P. 1
Metodologi Ilmu Pemeritnahan s2

Metodologi Ilmu Pemeritnahan s2

|Views: 4,149|Likes:
Dipublikasikan oleh fajeri_go

More info:

Published by: fajeri_go on May 06, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • MATA RANTAI 2: HUMAN NEEDS AND INSTINCTS
  • MATA RANTAI 3: PUBLIC CHOICE DAN PRIVATE CHOICE
  • MATA RANTAI 4: SIFAT CIVIL SERVICE & PUBLIC SERVICE
  • MATA RANTAI 5: KYBERNAN
  • MATA RANTAI 6: YANG-DIPERINTAH PEMERINTAH
  • MATA RANTAI 7: HUBUNGAN PEMERINTAHAN
  • MATA RANTAI 9: OBJEK MATERIA KYBERNOLOGY
  • MATA RANTAI 10: PERISTIWA SEKALI LALU, PERISTIWA BERULANG
  • MATA RANTAI 11: METODOLOGI PENELITIAN PEMERINTAHAN
  • MATA RANTAI 13: OBJEK FORMA
  • MATA RANTAI 14: PENDEKATAN: MONO-MULTI-INTER-LINTASDISIPLIN
  • MATA RANTAI 15: BAHAN BAKU
  • MATA RANTAI 16: ARSITEKTUR (KONSTRUKSI)
  • MATA RANTAI 17: METODOLOGI ILMU (PEMERINTAHAN)
  • MATA RANTAI 18: BODY OF KNOWLEDGE
  • MATA RANTAI 20: DEFINISI
  • MATA RANTAI 21: SEJARAH ILMU PEMERINTAHAN
  • MATA RANTAI 22: STATE OF THE ART (PARADIGMA) ILMU PEMERINTAHAN
  • MATA RANTAI 23: SISTEMATIK
  • MATA RANTAI 24: METODIK-DIDAKTIK (PENGAJARAN KYBERNOLOGY)
  • MATA RANTAI 25:APLIKASI (PENERAPAN) KYBERNOLOGY

METODOLOGI ILMU

PEMERITNAHAN

Oleh: Drs. Apriansyah, M.Si.

Program Magister Ilmu Pemerintahan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Lambung Mangkurat

Pengertian

‡Hasil pengkajian terhadap berbagai metode

yang menjadi bahan pembentukan

seperangkat pengetahuan tentang metode

disebut metodologi

‡Metodologi ilmu secara formal melekat di

dalam definisi ilmu yang bersangkutan dan

secara substantif ditunjukkan oleh aksioma,

anggapan dasar, pendekatan, model analisis

dan model konstruk pengalaman dan

konsep.

‡MIP adalahmata kuliah yang mempelajari
penerapanmetodologi ilmu (Teori dan Konsep
serta Metode-metode dan teknik-teknik
pengembangan ilmu pengetahuan) oleh ilmu
pemerintahan dalam mengkaji masalah-masalah
atau mempelajari gejala-gejala pemerintahan
untuk pengembangan ilmu pemerintahan itu
sendiri.

‡Sandaran MIP adalah Filsafat Ilmu (dalam hal ini
juga Filsafat Ilmu Pemerintahan)

‡Setelah mempelajari MIP ini, mahasiswa
diharapkan dapat menganalisis peristiwa/gejala
dan masalah pemerintahan dengan
menggunakan Teori-teori & konsep-konsep ilmu
pemerintahan dan menggunakan MIP untuk
mempelajari peristiwa/gejala/masalah bidang
kajian lainnya.

Struktur Bangun Ilmu dalam MIP

1.Filsafat

2.Ilmu logika

3.Filsafat ilmu

5.METODOLOGI ILMU

(Metodologi Ilmu Pemerintahan (MIP), Metodologi Ilmu

Administrasi, Metodologi Ilmu Politik, dsb)

6. Metodologi Penelitian

Ranah Ontologi

(Hakekat Ilmu)

Ranah

Epistemilogi Ilmu

& Paradigma ilmu

Ranah epistemilogi riset

seluruh Bidang Ilmu, ada

dlm MK MPS

4.Filsafat (Ilmu) Pemerintahan

7. Metodologi Penelitian Pemerintahan (MPP)

Ranah epistemilogi

riset khusus Bidang

Ilmu Pemerintahn

tiga kelompok landasan Filsafat ilmu

Filsafat ilmu merupakan telaahan secara
filsafat yang ingin menjawab beberapa
pertanyaan mengenai hakekat ilmu yang dapat
dipilah ke dalam tiga kelompok landasan
berikut:

A.Landasan Ontologi(=hakekat apa yang

dikaji), yang mempertanyakan obyek apa yang
ditelaah ilmu, bagaiman ujud yang hakiki dari
obyek tersebut, bagaimana hubungan antara
obyek tadi dengan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa dan mengindera)
yang membuahkan pengetahuan.

