Anda di halaman 1dari 5

SELF ACCEPTANCE

TEORI SELF CARL ROGERS

Banyak ahli-ahli psikologi yang mengemukakan teori tentang Self. Namun, teori self yang akan
digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini adalah teori Self dari Carl Rogers karena Carl
Rogers lebih mementingkan prinsip penerimaan.

Self merupakan konsep utama dalam teori Rogers.menurut Rogers, self merupakan keseluruhan
konsep yang terorganisir dan konsisten yang terdiri dari persepsi karakteristik I atau Me, persepsi
tentang hubungannya dengan orang lain dan aspek-aspek kehidupan lainnya, serta nilai-nilai
persepsi tersebut (Rogers, 1959:200, dalam Hall, 1985,226). Self merupakan sesuatu yang
berkembang sebagai hasil interaksi individu dengan lingkunganya (Rogers dalam Rao, 1981:64).
Dalam interaksinya, individu akan selalu memberikan penilaian terhadap lingkungannya baik
secara tepat maupun tidak. Konsep tentang self merupakan konsep sentral dari teori rogers.
Konsep ini terdiri dari:

1. Persepsi individu sendiri terhadap dirinya sendiri dan nilai-nilai persepsi tersebut.

2. Persepsi individu tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain dan nilai-
nilai persepsi tersebut.

3. Persepsi individu tentang aspek-aspek lingkungannya dan nilai-nilai persepsi tersebut.

Self cenderung untuk konsisten. Individu dalam berperilaku senantiasa konsisten dengan self
yang dimilikinya. Pengalaman yang tidak konsisten dengan self-structurnya akan dipandang
sebagai ancaman. Akan tetapi, oleh karena penilaian individu terhadap lingkungannya selalu
mengalami perubahan dari waktu ke waktu maka self juga akan berubah. Perubahan ini
disebabkan oleh banyak factor dan factor yang penting adalah kematangan dan belajar (Hall dan
Lindsay, 1957 dalam Rao, 1981:64). Dalam pembicaraan mengenai self ini, selain terdapat self
sebagaimana adanya (self as it as) atau juga disebut sebagai self structur ada juga yang disebut
sebagai idea self, yaitu struktur self yang diinginkan individu dan dijadikan sebagai tujuan bagi
perkembangan achievementnya. Kesenjangan antara self-structur dengan ideal self akan
menyebabkan ketidakpuasan.

Selain self, konsep utama lainnya dalam teori rogers adalah organism dan phenomenal field.
Organism adalah total individual dengan fungsi-fungsi fisiologis dan psikologis. Organism
merupakan pusat semua pengalaman. Pengalamn ini adalah semua potensi yang terdapat dalam
kesadaran yang terjadi dalam individu setiap saat. Jadi, pengalaman ini mencakup pula persepsi
seseorang tentang semua kejadian yang timbul, baik dari dalam diri individu maupun dari
lingkungan eksternalnya. Totalitas pengalaman ini yang membentuk phenomenal field. Perilaku
organism merupakan fungsi dari phenomenal field, yang juga merupakan realitas subyek.
Kesesuaian (congruence) atau ketidaksesuaian antara self dan organism akan menetukan
kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental seseorang (Rogers, dalam Hall dan Lindsay,
1981:294). Pada saat persepsi tentang I-me dan hubungannya dengan orang lain, yaitu
simbolisasi self sesuai dengan pengalaman actual orgaisme yang juga berarti bahwa interpretasi
ini sesuai dengan realitas, antara self dan orgaisme dikatakan sesuai (congruence). Jika tidak
tercapai kesesuaian, orang akan merasa terancam dan cemas, berperilaku defensive, dan
berpikiran kaku.

Ketidaksesuaian (incongruence) dapat terjadi pada siapa saja. Orang yang secara psikologik
sangat sehat pun secara berkala tetap dihadapkan dengan pengalaman yang mengancam konsep
dirinya yang memaksanya untuk mendistorsi atau mengingkari pengalamannya. Jadi siapa pun
memiliki pertahanan untuk menangani kecemasan ringan dan cara bertingkah laku yang dapat
mengurangi kecemasan itu. Ketika pengalaman sangat tidak konsisten dengan struktur self atau
pengalaman incongruent sering timbul, tingkat kecemasan yang terjadi dapat merusak rutinitas
dan dapat menjadi neurotic. Orang ini sebagian pertahananya masih efektif dalam menjaga
pengalaman mengancam agar tidak masuk kesadaran. Struktur self masih tetap utuh walaupun
lemah.

