidak
mm = putih = 2(0.76)(0.24) = 0.3648 = (0.24) 2 = 0.0576 Pada dasarnya seleksi tidak
mm = putih = 2(0.76)(0.24) = 0.3648 = (0.24) 2 = 0.0576 Pada dasarnya seleksi tidak

Mutasi

Mutasi merupakan perubahan material genetik, misalnya berubahan alel A menjadi a atau sebaliknya dari a menjadi A. Mutasi pada umumnya sedikit mendapat perhatikan dalam program pemuliaan ternak karena sangat jarang terjadi dan bila terjadi biasanya dalam waktu yang lama. Tingkat mutasi dalam suatu populasi sangat kecil berkisar antara 10 -4 sampai 10 -8 . Misal A bermutasi menjadi a dengan tingkat u dan sebaliknya a bermutasi menjadi A dengan tingkat v, maka keseimbangan Hardy-Weinberg menjadi :

Migrasi

up = qv

p = frekuensi gen dominan

q = frekuensi gen resesif

Migrasi adalah suatu perpindahan suatu individu/kelompok individu dari suatu populasi ke populasi lain. Perubahan frekuensi gena yang disebabkan oleh migrasi lebih cepat dibandingkan dengan mutasi, dan tingkatnya tergantung pada banyaknya migran dan perbedaan frekuensi gena migran dengan frekuensi gena pada populasi awal. Migrasi banyak dilakukan dalam pemuliaan ternak, misalnya memasukan ternak-ternak unggul dari luar negri dan mengawinkan dengan ternak-ternak lokal setempat.

Genetik Drift

Telah dibahas bahwa dalam populasi besar yang tanpa mutasi, migrasi, seleksi dan perkawinan terjadi secara acak, sehingga frekuensi gena akan tetap dari generasi ke generasi mengikuti keseimbangan hukum Hardy-Weinberg. Tetapi dalam populasi yang kecil mungkin terjadi fluktuasi frekuensi yang disebabkan oleh pemilihan alel. Proses ini disebut Genetik Drift.

Genetik drift adalah suatu fluktuasi perubahan frekuensi gena dalam populasi kecil, yang disebabkan oleh pemilihan alel. Genetik drift tidak bisa ditentukan arahnya tapi bisa dihitung perubahannya.

Misal dalam suatu populasi yang terdiri hanya 10 individu, frekuensi gena awal p=q=0.5. Gamet yang terbentuk adalah 2 x 10 = 20 yang terdiri 10 A dan 10 a. Pada generasi berikutnya mungkin berubah menjadi 12 A dan 8 a, atau sebaliknya. Fluktuasi semacam ini disebut Drift.

berubah menjadi 12 A dan 8 a, atau sebaliknya. Fluktuasi semacam ini disebut Drift. Ilmu Pemuliaan
berubah menjadi 12 A dan 8 a, atau sebaliknya. Fluktuasi semacam ini disebut Drift. Ilmu Pemuliaan

KULIAH III

DASAR STATISTIKA DALAM PEMULIAAN TERNAK

Ada beberapa konsep statistika dasar yang penting dalam pemuliaan ternak, diantaranya adalah: (1) teori probabilitas dan distribusi binomial, (2) Uji chi kuadrat, (3) Kurva normal dan nilai rata-rata, (4) ragam dan peragam, (5) standar deviasi, (6) koefisien variasi, (7) korelasi (8) regresi dan (9) analisis varian (ragam).

Probabilitas dan Distribusi Binomial

Apabila kita mempunyai sejumlah percobaan, katakan n percobaan, dan tiap percobaan mempunyai k kemungkingan hasil, contohnya jika k=2, untuk kemungkinan sukses dan gagal, kemudian kita ingin mengetahui berapa kemungkinan munculnya sukses dan berapa kemungkinan munculnya gagal?, percobaan ini disebut percobaan Bernaolli. Mari kita membahas satu contoh untuk mempermudah pengertian.

Jenis kelamin pada ternak adalah suatu keterjadian yang independent (tidak saling terikat), kita mengharapkan kelahiran jantan pada 2 kelahiran, berapa peluangnya?

Ada 4 kemungkinan hasil, yaitu kelahiran: jatan-jantan, jantan dan betina, betina dan jantan, betina dan betina. Apabila peluang kemungkinan lahirnya jantan=betina=0.5, maka kemungkinan lahirnya 2 jantan=0,5x0.5=0.25, kemungkinan lahirnya satu jantan=2x0.5x0.5=0.5 dan lahirnya 2 betina=0.5x0.5=0.25.

Banyak cara untuk mencari koefisien binomial, salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menggunakan rumus aljabar:

Apabila

n

n

( p q ) n

+

=→ +

p

2

2

=→ +

p

3

3

2

33

+

pq q

2

p q

+

2

pq

23

+

q

dimana p+q=1

Cara termudah untuk mencari koefisien di atas adalah dengan menggunakan segitiga pascal:

Cara termudah untuk mencari koefisien di atas adalah dengan menggunakan segitiga pascal: Ilmu Pemuliaan Ternak Page
Cara termudah untuk mencari koefisien di atas adalah dengan menggunakan segitiga pascal: Ilmu Pemuliaan Ternak Page

n=0

0

n=1

1

1

n=2

1

2

1

n=3

1

3

3

n=4

1

4

6

4

1

1

Rumus lain yang bisa digunakan adalah:

P =

n !

r ! s !

r

p q

s

Contoh : berapa kemungkinan munculnya anak 2 jantan dan satu betina dari 3 kelahiran pada domba?

Kita misalkan

jantan = p, peluang muncul = 0.5

betina = q, peluang muncul = 0.5

Menggunakan rumus pascal = 3p 2 q = 3(0.5) 2 x(0.5) = 0.375

Menggunakan rumus umum :

Chi Kuadrat(χ 2 )

3

!

(

2

!)(

1

!) (.)(.)=

0 5

2

0 5

0 375

.

Uji χ 2 bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang kita peroleh sesuai dengan yang kita harapkan. Uji ini disebut juga uji kecocokan dengan rumus:

χ 2

2

= (O E )

E

harapkan. Uji ini disebut juga uji kecocokan dengan rumus: χ 2 2 = ( O −
harapkan. Uji ini disebut juga uji kecocokan dengan rumus: χ 2 2 = ( O −

Dimana : O=data hasil observasi (pengamatan)

E=nilai harapan

Uji χ 2 adalah uji kecocokan, untuk mengetahui apakah hasil yang kita amati sesuai dengan yang diharapkan

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh perhitungan dibawah ini, yang diambil dari Legates dan Warwick (1990), hal. 107-109.

Dalam suatu populasi terdapat 120 ekor sapi, yang terdiri dari 83 ekor warna hitam dan 37 ekor warna merah. Semua sapi tersebut berasal dari induk yang heterozigot (Bb), dimana hitam (B) dominan terhadap putih (b). Apakah sapi-sapi tersebut diatas sesuai dengan teori Mendel?

Harapan perbandingan sapi hitam dan merah berdasarkan teori mendel adalah 3(B.) : 1(bb). Nilai harapan dari populasi tersebut adalah:

3 Hitam = x 120 = 4 1 Merah = x 120 =
3
Hitam
=
x
120
=
4
1
Merah
=
x
120
=

4

90

ekor

30

ekor

 

Pengamata

Harapan

Deviasi

χ

2

n

 

(E)

(O-E)

 

(O)

Hitam

83

90

-7

0.54

Merah

37

30

+7

1.63

Total

120

120

2.17

Sekarang buatlah tabel perhitungan χ 2

Lihat tabel χ 2 . χ 2 hasil perhitungan (2.17) lebih kecil dari χ 2 probabilitas 0.05 dan 0.01 di tabel, jadi proporsi hitam dan merah di dalam populasi tersebut masih sesuai dengan teori Mendel.

proporsi hitam dan merah di dalam populasi tersebut masih sesuai dengan teori Mendel. Ilmu Pemuliaan Ternak
proporsi hitam dan merah di dalam populasi tersebut masih sesuai dengan teori Mendel. Ilmu Pemuliaan Ternak

Kurva Normal dan Rata-rata

Pada contoh di atas kita hanya mengumpamakan satu pasang gena yang terlibat. Padahal sifat-sifat yang mempunyai nilai ekonomis (sifat kuantitatif) dipengaruhi oleh banyak pasang gena dan sangat peka terhadap pengaruh lingkungan. Contoh sifat- sifat ini adalah: produksi susu, produksi telur, bobot lahir dan banyak lagi sifat yang lain. Sebaran sifat ini biasanya menyebar dari nilai yang terendah sampai yang tertinggi menbentuk kurva normal. Tetapi kita disini hanyalah mempelajari efek dari gena-gena tersebut secara komulatif, bukan mempelajari posisi dari gena-gena didalam kromosom.

