Anda di halaman 1dari 21

5

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Irigasi
Air adalah karunia Tuhan yang paling besar. Air merupakan kebutuhan yang
penting dalam kehidupan manusia. Air dapat digunakan untuk minum, mencuci,
mandi, irigasi, pembangkit listrik dan lain sebagainya. Dalam UU No. 7 Tahun 2004
tentang sumber daya air dalam pasal 1 butir no 2, menyebutkan Air adalah semua air
yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam
pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.
Menurut PP No. 20 Tahun 2006 tentang irigasi dalam pasal 1 butir No. 3,
Dalam ruang lingkup pertanian, air digunakan sebagai saluran irigasi. Irigasi
merupakan usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk
penunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air
bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
Air merupakan faktor yang penting dalam bercocok tanam. Selain jenis
tanaman, kebutuhan air bagi suatu tanaman juga dipengaruhi oleh sifat dan jenis
tanah, keadaan iklim, kesuburan tanah, cara bercocok tanam, luas areal pertanian
topografi dan sebagainya (Mawardi, 2007).
Berdasarkan PP No. 20 Tahun 2006 tentang irigasi dalam pasal 1 butir No. 9
menyebutkan, Air disalurkan dengan jumlah tertentu dari jaringan primer atau
jaringan sekunder ke petak tersier disebut pemberian air irigasi.
Sejarah irigasi di Indonesia telah cukup panjang, dimulai sejak zaman Hindu.
Sebagai contoh pertanian padi sistem Subak di Bali, sistem Tuo Banda di Sumatera
Barat, sitem Tudung Sipulung di Sulawesi Selatan dan sistem kalender pertanian
Pranatamangsa di Jawa. Kemudian dikembangkan di masa penjajahan belanda
dilanjutkan di zaman Indonesia membangun tahun 1970-an (Mawardi, 2007).
Sistem irigasi dalam Hupert dan Walker (1989), didefinisikan sebagai suatu
sistem sosio-teknis yang terbuka dan termasuk didalamnya segala sesuatu yang
berorientasi terhadap tujuan. Irigasi sebagai suatu sistem sosio–teknik maksudnya
dalam irigasi terkandung komponen atau subsistem fisik, teknis, dan sosial dimana
6

diantara komponen yang satu dengan komponen yang lain saling berhubungan dan
berinteraksi.
Menurut Pusposutardjo (1995), Sistem irigasi juga merupakan suatu sistem
sosio-kultural masyarakat, yang terdiri atas beberapa subsistem yaitu pola pikir atau
budaya, subsistem sosial ekonomi, subsistem artefak (termasuk teknologi) dan
subsistem bukan manusia (non-human subsistem).
Di Indonesia berkembang 6 sistem irigasi yaitu : (1) Irigasi permukaan, (2)
Irigasi bawah permukaan, (3) Irigasi dengan pancaran ( Sprinkler ), (4) Irigasi tetes,
(5) Irigasi pompa, (6) Irigasi kincir ( Ekaputra, 2006).
Menurut Jayadi (1990), berdasarkan kelengkapan dan kondisi bangunan
irigasi, sistem irigasi dibagi menjadi tiga : (1) Irigasi tradisional, (2) Irigasi
semiteknis, (3) Irigasi Teknis.
Irigasi tradisonal merupakan sistem irigasi yang belum terdapat bangunan
irigasi pada jaringan irigasinya. Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya
dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan keluar yang
dibangun secara sederhana oleh petani. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang
ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal – kanal alami.
(Sukristiyonubowo, 2008)
Irigasi semi teknis merupakan suatu sistem irigasi yang sudah terdapat
bangunan irigasi didalamnya, tetapi bangunan tersebut belum lengkap. Kondisi fisik
dari jaringan irigasinya telah dilapisi beton. Debit dan efisiensi yang mengalir cukup
besar. Sistem irigasi semi teknis sudah dikelola oleh dinas sumber daya air dan
dibantu oleh petani atau kelompok tani (Mawardi, 2007).
Irigasi teknis merupakan sistem irigasi yang sudah maju dan fasilitas yang
dimiliki sudah lengkap. Debit dan efisiensi yang mengalir besar, kondisi dari
bangunan irigasi sudah permanen. Pengelolaan irigasi dilakukan sepenuhnya oleh
dinas sumber daya air dan balai irigasi (Soruso, 2008).
7