Semakin besar jurang ketidaksesuaian antara konsep diri dengan pengalaman organismik,
semakin orang menjadi rentan (vulnerable). Lebih-lebih jika orang itu sudah tidak menyadari
perbedaan antara konsep diri dengan pengalamnnya. Jika tingkat incongruent sangat tinggi,
pertahanan mungkin tidak dapat dioperasikan. Pengalamn incongruent disimbolisasi ke dalam
kesadaran sehingga konsep diri menjadi hancur. Kondisi di mana self tidak mampu
mempertahankan diri dari pengalamn yang mengancam ini akan menimbulkan disorganisasi
kepribadian dan psikopatologi (Alwisol, 2004, 348).

Jika vulnerabilita muncul akibat dari orang tidak menyadari ketidaksesuaian dalam diri self nya,
kecemasan dan ancaman muncul akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu.
Sedikit saja orang menyadari bahwa perbedaan antara pengalamn organismik dengan konsep diri
yang tidak muncul ke kesadaran, telah membuatnyamerasakan kecemasan. Rogers
mendefinisikan kecemasan sebagai “keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya
tidak diketahui”. Ketika orang semakin menyadari ketidakkongruenan antara pengalaman dengan
persepsi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri kongruen dan terjadi
pergeseran menjadi sikap diri tak kongruen. Kecemasan dan ancaman yang menjadi indikasi
adanya ketidakkongruenan diri dengan pengalamn membuat orang berada dalam perasaan tegang
yang tidak menyenangkan, namun pada tingkat tertentu kecemasan dan ancaman itu dibutuhkan
untuk mengembangkan diri memperoleh jiwa yang sehat (Alwisol, 2004, 348-349).

Untuk menangani inkongruen, individu melakukan tingkah laku bertahan (defensivemess).


Tingkah laku bertahan yang dipakai ini dapat efektif atau tidak efektif. Deskripsinya mirip
dengan mekanisme pertahanan dari Freud. Rogers hanya mengklasifikasikan menjadi dua
tingkah laku bertahan,yakni distorsi perceptual dan pengingkaran (distortion dan denial).
Termasuk dalam distorsi perceptual adalah kompulsi, kompensasi, rasionalisasi, fantasi, dan
proyeksi sebagai berikut (Alwisol, 2004, 249, Boeree, 200, 324-326):

1. Distorsi perceptual: pengalaman diinterpretasi secara salah dalam rangka


menyesuaikannya dengan aspek yang ada di dalam konsep self. Orang mempersepsi
pengalaman secara sadar, tetapi gagal menangkap (tidak menginterpretasi) makna
pengalaman seperti sebenarnya. Distorsi dapat menimbulkan bermacam defense dan
tingkah laku salah.

2. Denial: orang menolak menyadari suatu pengalaman atau paling tidak menghalangi
bebrapa bagian dari pengalamn untuk disimbolisasi. Pengingkaran itu dilakukan terhadap
pengalaman yang tidak kongruen dengan konsep diri sehingga orang terbebas dari
ancamman ketidakkongruenan diri.

Definisi self acceptance

Self acceptance merupakan kondisi di mana seseorang dapat mencintai diri sendiri dan mancintai
fisiknya dalam batas apa pun dan dapat menerima keadaan dirinya apa adanya tanpa terus-
menerus mengkritik dirinya. Individu dapat menerima diri secara baik, tidak memiliki beban
perasaan terhadap diri sendiri. Sehingga lebih banyak memiliki kesempatan untuk beradaptasi
dengan lingkungan. Kesempatan itu membuat individu mampu melihat peluang-peluang
berharga yang memungkinkan diri berkembang (Calhoun dan Acocella, 1990).

Sikap self acceptance ditunjukkan oleh pengakuan seseorang terhadap kelebihan-kelebihannya


dan kelemahan-kelemahannya tanpa menyalahkan orang lain dan memiliki keinginan untuk
terus-menerus mengembangkan diri. Self acceptance dapat dicapai apabila aspek-aspek dari self
dalam keadaan congruence, di mana self acceptance individu sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya (real self) dan keadaan yang diinginkan (ideal self) (Rogers, 1959, dalam Hall
Lindzey, 2005:135).