Dari sekelompok gena yang mempengaruhi satu sifat, tidak semua gena-gena tersebut mempunyai pengaruh yang sama, misalnya sekelompok gena mungkin mempunyai pengaruh kecil, sedangkan yang lainnya berpengaruh besar. Gena yang mempunyai pengaruh yang besar disebut Major gene, misalnya pada liter size (jumlah anak yang dilahirkan dalam satu kelahiran). Major gene jelas mempengaruhi kenormalan kurva. Para ilmuwan sering mengungkapkan liter size ini dengan sepasang gena, padahal sifat ini dipengaruhi oleh banyak gena, tapi mereka hanya menuliskan notasi untuk major gene nya saja karena gena-gena lain pengaruhnya kecil.

Rata-rata merupakan ukuran pusat yang penting dalam pemuliaan ternak, karena sampel yang kita ambil dalam suatu populasi yang berdistribusi normal mungkin akan menyimpang. Rata-rata suatu sifat yang kita amati adalah rata-rata aritmetik dari seluruh nilai didalam populasi atau sampel. Rata-rata populasi biasanya ditulis

dengan notasi μ sedangkan rata-rata sampel ditulis dengan notasi x . Rumus dari rata-rata sampel adalah:

1 x = ( n
1
x =
(
n

+ + ++

xxx

123

x

n )

Dimana: x= pengukuran dari individu yang diamati

n= jumlah sampel

Sifat kuantitatif pada umumnya menyebar secara normal, dipengaruhi oleh banyak gena dan peka terhadap lingkungan. Gena-gena yang terlibat mungkin tidak mempunyai efek yang sama. Ada gena-gena yang berpengaruh kecil dan ada juga yang berpengaruh besar. Gena-gena yang berpengaruh besar pada suatu sifat disebut Major gene.

berpengaruh besar. Gena-gena yang berpengaruh besar pada suatu sifat disebut Major gene . Ilmu Pemuliaan Ternak
berpengaruh besar. Gena-gena yang berpengaruh besar pada suatu sifat disebut Major gene . Ilmu Pemuliaan Ternak

Ragam(Varian)

Ragam merupakan ukuran yang terpenting dalam pemuliaan ternak karena merupakan suatu ukuran untuk menentukan nilai genotip dan penotip dari suatu populasi/individu. Ragam menggambarkan suatu dispersi/variasi dari suatu populasi. Apabila kita akan memilih beberapa ekor ternak yang akan digunakan sebagai tetua untuk generasi selanjutnya, misalnya berdasarkan bobot badan, seleksi tersebut akan efektif bila dalam populasi tersebut mempunyai keragaman yang tinggi. Tetapi kalau dalam populasi tidak mempunyai keragaman, misalnya semua ternak yang akan kita pilih mempunyai bobot yang sama (secara genetik), maka kita tidak perlu melakukan seleksi.

Ragam merupakan simpangan kuadrat dari rata-rata populasi atau sampel, dan biasanya ditulis dengan notasi σ 2 untuk populasi dan s 2 untuk sampel. Ragam suatu sampel ditulis dengan persamaan:

2

s =

sampel. Ragam suatu sampel ditulis dengan persamaan: 2 s = ( xx − 1 ) 2

(

xx

1

( xx − 1 ) 2 + ( xx − ) 2 2 ++ ( xx

)

2 +

(

xx )

2

2

++ ( xx )

n

2

n 1

Untuk populasi dibagi dengan n.

Standar Deviasi

Standar deviasi adalah merupakan akar dari ragam, dan diberi simbol σ untuk populasi dan s untuk sampel. Rumusnya adalah:

Koefisien Variasi

2 2 s
2
2
s

σ= σ

s

=

populasi

sampel

Kadang-kadang kita perlu untuk membandingkan keragaman antara 2 sifat atau lebih; apakah sifat yang satu lebih beragam dari sifat yang lainnya atau kurang beragam. Alat yang digunakan adalah koefisien variasi (C). Koefisien variasi ditulis dengan persamaan:

 

σ

populasi

C

=

μ s
μ
s

x

100

C =

x

100

sampel

x

populasi C = μ s x 100 ⇒ C = x 100 ⇒ sampel x Ilmu
populasi C = μ s x 100 ⇒ C = x 100 ⇒ sampel x Ilmu

Korelasi

Jika kita tertarik untuk mengetahui derajat hubungan antara dua variabel atau sifat, misal hubungan antara lingkar dada dengan bobot badan atau bobot badan dengan produksi susu, kita bisa menggunakan korelasi. Koefisien korelasi (r) berkisar antara

-1.0 sampai +1.0. r =+1.0 menunjukan bahwa penambahan 1 unit suatu variabel, akan menambah 1 unit variable lain yang berkorelasi, sedangkan apabila r =-1.0 sebaliknya, penambahan 1 unit variabel yang satu akan menurunkan 1 unit variabel lain. Koefisien korelasi dihitung dengan rumus:

r =

Co v (,) x y 2 2 ( s )( s ) x y Cov
Co v (,) x y
2
2
(
s
)(
s
)
x
y
Cov (,) x y
= peragam x dan y
( x
xy )(
y
)
+
(
x
xy )(
− y ++ x −
)
(
xy )(
y
)
11
2
2
n
n
=

n 1

s

s

2

x

2

y

= ragam variabel x

= ragam variabel y

Regresi

Jika koefisien variasi mengukur derajat hubungan antara dua variabel, koefisien regresi atau sering ditulis dengan notasi b, mengukur jumlah perubahan suatu variabel atau sifat dengan variabel lain yang berhubungan. Misalnya perubahan penambahan bobot badan untuk setiap penambahan lingkar dada. Koefisien regresi dihitung dengan rumus:

b =

xy

Cov (,) x y

s

2

x

Regresi merupakan suatu metoda yang penting, karena bisa menduga suatu variabel yang belum diketahui nilainya berdasarkan variabel lain yang telah diketahui nilainya. Regresi juga merupakan salah satu metoda untuk menduga nilai heritabilitas. Persamaan regresi di tulis dengan rumus:

ybxxy

=

xy

( −+)

nilai heritabilitas. Persamaan regresi di tulis dengan rumus: ybxxy = x y ( −+ ) Ilmu
nilai heritabilitas. Persamaan regresi di tulis dengan rumus: ybxxy = x y ( −+ ) Ilmu

Analisis Ragam (Analisis Varian)

Analisis ragam dipakai dalam pemuliaan ternak untuk menduga ragam genetik dan fenotipik. Sejak tahun 1985 analisis ini tidak dipakai lagi dengan mulai dikembangkanya analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). Sampai sekarang REML bisa dikatakan sebagai analisis standar dunia untuk menduga ragam peragam dalam pemuliaan ternak.

Sebelum kita meninggalkan statistika dasar, dibawah ini adalah sebuah contoh perhitungan yang diambil dari Pirchner (1981) hal. 17-25.

No.