2.2 Jaringan Irigasi


Berdasarkan PP No. 20 Tahun 2006 tentang irigasi dalam pasal 1 butir No. 12
menyebutkan, jaringan irigasi merupakan saluran, bangunan, dan bangunan
pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan,
pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi.
Menurut Mawardi (2007) sebuah jaringan irigasi terdiri dari 2 bagian utama
yaitu : (1) Saluran (saluran irigasi dan saluran drainase), (2) Bangunan Irigasi. Pada
saluran berfungsi sebagai pengangkut, sedangkan bangunan irigasi berfungsi sebagai
pengatur dari aliran tersebut.
Untuk menunjang berjalannya sistem irigasi dengan baik, diperlukan
prasarana sumber daya air. Dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air
menyebutkan prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain
yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak
langsung.
Prasarana jaringan irigasi mencakup 5 macam bangunan yaitu : (i) Bangunan
pengambilan (intake), (ii) Bangunan pembawa (saluran), (iii) Bangunan bagi dan
bangunan sadap, (iv) Bangunan pengatur dan pengukuran aliran, (v) Bangunan
pelindung dan pelengkap (Ekaputra, 2006)
2.2.1. Bangunan Pengambilan ( Intake )
Bangunan pengambilan dimaksudkan sebagai kompleks bangunan yang
direncanakan di sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokan air ke dalam
jaringan saluran agar dapat dipakai untuk keperluan irigasi (Dirjen Pengairan dan
Departemen Pekerjaan Umum, 1986). Contoh bangunan pengambilan ini seperti
bendung, bendung gerak.
Bendung merupakan bangunan yang dibuat pada tepi sungai guna
mengalirkan air ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur ketinggian muka air di
sungai. Konstruksi dari bendung terbuat dari bahan tetap ( beton, pasangan batu kali
dan lain-lain ) (Hansen, 1992).
8

Gambar 1. Bendung

Sedangkan bendung bergerak menurut Saruso (2008) merupakan bendung


dilengkapi dengan pintu air guna mengalirkan aliran banjir dan ditutup jika aliran
kecil.

Gambar 2. Bendung gerak


2.2.2 Bangunan Pembawa ( Saluran )
Bangunan pembawa atau saluran merupakan tempat mengalirnya air yang
dibelokan dari bangunan pengambilan. Selain itu, saluran digunakan untuk
membuang kelebihan air dari areal irigasi yang disebut juga dengan drainase
(Kridatunsa Iwan, Junus Bothmir dan Reiwill M Anjla, 2006) .
9

Saluran yang banyak digunakan di Indonesia adalah saluran dengan bentuk


trapesium. Dalam pembuatan saluran, lebar dasar saluran haruslah lebih besar
daripada dalamnya air. Hal ini bertujuan agar proses pendangkalan karena
penumpukan sedimen kecil, sehingga biaya pemeliharaan tidak terlalu mahal
(Mawardi, 2007)
Menurut Jayadi (1990) berdasarkan areal pelayanannya saluran irigasi
dibedakan atas 3 macam, yaitu : (1) Saluran Primer. (2) Saluran Sekunder, (3)
Saluran Tersier.
Saluran primer merupakan saluran yang mengambil langsung air dari
bangunan pengambilan, kemudian mengalirkannya ke saluran skunder, atau langsung
mengalirkannya ke areal pertanian yang berada didekat saluran tersebut. Pada saluran
primer kontruksi bangunannya telah dilapisi beton (Anonim, 2007).
Saluran sekunder merupakan saluran yang menerima air dari saluran primer,
kemudian meneruskannya ke saluran terseier dan dapat juga mengalirkan langsung ke
areal yang membutuhkan air yang berada didekat saluran tersebut. Konstruksi dari
saluran sekunder umumnya telah dilapisi beton, tetapi masih ada saluran yang masih
dari tumpukan galian tanah (Mawardi, 2008).
Saluran tersier merupakan aliran yang mendapat air irigasi dari saluran
sekunder, kemudian meneruskannya ke areal pertanian yang membutuhkan air.
Saluran tersier berada langsung dekat areal pertanian. Sehingga lebar saluran tersebut
tidak terlalu lebar, dan masih dibuat secara tradisional (Suroso, 2008).
10