‡Oleh karena itu, ontologi adalah teori tentang

ada dan relitas. Meninjau persoalan secara

ontologis, adalah mengadakan penyelidikan

terhadap ³sifat dan realitas´ dengan: refleksi

rasional serta analisis dan sitetis logika.

‡Jadi yang pertama dalam ilmu itu, dikenal dulu

tentang ³ada´ dan ³apa´ dirinya (llmu), sehingga

perlu diketahui:Apa yg menjadi obyek sesuatu

ilmu (baik obyek materianya yang menjadi

pokok persoalan/subyect matter,maupun obyek

formanya yg menjadi pusat perhatian/focus of

interest);

B.Landasan Epistemilogi(=Cara mendapatkan pengetahuan yang

benar), yang mempertanyakan proses yang memungkinkan
ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, bagaimana
prosedurnya, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita
mendapat pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran
itu sendiri, apakah kriterianya, cara apa yang membantu ilmuwan
dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu.

Karena epistemologi mempertanyakan bagaimana ilmu itu sendiri,
maka perlu pula kita mempertanyakan, sebagai berikut:

Bagaimana terminologi ilmu tsb (dapat dilihat pada
empirik/praktek pemerintahan dan konsep-konsep ilmu
pemerintahan);

Bagaimana metodologi ilmu tsb (dapat dilihat pada Metodologi
Ilmu Pemerintahan dan Metode Penelitian Pemerintahan);

Bagaimana filsafat ilmu tsb;

Bagaimana sistematiknya (dapat dilihat pada Pembagian sistem
dan bentuk pemerintahan);

Bagaimana teori-teori ilmu tsb;

Bagaimana teknik-tekniknya (teknik-teknik pemerintahan);

Bagaimana azas atau dasarnya.

C.Landasan Aksiologi(=Nilai kegunaan ilmu), yang

mempersoalkan untuk apa pengetahuan yang berupa
ilmu itu dipergunakan, bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaedah-kaedah moral,
bagaimana penentuan obyek yang ditelaah
berdasarkan pilihan-pilihan masal, bagaimana kaitan
antara teknik procedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma
moral/professional.

Ilmu pemerintahan selain sebagai ilmu murni/pure science
(ilmu teoritis empiris) juga termasuk ilmu
terapan/applied science (ilmu praktis),maka dikenallah
istilah ³seni memerintah´.

Jadi, perkemkembangan ilmu pemerintahan akan lebih
tampak jelas terdeteksi, karena diaplikatifkan oleh para
user (kader-kader pamong).

PERTANYAAN UTAMA:

METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN (MIP) SAMAKAH DENGAN

METODOLOGI PENELITIAN PEMERINTAHAN (MPP)?

JAWABANNYA: TIDAK SAMA

MENGAPA TIDAK SAMA?

JAWABANNYA ADALAH:

1.LANDASAN FILSAFAT METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN (MIP)

ADALAH ³FILSAFAT ILMU´,SEDANGKAN LANDASAN FILSAFAT

METODOLOGI PENELITIAN PEMERINTAHAN (MPP)ADALAH

³METODOLOGI ILMU´.

2.ISTILAHMETODOLOGIDALAM METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN

(MIP) ADALAH BUKAN SEBAGAI METODOLOGI DALAM ARTIAN

PENELITIAN (RISET) TETAPI ³SATU KESATUAN ISTILAH´ YAITU

³METODOLOGI ILMU´ SEBAGAI CABANG DARI FILSAFAT ILMU.

3.