Tinggi

Lingkar

(x- x )(y- y )

(x- x ) 2

(y- y ) 2

Pundak (cm)

Dada (cm)

(x)

(y)

1

135

212

44

 

16

121

 

2

129

195

12

4

36

3

132

203

0

1

4

4

131

200

0

0

1

5

130

205

-4

1

16

6

129

194

14

4

49

7

125

195

36

36

 

36

8

130

194

7

1

49

9

135

207

24

 

16

36

10

134

205

12

9

16

Rata-

131

201

13.67

 

9.78

40.44

rata

Peragam=13.67

Ragam x = 9.78

Ragam y = 40.44

Standar deviasi x =3.13 cm----ingat akar dari ragam

Ragam x = 9.78 Ragam y = 40.44 Standar deviasi x =3.13 cm----ingat akar dari ragam
Ragam x = 9.78 Ragam y = 40.44 Standar deviasi x =3.13 cm----ingat akar dari ragam

Standar deviasi y =6.36 cm

Koefisien korelasi =

13 67 . 9 . 78 x 40 . 44
13 67
.
9 . 78
x 40 . 44

= 0 69

.

Standar deviasi y =6.36 cm Koefisien korelasi = 13 67 . 9 . 78 x 40
Standar deviasi y =6.36 cm Koefisien korelasi = 13 67 . 9 . 78 x 40

KULIAH IV

FENOTIP, GENOTIP DAN LINGKUNGAN

Sifat pada ternak dapat dibedakan menjadi sifat kuantitatif dan sifat kualitatif.

Sifat kuantitatif adalah sifat yang dapat diukur, misalnya produksi susu, bobot badan dan produksi telur. Sifat ini dikontrol banyak gena dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti pakan dan tatalaksana. Gena-gena tersebut ada yang berpengaruh besar dan ada juga yang kecil. Pengaruh gena-gena yang menyumbangkan suatu expresi pada fenotip disebut genotip.

Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur, tapi bisa dikelompokan. Misalnya warna bulu, bentuk tanduk. Sifat ini sedikit/tidak dipengaruhi lingkungan dan biasanya dikontrol oleh satu atau dua pasang gena saja.

Disini tidak dipelajari letak gena-gena, tetapi hanya mempelajari pengaruh gena-gena tersebut secara kumulatif yang diekspresikan pada fenotip. Secara matematis hubungan antara fenotip, genotip dan lingkungan dapat diungkapkan dengan persamaan sebagai berikut:

P = G + E + GE

Dimana :

P

= Fenotip

G

= Genotip

E

= Environment (Lingkungan)

GE

= Interaksi antara genotip dan lingkungan

Efek dari gena dalam genotip dapat dibedakan menjadi :

(1) Pengaruh yang bersifat aditif

(2) Pengaruh yang bersifat dominan, dan

(3) Pengaruh epistatis.

Dengan demikian Genotip (G) ternak tersusun oleh gena-gena yang bersifat aditif, dominan dan efistatis, yang secara matematis dapat diungkapkan sebagai berikut:

G = A + D + E

Dimana :

G

= Genotip

A

= Efek gena aditif

D

= Efek gena dominan

E

= Efek gena epistatis

A = Efek gena aditif D = Efek gena dominan E = Efek gena epistatis Ilmu
A = Efek gena aditif D = Efek gena dominan E = Efek gena epistatis Ilmu

Pengaruh dominasi pada suatu sifat dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu :

(1) Tidak ada dominasi (aditif)

(2) Dominasi tidak lengkap

(3) Dominasi lengkap, dan

(4) Over dominasi.

Perbedaan diantara keempat dominasi tersebut dilukiskan pada Gambar berikut.

Aa AA AA AA=Aa AA Aa Aa aa aa aa aa Dominasi Aditif Dominasi Over
Aa
AA
AA
AA=Aa
AA
Aa
Aa
aa
aa
aa
aa
Dominasi
Aditif
Dominasi
Over dominasi
tidak lengkap
lengkap

Gambar 3.1. Efek Gena

Ragam (Variasi)

Keragaman (Variasi) individu (terutama variasi genotip) memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak. Jika dalam suatu populasi ternak tidak ada variasi genotip, maka menyeleksi ternak bibit tidak perlu dilakukan. Untuk ternak pengganti tinggal diambil ternak yang ada tanpa harus melakukan pertimbangan seleksi. Semakin tinggi variasi genotip didalam populasi, semakin besar perbaikan mutu bibit yang diharapkan. Dalam ilmu pemuliaan ternak, fenotip, genotip dan lingkungan diungkapkan dalam bentuk variasi.

Dalam ilmu statistika variasi (ragam) adalah simpangan rata-rata kuadrat dari nilai rata- rata populasi. Secara matematis variasi (ragam) dapat diungkapkan dengan rumus:

2

V =σ =

x

x

(

x

i

x

)

2

n

dapat diungkapkan dengan rumus: 2 V = σ = x x ( x i − x
dapat diungkapkan dengan rumus: 2 V = σ = x x ( x i − x

dimana :

V

x

x

i

2

ragam atau variasi sifat x = sifat x

=

σ

x

=

x = rata-rata sifat x

n = jumlah ternak

contoh: Pengukuran bobot badan lima ekor anak domba diperoleh berat: 5 kg, 6 kg, 7 kg, 5 kg, dan 4 kg.

Rata-rata bobot badan

Ragam /variasi

(

V

x

) =

 

5

+ 6 +

7

+ 5 +

4

   

=

=

5,4 kg.

 

( x )

 

5

(5

5,4)

2

+

(6

5,4)

2

+

+

(4

5,4)

2

 

5

= 1,04 kg 2

Persamaan: P = G + E + GE dapat diungkapkan dapal bentuk ragam sebagai berikut:

Dimana :

V p

= V +V +V

G

E

GE

V

P

=

ragam/variasi fenotip

V

G

V

E

= ragam/variasi genotip

= ragam/variasi lingkungan

V GE

= ragam/interaksi antara genotip dan lingkungan

Ragam fenotip diantara ternak dalam suatu populasi biasanya disebabkan oleh perbedaan pasangan gena yang dimiliki individu atau kelompok ternak dan atau juga pengaruh lingkungan yang berbeda.

Sering diasumsikan bahwa interaksi antar genetik dan lingkungan (V GE ) sama dengan nol, tapi pada beberapa kasus ragam ini sering muncul, misalnya pada sapi perah sering dijumpai sapi-sapi yang berproduksi tinggi diberi pakan yang lebih baik. Keadaan ini akan memberi peluang munculnya peragam V GE . Interaksi antar genetik dan lingkungan adalah kecil apabila ternak-ternak dipelihara secara intensif dan atau dipindahkan ke tempat baru yang keadaan lingkungannya mirip dengan lingkungan dimana mereka dibesarkan sebelumnya.

Contoh: 5 ekor tenak telah terangking atau terseleksi di lingkungan pakan yang baik berdasarkan mutu genetik. Ranking ternak tersebut adalah : 1, 2, 3, 4, 5. Apabila ternak- ternak tersebut diberi pakan yang jelek mungkin rangkingnya berubah menjadi : 4, 5, 3, 1, 2. Keadaan ini disebabkan adanya interaksi antana genetik dan lingkungan.

Apabila V GE sama dengan nol, kita dapat mengungkapkan:

V V V

P

= +

G

E

Apabila V G E sama dengan nol, kita dapat mengungkapkan: V V V P = +
Apabila V G E sama dengan nol, kita dapat mengungkapkan: V V V P = +

Komponen ragam diatas dapat diturunkan lagi, misalnya untuk ragam genetik dapat dibagi lagi menjadi ragam aditif, ragam dominan dan ragam epistasis, atau dengan persamaan sebagai berikut :

Dimana :

V

V

V

A

D

I

V = V + V + V G A D I
V
=
V
+
V
+
V
G
A
D
I

= ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat aditif = ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat dominan = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena (epistasis)

Ragam aditif genetik (V A /additive genes) merupakan ragam yang terpenting dalam pemulian ternak karena sering digunakan untuk menentukan kebijakan dalam seleksi dan juga dalam persilangan.

Misalnya 2 kelompok ayam mempunyai rata-rata bobot badan yang berbeda; bangsa A dengan rataan bobot badan 4 kg dan bangsa B dengan rataan bobot badan 2 kg. Hasil perkawinan kedua kelompok ayam tersebut diharapkan rata-rata bobot badan anaknya adalah 3 kg. Keadaan ini bisa terjadi apabila hanya gena-gena aditif yang terlibat.

