Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan


pada umumnya, termasuk kesehatan gigi dan mulut, mengakibatkan meningkatnya
jumlah anak-anak yang membutuhkan perawatan gigi. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya status sosioekonomi masyarakat. Mereka telah banyak mendengar dan
melihat tentang kemajuan teknologi di bidang kedokteran gigi yang berkembang
cukup pesat, sehingga masyarakat yang mengerti dan mampu, akan memeriksakan
keadaan gigi anaknya sedini mungkin.1
Pengetahuan tentang pentingnya fungsi gigi geligi serta akibat kelalaian
pemeliharaannya memungkinkan meningkatnya tuntutan akan perawatan yang
sebaki-baiknya. Orangtua menginginkan anaknya tampak normal, berpenampilan
menarik, sehingga mereka membawa anaknya ke dokter gigi untuk memperbaiki
maloklusi. 2
Maloklusi adalah keadaan yang menyimpang dari oklusi normal, hal ini dapat
terjadi karena tidak sesuainya antara lengkung gigi dan lengkung rahang. Keadaan ini
terjadi baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Gambaran klinisnya berupa
crowding, protusi, cross bite baik anterior maupun posterior. 2
Kelainan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan cacat muka, sehingga
menurunkan daya tarik anak tersebut. Kadang-kadang anak mendapat ejekan dari
teman-temannya. Hal inilah yang dapat menimbulkan perasaan rendah diri, yang
selanjutnya akan mempengaruhi proses pembentukan diri, dengan cara menarik diri,
pendiam, pemalu. Untuk itu perlu dilakukan perawatan dengan sedini mungkin.
Maloklusi, khususnya kelainan dento-fasial, merupakan salah satu penyakit yang
perlu ditanggulangi dengan kesungguhan. Selain itu karena luasnya pengaruh
maloklusi terhadap kesehatan, juga akan menimbulkan gangguan terhadap keserasian
dan estetika muka. Maloklusi tidak dapat diberantas, jadi akan senantiasa ada, karena
penyebab kelainan tersebut tidak hanya karena factor lingkungan, tetapi juga factor

1
keturunan yang tidak dapat dihindari. Namun demikian maloklusi dapat dicegah agar
tidak bertambah parah.1,3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perawatan Ortodontik
Perawatan Ortodontik dibagi tiga:
1. Perawatan ortodonti pencegahan (Preventive orthodontics)
a. Batasan :
• Ilmu ortodonti pencegahan adalah ilmu yang mempelajari segala
macam usaha untuk mencegah terjadinya kelainan oklusi (maloklusi).
• Ilmu ortodonti pencegahan merupakan bagian dari ilmu kedokteran
gigi pencegahan (Preventive Dentistry).
• Berbeda dengan cabang ilmu kedokteran gigi yang lain yang
memerlukan perawatan singkat, ortodonti pencegahan memerlukan
perawatan yang lama, terus menerus mengikuti waktu pertumbuhan dan
perkembangan dentofasial.
• Ortodonti pencegahan berarti tindakan yang dinamis, terus menerus
dan disiplin bagi dokter gigi dan pasiennya. 9
b. Tujuan :
Untuk mempertahankan olusi normal
c. Cara mempertahankan oklusi normal
Hal-hal yang diperlukan untuk mempertahankan oklusi normal adalah :
1) Hubungan yang baik antara dokter gigi dan pasien Hubungan dimulai
dari saat visite.
Pertama pasien dan orang tua ke dokter gigi. Melalui penyuluhan
yang dilengkapi dengan ilustrasi dan model gigi, orang tua dan pasien
akan mengetahui dengan jelas bahwa oklusi normal itu tidak terjadi begitu
saja. Mereka harus mengetahui bahwa banyak hal yang bisa menyebabkan