PADA RANAH EPISTEMOLOGI (FILSAFAT PENGETAHUAN),

METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN (MIP)MERUJUK PADA CARA-

CARA MENGUSAHAKAN PENGETAHUAN ILMIAH(UNTUK ILMU

PENGETAHUAN PEMERINTAHAN) ATAU DALAM DEFINISI

TALIZIDUHU NDRAHA (DALAM ³KYBERNOLOGY, 2003):

³MIP MENUNJUKKAN BAHAN BAKU BODY OF KNOWLEDGEYANG

DISEBUT ILMU PEMERINTAHAN ITU, DAN BAGAIMANA

KONSTRUKSINYA, SEHINGG ILMU YANG BERSANGKUTAN TETAP

BERTAHAN DAN BERFUNGSI INTERNAL DAN EKSTERNAL DALAM

KONDISI APAPUN´. SEDANGKAN METODOLOGI PENELITIAN

PEMERINTAHAN (MPP)PADA RANAH EPISTEMOLOGI MERUJUK

PADA CARA-CARA MENGUSAHAKAN PENELITIAN ILMIAHUNTUK

(KHUSUSAN) MASALAH-MASALAH PEMERINTAHAN (GEJALA-

GEJALA PEMERINTAHAN).

4.

TAHAPAN UNTUK MENCAPAI PENGETAHUAN ILMIAH ILMU

PEMERINTAHAN ADALAH DENGAN CARA DUA TAHAP SECARA

TIMBAL BALIK, YAITU:

MPP MIP

(Induktif/Kualitatif) (Deduktif/Kuantitatif)

HUBUNGAN ANTARA MIP DENGAN MPP (METODOLOGI ANGKA 8)

(TALIZIDUHU NDRAHA, dalamMETODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN: 1997)

masalah (Objek) Penelitian

OP

S

MM

IP

MPP

MIP

T

Metodologi Penelitian

Pemerintahan

Ilmu Pemerintahan

Subyek

Metodologi Ilmu

(Pemerintahan)

Tindakan (Pemerintah)

Masalah Masyarakat

Peristiwa Pemerintahan

Seni Pemerintahan

PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

‡Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology
(filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji
hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu
merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-
ciri tertentu.

‡Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah
segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-
persoalan mengenai segala hal yang menyangkut
landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala
segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan
suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi
dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-
balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

‡Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat
ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat
pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu
berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan
tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan
lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan
dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan
(sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

‡Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan
pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang
menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada
dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti
maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono
dkk., 1997). Oleh karena itu, diperlukan perenungan
kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu
pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-
bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.

‡Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak
mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat.
Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat
didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat
dari sesuatu ³ada´ yang dijadikan objek sasarannya, sehingga
filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang
filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk
memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

‡Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam
Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-
perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya,
keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain
sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari
itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk
memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi
ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks
dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang
ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan
intelektualnya.

Beberapa pandangan mengenai filsafat ilmu

‡Filsafat ilmu merupakan suatu tinjauan kritis tentang pendapat-
pendapat ilmiah.

‡Filsafat ilmu adalah pembandingan atau pengembangan pendapat-
pendapat masa lampau terhadap pendapat-pendapat masa
sekarang yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah.

‡Filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan yang
tidak terlepas dari pemikiran para ilmuwan yang menelitinya.

‡Filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai suatu disiplin, konsep, dan
teori tentang ilmu yang sudah dianalisis serta diklasifikasikan.

‡Filsafat ilmu adalah perumusan pandangantentang ilmu
berdasarkan penelitian secara ilmiah.

Dengan mengikuti Lincoln dan Guba

(1985), kita mengenal tiga babakan

paradigma dalam filsafat ilmu Barat:

‡era prapositivisme,

‡era positivisme, dan

‡era post (pasca) positivisme.

Perkembangan FilsafatIlmu

PERKEMBANGAN FILSAFAT

ILMU

PRAPOSITIVISME

POSITIVISME

POSTPOSITIVISME

Era Prapositivisme

‡Inilah era paling panjang dalam sejarah filsafat ilmu.
Dimulai sejak Aristoteles (384-322 S.M.) sampai (tetapi
tidak sampai dengan) Davis Hume (1711-1776) ±suatu
rentangan waktu yang mencakup lebih dari dua ribu
tahun.