Rataan bobot badan anak hasil persilangan bisa menyimpang bila gena-gena yang bukan aditif (non-additive genes) ikut berpengaruh. Gena bukan aditif terdiri dari pengaruh gena-gena yang bersifat dominan, terjadi pada gena yang selokus, dan epistasis atau interaksi antar gena yang bukan selokus.

Ragam yang disebabkan oleh epistasis dapat lebih jauh di bedakan menjadi interaksi antara gena-gena yang bersifat aditif, interaksi antara gena-gena yang bersifat aditif dan dominan, dan antara gena-gena dominan, atau dapat ditulis dengan persamaan:

Dimana :

Dimana :

VV

I

=

AA

+

V

AD

+

V

DD

V I

V

V

AA

AD

V

DD

V ED

V EA

= ragam epistatis = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif dan gena-gena dominan = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena dominan = ragam lingkungan didalam grup (famili) = ragam lingkungan diantara grup (famili)/lingkungan bersama

Ragam lingkungan(V E ) merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang jumlahnya sangat banyak dan sulit dibedakan. Dalam konsep pemuliaan ternak, secara garis besar, ragam lingkungan dapat dibedakan lingkungan temporer dan lingkungan permanen. Kedua ragam tersebut dapat diungkapkan dengan persamaan:

V E

= V

ET

+ V

EP

Dimana :

V ET

V EP

= ragam lingkungan (dalam grup) = ragam lingkungan permanen (antar grup)

V E T V E P = ragam lingkungan (dalam grup) = ragam lingkungan permanen (antar
V E T V E P = ragam lingkungan (dalam grup) = ragam lingkungan permanen (antar

Lingkungan temporer adalah faktor yang berpengaruh terhadap satu pengukuran tetapi tidak berpengaruh terhadap pengukuran yang lain atau dengan kata lain pengaruh ini hanya mempengaruhi produksi sesaat saja atau sementara, misalnya karena adanya perubahan susunan ransum yang mengakibatkan perubahan pada produksi.

Lingkungan permanen adalah faktor tetap yang bukan bersifat genetik yang mempengaruhi individu sepanjang hidupnya, seperti misalnya pincang yang menyebabkan seekor ternak kesulitan dalam bersaing untuk mendapatkan pakan.

pincang yang menyebabkan seekor ternak kesulitan dalam bersaing untuk mendapatkan pakan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 20
pincang yang menyebabkan seekor ternak kesulitan dalam bersaing untuk mendapatkan pakan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 20

KULIAH V

PARAMETER GENETIK DAN FENOTIPIK

Parameter genetik dan fenotipik seperti heritabilitas, korelasi genetik, korelasi fenotipik, repitabilitas, dan nilai pemuliaan (breeding value) sangat penting dalam pemuliaan ternak, parameter ini berguna dalam beberapa hal :

1. Menunjukan suatu kesimpulan mengenai penurunan suatu sifat

2. Mengukur variasi genetik yang berguna untuk melakukan seleksi

3. Merupakan tolok ukur yang perlu dipertimbangkan dalam program seleksi

4. Menentukan arahan terhadap hasil seleksi.

Karena begitu pentingnya parameter-parameter ini, maka mereka harus diduga secermat mungkin. Ketidak cermatan dalam pendugaan dapat menyebabkan biasnya mengukur kemajuan genetik suatu program pemuliaan.

Heritabilitas

Heritabilitas berasal dari kata bahasa Inggris “Heritability”. Heritability tersusun oleh kata heredity yang berarti keturunan dan ability yang berarti kemampuan. Berdasarkan kata asalnya heritabilitas berarti kekuatan suatu sifat dari tetua yang dapat diturunkan kepada anaknya. Dalam konteks statistika heritabilitas merupakan suatu perbandingan antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotip.

Kembali ke komponen-komponen ragam pada kuliah terdahulu. Diasumsikan bahwa tidak ada korelasi dan interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:

V

P

=

V

G

+

V

E

Apabila semua dibagi dengan V P , maka :

V V G E 1= + V V P P
V
V
G
E
1=
+
V
V
P
P

Heritabilitas adalah V

G

V

P

atau proporsi ragam yang disebabkan oleh faktor genetik

dibagi dengan ragam fenotip.

G V P atau proporsi ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dibagi dengan ragam fenotip. Ilmu
G V P atau proporsi ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dibagi dengan ragam fenotip. Ilmu

Heritabilitas ( V

G

V

P

) disebut heritabilitas dalam arti luas yang biasanya

diberi simbol

H 2 , karena heritabilitas ini mengandung semua unsur genetik seperti V A , V D , dan V I . Apabila kita uraikan lebih lanjut:

H 2 =

V

G

VVV

ADI

+

+

=

V

P

V

A

=

+

V

D

+

V

P

V

I

V

P

V

P

V

A

V

P

disebut heritabilitas dalam arti sempit dan diberi simbol h 2 .

Heritabilitas arti sempit ini lebih banyak digunakan dalam pemuliaan ternak, karena lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan.

Heritabilitas merupakan kekuatan suatu sifat diturunkan dari tetua kepada kepada anak-anaknya. Dalam kontek statistika
Heritabilitas merupakan kekuatan suatu sifat diturunkan dari tetua kepada kepada
anak-anaknya. Dalam kontek statistika heritabilitas merupakan suatu perbandingan
antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotipik.
Heritabilitas dapat dikatagorikan menjadi dua macam; arti luas (H 2 ) dan arti sempit
(h 2 ).
V
VVV
+
+
G
ADI
Arti
luas
( H 2 )
==
V
V
P
P
V
A
⇒ Arti Sempit ( h 2 ) =
V
P
Heritabilitas arti sempit lebih banyak digunakan dalam pemuliaan arti sempit karena
lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan.

Nilai heritabilitas berkisar antara 0 dan 1. Secara ekstrim dapat dinyatakan apabila h 2 = 1 berarti seluruh variasi fenotip disebabkan oleh variasi genetik, sedangkan apabila h 2 = 0 berarti seluruh variasi fenotipik disebabkan oleh variasi lingkungan

(ingat V V V

P

=

G

+

E

).

Nilai heritabilitas bisa diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Kisarannya adalah :

Rendah

Sedang

Tinggi

2

h

0.1

h

2

<

>

0

.

h

.

0

1

2

3

0 3

.

Dugaan nilai heritabilitas di sajikan dalam Tabel 4.1.

> 0 . h . 0 1 2 3 ≤ 0 3 . Dugaan nilai heritabilitas
> 0 . h . 0 1 2 3 ≤ 0 3 . Dugaan nilai heritabilitas

Tabel 4.1. Dugaan Nilai Heritabilitas untuk Beberapa Sifat pada Beberapa

macam Ternak

Sifat

h 2

Sifat

h 2

Sapi

Ayam

Produksi susu

0.11-0.48

Dewasa kelamin

0.20-0.50

Persentasi lemak

0.09-0.41

Berat Badan

0.30-0.70

Lama laktasi

0.06-0.51

Berat telur

0.40-0.70

Umur pertama melahirkan

0.01-0.69

Feed efficiency

0.40-0.70

Calving Interval

Service per conception

0-0.40

0.03-0.08

Sumber Lagates & Warwick (1990)

Mortalitas anak

0-0.09

 

Domba

Berat Lahir

0-0.48

 

Litter size

0-0.49

Berat sapih

0.02-0.51

Berat dewasa

0.02-0.79

Berat anak per litter

0-0.12

Sumber : Wiener (1994)

Sumber : Wiener (1994)

Dari Tabel 4.1. dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Sifat reproduksi pada umumnya mempunyai nilai h 2 yang rendah.