3
terjadinya penyimpangan dari oklusi normal, kerumitan perkembangan
gigi. Harus mengetahui bahwa jauh lebih mudah mencegah atau
menghambat terjadinya maloklusi daripada merawatnya.
2) Catatan diagnostik Anak seharusnya dibawa ke dokter gigi seawal
mungkin.
• Pada umur 2,5 tahun Ini tidak berarti harus dirawat, cukup
diperkenalkan dengan alat-alat pemeriksaan, pemeriksaan klinik
sederhana dan catatan keadaan kesehatan gigi dan mulutnya.
• Pada umur 5 tahun Dokter gigi sudah mulai menentukan
jadwal pemeriksaan gigi bagi anak secara rutin untuk memulai catatan
diagnostik jangka panjang.
3) Pengambilan foto Ro -Bite-wing 2 kali setahun -Periapikal 1 kali
setahun -Lengkap setiap 2 tahun 1 kali cukup -OPG (Oral Panoramic
Radiografi).
4) Model studi
• Selama tahun-tahun kritis, yaitu umur 6 – 12 tahun
pengambilan model studi perlu dilakukan setiap 1 tahun sekali. Model
studi tidak perlu dibuat dengan basis yang rapi dan dipolis tetapi
cukup bagian lengkung gigi dan rahang.
• Kegunaan model studi untuk :
 Menjelaskan keadaan oklusi gigi pasien kepada pasien dan
orang tuanya.
 Menentukan diagnostik kasus dan cara mempertahankan oklusi
normal.
 Pembuatan model studi sangat penting terutama apabila
pengambilan foto Ro” tidak mungkin dilakukan.
d. Periode kritis penggantian gigi

4
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usaha mencegah terjadinya
maloklusi pada periode kritis yaitu :
1) Pola erupsi gigi sulung yang abnormal
2) Persistensi sisa akar gigi sulung
3) Gigi supernumerary
4) Gigi sulung ankylosi
5) Crypte tulang yang tidak teresopsi
6) Jaringan lunak yang menghalang
7) Tambalan gigi sulung yang berlebihan
Hal tersebut akan mengganggu urutan waktu pergantian gigi. Untuk
menyakinkan agar dokter gigi siap memberi pelayanan yang terbaik pada
waktu memulai praktek, dimeja tulis ditempelkan daftar faktor-faktor tersebut,
dan daftar urutan erupsi gigi permanen.
e. Space Maintainer
1) Syarat Space Maintainer
• Harus dapat mempertahankan ukuran lebar mesio distal gigi
yang tanggal.
• Harus dapat berfungsi untuk mencegah over erupsi gigi
antagonisnya.
• Sederhana dan kuat.
• Tidak memberi tekanan yang berlebihan bagi gigi yang masih
ada.
• Mudah dibersihkan
• Konstruksinya sederhana sehingga tidak menggangu fungsi
gigi dan mulut

5
2) Gambar Space Maintainer

f. Prosedur ortodontik pencegahan


1) Perawatan caries gigi sulung.
2) Menghilangkan kebiasaan mulut yang jelek.
3) Penyesuaian oklusi (occlusal adjusment)
4) Pengamatan diastema insisivi atas (central diatema)

2. Perawatan ortodotik interseptif


Perawatan ortodontik interseptif adalah suatu prosedur ortodontik yang
dilakukan pada maloklusi yang baru atau sedang dalam proses terjadi dengan
tujuan memperbaiki ke arah oklusi normal (intercept : mencegat atau
menghalangi). Perawatan ortodontik interseptif dilakukan pada masa gigi
bercampur. Beda antara ortodontik preventif dengan ortodontik interseptif adalah
pada waktu tindakan dilakukan. Ortodontik preventif dilakukan apabila
diperkirakan ada keadaan yang akan menyebabkan terjadinya suatu maloklusi
sedang ortodontik interseptif adalah suatu tindakan yang harus segera dilakukan
(fait accompli) karena terdapat suatu gejala atau proses terjadi maloklusi walau
dalam tingkatan yang ringan sehingga maloklusi dapat dihindari atau tidak
berkembang.7
Contoh :

6
 Gigi hilang dini (space maintainer) : ortodontik preventif
 Gigi hilang dini ruang menyempit (space regainer) : ortodontik interseptif
Lingkup perawatan ortodontik interseptif adalah:
1) Tujuan utama perawatan :
• Lengkung gigi ideal
• Oklusi ideal
• Fungsional normal
2) Mengenal dan memperhatikan :
• Perkembangan gigi
• Perkembangan oklusi gigi
• Tingkat dan arah kemasakan fisik