‡Menurut Aristoteles, manusia adalah pengamat pasif.
Biarkan apa yang terjadi pada ³physis´ terjadi secara
alamiah. Usaha manusia untuk memahami alam akan
menyebabkan merenungkan apa yang dilihatnya. Untuk
memperoleh pengetahuan, manusia cukup
menggunakan hukum-hukum logika, seperti Law of
Contradiction (tidak akan ada proposisi yang benar dan
sekaligus salah) dan Law of Excluded Middle (suatu
proposisi bisa benar dan bisa salah). Logika Aristoteles,
sebagai metode ilmiah, tidak banyak mengalami
perubahan. Beberapa orang berusaha menerobos
pengaruh Aristoteles tiga orang astronom (Copernicus,
Galileo, dan Kepler) dan seorang matematikus
(Descartes).

Prapositivisme

‡METODE KUALITATIF, REALITAS

BERSIFAT ALAMIAH

Metodeyangbersandarkanpadapositivismediajarkanoleh:ilmuwan

sosialabad19danawalabad20,khususnyaAugusteComte&Emile

Durkheim.

Kemudian,setelahComtedanDurkheimmuncultokoh-tokoh

positivismemembentukkelompokyangkemudianterkenalsebagai

LingkaranWina;termasukGustovBergman,RudolfCarnaf,Philip

FrankHansHahn,OttoNeurathdanMoritzSchlick.

Positivismeadalah³satukelompokfilsafatyangditandaidengan

evaluasiyangsangatpositifterhadapilmudanmetodeilmiah´.

Sebagaigerak-filsafat,positivismedimulaipadaabadXIX,

DasarpositivismeterutamasekaliadalahmekanikaNewtonian.

Positivismetelahdiuraikanolehberbagaifilusufdengancarayang

berlainan.Walaupunbegitu,secarakeseluruhan,pandanganpara

filusuftentangpositivismedapatdisimpulkandalamlimaprinsip

dasar.

Era Positivisme

Kaum positivis mencari fakta-fakta atau sebab-

sebab dari gejala-gejala sosial tanpa mau
memperhatikan keadaan individu sebagai
obyek.

Durkheim menganjurkan kepada ilmuwan sosial

untuk mencari fakta-fakta sosial, atau gejala-
gejala sosial dan memandangnya sebagai
³barang sesuatu´ (thing) yang memberikan
pengaruh eksternal terhadap tingkah laku
manusia.

Kaum positivis meneliti fakta-fakta dan sebab-

sebab melalui metode seperti: Survai
kuisener,pencatatan barang-barang, dan
analisis demografi yang menghasilkan data
kuantitatif, (jumlah, angka-angka) yang
memungkinkannya untuk membuktikan
hubungan antara variabel secara statistik.

‡Langkah-langkah metode ilmiah dalam
paradigma positivisme mengikuti pola yang
sering disebut sebagai model hipotetika-
deduktif. Dari berbagai sumber ±aksioma, teori,
penelitian terdahulu, atau intuisi ±peneliti
merumuskan hipotesis. Supaya dapat diuji,
hipotesis ini harus dioperasionalisasikan dalam
konstruk-konstruk yang dapat diukur. Peneliti
kemudian menguji hipotesis dengan
pengamatan. Karl Popper (1959) menganggap
bahwa hipotesis hanya bisa dibuktikan salah
(difalsifikasi) apabila hipotesis itu gagal
difalsifikasi; hipotesis menjadi benar. Popper
menyebutnya koroborasi. Secara singkat
positivisme meruntut kegiatan ilmiah lewat tiga
tahap: konseptualisasi, operasionalisasi, dan
observasi.

‡Semenjak tahun 1960 filsafat ilmu mengalami
perkembangan yang sangat pesat, terutama
sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu
dan teknologi yang ditopang penuh oleh
positivisme-empirik, melalui penelaahan dan
pengukuran kuantitatif sebagai andalan
utamanya. Berbagai penemuan teori dan
penggalian ilmu berlangsung secara
mengesankan.

‡Pada periode ini berbagai kejadian dan peristiwa
yang sebelumnya mungkin dianggap sesuatu
yang mustahil, seperti cerita khayal dalam komik
³Flash Gordon´ terbitan pertama tahun 1930-an,
namun berkat kemajuan ilmu dan teknologi
dapat berubah menjadi suatu kenyataan.

‡Bagaimana pada waktu itu orang dibuat tercengang dan
terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar
menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan
kaki di Bulan, seperti cerita Falsh Gordon yang berada di
Bulan.

‡Ditemukannya Sinar-X, yang kemudian berkembang
menjadi senjata laser, sebagai bukti dari cerita khayal
Flash Gordon.

‡Begitu juga ketika manusia berhasil mengembangkan
teori rekayasa genetika dengan melakukan percobaan
cloning pada kambing, atau mengembangkan cyber
technology, yang memungkinkan manusia untuk
menjelajah dunia melalui internet. Belum lagi
keberhasilan manusia dalam mencetak berbagai produk
nano technology , dalam bentuk mesin-mesin micro-chip
yang serba mini namun memiliki daya guna sangat luar
biasa.

‡Semua keberhasilan ini kiranya semakin

memperkokoh keyakinan manusia

terhadap kebesaran ilmu dan teknologi.

Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa

positivisme-empirik yang serba matematik,

fisikal, reduktifdan free of value telah

membuktikan kehebatan dan memperoleh

kejayaannya, serta memberikan kontribusi

yang besar dalam membangun peradaban

manusia seperti sekarang ini.

‡Namun, dibalik keberhasilan itu, ternyata telah
memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak
sederhana, dalam bentuk kekacauan, krisis dan chaos
yang hampir terjadi di setiap belahan dunia ini. Alam
menjadi marah dan tidak ramah lagi terhadap manusia,
karena manusia telah memperlakukan dan
mengexploitasinya tanpa memperhatikan keseimbangan
dan kelestariannya. Berbagai gejolak sosial hampir
terjadi di mana-mana sebagai akibat dari benturan
budaya yang tak terkendali.

‡Kesuksesan manusia dalam menciptakan teknologi-
teknologi raksasa ternyata telah menjadi boomerang
bagi kehidupan manusia itu sendiri. Raksasa-raksasa
teknologi yang diciptakan manusia itu seakan-akan
berbalik untuk menghantam dan menerkam si
penciptanya sendiri, yaitu manusia.

Inilah ³lima rukun´ positivisme :

1.Asumsi ontologism tentang realitas tunggal dan dapat diukur ³di

sana´ yang dapat dipecah-pecah menjadi potongan-potongan,

yang dapat ditelaah secara independen; keseluruhan hanyalah

jumlah dari bagian-bagian.

2.Asumsi epistemologis tentang kemungkinan memisahkan

pengamat dari yang diamati ±yang mengetahui dan yang

diketahui.

3.Asumsi keterlepasan pengamatan dari waktu dan konteks,

sehingga apa yang benar pada satu saat dan pada satu waktu

dan tempat yang berlainan.

4.Asumsi kausalitas linier; tidak ada akibat tanpa sebab dan tidak

ada sebab tanpa akibat.

5.Asumsi aksiologi tentang bebas nilai, yakni bahwa metodologi

menjamin hasil penelitian yang benar-benar bebas dari pengaruh

system nilai (bias).

Positivisme

METODA KUANTITATIF HASIL RESEARCH

DAN DEVELOPMENT

Kritik terhadap Positivisme

‡Kritik yang sangat tajam muncul dari kalangan
penganut ³Teori Kritik Masyarakat´,
sebagaimana diungkap oleh Ridwan Al
Makasary (2000:3). Kritik terhadap positivisme,
kurang lebih bertali temali dengan kritik terhadap
determinisme ekonomi, karena sebagian atau
keseluruhan bangunan determinisme ekonomi
dipancangkan dari teori pengetahuan
positivistik.

‡Positivisme juga diserang oleh aliran kritik dari
berbagai latar belakang dan didakwa
berkecenderungan mereifikasi dunia sosial.

‡Selain itu Positivisme dipandang menghilangkan
pandangan aktor, yang direduksi sebatas entitas pasif
yang sudah ditentukan oleh ³kekuatan-kekuatan natural´.
Pandangan teoritikus kritik dengan kekhususan aktor, di
mana mereka menolak ide bahwa aturan aturan umum
ilmu dapat diterapkan tanpa mempertanyakan tindakan
manusia. Akhirnya ³ Teori Kritik Masyarakat´
menganggap bahwa positivisme dengan sendirinya
konservatif, yang tidak kuasa menantang sistem yang
eksis.

‡Nasution (1996:4) mengemukan pula tentang kritik post-
positivime terhadap pandangan positivisme yang
bercirikan free of value, fisikal, reduktif dan matematika.

‡Seperti disebut diatas, Heisenberg bersama dengan
pandangan tentang alam yang disajikan oleh mekanika
quantum menghancurkan asumsi-asumsi positivisme,
kini orang beralih pada paradigma baru, pasca-
positivisme.

Era Pasca (post) positivisme/

Fenomenologi

‡

Era ini dimulai dari kebingungan Heisenberg dan
kucing Schrodinger. Yang pertama mudah kita ketahui,
lalu apa pasal kucing dalam filsafat ilmu.

‡

Saya ambil cerita kucing ini dari Lincoln dan Guba
(1985 : 85-86) :

±

Sebuah kotak baja mengandung satu atom radioaktif. Atom
mempunyai paruh waktu satu jam, artinya, dalam sejumlah
besar sampel atom tersebut setengahnya akan tetap setelah
lewat satu jam, sedang yang setengahnya lagi akan luruh.
Jadi, sesudah satu jam, kemungkinan menemukan atom itu
dalam kotak adalah 0,5.

±

Ada sebuah fotosel yang sensitif pada radiasi yang
dipancarkan. Bila atom itu luruh, radiasi yang timbul akan
mengenai fotosel, yang pada gilirannya akan mengeluarkan
gas yang mematikan.

±

Seekor kucing hidup dimasukkan kedalam kotak tersebut tepat
pada saat satu atom unsur radioaktif telah dikeluarkan.
Pertanyaan : pada akhir satu jam, apa yang kita temukan bila
kita membuka kotak, kucing mati atau kucing hidup?

‡Menurut mekanika quantum, Anda dapat
mengontrol nasib kucing jika anda adalah orang
yang membuka kotak itu. Sesudah satu jam,
kemungkinan kucing itu hidup atau mati akan
sama. Jika Anda tidak membuka kotak dan tidak
mengganggunya, dua realitas ini ±kucing hidup
dan kucing mati ±akan berada berdampingan
untuk waktu yang tidak terbatas. Bila Anda
membuka kotak, Anda menciptakan realitas
yang Anda temukan.

‡Jadi tidak ada realitas objektif, yang ada adalah
realitas menurut persepsi kita, sesuai dengan
konstruksi kita. Kita tidak lagi skrup, kita menjadi
pencipta mesin.

‡Gary Zukav (1979 : 28),menulis : Berbeda

dengan fisika Newtonion, mekanika

quantum menyatakan bahwa pengetahuan

tentang apa yang mengatur peristiwa pada

tingkat subatomic tidak seperti yang kita

asumsikan. Menurut mekanika quantum

kita tidak dapat meramalkan fenomena

subatomik secara pasti. Kita hanya dapat

meramalkan probabilitasnya.

‡Secara filsafi, implikasi mekanika quantum
sangat misterius. Bukan saja kita
mempengaruhi realitas, tetapi sampai
tingkat tertentu, kita sebenarnya
menciptakannya. Karena kita dapat
mengetahui salah satu diantara
momentum partikel atau posisinya, tetapi
tidak kedua-duanya, kita harus memilih :
mana diantara kedua sifat yang ingin kita
tentukan. Secara metafisik, ini nyaris
berarti bahwa kita menciptakan sifat-sifat
tertentu, karena kita memilih untuk
mengukur sifat-sifat itu.

‡Apa yang dapat disimpulkan dari paradigma
baru ini? Secara sederhana, kebenaran tidaklah
tunggal dan cara mencapainya juga tidak satu.
Realitas adalah hasil konstruksi kita. Ada
kebenaranyang diperoleh dengan logika
(matematika), eksperimentasi (fisika), perasaan
(musik), situasi lapangan (antropologi), atau
riyadhah (tashawuf). Yang jelas, kita tidak akan
pernah mencapai kebenaran yang
sesungguhnya, yang dapat menjelaskan seluruh
fenomena. Inilah ³unreachable truth´ dalam
teorema ³Godel´. Al-Qur¶an menyatakan: ³Kamu
tidak diberi ilmu kecuali sedikit´ (Al-Qur¶an
17:85) dan ³Kebenaran itu hanyalah berasal dari
Tuhan´ (Al-Qur¶an 2:147). Paradigma baru
membawa kita pada ketinggian paradigma ilmu
yang Qur¶ani.

