Anda di halaman 1dari 10

Pendidikan karakter

5 months ago

 Email
 Favorite
 Download
 Embed
 More…

 382 x 408 477 x 510 572 x 612 668 x 714


embed cod

Update

separate ta Post

Save

Select Group / Event Send

Like this presentation?


0 comments
Embed Video Subscribe to comments
Post Comment

Update
Edit your comment Cancel

1 Favorite

 awankz 4 months ago

Pendidikan karakter - Document Transcript


1. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 STRATEGI
MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER (Membangun Peradaban Berbasis
Ahlaqul Kharimah) Oleh: DR. H. Yoyon Bahtiar Irianto, M.Pd. (Adpend-FIP-UPI,
email: abah_jbi@hotmail.com) Abstrak Sudah sepuluh tahun reformasi pendidikan
dilakukan, dan hampir seluruh kebijakan pembaharuan pendidikan telah diupayakan,
namun sepertinya seluruh tatanan hidup dan kehidupan masyarakat malah berubah ke
arah yang tidak menentu. Secara tidak disadari, kehidupan masyarakat malah
melunturkan sendi-sendi keimanan yang nya turut mempengaruhi kualitas
kelangsungan peradaban bangsa. Penyebab utamanya tidak lain pendidikan karakter
bangsa yang ‘amburadul’. Karena itu, sejalan dengan Renstra Kemendiknas 2010-
2014 yang telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter, maka diperlukan
kerja keras semua pihak, terutama terhadap program-program yang memiliki
kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar dioptimalkan. Namun,
penerapan pendidikan karakter di sekolah memerlukan pemahaman tentang konsep,
teori, metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character
building) dan pendidikan karakter (character education). Permasalahan yang perlu
diungkap antara lain: Bagaimana kiprah pendidikan dalam peradaban bangsa? Apa
makna pendidikan moral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimana peranan yang perlu
dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalam konteks pembelajaran
di persekolahan? Dari pengalaman ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter,
yaitu: (1) Karakter yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri; dan (2)
Karakter yang built- in dalam setiap mata pelajaran. Sampai saat ini, pendekatan
pertama ternyata lebih efektif dibandingkan pendekatan kedua. Salah satu alasannya
ialah karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep, belum sampai ke
ranah metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. Idealnya, dalam setiap proses
pembelajaran mencakup aspek konsep (hakekat), teori (syare’at), metode (tharekat)
dan aplikasi (ma’rifat). Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara
komprehensif melalui konsep, teori, metodologi dan aplikasi setiap bidang studi,
maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektifi dalam menunjang
pendidikan karakter. Strategi pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing
akan lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. Pembelajaran
moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di antara siswa.
Sedangkan pembelajaran moral doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan
individual melalui pendampingan pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai
dengan kondisi lingkungan siswa. Ketiga strategi pembelajaran tersebut sebaiknya
dirancang dengan sistematis agar para siswa dan guru dapat memanfaatkan segenap
nilai-nilai dan moral yang sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di
lingkungannya. Dengan demikian, hasil pembelajarannya ialah terbentuknya tabi’at
reflektif dalam arti para siswa memiliki pengetahuan, kemauan dan keterampilan
dalam berbuat kebaikan. Melalui pemahaman yang komprehensif ini diharapkan dapat
menyiapkan pola- pola manajemen pembelajaran yang dapat menghasilkan anak didik
yang memiliki karakter yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan,
keimanan, dan perilaku shaleh, baik secara pribadi maupun sosial. Kata kunci: moral,
value, ahlaq, character building, character education, tabi’at reflektif.  Yoyon Bahtiar
Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 1
2. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 A. Permasalahan