Self acceptance berkaitan dengan konsep diri yang positif. Seseorang dengan konsep diri yang
positif dapat memahami dan menerima fakta-fakta yang begitu berbeda dengan dirinya, orang
dapat menyesuaikan diri dengan seluruh pengalaman mentalnya sehingga evaluasi tentang
dirinya juga positif (Calhoun dan Acocella, 1990).

Berdasarkan dari pengertian self acceptance yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa self acceptance merupakan persepsi seseorang terhadap
keadaan dirinya di mana dapat mencintai diri apa adanya dengan menerima segala kelebihan
yang ada tanpa terus mengkritik dirinya.
Cirri-ciri self acceptance

Sartain (1973) mengungkapkan bahwa orang yang menerima dirinya tidak berarti sebagai
individu yang kurang mempunyai ambisi, melainkan mereka memiliki keinginan untuk
memperbaikinya. Orang yang menerima dirinya juga memiliki cirri dapat mengatasi berbagai
persoalan yang dihadapinya.

Cirri-ciri orang yang menrima dirinya menurut Sheere (dalam Cronbach, 1963) adalah:

1. Mempunyai keyakinan akan kemampuan untuk menghadapi kehidupannya.

2. Menganggap dirinya berharga sebagai seorang manusia yang sederajat dengan orang lain.

3. Berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya.

4. Menerima pujian dan celaan secara obyektif.

5. Tidak menyalahkan dirinya akan keterbatasan yang dimilikinya atau pun mengingkari
kelebihannya.

Selanjutnya menurut Allport (dalam Hjelle den Zielgar, 1992), seseorang yang dapat menerima
dirinya sebagai orang yang telah mencapai kematangan dalam kepribadian. Seseorang yang
matang dalam kepribadiannya akan memilki cirri-ciri sebagai berikut:

1. Memilki gambaran yang positif tentang dirinya.

2. Dapat mengatur dan bertoleransi dengan rasa frustasi atau kemarahnnya.

3. Dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa memusuhi mereka apabila orang lain
memberikan kritikan.

4. Dapat mengatur keadaan emosi mereka (seperti rasa bersalah, kemarahan dan depresi).

5. Mengekspresikan keyakinan dan perasaan mereka dengan mempertimbangkan perasaan


dan keadaan orang lain.

Johnson (1993), menambahkan bahwa cirri-ciri orang yang menerima dirinya adalah:

1. Menerima diri sendiri apa adanya

2. Tidak menolak diri sendiri, apabila memilki kelemahan dan kekurangan

3. Memiliki keyakinan bahwa untuk mencintai diri sendiri maka seseorang tidak harus
dicintai oleh orang lain

4. Untuk merasa berharga maka seseorang tidak perlu merasa benar-benar sempurna

5. Memilki keyakinan bahwa dia mampu untuk menghasilkan kerja yang berguna.
Berdasarkan berbagai cirri-ciri yang telah dikemukakan oleh Sartain, Sherre, Allport, dan
Johnson maka dapat disimpulkan bahwa cirri-ciri orang yang mau menerima diri adalah:

1. Memiliki pemahaman diri akan kenyataan yang dialami yang berada di luar kendalinya,
serta tidak menyaahkan dirinya atau pun orang lain akan keterbatasan yang dimilkinya.

2. Menerima diri apa adanya tanpa menolak diri sendiri apabila memiliki kelemahan atau
kekurangan.

3. Memilki gambaran yang positif tentang dirinya sehingga memandang dirinya berharga
dan sederajat dengan orang lain.

4. Dapat mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi dengan keyakinan dirinya serta mau
bertanggung jawab terhadap perilakunya.

5. Dapat mengatur dan bertoleransi dengan keadaan emosi seperti frustasi, kemarahan, atau
pun perasaan bersalahnya.

6. Mengekspresikan keyakinan dan perasaan mereka dengan mempertimbangkan perasaan


dan keadaan orang lain.

7. Mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa memsuhi meskipun orang lain memberikan
kritikan dan individu mampu menerima pujian dan celaan secara obyektif.

Kondisi-kondisi yang mendukung self acceptance

Banyak kondisi yang menentukan seberapa jauh seseorang yang menyukai dan menerima dirinya
sendiri, yaitu (Hurlock, 1976:434-436):