2. Produksi susu dan pertumbuhan awal mempunyai nilai h 2 yang menengah.

3. Berat badan dewasa dan kualitas mempunyai nilai h 2 yang tinggi.

Nilai heritabilitas sangat tergantung pada ragam genetik suatu populasi, dengan demikian nilai heritabilitas yang diduga pada suatu populasi mungkin akan berbeda dengan populasi lain. Perbedaan ini disebabkan karena :

1. Perbedaan faktor genetik

2. Perbedaan faktor lingkungan; h 2 yang diduga pada lingkungan yang homogen mungkin akan lebih besar dibandingkan dengan nilai h 2 pada lingkungan yang heterogen.

3. Perbedaan metoda yang digunakan

Nilai heritabilitas merupakan suatu parameter penting dalam menduga keberhasilan suatu program pemuliaan. Dalam suatu program seleksi, misalnya apabila dalam populasi tersebut mempunyai nilai h 2 yang tinggi, maka diharapkan akan memberikan respon perbaikan mutu genetik yang cepat, sebaliknya apabila dalam populasi tersebut mempunyai nilai h 2 yang rendah maka respon pun akan lambat.

dalam populasi tersebut mempunyai nilai h 2 yang rendah maka respon pun akan lambat. Ilmu Pemuliaan
dalam populasi tersebut mempunyai nilai h 2 yang rendah maka respon pun akan lambat. Ilmu Pemuliaan

Heritabilitas juga menentukan metoda apa yang akan dipakai dalam perbaikan mutu genetik ternak. Misalkan apabila nilai heritabilitas tinggi, seleksi berdasarkan catatan individu akan efektif, sebaliknya apabila nilai heritabilitas rendah, perlu tambahan informasi dari saudara-saudaranya. Pada banyak aplikasi dilapangan, apabila suatu sifat mempunyai nilai heritabilitas rendah biasanya para pemulia lebih banyak berharap pada pengaruh heterosis atau hybrid vigor. Efek ini akan dibahas lebih jauh pada materi persilangan.

Repitabilitas

Repitabilitas berasal dari kata bahasa Inggris Repeat yang berarti pengulangan dan ability yang berarti kemampuan. Beranjak dari kata asalnya repitabilitas berarti suatu kemampuan seekor individu/kelompok ternak untuk mengulang produksi selama hidupnya. Secara statistik repitabilitas merupakan korelasi/kemiripan antara catatan, misalnya antar catatan laktasi pada sapi perah.

Kegunaan Repitabilitas adalah:

1. Untuk mengetahui penambahan respon dengan catatan berulang

2. Untuk mengetahui batas atas nilai heritabilitas

3. Untuk menduga performans yang akan datang berdasarkan catatan masa lalu.

Repitabilitas biasanya diberi simbol r, dan dapat ditulis dengan persamaan:

V + V G EP r = V P
V
+
V
G
EP
r =
V
P

Dimana V EP = lingkungan permanen

Perbedaan heritabilitas dengan repitabilitas adalah: heritabilitas menduga suatu kemiripan antara tetua dengan anaknya, sedangkan repitabilitas menduga kemiripan antara catatan produksi selama hidupnya (pada individu yang sama).

Nilai repitabilitas berkisar antara 0 dan 1. Karena pada repitabilitas memasukan ragam lingkungan permanen, maka nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan nilai heritabilitas, atau:

r h 2

repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan nilai heritabilitas , atau: r ≥ h 2 Ilmu
repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan nilai heritabilitas , atau: r ≥ h 2 Ilmu

Perbedaan heritabilitas dan repitabilitas adalah :

1. Heritabilitas merupakan kemiripan antara performa anak dan tetua, sedang repitabilitas kemiripan antara performa ulangan pada individu yang sama

2. Berdasarkan rumus, repitabilitas terdapat komponen lingkungan permanen

2

h =

V

A

V

P

r

=

V

G

+

V

P

V

EP

3. Nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan heritabilitas ( r h 2 )

Pendugaan nilai repitabilitas untuk beberapa sifat produksi, ditunjukan pada Tabel

4.2.

Tabel 4.2. Nilai Repitabilitas Beberapa Sifat pada Beberapa Ternak

Jenis Ternak

Sifat

Nilai Ripitabilitas

Sapi Perah

Produksi Susu

0.40-0.60

Persentase lemak susu

0.40-0.70

Sapi Daging

Berat lahir

0.20-0.30

Berat sapih

0.30-0.55

Berat panen

0.25

Domba

Berat lahir

0.30-0.40

Berat wol

0.30-0.40

Ovulation Rate

0.60-0.80

Sumber : Willis (1991)

Korelasi Genetik dan Fenotipik

Sifat dari seekor/sekelompok ternak mungkin bebas atau berkorelasi dengan sifat lain. Suatu perubahan sifat yang tidak diseleksi akibat sifat lain yang diseleksi disebut Respon Berkorelasi. Besarnya respon berkorelasi tergantung pada korelasi genetik antara dua sifat tersebut. Korelasi genetik kebanyakan disebabkan karena gena-gena Pleiotropi yang bekerja saling berlawanan, sedangkan korelasi fenotipik adalah total korelasi genetik dan korelasi lingkungan.

sedangkan korelasi fenotipik adalah total korelasi genetik dan korelasi lingkungan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 25
sedangkan korelasi fenotipik adalah total korelasi genetik dan korelasi lingkungan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 25

Korelasi genetik dan fenotipik berguna dalam beberapa hal:

1. Merupakan pengertian dasar suatu kekuatan respon berkorelasi, misalnya bila korelasi genetik negatif, berarti penambahan suatu unit sifat yang diseleksi akan menurunkan sifat lain yang berkorelasi

2. Mereka berguna untuk meningkatkan suatu sifat yang sulit diseleksi, misal pengingkatan feed intake dapat dilakukan dengan menyeleksi berdasarkan pertumbuhan

3. Parameter-parameter ini sangat penting dalam menduga nilai pemuliaan, jika sifat yang diseleksi lebih dari satu maka digunakan Indeks Seleksi.

Korelasi fenotipik dapat ditulis dengan rumus:

dan korelasi genetik:

Cov (,) P P 1 2 r p = ( V )( V ) P
Cov (,) P P
1
2
r p =
(
V
)(
V
)
P
P
1
2
Cov (,) G G
1
2
r g =
(
V
)(
V
)
G
G
1
2

Dimana : P 1 P G G

2

2

2

= fenotipik sifat ke 1 = fenotipik sifat ke 2 = genetik sifat ke 1 = genetik sifat ke 2

Dugaan korelasi genetik dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.3. Korelasi Genetik pada beberapa Sifat

Jenis Ternak

Sifat yang berkorelasi

Korelasi Genetik

Sapi Perah

Produksi susu/persentasi lemak

-0.1 s/d

-0.06

Produksi susu/persentasi protein

-0.1 s/d -0.5

Produksi susu/produksi lemak

0.6

s/d

0.9

Berat lahir/berat sapih

0.2

s/d

0.4

Unggas

Berat telur/berat badan

0.25 s/d

0.50

Jumlah telur/berat badan

-0.20 s/d

-0.60

Jumlah telur/berat telur

-0.25 s/d

-0.50

-0.60 Jumlah telur/berat telur -0.25 s/d -0.50 Sumber : Legates dan Warwick (1990) Ilmu Pemuliaan Ternak
-0.60 Jumlah telur/berat telur -0.25 s/d -0.50 Sumber : Legates dan Warwick (1990) Ilmu Pemuliaan Ternak
-0.60 Jumlah telur/berat telur -0.25 s/d -0.50 Sumber : Legates dan Warwick (1990) Ilmu Pemuliaan Ternak

KULIAH VI

HERITABILITAS

Heritabilitas pada umumnya diduga berdasarkan kemiripan, baik kemiripan diantara kerabat sebapak dan atau seibu, ataupun kemiripan antara tetua dan anak. Kita mungkin secara tidak sadar sering menilai kemiripan anak atau antara anak dan orang tuanya didalam suatu keluarga; apakah anak-anak tersebut mirip diantara sesamanya atau membandingkan kemiripan antara anak-anak tersebut dengan orang tuanya. Itu adalah kemiripan pada sifat kualitatif. Pada sifat kuantitatif besarnya derajat kemiripan ini bisa diduga besarnya dengan menggunakan analisis statistika.