Gambar 3. Saluran irigasi

2.2.3 Bangunan Bagi dan Sadap


Bangunan bagi terletak di saluran primer atau di saluran sekunder pada suatu
titik cabang dan berfungsi untuk membagi aliran dari satu saluran kepada dua saluran
atau lebih yang masing – masing debitnya lebih kecil (Anonim, 2007).
Bangunan sadap merupakan bangunan yang memberikan air dari saluran
saluran primer atau sekunder kepada saluran tersier. Bangunan sadap terletak di
saluran primer dan atau saluran sekunder (Hansen, 1992)
Menurut Saroyo ( 1982 ) bangunan bagi dan bangunan sadap di lapangan
sering kali digabung karena mempunyai fungsi yang hampir sama yaitu mengalirkan
air dari saluran primer. Penggabungan ke dua bangunan ini sering dikenal juga
dengan bangunan bagi sadap.
Konstruksi bangunan bagi dan bangunan sadap hendaknya dilengkapi dengan
pintu air untuk pengukuran debit. Pintu air ini digunakan agar pembagian dan
pemberian air dapat seefisien mungkin (Mawardi, 2007).
2.2.4 Bangunan Pengatur dan Pengukur Aliran
Bangunan pengukur debit berfungsi untuk mengukur debit pada saluran
irigasi dan bangunan sadap tersier. Contoh dari bangunan ukur ini seperti pintu
romijn, alat ukur cipoletti, alat ukur parshall, alat ukur ambang lebar dan lain
sebagainya (Anonim, 2002)
11

Gambar 4. Bangunan Sekat Ukur

Gambar 5. Bangunan Sekat Ukur Parshal

Menurut (Kridatunsa dkk, 2006) dalam menentukan jaringan irigasi, terdapat


juga bangunan – bangunan yang digunakan sebagai pengaturan muka air irigasi dan
drainase yang lebih dikenal dengan bangunan pengatur muka air. Bangunan pengatur
muka air digunakan untuk mengukur ketinggina muka air di saluran agar diperoleh
debit aliran sesuai dengan kebutuhan perlayanan. Bangunan pengatur muka air
terdapat pada saluran primer atau sekunder. Bangunan pengatur muka air
berhubungan erat dengan pengaturan debit aliran. Selain menggunakan alat pengukur
debit, debit suatu saluran dapat diketahui dengan membangun bangunan ukur debit.
Bangunan ukur debit merupakan kunci pembagian irigasi yang baik. Bangunan irigasi
dapat mengontrol dengan baik debit yang diberikan ke seluruh jaringan irigasi
(Mawardi, 2007)
12

2.2.5 Bangunan Pelindung dan Pelengkap.


Bangunan pelindung dan pelengkap yang dimaksud dalam jaringan irigasi
adalah bangunan yang diperlukan untuk menjaga agar prasarana jaringan irigasi dapat
berfungsi dengan baik. Contoh dari bangunan pelengkap yang sering dijumpai
dilapangan adalah tanggul,gorong – gorong, bangunan terjun, talang, sifon, got
miring, jalan, bangunan akhir, bangunan pelindung tebing dan bangunan pelimpah
(Anonim, 2007)
2.2.6 Tata Nama Bangunan Irigasi
Untuk lebih memudahkan tata letak dari bangunan irigasi pada jaringan irigasi
di suatu daerah, perlu dilakukan standarisasai penamaan bangunan irigasi tersebut.
Sehingga lebih mudah dalam kegiatan operasional dan pemeliharaan terhadap
jaringan irigasi.
Dalam penamaan bangunan irigasi, nama yang diberikan harus logis, pendek
dan tidak mengandung makna ambigu (bermakna ganda). Pemberian nama harus
dibuat sedemikian rupa sehingga jika dibuat bangunan baru tidak harus mengubah
nama.
Daerah irigasi dan bangunan utama diberi nama sesuai dengan nama daerah
setempat atau desa penting didaerah tersebut didaerah tersebut., yang biasanya
terletak pada jaringan irigasi. Saluran primer diberi nama sesuai dengan daerah
irigasi. Sedangkan untuk saluran sekunder deberi nama sesuai dengan nama desa
yang terletak dipetak sekunder.
Saluran dibagi menjadi ruas – ruas yang berkapasitas sama. Ruas
dilambangkan dengan huruf R. Ruas terletak diantar 2 bangunan (B). Bangunan bagi
merupakan bangunan terakhir disuatu ruas. Bangunan itu diberi nama sesuai dengan
ruas hulu. Tetapi huruf R diganti menjadi B.
Bangunan yang diantara bangunan – bangunan bagi sadap seperti gorong –
gorong, jombatan, talang, bangunan terjun, dan sebagainya diberi nama sesuai dengan
dengan nama ruas dimana bangunan tersebut terletak. Pemberian namanya diawali
dengan huruf B (bangunan) diikuti dengan huruf kecil. Sehingga bangunan yang
terletak diujung hilir diberi nama “a” kemudian diikitu b,c dan seterusnya. Sebagai
13