‡Aliran post-positivime tidak menerima adanya

hanya satu kebenaran,.

‡Rich (1979) mengemukakan ³There is no the

truth nor a truth ± truth is not one thing, - or even

a system. It is an increasing completely´

Pengalaman manusia begitu kompleks sehingga

tidak mungkin untuk diikat oleh sebuah teori.

‡Freire (1973) mengemukakan bahwa tidak ada

pendidikan netral, maka tidak ada pula

penelitian yang netral.

‡Usaha untuk menghasilkan ilmu sosial yang bebas nilai
makin ditinggalkan karena tak mungkin tercapai dan
karena itu bersifat ³self deceptive´ atau penipuan diri dan
digantikan oleh ilmu sosial yang berdasarkan ideologi
tertentu.

‡Hesse (1980) mengemukakan bahwa kenetralan dalam
penelitian sosial selalu merupakan problema dan hanya
merupakan suatu ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada
apayang disebut ³obyektivitas´. ³ Knowledge is a¶socially
contitued¶, historically embeded, and valuationally.

‡Namun ini tidak berarti bahwa hasil penelitian bersifat
subyektif semata-mata, oleh sebab penelitian harus
selalu dapat dipertanggungjawabkan secara empirik,
sehingga dapat dipercaya dan diandalkan. Macam-
macam cara yang dapat dilakukan untuk mencapai
tingkat kepercayaan hasil penelitian

‡Jelasnya, apabila kita mengacu kepada
pemikiran Thomas Kuhn dalam bukunya

The Structure of Scientific Revolutions

(1962) bahwa perkembangan filsafat ilmu,
terutama sejak tahun 1960 hingga
sekarang ini sedang dan telah mengalami
pergeseran dari paradigma positivisme-
empirik,±yang dianggap telah mengalami
titik jenuh dan banyak mengandung
kelemahan±, menuju paradigma baru ke
arah post-positivisme yang lebih etik.

‡Terjadinya perubahan paradigma ini dijelaskan

oleh John M.W. Venhaar (1999) bahwa

perubahan kultural yang sedang terwujud akhir-

akhir ini, ±perubahan yang sering disebut purna-

modern, meliputi persoalan-persoalan : (1)

antihumanisme, (2) dekonstruksi dan (3)

fragmentasi identitas. Ketiga unsur ini memuat

tentang berbagai problem yang berhubungan

dengan fungsi sosial cendekiawan dan

pentingnya paradigma kultural,±terutama dalam

karya intelektual untuk memahami identitas

manusia.

‡

Postpositivisme/Fenomenologi Dikenalkan oleh Irwin
Deutscher, yang asal usulnya dari Max Weber.

‡

Kaum fenomenologi berkepentingan memahami tingkah
laku manusia menurut kerangka acuan dari sang pelaku
perbuatan itu sendiri.

‡

Kaum fenomenologi meneliti bagaimana dunia ini dihayati.
Bagi mereka realitas yang terpenting adalah bagaimana
manusia melukiskannya, atau menghayati dunia.

‡

Kaum fenomenologi berusaha memahami (mencari
pemahaman/understanding) melalui metode-metode
kualitatif, seperti: observasi partisipan, open-onded
interviewing, dan dokumen perorangan. Metode-metode
ini mencari data deskriptif yang memungkinkan kaum
fenomenologi memahami dunia sebagaimana sang
subyek memahaminya.

‡

Asal usul metode kualitatif bermula dari kajian Frederick
LePlay tentang keluarga-keluarga dan masyarakat Eropa
pada abad 19.

POSTPOSITIVISME

METODE KUALITATIF, MENCARI MAKNA

PERBANDINGAN TIGA FILSAFAT

PRAPOSITIVISME

POSITIVISME

POSTPOSITIVISME

REALITAS

BERKEMBANG SECARA

ALAMIAH

REALITAS TERAMATI,

BERSIFAT TUNGGAL,

DAPAT

DIKLASIFIKASIKAN,

DETERMINISME (SEBAB

AKIBAT), BEBAS NILAI,

RELATIF TETAP DAN

TERUKUR

REALITAS BERSIFAT

HOLISTIK (UTUH),

DINAMIS (TIDAK TETAP),

KOMPLEKS, SALING

MEMPENGARUHI, PENUH

MAKNA DAN TERIKAT

NILAI

METODE PENELITIAN

DESKRIPTIF KUALITATIF

METODE PENELITIAN

KUANTITATIF, DEDUKTIF

METODE PENELITIAN

KUALITATIF,

INDUKTIF

PENELITI PASIF,

MENGGAMBARKAN APA

YANG DIAMATI

MELAKUKAN

EKSPERIMEN, MENCARI

PENGARUH

MEMAHAMI MAKNA

REALITAS YANG

KOMPLEKS,

MENGKONSTRUKSI

FENOMENA

Gerak MIP

‡Metodologi ilmu pemerintahan pun

bergerak ke luardan ke dalam.

