PEREKONOMIAN INDONESIA TERHADAP KEMISKINAN

PEREKONOMIAN INDONESIA TERHADAP KEMISKINAN Sesungguhnya kemiskinan bukanlah persoalan baru di negeri ini. Sekitar seabad sebelum kemerdekaan Pemerintah Kolonial Belanda mulai resah atas kemiskinan yang terjadi di Indonesia [Pulau Jawa]. Pada saat itu indikator kemiskinan hanya dilihat dari pertambahan penduduk yang pesat [Soejadmoko, 1980]. Kini di Indonesia jerat kemiskinan itu makin akut. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen Kemiskinan tidak hanya terjadi di perdesaan tapi juga di kota-kota besar seperti di Jakarta. Kemiskinan juga tidak semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural. Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan pelayanan kesehatan, dan kemudahan ± kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Pemerintah Indonesia yang berorientasi mengembangkan Indonesia menjadi negara maju dan mapan dari segi ekonomi tentu menganggap kemiskinan adalah masalah mutlak yang harus segera diselesaikan disamping masalah lain yaitu ketimpangan pendapatan, strukturisasi pemerintahan, inflasi, defisit anggaran dan lain lain. Masalah kemiskinan yang dihadapi di setiap negara akan selaludi barengi dengan masalah laju pertumbuhan penduduk yang kemudian menghasilkan pengangguran, ketimpangan dalam distribusi pendapatan nasional maupun pembangunan, dan pendidikan yang menjadi modal utama untuk dapat bersaing di dunia kerja dewasa ini Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab, kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang. Khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya karena selama ini pemerintah [tampak limbo] belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi [makro] semata. Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik. Padahal kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus dilihat dari segi non-ekonomis atau non-statistik. Misalnya, pemberdayaan masyarakat miskin yang sifatnya ³buttom-up intervention´ dengan padat karya atau dengan memberikan pelatihan kewirauasahaan untuk menumbuhkan sikap dan mental wirausaha [enterpreneur]. Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal. Kondisi Umum Masyarakat

Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri ini semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan.´ Di Nusa Tenggara Timur (NTT) 2000 kasus balita kekurangan gizi dan 206 anak di bawah lima tahun gizi buruk. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. di Jakarta Utara menurut data Pembinaan Peran Serta Masyarakat Kesehatan Masyarakat [PPSM Kesmas] Jakut pada Desember 2005 kasus gizi buruk pada bayi sebanyak 1.987 balita menderita kekurangan gizi. Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. mereka begitu miskin. Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi. dan terakhir. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Sedangkan di Bogor selama 2005 tercatat sebanyak 240 balita menderita gizi buruk dan 35 balita yang statusnya marasmus dan satu di antaranya positif busung lapar. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya tingkat putus sekolah dan buta huruf. Jumlah yang cukup ³fantastis´ mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Ini akan . Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Sehingga.079 kasus.512. Dari jumlah itu 23 persen di antaranya berada dalam usia produktif antara 15-44 tahun. merampok. nutrisi. Hingga 2006 saja jumlah penderita buta aksara di Jawa Barat misalnya mencapai jumlah 1. Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat ³signifikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. kekerasan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. * Pertama.7 juta orang.7 juta orang. Dan. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. * Ketiga. pendidikan. Sementara di Jakarta Timur sebanyak 10. dan tingkat pengeluaran rata-rata. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang.899. Misalnya. Dampak Kemiskinan Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. pengangguran.´ Jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12. kelaparan/busung lapar. menodong. mencuri. * Kedua. akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan. Sebab. atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. masyarakat yang makan ³Nasi Aking.

* Keempat. karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. India dan Amerika.04 juta orang pertahun atau. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. Baik di perdesaan maupun perkotaan. dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang. yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari. 170 ribu orang perbulan atau 5. Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat di setiap 10 tahun menurut hasil sensus penduduk. dan pelayanan kesehatan. Kemudian di sensus penduduk tahun 2000 penduduk meningkat sebesar 27 juta penduduk atau menjadi 206 juta jiwa. Makna ³memadai´ di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. sandang. Sehingga. Meningkatnya jumlah penduduk membuat Indonesiasemakin terpuruk dengan keadaan ekonomi yang belum mapan. ‡ Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. kemiskinan kultural dan kemiskinan absolut. ketergantungan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang.577 orang perhari atau 232 orang perjam atau 4 orang permenit. Pemahaman utamanya mencakup: ‡ Gambaran kekurangan materi. Dan. biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin. * Kelima. perumahan. Penghasilan yang minim ditambah dengan banyaknya beban ketergantungan yang harus . M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan ³keamanan´ dan perlindungan hukum dari negara. persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan.barang dan pelayanan dasar. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Seperti kita ketahui. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. ‡ Gambaran tentang kebutuhan sosial. Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebanding dengan jumlah beban ketergantungan. semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 1990 Indonesia memiliki 179 juta lebih penduduk. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. konflik sosial bernuansa SARA. Banyaknya jumlah penduduk ini membawa Indonesia menjadi negara ke-4 terbanyak penduduknya setelah China. kesehatan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. biaya pengobatan sekarang sangat mahal. termasuk keterkucilan sosial. dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Faktor Penyebab Kemiskinan Pada umumnya di negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut: ‡ Laju Pertumbuhan Penduduk. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan relatif. dapat diringkaskan pertambahan penduduk Indonesia persatuan waktu adalah sebesar setiap tahun bertambah 2.

detik. Yang tergolong sebagi tenaga kerja ialah penduduk yang berumur didalam batas usia kerja. Jadi setiap orang atausemua penduduk berumur 10 tahun tergolong sebagai tenaga kerja. Penduduk yang Bekerja dan Pengangguran. Secara garis besar penduduk suatu negara dibagi menjadi dua yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.com & . ‡ Angkatan Kerja. Sisanya merupakan bukan tenaga kerja yang selanjutnya dapat dimasukan dalam katergori bebabn ketergantungan. http://m. yakni 40% penduduk berpendapatan rendah (penduduk miskin). 40% penduduk berpendapatan menengah. Batas usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Ketimpangan dan ketidakmerataan distribusi dinyatakan parah apabila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati kurang dari 12 persen pendapatan nasional. Batasan usia kerja berbedabeda disetiap negara yang satu dengan yang lain. Sedangkan jika 40% penduduk miskin menikmati lebih dari 17 persen pendapatan nasional makan ketimpangan atau kesenjangan dikatakan lunak. Kriteria ketidakmerataan versi Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk. Ketidakmerataan dianggap sedang atau moderat bila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 12 hingga 17 persen pendapatan nasional.ditanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. serta 20% penduduk berpemdapatan tertinggi (penduduk terkaya). distribusi pendapatan nasional dikatakan cukup merata.Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. ‡ Distribusi Pendapatan dan Pemerataan Pembangunan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful