Anda di halaman 1dari 31

ANEMIA

A. Definisi
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) merupakan keadaan saat jumlah sel darah merah atau
jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berada di bawah normal. Hal ini mengakibatkanpada
penurunan kapasitas penangkutan oksigen oleh darah

Nilai parameter seseorang dikatakan anemia


B. Sel Darah Merah
 memiliki diameter sekitar 6-8 μm dan ketebalan 2 μm
 membentuk kepingan bikonkaf
 terdiri dari hemoglobin, sebuah metalloprotein kompleks yang mengandung gugus heme,
dimana dalam golongan heme tersebut, atom besi akan tersambung secara temporer
dengan molekul oksigen (O2) di paru-paru
 Fungsi lain
 berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
Eritropoiesis
Proses pembentukan eritrosit, yang disebut juga eritropoiesis, terjadi pada sumsum tulang.
Pendewasaan sel berlangsung sekitar 7 hari, dengan masa hidup setelah pelepasan dari sumsum
tulang lebih kurang 120 hari. Berikut gambar dari proses pembentukan eritrosit :
Seiring dengan berjalannya waktu, eritrosit yang sudah tua, akan dihancurkan oleh sistem
retikuloendothelial (hati, limpa, sumsum tulang). Protein yang dihasilkan akan dipecah menjadi
asam amino yang dapat dipergunakan lagi. Sedangkan bagian heme dari Hb dipecah menjadi  Fe
dan biliverdin, yang nantinya diekskresikan melalui saluran empedu sebagai bilirubin. Proses
lengkapnya bisa dilihat pada gambar berikut ini :
C. Insidensi dan Prevalensi
o Banyak terjadi pada ibu Hamil, anak-anak dan reamaja wanita
o 7 dari 10 wanita Hamil terkena anemia
o ada 2.546 orang, ternyata 73% orang memiliki gejala-gejala atau faktor resiko anemia.
o Di Indonesia prevalensi anemia sebesar 57,1 % diderita oleh remaja putri, 27,9 % diderita
oleh Wanita Usia Subur (WUS) dan 40,1 % diderita oleh ibu hamil
D. Etiologi
Anemia dapat disebabkan dari 3 hal, yaitu:
 DEFISIENSI: Defisiensi komponen yang dibutuhkan sel darah merah, seperti vitamin B12, Fe,
asam folat, piridoksin
 PUSAT: Gangguan fungsi sumsum tulang belakang. Misalnya pada anemia pada lansia, anemia
penyakit kronis, dan kanker sumsum tulang
 PERIFERAL: Pendarahan atau penyakit kronis
E. Faktor Resiko
Faktor resiko dari anemia adalah:
 Genetik dan Sejarah keluarga: sejarah keluarga merupakan faktor resiko untuk anemia yang
disebabkan oleh genetik, misalnya sickle-cell anemia, talasemia, atau fancony anemia.
 Nutrisi: pola makan yang kurang zat penting bagi sel darah merah seperti zat besi, vitamin
B12, dan asam folat dapat meningkatkan resiko anemia
 Kondisi saluran cerna: kondisi saluran cerna dapat mempengaruhi absorbsi nutrisi yang
penting bagi pembentukan sel darah merah sehingga dapat meningkatkan resiko anemia.
Selain itu, pendarahan akibat tukak lambung, tukak peptik, dan infeksi parasit pada saluran
cerna juga dapat menyebabkan anemia.
 Menstruasi: menstruasi dapat meningkatkan resiko anemia akibat kekurangan zat besi.
Kehilangan darah akibat menstruasi memicu pembentukan darah berlebih. Apabila tidak
diikuti dengan peningkatan asupan nutrisi terutama zat besi, dapat memicu terjadinya anemia
defisiensi zat besi.
 Kehamilan: kehamilan dapat meningkatkan resiko anemia akibat kekurangan zat besi. Hal ini
disebabkan tubuh harus memiliki nutrisi yang cukup untuk tubuh ibu dan fetus, serta nutrisi
untuk pembentukan sel darah fetus. Apabila tidak dibarengi dengan asupan nutrisi yang cukup
terutama zat besi, dapat menyebabkan anemia
 Penyakit kronis seperti kanker, gagal ginjal, dan tukak dapat meningkatkan resiko anemia.
 Zat kimia dan obat: beberapa obat dan zat kimia seperti benzena, penisilin, primaquin, dan
sulfasalazin dapat menyebabkan anemia.
 Faktor lain seperti infeksi, penyakit autoimun
F. Patofisiologi
Patofisiologi anemia bermacam-macam tergantung dari jenis dan penyebab anemia. Patofisiologi
anemia:
 Kehilangan Darah Berlebihan (akut):
Pendarahan, trauma fisik, tukak lambung, infeksi lambung, hemorroid
 Pendarahan Kronis
Pendarahan vagina, peptic ulcer, parasit intestinal, aspirin dan NSAID lain
 Destruksi Sel Darah Merah Berlebihan
Antibodi, obat, trauma fisik, seguestrasi berlebih pada limpa, dan faktor ekstrakorpuskular lain
 Faktor Intrakorpuskular
Hereditas dan kelainan sintesis hemoglobin
 Produksi RBC dewasa tidak cukup
o Defisiensi nutrient: Vitamin B12, Fe, asam folat, piridoksin
o Defisiensi eritroblast: Anemia aplastik, eritroblastopenia terisolasi, antagonis asam
folat, antibodi
o Defisiensi infiltrasi sumsum tulang: Limfoma, leukemia, mielofibrosis, karsinoma
o Abnormalitas endokrin: Hipotiroid, insufisiensi adrenal dan kelenjar pituitari
o Penyakit ginjal kronis
o Penyakit liver
o Inflamasi kronis: Granulatomasous disease dan collagen vascular disease
G. Klasifikasi
Anemia terdiri dari 800 jenis berdasarkan etiologinya, morfologinya, dan patofisiologinya.
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologinya:
 Normositik: anemia normositik adalah anemia yang bentuk dan ukuran sel darah merahnya
normal (diameter 76 – 100 fl) namun jumlah sel darah merah sedikit. Contoh anemia yang
termasuk anemia normositik adalah anemia hemolitik (anemia akibat peningkatan
penghancuran sel darah merah), anemia aplastik (anemia akibat jumlah sel darah merah yang
diproduksi sumsum tulang belakang berkurang) dan anemia akibat pendarahan.
 Anemia makrositik adalah anemia dimana jumlah sel darah merah berkurang disertai dengan
peningkatan ukuran sel (diameter > 100 fl). Anemia makrositik dibagi menjadi dua, yaitu
anemia makrositik megaloblastik dan anemia makrositik nonmegaloblastik.
 Anemia makrositik megaloblastik adalah anemia akibat kelainan pada sintesis/ pembelahan
sel darah merah sehingga terbentuk megaloblast (eritroblast yang besar) yang akan menjadi
eritrosit dengan ukuran yang besar. Contoh dari anemia makrositik megaloblastik adalah
anemia akibat defisiensi asam folat dan vitamin B12.
 Anemia makrositik nonmegaloblastik adalah anemia dengan ukuran sel darah merah besar
namun bukan disebabkan oleh terbentuknya megaloblast. Anemia makrositik
nonmegaloblastik dapat disebabkan oleh alkohol, penyakit hati, miksedema, sindrom
mielodisplastik, obat sitotoksik, anemia aplastik, kehamilan, merokok, retikulositosis,
myeloma, dan nenonatus.
 Anemia mikrositik adalah kondisi anemia dimana jumlah sel darah merah berkurang disertai
dengan ukuran sel darah merah yang kecil (diameter <76 fl). Hal ini terjadi akibat kegagalan
dalam sintesis sel darah merah. Anemia mikrositik biasanya disertai dengan hipokromik (kadar
hemoglobin dalam darah berkurang, sehingga warna eritrosit lebih pucat dibanding normal).
Contoh anemia mikrositik yang sering terjadi adalah anemia akibat defisiensi zat besi.
Klasifikasi anemia berdasarkan etiologinya:
 Defisiensi: anemia akibat defisiensi bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembentukan sel
darah merah, seperti Fe, vitamin B12, dan asam folat.
 Pusat: anemia yang disebabkan oleh kelainan pada fungsi sintesis di sumsum tulang. Misalnya
pada lansia, anemia penyakit kronis, dan kanker sumsum tulang.
 Periferal: anemia yang disebabkan oleh pendarahan atau penyakit kronis.

Klasifikasi anemia berdasarkan patofisiologinya:


 Kehilangan Darah Berlebihan (akut):
Pendarahan, trauma fisik, tukak lambung, infeksi lambung, hemorroid
 Pendarahan Kronis
Pendarahan vagina, peptic ulcer, parasit intestinal, aspirin dan NSAID lain
 Destruksi Sel Darah Merah Berlebihan
Antibodi, obat, trauma fisik, seguestrasi berlebih pada limpa, dan faktor ekstrakorpuskular lain
 Faktor Intrakorpuskular
Hereditas dan kelainan sintesis hemoglobin
 Produksi RBC dewasa tidak cukup
o Defisiensi nutrient: Vitamin B12, Fe, asam folat, piridoksin
o Defisiensi eritroblast: Anemia aplastik, eritroblastopenia terisolasi, antagonis asam
folat, antibodi
o Defisiensi infiltrasi sumsum tulang: Limfoma, leukemia, mielofibrosis, karsinoma
o Abnormalitas endokrin: Hipotiroid, insufisiensi adrenal dan kelenjar pituitari
o Penyakit ginjal kronis
o Penyakit liver
o Inflamasi kronis: Granulatomasous disease dan collagen vascular disease

Dari sekian banyak jenis anemia, akan dibahas beberapa jenis anemia, yaitu anemia akibat
defisiensi besi, anemia akibat defisiensi vitamin B12 (anemia pernisiosa), anemia aplastik, dan
anemia hemolitik.

Anemia defisiensi Fe merupakan anemia dengan prevalensi tinggi. Apabila tubuh kekurangan Fe
yang merupakan pembentuk hemoglobin, maka tubuh akan menyesuaikan dengan cara
membentuk sedikit sel darah merah sehingga menyebabkan anemia. Anemia yang disebabkan oleh
defisiensi besi biasanya mikrositik (berukuran kecil) dan disertai hipokromik (warna pucat akibat
kekurangan hemoglobin). Penyebab utama anemia defisiensi besi adalah defisiensi asupan nutrisi,
menstruasi, pendarahan, atau penyakit seperti infeksi parasit. Selain gejala anemia pada umumnya,
biasanya anemia akibat defisiensi besi diikuti dengan pica (memakan benda yang bukan makanan
seperti kapur, es, tanah), rasa tidak enak pada lidah, serta penurunan sekresi saliva.
Anemia juga dapat terjadi apabila tubuh kekurangan vitamin B12, salah satu bahan pembentuk
eritrosit. Berbeda dengan anemia defisiensi besi, sel darah merah yang kekurangan vitamin B12
akan berukuran besar (makrositik). Anemia pernisiosa adalah anemia akibat defisiensi vitamin B12
akibat kelainan pada sel parietal.
Anemia aplastik adalah anemia akibat sumsum tulang tidak memproduksi sel darah merah yang
cukup. Selain anemia, biasanya disertai juga dengan penurunan sekresi platelet dan sel darah putih.
Anemia aplastik bisa terjadi secara idiopatik (genetik), penyakit autoimun (sel darah putih
menyerang sumsum tulang) atau obat. Pada umumnya ukuran sel darah merah pada anemia
aplastik normal (normositik).
Anemia hemolitik adalah anemia yang terjadi akibat peningkatan destruksi sel darah merah. Pada
umumnya ukuran sel darah merah pada anemia hemolitik normal (normositik). Gejala pada anemia
hemolitik pada umumnya mirip dengana gejala anemia lainnya, namun disertai dengan jaundice,
hipertensi pulmonari, hemoglobinemia, peningkatan bilirubin, dan pembentukan batu ginjal.
Sickle cell anemia adalah salah satu anemia hemolitik dimana sel darah merah berbentuk bulan
sabit akibat kelainan genetik. Sel fagosit akan lebih banyak mendestruksi sel darah merah sehingga
dapat menyebabkan anemia.
H. Menifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari anemia tergantung dari jenis dan tingkat keparahan anemia tersebut. Namun
pada umumnya gejala anemia terdiri dari:
 Pusing (dizziness dan fatigue): Sel darah merah yang berkurang menyebabkan oksihemoglobin
yang terdistribusi ke bagian tubuh seperti otak berkurang. Hal ini dapat menyebabkan pusing
dan sakit kepala.
 Tekanan darah rendah
 Mata menguning: warna kuning dapat disebabkan oleh adanya bilirubin (hasil destruksi sel
darah merah) pada aliran darah
 Kulit pucat, dingin, dan berwarna kuning: kulit yang dingin berwarna pucat terjadi akibat
kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah. Kulit yang menguning bisa disebabkan oleh
adanya bilirubin (hasil destruksi sel darah merah) pada darah.
 Napas pendek
 Otot melemah
 Warna feces berubah: terutama pada anemia hemolitik, dimana terjadi peningkatan destruksi
sel darah merah. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar bilirubin yang merupakan
hasil destruksi sel darah merah. Bilirubin akan membuat warna feces menguning.
 Pembesaran hati
 Palpitasi
 Peningkatan detak jantung
Pada anemia akut dapat terjadi gejala kardiorespiratori seperti takikardi, kepala terasa ringan
dan sesak napas. Sementara pada anemia kronis gejala yang nampak adalah lelah, letih,
pusing, vertigo, sensitif dingin, pucat.
Khusus pada anemia akibat defisiensi zat besi dapat terjadi penurunan saliva, rasa tidak enak
pada lidah, dan pica. Pada anemia defisiensi vitamin B12 dan asam folat, terjadi ikterus, pucat,
atropi mukosa gastrik, abnormalitas neuropsikiatrik (abnormalitas neuropsikiatrik khusus
pada defisiensi vitamin B12).
I. Diagnosis

J. Terapi
a. Tujuan
 Mengurangi tanda-tanda dan gejala
 Memperbaiki etiologi yang mendasarinya
 Mencegah kambuhnya anemia
b. Terapi non-farmakologi
Terapi non-farmakologi dapat dilakukan dengan mencukupi asupan makanan, yaitu nutrisi dari
besi, vitamin B12, dan asam folat.
- Besi
Besi memiliki absorpsi yang rendah pada sayuran, produk padi-padian, produk susu, dan
telur. Absorpsi besi yang paling baik berasal dari daging, ikan, dan unggas. Pemberian
terapi besi bersamaan dengan makanan dapat mengurangi absorpsi besi lebih dari 50%,
namun hal ini diperlukan untuk memperbaiki toleransi tubuh.
- Vitamin B12
Di bawah ini daftar makanan beserta jumlah vitamin B12 yang terkandung di dalamnya :

- Asam folat
Di bawah ini adalah daftar makanan beserta jumlah asam folat yang terkandung di
dalamnya :
Selain itu, dapat juga diberikan transfusi darah. Transfusi darah diindikasikan untuk situasi
yang akut di mana pasien kekurangan darah yang berlebih. Transfusi darah dapat
meningkatkan konsentrasi Hb dalam waktu singkat tetapi tidak ditujukan untuk
menghilangkan penyebabnya.

c. Terapi farmakologi
a. Besi
1. Terapi besi secara oral
Fe2+ sulfat, fumarat, dan glutamat diabsorpsi tubuh dalam jumlah yang kurang lebih
sama. Besi karbonat lebih menguntungkan karena resiko kematian yang lebih rendah
jika terjadi overdosis. Adanya substansi chelator mukopolisakarida mencegah besi
terpresipitasi dan menjaga besi dalam bentuk yang larut. Bentuk besi yang paling baik
diabsorpsi adalah bentuk Fe2+ dengan absorpsi paling baik terjadi di duodenum dan
jejunum. Dosis yang diberikan tergantung pada toleransi setiap individu. Umumnya,
dosis yang direkomendasikan sebesar 200 mg besi setiap hari dalam 2 atau 3 dosis
terbagi. Besi disarankan untuk dikonsumsi 1 jam sebelum makan karena makanan
akan mengganggu absorpsi besi. Namun pada beberapa pasien, besi harus diberikan
bersama makanan karena dapat menyebabkan mual dan diare ketika mengkonsumsi
besi dalam keadaan perut kosong. Besi ditransportasikan melalui darah. Sebanyak 0,5-
1 mg besi dieksresi melalui urin, keringat, dan sel mukosa intestinal pada pria sehat,
sedangkan pada wanita yang sedang mengalami menstruasi kehilangan besi sekitar 1-2
mg.
 Indikasi :
o Defisiensi besi untuk pencegahan dan pengobatannya
o Suplemen besi
 Kontraindikasi :
Hemokromatosis, hemosiderosis, anemia hemolitik, reaksi hipersensitivitas.
 Peringatan :
o Individu dengan keseimbangan besi normal tidak boleh mengkonsumsi dalam
jangka waktu lama.
o Overdosis dapat menyebabkan keracunan fatal terutama pada anak-anak di
bawah 6 tahun.
o Kehamilan : kategori A
 Efek samping :
Cairan mengandung besi dapat menodai gigi untuk sementara waktu, nyeri
abdominal, konstipasi, diare, iritasi saluran pencernaan, mual, muntah, feses
berwarna lebih gelap.
 Interaksi obat :

Obat Interaksi
Asam asetohidroksamat (AHA) Mengkelat logam berat termasuk besi, absorpsi
besi menurun
Antacid Absorpsi besi menurun
Asam askorbat Pada dosis ≥200 mg meningkatkan absorpsi besi
≥30%
Garam kalsium Aborpsi besi pada saluran cerna menurun
Kloramfenikol Kadar serum besi meningkat
Antagonis H2 Absorpsi besi menurun
Inhibitor pompa proton Absorpsi besi menurun
Trientin Keduanya saling menghambat absorpsi
Kaptopril Penggunaan bersamaan dalam 2 jam
menyebabkan pembentukan dimer disulfide
kaptopril yang inaktif
Sefalosporin Besi menurunkan absorpsi 80%, makanan
menurunkan absorpsi 30%
Fluorokuinolon Absorpsi pada saluran cerna menurun karena
terjadi pembentukan kompleks
Levodopa Membentuk kelat dengan garam besi,
menurunkan absorpsi kadar serum
Levotiroksin Efikasi levotiroksin menurun menyebabkan
hiportiroidsm
Metildopa Terjadi penurunan efikasi
Penisilamin Absorpsi menurun karena, kemungkinan karena
terbentuk kelat
Tetrasiklin Penggunaan dalam 2 jam dapat saling
menurunkan absorpsi

 Sediaan :
2. Terapi besi secara parenteral
Terdapat 3 jenis yang tersedia : besi dekstran, natrium besi karbonat, dan besi sukrosa.
Yang membedakannya adalah ukuran molekul, farmakokinetik, dan efek sampingnya.

Natrium besi glukonat Besi dekstran Besi sukrosa


komposisi Ferric oxide hydrate Kompleks ferric Kompleks polynuclear
terikat pada chelat hydroxide dan iron hydroxide dalam
sukrosa dekstran sukrosa
mekanisme Mengisi penyimpanan Dibuang dari plasma Mengisi penyimpanan
besi dalam tubuh dan oleh sel besi tubuh pada
mengisi hemoglobin retikuloendotelial pasien defisiensi besi
yang membagi yang sedang
kompleks menjadi hemodialisis kronis
besi dan dekstran. dan menerima
Besi segera eritropoietin.
berikatan pada
protein membentuk
hemosiredin atau
ferritin. Besi mengisi
hemoglobin dan
penyimpanan besi
yang kosong
indikasi Anemia defisiensi besi Pasien dengan Anemia defisiensi besi
pada pasien yang defisiensi besi di pada pasien yang
menjalani hemodialisis mana terapi oral menjalani
kronis dan menerima tidak hemodialisis kronis
terapi suplemen dan memungkinkan dan menerima terapi
eritropoietin suplemen dan
eritropoietin alpha
peringatan Tidak terdapat back box Black box warning : Black box warning :
warning, Reaksi Reaksi anafilaksis Reaksi anafilaksis
hipersensitifitas
Injeksi - Bisa -
intramuskular
Dosis umum 125 mg (10 ml) 100 mg tanpa 100 mg ke dalam
diencerkan dalam 100 diencerkan pada dialysis line pada
ml saline normal, infuse kecepatan tidak kecepatan 1 ml (20
selama 60 menit, lebih dari 50 mg (1 mg) larutan tanpa
intravena 12,5 ml) per menit diencerkan per menit
mg/menit
pengobatan 8 dosis x 125 mg = 1000 10 dosis x 100 mg = Hingga 10 dosis x 100
mg 1000 mg mg = 1000 mg
Efek samping Kram, mual, muntah, Rasa sakit dan noda Kram kaki, hipotensi
flushing, hipotensi, coklat pada tempat
rash, pruritus injeksi, flushing,
hipotensi, demam,
menggigil,
anafilaktik
kontraindikas hipersensitifitas Hipersensitifitas, Hipersensitifitas,
i anemia yang tidak anemia yang tidak
berkaitan dengan berkaitan dengan besi
defisiensi besi, fase
akut penyakit infeksi
ginjal
Interaksi obat Tidak diketahui Kloramfenikol : Belum diteliti, namun
serum besi diperkiraan
meningkat menurunkan absorpsi
besi oral

b. Vitamin B12 /sianokobalamin


Penting untuk pertumbuhan, reproduksi sel, hematopoiesis, dan sintesis nucleoprotein dan
myelin. Vitamin B12 juga berperan dalam pembentukan sel darah merah melalui aktivitas
koenzim asam folat. Absorpsi tergantung pada faktor intrinsik dan kalsium.
 Indikasi
Defisiensi vitamin B12 karena malabsorpsi seperti pada anemia pernisiosa,
peningkatan kebutuhan vitamin B12 seperti saat kehamilan, tirotoksikosis, anemia
hemolitik, pendarahan, penyakir hati dan ginjal.
 Kontraindikasi
Hipersensitifitas

 Peringatan
Pemberian parenteral dipilih untuk anemia pernisiosa namun hindari pemberian
intravena. Selain itu, pada defisiensi asam folat yang dibiarkan selama > 3 bulan
dapat menyebabkan lesi permanen pada sumsum tulang belakang. Hipokalemia
dan kematian mendadak dapat terjadi pada anemia megaloblastik parah yang
diobati intensif.
 Efek samping
Pemberian secara parenteral dapat menyebabkan edema pulmonari, gagal jantung
kongestif, thrombosis vaskuler perifer, rasa gatal, syok anafilaktik, diare ringan,
perasaan bengkak pada seluruh tubuh.
 Dosis
Secara oral : 1-2 mg setiap hari selama 1-2 minggu, dilanjutkan 1 mg setiap hari
Secara parenteral : baru digunakan jika terdapat gejala neurologi, diberikan 1 mg
setiap hari selama 1 minggu, kemudian setiap minggu selama sebulan, dan terakhir
setiap bulan. Ketika gejala teratasi, pemberian oral harian dapat dilakukan.
 Sediaan
o Sianokobalamin (generik) tab 50 mcg
o Cairan injeksi 500 mcg/ml, 1000 mcg/ml
o Etacobalamin (errita) cairan injeksi 100 mcg/ml
o Vitamin B12 Cap FM (fimedco) tab 25 mcg
 Interaksi obat

obat Interaksi
Asam aminosalisilat Menurunkan kerja vitamin B12
kloramfenikol Menurunkan efek vitamin B12 pada
pasien anemia pernisiosa
Kolkisin, alkohol Asupan berlebih (>2 minggu)
menyebabkan malabsorpsi vitamin B12
c. Asam folat
Folat eksogen dibutuhkan untuk sintesis nukleoprotein danpemeliharaan eritropoiesis
normal, menstimulasi produksi eritrosit, leukosit, dan platelet pada anemia megaloblastik.
 indikasi
anemia megaloblastik disebabkan defisiensi asam folat

 kontraindikasi
pengobatan anemia pernisiosa dan anemia megaloblastik lainnya di mana vitamin
B12 tidak cukup.
 Peringatan
Jangan diberikan secara tunggal pada anemia pernisiosa dan defisiensi vitamin B12
karena menimbulkan degenerasi majemuk medulla spinalis. Selain itu, jangan
diberikan pada penyakit yang ganas kecuali anemia megaloblastik karena defisiensi
asam folat merupakan komplikasi penting.
 Efek samping
Relatif tidak toksik, efek samping yang umum terjadi adalah perubahan pola tidur,
sulit berkonsentrasi, iritabilita, aktivitas berlebih, depresi mental, mual, anoreksia,
flatulensi.
 Dosis
Secara oral 1 mg setiap hari selama 4 bulan. Jika terjadi malabsorpsi, dosis harian
ditingkatkan menjadi 5 mg.
 Sediaan
Folic Acid (generik) tab 1 mg, 5 mg.
 Interaksi obat

Obat Interaksi
Asam aminosalisilat Penurunan kadar serum asam folat
selama penggunaan konkuren
Kontrasepsi oral Mempengaruhi metabolism folat dan
menyebabkan defisiensi asam folat,
tapi efeknya ringan
Dihydrofolate reductase inhibitor Mempengaruhi penggunaan asam folat
Sulfasalazine Terjadi tanda-tanda defisiensi folat
Fenitoin Menurunkan kadar serum folat
d. Epoetin alfa dan darbepoetin alfa
Menstimulasi eritropoiesis pada pasien anemia yang sedang menjalani dialisis.
 Indikasi
Anemia yang berkaitan dengan gagal ginjal kronis, anemia yang berkaitan dengan
terapi zidovudin pada pasien terinfeksi HIV, anemia pada pasien kanker yang menjalani
kemoterapi, dan penurunan transfusi darah allorgenik pada pasien yang dioperasi.
 Kontraindikasi
Hipertensi yang tidak terkendali
 Peringatan
Hentikan pengobatan untuk sementara jika tekanan darah tidak terkendali,. Selain itu,
faktor lain dari anemia disingkirkan seperti defisiensi asam folat dan vitamin B12 dan
dapat diberikan suplemen besi jika diperlukan. Peringatan terhadap penyakit iskemik
vaskuler, trombositosis, riwayat konvulsi, penyakit ganas, gagal hati kronis, migraine,
kehamilan dan laktasi.
 Efek samping
Hipertensi memburuk pada pasien gagal ginjal kronis; jarang terjadi hiperkalemia;
peningkatan plasma kreatinin, urea, dan fosfat; konvulsi; reaksi kuliat dan udema
palpebral; serta anafilaktik.
 Dosis
- Pada gagal ginjal kronis, dosis awal 50-100 unit/kg 3 kali seminggu secara
subkutan atau intravena. Jika hemoglobin tidak meningkat setelah 6-8 minggu,
dosis dapat dinaikan hingga 150 unit/kg 3 kali seminggu
- Pada pasien dengan AIDS, dosis diberikan hingga 300 unit/kg 3 kali seminggu.
- Pada pasien kemoterapi, diberikan dosis awal 2,25 mcg/kg subkutan atau
intravena setiap minggu, setelah itu diturunkan menjadi 0,45 mcg/kg setiap
minggu.
 Sediaan
Eprex (Janssen Indonesia) injeksi, epoetin alfa 2000 UI/ml, vial 0,5 ml (1000 UI), 0,5 ml
(1000 UI) pre-filled syringe, vial 1 ml (2000 UI/ml).
 Interaksi obat
ACE inhibitor dapat mempertinggi resiko hiperkalemia.

Kondisi khusus :

1. Hemolitik anemia
Tujuan :
- Mengurangi atau menghambat destruksi sel darah merah
- Meningkatkan jumlah sel darah merah
- Mengobati penyebab kondisi tersebut

Terapi hemolitik anemia didasarkan pada penyebab hemolitik anemia tersebut. Terapi
nonfarmakologi dapat dilakukan dengan transfusi darah, plasmapheresis, operasi, dan
transplantasi stem sel sumsum tulang. Selain itu dapat dilakukan terapi farmakologi . Yang
perlu diingat, hemolitik anemia tidak dapat dicegah, namun beberapa tipe hemolitik anemia
dapatan dapat dicegah.
a. Transfusi darah
Transfusi darah dilakukan jika terjadi hemolitik anemia yang parah.
b. Obat
Untuk autoimun hemolitik anemia (AIHA), dapat diberikan obat untuk menghambat
autoimun tersebut. Contohnya : kortikosteroid. Jika dengan penggunaan kortikosteroid
tidak memberikan respon, pasien diberikan imunosupresan lain seperti rituximab dan
cyclosporine. Jika terjadi sickle cell anemia, dapat diberikan hidroxyurea.
c. Plasmapheresis
Plasmapheresis merupakan prosedur menghilangkan antibodi dari darah dan digunakan
untuk mentreatment autoimun hemolitik anemia. Untuk hal ini, darah dikeluarkan dari
tubuh (seperti dialisis) dan dipisahkan dari antibodinya. Pengobatan ini baru dilakukan
jika pengobatan lain tidak bekerja.
d. Operasi
Beberapa orang perlu dilakukan operasi untuk mengangkat limpanya. Dengan
menghilangkan limpa, dapat mengurangi kecepatan destruksi sel darah merah.
e. Transplantasi stem sel sumsum tulang
Beberapa jenis hemolitik anemia seperti talasemia, di mana terjadi abnormalitas dari
sumsum tulang, transplantasi ini dapat dilakukan.

2. Sickle cell
Tujuan dari terapi sickle cell adalah untuk mengurangi komplikasi, kerusakan organ, dan
mencegah terjadinya infeksi.
a. Menjaga kesehatan
Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi. Pasien dapat diberikan :
 Imunisasi
Pasien dengan usia 6 bulan ke atas disarankan untuk menerima vaksin influenza.
Vaksin meningococcal juga direkomendasikan untuk pasien 2 tahun ke atas terutama
yang menjalani splenectomy. Pasien yang memiliki kerusakan fungsi limpa rentan
terhadap infeksi terutama pneumococcus sehingga diperlukan vaksin
pneumococcus. Terdapat 2 vaksin yang tersedia :
 7-valent pneumococcal conjugate vaccine (PCV7) yang menginduksi respon
antibodi yang baik pada bayi. PCV direkomendasikan untuk bayi di bawah
usia 24 bulan. Bayi menerima vaksin pertama antara 6 minggu hingga 6
bulan. Setelah itu diberikan 2 dosis berulang dengan interval 2 bulan,
kemudian diberikan dosis ke-4 pada usia 12-15 bulan.
 23-valent pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV23) direkomendasikan
untuk anak-anak usia 2 tahun ke atas, diberikan sekitar 2 bulan setelah dosis
terakhir pemberian PCV7. Jika diperlukan, dosis tambahan diberikan 3-5
tahun kemudian.
 Penicillin
Penisilin digunakan untuk pencegahan terinfeksi mikroba. Pasien direkomendasikan
menggunakan penisilin setidaknya hingga usia 5 tahun walaupun telah dimunisasi
dengan PCV7. Pengobatan profilaksis ini sebaiknya dimulai dari usia 2 bulan atau
bahkan lebih awal
Dosis
penisilin V potassium 125 mg per oral 2 kali sehari hingga usia 3 tahun, diikuti 250
mg 2 kali sehari hingga usia 5 tahun. Alternatif lain dapat diberikan benzathine
penisilin sebesar 600.000 unit secara intramuscular setiap 4 minggu untuk usia 6
bulan hingga 6 tahun dan 1,2 juta unit setiap 4 minggu untuk usia di atas 6 tahun jika
diperlukan. Untuk pasien dengan alergi penisilin dapat diberikan eritromisin 20
mg/kg 2 kali sehari. Namun profilaksis penisilin biasanya tidak diberikan lagi pada
anak-anak usia di atas 5 tahun.
 Asam folat
Peningkatan eritropoiesis menyebabkan meningkatnya kebutuhan asam folat
sehingga suplemen asam folat dapat diberikan.