contoh : BS 2b maksudnya bangunan kedua pada ruas RS 2 di saluran Sambak,


terletak antara bangunan – bangunan bagi BS 1 dan BS 2.
Pemberian nama untuk petak tersier diberi nama seperti bangunan sadap
tersier diberi nama seperti bangunan sadap tersier dari jaringan utama. Sebagai
contoh S1 ki maksudnya mendapat air dari pintu air kiri bangunan bagi BS 1 yang
terletak di saluran Sambak.
Pada boks tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut menurut arah
jarum jam, mulai dari boks pertama dihilir bangunan sadap tersier :T1, T2 dsb. Ruas
saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama sesuai dengan nama boks yang
terletak diantara kedua boks. Misalnya (T1 – T2), (T3 – K1).
Pada petak kuarter, pemberian nama sesuai dengan petak rotasi, diikuti
dengan nomor urut menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B, C dst
menurut arah putaran jarum jam. Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor
urut menurut arah jarum jam, mulai dari boks kuarter pertama dihilir boks tersier
dengan nomor urut tertinggi. Misalnya K1, K2, dst.
Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang dilayani
tetapi dengan huruf kecil. Misalnya a1, a2 dst. Saluran pembuang kuarter diberi nama
sesuai dengan petak kuarter yang dibuang airnya, menggunakan huruf kecil diawali
dengan “dk”. Misalnya dka1, dka2 dst. Saluran pembuang tersier diberi kode dt1, dt2
dst searah jarum jam.

Gambar 6. Contoh Nama Bangunan irigasi


14

2.2.7 Standarisasi Peta Jaringan Irigasi


Bagian kriteria perencanan mengenai standar penggambaran digunakan
sebagai panduan dalam pembuatan gambar – gambar teknis untuk pekerjaan irigasi.
Gambar – gambar teknis yang digunakan meliputi : (1) Peta topografi, (2) Peta tata
letak, (3) Peta Geologi, (4) gambar potongan memanjang dan melintang untuk
pembuangan, saluran atau tanggul, (5) Gambar untuk bangunan – bangunan di
saluran atau buangn.
Dirjen Pengairan dan Pekerjaan Umum (1986) dalam Standar Perencanaan
Irigasi KP-07 terdapat beberapa ketentuan dalam pemetaan jaringan irigasi.
Ketentuan dalam peta jaringan irigasi harus memenuhi beberapa hal yaitu : (1)
Penunjuk arah gambar, (2) Skala, tebal garis, tinggi huruf dan angka, (3) Simbol dan
singkatan, dan (4) Tata warna peta.
Penunjuk arah gambar dalam suatu peta ditunjukan ke arah atas gambar.
Penunjuk arah ini menunjukan arah utara. Peta – peta situasi sungai untuk trase
saluran atau drainase akan digambar sedemikian sehingga arah aliran adalah ke arah
kanan gambar.
Skala merupakan perbandingan ukuran pada peta dengan ukuran yang
sebenarnya. Skala gambar bergantung kepada apa yang harus ditunjukan oleh gambar
atau seberapa detail gambar tersebut harus dibuat. Skala yang dipakai dalam peta
umunya adalah skala batang. contoh dari beberapa skala peta dapat dilihat pada
lampiran 2.
Selain peta, tebal garis dan tinggi huruf dan angka sangat menentukan dalam
pembuatan peta dan gambar. Dalam pekerjaan gambar dipakai bermacam – macam
tebal garis dan tinggi huruf atau angka agar gambar lebih mudah dibaca. Hubungan
skala, tebal garis, serta tinggi huruf dan angka dapat dilihat pada lampiran 3.
Simbol merupakan gambaran dalam peta yang mewakili bangunan, kejadian
alam, serta lokasi yng terdapat dalam peta. Biasanya simbol pada peta berupa gambar
kecil (icon) yang menerangkan sesuatu. Contoh simbol peta dapat dilihat pada
15