Derajat kemiripan bisa dibedakan menjadi :

1. Kemiripan antara orang tua (bisa keduanya atau salah satu) dengan anak, dan

2. Kemiripan antara kerabat (anak) dengan salah satu orang tua, ini disebut Paternal Half-Sib, dan kemiripan antar kerabat dengan kedua orang tuanya, ini disebut Full- Sib.

Kemiripan antara tetua dan anak bisa diduga dengan analisis Regresi, sedangkan kemiripan antara kerabat/sib bisa diduga dengan Analisis Varian (Anova). Pada tahun 1976 Patterson dan Thomson menulis metoda baru untuk menduga parameter genetik dan fenotipik, yang disebut Analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). Metoda ini sampai sekarang banyak digunakan untuk menduga parameter karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan analisis Anova. Kelebihannya adalah :

(1) Bisa menduga data dan blok yang hilang (2) Cocok untuk data yang tidak seimbang (unbalance) yang banyak dijumpai di lapangan, dan (3) Bisa memasukan informasi dari tetua.

Derajat kemiripan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :

(1) Gena bersama (2) Genotip bersama, dan (3) Lingkungan bersama.

Hubungan antara kemiripan ke tiga faktor di atas dapat diungkapkan dalam suatu persamaan:

Kemiripan = a V V V P P P 2 2 2 = ah +
Kemiripan = a
V
V
V
P
P
P
2
2
2
= ah
+
dD
+
c

V

A

+

d

V

D

+

V EA

Dimana : a = hubungan gena-gena aditif d = hubungan gena-gena dominan

+ V EA Dimana : a = hubungan gena-gena aditif d = hubungan gena-gena dominan Ilmu
+ V EA Dimana : a = hubungan gena-gena aditif d = hubungan gena-gena dominan Ilmu

Kemir ipan yang

hanya

adalah hub ungan yan g disebabka n

oleh gena -gena aditi f. Kemiripa n yang dise babkan ge notip bersa ma termasu k

disebabkan

oleh gena

bersama

gena- gena yang

bukan aditi f baik domi nan maupu n epistatis,

tetapi epist atis biasany a

diaba ikan karena

pengaruhn ya kecil. K emiripan ya ng disebab kan lingkun gan bersam a

biasa nya muncul

apabila ter nak-ternak

tersebut m endapat su atu lingkung an bersam a.

Misal nya anak-an ak domba y ang dipelih ara bersam a oleh satu

yang dikandangk an yang me nyebabkan

induk, atau ternak-tern ak

perbedaan d iantara kelo mpok/famili .

Sebel um kita me mbahas sat u persatu d asar pendu gaan nilai

meng gambarkan bagaimana suatu sifat d ari tetua dit urunkan ke pada anak-a naknya.

heritabilitas,

Ilustrasi 2. 1.

1 A 2
1
A
2
1 A 2
1
A
2
Anak

Anak

Anak

Gamb ar 4.1. Das ar Penurun an Sifat dari Tetua Kep ada Anakny a

Pada

Gambar 4. 1. terlihat b ahwa baik j antan atau

betina han ya menurun kan 1/2 gen a

aditif

terhadap a naknya. Pa da hewan

mamalia ya ng anaknya

dibesarka n oleh indu k,

lebih

rumit karen a disampin g menurun kan 1/2 ge na aditif, in duk juga m empengaru hi

anak

dengan fak tor lingkun gan bersam a (LB). Ke adaan ini d isebabkan

karena pad a

umum nya induk anak tergantung

oleh

memp unyai pote nsi genetik genot ip dan fenot ip induk.

pada mam alia keadaa n

pada produ ksi susu ind uk dan pro duksi susu t ersebut dip engaruhi ba ik

walaupun a nak-anakny a

tapi perfor mans merek a terpengar uhi juga ole h

yang mem besarkan a nak-anaknya , misalnya

genotip

at aupun

fen otip

induk.

Dengan

kata

lain

yang tinggi,

a nak-anaknya , misalnya genotip at aupun fen otip induk. Dengan kata lain yang tinggi, Ilmu
a nak-anaknya , misalnya genotip at aupun fen otip induk. Dengan kata lain yang tinggi, Ilmu
a nak-anaknya , misalnya genotip at aupun fen otip induk. Dengan kata lain yang tinggi, Ilmu

Regresi antar Tetua dan Anak

Analisis regresi antar tetua dan anak dibedakan menjadi 2 analisis :

1. Regresi antara salah satu tetua (dengan bapak atau induk) dengan anak, dan

2. Regresi antara rata-rata tetua dengan anak

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada analisis ini adalah;

1. Lingkungan antara anak dan tetua harus diasumsikan sama, dan pada kondisi yang sama (misal umur yang sama),

2. Hubungan antara tetua dan anak di asumsikan dengan regresi linear. Kesulitan sering timbul apabila anak-anaknya berbeda dalam tingkat produksinya dan harus dirata-ratakan. Misal dalam menduga pertumbuhan, anak jantan dan betina mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda.

Persamaan umum regresi linear adalah :

Dimana

dimana

Y = bx

Y = dugaan performans anak pada tetua tertentu

x

= performans anak

B

= koefisien regresi

b

=

(,)

Cov x y

V x

Pada analisis regresi salah satu tetua dengan anak h 2 =2b karena salah satu tetua hanya menurunkan 1/2 dari keunggulan genetik kepada anaknya, atau:

Cov ( 2 1 x y ,) 1 Cov x y (,) b = =
Cov
(
2 1 x y
,)
1 Cov x y
(,)
b =
=
V
2
V
x
x
Cov x y
(,)
Jadi
:
=
2 b
V
x

Atau h 2 = 2b

Pada regresi antara nilai tengah tetua dengan anak, h 2 = b karena ke dua tetua tersebut menurunkan masing-masing 1/2 faktor genetiknya.

 

Cov

[(

2 1 x

p

+

2 1 x

i

),

y

]

(,)

Cov x y

b =

V

x

(,)

Cov x y

 

=

V

x

Jadi

:

= b

 
 

V

x

V x (,) Cov x y   = V x Jadi : = b    
V x (,) Cov x y   = V x Jadi : = b    

Atau h 2 =b

Dimana : x p = performan pejantan

x i =performan induk

Half-Sib

Dalam half-sib individu-individu yang diamati berasal dari salah satu tetuanya, baik yang jantan maupun yang betina, yang dikawinkan secara random/acak dalam suatu populasi.

Polanya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pejantan/Induk

Penjantan/induk ke n

Anak1 anak2 anak3 anak ke n Anak1 anak2 anak3 anak ke n
Anak1
anak2
anak3
anak
ke n
Anak1
anak2
anak3
anak
ke n

Gambar 4.2. Pola Haf-Sib

Pola half-sib dengan jantan sebagai tetua bersama lebih populer dibandingkan dengan betina sebagai tetua bersama karena jantan biasanya mempunyai anak lebih banyak dibandingkan dengan betina. Derajat kemiripan bisa diduga dengan Intraclass Korelasi. Intraclass Korelasi mengukur derajat kemiripan anak didalam suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok yang lain berdasarkan tetua bersama.