b. Fetal hemoglobin inducer


 Hydroxyurea
 Mekanisme : merupakan senyawa kemoterapeutik yang menstimulasi
produksi fetal hemoglobin (HbF). Bagaimana mekanisme memproduksi HbF
secara tepatnya belum diketahui, namun berhubungan dengan inhibisi
sintesis DNA dengan menghalangi perubahan ribonucleosida menjadi
deoxyribonucleotida. Hydroxyurea juga meningkatkan NO, mengurangi
neutrofil dan monosit, memiliki efek antioksidan, merubah membrane sel
darah merah, meningkatkan deformabilitas sel darah merah dengan
peningkatan kandungan air intrasel, dan menurunkan adesi ke endothelium.
 Indikasi : melanoma, leukemia mielositik kronik.
 Kontraindikasi : depresi sumsum tulang belakang, hipersensitifitas.
 Peringatan : obat kehamilan kategori D
 Efek samping : neutropenia, kerontokan rambut, demam, gangguan saluran
pencernaan, depresi sumsum tulang belakang.
 Dosis : untuk anak-anak yang tidak dapat menelan kapsul dapat dibuat
sediaan cair (100mg/ml). dosis awal 10-15 mg/kg per hari, dosis dapat
ditingkatkan menjadi 5-35 mg/kg setelah 8-12 minggu jika terjadi toleransi.
Jika menunjukan perbaikan, pengobatan dilanjutkan dengan dosis 2,5-5
mg/kg per hari.
 Sediaan : hydroxyurea kapsul 200 mg, 300 mg, 400 mg, 500 mg.
 Butyrate
Butyrate dapat meningkatkan HbF dengan mengubah ekspresi gen yang
meningkatkan produksi rantai γ-globin. Pasien diberikan dalam bentuk garamnya,
seperti sodium phenylbutyrate. Contoh produk yang ada adalah Buphenyl® tablet.
Penelitian mengenai penggunaan butyrate pada pasien sickle cell masih berlanjut,
terutama untuk menentukan dosis optimum yang dapat digunakan. Berdasarkan
studi, pemberian 1-11 g/hari meningkatkan HbF dalam 5 minggu namun tidak
bertahan lama. Efek samping yang ditimbulkan seperti retensi cairan, ruam, bau
badan tidak enak.
 Decitabine
Decitabine dapat menginduksi HbF dengan menginhibisi metilasi DNA yang
mencegah perubahan produksi γ- ke β-globin. Decitabine diberikan pada pasien yang
tidak merespon terhadap hydroxyurea. Dosis diberikan 0,2 mg/kg 1-3 kali dalam
seminggu secara subkutan dapat meningkatkan HbF serta menurunkan adeshi sel
darah merah. Efek samping yang dilaporkan adalah neutropenia. Contoh sediaan :
Dacogen® injection.
c. Tranfusi darah
Transfusi dilakukan untuk mencegah komplikasi serius dari sickle cell seperti stroke dan
kerusakan organ. Transfusi juga dapat mengurangi resiko nyeri vasooklusif dan acute
chest syndrome. Tujuan utamanya adalah menjaga kadar HbS kurang dari 30% dari total
Hb. Transfusi dilakukan setaip 3-4 minggu sekali. Setelah mendapatkan terapi selama 4
tahun tanpa adanya perkembangan komplikasi, frekuensi tranfusi dapat dikurangi dan
memperbolehkan kadar HbS hingga 50% dari total Hb.
d. Transplantasi stem sel allogenic hematopoietic
Untuk menyembuh penyakit sickle cell, hanya dapat dilakukan dengan transplantasi.
Namun untuk mendapatkan transplantasi sangat sulit karena membutuhkan donor dari
saudara kandung yang memiliki HLA-identik.
e. Terapi penanganan komplikasi
 Terapi nonfarmakologi untuk penanganan komplikasi dapat dilakukan dengan
dengan transfusi darah seperti yang telah dijelaskan di atas. Untuk menghindari
penyakit yang semakin memburuk, pasien perlu memelihara keseimbangan cairan
dan oksigen tubuh.
 Jika terjadi demam 38,5oC atau lebih tinggi secepatnya ditangani. Direkomendasikan
untuk diberikan antibiotik dosis rendah seperti seftriakson dan sefotaksim.
golongan obat Dosis peringatan
Anak-anak 1 mg/kg setiap
kodein 6 jam; dewasa 30-60
Opioid mg/dosis
lemah Anak-anak 0,2 mg/kg
hidrokodon setiap 6 jam; dewasa 5-10
mg/dosis
Ibuprofen (anak-anak 10
mg/kg setiap 6-8 jam;
dewasa 200-400 mg/dosis)
Naproxen (anak-anak 5
Oral NSAIDs m/kg setiap 12 jam;
dewasa 250-500 mg/dosis)
Asetaminofen (anak-anak
10-15 mg/kg setiap 4 jam;
dewasa 650 mg/dosis)
Efek samping
nonopioid
ketorolac meliputi
gangguan
gastrointestinal,
Ketorolac (0,5 mg/kg
Intravena kardiovaskular,
hingga 30 mg/dosis setiap
NSAIDs ginjal, pendarahan.
6 jam)
Hanya boleh
digunakan untuk
dewasa dan tidak
lebih dari 5 hari.
Anak-anak 0,1-0,15 mg/kg
setiap 3-4 jam; dewasa 5-
morfin 10 mg/dosis.
Infuse berlanjut dengan
0,04-0,05 mg/kg per jam
Opioid kuat
Anak-anak 0,015 mg/kg
setiap 3-4 jam; 1,dewasa
hidromorfon 5-2 mg/dosis
Infuse berlanjut dengan
0,004 mg/kg per jam
 Pasien dengan acute chest syndrome harus menerima insentif spirometry untu
mengurangi perkembangan atelectasis (penurunan pertukaran gas dalam
alveoli).terapi cairan juga penting karena overhidrasi dapat menyebabkan respiratory
distress. Penggunaan antibiotik spektrum luas seperti makrolida atau kuinolon juga
direkomendasikan (studi menunjukan infeksi yang umumnya terjadi pada acute
chest syndrome akibat bakteri). Steroid dapat digunakan untuk menurunkan
inflamasi dan adhesi sel endothelial. Terapi menggunakan NO juga dapat dilakukan
karena dapat menginhibisi agregasi platelet dan mengurangi kecenderungan
pembentukan HbS. Namun penangan menggunakan inhalasi NO masih dievaluasi.
f. Terapi penanganan krisis
 Krisis aplastik
Pasien membutuhkan transfusi darah untuk anemia yang parah. Krisis aplastik
biasanya disebabkan oleh human parvovirus B19.
 Penangan pembesaran limpa dapat dilakukan dengan observasi (khususnya pasien
dewasa karena cenderung lebih ringan) dan transfusi (memperlambat
splenectomy).
 Krisis vasooklusif
Krisis vasooklusif merupakan rasa sakit yang diderita pada anemia sickle cell. Hal ini
terjadi ketika sirkulasi darah dalam pembuluh dihambat oleh sel darah sickle yang
menyebabkan ischemia. Penanganan dapat dilakukan dengan pemberian analgesik.
Pemberian analgesik berbeda-beda tiap individu tergantung pada tingkat rasa
sakitnya.

Tingkat nyeri Obat analgesik


Ringan hingga sedang Nonopioid dengan/tanpa kombinasi opioid
lemah
Sedang hingga berat Opioid ringan atau opioid kuat dosis
rendah dengan atau tanpa kombinasi
nonopioid
Berat Opioid kuat dan nonopioid

3. Anemia aplastic
Terapi anemia aplastik dilakukan untuk menghambat komplikasi yang lebih parah dan
meningkatkan kualitas hidup. Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan transfusi darah
dan transplantasi sumsum tulang. Selain itu, dapat dilakukan pula terapi farmakologi.