3. Perawatan Ortodontik Korektif


Perawatan ortodontik korektif merupakan perawatan yang dilakukan guna
menghilangkan kelainan gigi geligi yang telah berkembang dan menyebabkan
keluhan secara estetika maupun fungsional. Perawatan ortodontik korektif
dilakukan pada masa gigi permanen.
a. Perawatan Maloklusi Klas I

7
b. Perawatan Maloklusi Klas II

c. Perawatan Maloklusi Klas III

B. Perawatan Ortodontik pada Masa Gigi Bercampur


1. Tujuan perawatan ortodontik pada masa gigi bercampur
Tujuan perawatan ortodontik sedini mungkin, dalam periode geligi
campuran adalah memperbaiki adanya kelainan dentofasial sebelum erupsi gigi
tetap keluar semua (kecuali molar ke-3 tetap). Dengan terapi ortodonti pada usia
muda, diharapkan bahwa perawatan orto yang kompleks dapat dikurangi atau
dihindari 1,4
Untuk mengurangi atau mencegah kelainan dentofasial di waktu yang
akan datang, diagnosis dibuat sedini mungkin, yaitu pada usia 7 – 8 tahun dan
hasil yang didapat akan cukup memuaskan, baik fungsi maupun estetik.
Perawatan akan sederhana atau bahkan kadang-kadang tidak diperlukan alat. 1

8
2. Jadwal perawatan ortodontik pada masa gigi bercampur
Penentuan waktu dan tingkat hambatan adalah persoalan utama dalam
tindakan ortodontik pada masa gigi bercampur. Jadwal penentuan waktu dan
tingkat hambatan kapan tindakan ortodontik dilakukan merupakan kunci
keberhasilan perawatan. Jadwal yang tepat perawatan akan berhasil, secara
fisiologis atau self-adjustment maloklusi dapat dihindari atau dicegah
perkembangannya. Jadwal yang terlambat maloklusi akan berkembang dan
manifest (muncul) sehingga diperlukan tindakan ortodontik korektif.10
3. Prosedur tetap perawatan ortodontik pada masa gigi bercampur
Prosedur tetap (PROTAP) atau Standar Operasi (SOP) yang diperlukan
pada perawatan ortodontik pada masa gigi bercampur adalah :
a. Study model : diperlukan untuk mempelajari keadaan klinis penderita
b. Ronsenogram Panoramik (OPG) diperlukan untuk mempelajari lengkap
tidaknya benih serta urutan erupsi gigi permanen dan terutama untuk
mengindentifikasi kemungkinan adanya penyebab maloklusi yang tidak
terlihat secara klinis
c. Diskusi dengan orang tua dan penderita (INVOLVED CONCENT /
INFORMED CONCENT) dengan tujuan memberikan informasi tentang :
• Keadaan gigi-geligi dan akibatnya
• Penekanan pentingnya tindak lanjut
4. Macam-macam perawatan ortodontik pada masa gigi bercampur
a. Penyesuai atau koreksi disharmoni oklusal
Pada periode gigi bercampur proses pergantian gigi decidui dengan
gigi permanen kadang terjadi gangguan yang mengakibatkan oklusi atau relasi
rahang tidak serasi. Adanya kontak prematur dapat mengakibatkan problem
terhadap gigi dan mandibula sehingga terjadi relasi dan fungsi abnormal.
Identifikasi gangguan hubungan oklusal dapat dilakukan dengan
mengamati gerakan membuka-menutup mulut dari posisi membuka lebar