Misal untuk menduga derajat kemiripan berdasarkan pejantan bersama, kemiripan diantara kerabat diungkapkan dengan kemiripan gena-gena aditif dan dapat ditulis

dengan V

. Karena pejantan/betina menurunkan 1/2 gena aditif ke anak-anaknya,

A

V

P

intraclass korelasi (t) atau kemiripan antara anak adalah:

V 1 A 1 V 2 A t = = V 4 V p P
V
1
A
1 V
2
A
t =
=
V
4 V
p
P
V
A
Atau :
4 t =
V
P
V
2
A
Dengan demikian :
h
=
4
t
=
4
V
p
4 V p P V A Atau : 4 t = V P V 2 A
4 V p P V A Atau : 4 t = V P V 2 A

Full-Sib

Pendugaan nilai heritabilitas dengan analisis full-sib sedikit lebih rumit dibandingkan dengan dengan analisis half-sib karena ragam dominan dan lingkungan bersama ikut terlibat. Full-Sib mempunyai dua tetua bersama baik bapaknya atau induknya. Polanya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pejantan Pejantan ke n Induk1 induk2 induk ke n Anak1 Anak 2 Anak ke n
Pejantan
Pejantan ke n
Induk1
induk2
induk ke n
Anak1
Anak 2
Anak ke n
Anak1
Anak 2
Anak ke n

Gambar 4.3. Pola Full-Sib

Kedua tetua tersebut menurunkan masing-masing 1/2 gena-gena aditifnya. Apabila kemiripan diungkapkan dengan Intraclass Korelasi (t), maka:

t = V V p p 1 V 2 = A ⇒⇒ Jadi h =
t =
V
V
p
p
1 V
2
=
A ⇒⇒
Jadi
h
=
2
t
2 V
P

V

1 V

2 A

i

+

V 1 V 2 A i + 1 1 V 2 A p = 4 A
V 1 V 2 A i + 1 1 V 2 A p = 4 A

1

1 V

2 A

p

=

4

V 1 V 2 A i + 1 1 V 2 A p = 4 A
V 1 V 2 A i + 1 1 V 2 A p = 4 A

A

i

+

1

4 V

A

p

Pendugaan bukan Berdasar Analisis Statistika

Nilai heritabilitas bisa diduga dengan tidak berdasarkan analisis statistik, yaitu dengan berdasarkan hasil seleksi. Hasilnya disebut Realised Heritability. Pendugaan ini akan dibahas pada materi seleksi.

Animal Model

Sekarang pendugaan nilai heritabilitas dilakukan dengan Animal Model. Semua ternak baik penjantan, induk, tetua turut diperhitungkan dalam analisis. Dengan demikian nilai heritabilitas adalah langsung perbandingan ragam genetik dengan ragam fenotipik, atau dapat ditulis sebagai berikut :

V 2 A h = V p
V
2
A
h =
V
p
genetik dengan ragam fenotipik, atau dapat ditulis sebagai berikut : V 2 A h = V
genetik dengan ragam fenotipik, atau dapat ditulis sebagai berikut : V 2 A h = V

KULIAH VII

NILAI PEMULIAAN

Dalam pemuliaan ternak, pemilihan ternak ternak terbaik berdasarkan keunggulan genetik, karena faktor ini akan diturunkan pada anak anaknya. Nilai Pemuliaan (NP) merupakan suatu ungkapan dari gena-gena yang dimiliki tetua dan akan diturunkan kepada anak-anaknya. Sampai sekarang belum ada metoda yang bisa pasti menduga nilai pemuliaan, tapi hanya menduga saja. Nilai Pemuliaan dari seekor ternak adalah 1/2 dari NP induknya dan 1/2 lagi dari NP bapaknya (Gambar 6.1.).

Induk Bapak 0.5 NP 0.5 NP Anak Gambar 6.1. Penurunan Nilai Pemuliaan dari Tetua NP
Induk
Bapak
0.5 NP
0.5 NP
Anak
Gambar 6.1. Penurunan Nilai Pemuliaan dari Tetua
NP dapat diduga berdasarkan informasi (catatan performa) dari:
1. Performa ternak itu sendiri
2. Performa saudara-saudaranya
3. Performa tetuanya, atau
4. Gabungan ke tiganya
Pada materi ini akan membahas pendugaan NP yang hanya berdasarkan catatan ternak
itu sendiri. Prinsip pendugaannya dapat digambarkan sebagai berikut :
NP
Fenotip

Gambar 6.2. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan

dapat digambarkan sebagai berikut : NP Fenotip Gambar 6.2. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan Ilmu Pemuliaan Ternak
dapat digambarkan sebagai berikut : NP Fenotip Gambar 6.2. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan Ilmu Pemuliaan Ternak

Diasumsikan hubungan antara Fenotip dan NP adalah linier. Persamaannya dapat diungkapkan sebagai berikut:

NP = bP

Dimana : NP = nilai pemuliaan

b

= koefisien regresi

P

= fenotip

Apabila pendugaan hanya berdasarkan catatan dari ternak-ternak bersangkutan, maka b = h 2 , sehingga persamaannya dapat diungkapkan :

NP = h 2 P

Mengapa menjadi h 2 ? b adalah koefisien regresi linear untuk menduga nilai genetik berdasarkan
Mengapa menjadi h 2 ?
b adalah koefisien regresi linear untuk menduga nilai genetik berdasarkan catatan
fenotipik. Nilai genetik di sini bisa nilai genotip atau hanya nilai genetik aditif saja.
Kita misalkan nilai genetik hanya diwakili oleh efek gena aditif :
Cov A P
(,)
b =
V P
Cov A P
(
,
)
=
Cov ( A , A
Cov A A E
(
,
+
)
=
)
+
Cov A E
(
+
)
Jika Cov A E
(
+
)
=
0, Jadi
Cov A P
(
,
)
=
Cov A A
(
,
)
=
V
A
V
V
P

Jadi

b

=

A

= h

2

Banyak para akhli pemuliaan ingin membandingkan ternak-ternak yang berada dalam satu populasi dengan rekan-rekannya, misalnya apakah NP ternak yang satu berada dibawah rata-rata atau di atas rata rata NP populasi. Rumus di atas dimodifikasi kembali menjadi:

2 NP = h P ( − P ) i dimana P = Catatan individu
2
NP
=
h P
(
P
)
i
dimana
P =
Catatan individu bersangkutan
i

P = Rata - rata populasi

( − P ) i dimana P = Catatan individu bersangkutan i P = Rata -
( − P ) i dimana P = Catatan individu bersangkutan i P = Rata -

Contoh 1:

Rata-rata bobot badan domba Priangan = 65 kg, dengan h 2 = 0.30. Diasumsikan bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin, umur induk, liter size, dan faktor lain yang mempengaruhi bobot badan dewasa. Domba jantan X mempunyai bobot 80 kg.

(1) Berapa nilai pemuliaan domba X? (2) Bila pejantan X tadi dikawinkan dengan betina Y yang mempunyai bobot badan sama dengan bobot badan rata-rata dalam populasi, berapa perkiraan bobot badan anaknya? (3) Apabila dikawinkan dengan betina Z yang bobot badannya 70 kg, berapa perkiraan bobot anaknya?

Jawab:

(1) Nilai Pemuliaan domba X:

2

NP = h P P ) =

X

(

= 4.5 kg

0.3(80

65)

(2) Nilai Pemuliaan domba Y, karena bobot badannya termasuk rata-rata dalam populasi, maka nilainya adalah 0.

Nilai Pemuliaan anaknya:

NP

ANAK =

.

45

+

0

2

=

2 25

.

kg

Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg + 2.25 kg = 67.25 kg

(3) Nilai Pemuliaan domba Z :

2

NP = h P P =

Z

(

)

= 1.5 kg

0.3(70

NP anaknya: 45

.

+

14

.

2

= 3

kg

65)

Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg +3 kg = 68 kg

4 5 . + 1 4 . 2 = 3 kg 65) Kemungkinan bobot badan anaknya:
4 5 . + 1 4 . 2 = 3 kg 65) Kemungkinan bobot badan anaknya:

Contoh 2:

Berikut ini adalah produksi susu laktasi pertama dari lima ekor ternak :

No. Ternak

Produksi (liter)

1

3100

2

3500

3

2800

4

3600

5

3550

Nilai heritabilitas untuk produksi susu adalah 0,3.

Rata-rata produksi susu ( P ) =

3100 + 3500 + 2800 + 3600 + 3550 = 3300 liter

5

Nilai pemuliaan untuk masing-masing ternak adalah :

No. Ternak

Nilai Pemuliaan

1 0,3 (3100-3300) = - 60

2 0,3 (3500-3300) = +60

3 0,3 (2800-3300) = -150

4 0,3 (3600-3300) = +90

5 0,3( 3550-3300) = +75

Kalau ternak-ternak tersebut diranking dari yang terbaik sampai yang terjelek, maka urutannya adalah ternak no. 4, 5, 2, 1, dan 3. Nilai duga +90 untuk ternak no. 4 menunjukan bahwa ternak tersebut secara genetik unggul 90 liter dari rata-rata populasinya. Dengan demikian kalau kita menyeleksi ternak, maka ranking di atas harus diperhatikan.