lampiran 3. Simbol dari peta dilampirkan pada legenda peta. Sehingga pembaca peta
dapat memahami arti dari simbol peta tersebut.
Singkatan merupakan penjelasan dalam peta yang berupa singkatan yang
menerangkan suatu informasi dalam peta. Simbol dalam peta berupa gambar kecil
(icon), sedangkan singkatan berupa huruf atau tulisan pada peta. Singkatan –
singkatan dari suatu peta dapat dilihat pada lampiran 4.
Warna standard akan dipakai untuk memperjelas gambar tata letak jaringan
irigasi dan pembuangan, serta gambar tata letak jaringan irigasi. Warna – warna
dalam peta yang dipakai diantaranya sebagai berikut :
a. Warna biru untuk jaringan irigasi, garis penuh untuk jaringan pembawa yang
ada dan garis putus – putus untuk jaringan yang sedang direncanakan.
b. Warna merah untuk jaringan pembuang garis penuh untuk jaringan yang
sudah ada dan garis putus – putus untuk jaringan yang sedang direncanakan.
c. Warna coklat untuk jaringan jalan.
d. Warna kuning untuk daerah yang tidak diairi (dataran tinggi, rawa – rawa).
e. Warna hijau untuk perbatasan kabupaten, kecamatan, desa dan
perkampungan.
f. Warna merah untuk tata nama bangunan dan jalan.
g. Warna bayangan akan dipakai untuk batas – batas petak sekunder, batas petak
tersier akan diarsir dengan warna yang lebih muda dari warna yang sama.
16

2.3 Sistem Informasi Jaringan Irigasi


2.3.1 Sistem Informasi
Sistem informasi adalah sebuah sistem yang dibuat oleh manusia untuk
mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi
untuk tujuan spesifik dan data disebut sebagai bahan mentah data informasi melalui
suatu proses transformasi, data dibuat lebih bermakna (Azis dan Pujiono, 2006).
Informasi yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya Azis
dan Pujiono, 2006).
a.Akurat, jelas dan dibutuhkan.
b. Presisi (kesepadanan); ukuran detail yang digunakan dalam
penyediaan informasi harus jelas.
c.Up To Date (Tepat Waktu); penerimaan informasi masih dalam
jangkauan waktu yang dibutuhkan oleh si penerima.
d. Quantifiable; informasi dapat dinyatakan dalam bentuk
numerik.
e.Veriviable; tingkat kesepakatan atau kesamaan nilai sebagai hasil
pengujian informasi yang sama oleh berbagai pengguna (layak uji).
f. Accessible; tingkat kemudahan dan kecepatan dalam memperoleh
informasi yang bersangkutan.
g. Comprehensif; informasi dapat menggambarkan keseluruhan
persoalan dengan lengkap.
h. Non-bias; derajat perubahan yang sengaja dibuat untuk
merubah atau memodifikasi informasi dengan tujuan mempengaruhi
penerima.

2.3.2 Sistem Informasi Geografis (SIG)


Menurut Puntodowo, dkk (2003) SIG mulai dikenal pada awal tahun 1980-
an. Sejalan dengan berkembangnya perangkat computer, baik perangkat lunak
maupun perangkat keras – SIG berkembang sangat pesat pada tahun 1990-an.
17

Secara umum SIG atau Geographic Information Sistem (GIS), merupakan


suatu sistem (berbasiskan komputer) yang digunakan untuk menyimpan, dan
menganalisis objek – objek dan fenomena – fenomena dimana lokasi geografis
merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis. Dengan demikian,
SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat kemampuan berikut dalam
menangani data yang bereferensi geografis:
a. Masukan.
b. Keluaran.
c. Manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data).
d. Analisis dan manipulasi data.
Meskipun dengan SIG kita mampu membuat dan menampilkan peta, tetapi
masih banyak hal lain yang bisa dikerjakannya. Aplikasi SIG yang baik adalah
apabila aplikasi tersebut dapat menjawab salah satu atau lebih dari 5 (lima)
pertanyaan dasar dibawah ini, yaitu:
a. Lokasi, dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai lokasi tertentu.
b. Kondisi, dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai kondisi dari
suatu lokasi.
c. Trend, untuk melihat trend dari suatu keadaan.
d. Pola, dapat dipergunakan untuk membaca gejala-gejala alam dan mempelajarinya.
e. Pemodelan, dapat digunakan untuk menyimpan kondisi-kondisi tertentu dan
mempergunakannya untuk memprediksi keadaan dimasa yang akan dating maupun
memperkirakan apa yang terjadi pada masa lalu.
2.3.2.1 Konsep Dasar Data Geografis
Menurut Puntodowo, dkk (2003) Peta digital menyimpan 2 (dua) jenis
informasi dasar, yaitu:
a. Informasi spasial, yang menjabarkan lokasi dan bentuk dari feature geografis dan
hubungan spasial pada feature lainnya.
b. Informasi deskriptif (non spasial), yang berisi keterangan/atribut dari suatu feature.
Menurut Nuarsa (2003) hal – hal yang diperlukan dalam SIG dalam
pembuatan peta digital antara lain :
18

a. Point/titik. Adalah lokasi diskrit, biasanya digambarkan sebagai simbol atau label.
Menggambarkan suatu feature yang batas atau bentuknya terlalu kecil untuk
ditampilkan dalam garis atau luasan. Point biasanya juga digunakan untuk
menggambarkan lokasi yang tidak mempunyai luasan seperti titik tinggi atau
puncak gunung.
b. Line atau arc/garis. Adalah feature yang dibentuk oleh sekumpulan koordinat yang
saling berhubungan. Menggambarkan feature linier di peta yang terlalu sempit
untuk digambarkan sebagai luasan. Atau untuk menggambarkan
c. feature yang tidak mempunyai lebar, seperti garis kontur.
d. Polygon/luasan (area). Adalah feature luasan yang dibentuk dari garis yang
tertutup menggambarkan suatu area yang homogen. Biasanya digunakan untuk
menggambarkan suatu feature seperti batas Negara, kecamatan, danau dan lain
sebagainya.

Gambar 7. Contoh Gambar Peta Digital

2.3.2.2 Aplikasi Sistem Informasi Geografis


Pemetaan secara komputerisasi dan analisa keruangan telah dikembangkan
secara serempak di beberapa bidang/disiplin. Hal ini tidak akan mencapai hasil yang
19

baik tanpa kerjasama antar masing bidang tersebut. Menurut Darmawan (2008),
berbagai bidang yang terlibat dalam pengembangan SIG diantaranya yaitu:
• Pemetaan tanah dan pemetaan prasarana kota
• Pemetaan kartografi dan peta tematik
• Ukur tanah dan fotogrametri
• Penginderaan jauh dan analisa citra
• Ilmu komputer
• Perencanaan wilayah (Planologi)
• Ilmu tanah
• Geografi
Berdasarkan sejarah perkembangannya, SIG dengan cepat menjadi peralatan
utama dalam pengelolaan sumber daya alam. SIG banyak digunakan untuk membantu
pengambilan keputusan dengan menunjukan bermacam-macam pilihan dalam
perencanaan pembangunan dan konservasi (Prahasta, 2001).
Beberapa contoh aplikasi SIG dalam perencaanaan sumber daya alam yaitu :
Pengelolaan dan perencanaan penggunaan lahan, Eksplorasi mineral, Studi dampak
lingkungan, Pengelolan sumberdaya air, Pemetaan bahaya/ bencana alam, Pengelolan
hutan dan kehidupan satwa, Studi degradasi tanah, Monitoring penggurunan
(Darmawan, 2008).
2.3.2.3 Penggunaan GPS sebagai Alat Bantu Survey, Navigasi, dan Pengolahan
Data dalam Pemetaan
GPS, singkatan dari Global Positioning Sistem (Sistem Pencari Posisi
Global), adalah suatu jaringan satelit yang secara terus menerus memancarkan sinyal
radio dengan frekuensi yang sangat rendah. Alat penerima GPS secara pasif
menerima sinyal ini, dengan syarat bahwa pandangan ke langit tidak boleh terhalang,
sehingga biasanya alat ini hanya bekerja di ruang terbuka. Satelit GPS bekerja pada
referensi waktu yang sangat teliti dan memancarkan data yang menunjukkan lokasi
dan waktu pada saat itu. Operasi dari seluruh satelit GPS yang ada disinkronisasi
sehingga memancarkan sinyal yang sama. Alat penerima GPS akan bekerja jika ia
menerima sinyal dari sedikitnya 4 buah satelit GPS, sehingga posisinya dalam tiga
20