“Nelengnengkung-nelengnengkung, geura gede geura jangkung, geura sakola sing
jucung, sangkan bisa makayakeun Indung (Nelengnengkung-nelengnengkung,
cepatlah besar cepatlah tinggi, cepatlah selesaikan sekolah, agar dapat memuliakan
Sang Ibu)” “Ku lihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya
berlinang…..hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan, kini Ibu sedang
lara…..” Itulah penggalan-penggalan “dangding” (syair) pada saat Sang Ibu
mengayun saya (anak). Dengan segenap kasih sayang, harapan, dan do’a, Sang Ibu
berusaha membesarkan saya agar menjadi gede dan tinggi, dan berharap kembali
memuliakan Sang Ibu yang mengadung, membesarkan dan mendidiknya, serta sang
Ibu Pertiwi yang telah memberi saya lahan kehidupan. Sekarang, sang Ibu sedang
bersedih karena anak-anaknya walaupun telah besar dan tinggi namun hasil dari
sekolah tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita Sang Ibu. Apa yang dilakukan
sekolah terhadap anak-anaknya sehingga tidak semua cita- cita dan harapan Sang Ibu
dapat dipenuhi oleh sekolah? Padahal, hampir seluruh kebijakan yang terkait dengan
pembaharuan pendidikan diarahkan sesuai dengan standar pendidikan yang telah
ditetapkan. Namun, sepertinya seluruh tatanan hidup dan kehidupan masyarakat
malah berubah ke arah yang tidak menentu. Ketidakmenentuan yang paling berbahaya
ialah lunturnya keimanan sebagai masyarakat yang agamis. Penurunan budi pekerti,
maraknya penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, sex bebas dan tuna-susila,
meningkatnya pengangguran, kemiskinan dan derajat kesehatan masyarakat yang
buruk, turut mempengaruhi kualitas kelangsungan peradaban masyarakat di masa
depan. Penyebab utamanya tidak lain adalah pendidikan karakter bangsa yang
‘amburadul’. Walaupun visi, misi, prinsip, tujuan, strategi, program pembangunan
pendidikan dirumuskan dengan sangat hebat, namun tidak ada maknanya manakala
hasil-hasil pendidikan tidak dapat meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat dan
berbangsa. Apabila pembangunan pendidikan dilaksanakan seperti itu terus-menerus,
maka bangsa ini selamanya tidak akan mendapat hidayah untuk bangkit menuju
kehidupan yang lebih baik. Gambaran di atas bukan hanya sekedar cerita, bahwa
permasalahan mendasar bagi pendidikan ialah bagaimana menyiapkan generasi yang
cerdas dan memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsanya ke arah yang
lebih baik. Oleh karena itu, sejalan dengan Rencana Strategis Kemendiknas 2010-
2014 yang telah mencanangkan visi penerapan pendidikan karakter,1 maka diperlukan
kerja keras semua pihak, terutama terhadap program-program yang memiliki
kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar- benar dioptimalkan. Namun
demikian, visi penerapan pendidikan karakter di lingkungan satuan-satuan pendidikan
memerlukan pemahaman yang jelas tentang konsep, teori, metodologi dan aplikasi
yang relevan dengan pembentukan karakter (character building) dan pendidikan
karakter (character education). Bagaimana kiprah pendidikan dalam peradaban
bangsa? Apa makna pendidikan moral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimana peranan
yang perlu dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalam konteks
pembelajaran di persekolahan? Melalui pemahaman yang komprehensif ini
diharapkan dapat menyiapkan pola-pola pembelajaran untuk menghasilkan anak didik
Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 2
3. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 yang memiliki
ketangguhan keilmuan, keimanan, dan keshalehan pribadi maupun sosial. Insan-insan
yang shaleh ini sangat diperlukan untuk menjadi ‘kader’ yang siap ‘berjihad’
membangun kembali bangsanya agar bangkit dari keterpurukan. Tanpa pijakan dan
pemahaman tentang konsep, teori, metode yang jelas dan komprehensif tentang
pendidikan karakter, maka misi pendidikan karakter pada sekolah-sekolah akan
menjadi sia-sia. B. Pendidikan dan Peradaban Bangsa Menengok sejarah peradaban
manusia, telah begitu banyak upaya untuk mewariskan pengetahuan dan keterampilan
kepada generasinya. Bahkan pada akhirnya para orang tua menunjukkan
ketidaksanggupan lagi untuk mengajarkan semua pengetahuan dan keterampilan