9
kemudian menutup dalam oklusi dan dalam kedudukan posisi istirahat (Rest).
Apabila di dalam gerakan terlihat relasi mid-line rahang tidak serasi atau pada
TMJ teraba gerakan yang tidak lancar (Smooth) berarti terdapat relasi dan
fungsi rahang abnormal yang kemungkinan disebabkan adanya gangguan
oklusal.9
1) Pergeseran Mandibula ke anterior
Erupsi gigi incisivus rahang atas kadang mengalami hambatan
sehingga terlambat tumbuh. Apabila gigi incisivus rahang bawah telah
erupsi penuh akibatnya bimbingan posisi (Inklinasi) incisivus rahang atas
yang berasal dari tekanan oklusi incisivus rahang
bawah terhambat sehingga incisivus rahang atas Retroklinasi. Relasi gigi
anterior menjadi edge to edge bite dan mandibula akan bergerak ke depan
sehingga terjadi cross bite gigi anterior. Maloklusi ini pada tahap awal
(gejala) dapat dikoreksi dengan melakukan grinding (beveling) incisal
incisivus rahang bawah dan facies palatal incisivus rahang atas, adanya
tekanan oklusi secara fisiologis maloklusi akan terkoreksi.
2) Pergerakan Mandibula ke lateral
Dorongan erupsi gigi caninus permanen kadang menyebabkan gigi
caninus decidui extrusi sehingga terjadi traumatik oklusi gigi caninus
akibatnya mandibula akan bergeser ke salah satu sisi lateral dan terjadi
cross-bite geligi posterior. Pada tahap awal maloklusi ini dapat dikoreksi
dengan grinding insisal gigi caninus decidui sehingga terjadi occlusal
adjustment dan oklusi kembali normal. Konstraksi bilateral ringan dari
maxilla dapat mengakibatkan pergeseran mandibula ke lateral untuk
penyesuaian oklusi sehingga terjadi cross-bite unilateral geligi posterior.
Koreksi maloklusi ini dapat dilakukan dengan expansi maxilla
diikuti koreksi oklusal dengan grinding geligi yang oklusi traumatik.
Penyempitan maxilla dapat disebabkan oleh karena kebiasaan jelek
menghisap ibu jari atau bernafas lewat mulut. Sedang maloklusi cross-bite

10
posterior unilateral dapat berakibat terjadinya asimetri rahang yang
berlanjut pada asimetri wajah.
b. Perawatan cross-bite anterior pada mixed dentition
Adalah hal yang umum bila I2 rahang atas erupsi sedikit lebih lingual dari
pada I1 rahang atas yang akan terkoreksi oleh karena tekanan oklusi atau
lidah. Apabila tidak dapat terkoreksi secara fisiologis, dilakukan tindakan
ortodontik interseptik. Indikasi :
• Linguoversi I2 rahang atas dengan ruang cukup
• Kecenderungan Klas III ringan (Herediter)
• Kecenderungan cross-bite anterior pada penderita dengan profil
straight face (lurus) oleh karena overjet yang minimal (< 2 mm)
Cara perawatan:
1) Dengan alat Tongue Blade (T.B)
• Buat tongue blade selebar gigi atau geligi yang Palatoversi
• Letakkan tongue blade pada incisal incisivus rahang bawah tanpa
tekanan
• Dengan tumpuan tepi incisal incisivus rahang bawan, tongue blade
diputar ke atas dan ke depan menyentuh facies lingual gigi rahang
atas yang palatoversi, penderita disarankan menggigit dengan
tekanan yang tetap.
• Durasi 1-2 jam/hari, dalam 10-14 hari.
• Disarankan ortodontis mengawasi.
• Sebaiknya dilakukan sambil nonton TV
2) Dengan dataran miring cekat (Acrylic)
1| 1 atas : Palato versi
1 |1 2 bawah : Abuthmen (Jacket Crown)

11
c. Perawatan diastema anterior
Indikasi : diastema bukan karena fenomena perkembangan sementara
1) Diastema Sentral karena frenulum labii superior
• Attachment rendah diketahui dengna Blanch test
• Perawatan : Frenectomy
2) Diastema karena distoversi I1 rahang atas Perawatan : alat cekat atau
lepasan dengan kekuatan ringan, untuk menghindari pemendekan panjang
akar gigi.
b. Perawatan kebiasaan jelek (Bad Habbit)
c. Latihan otot (Myofunctional Therapic)
d. Pencabutan seri (Serial Ectraction)
5. Prosedur penyesuaian atau koreksi oklusal
Bahan dan alat :
a. Kertas artikulasi
b. Malam base plate lunak
c. Artikulator anatomis
d. Stone : round, pear shape
e. Straight H.P dan contra Angle H.P
Prosedur Pemeriksaan gangguan oklusal
a. T.M.J : clicking atau crepitasi dengan stethoscope atau meletakkan ujung
jari di depan telinga penderita.
b. Pengambilan gigitan malam dalam oklusi habitual
• Malam dibentuk tapal kuda, dilembekkan, taruh pada oklusal
rahang atas, penderita gerakan pengunyahan
• Malam diambil diterawangkan ke arah sinar bagian yang
perforated merupakan daerah kontal premature