a. Transfusi darah
Transfusi darah dapat menjaga jumlah sel darah merah dalam tubuh dan mengurangi
gejala yang timbul.
b. Transplantasi sumsum tulang
Transplantasi merupakan cara untuk menyembuhkan anemia aplastik namun sulit
karena diperlukan donor yang cocok. Dengan transplantasi, sumsum yang telah rusak
diganti dengan sumsum baru yang sehat.
c. Obat
Ada 2 jenis obat yang digunakan :
 Stulasi sumsum tulang
Pengobatan dilakukan untuk menstimulasi sumsum tulang membentuk sel darah,
contohnya eritropoietin dan colony-stimulating factor (CSF). CSF disekresikan oleh
glikoprotein yang berikatan dengan reseptor pada permukaan stem sel hemopoietic
sehingga mengaktifkan sinyal intrasel yang menyebabkan sel berproliferasi menjadi
spesifik sel darah. Contoh sediaan CSF : Filgrastim injection (US dan Canada) dan
sargramostim injection (US).
 Supresi imun system
Imunosupresan hanya mengurangi gejala dan komplikasi. 2 obat yang dapat
diberikan : antithymocyte globulin (ATG) dan siklosporin. Pengobatan ini
memerlukan waktu yang lama.
 ATG
 Mekanisme : tidak diketahui secara pasti
 Kontraindikasi : penyakit virus akut, hipersensitifitas, kehamilan
 Efek samping : sakit kepala, gangguan kardiovaskular
 Dosis : dewasa 1,5 mg/kg/hari untuk 7-14 hari intravena.
 Sediaan : thymoglobulin injection
 Interaksi obat : dengan imunosupresan lain (meningkatkan resiko terinfeksi.
 Siklosporin
 Mekanisme : supresi sistem imun, mekanismenya belum diketahui secara pasti
 Indikasi : pencegahan penolakan transplantasi organ
 Kontraindikasi : hipersensitifitas, kehamilan
 Efek samping : gangguan kardiovakular, gangguan pendengaran, mual muntah,
diare gangguan ginjal
 Sediaan : Gengraf kapsul 25 mg, 100 mg, Gengraf solution 100 mg/ml ; Neoral
kapsul 25 mg, 100 mg, solution 100 mg/ml; Sandimmune kapsul 25 mg, 100 mg,
solution 100 mg/ml, injection 50 mg/ml
 Interaksi obat : ACE inhibitor (hiperkalemia meningkat), vitamin E (konsentrasi
siklosporin meningkat)
4. Anemia pada orang tua
Terapi yang diberikan tergantung pada jenis anemianya. Jika terjadi defisiensi besi, diberikan
suplemen besi namun dosis direndahkan (contoh: diberikan ferrous sulfate 1 kali sehari)
untuk menurunkan efek samping pada gastrointestinal. Defisiensi vitamin B12 diberikan
suplemen vitamin B12 baik oral atau parenteral, defisiensi asam folat diberikan asam folat
dengan dosis 1 mg per hari.

5. Anemia pada pediatrik


Anemia pada bayi prematur sering ditreatment dengan transfusi sel darah merah. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan oksigen, mengurangi fatigue selama pemberian makan, dan
meningkatkan pertumbuhan. Bayi prematur dapat pula diberikan eritropoietin (EPO) namun
farmakokinetik EPO tergantung pada perkembangan usia bayi sehingga penggunaannya pun
masih kontroversial. Untuk pemberian suplemen, bayi prematur mengkonsumsi 2 mg/kg
suplemen besi setiap harinya. Secara parenteral yang ditreatment pula dengan EPO
membutuhkan 6 mg/kg/hari.
Bayi dengan usia 9-12 bulan dengan anemia mikrositik ringan, pengobatan paling efektif
adalah pemberian besi (Fe2+ sulfat 3 mg/kg 1-2 kali sehari dengan makanan selama 4
minggu). Jika bayi tersebut memberikan respon yang baik, pengobatan ini dapat dilanjutkan
hingga 2-3 bulan. Jika anemia terulang kembali, harus didiagnosa penyebab anemia
tersebut. Untuk anak-anak yang lebih tua, dosis oral besi lebih tinggi (6 mg/kg/day dibagi
menjadi 2-3 kali sehari).
Untuk anak-anak dengan makrositik anemia, dapat diberikan asam folat dengan dosis 1-3
mg per hari. Namun defisiensi vitamin B12 karena anemia pernicious bawaan membutuhkan
suplemen vitamin B12 seumur hidup. Dosis awal diberikan 0,1 mg selama 10-15 hari,
kemudian diikuti 0,06 mg/bulan.

K. Studi Kasus
Case #1-A 67-year-old man is referred for evaluation of dyspnea. The hematocrit is 28%, The
MCV is 78 and the blood smear reveals basophilic stippling and a small population of
hypochromic microcytic red cells. Ferittin: 10 ng/ml, Serum Fe 90 mcg/dl, TIBC 400mcg/dl.
Pembahasan:
Nilai Normal:
Ferritin = 15-200
TIBC = 250-400
Besi serum = 50- 160
MVC = 80-100
Hemotocrit = 41-53

Kesimpulan
Pasien menderita Anemia defesiensi besi. obat yang harus diberikan berupa asupan besi

L. Jawaban Pertanyaan
1. Kapan menggunakan obat vit. B12 secara oral dan kapan parenteral? Apa factor intrinsic
dari penggunaan oral? (vinda)
2. Perlukah mengkonsumsi obat pada anemia pada saat menstruasi? (vinda)
3. Anemia Vit. B12 dan asam folat kebanyakan dalam bentuk suplemen (lupa)
4. Beberapa obat dapat mempengaruhi G6PD, dan dapat mengakibatkan anemia, sebenarnya
apa pengaruh G6PD itu sendiri?
5. Apakah defesiensi pada ibu hamil dapat mempegaruhi janin pada kandungannya?
6. Anemia asam folat fatal? – gak ngerti mksdnyaa apa?
7. Apa yang dimaksud dengan lead poisoning?
8. Apa yang dimaksud dengan sideroblastik?
9. Bagaimana penggunaan parenteral biasanya digunakan? Regimen dosisnya
M. Daftar Pustaka
Dipiro, Joseph T.,2008,Pharmacotherapy A Pathophisiologic Approach, 7 th edition, US,
McGraw-Hill Companies
2008, ISO Farmakoterapi, Jakarta, PT. Ikrar Mandiri Abadi,p.1-25.
http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/ha/ha_treatments.html
http://www.drugbank.ca/drugs/DB00746
http://www.merckmanuals.com/professional/lexicomp/deferoxamine.html
http://www.merckmanuals.com/professional/sec11/ch131/ch131i.html?
qt=hydroxyurea&alt=sh