kepada anak-anaknya. Sejak saat itu, mulailah ada upaya pembelajaran yang tidak
formal sesuai pengetahuan yang diinginkan anaknya. Selanjutnya, seiring
pengetahuan dan keterampilan yang harus dipelajari semakin kompleks, upaya
pembelajaran tersebut mulai diformalkan dalam bentuk persekolahan. Hal ini
menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai nilai-nilai yang hakiki tentang harkat
dan martabat kemanusiaan. Namun, belakangan lembaga pendidikan yang namanya
'sekolah' ini cenderung menganggap sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.
Ahirnya, manakala membicarakan pendidikan cenderung yang dibahas adalah
sekolah; Akibatnya, paradigma pendidikan yang begitu universal hanya dipandang
secara adaptif daripada inisiatif. Ivan Illich2 telah mengkritik persekolahan ini dengan
pertanyaan: “Apakah sekolah itu sesuatu yang perlu dalam pendidikan?” Bahkan,
Everet Reimer3 pun menganggap bahwa pendidikan persekolahan telah ‘mati’ (school
is dead). Tentu saja, saya tidak akan terperangkap dalam konsep yang ekstrim seperti
Reimer. Tetapi kritikan Illich dan Reimer setidaknya mengingatkan kita bahwa
pendidikan persekolahan bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan. Idealnya,
pendidikan seharusnya merupakan gambaran kondisi masyarakat seperti yang pernah
diungkapkan Nicolas Hans bahwa “pendidikan adalah watak nasional suatu bangsa”.
Bahkan dalam kelakarnya dia berkata: “ceritakan sekolahmu, maka akan dapat
kuceritakan keadaan masyarakat dan negaramu”.4 Padangan tersebut menunjukkan
bahwa nilai-nilai pendidikan bukan saja hanya sekedar etika dalam arti 'baik' atau
'tidak baik', namun lebih ditekankan pada tujuan mengapa perlu ada pendidikan.
Kemajuan iptek seharusnya dapat membimbing manusia untuk mempunyai tujuan.
Seperti yang manusia yang diibaratkan ‘penumpang’ kapal yang bernama Bumi,
berputar di jagat kosmos, melancong ke seberang lautan waktu yang tidak terbatas.
“Mereka bersenang dengan riang gembira dan makan layaknya binatang…”5
“Mereka punya hati, tetapi tidak bisa memahami; mereka punya mata, tetapi tidak
melihat; mereka punya telinga, tetapi tidak mendengar. Benar-benar mereka mirip
binatang peliharaan, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang
lalai”.6 Dengan kemajuan iptek manusia menjadi terserang kebingungan serta tidak
tahu lagi identitasnya, sehingga muncullah absurdisme, nihilisme, dan hipiisme
menyerang pikiran dan ruh manusia beradab hingga menghancurkan nilai-nilai
kemanusiaan yang beradab. Saya yakin bahwa nilai dan tujuan pendidikan hanya akan
ada apabila pendidikan itu dapat menciptakan sesuatu yang memberikan manfaat bagi
kehidupan masa kini dan Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan
Karakter/2010 Page 3
4. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 masa mendatang.
Jika kebijakan dalam pendidikan harus dibuat, menunjukkan bahwa dalam praktek-
praktek pendidikan ada sesuatu yang salah atau kurang bermanfaat. Dengan kata lain,
kesalahan atau dalam pelaksanaan pendidikan harus dapat ditemukan, dianalisis,
disintesa, kemudian dipraktekkan kembali sampai menunjukan hasil yang lebih
bermanfaat. Berdasarkan amanat undang-undang,7 pendidikan harus dilihat sebagai
human investment dalam bidang sosial-budaya, ekonomi dan politik. Dalam
perspektif sosial- budaya, pendidikan menjadi faktor determinan dalam mendorong
percepatan mobilitas vertikal dan horisontal masyarakat yang mengarah pada
pembentukan konstruksi sosial baru yang terdiri atas lapisan masyarakat kelas
menengah terdidik, yang menjadi elemen penting dalam memperkuat daya rekat
sosial (social cohesion). Pendidikan dapat menjadi wahana strategis untuk
membangun kesadaran kolektif (collective conscience) sebagai warga mengukuhkan
ikatan-ikatan sosial, dengan tetap menghargai keragaman budaya, ras, suku-bangsa,
dan agama, sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional.8 Dalam perspektif
ekonomi, pendidikan mutlak diperlukan guna menopang pengembangan education for
the knowledge economy (EKE).9 Satuan pendidikan harus pula berfungsi sebagai
pusat penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk-produk unggulan
yang mendukung knowledge based ekonomy (KBE). Oleh karena itu, pendidikan
harus mampu melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki pengetahuan, teknologi, dan
keterampilan teknis yang memadai, serta memiliki kapasitas dan kapabilitas
kemampuan berwirausaha untuk meningkatkan daya saing nasional dan membangun
kemandirian bangsa. Sedangkan dalam perspektif politik, pendidikan harus mampu
mengembangkan kapasitas dan kapabilitas individu untuk menjadi warganegara yang
baik (good citizens), yang memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap hak, kewajiban,
tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Alfred & Carter10 menegaskan bahwa visi dan idealisme itu haruslah merujuk dan
bersumber pada paham ideologi nasional, yang dianut oleh seluruh komponen bangsa.
Dengan demikian, pendidikan dalam dimensi yang integratif merupakan usaha
seluruh komponen masyarakat dan bangsa untuk menumbuhkembangkan kekuatann
kolektif (collective power) dengan meletakkan landasan sosial-budaya, ekonomi dan
politik yang kokoh bagi terciptanya masyarakat sipil (civil society) yang memiliki
kekokohan budaya dan karakter tanpa menutup diri dari perkembangan jaman. C.
Pendidikan Moral, Nilai, Ahlaq, dan Karakter Pendidikan moral (moral education)
dalam keseharian sering dipakai untuk menjelaskan aspek-aspek yang berkaitan
dengan etika. Pembelajarannya lebih banyak disampaikan dalam bentuk konsep dan
teori tentang nilai benar (right) dan salah (wrong). Sedangkan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari tidak menyentuh ranah afektif (apresiatif) dan psikomotorik
(tidak menjadi kebiasaan) dalam perilaku siswa. Pendidikan ahlaq lebih ditekankan
pada pembentukan sikap batiniyah agar memiliki spontanitas dalam berbuat kebaikan.
Nilai benar dan salah diukur oleh nilai-nilai agamawi. Dalam Islam, nilai-nilai itu
harus merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Itulah moralitas yang dijungjung Yoyon
Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 4
5. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 tinggi oleh kaum
Muslim. Jika perilaku kaum Muslim sudah tidak merujuk lagi pada Al- Qur’an dan
Sunnah, dapat dikatagorikan kaum yang tidak berahlaq sekaligus dapat disebut kaum
yang tidak bermoral. Dalam terminologi tasawuf, pendidikan ahlaq bertujuan
menanamkan karakter-karakter yang melekat pada zat, sifat, asma dan af’al Tuhan
YME pada perilaku siswa.11 Namun dalam implementasinya masih sama halnya
dengan pendidikan moral. Walaupun beberapa lembaga pendidikan sudah
menyatakan berbasis moral dan ahlaq, tetapi masih berbanding lurus dengan naiknya
angka kriminalitas dan denkadensi moral di kalangan anak sekolah. Sedangkan
pendidikan karakter merupakan upaya pembimbingan perilaku siswa agar
mengetauhi, mencintai dan melakukan kebaikan. Fokusnya pada tujuan-tujuan etika
melalui proses pendalaman apresiasi dan pembiasaan. Secara teoritis, karakter
seseorang dapat diamati dari tiga aspek, yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the
good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the
good).12 Pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekedar mendidik benar dan salah,
tetapi mencakup proses pembiasaan (habituation) tentang perilaku yang baik sehingga
siswa dapat memahami, merasakan, dan mau berperilaku baik. Sehingga tebentuklah
tabi’at yang baik. Menurut ajaran Islam, pendidikan karakter identik dengan
pendidikan ahlaq. Walaupun pendidikan ahlaq sering disebut tidak ilmiah karena
terkesan bukan sekuler, namun sesungguhnya anatara karakter dengan spiritualitas
memiliki keterkaitan yang erat. Dalam prakteknya, pendidikan ahlaq berkenaan
dengan kriteria ideal dan sumber karakter yang baik dan buruk, sedangkan pendidikan
karakter berkaitan dengan metode, strategi, dan teknik pengajaran secara operasional.
Unsur-unsur ideal dalam pendidikan karakter berkenaan dengan moral knowing,
moral loving dan moral doing (acting).13 Moral knowing berkenaan dengan
kesadaran (awareness), nilai-nilai (values), sudut pandang (perspective taking), logika
(reasoning), menentukan sikap (decision making), dan pengenalan diri (self
knowledge). Moral loving berkenaan dengan kepercayaan diri (self esteem), kepekaan
terhadap orang lain (emphaty), mencintai kebenaran (loving the good), pengendalian
diri (self control), dan kerendahan hati (humility). Moral doing berkenaan dengan
perwujudan dari moral knowing dan moral loving yang berbentuk tabi’at reflektif
dalam perilaku keseharian. Prinsip-prinisip dalam penerapan pendidikan karakter,
Character Education Quality Standards merekomendasikan sebelas prinsip untuk
dijadikan panduan masyarakat dunia untuk dijadikan landasan pendidikan karakter
yang efektif.14 Unsur-unsur dan prinsip-prinsip tersebut sebetulnya dalam ajaran
Islam berkenaan dengan nilai-nilai dan moral mengenai mukasyafah, musyahadah,
dan muqarabah, dalam bentuk tahaqquq, ta’alluq, dan takhalluq.15 Jadi, tidak ada
bedanya dengan konsep dan teori yang dikembangkan di dunia barat. Mengapa kita
tidak kembali ke nilai-nilai dan moral yang diajarkan agama? Bukankah ajaran agama
sudah tidak diragukan lagi kebenarannya? D. Peranan Pendidikan Sekolah Tujuan
utama pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang good and 16 smart. Atau
dalam Islam mengupayakan agar manusia memiliki karakter yang baik (good Yoyon
Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 5
6. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 character).17
Dengan bahasa sederhana adalah merubah manusia menjadi lebih baik dalam
pengetahun, sikap dan keterampilan. Namun, pada prakteknya lebih ditekankan pada
aspek prestasi akademik (academic achievement), sehingga mengabaikan
pembentukan karakter siswa. Walaupun dalam teori sosiologi menyebutkan bahwa
pembentukan karakter menjadi tugas utama keluarga, namun sekolah pun ikut
bertanggung terhadap kegagalan pembentukan karakter di kalangan para siswanya,
karena proses pembudayaan menjadi tanggungjawab sekolah. Pendidikan karakter
bagi sekolah bukan lagi sebagai sebuah opsi, tetapi suatu keharusan yang tak
terhindarkan.18 Saya setuju dengan pandangan itu, karena pendidikan di mana pun
akan berkenaan dengan tugas olah pikir (pengetahuan), olah rasa (apresiasi), dan olah
raga (keterampilan) dalam konteks kehidupan psikologis, sosial dan kultural. Dari
konteks inilah nilai-nilai (value), lingkungan, dan spiritual akan menjadi bahan untuk
membentuk karakter anak didik. Perhatikan Gambar-1 berikut. Gambar-1 Posisi
Karakter dalam Ranah Pendidikan Berdasarkan gambar di atas, maka pembangunan
pendidikan mempunyai tanggung jawab dalam memprioritaskan pendidikan nilai,
lingkungan dan spiritual yang sesuai dengan jalur, jenjang dan jenis kelembagaan
satuan pendidikan. Artinya, proses pengenalan diri, aprsiasi diri dan pembiasaan diri
tentang nilai dan moral harus berlanjut di lingkungan sekolah setelah lingkungan
keluarga. Lingkungan sekolah harus menjadi tempat untuk pertumbuhan nilai dan
moralnya sehingga terjadi proses pembiasaan yang membudaya. Kehidupan
berbangsa dan bernegara yang diperjuangkan di Indonesia sebetulnya tidak harus
meniru kehidupan negara lain, karena nilai-nilai, lingkungan dan spiritualitasnya pun
berbeda. Dalam konteks ini, sistem persekolahan di Indonesia dituntut untuk dapat
berkontribusi secara signifikan dalam pembentukan karakter warga negaranya agar
memiliki jati diri dan harga diri bangsanya, serta dapat tetap bisa hidup sejajar dengan
bangsa-bangsa lain di dunia. E. Kerangka dan Strategi Manajemen Pembelajaran
Untuk sampai kepada bentuk tabi’at reflektif diperlukan strategi manajemen
pembelajaran yang logis dan sistematis. Berdasarkan pengamatan saya pada sekolah-
Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 6
7. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 sekolah berbasis
ahlaq,19 terdapat dua pendekatan dalam proses pendidikan karakter, yaitu: (1) Ahlaq
yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri; dan (2) Ahlaq yang built-in dalam
setiap mata pelajaran. Sampai saat ini, pendekatan pertama ternyata lebih efektivitas
dibandingkan pendekatan kedua. Salah satu alasan pendekatan kedua kurang efektif,
karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep, belum sampai ke ranah
metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. Idealnya, dalam setiap proses
pembelajaran mencakup aspek konsep, teori, metode dan aplikasi. Sama halnya dalam
pengajaran dalam ajaran Islam yang mensyaratkan unttuk memahami hakekat,
syare’at, tharekat, dan ma’rifat dari setiap aspek yang dipelajarinya. Atau dalam
pandangan nilai dan moral tentang kepribadian harus memahami zat, sifat, asma dan
af’al-nya. Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui
konsep, teori, metodologi dan aplikasi setiap mata pelajaran atau bidang studi, maka
kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektifi dalam menunjang pendidikan
karakter. Perhatikan Gambar-2 berikut. Gambar-2 Pendekatan dan Muatan Kurikulum
Pendidikan Karakter Berdasarkan ilustrasi di muka, maka siswa pada dasarnya “teu
harta...teu harti, mung gitek nu rupi-rupi” dalam arti miskin dari sisi pendapatan
(harta) dan pengetahuan (harti), namun memiliki potensi (gitek) yang beraneka-ragam
(rupi-rupi). Merujuk karakteristik ini maka kegiatan memotivasi siswa menggunakan
pendekatan kelompok. Pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan
lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. Pembelajaran yang
berkenaan dengan moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara
seimbang di antara siswa. Sedangkan pembelajaran yang berkenaan dengan moral
doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan
pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa.
Ketiga pola pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang dengan sistematis agar para
siswa dan guru/tutor/pendamping dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral
yang sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya. Dengan
demikian, hasil pembelajarannya ialah terbentuknya tabi’at reflektif dalam arti para
siswa memiliki pengetahuan, kemauan dan keterampilan dalam berbuat kebaikan.
Keterkaitan antara kondisi peserta didik, pola pembelajaran, dan hasil pembelajaran
dapat diilustrasikan pada Gambar-3 berikut. Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi
Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 7
8. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010  
MURID/SISWA/MAHASISWA (dengan segala potensinya)     POLA POSES
PEMBELAJARAN   (Memanfaatkan potensi diri dan alam, serta peluang yang ada di
lingkungan)   Moral Knowing Moral Loving Moral Doing (Belajar dari Orang Lain)
(Belajar Bersama Orang Lain) (Belajar dari Diri Sendiri)         TABI’AT REFLEKTIF
(Tahu, Mau dan Terampil Berbuat Kebaikan)   Gambar-3 Pola Pembelajaran
Pendidikan Karakter   Merujuk kepada pendekatan dan kerangka pembelajaran di atas
maka strategi pembelajaran dalam pendidikan karakter cukup dilakukan dengan tiga
langkah, yaitu: (1) membekali siswa dengan alat dan media untuk memiliki
pengetahuan, kemauan dan keterampilan; (2) membekali siswa pemahaman tentang
berbagai kompetensi tentang nilai dan moral; (3) membiasakan siswa untuk selalu
melakukan keterampilan-keterampilan berperilaku baik. Secara sederhana, keterkaitan
setiap langkah pembelajaran tersebut dapat diilustrasikan pada Gambar-4 berikut.
Langkah ke-1 Langkah ke-2 Langkah ke-3 (Membekali alat dan media untuk
(Membekali pemahaman tentang (Membiasakan untuk melakukan tahu dan mau)
kompetensi nilai dan moral) keterampilan berperilaku baik)
Mengenal, mengetahui dan  Apresiatif terhadap nilai- Mampu mecari peluang untuk  
memahami nilai‐nilai dan  nilai dan moral yang baik melakukan dan mengamalkan
moral yang baik dan buruk  perilaku yang baik   Gambar-4 Strategi Manajemen
Pembelajaran Pendidikan Karakter Langkah ke-1, dimaksudkan agar siswa
memahami secara benar dan menyeluruh tentang potensi diri dan peluang yang ada di
lingkungan sekitarnya. Potensi diri difokuskan kepada nilai dan moral yang dapat
didayagunakan untuk belajar, berhubungan dan berusaha. Sedangkan peluang yang
ada di lingkungan dijadikan sumber motivasi agar siswa mau melibatkan diri secara
aktif dalam proses pembelajaran atau merekayasa sendiri proses pembelajaran yang
dibutuhkannya. Potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitar meliputi
segenap nilai dan moral yang ada dan diperkirakan dapat dicapai dan didayagunakan
untuk pembelajaran dan penerapan hasil pembelajaran yang diikutinya. Berdasarkan
pemahaman ini, peserta didik difasilitasi untuk memiliki dan mengembangkan
kerangka atau pola pikir yang komprehensif tentang pendayagunaan dan
pengembangan potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitarnya bagi
perilakunya kesehariannya. Dalam tahapan ini tujuan pembelajaran di arahkan pada
kompetensi dalam membedakan nilai-nilai ahlaq mulia dan ahlaq tercela, memahami
secara logis tentang Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan
Karakter/2010 Page 8
9. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 pentingnya ahlaq
mulia dan bahayanya ahlaq tercela dalam kehidupan, mengenal sosok manusia yang
berahlaq mulia untuk diteladai dalam kehidupan. Kegiatan utama guru pada tahap ini
adalah: (1) merancang proses pembelajaran yang diarahkan pada pemahaman tentang
klarifikasi nilai (value clarification), dan (2) membekalinya berbagai alat (instrument)
dan media yang dapat digunakan secara mandiri baik secara individual ataupun
kelompok. Langkah ke-2, diarahkan pada kepemilikan kepekaan kemampuan dalam
mendayagunakan dan mengembangkan potensi diri dan peluang yang ada di
lingkungan sekitarnya. Kompetensi dalam arti nilai-nilai dan moral yang dituntut
untuk dimiliki oleh para siswa yang sesuai dengan kondisi dan peluang yang
dihadapinya. Berbagai kompetensi itu perlu dikaji dan diapresiasi oleh para siswa
sampai mereka memiliki cukup pilihan dalam menetapkan keputusan kompetensi
mana yang paling dibutuhkan sesuai kondisi potensi dan peluang yang sedang
dihadapinya. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh
terhadap nilai-nilai ahlaq mulia. Sasarannya ialah dimensi-dimensi emosional siswa
yaitu qolbu dan jiwa, sehingga tumbuh kesadaran, keinginan, kebutuhan dan kemauan
untuk memiliki dan mempraktekan nilai-nilai ahlaq tersebut. Melalui tahap ini pun
siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah), semakin tahu
kekurangan-kekurangannya. Proses pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru
ialah belajar menemukan (learning discovery) sehingga nilai-nilai dan moral yang
dipelajari itu dapat dihayati. Proses penemuan dan penghayatan itu akan membentuk
kedalaman apresiasi, sehingga nilai-nilai dan moral yang dimilikinya itu benar-benar
dibutuhkan dalam kehidupannya. Langkah ke-3, merupakan muara penerapan
kompetensi-kompetensi yang telah dimiliki para siswa melalui proses pembelajaran
pada tahapan sebelumnya. Arah pembelajaran pada tahap ini adalah pendampingan
kemandirian siswa agar memiliki kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai dan moral
dalam perilaku keseharian sampai berbentuk tabi’at reflektif pribadi. Ruang lingkup
nilai dan moral yang perlu dikuasai murid pada tahap ini erat kaitannya dengan
instrumen pendukung dalam berperilaku bagi para siswa. Pendampingan terutama
diarahkan untuk menguatkan kemampuan mereka tentang nilai dan moral dalam
berperilaku sehingga berdampak positif terhadap sikap dan kemandiriannya di
lingkungan hidup dan kehidupannya. F. Kesimpulan Pada bagian ahir tulisan ini, saya
ingin menegaskan kembali sekolah memiliki tanggungjawab dalam membentuk
karakter bangsa, memiliki tugas dalam menyiapkan potensi diri dan peluang
lingkungan agar siswa memiliki pengetahuan yang luas, memiliki kedalaman
apresiasi, dan terampil dalam membiasakan perilaku-perilaku yang sesuai nengan
nilai-nilai, moral dan ahlaq yang dianut masyarakat dan bangsanya yang beradab.
Pembangunan pendidikan yang sedang kita lakukan seharusnya menyentuh paradigma
sistem pendidikan yang universal. Pembangunan pendidikan yang tidak berbasis
pendidikan karakter telah terbukti hanya menghasilkan SDM yang bersifat mekanis
dan kurang kreatif. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain untuk secepatnya
mempersiapkan Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010
Page 9
10. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 generasi yang
sesuai dengan peradaban yang diinginkan, yaitu generasi yang serba siap dalam
menghadapi segala tantangan kehidupan di masa depan. Generasi yang serba siap
tersebut, harus diupayakan secara sistematis, terutama dalam membentuk tabi’at
reflektif yang bercirikan: (1) Besarnya rasa memiliki warga negara (termasuk
kelembagaannya) terhadap nilai-nilai, moral dan ahlaq yang dianut masyarakat dan
bangsa yang beradab; (2) Kepercayaan diri warga negara terhadap potensi diri,
sumber daya dan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai, moral dan ahlaq dalam
membangun pribadi, masyarakat, bangsa dan negaranya; (3) Besarnya kemandirian
atau keswadayaan warga negara baik sebagai penggagas, pelaksana maupun
pemanfaat dari hasil-hasil dalam menerapkan nilai-nilai, moral dan ahlaknya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui pola-pola manajemen
pembelajaran yang dirancang secara komprehensif dan sistematis di lingkungan
sekolah diharapkan dapat menghasilkan generasi-generasi yang memiliki
ketangguhan dalam keilmuan, keimanan, dan perilaku shaleh, baik secara pribadi
maupun sosial. Insan-insan yang shaleh ini sangat diperlukan untuk menjadi ‘kader-
kader tenaga pembangunan’ yang siap ‘berjihad’ membangun kembali masyarakat
dan bangsanya agar bangkit dari keterpurukan. G. Referensi 1. Kementrian
Pendidikan Nasional, Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun
2010- 2014: Rancangan RPJMN tahun 2010-2014, (Jakarta: Biro Perencanaan Setjen
Kemendiknas, 2010). 2. Ivan Illich, dalam INFED (Ideas-Thinking-Practice):
http://www.infed.org/thinkers/et-illic.htm 3. Everet Reimer dalam Amazon.co.uk:
http://www.amazon.co.uk/Books/s?ie=UTF8&rh=n
%3A266239%2Cp_27%3AEverett+Reimer&field- author=Everett+Reimer&page=1
4. Nicolas Hans, dalam Plaxo: http://www.plaxo.com/profile/show/8590144815?
pk=e3a7ac34e0206b1388c4a0970d7e14821dface93 5. Al-Qur’an Surat (QS)
Muhammad:12 6. Al-Qur’an Surat (QS) Al-A’raf:179) 7. Lihat UU.No.20/2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal (l) 8. Yoyon Bahtiar Irianto, “Perencanaan
Pendidikan Tingkat Kabupaten/Kota: Studi Evaluatif Tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Pendidikan di Kabupaten Bandung Menuju Tahun 2025”, Disertasi,
(Bandung: SPS UPI, 2009), hal.58. 9. Yoyon Bahtiar Irianto, ibid, hal.60 dan dapat
pula dilihat pada: www.amazon.com/Leading-Learning- Organization-
Communication-Competencies/dp/0791443671 10. Alfred & Carter dalam:
www.smc.edu/policies/pdf/EduPlan.7_04.pdf 11. Yoyon Bahtiar Irianto,
Pembangunan Manusia dan Pembaharuan Pendidikan, (Bandung: Laboratorium
Administrasi Pendidikan UPI, 2006), hal.143 12. Thomas Lickona, The Return of
Character Education, (Journal of Educational Leadership, Vol.3/No.3/November
1993, hal.6-11), dalam: http://www.ascd.org/publications/educational-
leadership/nov93/vol51/num03/The-Return-of-Character-Education.aspx 13. Thomas
Lickona, ibid. 14. Tom Lickona; Eric Schaps & Catherine Lewis, “Eleven Principles
of Effective Character Education”, The Character Education Partnership, dalam:
http://www.cortland.edu/character/articles/prin_iii.htm 15. Muhammad Taqi Mishbah
Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2003). 16. Aristotle’s dalam
Edward J. Power, Philosophy of Education: Studies in Philosophies, Schooling, and
Educational Policies, (New Jersey: Prentice-Hall, Inc. 1982), atau dapat dilihat pada:
http://en.wikipedia.org/wiki/Aristotle Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen
Pendidikan Karakter/2010 Page 10
11. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join
Conference UPI & UPSI Bandung, Indonesia, 8-10 November 2010 17. Muhammad
Taqi Mishbah Yazdi, opcit. 18. Lihat: http://pendidikankarakter.org/ 19. Yoyon
Bahtiar Irianto, “Perencanaan Pendidikan Tingkat Kabupaten/Kota: Studi Evaluatif
Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Pendidikan di Kabupaten Bandung
Menuju Tahun 2025”, Disertasi, (Bandung: SPS UPI, 2009), hal.416-417 dan
“Pengembangan Model SMK Berbasis Potensi Wilayah”, Laporan Penelitian,
(Bandung: Bappeda Kabupaten Bandung, 2009). Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi
Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 11

http://www.slideshare.net/penggawa/pendidikan-karakter-5758744

Anda mungkin juga menyukai