Catatan Berulang

Dalam banyak kasus, suatu sifat mungkin diukur beberapa kali, misalnya berat badan pada sapi potong, produksi susu pada sapi perah, dan banyak lagi sifat yang lain. Kemiripan diantara catatan ini diungkapkan dengan repitabilitas. Penentuan beberapa parameter genetikpun bisa menggunakan catatan berulang, misalnya heritabilitas catatan berulang dan nilai pemuliaan catatan berulang. Pendugaan parameter dengan catatan berulang biasanya lebih cermat dibandingkan dengan catatat tunggal, tetapi memerlukan waktu yang lebih lama dan ini tidak menguntungan bila diterapkan dalam program seleksi.

Heritabilitas Catatan Berulang

Untuk catatan berulang fenotipnya diukur lebih dari satu kali, misalnya n kali sehingga nilai heritabilitas catatan berulangnya adalah :

satu kali, misalnya n kali sehingga nilai heritabilitas catatan berulangnya adalah : Ilmu Pemuliaan Ternak Page
satu kali, misalnya n kali sehingga nilai heritabilitas catatan berulangnya adalah : Ilmu Pemuliaan Ternak Page
2 nh 2 = h x 1 + ( n − 1) r
2
nh
2
=
h x
1
+
(
n
1)
r

dimana n = jumlah catatan, dan r = nilai repitabilitas

Nilai Pemuliaan Catatan Berulang

Pendugaan nilai pemuliaan catatan berulang pada dasarnya sama dengan pendugaan heritabilitas melalui catatan tunggal, yang berbeda hanya koefisien regresinya saja. Kalau dengan catatan tunggal b = h 2 , maka untuk catatan berulang

2

h =

nh

2

1

+( n )

1

r

Dengan demikian, rumus Nilai Pemuliaan catatan berulang adalah:

nh

2

NP =

(

P )

X

i

1

+

(

n

1)

r

Most Probable Producing Ability (MPPA)

MPPA adalah suatu nilai pendugaan kemampuan produksi dari seekor ternak yang diungkapkan dalam suatu deviasi didalam suatu populasi. Metoda ini sering digunakan pada sapi perah. Rumusnya adalah:

MPPA =

 

n

r

(

P

P )

1

+

(

n

1)

r

i

Dimana:

n r

1+(n 1)r

n = jumlah catatan

r = nilai repitabilitas

merupakan

koefisien

regresi

untuk

menduga

keunggulan

seekor/sekelompok ternak dalam suatu populasi berdasarkan n catatan.

Rumus ini mirip dengan rumus pendugaan Nilai Pemuliaan Catatan Berulang, perbedaanya adalah pada pembilang. Pada MPPA menggunakan repitabilitas(r), sedangkan pada NP catatan berulang menggunakan heritabilitas (h 2 ). Dengan demikian NP catatan berulang berguna untuk menduga keunggulan genetik yang mungkin diturunkan pada anaknya, tetapi MPPA berguna untuk menduga keunggulan seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya.

berguna untuk menduga keunggulan seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 36
berguna untuk menduga keunggulan seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 36

Pengertian Seleksi

KULIAH VIII

SELEKSI

Dalam konteks pemuliabiakan ternak seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya. Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui perbaikan mutu bibit. Dengan seleksi, ternak yang mempunyai sifat yang diinginkan akan dipelihara, sedangkan ternak-ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan disingkirkan.

Dalam melakukan seleksi, tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, misal pada ayam, tujuan seleksi ingin meningkatkan produksi telur, berat telur, atau kecepatan pertumbuhan.

Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Seleksi diferensial (S)

2. Heritabilitas (h 2 )

3. Interval generasi (l)

Seleksi Diferensial (S)

Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performan individu-individu yang terseleksi dengan rata-rata performan individu-individu pada populasi awal. Atau dengan kata lain, seleksi diferensial adalah keunggulan ternak-ternak yang terseleksi terhadap rata-rata populasi (keseluruhan ternak sebelum diseleksi).

Contoh 1:

Rata-rata produksi susu laktasi satu sapi Fries Holland yang terseleksi adalah 3500 liter, sedangkan rata-rata produksi populasi adalah 3300 liter.

Seleksi diferensial (S) = 3500-3300 liter = 200 liter.

Kalau sifat tersebut dapat diukur pada ternak jantan dan betina, maka seleksi biasanya dilakukan secara terpisah. Seleksi diferensial-nya adalah rata-rata dari keduanya.

Contoh 2:

Rata-rata bobot sapih dari suatu populasi (seluruh ternak) domba Priangan yang betina adalah 9 kg dan yang jantan 13 kg. Rata-rata bobot sapih ternak-ternak yang terseleksi yang betina adalah 12 kg dan yang jantan 15 kg.

S

S

Rata-rata Seleksi Diferensial (S) =

=

=

15 – 13 kg = 2 kg

12 – 9 kg

= 3 kg

2 = 2,5 kg

3+

2

(S) = ♂ = ♀ = 15 – 13 kg = 2 kg 12 – 9
(S) = ♂ = ♀ = 15 – 13 kg = 2 kg 12 – 9

Heritabilitas

Pengertian heritabilitas telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Nilai heritabilitas menunjukan keragaman genetik ternak didalam populasi. Secara kontras jika h 2 = 0, maka tidak ada gunanya kita melakukan seleksi. Semakin tinggi nilai heritabilitas, semakin cepat kemajuan seleksi yang diharapkan.

Interval Generasi

Interval generasi dapat diartikan sebagai rata-rata umur tetua/induk ketika anaknya dilahirkan. Setiap jenis ternak mungkin mempunyai interval generasi yang berbeda. Interval generasi dipengaruhi oleh umur pertama kali ternak tersebut dikawinkan dan lama bunting, dengan demikian interval generasi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti pakan dan tatalaksana. Pemberian pakan yang jelek dapat memperpanjang interval generasi. Semakin cepat/pendek interval generasi, semakin cepat perbaikan mutu bibit yang diharapkan. Interval generasi untuk beberapa jenis ternak tersaji pada Tabel 7.1.

Tabel 7.1. Interval Generasi untuk beberapa Jenis Ternak

Jenis Ternak

Interval Generasi (Tahun)

Sapi perah

5-6

Sapi pedaging

4-5

Domba

3-5

Kambing

3-5

Ayam

¾ - 1 ½

Kuda

9-13

Babi

2-4

Dugaan Kemajuan Seleksi/Respon Seleksi

Respon Seleksi atau Kemajuan Seleksi adalah perbandingan antara rata-rata performan anak dengan rata-rata performan tetua. Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi menunjukan keberhasilan suatu program seleksi.

Sebagai contoh: rata-rata produksi telur ayam generasi ke 1 adalah 270 butir/tahun. Rata produksi telur anak-anaknya (generasi ke 2) setelah seleksi adalah 280 butir/tahun. Kemajuan Seleksinya adalah 280 – 270 butir = 10 butir per generasi.

Para pemulia sering ingin mengetahui respon seleksi sebelum anak-anaknya lahir, ini disebut Dugaan Respon Seleksi atau Dugaan Kemajuan Seleksi yang ditulis dengan notasi R. Dugaan respon seleksi sebanding dengan seleksi diferensial (S) dan nilai heritabilitas (h 2 ). Jadi semakin tinggi nilai heritabilitas dan atau seleksi diferensial, semakin tinggi kemajuan seleksi yang diharapkan.

dan atau seleksi diferensial, semakin tinggi kemajuan seleksi yang diharapkan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 38
dan atau seleksi diferensial, semakin tinggi kemajuan seleksi yang diharapkan. Ilmu Pemuliaan Ternak Page 38

Dugaan Kemajuan seleksi dapat diduga dengan rumus sebagai berikut :

R = Sh 2

Dimana :