Sasarannya adalah:

1.bangsa dan negara;

2.rakyat dan pemerintah;

3.hubungan kerakyatan;

4.daerah;

5.ilmu pemerintahan itu sendiri.

‡Fungsi Ilmu pemerintahan ke dalamadalah

untuk menguji, mengoreksi dan

mengembangkan disiplin Ilmu Pemerintahan

itu sendiri.

Sedangkan fungsi Ilmu Pemerintahan ke luar

adalah mengidentifikasi, merekam dan

menggambarkan, menerangkan hubungan,

menguji pengetahuan lain, dan meramalkan

apa yang akan dan dapat terjadi dalam

masyarakat atau negara.

KERANGKA PEMIKIRAN KYBERNOLOGY (ILMU PEMERINTAHAN BARU)-

HEURISTIC KEYBERNOLOGY MODEL

SEKALIGUS POLA METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN

(TALIZIDUHU NDRAHA, dalamKYBERNOLOGY: 2003)

TERDIRI ATAS :

EMPAT MATARANTAI UTAMA (1, 8, 12, 19)

DUA PULUH SATU MATARANTAI TURUNANNYA

EMPAT MATARANTAI UTAMA, YAITU:

1

BASIC PLATFORM:
META DICIPLINE

8

COMMON
PLATFORM

12

BASIC
ASSUMPTIONS

19

KYBERNOLOGY
(Model)

MATARANTAI1DISEBUT BASIC PLATFORM (BERFUNGSI SBG WACARA

FILOSOFIK), KARENA IA MENUNJUKKAN AWAL DAN SUMBER PEMIKIRAN ILMU

PEMERINTAHAN, YAITU FILSAFAT. WILL DURANT DALAM ³THE STORY OF

PHILOSOPHY (1956) MENYATAKAN BAHWA ³EVERY SCIENCE BEGINS AS

PHILOSOPHY AND ENDS AS ART´.

MATARANTAI8 MENUNJUKKAN COMMON PLATFORM (BERFUNGSI SBG

LANDASAN-BERSAMA/OBJEK MATERIA), YAITU LANDASAN-BERSAMA YANG

DAPAT DIGUNAKAN OLEH KYBERNOLOGY DAN WARGA ILMU-ILMU SOSIAL

LAINNYA UNTUK MENDARAT. LETAK KYBERNOLOGY DI DALAM LINGKUNGAN

ILMU-ILMU SOSIAL, ADALAH TEPAT. HAL INI BERARTI GEJALA-GEJALA

PEMERINTAHAN DAPAT DIJADIKAN OBJEK MATERIA OLEH ILMU-ILMU LAIN.

MATARANTAI 12 DISEBUT BASIC ASSUMPTIONS(BERFUNGSI SBG FONDASI BAGI

KYBERNOLOGY). ASUMSI-ASUMSI DASAR MERUPAKAN FUNDAMENTALSBAGI

ILMU PEMERINTAHAN. YANG DIANGGAP TERMASUK DI DALAM KELOMPOK BASIC

ASSUMPTIONS ITU ANTARA LAIN AKSIOMA, POSTULAT, DALIL (LAW, NATURAL

LAW, SCIENTIFIC LAW), DASAR, HAKIKAT, DAN SEBANGSANYA.

MATARANTAI 19 (Model) KYBERNOLOGY

Gambar. Model Kybernology

CIVIL

RIGHT

PRIVATE

(CIVIL) CHOICE

CIVIL

SERVICE

HUMAN

RIGHT

PUBLIC

CHOICE

PUBLIC

SERVICE

KYBERNAN

(GOVERNANCE=TATA

PEMERINTAHAN)

KYBERN-

OLOGY

TURUNAN MATARANTAI 1:

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->