dimensi bisa dihitung. Pada saat ini sedikitnya ada 24 satelit GPS yang beroperasi
setiap waktu dan dilengkapi dengan beberapa cadangan. Satelit tersebut dioperasikan
oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, mengorbit selama 12 jam (dua orbit
per hari) pada ketinggian sekitar 11.500 mile dan bergerak dengan kecepatan 2000
mil per jam. Ada stasiun penerima di bumi yang menghitung lintasan orbit setiap
satelit dengan teliti (www.geosities.com/yaslinus/masuk.html).
2.3.2.3.1 Pemasukan Data dengan GPS
Data spasial lain dalam bentuk digital seperti data hasil pengukuran lapang
dan data dari GPS bisa dimasukkan dalam sistem SIG. Pada intinya SIG
membutuhkan data spasial dalam format tertentu untuk membedakan apakah data
tersebut berupa point, line atau polygon, satelit yang mengitari bumi ditunjukan pada
Gambar 6.

Gambar 8. Satelit yang Mengitari Bumi


Sumber: Garmin web-page
Untuk mempelajari cara-cara pengambilan dan pemasukan data GPS, alat yang
digunakan penerima GPS GARMIN 12 CX. Tentunya alat yang berbeda mempunyai
tata cara penggunaan yang berbeda, tetapi pada dasarnya konsepnya sama. Sebelum
kita mulai, sebaiknya kita pelajari dulu komponen-komponen pokok yang ada pada
alat tersebut.
2.3.2.3.2 Menggunakan alat penerima GPS menentukan posisi
Kegunaan alat penerima GPS yang utama adalah untuk mengambil posisi
koordinat dari suatu titik di bumi ini dan menyimpannya sebagai waypoint. Caranya
penggunaannya adalah:
21

a. Aktifkan GPS dan tunggu sampai halaman satelit 3D muncul. Untuk dapat
menggunakan alat penerima GPS dengan sempurna, alat tersebut harus
menerima sinyal dari minimum 4 satelit.
b. Setelah memperoleh sinyal yang diinginkan, tekan tombol MARK, sehingga
layar akan berubah menjadi MARK POSITION.
c. Nilai koordinat dimana kita berada akan muncul di layar. Untuk menyimpan
nilai koordinat, pindahkan kursor ke SAVE dan diikuti dengan menekan
tombol ENTER.
d. Untuk memberi nama file pada titik tersebut, tekan ENTER lalu gunakan
tombol ROCKER, Ada dua cara menggunakan tombol ROCKER: (i) arah ke
atas/ke bawah untuk memilih huruf atau angka, dan (ii) arah ke kiri/kanan
untuk memindahkan ke huruf atau angka sebelumnya/berikutnya. Akhiri
dengan menekan ENTER.
e. Untuk menyimpan nama yang baru saja kita buat pada alat, tekan sekali lagi
tombol ROCKER, arahkan menuju pilihan SAVE. Jangan lupa untuk
kemudian menekan tombol ENTER. GPS Garmin 12CX dapat menyimpan
sampai dengan 1000 waypoint.