12
c. Dengan kertas artikulasi ditandai daerah kontak sebenarnya pada geligi
berlawanan tandai tonjol dan dataran oklusal yang terkena atau lebih tebal
di catat.
d. Ujicoba koreksi oklusal pada studi model yang di mounting pada
artikulator, sesuai catatan geligi rahang atas dan rahang bawah yang
traumatik oklusi permukaan oklusal digrinding. Hasilnya dilihat, apabila
grinding oklusal pada studi model tersebut dapat memperbaiki relasi dan
fungsi rahang atas-rahang bawah, tindakan dilanjutkan pada penderita.11
e. Lakukan pada penderita.
6. Alat-alat yang dipakai dalam perawatan ortodontik pada masa gigi
campuran
a. Space Regainer

13
b. Head Gear

b. Face Mask/ Reverse – Pull Head Gear

14
c. Expantion Arch

d. Rapid Palatal Expander (RPE)


1) Gallela Haas

15
2) Hyrax Bonded

2) Hyrax Bonded with super screw

16
3) Mahony fan expander

4) Titanium RPE

d. Quad Helix

17
e. Alat Myofungsional
1) Bite Planes

18
2) Oral screen

3) ActivatorFunktional Regulator

4) Bionator

19
5) Frankel

20
BAB III
KESIMPULAN

Perawatan ortodontik secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu


perawatan ortodontik preventif, perawatan ortodontik interseptif dan perawatan
ortodontik korektif dimana perawatan ortodontik yang digunakan untuk
menghilangkan kelainan oklusi atau hubungan gigi geligi yang terjadi pada
periode gigi bercampur (mixed dentition) yaitu pada usia 6-12 tahun adalah
perawatan ortodontik interseptif.
Tujuan perawatan ortodontik sedini mungkin, dalam periode geligi
campuran adalah memperbaiki adanya kelainan dentofasial sebelum erupsi gigi
tetap keluar semua (kecuali molar ke-3 tetap). Dengan terapi ortodonti pada usia
muda, diharapkan bahwa perawatan orto yang kompleks dapat dikurangi atau
dihindari.
Untuk mengurangi atau mencegah kelainan dentofasial di waktu yang
akan datang, diagnosis dibuat sedini mungkin, yaitu pada usia 7 – 8 tahun dan
hasil yang didapat akan cukup memuaskan, baik fungsi maupun estetik.
Perawatan akan sederhana atau bahkan kadang-kadang tidak diperlukan alat.
Bila setiap usaha dibuat dengan cermat untuk memaksimalkan perawatan
sehingga menghasilkan keuntungan, waktu pearawatan menjadi lebih cepat,
kemungkinan penderita merasa lebih nyaman. Jika rencana perawatan
dilaksanakan secara cermat, hasilnya dapat diprediksi. Dengan demikian
perawatan ortodontik dapat menjadi pilihan dalam memberikan kesuksesan pada
periode gigi campuran.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Mc Namara JA, Brudon WL. 1995. Orthodontics and orthopedic


treatment in the mixed dentition. Michigan: Needham Press Inc
2. Finn SB. 2003. Clinical Pedodontics. 4th ed. Birmingham: WB saunders
Co
3. Mc Donald RE. 1994. Avery. Dentistry for child and adolescent. 7th ed. St
Louis: Mosby
4. Bishara, S.E. 2001. Textbook of Orthodontics. Philadelphia: WB Saunders
Co
5. Moyers, S.E. 1980. Textbook of Orthodontics for The Student. 3rd Ed.
Chicago: Year Book Medical Publisher
6. Profit, W.R., Fields H. W., Sarver D. M., 2007. Contemporary
Orthodontics. 4th Ed. St Louis: Mosby
7. Anonim.,2010. Orthodontic. www.cerminduniakedokteran.com

8. Foster T.D., 1997. Buku Ajar Ortodonti. Edisi 3. Jakarta : Penerbit


Buku Kedokteran EGC.

9. Mokhtar, M., 1974. Orthodonti. FKG USU. Medan

10. Wayan, A., 2002. Alat orthodontic. www.doktergigiku.com

22

Anda mungkin juga menyukai