2.4 Kinerja Sistem Irigasi


Kinerja sistem irigasi merupakan output dari sistem irigasi yang berupa
pelayanan air irigasi untk pertanian. Survei kinerja sistem irigasi bertujuan
mengumpulkan data yang digunakan untuk mengukur tingkat kinerja suatu sistem
irigasi (Sudaryanto, 2004).
Menurut Ardian (1991) dalam menentukan kinerja irigasi dapat dilakukan
pada kondisi fisik dari jaringan irigasi. Kondisi fisik jaringan irigasi kemudian
dilakukan analisa kerusakan dan karakteristik jaringan irigasi.
2.4.1 Kerusakan Jaringan irigasi.
Kerusak jaringan irigasi menurut Ardian (1991) dapat disebabkan oleh :
1. Dirusak oleh petani.
2. Kerusakan karena kesalahan pengoperasian dan kurang pemeliharaan.
22

3. Kerusakan karena kesalahan desain dan konstruksi.


4. Kerusakan alami.
23

Berdasarkan tingkat kerusakan jaringan, Ardian (1991) mengelompok tingkat


kerusakan jaringan atas :
1. Ringan.
Kategori ringan apabila petani tidak terpengaruh terhadap kerusakan tersebut.
2. Sedang
Kategori sedang apabila petani dalam kelompok dapat memperbaiki
kerusakan tersebut.
3. Berat
Ketegori berat apabila petani dalam kelompok tidak dapat memperbaiki
kerusakan tersebut.

2.4.2 Karekateristik Jaringan irigasi.


Pembagian air akan berhasil dengan baik apabila semua bangunan bagi dapat
berfungsi dengan baik. Menurut Puspusutardjo dalam Ardian (1991), untuk
menggambarkan karakteristik dari jaringan irigasi yang berfungsi utamanya sebagai
sarana pengaliran dan pembagi digunakan beberapa kriteria.
2.4.2.1 Kerapatan Saluran.
Besarnya kerapatan saluran dapat ditentukan dengan persamaan sebagai
berikut :
……………………………..(1)

Semakin besar harga kerapatan saluran, berarti semakin saluran yang ada
panang sehingga penyebaran air ke petak tersier akan semakin merata.
2.4.2.2 Kerapatan Bangunan
Besarnya kerapatan bangunaan dapat ditentukan dengan persamaan sebagai
berikut :
………………..………..(2)

Semakin besar nilai kerapatan bangunan, maka semakin banyak saluran yang
dapat dilayani oleh bangunan sehingga akan lebih merata pendistribusian air.
24

2.4.2.3 Ratio Beta (β)


Besarnya β dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
……………………………………………………..………..(3)

Keterangan rumus :
β = Ratio beta
e = Jumlah penggal saluran (buah)
v = Jumlah bangunan bagi (buah)
β = 1, berarti dalam sistem jaringan terdapat jaringan tertutup.
β > 1, merupakan rangkaian yang komplek.
β < 1, pada jaringan banyak mengalami kerusakan sehingga mengganggu
kelancaran air.

2.4.2.4 Ratio Eta (∩)


Besarnya ∩ dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
……………………………………………………..………..(4)

Keterangan rumus :
∩ = Ratio Eta
M = Panjang total saluran pada petak tersier (m)
e = Jumlah penggal saluran (buah)
Semakin tinggi nilai ∩, maka semakin panjang penggal saluran dan semakin
cepat pemerataaan air ke petak – petak tersier.
2.4.2.5 Ratio Theta (θ)
Besarnya θ dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
……………………………………………………..………..(5)

Keterangan rumus :
θ = Ratio Theta
M = Panjang total saluran pada petak tersier (Km)
v = Jumlah bangunan bagi (buah)
25

Nilai θ menunjukan kemampuan rata – rata tiap boks bagi untuk melayani
saluran.
Pusposutardjo dalam Ardian (1991), membagi kriteria jaringan yang sesuai
dengan kemampuan dari petani sebagai berikut :
1. Kerapatan saluran, 50 – 100 m/ha
2. Kerapatan susunan, 0,11 – 0,40 unit/ha
3. β – ratio, 2,21 – 2,50 unit segmen saluran / kotak bagi.
4. ∩- ratio, 250 – 500 m/ unit segmen saluran.
5. Θ- ratio, 500 – 1000 m/kotak bagi.
Dalam kriteria fisik diatas, petani mampu mengelola dan mengoperasikan
jaringan tersier dengan baik (Ardian, 1991).